• Tidak ada hasil yang ditemukan

, UKURAN LEGISLATIF, INTERGOVERNMENTAL REVENUE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ", UKURAN LEGISLATIF, INTERGOVERNMENTAL REVENUE"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH LEVERAGE, UKURAN LEGISLATIF, INTERGOVERNMENTAL REVENUE DAN PENDAPATAN PAJAK DAERAH TERHADAP

KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA

OLEH:

INDI APRIANTO 120503366

PROGRAM STUDI STRATA 1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2016

(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan skripsi yang berjudul: “Pengaruh Leverage, Ukuran Legislatif, Intergovernmental Revenue dan Pendapatan Pajak Daerah Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia”

adalah benar hasil karya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi Program Studi S-1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas, benar apa adanya. Apabila kemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.

Medan, 4 Desember 2016

Yang membuat pernyataan

Indi Aprianto

NIM: 120503366

(3)

ABSTRAK

PENGARUH LEVERAGE, UKURAN LEGISLATIF, INTERGOVERNMENTAL REVENUE DAN PENDAPATAN PAJAK DAERAH TERHADAP

KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Model analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi Linear Berganda.

Sampel dalam penelitian ini adalah 45 pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Jenis data dalam penelitian ini adalah data Sekunder. Metode pemlilihan sampel yaitu metode purposive sampling. Dan pengolahan data menggunakan software SPSS.

Hasil yang terdapat dalam penelitian ini adalah ukuran legislatif dan pendapatan pajak daerah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia. Dan hasil lainnya yaitu leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

Kata Kunci: leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, pendapatan pajak daerah, kinerja keuangan pemerintah.

(4)

ABSTRACT

PENGARUH LEVERAGE, UKURAN LEGISLATIF, INTERGOVERNMENTAL REVENUE DAN PENDAPATAN PAJAK DAERAH TERHADAP

KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA

This study aims to determine the effect of leverage, the size of the legislative, intergovernmental revenue and local tax revenues to financial performance of districts/cities in Indonesia.

The analysis models is the multiple linear regression analysis. The sample in this study are 45 districts/cities in Indonesia. The type of the data in this research is secondary data. The sampling method is purposive sampling method.

And the data processing using SPSS.

The results contained in this research is the size of the legislature and local tax revenue is partially significant effect on the financial performance of districts/cities in Indonesia. And other result is leverage, the size of the legislative, intergovernmental revenue and local tax revenues together has a significant effect on the financial performance of districts/cities in Indonesia.

Key word: leverage, the size of legislative, intergovernmental revenue, local tax revenues, financial performance

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis telah mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Leverage, Ukuran Legislatif, Intergovernmental Revenue dan Pendapatan Pajak Daerah Terhadap Kinerja

Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia”.

Shalawat beriring salam kita sanjungkan kepangkuan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.

Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi serta doa dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Teristimewa untuk kedua orang tua saya yang sangat saya kagumi dan cintai yaitu Ayahanda Ir.Dadang Hidayat dan Ibunda dr.Retno Kustini yang tidak pernah lelah memberikan kasih sayang, doa, nasihat serta semangat yang tulus hingga saat ini.

Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak selaku Ketua Departemen Akuntansi dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, M.M, Ak,CA selaku Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(6)

3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si., Ak selaku Ketua Program Studi Stara 1 Akuntansi dan Ibu Dra. Mutia Ismail, M.M, Ak selaku Sekretaris Program Studi Strata 1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Iskandar Muda, SE, Msi, Ak selaku Dosen Pembimbing saya yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan, dan perbaikan dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si, Ak selaku Dosen Penguji dan Bapak Abdillah Arif Nasution, SE, MSi., Ak.selaku Dosen Pembanding yang telah memberikan arahan, kritik dan saran yang sangat membangun sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

6. Ammar Yasser P, S.E. dan M. Reza Muntazar, S.E. yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan pengerjaan skripsi ini dan Para Sahabat Pit Stop yang terus memberi dukungan ke pada penulis yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Semoga kita semua sukses di kemudian hari.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini juga masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 4 Desember 2016 Yang membuat pernyataan

Indi Aprianto NIM: 120503366

(7)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Pemerintah Daerah di Indonesia ... 8

2.2 Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah ... 10

2.2.1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ... 11

2.3 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah ... 12

2.4 Leverage ... 14

2.5 Ukuran Legislatif ... 16

2.6 Intergovermental Revenue ... 16

2.7 Pendapatan Pajak Daerah ... 18

2.8 Penelitian Terdahulu ... 19

2.9 Kerangka Konseptual ... 23

2.10 Hipotesis Peneliatian ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Jenis Penelitian ... 25

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 25

3.3 Variabel Penelitian ... 25

3.3.1 Variabel Bebas ... 25

3.3.2 Variabel Terikat ... 26

3.4 Defenisi Operasional Variabel ... 26

3.4.1 Leverage ... 26

3.4.2 Ukuran Legislatif ... 27

3.4.3 Intergovernmental Revenue ... 27

3.4.4 Pendapatan Pajak Daerah ... 27

3.4.5 Kinerja Keuangan Pemerintah ... 28

3.5 Populasi dan Sampel ... 29

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 30

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 31

3.8 Metode Analisis ... 31

(8)

3.8.1 Analisis Deskriptif ... 31

3.8.2 Uji Asumsi Klasik ... 31

3.8.2.1 Uji Normalitas ... 32

3.8.2.2 Uji Autokorelasi ... 33

3.8.2.3 Uji Heterokedastisitas ... 34

3.8.2.4 Uji Multikolonieritas ... 34

3.8.3 Uji Hipotesis ... 35

3.8.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda ... 35

3.8.3.2 Uji Statistik F (F-test) ... 36

3.8.3.3 Uji Statstik T (T-test) ... 36

3.8.3.4 Uji Koefisien Determinasi ... 37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38

4.1 Sampel Penelitian ... 38

4.2 Analisis Deskriptif ... 40

4.3 Uji Asumsi Klasik ... 41

4.3.1 Uji Normalitas ... 41

4.3.2 Uji Autokorelasi ... 44

4.3.3 Uji Heteroskedastisitas ... 45

4.3.4 Uji Multikolinearitas ... 47

4.4 Uji Hipotesis ... 48

4.4.1 Analisis Regresi Linear Berganda ... 48

4.4.2 Uji Statistik F ... 50

4.4.3 Uji Statistik T ... 51

4.4.4 Uji Koefisien Determinasi ... 53

4.5 Pembahasan ... 53

4.5.1 Hipotesis Pertama ... 53

4.5.2 Hipotesis Kedua ... 55

4.5.3 Hipotesis Ketiga ... 56

4.5.4 Hipotesis Keempat ... 57

4.5.5 Hipotesis Kelima ... 58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 61

5.1 Kesimpulan ... 61

5.2 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 63

LAMPIRAN ... 68

(9)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ... 21

3.1 Defenisi Operasional ... 28

4.1 Sampel Penelitian ... 38

4.2 Hasil Statistik Deskriptif ... 40

4.3 Hasil Uji Normalitas ... 42

4.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 45

4.5 Hasil Uji Glejser ... 46

4.6 Hasil Uji Multikolinearitas ... 47

4.7 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 48

4.8 Hasil Uji F ... 50

4.9 Hasil Uji T (Parsial) ... 52

4.10 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 53

4.11 Hasil Keputusan ... 59

(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 23 4.1 Hasil Uji Grafik ... 43

