25
PENGGUNAAN STICK ICE CREAM
PADA PENGAJARAN RECOUNT TEXT
Nurnaningsih
English Department, Undergraduate Program, Faculty of Teacher Training and Education Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Indonesia
ABSTRACT
The purpose of this study was to describe the use of ice cream sticks in teaching recount text on Reading learning, which usually makes students feel bored and uninterested especially when it comes to the assignment section.In addition, this study also describes the advantages and disadvantages of applying ice cream sticks in the classroom. This study included qualitative research. It was not using the description of findings using numbers.Data retrieval techniques use observation and documentation. It focused on learning in class in recount text lessons. Based on the research that has been done, it can be concluded as follows: 1. Ice cream Stick can be used for the learning process that makes students read based on the movement of ice cream sticks in the song round. Besides, ice cream Stick can also be used to make students want to work on exercises related to recount text that has been prepared by the teacher.2 advantages of ice cream stick is flexible usage because it does not require electricity and the disadvantage is to make the teacher think creatively so that if the teacher is not creative then the teacher can not be able to use this ice cream stick variedly to attract students in the spirit of learning English, especially recount text.
Keywords: stick ice cream, recount text, reading ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan stick ice cream dalam mengajar recount text pada pembelajaran Reading, yang biasanya pelajaran ini selalu membuat siswa merasa bosan dan tidak tertarik terutama pada saat sampai pada bagian penugasan. Selain itu, penelitian ini mendeskripsikan juga untuk kelebihan dan kelemahan dari penerapan stick ice cream di dalam kelas. Penelitian ini termasuk penelitian qualitative dengan tidak menggunakan penjabaran temuan dengan menggunakan angka. Tehnik pengambilan data menggunakan observasi dan dokumentasi yang difokuskan pada pembelajaran dikelas di pelajaran recount text. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan maka di dapat kesimpulan sebagai berikut: 1. Stick ice cream dapat digunakan untuk proses pembelajaran yang membuat siswa membaca berdasarkan gerakan stick ice cream di dalam putaran lagu dan Stick ice cream juga dapat digunakan untuk membuat siswa mau mengerjakan soal yang berhubungan dengan recount text yang sudah di persiapkan oleh pengajar. 2 kelebihan stick ice cream adalah flexible penggunaannya karena tidak memerlukan listrik dan kekurangannya adalah membuat pengarajar berfikir kreatif sehingga jika pengajar tidak kreatif maka pengajar tidak akan dapat menggunakan stick ice cream ini secara bervariasi untuk menarik siswa untuk semangat belajar bahasa Inggris khususnya recount text.
Kata Kunci: stick ice cream, recount text, reading
PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia selalu mengedepankan keterbaruan ilmu. Bangsa Indonesia menginginkan generasi penerus bangsa tidak tertinggal untuk ilmu, tehnologi. Bangsa Indonesia menginginkan generasi penerus bangsa sebagai calon pemimpin bangsa di
26
kemudian hari memiliki kepintaran dan keterampilan yang tidak kalah dengan bangsa lain. Sehingga dalam dunia pendidikan di Indonesia terdapat sejumlah mata pelajaran yang wajib dipelajari yang bertujuan menghasilkan penerus bangsa yang kompeten dan berkarakter bangsa.
Salah satu jenjang pendidikan yang ada di Indonesia adalah SMA atau Sekolah Menengah Atas. Terdapat 9 mata pelajaran wajib dan terdapat beberapa mata pelajaran peminatan akademik bagi SMA dan mata pelajaran peminatan akademik dan vokasi bagi SMK. Hal ini sesuai dengan peraturan menteri Pendididkan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 70 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan. Selanjutnya peraturan menteri tersebut membagi 9 mata pelajaran wajib di jenjang pendidikan SMA yang dibagi menjadi 2 kategori yaitu kelompok A dan kelompok B. Kelompok B terdapat 3 mata pelajaran wajib yang dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan mata pelajaran muatan local yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Sedangkan kelompok A terdapat 6 mata pelajaran wajib dan Bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran kelompok A. Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang dikembangkan oleh pusat dalam hal ini adalah dinas pendidikan di bawah naungan menteri pendidikan. Selanjutnya Bahasa Inggris ini menjadi salah salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional yang diselenggarakan serentak secara nasional. Pada kenyataannya bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang menjadi momok bagi siswa.
Pendahuluan
Berdasarkan pemaparan diatas, permasalahan utama dari pengajaran bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit untuk dimengerti dan difahami. Siswa tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena Bahasa Inggris adalah bahasa ke dua atau bahasa asing yang kemudian dimaknai sebagai bahasa yang datang atau dikenal siswa setelah mereka mendapatkan bahasa ibu atau bahasa sehari-hari, biasanya adalah bahasa daerah. Tidak hanya itu saja, siswa di Indonesia selain memiliki bahasa daerah sebagai bahasa ibu, di sekolah mereka mendapatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa instruksi karena bahasa Indonesia adalah bahasa nasional bangsa Indonesia. Sehingga bahasa daerah dan bahasa nasional tersebut sudah terekam dengan baik dalam ingatan para siswa.
Ingatan yang baik terhadap kosakata maupun tatabahasa yang ada di dalam bahasa ibu maupun bahasa nasional menjadi batu sandungan bagi siswa yang sedang mempelajari bahasa Inggris. Efek dari bahasa Inggris sebagai bahasa asing bagi siswa yang memiliki bahasa ibu yang berbeda dengan bahasa Inggris adalah kosakata. Jumlah kosakata yang dimiliki menjadi salah satu faktor siswa merasa kesulitan berbicara secara lisan maupun tulis dengan menggunakan bahasa Ingris. Fungsi kosakata Tarigan (2015: 2) bahwa kualitas keterampilan berbahasa seseorang bergantung kepada kuantitas dan kualitas kosakata yang dimilikinya, berarti jika seseorang ingin dapat berkomunikasi dengan baik baik secara lisan maupun tertulis maka kosakata haruslah ditingkatkan untuk perbendaharaannya. Semakin kaya kosakata yang dimiliki, semakin besar pula kemungkinan untuk terampil berbahasa seperti berbicara dan menulis. Sehingga siswa yang tidak memiliki kosakata yang cukup, memiliki kesulitan dalam menggunakan bahasa Inggris secara lisan maupun tulis.
Selain itu, bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki susunan tata bahasa yang jauh berbeda dengan Bahasa Inggris. Salah
27
satu tata bahasa dalam bahasa Inggris adalah memiliki susunan kata yang penyusunan katanya terbalik dengan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa, sebagai contoh adalah noun phrase atau frase benda: beautiful girl yang berarti gadis cantik. Beautiful Girl ini dalam bahasa Indonesia berarti cantik gadis karena dalam bahasa Indonesia tidak ada susunan kata yang dibalik susunannya seperti dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris membagi jenis kata kerja menjadi tiga jenis yaitu kata kerja bentuk I (verb I), kata kerja bentuk ke II (Verb II) dan kata kerja bentuk ke III (Verb III) dan hal ini tidak ditemui dalam bahasa Indonesia tetapi untuk bahasa jawa kata kerja tidak dibagi berdasarkan jenisnya tetapi berdasarkan tingkatan kesopanan, dalam hal ini ada hubungannya dengan siapa yang sedang berbicara dan siapa yang diajak berbicara. Susunan tata bahasa inilah yang seringkali membuat siswa merasa susah belajar bahasa Inggris.
Selain tata bahasa, siswa merasa bosan pada pembelajaran reading atau membaca. Siswa tidak fasih dalam membaca kalimat berbahasa Inggris. Cara membaca yang masih kaku juga menjadi salah satu sebab kebiasaan lidah melafalkan huruf “r” yang tidak sama antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Pelafalan huruf “r” pada bahasa Indonesia sama cara melafalkannya dengan bahasa Jawa.
Hal lain yang ditemui di lapangan dalam pengajaran reading atau membaca adalah antara tulisan dan cara bacanya tidak sama, sebagai contoh “book” dibaca “buk” dan masih banyak lagi. Siswa sering merasa malas membaca karena siswa harus berfikir dulu untuk tulisan yang harus dibaca apakah dibaca seperti yang tertulis ataukah tidak.
