• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KELAPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KELAPA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN

AGRIBISNIS KELAPA

Edisi Kedua

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Departemen Pertanian

(2)
(3)

SAMBUTAN

MENTERI PERTANIAN

Atas perkenan dan ridho Allah subhanahuwata’ala, seri buku tentang prospek dan arah kebijakan pengembangan komoditas pertanian edisi kedua dapat diterbitkan. Buku-buku ini disusun sebagai tindak lanjut dan merupakan bagian dari upaya mengisi “Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan” (RPPK) yang telah dicanangkan Presiden RI Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 di Bendungan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Propinsi Jawa Barat. Penerbitan buku edisi kedua ini sebagai tindak lanjut atas saran, masukan, dan tanggapan yang positif dari masyarakat/pembaca terhadap edisi sebelumnya yang diterbitkan pada tahun 2005. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih. Keseluruhan buku yang disusun ada 21 buah, 17 diantaranya menyajikan prospek dan arah pengembangan komoditas, dan empat lainnya membahas mengenai bidang masalah yaitu tentang investasi, lahan, pasca panen, dan mekanisasi pertanian. Sementara 17 komoditas yang disajikan meliputi: tanaman pangan (padi/beras, jagung, kedelai); hortikultura (pisang, jeruk, bawang merah, anggrek); tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, tebu/gula, kakao, tanaman obat, kelapa, dan cengkeh); dan peternakan (unggas, kambing/domba, dan sapi).

Sesuai dengan rancangan dalam RPPK, pengembangan produk pertanian dapat dikategorikan dan berfungsi dalam: (a) membangun ketahanan pangan, yang terkait dengan aspek pasokan produk, aspek pendapatan dan keterjangkauan, dan aspek kemandirian; (b) sumber perolehan devisa, terutama terkait dengan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif di pasar internasional; (c) penciptaan lapangan usaha dan pertumbuhan baru, terutama terkait dengan peluang

BHINEK

A TUNGGALIK

(4)

pengembangan kegiatan usaha baru dan pemanfaatan pasar domestik; dan (d) pengembangan produk-produk baru, yang terkait dengan berbagai isu global dan kecenderungan perkembangan masa depan. Sebagai suatu arahan umum, kami harapkan seri buku tersebut dapat memberikan informasi mengenai arah dan prospek pengembangan agribisnis komoditas tersebut bagi instansi terkait lingkup pemerintah pusat, instansi pemerintah propinsi dan kabupaten/kota, dan sektor swasta serta masyarakat agribisnis pada umumnya. Perlu kami ingatkan, buku ini adalah suatu dokumen yang menyajikan informasi umum, sehingga dalam menelaahnya perlu disertai dengan ketajaman analisis dan pendalaman lanjutan atas aspek-aspek bisnis yang sifatnya dinamis.

Semoga buku-buku tersebut bermanfaat bagi upaya kita mendorong peningkatan investasi pertanian, khususnya dalam pengembangan agribisnis komoditas pertanian.

Jakarta, Juli 2007 Menteri Pertanian

Dr. Ir. Anton Apriyantono, MS

(5)

KATA PENGANTAR

Bagi masyarakat Indonesia, kelapa merupakan bagian dari kehidupannya karena semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya. Di samping itu, arti penting kelapa bagi masyarakat juga tercermin dari luasnya areal perkebunan rakyat yang mencapai 98% dari 3,74 juta ha dan melibatkan lebih dari tiga juta rumah tangga petani. Pengusahaan kelapa juga membuka tambahan kesempatan kerja dari kegiatan pengolahan produk turunan dan hasil samping yang sangat beragam.

Berangkat dari besarnya potensi pengembangan produk serta peluang ekonomi perkelapaan di tingkat makro dan mikro, pengembangan industri kelapa mempunyai prospek yang sangat baik. Untuk itu, investasi merupakan syarat mutlak karena nilai tambah dari pengolahan kelapa ke depan ditentukan oleh kreativitas dalam pengembangan produk turunannya. Guna mendorong minat investor, tulisan ini menyajikan prospek dan arah pengembangan agribisnis kelapa di Indonesia, terutama informasi tentang lokasi, kebutuhan investasi, dan dukungan kebijakan pemerintah dalam fungsinya sebagai regulator dan fasilitator. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) agribisnis kelapa.

