• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keanekaragaman Jenis dan Nilai Ekonomi Satwa Liar yang Digunakan Sebagai Obat di Jawa Tengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Keanekaragaman Jenis dan Nilai Ekonomi Satwa Liar yang Digunakan Sebagai Obat di Jawa Tengah"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

KEANEKARAGAMAN JENIS DAN NILAI EKONOMI

SATWA LIAR YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT

DI JAWA TENGAH

DIYAH KARTIKASARI

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

SATWA LIAR YANG DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT

DI JAWA TENGAH

DIYAH KARTIKASARI

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional Konservasi Biodiversitas

Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

ABSTRACT

DIYAH KARTIKASARI. Species Diversity and Economic Value of Medicinal

Wild Animal in Central Java. Under the supervisions of BURHANUDDIN

MASY’UD dan MIRZA D KUSRINI.

Indonesia has high biodiversity and endemism, however extinction rate is also high. Excessive harvesting and habitat destruction by human activity were the dominant factor leading to species extinction and biodiversity loss. Most of the people depend on biodiversity as foods, medicine and housing, but sometime they heedless sustainable utilization. This research was aimed to identify wild animal diversity utilized as traditional medicine and its economics value in Central Java.

Research was carried out from May to August 2007 in Central Java Province. Information was obtained through semi structured questionnaires applied to 105 respondents from 19 sub-provinces. I recorded 54 animal species utilized in traditional medicine, 42 of which are wild animal species (vertebrates), 10 avertebrates and 2 livestock animals; whose products were recommended for the treatment of 50 types of illnesses. The most frequently quoted treatments were for respiratory system (20 species), skin disease (18 species) and increasing stamina and appetite (14 species). Reptiles (21 species), followed by mammals (11 species) and fishes (4 species) represented the bulk of medicinal species. Medicinal wild animal is not only used for local consumption, but also exported. The economic value of wild animal to human health in Central Java is estimated to reach Rp.1,421,714,004 per year. Excessive harvesting of medicinal wild animal might increase species loss which resulted in extinction. However, if harvest and trade are based on sustainable utilization, it will not only increasing economic benefit but also generate effort for conservation.

(4)

RINGKASAN

DIYAH KARTIKASARI. Keanekaragaman Jenis dan Nilai Ekonomi Satwa Liar yang Digunakan Sebagai Obat di Jawa Tengah. Dibimbing oleh BURHANUDDIN MASY’UD dan MIRZA D KUSRINI.

Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman hayati serta endemisme yang sangat tinggi, namun tingkat keterancaman terhadap kepunahan spesies dan genetik di Indonesia juga sangat tinggi. Penyebab utama keterancaman terhadap bahaya kepunahan spesies adalah kerusakan habitat dan pemanfaatan yang tidak terkendali. Keanekaragaman hayati potensial sebagai sumber pangan, papan, sandang, obat-obatan yang mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia membuat harga obat-obatan yang tinggi menjadi tidak terjangkau lagi oleh masyarakat yang tingkat daya belinya rendah. Pengobatan tradisional dipilih oleh sebagian masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Selain tumbuh-tumbuhan, masyarakat juga menggunakan beberapa jenis satwa sebagai obat tradisional. Keanekaragaman jenis satwa liar serta pengetahuan yang dimiliki masyarakat Jawa Tengah tentang penggunaannya sebagai obat merupakan aset yang bernilai strategis untuk pemanfaatan satwa liar sebagai obat.

Penelitian dan pustaka mengenai satwa liar untuk obat masih sangat sedikit. Masih banyak jenis satwa obat yang belum tergali potensinya secara optimal namun keberadaannya di alam sudah terancam punah. Untuk dapat melakukan pengelolaan dan pemanfaatan satwa liar secara lestari maka pemanfaatan jenis satwa obat dan nilai ekonominya perlu diketahui untuk menentukan strategi konservasi yang harus diambil.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis satwa liar dan bagian mana yang digunakan serta cara penggunaannya sebagai obat, menghitung nilai ekonomi satwa liar yang digunakan sebagai obat dan mengetahui jalur pemasarannya serta mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan satwa liar sebagai obat.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2007 di 19 kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah. Karena jumlah pemanfaat satwa liar obat di Jawa Tengah belum diketahui secara pasti, pengambilan sampel penelitian dilakukan secara snowball sampling dengan bantuan key informan. Responden dibagi dalam empat kategori yaitu pemungut, pengumpul, peracik dan penjual. Jumlah responden yang berhasil diwawancarai adalah 105 orang. Selain kepada masyarakat, wawancara juga dilakukan pada instansi terkait Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan studi pustaka. Data dianalisis secara deskriptif dengan bantuan tabel frekuensi, tabel silang dan grafik.

(5)

menyembuhkan penyakit adalah reptilia (21 jenis), terutama ular. Satwa liar selain dipercaya untuk menyembuhkan penyakit secara umum, digunakan juga untuk penyembuhan penyakit secara magic.

Berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati & Ekosistemnya dan PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa, 5 jenis satwa masuk dalam daftar dilindungi undang-undang; 1 jenis masuk daftar apendiks I; 12 jenis apendiks II dan 2 jenis apendiks III CITES

(Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Sedangkan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources)Red List of Threatened Species, 1 jenis tercatat dalam kategori “genting”; 4 jenis masuk kategori “rentan” dan 13 jenis tercatat dengan kategori “beresiko rendah”.

Secara garis besar jalur pemasaran satwa liar untuk obat terdiri dari 2 jalur, yaitu jalur pemasaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan jalur pemasaran untuk ekspor. Jalur pemasaran untuk masyarakat lokal adalah: pemungut – pengumpul kecil – pengumpul besar – peracik/penjual – konsumen. Jalur pemasaran untuk ekspor adalah: pemungut – pengumpul kecil – pengumpul besar – eksportir. Total pendapatan yang diterima responden dari pemanfaatan satwa liar obat diperkirakan sebesar Rp.1.421.714 004/tahun.

Pemanfaatan satwa sebagai obat telah menjadi suatu matapencaharian bagi masyarakat. Hal ini menyebabkan tekanan yang besar terhadap kelestarian satwa liar obat. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan yang lebih dapat memberdayakan masyarakat. Dalam pemanfaatan satwa liar untuk obat, masih banyak masyarakat yang melanggar aturan-aturan yang sudah ditentukan, mereka masih menangkap dan memperdagangkan satwa yang dilindungi undang-undang dan melakukan perdagangan satwa liar yang masuk daftar apendiks CITES tanpa dokumen yang sah.

Perhatian dan penelitian pada satwa sebagai obat masih sangat jarang, hal ini menyebabkan pemanfaatan satwa untuk pengobatan tradisional masih mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain: belum adanya standar dosis yang tepat untuk penggunaan obat, belum adanya standar keamanan penggunaan satwa liar untuk obat terutama yang dikonsumsi dalam bentuk mentah (darah, empedu, sumsum) dan belum adanya kajian ilmiah tentang kandungan zat aktif yang terdapat dalam satwa sebagai obat.

Dengan adanya berbagai permasalahan dalam pemanfaatan satwa liar untuk obat, untuk mencegah kepunahan jenis satwa dan agar pemanfaatan satwa liar dapat lestari maka strategi konservasi yang harus dilakukan antara lain: peningkatan kesadaran dan usaha pemberdayaan masyarakat pemanfaat satwa liar, penyediaan data dasar tentang satwa dan habitatnya (informasi ilmiah dan teknis lain tentang populasi dan habitat, data dasar tentang bioreproduksi dan pola reproduksi satwa), mengembangkan jaringan kerja dengan stakeholders, penelitian terhadap zat aktif yang dikandung oleh satwa liar, penertiban peredaran satwa liar, usaha penangkaran .

(6)

menyembuhkan penyakit adalah reptilia (21 jenis), terutama ular. Satwa liar selain dipercaya untuk menyembuhkan penyakit secara umum, digunakan juga untuk penyembuhan penyakit secara magic.

Berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati & Ekosistemnya dan PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa, 5 jenis satwa masuk dalam daftar dilindungi undang-undang; 1 jenis masuk daftar apendiks I; 12 jenis apendiks II dan 2 jenis apendiks III CITES

(Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Sedangkan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources)Red List of Threatened Species, 1 jenis tercatat dalam kategori “genting”; 4 jenis masuk kategori “rentan” dan 13 jenis tercatat dengan kategori “beresiko rendah”.

Secara garis besar jalur pemasaran satwa liar untuk obat terdiri dari 2 jalur, yaitu jalur pemasaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan jalur pemasaran untuk ekspor. Jalur pemasaran untuk masyarakat lokal adalah: pemungut – pengumpul kecil – pengumpul besar – peracik/penjual – konsumen. Jalur pemasaran untuk ekspor adalah: pemungut – pengumpul kecil – pengumpul besar – eksportir. Total pendapatan yang diterima responden dari pemanfaatan satwa liar obat diperkirakan sebesar Rp.1.421.714 004/tahun.

