BAB I PENDAHULUAN. sesama perempuan yang bersosialisasi ditengah-tengah kehidupan

12 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kehidupan yang dihadapi dan dijalani oleh kaum perempuan dari waktu ke waktu memiliki perkembangan yang signifikan. Kedinamisan dari perkembangan tersebut menuntut perempuan untuk semakin terlibat aktif hampir di semua sektor kehidupan. Salah satu akibat yang dapat dirasakan daripada perkembangan partisipasi perempuan adalah masyarakat khususnya sesama perempuan yang bersosialisasi ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Kaum perempuan menyadari bahwa apabila terdapat partisipasi perempuan dalam suatu bidang tertentu sangat dirasakan memiliki dampak bagi kelangsungan kehidupan.

Masyarakat internasional menyadari bahwa kaum perempuan lah yang tentunya akan melahirkan generasi-generasi penerus bagi keberlangsungan kehidupan di dalam suatu tatanan kenegaraan. Perkembangan yang terlihat dan dirasakan oleh masyarakat internasional tersebut menimbulkan kepekaan bahwa perlindungan dan partisipasi terhadap perempuan sangat penting untuk diterapkan di dalam sendi-sendi kehidupan. Hal tersebut mencetuskan suatu peristiwa yang bersejarah terutama bagi kaum perempuan.

Pada tahun 1948, dimulai nya sejarah perlindungan bagi hak asasi manusia dengan ditandai lahirnya Universal Declaration of Human Rights. Dalam perkembangannya tiga belas tahun kemudian di dunia internasional

(2)

yaitu antara tahun 1965-1966 komisi perempuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk suatu rancangan deklarasi yang kemudian disetujui menjadi cikal-bakal dari sebuah deklarasi anti diskriminasi terhadap perempuan pada tahun 1967 dalam resolusi 2263 (XXII) dan disetujui oleh majelis umum PBB pada tahun 1979 dan dinyatakan berlaku setelah diratifikasi oleh 20 negara ditahun 1981.1 Perjanjian internasional tersebut dikenal dengan Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination

against Women (CEDAW).

CEDAW merupakan suatu bentuk pernyataan tertulis yang memiliki materi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi perempuan. CEDAW yang nantinya diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap kaum perempuan yang ingin lebih berpartisipasi aktif dalam hal pembangunan kehidupan baik di bidang sosial, politik, budaya maupun ekonomi dari kaum perempuan tersebut. Hal ini terlihat dalam pengaturan Pasal 1 Convention on

the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW):

“For the purposes of the present Convention, the term “discrimination against women” shall mean any distinction, exclusion or restriction made on the basis of sex which has the effect or purpose of impairing or nullifying the recognition, enjoyment or exercise by women,irrespective of thier marital status, on a basis of equality of men and women, of human rights and fundamental freedoms in the political, economic,social, cultural, civil or any other field.”2

1 Lihat Pasal 27 Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women

(CEDAW).

2 Lihat Pasal 1 Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap

(3)

Pada tanggal 24 Juli 1984, CEDAW telah diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 oleh Negara Republik Indonesia.3 Ratifikasi tersebut memiliki makna bahwa Negara Republik Indonesia harus mengupayakan secara sungguh-sungguh penghapusan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan diantaranya hak politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Hal tersebut juga diamanatkan dalam Pasal 24 CEDAW yang berbunyi “state parties undertake to adopt all necessy measures at the

national level aimed at achieving the full realization of the rights recognized in the present Convention.”4

CEDAW yang telah diratifikasi oleh negara Republik Indonesia merupakan suatu bentuk pelaksanaan tertulis untuk dapat mengintegrasikan hak sipil, politik, sosial dan ekonomi bagi kaum perempuan, selain daripada itu juga untuk dapat mengaktualisasi dan menanggulangi pelanggaran hak asasi perempuan serta memberikan definisi jelas tentang makna dari sebuah diskriminasi dan persamaan. Sebagaimana telah disinggung, menurut Penulis di dalam hal mengintegrasikan hak sipil dan politik memiliki arti bahwa hak tersebut terdapat di dalam setiap manusia yang memiliki status sebagai masyarakat sosial dan memiliki hak untuk berpartisipasi dalam bentuk apapun untuk memenuhi kepentingannya dalam hal mencapai suatu tujuan tertentu. CEDAW khususnya dalam hal ini menitik beratkan untuk

3 Lihat Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan

Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4419).