(11)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Krisis ekonomi yang terjadi pada awal tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 1997 mendorong pemerintah pusat mendelegasikan sebagian wewenang untuk pengelolaan keuangan kepada daerah sehingga diharapkan daerah dapat membiayai pembangunan dan pelayanan atas dasar keuangan sendiri (Azhar, 2008). Otonomi daerah merupakan kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat agar pemerintah daerah dapat mengelola pemerintahnya sendiri tanpa campur tangan dari pemerintah pusat (Fitriyanti dan Pratolo, 2009).

Otonomi daerah diberlakukan dengan diterbitkannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 kemudian direvisi melalui UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Dengan demikian, pemerintah daerah diharapkan dapat mengelola sumber daya yang dimilikinya dan melaksanakan tata kelola pemerintah yang baik sehingga akan berdampak pada pelayanan yang diberikan kepada masyarakat (Handra dan Maryati, 2009).

Pada era reformasi sekarang, masyarakat di sebagian besar wilayah Indonesia, baik di provinsi, kota maupun kabupaten mulai membahas laporan pertanggungjawaban kepala daerah masing-masing dengan lebih seksama (Sardjito, 2000). Masyarakat terus berkembang dengan segenap tuntutannya demikian juga pemerintah daerah. Pemerintah Daerah merupakan pihak yang menjalankan roda perekonomian, pembangunan, dan pelayanan masyarakat yang dituntut untuk dapat fmelaksanakan pemerintah secara transparan dan

(12)

bertanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan agar tercipta pemerintah yang bersih (Setyaningrum, 2012).

Juliawati, Darwanis, Jalaluddin, (2012), berpendapat bahwa Pengelolaan dan pertanggungjawab keuangan daerah telah ditetapkan pada Peraturan Pemerintah Pasal 4 No.105 Tahun 2000 yang menegaskan bahwa pengelolaan keuangan daerah harus dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang- undangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan, dan bertanggungjawab dengan memperhatikan atas keadilan dan kepatuhan. Apabila pengelolaan keuangan daerah dilakukan dengan baik sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, maka tentunya akan meningkatkan kinerja pemerintah itu sendiri.

Terlebih lagi dengan adanya tuntutan dari masyarakat atas laporan pertanggungjawaban yang transparan, laporan keuangan pada lembaga pemerintah daerah dianggap masih memiliki banyak keterbatasan penyajian yang sifat dan cakupannya berbeda dengan penyajian laporan keuangan oleh lembaga perusahaan yang bersifat komersial. Keraguan masyarakat ini dapat diatasi dengan adanya pengukuran kinerja.

Chow, Ganulin, Haddad, dan Wiliamson, (1998) berpendapat bahwa pengukuran kinerja merupakan komponen yang penting karena akan memberikan umpan balik atas rencana yang telah diimplementasikan. Wood (1998) mengungkapkan bahwa fungsi dari pengukuran kinerja antara lain:

(1) Evaluasi bagaimana program tersebut berjalan (2) Sarana perbandingan atas pelayanan yang diberikan (3) Alat komunikasi dengan publik.

(13)

Selain itu, tuntutan pengukuran kinerja keuangan pemerintah daerah perlu dilakukan karena adanya fakta bahwa masih buruknya kinerja pemerintah daerah di Indonesia yang dapat terlihat dengan adanya pernyataan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK RI), Anwar Nasution (Antaranews.com, 2007), bahwa masih buruknya transparansi dan akuntabilitas pemerintah daerah sehingga hal tersebut berdampak pada buruknya penilaian kinerja pemerintah daerah. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kusumawardani (2012) yang menunjukkan bahwa kinerja keuangan pemerintah daerah masih tergolong rendah jika dilihat dari sisi rasio efektifitasnya, sedangkan dalam penelitian Sumarjo (2010) menyebutkan bahwa kinerja keuangan pemerintah daerah masih jauh dari kata efisien jika dilihat dari sisi rasio efisiensinya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengukuran kinerja keuangan daerah adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan. Pernyataan ini selaras dengan Greiling (2005) yang mengungkapkan bahwa salah satu kunci sukses dari pembaharuan dalam sektor publik adalah dengan melakukan pengukuran kinerja. Kinerja keuangan pemerintah daerah tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, menurut Groves (2001) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah seperti yaitu faktor organisasional dan faktor finansial. Adapun faktor-faktor finansial yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan antara lain leverage, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah. Sedangkan faktor organisasional yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan salah satunya adalah ukuran legislatif.

(14)

Leverage adalah perbandingan antara utang dan modal. Sebagaimana semakin besar leverage maka semakin besar ketergantungan entitas pada pihak luar karena semakin besar utang yang dimililki entitas tersebut maka semakin rendah kinerja keuangan entitas tersebu (Kusumawardani, 2012). Sudarmadji dan Sularto (2007) mengungkapkan bahwa leverage adalah ukuran yang digunakan dalam mengetahui besarnya aktiva yang dibiayai dengan hutang.

Ukuran legislatif yang diproksikan dengan jumlah anggota DPRD. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga yang memiliki posisi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah (Winarna dan Murni, 2007). Pasal 69 ayat 1 menyatakan bahwa anggota DPRD Kabupaten/Kota berjumlah sekurang-kurangnya dua puluh orang dan sebanyak-banyaknya empat puluh lima orang. Besarnya jumlah anggota DPRD diharapkan juga dapat meningkatkan pengawasan terhadap kinerja pemerintah daerah, sehingga berdampak baik dengan adanya peningkatan kinerja pemerintah daerah.