Pemanfaatan satwa sebagai obat telah menjadi suatu matapencaharian bagi masyarakat. Hal ini menyebabkan tekanan yang besar terhadap kelestarian satwa liar obat. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan yang lebih dapat memberdayakan masyarakat. Dalam pemanfaatan satwa liar untuk obat, masih banyak masyarakat yang melanggar aturan-aturan yang sudah ditentukan, mereka masih menangkap dan memperdagangkan satwa yang dilindungi undang-undang dan melakukan perdagangan satwa liar yang masuk daftar apendiks CITES tanpa dokumen yang sah.

Perhatian dan penelitian pada satwa sebagai obat masih sangat jarang, hal ini menyebabkan pemanfaatan satwa untuk pengobatan tradisional masih mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain: belum adanya standar dosis yang tepat untuk penggunaan obat, belum adanya standar keamanan penggunaan satwa liar untuk obat terutama yang dikonsumsi dalam bentuk mentah (darah, empedu, sumsum) dan belum adanya kajian ilmiah tentang kandungan zat aktif yang terdapat dalam satwa sebagai obat.

Dengan adanya berbagai permasalahan dalam pemanfaatan satwa liar untuk obat, untuk mencegah kepunahan jenis satwa dan agar pemanfaatan satwa liar dapat lestari maka strategi konservasi yang harus dilakukan antara lain: peningkatan kesadaran dan usaha pemberdayaan masyarakat pemanfaat satwa liar, penyediaan data dasar tentang satwa dan habitatnya (informasi ilmiah dan teknis lain tentang populasi dan habitat, data dasar tentang bioreproduksi dan pola reproduksi satwa), mengembangkan jaringan kerja dengan stakeholders, penelitian terhadap zat aktif yang dikandung oleh satwa liar, penertiban peredaran satwa liar, usaha penangkaran .

(7)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Keanekaragaman Jenis dan Nilai Ekonomi Satwa Liar yang Digunakan Sebagai Obat di Jawa Tengah adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2008

(8)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2008

Hak cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritis atau tinjauan pustaka suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(9)

Judul Tesis : Keanekaragaman Jenis dan Nilai Ekonomi Satwa Liar yang Digunakan Sebagai Obat di Jawa Tengah

Nama : Diyah Kartikasari

Nomor Pokok : E.051054015

Program Studi : Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sub Program Studi : Konservasi Keanekaragaman Hayati

Disetujui: Komisi Pembimbing,

Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, M.S Dr. Ir. Mirza D Kusrini, M.Si Ketua Anggota

Diketahui:

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, M.S

(10)
(11)

KATA PENGANTAR

Tesis yang berjudul Keanekaragaman Jenis dan Nilai Ekonomi Satwa

Liar yang Digunakan Sebagai Obat di Jawa Tengah dibimbing oleh Dr. Ir.

Burhanuddin Masy’ud, MS selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Mirza D Kusrini, M.Si selaku anggota. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar magister profesi pada Sub Program Studi Konservasi Keanekaragaman hayati, Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Tesis ini menguraikan tentang keanekaragaman jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat di Jawa Tengah, bagian tubuh mana yang digunakan dan cara penggunaannya sebagai obat; nilai ekonomi dan jalur pemasaran satwa obat; serta permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan satwa sebagai obat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan data dasar dan sebagai masukan untuk menentukan suatu kebijakan di dalam pengelolaan satwa liar baik dalam pelestarian, pengawetan maupun pemanfaatannya.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih sangat jauh dari sempurna, walaupun demikian penulis berharap semoga informasi yang terkandung dalam tesis ini bermanfaat bagi para pihak terkait dan bagi mereka yang memerlukan.

Bogor, Januari 2008

(12)

Puji syukur kehadirat Allah SWT akhirnya tesis ini selesai pada waktunya. Segalanya menjadi bagian dari rahmat dan karunia-Nya dan semakin membuktikan bahwa manfaat senantiasa mengiringi setiap zat yang Dia ciptakan.

Tesis ini menjadi bagian akhir dari pelaksanaan tugas belajar penulis di Sub Program Studi Konservasi Keanekaragaman Hayati Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Karenanya penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), atas kesempatan mengikuti pendidikan karyasiswa Departemen Kehutanan.

Penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada komisi pembimbing: Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, MS., sebagai ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Mirza D Kusrini, M.Si., sebagai anggota. Keduanya mengawal proses mulai dari penyusunan proposal hingga penulisan hasil, sehingga tulisan ini layak untuk disebut tulisan ilmiah. Penghargaan serupa penulis sampaikan kepada Dr. drh. Muhammad Agil, M.Sc.Agr yang kesediaannya menjadi dosen penguji luar komisi telah membuat karya ilmiah ini menjadi lebih sempurna.

Motivasi dan dukungan semangat diberikan oleh Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA selaku Ketua Sub Program Studi Konservasi Keanekaragaman Hayati Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, kepadanya secara khusus penulis menyampaikan terima kasih. Belajar memahami permasalahan ekologi dan peubah pentingnya, segalanya menjadi sistematis dalam setiap persoalan kehidupan.

Bantuan yang luar biasa diterima penulis selama penelitian, antara lain dari Ir. Minto Basuki, Haning Tjipto, Agung Budi S., Mu’ali, Ananto, Darus Subiantoro, T. Suharyono, Deddy Rusyanto dan staf Balai KSDA Jawa Tengah. Hutang budi ini menjadi semangat untuk senantiasa berbuat yang terbaik bagi konservasi

(13)

penulis, memberikan semangat, dukungan dan doa selama penulis menyelesaikan studi; tulisan ini menjadi bingkisan kecil tanda sayang penulis kepada mereka. Terima kasih, sesuatu yang tak pernah bisa berhenti untuk terucap. Dan tak terlupa doa buat ayahanda tercinta (Alm.), yang suritauladannya selalu menjadi panutan bagi penulis.

Teman-teman mahasiswa S2 Profesi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sub Program Studi Konservasi Keanekaragaman Hayati (IPK/KKH) 2006 atas kebersamaan, kekompakan, bantuan, semangat dan ide-ide cemerlangnya selama kuliah bersama-sama. Tak ada yang bisa terucap kecuali kata terimakasih buat kalian semua, kita pernah bersatu dan tetap akan bersatu dimanapun kita berada.

(14)

Penulis dilahirkan di Magelang pada tanggal 23 Oktober 1973 dari ayah Sugito PA (alm.) dan ibu Sumiyati. Penulis merupakan putri keempat dari lima bersaudara.

Tahun 1991 penulis lulus dari SMA Negeri Blabak di Magelang dan pada tahun yang sama diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis memilih Program Studi Ilmu Tanah dan berhasil menyelesaikan studi pada tahun 1997.

Pada tahun 2000 penulis diterima sebagai Penyuluh Kehutanan di Departemen Kehutanan dan ditugaskan di Kabupaten Lampung Tengah. Pada tahun 2001 penulis menjalani alih tugas ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah dan bekerja sebagai Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan. Tahun 2006 penulis mendapatkan beasiswa dari Departemen Kehutanan untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Pascasarjana IPB pada program studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan sub program studi Konservasi Keanekaragaman Hayati.

(15)

DAFTAR ISI

Batasan Penelitian... 18

Penentuan Sampel... 18

Karakteristik Responden ... 26

Pemanfaatan Satwa Liar Sebagai Obat oleh Masyarakat... 28

Jalur Pemasaran dan Nilai Ekonomi ... 43

Pembahasan ... 51

Karakteristik Responden ... 51

Pemanfaatan Satwa Liar Sebagai Obat oleh Masyarakat... 55

Jalur Pemasaran dan Nilai Ekonomi ... 65

Kebijakan Pemerintah dan Pemerintah daerah dalam Pemanfaatan Satwa Liar untuk obat ... 69

Permasalahan dalam Pemanfaatan Satwa Liar untuk Obat... 72

Strategi Konservasi yang harus Dilakukan ... 74

KESIMPULAN DAN SARAN... 76

(16)
(17)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Daftar obat-obatan yang menggunakan bahan dari satwa... 8

2 Sebaran responden berdasarkan kategori ... 20

3 Rekapitulasi keanekaragaman jenis satwa yang digunakan sebagai obat ... 24

4 Sebaran responden berdasarkan umur... 26

5 Jenis satwa yang digunakan sebagai obat di Jawa Tengah ... 29

6 Lima jenis satwa yang paling banyak dipercaya berkhasiat obat ... 31

7 Status konservasi satwa liar yang digunakan sebagai obat ... 32

8 Habitat satwa dan cara penangkapannya... 34

9 Jumlah satwa liar yang diduga dimanfaatkan sebagai obat di Jawa Tengah ... 37

10 Bagian satwa yang paling sering digunakan sebagai bahan obat... 38

11 Kelompok penyakit yang dianggap paling banyak disembuhkan dengan penggunaan obat tradisional dari satwa liar ... 40

12 Realisasi eksport satwa obat dan bagiannya Propinsi Jawa Tengah bulan Mei s/d September 2006... 47

13 Harga rata-rata tiap jenis satwa liar obat ... 48

14 Harga rata-rata simplisia satwa obat di pasaran... 50

15 Total penghasilan masing-masing kategori setiap bulan ... 51

(18)

