KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat hikmat dan pengetahuan yang diberikan kepada tim penyusun Laporan Antara Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Strategis Provinsi Sudut Pandang Sosial Budaya (Kawasan Banten Lama Di Kota Serang Dan Kawasan Baduy di Kabupaten Lebak) dapat selesai dengan baik.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang menetapkan bahwa kawasan yang termasuk dalam kawasan strategis adalah Kawasan strategis dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya, pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi, serta fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial dan budaya, antara lain, adalah kawasan adat tertentu, kawasan konservasi warisan budaya, termasuk warisan budaya yang diakui sebagai warisan dunia.
Berdasarkan kajian hukumnya, terkait dengan kawasan banten lama, kawasan strategis ini mendapat perlindungan dari RTRW Banten 2030, yakni PERDA No 2 Tahun 2011. Sedangkan KSP Masyarakat Adat Baduy, selain mendapat perlindungan dari RTRW tersebut juga terdapat perlindungan lainnya berupa Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 32 Tahun 2001 Tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. Pada pasal 4 didalam peraturan daerah tersebut disampaikan bahwa “Segala peruntukkan lahan terhadap hak ulayat Masyarakat Baduy diserahkan sepenuhnya kepada Masyarakat Baduy”. Yang artinya Penataan ruang didalam KSP Masyarakat Adat Baduy yang mencakup sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang dilandasi/didasari/diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat Baduy.
Pada penyusunan konsep pengembangan kawasan, diharapkan kawasan penyangga yang masuk dalam kesatuan kawasan strategis provinsi dikaji lebih dalam sehingga kulitas rencana tata ruang menjadi lebih baik.
Sesuai dengan kerangka acuan kerja (KAK), maka diharapkan Laporan Antara ini dapat memberikan proses untuk mengelurkan output atau keluaran (produk) berupa Arahan Zonasi, Pengaturan Perijinan, Insentif dan Disinsentif, dan pengaturan sanksi administratif di kedua KSP tersebut.
Kata kunci pada laporan ini adalah kawasan inti, kawasan penyangga, KSP, Baduy, dan Banten Lama.
Jakarta, Oktober 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR ISI ... 3
DAFTAR TABEL ... 5
DAFTAR GAMBAR ... 6
DAFTAR PETA ... 6
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Maksud, Tujuan Dan Sasaran ... 2
Maksud ... 2
Tujuan 2 Sasaran ... 3
Ruang Lingkup Studi ... 3
Lingkup Wilayah ... 3
Lingkup Pekerjaan ... 3
Keluaran ... 4
Sistematika Pembahasan ... 4
BAB 2 REVIEW RTRW PROVINSI ... 1
KSP Banten Lama di dalam RTRW Provinsi Banten ... 1
KSP Banten Lama di dalam TUJAKSTRA RTRW Banten ... 1
KSP Banten Lama di dalam Struktur Ruang RTRW Banten ... 16
KSP Banten Lama di dalam Rencana Sistem Perkotaan ... 17
KSP Banten Lama di dalam Rencana Sistem Jaringan Transportasi20 KSP Banten Lama di dalam Rencana Sistem Prasarana Lainnya .. 22
KSP Banten Lama di dalam Rencana Pola Ruang RTRW Banten 27 KSP Banten Lama di dalam Arahan Pemanfaatan Ruang RTRW Banten 28 KSP Banten Lama di dalam Indikasi Program Utama RTRW Banten 29 KSP Banten Lama di dalam Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTRW Banten ... 31
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam RTRW Provinsi Banten ... 40
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam TUJAKSTRA RTRW Banten 40 KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Struktur Ruang RTRW Banten 55 KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Rencana Sistem Perkotaan55 KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Rencana Sistem Jaringan Transportasi ... 56
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Rencana Pola Ruang RTRW Banten
... 62
KSP Permukiman Adat Baduy terhadap Kawasan Budidaya RTRW Provinsi ... 63
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Arahan Pemanfaatan Ruang RTRW Banten ... 69
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Indikasi Program Utama RTRW Banten ... 70
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTRW Banten ... 72
BAB 3 REVIEW RTRW KOTA SERANG & KABUPATEN LEBAK ... 82
Review RTRW Kota Serang ... 82
Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota Serang ... 82
Kebijakan Penataan Ruang ... 82
Strategi Penataan Ruang Penataan Wilayah Kota Serang ... 83
KSP Banten Lama di dalam RTRW Kota Serang ... 93
KSP Banten Lama di dalam Sistem Jaringan RTRW Kota Serang95 KSP Banten Lama di dalam Pola Ruang RTRW Kota Serang ... 98
KSP Banten Lama di dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTRW Kota Serang ... 112
Review RTRW Kabupaten Lebak ... 122
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Tujuan Penataan Ruang ... 122
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang 122 KSP Permukiman Adat Baduy di dalam RTRW Kabupaten Lebak ... 125
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Pola Ruang RTRW Kabupaten Lebak ... 128
KSP Permukiman Adat Baduy di dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTRW Kabupaten Lebak ... 133
BAB 3 ANALISIS ... 1
Analisis Penguatan Nilai Strategis dan Isu Strategis ... 1
Nilai Strategis KSP Banten Lama dan KSP Masyarakat Adat Baduy 1 Isu Strategis KSP Banten Lama dan KSP Masyarakat Adat Baduy 2 Analisis Deliniasi Kawasan KSP Banten Lama dan KSP Masyarakat Adat Baduy 4 Kawasan Banten Lama ... 4
Kawasan Masyarakat Adat Baduy ... 5
Analisis Regional (Kawasan Pengaruh)... 1
Kawasan Banten Lama ... 1
Kawasan Permukiman Adat Baduy ... 2
Analisis Daya Dukung dan Daya Tampung dan Optimasi Pemanfaatan Ruang 3 Analisis Kebutuhan Lainnya. ... 4
BAB 4 RUMUSAN KONSEP RTR KSP ... 1
Rumusan Peranan dan Fungsi RTR Kawasan KSP ... 1
Rumusan Tujuan Penataan Ruang Kawasan Banten Lama ... 1
Rumusan Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Kawasan Banten Lama 1 Rumusan Cakupan Kawasan Banten Lama ... 2
Rumusan Konsep Pengembangan Kawasan Banten Lama ... 2
Rumusan Rencana Struktur Ruang Kawasan ... 1
Rumusan Rencana Pola Ruang Kawasan ... 3
Konsep Tujakstra dan Pengembangan Kawasan Masyarakat Adat Baduy . 7 Rumusan Tujuan Penataan Ruang Kawasan Baduy ... 7
Rumusan Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Kawasan Permukiman Adat Baduy ... 7
Rumusan Cakupan Kawasan Permukiman Adat Baduy ... 8
Rumusan Konsep Pengembangan Kawasan Baduy ... 8
Rumusan Rencana Struktur Ruang Kawasan ... 11
Rumusan Rencana Pola Ruang Kawasan ... 21
BAB 5 ARAHAN PEMANFAATAN RUANG KAWASAN ... 1
BAB 6 ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG KAWASAN ... 1
Arahan Penentuan Zonasi ... 1
BAB 7 PENUTUP ... 1
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1. Keterkaitan Tujakstra, Struktur dan Pola Ruang RTRW Banten ... 12Tabel 2. 2. Keterkaitan Pola Ruang KSP Banten Lama ... 27
Tabel 2. 3. Prioritas Pemanfaatan Ruang ... 28
Tabel 2. 4. Ruas Jalan Provinsi di Kota Serang ... 30
Tabel 2. 5. Keterkaitan Tujakstra, Struktur dan Pola Ruang RTRW Banten ... 50
Tabel 2. 6. Keterkaitan Pola Ruang KSP dan RTRW Provinsi ... 68