Intergovernmental revenue yang diproksikan dengan Dana Alokasi Umum (DAU). Intergovernmental revenue, yakni sejumlah transfer dana dari pusat yang sengaja dibuat untuk membiayai program-program pemerintah daerah (Nam, 2001). Pemerintah pusat berharap dengan adanya transfer tersebut maka pemerintah daerah dapat meningkatkan kinerjanya.

Undang-Undang No.28 Tahun 2009 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk

(15)

keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak Daerah yang merupakan salah satu sumber penting dan utama PAD ini akan sangat berpengaruh pada kinerja keuangan pemerintah daerah. Jika pendapatan pajak daerah suatu daerah tinggi atau sesuai target yang ditetapkan, maka hal ini menunjukkan kinerja keuangan dari suatu daerah dapat dikatakan baik.

Berdasarkan penjabaran diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Leverage, Ukuran Legislatif, Intergovernmental Revenue dan Pendapatan Pajak Daerah Terhadap Kinerja

Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia?

2. Apakah ukuran legislatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia?

3. Apakah intergovernmental revenue berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia?

4. Apakah pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia?

5. Apakah leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia?

(16)

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh leverage terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

2. Untuk mengetahui pengaruh ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

3. Untuk mengetahui pengaruh intergovernmental revenue terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

4. Untuk mengetahui pengaruh pendapatan pajak daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

5. Untuk mengetahui pengaruh leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah:

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pemahaman kepada peneliti mengenai bagaimana pengaruh leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

2. Bagi Pemerintah Daerah

Diharapkan dengan adanya penelitian ini maka pemerintah daerah dapat termotivasi untuk meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerahnya.

3. Bagi Akademisi atau Peneliti Selanjutnya

(17)

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan dapat dijadikan referensi untuk pengembangan penelitian selanjutnya khususnya dalam bidang sektor publik.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemerintah Daerah di Indonesia

Menurut UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, disebutkan bahwa pemerintah daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintah oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi.

Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah kota dan daerah kabupaten. Setiap daerah provinsi, daerah kota, dan daerah kabupaten mempunyai pemerintah daerah yang diatur dengan undang-undang. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah lainnya. Tiap pemerintah daerah dipimpin oleh kepala daerah.

Sebutan kepala daerah untuk pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan pemerintah kabupaten, masing-masing ialah gubernur, walikota, dan bupati.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kepala daerah berperan sebagai badan eksekutif, artinya kepala daerah menyusun dan menyampaikan anggaran untuk mendapatkan persetujuan,

(19)

kemudian melaksanakannya sesuai ketentuan perundang-undangan setelah mendapatkan persetujuan. Ditegaskan pula dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah.

Untuk saat ini kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan langsung kepala daerah (pilkada). Prosedur dan mekanisme pemilihan kepala daerah sekarang ini, yakni semenjak UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah diberlakukan, lebih menggambarkan pelaksanaan demokrasi.

Pilkada dilaksanakan secara langsung, terbuka kemungkinan bagi calon independen/nonparpol untuk maju melalui partai politik (parpol)/gabungan parpol, dan proses penyaringan bakal calon dilaksanakan secara terbuka dengan mewajibkan tiap parpol/gabungan parpol mengumumkan proses dan hasil penyaringan kepada masyarakat. Kewenangan politik yang dulu ada pada DPRD untuk memilih kepala daerah telah diserahkan pada rakyat sehingga rakyat dapat memilih kepala daerah secara langsung (Bastian, 2006).

Dengan diterapkannya prinsip desentralisasi dan otonomi daerah maka setiap pemerintah daerah diberikan kebebasan yang seluas-luasnya dalam melaksanakan otonomi daerahnya, kecuali untuk urusan pemerintah yang telah diatur dalam undang-undang. Hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dilaksanakan secara adil dan selaras sesuai dengan undang-undang yang berlaku saat ini.

(20)

2.2 Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah

Laporan keuangan pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pemerintah daerah kepada masyarakatnya terkait dengan pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Tujuan pelaporan keuangan diupayakan mempunyai cakupan yang luas agar memenuhi berbagai kebutuhan para pemakai dan melayani kepentingan umum dari berbagai pemakai yang potensial, bukan hanya untuk kebutuhan khusus kelompok tertentu saja (Kieso, Weygandt, dan Warfield, 2007). Oleh sebab itu, maka pelaporan keuangan pemerintah daerah merupakan salah satu tolok ukur bagi masyarakat dalam rangka menilai kinerja pemerintah daerah mereka.

Pelaporan keuangan adalah struktur dan proses akuntansi yang menggambarkan bagaimana informasi keuangan disediakan dan diungkapkan demi mencapai tujuan ekonomi dan sosial negara. Menurut Ghozali dan Chairani (2007), pengungkapan berarti memberikan data-data yang bermanfaat bagi setiap pihak yang memerlukan. FASB (Financial Accounting Standards Board) mengartikan pelaporan keuangan sebagai sistem dan sarana penyampaian (means of communication) informasi tentang segala kondisi dan kinerja entitas terutama atas segi keuangan dan tidak terbatas berdasarkan pada apa yang dapat disampaikan di dalam laporan keuangan. Singkatnya, pelaporan keuangan lebih luas dari pada laporan keuangan (Bastian, 2006).

(21)

2.2.1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (SPAP) No. 1 menjelaskan definisi laporan keuangan sebagai laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan.

Laporan keuangan menjadi alat yang digunakan untuk menunjukkan capaian kinerja dan pelaksanaan fungsi pertanggungjawaban dalam suatu entitas (Choiriyah, 2010). Oleh karena itu, pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus memadai agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan sehingga menghasilkan keputusan yang cermat dan tepat (Almilia dan Retrinasari, 2007).

Laporan keuangan juga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan good governance (Sadjiarto, 2000). Hal ini dikarenakan melalui laporan keuangan maka unsur akuntabilitas dalam mencapai good governance dapat terpenuhi (Wiratraman, 2009). Melihat besarnya manfaat dari laporan keuangan maka pemerintah pusat menerbitkan aturan mengenai kewajiban Presiden dan Gubernur /Bupati/Walikota untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD berupa laporan keuangan pemerintah daerah. Berdasarkan PP no.71 tahun 2010 (perubahan dari PP no.24 tahun 2005) laporan keuangan pemerintah daerah harus meliputi:

1) Laporan realisasi Anggaran (LRA)

2) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL) 3) Neraca

(22)

4) Laporan Operasional (LO) 5) Laporan Arus Kas (LAK)

6) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), dan 7) Catatan atas Laporan Keuangan

2.3 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Kinerja merupakan pencapaian dari pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan tujuan dari organisasi. Pengukuran kinerja berarti penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan berdasarkan tujuan sehingga dapat diketahui kemajuan organisasi serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sejak diterapkannya penganggaran berbasis kinerja, semua pemerintah daerah dituntut untuk mampu menghasilkan kinerja keuangan pemerintah daerahnya secara baik (Mahsun, 2006).

