ABSTRAK
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
ABSTRAK
LEMBAR PENGESAHAN………..………... i
BIODATA PENULIS………..……….... ii
KATA PENGANTAR……….. iii
DAFTAR ISI……….. v
DAFTAR GAMBAR………...……….. vii
DAFTAR TABEL……….. ix
BAB I PENDAHULUAN………... 1
1.1Latar Belakang Masalah... 1
1.2Identifikasi Masalah... 3
1.3Tujuan Penelitian... 3
1.4Skema Perancangan... 4
1.5Sistematika Penyajian... 5
BAB II KAJIAN TEORI……….... 6
2.1 Orang Jompo... 6
2.1.1 Definisi Orang Jompo... 6
2.1.2 Aspek Fisiologis... 6
2.1.3 Aspek Psikologis... 7
2.1.4 Tipe Kepribadian Lansia... 8
2.1.5 Pembagian Kategori Usia Lanjut... 8
2.1.5.1 Aspek Kesehatan dan Fisik... 9
2.1.5.2 Aspek Usia... 9
2.2 Rumah Lanjut Usia... 10
2.2.2 Permasalahan Rumah Lanjut Usia... 11
3.3.3Bubble Diagram dan Kedekatan... 38
3.3.4Zoning Blocking... 47
3.3.4.1 Zoning Blocking Minimarket... 48
3.3.4.2 Zoning Blocking Gedung Entrance... 48
3.3.4.3 Zoning Gedung Lanjut Usia dan
4.2 Ide Implementasi Konsep pada Obyek Studi... 52
4.3 Deskripsi Khusus Projek... 59
BAB V KESIMPULAN... 78
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Alternatif Radius Putar dari Kursi Roda... 15
Gambar 2.2 Tata Letak Lavatory... 15
Gambar 2.3 Lavatory/Pemakai Kursi Roda... 15
Gambar 2.4 Fasilitas Kamar Mandi... 16
Gambar 2.5 Bilik WC/Pemindahan dari Arah Depan... 16
Gambar 2.6 Bilik WC/Pemindahan dari Arah Samping... 16
Gambar 2.7 Teknik Pemindahan dari Arah Samping... 17
Gambar 2.8 Garis-garis Antrian/Perbandingan Kapadatan... 17
Gambar 2.9 Sirkulasi Kursi Roda... 18
Gambar 2.10 Konter dan Lemari Kabinet... 18
Gambar 2.11 Perbandingan Pencapaian Kabinet... 18
Gambar 4.3 Tampak Potongan General... 59
Gambar 4.4 Pola Lantai dan Layout... 61
Gambar 4.5 Pola Lantai dan Layout... 61
Gambar 4.6 Perspektif... 62
Gambar 4.7 Pola Lantai dan Layout... 63
Gambar 4.8 Perspektif... 64
Gambar 4.9 Pola Lantai dan Layout... 65
Gambar 4.10 Pola Lantai dan Layout... 66
Gambar 4.11 Perspektif... 66
Gambar 4.12 Detail Furniture Meja Recepcionist... 67
Gambar 4.13 Detail Furniture Meja Recepcionist... 68
Gambar 4.14 Perspektif Meja Recepcionist... 68
Gambar 4.15 Detail Furniture Meja Lobby Nursing Unit... 69
Gambar 4.16 Detail Furniture Meja Lobby Nursing Unit... 70
Gambar 4.17 Detail Furniture Tempat Tidur... 71
Gambar 4.18 Detail Furniture Tempat Tidur... 71
Gambar 4.19 Detail Ceilling... 72
Gambar 4.20 Detail Ceilling... 73
Gambar 4.21 Detail Ceilling... 73
Gambar 4.22 Detail Ceilling... 73
Gambar 4.23 Detail Pintu... 74
Gambar 4.24 Detail Kolom... 76
Gambar 4.25 Detail Kolom... 76
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Permasalahan Rumah Lanjut Usia... 11 Tabel 2.2 Lavatory... 15 Tabel 2.3 Bilik WC/Pemindahan dari Arah Depan... 16 Tabel 2.4 Bilik WC/Pemindahan dari Arah Samping dan Teknik
Pemindahan dari Arah Samping... 16 Tabel 2.5 Garis-garis Antrian/Perbandingan Kepadatan dan
Sirkulasi Kursi Roda... 17 Tabel 2.6 Konter dan Lemari kabinet dan Perbandingan Pencapaian
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Penduduk lanjut usia yang merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya akan membawa dampak terhadap sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pemerintah yang terjadi peningkatan dalam ratio ketergantungan usia lanjut (old age ratio dependency). Tetapi, karena modernisasi masyarakat dihadapi pada kehidupan modern yang lebih kompleks, banyak memerlukan efisiensi, sifat induvidualisme yang tinggi dan berkurangnya perhatian kepada orang lanjut usia yang dapat mempertajam kesenjangan antara kedua generasi tersebut dan menyebabkan peranan yang terisolir bagi orang tua, karena merasakan perbedaan yang jauh atas perlakuan anaknya terhadapnya dibandingkan perlakuannya terhadap orang tua.