Jakarta, Juli 2007 Kepala Badan Litbang Pertanian

(6)

TIM PENYUSUN

Penanggung Jawab : Dr. Ir. Achmad Suryana

Kepala Badan Litbang Pertanian Ketua : Dr. Bambang Prastowo

Kepala Pusat Litbang Perkebunan Anggota : Dr. Zainal Mahmud

Dr. Agus Wahyudi

Ir. Gatoet Sroe Hardono, MSc. Dr. Hengky Novarianto

Ir. Henkie T. Luntungan, MSc. Ir. Dedi Soleh Efendi, MS Badan Litbang Pertanian

Jl. Ragunan No. 29 Pasar Minggu Jakarta Selatan

Telp. : (021) 7806202 Faks. : (021) 7800644

Em@il : [email protected] Lembaga Riset Perkebunan Indonesia Jl. Tentara Pelajar Bogor 16111 Telp. : (0251) 313083, 336194 Faks. : (0251) 336194

Em@il : [email protected]

(7)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Investasi merupakan motor pertumbuhan ekonomi, yang sekaligus menjadi motor modernisasi pertanian. Tulisan ini merupakan tinjauan mengenai kondisi, prospek dan arah pengembangan agribisnis kelapa, sebagai informasi bagi para pemangku kepentingan tentang peluang investasi dari hulu hingga hilir dari agribisnis kelapa maupun aktivitas bisnis penunjangnya.

Sebagai produsen terbesar di dunia, kelapa Indonesia menjadi ajang bisnis raksasa mulai dari pengadaan sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida, dll); proses produksi, pengolahan produk kelapa (turunan dari daging, tempurung, sabut, kayu, lidi, dan nira), dan aktivitas penunjangnya (keuangan, irigasi, transportasi, perdagangan, dll).

Daya saing produk kelapa pada saat ini terletak pada industri hilirnya, tidak lagi pada produk primer, dimana nilai tambah dalam negeri yang potensial pada produk hilir dapat berlipat ganda daripada produk primernya. Usaha produk hilir saat ini terus berkembang dan memiliki kelayakan yang tinggi baik untuk usaha kecil, menengah, maupun besar. Pada gilirannya industri hilir menjadi lokomotif industri hulu.

Produk akhir yang sudah berkembang dengan baik adalah desiccated

coconut (DC), coconut milk/cream (CM/CC), coconut charcoal (CCL), activated carbon (AC), brown sugar (BS), nata de coco (ND), dan coconut fiber (CF). Yang baru mulai berkembang adalah virgin coconut oil (VCO) dan coconut wood (CW). Produk DC, CCL, AC, BS, dan CF sudah masuk pasar

ekspor dengan perkembangan yang pesat, kecuali CF yang perkembangan ekspornya relatif kurang, karena belum terpenuhinya standar, walaupun permintaan dunia terus meningkat. Kopra dan CCO sebagai produk setengah jadi diharapkan dapat diolah lebih lanjut menjadi produk oleochemical

(OC). Saat ini Indonesia masih menjadi pengimpor neto.

Permintaan pasar ekspor produk olahan kelapa umumnya menunjukkan trend yang meningkat. Sebagai contoh, pangsa pasar DC Indonesia terhadap ekspor DC dunia cenderung meningkat dalam lima tahun terakhir. Kecenderungan yang sama terjadi pada arang aktif. Sebaliknya pangsa ekspor CCO mengalami penurunan. Situasi ini mengisyaratkan perlunya mengarahkan pengembangan produk olahan pada produk-produk baru yang permintaan pasarnya cenderung meningkat (demand driven).

(8)

Dengan produksi buah kelapa rata-rata 15,5 miliar butir per tahun, total bahan ikutan yang dapat diperoleh 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut. Industri pengolahan komponen buah kelapa tersebut umumnya hanya berupa industri tradisional dengan kapasitas industri yang masih sangat kecil dibandingkan potensi yang tersedia. Daerah sentra produksi kelapa di Indonesia adalah Propinsi Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah. Beberapa wilayah yang bukan sentra produksi tetapi memiliki potensi bahan baku tertentu yang berkualitas Untuk industri kayu, adalah NTB dan NTT.

Pengembangan industri hilir kelapa terpadu berpotensi untuk menghasilkan CCO, AC, CF, dan cuka; sedangkan yang secara parsial untuk menghasilkan VCO, OC, DC, CF, BS, dan CW. Di Sulut (terpadu: 4 unit), Sulteng (terpadu: 2 unit), Riau (terpadu: 4 unit), Jambi (terpadu dan parsial 4 unit), Jabar, Banten, Jateng, Jatim, Lampung (parsial gula kelapa masing-masing 10 unit); DIY (parsial : industri kerajinan tempurung dan sabut). NTB/NTT (parsial: furnitur dan rumah dari kayu kelapa). Untuk menunjang industri tersebut diperlukan intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan usahatani serta pembangunan infrastruktur, kelembagaan, dan dukungan kebijakan.

