WISATA HALAL BERBASIS TRIPOT (CULTURAL, NATURAL, AND RELIGIOUS/BELIEF TOURISM) SEBAGAI SARANA KEBERLANGSUNGAN DAN
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI JAWA DAN LOMBOK
Prof. Dr. Giyoto, M.Hum.
Elen Inderasari, M.Pd.
Sri Lestari, M.Pd.
Hidayatul Nurjanah, M.A.
Abstrak
Tata kelola dan strategi pemberdayaan masyarakat berbasis tiga potensi (alam, religi, dan budaya) menjadi hal yang krusial dalam dalam pengembangan wisata halal.
Tujuan penelitian ini ialah memaparkan model tata kelola pengembangan wisata halal berbasis tripot dan trategi pemberdayaan partisipasi masyarakat dalam pengembangan keberlangsungan destinasi wisata. Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif fenomenologis, yang berusaha untuk menjelaskan berbagai fenomena penyelenggaraan pariwisata. Teknik pengumpulan data secara purposive sampling terdiri atas wawancara, FGD, observasi dan angket (kuesioner). Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi teori,sementara teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles and hubermann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tata kelola wisata halal yang ada di Lombok telah mengembangkan model pendekatan tripot dengan potensi religi, alam dan adatnya,sementara di kudus belum memenuhi model tripot, masih bipot pengembangan potensi yang menonjol di Kudus dengan potensi religi dan alam. Selain itu, partisispasi masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata di Jawa dan Lombok mampu memberikan dampak yang besar bagi perkembangan pariwisata dan masyarakat disekitarnya..
Kata kunci: model tata kelola, strategi pemberdayaan masyarakat, wisata halal Abstract
Governance and community empowerment strategy based on three potentials (nature, religion, and culture) become crucial in the development of halal tourism. The purpose of this research is to explain the governance model of halal tourism development based on tripot and the strategy of empowering community participation in the development of the sustainability of tourist destinations. The methods in this study use phenomenological qualitative research, which seeks to explain various phenomena of tourism implementation. Purposive sampling data collection technique consists of interviews, FGD, observation and questionnaires. Data validity examination techniques use triangulation theory, while data analysis techniques use miles and hubermann interactive models. The results showed that the halal tourism governance model in Lombok has developed a tripot approach model with religious, natural and customary potential, while in kudus has not fulfilled the tripot model, still bipot
development of prominent potential in Kudus with religious and natural potential. In addition, the participation of the community in the development of tourist destinations in Java and Lombok is able to have a big impact on the development of tourism and the surrounding community.
Keywords: governance model, community empowerment strategy, halal tourism.
PENDAHULUAN
Data Kemendag pada tahun 2018 populasi muslim di Indonesia mencapai 231.069.932 juta jiwa atau 12,7 persen dari total populasi muslim di dunia. Jumlah populasi muslim yang terus berkembang dan berbagai wilayah yang mendukung menjadi alasan penting dapat dikembangkannya wisara halal dengan menawarkan makanan halal, fasilitas beribadah dan lain sebagainya yang mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan muslim.
Pada tahun 2015, Mataram di Indonesia memenangkan Penghargaan Destinasi Halal Terbaik 2015 dan Penghargaan Bulan Madu Halal Terbaik 2015 yang diadakan di Abu Dhabi. Prestasi ini menjadi penggerak untuk meramaikan potensi wisata halal di berbagai provinsi atau daerah di Indonesia. Reputasi ini telah digambarkan oleh Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) di 2017 yang secara resmi dirilis oleh World Economic Forum (WEF). Setelah 2015 posisi Indonesia dari 70 papan teratas meningkat menjadi 50.
Kota Kudus dan Lombok memiliki banyak material destinasi wisata religi, tradisi dan cara hidup Islam yang kuat. Lombok pernah mendapatkan penghargaan the world halal travel summit & exhibition 2015 yang diselenggarakan di Abu Dhabi, 20 Oktober 2015, dan menyabet dua penghargaan (World's Best Halal Tourism Destination dan World's Best Halal Honeymoon Destinations). Satu tahun setelah itu, dalam ajang penghargaan World Halal Travel Awards 2016 di Abu dhabi, Lombok kembali meraih tiga kategori nominasi yang salah satunya adalah tujuan bulan madu halal terbaik yaitu berada di Sembalun Village Region.
Panorama alam Lombok yang masih murni dan didukung dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal, dari kuliner hingga keindahan alam menjadi alasan kuat untuk dipertahankan oleh pemerintah. Jurnal yang ditulis oleh Taylor pada 2007 menyebutkan bahwa konsep religi, alam dan budaya memiliki keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan, karena ketika berbicara tentang religi maka akan
berkaitan dengan habit seseorang dalam kesehariannya dan bagaimana perlakuannya terhadap alam semesta. Cortese et al (2019) menuliskan jika wisata religi tidak hanya melakukan perjalanan secara religious namun wisatawan umumnya akan mengamati kebiasaan masyarakat di sekitar lokasi wisata dan tertarik dengan adat yang masih menyatu dengan kepercayaan masyarakat setempat.
Oleh sebab itu, industri wisata halal di Indonesia memerlukan tata kelola yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan follow up yang saling bersinergi.
Keberlangsungan atau sustainability destinasi, daya kunjung, dan daya tarik wisata memerlukan model pendekatan tata kelola yang bertema tinggi baik bagi lingkungan alam, keyakinan/agama, adat kebiasaan budaya masyarakat setempat maupun keberterimaan bagi kecondongan ketertarikan pengunjung. Daya dukung ini sekaligus menjadi daya tarik masyarakat yang mencakup: a) daya tarik alamnya, b) adat kebiasaannya, dan c) agamanya; sehingga keberlangsungan destinasi wisata tersebut akan sekaligus menjadi tanggung jawab masyarakat yang dapat dimaknai sebagai strategi pemberdayaan Tripot (tiga potensi: alam, agama, dan adat kebiasaan masyarakat).