Tabel 2. 7. Prioritas Pemanfaatan Ruang ... 70
Tabel 2. 8. Keterkaitan KSP Banten Lama dan Tujakstra Kota Serang ... 90
Tabel 2. 9. Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang KSP Banten Lama Sesuai RTRW Kota Serang ... 121
Tabel 3. 1. Keterkaitan KSP Baduy dan Tujakstra Kabupaten Lebak ... 125
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3. 1. Kawasan Inti Baduy ... 10
Gambar 3. 2. Kawasan Penyangga Baduy ... 1
Gambar 3. 3. Analisis Regional Kawasan Banten Lama ... 1
Gambar 3. 4. Analisis Regional Kawasan Baduy ... 2
Gambar 4. 1. Konsep Cakupan Kawasan Banten Lama (BL1) ... 3
Gambar 4. 2. Konsep Cakupan Kawasan Banten Lama (BL1) ... 3
Gambar 4. 3. Konsep Cakupan Kawasan Banten Lama (BL2) ... 4
Gambar 4. 4. Blok Kawasan Permukiman Banten Lama ... 1
Gambar 4. 5. Konsep Pengembangan Kawasan Permukiman Banten Lama ... 2
Gambar 4. 6. Konsep Rencana Struktur Ruang Banten Lama ... 5
Gambar 4. 7. Konsep Rencana Pola Ruang Banten Lama ... 6
Gambar 4. 8. Konsep Cakupan Kawasan Baduy ... 9
Gambar 4. 9. Konsep Cakupan Kawasan Baduy (BY1 dan BY2)... 10
Gambar 4. 10. Indikasi Letak KAHULAM Baduy Menurut RTRW Banten ... 12
Gambar 4. 11. Indikasi Letak KAHULAM Baduy Menurut RTRW Kab. Lebak ... 13
Gambar 4. 12. Sebaran Permukiman Perkotaan dan Perdesaan di Kec. Leuwidamar Dsk ... 14
DAFTAR PETA
Peta 2. 1. Wilayah Kerja Pembangunan Provinsi Banten ... 19Peta 2. 2. Sistem Pusat Kota Provinsi Banten ... 25
Peta 2. 3. Rencana Struktur Ruang Provinsi Banten ... 26
Peta 2. 4. Rencana Struktur Ruang Kota Serang ... 108
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di dalam Undang-Undang No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa prinsip otonomi adalah mengurus dan mengatur pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang tersebut. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejalan dengan prinsip tersebut, dilaksanakan pula suatu prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung-jawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya. Selain itu penyelenggaraan otonomi daerah juga harus menjamin keserasian hubungan antar daerah dengan daerah lainnya, dan juga mampu menjamin hubungan yang serasi antar daerah dengan pemerintah. Agar otonomi daerah dapat dilaksanakan sejalan dengan tujuan yang hendak di capai, maka pemerintah wajib melaksanakan pembinaan, pengawasan, pengendalian, pengaturan, perencanaan, pemanfaatan, pelaksanaan sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Penyelenggaraan penataan ruang tersebut meliputi aspek-aspek pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan, dimana untuk masing-masing aspek tersebut merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan dalam mewujudkan ruang wilayah nasional, provinsi, kabupaten, kota atau kawasan lainnya. Untuk menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan penataan ruang, maka perlu dilakukan pengawasan terhadap kinerja pengaturan, pembinaan dan pelaksanaan penataan ruang, sementara pelaksanaan penataan ruang meliputi perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Dengan demikian pengawasan yang akan dilakukan adalah terhadap kinerja aspek-aspek pengaturan penataan ruang, pembinaan penataan ruang, perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Memperhatikan demikian banyak dan kompleksnya aspek penataan ruang yang perlu mendapat pengawasan, di sisi lain secara administratif disebutkan bahwa unsur pengawasan
terdiri atas tindakan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan, maka perlu disusun “Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Strategis Provinsi Sudut Pandang Sosial Budaya (Kawasan Banten Lama Di Kota Serang Dan Kawasan Masyarakat Adat Baduy Di Kabupaten Lebak)”
Maksud, Tujuan Dan Sasaran
Maksud
Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi adalah arahan yang diperuntukan sebagai alat penertiban penataan ruang, meliputi :
1. Indikasi arahan peraturan zonasi, 2. Arahan perizinan,
3. Arahan insentif dan disinsentif, serta
4. Arahan sanksi dalam rangka perwujudan rencana tata ruang wilayah provinsi.
Tujuan
Adapun Tujuan yang ingin dicapai dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
1. Menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang wilayah provinsi; 2. Menghindari penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang;
3. Menjaga keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang; 4. Sebagai alat pengendali pengembangan kawasan;
Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah Indikasi arahan peraturan zonasi, pengaturan perijinan, insentif dan disinsentif, serta pengaturan sanksi administratif kawasan strategis provinsi sudut pandang sosial budaya.
Ruang Lingkup Studi
Lingkup Wilayah
Wilayah studi dalam kegiatan Penyusunan Teknis Arahan Zonasi, Pengaturan Perijinan, Insentif dan Disinsentif, dan Pengaturan sanksi Administratif Kawasan Strategis Provinsi Sudut Pandang Sosial Budaya pada Kawasan Banten Lama Di Kota Serang dan Kawasan Masyarakat Adat Baduy di Kabupaten Lebak.
Lingkup Pekerjaan
Lingkup kegiatan ini meliputi :
1. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi merupakan dasar penentuan peraturan zonasi pada sistem provinsi.
2. Arahan perizinan wilayah provinsi adalah arahan yang digunakan sebagai dasar penyusunan ketentuan perizinan di wilayah kabupaten/kota.
3. Arahan insentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan kegiatan yang didorong perwujudannya dalam rencana tata ruang dan Arahan disinsentif merupakan perangkat untuk mencegah, membatasi atau mengurangi pertumbuhan, agar tidak terjadi kegiatan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung maupun budi daya yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang serta Arahan disinsentif berfungsi sebagai perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang. 4. Arahan sanksi merupakan arahan ketentuan pengenaan sanksi administratif kepada
Keluaran
Keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah berupa laporan yang berisikan tentang :
1. Dokumen Penyusunan Teknis Arahan Zonasi, Pengaturan Perijinan,Insentif dan Disinsentif, dan Pengaturan sanksi Administratif Kawasan Strategis Provinsi Sudut Pandang Sosial Budaya (Kawasan Banten Lama Di Kota Serang) dan Kawasan Masyarakat Adat Baduy di Kabupaten Lebak.
2. Data dan Analisis Kajian beserta Laporan Ringkasan. 3. Album Peta Wilayah Studi.
4. 1 (satu) Dokumen Laporan Materi Teknis Arahan Zonasi, Pengaturan Perijinan,Insentif dan Disinsentif, dan Pengaturan sanksi Administratif Kawasan Kawasan Strategis Provinsi Sudut Pandang Sosial Budaya (Kawasan Banten Lama Di Kota Serang) dan Kawasan Masyarakat Adat Baduy di Kabupaten Lebak.
Sistematika Pembahasan
Bab 1 Pendahuluan. Berisi mengenai permasalahan yang diungkapkan dalam sub bab latar belakang, tujuan dilaksanakannya pekerjaan, sasaran yang harus dicapai, manfaat pekerjaan bagi pemerintah daerah dan pusat, keluaran pekerjaan, ruang lingkup pekerjaan yang akan dilakukan, lingkup wilayah kajian pekerjaan dan peta lokasi pekerjaan.
Bab 2 Review RTRW Provinsi.
