• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Industri. Penulis Dr. Ahmad Ali Riyadi, M.Ag

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Industri. Penulis Dr. Ahmad Ali Riyadi, M.Ag"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Industri

Penulis

Dr. Ahmad Ali Riyadi, M.Ag

(2)

Penulis

Dr. Ahmad Ali Riyadi, M.Ag Editor

Dr. Hj. Khoiriyah, S.S., M.Ag Purwo Adi Wibowo, S.E., M.Sc.

Layouter

Gesi Mei Dinta Pratama Desain cover

Tim Desain

Cetakan ke 1, Edisi 1, November 2021 Diterbitkan oleh:

UNISNU Press

Alamat: Kampus UNISNU Jepara 08957-1000-3000 ; 0857-2930-2000 IG: @pressunisnu ; FB: Unisnu Press Jepara Email: [email protected]

viii + 204 hlm.; 15,5 x 23 cm.

ISBN 978-623-97506-4-0

Hak cipta pada penulis; hak penerbitan pada UNISNU Press Tidak boleh direproduksi sebagaian atau seluruhnya dalam bentuk apapun

tanpa izin tertulis dari penerbit.

Isi buku sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. Penerbit dan percetakan tidak bertanggung jawab atas isi buku.

(3)

Prakata

dan Ucapan Terima kasih

Fenomena penggunaan promosi sebagai bagian dari strategi marketing lembaga pendidikan, terkhusus lembaga pendidikan Islam, makin meningkat, sebagaimana yang lazim digunakan dalam dunia bisnis. Gejala ini terlihat pada kegiatan pemasangan spanduk di jalan- jalan, baleho, penyebaran brosur-brosur, bahkan penawaran dengan menggunakan jasa tim marketing yang turun terjun ke lembaga- lembaga instansi yang mempunyai kepentingan terhadap lembaga pendidikan dan sebagainya. Namun, fakta ini masih menjadi keraguan dan malu-malu untuk diakui bahwa lembaga pendidikan mentransfer sistem pengenalan promosi ke lembaga pendidikan merupakan bagian dari sistem industri yang layak untuk diterapkan di lembaga pendidikan. Banyak akademisi masih merasa enggan bahkan terkesan menolak dengan tegas apa yang dilakukan lembaga pendidikan tersebut bagian dari dunia industri. Secara tidak sadar mereka menolak anggapan bahwa lembaga pendidikan itu tabu untuk dikomersilkan, walaupun kenyataannya mereka terlibat dalam jaringan promosi untuk memikirkan bersama eksistensi lembaganya.

Strategi promosi dengan marketing lembaga pendidikan menggunakan model sistem bisnis dunia industri pada saat ini sedang tren dalam segala kegiatan. Model promosi dengan menawarkan produk jasa pendidikan berupa layanan keahlian keilmuan yang ditawarkan, keterampilan pribadi, fasilitas gedung serta faisilitas yang diberikan, dan keunikan lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Semua itu bertujuan untuk fokus pada ketertarikan konsumen sebagai stakeholder lembaga pendidikan. Promosi dalam konteks marketing lembaga pendidikan merunbah perannya sebagai marketing jasa

(4)

atau menyampaikan jasa pendidikan kepada konsumen dengan cara yang memuaskan.

Pada sisi yang lainnya, fenomena yang tidak bisa ditutup tutupi, disembunyikan, adalah kemajuan dan perkembangan suatu umat ditentukan oleh keberadaan dan pembangunan sumber daya manusia berkualitas tinggi dan sebaliknya bahwa kemunduran suatu umat dan kekalahan bersaing dalam dunia industri karena sumber daya manusia umat tidak berkualitas dan berdaya saing rendah. Hal ini menjadi sangat penting bila dikaitkan dengan kondisi persingan global dengan intensitas persaingannya sangat tinggi.

Selama ini pendidikan Islam sebagai agen pewarisan budaya Islami (agent of conservative), yang berperan sebagai pewaris budaya melalui pendidikan sistem nilai dan kepercayaan, pengetahuan normative, adat kebiasaan, yang membudaya diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya, berhadapan dengan dunia industri pragmatis neo-liberal, harus mengalami pergeseran tanpa menghilangkan identitasnya. Pergeseran ini sebagai bagian tuntutan relevansi perkembangan zamannya.

Tema buku ini mengajak pembaca berdiskusi untuk melihat fakta sejarah baru pendidikan dalam kancah dunia global yang penuh persaingan dan perlombaan, di mana telah terjadi pergeseran lingkungan dan kekuatan persaingan dalam industri pendidikan menyebabkan timbulnya kesenjangan antara tuntutan lingkungan dan persaingan dengan kekuatan satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Situasi ini telah memaksa bagian satuan pendidikan mengurangi atau menghentikan operasinya. Sejumlah lembaga pendidikan mengalami penurunan jumlah peminatnya, bahkan terpaksa tutup karena tidak mampu mempertahankan keberadaannya dan tidak mendapatkan kepercayaan stakeholdernya.

Fenomena lembaga pendidikan mengalami penurunan dan tutup operasionalnya sangat meluas yang merupakan isu permasalahan yang penting untuk dikaji.

(5)

Suatu satuan pendidikan dituntut untuk senantiasa merevitalisasi strateginya guna menjamin kesesuaian tuntutan lingkungan dan persaingan dengan kekuatan internal yang dimilikinya.

Hal ini penting mengingat ketidakmampuan satuan pendidikan dalam merespons peluang dan ancaman eksternal akan mengakibatkan menurunnnya daya saing dan terhambatnya pencapaian kinerja satuan pendidikan. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengancam kelangsungan satuan pendidikan yang bersangkutan. Oleh karena itu, buku ini mengajak pembaca untuk mendiskusikan tema sentral topik yang didiskusikan yakni lembaga pendidikan berbasis Islam mau tidak mau, diharamkan atau tidak diharamkan, tabu atau tidak ditabukan, harus terlibat dalam percaturan global dunia industri. Tentunya, solusinya adalah dapat menjawab pertanyaan mampukah lembaga pendidikan Islam menggerakkan dan mengampil peran dalam dunia Industri?

Tulisan ini merupakan hasil diskusi serius kegelisahan akademik di berbagai perguruan tinggi pasca sarjana berbasis pesantren tempat penulis meniti karier sebagai akademisi dan praktisi.

Tentunya penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada guru- guru spiritual di pesantren yang telah mengajari tata krama, unggah ungguh, pengabdian dan menumbuhkan rasa rihlah ilmiyah yang terus belangsung. Tidak lupa birokrasi tempat penulis berkarier sebagai akademisi atas fasilitas yang diberikannya. Pada akhirnya ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dr Hj Khoriyah sebagai sigaring nyowo dan teman diskusi, kritik dan sarannya yang sangat asik ikut membangun kasanah intelektual.

Jepara, 20 September 2021 Penulis,

Dr. Ahmad Ali Riyadi, M.Ag.

(6)
(7)

Daftar Isi

Prakata dan Ucapan Terima kasih ... iii

Daftar Isi ...vii

Pendahuluan ... 1

Bab I Identifikasi Pasar Peluang Pendidikan ... 9

A. Visi dan Misi Pendidikan ... 10

B. Sasaran Pengguna Pendidikan ... 16

Bab II Perubahan Budaya ... 31

A. Membangun dan Menjaga Kualitas ... 31

B. Membangun Budaya Organisasi ... 42

Bab III Peran Pendidikan Sebagai Jasa Pelayanan Publik ... 57

A. Menjaga Hubungan Pelanggan ... 58

B. Sistem Jaringan Mutu ... 66

Apendiks Trending Topics Pergeseran Pendidikan Islam ... 77

A. Dinamika Budaya Sosial Politik Pesantren ... 79

B. Identitas Lembaga Pendidikan Islam Tingkat Dasar dan Menengah ... 114

C. Pendidikan Islam di Madrasah Diniyah ... 133

D. Kompetensi Lulusan Madrasah Aliyah ... 137

E. Madrasah Terpadu ... 165

F. Pasar Kerja Pendidikan Tinggi Islam ... 170

Daftar Pustaka ... 199

(8)
(9)

PENDAHULUAN

Permasalahan Buku Ini

Di era perdagangan bebas salah satu tantangan penting yang dihadapi lembaga pendidikan Islam seluruh dunia Islam, tidak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bagaimana mengelola lembaga pendidikan berbasis industri. Tulisan ini mengajak pembaca untuk berdialog secara interdisipliner tentang pentingnya manajemen pendidikan Islam berbasis industri dan relevansinya dengan memenangkan persaingan bebas tanpa batas wilayah.

Tujuannya adalah mempersiapkan dan merefleksikan tenaga pengelola pendidikan profesional yang menguasai isu-isu dunia industri dan strateginya.

Harus disadari bahwa era perdagangan bebas merupakan tantangan sekaligus peluang dalam pengelolaan lembaga pendidikan, disebut demikian karena mau tidak mau pendidikan Islam akan menghadapi dampak fungsional outcome lembaga pendidikan dalam kancah investasi pasar bebas mampukah lembaga pendidikan Islam memberikan kontribusi penting bagi kepentingan pasar bebas yang membutuhkan tenaga-tenaga profesional siap pakai dan kontribusi teknologi. Pada sisi yang lainnya bahwa adanya lembaga pendidikan Islam sebagai kepanjangan tangan lembaga dakwah Islam bersifat haram membicarakan bisnis dalam pendidikan.

