orang yang terbaik adalah yang bermanf

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MAKALAH

ORANG YANG TERBAIK ADALAH YANG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

Yang diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

HADIS

Dosen Pengampu:

Tadjudin, M.Pd.I

Disusun oleh:

1.Ayu Lintang Sari (1721143080) Kelas PAI 2A

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG

TAHUN AKADEMIK 2014-2015

(2)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Orang baik bermanfaat bagi orang lain karena semua manusia di dunia tidak dapat hidup sendiri tetapi saling membantu atau tolong menolong. Seperti tenggang rasa, gotong royong dan hidup rukun bersama tetangga. Ketika ada teman kita yang terkena musibah kita akan mendo’akannya karena teman kita yang terkena musibah membutuhkan do’a dari kita semua.

Yang bermanfaat bukan hanya perilaku kita yang setiap harinya tetapi do’a.

Contohnya orang yang sering berdzikir itu juga bermanfaat bagi orang lain. Hal ini juga sebut dalam hadits tentang orang yang baik bermanfaat bagi orang lain.Seharusnya diketahui orang khalayak ramai, maka dari itu penulis ingin menyampaikan betapa mulianya menolong sesama.

Rumusan masalah

1. Apa manfaat orang yang baik yang bermanfaat bagi orang lain. 2. Mengapa kita harus bersifat baik?

3. Bagaimana cara melakukan kebaikkan?

Tujuan masalah

1. Manfaatnya kita dapat teman yang banyak dan ketika kita terkena musibah orang lain juga dapat menolong kita.

2. Agar kebaikan kita bermanfaat untuk orang lain.

3. Saling tolong menolong dan mendo’akan orang yang lagi mendapatkan musibah.

ِا ْنببببِ ك

ك ببلكِ َاببممِ ص

ص

ِ َاققِ ومِ ي

ب بكِ ِامِ ْن

ك ببِ دكعبس

م ِ ق

م َاح

م س

ب ِاكِ يبكِامِ ْن

ب ع

م وم

ب

ك ِ ل

م كك ْنبب َةرمهبِ ززِ ْنكببِ ف

ك ِ َامَنمم دببع

م ْنببِ ب

ك يبه

م ٌ

(3)

ك

م ببتمثمِ ومرمِ ذمببتمِ نبِامِ ك

م ببَنقِاكِ رٌببيببككمِ وبِامِ رٌببيبثككمِ ث

ز ببلزثزلومِ ث

ز لزثزلِ ِامِ ْل

م َاقم

Dari Abu Ishak Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luayy Al Quraisy Az Zuhry ra. salah seorang di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga, ia berkata : “ Rasulullah saw. menjenguk saya sakit pada musim haji wada’ karena saya sakit keras, kemudian saya berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya sakit saya ini sangat keras sebagaimana yang tuan lihat, sedangkaan saya mempunyai harta yang cukup banyak dan mewarisi hanyalah seorang anak perempuan, maka bolehlah saya sedekahkan dua pertiga dari harta saya itu?” Beliau menjawab: “Tidak boleh”. Saya bertanya : “Separoh wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Sepertiga itu cukup banyak dan cukup besar. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu kaya-kaya maka itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridla Allah pasti kamu diberi pahala karenanya sehingga apa yang dimakan oleh istrimu”.

Abu Ishak berkata: “Kemudian saya bertanya, wahai Rasulullah apakah saya akan segera berpisah dengan kawan-kawanku?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya kamu belum akan berpisah. Kamu masih akan menambah amal yang kamu niatkan untuk mencari ridha Allah sehingga akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal setelah orang-orang dapat mengambil manfaat dari kamu, di samping ada juga orang-orang lain yang merasa dirugikan oleh kamu. Wahai Allah lanjutkanlah bagi sahabat-sahabatku hijrah mereka dan janganlah Engkau mengembalikan mereka ke tempat yang mereka tinggalkan, tetapi kasihan si Sa’d bin Khaulah yang selalu disayang oleh Rasulullah karena ia mati di Mekkah”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).1

Analisis

(4)

“Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaku”, yakni kebersamaan khusus yaitu ia bersamaKu, pertolonganKu, petunjukKu, dan pemeliharaanKu.

Kebersamaan ini bukan seperti kebersamaan yang dimaksud oleh firman Allah :

ُمب تٌَنبكٌ َاممَنميبِام ُمبكٌعمممومهزوم

Artinya :Dia bersamamu di mana saja kamu berada.

Pengertian bersama disini Dia mengetahui dan meliputi kamu.

“Jika ia ingat kepadaku” artinya ia mensucikan Allah secara rahasia.

“dalam jiwanya” artinya di dalam hatinya.

“dalam diriKu” artinya selainKu tidak melihatnya.

“Jika ia ingat kepadaku dalam kelompok yang lebih baik dari pada mereka” maksudnya Allah menyebutkan pahalanya pada kelompok yang lebih tinggi. Ini tidak memastikan bahwa para malaikat itu lebih utama dari pada manusia karena mengandung kemungkinan yang dimaksud adalah kelompok yang lebih baik dari pada orang-orang yang berdzikir- yaitu para Nabi dan para Rasul. Dalam hal ini tidak terbatas pada malaikat. Demikian pula kebaikan itu dapat dicapai oleh orang yang berdzikir dan kelompok bersama-sama.

Pihak yang bersama Tuhan adalah lebih baik dari pada pihak yang tidak bersamaNya tanpa diragukan lagi. Kebaikan itu diperoleh dengan menisbatkan kepada kelompok.

Inilah yang diucapkan oleh Ibnu Hajar, tetapi menurutnya ia didahului oleh oleh Ibnu Az Zamlakani dalam bagian pertama yang dikumpulkannya tentang Ar Rafiq Al A’la (teman tertinggi).

Saya (seorang hamba yang lemah) berkata : Para Imam yang alim-alim itu telah berpendapat demikian.

Tetapi tidak jelas bagiku bahwa keutamaan itu diperoleh orang yang berdzikir d2an kelompok itu bersama-sama, setelah Allah berfirman dalam hadits itu : “Aku ingat kepadanya dalam kelompok yang lebih baik dari pada mereka”. Allah berfirman menurut riwayat Muslim, “maka Aku mengingat kepadanya dalam kelompok yang lebih baik dari pada mereka”. Disini jelas sifat kelompok itu sendiri bahwa mereka lebih baik dari pada kelompok orang-orang yang berdzikir. Sifat kebaikan itu adalah pada kelompok itu sendiri, dan jauh dari pengertian mukhatab (orang yang diajak berbicara) bahwa yang dimaksudnya adalah orang yang berdzikir dan kelompok itu bersama-sama.

Wallahu a’lam.

Isi kandungan :

Ketika Rasulullah saw. menjenguk orang sakit, orang sakit tersebut berkata kepada RasulullahRasulullah: Wahai Rasulullah aku mempunyai cukup banyak harta warisan dan saya hanya mepunyai satu anak perempuan, bolehkah dua pertiga saya sedekahkan? Rasulullah menjawab: “Tidak boleh”.

Dia bertanya lagi : “Kalau separo ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Tidak boleh”.

(5)

Dia bertanya lagi : “Kalau sepertiga ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Tidak boleh”.

Sehingga Rasulullah berkata : Sepertiga itu cukup banyak dan cukup besar, lebih baik hartamu itu kamu berikan kepada keluargamu dari pada kamu meninggalkan dengan keadaan miskin, sehingga keluargamu terpakasa meminta-minta kapada sesama.

Dengan maksud apa yang kamu nafkahkan mencari ridha Allah SWT. Dan akan bertambah derajatmu.Dan mungkin kamu akan meninggal setelah orang-orang lain dapat mengambil manfaat dari kamu.

Dan ada juga orang-orang yang merasa dirugikan oleh kamu.

.Penutup Penutup

A. Kesimpulan

(6)

Berdzikir dapat mendapatkan pahala dan bermanfaat bagi orang lain. Berdzkir dapat mendapatkan pahala dan bermanfaat bagi orang lain.

Seperti: Sifat kelompok itu sendiri bahwa mereka lebih baik dari pada kelompok orang-orang yang berdzikir.

Sifat kebaikkan itu adalah pada kelompok itu sendiri dan jauh dari pengertian mukhatab (orang yang diajak berbicara) bahwa yang di maksud adalah orang yang berdzikir dan kelompok itu bersama-sama.

B.Saran-saran

Sebaiknya para pembaca harus mengerti dan menyadari bahwa berbuat baik itu bermanfaat bagi orang lain. Kalau sudah mengerti berbuat baik bermanfaat bagi orang lain sebaiknya para pembaca segera melakukan kebaikkan kepada sesama dan Allah SWT.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah berkat hidayah, inayah serta ridhonya, penulis mampu menyelesaikan paper ini meski sangat sederhana. Karena

keterbatasan serta pengalaman, walau penulis sudah berusaha semaksimal mungkin. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi terwujudnya kesempurnaan di kemudian hari.

Semoga makalah yang sangat sederhana ini bermanfaat bagi penulis khusunya dan umumnya bagi para pembaca. Teriring ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu penyususunan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Zakariya, Imam Abu dan Yahya Syaraf An Nawawy. 2004. “Riyadhus shalihin”. Semarang: PT. Karya Toha Putra.

(7)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...