Halaman

1 Peta Propinsi Jawa Tengah ... 15

2 Persentase responden berdasarkan jenis kelamin... 26

3 Persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan ... 27

4 Persentase sebaran responden berdasarkan jumlah anggota keluarga ... 27

5 Persentase sebaran responden berdasarkan lama bekerja ... 28

6 Jumlah jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat pada masing-masing kelas ... 30

7 Ular kobra (Naja sputatrix), salah satu satwa yang paling banyak dipercaya mempunyai khasiat obat ... 34

8 Persentase cara penangkapan satwa dari alam ... 35

9 Jumlah jenis satwa berdasarkan bagian-bagiannya yang digunakan sebagai obat... 39

10 Jumlah jenis satwa obat berdasarkan kelompok penyakit yang disembuhkan ... 40

11 Persentase cara penggunaan satwa obat... 41

12 Persentase tujuan penjualan pada masing-masing kategori pemanfaat satwa liar obat ... 44

13 Persentase banyaknya lokasi penjualan racikan satwa obat... 45

14 Jalur pemasaran satwa obat di Jawa Tengah... 46

15 Persentase responden yang menjadikan pekerjaan sebagai pemanfaat satwa liar obat sebagai pekerjaan pokok dan sampingan... 48

16 Persentase kontribusi pemanfaatan satwa liar untuk obat terhadap penghasilan total keluarga... 51

17 Persentase banyaknya responden yang tahu dan tidak tahu tentang jenis-jenis satwa yang dilindungi undang-undang ... 54

18 Perbandingan persentase jumlah responden yang pernah dan tidak pernah mendapatkan penyuluhan... 54

19 Jumlah jenis satwa yang digunakan untuk pengobatan pada berbagai lokasi di beberapa negara. ... 56

20 Landak (Hystrix brachyura), salah satu satwa yang dilindungi undang-undang yang dipercaya mempunyaikhasiat obat ... 57

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Karakteristik responden ... 86

2 Pengetahuan reponden tentang konservasi... 88

3 Jenis satwa liar (vertebrata) yang dipercaya sebagai obat dan jumlah responden yang melaporkan... 89

4 Kegunaan masing-masing satwa untuk obat ... 90

5 Jumlah jenis satwa berdasarkan kelompok penyakit yang diobati... 97

6 Jumlah jenis satwa berdasarkan bagian tubuh yang digunakan sebagai obat... 98

7 Satwa liar yang digunakan sebagai obat di Jawa Tengah ... 99

8 Ramuan dan simplisia satwa obat ... 103

9 Jumlah penghasilan responden dari pemanfaatan satwa liar... 106

(20)

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati serta tingkat endemisme yang sangat tinggi (Abdulhadi 2001; Direktorat KKH 2005). Dari segi keanekaragaman jenis, Indonesia menduduki tempat pertama didunia dalam kekayaan jenis mamalia (515 jenis, 36% endemik), pertama dalam kekayaan jenis kupu-kupu swallowtail (121 jenis, 44% endemik), ketiga dalam kekayaan jenis reptil (lebih dari 600 jenis, 30% endemik), keempat dalam kekayaan jenis burung (1519 jenis, 28% endemik), kelima dalam kekayaan jenis amfibi (270 jenis, 40% endemik) (BAPPENAS 2003; KLH 2003). Namun demikian Indonesia merupakan negara dengan tingkat keterancaman terhadap kepunahan spesies dan genetik yang sangat tinggi (Direktorat KKH 2006). Penyebab utama keterancaman terhadap bahaya kepunahan spesies adalah kerusakan habitat dan pemanfaatan yang tidak terkendali (McNeely 1992; Noerdjito et al. 2005; Direktorat KKH 2006).

Keanekaragaman hayati merupakan sumber kehidupan, penghidupan dan kelangsungan hidup bagi umat manusia karena potensial sebagai sumber pangan, papan, sandang, obat-obatan serta kebutuhan hidup yang lain (Haeruman 1995; Addy 2002; BPPT 2006). Keanekaragaman hayati tersebut nilainya mencapai triliunan rupiah dan merupakan potensi yang besar untuk dikembangkan (BPPT 2006). Sebagian dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia telah dimanfaatkan dan memberikan nilai secara ekonomis. Lebih dari 6000 jenis tumbuhan dan satwa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhannya, baik secara langsung dari alam maupun melalui kegiatan budidaya (Shiva 1994; Abdulhadi & Kardono 2005; KLH 2003).

(21)

2

dari alam merupakan pilihan yang diambil oleh sebagian masyarakat untuk menjaga kesehatannya, dan adanya gerakan kembali ke alam (back to nature) semakin meningkatkan pemanfaatan bahan-bahan yang berasal dari alam.

Selain tumbuh-tumbuhan, masyarakat juga menggunakan beberapa jenis satwa sebagai obat. Beberapa contoh satwa liar yang digunakan sebagai obat adalah ular kobra, kukang dan badak. Darah, empedu dan sumsum ular kobra dipercaya masyarakat dapat menyembuhkan rematik dan liver (Hartono 1996). Daging kukang dipercaya sebagai obat yang bisa meningkatkan stamina laki-laki (Nursahid & Purnama 2007). Kulit dari cula badak dipergunakan dalam pengobatan tradisional dan dipercaya dapat mengurangi demam, menyusutkan tumor dan menyembuhkan patah atau retak tulang (BTNKS 1998).

Dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat kadang kurang mengindahkan asas konservasi. Sebagian masyarakat mengambil satwa tersebut langsung dari alam tanpa membudidayakannya terlebih dahulu. Bahkan pengambilan sumberdaya alam tersebut tidak sebatas untuk memenuhi kebutuhan pengobatan sehari-hari tetapi sebagai mata pencaharian. Pemanfaatan yang berlebihan menyebabkan turunnya populasi satwa di habitatnya dan beberapa jenis terancam kepunahan. Sebenarnya masih banyak sumberdaya hayati yang belum tergali potensinya secara optimal namun keberadaannya di alam sedang terancam punah (KLH 2003). Untuk itu perlu dilakukan penggalian potensi sumberdaya alam hayati yang ada dan pembenahan pemanfaatannya agar sumberdaya alam tersebut dapat tetap lestari.

Jawa Tengah yang luasnya sekitar 3.254.412 ha mempunyai beberapa tipe hutan yang terdiri dari hutan hujan tropis dataran rendah sampai hutan hujan tropis pegunungan. Tipe hutan yang ada merupakan habitat beranekaragam sumberdaya alam hayati baik tumbuhan maupun satwa. Penduduk Propinsi Jawa Tengah sebagian besar berasal dari suku Jawa, terkenal dalam pemakaian obat-obat tradisional berupa jamu yang menggunakan bahan-bahan alami baik berupa tumbuhan maupun satwa.

(22)

diantaranya terdapat di Jawa Tengah (47,46%). Menurut Suporahardjo dan Hargono (1994) dari 350 industri obat tradisional yang tercatat di Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM) tersebar di 20 propinsi di Indonesia, 53 industri diantaranya terdapat di Jawa Tengah. Keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta pengetahuan yang dimiliki masyarakat Jawa Tengah tentang penggunaannya sebagai obat merupakan potensi yang perlu digali dan dikembangkan dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang lestari.

Penelitian-penelitian keanekaragaman hayati yang ada saat ini sebagian besar tertuju pada penggunaan tumbuhan sebagai bahan obat sedangkan penelitian tentang penggunaan satwa liar sebagai bahan obat masih sangat sedikit. Oleh karena itu penelitian tentang keanekaragaman jenis dan nilai ekonomi satwa yang digunakan sebagai obat oleh masyarakat Jawa Tengah menjadi penting.

Perumusan Masalah

Akhir-akhir ini pemanfaatan satwa liar sebagai obat semakin bertambah besar, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya penjual atau pengobat yang menggunakan bahan yang berasal dari satwa. Banyak kedai, rumah makan dan restoran yang juga menyajikan menu-menu masakan yang berasal dari satwa liar yang dipercaya dapat menyembuhkan suatu penyakit atau penambah stamina. Beberapa satwa yang digunakan sebagai obat oleh masyarakat adalah satwa yang masuk dalam daftar satwa yang terancam punah dan satwa-satwa yang statusnya dilindungi undang-undang seperti rusa, kijang, penyu dan landak.

(23)

4

Pustaka mengenai jenis-jenis satwa yang digunakan sebagai obat di Indonesia masih sangat terbatas. Informasi tentang satwa-satwa yang digunakan untuk pengobatan sebagian besar terdapat dalam berita media massa dan jarang terdokumentasi dalam laporan atau tulisan ilmiah. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap penggunaan satwa sebagai obat, hukum mengkonsumsi beberapa jenis satwa liar yang masih menjadi perdebatan dalam agama tertentu dan kurangnya dana penelitian merupakan beberapa hal yang menyebabkan kurangnya penelitian penggunaan satwa sebagai obat (Darusman LK 30 Maret 2007, komunikasi pribadi)1.