Beberapa pembaca mungkin akan terkejut dengan isi yang didiskusikan dalam buku ini. Beberapa bagian buku ini membicarakan tentang manajemen industri secara umum dan mutu pendidikan dalam dunia industri. Berulangkali tema ini didiskusikan dalam perkuliahan pascasarjana program studi Manajemen Pendidikan Islam yang penulis sampaikan pada mahasiswa telah terjadi salah paham bahwa seakan-akan metode bisnis lebih unggul dalam dunia industri, atau

(10)

pendidikan akan dapat ditingkatkan hanya dengan mengadopsi bahasa komersial. Pemahaman tentang kualitas yang diperoleh dari pengalaman dunia bisnis dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan yang membutuhkan suatu proses adaptasi yang tinggi untuk menyesuaikan antara kondisi khusus masing-masing sekolah, perguruan tinggi atau universitas Islam. Setiap institusi harus menentukan nasibnya sendiri-sendiri untuk menghindari organisasi tindakan yang keliru.

Kenapa diperlukan konsep industrialisasi dalam manajemen pendidikan Islam menjadi pertanyaan lain dan membutuhkan teka- teki jawaban berdasarkan penelitian beberapa kasus dalam konteks keindonesiaan. Konsep pasar bebas ternyata telah merubah wajah negara-negara seluruh dunia, tidak terkecuali negara-negara berpenduduk muslim. Di Indonesia kasus ini diawali tahun 1998 terjadi tonggak perubahan kebijakan pengelolaan negara, baik di bidang politik, ekonomi dan sosial, dari model “demokrasi semu”

menjadi “demokrasi sejati”. Disebut demokrasi semu, karena negara menggunakan kekuasaannya secara otoriter dengan memaksa rakyat untuk menjalani demokrasi mengambang dengan konsep deideologisasi, floating mass, politik yang terwakilkan, sentralistik, kebijakan top down, dan rakyat di daerah tidak diberi kesempatan menyuarakan hatinya untuk berpartisipasi. Rakyat yang berbeda-beda dianggap sebagai ancaman stabilitas negara sehingga negara menyeragamkan gagasan dan ide demi persatuan dan keutuhan bangsa. Walaupun hal ini diakui telah membawa stabilitas di bidang ekonomi, sosial dan politik. Tentunya hal ini berbeda dengan demokrasi sejati yang menganut jargon demokrasi dari rakyat untuk rakyat.

Pergeseran model pengelolaan negara ditandai dengan adanya krisis ekonomi Asia yang terjadi sejak tahun 1997 dan puncaknya pemerintah Indonesia jatuh pada bulan Mei 1998. Krisis ini diakibatkan serbuan ekonomi liberal pasar bebas yang menggulingkan

(11)

model pemerintahan statis dominan peran negara atas ekonomi.

Ditinjau dari kawasan Asia, hampir seluruh negara-negara di Asia memiliki kecenderungan pemerintahan rezim anti perubahan.

Beberapa negara seperti Cina, Jepang, Korea, Taiwan, Malaysia, Indonesia, tidak lepas dari dominasi negara dalam mengontrol pelaku ekonomi dan alokasi-alokasi sumber negara. Krisis ini juga tidak hanya terbatas bagi negara-negara Asia saja, tetetapi juga negara-negara dunia menjalar ketakutan akan terjadinya suatu keruntuhan global. Seperti kasus di Indonesia, problem krisis ekonomi menjalar ke problem lainnya yang mengakibatkan ketegangan sosial dan politik.

Pergeseran lainnya adalah adanya model pengelolaan ekonomi pasar bebas yang mengedepankan aspek otonomi di segala bidang, dimana model ekonomi pasar bebas telah mengalahkan ekonomi klasik. Pergeseran ini telah memasuki zaman baru yang ditandai dengan menguatnya pasar bebas yang disebut pula dengan globalisasi. Peran ekonomi klasik yang masih memegang teguh (ngugemi) tradisi kemanusiaan yang memanusiakan manusia (nguwongke uwong) telah bergeser menjadi akumulasi kapital (kekuatan modal) akibat investasi pasar bebas. Manusia dan sumber daya alamnya diletakkan sebagai komoditas yang hanya diukur sebagai komoditas.1 Bagaimana dengan pendidikan, apakah model pasar bebas yang menganggap manusia sebagai barang berdampak dan dapat mempertahankan diri untuk tidak terjun ke dalam dunia komoditas?

Pada prakteknya, negara-negara yang mengedepankan dan mengikuti model pasar bebas tidak dapat menolak nilai falsafah pasar bebas. Jika ada negara yang menolak sistem pasar bebas maka justru akan menjerembabkan dan terasing dalam percaturan dunia. Begitu kuatnya hembusan sistem pasar bebas atas sistem ekonomi klasik sehingga

1Mansour Faqih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2002), hal. 45.

(12)

dapat menggulingkan setiap negara yang berkehendak mempertahan identitas yang berbeda.2

Pasca krisis 1998, Indonesia memperlakukan pendidikan sebagai komoditas pasar bebas yang diperkuat sejak dikembangkannya kesepakatan GATT dengan dimenangkan pandangan bahwa dunia secara global memihak pada kepentingan pasar. Aksi kesepakatan berdampak pada peluang bagi perusahaan-perusahaan besar transnasional untuk ekspansi. Salah satu dampak yang kelihatan adalah memengaruhi perubahan kebijakan negara-negara berkembang untuk melicinkan beroperasinya perusahaan.3 Mekanismenya adalah dengan memengaruhi wadah organisasi dunia WTO yang berlandaskan pada suatu pemahaman bahwa pertumbuhan ekonomi hanya dapat dicapai dengan kompetisi bebas secara normal. Pemerintah selaku actor absolute penguasa tidak diberi ruang sedikitpun untuk mengatur dan mengontrol ekonomi pasar bebas. Akibatnya, pada lembaga pendidikan akan berdampak pada paham bahwa pendidikan merupakan bagian akses swasta yang menjadi aktor dalam bidang ekonomi di bawah persaingan bebas yang diciptakan gagasan pasar bebas atas nama investasi. Berhasil tidaknya pendidikan dinilai dari kemampuan lulusan pendidikan terhadap keberhasilan meraup keuntungan materi yang diinginkan pengguna lembaga pendidikan, alhasil, jikalau pengguna jasa pendidikan dapat meraup keuntungan materi yang diinginkan menjadi indikator lembaga pendidikan itu layak dan bonafit. Sebaliknya, jikalau pengguna jasa pendidikan tidak merasakan manfaatnya menjadi indikator pendidikan itu telah gagal menjalankan misinya. Pertarungan kepentingan tidak lagi pada pihak ideologi Islam non-Islam, akan tetetapi mampukah dunia lembaga Islam mengisi kebutuhan pasar yang pragmatis. Siapa yang secara jeli

2Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (Yogyakarta; Syafiria Insani Press), hal. 128.

3Richard Mann, Memperjuangkan Demokrasi di Indonesia (Jakarta;

Enka Parahiyangan, 1999), hal. 19.

(13)

mampu masuk dunia kebutuhan investasi mereka sangat dihargai kinerja dan perjuangannya.

Oleh karenanya, hal seperti itu menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan Islam yang ada. Tantangan yang serius bahwa nilai romantisme dalam pendidikan Islam menjadi terkikis. Romantisme dalam kontek pendidikan Islam dimaknai sebagai paham bahwa pelaksanaan pendidikan Islam masih berkecenderungan mempunyai modus penanaman moral agama dan paham pahala dengan mendapat kebahagiaan akhirat kelak bagi pelaku pendidikan, bergeser pada orientasi materi dunia kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan persaingan bisnis. Orientasi ini menjadi problem serius di kalangan aktivis pendidikan Islam. Satu sisi pendidikan Islam sebagai sarana pentransfer ilmu keislaman dalam rangka kelanggengan moral Islam, di sisi lainnya pendidikan Islam dihadapkan pada persoalan krusial praktis dunia bisnis. Mampukah alumni pendidikan Islam memenangkan kompetisi kerja dengan pendidikan sekuler dalam memenuhi kebutuhan tenaga teknis dunia industri? Pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban pragmatis pengelola pendidikan Islam secara bijak, supaya pendidikan Islam tidak dianggap pendidikan murahan yang selalu kalah dalam percaturan dunia.

Persoalan akademik itu menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh komponen aktor-aktor lembaga pendidikan Islam. Khususnya, dalam hal ini lembaga-lembaga perguruan tinggi Islam mulai STAIN-IAIN- UIN dan lembaga-lembaga Islam lainnya pesantren, majelis-majelis ta’lim serta lembaga pendidikan formal tingkat atas menengah dan dasar. Apakah mereka sudah siap menghadapi perubahan iklim industri.