(4)

menampung serta menjamin hak-hak perempuan untuk berpartisipasi dari segi dunia politik. Ketika mendengar kata politik, sejatinya politik tersebut tidak terlepas dari kata representasi atau keterwakilan seseorang.5

Penulis memiliki pendapat bahwa ketika ingin membuat suatu peraturan perundang-undangan tertentu maka akan lebih baik bila dalam hal pembuatan peraturan perundang-undangan tersebut mengikutsertakan seseorang yang memiliki kapasitas dibidang tersebut. Hal ini menurut Penulis dapat ditarik suatu garis lurus atau dikorelasikan dengan apabila ingin membuat produk hukum yang tidak mendiskriminasikan perempuan maka sejatinya partisipasi kaum perempuan sangat dibutuhkan atau dengan kata lain keterwakilan perempuan sangat penting untuk membantu pembuatan regulasi yang tidak mendiskriminasikan kaum perempuan.

Beberapa kebijakan terkait dengan keterwakilan perempuan sudah dibuat oleh negara-negara di dunia. Terdapat tiga jenis kebijakan negara yang dalam perkembangannya untuk memberikan perlakuan khusus perihal hak politik bagi kaum perempuan. Tiga model tersebut antara lain Reserved Seats,

Party Quotas dan Legislative Quotas. Reserved Seats berarti menyediakan

kuota khusus untuk perempuan dalam lembaga legislatif dalam jumlah tertentu yang dikehendaki. Party Quota adalah partai yang secara sukarela memiliki proporsi kandidat perempuan dalam jumlah tertentu. Legislative

(5)

Quota penentuannya melalui regulasi peraturan partai diharuskan

mengajukan kandidat perempuan dalam porsi tertentu.6

Perkembangan dalam hal memenuhi dan menjamin hak-hak perempuan untuk berpolitik maka dibuat lah kebijakan afirmatif atau yang sering dikenal dengan affirmative action. Menurut Stanford affirmative action

means positive steps taken to increase the representation of women and minorities in areas of employment, education, and culture from which they

have been historically excluded. When those steps

involve preferential selection. Selection on the basis of race, gender, or ethnicity.7 Memiliki pengertian bahwa affirmative action tersebut memiliki tujuan untuk berusaha memperbaiki tindakan diskriminasi gender melalui tindakan nyata untuk menjamin kesetaraan gender.

Implementasi affirmative action di Negara Republik Indonesia guna menyetarakan gender tersebut dapat dilihat dari aksi nyata yang telah dilakukan oleh Republik Indonesia yang telah meratifikasi CEDAW. Ratifikasi tersebut memiliki makna bahwa dalam pelaksanaannya apabila akan mengeluarkan produk hukum atau legislasi nasional memiliki kewajiban untuk tidak mendiskriminasikan kaum perempuan atau dengan kata lain wajib untuk mengimplementasikan CEDAW tersebut. Penulis dalam hal ini mengkaji tentang CEDAW dikaitkan dengan kehidupan politik kaum perempuan.

6 Mona Lena Krook, 2007, Candidate Gender Quotas: A Framework for Analysis. European

Political Research. United States of America: Rights Publisher, hlm 367.

(6)

Penulis membahas mengenai keterwakilan perempuan dalam pemilihan umum Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi D.I. Yogyakarta. Penulis mengkaji mengenai Undang-Undang Nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Hal-hal yang dikaji oleh Penulis memiliki fokus tujuan terhadap Pasal-Pasal yang menjamin keterwakilan perempuan dalam dunia politik khususnya dalam hal pemilihan umum. Penulis melihat dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2012 tersebut memiliki Pasal-Pasal yang menjamin keterwakilan dalam hal berpolitik antara lain tertulis di dalam Pasal 8, Pasal 15, Pasal 53, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 58 dan Pasal 59 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2012.