Berisi mengenai keterkaitan KSP Banten Lama dan KSP Permukiman Adat Baduy dalam lingkup kota terhadap RTRW Provinsi Banten
Bab 3 Review RTR Kota Serang dan Kabupaten Lebak
Bab 4 Rumusan Konsep RTR KSP
Berisi mengenai rumusan konsep rencana tata ruang kawasan strategis Banten Lama dan Permukiman Adat Baduy
Bab 5 Rencana Kerja Selanjutnya
BAB 2 REVIEW RTRW PROVINSI
Didalam bab ini, dijelaskan kajian keterkaitan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Banten Lama didalam RTRW Provinsi Banten. Keterkaitan tersebut dijelaskan dalam beberapa substansi yakni peranan KSP dalam struktur ruang skala provinsi dan pola ruang dalam skala provinsi.
KSP Banten Lama di dalam RTRW Provinsi Banten
Didalam sub bab ini, diuraikan keterkaitan KSP Banten Lama dalam lingkup Kota Serang sebagai Pusat Kegiatan Nasional serta peranan lainnya dalam lingkup wilayah provinsi Banten. KSP Banten Lama yang berkedudukan di Kota Serang dibahas menurut keterkaitan tujuan, kebijakan, strategi, rencana struktur ruang, rencana pola ruang dan arahan pengendalian pemanfaatan ruangnya.
KSP Banten Lama di dalam TUJAKSTRA RTRW Banten
Sesuai dengan RTRW Provinsi Banten, dinyatakan bahwa tujuan penataan ruang provins Banten adalah Mewujudkan Ruang Wilayah Banten sebagai Pintu Gerbang Simpul Penyebaran Primer Nasional-Internasional yang Aman, Nyaman, Produktif dan Berkelanjutan melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan yang mendukung ketahanan pangan, industri, dan pariwisata.
Sedangkan kebijakan penataan ruang wilayah provinsi Banten terdiri atas; 1. kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang;
2. kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang kawasan lindung; 3. kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang kawasan budi daya;
4. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil; 5. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis.
Secara mendetail dijelaskan turunan dari tiap kebijakan sebagai berikut; 1. Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:
1. Peningkatan kualitas fungsi-fungsi pelayanan pada pusat-pusat pelayanan dalam wilayah Provinsi Banten;
2. Mengembangkan fungsi atau kegiatan baru pada pusat-pusat pelayanan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanannya.
3. Mensinergikan pusat-pusat pertumbuhan wilayah di Provinsi Banten dengan sistem pusat pelayanan nasional (PKN dan PKW); dan
4. Mewujudkan pusat kegiatan wilayah baru yang dipromosikan (PKWp) pada pusat-pusat pertumbuhan wilayah sebagai upaya sinergitas system pelayanan perkotaan nasional dan pengembangan wilayah provinsi dan pengembangan wilayah kabupaten/kota.
2. Peningkatan akses pelayanan pusat-pusat dalam wilayah Provinsi Banten yang merata dan berhierarki, dan peningkatan akses dari dan ke luar wilayah Provinsi Banten; dan
1. Meningkatkan keterkaitan antar pusat atau antar kawasan perkotaan, keterkaitan antara pusat atau kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan, serta antara kawasan perkotaan dengan kawasan sekitarnya;
2. Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani oleh pusat pertumbuhan;
3. Mengendalikan perkembangan kota atau perkotaan yang terletak di pesisir pantai utara;
4. Mewujudkan kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya.
5. Mengembangkan pusat penyebaran primer pelabuhan hub internasional bojonegara yang didukung dengan berfungsinya kawasan-kawasan strategis provinsi dan jaringan jalan cincin Provinsi Banten; dan
6. Mewujudkan jembatan selat sunda sebagai jalur transportasi nasional penghubung jawa – sumatera yang terhubung dengan sistem jaringan jalan nasional lintas utara, tengah, dan selatan pulau jawa di wilayah Provinsi Banten.
1. meningkatkan jaringan prasarana transportasi dan keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut, dan udara;
2. meningkatkan jaringan energi listrik dengan pengembangan pembangkit tenaga listrik melalui memanfaatkan sumber energi terbarukan dan tidak terbarukan secara optimal;
3. mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan jaringan energi/kelistrikan termasuk jaringan pipa dan kabel dasar laut;
4. mengembangkan prasarana telekomunikasi yang dapat menjangkau seluruh wilayah;
5. meningkatkan kuantitas dan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air.
6. mewujudkan sistem jaringan transportasi yang aman melalui perbaikan dan peningkatan infrastruktur, penanganan kawasan banjir di permukiman wilayah Tangerang (Jabodetabekpunjur), pengendalian ruang kawasan Bandara Soekarno Hatta, tertatanya sistem jaringan energi, minyak dan gas alam, pengelolaan panas bumi, dan pemanfaatannya secara aman;
7. mewujudkan interaksi infrastruktur jaringan transportasi (jalan dan kereta api) di Provinsi Banten yang nyaman sesuai ketentuan teknis, dan terhubung dengan sistem jaringan prasarana wilayah provinsi/kabupaten/kota dan simpul transportasi antar moda di Kota Cilegon, Tangerang, dan Bandara Panimbang melalui pembangunan jaringan jalan tol; dan
8. mewujudkan pemanfaatan kawasan Selat Sunda secara produktif dengan memperhatikan pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.
2. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang meliputi:
1. peningkatan kualitas kawasan lindung agar sesuai dengan fungsi perlindungannya;
2. meningkatkan kualitas kawasan hutan yang berfungsi sebagai kawasan lindung, yaitu kawasan hutan lindung dan kawasan hutan konservasi;
3. mengendalikan bentuk-bentuk kegiatan yang berada di dalam kawasan lindung yang tidak sesuai dengan fungsi perlindungan dan/atau dapat merusak fungsi perlindungan kawasan lindung.
4. mewujudkan kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung; dan
5. mewujudkan kawasan taman nasional dan kawasan lindung khususnya di wilayah banten selatan yang memberi manfaat kepada masyarakat sekitarnya dan mendukung pengembangan lingkungan hidup nasional dan internasional dalam rangka pengendalian perubahan iklim.
2. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian lingkungan hidup;
1. menetapkan kawasan lindung dan/atau fungsi perlindungan di ruang darat, ruang laut, ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi; dan 2. menetapkan proporsi luas kawasan berfungsi lindung dalam wilayah
Provinsi Banten paling sedikit 30% dari luas wilayah.
3. pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup; dan
1. menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup;
2. meningkatkan daya dukung lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
3. meningkatkan kemampuan daya tampung lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lainnya yang dibuang ke dalamnya;
5. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana untuk menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan;
6. mewujudkan sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfatannya secara bijaksana, dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; dan
7. mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana.
4. perwujudan keterpaduan pemanfaatan dan pengendalian ruang.
1. mengelola sempadan sungai untuk menjamin tidak terjadinya kerusakan pada pinggiran sungai dan tidak terganggunya aliran sungai dan beban di kawasan sekitarnya;
2. mengamankan, memelihara, dan mengembangkan hutan mangrove sebagai pengamanan terhadap abrasi dan erosi pantai;
3. mempertahankan kawasan cagar alam, kawasan hutan lindung, taman nasional, kawasan konservasi laut bagi kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan keberlanjutan; dan
4. meningkatkan fungsi perlindungan kawasan setempat dan kawasan perlindungan bawahnya.
3. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang Kawasan Budi Daya, meliputi
1. peningkatan produktivitas kawasan budidaya;
1. memanfaatkan lahan yang tidak atau kurang produktif yang berada di luar kawasan lindung serta kawasan bekas pertambangan harus direhabilitasi menjadi kawasan budidaya sesuai dengan sifat dan kondisi lahannya;
2. meningkatkan produktivitas kawasan budidaya pertanian dengan usaha-usaha intensifikasi dan diversifikasi pertanian; dan
2. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budi daya; dan
1. mengembangkan kegiatan budidaya unggulan di dalam kawasan budidaya beserta prasarana pendukungnya secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya dengan mengalokasikan ruang dan akses masyarakat;
2. mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek politik, pertahanan dan keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi;
3. mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya pertanian pangan untuk mendukung perwujudan ketahanan pangan;
4. mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala ekonomi; dan 5. mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang
bernilai ekonomi tinggi di wilayah laut kewenangan Provinsi Banten. 3. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya
dukung dan daya tampung lingkungan.
