KEMAMPUAN SISWA MENGGUNAKAN PREFIKS {ME-} DAN {BER-} DALAM KARANGAN NARASI DI KELAS V SEKOLAH DASAR.

30 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KEMAMPUAN SISWA MENGGUNAKAN PREFIKS {ME-} DAN {BER-} DALAM KARANGAN NARASI DI KELAS V SEKOLAH DASAR

SKRIPSI

diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh

SITI MARYATI HOBARIAH NIM 1004134

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

KAMPUS TASIKMALAYA 2014

(2)

Kemampuan Siswa

Menggunakan Prefiks {

Me-

} dan {

Ber-

}

dalam Karangan Narasi

di kelas V Sekolah Dasar

Oleh

Siti Maryati Hobariah

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis

© Siti Maryati Hobariah 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

Juni 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)
(4)

KEMAMPUAN SISWA MENGGUNAKAN PREFIKS {ME-} DAN {BER-} DALAM KARANGAN NARASI DI KELAS V SEKOLAH DASAR

SITI MARYATI HOBARIAH ABSTRAK

Keterampilan menulis memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi terutama dalam tata cara menulis yang baik, pengetahuan mendalam tentang apa yang ditulis, juga menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah tata bahasa dan ejaan. Kemampuan menggunakan prefiks erat kaitannya dengan kemampuan menggunakan pilihan kata sesuai kaidah tata bahasa.Kurikulum menuntut siswa kelas V SD untuk mampu menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan (Departemen Pendidikan Nasional, 2007).Selain itu, penelitian ini dilatarbelakangi oleh terdapatnya kesalahan penggunaan prefiks {me-} dan {ber-} dalam karangan narasi siswa kelas V SDN 3 Nagarawangi.Bentuk kesalahan tersebut adalah tidak menggunakan prefiks; tidak perlu menggunakan prefiks; tidak tepat menggunakan prefiks; dan tidak sesuai kaidah.Ditemukannya ragam kesalahan tersebut menunjukkan perlunya dilakukan penelitian terhadap kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} dalam karangan narasi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 29 orang, dengan sumber informasi guru wali kelas V. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} yang melekat pada bentuk dasar tunggal dan mendeskripsikan penyebab siswa kelas V mengalami kesulitan dalam menggunakan prefiks {me-} dan {ber-}. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Metode ini dipilih dengan pertimbangan bahwa peneliti ingin memperoleh gambaran rinci tentang kemampuan penggunaan prefiks {me-} dan {ber-} pada karangan narasi siswa kelas V. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik wawancara dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan penggunaan prefiks {me-} lebih baik dibandingkan dengan penggunaan prefiks {ber-}. Terbukti dengan hasil persentase ketepatan penggunaan prefiks {me-} (89.61%) lebih besar daripada persentase ketepatan penggunaan prefiks {ber-} (75%) dan kesalahan penggunaan prefiks {me-} (10.39%) lebih kecil daripada persentase kesalahan penggunaan prefiks {ber-} (25%). Faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan penggunaan {me-} dan {ber-} pada siswa yaitu: kelemahan pada faktor inteligensi (lupa); faktor keluarga (kebiasaan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar); faktor sekolah (waktu belajar yang minim); dan faktor masyarakat (mass media dan teman sebaya), yakni kebiasaan berkomunikasi dengan bahasa singkat. Peneliti menemukan adanya penggunaan prefiks {me-} dan {ber-} pada bentuk dasar tidak tunggal seperti bentuk dasar yang mengalami reduplikasi, berbentuk derivasi, dan yang tidak sesuai dengan kaidah morfofonemik sehingga disarankan untuk peneliti selanjutnya dapat menindaklanjuti temuan hasil penelitian ini.

(5)

THE STUDENTS’ ABILITY OF PREFIX {ME-} AND {BER-} USE IN NARRATIVE TEXT

OF 5TH GRADE ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS SITI MARYATI HOBARIAH

Abstract

The ability of prefix {me-} and { ber} use related to word choice ability. The incorrect use of prefix {me-} and { ber-} was a languge mistake. In KTSP, 5th grade students were asserted to able to write text based on their experience choosing correct word and spelling. Nevertheless, the fact showed that narrative text that was wrote by 5th grade SDN Nagarawangi 3 studentsstill was found the mistakes of prefix use. The mistakes showed that the research had to be conducted. The research focused on students’ ability of prefix { me-} and { be-} use in narrative text of 5th grade SDN Nagarawangi 3 students. The method that was used in this research was descriptive method with qualitative approach. The method aimed to get detail explaination about prefix {me-} and { ber-} use in narrative text written by the students. The result showed that ability of prefix { me-} use was better than ability of prefix { ber-} use. The precentage of accuracy of prefix { me-} use were 89.61%. It was more than the precentage of accuracy of prefix { ber-} use, 75%. Likewise, the mistakes of prefix { me-} use, 10.39% was less than the mistakes of prefix { ber-} use, 25%. The mistakes were the students did not write the prefix, did not need to use the prefix, did not use prefix correctly, and did not use prefix properly based on standard. The factors that caused students felt difficult in using prefix { me-} and { ber-} were the weakness of intellegence factors, family factors that were influenced by habitual in first language use; school environment factors, lack of study time; and society factors (mass media and the same age friends), habitual in communicating with short language.