Strategi pemberdayaan tripot belum banyak diperhatikan oleh pengelola pariwisata di Indonesia. UNEP (2016) justru menekankan bahwa untuk menjaga keutuhan destinasi wisata dapat menggunakan pendekatan culture dan religi sebagai fondasi utama masyarakat agar menjaga lingkungan dan alam disekitarnya.
Lingkungan merupakan potensi utama dalam mengembangkan destinasi wisata.
Seperti yang diungkapkan oleh Ban Ki-moon, UN Secretary-General dalam Jurnal UNEP “Protecting our environment is an urgent moral imperative and a sacred duty for all people of faith and people of conscience.” Agama dan budaya adalah pondasi utama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Penelitian ini secara khusus mengangkat bahwa konsep tripot (tiga potensi:
alam, agama, dan adat kebiasaan masyarakat) adalah strategi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang ideal dilakukan demi pertumbuhan industri wisata halal secara berkelanjutan. Interseksi antara kepercayaan/agama dengan budaya dan alam memerlukan perencanaan tata kelola, keberlangsungan, dan pemberdayaan masyarakat. Ketika tata kelola pariwisata berbasis tripot, masyarakat secara melekat
terlibat dalam keberlangsungan daya tarik wisata karena kegiatan budaya dan agama masyarakat sekaligus menjadi daya tarik masyarakat pengunjung dan secara tidak langsung pennyelenggaraan pariwisata menjadi aman, murah, dan terpelihara oleh masyarakat luar maupun sekitarnya. Pelibatan masyarakat ini juga dapat berupa jasa dan barang untuk pengunjung destinasi tersebut, seperti pedagang souvenir, warung makan, akomodasi, dan kegiatan-kegiatan wisata lainnya untuk memenuhi qualified tourism.
Journal of Cultural Heritage Tourism yang ditulis oleh Siamak seyfi, Michael Hall, Mostafa Rasoolimanesh dengan judul artikel Exploring Memorable Cultural Tourism Experiences Pada November 2019 menemukan bahwa pengalaman wisatawan dalam melibatkan dirinya dalam kegiatan budaya membuat kujungannya lebih berkesan bertempat pada situs-situs budaya di Paris. Jurnal Gadjah Mada Journal of Tourism Study judul artikel A Review of Cultural Tourism Development Planning oleh Aleksandra Drinic tahun 2017 menekankan bahwa ada hubungan yang erat antara daya dukung penguasa pada unsur produk budaya, seperti atraksi, objek budaya, biro wisata, akomodasi, souvenir, promosi, transportasi dalam pengembangan wisata budaya. Jurnal International Journal of Culture, Tourism and Hospitality Research dengan judul artikel Culture, Tourism and Regeneration Process in Istanbul oleh Ferhan Gezici dan Ebru Kerimoglu pada tahun 2012 mengutkan bahwa kebijakan nasional dan lokal dapat membuat pariwisata budaya itu nyata dan tidak nyata berdasarkan review terhadap proyek yang ada yang memiliki berbagai konflik baik konflik konsumsi, ekonomi, produksi, perkembangan ekonomi dan kualitas hidup. Ini semua sebagai reproduksi yang unik dan berseri. Jurnal Journal of Hospitality and Tourism Management dengan judul artikel Cultural Tourism: A Review of Ecent Research and Trends oleh Greg Richards tahun 2018, menyatakan bahwa wisata budaya berkembang karena wisata konsumsi, motivasi budaya, konservasi cagar budaya, ekonomi wisata budaya, antropologi dan ekonomi kreatif. Jurnal Tourism Analysis Tourism Destination dengan judul artikel Attractiveness: Attracttion, Facilities, and People as Predictor oleh Sebastian Vengesayi pada tahun 2009 menemukan kontribusi utama pada daya tarik suatu destinasi wisata dapat diukur dengan: pertama, daya tarik objek sebagai penentu inti sedangkan fasilitas dan layanan
serta tenaga manusia sebagai pelengkap yang saling mengisi. Jurnal Journal of Environment Management dengan judul artikel Optimization Model of Socio- Ecological-Economic Development of the Aministrative Territory oleh Yuliia Matvieieva, Luliia Myroshnyc Henko, Larysa Valenkevych mengusulkan model tata kelola yang imbang antara sosial budaya, alam, dan ekonomi sehingga pemanfaatan anggaran diusulkan untuk menciptkana keseimbangan antara aktivitas sosial budaya, ekonomi, dan aktivitas lingkungan alam.
Berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli baik dalam lingkup monopot dan bipot menjadi acuan dasar bahwa perlu adanya penelitian sifatnya pembaharuan dari kajian-kajian sebelumnya. Penelitian yang akan dilakukan dalam studi ini adalah mencari model tata kelola yang mengintegrasikan tiga potensi alam, agama, dan sosial budaya (adat istiadat) dengan istilah lain Tripot, sebagai daya tarik wisata dan sekaligus sebagai strategi pemberdayaan partisipasi masyarakat sehingga keberlangsungan destinasi wisata terjamin dan tidak mahal.
METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan penelitian ini merupakan penelitian kualitatif fenomenologis, yang berusaha untuk menjelaskan berbagai fenomena penyelenggaraan pariwisata yang melibatkan masyarakat sekitarnya dalam menyediakan jasa dan barang serta dalam menjaga keberlangsungan daya tarik wisatanya. Metode penelitian ini memakai metode dan strategi manajemen modern yang melihat tata kelola dalam berbagai aspek baik kepentingan pengelolaan internal pengelolaan, kondisi psikologis sosial masyarakat, dan lembaga-lembaga nonformal masyarakat yang terlibat dalam pengeloaannya dari awal perencanaannya sampai pengawasannya dan tindak lanjutnya. Penelitian ini menghasilkan sebuah produk atau hasil berupa model tata kelola pengembangan halal tourism di Pulau Jawa dan Lombok Indonesia berbasis tripot (cultural, natural, and religious/belief tourism) sebagai strategi keberlangsungan destinasi wisata dan pemberdayaan masyarakat.