Fasilitas tempat perawatan lanjut usia yang tersedia sekarang belum dapat memberikan perawatan yang optimal mengingat kurangnya fasilitas yang diperlukan para lanjut usia, bahkan sarana yang tersedia sangat sederhana dan terkesan seperti tempat pengasingan dengan desain yang menekankan aspek fungsional dan mengabaikan aspek estetis, sehingga ruangan yang ada terasa monoton dan dapat menyebabkan kebosanan.
2
itu Projek Tugas Akhir yang dibuat adalah ”Perancangan Interior Rumah Lanjut Usia dengan Konsep The Beginning of a New Life, di Bandung” .
Perancangan interior bangunan yang berkonsep the beginning of a new life merupakan sebuah tempat berkumpulnya para lanjut usia yang membantu menghadapi rasa monoton dan kebosanan dengan memberikan kegiatan atau aktifitas-aktifitas yang sesuai dengan kondisi mereka, dengan adanya suasana yang nyaman, cocok bagi orang yang berusia lanjut secara psikologis. Selain fasilitas hunian, juga disediakan fasilitas pendukung yang lainnya seperti fasilitas kesehatan yang memantau kesehatan mental dan fisik para lanjut usia, mengingat mereka mengalami kemunduran dalam kesehatan. Disediakannya juga sebuah fasilitas yang bersifat rekreatif dan hobi yang dapat membantu mereka mengatasi waktu senggang, serta perlu adaya fasilitas yang lain sebagai penunjang yang juga penting di dalam tempat perawatan orang usia lanjut.
Jumlah Penduduk Menurut Wilayah, Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2005 (Hasil Survei Sosial Ekonomi Daerah 2005) yang mengalami perkembangan.
3
Kota Cimahi 247,812 50.20 245,886 49.80 493,698 130,326 347,964 15,408
Kota Tasikmalaya 293,326 49.37 300,832 50.63 594,158 166,920 398,380 28,858
Kota Banjar 85,558 49.29 88,018 50.71 173,576 49,748 113,238 10,590
20,192,207 50.53 19,768,662 49.47 39,960,869 11,892,294 26,307,867 1,760,708
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dibatasi permasalahan yang akan diteliti. Pokok-pokok identifikasi masalah dapat dikemukakan sebagai berikut:
Bagaimana menerapkan konsep the beginning of a new life pada perancangan interior rumah lanjut usia di Bandung?
Bagaimana program ruang disesuaikan dengan fungsi untuk interior rumah lanjut usia?
Bagaimana menerapkan sirkulasi manusia, ruang, dan udara yang sesuai dengan penghuni rumah lanjut usia tersebut?
1.3 Tujuan Perancangan
Perancangan ini bertujuan:
Untuk menerapkan konsep the beginning of a new life pada perancangan interior rumah lanjut usia di Bandung dengan memberikan kegiatan-kegiatan dengan fasilitas yang dapat mendukung para lanjut usia untuk terus berkreatifitas dengan begitu dapat menghilangkan sikap phisikolgis yang tidak baik.
Dapat menyesuaikan program ruang dengan fungsi untuk interior rumah lanjut usia seperti menyediakan art therapy dengan fasilitas ruang lukis, bengkel handycraft, bengkel seni keramik, function hall, café, ruang gym, perpustakaan, tempat pembibitan.
4
5
1.5 Sistematika Penulisan
Pendahuluan pada Bab I terdiri dari Latar Belakang Masalah, Tujuan Perancangan, Skema Perancangan dan Sistematika Penulisan.
