Hubungan antara
Body Image
dan Gaya Hidup Konsumtif dengan Harga Diri Remaja
Perempuan Pengguna
Skin care
di Kota Surakarta
The Relationship between Body Image and Lifestyle Consumptive with Self-esteem Adolescent Girls Who Uses Skin care in Surakarta City
Welly Dwiga Fitriandari, Machmuroch, Pratista Arya Satwika
Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret
ABSTRAK
Harga diri merupakan dimensi global dari diri yang merupakan penilaian positif atau negatif yang dibuat individu, yang menunjukkan sejauh mana individu menyukai diri sebagai individu yang mampu, penting dan berharga. Harga diri remaja tidak terlepas dari pandangan remaja terhadap kondisi fisiknya atau body image, sedangkan remaja menggunakan berbagai macam barang dan jasa yang mengarah pada gaya hidup konsumtif untuk menunjang penampilan diri yang terkait dengan harga dirinya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara body image, gaya hidup konsumtif, dan harga diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta.
Penelitian dilakukan pada lima skin care dikota Surakarta, yaitu: skin care N di Surakarta bagian Barat, skin care E di Surakarta bagian Timur, skin care E di Surakarta bagian Selatan, skin care LB di Surakarta bagian Utara, dan skin care L di Surakarta bagan Tengah, teknik pemilihan skin care dengan menggunakan teknik cluster sampling. Sampel penelitian ini sebanyak 80 remaja perempuan pengguna
skin care di kota Surakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive insidental sampling.
Alat ukur yang digunakan ada 3 skala, yaitu skala harga diri, skala body image, dan skala gaya hidup konsumtif. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS versi 23.0.
Berdasarkan hasil analisis terbukti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara body image
dan gaya hidup konsumtif dengan harga diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta dengan signifikansi 0,000 (p<0,05), dan Fhitung=15,033 > Ftabel=3,115. Terdapat hubungan yang signifikan antara body image dengan harga diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta dengan signifikansi 0,000 (p<0,05) dan Thitung=3,610 > Ttabel=1,991. Terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup konsumtif dengan harga diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta, dengan signifikansi 0,002 (p<0,05), dan Thitung=3,218 > Ttabel= 1,991.
Kata kunci: Harga diri, Body image, Gaya hidup konsumtif.
PENDAHULUAN
Seiring dengan bertambahnya usia dan berkembangnya fisik yang dialami manusia dalam menjalani kehidupan, manusia akan melalui masa yang disebut dengan masa remaja. Santrock (2003) mendefinisikan remaja sebagai masa perkembangan transisi antara
perubahan dalam pikiran, inteligensi dan bahasa tubuh. Perubahan sosial-emosional meliputi perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain, yang meliputi emosi, kepribadian, dan peran dari konteks sosial perkembangan.
Perkembangan fisik yang dialami pada masa
remaja akan menimbulkan berbagai efek psikologis. Hanya sedikit remaja yang mengalami kateksis tubuh atau merasa puas dengan tubuhnya. Ketidakpuasan terhadap perubahan fisik tersebut menjadi salah satu penyebab timbulnya konsep diri yang negatif dan kurangnya harga diri pada masa remaja (Hurlock, 2004). Harga diri merupakan sikap terhadap diri sendiri yang diartikan sebagai suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang bernilai positif maupun negatif (Baron dan Byrne, 2004). Selama masa transisi hidup, harga diri individu seringkali mengalami penurunan. Harga diri mengalami penurunan dari awal atau pertengahan hingga akhir SMA, dan dari SMA hingga memasuki dunia kampus (Santrock, 2007)
Grafik 1. Harga Diri Sepanjang Masa Hidup
Salah satu faktor yang mempengaruhi harga diri individu adalah body image atau citra tubuh (Santrock, 2007). Widyatama (2010) menjelaskan bahwa body image merupakan gambaran jasmani, citra mental seseorang mengenai tubuhnya sendiri. Individu dengan
body image negatif akan menganggap adanya kekurangan dalam segi fisik. Hal ini menjadi
salah satu alasan para remaja untuk melakukan perawatan di skin care. Oleh karena itu, tidak heran jika saat ini banyak skin care, salon, spa
atau sejenisnya yang menawarkan berbagai perawatan tubuh yang dapat menunjang penampilan seseorang.