Objek-objek yang ada di Lombok dan Kudus diseleksi secara purposive sampling menurut beberapa pertimbangan, yakni: usia destinasi wisatanya, jumlah kunjungan wisata yang relatif meningkat, memiliki daya tarik alam, adat kebiasaan, dan agama. Objek tersebut dipakai sebagai modelling dengan tipe karaketristik yang
sama dalam tata kelola tripot. Sample penelitian ini dipilih secara purposif (purposive sampling) berdasarkan karakteristik keterlibatan masyarakat, alam, dan ritual kegiatan keagamaannya. Responden dan partisipan juga dilakukan secara purposive berdasarkan karakter-karakter yang diperlukan dalam penelitian ini, seperti status pengelola objek, komunitas pedagang, komunitas jasa ojek, tokoh masyarakat sekitar, dan sebagainya.
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan: 1) Wawancara dan FGD yang dilakukan pada partisipan/informan primer yakni pengelola objek, komunitas atau lembaga non formal masyarakat lokal setempat, Pemkab, stakeholder, pemuka agama, dan penyedia layanan jasa dan informan sekunder wisatawan domestik dan mancanegara; 2) Observasi, yang dilakukan pada destinasi objek wisata, untuk melihat secara langsung pengelolaan, keterlibatan lembaga- lembaga/komunitas masyarakat lokal, kebijakan pemkab; 3) Angket (Questionnaire), yang ditujukan pada pengelola, pengunjung, komunitas-komunitas masyarakat, dan pedagang berisi tentang kisi-kisi model tatakelola pengembangan halal tourism di pulau Jawa dan Lombok berbasis tripot (cultural, natural, and religious/belief tourism) dan strategi keberlangsungan destinasi wisata dan pemberdayaan masyarakat.
Keabsahan data diuji dengan trianulasi data, yakni dengan membangdingkan dan mengklarifikasi data dari observasi, wawancara, dokumen dan angket sampai kejenuhan informasi pokok tercapai. Kaji-silang wawancara ada yang bersifat individual maupun kelompok (FGD), angket, observasi tersebut melibatkan ahli dan kelompok pengelola dan masyarakat. Hasil keabsahan ini dilakukan untuk mendapatkan data yang sampai pada titik jenuh (saturation) untuk selanjutnya dianalisis.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis data model Miles and Hubermann yaitu model analisis interaktif. Dalam model ini analisis data dapat dilakukan sejak tahap pengumpulan data. Selain itu kesimpulan yang telah ditarik perlu diverifikasi dengan komponen-komponen yang ada dalam model interaktif. Model ini memiliki tiga komponen yang berjalam secara simultan, saling mengontrol dan interaktif, yakni analisis dilakukan bersamaan dan berdasarkan pengumpulan, pengelasan, dan pengambilan kesimpulan.
Pada tahapan ini, data yang diperoleh dicatat dalam uraian yang lebih terperinci menurut fungsi manajemen dengan pendekatan modern: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian yang semuannya melibatkan masyarakat dan unsur-unsur diluar. Data yang diambil berupa deskripsi kondisi objektif tentang (1) kebutuhan model tata kelola halal tourism, yakni makanan dan minuman halal, souvenir yang halal/dibenarkan agama, kegiatan wisata yang halal, dan tontonan yang halal; (2) pelaksanaan strategi pemberdayaan masyarakat, yakni keterlibatan masyarakat dalam memelihara, melindungi, dan beraktivitas pada destinasi wisata tersebut yang juga sebagai daya tarik wisata.
a. Penyajian Data (Data Display)
Dalam penyajiannya, data diorganisasikan berdasarkan informasi yang ditemukan dengan cara masing-masing data dijabarkan dan diperbandingkan antara satu dengan yang lainnya untuk dicari perbedaan dan persamaannya. Informasi yang ada diorganisasikan berdasarkan komponen-kompenen fungsi tatakelola dan parrtisipasi masyarakat. Selain itu juga diorganisasikan dalam potensi wisata monopot, bipot dan tripot.
b. Penarikan Simpulan (Conclusing Drawing)
Setelah dilakukan seleksi, klasifikasi dan analisis terhadap data, kemudian dapat ditarik kesimpulan berupa model tata kelola berbasis tripot dan kegiatan partisipasi masyarakat. Apabila pengelolaan destinasi wisata yang berkembang ini mencakup pengembangan daya tarik alam, agama, dan adat kebiasaan di destinasi tersebut maka dapat ditetapkan model tata kelola tripot merupakan alternatif tatakelola destinasi wisata yang baik untuk pengembangan dan pembukaan destinasi wisata lainnya dan juga dapat digunakan sebagai dasar-dasar edukasi masyarakat pengelola wisata dan masyarakat sekitarnya.
PEMBAHASAN
1. Model Tata Kelola Pengembangan Wisata Halal Berbasis Tripot di Wilayah Di Jawa dan Lombok Tahun 2020
Temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam prakteknya wisata halal yang ada di Kudus belum memenuhi model tripot, masih bipot. Alam belum dikelola pengembangannya dalam menanbah daya Tarik wisata di objek tersebut.
Padahal alam perbukitan dan perkebunan di sekitarnya cukup menarik, dimana pengembangan potensi yang menonjol di Kudus dengan potensi religi dan alam sedangkan Lombok telah mengembangkan model pendekatan tripot dengan potensi religi, alam dan adatnya. Tata kelola pengembangan potensi wisata halal yang belum berimbang di Kudus, yakni belum memilki proporsi pengembangan yang imbang dari tiga potensi utama yaitu agama, budaya dan alam dalam satu frame. Padahal ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain dan saling berhubungan erat dalam keseharian masyarakatnya sehingga ketika seimbang akan terbentuk tatakelola model tripot yang lebih menjamin keberlangsungan objek wisata karena keterlibatan kegiatan budaya, alam, dan keyakinan masyarakat sehari-hari.
Dilihat dari pengelolaan atau manajemen penyelenggaraan dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraannya telah mencakup beberapa komponen penting manajemen modern yakni: 1) rapat koordinasi antar pengelola objek dengan penyedia jasa dalam perencanaannya, 2) pembagian kerja yang jelas, 3) komunikasi yang efektif antar pengelola, 4) sosialisasi pembagian kerja, 5) pelibatan masyarakat dalam mengelola objek wisata, 7) pengelola objek wisata bekerjasama dengan penyedia jasa, 8) Sistem pengawasan antarperaturan, 9) pengawasan : distribusi hasil evaluasi dan kesesuaian hasil evaluasi dan pengawasan dengan visi misi. Seperti contoh, di Muria Kudus pengelolaan wisata di Sunan Muria dengan strategi (1) membentuk forum rembug masyarakat yang membahas pengembangan daya tarik wisata religi dengan memperhatikan potensi kekayaan budaya lokal yang ada, (2) menyiapkan perlengkapan berupa pembuatan induk pengembangan (master plan) RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan) yang dibahas secara lintas sektor, (3) bekerja sama dengan instansi lain yang tujuannya untuk tetap menjaga kelestarian sejarah dan budaya yang ada
Secara teknis, pengelola memberikan pengalaman yang dimiliki pengunjung di situs suci tersebut yang mencakup elemen yang berbeda, seperti spiritualitas dan keimanan, antara lain seperti akomodasi, persediaan makanan, transportasi, dan kegiatan budaya. Konsep penting untuk dipertimbangkan adalah suasana tempat di mana terdapat pemisahan tempat antara fisik dan spiritual
seperti terdapat tempat untuk melakukan ziarah atau wisata religi dan tempat untuk menikmati alam. Rasa tempat ini terkait dengan hubungan emosional dan subyektif yang dimiliki orang dengan tempat tertentu, tetapi juga makna yang dimiliki tempat suci bagi komunitas tertentu. Oleh karena itu, mengelola pengalaman pengunjung di tempat suci adalah sulit karena mencakup unsur berwujud dan tidak berwujud. Untuk menjaga semangat tempat dan mempengaruhi pengalaman pengunjung secara positif, pengelola merefleksikan aspek-aspek seperti keaslian, manajemen pengunjung, dampak pengunjung terhadap situs, kualitas kunjungan, dan akses ke tempat zirah (termasuk ruang dan layanan lain yang dapat ditawarkan).
Tata kelola para pedagang di objek wisata di sini berkerja sama dengan Pemerintah Daerah dan yang mengatur segala aktivitas perdagangan adalah Pemerintah Daerah. Pedagang di menara kudus terbagi menjadi dua, yaitu pedagang yang memiliki kios dan pedagang kaki lima. Bahwa pengelolaan di keberlangsungan Masjid dan Makam Menara Sunan Kudus terbagi menjadi dua, yaitu pihak yayasan dan pihak pemerintah daerah. Pihak Pemerintah Daerah bertugas untuk mengatur dan mengelola lapak yang berada di sekitar Menara Kudus, sedangkan pihak yayasan bertujuan untuk mengatur dan mengelola seluruh kegiatan yang berada di masjid dan makam menara Sunan Kudus sehingga keduanya memiliki tugasnya masing-masing.
Pihak yayasan masjid menara dan makam Sunan Kudus tidak ikut campur dalam pengelolaan perdagangan hanya fokus dalam pelestarian dan peninggalan Sunan Kudus, seperti makam, masjid, menara, ajaran, pusaka, dan peninggalan lainnya yang tujuannya untuk menjaga, merawat, dan melestarikan peninggalan dari Sunan Kudus. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Pak Deni dalam wawancaranya selaku pengelola Sunan Kudus mengatakan bahwa dalam pengelolaan di Sunan Kudus selalu melibatkan adanya masyarakat bahkan tanpa diundang pun masyarakat sudah datang dengan sendirinya. Seperti pada acara buka luwur yang dilaksanakan setiap tanggal 1-10 Muharam masyarakat ikut andil di dalamnya dengan memberikan sedekah seikhlasnya kepada panitia koordinasi,
seperti uang, beras, hewan kurban, kain mori, dan lain sebagainya. Dari sedekah tersebut dikoordinir leh panitia penerima sodakoh. Tim panitia penerima sodakoh pun mengalokasikan ke masing-masing tim, misal kain mori maka akan disalurkan kepada pelaksana kegiatan buka luwur, apabila menyumbang dana berupa uang maka akan disalurkan kepada bendahara yang memegang dana pelaksanaan kegiatan, apabila menyumbang beras maka akan disalurkan kepada pihak panitia yang berkoordinasi pada dapur, dan lain lain sebagainya sehingga penerimaan sumbangan hanya melalui satu pintu dari panitia yang bertanggung jawab dalam penanganan sumbangan. Selain sumbangan berupa uang dan barang masyarakat juga memberikan tenaganya untuk berpartisipasi membantu acara buka luwur, seperti masak, pembolangan daging kerbau dan sapi, pembungkusan nasi jangkrik, pembungkusan bubur asyura, dan lain sebagainya.