Pengalaman penulis mengajar program pascasarjana di beberapa perguruan tinggi Islam yang tersebar di Indonesia sering kali masih banyak menjumpai beberapa mahasiswa pascasarjana sebagai aktor pendidikan Islam yang tidak menyadari adanya politik perdagangan bebas berdampak serius pada dunia pendidikan. Mereka

(14)

sangat terkejut, bahkan tidak sepaham dengan serbuan pasar bebas, namun dibalik itu terjadi persoalan yang sangat paradok, satu sisi terjadi penolakan ide pasar bebas akan tetetapi satu sisi mereka berada di lingkungan dan kubangan pasar bebas yang tidak dapat dihindari.

Secara umum, mereka berpikir romantisme dan kentalnya nilai-nilai tradisional dalam pengelolaan pendidikan Islam. Kultur lokal, anti perubahan, dan adanya kekhawatiran bisnis pendidikan Islam dianggap hal yang haram untuk didiskusikan.

Untuk itulah tulisan ini hadir menjadi bahan dialog.

Pertanyaan yang perlu didialogkan mungkinkah pendidikan Islam disetting mengikuti pola dunia industri. Jawaban pertanyaan ini membutuhkan eksperimen yang serius. Pada pokoknya aktor merancang lembaga pendidikan Islam setara dengan dunia industri bukan suatu yang tabu. Karena pada hakekatnya lembaga pendidikan dibuat sebagai sarana dan mempunyai kepentingan antara penggagas dan pengguna lembaga pendidikan Islam. Tarik ulur kepentingan antara penggagas dan pengguna menjadi landasan hukum bisnis. Jika barang yang ditawarkan menjadi menarik bagi pengguna maka akan terjadi transaksi. Logikanya adalah tidak diperlukan lagi pandangan tabu bagi lembaga pendidikan untuk ditawarkan seperti barang yang dijual dunia industri dan tentunya ada kesamaan prinsip yang sama secara ekonomi. Ada harga ada barang, ada kepentingan ada ketertarikan, ada jasa yang baik maka akan laku di pasaran dengan cepat. Bukankah lembaga yang baik bentuk layanan kepentingan domestik menjadi mahal harga yang harus dibayarkan oleh pengguna jasa layanan publik, inilah kenyataan yang terjadi di masyarakat.

Juga termasuk filosofi perlu adanya pendidikan adalah bukankah lembaga pendidikan didesain untuk kepentingan kecakapan hidup manusia. Dengan demikian pendidikan diarahkan untuk memenuhi harapan kesuksesan hidup dan alat wahana untuk meraih tujuan. Pendidikan diarahkan sebagai tujuan mencari kecerdasan, pembentukan karakter, alat dakwah religi, meningkatkan taraf hidup,

(15)

meningkatkan status sosial, mencari pekerjaan, mengurangi kemiskinan, asset masa depan yang lebih baik, dan seabrek istilah tujuan pendidikan sebagai cita-cita masa depan seseorang. Hal inilah menjadi indikasi bahwa pendidikan tidak lepas dari tujuan dan kepentingan penggagas dan pengguna jasa pendidikan. Pendidikan yang dulunya mempunyai makna romantisme, yakni untuk mencari keberkahan dan pahala, berubah menjadi layanan jasa yang tidak ubahnya dalam pelayanan untuk kepentingan berbagai ideologi, baik ideologi atas nama agama, ekonomi, sosial dan politik.

Tidak ada yang netral dalam sebuah lembaga pendidikan yang dibangun. Untuk itulah diperlukan kesadaran dan kebebasan memilih bagi pengguna pendidikan. Pengguna pendidikan harus cerdas menggunakan jasa layanan pendidikan, mereka berhak memilih dengan kesadaran dan apa kegunaannya seseorang menempuh pendidikan di suatu lembaga pendidikan tertentu. Jikalau seseorang menginginkan ahli di bidang ekonomi maka seseorang itu mengarahkan pendidikannya berkaitan dengan jurusan ekonomi, jikalau orang hendak ahli di bidang agama maka seseorang itu harus sekolah di jurusan yang mengurusi pendidikan agama, jikalau seseorang itu hendak ahli di bidang ilmu-ilmu humaniora maka harus mencari lembaga yang menyediakan jasa di bidang ilmu-ilmu humaniora, dan seterusnya. Akan tetetapi, hal yang perlu diperhatikan seseorang dalam menempuh pendidikan tertentu harus dilandaskan kepentingan kesadaran dan kepentingan individu masing-masing bukan oleh tekanan pihak-pihak tertentu. Inilah salah satu ciri model masyarakat yang hidup di era industri, di mana kemandirian, kompetisi dan kreativitas merupakan syarat mutlak untuk dapat bersaing di dunia global.

(16)
(17)

Bab I

Identifikasi Pasar Peluang Pendidikan

eberapa tahun terakhir ini, perkembangan interaksi masyarakat satu negara dengan negara yang lain terjadi secara bebas tanpa sekat dan batas. Hal ini telah membawa peluang yang bebas bagi masuk dan keluarnya barang dan jasa antara satu daerah dengan daerah lainnya dalam skala global. Karena dimensi perdagangan satu unit usaha tidak hanya dalam perspefektif wilayah atau daerah di mana perusahaan itu didirikan, tetetapi dalam lingkup yang sangat luas. Kebebasan bergerak barang dan jasa antar daerah, antar wilayah nasional, dan antar negara telah menjadi pembicaraan yang rutin dalam menjalankan operasi bisnis. Diawali dengan terjadinya kebebasan perdagangan dan investasi antar unit usaha dan penduduk antar negara, perkembangan dan kebebasan itu telah menciptakan persaingan investasi dan perdagangan secara terbuka.

Untuk masuk dan berhasil dalam perdagangan terbuka secara global, setiap unit usaha termasuk lembaga pendidikan harus membangun kapasitas usahanya agar mampu menciptakan daya saing yang tangguh, dan untuk membangun daya saing yang tangguh diperlukan berbagai keunggulan komparatif bisnis. Keunggulan komparatif bisnis hanya dapat terjadi bila unit tersebut memiliki berbagai keunggulan yang mendasar. Di antara keunggulan yang mendasar yang harus dimiliki adalah keunggulan dalam menangkap peluang pendidikan dengan memahami visi - misi dan memahami pengguna jasa pendidikan. Dari sini diharapkan lembaga pendidikan mampu berperan aktif dalam persaingan global tanpa menghilangkan identitas khas lokal dan identitas keislaman yang berwawasan global.

B

(18)

A. Visi dan Misi Pendidikan

ewasa ini umat manusia memasuki suatu zaman baru yang ditandai dengan menguatnya paham pasar bebas, yang dikenal dengan zaman globalisasi. Dalam ranah ini tradisi umat manusia untuk mempertahankan eksistensi seseorang melalui lembaga pendidikan mendapat tantangan, karena pendidikan tertanyata bagi sebagaian orang dapat digunakan untuk mengakumulasi kapital dan mendapatkan keuntungan. Visi dan misi orang dalam mengekspresikan tujuan kegunaan pentingnya pendidikan terjadi pergeseran, yakni pendidikan menjadi komoditas kapital ketimbang menjadi acuan pembangunan moral individu.

Argumen tersebut didukung dari beberapa animo masyarakat yang mengakui betapa pentingnya pendidikan yang diperlakukan sebagai komoditas diperkuat sejak dikembangkannya kesepakatan negara-negara berkembang yang merubah kebijakannya dari ekonomi yang mensubsidi rakyat merubah ekonomi investasi modal pasar bebas. Pelan tetapi pasti negara-negara berkembang mengikuti pola investasi pasar bebas dari negara pendonor modal pasar bebas yang menginvestasikan modalnya di negara-negara berkembang. Dominasi politik ekonomi kapital lebih mendominasi daripada politik kebijakan pengembangan moral individu. Dari sinilah ada pergeseran peran pendidikan Islam yang normatif menjadi pragmatis.4

Pragmatisme pendidikan dipahami pendidikan sebagai alat yang dibungkus dalam visi dan misi. Sebagai alat pendidikan diabdikan kepada beberapa tujuan. Misalkan beberapa animo masyarakat yang membutuhkan pendidikan sebagai alat menyalurkan ilmu pengetahuan, alat pembentukan watak, alat pelatihan keterampilan, alat mengasah otak, alat meningkatkan

4Francis Wahono, Kapitalisme Pendidikan: Antara Kompetisi dan Keadilan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 3.

D

(19)

pekerjaan, alat investasi, alat konsumsi, alat menanamkan nilai moral dan ajaran, alat pembentukan kesadaran kebangsaan, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status sosial, alat menguasai teknologi, alat menciptakan keadilan sosial, dan lain sebagainya.

Dari beberapa tujuan pendidikan sebagai alat tersebut tersimpan pengaruh dan lengkap dengan ideologi apa yang melatarbelakangi kepentingan perlunya diadakan pendidikan.

Pendidikan diarahkan bukan untuk dirinya sendiri, akan tetetapi ada perebutan pengaruh pelaku dan agenda yang tersembunyi.

Pengaruh ini membentuk sistem nilai yang menjadi ukuran dan patokan moral suatu bangsa. Beberapa sistem ini diantaranya, ada sistem pasar, sistem komando dan sistem kemanusiaan. 5 Jika sistem pasar yang menonjol memengaruhi sistem pendidikan, maka yang menang di arena pasar itulah yang menentukan arah hitam putihnya pendidikan. Jika arah pendidikan ditentukan oleh komando, maka yang berkuasa adalah negara yang menentukan arah pendidikan. Jika arah pendidikan ditentukan oleh rakyat dan untuk memanusiakan manusia, maka sistem ini akan menjadikan pendidikan alat untuk menumbuhkan emansipasi masyarakat bawah.