Kondisi didalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas, banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru karena dari awal diterangkan pelajaran tersebut, siswa merasa tidak faham dan tidak ada keinginan untuk faham. Didalam kelas, siswa berbicara dengan temannya di tengah-tengah pelajaran sehingga tidak memperhatikan pelajaran. Ketika sampai pada mengerjakan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang berisi soal-soal, siswa tidak mengerjakan dengan serius terlihat dari sikap siswa yang malas-malasan dalam mengerjakan, apalagi soal bacaan dalam bahasa Inggris membuat siswa merasa lebih malas mengerjakan LKS. Soal dalam reading text selalu dekat dengan jumlah kosakata dalam tiap teks berkisar antara tiga ratus lima puluh hingga lima ratus kosakata. Respon siswa melihat jumlah kata dalam teks bahasa Inggris dapat dilihat dari wajah siswa yang tidak suka dan ketika ditanya oleh guru dijawab bahwa mereka merasa terbebani dengan teks yang segitu panjangnya, menurut para siswa. Siswa merasa malas juga untuk melakukan pemahaman bacaan karena mereka harus mengerti isi bacaan. Cara mengerti isi bacaan yaitu dengan memiliki penguasaan kosakata yang cukup minimal 350 kosakata.
Persoalan diatas telah membuat guru pengajar di jurusan kelas X merasa tertantang untuk menggunakan media pembelajaran yang dapat membuat siswa bersemangat mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dan memiliki keinginan dan kemampuan dalam menjawab soal-soal yang ada di dalam LKS maupun kemampuan dalam memahami sebuah bacaan pada suau teks.
Berdasarkan pemaparan di atas, pengajar dalam hal ini adalah guru dituntut untuk dapat kreatif dalam mengajar bahasa Inggris di kelas. Daya kreatifitas guru dalam menggunakan media pembelajaran sangatlah diperlukan dalam proses pembelajaran. Daya kreatifitas guru di kelas dalam proses pembelajaran tersebut dapat membuat siswa merasa nyaman dan senang dalam belajar bahasa Inggris. Selain itu, kreatifitas guru dapat
28
mengurangi bahkan menghilangkan permasalahan yang ada di dalam kelas. Sehingga cara guru menggunakan media pembelajaran yang kreatif dan keberagaman penggunaan media pembelajaran tersebut merupakan latar belakang yang mengungkap masalah-masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini sehingga peneliti tertarik dengan proses pembelajaran khususnya pada proses assessmen yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan media pembelajaran ice cream stick pada pengajaran grammar “Recount Text” Di SMA Veteran Sukoharjo. Proses pembelajaran yang kreatif dan menarik yang digunakan oleh pengajar bahasa Inggris sangatlah menarik untuk diteliti. Alasannya adalah tidak semua pengajar khususnya pengajar bahasa Inggris memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukan kreatifitas dalam mengajar. Diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan wawasan dan pandangan baru tentang media pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengajar bahasa Inggris. Stick Ice cream biasanya digunakan sebagai media mengajar di mata pelajaran matematika sebagai salah satu alat bantu hitung. Stick ice cream ini telah dapat digunakan dengan baik oleh guru bahasa Inggris SMA Veteran Sukoharjo untuk menjadi alat asessment dalam mengajar Recount Text sehingga siswa mau mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru didalam kelas. Berdasarkan diskripsi kegiatan di pembelajaran bahasa Inggris di kelas X SMA Veteran Sukoharjo, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang memiliki batasan penelitian agar terlihat jelas batas dan ruang lingkup permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Batasan masalah tersebut adalah penelitian tersebut mengamati respon siswa kelas XI SMA Veteran Sukoharjo dalam pembelajaran bahasa Inggris yang dikhususkan pada pembelajaran Recount Text.
Latar Belakang Masalah
Berdasarkan penjabaran penjelasan dalam latar belakang masalah maka peneliti memunculkan rumusan masalah sebagaimana berikut ini:
1. Bagaimanakah cara penerapan ice cream stick sebagai media pembelajaran “Recount Text”?
2. Apakah kelebihan dan kekurangan dari menggunakan ice cream stick pada pembelajaran “Recount Text”?
METODOLOGI PENELITIAN
Permasalahan yang di teliti atau dikaji pada penelitian kali ini adalah penelitian yang berpusat pada kejadian alami tanpa ada rekaan yang bersifat social dan dinamis karena yang diteliti adalah manusia yang berkoordinasi dan bekerjasama dengan manusia yang lain disekitarnya. Berdasarkan penjelasan tersebut penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono (2011: 15), bahwa deskripsi kualitatif adalah pendekatan yang dilakukan secara utuh dengan peneliti sebagai instrument kunci dari penelitian. Kemudian hasil dari pendekatan tersebut dijelaskan oleh peneliti dengan mendiskrpsikannya dengan menggunakan kata-kata.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Veteran Sukoharjo pada siswa kelas XI yang diambil sebagai lokasi penelitian adalah kelas XI jurusan IPA.