1. mengendalikan perkembangan kegiatan budidaya terbangun pada kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana;
2. mengembangkan kawasan perkotaan dengan bangunan bertingkat terutama untuk kegiatan-kegiatan dengan fungsi komersial atau bernilai ekonomi tinggi guna penghematan ruang dan memberikan ruang terbuka pada kawasan tersebut;
3. mengembangkan proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota; dan
4. mengendalikan kawasan terbangun di kawasan perkotaan untuk mempertahankan tingkat pelayanan prasarana dan sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan fungsi kawasan perdesaan di sekitarnya.
1. pelestarian lingkungan pesisir dan laut termasuk sempadan pantai sebagai kawasan lindung, serta memberikan hak masyarakat untuk mendapatkan akses ke sempadan pantai;
1. mewujudkan pengelolaan sumberdaya secara terpadu melalui penyusunan tata ruang pesisir dan laut dengan memperhatikan keterkaitan ekosistem darat dan laut dalam satu bioekoregion;
2. mengoptimalkan dukungan pemda dan meningkatkan koordinasi antar pemda untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas ekonomi dan industri di wilayah pesisir dan laut banten yang berpotensi merusak lingkungan;
3. meningkatkan koordinasi antar sektor terkait dalam monitoring, pengawasan dan penegakan hukum di bidang pengelolaan lingkungan; 4. meningkatkan koordinasi penataan ruang, menata kembali peraturan
perundangan dan penegakan hukum dalam rangka pengendalian dampak negatif pencemaran yang diakibatkan oleh segenap aktivitas ekonomi di wilayah pesisir dan laut;
5. menyediakan sebagian kawasan sebagai kawasan lindung yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan;
6. meningkatkan pendanaan pengelolaan lingkungan melalui penerapan pajak lingkungan terhadap aktivitas ekonomi di wilayah pesisir;
7. menyeimbangkan peningkatan dan pengembangan aktivitas ekonomi dan kelestarian sumberdaya dan lingkungan pesisir dan laut; dan
8. mengintegrasikan wilayah hulu dan hilir dalam rangka melindungi kawasan muara sungai, estuari, dan kawasan lain di daerah pesisir. 2. peningkatan kualitas lingkungan laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil;
1. mengendalikan penurunan kualitas dan kuantitas lingkungan pesisir dan laut melalui implementasi tata ruang yang telah dilegalisasi; dan
2. mewujudkan rehabilitasi kawasan yang terdegradasi dan kawasan penyangga.
3. peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil;
2. mengupayakan mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dari lembaga kontrol sosial untuk monitoring aktivitas yang merusak lingkungan; dan
3. meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya pencemaran dan kerusakan lingkungan.
4. peningkatan pemerataan nilai tambah melalui pemanfaatan sumberdaya laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat lokal;
1. mengoptimalkan dukungan pemda untuk memanfaatkan posisi strategis dan pertumbuhan ekonomi bagi pembangunan wilayah pesisir dan laut secara terpadu dan berkelanjutan; dan
2. meningkatkan pemanfaatan potensi sumberdaya berbasis karakteristik ekosistem dan lingkungan lokal.
5. peningkatan pengelolaan kawasan pulau-pulau kecil; dan
1. mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil.
2. mengendalikan berbagai kegiatan yang mengakibatkan terganggunya ekosistem pada kawasan pulau-pulau kecil;
3. meningkatkan daya saing pulau-pulau kecil sesuai dengan potensinya serta meminimalkan aspek-aspek penyebab ketertinggalan;
4. mengembangkan sistem transportasi pembuka akses wilayah tertinggal dan terisolir khususnya pada kawasan pulau-pulau kecil; dan
5. mengalokasikan ruang untuk kepentingan umum pada pulau-pulau kecil sebagai upaya menghindari penguasaan tanah secara keseluruhan.
6. pengembangan wisata bahari di pulau peruntukan pariwisata dan di pulau yang ada permukimannya.
1. memanfaatkan peluang pasar pada kawasan wisata bahari Daerah untuk pembangunan wilayah pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil;
2. meningkatkan pemanfaatan potensi wisata bahari untuk menangkap peluang pasar domestik dan internasional di Daerah sebagai pintu gerbang keluar dan masuk wilayah Ibukota DKI Jakarta;
4. mengoptimalkan ketersediaan infrastruktur yang memadai untuk menangkap pertumbuhan ekonomi pada kawasan wisata bahari Daerah; 5. meningkatkan partisipasi masyarakat sebagai pelaku dan fungsi control
kegiatan pariwisata yang ramah lingkungan;
6. meningkatkan peran daerah sebagai regulator kegiatan pariwisata yang ramah lingkungan;
7. meningkatkan aktivitas pariwisata yang ramah lingkungan di lokasi strategis untuk menangkap peluang pasar domestik dan internasional. 5. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis, meliputi;
1. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional dan daerah;
1. menetapkan kawasan strategis Provinsi Banten yang berfungsi lindung; 2. mengendalikan pemanfaatan ruang di kawasan strategis Provinsi Banten
yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan dan/atau menurunkan kualitas kawasan lindung;
3. mengendalikan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis Provinsi Banten yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan dan/atau menurunkan kualitas kawasan lindung;
4. mengendalikan pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis Provinsi Banten yang dapat memicu perkembangan kegiatan budidaya;
5. mengembangkan kegiatan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis Provinsi Banten yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budidaya terbangun; 6. mewujudkan rehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat
dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis Provinsi Banten; dan
2. pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia, cagar biosfer dan ramsar;
1. melestarikan keaslian fisik serta mempertahankan keseimbangan ekosistemnya;
2. meningkatkan kepariwisataan;
3. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan 4. melestarikan keberlanjutan lingkungan hidup.
3. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian nasional dan daerah yang produktif, efisien dan mampu bersaing dalam perekonomian nasional dan internasional;
1. mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam, kegiatan budidaya unggulan, dan posisi atau letak strategisnya sebagai penggerak utama pengembangan wilayah;
2. menciptakan iklim investasi yang kondusif; 3. mengintensifkan promosi peluang investasi;
4. memanfaatkan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan;
5. mengendalikan kegiatan budidaya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan dan efisiensi pemanfaatan kawasan;
6. meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi;
7. mewujudkan penataan kawasan andalan melalui pemanfaatan ruang untuk pengembangan kawasan industri dan pariwisata secara produktif; dan
8. mewujudkan terbentuknya sinergisitas interaksi ekonomi wilayah hulu dan hilir pada pusat-pusat pertumbuhan dengan pemasaran regional dan nasional melalui sistem jaringan transportasi wilayah dan nasional. 4. pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat
perkembangan antar kawasan;
1. memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan berkelanjutan; 2. meningkatkan aksesibilitas antara kawasan tertinggal dan pusat
pertumbuhan wilayah;
4. meningkatkan akses masyarakat ke sumber pembiayaan;
5. meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan kegiatan ekonomi; dan
6. mewujudkan terselenggaranya interaksi kawasan-kawasan strategis nasional di Provinsi Banten dengan penataan struktur ruang dan pola ruang di wilayah provinsi dan wilayah kabupaten/kota.
5. pelestarian dan peningkatan sosial budaya bangsa;
1. meningkatkan kecintaan masyarakat akan nilai budaya bangsa yang mencerminkan jati diri yang berbudi luhur;
2. mengembangkan penerapan nilai budaya bangsa dalam kehidupan masyarakat; dan
3. melestarikan situs warisan budaya bangsa.