(6)

DAFTAR ISI

Halam an

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Perumusan Masalah Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Struktur Organisasi ... 7

BAB II KAJIAN PUTAKA ... 9

A. Pembelajaran Menulis Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar ... 9

B. Karangan Narasi ... 14

C. Kalimat ... 15

D. Prefiksasi... 16

1. Pengertian Prefiks ... 16

2. Makna Penggunaan Prefiks {Me-} dan {Ber-} ... 18

3. Faktor yang Mempengaruhi Kesalahan Penggunaan Prefiks ... 27

E. Penelitian Sebelumnya yang Relevan ... 30

BAB III METODE PENELITIAN ... 32

A. Lokasi dan Subjek Penelitian... 32

B. Desain Penelitian ... 32

(7)

D. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ... 35

Halaman E. Teknik Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Hasil Penelitian ... 40

1. Data Penggunaan Prefiks {Me-} dan {Ber-} pada Karangan Narasi Siswa Kelas V SDN 3 Nagarawangi ... 40

2. Data Hasil Wawancara ... 65

3. Tabel Analisis Data... 86

B. Analisis dan Pembahasan Data Hasil Penelitian ... 201

1. Keterkaitan kemampuan Penggunaan Prefiks {Me-} dan {Ber-} dengan Hasil Wawancara Siswa dan Guru ... 201

2. Kemampuan Siswa Menggunakan Prefiks {Me-} dalam Karangan Narasi di Kelas V SDN 3 Nagarawangi ... 202

3. Kemampuan Siswa Menggunakan Prefiks {Ber-} dalam Karangan Narasi di Kelas V SDN 3 Nagarawangi ... 208

4. Faktor Penyebab Siswa Kelas V SDN 3 Nagarawangi Mengalami Kesulitan dalam Menggunakan Prefiks {Me-} dan {Ber-} ... 215

5. Temuan Hasil Penelitian ... 220

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 221

A. Simpulan ... 221

B. Saran ... 222

DAFTAR PUSTAKA ... 224

LAMPIRAN ... 227

(8)
(9)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Penelitian

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang ditetapkan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Dengan demikian, suatu keharusan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menguasai bahasa Indonesia baik tua maupun muda. Maka dari itu, bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran yang diajarkan di jenjang Sekolah Dasar (SD). Tujuannya agar dapat membekali siswa untuk memahami pengetahuan bahasa dan keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa tersebut terdiri atas empat aspek, yakni menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Keterampilan membaca dan menulis merupakan keterampilan dasar dalam berbahasa yang dipelajari siswa sejak awal masuk SD. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada Bab V Pasal 25 ayat (3) tentang Standar Kompetensi Lulusan (Anggota IKAPI, 2009, hlm. 76) menekankan bahwa “Kompetensi lulusan untuk mata pelajaran bahasa menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai dengan jenjang pendidikan.” Apabila keterampilan dasar membaca dan

menulis sudah dikuasai, maka akan mudah dalam mempelajari keterampilan bahasa lainnya.

Salah satu keterampilan berbahasa yang dianggap mempunyai tingkat kesulitan tinggi untuk dikuasai adalah keterampilan menulis. Dianggap sulit karena memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi terutama dalam tata cara menulis yang baik, pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai apa yang ditulis, juga harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah tata bahasa dan ejaan yang benar.

Kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} erat kaitannya dengan kemampuan siswa dalam menggunakan pilihan kata. Jika siswa tidak mampu menggunakan pilihan kata yang tepat ketika menuangkan gagasan pikirannya dalam sebuah tulisan, maka akan mempengaruhi tingkat keterbacaan tulisan tersebut. Tinggi rendahnya tingkat keterbacaan suatu tulisan berhubungan 1

(10)

2

dengan pemahaman pembaca terhadap tulisan tersebut. Maka dari itu, untuk menjadi seorang penulis yang baik harus memiliki kemampuan dalam memilih dan menggunakan kata yang tepat. Sesuai dengan pendapat Resmini, Churiyah & Sundori (2006, hlm. 205) dalam pencapaian kompetensi level tiga pada keterampilan menulis di kelas V semester I siswa harus mampu “Menulis karangan berdasarkan pengalaman melalui pengembangan kerangka karangan yang sudah disusun dan dengan memperhatikan pilihan kata dan ejaan yang benar.”

Keharusan siswa kelas V memiliki kemampuan menggunakan pilihan kata yang tepat dalam keterampilan menulis, juga terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan Kompetensi Dasar (KD) di kelas V semester I bahwa siswa harus mampu “4.1 Menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan.” (Departemen Pendidikan Nasional, 2007, hlm. 8). Karangan yang didasarkan pada pengalaman dapat berbentuk karangan narasi sesuai dengan pendapat Keraf (2010, hlm. 136) bahwa “… narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.” Pengertian pengalaman itu sendiri berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI) adalah “… yang pernah dialami (dirasai, dijalani, ditanggung, dan sebagainya) …” (Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 34-35). Peristiwa

yang telah terjadi berarti peristiwa yang telah dialami dan disebut sebagai pengalaman. Jadi, dapat disimpulkan bahwa karangan berdasarkan pengalaman dapat ditulis dalam bentuk karangan yang bersifat narasi. Sesuai fungsi sosial dari tulisan bergenre naratif menurut Labov 1997 (dalam Zainurrahman, 2011, hlm. 37) yang menyatakan bahwa ‘Fungsi sosial dari tulisan naratif adalah digunakan oleh penulis untuk melaporkan kejadian di masa lampau.’

(11)

3

pada kalimat adalah memiliki peran semantis. Jadi, makna setiap kata yang dihubungkan pada sebuah kalimat akan menjadi makna utuh kalimat tersebut. Chomsky (dalam Zainurrahman 2011, hlm. 111) berpendapat bahwa ‘Dalam menyusun kalimat, kita harus mempertimbangkan apakah kalimat yang kita buat memiliki keselarasan dengan makna yang ada dalam pikiran kita yang ingin kita sampaikan.’ Sehingga apa yang dituangkan dalam tulisan harus sesuai maknanya dengan apa yang dipikirkan penulis.

Membuat kalimat yang baik agar memiliki keselarasan makna dengan apa yang ingin disampaikan penulis, harus menggunakan pilihan kata yang tepat supaya tidak terjadi kesalahan persepsi pada pembaca. Salah satunya, pemilihan kata dalam menggunakan prefiks {me-} dan {ber-}. Pemilihan kata dalam menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} bukanlah pekerjaan yang mudah, karena erat kaitannya dengan kesalahan berbahasa. Seperti halnya pada penelitian sebelumnya, oleh Handayani (2013, hlm. 9) menyimpulkan bahwa “Kesalahanpenggunaanafiksdalamkarangannarasi, yaitutidak menggunakanafiks, tidakperlumenggunakanafiks,tidaktepatmenggunakanafiks,dantidaksesuaikaidah.” Oleh karena itu, harus berhati-hati dalam menggunakan pilihan kata khususnya dalam penggunaan kata berprefiks {me-}dan {ber-}, karena kata yang mengalami

afiksasi akan mengalami perubahan makna. Didukung oleh pendapat Zainurrahman (2011, hlm. 99-100) yang berbunyi “Penggunaan afiks tanpa

pemahaman mengenai perubahan makna dan bentuk merupakan kesalahan.” Tidak diragukan lagi bahwa penggunaan afiks berhubungan dengan makna, sehingga berpengaruh pula terhadap pemahaman pembaca pada suatu tulisan.

(12)

4

karangan siswa baru mencakup: (1) kesesuaian judul; (2) ejaan; (3) topik yang diangkat. Setelah melakukan analisis terhadap penggunaan prefiks {me-} dan {ber-}pada empat orang karangan siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangi, terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan dalam menggunakan prefiks {me-} dan { ber-}. Empat orang siswa tersebut dipilih berdasarkan urutan nama yakni perwakilan atas, tengah, dan bawah. Kesalahan tersebut antara lain:

1. Penggunaan kata bermakan pada kalimat “Pada waktu jam 20.30 malam semua murid-murid bermakan malam.”

Kesalahan ini dilakukan oleh siswa 6 yang memiliki persentasi ketepatan 80% dan persentasi kesalahan 20%.Penggunaan prefiks {ber-} pada bentuk dasar makan dalam kalimat diatas tidak tepat, karena kata bermakan adalah kata tidak baku dan tidak terdapat dalam KBBI. Seharusnya tidak perlu menggunakan prefiks {ber-} pada bentuk dasar makan, sehingga maknanya akan lebih tepat. 2. Penggunaan kata becanda pada kalimat “Aku dan teman sekelasku tidak bisa

tidur Jadi kelasku pada becanda deh.”

Kesalahan ini dilakukan oleh siswa 7 yang memiliki persentasi ketepatan 80% dan persentasi kesalahan 20%.Seharusnya fonem /r/ pada prefiks {ber-}tidak meluruh ketika mengikuti bentuk dasar canda, karena menurut Rahman, Resmini

& Rosmana (2010; hlm. 180) “Morfem {ber-} berubah menjadi {be-} apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/, dan beberapa bentuk dasar

yang suku pertamanya berakhir dengan /Ər/.” Jadi kata becanda termasuk ke

dalam kata yang tidak baku karena bentuk dasar canda yang diikuti oleh prefiks {ber-} akan menjadi bercanda, sebagaimana tercantum dalam KBBI (Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 240) yang memiliki makna “1 bertingkah; 2 berkelakar; bersenda gurau; berseloroh”.

3. Penggunaan kata kumpul pada kalimat “Semua murid harus kumpul jam 3 sore.”

(13)

5

(Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 756) yaitu “1 bersama-sama menjadi satu kesatuan atau kelompok (tidak terpisah-pisah) …; 2 berhimpun; berkampung; berapat (bersidang) …; 3 berkerumun.”

4. Penggunaan kata terasa pada kalimat “Mereka terasasenang dengan acara tersebut, karena baru pertama kali mereka mengikuti acara tersebut.”

Kesalahan ini dilakukan oleh siswa 28 yang memiliki persentasi ketepatan 80% dan persentasi kesalahan 20%. Penggunaan prefiks ter- pada kata terasa dalam kalimat di atas kurang tepat, seharusnya menggunakan prefiks {me-}. Pada KBBI (Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 1145) kata terasa memiliki makna “Dapat dirasa(i); sudah dirasa(i); berasa dengan tiba-tiba …”, jika dihubungkan dengan makna gramatikal kalimat dirasa kurang tepat. Akan lebih tepat menggunakan prefiks {me-} karena dalam KBBI (Departemen Pendidikan Nasional, 2008, hlm. 1145) makna merasa adalah “… mengalami rasa dalam hati (batin) …” dan sesuai jika dihubungkan dengan makna gramatikal kalimat.

Berdasarkan beberapa kesalahan dalam penggunaan prefiks {me-} dan { ber-} di atas menunjukkan perlunya untuk dilakukan penelitian terhadap kemampuan siswa kelas V-A menggunakan prefiks {me-} dan {ber-}. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul “Kemampuan Siswa Menggunakan Prefiks {Me-} dan

{Ber-} dalam Karangan Narasi di Kelas V Sekolah Dasar”. B.Perumusan Masalah Penelitian

1. Identifikasi Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang di atas teridentifikasi beberapa permasalahan seperti di bawah ini.

a. Terdapat siswa yang tidak tepat dan tidak menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} yang melekat padabentuk dasar tunggal.

b. Evaluasi terhadap karangan siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangi belum sampai pada analisis ketepatan penggunaan prefiks {me-} dan {ber-}.

2. Rumusan Masalah Penelitian

(14)

6

menggunakan prefiks {me-}dan {ber-} dalam karangan narasi di kelas V-ASDN 3 Nagarawangi?

Rumusan masalah secara khususdiuraikan di bawah ini.

a. Bagaimana kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dalam karangan narasi di kelas V-ASDN 3 Nagarawangi?

b. Bagaimana kemampuan siswa menggunakan prefiks {ber-} dalam karangan narasi di kelas V-ASDN 3 Nagarawangi?

c. Apa yang menyebabkan siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangi mengalami kesulitan dalam menggunakan prefiks {me-} dan {ber-}?

C.Tujuan Penelitian

Didasarkan pada latar belakang penelitian, identifikasi masalah dan rumusan masalah penelitian yang ada, tujuansecara umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan siswa menggunakan prefiks { me-} dan {ber-} dalam karangan narasi di kelas V-ASDN 3 Nagarawangi.

Adapun tujuan secara khusus penelitian ini dapat dilihat dalam uraian di bawah ini.

a. Untuk mendeskripsikan kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dalam karangan narasi di kelas V-ASDN 3 Nagarawangi.

b. Untuk mendeskripsikan kemampuan siswa menggunakan prefiks {ber-} dalam karangan narasi di kelas V-ASDN 3 Nagarawangi.

c. Untuk mendeskripsikan penyebab siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangi mengalami kesulitan dalam menggunakan prefiks {me-} dan {ber-}.

D.Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini dapat dilihat dalam uraian di bawah ini.

1. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

(15)

7

b. Bagi Guru Wali Kelas

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan masukan positif dalammenilai kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dan {ber-}. Sekaligus mengetahui tentang informasi kemampuan siswa didiknya dalam menggunakan prefiks {me-}dan {ber-}, yang pada jenjangnya sudah dianggap memiliki kemampuan menulis yang baik karena sudah berada pada tahap menulis lanjut.

c. Bagi pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas yang berkaitan dengan penggunaan prefiks {me-} dan {ber-}.

2. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata tentang kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} dalam karangan narasi di kelas V SDN 3 Nagarawangi. Dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, dan dijadikan sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kemampuan siswa menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} dalam karangan narasi.

E.Struktur Organisasi Skripsi

Struktur organisasi skripsi ini terdiri atas lima bab. Pada Bab I, yakni pendahuluan, dipaparkan tentang latar belakang penelitian, perumusan masalah

(16)

8

penelitian merupakan pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui penganalisisan data yang dilakukan dalam penelitian ini. Tujuan penelitian memaparkan tujuan dari dilakukannya penelitian ini. Manfaat penelitian memaparkan manfaat dari dilakukannya penelitian ini. Struktur organisasi skripsi memaparkan bagaimana urutan penulisan skripsi dalam penelitian ini.

Bab II, yakni kajian pustaka memaparkan tentang teori-teori terkait dengan masalah yang akan diteliti, dan penelitian terdahulu yang relevan sehingga dapat dijadikan landasan dalam pelaksanaan penelitian ini. Teori yang dipaparkan dalam penelitian ini diantaranya, pembelajaran menulis bahasa Indonesia di SD, karangan narasi, kalimat, prefiksasi, dan faktor yang mempengaruhi kesalahan penggunaan prefiks {me-}dan {ber-}.

Bab III, yakni metode penelitian memaparkan tentang lokasi dan subjek penelitian yang dipilih, desain penelitian,metode penelitian, teknik pengumpulan data dan instrumen penelitian, serta teknik analisis data yang digunakan untuk mengolah data dalam penelitian ini.

Bab IV, yakni hasil penelitian dan pembahasan. Pada bab ini digambarkan hasil pengolahan data melalui teknik analisis yang sudah ditentukan. Kemudian, dibahas sesuai dengan teori-teori yang dijadikan landasan dan tercantum pada

kajian teori dalam penelitian ini. Sehingga hasil penelitian ini dapat menjawab rumusan masalah penelitian yang telah ditentukan.

(17)

32

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 3 Nagarawangi yang beralamat di Jalan Kh. Lukmanul Hakim No. 6 Cihideung Tasikmalaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V-Adengan jumlah 29 orang siswa. Jadi, karangan narasi yang dianalisis adalah 29 karangan narasi. Hanya saja ketika pelaksanaan pengumpulan

data dengan teknik wawancara, satu orang siswa yang bernama Nisya S.A. telah berpindah sekolah ke sekolah lain dengan alasan ikut pindah bersama orang tuanya sejak tanggal 7 Februari 2014. Maka dari itu, jumlah siswa yang diwawancara hanya berjumlah 28 orang. Namun, karangan narasi Nisya akan tetap dianalisis sama seperti karangan narasi lainnya. Kemudian, sumber informasi data yang ditunjuk oleh peneliti dalam penelitian ini adalah guru wali kelas V-ASDN 3 Nagarawangi yang bernama Dra. Nia Dewi Yuniawati. Beliau lulusan Sastra Bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Siliwangi.

Alasan menggunakan sekolah ini sebagai lokasi penelitian adalah karena sekolah ini menggunakan kurikulum 2006, yakni KTSP sesuai dengan kurikulum acuan yang digunakan dalam penelitian ini. Alasan penggunaan siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangi sebagai subjek penelitian karena karakter siswa kelas V-A hampir seluruhnya menyukai menulis karangan narasi dan telah menjalankan program pembelajaran menulis karangan narasi di semester sebelumnya, yakni semester I. Selain itu, peneliti memilih lokasi dan subjek penelitian ini karena sekolah ini merupakan sekolah yang berada pada satu komplek dengan sekolah di mana peneliti melaksanakan Program Latihan Profesi (PLP).

B.Desain Penelitian

Desain penelitian yang akan dilaksanakan berawal dari memilih masalah yang akan diteliti sebagai hasil dari pengamatan awal terhadap masalah-masalah

yang terjadi di lapangan. Studi pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan informasi awal. Setelah mengetahui beberapa informasi terkait dengan masalah yang akan diteliti, peneliti merumuskan masalah penelitian. Ketika perumusan 1

(18)

33

masalah sudah ditetapkan maka dilakukan pemilihan pendekatan dan metode yang akan digunakan untuk meneliti. Dilanjutkan dengan menentukan sumber data yang relevan dan sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga mampu memberikan data yang kredibel untuk memberikan jawaban terhadap rumusan masalah penelitian.

