• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR TEORI. Interferensi menjadi perhatian khusus untuk media kabel, namun bagi media tanpa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II DASAR TEORI. Interferensi menjadi perhatian khusus untuk media kabel, namun bagi media tanpa"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

7 2.1. Pengertian Interferensi

Interferensi adalah sinyal-sinyal yang berkompetensi dalam band frekuensi yang saling tumpang tindih dapat mengubah atau menghapuskan sinyal. Interferensi menjadi perhatian khusus untuk media kabel, namun bagi media tanpa kabel interferensi juga menjadi masalah yang cukup besar. (Stallings, 2001:111)

Penyebab terjadinya interferensi pada jaringan lain yaitu interferensi yang di sebabkan pada jaringan wireless lain yang bekerja pada band frekuensi yang sama, sedangkan interferensi yang terjadi pada jaringan kita sendiri terjadi jika kita menggunakan frekuensi yang sama lebih dari satu kali, mengunakan channel yang tidak mempunyai cukup jarak/ spasi antar channelnya atau menggunakan urusan frekuensi hopping yang tidak benar dan interferensi yang terjadi dari sinyal out-of-band disebabkan oleh sinyal yang kuat di luar frekuensi out-of-band yang kita gunakan, misalnya pemancar AM,FM atau TV ( Onno, 2006:229).

2.2. Arsitektur Protokol

Arsitektur protokol TCP/IP adalah hasil penelitian dan pengembangan protokol yang dilaksanakan pada jaringan penyambungan paket eksperimental, ARPANET yang dibiayai oleh DARA (Defense Advanced Research Project Agency) dan umumnya di rujuk sebagai paket protokol yang telah diterbitkan sebagai standar internet dan IAB (Internet Architecture Board). (Stallings, 2007:76)

(2)

2.2.1. Lapisan-lapisan TCP/IP

Dalam istilah umum komunikasi dapat di katakan melibatkan tiga agen : aplikasi, komputer dan jaringan. Contoh aplikasi termasuk perpindahan berkas dan surat elektronik. Aplikasi-aplikasi yang kita bahas disini adalah aplikasi-aplikasi tersebar melibatkan pertukaran data antara dua sistem komputer. Aplikasi-aplikasi ini dan yang lainnya berjalan pada komputer-komputer yang sering kali dapat mendukung aplikasi berganda secara simultan. Komputer terhubung ke jaringan dan data yang hendak di pertukarkan di pindahkan menggunakan jarinngan dari satu komputer ke komputer yang lain. Maka, perpindahan data dari satu aplikasi ke yang lain pertama-tama melibatkan perpindahan data ke komputer tempat aplikasi berada lalu memindahkan data ke aplikasi tujuan dalam komputer.(Stallings,2007:76)

Sambil mengingat konsep-konsep ini, kita dapat mengorganisasikan tugas komunikasi ke dalam lima lapisan yang relatif berdiri sendiri :

a. Lapisan Fisik (physical layer)

Mencakup antarmuka fisik antara sebuah perangkat transmisi data (misal workstation, komputer) dan media transmisi atau jaringan. Lapisan ini berurusan menentukan karekteristik media transmisi, sifat sinyal, laju data dan masalah-masalah terkait lainnya.

b. Lapisan akses jaringan (network acces layer)

Berurusan dengan pertukaran data antara sistem akhir (server, workstation dan lain-lain) dan jaringan yang terhubung. Komputer pengirim harus menyediakan alamat komputer tujuan kepada jaringan, sehingga jaringan dapat merutekan data ke tujuan yang sesuai.

(3)

c. Lapisan internet (internet layer)

Pada kasus-kasus ketika dua perangkat terhubung ke jaringan-jaringan berbeda diperlukan prosedur-prosedur untuk memungkinkan data melewati banyak jaringan yang saling terhubung. Internet protokol digunakan pada lapisan ini untuk menyediakan fungsi perutean melalui banyak jaringan. Protokol ini diimplementasikan tidak hanya pada sistem akhir tetapi juga dalam router. Router adalah pengolah yang menghubungkan dua jaringan dan fungsi utamanya adalah meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lain dalamm rutenya dari sistem akhir sumber menuju tujuan.

d. Lapisan host to host (tranport layer)

Mekanisme penyediaan keandalan pada dasarnya terpisah dari sifat aplikasi. Maka masuk akal untuk mengumpulkan mekanisme-mekanisme itu dalam lapisan bersama yang digunakan bersama oleh semua aplikasi, lapisan ini disebut dengan lapisan transport layer.

e. Lapisan aplikasi

Berisi logika yang diperlukan untuk mendukung berbagai aplikasi penguna. Untuk tiap jenis aplikasi berbeda seperti perpindahan berkas, modul terpisah diperlukan khusus untuk aplikasi tersebut.

2.2.2. Cara kerja TCP/IP

Agar jelas bahwa fasilitas komunikasi keseluruhan dapat terdiri dari banyak jaringan, tiap jaringan penyusun biasanya disebut subjaringan (subnetwork). Sejenis protokol akses jaringan,seperti logika ethernet, digunakan untuk menghubungkan komputer ke subjaringan. Protokol ini memungkinkan host mengirimkan data menyeberangi subjaringan ke host lain atau dalam kasus host

(4)

subjaringan lain, ke sebuah router. IP di implementasikan di semua sistem akhir dan router. IP bertugas sebagai penerus untuk memindahkan suatu blok data dari satu host, melalui satu atau lebih router ke host lain. TCP diimplementasikan hanya di sistem-sistem akhir. TCP mengawasi blok-blok data untuk menjamin semua blok terkirim dengan handal ke aplikasi yang sesuai.

Agar komunikasi berhasil, tiap entitas dalam sistem keseluruhan harus memiliki alamat unik. Sebenarnya diperlukan dua tingkat pengalamatan. Tiap host dalam satu subjaringan harus memiliki alamat global unik. Hal ini memungkinkan data di kirimkan ke host yang benar. Tiap proses dalam host harus memiliki alamat yang unik dalam host itu. Hal ini memungkinkan protokol host-to-host (TCP) mengirimkan data ke proses yang benar. Alamat-alamat yang disebut belakangan ini disebut juga sebagai port.(Stallings,2007:78).

2.3. Teknologi Wireless

Teknologi wireless adalah sebuah teknologi pengembangan dari komputer yang sebelumnya menggunakan kabel sebagai media penghubungnya. Wireless memanfaatkan udara atau gelombang elektromagnetik sebagai media lalu lintas pertukaran data. (L Afriana, 2013)

Teknologi wireless dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi dan pengontrolan. Untuk media komunikasi yang dikenal dengan wireless communication yaitu transfer informasi berupa apapun, secara jarak jauh tanpa menggunakan kabel misalnya telepon seluler, jaringan komputer nirkabel dan satelit. Sedangkan untuk pengontrolan secara jarak jauh tanpa kabel, misalnya

(5)

aplikasi remote control, seperti untuk membuka pintu garasi mobil atau pengontrolan alat elektronik dengan media remote control sebagai pengontrolnya. Berdasarkan jangkauan area, jaringan wireless dibagi dalam beberapa katagori yaitu :

Wireless Personal Area Network (P-PAN),

Wireless Local Area Network (W-LAN),

Wireless Metropolitan Area Network (W-MAN),

Wireless Wide Area Netwoek (W-WAN).

Gambar 2.1. Pembagian Jaringan Wireless Berdasarkan Jangkauannya (Vincentius Hendita Marendra Kusuma, 2013)

(6)

2.4. Spesifikasi Wi-Fi

Gambar 2.2 Logo Sinyal Wi-Fi (https://giphy.com)

Istilah Wi-Fi pertama dipakai secara komersial pada bulan Agustus 1999, dicetuskan oleh sebuah firma konsultasi merek bernama Interbrand Corporation. Wi-Fi Alliance mempekerjakan Interbrand untuk menentukan nama yang "lebih mudah diucapkan daripada 'IEEE 802.11b. Interbrand menciptakan Wi-Fi sebagai plesetan dari Hi-Fi (high fidelity) dan mereka juga merancang logo Wi-Fi.

Teknologi non-Wi-Fi yang dibutuhkan untuk titik-titk tetap seperti Motorola Canopy biasanya disebut nirkabel tetap. Teknologi nirkabel alternatif meliputi standar telepon genggam seperti 2G, 3G, atau 4G.

Wi-Fi dirancang berdasarkan spesifikasi IEEE 802.11. Spesifikasi b merupakan produk pertama Wi-Fi. Karena perangkat dengan standar teknis 802.11b diperuntukkan bagi perangkat WLAN yang digunakan di frekuensi 2,4 GHz atau yang lazim disebut frekuensi ISM (Industrial, Scientific dan Medical). Secara teknis operasional, Wi-Fi merupakan salah satu varian teknologi komunikasi dan informasi yang bekerja pada jaringan dan perangkat WLAN (wireless local area network).

(7)

2.4.1. Arsitektur dan layanan-layanan 802.11

Di tahun 1990, Komite IEEE 802 membentuk sebuah kelompok kerja baru yaitu IEEE 802.11, yang secara khusu mengemban misi mengembangkan teknologi LAN nirkabel, dengan fokus utama spesifikasi-spesifikasi untuk sebuah lapisan MAC dan sebuah lapisan fisik baru. Pada awalnya, LAN nirkabel dikembangkan untuk secara spesifik beroperasi pada pita ISM (Industri, Sains dan Medis). Namun sejak standar-standar pertama di keluarkan, permintaan jaringan-jaringan WLAN yang dapat beroperasi pada pita-pita frekuensi lain dan dengan laju data yang berbeda meningkat dengan sangat cepat. Berupaya mengimbangi lonjakan popularitas WLAN ini, kelompok kerja IEEE 802.11 terus mengembankan dan mengeluarkan standar- standar yang semakin lama mencakup ruang lingkup yang semakin luas.

Standar 802.11 yang pertama kali di terima secara luas oleh industri adalah 802.11b. Meskipun produk-produk berbasis 802.11b di buat dengan merujuk ke satu standar yang sama, selalu terdapat kekhawatiran atau ketidakmampuan perangkat-perangkat dari berbagai vendor yang berbeda untuk saling bekerja sama (interoperasi) dengan baik. Untuk mengatasi kondisi ini, Organisasi WECA (Wireless Ethernet Compatibility Alliance), yang merupakan sebuah konsorsium industri, dibentuk pada tahun 1999. Organisasi tersebut, yang kemudian diubah namanya menjadi Wi-Fi Alliance, mengembangkan sebuah sistem sertifikat untuk menjaminkan interoperabilitas produk-produk 802.11b dari pabrikan-pabrikan yang berbeda. Hingga tahun 2004 yang lalu, tercatat sebanyak 120 pabrikan telah mendapatkan sertifikat untuk produk-produk yang dikeluarkannya. Label yang digunakan untuk sertifikasi ini adalah Wi-Fi. Sertifikat wifi telah diperluas untuk

(8)

mencakup pula produk-produk 802.11g dan sejauh ini 57 buah pabrikan telah dinyatakan memenuhi kualifikasi untuk menyandangnya. Wi-Fi Alliance juga telah mengembangkan sebuah sistem sertifikasi untuk produk-produk berbasis 802.11a yang disebut Wi-Fi5. Hingga saat ini, tercatat 32 vendor telah mendapatkan sertifikasi Wi-Fi5.

Wi-Fi Alliance berkepentingan untuk meluaskan ruaang lingkup aplikasi bagi jaringan-jaringan WLAN, termasuk untuk menjangkau pengguna bisnis, residensial dan publik (situs-situs hotspot).

Tabel 2.1 Standar – standar IEEE 802.11(william Stalling : 2007)

Standart

Waktu Dikeluarkan

Ruang Lingkup

IEEE 802.11 1997

Kontrol akses medium (MAC): satu lapisan MAC bersama untuk semua aplikasi WLAN

Lapisan fisik: Infra – Merah pada laju 1 dan 2 Mbps Lapisan fisik: FHHS 2,4 GHz pada 1 dan 2 Mbps Lapisan fisik DSSS 2,4 GHz pada 1 dan 2 Mbps IEEE 802.11a 1999 Lapisan fisik: OFDM 5 GHz pada laju 6 – 54 Mbps IEEE 802.11b 1999 Lapisan fisik: DSSS 2,4 GHz pada 5,5 dan 11 Mbps IEEE 802.11c 2003 Operasi bridging pada lapisan MAC 802.11

IEEE 802.11d 2001

Lapisan fisik: Perluasan operasi WLAN 802.11 ke wilayah – wilayah hokum baru ( Negara – negara selain AS )

IEEE 802.11e

Masih berlanjut

MAC: Penyempurnaan untuk kualitas layanan (QoS) dan penyempurnaan mekanisme – mekanisme keamanan

(9)

IEEE 802.11f

Masih berlanjut

Praktik – praktik yang direkomendasikan untuk interoperabilitas titik akses multi vendor

IEEE 802.11g 2003

Lapisan fisik: perluasan 802.11b untuk laju data > 20 Mbps

IEEE 802.11h

Masih berlanjut

Fisik/MAC: Penyempurnaan IEEE 802.11a untuk menambahkan kemampuan pemilihan kanal Indoor dan Outdoor dan perbaikan manajemen spectrum dan daya transmisi

IEEE 802.11i

Masih berlanjut

MAC: Penyempurnaan mekanisme – mekanisme otentikasi dan keamanan data

IEEE 802.11j

Masih berlanjut

Fisik: Penyempurnaan IEEE 802.11a untuk menyesuaikan dengan kriteria – kriteria penggunaan di jepang

IEEE 802.11k

Masih berlanjut

Penyempurnaan mekanisme pengukuran kanal radio dengan penambahan antarmuka pengukuran kinerjakanal radio bagi lapisan – lapisan atas

IEEE 802.11m

Masih berlanjut

Perbaikan untuk standart IEEE 802.11 tahun 1999 dengan sejumlah revisi teknis dan redaksional

IEEE 802.11n 2008

Fisik/MAC: penyempurnaan untuk mencapai Throughput yang lebih tinggi

(10)

Tabel 2.2 Terminologi IEEE 802.11(william Stalling : 2007)

Access Point (AP)

Setiap entitas yang memiliki fungsionalitas terminal/stasiun dan menyediakan akses ke sistem distribusi via medium nirkabel bagi terminal – terminal lainya

Basic Service Set (BSS)

Sekumpulan terminal yang dikendalikan oleh sebuah fungsi koordinasi tunggal

Fungsi Koordinasi

Sebuah fungsi logika yang menentukan kapan sebuah terminalyang beroperasi di dalam suatu BSS diizinkan untuk melakukan transmisi dan menerima PDU –PDU

Distribution system (DS)

Sebuah sisitem yang digunakan untuk interkoneksi BSS – BSS dengan jaringan – jaringan LAN terintegrasi untuk membentuk sebuah ESS

Extended Service Set (ESS)

Sebuah interkoneksi antara satu atau lebih BSS dan LAN terintegrasi yang dipandang sebagai sebuah entitas BSS tunggal, oleh lapisan LLC yang berdiam di sembarang terminal yang ada di salah satu BSS

MAC Protocol Data Unit (MPDU)

Satuan – satuan data yang dipertukarkan diantara dua entitas MAC peer, menggunakan layanan – layanan lapisan fisik MAC Service Data Unit

(MSDU)

Satuan – satuan informasi yang dipertukarkan diantara dua pengguan MAC

Terminal/Stasiun

Setiap perangkat yang mengoprasikan lapisan MAC dan lapisan fisik IEEE 802.11

Bentuk arsitektur IEEE 802.11 mengindikasikan bahwa sebuah titik akses (AP) diimplementasikan sebagai bagian dari sebuah terminal/stasiun; fungsionalitas AP diwujudkan oleh piranti logika yang terpasang pada terminal dan

(11)

menyediakan akses ke DS (Distribution System) dengan memberikan layanan – layanan DS, selain juga menjalankan fungsi – fungsi terminal itu sendiri.

Untuk mengintegrasikan arsitektur IEEE 802.11 ke sebuah jaringan LAN kabel tradisional, sebuah simpul yang menjalankan fungsi – fungsi portal dibutuhkan. Fungsionalitas portal adalah sebuah piranti logika yang diimplementasikan pada sebuah perangkat, tipikalnya sebuah bridge atau router, yang berada didalam jaringan LAN kabel, dan karenanya portal ini merupakan bagian dari DS, bentuk arsitektur IEEE 802.11 adalah sebagi berikut:

Gambar 2.3. Arsitektur IEEE 802.11 (Stalling, 2007)

Gambar 2.3. mengilustrasikan model yang dikembangkan oleh kelompok kerja 802.11. Balok pembentuk terkecil dari sebuah jaringan LAN nirkabel adalah sebuah himpunan layanan dasar (Basic Service Set – BSS ), yang pada dasarnya merupakan sekumpulan terminal yang mengoprasikan protokol MAC yang sama dan bersaing mendapatkan akses ke sebuah medium nirkabel yang digunakan bersama. Sebuah BSS dapat berdiri terisolir atau dapat pula tersambung ke sebuah sistem distribusi (DS) backbone via sebuah titik akses (Access Point – AP ). AP

Sistem distribusi LAN IEEE 802.x Portal Himpunan layanan ekstensi AP STA1 A STA2 A STA3 A STA4 A AP Himpunan layanan dasar STA5 A STA6 A STA7 A STA = Terminal/stasiun

(12)

menjalankan fungsi – fungsi bridging jaringan dan sekaligus berperan sebagai sebuah simpul relay. Di dalam sebuah BSS, terminal – terminal klien tidak dapat berkomunikasi secara langsung dengan satu sama lainya. Jika sebuah terminal hendak berkomunikasi dengan stasiun lainya di dalam BSS yang sama, frame MAC dari terminal pengirim akan terlebih dulu dirutekan ke AP, dan kemudian dari AP barulah disampaikan ke terminal tujuannya.

Contoh konfigurasi sederhana pada gambar 2.3, dimana tiap – tiap stasiun tergabung dalam satu BSS tunggal saja, artinya tiap – tiap stasiun hanya berada dalam jangkauan radio stasiun – stasiun lainya yang berada di dalam BSS yang sama. Dua buah BSS dapat pula terletak secara berhimpit sebagian di satu wilayah geografis yang sama, sehingga sebuah terminal dapat berparsitipasi di dalam lebih dari satu BSS. Lebih jauh lagi, keterkaitan antara sebuah terminal dan sebuah BSS bersifat sangat dinamis, dimana status terminal bersangkutan dapat terputus sama sekali (atau “dimatikan” ) dari BSS, dapat berada di dalam jangkauan atau dapat pula di luar jangkauan BSS terkait.

Sebelum paket dapat diteruskan dan diarahkan ke Internet, lapisan pertama (fisik) dan kedua (data link) harus terhubung. Tanpa konektivitas sambungan lokal, node di jaringan tidak dapat berbicara satu sama lain dan merouting paket. Untuk menyediakan konektivitas fisik, perangkat jaringan nirkabel harus beroperasi di frekuensi yang sama dari spektrum radio antara 2.400 – 2.495 GHz yang digunakan oleh standart radio 802.11b dan 802.11g dengan panjang gelombang sekitar 12.5 cm, dan untuk standart 802.11a beroperasi pada frekuensi 5.150 – 5.850 GHz dengan panjang gelombang 5 sampai 6 cm. Dengan ini maka radio 802.11a akan berbicara dengan radio 802.11a di sekitar 5 GHz, dan 802.11b/g akan berbicara

(13)

dengan radio 802.11b/g lainya di sekitar 2.4 GHz. Akan tetapi radio 802.11a tidak dapat interoperate dengan perangkat 802.11b/g, karena mereka menggunakan spektrum elektromagnetik yang berbeda.

2.4.2. Standart Jaringan Wireless LAN

Standart merupakan acuan yang digunakan oleh sebuah perangkat untuk berkomunikasi dengan perangkat lain dalam sebuah jaringan. Standart diperlukan agar antar perangkat mempunyai kesamaan parameter, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah adanya kesamaan frekuensi yang digunakan antar dua perangkat. Dalam jaringan wireless, frekuensi menjadi bagian yang sangat penting tentunya diperlukan aturan yang mengatur tentang penggunaan alokasi frekuensi. Terdapat dua kategori dari alokasi frekuensi jika dilihat dari sisi legalitas penggunaan yaitu alokasi berbayar (license) dan gratis (unlicensed). Perangkat yang digunakan pada jaringan wireless LAN pada umumnya menggunakan frekuensi dalam kategori gratis (unlicensed), jadi dalam menggunakan frekuensi tersebut, pengguna jaringan tidak perlu membayar atau tidak perlu izin. Pada umumnya rentang frekuensi yang digunakan oleh perangkat wireless LAN terletak pada frekuensi 2.4 – 2.5 GHz untuk implementasi jaringan indoor (dalam ruangan) dan 5.7 – 5.8 GHz untuk implementasi jaringan outdoor (luar ruangan).