Skin care merupakan sebuah klinik kecantikan yang menawarkan pelayanan jasa di bidang perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, rambut, kuku, yang ditangani oleh dokter spesialis. Berdasarkan hasil survey pra-penelitian yang telah dilakukan di salah satu
skin care di kota Surakarta, perawatan tersebut dilakukan karena mereka ingin mengikuti
trend, dan untuk menunjang penampilan fisik agar lebih cantik dan menarik sehingga dapat diterima dan dihargai oleh orang-orang di sekitarnya.
menyatakan bahwa gaya hidup konsumtif merupakan sebuah perilaku membeli dan menggunakan barang yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi sesuatu tanpa batas dimana individu lebih
mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan yang dapat memberikan kepuasan
dan kenyamanan fisik.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
“Hubungan antara Body Image dan Gaya Hidup Konsumtif dengan Harga Diri Remaja Perempuan Pengguna Skin care di kota Surakarta”.
DASAR TEORI
1. Harga Diri
Harga diri adalah dimensi global dari diri yang merupakan penilaian positif atau negatif yang dibuat individu. Tentang hal yang berkaitan dengan dirinya, yang menunjukkan sejauh mana individu menyukai dirinya sebagai individu yang
mampu, penting dan berharga. Secara singkat harga diri adalah “personal judgment” mengenai perasaan berharga atau
berarti yang di ekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya.
Burn (1993) menyatakan ada lima faktor yang memengaruhi harga diri seseorang, yaitu: Pengalaman, pola asuh, lingkungan sosial, sosial ekonomi, dan body image.
Coopersmith (1998) menyebutkan bahwa
aspek-aspek yang terkandung dalam harga diri yaitu :
a. Power (kekuatan)
Kekuatan dapat diukur berdasarkan kemampuan individu mempengaruhi orang lain melalui penguasaan
perilakunya. Kekuatan ini juga bisa ditunjukkan dalam penghargaan,
penerimaan, dan penghormatan dari orang lain. Individu yang mempunyai kekuatan ini akan menunjukkan sikap asertif mempunyai semangat yang tinggi.
b. Significance (keberartian)
Keberartian yang didapat individu dapat dilihat dari penerimaan, perhatian, penghargaan, dan adanya kasih sayang dari orang lain.
c. Virtue (kebajikan)
Kebajikan ditunjukkan individu dengan adanya kesesuaian dengan moral dan etika yang berlaku di lingkungan sekitarnya. d. Competence (kompetensi)
Kompetensi dilihat pada individu yang mempunyai kemampuan atau skill yang
cukup.
2. Body Image
dan faktor individual.
Thompson (1990) mengemukakan bahwa
body image dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: tahap perkembangan, berat badan dan persepsi derajat kekurusan dan
kegemukan, tren yang berlaku di masyarakat, dan sosialisasi.
Cash dan Pruzinsky (2002) menyebutkan bahwa aspek-aspek body image adalah: a. Evaluasi penampilan (appearance
evaluation)
Penilaian individu terhadap penampilan tubuh secara keseluruhan, perasaan menarik atau tidak menarik, memuaskan atau tidak memuaskan, kenyamanan dan ketidaknyamanan terdahap penampilan tubuh.
b. Orientasi penampilan (appearance
orientation)
Orientasi penampilan ditunjukkan individu dalam tingkat perhatian terhadap penampilan diri, serta berbagai usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan diri agar mencapai tingkat
yang memuaskan.
c. Kepuasan terhadap bagian atau area tubuh (body area satisfaction)
Merupakan perasaan puas atau tidak puas individu terhadap bagian tubuh tertentu secara spesifik.
d. Kecemasan menjadi gemuk (overweight occupation)
Kecemasan individu terhadap kegemukan dan kewaspadaan terhadap
berat badan yang digambarkan melalui perilaku nyata dalam aktivitas sehari-hari e. Pengkategorian ukuran tubuh (self
classified weight)
Menggambarkan bagaimana seseorang mempersepsikan, memandang, dan
menilai mengenai berat badan mereka, apakah kurus atau gemuk.