Setelah itu, mengumpulkan data melaui teknik wawancara semiterstruktur dan teknik studi dokumentasi. Data yang dihasilkan dari kedua teknik tersebut, kemudian dianalisis untuk dapat mendeskripsikan hasil analisis data sehingga

dapat menjawab rumusan masalah penelitian. Diakhir dilakukan penarikan kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan.

Desain penelitian ini dapat dilihat pada bagan alur penelitian di bawah ini.

Gambar 3.1. Prosedur Penelitian

Memilih Masalah Studi Pendahuluan Merumuskan Masalah

Memilih Pendekatan dan

Metode Penelitian

Menentukan Sumber Data

Mengumpulkan Data

Wawancara Semiterstruktur Studi Dokumentasi

Analisis data

(19)

34

C.Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, bertujuan melakukan kajian analisis terhadap data yang dikumpulkan dalam kondisi alamiah. Kemudian, mendeskripsikan atau menggambarkan hasil penelitian tersebut melalui penafsiran hasil. Data yang dihasilkan melalui metode deskriptif dapat berupa kata-kata, perilaku maupun gambar. Sebagaimana pendapat Margono (2010, hlm. 39) menyatakan bahwa

Penelitian bersifat deskriptif analitik. Data yang diperoleh (berupa kata-kata, gambar, perilaku) tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, melainkan tetap dalam bentuk kualitatif yang memiliki arti lebih kaya dari sekedar angka atau frekuensi. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memberi pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif.

Kajian analsis pengolahan data dalam metode ini dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai instrumen utama, atau menggunakan bantuan berupa instrumen tambahan untuk memberikan gambaran melalui pemaparan hasil kajian

(20)

35

D.Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik wawancara semiterstruktur dan teknik studi dokumentasi. Berikut uraian kedua teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini.

a. Wawancara Semiterstruktur

Teknik wawancara dipilih karena melalui teknik ini dapat memperoleh data yang lebih terbuka dan mendalam. Seperti yang diungkapkan Tarigan (2009, hlm. 160) bahwa “… wawancara memberikan kemungkinan tingkat pengumpulan

informasi secara mendalam dari hati ke hati, responsi bebas, dan kelenturan/fleksibilitas yang tidak mungkin diperoleh dengan prosedur-prosedur lain.” Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang membutuhkan kecakapan peneliti yang baik sebagai instrumen inti, karena data hasil wawancara yang diperoleh tergantung pada kemampuan peneliti ketika melakukan wawancara. Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semiterstruktur karena bertujuan untuk mencari data yang lebih mendalam dan lebih terbuka. Sugiyono (2012, hlm. 320) menyatakan bahwa “Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya”. Wawancara pada penelitian ini akan dilakukan kepada guru wali kelas V-A dan siswa kelas V-A. Agar data yang dihasilkan lebih akurat, jika didapat dari guru dan siswa yang merupakan makhluk hidup dan bagian terpenting dalam komponen pembelajaran. Instrumen yang digunakan adalah format panduan wawancara sebagai pedoman ketika melakukan wawancara terhadap responden. Ketika wawancara berlangsung pertanyaan akan berkembang sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh responden.

b. Studi Dokumentasi

Pengumpulan data dilakukan terhadap dokumen pribadi siswa. Seperti diungkapkan oleh Moleong (2007, hlm. 217) bahwa

(21)

36

Dokumen pribadi siswa yang dikumpulkanbersifat autentik. Dokumen yang dimaksud adalah karya tulis hasil karangan siswa kelas V-A yang telah dibuat di semester I ketika pembelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman berlangsung. Hal ini, terjadi karena KD pembelajaran menulis karangan berdasarkan pengalaman berada di semester I dan sekarang sudah beranjak ke semester II. Maka, data yang digunakan berupa portofolio guru wali kelas V-A tentang tugas karangan narasi di semester sebelumnya. Instrumen yang digunakan adalah kartu data masing-masing siswa yang digunakan sebagai alat untuk

mempermudah peneliti ketika mereduksi data. E.Teknik Analisis Data

Teknik analisis data digunakan untuk mengolah data yang dihasilkan melalui teknik pengumpulan data untuk dapat menjawab rumusan masalah penelitian. Analisis data dalam penelitian kualitatif difokuskan selama dilapangan. Analisis data selama di lapangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono 2012, hlm. 337) menyatakan bahwa

Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data , yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.

a. Data Reduction

Pada tahap ini data yang dihasilkan melalui pengumpulan data dianalisis,

(22)

37

b. Data Display

Setelah data direduksi dengan menggunakan kartu data, langkah selanjutnya adalah mendisplaikan data. Pendisplaian dilakukan dengan memasukkan data yang terdapat pada kartu data masing-masing siswa ke dalam tabel analisis sesuai dengan jenis prefiksnya. Kemudian, dilakukan penganalisisan kesesuaian makna gramatikal kata berprefiks pada KBBI dengan makna utuh kalimat yang digunakan untuk diketahui ketepatan dan kesalahannya.

Penganalisisan ketepatan dan kesalahan pada tabel analisis dilakukan

dengan menyesuaikan ketepatan makna hasil prefiksasi yang digunakan siswa pada KBBI dengan makna gramatikal pada keseluruhan kalimat. Indikator kesesuaian dapat menggunakan pedoman berupa rubrik ketepatan makna KBBI dengan makna gramatikal keseluruhan kalimat sebagai berikut:

Tabel 3.1.

Rubrik Ketepatan Makna

Kriteria Ketepatan Indikator Ketepatan Tepat a) sesuai dengan makna dalam KBBI

b) sesuai dan atau mendekati dengan makna yang

dimaksud dalam keseluruhan kalimat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dan kebingungan

pada pembaca

c) tepat dalam menggunakan prefks {me-}dan{ber-} d) sesuai dengan kaidah

Tidak Tepat a) tidak sesuai dengan makna dalam KBBI

b) tidak sesuai dengan makna yang dimaksud dalam keseluruhan kalimat sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman dan kebingungan pada pembaca c) tidak menggunakan prefiks me- dan ber- pada kata

yang memerlukan

(23)

38

Tabel 3.1.

Rubrik Ketepatan Makna (Lanjutan)

Kriteria Ketepatan Indikator Ketepatan

e) tidak tepat dalam menggunakan prefiks {me-}dan {ber-}

f) tidak sesuai kaidah

Dengan berpedoman pada rubrik ketepatan di atas peneliti mengisi kolom kesesuaian prefiks yang digunakan oleh siswa. Setelah semua tabel terisi penuh, masing-masing kriteria kesesuaian dijumlahkan. Data tersebut berupa data kuantitatif, untuk memudahkan dalam penginterpretasian datanya maka harus diubah ke dalam bentuk persen (%) dengan rumus sebagai berikut:

1) Sesuai dengan makna KBBI =

∑ −

∑ ℎ − 100%

∑ −

∑ ℎ − 100%

2) Tidak sesuai dengan makna KBBI =

∑ −

∑ ℎ − 100%

∑ −

∑ ℎ − 100%

Penghitungan dilakukan terlebih dahulu kepada masing-masing siswa, kemudian dilakukan penghitungan secara keseluruhan untuk menarik simpulan. c. Conclusion Drawing/Verification

Setelah mereduksi dan mendisplay data, tahap selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dari temuan data tersebut sehingga dapat menjawab rumusan masalah penelitian.

(24)

39

(25)

221

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A.Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya dapat di simpulkan bahwa, kemampuan seluruh siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangi dalam menggunakan prefiks {me-} pada karangan narasi terdapat 77 buahpenggunaan prefiks { me-}.Dari 77 prefiks {me-} yang digunakan, 69 tepat dalam penggunaannya dan delapan salah dalam penggunaannya.Jika ditafsirkan ke dalam bentuk persen, ketepatan siswa kelas V-A menggunakan prefiks {me-} mencapai 89.61%

sedangkan kesalahan siswa kelas V-A menggunakan prefiks {me-} hanya 10.39%.Dari 29 karangan siswa yang dianalisis, hanya 17 orang siswa yang seluruhnya tepat menggunakan prefiks {me-},lima orang siswa tidak menggunakan prefiks {me-}, dan tujuh orang siswa lainnya mengalami kesalahan dalam menggunakan prefiks {me-}. Kesalahan siswa kelas V-A dalam menggunakan prefiks {me-} terbagi ke dalam dua kategori, yakni tidak menggunakan prefiks {me-}padakataminta, ngantuk, ngaji, danbawa; tidaktepatmenggunakanprefiks{me-} pada kata terasa.

Kemampuan siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangi dalam menggunakan prefiks {ber-} pada karangan narasi terdapat 60 buah penggunaan prefiks { ber-}.Dari 60 prefiks {ber-} yang digunakan, 45 tepat dalam penggunaannya dan 15 salah dalam penggunaannya. Jika ditafsirkan ke dalam bentuk persen, ketepatan siswa kelas V-A menggunakan prefiks {ber-} mencapai 75% sedangkan kesalahan siswa kelas V-A menggunakan prefiks {ber-} hanya 25%. Dari 29 karangan siswa yang dianalisis, hanya 11 orang siswa yang seluruhnya tepat menggunakan prefiks {ber-},tujuh orang siswa tidak menggunakan prefiks { ber-}, dan 11orang siswa lainnya mengalami kesalahan dalam menggunakan prefiks {ber-}. Kesalahan siswa kelas V-A dalam menggunakan prefiks {ber-} terbagi ke dalam empat kategori, yakni tidak menggunakan prefiks {ber-} pada kata kumpul,

sama, perang, main, dan lari;tidak perlu menggunakan prefiks pada kata 1

(26)

222

bermakan;tidak tepat menggunakan prefiks pada kata memain; dan tidak sesuai kaidah pada kata ngumpul, dan becanda.

Faktor yang menyebabkan siswa kelas V-ASDN 3 Nagarawangimengalami kesulitan dalam menggunakan prefiks {me-} dan {ber-} di antaranya faktor inteligensi yang diakibatkan oleh faktor lupa sebagai kelemahan dari faktor inteligensi, faktor keluarga yang diakibatkan oleh kebiasaan menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari sehingga waktu untuk melakukan pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia sangat terbatas, faktor sekolah yang diakibatkan oleh waktu kegiatan belajar mengajar yang terbatas dan akan menyebabkan lupa jika tidak digunakan atau dilatih dalam kehidupan sehari-hari, dan yang terakhir

adalah faktor masyarakat (mass media dan teman sebaya) yang diakibatkan oleh kebiasaan menggunakan bahasa yang singkat dalam karakter tulisan SMS dengan teman sebaya maupun berkomunikasi langsung dengan teman sebaya.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sri Handayani (2013) menemukan kesalahanpenggunaanafiksdalamkarangannarasi, yaitutidak menggunakanafiks,

tidakperlumenggunakanafiks,tidaktepatmenggunakanafiks,dantidaksesuaikaidah. Penelitian ini pun, menemukan kesalahan dengan kategori yang sama pada penelitian Sri Handayani. Hanya saja, penelitian ini lebih difokuskan pada penggunaan prefiks {me-} dan {ber-}.

Hasil analisis kesalahan penggunaan afiks oleh Sri Handayani

(2013)diketahui bahwa jenis afiks yang

banyakterjadikesalahanpenggunaanadalahprefiks {

me-}karenatidakmenggunakannya yaitu terdapat 18

kesalahan.Sedangkandalampenelitianini,

terdapatdelapankesalahan.Kesalahantersebutterdiriatasduakategori,

yaknitidakmenggunakanprefiks{me-}padakataminta, ngantuk, ngaji, danbawa; tidaktepatmenggunakanprefiks{me-} pada kata terasa.

B.Saran

Penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, terdapat kekurangan yang

(27)

223

{me-} dan {ber-} yang melekat pada bentuk dasar lain. Berdasarkan kekurangan tersebut, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mampu menindaklanjuti temuan hasil penelitian ini.

(28)

224

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. & Supriyono, W. (2004).Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya

Anggota IKAPI. (2009). Undang-Undang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: FOKUSMEDIA.

Arifin, E.Z. & Tasai, S.A. (2006). Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: CV Akademika Pressindo.

Chaer, A. (2008). Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional.(2007). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI KTSP.BNSP.

Departemen Pendidikan Nasional.(2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Handayani, S. (2013).Analisis Kesalahan Afiks Pada Karangan Narasi Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Bintan Tahun Pelajaran 2012/2013.[Online]. Tersedia di: http://jurnal.umrah.ac.id/wp- content/uploads/2013/08/E-JOURNAL-Sri-Handayani-090388201313-PBSI-2013.pdf. Diakses 02 Desember 2013.

Iskandarwassid &Sunendar, D. (2011). Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.(2013). Kurikulum 2013 KOMPETENSI DASAR Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

(29)

225

Kridalaksana, H. (2010). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

Margono, S. (2010).Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung; PT REMAJA ROSDAKARYA

Purwanto, M. N. (2007). PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Ramlan, M. (2009).Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi.Yogyakarta: C.V. Karyono.

Rahman, B., Resmini, N., & Rosmana, I.A. (2010).Kebahasaan 1: Fonologi dan Morfologi. Bandung; UPI PRESS.

Resmini, N., Churiyah, Y., &Sundori, N. (2006).Membaca dan Menulis Permulaan. Bandung: UPIPRESS.

Resmini, N. & Hartati, T. (2006).Kapita Selekta Bahasa Indonesia.Bandung: UPI PRESS

Resmini, N. & Juanda, D. (2007).Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi.Bandung: UPI PRESS.

Slameto.(2010). BELAJAR & FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono (2012).Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

(30)

226

Verhaar, J.W.M. (2006). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS

Figur

Gambar 3.1.
Gambar 3 1 . View in document p.18
Tabel 3.1.
Tabel 3 1 . View in document p.22
Tabel 3.1.
Tabel 3 1 . View in document p.23

Referensi

Memperbarui...