Nampak dari temuan data dilapangan bahwa pola tata kelola yang dilakukan di Yayasan Sunan Kudus dan yayasan Sunan Muria di Kudus telah menerapkan model tata kelola partisipasi pasyarakat untuk keberlangsungan kegiatan yang diselenggarakan oleh objek wisata tersebut. Pola pastisipatif nampak dalam setiap wujud kegiatan dalam rangka upaya melestarikan cagar budaya, adat istiadat serta tradisi yang telah mengkar kuat di tengah-tengah masyarakat.
Pengelolaan Kudus dan Lombok telah memenuhi syarat untuk memenuhi kebutuhan wisata halal diantaranya adalah makanan halal, tempat beribadah, tempat membersihkan diri, layanan ramadhan dan tidak adanya aktivitas non-halal yang ada disekitar tempat wisata. Namun, integrasi daya tarik wisata antara alam, budaya, dan keyakinan masih belum dilaksanakan secara seimbang karena kurangnya tata kelola berbasis tripot dalam pengembangannya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengusung konsep tripot dalam wisata halal Kudus adalah dengan mengembangkan potensi alam di sekitarnya untuk dijadikan satu paket wisata dan melakukan promosi, terutama di Sunan Muria karena berada di alam perbukitan yang indah ketika dikembangkan.
Masyarakat Kudus pada umumnya tidak begitu mengikuti ritual adat dan tradisi yang ada di lokasi wisata sehingga kegiatan ritualnya menjadi daya Tarik sendiri
masyarakat sekitar sebagai pengunjung bukan sebagai pelaku ritual. Sebaliknya, masyarakat Lombok justru terlalu memegang teguh adat istiadat sehingga menutup diri dari adanya kebaruan masuknya wisatawan yang mampu mendistorsi keaslian mereka. Umumnya sebuah tempat memiliki dua karakteristik mendasar yaitu dimensi temporal dan konstruksi sosial. Mengenai ciri pertama, tempat keramat memiliki makna dan juga materialitas (lingkungan alam tertentu, konstruksi keagamaan, dll). Semua agama mengkonstruksi ruang dan waktu melalui komitmen ontologis spesifik mereka, dan dari sini, dapat disimpulkan bahwa, untuk memahami lanskap alam, representasi, dan praktik keagamaan, perlu dikontekstualisasikan dalam kerangka temporal dan spasial. Simbol di tempat-tempat keramat diwujudkan melalui ruang (situs) dan waktu (ritual).
Agama tidak hanya mencakup kepercayaan, adat istiadat, tradisi, dan ritual yang milik masyarakat tertentu, tetapi juga pengalaman kolektif dan pribadi orang- orang dalam pencarian untuk realisasi atau makna. Dalam ruang dan waktu suci, orang percaya hidup dalam suasana khusus, di mana ada perasaan berada dengan kekuatan superior. Pengalaman kolektif inilah yang perlu dibagikan kepada setiap wisatawan yang datang dengan seharusnya menyajikan pengalaman religious, mengenal budaya setempat dan menikmati kondisi alam disekitar tempat wisata.
Kudus dan Lombok memiliki potensi yang kuat dengan kondisi alam dan masyarakatnya yang mendukung. Hanya perlu dikelola dengan baik agar mampu berkembang.
Karakteristik kedua mengacu pada ruang yang dibangun secara sosial dan untuk memahami konstruksi dan makna situs, sangat penting untuk mengenali bahwa praktik keagamaan, baik dari segi organisasi institusional dan pengalaman pribadi, tidak hanya fundamental bagi kehidupan spiritual masyarakat, tetapi juga untuk konstitusinya. Pengalaman yang diperoleh dari ritual tidak hanya bersifat individual, tetapi juga bisa kolektif, dan dipengaruhi oleh lokasi di mana mereka terjadi.
Model tata kelola dalam pengembangan model tripot yang dilakukan di sini adalah dengan menggunakan wisata agama sebagai langkah awal untuk menggandeng budaya dan alam dalam satu frame, dalam hal ini peran pemerintah,
LSM, komunitas-komunitas masyarakat, dan Masyarakat umum sangat penting untuk membantu mengembangkan wisata halal dengan konsep tripot.
Sebagaimana pandangan UNEP (2016) agama dan budaya, melalui lingkungan dapat berkontribusi secara signifikan untuk mengakhiri kemiskinan dan tidak meninggalkan siapa pun, serta tantangan terkait seperti hak-hak perempuan, pemuda dan minoritas, dan akses ke pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, sanitasi) dan kebersihan, energi, air, dan habitat). Konvergensi seperti itu juga dapat membantu semua orang mencapai penghidupan dan gaya hidup yang berkelanjutan, mempromosikan rasa hormat terhadap pengetahuan tradisional dan keragaman budaya, dan latihan lingkungan kepengurusan dan tugas kehati-hatian.
Dengan kata lain, jika wisata halal dengan menitikberatkan pada agama, budaya dan alam dapat direalisasikan dengan baik maka akan memberikan dampak yang baik terhadap kondisi masyarakat sekitar daerah wisata. Misalnya dengan memberdayakan kondisi ekonomi masyarakat sekitar.