Landasan Teori pada Bab II membahas Rumah Lanjut Usia yang terdiri dari Orng Jompo, yang terdiri dari Definisi Orang Jompo, Aspek Fisiologis, Aspek Psikologis, Tipe Kepribadian Lansia Pembagian Kategori Lansia yang terdiri dariAspek Kesehatan dan Fisik, Aspek Usia, Rumah Lanjut Usia yang terdiri dari Definisi Rumah Lanjut Usia, Permasalahan Rumah Lanjut Usia, Tujuan Rumah Lanjut Usia, Fungsi Rumah Lanjut Usia, Program Kegiatan di Rumah Lanjut Usia, Berbagai keuntungan dan kerugian tinggal di lembaga penampungan orang usia lanjut, dan Hasil Survey yang terdiri dari Panti Sosial Tresna Werdha ”Senjarawi”, Panti Sosial Eben Neizer, Panti Sosial Priangan.
Hasil Survei pada Bab III terdiri dari Deskripsi Obyek Studi, Ide Implementasi Konsep pada Obyek Studi, Analisa Fisik, Analisa Fungsional yang terdiri dari User Aktivity, Kebutuhan Ruang, Bubble Diagram secara umum, Kedekatan Ruang secara umum, Zoning Blocking.
Hasil Perancangan pada Bab IV terdiri dari Deskripsi Umum Projek, Deskripsi Khusus Projek
Kesimpulan pada Bab V terdiri dari Kesimpulan
77
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Sistem organisasi ruangan berupa cluster baik untuk perancangan interior rumah lanjut usia karena kelompok ruang berdasarkan kedekatan hubungan dengan mempertimbangkan pendekatan fisik untuk menghubungkan suatu ruang terhadap ruang lainnya. Dan sistem organisasi ruang linier,Organisasi linier pada dasarnya terdiri dari sederetan ruang. Ruang-ruang ini dapat berhubungan secara langsung satu dengan yang lain atau dihubungkan melalui ruang linier yang berbeda dan terpisah. Sehingga para lansia dapat leluasa dan mengingat secara tidak langsung ruangan yang berada disampingnya.
Lantai
Lantai diminimalkan kenaikan dan penurunan tinggi lantai dan diaplikasikannya ramp, hal ini bertujuan untuk masalah keamanan. Sedangkan pola, bentuk, bahan, dan warna lantai mengikuti fungsinya (form follow function), karena pemakai yang rentan, dan memiliki banyak keterbatasan oleh karena itu perhatian perancangan ini benar-benar harus menyeluruh.
Bahan yang digunakan lebih mengutamakan fungsinya, tetapi estetikanya juga tidak kalah menariknya. Pemakaian bahan menggunakan keramik dove pada setiap ruang dan pada sirkulasi utama yang memiliki sifat kehangatan dan juga bertujuan untuk memudahkan lanjut usia yang memiliki penglihatan kurang mengetahui dimanakah mereka sekarang berada, atau paling tidak jika mereka tersesat akan memudahkan kembali kearea sirkulasi utama sesuai dengan perasaan mereka.
78 Dinding
Dinding memiliki banyak fungsi yakni tempat bersandarnya handrails, dan baseboard yang akan banyak membantu lansia untuk menjalankan aktivitasnya. Baseboard yang berada didinding bagian bawah dipasang lampu untuk memberikan
penerangan pada lantai, sehingga dapat menuntun lansia menuju ruang yang diinginkan. Handrails digunakan untuk berpegangan ketika berjalan, handrails ini sangat baik untuk terapi jalan, oleh karena itu sepanjang dinding area sirkulasi banyak ditemui handrails. Selain itu dinding juga digunakan untuk bersandarnya lampu (wall lamp).
Bentuk dinding dibuat terbuka agar memudahkan pengawasan dan memudahkan komunikasi. Selain itu pola bentukan dinding dibuat dengan tidak bersudut terutama disirkulasi utama yakni berfungsi untuk memberikan penglihatan lebih luas ketika berbelok menggunakan kereta dorong.
Dinding dibuat seaman mungkin karena seringkali bersentuhan langsung dengan kulit manusia. Jadi yang utama tidak bertekstur kasar, dan sebisa mungkin memakai bahan yang sulit membentuk refleksi karena akan mengganggu penglihatan.
Plafon
Plafon digunakan sebagai sarana signing, setiap ruangan dengan fungsi yang berbeda diberi bentuk yang berbeda.