6. pemanfaatan sumberdaya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat; dan
1. mengembangkan kegiatan penunjang dan/atau kegiatan turunan dari pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi;
2. meningkatkan keterkaitan kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi dengan kegiatan penunjang dan/atau turunannya; dan
3. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi terhadap fungsi lingkungan hidup, dan keselamatan masyarakat.
7. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.
1. mendelineasikan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan kemanan negara yang terletak di wilayah Provinsi Banten;
2. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan;
Untuk melihat keterkaitan tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruang kawasan strategis provinsi Banten, yakni KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang. Maka, dilakukan pendekatan berupa analisis keterkaitan kuat dan lemah tiap strategi-kebijakan terhadap struktur dan pola ruang yang terkait langsung dengan KSP Banten Lama dan dengan Kota Serang secara umum.
Lebih detailnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. 1. Keterkaitan Tujakstra, Struktur dan Pola Ruang RTRW Banten
No Uraian Keterkaitan
No Uraian Keterkaitan
Ya Tidak
Strategi 2
Strategi 3
Strategi 4
Strategi 5
Strategi 6
Kebijakan 5.5
Strategi 1
Strategi 2
Strategi 3
Kebijakan 5.6
Strategi 1
Strategi 2
Strategi 3
Kebijakan 5.7
Strategi 1
Strategi 2
Strategi 3
Strategi 4
Berdasarkan analisis keterkaitan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa;
1. terdapat 3 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 1.1 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
2. terdapat 4 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 1.2 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
3. terdapat 5 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 1.3 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
4. terdapat 2 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 2.1 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
5. terdapat 2 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 2.2 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
6. terdapat 6 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 2.3 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
7. terdapat 4 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 2.4 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
9. terdapat 5 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 3.2 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
10.terdapat 4 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 3.3 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
11.terdapat 7 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 4.1 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
12.terdapat 2 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 4.2 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
13.terdapat 3 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 4.3 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
14.terdapat 2 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 4.4 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
15.terdapat 5 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 4.5 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
16.terdapat 7 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 4.6 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
17.terdapat 4 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 5.1 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
18.terdapat 3 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 5.2 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
19.terdapat 8 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 5.3 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
20.terdapat 5 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 5.4 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
21.terdapat 3 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 5.5 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
22.terdapat 3 strategi yang menjadi bagian dari kebijakan 5.6 terkait erat dengan pengembangan KSP Banten Lama yang berada di Kota Serang;
KSP Banten Lama di dalam Struktur Ruang RTRW Banten
Ruang Wilayah Provinsi Banten. Kota Serang merupakan kota yang memiliki peranan sangat penting bagi nasional sehingga oleh RTRWN dan RTRW Provinsi Banten ditetapkan menjadi Pusat Kegiatan Nasiona (PKN). Dan perlu diketahui juga bahwa Pusat Pemerintah Provinsi Banten juga berada di Kota Serang.
KSP Banten Lama di dalam Rencana Sistem Perkotaan
Pada skala wilayah kota maka, KSP Banten Lama terkait dengan Pengembangan Wilayah Kota Serang, dimana Kota Serang juga telah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Serang-nya. Berdasarkan RTRW Provinsi yang telah dijelaskan pada sub bab diatas, oleh RTRW Provinsi Banten, didalam mewujudkan tujuan penataan ruangnya membagi Wilayah Kerja Pembangunan Provinsi-nya menjadi 3. Yakni yakni: WKP I meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, WKP II meliputi Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon, WKP III meliputi Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Adapun arahan fungsi dan peranan masing-masing Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) tersebut meliputi :
1. Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) I diarahkan untuk pengembangan kegiatan industri, jasa, perdagangan, pertanian, dan permukiman/ perumahan;
2. Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) II diarahkan untuk pengembangan kegiatan pemerintahan, pendidikan, kehutanan, pertanian, industri, pelabuhan, pergudangan, pariwisata, jasa, perdagangan, dan pertambangan;
3. Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) III diarahkan untuk pengembangan kegiatan kehutanan, pertanian, pertambangan, pariwisata, kelautan dan perikanan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta 2.1.
Satuan wilayah pengembangan tersebut di atas memiliki fungsi :
1. Menciptakan keserasian dan keseimbangan struktur ruang wilayah.
2. Sebagai pusat pertumbuhan bagi wilayah hinterlandnya, diharapkan mampu sebagai motor penggerak pembangunan.
3. Sebagai motor penggerak perekonomian wilayah.
4. Sebagai stimulator bagi perkembangan pembangunan dan pertumbuhan perekonomian wilayah.
KSP Banten Lama di dalam Rencana Sistem Jaringan Transportasi
Terkait dengan system rencana pengembangan jaringan transportasi, KSP Banten Lama terkait erat dengan beberapa system jaringan. Diantaranya ;
1. Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi darat; 2. Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi laut; 3. Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi udara; 4. Rencana pengembangan angkutan massal.
Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Darat
Untuk rencana pengembangan system jaringan transportasi darat, beberapa jaringan jalan yang terkait (berdampak) kepada pengembangan KSP Banten Lama adalah adanya rencana pengembangan jaringan jalan nasional yang meliputi arteri primer (AP) dan kolektor primer (KP) dan jalan tol/bebas hambatan, diantaranya;
1. Rencana meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan jalan arteri primer di Provinsi Banten meliputi Merak – Cilegon – Serang – Tangerang – Batas DKI Jakarta, Merak
– Cilegon – Ciwandan – Anyer – Carita – Labuan – Panimbang –Cigeulis – Cibaliung
– Muarabinuangeun – Malingping – Simpang – Bayah – Cisolok – batas Provinsi
Jawa Barat untuk mewujudkan pengembangan jaringan jalan „Ring Barat-Selatan‟ Provinsi Banten sebagai perwujudan pengembangan jaringan jalan arteri lintas selatan
pulau jawa, mewujudkan pengembangan jaringan jalan „Ring Utara‟ pada ruas
Pantura Bojonegara – Banten Lama – Tirtayasa – Kronjo – Mauk – Teluknaga – Bandara Soekarno Hatta.
2. Rencana pengembangan jaringan jalan tol/bebas hambatan antar kota di Provinsi Banten meliputi Jembatan Selat Sunda, Tangerang – Merak, Cilegon – Bojonegara, Serpong – Tigaraksa – Balaraja, Balaraja – Teluknaga – Bandara Soekarno Hatta (Lingkar Utara).
Selain itu juga ada rencana pengembangan jaringan jalan provinsi yang meliputi jaringan jalan kolektor primer yang merupakan jalan penghubung antara PKN (Pusat Kegiatan Nasional) dengan PKW (Pusat Kegiatan Wilayah) , yaitu ;
Untuk pengembangan terminal transportasi darat, beberapa rencana pengembangan yang terkait dengan KSP Banten adalah ;
1. meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan terminal penumpang tipe A Terminal Pakupatan;
2. pengembangan terminal penumpang tipe B untuk melayani angkutan antar kota dalam provinsi dan angkutan kota/pedesaan, yakni Terminal Tipe B Cipocokjaya.
Untuk pengembangan jaringan kereta api, yang meliputi jaringan jalur kereta api umum, jaringan jalur kereta api khusus, serta stasiun kereta api, meliputi:
1. Rencana pengembangan jaringan prasarana kereta api yang menghubungkan kawasan-kawasan industri, simpul-simpul transportasi utama antara lain pembangunan jaringan prasarana baru pada lintas Stasiun Tonjong Baru – Pelabuhan Bojonegara, Serpong – Tangerang – Bandara Soekarno Hatta, Lintas Serang – Cikande – Cikupa – Serpong, dan Manggarai – Bandara Soekarno Hatta.
2. Rencana peningkatan aksesibilitas jaringan prasarana dan jaringan pelayanan yang melayani kawasan perkotaan jalur kereta api lintas Cilegon – Serang – Pandeglang
– Rangkasbitung (CISEPARANG).
3. Rencana peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan prasarana kereta api pada lintas Merak – Cilegon – Serang – Tangerang – Jakarta.
4. Rencana pengembangan pelayanan angkutan kereta api bisnis dan eksekutif yang melayani angkutan perkotaan terutama pada lintas Tangerang – Duri, Rangkasbitung
– Serpong – Tanah Abang dan lintas Merak – Cilegon – Serang – Rangkasbitung. 5. Rencana peningkatan aspek keselamatan transportasi kereta api dengan
pengembangan penyediaan sarana dan prasarana keselamatan terutama perlintasan sebidang pada ruas jalan provinsi yang kepadatan lalu lintas kendaraannya tinggi. 6. Rencana peningkatan pelayanan sarana dan prasarana Stasiun Merak (Kota Cilegon),
Serang (Kota Serang), Rangkasbitung (Kabupaten Lebak), Pasar Anyar (Kota Tangerang), Serpong (Kota Tangerang Selatan).
Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Laut
Terkait pengembangan sistem jaringan transportasi laut, rencana pengembangan system jarnigan transportasi laut yang terkait dengan KSP Banten Lama adalah pengembangan pelabuhan perikanan yaitu kewenangan pusat meliputi peningkatan Pelabuhan Perikanan Pantai Karangantu sebagai Pelabuhan Nusantara di Kota Serang.
Rencana Pengembangan Angkutan Massal
Terkait dengan pengembangan angkutan massal, terkait dengan KSP Banten Lama adalah pengembangan angkutan massal berupa pengembangan angkutan masal cepat di wilayah Jabodetabekpunjur dalam sistem transportasi yang saling terkait dengan sistem transportasi Provinsi DKI Jakarta dan pengembangan angkutan massal perkotaan Cilegon – Serang – Pandeglang – Rangkasbitung (CISEPARANG).
KSP Banten Lama di dalam Rencana Sistem Prasarana Lainnya
Didalam RTRW Provinsi Banten, untuk KSP Banten Lama terdapat beberapa arahan rencana prasarana yang terkait dengan pengembangan kawasannya diantaranya adalah;
1. Rencana pengembangan sistem jaringan energi;
2. Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi; 3. Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air;
4. Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah lainnya.
KSP Banten Lama terhadap Sistem Jaringan Energi
Didalam arahan rencana pengembangan sistem jaringan energi di Provinsi Banten, KSP Banten Lama yang masuk dalam administrasi wilayah Kota Serang, terdapat beberapa sistem jaringan yang terkait yakni;
1. Sistem jaringan listrik tegangan tinggi SUTET (500kV) 2. Sistem jaringan listrik tegangan tinggi SUTT (150 kV) 3. Sistem jaringan listrik tegangan tinggi SUTT (70 kV)
Selain itu juga terdapat beberapa rencana pengembangan jaringan pipa minyak dan gas diantaranya;
1. Menyalurkan minyak dan gas bumi dari fasilitas produksi ke kilang pengolahan dan/atau tempat penyimpanan setelah melalui koordinasi dengan kabupaten/kota; 2. Menyalurkan minyak dan gas bumi dari kilang pengolahan atau tempat penyimpanan
ke konsumen setelah melalui koordinasi dengan kabupaten/kota;
3. Pengembangan kegiatan usaha minyak dan gas bumi yang meliputi pelaksanaan dan pengendalian usaha eksplorasi dan eksploitasi secara berdaya guna, berhasil guna serta berdaya saing tinggi dan berkelanjutan; mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan daerah untuk lebih mampu bersaing di tingkat nasional dan regional; mendorong terciptanya lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup;
4. Rencana transmisi dan distribusi gas diarahkan di Kota Cilegon, Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.
KSP Banten Lama terhadap Sistem Jaringan Telekomunikasi
Terkait rencana pengembangan system jaringan telekomunikasi skala provinsi, diarahkan pengembangan system jaringan telekomunikasi meliputi jaringan terrestrial dan jaringan satelit. Untuk pengembangan jaringan teresterial dilakukan secara menerus hingga seluruh masyarakat dapat terlayani dari pelosok (tidak terlayani) hingga ke kawasan perkotaan. Sedangkan untuk pembangunan Base Tranceiver Station (BTS), keterpaduan penggunaan tower bersama diarahkan untuk dilakukan secara bersama dan diatur melalui keputusan gubernur.
KSP Banten Lama terhadap Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Sesuai arahan dari RTRW Provinsi Banten, rencana pengembangan system jaringan sumber daya air diarahkan untuk mendukung air baku dengan mengoptimalkan peruntukan sumber air permukaan dan sumber air tanah. Beberapa rencana pengembangan system jaringan sumber daya air yang terkait dengan KSP Banten Lama sebagai berikut;
2. Bendungan Cidanau di Kabupaten Serang untuk kebutuhan air baku industri dalam mendukung kawasan industri juga sebagai jaringan air baku untuk kebutuhan air minum di wilayah Kabupaten Serang dan sekitarnya;
3. Cekungan Air Tanah (CAT) Rawa Danau di Serang-Pandeglang. 4. Cekungan Air Tanah (CAT) Serang-Tangerang.
Selain itu juga terdapat rencana pengelolaan daerah aliran sungai dan pengendalian banjir lintas batas administrasi daerah dan pemerintah kabupaten/kota, meliputi wilayah sungai Cidanau – Ciujung – Cidurian – Cisadane – Ciliwung – Citarum (lintas provinsi).
KSP Banten Lama terhadap Sistem Jaringan Prasarana Wilayah Lainnya
Beberapa system jaringan prasarana wilayah lainnya yang terkait namun tidak langsung terhadap KSP Banten, atau lebih luasnya sewilayah Kota Serang adalah ;
1. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Regional diarahkan pada TPST Bojong Menteng di Kabupaten Serang yang dikelola bersama Kota Serang dan TPST Ciangir di Kabupaten Tangerang yang dikelola bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
KSP Banten Lama di dalam Rencana Pola Ruang RTRW Banten
Berdasarkan hasil kajian, untuk Pola Ruang KSP Banten Lama dimana secara kewilayahannya, rencana pengembangan pola ruangnya hutan lindung dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, hutan produksi dan pertambangan. Berdasarkan RTRW Provinsi Banten, dinyatakan bahwa terdapat 4 KSP yang berada di Kota Serang, diantaranya ;
1. Banten Water Front City di Kota Serang; 2. Kawasan Sport City di Kota Serang;
3. KP3B (Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten) di Kota Serang; 4. Kawasan Situs Banten Lama di Kota Serang;
Berikut pada tabel 2.1 dibawah ini adalah uraian penjelasan mengenai arahan rencana pola ruang yang terkait dengan KSP Banten Lama secara regional kewilayah Kota Serang.