Organisasi Tata Kelola Destinasi Pariwisata (OTKDP) di Sembalun yang kemudian disebut sebagai Destination Management Organization (DMO) adalah suatu bentuk kelompok dengan pembagian secara adil dan fungsi, peran, hak dan tanggung jawab pengelolaan sebuah wilayah (sumber daya alam) dan berfungsi sebagai focal point dan bertujuan untuk mengelola pariwisata secara efektif, menjalin kerjasama lebih erat diantara para pihak berkepentingan dengan prinsip saling menghormati, kesetaraan dan menguntungkan, mewujudkan keterpaduan dalam perencanaan hingga evaluasi pengembangan pariwisata. DMO adalah lembaga independen yang mendesain perencanaan strategis pengembangan suatu destinasi wisata untuk mendukung evolusi destinasi yang sehat dan berkelanjutan;
sesuai dengan keinginan wisatawan, menguntungkan bagi industri, dan tetap menjaga kualitas hidup penduduk lokal di destinasi. DMO fokus bekerja pada sisi penawaran untuk mempersiapkan destinasi agar dapat menarik kunjungan sepanjang tahun, meningkatkan lama tinggal dan meningkatkan belanja wisatawan yang pada akhirnya akan menarik wisatawan untuk datang kembali.
2. Strategi Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan keberlangsungan destinasi wisata di Jawa dan Lombok tahun 2020
Di beberapa negara berkembang proyek pariwisata berbasis masyarakat sebagian besar telah dimulai oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau pemerintah. Namun, proyek pariwisata memiliki risiko kegagalan yang tinggi jika masyarakat tidak mengontrol atau mendukung pasca pelaksanaan, warga harus berpartisipasi dalam proses pengembangan pariwisata secara berkelanjutan. Selain itu, untuk keterlibatan warga masyarakat dalam pengembangan pariwisata secara berkelanjutan, konsep pemberdayaan warga harus diperhatikan. Karena masyarakat memainkan peran sentral dalam perencanaan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab secara sosial. Meskipun penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa inisiatif pengembangan pariwisata secara berkelanjutan tidak akan berhasil tanpa kerjasama, dukungan, niat baik dan partisipasi warga lokal, peneliti masih menggali dan mengkategorikan sikap warga. Oleh karena itu, perlu untuk secara jelas menetapkan hubungan sebab akibat antara pemberdayaan dan partisipasi warga yang mengarah pada keberhasilan pengembangan pariwisata secara berkelanjutan.
Strategi partisipasi masyarakat lokal dalam pariwisata di Lombok dan Kudus dapat dilihat dari dua wilayah pengelolaan yaitu dilihat dari proses pengelolaan dan aspek manfaat pariwisata. Partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan sangat penting, walaupun, partisipasi mereka masih terbatas untuk menyuarakan pemikiran mereka tentang hal-hal yang berkaitan untuk pengembangan pariwisata di daerahnya. Prosedur ini disebut sebagai komunitas pariwisata. Sebuah istilah digunakan untuk mendefinisikan pendekatan pariwisata di mana kebutuhan dan pandangan penduduk digabungkan dalam perencanaan dan proses pembangunan disebut sebagai komunitas pariwisata.
Kebermanfaatan dari kegiatan pariwisata menyebar secara seimbang kepada pelaku pariwisata dan masyarakat yang terdiri dari para penjual barang-barang souvenir, makanan dan minuman, jasa kebersihan, komunitas ojek, komunitas petani, pegiat wisata, pemerintah daerah, dan lainnya. Dua strategi inilah yang
diambil oleh pengelola yang di Lombok dan Kudus dalam melibatkan masyarakat untuk menjaga keberlangsungan pariwisata di daerah tersebut.
Partisispasi masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata di Jawa dan Lombok mampu memberikan dampak yang besar bagi perkembangan pariwisata dan masyarakat disekitarnya. Pariwisata yang berbasis masyarakat ini telah sukses membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dengan mengurangi kemiskinan dan melestarikan sumber daya alam dan budaya di masyarakat. Di masyarakat yang kurang berkembang, sebagaimana di sembalun Lombok, proyek pariwisata berbasis masyarakat sebagian besar telah dimulai oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau pemerintah. Pegiat pariwisata telah lama melakukan pengembangan dengan melibatkan lembaga terkait, komunnitas masyarakat, tokoh-tokoh, dan masyarakat umum setempat karena mereka menyadari proyek pariwisata memiliki risiko kegagalan yang tinggi jika masyarakat tidak mengontrol atau mendukung pasca pelaksanaan. Prartisipasi masyarakat dalam pariwisata di Lombok berupa lembaga masyarakat pokdarwis (kelompok sadar wisata) yang kemudian juga dipenuhi dengan kehadiran LSM serta kehadiran kelompok-kelompok pemuda dalam pengembangannya. Pada sektor wisata halal di Lombok, keterlibatan masyarakat masih belum begitu tinggi sebagaimana di Sunan Muria Kudus, artinya masyarakat belum terorganisis dengan bagus bersatu dengan kelompok pengelola wisata, komunitas, dan lainnya.
Padahal meningkatkan peran serta masyarakat dalam pariwisata merupakan salah satu masalah penting yang harus dihadapi oleh pemerintah. Masyarakat lokal belum terdorong kuat untuk berpartisipasi dalam perencanaan, mengembangkan pariwisata, dan mengendalikan dukungan pemerintah walaupun pada aspek-aspek tertentu terdapat pelibatan. Perhatian khusus harus diberikan untuk memasukkan:
masyarakat adat, perempuan, dan kelompok minoritas untuk memastikan pemerataan manfaat pariwisata.
Ada beberapa kendala untuk partisipasi publik dalam kegiatan pariwisata di Jawa dan Lombok, yang pada umumnya juga dialami oleh kegiatan pariwisata di tempat lainnya. Keterlibatan masyarakat dapat dilihat sebagai kursus di mana penduduk suatu komunitas diberi pilihan dan diperbolehkan untuk menyuarakan
pendapat mereka untuk berpartisipasi dalam masalah mempengaruhi kehidupan mereka. Apakah komunitas berpartisipasi atau tidak ditentukan oleh banyak faktor. Kendalanya adalah sebagai berikut: tidak adanya partisipasi komunitas dalam kebijakan pembangunan; kurangnya pengetahuan dan kesadaran;
disproporsi kekuatan antara pemerintah dan masyarakat lokal; tersegmentasi dan pengaturan kelembagaan yang kompleks; dan kekurangan keuangan.