Perangkat yang difungsikan untuk membuat konsep jaringan wireless LAN dapat berasal dari vendor yang sama atau berbeda, walaupun berbeda pembuat perangkat akan tetapi diharuskan perangkat antar vendor yang berbeda tersebut dapat saling terhubung (bertukar informasi). Agar bisa saling terhubung, masing – masing vendor (pembuat perangkat) harus menggunakan aturan yang sama disaat proses pembuatan perangkat. Nama lain dari aturan di sini adalah standar. Terdapat

(14)

standar yang mendefinisikan aturan tentang spesifikasi perangkat wireless LAN yang diatur oleh sebuah lembaga yaitu IEEE dengan kode standar untuk perangkat wireless LAN diberikan nomor 802.11.

Munculnya kode standar IEEE 802.11 mempunyai spesifikasi teknis dari perangkat yaitu dengan bandwidth sebesar 2 Mbps dan frekuensi yang digunakan sebesar 2.4 GHz. Apabila dibandingakan dengan bandwidth dari standar IEEE 802.3 yaitu standar dari jaringan Ethernet (kabel), bandwidth masih sebesar 10 Mbps, jadi perbandingan tidak begitu jauh jika dilihat dari sisi bandwidth, namun lebih besar dari bandwidth yang disediakan oleh perangkat yang digunakan pada jaringan Ethernet LAN.

Kemudian berkembang teknologi kabel menjadi meningkat, mulai dari teknologi Ethernet dengan bandwidth 10 Mbps, Fast Ethernet dengan bandwidth 100 Mbps, hingga sekarang sudah sampai teknologi Gigabit Ethernet dengan bandwidth minimal sebesar 1Gbps. Perlu adanya pembanding yang sesuai dengan jaringan kabel (Ethernet), sehingga munculah teknologi baru pada jaringan wireless LAN sebagai penyempurna dari teknologi sebelumnya.

(15)

Tabel 2.3 Perkembangan Standar Jaringan Wireless LAN (Kukuh Nugroho :2016) Protokol 802.11 Release date Frequency Bandwidth Date rate

(up to) Modulation

Approximate range Indoo r Outdo r (GHz) (MHz) (Mbit/s) (m) (m) A Sep 1999 5 20 54 OFDM 35 120 B Sep 1999 2.4 22 11 DSSS 35 115 G Jun 2003 2.4 20 54 OFDM 38 125 N Oct 2009 2.4/5 20 72.2 OFDM 70 230 40 150 Ac Dec 2013 5 20 96.3 OFDM 35 115 40 200 80 433.3 160 866.7

Perkembangan dari teknologi/standar yang digunakan pada jaringan wireless LAN dimulai dari munculnya standar 802.11a. Muncul kemudian standar berikutnya yaitu 802.11b yang keluar sekitar tahun 1999, namun dengan date rate yang lebih kecil dibandingkan dengan standar 802.11a.

Hal ini kemungkinan besar dikarenakan teknik modulasi yang digunakan adalah DSSS ( Direct Sequence Spread Spectrum ), bukan OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing ). Sehingga pada perkembangan teknologi wireless LAN selanjutnya, teknologi modulasi DSSS sudah tidak digunakan lagi, digantikan oleh teknik modulasi OFDM.

(16)

2.5. Bluetooth

Gambar 2.4 Logo Bluetooth (https://www.pinterest.com)

Bluetooth adalah sebuah saluran nirkabel jarak pendek berbasis gelombang radio dengan perangkat kesistemannya dikembangkan dalam bentuk sebuah mikrochip. Teknologi ini pada mulanya dikembangkan oleh pabrikan telepon seluler Swedia, Ericsson pada tahun 1994 dan dimaksudkan sebagai sebuah sarana bagi seorang pengguna komputer laptop untuk menghubungkan komputernya ke sebuah pesawat telepon seluler untuk kemudian melakukan panggilan telepon. Tak beberapa lama kemudian, ribuan pabrikan perangkat nirkabel telah menyatakan minatnya dan bersepakat untuk menjadikan bluetooth sebagai teknologi standar bagi koneksi nirkabel koneksi jarak pendek berdaya rendah. Standar - standar bluetooth dipublikasikan oleh sebuah konsorsium industri yang diberi nama bluetooth SIG (Special Interest Group).

Pemanfaatan teknologi bluetooth tidak membutuhkan kondisi line of sight antara perangkat komunikasi terpenuhi, hal ini disebabkan karena frekuensi yang digunakan tidak terlalu tinggi sehingga dapat memantul di dinding dan permukaan lain asalkan perangkat komunikasi tersebut masih berada dalam jangkauan. Hal ini tentu saja sangat bergantung pada jumlah daya yang digunakan untuk mentransmisikan gelombang radio. Berdasarkan standar, terdapat tiga macam kelas perangkat bluetooth. Pembagian ini berdasarkan pada kekuatan transmisi data dan jarak jangkau dari rangkaian.

(17)

Tabel 2.4. Pembagian Kelas Bluetooth

Bluetooth terdiri dari microchip radio penerima / pemancar yang sangat kecil dan beroperasi pada pita frekuensi standar global 2,4 GHz. Teknologi ini menyesuaikan daya pancar radio sesuai dengan kebutuhan. Ketika radio pemancar mentransmisikan informasi pada jarak tertentu, radio penerima akan melakukan modifikasi sinyal-sinyal sesuai dengan jarak yang selaras sehingga terjadi fine tuning. Data yang ditransmisikan oleh chipset pemancar akan diacak, diproteksi melalui inskripsi serta otentifikasi dan diterima oleh chipset yang berada di peralatan yang dituju. Alokasi frekuensi radio bluetooth sendiri dapat dilihat pada gambar berikut ini yaitu pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Alokasi Frekuensi Radio (https://esprensitorus.wordpress.com)

Teknologi Bluetooth dirancang dan dioptimalkan untuk perangkat yang bersifat mobile (Mobile Device). Komputer yang bersifat mobile seperti laptop, tablet PC, atau notebook, cellular, handset, network access point, printer, PDA,

Kelas Daya Maksimum Jarak Jangkau Kelas 1 100 mW (20 dBm) 100 m

Kelas 2 2,5 mW (4dBm) 10 m

(18)

desktop, keyboard, joystick dan device yang jangkauannya seperti bluetooth yang bekerja pada jaringan bebas 2.4 GHz Industrial Scientific Medical (ISM) jalur yang terintegrasi di dalam sebuah chip dan dengan menggunakan sebuah frequency hopping tranceiver yang mampu menyediakan layanan komunikasi data dan suara dengan jarak jangkauan layanan yang terbatas (sekitar 10 meter, dapat ditingkatkan sampai 100 meter).

Untuk peralatan mobile komsumsi tenaga listrik harus diperhatikan, bluetooth memerlukan daya yang rendah yaitu kurang dari 0.1 W dan sejak bluetooth di desain untuk kedua keperluan yaitu komputasi dan aplikasi komunikasi. Bluetooth jugan didesain untuk men-support komunikasi secara bersama suara dan data dengan kemampuan transfer data sampai 721 Kbps. Bluetooth juga men-support layanan synchronous dan ansynchronous dan mudah diintegrasikan dengan jaringan TCP/IP. Setiap teknologi yang menggunakan spektrum ini mempunyai batasan sesuai dengan aplikasinya. Komunikasi bluetooth didesain untuk memberikan keuntungan yang optimal dari tersedianya spektrum dan mengurangi interferensi RF. Semuanya itu akan terjadi karena bluetooth beroperasi menggunakan level energi yang rendah.(Hasad, Andi 2013).

2.5.1 Arsitektur Bluetooth

Teknologi bluetooth dibagi menjadi dua spesifikasi yaitu spesifikasi core dan profile. Spesifikasi core menjelaskan bagaimana teknologi ini bekerja, sementara itu spesifikasi profile bagaimana membangun interoperation antar perangkat bluetooth dengan menggunakan teknologi core. Berikut gambaran protokol bluetooth :

(19)

Gambar 2.6 Protokol Bluetooth

(https://esprensitorus.wordpress.com)

Protokol – protokol inti membentuk lima buah lapisan di dalam arsitektur protokol bluetooth dan terdiri dari elemen – elemen berikut ini:

a) Baseband

Lapis yang memungkinkan hubungan RF terjadi antara beberapa unit bluetooth membentuk piconet. Sistem RF dari bluetooth ini menggunakan frekuensi hopping-spread spectrum yang mengirimkan data dalam bentuk paket pada time slot dan frekuensi yang telah ditentukan, lapis ini melakukan prosedur pemeriksaan dan paging untuk sinkronisasi transmisi frekuensi hopping dan clock dari perangkat bluetooth yang berbeda.

b) Link Manager Protocol (LMP)

The Link Manager Protocol adalah perespon,mensetting dan menghubungkan kanal antara perangkat keras. Protokol ini dapat meningkatkan performa keamanan seperti membentuk autentifikasi, pertukaran, verifikasi, kunci enkripsi dan negosiasi ukuran paket baseband.

(20)

c) Logical Link Control and Adaptation Protocol (L2CAP)

Paket L2CAP merupakan protokol – protokol dari lapisan yang lebih tinggi ke dalam lapisan baseband. Protokol L2CAP menyediakan layanan berorientasi koneksi maupun tanpa koneksi.

d) Service Discovery Protocol (SDP)

informasi mengenal perangkat, layanan, dan karakteristik layanan dapat saling dipertukarkan (querried) di antara kedua perangkat, untuk memfasilitasi pembentukan sebuah koneksi logika di antara keduannya.

e) Cable Replacement Protocol (RFCOMM) RFCOMM adalah emulasi jalur serial. f) Telephony Control Protocol

The Telephony Control - Binary (TCS Binary) and Telephony Control - AT Commands digunakan untuk menyusun percakapan dan data antara device dan mengkontrol mobile phone dan modem.

g) Adopted Protocols

Bluetooth juga mensupport protokol PPP, TCP/UDP/IP, OBEX dan WAP untuk memaksimalkan interoperabilitasnya.

h) Radio Frequency (RF)

Radio adalah lapis terendah dari spesifikasi bluetooth. Unit RF merupakan sebuah transceiver yang memfasilitasi hubungan wireless antar perangkat bluetooth yang beroperasi pada International Scientific and Medical band dengan frekuensi 2,4GHz. ISM band bekerja dengan frequency hopping, dan pembagiannya dibuat dalam 79 hop dengan spasi 1 MHz. (Hasad,

(21)

Andi 2013). Daya yang dianjurkan untuk radio bluetooth ini diklasifikasikan menjadi tiga kelas seperti diperlihatkan dalam table 2.5

Tabel 2.5. Klasisfikasi Daya Pancar Radio Bluetooth

(Sumber : Kamer Dafid, McNutt Gordon, Senese Brian, Bray Jennifer. 2000)

2.5.2. Spesifikasi Radio

Spesifikasi radio bluetooth adalah sebuah dokumen yang memberi rincian sederhana mengenai aspek – aspek transmisi radio untuk perangkat berkemampuan bluetooth. Beberapa di antara parameter – parameter penting di dalam spesifikasi ini dijelaskan pada tabel 2.6

Tabel 2.6. Parameter – Parameter Baseband dan Radio Bluetooth

Topologi Maksimum 7 jalur data dapat ada akses

bersamaan membentuk sebuah jaringan logika bintang (star)

Modulasi GPSK

Laju data maksimum 1 Mbps

Lebar pita RF 220 kHz (-3 dBm), 1MHz (-20 dBm)

Pita frekuensi operasional 2,4 GHz pada pita ISM Kelas

Daya

Daya Output Maksimum [mW] Jangkauan / Range (Meter) 1 <100 (20 dBm) 100 2 1-2,5 (4 dBm) 10 3 1 mW (0 dBm) 0,1-1

(22)

Jumlah frekuensi pembawa (kanal)

23 / 79

Jarak antar pembawa 1 MHz

Daya transmisi 0,1 W

Akses pikonet FH – TDD – TDMA

Laju lompatan fekuensi 1600 lompatan / detik

Akses scatternet FH – CDMA

Bluetooth memanfaatkan pita 2,4 GHz yang berada di dalam pita ISM (industri, sains, dan medis). Kebanyakan di negara, bandwidth yang tersedia pada pita ini telah memadai untuk mendefinisikan 79 buah kanal selebar 1 MHz. Mekanisme kontrol daya digunakan untuk mencegah perangkat – perangkat memancarkan daya melebihi batas yang diperbolehkan. Algoritma untuk kontrol daya ini diterapkan dengan menggunakan protokol LMP (Link Management Protocol) pada koneksi – koneksi di antara perangkat master dan perangkat – perangkat slave di dalam sebuah pikonet.

Modulasi yang digunakan pada sebuah sistem bluetooth adalah Gaussian FSK(GFSK), dimana sebuah bit satu direpresentasikan oleh sebuah simpangan positif dan sebuah bit nol oleh sebuah simpangan negatif dari frekuensi pembawa. Simpangan frekuensi minimum untuk merepresentasikan sebuah bit adalah sebesar 115 kHz.

(23)

Tabel 2.7. Alokasi Frekuensi Untuk Bluetooth di Berbagai Negara

Daerah Pita Frekuensi Kanal – Kanal RF

A.S, sebagaian besar Eropa dan kebnyakan negara lainya. 2,4 – 2,4835 GHz f = 2,402 + n MHz; n = 0,...,78 Jepang 2,471 – 2,497 GHz f = 2,473 + n MHz; n = 0,...,22 Spanyol 2,445 – 2,475 GHz f = 2,449 + n MHz; n = 0,...,22 Perancis 2,4465 – 2,4835 GHz f = 2,454 + n MHz; n = 0,...,22

Spread spectrum dengan Frequency Hopping adalah proses spread atau penyebaran spektrum yang dilakukan pemancar dengan frekuensi pembawa informasi yang merupakan deretan pulsa termodulasi acak semu (pseudorandom) yang dilompat-lompatkan dari satu nilai frekuensi ke nilai frekuensi yang lain dalam lebar spektrum frekuensi yang telah ditetapkan sebelumnya dan berulang kali dengan pola kode yang dapat dimodifikasi secara saling bebas, sehingga dapat menempatkan sejumlah pemakai dalam lebar spektrum frekuensi tersebut dengan berbeda pola acak kode generatornya. (Hasad, Andi.2013). Penyebaran spektrum digunakan, karena:

a) Kemampuannya membatasi interferensi internal akibat padatnya lalu lintas komunikasi yang menggunakan frekuensi radio.

b) Kemampuan menolak terhadap penyadapan informasi oleh penerima yang tidak dikenal.

c) Dapat dioperasikan dengan kerapatan spektral berenergi rendah.

d) Dalam sinyal lompatan frekuensi, frekuensi bersifat konstan dalam tiap selang waktu alokasi, tetapi berubah nilainya dari waktu ke waktu seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

(24)

Gambar 2.7 Sinyal Frekuensi Hopping Master dan Slave (Sumber : Specification of the Bluetooth System Book. 2001)

Saluran ini dibagi menjadi slot waktu, panjang masing-masing 625 ps. Slot waktu yang sesuai dengan nomor jam Bluetooth dari master piconet. Slot penomoran berkisar dari 0 sampai 227-1 dan siklik dengan panjang siklus 227. Pada slot waktu, master dan slave dapat mengirimkan paket. Sebuah skema alternatif TDD digunakan mengirimkan master dan slave, lihat Gambar 2.3. Master akan mulai transmisi di evennumbered slot waktu saja dan slave akan mulai transmisi di oddnumbered slot satunya waktu. Paket start harus selaras dengan dimulainya Slot. Paket yang terkirim oleh master atau slave dapat memperpanjang hingga lima kali slot. (Specification of the Bluetooth System Book. 2001).

2.5.3 Bluetooth Baseband

Lapis yang memungkinkan hubungan RF terjadi antara beberapa unit bluetooth membentuk piconet. Sistem RF dari bluetooth ini menggunakan frekuensi hopping spread spectrum yang mengirimkan data dalam bentuk paket pada time slot dan frekuensi yang telah ditentukan, lapis ini melakukan prosedur pemeriksaan dan paging untuk sinkronisasi transmisi frekuensi hopping dan clock dari perangkat

(25)

bluetooth yang berbeda. Unit baseband atau disebut link control unit, adalah perangkat keras yang memfasilitasi hubungan RF diantara perangkat bluetooth.

Apabila sudah tersambung, terdapat dua jenis hubungan yang dapat dikerjakan oleh unit ini yaitu synchronous conection oriented (SCO) dan asynchronous connectionless (ACL). Sambungan SCO dapat melakukan circuit switched, sambungan point to point (biasanya untuk data), suara dan streaming. Kecepatan data pada kedua sisi (pengirim, penerima) adalah 433,9 Kbps. ACL melayani sambungan packet switched dan point to multipoint biasanya hanya untuk data. Kecepatan sisi penerima mencapai 723,2 Kbps dan sisi pengirim hanya 57,6 Kbps. Modul Baseband ini terdiri dari flash memory dan sebuah central processing unit yang bertugas mengatur timming, frequency hopping, enkripsi data dan error correction bekerja sama dengan link manager protocol (LMP).

LMP merupakan protokol bluetooth yang bertugas mengontrol dan men-setup hubungan data dan audio diantara perangkat bluetooth. Radio frequency (RF), baseband dan link manager protocol disebut sebagai Host Control Interface (HCI) yang berfungsi melaksanakan dan menjaga semua hubungan komunikasi dalam bluetooth. (Hasad, Andi 2013)

2.5.4. Frequency Hopping

Sekema frequency hopping (FH) di dalam sebuah sistem bluetooth memiliki dua fungsi:

a. Memberikan ketahanan terhadap interferensi dan efek – efek jalur jamak (multipath).

(26)

b. Menyediakan suatu bentuk mekanisme akses jamak (multiple access) bagi perangkat – perangkat yang berada di satu lokasi yang sama namun di dalam pikonet – pikonet yang berbeda.

Cara kerja FH dapat dijelaskan sebagai berikut. Lebar pita (bandwidth) total yang digunakan oleh sebuah scatternet dibagi menjadi 79 buah (di hampir semua negara) kanal fisik, masing – masing dengan bandwidth kanal selebar 1 MHz. Sekema FH diwujudkan dalam bentuk lompatan – lompatan (hopping) dari satu kanal ke kanal lainya dengan pola yang pseudorandom (mirip acak namun tidak). Pola lompatan yang sama akan digunakan oleh semua perangkat yang ada di dalam sebuah pikonet yang sama. Laju terjadinya lompatan – lompatan ini (hop rate) adalah 1600 lompatan per detik, sehingga tiap – tiap kanal akan diduduki selama 0,625 ms untuk satu pola lompatan tertentu. Tiap – tiap periode 0,625 ms ini disebut sebagai sebuah slot FH, dan slot – slot yang ada diberikan nomor urut.

Perangkat – perangkat radio bluetooth berkomunikasi dengan menggunakan mekanisme time division duplex (TDD). TDD adalah sebuah teknik transmisi dimana data dikirimkan hanya ke satu arah tertentu, dan transmisi kedua arah (bolak – balik, atau pengiriman dan penerimaan) dilakukan secara bergantian. Penggunaan TDD mengindarkan terjadinya gangguan percakapan silang (crosstalk) di antara kanal pengirim dan kanal penerima. Karena di dalam sebuah lebih dari dua buah perangkat harus bebagai satu medium fisik yang sama, maka teknik akses jamak TDMA digunakan. Sehingga, metode akses keseluruhan di dalam sebuah pikonet dapat dirujuk sebagai sekema FH - TDD – TDMA. Gambar 2.6 mengilustrasilakan skema ini, di dalam gambar tersebut, k menotasikan nomor slot dan f(k) menotasikan kanal fisik yang diduduki selama periode slot ke-k.

(27)

Gambar 2.8. Sekema frequency hopping (FH) - time division duplex (TDD)

Transmisi sebuah paket dilakukan pada saat dimulainya sebuah slot. Panjang paket yang membutuhkan 1, 3 atau 5 buah slot diperbolehkan dalam sekema ini. Ketika mengirimkan sebuah paket yang membutuhkan lebih dari satu slot, perangkat radio pengirim akan berada pada frekuensi yang sama hingga seluruh bagian paket selesai ditransmisikan (gambar 2.7). pada slot berikutnya setelah pengiriman ini, perangkat radio tersebut akan berpindah ke kanal frekunsi yang seharusnya, sebagaimana yang ditunjukan oleh pola lompatannya, hal ini berarti bahwa selama transmisi paket multi slot tersebut, dua atau empat lompatan frekuensi telah terlewatkan. Perhatikan bahwa karena transmisi dan penerimaan dilakukan pada slot – slot waktu yang berbeda, maka hal ini secara otomatis terjadi pada kanal – kanal frekuensi yang berbeda.

Pola lompatan FH yang digunakan di dalam sebuah pikonet ditentukan oleh perangkat radio yang berperan sebagai master, dan merupakan fungsi dari alamat bluetooth sang master. Sebuah operasi matematika yang cukup kompleks melibatkan serangkaian operasi logika OR-eksklusif (XOR), digunakan untuk membangkitkan pola – pola lompatan pseudarandom tersebut.

Karena pikonet – pikonet berbeda yang berada di satu lokasi yang sama akan memiliki master – master yang berbeda, maka tiap – tiap pikonet ini akan

(28)

menerapkan pola lompatan yang berbeda – beda. Sehingga hampir di semua waktu transmisi yang dilakukan oleh dua buah perangkat yang berbeda di dua pikonet yang berbeda namun di satu lokasi yang sama akan menduduki kanal – kanal yang berbeda. Terkadang, dua pikonet secara bersamaan akan melompat ke kanal sama sehingga mengakibatkan terjadinya “tabrakkan” dan kerusakan data. Akan tetapi, karena insiden semacam ini hanya terjadi sekali – kali saja, efek negatif yang ditimbulkan dengan mudah dikompensasikan dengan menerapkan teknik – teknik deteksi error / ARQ dan koreksi error maju. Dengan demikian, suatu bentuk akses jamak berdasrkan pembagian kode (code division multiple access - CDMA) dengan sendirinya berlaku pada pikonet – pikonet yang berbeda di dalam satu scatternet yang sama, inilah yang menjadikan skema akses pikonet dirujuk sebagai FH – CDMA.

(29)

(Sumber : TIPHON dalam FATONI) 2.6 Quality of Service (QoS)

Quality of Services adalah kemampuan dari sebuah layanan untuk menjamin performansi dan merupakan parameter untuk mengukur kualitas dari sebuah layanan. Parameter QoS mengacu pada performansi tingkat kecepatan dan keandalan penyampaian berbagai jenis data dalam komunikasi. Parameter parameter QoS adalah :

a. Throughput

Throughput, yaitu kecepatan (rate) transfer data efektif, yang diukur dalam bps. Throughput merupakan jumlah total kedatangan paket yang sukses dan diamati pada destination selama interval waktu tertentu dibagi oleh durasi interval waktu tersebut.

Secara umum terdapat empat kategori penurunan performansi jaringan berdasarkan nilai Throughput sesuai dengan standar TIPHON (Telecommunications and Internet Protocol Harmonization Over Networks), yaitu seperti tampak pada tabel berikut:

Tabel 2.8. Standar Throughput

KATEGORI THROUGHPUT THROUGHPUT (X) Buruk 0-338 kbps Cukup Baik 338-700 kbps Baik 700-1200 kbps Lebih Baik 120 kbps- 2.1 Mbps Terbaik >2.1 Mbps

(30)

Rumus yang digunakan untuk mencari Throughtput adalah :

Throught = 𝐽𝑈𝑀𝐿𝐴𝐻 𝐵𝐼𝑇 𝑌𝐴𝑁𝐺 𝐷𝐼𝐾𝐼𝑅𝐼𝑀

𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿 𝑊𝐴𝐾𝑇𝑈 𝑃𝐸𝑁𝐺𝐼𝑅𝐼𝑀𝐴𝑁 ...(2.1)

(Sumber : TIPHON dalam FATONI)

b. Packet Loss

Packet Loss adalah banyaknya paket yang hilang pada suatu jaringan paket yang disebabkan oleh tabrakan (collision) dan congestion. Pada jaringan hal ini berpengaruh pada semua aplikasi karena retransmisi akan mengurangi efisiensi jaringan secara keseluruhan meskipun jumlah bandwidth cukup tersedia untuk aplikasi tersebut. Umumnya perangkat jaringan memiliki buffer untuk menampung data yang diterima. Jika terjadi kongesti yang cukup lama, buffer akan penuh dan data baru tidak akan diterima, penuhnya kapasitas jaringan, dan penurunan paket yang disebabkan oleh habisnya TTL (Time To Live) paket.

Kegagalan paket tersebut mencapai tujuan, dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinkan, di antaranya yaitu:

a) Terjadinya overload trafik di dalam jaringan, b) Tabrakan (congestion) dalam jaringan. c) Error yang terjadi pada media fisik.

d) Kegagalan yang terjadi pada sisi penerima antara lain bisa disebabkan karena overflow yang terjadi pada buffer.

Di dalam implementasi jaringan IP, nilai packet loss ini diharapkan mempunyai nilai yang minimum. Secara umum terdapat empat kategori penurunan performansi jaringan berdasarkan nilai packet loss sesuai dengan standar TIPHON, yaitu seperti tampak pada tabel berikut:

(31)

(Sumber : TIPHON dalam FATONI) Tabel 2.9. Standar Packet Loss

Rumus yang digunakan untuk menghitung Packet Loss :

Packet Loss = 𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑘𝑖𝑟𝑖𝑚−𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎

𝑃𝑎𝑘𝑒𝑡 𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑘𝑖𝑟𝑖𝑟𝑚 x 100 % ...(2.2)

(Sumber : TIPHON dalam FATONI)

c. Delay

Delay (latency) adalah waktu tunda suatu paket yang diakibatkan oleh proses transmisi dari satu titik menuju titik lain yang menjadi tujuannya. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, kongesti atau juga waktu proses yang lama. Waktu tunda suatu paket yang diakibatkan oleh proses transmisi dari satu titik ke titik lain yang menjadi tujuannya. Delay diperoleh dari selisih waktu kirim antara satu paket TCP dengan paket lainnya yang direpresentasikan dalam satuan second. Delay di dalam jaringan dapat digolongkan sebagai berikut :

1. Packetisasi delay

Delay yang disebabkan oleh waktu yang diperlukan untuk proses pembentukan paket IP dari informasi user. Delay ini hanya terjadi sekali saja, yaitu di source informasi.

KATEGORI DEGRADASI PACKET LOSS (X) Sangat Bagus X ≤ 3% Bagus X ≤ 15% Sedang X ≤ 25% Jelek X ≥ 25%

(32)

(Sumber : TIPHON dalam FATONI) 2. Queuing delay

Delay ini disebabkan oleh waktu proses yang diperlukan oleh router di dalam menangani transmisi paket di sepanjang jaringan. Umumnya delay ini sangat kecil, kurang lebih sekitar 100 micro second.

3. Delay propagasi

Proses perjalanan informasi selama di dalam media transmisi, misalnya SDH, coax atau tembaga, menyebabkan delay yang disebut dengan delay propagasi.

Tabel 2.10. Standar Delay

Rumus untuk menghitung nilai delay adalah :

Rata-Rata Delay = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑙𝑎𝑦

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑎𝑘𝑒𝑡 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 ...(2.3)

(Sumber : TIPHON dalam FATONI)

d. Jitter

Jitter atau variasi kedatangan paket, diakibatkan oleh variasi - variasi dalam panjang antrian, dalam waktu pengolahan data dan juga dalam waktu penghimpunan ulang paket-paket di akhir perjalanan jitter . Jitter lazimnya

KATEGORI LATENSI BESAR DELAY

Sangat Bagus < 150 ms

Bagus 150 s/d 300 ms

Sedang 300 s/d 450 ms

(33)

(Sumber : TIPHON dalam FATONI)

disebut variasi delay berhubungan erat dengan latency, yang menunjukkan banyaknya variasi delay pada transmisi data di jaringan. Delay antrian pada router dan switch dapat menyebabkan jitter.

Besarnya nilai jitter akan sangat dipengaruhi oleh variasi beban trafik dan besarnya tumbukan antar paket (congestion) yang ada dalam jaringan IP. Semakin besar beban trafik di dalam jaringan akan menyebabkan semakin besar pula peluang terjadinya congestion dengan demikian nilai jitter-nya akan semakin besar. Semakin besar nilai jitter akan mengakibatkan nilai QoS akan semakin turun. Untuk mendapatkan nilai QoS jaringan yang baik, nilai jitter harus dijaga seminimum mungkin.

Terdapat empat kategori penurunan performansi jaringan berdasarkan nilai peak jitter sesuai dengan standar TIPHON.

Tabel 2.11. Standar Jitter

Rumus yang digunakan untuk menghitung jitter adalah : Average delay = 𝐷𝐸𝐿𝐴𝑌

𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿 𝑃𝐸𝑁𝐺𝐼𝑅𝐼𝑀𝐴𝑁 𝑃𝐴𝐾𝐸𝑇 ...(2.4)

Jitter = Delay - Average Delay ...(2.5) (Sumber : TIPHON dalam FATONI)

KATEGORI LATENSI PEAK JITTER

Sangat Bagus 0 ms

Bagus 75 ms

Sedang 125 ms

(34)

e. MOS (Mean Opinion Score)

Kualitas sinyal yang diterima biasanya diukur secara subjektif dan Objektif. Metode pengukuran subyektif yang umum dipergunakan dalam pengukuran kualitas speech coder adalah ACR (Absolute Category Rating) yang akan menghasilkan nilai MOS (Mean Opinion Score). Skala rating umumnya mempergunakan penilaian yaitu berturut – turut : Exellent, Good, Fair, Poor dan Bad dengan nilai MOS (Mean Opinion Score) berturut – turut: 5, 4, 3, 2 dan 1. Kualitas suara minimum mempunyai nilai setara MOS 4.0.

f. Echo Cancelation

Untuk menjamin kualitas layanan voice over packet terutama disebabkan oleh echo karena delay yang terjadi pada jaringan paket maka perangkat harus menggunakan teknik echo cancelation. Persyaratan performansi yang diperlukan untuk echo canceller harus mengacu standar internasional ITU G.165 atau G.168.

2.7 Wireshark

Wireshark merupakan salah satu aplikasi yang berfungsi sebagai network analyzer (penganalisa jaringan) dengan cara menangkap paket–paket data atau informasi di jaringan melalui network iterface card (NIC). Wireshark banyak disukai karena interfacernya yang menggunakan graphical user interface (GUI) atau tampilan grafis.

Semua jenis paket informasi dalam berbagai format protokol pun akan dengan mudah ditangkap dan dianalisa. Wireshark mampu menangkap paket-paket data atau informasi yang berjalan dalam jaringan yang terlihat dan semua jenis

(35)

informasi ini dapat dengan mudah dianalisa yaitu dengan memakai sniffing, dengan sniffing diperoleh informasi penting seperti password email account lain.

Wireshark merupakan aplikasi untuk melakukan analisa lalu lintas jaringan komputer yang memiliki fungsi-fungsi yang amat berguna bagi profesional jaringan, administrator jaringan, peneliti, hingga pengembang piranti lunak jaringan. Wireshark dapat membaca data secara langsung dari Ethernet, Token-Ring, FDDI, serial (PPP dan SLIP), 802.11 wireless LAN, dan koneksi ATM.

Program ini juga sering digunakan oleh chatters untuk mengetahui ip korban maupun para chatter lainnya lewat typingan room. Tool wireshark dapat menganalisa transmisi paket data dalam jaringan, proses koneksi dan transmisi data antar komputer.Selama kita bisa mendapatkan paket langsung dari jaringan, dengan tools seperti wireshark, maka kita juga bisa memanfaatkan wireshark untuk ‘menyadap’ pembicaraan Voice over IP. (Miftakhur Rozikin, 2017)

Wireshark mempunyai beberapa fitur, antara lain :

a. Tersedia untuk sistem operasi UNIX dan Windows.

b. Menangkap paket data secara langsung dari sebuah interface jaringan. c. Menampilkan paket dengan informasi protokol yang sangat detail. d. Paket data yang ditangkap dapat dibuka dan disimpan.

e. Paket data yang ditangkap dapat diimpor dan diekspor dari dan ke banyak program.

f. Memfilter paket dengan berbagai kriteria. g. Mencari paket dengan berbagai kriteria.

h. Dapat memberi warna paket yang ditampilkan berdasarkan filternya. i. Dapat membuat berbagai statistik.

Gambar

Gambar 2.1. Pembagian Jaringan Wireless Berdasarkan Jangkauannya   (Vincentius Hendita Marendra Kusuma, 2013)
Gambar 2.2 Logo Sinyal Wi-Fi (https://giphy.com)
Tabel 2.1 Standar – standar IEEE 802.11(william Stalling : 2007)
Tabel 2.2 Terminologi IEEE 802.11(william Stalling : 2007)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi skala usaha tambak udang di Desa Oneeha Kecamatan Tanggetada Kabupaten Kolaka berada kondisi skala usaha menaik yang ditunjukkan dengan nilai total koefisien

Hanya saja, Pegawai Pencatat Nikah (PPN) dalam perkara tersebut hanya menggugat untuk membatalkan perkawinan, namun tidak turut menjadikan P3N sebagai petugas yang

Meskipun memiliki kelebihan yang telah disebutkan sebelumnya, kelemahan utama population-based metaheuristic yaitu banyaknya jumlah evaluasi fungsi yang menyebabkan

Pasangan Sartje Pontoh – Stevanus Soepeno dari Sulut mendapat medali emas dengan total 59,4 % yang diikui oleh pasangan ‘ayah- anak’ Jennifer K Karamoy – WD Karamoy ( 57,88

Sejalan dengan pendapat tersebut menurut Shadiq (2009:4) pembelajaran pemecahan masalah adalah suatu tindakan yang dilakukan guru agar para siswanya termotivasi untuk

Dari beberapa pengertian di atas, tampak bahwa meskipun dalam penekanan yang berbeda, pendidikan kritis dimaknai para pendukungnya sebagai sebuah bentuk pemikiran

Hasil analisis regresi korelasi diperoleh persamaan Y=0,467X, dengan koefisien determinasi yaitu variasi panjang kaki depan tengah pedet dipengaruhi oleh panjang kaki depan

Hukum I Mendel diperoleh dari hasil perkawinan monohibrid yaitu persilangan dengan satu sifat beda, hukum I mendel mengatakan bahwa pada waktu pembentukan gamet terjadi