Bentuk pada plafon dibuat tidak terlalu rumit, lebih banyak mengikuti fungsinya yakni sehubungan dengan pemakaian lampu yang hidden lamp maka bentukkan plafon berupa drop ceiling
Bahan yang digunakan sederhana karena hanya memakai gypsum dan kaca agar sinar dapat masuk dengan leluasa.
Furniture
Furniture secara umum hanya berupa meja, kursi, lemari dan tempat tidur dan mengutamakan fungsi dan peletakannya agar tidak menganggu sirkulasi dan memudahkan bila digunakan oleh lansia. Handle pada cabinet dan karakteristik bahan juga perlu diperhatikan.
79
hal ini dimaksudkan untuk kemudahan untuk duduk. Selain itu juga kursi, ataupun meja pada kakinya dibuat tidak menonjol untuk keselamatan (tidak tersandung). Peletakan kursi yang berdekatan dengan cara mengelilingi meja dapat memudahkan mereka untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Bentuk sofa ”L” dapat memberikan tekanan psikologis karena dibagian sudut sofa memberikan kesan menyudutkan.
Bahan tidak membuat silau, bahan harus ringan (khususnya kursi yang sering digeser oleh lansia). Tetapi tidak boleh terlalu ringan karena akan menyebabkan berkurangnya kekuatan ketika dipakai untuk pegangan ketika akan berjalan.
Warna menjadi unsur yang penting pada furniture, disini furniture yang berada pada area sirkulasi perlu memakai warna yang cukup kontras dari pada lingkungan sekitarnya terutama lantai supaya lebih mudah terlihat.
Penghawaan
Penghawaan menggunakan penghawaan alami dengan sirkulasi menyilang, karena penghawaan alami sangat penting bagi para lansia, selain menyehatkan tubuh dan dapat menyegarkan. Selain itu lokasi yang terletak di Bandung bagian utara, yang menghembuskan angin yang dapat menyejukkan. Meskipun penghawaan buatan akan digunakan untuk kelembapan dan stabilitas ruangan-ruangan tertentu.
Sistem Tata Suara
Sistem tata suara lebih bertujuan untuk memperoleh keheningan diruang-ruang yang bertujuan untuk relaksasi seperti hunian, perpustakaan, dan masih banyak lagi. Disini kehadiran speaker sangat penting adanya untuk mendukung aktivitas ketika adanya siaran radio lokal, yakni berupa siraman rohani, pemutaran request lagu, ataupun pemberian berita-berita seputar kesehatan. Sehingga speaker diletakkan di setiap ruangan dengan kontrol suara yang dapat disesuaikan oleh masing-masing ruangan.
Pencahayaan
80
Sedangkan pencahayaan yang berupa spot light digunakan untuk menyorot display, mempertegas karakter ruang, dan eccent light. Pencahayaan yang tidak kalah pentingnya yakni pencahayaan yang sifatnya sebagai signing.
Sistem Komunikasi
Sistem komunikasi sangat penting karena memudahkan komunkasi antara lansia dengan perawat, sehingga dalam keadaan darurat dapat memudahkan lansia untuk menghubungi perawat. Sistem ini memakai intercom yang berhubungan langsung dengan medical record, nursing unit, bahkan ruang siaran.
Sistem Keamanan
Sistem keamanan pada lansia memakai sistem manual yakni penjagaan dari perawat yang dibuat nursing unit dengan jarak jangkauan tertentu, selain itu nursing unit juga diletakkan di titik-titik berbahaya.
Sistem Proteksi Kebakaran
DAFTAR PUSTAKA
www.e-psikologi.com/usia/160402.htm www.e-psikologi.com/usia/090402.htm
www.menkokesra.go.id/content/view/2933/333/
www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2007-04-17-Perawatan-Lansia-di-Jepang:-Catatan-Pengalaman,.shtml
www.google.com
www.keluarga-d1207.blogspot.com/2006/11/pohon-pisang.html www.iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?mnu=2&id=133
B. Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan edisi kelima. Jakarta : Erlangga, 1980.
Neufert, Ernst.2002. Data Arsitek (bagian Rumah Panti Werda hal. 240-242). Jakarta:Erlangga
Panero, Julius, AIA, ASID dan Martin Zelnik. AIA. ASID.2003.Dimensi Manusia dan Ruang Interior.Jakarta:Erlangga
Asih, Ade Tri.1996.Laporan Mata Kuliah Semianar: Warna Interior Panti Wredha.Bandung