Partisipasi masyarakat di wilayah Kudus disini memang terlihat jelas pada mata pencaharian penduduk Desa Colo yang merupakan lokasi pariwisata Muria didominasi oleh buruh pabrik sebesar 58% selain itu ada juga yang memiliki profesi sebagai petani, atau buruh tani jika di prosentasikan sangat kecil yaitu 4%.
Penduduk Desa Colo bermata pencaharian bercorak pada seckr industri atau ekonomi, dan sudah tidak mengarah pada mata pencaharian sektor agraris. Akan tetapi, menurut informasi yang diperoleh dari Wijanarko (selaku Kepala Desa) mayoritas penduduk di Desa Colo adalah Tukang Ojek Muria, dan pedagang disekitar obyek wisata muria. Mereka hidup dengan mengandalkan mata pencaharian melalui pemberdayaan objek wisata Muria. Ojek Muria memiliki sebuah organisasi yang bernama Asosiasi Angkutan Sepeda Motor Muria (AASMM) yang beranggotakan 440 orang.AASMM dalam system kerjanya ada dua sift yaitu sift siang jam 5 pagi sampai jam 5 sore, dan sift malam jam 5 sore sampai jam 5 pagi. Tujuan di bentuknya organisasi ini ialah memfasilitasi masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, memberi pelayanan kepada wisatawan.
Adapun pedagang terbagi dua ada yang milik pribadi dan ada juga yang sistimnya sewa dan mengikuti suatu organisasi yang ada. Diantara organisasi pedagang di tempat wisata Muria antara lain Sinom dimana lokasinya berada dikomplek Masjid dan Makam Sunan Muria paling atas sebelah timur masjid.
Organisasi Sinom ini kebanyakan berjualan cinderamata, seperti tasbih, kalung, gelang, cincin, dan ada juga yang berjualan peci, ridak, tas, dan sebagainya. Untuk pedagang yang berjualan bunga yang lokasinya berada disebelah utara makam memiliki organisasi bernama Sekar. Adapun bagian pakaian yang lokasinya
berada ditimur masjid bagian bawah arah ke terminal bus jalur pejalan kaki memiliki organisasi bernama Gagang. sedangkan yang berada didekat gapura awal pendakian ada organisasi yang bernama Gercap. Organisasi ini kebanyakan berjualan oleh-oleh berbentuk makanan seperti ganyong/jangklong rebus, buah dan sirup parijotho, delima, pisang, dan talas. Disamping itu, untuk wilayah parkir bus pedagangnya terbagi menjadi dua organisasi, untuk yang asongan memiliki nama Kinanti. Pedagang asongan biasanya menjual tasbih, foto walisongo, minuman, dsb. sedangkan untuk kiosnya bernama Manunggal Karyo. Kios yang berada diterminal ini kebanyakan berjualan makanan akan tetapi ada juga yang berjualan souvenir seperti peci, dan tas. Organisasi pedagang yang berada di area parkir bus ini dibawah naungan desa dan dinas pariwisata, berbeda halnya dengan paguyuban pedagang yang berada diarea tangga sampai kompleks M2SM yang berada dinaungan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria.
Begitupula yang terjadi di Masyarakat sekitar Sunan Kudus, dalam acara- acara masyarakat berbondong-bondong membantu Yayasan objek wisata untuk upaya memajukan tempat wisata tersebut dengan berbagai bentuk kegiatan budaya tradisi serta hal-hal terkait pelesarian. Namun dalam pembangunan ataupun pengembangan infrastruktur di wilayah wisata halal, hanya kurang dilibatkan dalam proses pembuatan keputusan dan hanya dapat menyampaikan ide-ide dasar saja. Ada dua argumen mengapa keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata seringkali sulit terjadi. Yang pertama adalah komunitas itu heterogen. Sebuah masyarakat terdiri dari berbagai jenis orang, sering dengan posisi yang berbeda dan aspirasi yang berbeda. Situasi ini yang mengarah pada ketidaksetaraan kesempatan bagi anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata. Status yang lebih tinggi anggota masyarakat lebih diharapkan untuk berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata dan tidak akan selalu bertindak demi kepentingan anggota masyarakat lainnya. Argumen kedua adalah sering kekurangan informasi, sumber daya, dan kekuatan. Kesulitan ini membuatnya menjadi istimewa menantang untuk menjangkau calon pengunjung atau pasar. Dengan demikian, masyarakat bergantung pada pemangku kepentingan lain dan kemudian rentan. Kondisi ini terjadi pada masyarakat di
Kota Kudus, yang partisipasinya melengkapi aspek-aspek yang belum ada, jika dibandingkan dengan pengurus yayasan atau pengelola wisata halal di Sunan Muria.
PENUTUP
Pengeloaan pengembangan pariwisata Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus secara dominan masih berbasis bipot (agama dan budaya atau adat istiadat, belum menggali potensi alam perbukitannya yang indah) khususnya di Sunan Muria. Penjual jasa paket wisata atau pengunjung menyatukan keindahan alam atau destinasi daya tarik alam di luar objek tersebut, seperti air terjun, terrace, perbukitan di sekitarnya atau di perjalanan menuju ke objek tersebut. Sedangkan di Sembalun dan Bayan di Lombok telah mengembangkan model tripot, yakni integrasi tiga daya Tarik alam, agama, dan keyakinan masyarakat dalam satu titik destinasi wisata. Tata kelola objek di Lombok dan Kudus telah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen modern dimana mereka melakukan proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasannya dengan melibat semua aspek yang mempengaruhi baik aspek potensi internal, aspek masyarakat yang berupa lembaga-lembaga nonformal, terbuka terhadap berbagai masukan, dan tuntutan layanan pariwisata.