Pengkuran kinerja mulai menjadi perhatian besar semenjak adanya opini yang mengatakan bahwa pengukuran kinerja dapat meningkatkan efisiensi, keefektifan, penghematan dan produktifitas pada organisasi sektor publik (Halacmi, 2005). Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk mengetahui pencapaian kinerja yang telah dilakukan organisasi dan sebagai alat untuk pengawasan serta evaluasi organisasi. Pengukuran kinerja akan memberikan umpan balik sehingga terjadi upaya perbaikan yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan di masa mendatang (Bastian, 2006). Mandell (1997) berpendapat bahwa dengan adanya pengukuran kinerja, maka pemerintah daerah dapat memperoleh informasi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan sehingga akan meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Salah satu cara yang dapat

(23)

dilakukan untuk mengukur kinerja keuangan pemerintah daerah adalah dengan melihat tingkat efisiensi pemerintah daerah tersebut (Hamzah, 2008).

Pengukuran efisiensi dalam organisasi sektor publik merupakan hal yang penting, hal ini dikarenakan kurangnya net income sebagai gambaran akan kinerja keuangan pemerintah daerah saat ini (Hassanudin, 2009). Suatu kegiatan dapat dikatakan efisien apabila pelaksanaan pekerjaan tersebut telah mencapai hasil (output) maksimal dengan menggunakan biaya (input) yang terendah atau dengan biaya minimal (Hamzah, 2008). Dengan adanya pengelolaan keuangan yang efisien maka dapat dilakukan pengambilan suatu keputusan yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerah.

Dengan adanya kinerja keuangan yang baik dari pemerintah daerah maka akuntanbilitas dapat diwujudkan. Entitas yang mempunyai kewajiban membuat Pelaporan Kinerja Organisasi adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, unit kerja pemerintah, dan unit pelaksana teknis. Pelaporan tersebut diserahkan ke masyarakat secara umum dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sehingga masyarakat dan anggota DPR (users) bisa menerima informasi yang lengkap dan tajam tentang kinerja program pemerintah serta unitnya (PP RI No. 24 tahun 2005).

Pelaporan kinerja yang diterbitkan secara terus-menerus akan menjadi langkah maju dalam mendemonstrasikan proses akuntabilitas. Perbandingan pengukuran kinerja dapat dibangun atas pengukuran kinerja dan menambah dimensi lainnya untuk akuntabilitas perbandingan dengan unit kerja organisasi lain yang serupa.

(24)

Government Accounting Standard Board (GASB), dalam Concept Statements No. 2, mengungkapkan bahwa terdapat tiga kategori indikator dalam mengukur kinerja, yaitu:

(1) Service efforts, meliputi pemakaian rasio yang membandingkan sumber daya keuangan dan non-keuangan dengan ukuran lain yang menunjukkan permintaan potensial atas jasa yang diberikan.

(2) Service accomplishment, accomplishment atau prestasi yaitu outputs dan outcomes. Outputs mengukur hanya sebatas kuantitas jasa yang disediakan. Sedangkan, Outcomes mengukur hasil yang muncul dari penyediaan output tersebut. Pengukuran Outcomes menjadi bermakna jika dalam penggunaannya dibandingkan dengan outcomes tahun- tahun sebelumnya atau dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.

(3) Hubungan efforts dengan accomplishment. Pengukuran efisiensi dengan cara membandingkan antara efforts dengan outputs dapat memberikan informasi berupa sejauh mana hasil yang didapatkan sehubungan dengan penggunaan sejumlah sumber daya yang dipakai.

2.4 Leverage

Istilah leverage lebih sering digunakan di sektor swasta. Financial leverage menggambarkan kemampuan perusahaan memanfaatkan aktivanya untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya secara menyeluruh (Avianti, 2000:30). Bagi perusahaan swasta atau lembaga yang bersifat komersial umumnya menggunakan rasio leverage untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik

(25)

dengan dana yang dipinjam perusahaan dari kreditur (Halim, 2007:231). Pada sektor publik khususnya entitas pemerintah daerah, rasio leverage ini digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemerintah daerah) dengan total utang. Memang rasio leverage selama ini hanya digunakan di sektor perusahaan untuk mengukur komposisi sumber pembiayaan yang berasal dari kreditor dan investor. Di pemerintah daerah, rasio leverage ini mungkin belum merupakan rasio yang penting, dikarenakan utang daerah yang masih relatif kecil (STAN, 2007:108). Rumus perhitungan rasio leverage adalah sebagai berikut:

Rasio Leverage = 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦𝑑𝑒𝑏𝑡

Leverage menunjukkan proporsi pendanaan daerah yang dibiayai dengan hutang. Semakin tinggi leverage suatu daerah berarti semakin tinggi pula ketergantungan daerah tersebut kepada pemerintah pusat. Hal ini sesuai dengan agency teory, yaitu hubungan keagenan antara principal (pemerintah pusat) dengan agennya (pemerintah daerah). Pemerintah daerah akan berusaha memberikan informasi yang seluas-luasnya mengenai kondisi derahnya kepada debitur (pemerintah pusat). Dengan harapan pemerintah pusat lebih mengetahui dan memahami pemerintah daerah dalam kaitannya dengan kredit yang diberikan.

Semakin tinggi tingkat leverage daerah, maka akan semakin besar pula kemungkinan terjadinya transfer kemakmuran dari debitur. Sehingga untuk mempengaruhi hal tersebut pemerintah daerah dituntut untuk meningkatkan kinerja keuangan daerahnya guna memenuhi tuntutan debiturnya.

(26)

Leverage mempunyai hubungan positif dengan kinerja keuangan pemerintah daerah, hal ini seiring dengan tuntutan debitur akan informasi mengenai keadaan finansial kreditur dan untuk meyakinkan bahwa debitur akan dapat memenuhi kewajibannya saat jatuh tempo, maka daerah dengan rasio leverage yang tinggi akan melakukan disclosure yang lebih luas (Naim dan Rahman, 2000; Yularto dan Chariri, 2003).

2.5 Ukuran Legislatif

Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) atau anggota legislatif bertugas mengawasi pemerintah daerah agar pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran yang ada untuk dapat didayagunakan dengan baik. Banyaknya jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap pemerintah daerah sehingga berdampak dengan adanya peningkatan kinerja pemerintah daerah (Sumarjo, 2010).

Sumarjo (2010) menyatakan bahwa lembaga legislatif atau DPRD merupakan lembaga yang memiliki potensi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah. Gilligan dan Matsusaka (2001) menemukan bahwa ada pengaruh positif ukuran legislatif terhadap kebijakan pendapatan dan pengeluaran suatu Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, semakin banyak anggota DPRD diharapkan semakin dapat meningkatkan pengawasan terhadap Pemerintah Daerah sehingga adanya peningkatan kinerja pada pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah.

2.6 Intergovermental Revenue

(27)

Patrick (2007) mengartikan intergovernmental revenue sebagai salah satu pendapatan pemerintah daerah yang berasal dari transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk membiayai kegiatan pemerintah daerah. Sebagai timbal baliknya, pemerintah daerah membelanjakan pendapatan transfer antar pemerintah sesuai dengan alokasi dan petunjuk anggaran dan menurut undang-undang.

Pemerintah pusat berharap dengan adanya transfer tersebut maka pemerintah daerah dapat meningkatkan kinerjanya. Patrick (2007) menggunakan intergovernmental revenue sebagai salah satu variabel dalam menjelaskan karakteristik pemerintah daerah Pennsylvania. Transfer tersebut lebih dikenal di Indonesia sebagai dana perimbangan (Suhardjanto, 2010). Berdasarkan Undang- Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Dana Perimbangan bertujuan mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah. Dana perimbangan menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terdiri dari:

1. Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi

(28)

2. Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi

3. Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

2.7 Pendapatan Pajak Daerah

Secara umum pajak adalah pungutan dari masyarakat oleh Negara (pemerintah) berdasarkan Undang-Undang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya dengan tidak mendapat prestasi kembali (kontra prestasi/balas jasa) secara langsung, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran Negara dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa pajak adalah pembayaran wajib yang dikenakan berdasarkan Undang-Undang yang tidak dapat dihindari bagi yang berkewajiban dan bagi mereka yang tidak mau membayar pajak dapat dilakukan paksaan. Dengan demikian, akan terjamin bahwa kas Negara selalu berisi uang pajak.

Selain itu, pengenaan pajak berdasarkan Undang-Undang akan menjamin adanya keadilan dan kepastian hukum bagi pembayar pajak sehingga pemerintah tidak dapat sewenang-wenang menetapkan besarnya pajak. Menurut Mardiasmo (2009:21), pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

(29)

pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan Undang - Undang No. 28 Tahun 2009 sebagai perubahan dari Undang-Undang No. 34 Tahun 2000, Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pendapatan pajak daerah dalam penelitian ini diukur dari laporan Realisasi APBD masing-masing oleh pemerintah daerah. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Florida (2008), menunjukkan bahwa pendapatan pajak daerah mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah.

2.8 Penelitian Terdahulu

Sumarjo (2010) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah (studi empiris pada pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia) menyebutkan bahwa ukuran (size) pemerintah daerah, leverage, dan intergovermental revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Kemakmuran (wealth) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah disebabkan masih kecilnya peran Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

(30)

Sesotyaningtyas (2012) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah menyebutkan bahwa secara simultan variabel leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah, secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi. Sedangkan secara parsial, variable leverage, ukuran legislatif dan intergovernmental revenue tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi kinerja. Sedangkan variabel pendapatan pajak daerah berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi kinerja.

Anzarsari (2014) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap kinerja pemerintah daerah (studi empiris pada kabupaten/kota se-Jawa Tengah) menyebutkan bahwa kemakmuran (wealth), dan intergovernmental renevue berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah.

Sedangkan ukuran (size) dan ukuran legislatif tidak berpengaruh.

Maiyora (2015) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota (studi empiris kabupaten/kota di Pulau Sumatera) menyebutkan bahwa variable size dan intergovernmental revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah sedangkan wealth, ukuran legislatif, dan leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

(31)

Alfarisi (2015) dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, dan dana perimbangan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah (studi empiris pada kabupaten dan kota di provinsi Sumatera Barat) menyebutkan bahwa pajak daerah berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, retribusi daerah berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, dan dana perimbangan berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

Rochmah (2015) dalam penelitiannya yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah (studi empiris pada kota dan kabupaten di provinsi Jawa Tengah tahun 2009-2012) menyebutkan bahwa PAD dan pertumbuhan ekonomi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Dana perimbangan, belanja modal, ukuran legislatif, dan leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Penelitian Variabel Penelitian Hasil Peneliti

1 Sumarjo (2010)

Dependen : Kinerja keuangan pemerintah daerah.

Independen : ukuran (size) pemerintah daerah, leverage, dan

intergovermental revenue

ukuran (size)

pemerintah daerah, leverage, dan intergovermental revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Kemakmuran (wealth) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah disebabkan masih kecilnya peran Pendapatan Asli

Daerah (PAD)

(32)

terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

2 Sesotyaningtyas (2012)

Dependen : Kinerja keuangan pemerintah daerah

Independen : leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue, dan pendapatan pajak daerah

secara simultan variabel leverage, ukuran legislatif, intergovernmental

revenue, dan

pendapatan pajak daerah, secara

bersama- sama

berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi. Sedangkan secara parsial, variable leverage, ukuran legislatif dan intergovernmental revenue tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi kinerja.

Sedangkan variabel pendapatan pajak daerah berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah berdasarkan rasio efisiensi kinerja.

3 Anzarsari (2014)

Dependen: Kinerja keuangan pemerintah daerah

Independen:

Kemakmuran (wealth), intergovernmental revenue, ukuran (size), dan ukuran legislatif

kemakmuran (wealth), dan intergovernmental renevue berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah.

Sedangkan ukuran (size) dan ukuran legislatif tidak berpengaruh

4 Maiyora

(2015)

Dependen: Kinerja keuangan pemerintah daerah

variabel size dan intergovernmental revenue berpengaruh

(33)

Independen: Size, intergovernmental revenue, wealth, ukuran legislatif, dan leverage

terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah sedangkan wealth, ukuran legislatif, dan leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.

5 Alfarisi (2015)

Dependen: Kinerja keuangan pemerintah daerah

Independen: Pajak daerah, retribusi daerah, dan dana perimbangan

pajak daerah

berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, retribusi daerah berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, dan dana perimbangan

berpengaruh signifikan negatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah

6 Rochmah

(2015)

Dependen: Kinerja keuangan pemerintah daerah

Independen: Dana perimbangan, belanja modal, ukuran legislatif, dan leverage

Dana perimbangan, belanja modal, ukuran legislatif, dan leverage tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah

2.9 Kerangka Konseptual

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan kedalam kerangka konseptual sebagai berikut:

Leverage (X1)

Ukuran legislatif

(X2) Kinerja Keuangan

Pemerintah Daerah

(34)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.10 Hipotesis Peneliatian

H1: Levarage berpengaruh signifikan terhadap kinjera keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

H2: Ukuran legislatif berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia.

H3: Intergovernmental revenue berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia

H4: Pendapatan pajak daerah berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia

H5: Leverage, ukuran legislatif, intergovernmental revenue dan pendapatan pajak daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah kabupaten/kota di Indonesia

Intergovernmental Revenue (X3) Pendapatan Pajak

Daerah (X4)

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah asosiatif kausal yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan yang bersifat sebab akibat. Unit analisis dalam penelitian adalah semua website resmi pemerintah daerah di Indonesia. Horizon waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi cross-sectional, yaitu studi yang dilakukan dengan data yang hanya sekali dikumpulkan, Sekaran (2006).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penulis mengumpulkan dan menganalisis data-data yang diperlukan dalam penelitian ini dari berbagai macam sumber seperti dari internet, jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku teks, dan dari berbagai sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini, sehinggga tempat dilakukannya penelitian ini tidak dapat dinyatakan secara spesifik.

(36)

3.3 Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

3.3.1 Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel terikat secara positif atau negatif (Sekaran, 2006). Apabila setiap unit kenaikan variabel bebas diikuti oleh kenaikan variabel terikat maka variabel bebas mempengaruhi variabel terikat secara positif. Begitu juga sebaliknya, apabila setiap unit penurunan variabel bebas diikuti oleh penurunan variabel terikat maka variabel bebas mempengaruhi variabel terikat secara negatif. Didalam penelitian ini, variabel bebas yang digunakan penulis adalah Leverage, Ukuran Legislatif, Intergovernmental Revenue, dan Pendapatan Pajak Daerah.

3.3.2 Variabel Terikat

Variabel terikat merupakan variabel yang menjadi fokus utama peneliti di dalam penelitian ini. Melalui analisis terhadap variabel terikat adalah mungkin untuk menemukan jawaban atas suatu masalah (Sekaran, 2006). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia.

3.4 Defenisi Operasional Variabel 3.4.1 Leverage

Penelitian yang dilakukan Weill (2003) mengungkapkan bahwa leverage merupakan proporsi yang mengambarkan besarnya utang dari pihak eksternal dibandingkan dengan modal sendiri. Hal ini mengindikasikan bahwa jika jumlah

(37)

utang lebih besar daripada modal sendiri maka hal tersebut menggambarkan bahwa sumber utama pendanaan entitas tersebut berasal dari pihak eksternal (Perwitasari, 2010). Penelitian yang dilakukan Haniffa dan Cooke (2005), Miranti (2009), dan Choiriyah (2010) menggunakan rasio utang terhadap modal sendiri dalam menghitung leverage. Konsisten dengan penelitian yang dilakukan Cohen (2006), penelitian ini menggunakan debt to equity dalam mengukur leverage.

Adapun rumus untuk menghitung rasio leverage adalah sebagai berikut:

Rasio Leverage = 𝑑𝑒𝑏𝑡

𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

3.4.2 Ukuran Legislatif

Pengawasan atas jalannya pemerintahan dilakukan oleh DPRD. Penelitian yang dilakukan oleh Afiah (2009) menggunakan jumlah anggota legislatif untuk menilai pengaruh terhadap sistem informasi akuntansi pemerintah daerah.

Beranjak dari penelitian terdahulu yang dilakukan Afiah (2009), maka peneliti menggunakan jumlah anggota DPRD dalam mengukur ukuran legislatif.

3.4.3 Intergovernmental Revenue

Intergovernmental Revenue adalah pendapatan yang diterima pemerintah daerah yang berasal dari sumber eksternal dan tidak memerlukan adanya pembayaran kembali (Patrick, 2007). Intergovernmental Revenue biasa dikenal dengan dana perimbangan (Suhardjanto 2010). Proksi dari intergovernmental revenue dalam penelitian ini menggunakan perbandingan antara total dana perimbangan dengan total pendapatan. Intergovernmental revenue diukur dengan proksi yang sama dalam penelitian Patrick (2007).

(38)

Pengukuran ini dipilih karena intergovernmental revenue merupakan bagian dari pendapatan daerah yang berasal dari lingkungan eksternal (luar kotamadya) dan besarnya ketergantungan pemerintah daerah dari transfer pemerintah pusat (80% - 98%) (Suhardjanto 2010). Adapun rumus perhitungan intergovernmental revenue adalah:

Intergovernmental Revenue = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑛𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛

3.4.4 Pendapatan Pajak Daerah

Pendapatan dari pajak daerah digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan untuk diberikan lagi kepada masyarakat. Pendapatan pajak daerah dalam penelitian ini diukur dari laporan Realisasi APBD masing-masing pemerintah daerah. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Florida (2008), menunjukkan bahwa pendapatan pajak daerah mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah.

3.4.5 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia Kinerja merupakan gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan, visi dan misi suatu organisasi (Bastian, 2006).

Pengukuran kinerja pemerintah daerah dapat diukur dengan menilai efisiensi atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat (Moore, 2003). Penilaian efisiensi sangat penting dilakukan karena akan berdampak pada standar hidup masyarakat (Lorenzo dan Sanchez, 2007). Penghitungan rasio efisiensi didasarkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hamzah (2009), yaitu:

Efisiensi = 𝑟𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛

(39)

Defenisi Operasional N

o.

Variabel Defenisi Indikator Skala

1 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia (Y)

Kinerja merupakan gambaran

pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan, visi dan misi suatu organisasi (Bastian, 2006)

Pengukuran kinerja pemerintah daerah dapat diukur dengan menilai efisiensi atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat (Moore, 2003).

Rasio

2 Leverage (X1) leverage merupakan proporsi yang mengambarkan besarnya utang dari pihak eksternal dibandingkan dengan modal sendiri

(Weill,2003)

Rasio Leverage =

𝑑𝑒𝑏𝑡 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

(Cohen, 2006)

Rasio

3 Ukuran Legislatif (X2)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) atau anggota legislatif bertugas mengawasi

pemerintah daerah agar pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran yang ada untuk dapat didayagunakan dengan baik (Afiah,2009)

Ukuran Legislatif dapat diukur dengan melihat banyaknya jumlah anggota legislatif (Afiah,2009)

Rasio

4 Intergovernmental Revenue (X3)

Intergovernmental Revenue adalah pendapatan yang diterima

pemerintah daerah yang berasal dari sumber eksternal dan tidak

memerlukan

Intergovernmental Revenue =

𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑛𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛

(Suhardjanto et al., 2010)

Rasio

(40)

kembali (Patrick, 2007)

5 Pendapatan Pajak Daerah (X4)

Pendapatan dari pajak daerah digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan untuk diberikan lagi kepada masyarakat (Florida,2008)

Pendapatan pajak daerah dalam penelitian ini diukur dari laporan Realisasi APBD masing-masing pemerintah daerah (Florida,2008)

Rasio

3.5 Populasi dan Sampel

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pemerintahan daerah yang ada di Indonesia yang berjumlah 548 yang terdiri atas 34 pemerintahan provinsi, 98 pemerintahan kota, dan 416 pemerintahan kabupaten. Sampling adalah proses pengambilan sebagian elemen dari suatu populasi sebagai wakil dari populasi tersebut. Besaran sampel yang tepat untuk penelitian adalah lebih besar dari 30 dan kurang dari 500 (Sekaran, 2006).

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel berdasarkan kriteria- kriteria tertentu (Daulay, 2010). Adapun kriteria pengambilan sampel adalah sebagai berikut :

1. Pemerintah Daerah memilik website resmi pemerintah daerah.

2. Data variabel Ukuran Legislatif dari masing-masing daerah tersedia lengkap di website KPU.

3. Pemerintahan daerah mempublikasikan secara lengkap informasi keuangan daerahnya pada website resmi pemerintah daerah.

3.6 Jenis dan Sumber Data

(41)

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dengan sumber data sekunder. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan, sedangkan data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung dengan melalui media perantara. Periode data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tahun 2014. Data variabel dependen yaitu Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia yang dapat dilihat dari ketersediaan informasi keuangan yang lengkap yang terdapat pada website resmi pemerintah daerah dan diperoleh dengan mengamati secara langsung. Data variabel independen yaitu, Leverage, Intergovernmental Revenue dan Pendapatan Pajak Daerah di dapat dari website resmi pemerintah daerah sedangkan data Ukuran Legislatif di dapat dari website resmi KPU.

3.7 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan studi dokumentasi. Data-data dan teori dalam penelitian ini diperoleh dari literatur, artikel, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian dan landasan teori. Data juga diperoleh dari studi dokumentasi yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder baik dari lembaga yang mengeluarkan data tersebut dan juga melalui internet.

3.8 Metode Analisis

Adapun pengujian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.8.1 Analisis Deskriptif

(42)

Analisis deskriptif digunakan untuk menghasilkan gambaran dari data yang telah terkumpul. Analisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai rata-rata (mean), maksimum, minimum, dan standar deviasi.

3.8.2 Uji Asumsi Klasik

Penggunaan uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui dan menguji kelayakan atas model regresi yang digunakan pada penelitian ini. Tujuan lainnya untuk memastikan bahwa di dalam model regresi yang digunakan mempunyai data yang terdistribusikan secara normal, bebas dari autokorelasi, heterokedistisitas serta multikolinearitas

.

3.8.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas, dan variabel terikat memiliki distribusi normal dan tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data secara normal atau mendekati normal (Ghozali, 2005) untuk menguji normalitas data dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama dengan melihat grafik normal probability plot dasar pengambilan keputusan dari tampilan grafik normal probability plot yang mengacu pada Imam Ghozali (2005),

yaitu:

1. Jika data (titik) menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, berarti menunjukkan pola distribusi yang normal sehingga model regresi dapat memenuhi asumsi normalitas.

(43)

2. Jika data (titik) menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal berarti tidak menunjukkan pola distribusi normal sehingga model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Pengujian normalitas yang lain yang lebih baik dilakukan adalah dengan menggunakan analisis statistik. Pengujian ini digunakan untuk menguji normalitas residual suatu model regresi adalah dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Dalam uji Kolmogorov-Smirov, suatu data dikatakan normal apabila nilai Asympotic Significant lebih dari 0,05 (Hair 1998). Dasar pengambilan keputusan dalam uji K-S adalah:

1. Apabila probabilitas nilai 2 uji K-S tidak signifikan < 0,05 secara statistik maka Ho ditolak, yang berarti data terdistribusi tidak normal.

2. Apabila probabilitas nilai 2 uji K-S signifikan > 0,05 secara statistik Ho diterima, yang berarti data terdistribusi normal.

Dalam penelitian ini akan digunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui apakah data yang digunakkan sudah berdistribusi secara normal atau tidak. Dan untuk mendukung hasil uji Kolmogorov-Smirnov peneliti juga melakukan uji grafik terhadap data.

3.8.2.2 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada suatu periode dengan periode sebelumnya. Masalah autokorelasi sering ditemukan pada data runtut waktu atau time series karena gangguan pada suatu perusahaan cenderung mempengaruhi gangguan pada perusahaan yang sama pada periode berikutnya.

(44)

Sedangkan pada data cross-section, masalah autokorelasi relatif jarang terjadi karena gangguan pada observasi yang berbeda berasal dari perusahaan yang berbeda.

Penelitian ini menggunakan data time series dan data cross-section yang dikombinasikan melalui model panel data, sehingga dimungkinkan tidak terjadi masalah autokorelasi. Untuk mengetahui apakah terjadi masalah autokorelasi maka dilakukan uji Durbin-Waston (DW test) Gujarati (2003).

Alat analisis yang digunakan adalah uji Durbin-Watson Statistik dengan ketentuan:

1. Bila nilai Durbin-Watson (DW) terletak antara batas atas atau Upper Bound (DU) dan 4-DU, makan koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak ada autokorelasi.

2. Bila nilai DW lebih rendah daripada batas bawah atau Lower Bound (DL), maka koefisien autokorelasi lebih besar dari nol, berarti ada autokorelasi positif.

3. Bila nilai DW lebih besar daripada (4-DL), maka koefisien autokorelasi lebih kecil dari nol, berarti ada autokorelasi negatif.

4. Bila nila DW terletak diantara batas atas (DU) dan batas bawah (DL) atau DW terletak antara (4-DU) dan (4-DL), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.

3.8.2.3 Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas adalah salah satu asumsi klasik sebagai prasyarat melakukan analisis regresi. Uji heteroskedastisitas ini bisa dilihat berdasarkan

(45)

scatterplot, tetapi tes heteroskedastisitas menggunakan scatterplot sangat lemah karena hanya mengandalkan analisis visual. Untuk mendapatkan kepastian perlu uji hipotesis yaitu menggunakan uji glejser.

3.8.2.4 Uji Multikolonieritas

Uji Multikolinearitas bertujuan menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Salahsatu cara untuk mendeteksinya dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Nilai cut-off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah apabila nilai Tolerance>10 (Ghozali, 2007). Ketentuan dalam uji multikolinearitas:

- Jika nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas pada penelitian tersebut

- Jika nilai Tolerance < 0,10 dan VIF > 10, maka dapat diartikan bahwa terjadi gangguan multikolinearitas pada penelitian tersebut.

3.8.3 Uji Hipotesis

3.8.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas dalam mempengaruhi variabel tidak bebas secara bersama-sama ataupun secara parsial. Persamaan regresi dengan linier berganda dalam penelitian ini adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3+ b4X4 + e Keterangan:

(46)

Y = Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia

a = konstanta

b1 = koefisien variabel Leverage

b2 = koefisien variabel Ukuran Legislatif

b3 = koefisien variabel Intergovernmental Revenue b4 = koefisien variabel Pendapatan Pajak Daerah X1 = Leverage

X2 = Ukuran Legislatif

X3 = Intergovernmental Revenue X4 = Pendapatan Pajak Daerah e = Error

3.8.3.2 Uji Statistik F (F-test)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2005). Jika probabilitas (signifikasi) lebih besar dari 0,05 maka variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel terikat jika probabilitas lebih kecil 0,05 maka variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat.

3.8.3.3 Uji Statstik t (T-test)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel

(47)

dependen (Ghozali, 2005). Dalam pengolahan data menggunakan program komputer SPSS, pengaruh secara individual ditunjukkan dari nilai signifikan uji t.

Hipotesis dirumuskan sebgai berikut:

- H0 : Xi = 0, artinya tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

- H0 : Xi = 0, artinya ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Penerimaan atau penolakan hipotesis dalam suatu penelitian dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:

1. Jika nilai signifikansi t statistik > 0.05, maka H0 diterima. Hal ini berarti bahwa suatu variabel independen secara individual tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.

2. Jika nilai signifikansi t statistik < 0.05, maka H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen.

3.8.3.4 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2005). Nilai R2 mempunyai interval antara 0 sampai 1. Semakin besar R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut dan semakin mendekati 0, maka variabel independen secara keseluruhan tidak dapat menjelaskan variabel dependen (Sulaiman, 2004),

(48)

Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2005).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah 45 Kabupaten dan Kota di Indonesia yang telah diterpilih berdasarkan metode purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Adapun kriteria pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah Daerah memilik website resmi pemerintah daerah.

2. Data variabel ukuran legislatif dari masing-masing daerah tersedia lengkap di website KPU.

(49)

3. Pemerintahan daerah mempublikasikan secara lengkap informasi keuangan daerahnya pada website resmi pemerintah daerah.

Tabel. 4.1 Sampel Penelitian No. Kabupaten/Kota

1 Kulon Progo 2 Kota Padang 3 Kota Solok

4 Kabupaten Seruyan 5 Bukit Tinggi

6 Kabupaten Pasaman 7 Kabupaten Bangka 8 Kota Malang

9 Kabupaten Jembrana 10 Kabupaten Bangka Tengah 11 Makassar

12 Kabupaten Wonosobo 13 Kota Payukumbu 14 Tangerang Selatan 15 Kabupaten Aceh Utara 16 Kabupaten Bintan

17 Kabupaten Lombok Utara 18 Kabupaten Merangin 19 Kota Palembang

20 Kabupaten Tanjung Jabung Barat 21 Kota Bogor

22 Kota Surabaya 23 Kota Magelang

24 Kabupaten Nagan Raya 25 Kota Pekanbaru

26 Kabupaten Sidoarjo 27 Kabupaten Tegal 28 Kabupaten Natuna 29 Kabupaten Demak 30 Kabupaten Purworejo

(50)

31 Kabupaten Labuhanbatu 32 Kota Tangerang Selatan 33 Kabupaten Padang Pariaman 34 Kabupaten Sampang

35 Kabupaten Blora

36 Kabupaten Maluku Tenggara 37 Kabupaten Sleman

38 Kabupaten Kudus

39 Kabupaten Manggarai Barat 40 Kabupaten Cilacap

41 Kabupaten Bandung 42 Kabupaten Kebumen 43 Kabupaten Musi Banyuasin 44 Kabupaten Waringin Timur 45 Kota Tarakan

Sumber: Hasil pengolahan data, 2016

Berdasarkan data yang telah diperoleh terdapat 45 Kabupaten dan Kota di Indonesia yang menjadi sampel dalam penelitian ini, sehingga jumlah observasi penelitian ini adalah 45. Keseluruhan pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan bantuan Software SPSS.

4.2 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk menghasilkan gambaran dari data yang telah terkumpul. Analisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai rata-rata (mean), maksimum, minimum, dan standar deviasi.

Tabel 4.2

Hasil Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Leverage 45 .00 .03 .0054 .00752

Ukuran Legislatif 45 19.00 50.00 39.0444 8.74371

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keberlanjutan program Posdaya Kecamatan Bukateja. Untuk mengetahui hubungan faktor partisipasi masyarakat dengan

Nilai faktor-faktor koreksi beserta PDD di kedalaman tertentu dapat dilihat pada Tabel 4, yang selanjutnya nilai tersebut digunakan untuk menentukan keluaran berkas

Terkait dengan hasil penelitian sebagaimana telah dipaparkan di atas, berikut ini peneliti mencoba merekomendasikan beberapa hal yang mungkin dapat menjadi pertimbangan

Penelitian yang dilakukan oleh Hill dan Wigfield (dalam Ergene, 2003) menemukan bahwa terdapat dua sampai tiga siswa dalam sebuah kelas mengalami kecemasan yang

The Effect of Biochar and Crop Straws on Heavy Metal Bioavailability and Plant Accumulation in a Cd and Pb Polluted Soil. Ecotoxicology

Guru menjelaskan materi tentang pengertian, jenis, fungsi dan simbol estetika karya seni musik dengan Prezi Desktop yang didalamnya terdapat slide presentasi materi

By giving the increasing visibility of migrant children in Malaysian policy, the research aims to explore the tensions in pedagogic practices between the valuing of migrant workers

PERPADUAN ANTARA ARSITEKTUR KOLONIAL &amp; ARSITEKTUR MODERN Perpaduan yang terjadi pada rancangan design mall Magelang adalah dengan konsep bahwa Arsitektur Kolonial merupakan