Program peningkatan usahatani di Riau (intensifikasi 25.000 ha, rehabilitasi 15.000 ha); Jambi (intensifikasi 10.000 ha, rehabilitasi 6.000 ha); Sulut (peremajaan 27.000 ha); NTB (peremajaan 7.000 ha); dan Jabar, Jateng, serta Jatim (masing-masing intensifikasi 20.000 hektar); Banten (intensifikasi 10.000 ha); dan DIY (intensifikasi 8.000ha). Pembangunan infrastruktur: (a) jalan masing-masing 50 km di Sulut, Sulteng, Riau, Jambi, Lampung, NTB, dan NTT; (b) peningkatan tata air pasang surut di Riau dan Jambi masing-masing 1.000 ha.

Dukungan kebijakan yang diperlukan untuk usahatani adalah penyediaan kredit modal untuk intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan; pembinaan teknis dan kelembagaan produksi; adanya kelembagaan semacam Coconut Board; penyediaan informasi teknologi dan pasar; peningkatan status hukum atas kepemilikan lahan usaha; dan pengembangan infrastruktur.

Dukungan kebijakan industri pengolahan antara lain penyederhanaan birokrasi perizinan usaha dan investasi; pembukaan akses pembiyaan dengan pemberian skim kredit khusus untuk berbagai skala usaha; promosi vi

(9)

pengembangan industri pengolahan hasil kelapa terpadu; peningkatan kegiatan penelitian dan pengembangan komoditas kelapa dalam pengolahan dan pemasaran.

Dukungan kebijakan fiskal dan perdagangan yaitu pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN); perlindungan terhadap industri pengolahan kelapa melalui penetapan tarif impor untuk mesin, produk-produk sejenis dari luar negeri (kompetitor); peninjauan kembali peraturan-peraturan pemerintah tentang retribusi yang mengakibatkan distorsi pasar; dan stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap valas.

Perkiraan investasi secara keseluruhan untuk mengembangkan infrastruktur, usahatani, dan industri pengolahan kelapa sejumlah Rp 1,786 triliun, yang terdiri atas Rp 221 miliar oleh masyarakat (terutama petani), Rp 917 miliar oleh kalangan swasta, dan Rp 648 miliar oleh pemerintah (pusat dan daerah).

(10)
(11)

Sambutan Menteri Pertanian ... Kata Pengantar ... Tim Penyusun ... Ringkasan Eksekutif ... Daftar Isi ... I. PENDAHULUAN... II. KONDISI SAAT INI ... A. Usahatani ... B. Usaha Agribisnis Hulu ... C. Usaha Agribisnis Hilir ... D. Pasar dan Harga ... E. Infrastruktur dan Kelembagaan ... F. Kebijakan Harga, Perdagangan dan Investasi ... III. PROSPEK, POTENSI, DAN ARAH PENGEMBANGAN ... A. Prospek Pasar ... B. Potensi Kelapa ... C. Arah Pengembangan Produk ... IV. TUJUAN DAN SASARAN ... V. KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM ... A. Kebijakan ... B. Strategi ... C. Program ... VI. KEBUTUHAN INVESTASI ... VII. DUKUNGAN KEBIJAKAN ... A. Dukungan Kebijakan Usahatani ... B. Dukungan Kebijakan Industri Pengolahan ... C. Dukungan Kebijakan Fiskal dan Perdagangan ...

DAFTAR ISI

Halaman i iii iv v ix 1 2 2 4 5 7 12 12 14 15 16 16 23 25 25 26 27 29 33 33 34 34

(12)
(13)

I. PENDAHULUAN

Pertanaman kelapa di Indonesia merupakan yang terluas di dunia dengan pangsa 31,2% dari total luas areal kelapa dunia. Peringkat kedua diduduki Filipina (25,8%), disusul India (16,0%), Sri Langka (3,7%) dan Thailand (3,1%). Namun demikian, dari segi produksi ternyata Indonesia hanya menduduki posisi kedua setelah Filipina. Ragam produk dan devisa yang dihasilkan Indonesia juga di bawah India dan Sri Lanka. Perolehan devisa dari produk kelapa mencapai US$ 229 juta atau 11% dari ekspor produk kelapa dunia pada tahun 2003.

Bagi masyarakat Indonesia, kelapa merupakan bagian dari kehidupannya karena semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya. Di samping itu, arti penting kelapa bagi masyarakat juga tercermin dari luasnya areal perkebunan rakyat yang mencapai 98% dari 3,74 juta ha dan melibatkan lebih dari tiga juta rumahtangga petani. Pengusahaan kelapa juga membuka tambahan kesempatan kerja dari kegiatan pengolahan produk turunan dan hasil samping yang sangat beragam.

Peluang pengembangan agribisnis kelapa dengan produk bernilai ekonomi tinggi sangat besar. Alternatif produk yang dapat dikembangkan antara lain virgin coconut oil (VCO), oleochemical (OC), desiccated coconut

(DC), coconut milk/cream (CM/CC), coconut charcoal (CCL), activated carbon (AC), brown sugar (BS), coconut fiber (CF) dan coconut wood (CW),

yang diusahakan secara parsial maupun terpadu. Pelaku agribisnis produk-produk tersebut mampu meningkatkan pendapatannya 5-10 kali dibandingkan dengan bila hanya menjual produk kopra. Berangkat dari kenyataan luasnya potensi pengembangan produk, kemajuan ekonomi perkelapaan di tingkat makro (daya saing di pasar global) maupun mikro (pendapatan petani, nilai tambah dalam negeri dan substitusi impor) tampaknya akan semakin menuntut dukungan pengembangan industri kelapa secara kluster sebagai prasyarat.

Penyusunan informasi prospek dan arah pengembangan agribisnis kelapa ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai peluang investasi bagi swasta, masyarakat, dan pemerintah di bidang perkelapaan.

(14)

2

II. KONDISI SAAT INI

A. Usahatani

Pertanaman kelapa tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Pada tahun 2005, total areal meliputi 3,29 juta ha, yakni terdistribusi di pulau Sumatera 33,8%, Jawa 22,4%, Bali, NTB dan NTT 5,9%, Kalimantan 6,8%, Sulawesi 22,1%, Maluku dan Papua 9% (Gambar 1). Produk utama yang dihasilkan di wilayah Sumatera adalah kopra dan minyak; di Jawa kelapa butir; Bali, NTB dan NTT kelapa butir dan minyak; Kalimantan kopra; Sulawesi minyak; Maluku dan Papua kopra. Komposisi keadaan tanaman secara nasional meliputi: tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 16,2% (0,63 juta ha), tanaman menghasilkan (TM) 73,6% (2,87 juta ha), dan tanaman tua/rusak (TT/TR) 10,1% ( 0,39 juta ha).

Produktivitas tanaman kelapa baru mencapai 2.700 – 4.500 kelapa butir yang setara 0,8 – 1,2 ton kopra/ha. Produktivitas ini masih dapat ditingkatkan menjadi 6.750 butir atau setara 1,5 ton kopra. Selain itu, potensi kayu kelapa yang dapat dihasilkan sebesar 200 juta m3. Berdasarkan

potensi tersebut maka pengembangan agribisnis kelapa, khususnya industri pengolahan buah kelapa, diarahkan ke Propinsi Riau, Jambi dan Lampung di wilayah Sumatera, Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur di wilayah Jawa, Propinsi Kalimantan Barat di wilayah Kalimantan, dan Propinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah di wilayah Sulawesi. Sedangkan industri pengolahan kayu kelapa di NTB dan NTT di wilayah Bali, NTB dan NTT, dan di sentra produksi lainnya.

Di tingkat rumah tangga, usahatani kelapa dapat memberikan penghasilan kotor sekitar Rp 1,7 juta/ha/tahun atau Rp 142 ribu/ha/bulan. Mengingat pada umumnya usahatani kelapa merupakan usahatani sampingan, maka besaran pendapatan tersebut memberikan kontribusi yang berarti terhadap total pendapatan. Dalam konteks ketahanan pangan, kontribusi kelapa tercermin dari besarnya prosentase konsumsi domestik yang mencapai 50-60% dari produksi dalam bentuk konsumsi kelapa segar dan minyak goreng. Selain itu, di tingkat rumah tangga usahatani kelapa berperan meningkatkan daya beli terhadap pangan dengan adanya tambahan pendapatan sebagaimana disebutkan di atas.

(15)

AGRO INOVASI

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa

Gambar 1

. Sebaran areal dan pr

oduksi k

elapa ber

dasar

kan wila

(16)

B. Usaha Agribisnis Hulu

Sekitar 394.156 ha (10,1%) kondisi pertanaman kelapa saat ini sudah tua dan rusak sehingga perlu dilakukan peremajaan dan rehabilitasi. Agar produksi kelapa tidak menurun maka pelaksanaan peremajaan dan rehabilitasi harus dilakukan terus-menerus karena TM akan menjadi tua, demikian pula dengan kerusakan akibat serangan hama dan penyakit, dan bencana alam. Untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang saat ini tergolong rendah maka dalam melaksanakan peremajaan dan rehabilitasi diperlukan bibit unggul yang berasal dari kebun induk, terutama Kebun Induk Kelapa Dalam Komposit (KIKDK). Saat ini sumber benih kelapa yang digunakan belum berasal dari kebun induk yang dibangun khusus sebagai kebun induk yang benar, tetapi dipilih dari pertanaman yang ada di berbagai daerah yang disebut dengan blok penghasil tinggi (BPT). Walaupun benih yang berasal dari BPT lebih baik daripada benih sapuan. Ke depan perlu dibangun KIKDK sebagai sumber benih.

Penggunaan kelapa Dalam unggul komposit akan meningkatkan produksi kelapa Dalam dari rata-rata 1,5 ton kopra/ha/tahun menjadi minimal 2,25 ton kopra/ha/tahun dengan pemeliharaan semi intensif. Produksi kelapa Dalam unggul Komposit dengan pemeliharaan intensif akan menyamai kelapa Hibrida Genjah x Dalam yaitu berkisar 3 – 4 ton kopra/ha/tahun. Produksinya lebih stabil karena tetua kelapa Dalam unggul komposit memiliki ragam genetik yang besar sehingga dapat beradaptasi pada lingkungan yang bervariasi. Harga benih kelapa Dalam unggul Komposit lebih murah dibanding dengan harga benih kelapa Hibrida Genjah x Dalam karena pembuatan kelapa Dalam unggul Komposit tidak memerlukan persilangan buatan. Harga benih kelapa Dalam unggul Komposit diperkirakan sebesar Rp. 800/butir sedangkan benih kelapa Hibrida Genjah x Dalam seharga Rp. 2000/butir. Turunan F2, F3, F4 dan seterusnya dapat digunakan sebagai benih untuk penanaman selanjutnya tanpa kuatir akan terjadi penurunan kekekaran seperti pada kelapa Hibrida Genjah x Dalam. Implikasinya, petani dapat memproduksi sendiri kelapa Dalam unggul Komposit.

Pembangunan Kebun Induk Kelapa Dalam Komposit dapat dilakukan dalam bentuk waralaba benih dimana petani, pengusaha, Pemda dan pengguna lainnya sebagai penerima waralaba serta Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma sebagai pemberi waralaba. Pembangunan KIKDK dengan mengikutsertakan petani/asosiasi petani dan Pemda akan meningkatkan 4

(17)

partisipasi masyarakat dalam pembangunan, meningkatkan pendapatan, mendorong komersialisasi perbenihan, dan meningkatkan pendapatan asli daerah serta mendukung percepatan pelaksanaan otonomi daerah. C. Usaha Agribisnis Hilir

Industri pengolahan kelapa pada saat ini masih didominasi oleh produk setengah jadi berupa kopra dan coconut crude oil (CCO). Produk olahan lainnya yang sudah mulai berkembang adalah CC, nata decoco

(ND), DC, AC, CF, dan brown sugar (BS). Perkembangan CCO dalam 10

tahun terakhir menunjukkan laju yang menurun (-0,2%). Di sisi lain laju perkembangan produk hilir cenderung meningkat. Sebagai contoh, laju perkembangan DC mencapai 7,8%, di mana tahun 2002 total produksinya mencapai 194,2 juta butir; laju perkembangan produksi AC sebesar 9%; laju perkembangan produksi serat sabut menurun -10,2%, walaupun permintaan CF di luar negeri meningkat. Kecenderungan penurunan laju tersebut terkait dengan dampak tidak terpenuhinya standar ekspor produk serat sabut asal Indonesia. Situasi ini mengindikasikan terjadinya pergeseran orientasi produksi dari bahan setengah jadi menjadi produk akhir. Daya saing produk kelapa pada saat ini tidak lagi terletak pada produk primernya yakni kopra seperti yang selama ini banyak diusahakan secara tradisional. Sebagai contoh, produk desicated coconut (tepung kelapa) memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi (300-400%) dibandingkan dengan kopra, yang terlihat dari indeks paritas ekspornya (nilai ekspor dibandingkan dengan biaya produksi). Bahkan terlihat bahwa daya saing ekspor produk primer cenderung semakin menurun sampai biaya produksinya lebih tinggi daripada nilai ekspornya, paling tidak nilai tambahnya sangat tipis (Gambar 2).

AGRO INOVASI

(18)

Gambar 2. Indeks paritas ekspor produk kelapa

Profil usaha produk-produk akhir kelapa yang sudah mulai berkembang hingga saat ini antara lain nata de coco, serat, arang tempurung, gula merah, dan desicated coconut (Tabel 1) menunjukkan kelayakan usaha yang tinggi. Akhir-akhir ini telah berkembang pula virgin coconut oil (VCO) yang merupakan makanan suplemen dan juga obat. Beberapa hambatan yang diperkirakan muncul seperti kontinuitas pasok bahan baku ternyata dapat diatasi sehingga industri masih bertahan dengan kondisi yang baik. Bila pengembangan dapat dilaksanakan secara ”terpadu” maka pasok bahan baku akan lebih terjamin.

Tabel 1. Profil usaha beberapa produk akhir kelapa

*)Investasi Skala Kecil : maks Rp 1 miliar, Menengah : maks Rp 10 miliar, Besar : lebih dari Rp 10 miliar. 6 0 100 200 300 400 500 1999 2000 2001 2002 2003 Tahun Indeks Parit as Ekspor (%) DC Copra NPV (Rp. Juta) 953 2.462 2 924 1.396 8.670 Produk Akhir Nata de Coco Coconut Fiber Activated Carbon Brown Sugar Desiccated Coconut Skala *) Kecil Menengah Menengah Kecil Besar B/C 1,32 2,30 1,12 2,45 1,54 IRR (%) 32 52,4 21 73 22 PBP (th) 1 2 4 1 4

(19)

D. Pasar dan Harga

1. Penggunaan dalam negeri

Secara tradisional, penggunaan produk kelapa adalah untuk konsumsi segar, dibuat kopra atau minyak kelapa. Seiring perkembangan pasar dan dukungan teknologi, permintaan berbagai produk turunan kelapa semakin meningkat seperti dalam bentuk tepung kelapa (desiccated coconut), serat sabut, arang tempurung dan arang aktif. Dalam sepuluh tahun terakhir, penggunaan domestik kopra dan butiran kelapa masih meningkat tetapi dengan laju pertumbuhan sangat kecil. Penggunaan tepung kelapa meningkat dengan laju 21,9%/tahun. Sebaliknya penggunaan domestik minyak kelapa cenderung berkurang (Tabel 2). Penggunaan minyak kelapa di dalam negeri yang semakin berkurang diduga terkait dengan perubahan preferensi konsumen yang lebih menyukai penggunaan minyak kelapa sawit karena harganya lebih murah.

Produksi arang aktif dan arang tempurung selama ini lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri sehingga penggunaan di dalam negeri hampir tidak ada. Demikian pula untuk produk serat sabut, walaupun terdapat indikasi bahwa penggunaan serat sabut di dalam negeri mulai berkembang sejak terjadi krisis ekonomi.

Tabel 2. Penggunaan domestik berbagai produk kelapa di Indonesia, 1993-2002 (ribu ton).

CCO=Coconut Crude Oil, DC=Desiccated Coconut, CO=Coconut Charcoa, AC=Activated Carbon Sumber: BPS, 2004 diolah.

Pada tahun 2002 penggunaan domestik kopra mencapai 1,2 juta ton, sedangkan CCO sebesar 263 ribu ton. Penggunaan domestik kelapa butir pada tahun yang sama mencapai 15,9 juta ton. Pada tepung kelapa dan serat sabut, penggunaan dalam negeri justru berasal dari produk impor karena produksi dalam negeri seluruhnya diekspor.

Tahun 1993 1996 1999 2000 2001 2002 Laju (%/th) Kopra 1.039 973 1.212 1.264 1.276 1.202 2,7 CCO 454 364 231 163 334 263 -9,1 DC 0,0 0,0 0,0 0,1 0,1 0,0 -Butir 11.947 13.276 14.935 15.114 15.160 15.973 3,1 CF 0,0 0,0 0,0 0,1 0,1 0,0 -CCL 0,0 0,0 1,0 0,0 0,0 0,0 -AC 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 -AGRO INOVASI

(20)

2. Ekspor produk kelapa

Menurut APCC, Indonesia merupakan negara produsen kelapa terbesar di dunia dengan jumlah produksi pada tahun 2001 mencapai 3,0 juta MT ton setara kopra. Pesaing utama adalah Filipina dan India dengan produksi masing-masing sebesar 2,8 juta ton dan 1,8 juta ton pada tahun yang sama.

Selama periode tahun 1993-2002, ekspor berbagai produk kelapa Indonesia cenderung meningkat kecuali untuk kelapa butir dan serat sabut (Tabel 3). Produk olahan CCO, DC, dan bungkil kopra merupakan produk ekspor dominan. Pada tahun 2004, misalnya, ekspor ketiga produk tersebut masing-masing mencapai 447,1 ribu ton; 31,2 ribu ton; dan 267 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 264,9 juta; US$ 21,2 juta; dan US$ 23,5 juta. Penurunan ekspor serat sabut lebih karena kurang terpenuhinya mutu baku ekspor, mengingat serat sabut ini sebagian besar masih dihasilkan oleh industri kecil dan menengah. Bila baku mutu dapat dipenuhi dengan mesin yang skala ekonominya lebih besar maka ekspor akan dapat meningkat, karena permintaan serat sabut di pasar internasional terus meningkat, dengan persaingan yang terbatas.

Tabel 3. Volume ekspor beberapa produk kelapa Indonesia, 1993-2002 (ton)

CCO=Coconut Crude, DC=Desiccated Coconut, AC=Activated Carbon Sumber: Ditjenbun, 2002; BPS, 2003.

Tujuan ekspor produk kelapa Indonesia selama ini meliputi banyak negara di Eropa, Amerika, maupun Asia dan Pasifik. Pengaruh dinamika dan perbedaan preferensi antar pasar tujuan menyebabkan tingkat dan bentuk permintaan produk ekspor berbeda-beda antar negara. Disamping 8 Tahun 1993 1996 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Kopra 8744 0 42619 34579 23884 40045 25107 36139 CCO 258400 378800 349600 734600 395100 446300 364280 447113 DC 19596 24150 23533 31373 34820 48550 36833 31168 Butir 19522 2264 38136 5334 507 8694 17981 1180 SS 88 866 59 102 191 191 AT 12362 15855 17742 26735 23452 29493 AC 7163 12325 11283 10205 12104 11553 35341

(21)

itu, arah perdagangan juga dapat berubah. Seperti ditunjukkan Tabel 4, selama 1999-2004 terdapat indikasi perubahan orientasi negara tujuan ekspor untuk beberapa produk ekspor kelapa Indonesia. Dominasi peran negara-negara Eropa sebagai tujuan ekspor secara perlahan digantikan oleh negara-negara di kawasan Asia dan Pasifik.

Tabel 4. Negara utama tujuan ekspor produk kelapa Indonesia, 1999 dan 2003.

Keterangan: angka dalam kurung adalah persen pangsa ekspor. Sumber: BPS, diolah.

3. Impor produk kelapa

Meskipun Indonesia merupakan negara produsen kelapa terbesar di dunia, tetapi impor beberapa jenis produk kelapa masih ada. Disamping karena permintaan produk dengan spesifikasi yang berbeda, impor seperti itu biasanya juga dilakukan untuk pengamanan cadangan penggunaan dalam negeri.

Dibandingkan ekspornya, volume impor Indonesia untuk produk-produk kelapa jauh lebih rendah (Tabel 5). Secara implisit ini berarti Indonesia masih merupakan pengekspor neto produk-produk kelapa. Sebagai gambaran, pada periode 1993-2002 tidak tercatat adanya impor arang tempurung dan arang aktif. Akan tetapi, dalam periode tersebut volume impor kopra dan butir kelapa berfluktuasi dengan kecenderungan menurun. Laju penurunan volume impor masing-masing sebesar -3,1 %/tahun dan -19,4 %/tahun. Impor tepung kelapa (DC) baru terjadi sejak tahun 1997 hingga 2001 tetapi perkembangan impor produk tersebut menunjukkan laju kenaikan yang positif. Impor produk terbesar adalah berupa minyak kelapa (CCO) yang volumenya bervariasi.

No 1 2 3 4 5 Jenis Produk CCO Copra meal Desiccated Coconut shell charcoal Active Carbon 1999 Belanda (41,5), USA (11,1) Jerman (50,5), Belanda (29,6) Singapura (87,3 ) Jepang (30,5), Korsel (22,0), Taiwan (17,2), Malaysia (14,8) Jepang (24,2), Taiwan (12,9), Italia (10,7) 2003 Belanda (25,37), Cina (10,19), Malaysia (24,79) Filipina (55,89), Malaysia (39,18) Singapura (52,93) Malaysia (37,0), Korsel (17,5), Jepang (21,0) Jepang (22,9), Korea (31,1), Malaysia (34,2) Negara Tujuan AGRO INOVASI

(22)

Tabel 5. Impor Indonesia untuk beberapa produk kelapa, 1993-2002 (ton)

4. Harga kelapa dan produk kelapa

Seiring dengan perkembangan permintaan akan produk turunan kelapa, khususnya di pasar internasional, harga kelapa butiran di dalam negeri cenderung meningkat setiap tahun. Selama tahun 1993-2002 harga kelapa butir meningkat dari Rp 358/butir menjadi Rp 1.663/butir atau meningkat dengan laju 12.2 %/tahun, tetapi harga di pasar dunia cenderung menurun (Tabel 6). Selama periode di atas, harga kelapa di pasar dunia menurun dengan laju –3.9 %/tahun.

Perkembangan harga ekspor beberapa produk turunan kelapa asal Indonesia lainnya yaitu CCO, DC, CC/M, dan CCL cenderung menurun selama periode 1999-2003 (Tabel 7). Sebaliknya, harga CoM dan AC cenderung meningkat dalam kurun waktu yang sama. Tidak terdapat pola yang jelas antar jenis produk dalam pencapaian tingkat harga terendah dan tertinggi. Namun bila pada tahun 1999 indeks harga umum dianggap belum normal setelah insiden krisis ekonomi tahun 1998, maka dampak krisis ekonomi tampaknya hanya terjadi pada jenis produk CCO, CC/M dan CCL. Harga ekspor ketiga jenis produk tersebut pada tahun 1999 mencapai titik maksimum. 10 Tahun 19 9 3 19 9 4 19 9 5 19 9 6 19 97 19 9 8 19 9 9 2 0 0 0 2 0 01 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 4 Kopra 0 5 1911 31 24 0 2 5 9 0 2 27 16 57 87 7 CCO 3 3 . 5 0 0 4 6 . 0 0 0 2 6 . 9 0 0 4 3 . 6 0 0 2 0 . 0 0 0 5 . 0 0 0 9 0 . 0 0 0 6 0 . 0 0 0 3 5 . 0 0 0 1 8 . 0 0 0 3 6 8 1911 DC 0 0 0 0 3 0 9 4 31 1 2 8 6 7 0 1 3 9 16 7 Butir 8 2 4 0 4 8 6 2 5 157 0 0 2 0 7 0 5 9 0 SS 0 0 0 0 0 0 31 1 2 8 6 7 0 -AT -AC

Gambar

Gambar 1. Sebaran areal dan produksi kelapa berdasarkan wilayah pengembangan
Gambar 2. Indeks paritas ekspor produk kelapa
Tabel 3. Volume ekspor beberapa produk kelapa Indonesia, 1993-2002 (ton)
Tabel 4. Negara utama tujuan ekspor produk kelapa Indonesia, 1999 dan 2003.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Setelah dilakukan uji asumsi data indeks pemberdayaan gender pada Kota/Kabupaten di Jawa Timur periode tahun 2010-2015, dapat dinyatakan bahwa data tersebut

Titanium murni adalah logam putih, logam putih, lustrous lustrous dengan sifat densitas rendah, dengan sifat densitas rendah, kekuatan tinggi dan daya tahan terhadap korosi yang

Beras sudah sangat lama dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan merupakan komoditas yang paling dominan dikonsumsi yakni lebih dari "$  persen. /al ini merupakan dasar

Kelompok belajar adalah kelompok yang dibentuk dengan sengaja oleh guru di sekolah dengan tujuan adanya transfer ilmu atau diskusi kelompok antar anggota

Pada bab ini, peneliti akan memaparkan mengenai hubungan antara bentuk tindak tutur direktif dengan kesantunan pada tindak tutur direktif perintah maupun tindak tutur direktif

Korelasi negatif antara curah hujan bulanan dengan indeks Nino 3.4 memberi arti jika terdapat kenaikan temperatur permukaan laut di atas normalnya di wilayah bagian timur

Analisis data mencakup kerapatan jenis, kerapatan jenis relatif, frekuensi jenis, frekuensi jenis relatif, penutupan jenis, penutupan jenis relatif serta indeks

Rumusan masalah yang dibentuk “Bagaimana aplikasi dengan algoritma Naïve Bayes dapat memprediksi kemampuan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Buddhi Tangerang