Partisispasi masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata di Jawa dan Lombok mampu memberikan dampak yang besar bagi perkembangan pariwisata dan masyarakat disekitarnya. Pariwisata yang berbasis masyarakat ini telah sukses membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dengan mengurangi kemiskinan dan melestarikan sumber daya alam dan budaya di masyarakat.
Strategi parisipasi ini berawal dari perencanaan sampai pada pengawasannya dalam kapsitas fungsinya masing-masing. Pengelola melibatkan dalam menyampaikan pendapat dan terlibat langsung dalam aktivitas kegiatan wisata.
Strategi pelibatan ini tergantung pada keahlian masyarakat dan komunitasnya:
seperti komunitas pedagang ssovenir, pedagang lontong, pedagang makanan dan minuman, komunitas ojek, petani penghasil tanaman khas dan local. Mereka membuat aturan-aturan tersendiri yang disesuaikan dengan peraturan yang ada di destinasi wisata, dan dengan layanan yang bertanggung jawab dalam melayani
para pengunjungnya. Dari table diketahui bahwa tingkat partisipasi masyarakat sangat tinggi, sebagaimana dalam table berikut yang menyatakan bahwa pengelolaan destinasi pariwisata dikelola bersama masyarakat, pemerintah, LSM, komunitas masyarakat, dan pegiat pariwisata. Pada sector wisata halal di Lombok, keterlibatan masyarakat masih belum begitu tinggi sebagaimana di Sunan Muria Kudus, artinya masyarakat belum terorganisis dengan bagus bersatu dengan kelompok pengelola wisata, komunitas, dan lainnya. Padahal meningkatkan peran serta masyarakat dalam pariwisata merupakan salah satu masalah penting yang harus dihadapi oleh pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, A., Narbuko, C. (2005). Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Almanshur Fauzan, Ghony Djunaidi (2012). Metodologi Penelitian kualitatif. Yogyakarta: Ar‐Ruzz Media.
Araujo, E. B. (2016). Pengembangan Kuliner Lokal Sebagai Daya Tarik Wisata Dili Timor Leste. Jurnal Jumpa. 3(1):15-27.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Creswell, J. W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: PT. Pustaka Pelajar.
Deng, Jinyang, Brian King, dan Thomas Bauer.2002. “Evaluating Natural Attractions for Tourism”. Annal of Tourism Research.
Drinic, Aleksandra. 2017. “A Review of Cultural Tourism Development Planning”. Gadjah Mada Journal of Tourism Study
Edhy, Sutanta. (2004). Sistim Basis Data. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Firdiyansah, M. S. (2015). Manajemen Pengelolaan Wahana Rekreasi Olahraga di Wisata Water Blaster Semarang Tahun 2013. Journal of physical education, sport, health and recreation. 4(2):1582-1589.
Frihandana, D., Surya A., Vivi M. N. (2014). Pembangunan Aplikasi Wisata Kuliner Sumbar Berbasis Mobile Geographic Information System. Prosiding
Sseminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen. Universitas Gunadarma. 354-360.
Gezici, Ferhan dan Ebru Kerimoglu. 2012. “Culture, Tourism and Regeneration Process in Istanbul”. International Journal of Culture, Tourism and Hospitality Research.
Hamzah, F., Erlangga B., Hary H. (2017). Strategi Pengembangan Kampung Batu Malakasari Sebagai Daya Tarik Wisata Minat Khusus. Jurnal Media Wisata.
15(2):588-600.
Hermawan, Hary. (2017). Pengembangan Destinasi Wisata pada Tingkat Tapak Lahan dengan Pendekatan Analisis SWOT. Jurnal Pariwisata. 4(2):64-74.
Kyriaki Glyptou, John A. Paravantis, Andreas Papatheodorou, Ioannis Spilanis.
Tourism Sustainability Methodologies: A Critical Assessment.
Moleong, Lexy J. (2007) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Mujib, Abdul. (2016). Analisis Terhadap Konsep Syariah pada Industri Perhotelan di Indonesia. Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum. 50(2). 425-447.
Murgi, K. W. (2005). Pariwisata dan kebudayaan. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja.
Prakoso, A. A. (2018). Arahan Pengembangan Kawasan Wisata Sungai Musi Kota Palembang. Jurnal Arsitektur dan Perencanaan. 1(1):1-13.
Renato Casagrandi, Sergio Rinaldi (2002): A Theoretical Approach to Tourism Sustainability. Interim Reports of International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA): Austria.
Richards, Greg. 2018. “Cultural Tourism: A Review of Ecent Research and Trends”. Journal of Hospitality and Tourism Management.
Rufiqo S. N., Tatang M., Ris H. P. (2011). Kajian Potensi dan Strategi Pengembangan Ekowisata di Cagar Alam Pulau Sempu Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Jurnal Gamma. 6(2):152-161.
Seyfi, Siamak, Michael Hall, dan Mostafa Rasoolimanesh. 2019. “Exploring Memorable Cultural Tourism Experiences”. Journal of Cultural Heritage Tourism.
Suprihardjo, R. D., Zakaria, F. (2014). Konsep Pengembangan Kawasan Desa Wisata di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. Jurnal Teknik Pomist. 3 (2):245-249.
Susanto, A. B., Kotler, P. 2000. Manajemen Pemasaran di Indonesia. Jakarta:
Salemba.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method). Bandung:
Alfabeta.
Törn, Anne, (2007): Sustainability of nature-based tourism. OULU UNIVERSITY PRESS: Finland.
Vengesayi, Sebastian. 2009. “Tourism Destination Attractiveness: Attracttion, Facilities, and People as Predictor”. Tourism Analysis