Pemilihan umum yang dikaji oleh Penulis adalah pemilihan umum yang telah dilaksanakan di tahun 2009 dan hasil tersebut dibandingkan dengan hasil pemilihan umum di tahun 2014. Ketertarikan Penulis dalam pemilu tersebut terletak pada pelaksanaan dari peraturan mengenai kuota minimal 30% terhadap perempuan yang ingin menjadi calon anggota dewan. Pilakukan secara tegas oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tahun 2014 dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2011 menyatakan syarat pencalonan anggota legislatif oleh partai politik peserta pemilih adalah pemberian kuota 30% bagi calon legislatif perempuan.8 Peraturan tersebut dibuat secara tegas di tahun ini supaya bertujuan untuk menambah minat jumlah perempuan

8 Lihat Pasal 8 Huruf e Undang-Undang Nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota

Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diundangkan pada tanggal 11 Mei 2012 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 117.

(7)

untuk tertarik dalam hal mencalonkan dirinya di dalam dunia politik Indonesia khususnya untuk menjadi anggota dewan legislatif.9 Peraturan-peraturan tersebut diatur secara secara lebih rinci berdasarkan pertimbangan daripada implementasi CEDAW mengenai ranah publik yaitu berkaitan dengan hak sipil dan politik.

Pasal 7 dalam CEDAW menjadi landasan untuk menyetarakan gender antara laki-laki dan perempuan dalam hal berpolitik. Isi Pasal tersebut sebagai berikut:

“States Parties shall take all appropriate measures to eliminate discrimination against women in the political and public life of the country and,in particular,shall ensure to women,on equal terms with men,he right:

(a) To vote in all elections and public referend and to be eligible for election to all publicly elected bodies;

(b) To participate in the formulation of government policy and the implementation there of and hold public office and perform all public functions at all levels of government;

(c) To participate in non-governmental organizations and associations concerned with the public and political life of the country.10

Di dalam Pasal tersebut CEDAW menuntut agar negara-negara yang telah meratifikasi agar menghapus diskriminasi terhadap perempuan di bidang kehidupan politik. Pasal ini menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk memberi suara dalam pemilihan umum,

9

http://www.voaindonesia.com/content/kpu-keterwakilan-perempuan-di-lembaga-legislatif-sangat-penting/1636720.html diakses pada tanggal 24 Desember 2014.

(8)

ikut serta dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah, menjadi pejabat negara, dan ikut serta dalam organisasi politik.

Indonesia yang telah meratifikasi CEDAW dan membuat produk legislasi nasional untuk mengimplementasikan CEDAW khususnya dalam hal peraturan yang berkaitan dengan hak politik bagi kaum perempuan, tetapi tetap saja melihat fakta yang terjadi di lapangan khususnya keterwakilan perempuan sebagai anggota DPRD Provinsi D.I Yogyakarta dalam pemilihan umum di tahun 2014 mengalami penurunan dibandingkan dengan keterwakilan perempuan sebagai anggota DPRD Provinsi D.I Yogyakarta dalam pemilihan umum di tahun 2009. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu kajian hukum yang dapat menjawab permasalahan tersebut yang nantinya akan menjawab apakah regulasi nasional tersebut sudah tepat dan efektif untuk menegakkan hak-hak asasi perempuan dalam bidang politik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian daripada latar belakang di atas maka Penulis merumuskan pokok permasalahan yaitu berupa bagaimanakah implementasi CEDAW terkait dengan peraturan yang dibuat dalam rangka menjamin keterwakilan perempuan dalam pemilihan umum DPRD Provinsi D.I Yogyakarta?

(9)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh Penulis dibagi menjadi dua yaitu tujuan subjektif dan tujuan objektif.

1. Tujuan Subjektif

Penelitian ini dilakukan sebagai syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada 2. Tujuan Objektif

Untuk mengetahui implementasi ratifikasi CEDAW dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang keterwakilan perempuan dalam pemilihan umum DPRD provinsi D.I Yogyakarta.

D. Keaslian Penelitian

Sejauh ini penelusuran yang telah dilakukan oleh Penulis, telah ada berbagai penelitian yang meneliti masalah terkait dengan penghapusan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan diantaranya hak untuk berpolitik. Di dalam bagian ini, Penulis akan menjelaskan hasil penelitian yang memiliki keterkaitan dengan penulisan hukum yang akan dibuat oleh Penulis.

Skripsi milik Rini Wulandari. Penulisan tersebut dengan judul “Pengaruh ratifikasi convention on the elimination of all forms of

discrimination against women (CEDAW) terhadap pelaksanaan.” Penulisan

tersebut sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2008. Meskipun skripsi oleh Rini Wulandari memiliki kesamaan membahas pengaturan dalam CEDAW namun

(10)

memiliki perbedaan dengan penulisan kali ini. Perbedaan tersebut terletak pada pokok permasalahan yang diteliti, penulisan hukum milik saudari Rini Wulandari menekankan pada penulisan bagaimana pengaruh ratifikasi CEDAW pada pelaksanaan umumnya atau dengan kata lain dari hak politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Sedangkan penulisan kali ini menekankan dari segi partisipasi politik Perempuan khususnya daerah D.I Yogyakarta.

Skripsi milik saudara Agus Trimo dengan judul penulisan hukum nya “dampak putusan mahkamah konstitusi nomor 22-24/PUU-VI/2008 tentang pembatalan Pasal 214 UU No.10 tahun 2008 terhadap pemenuhan kuota perempuan di dewan perwakilan rakyat republik indonesia pada pemilu” sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2010. Penulisan hukum milik saudara Agus Trimo menekankan pada pemenuhan kuota perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada pemilihan umum akibat dari dampak Putusan Mahkamah Konstitusi. Sedangkan dalam penulisan kali ini, Penulis mengambil dari jumlah kuota keterwakilan perempuan dari proses pencalonan dirinya dalam pemilihan umum sampai pada terpilihnya sebagai anggota dewan legislatif di DPRD Provinsi D.I Yogyakarta.

Tesis yang dibuat oleh Irma Latifah Sihite dengan judul “penerapan

affirmative action sebagai upaya peningkatan keterwakilan perempuan dalam

parlemen Indonesia”. Tesis tersebut dibuat sebagai syarat memperoleh gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia pada tahun 2011. Namun terdapat perbedaan antara tesis milik Irma Latifah Sihite dengan Penulisan hukum kali

(11)

ini. Tesis tersebut menekankan pada penerapan affirmative action terhadap regulasi nasional sedangkan Penulisan kali ini membahas tentang implementasi ratifikasi CEDAW dikaitkan dengan keterwakilan perempuan dalam pemilihan umum dan Penulisan hukum kali ini mengangkat studi kasus mengenai perbandingan jumlah keterwakilan perempuan di DPRD Provinsi D.I Yogyakarta setelah pemilihan umum DPRD pada tahun 2009 dan 2014.

Penelitian yang dilakukan Penulis berbeda dengan penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya. Dengan demikian, Penulis memiliki anggapan bahwa penulisan yang telah dilakukan oleh Penulis kali ini adalah asli. Apabila terdapat penelitian mirip diluar pengetahuan Penulis, diharapkan penulisan ini dapat saling melengkapi satu sama lain.

E. Manfaat Penelitian

Dari hasil Penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat baik untuk kepentingan penulis, akademis maupun kepentingan praktisi:

1. Manfaat bagi Penulis

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan Penulis di bidang hukum internasional, khususnya tentang perjanjian internasional mengenai kemajuan gender perempuan di bidang sosial, politik, ekonomi dan budaya dikenal dengan Convention on The Elimination of Discrimination Against Women).

(12)

Hasil Penulisan Penulisan Hukum ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan hukum internasional pada khususnya yang berhubungan dengan Hukum Hak Asasi Manusia kaitannya dengan keterwakilan perempuan di bidang berpolitik.

3. Manfaat bagi Praktisi

Hasil Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kalangan akedemisi, praktisi, maupun masyarakat pada umumnya serta dapat bermanfaat bagi pemerintah dalam membuat kebijakan khusus nya mengenai keterwakilan perempuan di bidang politik.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :