• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Gambaran Umum Lokasi

4.1.1 Sekolah Menengah Atas Bina Bangsa Sejahtera

Sekolah Menengah Atas Bina Bangsa Sejahtera (SMA BBS) terletak di jalan Raya Darmaga Km. 7 Kelurahan Marga Jaya, Bogor Barat. SMA Swasta di bawah Dinas Pendidikan ini berdiri tahun 1995.

SMA BBS menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan penambahan materi Al-Qur’an dan Hadits dengan sistem responsi serta penggalian Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL). Pendekatan belajar yang digunakan adalah pendekatan active learning dengan kegiatan pembelajaran berupa contextual teaching and learning, stadium general, audio-video presentation serta praktek dan studi lapang. Selain itu, siswa SMA BBS diwajibkan melaksanakan beberapa kegiatan kerohanian selama KBM, antara lain shalat dhuha, tadarus, kajian tafsir, pembacaan asmaul husna, shalat dzuhur berjama’ah dan shalat jumat bagi siswa laki-laki.

Beberapa prestasi yang telah diraih SMA BBS selama dua tahun terakhir antara lain:

1. Juara Musikalisasi Puisi Se-Jabodetabek.

2. Juara Futsal, baik Tingkat Kota dan Provinsi serta menjuarai peringkat II tingkat Nasional.

3. Finalis berturut lomba Penelitian Bahaya Narkoba. 4. Juara II Baca Berita.

5. Juara III Olimpiade Marketing Se-Jawa Barat, DKI dan Banten. 6. Juara III Festival Akustik Se-Jawa Barat, DKI dan Banten. 7. Juara I Liga Pendidikan Indonesia.

4.1.2 Gambaran Umum Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bogor

Pada awalnya SMA Negeri 2 Bogor didirikan dengan nama SMA Negeri Bogor dan hanya satu-satunya Sekolah Menengah Atas di Bogor dengan menempati lokasi di Jalan Ir. Djuanda 16 Bogor. Sekolah ini memiliki tiga jurusan yaitu: "Paket A" (jurusan Ilmu Bahasa), "Paket B" (jurusan Ilmu Pasti dan

(2)

Alam), dan "Paket C" (jurusan Ilmu Sosial). Sejak Bulan Agustus 1958, SMA Negeri Bogor dipecah menjadi dua sekolah yaitu:

1. SMA Negeri 1 Bogor di bawah kepemimpinan Bapak Khusaeri sebagai Kepala Sekolahnya, dengan spesialis "Paket A"(jurusan ilmu bahasa) dan "Paket C" (jurusan ilmu sosial).

2. SMA Negeri 2 Bogor di bawah kepemimpinan Bapak R. Yatmo sebagai Kepala Sekolahnya, dengan spesialis "Paket B" (ilmu pasti alam).

Lokasi SMA Negeri 1 Bogor dan SMA Negeri 2 Bogor sama-sama di Jalan Ir. Djuanda No.16 Bogor (sekarang SMA Negeri 1 Bogor) dengan waktu belajar bergantian antara ke dua SMA Negeri tersebut tiga hari pagi dan tiga hari siang. Akibat terjadinya perubahan kurikulum 1968, menyebabkan SMA Negeri 1 Bogor dan SMA Negeri 2 Bogor harus memiliki semua jurusan, sehingga SMA Negeri 2 Bogor lokasi belajarnya di beberapa tempat (karena tidak cukup menempati satu lokasi) yaitu di Paledang (sekarang SMP Negeri 7 Bogor), Jalan Pakuan (sekarang SMA Negeri 3 Bogor), Jalan Ciremai Ujung (sekarang SMP Negeri 3 Bogor).

Pada masa kepemimpinan Bapak Duyeh Effendi, BA. lokasi SMA Negeri 2 dipindahkan ke sebuah gedung tua kosong peninggalan sekolah China bernama Chen Chung di Jalan Mantarena no. 9. Akhir masa pimpinan Kepala Sekolah Bapak Yusuf selesai pembuatan gedung baru di Jalan Keranji Ujung no.1 Budi Agung Bogor, namun kepindahan penuh ke Budi Agung dilakukan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H. Zainal Abidin sehingga SMA Negeri 2 Bogor memiliki dua lokasi yaitu di Jalan Mantarena No. 9 untuk kegiatan pembelajaran kelas XII dan Jalan Keranji Ujung No. 1 Budi Agung untuk semua urusan kegiatan administrasi sekolah dan kegiatan pembelajaran kelas X dan kelas XI. Sampai sekarang tempat belajar SMA Negeri 2 Bogor masih menempati dua lokasi yaitu Jalan Mantarena no. 9 dan Jalan Keranji Ujung No. 1 Budi Agung Bogor.

SMA Negeri 2 Bogor melaksanakan program Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSBI). SMA Negeri 2 Bogor menambah masing-masing dua jam pelajaran pada mata pelajaran Fisika, Biologi, Kimia dan Ekonomi serta menambah 1 jam pelajaran mata pelajaran Geografi. Mulai tahun pelajaran 2009/2010, SMA Negeri 2 Bogor melakukan uji coba proses pembelajaran dengan

(3)

sistem Moving Class. Apabila sistim ini lebih efektif maka sistem ini akan dilanjutkan, apabila kurang efektif maka sistem ini akan ditinjau kembali.

4.1.3 Gambaran Umum Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Bogor

Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 terletak di jalan Pakuan No. 4, Bogor. SMA Negeri 3 merupakan salah satu dari tiga SMA yang menerapkan program RSBI pada tahun pelajaran 2010/2011. Visi SMA Negeri 3 adalah menjadi yang terbaik di Jawa Barat pada tahun 2013 dan mampu berkompetisi di dunia internasional. Misi SMA Negeri 3 adalah membentuk manusia Indonesia menjadi warga negara yang baik dan mampu bersaing di forum internasional.

Proses belajar mengajar yang digunakan oleh SMA Negeri 3 adalah dengan pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menarik (PAIKEM) baik bagi siswa maupun guru. Proses pembelajaran menggunakan dwibahasa (bilingual) untuk semua mata pelajaran kecuali bahasa Indonesia. Khusus pada mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan Bahasa Inggris didampingi oleh dua orang guru (team teaching) yang ahli di bidangnya. Sumber belajar yang digunakan bervariasi, antara lain: literatur, jurnal, media pembelajaran, internet, interaktif dan software pembelajaran. Untuk mengembangkan pengalaman belajar, siswa diberi kesempatan untuk mengalami secara langsung melalui studi lapang dan kegiatan studi wisata yang sejalan dengan tujuan pembelajaran, diantaranya kunjungan ke IPB, ITB, pabrik, pusat kesenian Sunda dan lain-lain. SMA Negeri 3 menyediakan kelas remedial teaching bagi siswa yang membutuhkan dan kelas akselerasi bagi siswa yang mempunyai nilai raport SMP semester satu sampai lima minimal 80 dan IQ lebih besar dari 130.

4.1.4 Gambaran Umum Sekolah Menengah Atas Budi Mulia

Sekolah Menengah Atas Budi Mulia (SMA Budi Mulia) terletak di jalan Kapten Muslihat No. 22, Paledang, Bogor Tengah, Jawa Barat. Letak SMA Budi Mulia berdekatan dengan sekolah setingkat lainnya yaitu SMA Regina Pacis dan SMA Negeri 1 Bogor, yaitu sekitar 0,5 kilometer. SMA Budi Mulia diselenggarakan oleh Yayasan Budi Mulia di jalan Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat. SMA Budi Mulia merupakan sekolah Swasta di bawah

(4)

Dinas Pendidikan. SMA yang dibuka pada tahun 1988 ini mempunyai status disamakan dengan akreditasi A.

Proses pembelajaran SMA Budi Mulia berbasis lingkungan hidup Green School dan bernuansa keagamaan. SMA Budi Mulia merupakan sekolah dengan berbudaya disiplin. Beberapa prestasi yang pernah diraih antara lain:

1. Juara 1 Lomba Desain Nasional.

2. Juara 1 Lomba Cheer Leaders Jabodetabek. 3. Juara 1 Lomba Modern Dance Jabodetabek. 4. Juara 1 Lomba Paduan Suara Se-Bogor. 5. Juara 1 Lomba Cheer Leaders Se-Bogor. 6. Juara 1 Festival Band Kota Bogor

7. Juara 1 dan Juara 2 Lomba Nyanyi Solo Se-Bogor. 8. Juara 1 dan Juara 3 Lomba Akuntasi Kota Bogor. 9. Juara 1 dan Juara 3 Bola Basket Putra Se-Bogor. 10. Juara 2 Leader Challenge Jabodetabek

11. Juara 2 Speech Contest Kota Bogor. 12. Juara 2 Lomba Pidato Se-Kota Bogor. 13. Juara 2 Lomba Modern Dance Kota Bogor.

14. Juara 3 Graphic Design Competition Se-Jabodetabek. 15. Juara 3 Lomba Biologi Kota Bogor.

16. Juara 3 Lomba Bahasa Inggris Kota Bogor. 17. Juara 3 Lomba Akustik Seni Sunda Kota Bogor. 18. Juara 3 Bola Basket Putri Se-Bogor.

4.2 Karakteristik Individu

Karakteristik individu adalah identitas yang dimiliki individu dan berbeda satu sama lain. Responden dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan kelas XI di SMA Bina Bangsa Sejahtera, SMA Negeri 2 Bogor, SMA Negeri 3 Bogor dan SMA Budi Mulia. Total seluruh responden adalah 96 siswa. Dalam penelitian ini, karakteristik individu terdiri dari jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat prestasi dan tingkat ekonomi. Sebaran responden menurut karakteristik individu tersaji dalam Tabel 2.

(5)

Tabel 2. Distribusi responden menurut karakteristik individu Karakteristik

Individu

SMA Negeri SMA Swasta Total

Jumlah

(orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-Laki 17 31,00 12 29,30 29 30,20 Perempuan 38 69,00 29 70,70 67 69,80 Tingkat Pendidikan Kelas X 26 47,30 21 51,30 47 49,00 Kelas XI 29 52,70 20 48,70 49 51,00 Tingkat Prestasi Rendah 18 32,30 16 39,00 34 35,40 Sedang 22 40,40 17 41,50 39 40,60 Tinggi 15 27,30 8 19,50 23 24,00 Tingkat Ekonomi Rendah 24 43,70 8 19,50 32 33,30 Sedang 15 27,30 20 48,70 35 36,50 Tinggi 16 29,00 13 31,80 29 30,20 4.2.1 Jenis Kelamin

Hasil penelitian terhadap jenis kelamin ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu laki-laki dan perempuan. Dari Tabel 2 terlihat bahwa di SMA Negeri responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 31,00% sedangkan jenis kelamin perempuan 69,00%. Jumlah responden laki-laki di SMA Swasta sebanyak 29,30% dan 70,70% untuk responden perempuan. Jumlah responden perempuan lebih banyak dua kali lipat daripada jumlah responden laki-laki. Perbedaan jumlah ini dipengaruhi oleh jumlah siswa laki-laki dan perempuan di masing-masing SMA, yaitu jumlah siswa perempuan lebih banyak daripada jumlah siswa laki-laki. Selain itu, siswa perempuan lebih terbuka dibandingkan siswa laki-laki. Hal ini terlihat pada ketersediaan siswa dalam mengisi kuesioner saat penelitian dilakukan.

4.2.2 Tingkat Pendidikan

Dalam penelitian ini, pendidikan adalah jenjang kelas di sekolah formal responden saat penelitian dilaksanakan yang dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu kelas X dan kelas XI (kelas I dan II SMA). Pada Tabel 2 terlihat bahwa jumlah responden kelas X dan kelas XI adalah sama, yaitu 49% siswa kelas X dan 51% siswa kelas XI. Demikian pula untuk jumlah siswa kelas X dan kelas XI, baik SMA Negeri maupun Swasta. Jumlah siswa kelas X dan kelas XI yaitu 47,30% dan 52,70% untuk SMA Negeri serta 51,30% dan 48,70% untuk SMA

(6)

Swasta. Hal ini dikarenakan pengambilan jumlah responden untuk masing-masing kelas dilakukan secara proporsional yaitu sebanyak lima persen.

4.2.3 Tingkat Prestasi

Tingkat prestasi dalam penelitian ini adalah kejuaraan yang pernah diraih oleh responden, baik akademik maupun non-akademik, sejak masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Penentuan masa kejuaraan, yaitu sejak SMP hingga SMA, ditentukan secara sengaja karena masa remaja dimulai sejak masa SMP (yaitu remaja awal) kemudian SMA (yaitu remaja tengah). Sebaran data responden berdasarkan tingkat prestasi didapatkan dengan membagi data yang diperoleh ke dalam tiga kelas yaitu tinggi, sedang dan rendah (Tabel 2). Tabel 2 memperlihatkan bahwa paling banyak responden dari SMA Negeri, yaitu sebanyak 40,40%, mencapai tingkat sedang. Begitu juga dengan responden terbanyak di SMA Swasta yaitu sebanyak 41,50% memiliki tingkat prestasi yang sedang pula. Baik responden dari SMA Swasta maupun Negeri, sebagian besar mendapat kejuaraan sejak SMP sebanyak satu sampai dua kejuaraan. Persentase jumlah responden dari SMA Negeri yang mencapai tingkat prestasi tinggi lebih banyak daripada responden dari SMA Swasta. Prestasi yang paling banyak diraih oleh responden dari SMA Negeri adalah enam kejuaraan, sedangkan untuk SMA Swasta hanya empat.

Penelitian ini membagi jenis prestasi menjadi dua jenis, yaitu prestasi akademik dan non-akademik. Berdasarkan hasil penelitian, prestasi yang paling banyak diraih oleh responden adalah prestasi akademik, baik dari SMA Negeri maupun Swasta. Prestasi akademik yang paling banyak diraih oleh responden dari SMA Negeri antara lain juara kelas I (19,80%), II (19,80%) dan III (15,63%), sedangkan prestasi non-akademiknya adalah di bidang seni (10,42%) dan ekstrakurikuler (9,38%) yaitu Palang Merah Remaja (PMR) dan paskibra. Prestasi akademik yang paling banyak diraih oleh responden dari SMA Swasta adalah juara kelas III (19,61%) dan sains (4%) sedangkan prestasi non-akademiknya adalah di bidang olahraga (13,73%) dan ekstrakurikuler (17,65%) yaitu paskibra. Secara keseluruhan SMA, prestasi yang paling banyak diraih adalah prestasi akademik yang diraihnya di kelas, yaitu juara I (15%), juara II (17,01%) dan juara III (17,01%). Prestasi non-akademik yang paling banyak diraih keseluruhan SMA

(7)

di bidang non-akademik yaitu di bidang ekstrakurikuler (11,57%), seni (10,21%) dan olahraga (7,50%).

4.2.4 Tingkat Ekonomi

Tingkat ekonomi dalam penelitian ini diukur dengan pendekatan pendapatan dan pengeluaran. Pendapatan yaitu sejumlah uang yang diterima responden selama satu bulan yang berasal dari orang tua, bekerja sendiri, dan sumber lainnya seperti pemberian dari nenek dan saudara. Dalam penelitian ini, pengeluaran yaitu sejumlah uang yang digunakan responden untuk keperluan membeli pulsa, makan, jajan, pakaian/aksesoris, hiburan, berlibur, dan transportasi. Sebaran data responden berdasarkan tingkat ekonomi didapatkan dengan membagi data yang diperoleh ke dalam tiga kelas yaitu tinggi, sedang dan rendah (Tabel 2). Dari Tabel 2 tersebut terlihat bahwa mayoritas responden dari SMA Negeri bertingkat ekonomi rendah (43,70%), sedangkan pada tingkat sedang dan tinggi cenderung sama. Sebagian besar responden dari SMA Swasta berekonomi sedang cenderung tinggi. Meskipun berasal dari keluarga menengah ke atas, tingkat ekonomi responden dari SMA Swasta paling banyak adalah sedang (48,70%). Hal ini dikarenakan responden membawa bekal dari rumah sehingga tidak sering membeli makan di sekolah.

Selain dari orang tuanya, responden dari SMA Negeri mendapatkan uang saku dari bekerja sendiri (2,67%) dengan berjualan pulsa dan sumber lain (2,89%), yaitu dari pemberian saudara serta nenek. Begitu pun dengan responden dari SMA Swasta, selain dari orang tuanya juga mendapat uang saku dari bekerja sendiri (1,94%) yaitu berjualan pulsa dan sumber lain (0,54%) yaitu modeling dan gereja. Seluruh responden, baik dari SMA Negeri maupun Swasta, menggunakan sebagian besar uangnya untuk tranportasi (23,64%), jajan (18,05%), membeli pakaian (12,66%) dan pulsa (12,11%). Responden dari SMA Swasta menggunakan sebagian besar uangnya untuk transportasi (23,50%), jajan (18,23%) dan membeli pulsa (13,65%). Responden dari SMA Negeri menggunakan sebagian besar uangnya untuk transportasi (23,75%), jajan (17,90%) dan membeli pakaian (13,86%). Hal ini sesuai dengan salah satu ciri-ciri remaja yang diungkapkan oleh Soekanto dalam Polii (2003) bahwa remaja mulai memikirkan kehidupan secara mandiri terutama dalam hal ekonomi.

(8)

4.3 Minat Menonton Sinetron

Minat menonton sinetron dalam penelitian ini adalah keinginan dan perhatian penonton dalam menonton sinetron. Minat menonton sinetron meliputi kesukaan dan ketertarikan responden terhadap sinetron. Rataan skor dari minat responden dalam menonton sinetron tertera pada Tabel 3. Total rataan skor yang terlihat pada Tabel 3 memperlihatkan bahwa responden dari SMA Negeri mempunyai minat menonton sinetron yang rendah, dengan rataan skor 1,91. Minat menonton sinetron untuk responden dari SMA Swasta juga rendah, yaitu dengan rataan skor 2,38. Dilihat dari masing-masing nilai rataan skornya, responden dari SMA Swasta mempunyai minat menonton sinetron yang lebih tinggi daripada responden dari SMA Negeri. Hal ini dikarenakan responden dari SMA Negeri tidak mempunyai banyak waktu untuk menonton sinetron serta lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar. Secara keseluruhan responden mempunyai minat menonton sinetron yang rendah pula yaitu dengan rataan skor 2,11.

Tabel 3. Rataan skor minat responden dalam menonton sinetron Minat Menonton

Sinetron SMA Negeri Rataan Skor* SMA Swasta Keseluruhan SMA

Kesukaan 2,03 2,51 2,23

Ketertarikan 1,71 2,15 1,90

Total Rataan Skor 1,91 2,38 2,11

Keterangan: *1-1,75=sangat rendah; 1,76-2,50=rendah; 2,51-3,25=tinggi; 3,26-4=sangat tinggi

4.3.1 Kesukaan terhadap Tayangan Sinetron

Kesukaan terhadap tayangan sinetron adalah seberapa besar tingkat kesukaan responden terhadap sinetron yang ditontonnya. Dari Tabel 3 terlihat bahwa rataan skor responden dari SMA Negeri adalah 2,03 sedangkan dari SMA Swasta adalah 2,51. Dapat dikatakan bahwa responden dari SMA Negeri adalah rendah sedangkan responden dari SMA Swasta adalah tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa responden dari SMA Swasta lebih menyukai menonton sinetron dibandingkan dengan responden dari SMA negeri. Kesukaan ini didasarkan pada theme song dan cerita sinetron tersebut. Berdasarkan isi pesannya, sinetron disukai karena sesuai dengan realita sosial dan mengangkat permasalahan yang terjadi dalam kehidupan (Kuswandi dalam Nurfalah, 2007). Total rataan skor untuk kesukaan keseluruhan SMA adalah 2,23. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesukaannya adalah rendah.

(9)

4.3.2 Ketertarikan terhadap Tayangan Sinetron

Ketertarikan terhadap tayangan sinetron adalah tingkat ketertarikan responden terhadap sinetron yang ditontonnya. Tingkat ketertarikan responden dari SMA Negeri adalah sangat rendah sedangkan dari SMA Swasta adalah rendah. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3, rataan skor ketertarikan untuk responden dari SMA Swasta adalah 2,15 dan 1,71 untuk responden dari SMA Negeri. Total rataan skor ketertarikan untuk keseluruhan SMA adalah 1,90 sehingga dikatakan rendah. Sama halnya dengan kesukaan terhadap tayangan sinetron, ketertarikan terhadap tayangan sinetron oleh responden dari SMA Swasta lebih tinggi dibandingkan dengan responden dari SMA Negeri. Hal ini didasarkan pada ketertarikan responden terhadap pemain sinetron dan ketertarikan responden terhadap dunia hiburan (sinetron). Perbedaan ini dipengaruhi oleh penerimaan pesan oleh penonton yaitu instinct selective attention (Rakhmat, 2005).

4.4 Motif Menonton Sinetron

Motif menonton sinetron merupakan dorongan atas kebutuhan penonton dalam menonton sinetron. Motif menonton sinetron diukur dengan tiga peubah, yaitu (a) motif kognitif, (b) diversiti dan (c) personal. Masing-masing dibagi menjadi empat kelas seperti yang tersaji dalam Tabel 4 dan penentuan tingkatan tersebut dengan rataan skor.

Tabel 4. Rataan skor motif responden dalam menonton sinetron Motif Menonton

Sinetron

Rataan Skor*

SMA Negeri SMA Swasta Keseluruhan SMA

Kognitif 2,14 2,29 2,20

Diversiti 2,53 2,72 3,06 Personal 2,07 2,17 2,11

Total Rataan Skor 2,36 2,52 2,43

Keterangan: *1-1,75=sangat rendah; 1,76-2,50=rendah; 2,51-3,25=sedang; 3,26-4=tinggi

Tabel 4 menjelaskan bahwa motif menonton sinetron bagi SMA Negeri adalah rendah sedangkan SMA Swasta adalah sedang, yaitu dengan rataan skor 2,36 dan 2,52. Hasil penelitian mengenai motif ini sejalan dengan minat menonton sinetron. Responden dari SMA Swasta mempunyai lebih banyak waktu untuk menonton sinetron, terutama pada waktu utama (prime time) dan sore hari. Hal ini sesuai dengan teori kegunaan dan keuntungan sebagai aspek penting dalam

(10)

televisi (Hoffman, 1999). Responden dari SMA Negeri menggunakan waktu di luar jam sekolah untuk les tambahan. Secara keseluruhan, motif menonton sinetron bagi seluruh responden adalah rendah, yaitu dengan rataan skor 2,43. 4.4.1 Motif Kognitif

Motif kognitif adalah dorongan atau kebutuhan akan informasi. Peubah ini mengukur seberapa tinggi motif kognitif remaja dalam menonton sinetron. Tabel 4 menjelaskan bahwa rataan skor motif kognitif dalam menonton sinetron bagi responden dari SMA Negeri adalah 2,14 dan 2,29 untuk responden dari SMA Swasta. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat motif kognitif untuk SMA Negeri maupun Swasta tergolong rendah. Motif kognitif untuk keseluruhan SMA juga rendah yaitu dengan nilai rataan skor 2,20. Mayoritas responden memenuhi kebutuhan akan informasi mengenai politik, berita selebriti maupun gaya hidup atau mode dengan menonton berita dan infotainment serta membaca majalah atau surat kabar.

4.4.2 Motif Diversiti

Motif diversiti adalah dorongan atau kebutuhan akan hiburan. Peubah ini mengukur seberapa tinggi motif diversiti responden dalam menonton sinetron. Pada umumnya, penonton televisi menikmati sinetron sebagai hiburan. Sesuai dengan Tabel 4, motif diversiti untuk responden dari SMA Negeri adalah 2,53 dan untuk SMA Swasta adalah 2,72. Sehingga dapat dikatakan bahwa motif diversiti bagi responden dari SMA Negeri maupun Swasta adalah sedang. Rataan skor untuk keseluruhan SMA adalah 3,06. Rataan ini tergolong sedang. Dibandingkan dengan jenis motif lainnya, motif diversiti mempunyai rataan skor yang paling tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa responden memanfaatkan sinetron sebagai media hiburan. Menurut Hofmann (1999), McQuail (2003) dan Suharto (2006) hasil penelitian ini sesuai dengan salah satu fungsi televisi, yaitu sebagai hiburan. 4.4.3 Motif Personal

Motif personal adalah dorongan atau kebutuhan untuk menguatkan identitas pribadi. Motif personal mengukur seberapa tinggi kebutuhan akan penguatan identitas diri. Tabel 4 menjelaskan bahwa rataan skor untuk responden dari SMA

(11)

Negeri adalah rendah, yaitu dengan skor 2,07. Skor untuk responden di SMA Swasta adalah 2,17 dan dapat dikategorikan rendah pula. Secara keseluruhan, motif personal responden terhadap sinetron adalah rendah (2,11). Siswa menghabiskan banyak waktunya di sekolah dan mengerjakan tugas serta les sehingga mereka menguatkan identitasnya sebagai pelajar. Sekolah negeri yang dijadikan sebagai tempat penelitian adalah dua dari tiga sekolah yang menerapkan Rintisan SMA Bertaraf Internasional (RSBI), dan salah satu dari lokasi penelitian ini juga menyelenggarakan program akselerasi.

4.5 Pola Menonton Sinetron

Pola menonton sinetron adalah tindakan menonton sinetron yang dilakukan secara terus-menerus sehingga membentuk pola tertentu. Pola menonton sinetron diukur dengan mengukur peubah intensitas menonton sinetron, durasi menonton sinetron dan jumlah sinetron yang ditonton. Rataan skor yang menggambarkan pola menonton sinetron disajikan pada Tabel 5. Rataan skor ini kemudian dibagi menjadi tiga bagian, yaitu rendah, sedang dan tinggi.

Tabel 5. Rataan skor pola menonton sinetron responden Pola Menonton

Sinetron

Rataan Skor*

SMA Negeri SMA Swasta Keseluruhan SMA

Intensitas 1,44 2,20 1,76

Durasi 1,46 1,93 1,66

Jumlah sinetron 1,35 1,93 1,60

Total Rataan Skor 1,55 2,30 1,87

Keterangan: *1,00-1,67= rendah; 1,68-2,33=sedang; 2,34-3,00=tinggi

Berdasarkan Tabel 4, total rataan skor pola menonton untuk di SMA Negeri tergolong rendah (1,55) sedangkan untuk di SMA Swasta tergolong sedang (2,30). Ketersediaan waktu luang dan minimnya kegiatan sehari-hari mendorong responden untuk menonton sinetron. Kegiatan ini didukung oleh perilaku keluarga terhadap sinetron. Keluarga yang melakukan pendampingan cenderung menonton sinetron bersama. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Budiman dan Abdullah (2000), yaitu menonton televisi membawa kebersamaan dan keakraban serta mempererat jalinan komunikasi. Secara keseluruhan, pola menonton sinetron untuk seluruh SMA adalah sedang (1,87).

(12)

4.5.1 Intensitas Menonton Sinetron

Intensitas menonton sinetron merupakan tingkat keseringan responden menonton sinetron dalam satu minggu. Tabel 5 memperlihatkan bahwa intensitas menonton sinetron untuk responden dari SMA Negeri adalah rendah (1,44). Rataan skor untuk responden di SMA Swasta adalah 2,20 sehingga dapat dikatakan tergolong sedang. Secara keseluruhan, responden mempunyai intensitas menonton sinetron yang sedang (1,76). Responden memiliki intensitas menonton sinetron yang rendah, yaitu satu sampai dua kali menonton sinetron dalam satu minggu. Hal ini dikarenakan responden menghabiskan enam hari dalam seminggu di sekolah dan keperluan lainnya.

Salah satu teori yang menekankan aspek terpenting dari televisi adalah teori pengatur jadwal harian (Hofmann, 1999). Hanya 18,75% dari keseluruhan SMA yang menggunakan sinetron sebagai pengatur jadwal harian. Responden tersebut menonton sinetron sinetron lima sampai tujuh kali dalam satu minggu.

4.5.2 Durasi Menonton Sinetron

Durasi menonton sinetron merupakan waktu dalam jam yang biasa digunakan responden untuk menonton sinetron setiap satu hari atau setiap satu kali menonton sinetron. Tabel 5 menunjukkan bahwa durasi menonton sinetron bagi responden dari SMA Negeri adalah rendah dan untuk SMA Swasta adalah sedang, yaitu dengan rataan skor 1,46 dan 1,93. Durasi menonton sinetron bagi keseluruhan SMA adalah rendah (1,66). Setiap satu kali menonton televisi, responden menggunakan waktunya sebanyak 15 menit sampai satu jam untuk menonton sinetron. Hal ini karena responden lebih menyukai menonton acara gosip dan musik di televisi daripada sinetron dalam waktu yang lama. Sinetron pada umumnya bercerita mengenai realitas kehidupan sehari-hari dan dapat ditebak alur ceritanya sehingga responden sering mengganti saluran dengan acara lainnya.

4.5.3 Jumlah Sinetron yang Ditonton

Jumlah sinetron yang ditonton merupakan banyaknya judul sinetron yang ditonton oleh responden. Jumlah judul sinetron yang ditonton untuk responden dari SMA Negeri tergolong rendah (1,35) dan Swasta tergolong sedang (1,93).

(13)

mayoritas responden dari SMA Negeri menonton satu judul sinetron sedangkan dari SMA Swasta menonton dua judul sinetron. Secara keseluruhan SMA, jumlah judul yang sering ditonton tergolong rendah (1,60), yakni hanya satu judul saja. Setiap satu judul sinetron masa kini umumnya ditayangkan hampir setiap hari. Oleh karena itu responden merasa cukup mengikuti hanya satu judul sinetron saja.

Judul sinetron yang paling banyak ditonton oleh responden dari SMA Negeri adalah Cinta Fitri (27,28%), Safa dan Marwah (19,70) dan Kemilau Cinta Kamila (15,15%). Responden dari SMA Swasta paling banyak menonton sinetron berjudul Cinta Fitri (30,11%), Mawar Melati (17,21%) dan Safa dan Marwah (9,68%). Secara keseluruhan SMA, mayoritas responden menonton sinetron berjudul Cinta Fitri (29%), Safa dan Marwah (13,84%) dan Mawar Melati (13,21%). Sinetron yang paling banyak ditonton oleh responden ini menurut episodenya merupakan sinetron serial karena mempunyai hubungan sebab akibat, sedangkan menurut jenis ceritanya adalah sinetron drama keluarga karena mengangkat permasalahan keluarga dengan pemeran seluruh anggota keluarga.

Haryatmoko (2007) menyatakan bahwa adegan yang mendongkrak rating sinetron adalah seks, ciuman, perkosaan, kata-kata kasar, adegan telanjang dan seks menyimpang. Mengacu pada pernyataan tersebut, berdasarkan hasil penelitian ini judul sinetron yang menjadi favorit adalah sinetron drama keluarga dan remaja bernuansa percintaan dan persaingan.

4.6 Perilaku Hedonis Remaja

Perilaku hedonis adalah tindakan yang bersifat keduniawian. Perilaku hedonis remaja diukur dengan tiga indikator, yaitu (a) perilaku konsumtif, (b) perilaku hura-hura dan (c) perilaku malas bekerja keras. Masing-masing indikator tersebut dibagi menjadi empat kelas, yaitu sangat rendah, rendah, tinggi dan sangat tinggi seperti yang tertera di Tabel 6.

Tabel 6. Rataan skor perilaku hedonis responden

Perilaku Hedonis Rataan Skor*

SMA Negeri SMA Swasta Keseluruhan SMA

Konsumtif 2,09 2,18 2,13

Hura-hura 2,10 2,31 2,19

Malas bekerja keras 2,13 2,25 2,18

Total Rataan Skor 2,11 2,25 2,17

(14)

Berdasarkan rataan skor tersebut, dapat dikatakan bahwa responden mempunyai perilaku hedonis yang rendah. Perilaku hedonis untuk responden dari SMA Negeri, SMA Swasta maupun secara keseluruhan SMA mempunyai selisih rataan skor yang sangat tipis. Rataan skor untuk responden dari SMA Negeri 2,11, dari SMA Swasta 2,25 dan secara keseluruhan SMA adalah 2,17.

4.6.1 Perilaku Konsumtif

Dalam penelitian ini, perilaku konsumtif merupakan perilaku ingin memiliki barang-barang yang digunakan orang lain meskipun sebenarnya responden tidak membutuhkannya. Rataan skor perilaku konsumtif untuk responden dari SMA Negeri dan Swasta adalah 2,09 dan 2,18 dengan total rataan skor 2,13. Dapat dikatakan bahwa perilaku konsumtif responden dari SMA Negeri, Swasta maupun keseluruhan adalah rendah. Responden menyisakan uangnya untuk ditabung dan menggunakan uangnya sesuai dengan kebutuhan serta mengecek harga terlebih dahulu sebelum membelinya.

4.6.2 Perilaku Hura-hura

Perilaku hura-hura merupakan perilaku yang cenderung ingin selalu bersenang-senang dan bernuansa glamour, misalnya sering pergi ke pusat perbelanjaan, kafe, club atau diskotik dan lain-lain. Sama halnya dengan perilaku konsumtif, perilaku hura-hura untuk responden dari SMA Negeri dan Swasta adalah rendah, dan secara keseluruhan juga tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rataan skor perilaku hura-hura untuk responden dari SMA Negeri dan Swasta serta keseluruhannya masing-masing adalah 2,10; 2,31; dan 2,19. Dari rataan skor tersebut, responden dari SMA Swasta mempunyai rataan yang paling tinggi di antara semuanya. Hal ini dikarenakan responden lebih senang berkumpul dengan teman-temannya dan bersenang-senang seperi pergi ke pusat perbelanjaan, nonton di bioskop, berkumpul dengan teman di J.Co atau Starbuck. Bahkan responden memberanikan diri pergi ke diskotik meskipun belum berumur 18 tahun agar dapat berkumpul bersama teman-temannya. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri remaja yang diungkapkan oleh Soekanto dalam Polii (2003), yaitu remaja mempunyai keinginan yang kuat untuk berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa.

(15)

4.6.3 Perilaku Malas Bekerja Keras

Malas bekerja keras merupakan perilaku enggan menjalankan kewajiban dan selalu menuntut hak atau melanggar kewajibannya, misalnya bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas, menyontek dan lain-lain. Sebagai pelajar, kewajiban responden adalah belajar dengan tekun dan mengerjakan tugas sekolah. Masing-masing rataan skor perilaku malas bekerja keras untuk responden dari SMA Negeri dan Swasta adalah 2,13 dan 2,25. Hal ini tergolong rendah untuk masing-masing SMA. Secara keseluruhan, responden berperilaku malas bekerja keras dalam tingkat yang rendah (2,18). Responden adalah siswa yang rajin ke sekolah, mengikuti proses belajar-mengajar, datang dan pulang sekolah tepat waktu serta selalu mengerjakan tugas.

4.7 Hubungan Karakteristik Individu dengan Minat dan Motif Menonton Sinetron di Televisi

Minat dan motif menonton sinetron berhubungan dengan kerakteristik individu. Minat menonton sinetron meliputi kesukaan dan ketertarikan. Motif menonton sinetron meliputi motif kognitif, diversiti dan personal. Karakteristik individu meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat prestasi dan tingkat ekonomi. Hasil penelitian mengenai hubungan karakteristik individu dengan minat dan motif menonton sinetron berdasarkan nilai koefisien korelasinya tersaji dalam tabel 7.

Tabel 7. Hubungan ksaraktersistik individu dengan minat menonton sinetron

Sekolah Karakteristik Individu Ko- rela-si uji

Nilai Koefisien Korelasi

Minat Menonton Sinetron

Motif Menonton Sinetron

Kesuka

an Keterta rikan Kognitif Diversiti Personal

SMA Negeri Jenis Kelamin 0,068 0,237 0,354* 0,228 0,040 Tingkat Pendidikan rs -0,041 0,005 0,132 0,212 0,181 Tingkat Prestasi rs -0,009 -0,170 0,158 0,102 0,257 Tingkat Ekonomi rs -0,162 -0,096 -0,068 -0,251 0,151 SMA Swasta Jenis Kelamin 0,261 0,433* 0,258 0,352 0,334 Tingkat Pendidikan rs 0,117 0,137 0,143 0,285 0,170 Tingkat Prestasi rs -0,354* -0,037 -0,210 -0,320* -0,128 Tingkat Ekonomi rs 0,172 0,290 0,415** 0,263 0,259 Keseluru han SMA Jenis Kelamin 0,097 0,268 0,246 0,193 0,136 Tingkat Pendidikan rs 0,027 0,075 0,117 0,214* 0,261* Tingkat Prestasi rs -0,176 -0,159 0,000 -0,075 0,109 Tingkat Ekonomi rs 0,051 0,166 0,140 -0,009 0,079

Keterangan: *berhubungan nyata pada α 0,05; =koefisien Chi-Square; r2 s=koefisien rank-Spearman

2  2  2 

(16)

Tabel 7 mamperlihatkan bahwa untuk SMA Negeri terdapat hubungan negatif yang tidak nyata (p>0,05) antara tingkat ekonomi dengan kesukaan dan ketertarikan terhadap sinetron. Semakin tinggi tingkat ekonomi responden dari SMA Negeri maka semakin rendah tingkat kesukaan dan ketertarikan terhadap sinetron. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di SMA Swasta. Tingkat ekonomi responden dari SMA Swasta berhubungan positif dengan tingkat kesukaan dan ketertarikan terhadap sinetron. Tabel 7 juga mamperlihatkan bahwa untuk SMA Negeri terdapat hubungan negatif yang tidak nyata (p>0,05) antara tingkat prestasi dengan kesukaan dan ketertarikan terhadap sinetron dan untuk SMA Negeri, tingkat prestasi berhubungan negatif dan nyata dengan kesukaan dan berhubungan negatif dengan ketertarikan. Semakin tinggi tingkat prestasi responden dari SMA Negeri dan Swasta maka semakin rendah minat menonton sinetron. Responden bersaing secara sehat untuk meningkat prestasinya sehingga minat terhadap sinetron pun rendah karena lebih menyukai kegiatan yang menunjang prestasinya.

Tabel 7 menunjukkan bahwa secara keseluruhan, karakteristik individu tidak berhubungan nyata dengan minat menonton sinetron. Tingkat prestasi berhubungan negatif atau berhubungan terbalik dengan minat menonton sinetron, namun hubungan ini tidak nyata. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hurlock dalam Suharto (2006) bahwa tingkat prestasi mempunyai hubungan negatif dengan minat remaja terhadap televisi. Semakin tinggi tingkat prestasi, semakin rendah minat menonton sinetron. Dalam penelitian ini, tingkat prestasi berhubungan negatif dengan minat menonton sinetron namun hubungan tersebut tidak nyata (p<0,05). Secara keseluruhan, hipotesis pertama yang berbunyi “terdapat hubungan nyata antara karakteristik individu dengan minat menonton sinetron di televisi,” ditolak.

Berbeda dengan dengan minat menonton sinetron, hanya tingkat ekonomi saja yang berhubungan dengan motif menonton sinetron untuk responden dari SMA Negeri. Tingkat ekonomi responden dari SMA Negeri berhubungan negatif dengan motif kognitif dan motif diversiti dalam menonton sinetron. Responden yang bertingkat ekonomi tinggi memenuhi kebutuhan akan hiburan dengan membaca majalah dan media cetak lain, sehingga motif diversiti dalam menonton sinetron semakin rendah. Lalu untuk responden dari SMA Swasta, sama seperti minat menonton sinetron, bahwa hanya tingkat prestasi saja yang berhubungan negatif dengan motif menonton sinetron dan hanya motif diversiti yang

(17)

berhubungan nyata negatif (p<0,05). Semakin tinggi tingkat prestasi responden dari SMA Swasta maka motif diversiti dalam menonton sinetron semakin rendah. Responden bersaing secara sehat untuk meningkat prestasinya sehingga minat terhadap sinetron pun rendah karena lebih tertarik dengan kegiatan yang menunjang prestasinya

Pada Tabel 7 tersebut terlihat bahwa tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang nyata (p<0,05) dengan motif diversiti dan personal yaitu dengan nilai korelasi 0,214 dan 0,261. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka motif diversiti dan personal dalam menonton sinetron semakin meningkat. Begitu juga, semakin rendah tingkat pendidikan maka motif diversiti dan personal dalam menonton sinetron juga semakin rendah. Data yang didapatkan di lapangan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka tingkat kesulitan mata pelajaran makin tinggi sehingga responden membutuhkan hiburan yang lebih banyak yang dalam penelitian ini adalah hiburan terhadap sinetron. Tabel 7 juga memperlihatkan bahwa karakteristik individu tidak berhubungan dengan motif kognitif responden dalam menonton sinetron. Responden memenuhi kebutuhan akan informasinya dengan menonton berita dan gosip serta membaca majalah dan informasi dari internet. Dengan demikian, hipotesis kedua yang berbunyi “terdapat hubungan nyata antara karakteristik individu dengan motif menonton sinetron,” diterima hanya untuk hubungan tingkat pendidikan dengan motif diversiti dan personal. 4.8 Hubungan Minat dan Motif Menonton Sinetron dengan Pola Menonton

Sinetron di Televisi

Minat dan motif menonton sinetron berhubungan dengan pola menonton sinetron di televisi. Minat menonton sinetron meliputi kesukaan dan ketertarikan. Motif menonton sinetron meliputi motif kognitif, diversiti dan personal. Dan pola menonton televisi meliputi intensitas dan durasi menonton sinetron serta jumlah judul sinetron yang ditonton. Hasil penelitian mengenai hubungan minat dan motif dengan pola menonton sinetron berdasarkan nilai korelasi rank Spearman tersaji dalam Tabel 8.

Terlihat pada Tabel 8 bahwa ketertarikan menonton sinetron oleh responden dari SMA Negeri dan Swasta mempunyai hubungan yang nyata (p<0,05) dan positif dengan jumlah sinetron yang ditonton. Semakin tinggi tingkat ketertarikan dalam menonton sinetron maka jumlah sinetron yang ditonton semakin banyak.

(18)

Ketertarikan ini didasarkan pada artis yang menjadi tokoh utama. Responden dari SMA Swasta mempunyai ketertarikan menonton sinetron yang lebih tinggi daripada responden dari SMA Negeri. Begitu pula, responden dari SMA Swasta mempunyai lebih banyak jumlah judul sinetron yang ditonton dibandingkan dengan responden dari SMA Negeri.

Tabel 8. Hubungan minat dan motif dengan pola menonton sinetron

Sekolah Peubah

Nilai Koefisien Korelasi rank Spearman (rs)

Pola Menonton Sinetron

Intensitas Durasi Sinetron Jumlah

SMA Negeri

Minat Menonton Sinetron

Kesukaan 0,450** 0,291* 0,292*

Ketertarikan 0,365** 0,134 0,306*

Motif Menonton Sinetron

Kognitif 0,265 0,254 0,271*

Diversiti 0,369** 0,204 0,238

Personal 0,059 0,141 0,241

SMA Swasta

Minat Menonton Sinetron

Kesukaan 0,358* 0,437** 0,373*

Ketertarikan 0,163 0,242 0,312*

Motif Menonton Sinetron

Kognitif 0,252 0,522** 0,364* Diversiti 0,339* 0,583** 0,540** Personal 0,092 0,282 0,281 Keselu ruhan SMA

Minat Menonton Sinetron

Kesukaan 0,601 ** 0,457** 0,433**

Ketertarikan 0,498 ** 0,382** 0,446**

Motif Menonton Sinetron

Kognitif 0,391 ** 0,394** 0,402**

Diversiti 0,477 ** 0,409** 0,421**

Personal 0,233 * 0,296** 0,340**

Keterangan: *berhubungan nyata pada α 0,05 **berhubungan sangat nyata pada α 0,01

Tabel 8 memperlihatkan bahwa minat menonton sinetron berhubungan sangat nyata (p<0,01) dengan pola menonton sinetron. Semakin tinggi minat menonton sinetron maka pola menonton pun semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Subiakto dalam Suharto (2006) bahwa minat menonton televisi mempengaruhi pola menonton tayangan televisi. Dengan demikian hipotesis ketiga yang berbunyi “terdapat hubungan nyata antara minat menonton sinetron dengan pola menonton sinetron” diterima.

Motif diversiti dalam menonton sinetron untuk responden dari SMA Negeri berhubungan sangat nyata (p<0,01) dengan intensitas menonton sinetron. Semakin rendah kebutuhan akan hiburan dalam menonton sinetron maka semakin rendah pula tingkat keseringan dalam menonton sinetron. Responden yang membutuhkan

(19)

sinetron untuk menghibur dirinya maka akan sering menonton sinetron tersebut. Responden dari SMA Swasta mempunyai motif diversiti yang berhubungan nyata (p<0,05) dengan intensitas menonton sinetron serta berhubungan sangat nyata dengan durasi dan jumlah sinetron yang ditonton. Responden yang membutuhkan sinetron sebagai media hiburan maka akan sering dan lebih lama menonton sinetron tersebut serta mempunyai lebih banyak judul yang ditonton.

Hubungan yang nyata antara motif menonton sinetron dengan pola menonton sinetron terlihat pada Tabel 8. Motif menonton sinetron yang terdiri dari motif kognitif, diversiti dan personal mempunyai hubungan yang sangat nyata (p<0,01) dengan pola menonton sinetron kecuali untuk hubungan motif personal dan intensitas menonton sinetron yang mempunyai hubungan nyata (p<0,05). Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh Subiakto dalam Suharto (2006) bahwa pola menonton tayangan televisi dipengaruhi oleh motif menonton. Dengan demikian, hipotesis keempat yang berbunyi “terdapat hubungan nyata antara motif dan pola menonton sinetron” diterima.

DeFleur dalam Daisiwan (2007) mengutarakan bahwa jenis kelamin mempengaruhi pola penggunaan televisi. Dalam penelitian ini, jenis kelamin berhubungan nyata (p<0,05) dengan pola menonton. Kemudian, jenis kelamin juga berhubungan nyata (p<0,05) dengan jumlah judul sinetron yang ditonton dan berhubungan sangat nyata (p<0,01) dengan durasi menonton sinetron, namun tidak berhubungan nyata dengan intensitas menonton sinetron (Lampiran 3).

Menurut hasil penelitian Apollo dan Ancok (2003), tingkat pendidikan mempengaruhi pola menonton televisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berhubungan nyata (p<0,05) dengan jumlah judul sinetron yang ditonton dan pola menonton sinetron (Lampiran 12).

4.9 Hubungan Pola Menonton Sinetron di Televisi dengan Perilaku Hedonis Remaja

Pola menonton meliputi intensitas dan durasi menonton sinetron serta jumlah judul sinetron yang ditonton. Pola menonton sinetron diduga berhubungan dengan perilaku hedonis remaja. Dalam penelitian ini, perilaku hedonis remaja meliputi perilaku konsumtif, hura-hura dan malas bekerja keras. Hasil penelitian

(20)

mengenai hubungan pola menonton sinetron dengan perilaku hedonis remaja berdasarkan nilai korelasi rank Spearman tersaji dalam Tabel 9.

Tabel 9. Hubungan pola menonton sinetron dengan perilaku hedonis remaja Sekolah

Pola Menonton Sinetron

Nilai Koefisien Korelasi rank Spearman (rs)

Perilaku Hedonis

Konsumtif Hura-hura Malas Bekerja

Keras SMA Negeri Intensitas -0,282* -0,153 0,180 Durasi -0,124 -0,187 0,120 Jumlah Sinetron 0,180 0,120 0,079 SMA Swasta Intensitas 0,000 -0,11 0,187 Durasi -0,061 0,107 0,328* Jumlah Sinetron -0,192 0,055 0,204 Keselu ruhan SMA Intensitas -0,142 -0,002 0,203* Durasi -0,084 0,009 0,138 Jumlah Sinetron -0,099 0,012 0,105

Keterangan: *berhubungan nyata pada α 0,05

Tabel 9 memperlihatkan bahwa intensitas menonton sinetron responden dari SMA Negeri berhubungan negatif dan nyata (p<0,05) dengan perilaku konsumtif. Semakin sering menonton sinetron maka semakin rendah perilaku konsumtif responden. Responden menonton sinetron di rumahnya masing-masing. Semakin sering manonton sinetron maka responden semakin jarang pergi ke luar rumah dan berbelanja dengan berlebihan. Kemudian untuk responden dari SMA Swasta, durasi menonton sinetron berhubungan nyata positif (p<0,05) dengan perilaku malas bekerja keras. Semakin lama menonton sinetron maka semakin sedikit kegiatan yang dikerjakannya karena malas beranjak dari depan televisi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Apollo dan Ancok (2003) mengenai agresivitas remaja yaitu terdapat hubungan yang nyata (p<0,05) antara intensitas menonton televisi berisi kekerasan dengan kecenderungan agresivitas remaja. Responden yang melihat tayangan kekerasan lebih sering akan menirukan adegan tersebut. Sama halnya dengan sinetron. Sinetron yang menampilkan perilaku hedonis dann kemewahan dapat membuat penonton menirukan perilaku tersebut. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan bahwa intensitas menonton sinetron tidak berhubungan nyata (p<0,05) dengan perilaku hedonis remaja. Sinetron yang menjadi favorit adalah sinetron drama keluarga, bukan sinetron yang menampilkan perilaku hedonis dan kemewahan.

Tabel 9 memperlihatkan bahwa intensitas dan pola menonton sinetron mempunyai hubungan yang nyata (p<0,05) dengan perilaku malas bekerja keras.

(21)

Semakin sering individu menonton sinetron maka perilaku malas bekerja keras pun meningkat, responden semakin malas belajar dan mengerjakan tugasnya. Pola menonton sinetron berhubungan negatif dengan perilaku konsumtif remaja. Pola menonton sinetron yang tinggi mendorong responden untuk tetap tinggal di rumah menikmati sinetron tersebut sehingga waktu untuk ke luar rumah sedikit dan perilaku konsumtif pun rendah. dengan demikian, hipotesis kelima yang berbunyi “terdapat hubungan nyata antara pola menonton sinetron dengan perilaku hedonis remaja,” diterima hanya untuk hubungan intensitas dan pola menonton sinetron dengan perilaku malas bekerja keras.

Menurut Marjohan (2009), gaya hidup hedonis dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, pendidikan dan waktu luang. Seperti yang tertera pada Lampiran 3, jenis kelamin berhubungan nyata (p<0,05) dengan perilaku konsumtif dan tidak berhubungan nyata dengan perilaku hura-hura, malas bekerja keras maupun perilaku hedonis.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang nyata (p<0,05) antara pola menonton sinetron dengan perilaku hedonis remaja. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh lingkungan sosial lain. Lingkungan sosial tersebut meliputi keluarga, teman sebaya, tetangga rumah dan media massa lain yang dalam penelitian ini tidak dikaji.

Gambar

Tabel 2. Dist ribusi responden menurut karakteristik individu  Karakteristik
Tabel 5. Rataan skor pola menonton sinetron responden  Pola Menonton
Tabel 6. Rataan skor perilaku hedonis responden
Tabel 7. Hubungan ksaraktersistik individu dengan minat menonton sinetron  Sekolah  Karakteristik  Individu   Ko-rela-si  uji
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pada tabel di bawah terlihat interaksi perlakuan mulsa dengan jarak tanam memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah polong per tanaman.. Perlakuan mulsa dan jarak

Sedangkan jumlah responden yang memiliki kebiasaan menonton televisi dengan jarak yang tidak memenuhi kriteria sebanyak 65 (37,8%) responden yang terdiri dari 28

Responden laki-laki yang bertempat tinggal dikost dengan lama waktu menonton TV &lt; 2 jam ada 34%, sedangkan responden perempuan yang bertempat tinggal di kost dengan lama waktu

Uji Duncan menunjukkan bahwa P3 berbeda nyata (P&lt;0,05) dengan P0, P1 dan P2, namun P0 tidak berbeda nyata (P&gt;0,05) dengan P1 dan P2 pada perlakuan P3 lebih tinggi yaitu

Hasil statistik menunjukkan dengan nilai p= (0,000) &lt; 0,05 sehingga dapat diinterprestasikan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada tingkat kecemasan responden

Hasil pengamatan awal pembelajaran di kelas V SDN Salatiga 05 menunjukkan bahwa kemampuan menalar siswa masih rendah. Hal ini terlihat dari sebagian besar siswa

Setelah dilakukan uji kuesioner kepada 30 responden, nilai reliabilitas yang diperoleh untuk minat menonton program sinetron di televisi adalah 0,841, motif menonton program

Dari data di atas, diperoleh keterangan sebanyak 6 atau 8,11% responden yang menyatakan sangat setuju terhadap kesan yang di dapat tentang tugas dan wewenang polisi setelah menonton