3. Gaya Hidup Konsumtif
Gaya hidup konsumtif adalah pola perilaku atau tindakan individu untuk mengonsumsi barang atau jasa yang bukan merupakan prioritas kebutuhannya dan tanpa diperhitungkan secara rasional sehingga sifatnya menjadi berlebihan, yang dapat memberikan kepuasan, kenyamanan fisik dan hasrat untuk memenuhi kesenangan.
Gaya hidup konsumtif tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Menurut Kotler (2000) faktor yang dapat mempengaruhi gaya hidup konsumtif ada dua, yaitu: faktor internal (usia, kepribadian, keadaan ekonomi, motivasi, persepsi, dll) dan faktor eksternal (kebudayaan, kelas sosial, keluarga, kelompok acuan, peran dan
status). Menurut Lina dan Rosyid (1997) aspek-aspek gaya hidup konsumtif, yaitu: a. Pembelian Impulsif
b. Pemborosan
Gaya hidup konsumtif sebagai salah satu perilaku yang ditandai dengan menghamburkan uang tanpa didasari adanya kebutuhan yang jelas.
c. Mencari kesenangan
Pembelian barang didasari atas kesenangan semata, dan didasari atas
kenyamanan dan kebutuhan fisik.
METODE PENELITIAN
1. Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua variabel bebas dan satu variabel tergantung. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah harga diri, sedangkan variabel bebasnya adalah
body image dan gaya hidup konsumtif.
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah 80 remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta, yang dipilih dengan teknik
purposive insidental sampling, dan
memenuhi kriteria sbb: remaja perempuan dengan rentang usia antara 15 sampai 21 tahun, telah menggunakan produk atau jasa
di skin care lebih dari dua tahun, berpendidikan minimal SMP (bisa membaca dan menulis).
Sedangkan teknik pemilihan skin care dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster sampling, yaitu: skincare N di Surakarta bagian Barat, skincare E di Surakarta bagian Timur, skicare E di Surakarta bagian Selatan, skincare LB di Surakarta bagian
Utara, dan skincare L di Surakarta bagan Tengah.
3. Alat Ukur Penelitian
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga skala yaitu skala harga
diri, skala body image, dan skala gaya hidup konsumtif. Model skala yang digunakan
adalah skala likert yang terdiri dari respon jawaban sangat sesuai (SS). Sesuai (S), tida sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS). Pernyataan dalam skala penelitian ini mengandung aitem favourable dan
unfavourable. Uji validitas dilakukan menggunakan teknik Product Moment Pearson, sedangkan uji reliabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach
dengan program Statistical Product and
Service Solution (SPSS) versi 23.0.
4. Teknik Analisis
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda, untuk mengetahui pengaruh atau hubungan antar ketiga variabel penelitian. Penggunaan teknik analisis regresi ganda karena penelitian ini terdiri dari dua variabel
HASIL- HASIL
1. Uji Asumsi Dasar a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel penganggu atau residual memiliki ditribusi normal, dengan melihat nilai Kolmogorov-Smirnov Test
dengan taraf signifikansi 0,05 atau 5%. Data dinyatakan berdistribusi normal
jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 atau 5% (Ghozali, 2012). Nilai
signifikansi yang dihasilkan adalah 0,685 (p>0,05), yang berarti bahwa dalam model regresi variabel penganggu atau residual memiliki distribusi normal.
b. Uji Linieritas
Uji linieritas digunakan untuk mengetahui dua variabel mempunyai hubungan linear atau tidak secara signifikan. Pengujian linieritas dalam penelitian ini menggunakan test of
linierity dengan bantuan program
Statistical Product and Service Solution
(SPSS) versi 23.0. Dua variabel dikatakan linear jika signifikansinya (linearity) kurang dari 0,05.