Pergulatan tiga sistem tersebut dimenangkan oleh sistem pasar. Pasar dimaknai sesuatu yang anonim dan ideologis. Dibalik pasar bukan sekadar para pelaku investor, penawaran dan permintaan, akan tetetapi siapa yang kuat mengontrol sarana prasarana ekonomi dan alokasinya. Dalam situasi ekonomi yang timpang dalam hal pengontrolan saran ekonomi dan alokasi, maka yang menentukan akhirnya pengontrol dan mengelola yang paling kuat.

Bagi pelaku kapitalis liberal, pengontrol dapat berupa penguasa lintas negara, kapitalis feodal seperti penguasa

5Ibid. hal. 6.

(20)

pengusaha, gerak ekonomi diarahkan ke pelebaran dan penguasaan pasar untuk akumulasi kapital. Arah pendidikan dibuat sedemikian rupa sehingga pendidikan menjadi pabrik tenaga kerja yang cocok untuk tujuan ekonomi kapitalis.

Dampaknya tentu kurikulum pendidikan akan diisi dengan pengetahuan dan keahlian untuk industrialisasi baik manufaktur maupun agroindustri. Pertahanan klasik ekonomi lama dari sebagaian besar negara berkembang, seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan dijadikan tumbal untuk memberikan pelayanan berupa tenaga kerja murah untuk buruh sektor industri. Kekayaan dan kearifan lokal tereksploitasi oleh kepentingan investor pemilik modal. Nilai produk dari segi teknologi dan pengetahuan unggulan merupakan produk hasil karya negara-negara bermodal besar.

Oleh karenanya, paradigma yang digunakan dalam membangun visi dan visi pendidikan adalah paradigma sumber daya manusia dari teori ekonomi neo klasik. Teori ini meletakkan manusia sebagai bagian penting dari faktor produksi. Manusia adalah sesuatu yang sangat urgen bagi pencapaian produksi.

Dengan mengasumsikan manusia sebagai faktor produksi maka paradigma ini tentu saja memproduksi manusia pekerja menjadi objek, sementara subjek tersembunyi adalah kapitalisme.6 Hal inilah yang menjadi persoalan mendasar yakni sistem pendidikan yang diarahkan untuk mencetak pekerja, pada dasarnya tidak lebih dari sekadar skenario penguasa ekonomi dan politik untuk membentuk manusia menjadi robot-robot pembangunan.

Pada sisi yang lain sistem pendidikan merupakan bagian dari sistem kebijakan negara yang menganut ideologi tertentu.

Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat sehingga bentuk dan perubahan sistem kebijakan suatu negara

6Saiful Arif, Menolak Pembangunanisme (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2000), hal. 249.

(21)

memberikan dampak yang fundamental pada pendidikan. Hal itu disebabkan dalam pendidikan tersalur kemauan-kemauan kekuasaan dalam suatu masyarakat.7 Oleh karena itu, dalam menentukan arah kebijakan pendidikan negara mempunyai peranan yang sangat strategis dalam proses pendidikan, bahkan kadang kala negara telah menjadikan pendidikan sebagai upaya untuk melestarikan status quo kekuasaan Pendidikan merupakan porsi negara atau menjadi fungsi negara karena negara punya kekuasaan untuk mengarahkan sistem pendidikan dan menduduki posisi ideal secara ekonomis, politis, dan sosial untuk mendukung misi dan visi yang dibangun suatunegara.

Secara faktual, beberapa kasus ditemukan berbagai model negara yang menganut sistem ideologi yang memengaruhi nilai masyarakat, misalkan dalam sebuah negara yang menjunjung tinggi demokrasi dengan mengakui hak-hak individu, tentunya tersusunlah sistem pendidikan yang memperhatikan dan mengembangkan penghargaan terhadap hak-hak individu.

Tujuan pendidikan demokrasi mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan berperilaku demokratis dengan membuka kebebasan akademik, kebhinekaan pendidikan, dan perombakan materi pendidikan yang berbasis kerakyatan, civil society.8 Kebebasan akademik merupakan pelepasan kontrol dan pengaruh indoktrinasi dari luar lembaga pendidikan harus diminimalkan dan dikembangkan model pengelolaan berbasis sekolah dengan menonjolkan aspek kemandirian. Lembaga pendidikan dapat melaksanakan kebebasan otonomi yang dimiliki sejauh aktivitasnya tidak melanggar peraturan yang ada. Oleh karena itu, demokrasi dapat tercapai bila masyarakat membangun kesadaran diri tentang pentingnya demokrasi dalam kehidupan

7Ali Riyadi, Politik Pendidikan: Menggugat Birokrasi Pendidikan Nasional (Yogyakarta: Arruz Media, 2006), hal. 15.

8Zamroni, Pendidikan Untuk Demokrasi: Tantangan Menuju Civil Society (Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2001), hal. 18.

(22)

berbangsa dan bernegara, dan bermasyarakat. Negara sebagai instrumen politik dan ekonomi suatu bangsa harus memiliki political will untuk terwujudnya demokrasi.

Akan tetetapi sebaliknya, di negara totaliter dengan pemerintahan yang menguasai segala-galanya lewat kekuasaan absolut, pemerintah membatasi kebebasan individu dengan memberikan pendidikan yang uniform bagi semua objek didik.

Sistem pendidikannya cuman satu yakni mencerminkan ide-ide politik para politisi yang berkuasa. Objek didik harus bersikap otokratis dan mutlak sebab dengan sepenuhnya objek didik harus melaksanakan semua perintah para penguasa politik yang bersifat otoriter. Bagi negara otoriter, pendidikan adalah kekuatan politik untuk mendominir rakyat. Oleh sebab itu, pemerintah secara mutlak mengatur pendidikan. Begitu juga dalam bentuk negara yang menganut ideologi otokratis dengan pemimpin seorang raja, kekuatan politik mempunyai kekuatan yang sangat besar bahkan sangat absolut tidak terbatas dalam memengaruhi praktek pendidikan. Negara mempunyai wewenang untuk memilih dan menentukan sistem pendidikan untuk subjek-objek didik.

Keduanya harus patuh dan tunduk mengikuti segala keputusan pemerintah. Pada negara yang menganut sistem oligarkis yang diperintah oleh beberapa penguasa yang terpilih dan mahakuasa juga mengembangkan sistem pendidikan yang monolinear seperti negara otokratis. Sistem pendidikannya mengutamakan pendidikan bagi kelompok-kelompok tertentu yang dipersiapkan akan menjadi penerus penguasa, sedangkan rakyat banyak dibiarkan tidak terdidik dan dalam keadaan terbelakang sebagai abdi penguasa.

Hal yang sama juga terjadi di negara-negara yang menganut sistem ideologi kapitalisme dan komunisme. Di negara kapitalis, politik dan negara dikuasai oleh sekelompok pemodal.

Lembaga pendidikan umumnya dikuasai oleh pemodal sehingga

(23)

pada umumnya lembaga pendidikan dikembangkan atas dasar investasi. Konsekuensinya lembaga pendidikan dibangun atas dasar bisnis dan keuntungan ada pada pemilik modal. Di negara komunis yang menerapkan diktator proletariat menerapkan pendidikan sebagai fungsi negara. Pendidikan merupakan senjata strategis untuk menguasai rakyat yakni memacu rakyat menjadi manusia yang uniform. Politik adalah sinonim dengan pengendalian secara ketat terhadap negara dan rakyat. Karena itu sistem pendidikannya erat sekali berkaitan dengan sistem politik dan ambisi-ambisi politik negara tercerminkan pada kerangka filosofis dan praksis pendidikan.

Ideologi-ideologi negara tersebut akan berkelindan masuk dalam ranah pengembangan lembaga pendidikan yang pada akhirnya dimenangkan oleh ideologi pasar bebas. Oleh karenanya, lembaga pendidikan Islam tidak menafikan dalam membicarakan masa depan keluaran output pendidikan dalam percaturan pasar bebas. Studi di lembaga pendidikan harus merupakan bagian dari rencana hidup untuk mengisi dan mengembangkan kualitas diri agar menjadi aktor yang berdaya saing tinggi. Untuk itu studi harus direncanakan dengan visi dan misi yang kontekstual dalam rangka merencanakan pengembangan diri dengan memahami tantangan yang sedang dan akan dihadapi, dan merencanakan jawaban untuk mengatasi tantangan tersebut.

Secara faktual empiris persaingan di era global dalam aspek peluang pendidikan akan sangat tajam, karena lembaga pendidikan akan berhadapan beberapa hal; pertama, tantangan jenis kerja dan pekerjaan yang semakin kompleks yang membutuhkan tenaga kerja yang profesional terukur dan kompetensi unik dalam berbagai aspek. Kedua, berhadapan langsung dengan pencari kerja asing yang lebih siap mempunyai kemampuan dan kualitas kompetensi individu yang jauh lebih

(24)

baik. Hal ini relevan jika output lembaga pendidikan Islam di dunia Islam dibandingkan dengan negara-negara mitra dagang, saat ini posisi daya saing kelulusan masih lemah dan ini terbukti dengan ketidakmampuannya bersaing dengan produk-produk utama dunia seperti yang berasal dari negara-negara maju.

B. Sasaran Pengguna Pendidikan

endidikan sebagai sarana pemberdayaan potensi manusia melalui proses sosial dan sosialisasi. Proses sosial dimaknai sebagai proses pembelajaran manusia dalam ruang lingkup teori- teori ilmu yang didapatkan dari skenario program pembelajaran, sedangkan proses sosialisasi dipahami sebagai proses aktualisasi peserta didik atas keahlian yang didapatkan dari proses sosialnya ke dalam dunia nyata. Dari kedua proses ini menunjukkan adanya proses timbal balik antara dunia internal lembaga pendidikan dengan dunia eksternal lembaga pendidikan. Jika dalam proses sosialisasi lulusan lembaga pendidikan menemukan ketidakcocokan dalam pengembangan individu yang harus dipertanyakan adalah dalam proses sosial lembaga pendidikan itu sendiri.

Pada prinsipnya lembaga pendidikan berperan sebagai lembaga jasa layanan konsumen, customer. Konsumen diartikan sebagai pengguna jasa lembaga pendidikan, stakeholder. Pengguna jasa dibedakan menjadi tiga bagian yakni jasa internal, internal customer, eksternal, external customer, dan perantara, intermediate customer. Pelanggan internal merupakan pelaku yang ada dalam lembaga dan mempunyai pengaruh pada performa lembaga.

Pengguna jasa internal meliputi staf, manajer, direktur, peserta didik, yayasan dan birokrasi. Pelanggan eksternal adalah pengguna jasa produk lembaga. Pengguna eksternal lembaga pendidikan merupakan pengguna produk pendidikan, misalkan pemerintahan, dunia industri, ekonomi, pelaku usaha dan orang

P

(25)

tua peserta didik itu sendiri. Pelanggan antara adalah mereka yang bertindak atau berperan sebagai perantara bukan sebagai pemakai akhir produk lembaga. Dalam hal ini pelaku marketing untuk menawarkan jasa pelayanan lembaga pendidikan mempunyai peran penting dalam rangka memperkenalkan lembaga pendidikan kepada masyarakat atau pengguna jasa lembaga pendidikan9. Karena pengaruh globalisasi terjadi persaingan antar lembaga pendidikan tidak menutup kemungkinan membutuhkan jasa marketing.

Pendidikan dikonsep dan dilaksanakan seharusnya melihat sasaran pelanggan yang akan menjadi target inputnya dengan melihat sasaran pangsa pasar yang jelas. Model sperti bukan berarti melupakan roh dakwah Islam sebagai point awal misis pendidikan Islam, yakni memberikan pemahaman agama yang memadai tanpa harus mengabaikannya, akan tetetapi lembaga pendidikan berbasis Islam dituntut untuk melihat realitas kebutuhan peserta didik hadir menjawab kebutuhan lingkungannya. Dari sini diharapkan pendidikan akan mampu menghadirkan kelulusan yang integrated, penguasaan agama yang memadai dan kemampuan hadir di lingkungannya.

Identifikasi pelanggan adalah semua orang yang menuntut lembaga atau perusahaan untuk memenuhi suatu standar kualitas tertentu dan akan sangat memberikan pengaruh pada performa lembaga atau perusahaan. Dari definisi ini pada dasarnya pelanggan merupakan sasaran utama lembaga, khususnya lembaga pendidikan. Jadi, pelanggan merupakan orang yang tidak bergantung pada diri lembaga akan tetetapi lembaga pendidikan yang harus bergantung pada pelanggan.

9Edward Sallis, Total Quality Management in Education: Manajemen Mutu Pendidikan, penerj. Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrazi (Yogyakarta; Ircisod, 2006), hal. 6.

(26)

Apa yang membedakan sasaran akhir pelanggan lembaga pendidikan dengan pelanggan dunia industri? Keduanya sama-sama menghasilkan produk, yakni produk barang dan produk peserta didik. Akan tetetapi, jika pada lembaga pendidikan endingnya adalah kepuasan pelanggan, maka pada dunia industri endingnya adalah produk. Bagaimana untuk mengukur kepuasan pelanggan. Pertama, adanya kesesuaian dengan spesifikasi, tujuan dan manfaat yang dibutuhkan. Kedua, memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan yang berujung pada kepuasan pelanggan.10

Maka dari itu, pendidikan berperan sebagai industri jasa dengan memenuhi standar kualitas. Lembaga dapat disebut berkualitas harus memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.

Secara operasional, kualitas ditentukan oleh dua faktor, yaitu terpenuhinya spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya dan terpenuhinya spesifikasi yang diharapkan menurut tuntutan dan kebutuhan pengguna jasa. Kualitas yang pertama disebut quality in fact (kualitas dalam kenyataan) dan yang kedua disebut quality in perception (kualitas persepsi/harapan/keinginan).

Standar mutu produksi dan pelayanan diukur dengan kriteria sesuai dengan spesifikasi, cocok dengan tujuan pembuatan dan penggunaan, tanpa kesalahan (zero defects) dan bebas dari kesalahan sejak awal (right first time and every time).

Kualitas dalam persepsi diukur dari kepuasan pelanggan atau pengguna, meningkatnya minat, harapan dan kepuasan pelanggan. Dalam penyelenggaraannya, quality in fact merupakan profil lulusan lembaga pendidikan yang sesuai dengan kualifikasi tujuan pendidikan, yang berbentuk standar kemampuan dasar berupa kualifikasi akademik minimal yang dikuasai oleh peserta didik. Sedangkan pada quality in perception pendidikan adalah kepuasan dan bertambahnya minat pelanggan eksternal terhadap

10Ibid. hal. 63.

(27)

lulusan lembaga pendidikan. Dengan demikian, pemuasan pelanggan berarti mengantisipasi kebutuhan pelanggan masa datang, mengambil resiko dan mengembangkan produk serta melayani pelanggan yang membutuhkan jasa layanan pendidikan.11

Untuk mengetahui tercapainya kepuasan pelanggan diperlukan penentuan standar kualitas atau quality assurance.

Paham ini digunakan untuk menetapkan standar-standar kualitas dari semua komponen yang bekerja dalam proses produksi atau transformasi lulusan lembaga pendidikan. Standar kualitas pendidikan misalnya dapat berupa pemilikan atau akuisisi kemampuan dasar pada masing-masing bidang pembelajaran, dan sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Selain itu, pihak manajemen juga harus menentukan standar kualitas materi kurikulum dan standar evaluasi yang akan dijadikan sebagai alat untuk mencapai standar kemampuan dasar.

Standar kualitas proses pembelajaran harus pula ditetapkan, dalam arti bahwa pihak manajemen perlu menetapkan standar kualitas proses pembelajaran yang diharapkan dapat berdaya guna untuk mengoptimalkan proses produksi dan untuk melahirkan produk yang sesuai, yaitu yang menguasai standar kualitas pendidikan berupa penguasaan standar kemampuan dasar. Pembelajaran yang dimaksud sekurang-kurangnya memenuhi karakteristik; menggunakan pendekatan pembelajaran siswa aktif (student active learning), pembelajaran kooperatif dan kolaboratif, pembelajaran konstruktif, dan pembelajaran tuntas (mastery learning).

Begitu pula pada akhirnya, pihak pengelola pendidikan menentukan standar kualitas evaluasi pembelajaran. Standar kualitas evaluasi yaitu bahwa evaluasi harus dapat mengukur tiga

11Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan: Konsep, Startegi, dan Aplikasi (Jakarta: Grasindo, 2002), hal. 37.

(28)

bentuk penguasaan peserta didik atas standar kemampuan dasar, yaitu penguasaan materi (content objectives), penguasaan metodologis (methodological objectives), dan penguasaan keterampilan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari (life skill objectives). Dengan kata lain, penilaian diarahkan pada dua aspek hasil pembelajaran, yaitu instructional effects dan nurturant effects.

Instructional effect adalah hasil-hasil yang kasat mata dari proses pembelajaran, sedangkan nurturant effect adalah hasil-hasil laten proses pembelajaran, seperti terbentuknya kebiasaan membaca, dan kebiasaan pemecahan masalah.

Dengan pemahaman di atas, sistem dan proses produksi serta penyajian produk maupun kondisi produk itu sendiri secara keseluruhan dan terpadu menjadi pusat perhatian dalam penentuan kualitas. Karena seluruh sistem, proses, serta produk harus memenuhi kebutuhan para pelanggan, terutama pengguna jasa lembaga pendidikan dan dunia kerja, maka para pelanggan dan kebutuhan mereka harus diidentifikasi serta diketahui secara objefektif. Selain itu sarana dan prasarana untuk mendukung sistem dan proses-proses tersebut harus diperhatikan.

Pengutamaan sistem dan proses dalam identifikasi atribut-atribut mutu adalah prinsip yang sangat penting dalam kualitas lembaga.

Berikut beberapa atribut pokok yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kualitas produk:

1. Aspek relevansi

Aspek ini dimaknai sebagai kesesuaian dengan kebutuhan.

Lembaga pendidikan yang ada seharusnya didirikan sesuai dengan kebutuhan. Peran lembaga pendidikan mengantarkan pengguna jasa lembaga sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan. Oleh karenanya, beberapa pertanyaan yang patut dipertimbangkan adalah apakah sistem dan prosesnya sudah sesuai dengan kebutuhan

(29)

pengguna jasa lembaga pendidikan, baik masyarakat, pemerintah, dan dunia industri.

2. Aspek efisiensi

Kehematan dalam penggunaan sumber daya, berupa dana, waktu, dan lain sebagainya, untuk produksi dan penyajian jasa-jasa lembaga sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Analisis ini mengindikasikan untuk menghasilkan produk yang direncanakan harus sesuai dengan kebutuhan pelanggan disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang direncanakan dan tersedia dipergunakan secara hemat dan tepat, tidak boleh terjadi analisis penggunaan anggaran dan pengangkatan pegawai yang tidak tepat sasaran sehingga terjadi pemborosan atau kelebihan tenaga.

3. Aspek efektivitas

Aspek ini memuat kesesuaian perencanaan dengan hasil yang dicapai atau ketepatan sistem, metode dan proses atau prosedur yang dipergunakan untuk menghasilkan jasa yang direncanakan. Hal yang harus diperhatikan adalah metode, proses, dan prosedur harus tepat dan baik sehingga sesuai berjalan lancar dan tepat untuk membuat pelanggan puas.

4. Aspek akuntabilitas atau pertanggungjawaban

Aspek ini menyangkut kredibilitas hukum lembaga.

Kredibilitas ini menyangkut kinerja dan produk lembaga, termasuk perilaku para pengelola dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, etika, akademik, agama dan budaya.

5. Aspek kreativitas

Aspek ini menyangkut kemampuan lembaga pendidikan untuk mengadakan inovasi, pembaruan, atau menciptakan sesuatu sesuai dengan perkembangan zaman.

(30)

6. Aspek situasi win-win situation

Aspek ini menciptakan suasana yang menyenangkan dan memotivasi dalam lembaga pendidikan sehingga semua orang melaksanakan tugasnya dengan senang hati, tulus dan penuh dengan semangat.

7. Aspek penampilan

Dalam pengelolaan perlu diperhatikan kerapian, kebersihan, keindahan dan keharmonisan fisik lembaga, terutama para pengelola yang membuat situasi dan pelayanan semakin menarik.

8. Aspek empati

Perhatian pimpinan lembaga dan unit-unitnya selalu memperhatikan keadaan bawahan dengan penuh tanggung jawab serta memberikan bantuan dan dorongan penuh.

Pelayanan dan perhatian ini memerlukan kemampuan pengelola lembaga memberikan pelayanan sepenuhnya dan setulus hati kepada semua pelanggannya.

9. Aspek ketanggapan

Kemampuan lembaga khususnya para pengelola dalam memperhatikan dan memberikan respons terhadap keadaan serta kebutuhan pelanggan dengan cepat dan tepat.

10. Aspek produktivitas

Aspek ini memerlukan kemampuan lembaga dan seluruh staf pengelola untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan menurut rencana yang telah ditetapkan baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

11. Aspek kemampuan akademik

Lulusan lembaga secara akademik membutuhkan kualitas produk. Bagaimana produk lembaga yang telah dihasilkan dari proses dan prosedur pelaksanaan program pendidikan.

Apakah hasil produk sesuai dengan apa yang diharapkan atau

(31)

jauh dari kenyataan. Hal ini merupakan tanggung jawab lembaga pendidikan untuk menunjukkan keberhasilan.

Lantas bagaimana cara memantau dan mengukur terhadap kepuasan pelanggan sebagai langkah yang dapat memberikan umpan balik dan masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi peningkatan kepuasan pelanggan. Berikut beberapa cara praktis metode dalam pengukuran kepuasan pelanggan:

1. Dengan Sistem Keluhan Dan Saran

Pengelolaan yang berpusat pada pelanggan memberikan kesempatan yang luas kepada pelanggannya untuk menyampaikan saran dan keluhan. Misalkan dengan cara menyediakan kotak saran. Informasi yang didapat dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi pengelola dan memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul.

2. Survei Kepuasan Pelanggan

Metode ini dilakukan untuk meneliti kepuasan pelanggan.

Penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan survei, baik melalui pos maupun wawancara langsung.

Dengan cara ini lembaga pendidikan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan tanda positif bahwa lembaga pendidikan menaruh perhatian terhadap para pelanggannya.

3. Ghost Shopping

Metode ini dilaksanakan dengan cara mempekerjakan beberapa orang untuk berperan atau bersikap seperti pelanggan lembaga pendidikan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam menggunakan produk.

4. Lost Customer Analysis

Lembaga berusaha menghubungi para pelanggannya yang telah berhenti menggunakan jasa lembaga pendidikan. Yang

(32)

diharapkan adalah memperoleh informasi penyebab terjadinya hal tersebut. Informasi ini sangat bermanfaat bagi lembaga untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.

Jika ditinjau dari segi manajemen bisnis, karena fokus dari kualitas ada pada kepuasan pelanggan, maka perlu dipahami komponen-komponen yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan. Secara sederhana, kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana kebutuhan, keinginan, dan harapan dapat terpenuhi melalui produk yang dikonsumsi. Secara rasio dapat dirumuskan persamaan kepuasan pelanggan dengan rumus: Z=X/Y, di mana Z adalah kebutuhan kepuasan pelanggan, X adalah kualitas yang dirasakan pelanggan, dan Y adalah kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan. Jika pelanggan merasakan bahwa kualitas dari produk melebihi kebutuhan dan harapan mereka maka kepuasan pelanggan akan menjadi tinggi atau bernilai besar dari satu (Z>1). Akan tetetapi, jikalau pelanggan merasakan bahwa kualitas produk lebih rendah atau lebih kecil dari kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan maka kepuasan pelanggan menjadi lebih rendah atau mempunyai nilai kecil (Z<1).

Kunci membentuk fokus kepuasan pada pelanggan adalah menempatkan karyawan untuk berhubungan langsung dengan pelanggan dan memberdayakan karyawan untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk memuaskan para pelanggan. Lantas, bagaimana cara karyawan melakukan identifikasi dalam segmen pasar yang menjadi target lembaga untuk produk tertentu yang diharapkan pelanggan. Cara untuk mengetahui harapan pelanggan dapat ditentukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan; pertama, apa karakteristik produk yang diinginkan pelanggan? Kedua, berapa tingkat performansi yang dibutuhkan untuk memenuhi harapan

(33)

pelanggan? Ketiga, bagaimana kepentingan urutan prioritas setiap karakteristik pelanggan? Keempat, bagaimana kepuasan pelanggan terhadap performansi yang ada sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban pelanggan. Hasil jawaban-jawaban pelanggan kemudian disusun sedemikian rupa sebagai bentuk karakteristik kebutuhan.

Semakin banyak jawaban pelanggan yang sama menandakan semakin banyak persoalan yang dibutuhkan. Sebaliknya, semakin kecil kebutuhannya menandakan semakin kecil pula peluang kebutuhan pasarnya. Oleh karenanya, proses mencapai keberhasilan diperlukan teknik mendengarkan suara pelanggan (listening to the voice of the customer).

Setelah mengetahui kebutuhan pelanggan proses selanjutnya dilakukan riset segmentasi pasar untuk mengetahui siapa pelanggan produk dan karakteristik serta kebutuhan pelanggan, kemudian dievaluasi tingkat persaingan pasar. Hasil dari riset pasar itu kemudian diterjemahkan ke dalam desain produk secara teknis dan karakteristik teknis yang sesuai atau cocok dengan apa kebutuhan pelanggan. Dari desain produk dilanjutkan dengan desain proses, yakni cara merancang bagaimana proses pembuatan produk sehingga diketahui karakteristik dari setiap bagian atau tahapan proses produksi.

Kemudian ditentukan proses operasi atau produksi dan arus proses produksi. Terakhir, disusun rencana produksi dan pelaksanaan produksi yang menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan pelanggan.12

Oleh karena itu pendidikan merupakan lembaga pelayan masyarakat bukan sebaliknya, lembaga yang harus dilayani masyarakat. Hubungan pelanggan dan dunia pendidikan terjalin hubungan harmonis yang saling membutuhkan, saling

12Akdon, Strategic Management For Educational Management: Manajemen Strategik untuk Manajemen Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 167.

(34)

memahami, saling melayani dan adanya rasa saling kebersamaan.

Saling membutuhkan dimaknai adanya kesadaran bahwa alam ini saling terkait satu sama lainnya. Lembaga membutuhkan para pelanggannya karena tanpa mereka lembaga pendidikan tidak ada.

Sebaliknya, pelanggan juga membutuhkan lembaga pendidikan, karena menyediakan berbagai jasa yang memberdayakan mereka.

Dunia kerja membutuhkan lembaga pendidikan karena dengan jasa lembaga pendidikan, dunia kerja membutuhkan tenaga profesional yang dihasilkan lewat lembaga pendidikan. Saling memahami berkaitan erat dengan saling membutuhkan dan sangat diperlukan dalam mengelola lembaga pendidikan. Apalagi pengelola lembaga pendidikan sebagai pelayan harus dengan sebaik-baiknya memahami keadaan dan kebutuhan para pelanggannya. Begitu pula kerja saling memahami harus dikembangkan antara pemimpin dan bawahan, guru dan peserta didik, dan unit-unit internal dalam lembaga pendidikan. Saling melayani sebaik-baiknya berarti nilai yang berkaitan dengan pelayanan bermutu dengan sikap dan sifat pelayan yang melayani setulus hati sehingga pelanggan merasa puas. Bukan hanya pelayan yang melayani pelanggan akan tetetapi pelanggan juga melayani pelayan. Karena pelanggan harus memberikan imbalan tertentu untuk kesejahteraan. Dalam pengelolaan lembaga pendidikan, nilai saling melayani harus ditumbuhkembangkan.

Unsur pimpinan harus menjadi panutan, karena dengan keteladanan pasti menumbuhkan pengaruh positif kepada bawahan. Apabila pimpinan menghalangi kenaikan pangkat bawahan tanpa alasan yang objefektif, maka pimpinan tersebut tidak melayani bawahan bersangkutan dengan setulus hati.

Apabila seorang bawahan tidak melaksanakan tugasnya sesuai arahan pimpinan, maka bawahan bersangkutan tidak melayani pimpinannya juga dengan tidak setulus hati. Sedangkan nilai kebersamaan mengandung pengertian rasa memiliki lembaga

(35)

secara bersama-sama. Kualitas akan mudah tercapai apabila rasa kebersamaan berkembang dan menjadi landasan para pengelola untuk bekerja memajukan lembaga secara bersama-sama. Rasa kebersamaan yang dipandang sebagai nilai bukan rasa kebersamaan primordial melainkan rasa kebersamaan menyeluruh yang mendorong berkembangnya situasi legowo dan keadilan bagi semua staf.

Memang agak sulit menerapkan konsep melayani dengan setulus hati. Kesadaran dengan prinsip tersebut di atas sangat lemah dan sikap paternalistik feodalistik cenderung menganggap masyarakat yang membutuhkan lembaga. Sikap ini diperparah dengan sikap birokratis berlebihan serta disertai dengan kekuasaan represif. Anggapan bahwa dunia nyata membutuhkan lembaga pendidikan bukan lembaga pendidikan yang membutuhkan dunia kerja adalah bukti kongkrit kesombongan intelektual yang digagas lembaga pendidikan. Terhadap dunia kerja lembaga pendidikan tidak membutuhkan tetapi kenyataannya sukses tidaknya lulusan lembaga pendidikan akan terbaca dengan seberapa besar lulusan dapat terserap dunia kerja.

Sikap dan sifat yang berat sebelah akan menyebabkan situasi dialogis tidak berkembang dengan baik.

Persoalan penting lainnya yang harus mendapatkan prioritas dalam kaitannya dengan pelayanan lembaga pendidikan adalah persaingan antara lembaga pendidikan dan lembaga pendidikan, antara lembaga pendidikan dengan dunia kerja dan antara dunia kerja dengan dunia kerja yang membutuhkan strategi khusus supaya lembaga pendidikan dapat eksis di tengah persaingan lembaga dan dunia kerja yang ketat.

Oleh karenanya lembaga pendidikan harus mendudukkan diri mempunyai posisi tawar yang tinggi yang dapat memberikan jaminan kesuksesan yang menjanjikan terhadap dunia luar. Jika demikian, maka diperlukan strategi yang jitu. Beberapa persoalan

(36)

penting yang dapat dijadikan landasan dasar pengelolaan, yaitu;

produktif, efisien dan efektif. Untuk dapat mencapai landasan dasar ini dapat dilihat dari strategi internal dan eksternal.

Strategi internal adalah bagaimana menanamkan kepada seluruh pelaku pendidikan atau stakeholders mempunyai jiwa entrepreneurship dalam konsep triangle business culture atau segitiga budaya bisnis, yaitu Commitmentt, consistence dan competence. Secara singkat dapat dijelaskan seperti gambar berikut;

Commitment

Competence Consistence

Dari gambar tersebut bermakna bahwa Commitmentt mempunyai arti setiap person yang mempunyai jabatan struktural di lembaga pendidikan harus mempunyai komitmen untuk menggerakkan roda organisasi sesuai dengan visi dan misi lembaga pendidikan dan harus mempunyai tujuan dan target yang harus dicapai sesuai dengan rancangan kerja. Competence dimaknai penempatan person pada jabatan struktur harus benar- benar melalui seleksi yang ketat sesuai dengan pos yang telah ditentukan. Sedangkan consistence dimaknai seluruh personal yang mempunyai jabatan struktur harus bekerja secara team dan menjalankan roda organisasi dengan penuh dedikasi dan keteguhan sesuai dengan standar prosedur pelaksanaan.

Sedangkan strategi eksternal adalah bagaimana menanamkan kepada para stakeholders untuk menguasai market atau pasar dan mengalahkan kompetitor serta menciptakan proyek-proyek kerjasama yang saling menguntungkan antara lembaga pendidikan dengan dunia luar, yang terkonsep dalam

(37)

triangle business strategy atau strategi segitiga bisnis, yaitu antara customer, corporate dan competitor. Lihat gambar berikut ini;

Customer

Corporate Competitor

Gambar tersebut memberi makna bahwa customer ditempatkan sebagai keluarga besar lembaga sehingga dengan demikian customer dapat selalu memberikan masukan kepada lembaga dalam menjalankan roda organisasi yang produktif, efisien dan efektif. Corporate dimaknai fungsi kelembagaan pendidikan dalam menghasilkan lulusan dapat bersaing secara global, melaksanakan pola kerja dengan instansi negeri maupun swasta agar para alumni dapat bekerja di lembaga-lembaga yang ada. Competitor dimaknai bahwa fungsi lembaga pendidikan dalam memenangi persaingan dalam produk-produk unggulan dengan membentuk pola kerjasama antar lembaga pendidikan yang saling menguntungkan.

(38)
(39)

Bab II

Perubahan Budaya

ergumulan pergaulan global, telah banyak dibicarakan bahwa kemajuan dan perkembangan suatu negara ditentukan oleh keberadaan dan pendayagunaan sumber daya yang berkualitas dan sebaliknya bahwa kemunduran suatu negara dan kekalahan bersaing suatu bisnis sangat ditentukan sumber daya manusia tidak berkualitas dan daya saing rendah. Kualitas sumber daya manusia diantaranya ditentukan lewat lembaga pendidikan yang menghargai produk kualitas dan budaya pengelolaan yang mendukung kualitas.

Secara konseptual, lembaga pendidikan mendesain daya saing yang merupakan hasil puncak dari berbagai keunggulan dan nilai lebih yang dimiliki untuk membuat produk, baik berupa organisasi, produk maupun jasa yang diorganisir dan dicitrakan sebagai suatu kekuatan terbaik, yang kemudian melahirkan satu jati diri. Jati diri ini diharapkan mampu menciptakan kualitas identitas produk yang unggul dan kompetitif.

A. Membangun dan Menjaga Kualitas

erubahan budaya bertujuan membentuk budaya organisasi yang menghargai kualitas dan menjadikan kualitas sebagai orientasi semua komponen organisasional. Jika manajemen ini ditetapkan di lembaga pendidikan, maka pihak pimpinan harus berusaha membangun kesadaran para anggotanya, mulai dari pemimpin sendiri, staf, guru, siswa, dan berbagai unsur terkait, seperti pemimpin yayasan, orang tua, dan para pengguna lulusan

P

P

(40)

pendidikan akan pentingnya mempertahankan dan meningkatkan kualitas pembelajaran, baik kualitas hasil maupun proses pembelajaran. Di sinilah letak pentingnya faktor rekayasa dan faktor motivasional untuk dikembangkan agar secara bertahap dan pasti kultur kualitas itu akan berkembang di dalam organisasi lembaga pendidikan. Di sini pula penting diterapkan bentuk- bentuk hubungan manusia yang efektif dan konstruktif, agar semua anggota organisasi lembaga pendidikan merasakan ada hubungan intim dan harmonis bagi terbentuknya kerjasama yang berdaya guna dan berhasil guna. Perubahan kultur ke arah kultur kualitas ini antara lain dilakukan dengan menempuh cara-cara;

perumusan keyakinan bersama, intervensi nilai-nilai keagamaan, yang dilanjutkan dengan perumusan visi dan misi organisasi lembaga pendidikan. Perubahan budaya memberikan peluang penghargaan bagi setiap pengelola lembaga pendidikan untuk saling mendukung ke arah kesuksesan bersama.13

Walaupun demikian perubahan budaya sangat sulit untuk diwujudkan. Hal ini menyangkut sikap dan perilaku masyarakat sekitar dan pengguna jasa pendidikan. Akan tetetapi, untuk merealisasi konsep ini membutuhkan perubahan sikap dan metode yang tepat. Perubahan budaya tidak sekadar perubahan sikap akan tetetapi juga membutuhkan pengelolaan dan pengarahan lembaga pendidikan. Perubahan ini ditandai dengan pemahaman bahwa pengelola menghasilkan kualitas. Apa indikasi yang menjadi patokan perubahan budaya yang menghasilkan kualitas. Pertama, pengelola membutuhkan lingkungan yang cocok untuk bekerja. Mereka membutuhkan alat-alat keterampilan dan mereka harus bekerja dengan sistem dan prosedur yang simpel dan mendukung ruang kerja pengelola.

13Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam (Bandung; Pustaka Setiaa, 2012), hal. 89.

(41)

Lingkungan yang mengelilingi pengelola berpengaruh besar terhadap kemampuan mereka dalam mengerjakan pekerjaan mereka secara efektif dan tepat. Kedua, untuk melakukan pekerjaan yang baik, pekerja atau staf memerlukan lingkungan yang mendukung dan menghargai kesuksesan dan prestasi yang mereka raih. Mereka memerlukan pemimpin yang menghargai prestasi pekerja dan membimbingnya untuk meraih sukses yang lebih baik. Motivasi untuk melakukan pekerjaan yang baik bersumber dari gaya kepemimpinan dan atmosfer lingkungan yang dapat mempertinggi penghargaan dan memberi kewenangan terhadap individu dalam bekerja.14

Biasanya dalam menanamkan perubahan budaya dalam lembaga pendidikan terkendala dengan berbagai sebab. Sebab- sebab itu justru terkendala dengan rendahnya kualitas pengorganisasian lembaga pendidikan yang disebabkan oleh beberapa sumber yang mencakup desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang tidak kondusif, sistem dan prosedur yang tidak cocok, kreasi jadwal yang tidak jelas, kurangnya sumber daya manusia yang tidak tepat, dan tidak ada pengembangan sumber daya manusia.

Jika kasus kesalahan dan kegagalan dapat diidentifikasi yang dimungkinkan sebagai akibat yang disebabkan sistem yang bermasalah dan kebijakan, sumber daya, maka pengelolaannya harus ditingkatkan dan sebab-sebabnya harus dihilangkan, manajemenya disusun dan ditingkatkan kembali. Solusinya memungkinkan memerlukan perubahan kebijakan atau mengadakan program pelatihan-pelatihan staf model baru.15

Sebab lain yang menghambat perubahan budaya adalah prosedur dan aturan yang tidak diikuti dan kemungkinan juga

14Nasution, Manajemen Mutu Terpadu (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005), hal.

250.

15Nasution, Manajemen Mutu…, hal. 50.

(42)

diakibatkan kegagalan komunikasi atau kesalahpahaman.

Kegagalan lain juga disebabkan oleh anggota individu staf yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Oleh karenanya, untuk menanggulangi persoalan tersebut diperlukan manajemen yang mempunyai otoritas untuk menemukan solusi dalam mengatasi masalah-masalah tersebut.

Manajemen yang diperlukan dalam merubah budaya adalah menyusun perencanaan aksi yang tepat sedikit demi sedikit untuk perbaikan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Menyusun komitmen manajemen (management Commitmentt) yakni suatu komitmen bersama yang dikomunikasikan dalam sebuah statement kebijakan mutu, singkat, jelas dan dapat dicapai.

2. Mendirikan tim peningkatan kualitas (quality improvement team). Tim ini mempunyai tugas mengatur dan mengarahkan program yang diimplementasikan dalam organisasi serta menganalisis kegagalan.

3. Pengukuran kualitas (quality measurement). Pengukuran ini penting dilakukan untuk mengetahui ketidakjelasan konsep dan kenyataan. Data pengukuran didapatkan dari data inspeksi, laporan tes, data statistik dan data yang diperoleh dari pelanggan.

4. Mengukur biaya kualitas (cost quality). Pembiayaan mutu adalah pengukuran keuntungan bagi peningkatan kualitas.

Bagaimana mempertimbangkan program kerja yang bagus akan tetetapi dengan pengeluaran biaya yang hemat. Hal yang perlu diperhatikan adalah mengeliminir kegagalan sekecil mungkin, sebab dengan adanya kegagalan berarti telah mengeluarkan pembiayaan berlipat untuk memperbaikinya. Sumber kegagalan ini dapat teridentifikasikan dari komplain pengguna jasa pendidikan

(43)

yang tidak merasa puas atas pelayanan yang diberikan lembaga kepada pelanggan.

5. Membangun kesadaran kualitas (quality awareness). Langkah ini perlu untuk membangun kesadaran setiap individu dalam organisasi tentang kualitas dan keharusan mengimplementasikan program peningkatan kualitas.

Kesadaran mutu harus dibicarakan bersama antara manajer dan karyawan untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang menghambat kualitas secara spesifik.

6. Aksi koreksi (corrective actions). Konsep ini membutuhkan seorang supervisor yang bekerjasama dengan staf untuk mengeliminir kualitas yang rendah. Metode yang sistematis diperlukan untuk mengatasi problem dengan membentuk tim yang mengatur serangkaian tugas untuk mengkonstruksi agenda aksi. Tugas tim adalah menentukan problem mana yang harus segera ditangani terlebih dahulu. Problem yang muncul dengan prosentase masalah yang besar harus segera ditangani pertama kali, kemudian diikuti dengan problem berikutnya yang prosentase masalah lebih kecil dan seterusnya.

7. Perencanaan tanpa cacat (zero defects planning). Konsep ini memberikan ikatan kontrak antar staf untuk berkomitmen melakukan pekerjaan sesuai dengan kontrak formal untuk mewujudkan zero defect dalam tugas dan kerja mereka.

8. Perlunya pelatihan supervisor (supervisor planning).

Pelatihan ini ditujukan bagi seluruh manajer untuk memahami peranannya dalam proses peningkatan kemampuan memimpin dan mengarahkan staf.

9. Penyelenggaraan setiap hari tanpa cacat (zero defects day).

Konsep ini diselenggarakan secara bersama-sama untuk berlomba-lomba kerja semaksimal mungkin secara efektif.

(44)

Semua staf berkomitmen untuk meningkatkan kinerja sesuai dengan misi untuk kemajuan dan perubahan.

10. Penyusunan tujuan (goal setting). Setelah melakukan komitmen untuk kerja dengan standar zero defect, maka untuk mendukung komitmen supaya terarah diperlukan tujuan yang spesifik, jelas dan terukur.

11. Penghilangan sebab kesalahan (error-cause removal).

Langkah ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan situasi sulit mengimplementasikan program kerja.

12. Penghargaan atau pengakuan (recognition). Konsep ini memberikan penghargaan terhadap prestasi dan kontribusi staf yang telah bekerja dengan maksimal. Penghargaan diberikan selain cost yang didapat, baik berupa sanjungan, hadiah dan sertifikat.

13. Mendirikan konsultan mutu (quality councils). Perlunya menggandeng tenaga profesional mutu untuk menentukan bagaimana problem dapat teratasi dengan tepat dan baik dan menentukan langkah-langkah perbaikan dan inovasi.

14. Melakukan secara berulang-ulang (do it over again).

Melakukan secara berulang-ulang jika program sudah mencapai tujuan maka harus dicoba lagi untuk tujuan kualitas secara berkesinambungan.

Dalam merekayasa ulang sebagai upaya perbaikan kualitas sangat erat hubungannya dengan budaya kualitas. Guna memahami budaya kualitas terlebih dahulu dipahami konsep budaya dan budaya organisasi. Budaya itu sendiri mengandung aspek pokok sebagai berikut; pertama, budaya merupakan konstruksi sosial unsur-unsur budaya, seperti nilai, keyakinan dan pemahaman yang dianut oleh semua anggota kelompok. Kedua, budaya memberikan tuntutan bagi para anggotanya dalam memahami suatu kejadian. Ketiga, budaya berisi kebiasaan atau tradisi. Keempat, dalam suatu budaya, pola nilai-nilai, keyakinan,

Referensi

Dokumen terkait

Sumber data yang diperoleh adalah melalui tempat dan peristiwa yang menjadi sumber data dalam penelitian ini, yaitu tempat guru dan siswa melakukan kegiatan

Hasil dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa peternak yang ada di Desa Karangwangi, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur selatan ini mendukung adanya

Dalam film JAGAD X CODE terdapat tolak belakang antara sisi kehidupan masyarakat pinggiran kota (seputaran Kali Code) yang dikenal secara umum dengan kehidupan yang

Menurut Riyanto dan Indelarko (2009), komponen sistem pada Sistem Informasi Geografis antara lain : Input yaitu mengumpulkan data dan mempersiapkan data spasial

Existensi Adat Pernikahan Masyarakat Mandar di Kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene menurut syara ialah pernikahan menurut hukum islam adalah suatu akad atau

Dari hasil penelitian Sparta,dkk (2012) menyatakan bahwa waktu muncul tunas, jumlah tunas, panjang tunas, dan panjang akar pada stek buah naga dipengaruhi secara nyata

Berdasarkan hasil observasi dan refleksi selama proses pembelajaran dengan materi pembulatan bilangan dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik dan hasil belajar pada

Dapat dikatakan bahwa aspek kognitif pada citra Kota Bandung sudah baik di benak wisatawan, yakni wisatawan menyadari dan mengenal Kota Bandung sebagai destinasi