Di negara-negara maju satwa obat sudah banyak diteliti dan menghasilkan produk-produk berupa obat tradisional maupun sudah berbentuk obat modern. Sebagai contoh, dari publikasi Grifo et al. (1997) dari 150 merek dagang obat-obatan dalam daftar IMS Amerika, 27 jenis diantaranya berasal dari mamalia maupun reptilia. Produksi obat yang menghasilkan pendapatan bagi pabrik obat ternama di negara maju ini tentunya didahului oleh serangkaian riset yang mendalam. Hal ini yang sayangnya kurang dimiliki oleh negara-negara berkembang semisal Indonesia. Padahal, keanekaragaman hayati yang tinggi berpotensi menghasilkan devisa lebih tinggi daripada sumberdaya habis terpakai seperti minyak yang suatu saat akan lenyap, sementara satwa liar akan terus bereproduksi selama dilakukan pengelolaan yang baik.

Potensi untuk menemukan senyawa obat-obatan pada organisme liar sangat besar dan memberikan salah satu alasan untuk konservasi keanekaragaman hayati. Untuk dapat melakukan pengelolaan dan pemanfaatan satwa liar secara lestari maka pemanfaatan jenis satwa yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat dan nilai ekonominya perlu diketahui untuk menentukan strategi konservasi yang harus diambil oleh pengelola.

Dari uraian di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1 Jenis-jenis satwa obat apa saja yang selama ini digunakan oleh masyarakat di

Propinsi Jawa Tengah dan bagaimana cara penggunaannya ?

2 Bagaimana prospek penggunaan satwa obat di masa mendatang ditinjau dari aspek ekonomi dan konservasi ?

1

(24)

3 Permasalahan apa yang kemungkinan timbul berkaitan dengan penggunaan satwa obat tersebut ?

Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk :

1 Mengetahui keanekaragaman jenis satwa liar, bagian tubuh satwa liar yang digunakan dan cara penggunaannya sebagai obat.

2 Menghitung nilai ekonomi satwa liar yang digunakan sebagai obat dan mengetahui jalur pemasarannya.

3 Mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan satwa sebagai obat.

Manfaat

Hasil penelitian merupakan data dasar keanekaragaman jenis dan nilai ekonomi satwa liar yang digunakan sebagai obat serta sebagai masukan bagi instansi terkait dalam upaya pelestarian, pengelolaan dan pemanfaatan satwa liar di Propinsi Jawa Tengah.

Ruang Lingkup Penelitian

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini maka ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut :

1 Keanekaragaman jenis satwa liar terdiri dari : (a) jenis satwa liar, yang meliputi : nama daerah, nama ilmiah dan status (dilindungi/tidak dilindungi), (b) bagian satwa yang digunakan sebagai obat, (c) manfaat dan (d) cara penggunaannya,

(25)

TINJAUAN PUSTAKA

Satwa Liar Sebagai Obat

Indonesia memiliki keanekaragaman jenis satwa liar yang tinggi dan tersebar di beberapa tipe habitat (Alikodra 1990). Satwa liar adalah vertebrata yang hidup bebas di lingkungan alamnya (Bailey 1984). Sedangkan menurut Dephut (2005) satwa liar adalah semua binatang yang masih mempunyai sifat-sifat liar yang hidup di darat dan atau di air dan atau di udara, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.

Bermacam-macam jenis satwa liar merupakan sumberdaya alam yang dimanfaatkan untuk banyak kepentingan manusia, baik untuk kepentingan ekologis, ekonomis maupun kebudayaan (Alikodra 1990). Satwa liar juga memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Jenis-jenis primata sangat diperlukan dalam dunia obat-obatan, dan banyak jenis satwa liar yang menurut kepercayaan masyarakat dapat dipergunakan untuk mengobati berbagai penyakit tetapi belum dikembangkan secara luas (Alikodra 1983).

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki berbagai macam bahan dan ramuan obat tradisional. Berbagai resep obat tradisional dari bahan hayati telah dikembangkan oleh masyarakat. Kebanyakan obat tradisional mempergunakan bahan tumbuh-tumbuhan, namun tidak sedikit juga yang dibuat dari bahan-bahan hewani atau dikombinasikan dengan bahan-bahan hewani (Noerdjito et al. 2005).

(26)

Negara kita memiliki kekayaan satwa liar yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan obat. Beberapa spesies rusa dapat diternakkan untuk diambil dagingnya, ranggah muda rusa dan hasil sampingnya digunakan sebagai pengobatan tradisional (English 1994). Ranggah muda rusa mengandung senyawa

glycosamynoglycan yang merupakan senyawa penting dalam pengobatan osteoporosis (Semiadi G 14 Maret 2007, komunikasi pribadi)2. Peranannya yang cukup signifikan sebagai nutraceutical (unsur nutrisi yang mempunyai efek medis bagi manusia) telah banyak diulas (Jamal et al. 2005).

Tulang harimau loreng sumatra (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu bahan obat yang sangat dicari oleh bangsa Cina. Tulang-tulang tersebut sepenuhnya diperoleh dari perburuan harimau langsung dari alam (Maryanto et al.

1993). Tulang harimau merupakan salah satu bahan obat-obatan tradisional Asia yang digunakan untuk mengobati sakit rematik (Mills & Jackson 2007).

Kelelawar dipercaya bisa menyembuhkan penyakit asma (Prasetyo 2003). Beruang juga digunakan sebagai pengobatan tradisional, meskipun kemanjurannya belum terbukti secara medis satwa ini mengandung bahan aktif

Urso Deoxy Cholic Acid (UDCA) yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit tertentu seperti menajamkan pandangan, luka dalam, memperbaiki hati, dan sebagainya (Profauna 2007).

Di Ghana gigi ular python yang dibakar hingga menjadi abu dan dicampur dengan jeruk lemon digunakan untuk mengobati anak-anak yang mengalami masalah pada pencernaannya, sedangkan hati ular python dipakai untuk menyembuhkan kejang. Duri landak (porcupine) digunakan untuk mencegah kematian prematur pada anak-anak (Adow 2002). Beberapa contoh obat yang terdaftar dalam IMS Amerika Serikat (Grifo et al. 1997) yang mengandung bahan satwa terdapat dalam Tabel 1.

2

(27)
(28)

No Nama dagang Nama generik Kategori penyakit Kerja obat Bahan yang digunakan Golongan

ginekologi diambil dari urine kuda yang hamil

alami P373 Cutting’s

2 Zantac (Glaxo Pharm)

ratinidine antihistamin gastroenterologi screening dari histamin mamalia

semisintetik P904 G&G1996

3 Synthroid (Boots Pharm)

levothyroxine hormon tiroid endokrin tiroid domba yang diekstrak, oleh Muray (1891) sebagai terapi hormon.

Diidentifikasi tahun 1915

alami P365 Cutting’s

4 Vasotec (Merck&Co)

enalapril maleat Antihipertensi (ACE inhibitor)

kardiovaskuler merupakan derivat dari captopril, ditemukan pada bisa Bothrops jararaca

semisintetik P41 Burger p760G &G1990

ginekologi sintesis dari steroid mamalia semisintetik P381 Cutting’s

6 Tagamet (SKB Pharm)

cimetidine antihistamin gastroenterologi screening dari histamin mamalia

semisintetik P904 G&G1996

7 Ortho-Novum

ginekologi sintesis dari steroid mamalia semisintetik P244 Taylor P154 Ross&Brain

8 Capoten (Squibb)

captopril antihipertensi kardiovaskuler bahan obat ditemukan pada bisa ular Bothrops jararaca

semisintetik P41 Burger

9 Humulin N (Lilly)

(29)

9

No Nama dagang Nama generik Kategori penyakit Kerja obat Bahan yang digunakan Golongan

obat Referensi

10 Zestril (Stuart)

lisinopril antihipertensi kardiovaskuler modifikasi struktur dari enalapril, derivat dari captopril, bahan obat yang ditemukan pada bisa

Bothrops jararaca

semisintetik P41 Burger P760 G&G1990

ginekologi sintesis dari steroid mamalia semisintetik P904G&G1996

12 Pepcid (Merck)

famotidin antihistamin gastroenterologi screening dari histamin mamalia

semisintetic P904 G&G1996

13 Estraderm (Ciba)

estradiol estrogen ginekologi sintesis steroid mamalia semisintetik P1419G&G1996

14 Axid (Lilly)

nitazidin antihistamin gastroenterologi screening dari histamin mamalia

semisintetic P904 G&G1996

15 Beconase AQ

paru-paru semisintetik analog dari cortisol mamalia

semisintetik P154 Ross& Brain p1449G&G 1990

ginekologi sintesis dari steroid mamalia semisintetik P1433 G&G1996

17 Lo/Ovral-28

ginekologi sintesis dari steroid mamalia semisintetik P1433 G&G1996

18 Estrase

(mead Johnson Labs)

17β-estradiol terapi estrogen ginekologi Sintesis dari steroid mamalia

(30)

obat

19 Azmacort (Rhone-Poulenc Rorer)

triamcilone acetonide bronchodilator pernafasan/paru-paru

semisintetik corticosteroid analog dari cortisol mamal

semisintetik P1450G&G1990

20 Deltasone (Upjohn)

prednison glucocorticosteroid penyakit

kulit/penyakit metabolik

sintesis dari steroid mamalia semisintetik P360 Cutting’s

21 Prinivil (Merck)

lisinopril antihipertensi kardiovaskuler modifikasi struktur dari enalapril, derivat dari captopril, bahan obat yang ditemukan pada bisa

Bothrops jararaca

semisintetik P41 Burger P760 G&G1990

22 VancenaseAQ (Schering)

beclomethasone corticosteroid/antia sthma

paru-paru semisintetik analog dari cortisol mamalia

semisintetik P154 Ross& Brain p1449G&G 1990

23 Prednison (Schein Pharm)

prednison glucocorticosteroid penyakit

kulit/penyakit metabolik

sintesis dari steroid mamalia semisintetik P360 Cutting’s

24 Humulin 70/30 (Lilly)

human insulin antidiabet endokrin insulin recDNA manusia alami P1487G&G1996

25 Levoxin (Daniels Pharm)

levothyroxine hormon tiroid endokrin tiroid domba yang diekstrak, oleh Muray (1891) sebagai terapi hormon.

Diidentifikasi tahun 1915

alami P365 Cutting’s

26 Humulin R (Lilly)

human insulin antidiabet endokrin Insulin recDNA manusia alami P1487G&G1996

27 Tri-levlen

ginekologi sintesis dari steroid mamalia semisintetik P904G&G1996

(31)
(32)

Marshall (1999) menyatakan bahwa tumbuhan dan satwa liar yang berguna dalam kesehatan semakin langka keberadaanya di Afrika Timur dan Afrika Selatan. Dari penelitian yang dilakukan diidentifikasi ada 29 jenis satwa (badak hitam, phyton, pangolin, penyu hijau dll) yang digunakan sebagai bahan obat yang perlu diprioritaskan dalam konservasi dan pengelolaannya.

Etnofarmakologi

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki berbagai macam bahan dan ramuan obat tradisional. Berbagai resep obat tradisional dari bahan hayati telah dikembangkan oleh masyarakat. Kebanyakan obat tradisional mempergunakan bahan tumbuh-tumbuhan, namun tidak sedikit juga yang dibuat dari bahan-bahan hewani atau dikombinasikan dengan bahan-bahan hewani (Noerjito et al. 2005; Aliadi & Roemantyo 1994).

Pengobatan tradisional merupakan sumber informasi spesies-spesies yang telah digunakan berdasarkan pengalaman turun menurun. Pengalaman tersebut sebenarnya membuktikan bahwa spesies yang dipakai berpotensi sebagai bahan baku, baik obat tradisional maupun obat modern (Aliadi & Roemantyo 1994). Pengetahuan masyarakat lokal memegang peranan penting dalam penemuan obat dan pengembangannya. Norman Farsworth memperkirakan bahwa 3/4 dari penemuan obat-obat yang dipakai sekarang diidentifikasi dari tumbuhan obat yang dipakai oleh masyarakat tradisional (Laird 1993).

Pengkajian pengobatan dengan menggunakan pengetahuan masyarakat lokal sering disebut etnofarmakologi. Menurut Martin (1995), etnofarmakologi pada dasarnya adalah mempelajari dan menghimpun pengetahuan perihal kandungan perobatan dalam ramuan yang dihasilkan oleh penduduk setempat. Bidang ini memberi tumpuan pada cara memilih, menyediakan dan memberikan obat yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Cabang antropologi yang menekankan kaitan antara hewan dan manusia melalui sejarah peradabannya disebut etnozoologi

(33)

12

Obat tradisional

Obat ialah suatu zat yang digunakan untuk diagnose, pengobatan, melunakkan, penyembuhan atau pencegahan penyakit pada manusia atau pada hewan (Anief 1995). Sumber pengobatan di dunia mencakup tiga sektor yang saling terkait, yaitu pengobatan rumah tangga/pengobatan sendiri menggunakan obat, obat tradisional atau cara tradisional; pengobatan medis yang dilakukan oleh perawat, dokter, Puskesmas atau rumah sakit serta pengobat tradisional (James 1980 dalam Supardi et al. 2005). Pengobatan tradisional memainkan peranan penting di bidang kesehatan di seluruh dunia. Menurut WHO (World Health Organisation) 80% lebih penduduk dunia menggunakan obat tradisional untuk menjaga kesehatan mereka. Namun demikian pengobatan tradisional sering dianggap rendah dibanding dengan obat-obat dari negara barat dan ilmu pengetahuan modern, bahkan sekalangan orang menganggap pengobatan tradisional sebagai suatu tahayul. Pada saat yang sama obat tradisional mendapatkan pengakuan resmi dan perhatian di seluruh dunia (Lee 1999).

Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan BPOM (2005a) yang dimaksud jamu/obat tradisional Indonesia adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (empiris).

Dalam obat tradisional kita sering mendengar istilah simplisia. Yang dimaksud dengan simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang dikeringkan (Depkes 1990). Terdapat tiga macam simplisia yaitu (1) simplisia nabati (2) simplisia hewani (3) simplisia pelikan/mineral. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.

(34)

distandarisasi, sedangkan fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi (BPOM 2005b).

Salah satu keistimewaan obat tradisional adalah efek samping yang relatif kecil dibandingkan obat modern, tetapi terdapat beberapa kelemahan yang menjadi kendala dalam pengembangannya yaitu : (1) efek farmakologinya lemah, (2) bahan bakunya belum terstandar, (3) belum ada uji klinis dan (4) mudah tercemar berbagai jenis organisme (Katno & Pramono tanpa tahun). Kebenaran khasiat sebagian obat tradisional belum dibuktikan secara ilmiah. Keamanan dan mutu produk obat tradisional perlu ditingkatkan. Peningkatan obat tradisional perlu diikuti dengan pelestarian tanaman dan hewan obat (Depkes 1983).

Konsep Nilai dan Penilaian

Nilai adalah merupakan persepsi manusia, tentang makna suatu objek bagi orang tertentu dan waktu tertentu pula. Persepsi ini sendiri merupakan ungkapan, pandangan, perspektif seseorang tentang atau terhadap suatu benda, dengan proses pemahaman melalui panca indera yang diteruskan ke otak untuk proses pemikiran dan disini berpadu dengan harapan ataupun norma-norma kehidupan yang melekat pada individu atau masyarakat. Secara singkat nilai dapat diartikan sebagai harga sesuatu yang dinilai oleh setiap individu dan tergantung pada waktu dan tempat (Davis & Johnson 1987; Bahruni 1999). Nilai sumberdaya hutan yang dinyatakan oleh masyarakat akan beragam tergantung persepsi setiap anggota masyarakat tersebut. Kegunaan, kemanfaatan, kepuasan, rasa senang merupakan ungkapan makna atau nilai sumberdaya hutan yang diperoleh.

Ukuran nilai ini dapat diekspresikan oleh waktu, tenaga, barang dan uang, dimana seseorang bersedia memberikannya, untuk memperoleh, memiliki atau menggunakan barang dan jasa yang dinilai (Bahruni 1999). Sedangkan penilaian diartikan sebagai pendugaan terhadap nilai dari sesuatu kemudian dinyatakan harganya.

(35)

14

(36)

Kondisi Biofisik

Jawa Tengah adalah sebuah propinsi yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa. Propinsi ini berbatasan dengan Propinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Propinsi Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa di sebelah utara. Secara geografis berada pada koordinat antara 5°40’- 8°30’ LS dan 108°30’ - 111°30’ BT. Dengan luas wilayah kurang lebih 3.254.412 ha Provinsi Jawa Tengah terbagi ke dalam 29 kabupaten dan 6 kota (BPS Jateng 2006) (Gambar 1).

Gambar 1 Peta Propinsi Jawa Tengah.

Topografi Propinsi Jawa Tengah terdiri dari wilayah daratan sebagai berikut:

(37)

16

2 Ketinggian antara 100 - 500 m dpl yang memanjang pada bagian tengah pulau seluas 891.709 ha (27,4%).

3 Ketinggian antara 500 - 1000 m dpl seluas 478.399 ha ( 14,7%). 4 Ketinggian diatas 1000 m dpl seluas 149.703 ha (4,6%).

Menurut tingkat kemiringan lahan di Jawa Tengah, 38% lahan memiliki kemiringan 0-2%, 31% lahan memiliki kemiringan 2-15%, 19% lahan memiliki kemiringan 15-40%, dan sisanya 12% lahan memiliki kemiringan lebih dari 40%. Menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor tahun 1969, jenis tanah wilayah Jawa Tengah didominasi oleh tanah latosol, aluvial, dan grumusol, sehingga hamparan tanah di provinsi ini termasuk tanah yang relatif subur (Anonim 2007).

Daerah Propinsi Jawa Tengah termasuk dalam iklim B atau tergolong dalam iklim basah menurut klasifikasi Schmit dan Ferguson. Suhu udara rata-rata maksimum dan minimum pada tahun 2004 yaitu 29°C dan minimum 24°C. Kelembaban udara rata-rata 75%-92% (Anonim 2007).

Luas kawasan hutan yang ada di Provinsi Jawa Tengah adalah 771.803,93 ha, terdiri dari Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) seluas 125.329,93 ha, Hutan Lindung seluas 75.538 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) 174.185 ha dan Hutan Produksi seluas 396.751 ha (BAPLAN 2003; Direktorat KK 2007).

Kondisi Sosial Budaya

(38)

merupakan angkatan kerja. Mata pencaharian paling banyak adalah di sektor pertanian (42,34%), diikuti dengan perdagangan (20,91%), industri (15,71%), dan jasa (10,98%) (Dinkes Jateng 2004).

(39)

METODOLOGI

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Propinsi Jawa Tengah. Waktu

penelitian mulai bulan Mei sampai dengan Agustus 2007.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) peta wilayah Jawa

Tengah, (2) kuesioner, (3) alat tulis menulis, (4) perekam, (5) buku pengenal

satwa (burung, mamalia, amphibia dan reptilia), (6) kamera, (7) komputer untuk

pengolahan data.

Batasan Penelitian

1 Satwa liar yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini adalah vertebrata

yang masih mempunyai sifat-sifat liar, yang hidup di darat dan atau di air dan

atau di udara, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.

2 Satwa liar berkhasiat obat adalah satwa liar atau bagian-bagiannya yang

digunakan secara langsung/diolah menjadi bahan obat ataupun dalam kemasan

yang belum mempunyai data klinis dan secara turun temurun telah digunakan

untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (empiris).

3 Responden yang menjadi obyek utama penelitian (sampel) adalah masyarakat

yang telah diketahui memanfaatkan satwa liar sebagai obat.

4 Nilai ekonomi yang dimaksud pada penelitian ini adalah nilai pasar tiap-tiap

jenis satwa obat dan pendapatan masyarakat dari usaha pemanfaatan satwa

sebagai obat.

Penentuan Sampel

Penentuan Sampel Wilayah

Penelitian dilakukan di beberapa sampel wilayah (area sampling). Karena

populasi pemanfaat satwa liar sebagai obat belum diketahui secara pasti, dalam

penentuan sampel wilayah penelitian dilakukan secara purposive sampling dengan

(40)

1 Mengumpulkan informasi dan melakukan pendataan terhadap masyarakat

yang melakukan pemanfaatan satwa liar untuk obat,

2 Menentukan wilayah sampling yaitu kabupaten/kota yang secara aktual dan

faktual terdapat masyarakat yang memanfaatkan satwa untuk obat.

Dari informasi yang diperoleh dari petugas Balai Konservasi Sumber Daya

Alam Jawa Tengah, maka sampel wilayah terdiri dari 19 kabupaten dan

merupakan 54,29% dari keseluruhan jumlah kabupaten/kota yang ada di Propinsi

Jawa Tengah (35 kabupaten/kota). Sampel wilayah tersebut meliputi Kabupaten

Kudus, Pati, Rembang, Jepara, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Boyolali,

Magelang, Semarang, Cilacap, Banyumas, Brebes, Pemalang, Kota Tegal, Kota

Surakarta , Kota Magelang dan Kota Semarang.

Penentuan Responden

Masyarakat yang menjadi obyek utama penelitian adalah masyarakat yang

bekerja sebagai pemungut, pengumpul, peracik dan penjual satwa liar sebagai

obat dengan kategori sebagai berikut :

1 Pemungut/pengambil, adalah orang yang memungut atau mengambil satwa

liar secara langsung dari habitat alam untuk dimanfaatkan sebagai obat.

2 Pengumpul, adalah orang atau kelompok yang melakukan pengumpulan satwa

dari pemungut maupun dari pengumpul yang lebih kecil.

3 Peracik, adalah orang atau kelompok yang menggunakan satwa liar untuk

diolah sebagai obat.

4 Penjual/pengedar, adalah orang atau kelompok yang menjual atau

memasarkan satwa liar ataupun bagian-bagiannya yang digunakan sebagai

obat langsung kepada konsumen.

Jumlah pemanfaat satwa liar sebagai obat yang terdapat di Jawa Tengah

belum diketahui secara pasti, oleh sebab itu pengambilan sampel dalam penelitian

ini dilakukan secara snowball sampling. Snowball sampling biasa digunakan

dalam penelitian yang populasinya masih jarang dan sulit diketahui (Padam et al.

2007), juga digunakan dalam penelitian yang sasaran utama atau responden yang

dicari adalah orang-orang yang bergerak dalam kegiatan-kegiatan yang illegal

(41)

20

informan. Penelitian dimulai pada kelompok kecil yang sudah diketahui,

kemudian dari kelompok kecil tersebut diminta untuk menunjuk kawan

masing-masing, dan kawan-kawan yang ditunjuk ini diminta untuk menunjukkan kawasan

masing-masing pula, dan begitu seterusnya. Dalam hal ini peneliti hanya

mengungkapkan kriteria sebagai persyaratan sampel (Subagyo 1991; Nasution

2003; Storey & Marzuki tanpa tahun; Magnani et al. 2005; Padam et al. 2007).

Dari keempat kategori yang digunakan dalam penentuan responden yaitu

pemungut, pengumpul, peracik dan penjual satwa liar sebagai obat diperoleh 105

orang responden dengan distribusi seperti disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Sebaran responden berdasarkan kategori

Kategori Jumlah Responden (orang)

Pemungut 30

Pengumpul 30

Peracik 30

Penjual 15

Total 105

Selain kepada masyarakat, wawancara juga dilakukan pada pihak-pihak dan

instansi yang terkait dengan penelitian. Tujuannya adalah untuk menggali lebih

luas informasi yang terkait dengan penggunaan satwa untuk obat,

permasalahan-permasalahan dalam pemanfaatan dan pengembangan satwa obat,

kebijakan-kebijakan yang terkait serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor penting lainnya.

Pihak-pihak yang terkait antara lain sinshe, masyarakat yang berada di sekitar

hutan atau tokoh masyarakat yang menggunakan satwa sebagai obat. Masyarakat

yang diwawancarai adalah 22 orang masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dan

3 orang masyarakat pengguna serta 1 orang ahli sinshe, sedangkan instansi yang

terkait dengan penelitian adalah :

1 Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Tengah

2 Dinas Kehutanan Jawa Tengah,

3 Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah

4 Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Semarang,

5 Dinas Kesehatan Jawa Tengah,

(42)

Jenis Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan

data sekunder.

Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat

melalui wawancara dan hasil observasi di lokasi penelitian. Data primer dalam

penelitian ini meliputi :

1 Keanekaragaman jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat

a Jenis-jenis satwa liar yang telah digunakan sebagai obat (nama daerah dan

nama ilmiah),

b Darimana satwa liar tersebut diperoleh (asal satwa),

c Bagaimana cara masyarakat mengambil satwa liar tersebut,

d Apakah masyarakat mengambil satwa liar dengan umur, ukuran dan jenis

kelamin tertentu,

e Kapan masyarakat mengambil satwa liar tersebut (bulan apa),

f Jumlah satwa liar yang diambil (ekor),

g Apakah masyarakat selalu mengambil satwa liar tersebut dari alam atau

sudah melakukan kegiatan pembudidayaan.

2 Penggunaan satwa liar sebagai obat

a Jenis satwa yang digunakan sebagai obat,

b Jenis penyakit yang diobati,

c Bagian satwa yang digunakan sebagai obat,

d Takaran bahan dan ramuan (apakah ada bahan tambahan),

e Cara pemakaian dalam pengobatan,

f Lama pengobatan,

g Perlakuan apa yang dilakukan sebelum satwa tersebut dijual atau diproses

menjadi bahan obat,

h Pemanfaatan sisa satwa yang digunakan dalam pengobatan.

3 Nilai ekonomi dan Jalur pemasaran

a Jenis dan jumlah satwa liar yang dimanfaatkan tiap minggu/bulan/tahun,

(43)

22

c Kemana mereka menjual satwa,

d Berapa pendapatan yang mereka peroleh dari memanfaatkan satwa

tersebut.

4 Persepsi masyarakat tentang konservasi

a Tahukah mereka tentang adanya peraturan yang mengatur satwa-satwa

yang dilindungi,

b Tahukah mereka apakah satwa yang mereka manfaatkan termasuk ke

dalam satwa yang dilindungi/tidak dilindungi,

c Bagaimana kendala mereka dalam pemanfaatan satwa liar untuk obat,

d Bagaimana harapan mereka ke depan untuk pemanfaatan satwa tersebut,

Data sekunder

Data sekunder adalah data-data lain yang terkait dengan penelitian baik yang

dilakukan melalui studi pustaka maupun wawancara dengan pihak terkait. Data

sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :

1 Luas dan kondisi kawasan hutan yang ada di Jawa Tengah,

2 Jumlah populasi satwa liar untuk obat yang ada di Jawa Tengah,

3 Pemanfaatan satwa liar untuk obat yang ada di Jawa Tengah,

4 Permasalahan dalam pemanfaatan satwa liar untuk obat,

5 Pengelolaan satwa liar yang sudah dilakukan di Jawa Tengah,

6 Keberadaan industri kecil/sedang/besar yang bergerak dalam pengolahan

satwa liar untuk pengobatan yang telah terdaftar di BPOM atau Disperindag

Jawa Tengah,

7 Kebijakan yang berkaitan dengan pemanfaatan satwa liar sebagai obat,

8 Data sosial ekonomi dan budaya penduduk Propinsi Jawa Tengah.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode:

Wawancara

Metode wawancara dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang

relevan. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara

(44)

maksud dapat mengontrol dan mengatur berbagai dimensi wawancara (Nasution

2003; Singarimbun & Handayani 1989), namun segala hal yang tidak tercantum

dalam daftar pertanyaan/kuesioner dapat ditanyakan langsung bila diperlukan.

Observasi

Yaitu cara pengumpulan data dengan cara mengamati, meneliti atau

mengukur kejadian yang sedang berlangsung untuk memperoleh data faktual dan

aktual (Kusmayadi & Sugiarto 2000). Observasi dilakukan dengan mengamati

segala hal yang berkaitan dengan pemanfaatan satwa sebagai obat, selain untuk

memastikan jenis satwa liar yang digunakan observasi juga dilakukan terhadap

pengolahan produk obat yang berbahan baku satwa.

Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan dengan tujuan memperoleh data pendukung yang

diperlukan dalam penelitian ini. Data tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber

yang terkait seperti buku, jurnal, buletin, laporan-laporan penelitian dan lain-lain.

Analisis Data

Data kuantitatif diolah dan dianalisis dalam bentuk tabel frekuensi, tabel

silang dan grafik disesuaikan dengan datanya. Data yang ada selanjutnya

diinterpretasikan untuk menunjang data kualitatif saling melengkapi untuk

menjawab permasalahan dalam kajian. Sedangkan data kualitatif diolah dan

dianalisis dengan melakukan peringkasan data, penggolongan, penyederhanaan,

penelusuran dan pengaitan antar tema. Selanjutnya data yang telah diperoleh

disajikan secara deskriptif, sesuai dengan tema pembahasan yang ada sehingga

mendukung dalam penarikan kesimpulan atau penentuan rekomendasi tindak

lanjut.

Keanekaragaman Jenis Satwa

Data mengenai keanekaragaman jenis satwa, bagian yang digunakan dan

cara penggunaan disajikan dalam bentuk deskriptif dengan menggunakan tabel

(45)

24

Tabel 3 Rekapitulasi keanekaragaman jenis satwa yang digunakan sebagai obat

No. Jenis satwa Status satwa Dilindungi/Tidak

dilindungi

Bagian satwa yang dipakai

Kegunaan Cara penggunaan

1 2 3 ... N

Nilai Ekonomi Satwa Liar sebagai Obat

Nilai ekonomi satwa liar dapat dihitung menggunakan metode harga pasar

dengan pendekatan harga jual satwa liar yang berlaku di lokasi penelitian.

Harga rata-rata tiap jenis satwa liar dihitung dengan rumus :

dimana :

y = harga rata-rata tiap jenis satwa (Rupiah/ekor).

y = total harga rata-rata tiap jenis satwa seluruh sampel (Rupiah/ekor).

n = banyaknya sampel (individu)

Pendapatan tiap individu dari satwa liar bisa dihitung dengan rumus :

Z = (A1xB1xC1) + (A2xB2xC2) + (AnxBnxCn)

Dimana :

Z = pendapatan tiap individu dari satwa liar (Rupiah/tahun)

A = jumlah pemanfaatan satwa liar tertentu (ekor)

B = intensitas(kali)

C = harga jenis satwa tertentu (Rupiah/ekor)

Sehingga kontribusi pendapatan dari pemanfaatan satwa sebagai obat

adalah :

Kontribusi pendapatan dari satwa =

Nilai rata-rata pendapatan tiap individu dihitung dengan menggunakan

(46)

dimana :

z = nilai rata-rata pendapatan per tahun tiap individu pemanfaat satwaliar obat

(Rupiah/tahun)

z = nilai total pendapatan seluruh sampel dalam setahun (Rupiah/tahun)

n = banyaknya sampel (individu).

Untuk memperkuat kesimpulan dari suatu tabulasi silang yang

menghubungkan antara responden dengan parameter-parameter sosial ekonomi

yang teramati diolah menggunakan uji statistik Chi-square dengan rumus :

(

)

2

2 n

i

Oi Ei

Ei

x

=

Dimana :

Oi = Nilai pengamatan yang diperoleh pada kategori ke i

Ei = Nilai harapan pada kategori ke i

X2 tabel = X2 0,05 (b-1)(k-1)

Kriteria uji yang digunakan adalah sebagai berikut :

H0 diterima jika X2 hitung < X2 0,05 (b-1)(k-1)

H1 diterima jika X2 hitung > X2 0,05 (b-1)(k-1)

Selain analisis chi-square, juga digunakan analisis regresi untuk menentukan

tingkat hubungan antara penghasilan responden dengan parameter sosial ekonomi,

dengan rumus :

Y = β0 + β1Xi

Keterangan :

Y = Nilai peubah tidak bebas β0 = Konstanta

β1 = Koefisien regresi

(47)

100 96,67

Dari 105 orang responden yang berhasil diwawancarai sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (87,62%). Responden yang berjenis kelamin perempuan tidak menyebar merata pada keempat kategori. Persentase sebaran responden berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Persentase responden berdasarkan jenis kelamin.

Sebagian besar perempuan bekerja sebagai peracik (30%) dan penjual (20%), hanya satu orang yang bekerja sebagai pengumpul dan tidak satupun perempuan yang bekerja sebagai pemungut (Lampiran 1).

Dari empat kategori yang menjadi obyek penelitian umur responden berkisar antara 21–70 tahun. Distribusi jumlah responden berdasarkan umur disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Sebaran responden berdasarkan umur

Umur Kategori

(48)

33,33

Gambar 4 Persentase sebaran responden berdasarkan jumlah anggota keluarga

Tingkat pendidikan responden umumnya masih rendah karena jumlah responden yang tidak sekolah, tidak tamat SD dan responden yang menamatkan sekolah di bangku SD sebesar 65,71%. Pada kategori pemungut tingkat pendidikan responden tertinggi adalah SMP. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan formal yang ditamatkannya dapat dilihat pada Gambar 3.

Jumlah anggota rumah tangga responden berkisar antara 1-10 orang dengan rata-rata jumlah anggota keluarga sejumlah 4 orang Sebagian besar responden mempunyai anggota keluarga antara 4-6 orang (59,05%) dan responden yang memiliki anggota keluarga lebih dari 9 orang hanya 0,95%. Persentase sebaran jumlah anggota keluarga dapat dilihat pada Gambar 4.

Pekerjaan sebagai pemungut, pengumpul, peracik dan penjual satwa liar biasanya merupakan pekerjaan yang turun menurun. Sebagian responden yang diwawancarai menyatakan bahwa pekerjaan yang ditekuninya sekarang adalah melanjutkan pekerjaan dan usaha orangtuanya dahulu. Sebaran lamanya responden bekerja sebagai pemanfaat satwa liar adalah seperti yang terdapat pada Gambar 5.

(49)

28

19,05 15,24

65,71

< 5 tahun 5-10 tahun >10 tahun

Gambar 5 Persentase sebaran responden berdasarkan lama bekerja

Lamanya responden bekerja sebagai pemanfaat satwa liar bervariasi, sebagian besar responden telah menekuni pekerjaannya lebih dari sepuluh tahun 65,71% (Gambar 5). Rata-rata lamanya bekerja pemungut adalah 17 tahun, pengumpul 17 tahun, peracik 13 tahun dan penjual 19 tahun. Rata-rata lamanya bekerja peracik menunjukkan angka yang paling kecil karena usaha peracikan satwa untuk obat secara komersial belum begitu lama dibanding dengan pekerjaan pemungutan, pengumpulan dan penjualannya. Beberapa peracik satwa obat mengatakan bahwa pekerjaan semula sebelum menjadi peracik adalah sebagai pemungut atau pengumpul.

Pemanfaatan Satwa Liar sebagai Obat oleh Masyarakat

Jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat

(50)

Tabel 5 Jenis satwa yang digunakan sebagai obat di Jawa Tengah

No. Nama lokal Nama Indonesia Nama ilmiah Familia

VERTEBRATA

AMPHIBIA

1 Kodok ijo Katak sawah Fejervarya cancrivora Ranaidae 2 Kodok saklon Katak saklon Limnonectes macrodon Ranaidae 3 Kodok brungkul Kodok brungkul Bufo sp. Bufonidae AVES

4 Pelatuk bawang Caladi ulam Dendrocopos macei Picidae 5 Sikatan Burung Sikatan Cyornis sp. Muscicapidae

6 Walet Walet Collocalia sp. Apodidae

MAMALIA

7 Bajing Bajing Callosciurus sp. Sciuridae

8 Tupai Tupai Tupaia sp. Tupaiidae

9 Codot Codot Cynopterus sp. Pteropodidae

10 Garangan Garangan Herpestes semitorquatus Herpestidae 11 Kalong/lowo Kalong Pteropus vampyrus Pteropodidae 12 Kethek Monyet ekor panjang Macaca fascicularis Cercopithecidae

13 Landak Landak Hystrix brachyura Hystricidae

14 Luwak Musang Paradoxurus hermaphroditus Viverridae

15 Rase Rase Viverricula indica Viverridae

16 Menjangan Rusa Cervus sp. Cervidae

17 Trenggiling Trenggiling Manis javanica Manidae PISCES

18 Welut Belut Synbranus macrotema Synbracidae

19 Hiu botol Hiu botol Centrophorus squamosus Squamidae

20 Kutuk Ikan gabus Channa striata Channidae

21 Kuda laut Kuda laut Hyppocampus hystrix Syngnathidae REPTILIA

22 Seliro/menyawak Biawak Varanus salvator Varanidae 23 Boyo Buaya muara Crocodylus porosus Crocodylidae 24 Bulus/labi-labi Kura-kura Amyda cartilaginea Trionychidae 25 Celeret gombel Celeret gombel Draco sp. Scincidae 26 Cecak Cicak Hemydactylus frenatus Scincidae

27 Kadal Kadal Eutropis sp. Scincidae

28 Bunglon Bunglon Bronchocela sp. Scincidae

29 King kobra King kobra Ophiophagus hannah Elapidae 30 Penyu Penyu hijau Chelonia mydas Cheloniidae

31 Tekek Tokek Gekko gecko Gekkonidae

(51)

30

Amphibia Aves Mamalia Pisces Reptilia

Kelas

No. Nama lokal Nama Indonesia Nama ilmiah Familia 37 Ulo welang Ular welang Bungarus fasciatus Elapidae

38 Ulo weling Ular weling Bungarus candidus Elapidae 39 Ulo taliwangsa Ular cincin emas Boiga dendrophila Elapidae 40 Ulo karung Ular karung Acrochordus javanicus Acrochordidae 41 Ulo pelangi Ular pelangi Xenopeltis unicolor Xenopeltidae 42 Ulo kadut Ular rawa air tawar Homalopsis buccata Colubridae

AVERTEBRATA

43 Kalajengking Kalajengking Diplocentrus whitei Diplocentridae 44 Kerang mutiara Kerang mutiara Pictata maxima

45 Kelabang Kelabang Scolopendra sp Scolopendidae 46 Cacing Cacing tanah Lumbricus rubellus Lumbricidae 47 Lintah sawah Lintah sawah Hirudo medicinalis Arhynchobdellidae 48 Landak laut Landak laut Diadema saxatile Diadematidae

49 Bekicot Bekicot Achatina fulica Achatinidae

50 Teripang mas Teripang Sticophus sp.

51 Undur-undur Undur-undur Myrmeleon sp Myrmeleonidae

52 Tawon Lebah Apis sp. Apidae

TERNAK

53 Marmut Marmut Cavia sp. Cavidae

54 Kerbau Kerbau Bubalus bubalis Bovidae

Jumlah jenis dari masing-masing kelas yang termasuk dalam 42 jenis satwa liar vertebrata yang digunakan sebagai obat ditampilkan pada Gambar 6.

(52)

Gambar 6 memperlihatkan bahwa reptilia merupakan kelas yang memiliki jumlah jenis satwa yang paling banyak digunakan sebagai obat yaitu 21 jenis dan sebagian besar adalah jenis ular. Berdasarkan informasi dan pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis satwa liar yang digunakan sebagai obat, ular kobra (Naja sputatrix) (Gambar 7) merupakan jenis satwa yang paling banyak dipercaya mempunyai khasiat obat (25,31%). Lima jenis satwa yang paling banyak dipercaya mempunyai khasiat untuk pengobatan disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6 Lima jenis satwa yang paling banyak dipercaya berkhasiat obat

Selain satwa yang diyakini bisa digunakan untuk mengobati penyakit secara umum, ternyata terdapat beberapa jenis satwa yang sering digunakan untuk tujuan

magic yaitu burung gagak (Corvus sp.) dan kukang (Nycticebus coucang) seperti yang diungkapkan oleh responden.

Status Konservasi Satwa Liar Obat

Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Daftar Apendiks CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan IUCN (Internatinal Union for Conservation of Nature and Natural Resources) Red List of Threatened Species

(IUCN 2007); tercatat 5 jenis satwa yang digunakan sebagai obat adalah satwa dilindungi undang-undang, 15 jenis masuk dalam daftar apendiks CITES dan 18 jenis tercatat dalam Red List of Threatened Species IUCN (Tabel 7).

No Nama jenis Jumlah responden %

1 Ular kobra 61 25,31

2 Biawak 28 11,62

3 Tokek 26 10,79

4 Kalong 20 8,30

(53)
(54)

Status Konservasi

No. Nama jenis Nama ilmiah UU 5 TH 90 &

PP 7 TH 99 CITES IUCN

AMPHIBIA

1 Katak sawah Fejervarya cancrivora Resiko Rendah ver 3,1(2001)

2 Katak saklon Limnonectes macrodon Rentan ver 3,1 (2001)

3 kodok brungkul Bufo sp.

AVES

4 Caladi ulam Dendrocopos macei Resiko Rendah ver 3,1(2001)

5 Burung Sikatan Cyornis sp.

6 Walet Collocalia sp. Apendiks II

MAMALIA

7 Bajing Callosciurus sp. Resiko Rendah ver 3,1(2001)

8 Tupai Tupaia sp. Apendiks II Resiko Rendah ver 3,1(2001)

9 Codot Cynopterus sp. Resiko Rendah ver 3,1(2001)

10 Garangan Herpestes semitorquatus Resiko Rendah ver 3,1(2001)

11 Kalong Pteropus vampyrus Apendiks II Resiko Rendah ver 2,3 (1994)

12 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis Apendiks II Resiko Rendah ver 2,3 (1994)

13 Landak Hystrix brachyura Dilindungi Rentan ver 2,3 (1994)

14 Musang Paradoxurus hermaphroditus Apendiks III Resiko Rendah ver 2,3 (1994)

15 Rase Viverricula indica Apendiks III Resiko Rendah ver 2,3 (1994)

16 Rusa Cervus sp. Dilindungi Resiko Rendah ver 2,3 (1994)

17 Trenggiling Manis javanica Dilindungi Resiko Rendah ver 2,3 (1994)

PISCES

18 Belut Synbranus macrotema

19 Hiu botol Centrophorus squamosus Rentan ver 3,1 (2001)

20 Ikan gabus Channa striata

(55)

33

Status Konservasi

No. Nama jenis Nama ilmiah UU 5 TH 90 &

PP 7 TH 99 CITES IUCN

REPTILIA

22 Biawak Varanus salvator Apendiks II

23 Buaya muara Crocodylus porosus Dilindungi Apendiks II Resiko Rendah ver 2,3 (1994)

24 Kura-kura Amyda cartilaginea Apendiks II Rentan ver 3,1 (2001)

25 Celeret gombel Draco sp.

26 Cecak Hemydactylus frenatus

27 Kadal Eutropis sp.

28 Bunglon Bronchocela sp.

29 King kobra Ophiophagus hannah Apendiks II

30 Penyu hijau Chelonia mydas Dilindungi Apendiks I Genting ver 3,1 (2001)

31 Tokek Gekko gecko

32 Ular kobra Naja sputatrix Apendiks II

33 Ular koros Ptyas korros

34 Ular sanca Python reticulatus Apendiks II

35 Ular jali Ptyas mucosus Apendiks II

36 Ular lanang sapi Elaphe radiata

37 Ulang welang bergaris Bungarus fasciatus

38 Ular welang Bungarus candidus

39 Ular cincin emas Boiga dendrophila

40 Ular karung Acrochordus javanicus

41 Ular pelangi Xenopeltis unicolor

Gambar

Gambar 1  Peta Propinsi Jawa Tengah.
Tabel 2  Sebaran responden berdasarkan kategori
Tabel 3  Rekapitulasi keanekaragaman jenis satwa yang digunakan sebagai obat
Gambar 2  Persentase  responden berdasarkan jenis kelamin.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang sebuah sistem pelaporan pelaksanaan kegiatan Sensus Penduduk 2020 (SP2020) pada unit wilayah terkecil oleh setiap pegawai di Badan

Tabel 3 menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada perubahan skor tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu serta tingkat kecukupan energi,

Pada tahap pelaksanaan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan langkah-langkah pembelajaran. Pelaksanaan proses pembelajaran adalah tema Pahlawanku dengan

Asesmen Kinerja (Performance) merupakan asesmen terhadap aktivitas siswa dengan berbagai macam tugas dan situasi untuk menilai kemampuan siswa, sedangkan asesmen penugasan

Untuk mengetahui tanggapan responden mengenai peran Pemerintah sebagai regulator dapat dilihat dari 5 item pertanyaan lanjutan , yaitu (6) Pemda membantu dalam penentuan

mempertimbangkan kondisi ketidakpastian (seperti intensitas kompetisi pasar) untuk mendesain dan mengimplementasikan suatu sistem akuntansi managemen yang menyediakan informasi

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh perceived ease to use dan subjective norm terhadap intention to use dengan perceived usefulness

Kemudian dari hasil Uji Simultan (Uji F) diketahui bahwa variabel lingkungan kerja, pengawasan, kompensasi dan sanksi secara bersama-sama berpengaruh signifikan