Hubungan antara body image dengan harga diri menunjukan hubungan yang
linier, dikarenakan nilai signifikansi (linearity) adalah 0,000 (p<0,05).
Sedangkan, hubungan antara gaya hidup konsumtif dengan harga diri menunjukan hubungan yang linier, dikarenakan nilai
signifikansi (linearity) adalah 0,000 (p<0,05).
2. Uji Asumsi Klasik a. Uji multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan linear antar variabel bebas dalam model
regresi. Uji multikolinieritas dilakukan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) pada model regresi. Apabila nilai VIF > 5 mengindikasikan terjadi multikolinieritas. Hasil uji multikolinieritas mendapatkan nilai
Variance Inflation Factor (VIF) kurang dari 5, maka mengindikasikan tidak terjadi multikolinearitas.
b. Uji heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual. Metode pengujian untuk uji heteroskedastisitas pada penelitian ini adalah dengan melihat titik-titik pada pola scatterplots.
Pola scatterplots tidak membentuk pola
dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
c. Uji autokorelasi
Uji autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin Watson (DW)
dengan bantuan program komputer
Statistical Product And Service Solution
(SPSS) versi 23.0. berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa nilai DW = 1,996, yaitu terletak di antara dU dan (4-dU) atau 1,662 ≤ DW ≤ 2,338, maka tidak terdapat autokorelasi, jadi model regresi telah memenuhi asumsi autokorelasi.
3. Uji Hipotesis a. Uji Simultan F
Berdasarkan perhitungan menggunakan
Statistical Product and Service Solution
(SPSS) versi 23.0. diketahui bahwa nilai signifikansi (p-value) pada kolom signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), sedangkan nilai Fhitung=15,033 >
Ftabel=3,115, sehingga dapat disimpulkan
bahwa variabel bebas body image dan gaya hidup konsumtif secara berpengaruh
terhadap variabel tergantung harga diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta.
b. Analisis Korelasi Ganda (R)
Hasil analisis korelasi ganda (R) diperoleh nilai R sebesar 0,530, maka hubungan yang terjadi antara body image
dan gaya hidup konsumtif dengan harga diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta termasuk dalam
kategori sedang. Besarnya R square adalah 0,281. Hal tersebut berarti 28,1% variansi harga diri dapat dijelaskan oleh variabel-variabel terikat body image dan gaya hidup konsumtif. Sedangkan sisanya (100% - 28,1% = 71,9%) dijelaskan oleh
faktor-faktor lain di luar variabel penelitian.
c. Uji Parsial t
Nilai signifikansi (p-value) body image
terhadap harga diri pada kolom sig adalah sebesar 0,001 (p<0,05), sedangkan nilai
Thitung=3,610 > Ttabel= 1,991 . Sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara body image
dengan harga diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta.
Nilai signifikansi (p-value) gaya hidup konsumtif terhadap harga diri pada kolom sig adalah sebesar 0,002 (p<0,05), sedangkan nilai Thitung=3,218 > Ttabel=
1,991 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara gaya hidup konsumtif dengan harga diri diri remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta.
Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diketahui pula persamaan regresi, Y = 60,276 + 0,218 X1 + 0,182 X2 yang
artinya sebagai berikut : Konstanta X1
adalah 0,218 artinya bila nilai variabel
body image dinaikan 1 % maka akan menaikan nilai variabel harga diri sebesar 0,218%. Konstanta X2 adalah 0.182
dinaikan 1 % maka akan menaikan nilai variabel harga diri sebesar 0,182%.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji
hipotesis menggunakan teknik analisis regresi berganda, membuktikan bahwa hipotesis
pertama dalam penelitian ini terpenuhi. Hasil uji F menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05), dan Fhitung= 15,033 > Ftabel =3,115
maka ada hubungan yang signifikan antara variabel body image dan gaya hidup konsumtif dengan harga diri remaja perempuan pengguna
skincare di kota Surakarta. Nilai R pada penelitian ini yaitu sebesar 0,530 maka hubungan yang terbentuk antara body image
dan gaya hidup konsumtif dengan harga diri termasuk dalam kategori sedang. Besarnya R
Square adalah 0,281 nilai ini menandakan bahwa sumbangan pengaruh yang diberikan variabel body image dan gaya hidup konsumtif secara bersama-sama terhadap harga diri adalah sebesar 0,281 yang berarti 28,1% variansi harga diri dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas body image dan gaya hidup konsumtif, sedangkan sisanya 71,9% dijelaskan oleh
faktor-faktor lain di luar kedua variabel tersebut.
Perkembangan fisik yang dialami pada masa remaja akan menimbulkan berbagai efek psikologis. Hanya sedikit remaja yang mengalami kateksis tubuh atau merasa puas dengan tubuhnya. Ketidakpuasan terhadap perubahan fisik tersebut menjadi salah satu penyebab timbulnya konsep diri yang negatif
dan kurangnya harga diri pada masa remaja (Hurlock, 2004). Harga diri merupakan sikap terhadap diri sendiri yang diartikan sebagai hasil penilaian individu terhadap dirinya sendiri yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang bernilai positif maupun negatif (Baron dan
Byrne, 2004).
Salah satu faktor yang mempengaruhi harga diri individu adalah body image atau citra tubuh (Santrock, 2007). Remaja memperhatikan dan mengembangkan citra (image) tentang seperti apa tubuh mereka. Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2001) body image adalah suatu gambaran dan evaluasi mengenai penampilan dirinya sendiri.
Perhatian yang besar terhadap penampilan diri merupakan minat yang besar pada usia remaja, perhatian ini ditunjukkan dengan perilaku membeli terhadap barang-barang yang dapat merawat dan meningkatkan penampilan remaja (Hurlock, 2006). Perilaku membeli barang-barang tersebut dapat memicu timbulnya gaya hidup konsumtif. Triyaningsih (2011) menjelaskan bahwa gaya hidup konsumtif merupakan sebuah perilaku membeli dan
menggunakan barang yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi sesuatu tanpa batas dimana individu lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan yang dapat memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik.
individu. Individu dengan body image positif akan merasa puas terhadap tubuh dan penampilan fisiknya, serta kecenderungan gaya hidup konsumtif yang dimiliki individu untuk mendapatkan barang sesuai keinginan, hal tersebut dapat menigkatkan harga diri.
Uji hipotesis juga menunjukkan bahwa
hipotesis kedua diterima. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta, didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara body image dengan harga diri dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05), dan
Thitung=3,610 > Ttabel= 1,991. Dimana ada
kecederungan semakin tinggi nilai body image
maka akan semakin tinggi pula harga diri pada remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta. Sumbangan relatif body image
terhadap harga diri yaitu sebesar 54,7% dan sumbangan efektif sebesar 15,4%.
Goldenberg dkk, (dalam Baron dan Byrne, 2004) menyatakan bahwa tubuh seseorang dapat menjadi sumber harga diri, dan saat mereka diingatkan oleh orang lain mengenai perubahan tubuhnya, hal ini akan meningkatkan
upaya individu dalam memperjuangkan harga dirinya. Menurut Tambunan (dalam Wardhani, 2009) remaja dengan harga diri rendah akan mencari perhatian dan pengakuan atas keberadaannya dari orang lain, salah satu upaya yang dilakukannya adalah dengan meningkatkan penampilan fisiknya. Penampilan fisik seseorang berkaitan dengan
body image atau citra tubuh. Body image adalah pikiran, perasaan, persepsi dan evaluasi
individu terhadap tubuh dan penampilan dirinya, yang digambarkan dengan kepuasan tubuh dan penampilan fisik secara keseluruhan.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sari (2012) yang meneliti
tentang hubungan antara citra tubuh dan harga diri pada dewasa awal tuna daksa, hasilnya
menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara body image dan harga diri pada dewasa awal tuna daksa.