Tabel 2. 2. Keterkaitan Pola Ruang KSP Banten Lama
NO
RENCANA POLA RUANG ADA/TDK
ADA
I KAWASAN LINDUNG
1 Kawasan Hutan Lindung X
2 Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya
X
3 Kawasan Perlindungan Setempat; Berupa Danau dan Sempadan Pantai
√
4 Kawasan Cagar Alam Pulau Dua seluas kurang lebih 30 Ha (0,003%) dari luas Provinsi Banten
√
5 Kawasan cagar Budaya, Situs Banten Lama;
1. Pelestarian bangunan gedung dan/atau lingkungan cagar budaya di Situs Kota Lama Banten;
2. Benteng Speelwijk;
3. Makam Keraton Kesultanan Banten.
√
6 Kawasan Rawan Tsunami √
II KAWASAN BUDIDAYA
1 Hutan Produksi X
2 Pertanian; kawasan budi daya tanaman pangan √
NO
RENCANA POLA RUANG ADA/TDK
ADA
4 Perikanan; kawasan budi daya perikanan, kawasan pengolahan ikan, dan mengembangkan minapolitan
√
5 Pertambangan X
6 Industri; Industri Kecil √
7 Pariwisata; Kawasan Wisata Budaya Banten Lama; √
8 Permukiman √
9 Kawasan Strategis Provinsi (KSP);
1. Banten Water Front City di Kota Serang; 2. Kawasan Sport City di Kota Serang;
3. KP3B (Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten) di Kota Serang;
4. Kawasan Situs Banten Lama di Kota Serang;
√
Sumber: analisis, 2014
KSP Banten Lama di dalam Arahan Pemanfaatan Ruang RTRW Banten
Berdasarkan arahan RTRW Provins Banten, Penentuan prioritas pemanfaatan ruang diarahkan pada suatu upaya pengurangan keterisolasian daerah tertinggal melalui peningkatan prasarana dan sarana komunikasi dan transportasi, serta pembangunan prasarana dan sarana yang menunjang kegiatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat sehingga memiliki keterkaitan dengan daerah lainnya. Untuk Kota Serang beberapa permasalahan prioritas yang perlu mendapat penanganan sebagai berikut;
Tabel 2. 3. Prioritas Pemanfaatan Ruang
No Infrastruktur Langkah Penanganan
Drainase kota Penanganan bersama sesuai urusan Pelebaran jalan Yumaga Penanganan bersama sesuai urusan Penataan geometric simpang
sebidang
Penanganan bersama sesuai urusan Kawasan situs banten lama Perlu pelestarian bersama pusat dan
daerah Peningkatan status pelabuhan
perikanan nusantara Karangantu
Penyiapan lahan oleh daerah, pembangunan fisik oleh pusat Pelebaran jalan lingkar
selatan/TB Suwandi (Kebon Jahe-Kepandean)
Penanganan bersama sesuai urusan
KSP Banten Lama di dalam Indikasi Program Utama RTRW Banten
Beberapa program/kegiatan terkait pengembangan KSP Banten Lama yakni Kota Serang sebagai berikut;
1. Program utama perwujudan struktur ruang
a. Pengembangan system perkotaan yakni PKN Kota Serang hingga tahun 2015; b. Pengembangan system prasarana utama berupa pengembangan system
jaringan transportasi darat yakni pengembangan dan pemantapan jaringan jalan nasional meliputi:
i. jaringan jalan dari Tangerang – Merak; ii. Batas Kota Cilegon – Batas Kota Serang; iii. Jalan raya Cilegon;
iv. Jalan Tirtayasa; v. Jalan Maulana Yusuf; vi. Jalan Yusuf Martadilaga; vii. Jalan TB A Khatib; viii. Jalan Raya Pandeglang;
c. Pengembangan dan pemantapan jaringan jalan provinsi yang meliputi: i. Jalan Serang – Cadasari;
ii. Jalan TB A Khatib; iii. Jalan Yumaga;
iv. Jalan Raya Pandeglang; v. Jalan Terate – Banten Lama; vi. Jalan Banten Lama – Pontang; vii. Jalan Trip Jamaksari;
viii. Jalan Ayip Usman;
ix. Jalan Lopang – Banten Lama; x. Jalan Abdul Hadi;
xi. Jalan Letnan Jidun; xii. Jalan Veteran; xiii. Jalan KH Syam‟un;
d. Perwujudan pemantapan terminal terkait, yakni terminal Pakupatan e. Pengembangan dan pemantapan jaringan kereta api, meliputi:
i. Karangantu – Pulau Tunda
g. Pengembangan jaringan transportasi laut, berupa pemantapan pelabuhan perikanan yaitu pelabuhan Karangantu.
h. Pengembangan angkutan massal yakni Cilegon – Serang – Pandeglang – Rangkasbitung (CISEPARANG)
i. Pengembangan system jaringan sumber daya air dari perwujudan dan pengembangan jaringan sumber daya air yakni CAT Serang – Tangerang. j. Pengembangan system jaringan sumber daya air berupa pengembangan
wilayah sungai yakni WS Cidanau - Ciujung – Cidurian – Cisadane – Ciliwung – Citarum (lintas provinsi)
2. Indikasi Program Utama Perwujudan Pola Ruang
a. Rehabilitasi dan pemantapan kawasan lindung, yakni CA Pulau Dua;
b. Rehabilitasi dan pemantapan kawasan lindung, berupa kawasan konservasi cagar budaya yakni Kawasan Banten Lama, Kota Serang.
c. Pengembangan kawasan peruntukan pertanian di Kota Serang; d. Pengembangan kawasan peruntukan perikanan di Kota Serang; e. Pengembangan kawasan peruntukan Industri di Kota Serang; f. Pengembangan kawasan peruntukan Pariwisata di Kota Serang; g. Pengembangan kawasan peruntukan Permukiman di Kota Serang; h. Pengembangan kawasan peruntukan Industri di Kota Serang;
Beberapa ruas jalan provinsi yang terkait dengan pengembangan KSP Banten Lama diantaranya;
Tabel 2. 4. Ruas Jalan Provinsi di Kota Serang
No Ruas Nama Ruas Panjang
001 Pakupatan - Palima 10.320
002 Lopang – Banten Lama 7.216
003 Jl. Trip Jamaksari 1.500
004 Jl. Ayip Usman 2.380
005 Jl. KH Abdul Fatah Hasan 1.405
006 Jl. Abdul Hadi 0.715
007 Jl. TB Suwandi 3.259
No Ruas Nama Ruas Panjang
009 Sempu – Dukuh Kawung 11.095
010 Jl. Veteran Serang 0.715
011 Jl. KH Syam‟un Serang 0.530
012 Kramatwatu – Tonjong 4.759
013 Simpang Taktakan – Gn. Sari 13.040
014 Gunung Sari – Mancak – Anyer 21.450
015 Palima – Pasang Teneng 40.729
016 Terate – Banten Lama 12.350
017 Banten Lama – Pontang 16.080
069 Jl. Akses Pelabuhan Karangantu 0.996 Sumber: Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Banten, 2014.
KSP Banten Lama di dalam Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTRW Banten
Berdasarkan UU Penataan Ruang No.26 tahun 2007 pasal 36 ayat 1, menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan peraturan zonasi yaitu “ketentuan yang mengatur pemanfaatan ruang dan
unsur-unsur pengendalian yang disusun untuk setiap zona peruntukan sesuai dengan rencana rinci tata ruang”. Peraturan zonasi tercantum di dalam Pasal 35 yang menyatakan bahwa pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi.
Pada hakekatnya Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik lingkungan yang spesifik. Zoning adalah pembagian wilayah ke dalam zona-zona, dan menetapkan pengendalian pemanfaatan ruang (ketentuan hukum yang berbedabeda), sedangkan Zoning Regulation adalah ketentuan yang mengatur tentang klasifikasi zona pengaturan lebih lanjut mengenai pemanfaatan lahan dan prosedur pelaksanaan pembangunan.
Peraturan Zonasi berfungsi sebagai panduan mengenai ketentuan teknis pemanfaatan ruang dan pelaksanaan pemanfaatan ruang, serta pengendaliannya.
Berdasarkan komponen dan cakupan Peraturan Zonasi, maka fungsi Peraturan Zonasi adalah :
Peraturan zonasi sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang, menyeragamkan arahan peraturan zonasi di seluruh wilayah provinsi untuk peruntukan ruang yang sama, serta sebagai arahan peruntukan ruang yang diperbolehkan, diperbolehkan dengan syarat, dan dilarang, serta intensitas pemanfaatan ruangyang lengkap akan memuat prosedur pelaksanaan pembangunan sampai ke tata cara pembinaannya.
2. Sebagai pedoman penyusunan rencana operasional.
Peraturan Zonasi dapat menjadi jembatan dalam penyusunan rencana tata ruang yang bersifat operasional, karena memuat ketentuan-ketentuan tentang penjabaran rencana yang bersifat makro ke dalam rencana yang bersifat sub makro sampai pada rencana yang rinci.
3. Sebagai panduan teknis pengembangan pemanfaatan lahan.
Indikasi arahan peraturan zonasi mencakup panduan teknis untuk pengembangan pemanfaatan lahan, meliputi :
1. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem perkotaan. Indikasi arahan peraturan zonasi untuk PKN Kota Serang:
1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala internasional dan nasional yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;
2. Pengembangan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat permukiman dengan intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah vertikal.
2. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan transportasi untuk PKN Kota Serang;
1. Pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi;
2. Ketentuan pelarangan perubahan fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jalan;
3. Penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan;
4. Dilarang semua pemanfaatan pada zona inti, kecuali untuk pergerakan orang/barang dan kendaraan;
5. Boleh pengembangan prasarana pelengkap jalan dengan syarat sesuai dengan kondisi dan kelas jalan;
7. Boleh pengembangan prasarana terminal untuk terminal penumpang dan terminal barang baik fungsi utama maupun penunjang pada kawasan-kawasan strategis. 3. Indikasi arahan peraturan zonasi untuk jaringan jalur kereta api terdiri dari:
1. Pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jaringan jalur kereta api dilakukan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi;
2. Pada pemanfaatan ruang di sekitar pengawasan jalur kereta api terdapat ketentuan pelarangan pemanfaatan lahan yang dapat mengganggu kepentingan operasi dan keselamatan transportasi perkeretaapian;
3. Adanya pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampaklingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api;
4. Adanya pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dan jalan;
5. Penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api.
4. Indikasi arahan peraturan zonasi untuk transportasi sungai, danau, dan penyeberangan terdiri dari:
1. Keselamatan dan keamanan pelayaran;
2. Ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai, danau, dan penyeberangan; 3. Ketentuan pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada
keberadaan alur pelayaran sungai, danau, dan penyeberangan; dan
4. Pembatasan pemanfaatan perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai, danau, dan penyeberangan.
5. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan energi; 5. Dilarang semua pemanfaatan pada zona inti;
6. Di luar zona inti, di ijinkan pengembangan pertanian dan rth;
7. Di luar zona penyangga boleh pengembangan perumahan, perdangangan dan jasa, serta industri skala kecil dan sedang.
8. Penentuan radius utama zona inti sesuai dengan peraturan terkait;
dan harus memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan kawasan di sekitarnya;
10.Peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain;
11.Peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan.
6. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan telekomunikasi;
1. Pengaturan zonasi memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya;
2. Dilarang semua pemanfaatan pada zona inti;
3. Di luar zona inti, di ijinkan pengembangan pertanian dan RTH;
4. Di luar zona penyangga boleh pengembangan perumahan, perdangangan dan jasa, serta industri skala kecil dan sedang;
5. Jarak aman saluran primer (zona inti) terhadap jalan dan rel kereta 15 m; terhadap bangunan 15 m; terhadap pohon 8,5 m; terhadap RTH 10-11 m; terhadap jaringan telekomunukasi lainnya dan jembatan besi 8,5 m.
7. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan sumber daya air; 1. Pengaturan zonasi memperhatikan perlindungan mata air;
2. Pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan;
3. Pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai lintas kabupaten/kota harus selaras dengan pemanfaatan ruang pada wilayah sungai di kabupaten/kota yang berbatasan;
4. Dilarang semua pemanfaatan pada zona in ti;
5. Di luar zona inti, diijinkan pengembangan pertanian dan rth;
6. Di luar zona penyangga boleh pengembangan perumahan, perdangangan dan jasa, serta industri skala kecil dan sedang;
7. Penentuan radius utama zona inti sesuai dengan peraturan terkait. 8. Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan lindung;
2. Boleh untuk kegiatan pendidikan dan penelitian dengan syarat tidak mengubah bentang alam;
3. Dilarang untuk kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan;
4. Dilarang untuk kegiatan yang berpotensi mengganggu bentang alam, menggangu kesuburan dan keawetan tanah, fungsi hidrologi, kelestarian flora dan fauna, serta kelestarian lingkungan hidup;
5. Dilarang kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan dan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya, seperti perambahan hutan, pembukaan lahan, penebangan pohon, dan perburuan satwa yang dilindungi;
6. Intensitas bangunan sangat rendah;
7. Pemanfaatan ruang untuk budidaya harus disertai pengawasan ketat dari provinsi. 9. Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sempadan pantai terdiri dari:
1. Dilarang semua kegiatan yang mengurangi kualitas pantai pada area 100 meter dari garis pasang tertinggi;
2. Dilarang semua kegiatan yang mengancam kerusakan pada pantai yang memiliki ekosistem bakau, terumbu karang, padang lamun, dan estuaria;
3. Dilarang kegiatan yang menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan; 4. Dilarang kagiatan yang mengganggu bentang alam, mengganggu kelestarian
fungsi pantai, mengganggu akses terhadap kawasan sempadan pantai; 5. Diijinkan penanaman hutan bakau dan aktivitas konservasi lainnya; 6. Pembangunan prasarana dermaga;
7. Pembangunan prasarana tower penjaga keselamatan pengunjung; 8. Pembangunan struktur alami dan atau buatan untuk mencegah abrasi. 10.Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sempadan sungai terdiri dari:
1. Dilarang semua kegiatan dan bangunan pada kawasan sempadan sungai sejauh 100 meter di luar kawasan permukiman dan 50 meter di kawasan permukiman; 2. Dilarang semua kegiatan dan bangunan yang mengancam kerusakan dan
menurunkan kualitas sungai;
3. Dibolehkan aktivitas wisata alam petualangan dengan syarat tidak mengganggu kualitas air sungai;
4. Pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan teknis keamanan dan keselamatan pengguna wisata.
2. Diijinkan semua kegiatan untuk menambah RTH agar mencapai 30% dari luas wilayah kota;
3. Pengawasan ketat dari pemerintah kota terkait kegiatan budidaya yang mempengaruhi fungsi RTH atau menyebabkan perubahan fungsi RTH.
12.Indikasi arahan peraturan zonasi untuk sempadan sungai di kawasan permukiman terdiri dari:
1. Dilarang semua kegiatan budidaya pada areal sepanjang 15 meter; 2. Diijinkan aktivitas reboisasi lahan;
3. Dilarang semua jenis kegiatan yang menyebabkan perubahan fungsi lindung dan perusakan kualitas air.
13.Indikasi arahan peraturan zonasi untuk cagar alam terdiri dari: 1. Diijinkan untuk kegiatan reboisasi lahan;
2. Diijinkan untuk kegiatan wisata alam;
3. Diijinkan terbatas kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam; 4. Dilarang kegiatan pemanfaatan biota dilindungan peraturan;
5. Dilarang kegiatan yang mengurangi daya dukung dan daya tamping lingkungan; 6. Dilarang kegiatan yang mengubah bentang alam dan ekosistem, mengganggu
kelestarian flora fauna serta keanekaragaman hayati; 7. Diijinkan untuk kegiatan penelitian dan pendidikan.
14.Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan pantai berhutan bakau terdiri dari:
1. Diijinkan untuk kegiatan reboisasi lahan;
2. Diijinkan untuk kegiatan penelitian, pendidikan, dan wisata alam; 3. Dilarang pemanfaatan kayu bakau;
4. Dilarang kegiatan yang mengurangi luas bakau atau mencemari ekosistem bakau; 5. Dilarang kegiatan yang mengubah bentang alam dan ekosistem, mengganggu
kelestarian flora fauna serta keanekaragaman hayati.
15.Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan terdiri dari:
1. Diijinkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan wisata;
2. Diijinkan bersyarat pendirian bangunan yang menunjang kegiatan wisata alam; 3. Dilarang kegiatan yang mengganggu atau merusak kekayaan budaya;