Sumber Data
29
1. Data primer, merupakan informasi utama dalam penelitian, meliputi seluruh data kualitatif yang diperoleh melalui kegiatan observasi, dan dokumentasi. Dalam hal ini, yang menjadi data penelitian adalah deskripsi dari penggunaan ice cream stick pada Pengajaran reading bagi siswa kelas XI SMA Veteran Sukoharjo, yang menjadi sumber data adalah penggunaan ice cream stick dan respon siswa diPengajaran Reading “Recount Text”. 2. Data sekunder, merupakan data yang diperoleh melalui buku–buku referensi dan jurnal
berupa pengertian–pengertian dan teori–teori yang ada hubungannya dengan permasalahan yang sedang diteliti.
Tehnik Pengumpulan Data
Adapun prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain observasi, dan dokumentasi.
Observasi
Observasi merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian, observasi dilakukan untuk mengetahui secara detail tentang lokasi maupun kondisi tempat (sekolah) yang akan di teliti baik dari segi siswa maupun dari sisi cara mengajar siswa, dan respon dari siswa yang diajar.
Dokumentasi
Dokumen diartikan sebagai suatu catatan tertulis/gambar yang tersimpan tentang sesuatu yang sudah terjadi. Dokumentasi merupakan bukti fisik berupa foto yang diambil pada saat mengadakan penelitian, dalam kegiatan observasi, dan pengamatan proses pembelajaran dan berupa rekaman atau video pada saat siswa mendapat pembelajaran di dalam proses asesmen.
Tehnik Analisa Data
Sedangkan analisis data dalam penelitian ini, Milles dan Hubberman (2012: 141) menjelaskan bahwa analisis data merupakan langkah-langkah untuk memproses temuan penelitian yang telah ditranskripkan melalui proses reduksi data, yaitu data disaring dan disusun lagi, dipaparkan, diverifikasi atau dibuat kesimpulan.
Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan penelitian. Tahapan yang dilalui dalam melakukan penelitian ini adalah
1. Identifikasi, perumusan masalah
2. Merumuskan dua masalah yang sudah di tuliskan di bab I 3. Studi pendahuluan
4. Berdasarkan data yang telah ditemukan, dan mengetahui apa yang akan diteliti, tim peneliti melakukan pencariaan bahan referensi yang akan digunakan menjelaskan bab II dan melakukan observasi ditempat penelitian akan dilangsungkan.
5. Pengumpulan data
30
kegiatan yang terjadi di dalam kelas reading dalam pengajaran recount text 7. Pengolahan data
8. Setelah mendata penelitian dengan jumlah data yang cukup, peneliti mulai mengolah data. Membagi data yang dapat digunakan dalam penelitian maupun data yang tidak dapat digunakan di dalam penelitian.
9. Analisis Data
10. Dari pengumpulan data yang dapat dipakai maka data tersebut dipilah berdasar teori yang sudah digunakan.
11. Menarik kesimpulan dengan berdasar data yang sudah diambil pada tahap ini, kemudian mengambil kesimpulan untuk menjawab bab I yaitu di bagian perumusan masalah.
Temuan dan diskusi
Penerapan stick ice cream sebagai media pembelajaran “Recount Text”
Pada pembelajaran reading, stick ice cream dapat digunakan sebagai media yang membantu dalam proses pembelajaran. Terdapat dua scenario yang dapat digunakan. Stick ice cream sebagai media pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, pengajar harus kreatif dalam membuat proses pembelajaran di kelas berlangsung lancar, terkendali dan mudah di fahami. Lacar, yang dimaksud dengan lancar pada saat proses pembelajaran guru tidak menemui masalah dalam menyelenggarakan proses pebelajaran secara menyeluruh. Contoh yang dapat diambil semisal, tidak memerlukan hubungan dengan listrik ketika mengajar dengan menggunakan stick ice cream. jika hal ini terjadi dalam proses pemelajaran dimana pengajar memerlukan listrik untuk mengajar maka guru harus segera menyiapkan plan B atau rencana cadangan. Sangat tidak dianjurkan bagi guru, keika rencana awal dalam mengajar tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, kemudian siswa otomatis langsung diminta mengerjakan lks atau butir-butir soal yang lain. Dengan tehnik atau metode mengajar apapun, siswa tetap memerlukan arahan dari guru.
Stick ice cream adalah salah satu media pembelajaran yang tidak memerlukan listrik dalam mengaplikasikannya, sehingga media pembelajarqan ini sangat flexible untuk dapat digunakan dimana saja.
Penerapan stick ice cream yaitu dengan melakukan beberapa langkah2 sebagai berikut:
a. Siapkan stick ice cream sejumlah siswa yangterdapat di dalam kelas.
b. Setiap stick ice cream tersebut ditempeli kertas putih dengan memberi tulisan diatas kertas tersebut dengan tulisan: I. paragraph 1, I paragraph 2, dst. Maksud dari tulisan tersebut adalah I menunjukkan kelompok pertama yang diminta oleh pengajar untuk membaca, kemudian paragraph 1 adalah yang dibaca siswa adalah paragraph pertama dari teks tersebut.jadi angka romawi menunjukkan gelombang membaca siswa tersebut, gelombang yang dimaksud di sini adalah giliran pertama dari teks tersebut. Sehingga jumlah gelombang atau giliran ini disesuikan dengan jumlah siswa di kelas dan juga
31
banyak paragraph dari teks tersebut Sedangkan paragraph ke 1, maksudnya adalah yang dibaca hanya paragraph ke 1 itu saja seperti yang tertera di tulisan.
c. Pengajar atau guru meminta siswa untuk menyiapkan teks yang akan dibaca dan diberi kesempatan selama kurang lebih 10 menit untuk membaca teks tersebut secara mandiri. d. Pengajar membagi stik yang sudah dipersiapkan, dengan pembagian satu anak
mendapatkan satu stick.
e. Setelah itu pengajar memutar lagu yang ada di hpnya dengan ketentuan ketika lagu tersebut dihentiakn oleh pengajaar maka stick ice cream yang sebelumnya bergerak memutar dari satu siswa ke siswa di sebelahnya akan berhenti.
f. Pengajar memberi arahan lagi untuk menentukan siapa siswa yang mendapatkan giliran membaca. Penentu giliran membaca adalah pada tulisan gelombang. Ketika permainan mulai maka yang pertama sekali untuk mendapatkan giliran membaca adalah yang mendapatkan stik bertuliskan gelombang I teks ke 1.
g. Hal ini diputar seiring dengan berapa kali pengajar memutuskan teks tersebut akan dibaca. Hal ini disesuaikan dengan kompetensi dasar dan kebutuhan siswa untuk mendapatkan kefasihan membaca.
h. Setelah proses reading aloud atau belajar membaca dengan keras selesai maka giliran pengajar untuk memberi review atas kesalahan membaca yang telah di lakukan oleh para siswa. Kata kata yang salah baca tersebut ditulis di papan tulis kemudian pengajar memberi contoh cara membaca yang benar dan setelahnya siswa mengulang cara memebaca seperti yang diajarkan oleh pengajarnya. Hal ini dilakukan beberapa kali hingga dirasa cukup untuk siswa untuk mengingat cara membaca yang benar.
Stick ice cream sebagai media untuk melakukan assessment
Stick ice cream selain digunakan untuk melatih kemampuan membaca siswa, media ini juga dapat digunakan untuk assessment pada siswa. Kegitaan ini ditujukan untuk mengukur seberapa baik siswa dapat memahami materi yang digunkan oleh pengajar. Assessmet dengan menggunakan stick ice cream dapat digunakan dengan meggunakan tahapan sebagai berikut:
a. Siapkan stick ice cream sejumlah siswa yang terdapat di dalam kelas.
b. Setiap stik diberi nomer bisa dengan menuliskan nomer pada setiap stick tersebut boleh di ujung stick tersebut atau dengan menempelkannya.
c. Pada nomer tersebut diberi nomer untuk siswa kerjakan. Semisal saja, pengajar memiliki 5 tipe jenis soal yang berbeda antara satu dengan yang lain. Setiap tipe soal diiberi 5 nomor soal. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kecurangan siswa dalam mengerjakan soala yang diberikan oleh pengajar. 5 tipe soal yang berbeda membuat siswa kesulitan dalam mencontek pekerjaan temannya. Hal ini membuat pengajar benar benar mendapatkan hasil pemahaman siswa yang sebenarnya.
Kelebihan dan kekurangan stick ice cream sebagai media pembelajaran.
Berdasarkan pengamatan penerapan stick ice cream di kelas maka didapat kelebihan maupun kekurangan stick ice cream.
32 Kelebihan
Tidak memerlukan listrik dalam menggunakannya, jika listrik di sekolah atau di kelas mati maka pengajar atau guru tetap dapat mengajar dengan tenang. Pembelajaran tidak terganggu. Hal ini disebabkan oleh penggunakan konsentrasi dan focus juga memelukan keterampilan atau kecekatan dalam menggerakkan stick ice cream kepada teman yang ada di sebelahnya.
Kekurangan
Stick ice cream sangat memerlukan daya imaginasi dan kreasi dari pengajar dalam menggunakannya sebagai media pembelajaran di dalam kelas. Jika pengaajar atau guru tidak menggunakan daya imaginasi untuk menggerakkan kreatifitasnya maka siswa dalam belajar cepat merasa bosan karena metode mengajar selalu monoton. Media pembelajaran yang benar-benar membuat siswa menjadi malas belajar pada mata pelajaran tertentu adalah siswa hanya menggunakan buku materi dan LKS secara terus menerus. Hal ini menjadi salah satu satu pemicu siswa menjadi tidak suka dengan salah satu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran. Pengajar atau guru harus menghindari hal ini. Guru seharusnya memiliki metode maupun media mengajar yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan siswa dalam memahami sebuah pelajaran.
Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang masalah yang ditemui di kelas, tentang kesulitan siswa untuk menguasai bahasa Inggris dan keinginan belajar siswa yang rendah. Sehingga terdapat 2 permasalahan dalam pengkajian ini yang di simpulkan sebagai berikut
Penerapan stick ice cream sebagai media pembelajaran “Recount Text”
Penggunaan stick ice cream sebagi media pembelajaran di kelas bahasa Inggris untuk pengajaran kelas reading, dapat digunakan untuk 2 hal, yaitu:
1. Pada proses pembelajaran, terdapat 8 langkah secara rinci. Dimulai dari tahap pertama penyiapan stick ice cream, pemberian tanda giliran membaca hingga tahapan terakhir pengajar memberikan contoh membaca kosakata bahasa Inggris yang benar.
2. Pada proses assessment, terdapat 3 tahapan dalam menerapkannya sebagai media assessment di kelas. Pada tahap ini stick ice cream berfungsi sebagai penunjuk bagi siswa untuk memilihkan secara acak menguakan stick ice cream tersebut, siswa mendapat tipe soal yang mana untuk dikerjakan.
Kelebihan dan kekurangan stick ice cream sebagai media pembelajaran
Dalam pengamatan pada stick ice cream saat menerapkannya di kelas terdapat dua hal yan ditemukan, yaitu
1. Kelebihan, tidak tergantung dengan keberadaan listrik seperti media pembelajaran jaman sekarang yang hampir semuanya memerlukan listrik. Sehingga tidak mempengaruhi jika listrik padam secara mendadak.
33
2. Kekurangan, stick ice cream ini memerlukan daya imajinasi yang mendorong kreatifitas mengajar pengajar di kelas. Jika pengajar tidak kreatif dalam mengajar maka bisa dipastikan siswa merasa bosan di dalam kelas.
Bibliography
Conti, Gregory 2011. Defining a Rule for the Use of Infinitive and Gerund Complements.Engllish Language Teaching. Vol.4, No.3 September 2011
Daryanto (2012). Media pembelajaran. Bandung: PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera. Romadiyah, Umi. 2014. Pembelajaran STAD dan TSTS Bermedia Ice Cream Stick pada
Operasi Hitung Bilangan Bulat.Jurnal pendidikan Sains. Vol. 2 No. 2. Juni 2014. http: //journal.um.ac.id/index.php/jps/article/view/4502
Suharti, Sri. 2018. Penerapan Media Stik Ice Cream Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas I-A Di Sdn Sumorame Kecamatan Candi Sidoarjo /JMPOnline Vol. 2No. 5Mei (2018) 507-5202. http: //e-jurnalmitrapendidikan.com/index.php/e-jmp/article/view/324
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitaf, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Syukur, Abdul (2015). Nilai strategis kompetensi professional dan kompetensi pedagogik guru dalam peningkatan hasil ujian nasional (Studi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Global Blotongan Kota Salatiga). Inferensi. Vol.9, No. 2, Desember 2015