Pengujian hipotesis juga menunjukkan bahwa hipotesis ketiga diterima. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta, didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara gaya hidup konsumtif dengan harga diri, dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05), dan Thitung=3,218 >
Ttabel= 1,991. Dimana ada kecederungan
semakin tinggi nilai gaya hidup konsumtif maka akan semakin tinggi pula harga diri pada remaja perempuan pengguna skin care di kota Surakarta. Sumbangan relatif gaya hidup konsumtif terhadap harga diri yaitu sebesar 45,3% dan sumbangan efektif sebesar 12,7%.
dilakukan para remaja untuk memenuhi kondisi psikologis tertentu salah satunya adalah harga diri. Hal ini ditegaskan oleh Sears, dkk (1991) bahwa perilaku membeli berpengaruh pada harga diri seseorang. Remaja cenderung mudah dipengaruhi oleh iklan dan akan membeli
barang-barang yang diinginkan untuk mendapatkan penghargaan dari lingkungan
sosialnya. Secara tidak langsung, untuk memenuhi tuntutan agar mendapatkan penampilan yang sempurna, tentu saja didorong oleh gaya hidup konsumtif agar individu memperoleh barang-barang yang dapat menunjang penampilan sesuai keinginannya, sehingga mereka mempunyai harga diri yang tinggi.
Remaja mempunyai karakteristik mudah terbujuk oleh hal-hal yang menyenangkan dan mudah mengikuti hal yang mereka inginkan, mereka menjadi pelaku utama dari perilaku konsumtif. Tidak jarang dari remaja yang mengatakan pola hidup konsumtif sudah melekat pada dirinya. Mereka melakukan hal tersebut demi menjaga penampilan untuk mendapat pengakuan dari lingkungannya sehingga mempunyai harga diri tinggi (Taufik,
2006).
Hasil penelitian ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Liestianingsih (2002) berdasarkan laporan penelitian mengatakan bahwa pada umumnya perubahan fisik pada saat pubertas menyebabkan remaja putri kurang puas terhadap penampilan fisiknya dibandingkan dengan remaja putra. Hal tersebut membuat kaum perempuan lebih cenderung
memiliki gaya hidup konsumtif untuk membeli barang sesuai hasrat keinginannya sehingga mereka mempunyai harga diri yang tinggi.
PENUTUP
a. Simpulan
1. Terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara body image dan gaya hidup konsumtif dengan harga diri remaja perempuan pengguna skin care
di kota Surakarta, hal ini berarti semakin tinggi nilai body image dan gaya hidup konsumtif yang dimiliki individu, maka semakin tinggi pula harga diri yang dimilikinya.
2. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara body image dengan harga diri remaja perempuan pengguna
skin care di kota Surakarta, hal ini berarti semakin tinggi nilai body image
yang dimiliki individu, maka semakin tinggi pula harga diri yang dimilikinya. 3. Terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara gaya hidup konsumtif dengan harga diri remaja perempuan
pengguna skin care di kota Surakarta, hal ini berarti semakin tinggi individu yang memiliki gaya hidup konsumtif, maka semakin tinggi pula harga diri yang dimilikinya.
b. Saran
1. Bagi remaja
menerima fase-fase dalam perkembangan tubuhnya, sehingga mereka dapat membentuk body image
yang positif salah satunya dengan menjaga dan memelihara kondisi fisik melalui perawatan tubuh. Selain itu,
diharapkan dapat meningkatkan harga diri yang dimiliki, dengan selalu
berusaha untuk menerima kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya. Misalnya menghindari kalimat negatif
dalam pikiran seperti “aku tidak
mampu” “ini hanya impian” kata-kata
ini dapat merusak harga diri, tidak selalu tergantung dengan respon negatif orang lain mengenai kondisi fisiknya, dan meyakinkan bahwa dirinya pantas untuk dicintai dan dihargai.
2. Bagi orang tua
Bagi orang tua, diharapkan dapat memahami pentingnya harga diri dalam perkembangan psikologis, sehingga dapat memberikan gambaran dan pengetahuan dalam mendidik anak.
Orang tua dapat membentuk pola pikir anak bahwa perkembangan dan pertumbuhan fisik pada masa remaja tidak selalu menimbulkan efek yang negatif, memberikan pengarahan dan kontrol kepada remajanya untuk menggunakan barang dan jasa sesuai kebutuhan agar tidak berlebihan.
3. Bagi peneliti lain
Bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan pokok
bahasan yang sama, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam penelitiannya. Mengingat hasil sumbangan variabel body image dan gaya hidup konsumtif yang sebesar 28,1 % dan masih banyak faktor lain di
luar variabel penelitian yang mempengaruhi harga diri, maka
peneliti selanjutnya yang akan mengadakan penelitian mengenai harga diri disarankan untuk meneliti faktor-faktor harga diri yang lain seperti dukungan sosial, kesuksesan dalam mencapai tujuan, pengetahuan, usia, dan lain-lain. Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat memperluas ruang lingkup penelitian atau populasi sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas penelitian, agar hasil penelitian menjadi lebih komprehensif. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dengan menggunakan data tambahan melalui wawancara atau observasi, agar hasil
yang di dapatkan lebih mendalam, karena tidak semua hal dapat diungkap dengan menggunakan skala psikologi.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiani, Hendriati. (2006). Psikologi
Perkembangan. Bandung: Refika
Aditama.
Barang Kosmetik. Jurnal Online Psikologi. 01 (03). 2.
Azwar, Saifuddin. (2010). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
. (2013). Tes Prestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baron, Robert A & Byrne, Donn. (2004).
Psikologi Sosial Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Branden , N. (2001). Kiat Jitu Meningkatkan
Harga Diri. Jakarta: Delaprasata.
Burn, R. B. (1993). Konsep diri: Teori,
Pengukuran, Perkembangan, dan
Perilaku (Eddy Pengalih Bahasa). Jakarta: Arcan.
Cash, T. F & Pruzinsky, T. (2002). Body Image: A Handbook of Theory, Research, and
Clinical. New York: Guilford
Publications.
Cicillabaika, Ratna. (2014). Hubungan antara Kepuasan Citra Tubuh dengan Harga Diri pada Laki-Laki yang Melakukan Fitness.
Laporan Penelitian. (tidak
dipublikasikan). Malang: Universitas Brawijaya.
Coopersmith, S. (1998). The Antecendent of Self Esteem. San Fransisco: W. H. Freeman Company.
Dacey, J. & Kenny, M. (1997). Adolesence development. Second edition. United States of America: Times Mirror Higher Education Group Inc.
Daradjat, Z. (1992). Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung.
Davison,T.E. & McCabe, M.P. (2005). Adolescent
Body Image and Psychosocial
Functioniong. Deakin University :
Australia.
Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Djudiyah dan Hadipranata, Asip F. (2002). Hubungan antara Pemantauan Diri, Harga Diri, Materialisme, dan Uang Saku dengan Pembelian Impulsif pada Remaja.
Jurnal Psikodinamik. 4 (2), 59.
Ghozali, Imam. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hurlock, E.B. (2004). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
. (2006). Psikologi
Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Jersild, A. T. (1978). The Psychology of Adolesence (Third Edition). New York: Macmillan Publishing.
Keliat. (1998). Citra Tubuh. Jakarta: Gramedia. Koentjoro. (1989). Perbedaan Harga Diri
Remaja di Daerah Miskin Penghasil Pelacur & Bukan Penghasil Pelacur:
Laporan Penelitian. (tidak
dipublikasikan). Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Lina dan Rosyid. (1997). Perilaku Konsumtif
berdasarkan Locus of Control pada Remaja Putri. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi. (4). 5-13.
Liestianingsih, Dwi. (2002). Ideologi Gender dalam Iklan Kosmetik di Televisi. Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga.
Masheb, Robin. (1997). The Nature of Body Image Disturbance in Patients with Binge Eating Disorder. International Jurnal of Eating Disorder. (33). 334-335.
Monks, F.J; Knoers, A.M.P; Haditono S.R. (2004). Psikologi Perkembangan: Pengantar Psikologi dalam Berbagai Bagiannya. Alih bahasa: Haditono, S.R. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.
Munandar, A. S. (2001). Psikologi Industri dan
Organisasi. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Murdianingsih, Siti. (2008). Gaya Hidup Konsumtif dan Pencitraan Diri Pelajar Pengguna Handphone di Sma Negeri 1 Sambi Boyolali. (Skripsi tidak dipublikasikan), Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
National Eatng Disorders Association. (2005).
http://www.nationaleatingdisorders.org/w hat-body-image. diakses 23 Januari 2015. Papalia, Old, & Feldman. (2008). Human
Development (Psikologi Perkembangan).
Jakarta: Kencana.
Priyatno, Duwi. (2011). Belajar Cepat Olah Data Statistik dengan SPSS. Yogyakarta: Andi.
. (2012). Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20. Yogyakarta: Andi.
. (2014). SPSS 22: Pengolah Data Terpraktis. Yogyakarta: Andi. Purwanto. (2008). Metodologi Penelitian
Kuantitatif untuk Psikologi dan
Pendidikan. Yogjakarta: Pustaka Belajar. Rudd, N.A. & Lennon S. J. (2000). Body Image
and Appearance: Management Behaviors in College Woman. Clothing and Textiles Research Journals, (32). 615-625.
Rutjee. (2009). Seputar Tentang Kehidupan Mahasiswa. Jakarta: Erlangga.
Santrock, John. W. (2003). Adolesence: Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga. . (2007). Remaja Edisi
Kesebelas. Jakarta: Erlangga.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (2004). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Psikologi Sosial 2 (penerjemah: Ardyanto, M). Jakarta : Erlangga.
Shohibullana, Imam Hoyri. (2014). Kontrol Diri dan Perilaku Konumtif pada Siswa SMA (Ditinjau Dari Lokasi Sekolah). Jurnal Online Psikologi. 02 (01). 2-3.
Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Subandy. (1997). Ecstasy Gaya Hidup. Jakarta: Grasindo.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sumartono. (2002). Terperangkap Dalam Iklan. Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, Sumadi. (2006). Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi. Swastha, B. (1999). Saluran Pemasaran.
Yogyakarta: BPEE.
Tambunan, R. (2001). Harga Diri Remaja. http://www.epsikologi.com/remaja/24090 1. htm diakses 22 Januari 2015.
Taufik, A. (2006). Peran dan Tanggung Jawab Mahasiswa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Thompson, J. K. (1990). Body Image Disturbance. New York: Pergamon Press Inc.
Triyaningsih, SL. (2011). Dampak On Line Marketing melalui facebook terhadap perilaku konsumtif masyarakat. Jurnal Ekonomi & Kewirausahaan. 11 (2). 172-177.
Wahidah, Nurul. (2013). Pengaruh Perilaku Konsumtif terhadap Gaya Hidup Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP UNTAN. (Skripsi tidak dipublikasikan), Universitas Tanjung Pura, Pontianak. Wahyudi. (2013). Tinjauan tentang Perilaku
Konsumtif Remaja Pengunjung Mall Samarinda Central Plaza. E-Journal Sosiologi. 1 (4). 1-2
Wardhani, Maida Devi. (2009). Hubungan antara Konformitas dan Harga Diri dengan Perilaku Konsumtif pada Remaja Putri. (Skripsi tidak dipublikasikan), Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Widyatama. (2010). Kamus Psikologi. Jakarta:
Widyatama.
Yusuf, Syamsu. (2011). Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja.