• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gaya Tokoh Kepemimpinan BJ Habiebie

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Gaya Tokoh Kepemimpinan BJ Habiebie"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh :

1. Yosefin Mundhi 10100058E S1 Teknik Industri 2. Priyandika S. P. 13130082E S1 Teknik Industri 3. Ismail Hasan 13130083E S1 Teknik Industri 4. Helen Kusuma P. 13130084E S1 Teknik Industri 5. Frisma Novarianto 13130085E S1 Teknik Industri 6. Rizka Primasari 13130088E S1 Teknik Industri

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SETIA BUDI

(2)

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Gaya Tokoh Kepemimpinan BJ. Habiebie”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Kepemimpinan di Universitas Setia Budi Surakarta.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Surakarta, 6 April 2014

Penulis

(3)
(4)

1.1. Latar Belakang Masalah

BJ Habibie adalah sosok yang sangat diidolakan oleh masyarakat. Sebagai orang yang jenius yang mampu membuat kapal terbang dan terpakai kepandaiannya di negara modern seperti Jerman. BJ Habibie memulai kariernya ditanah air sebagai Penasehat Pemerintah Indonesia pada bidang teknologi tinggi dan teknologi pesawat. Dan pada tahun 1978 BJ Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Beliau memegang jabatan ini selama lima kali berturut-turut dalam kabinet pembangunan hingga tahun 1998. Dan selama menjadi menristek ia juga merangkap memegang 47 posisi penting lainnya seperti, Presiden Direktur PT PAL Surabaya, Presiden Direktur Pindad, Ketua Otorita Pembangunan Kawasan Batam, Kepala Direktur Industri Strategis (BPIS).

Sebelum masyarakat Indonesia menggelar pemilihan umum tahun 1997, sebenarnya BJ Habibie pernah menyampaikan niatnya kepada keluarga dan kerabat dekat secara terbatas bahwa ia merencanakan berhenti dari jabatan selaku menteri setelah Kabinet Pembangunan Enam berakhir. Akan tetapi pada tanggal 11 Maret 1998, MPR justru memilih dan mengangkat BJ Habibie sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ketujuh.

Pada saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi merata dikawasan Asia Tenggara. Krisis moneter yang terjadi membuat situasi semakin tidak terkontrol dan berkembang menjadi krisis multidimensional berkepanjangan diberbagai bidang.

Globalisasi dan pengaruh teknologi pada umumnya dan khususnya teknologi informasi dan teknologi pemberitaan terus berkembang. Dunia menjadi lebih transparan. Rakyat Indonesia menanggapinya dengan menuntut kebebasan, transparansi, keadilan, demokrasi, dilandaskan pada nilai-nilai hak asasi manusia, tanggung jawab asasi, serta keamanan umat manusia dalam waktu sesingkat-singkatnya.

(5)

Harmoko, yang berbicara atas nama Pimpinan DPR/MPR, menyampaikan sejumlah tuntutan reformasi yang semakin deras. Tuntutan reformasi itu pada intinya dapat disimpulkan menjadi tiga hal. Pertama, perlunya melaksanakan reformasi total. Kedua, menyampaikan keinginan rakyat agar Presiden Soeharto mengundurkan diri. Ketiga, mendesak dilaksanakannya Sidang Istimewa MPR. Pernyataan Presiden Soeharto menanggapi pernyataan Pimpinan DPR/MPR, bahwa jika rakyat memang menginginkan dia diganti, ia mempersilakan, asal dilakukan secara konstitusional.

Bila kita lihat kembali, apabila seorang presiden berhenti dari jabatannya yang akan dilakukan secara konstitusional, maka wakil presiden lah yang akan menggantikannya. Ini diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, pasal 8, yang isi lengkapnya adalah jika Presiden mangkat, berhenti atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya.

Dan pada tanggal 21 Mei 1998 secara konstitusional, menurut UUD ’45, pasal 8, BJ Habibie sah diangkat menjadi presiden menggantikan Soeharto. Habibie diambil sumpah kewajibannya sebagai Presiden.

Selama BJ Habibie menjabat menjadi Presiden, sebenarnya banyak ide yang dilahirkan, selain melanjutkan kebijakan mantan Presiden Soeharto pendahulunya. Salah satunya seperti yang dikatakan oleh Dody Rudianto, sebenarnya Habibie telah berhasil meletakkan dasar-dasar bangun arsitektural ekonomi yang menjadi landasan perbaikan ekonomi menuju kesejahteraan sosial, yaitu sistem ekonomi pasar sosial yang diwacanakan pada waktu itu. Namun sangat disayangkan waktunya keburu habis. Gagasannya terbengkalai, tidak dilanjutkan oleh presiden penggantinya.

Malam sebelum BJ Habibie diangkat menjadi Presiden, ia juga membuat beberapa point penting mengenai langkah-langkah awal, dasar ataupun prinsip, sikap dan kebijakan yang akan diambil, antara lain:

(6)

2. Saya mewarisi bentuk institusi kepresidenan yang sangat berkuasa dalam lingkungan dan budaya feodal. Hal ini harus segera saya akhiri, tanpa memberi kesan yang dapat disimpulkan sebagai “penguasa” yang lemah dan takut.

3. Tahanan politik harus segera dilepaskan dan tidak boleh lagi terjadi bahwa orang yang bertentangan dengan pendapat atau rencana Presiden, harus dimasukkan ke dalam penjara, kecuali mereka yang terbukti telah melaksanakan tindakan criminal.

4. Kebebasan berbicara, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan pers, dan kebebasan unjuk rasa harus segera dilaksanakan;

5. Saya menyadari dan dapat mengerti, jikalau yang pernah dirugikan dalam masa Orde Baru menilai negatif, bahkan bersikap anti kepada saya karena kedudukan dan kedekatan saya dengan kekuasaan selama hampir 25 tahun lamanya, serta menganggap saya ikut bertanggung jawab atas terjadinya multikrisis yang dihadapi. Oleh karena itu, sikap saya dalam menghadapi semua persoalan harus arif dan toleran demi persatuan dan kesatuan dua ratus juta lebih penduduk Indonesia.

6. DPR dan MPR harus diberi legitimasi yang kuat berdasarkan pemilu yang demokratis. Dan kesempatan terbuka untuk mendirikan partai politik apa saja, diperbolehkan asal tidak melanggar UUD ’45 dan Ketetapan MPR. Untuk itu saya harus berkonsultasi dengan MPR.

7. Sidang Istimewa MPR harus segera diselenggarakan dalam waktu sesingkat-singkatnya untuk memberi dasar hukum bagi reformasi dan pemilu yang dibutuhkan. Hanya dengan demikian, suatu revolusi dan khaos, yang bisa memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dapat dicegah.

(7)

Kepemimpinan BJ Habibie ketika menjabat menjadi presiden berada pada masa transisi, masa reformasi. Dimana masyarakat meminta begitu banyak kebebasan.

Mencermati pada hal-hal diatas, maka penulis merasa tertarik meneliti tentang ”Gaya Kepemimpinan BJ Habibie sebagai Presiden Tahun 1998-1999.”

1.2. Perumusan Masalah

Masalah yang diangkat sebagai isu pokok permasalahan cenderung berada dalam ruang lingkup yang luas dan mendalam. Dari Latar belakang diatas, maka penulis mencoba membuat suatu perumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kepemimpinan BJ Habibie sebagai Presiden RI ke-3?

2. Bagaimanakah Gaya Kepemimpinan BJ Habibie ketika menjadi Presiden RI ke-3?

1.3. Tujuan

Adapun tujuan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana kepemimpinan BJ Habibie sebagai Presiden RI Ke-3.

2. Untuk mengetahui bagaimana gaya kepemimpinan BJ Habibie ketika menjadi Presiden RI ke-3.

1.4. Manfaat

Adapun manfaat makalah ini adalah:

1. Secara Akademis, berfungsi sebagai referensi tambahan bagi mahasiswa. 2. Bagi Penulis, untuk mengembangkan kemampuan dalam menulis karya

ilmiah khususnya di bidang Politik.

1.5. Topologi Kepemimpinan a. Tipe yang Kharismatik

(8)

seorang pemimpin yang kharismatik tidak mempersoalkan nilai-nilai yang dianut, sikap dan prilaku dan gaya yang digunakan pemimpin yang diikutinya itu. Penampilan fisik ternyata bukan ukuran yang berlaku umum karena ada pemimpin yang dipandang sebagai pemimpin yang kharismatik yang kalau dilihat dari penampilan fisiknya saja sebenarnya tidak atau kurang mempunyai daya tarik. Usia pun tidak selalu dapat dijadikan ukuran. Sejarah telah membuktikan bahwa seorang yang berusia relatif muda pun mendapat julukan sebagai pemimpin yang kharismatik. Jumlah harta yang dimiliki pun nampaknya tidak bisa digunakan sebagai ukuran. Hanya saja jumlah pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang kharismatik tidak besar dan mungkin jumlah yang sedikit ini juga yang menyebabkan, sehingga tidak cukup data yang dapat digunakan untuk menganalisis secara ilmiah karakteristik pemimpin yang sedemikian dengan rinci.

b. Tipe yang Laissez Faire

Dapat dikatakan bahwa persepsi seorang pemimpin yang laissez faire tentang peranannya sebagai seorang pemimpin berkisar pada pandangannya bahwa pada umumnya organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa-apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan seorang pemimpin tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan organisasional. Dengan sikap yang persuasif, prilaku seorang pemimpin yang laissez faire cenderung mengarah kepada tindak-tanduk yang memperlakukan bawahan sebagai rekan kerja, hanya saja kehadirannya sebagai pemimpin diperlukan sebagai akibat dari adanya struktur hirarki organisasi. Dengan telah mencoba mengidentifikasi karakteristik utama seorang pemimpin yang laissez faire ditinjau dari kriteria persepsi, nilai dan prilaku diatas, mudah menduga bahwa gaya kepemimpinan yang digunakannya adalah sedemikian rupa sehingga:

1. Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif.

2. Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pemimpin yang lebih rendah dan kepada para petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang ternyata menuntut keterlibatannya secara langsung.

(9)

4. Pertumbuhan dan pengembangan kemampuan berfikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan sendiri.

5. Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan prilaku dan prestasi kerja yang memadai intervensi pimpinan dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang minimum.

c. Tipe yang Demokratik

Tipe pemimpin yang paling ideal dan paling didambakan adalah pemimpin yang demokratik. Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas. Seorang pemimpin yang demokratik menyadari benar bahwa akan timbul kecenderungan dikalangan para pejabat pemimpin yang paling rendah dan dikalangan para anggota organisasi untuk melihat peranan suatu kerja dimana mereka berada sebagai peranan yang paling penting, paling strategis dan paling menentukan keberhasilan organisasi mencapai berbagai sasaran organisasional, prilaku mendorong para bawahan menumbuhkan dan mengembangkan daya inovasi dan kreativitasnya. Dengan sungguh-sungguh ia mendengarkan pendapat, saran dan bahkan kritik dari orang lain, terutama bawahannya. Bahkan seorang pemimpin yang demokratik tidak akan takut membiarkan para bawahannya berkarya meskipun ada kemungkinan prakarsa itu akan berakibat kesalahan. Jika terjadi kesalahan, pemimpin yang demokratik berada disamping bawahan yang berbuat kesalahan itu, bukan untuk menindak atau menghukumnya, melainkan meluruskannya sedemikian rupa sehingga bawahan tersebut belajar dari kesalahannya itu dan dengan demikian menjadi anggota organisasi yang lebih bertanggung jawab. Karakteristik penting seorang pemimpin yang demokratik yang sangat positif ialah dengan cepat menunjukkan penghargaannya kepada para bawahan yang berprestasi tinggi.

(10)

Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan berbagai segi, antara lain:

a. Latar Belakang Sejarah Pemimpin dan Kepemimpinan

Kepemimpinan muncul bersama-sama dengan adanya peradaban manusia yaitu sejak zaman nenek moyang manusia berkumpul bersama, lalu bekerja bersama-sama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menentang kebuasan binatang dan alam sekitarnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar manusia dan ada unsur kepemimpinan.

b. Sebab Munculnya Pemimpin

Dua teori yang menonjol dalam menjelaskan kemunculan pemimpin yaitu:

1. Teori Genetis menyatakan sebagai berikut:

a) Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakat lama yang luar biasa sejak lahirnya.

b) Dia ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga, termasuk yang khusus. c) Secara filosofi, teori tersebut menganut pandangan

deterministis.

2. Teori Sosial menyatakan sebagai berikut:

a) Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan dibentuk, tidak terlahir begitu saja

b) Setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan, serta didorong oleh kemauan sendiri.

3. Teori Ekologis atau Sintesis (muncul sebagai reaksi dari kedua teori tersebut lebih dahulu), menyatakan bahwa seorang akan sukses menjadi kepemimpinan dan bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan juga sesuai dengan tuntutan lingkungan ekologisnya.

c. Syarat-Syarat Kepemimpinan

(11)

1. Kekuasaan ialah kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu.

2. Kewibawaan ialah kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga orang mampu mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh pada pemimpin dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.

3. Kemampuan ialah segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan atau ketrampilan teknis maupun sosial, yang dianggapmelebihi dari kemampuan anggota biasa.

Stogdill dalam bukunya ”Personal Factor Associated with Leadership” yang dikutip oleh James A.Lee dalam bukunya “Management Theories and Prescription” menyatakan bahwa, pemimpin itu harus memiliki beberapa kelebihan, Yaitu:

a. Kapasitas seperti kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara (verbal facility), keaslian, kemampuan manilai.

b. Prestasi (echievement) seperti gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan, perolehan prestasi dalam olahraga.

c. Tanggung jawab seperti mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri, agresif dan punya hasrat untuk unggul.

d. Partisipasi seperti aktif, memiliki jiwa sosialbilitas tinggi, mampu bergaul, kooperatif atau suka bekerja sama, mudah menyesuaikan, punya rasa humor.

e. Status seperti meliputi kedudukan sosial-ekonomi yang cukup tinggi, popular dan tenar.

Sedangkan Earl Nightingale dan White Scult dalam bukunya ”Creative Thingking How to Win Ideas” (1965) menuliskan kemampuan pemimpin dan syarat yang harus dimiliki ialah:

a. Kemandirian, berhasrat memajukan diri sendiri (individualism) b. Besar rasa ingin tahu dan cepat tertarik pada manusia dan

benda-benda (corius).

(12)

f. Mudah menyesuaikan diri, adaptasinya tinggi. g. Sabar namun ulet, serta tidak berhenti.

h. Waspada, peka, jujur, optimis, berani, gigih, ulet, realistis. i. Komunikatif, serta pandai berbicara atau berpidato

j. Berjiwa wiraswasta.

k. Sehat jasmaninya, dinamis, sanggup dan suka menerima tugas yang berat, serta berani mengambil resiko.

l. Tajam firasatnya dan adil pertimbangannya.

m. Berpengetahuan luas dan haus akan ilmu pengetahuan.

n. Memiliki motivasi tinggi dan menyadari target atau tujuan hidupnya yang ingin dicapai, dibimbing oleh idealisme tinggi.

o. Punya imajinasi tinggi, daya kombinasi dan daya inovasi

Yang jelas, pemimpin itu harus memiliki beberapa kelebihan dibandingkan anggota-anggota biasa lainnya. Sebab kelebihan-kelebihan tersebut dia bisa berwibawa dan dipatuhi oleh bawahannya. Terutama sekali ilah kelebihan di bidang moral dan akhlak, semangat juang, ketajaman intelegensi, kepekaan terhadap lingkungan dan keuletan. Dan yang penting lainnya ialah memiliki integritas kepribadian tinggi.

1.7. Fungsi-Fungsi Kepemimpinan

Fungsi-fungsi kepemimpinan secara singkat adalah sebagai berikut: a. Pemimpin sebagai Penentu Arah

(13)

seorang suatu organisasi. Keputusan yang diambil dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Keputusan strategik

2. Keputusan yang bersifat taktik 3. Keputusan yang bersifat teknis 4. Keputusan oprasional

b. Pemimpin sebagai Wakil dan Juru Bicara Organisasi

Tidak ada yang mempersoalkan kebenaran pendapat yang mengatakan bahwa dalam usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasarannya, tidak ada organisasi yang bergerak dalam suasana terisolasi. Artinya, tidak ada organisasi yang akan mampu mencapai tujuannya tanpa memelihara hubungan yang baik dengan berbagai pihak diluar organisasi yang bersangkutan sendiri. Prinsip yang sama berlaku bagi suatu instansi pemerintah dalam suatu negara. Dengan bertitik tolak dari kenyataan bahwa suatu instansi pemerintah mempunyai wewenang melaksanakan tugas-tugas pengaturan dan berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat, tidak ada satupun instansi pemerintah yang dapat menjalankan wewenangnya dengan baik dan memberikan pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya dengan memuaskan tanpa memelihara hubungan yang baik dengan berbagai pihak dalam dan luar pemerintah yang bersangkutan. Kebijakan dan kegiatan organisasi perlu dijelaskan kepada berbagai pihak tersebut, dengan maksud agar berbagai pihak tersebut mempunyai pengertian yang tepat tentang kehidupan organisasional yang bersangkutan.

c. Pimpinan sebagai Komunikator yang Efektif

(14)

salah satu fungsi pimpinan yang bersifat hakiki adalah berkomunikasi secara efektif.

1.8. Gaya Kepemimpinan BJ. Habiebie

Tidak dipermasalahkan lagi bahwa BJ Habibie memang seorang idealis yang dengan keras kepala tidak mau beranjak dari citranya mengenal Indonesia modern dan cara mencapainya. Ia seorang romantikus yang dengan penuh gairah menyambut semua taji tangan dalam hidupnya. Ia tahu bagaimana rasanya bersendiri dalam menuju perjalanan yang benar. Nasionalismenya terwujud dalam sajak, karangan dan perbuatannya.

Habibie adalah ilmuwan yang cemerlang yang selalu bertanya kalau tidak tahu, selalu ingin mendalami segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, dan selalu bingung menghadapi omong kosong. Ia seorang pemimpin yang mampu membakar semangat ribuan orang muda di dalam dan diluar badan organisasi yang dipimpinnya.

Bahwa BJ Habibie juga sorang pekerja keras, orang polos yang tidak tahan pada keruwetan yang dibuat-buat, suka menolong orang lain, tahu membayar hutang budi, taat pada agama, suami dan ayah penuh kasih sayang, dan nasionalis dalam arti cinta tanah air.

BJ Habibie seorang yang perfeksionis yang heran melihat orang yang tidak berusaha mencapai yang sesempurna mungkin dan dengan tabiat yang details selalu memperhatikan sampai yang kecil-kecil. Ia juga seorang manajer yang baik, yang tahu menentukan sasaran strategis maupun menentukan untung rugi tindakan-tindakan operasional yang mendetail.

Gaya kepemimpinan seseorang juga dibentuk oleh watak dan lingkungan kita patut heran kalau BJ Habibie sepenuhnya mengikuti gaya kepemimpinan raja-raja melayu dalam melaksanakan pekerjaan, lebih masuk akal ia lebih menghayati dan menerapkan prinsip-prinsip yang berlaku di dalam industri modern.

(15)

mencapai kesempurnaan yang setinggi mungkin. Kesempurnaan tidak datang dengan sendirinya. Kesempurnaan harus diupayakan.

Kesempurnaan harus dinilai. Proses dan hasil pekerjaan harus selalu diawasi. Maka lahirlah prinsip; “ Percaya itu baik tetapi mengecek lebih baik lagi.” Mengecek itu tidak ada hubungannya dengan sikap terhadap perorangan. Mengecek menyangkut tanggung jawab atas pekerjaan dan perbuatan semua anggota sistem kerja terhadap hasil kerja keseluruhan sistem. Maka saling mengecek merupakan hal yang wajar.

Karena itu BJ Habibie sangat mementingkan pengawasan, termasuk pengawasan atasan langsung terhadap bawahannya. Tidak mengheranan bahwa ia menerapkan tingkat konsentrasi atau pemusatan pengambilan keputusan yang relative tinggi, terutama menyangkut pengendalian dan pengawasan mutu.

Banyak gagasan dan keputusan yang sangat fundamental lahir atas inisiatif BJ Habibie. Sadar atau tidak, apa yang ditinggalkan BJ Habibie dalam masa singkat pemerintahannya, telah membuka jalan bergulirnya reformasi dan pengaruh dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Berdasarkan uraian diatas tipologi kepemimpinan BJ Habibie identik dengan tipologi kepemimpinan yang demokratis. Dalam tipologi kepemimpinan yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas.

1.9. Tiga Landasan Perilaku BJ. Habiebie

1. Sandaran kekuatan rohani. Salah satu hal yang menonjol dari BJ Habibie adalah sifat keberagamaannya yang kental. BJ Habibie meyakini apa pun yang terjadi adalah kehendak Tuhan, walaupun kadang-kadang bertentangan dengan kehendak manusia.

2. Kekuasaan adalah amanah. Salah satu yang mendasari prilaku kepemimpinan BJ Habibie adalah pemahamannya tentang ”kekuasaan”. Menurut BJ Habibie kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana perjuangan atau pengabdian kepada bangsa dan negara. Kekuasaan adalah amanah yang harus ditunaikan dengan baik, demi kepentingan rakyat dalam arti yang sebenarnya.

(16)

melontarkan pertanyaan kepada dirinya sendiri mengenai hal-hal mendasar yang terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi.

1.10. Tiga Ciri Sifat Tauladan BJ. Habiebie

1. Pemikiran beliau sangat rasional dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Dr. Indria Samego (Dewan Direktur CIDES) yaitu: “ Visi misi dan strategi kepemimpinan Presiden B.J Habibie, terkait erat dengan latar belakang pribadinya. Dia seorang yang sangat rasional di dalam menghadapi suatu persoalan. Menurut saya, banyak persoalan yang ia selesaikan lebih mengedepankan rasionalitas, kadangkala membuat orang terkaget-kaget dan tak mengerti. Karena itu, pada waktu Soeharto masih berkuasa B.J Habibie mengakui, Soeharto adalah guru besarnya.

2. Memperlihatkan Dirinya Berbeda

Di kalangan teman-temannya, B.J Habibie dijuluki the wonder boy. Ini dibuktikan dengan sejumlah prestasi ilmiah yang dimilikinya, beberapa hasil penemuannya di gunakan di dalam teknologi pesawat terbang, kereta api dan banyak lainnya. Dan mari kita jujur mengatakan bahwa pengamat-pengamat luar negeri pun mengakui kehebatan si wonder boy. Makannya, tidak terlalu berlebihan kalau saya mengatakan bahwa bangsa Indonesia mesti bangga punya presiden yang jenius, contohnya, ia banyak membuat kebijakan yang di zaman Soeharto. Semisalnya kebebasan pers, kebebasan mendirikan parpol, kebebasan berbeda pendapat dan banyak lainnya…”

3. Rendah hati dan berbakti pada ibu pertiwi

(17)

cita-citanya masih tetap ingin kembali ke Indonesia agar ilmu yang diperdalamnya selama ini dapat diamalkan di Tanah Air”.

Sedikit cerita mengenai Pak Habibie. Beliau menolak menjadi guru besar di Universitas terkemuka di Jerman, padahal begitu banyak orang Jerman sendiri yang mengidam-idamkan dinobatkan sebagai guru besar. Beliau memberi alasan yang membuat takjub dan salut kepadanya. “Saya ingin mengamalkan ilmu saya di Indonesia, tanah air saya”. Begitulah kiranya bahasa Pak Habibie.

Pak Habibie menyebutkan presiden itu bukan segala-galanya. Walau jenius dengan memperoleh royalti atas delapan hak paten, hasil temuannya sebagai ilmuwan konstruksi pesawat terbang seperti dari Airbus dan F-16, dia mengaku masih banyak yang jauh lebih baik dari dirinya. Lama bermukim di lingkungan yang sangat menghargai ketokohan dan personality setiap orang, Habibie mendefinisikan jika ingin dihargai maka yang diperhatikan orang lain adalah sikap yang tak berubah terhadap lingkungan.

1.11. Kesimpulan

Pak Habibie menjelaskan bahwa setiap pribadi perlu menyadari pentingnya menyeimbangkan akal, emosi dan rasio dengan keimanan dan ketakwaan. Keseimbangan pribadi ini juga perlu dilengkapi dengam kemampuan mencintai orang lain melalui kemauan dan kemampuan menerima masukan dan kritik. Pak Habibie juga berpesan bahwa untuk mencapaai kesuksesan, masing-masing pihak perlu menumbuhkan kecintaan pada pekerjaannya dengan cara melakukannya secara sungguh sungguh dan ikhlas. Lebih jauh, beliau percaya hanya melalui moral yang baik dan kepribadian kuatlah pembangunan suatu bangsa, termasuk di Indonesia, dapat berlangsung sukses dan menyeluruh.

(18)

Ahmad Shahab. Biografi Politik Presiden RI Ketiga BJ Habibie Berbasis Teknologi. Jakarta: Peace. 2008. hal.xvi.

BJ Habibie. Detik-Detik yang Menentukan. Jakarta: THC Mandiri. 2006. Hal. 56-58. Dwinuri, Annisa. 2013. “Gaya Kepemimpinan BJ Habibie”, (online),

(http://annisadwinuri.blogspot.com/2013/01/gaya-kepemimpinan-bj-habibie.html#, diakses 6 April 2014).

Erakata. 2013. “Profil dan Biodata B.J. Habibie : Sang Tokoh Kebanggaan

Indonesia”, (online), (http://www.erakata.com/2013/09/profil-dan-biodata-bj-habibie-sang.html, diakses 6 April 2014).

Kartini Kartono. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT.Grafindo Persada. 2005. hal.31.

Miftah Toha. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT.Grafindo Persada. 1993. hal.287-288.

Samin, Rizal. 2010. “3 Ciri Sifat Tauladan Sang Bapak Teknologi Indonesia , B.J Habibie !”, (online), (http://bukanrizalsamin.blogspot.com/2010/05/3-ciri-sifat-tauladan-sang-bapak.html, diakses 6 April 2014).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisa multiple regression diketahui bahwa idealized influence, intellectual stimulation, dan laissez-faire berpengaruh signifikian pada cognitive dan relational

Laissez-Faire. 4) Berdasarkan dari kuisioner yang telah disebarkan kepada karyawan tetap Service Center Panasonic Surabaya, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar

Sedangkan gaya kepe- mimpinan laissez faire 10% yang artinya kepemimpinan laissez faire pada kemampuan un- tuk mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama dengan cara

Dalam manajemen yang mengadopsi gaya kepemimpinan bebas (laissez-faire), manajer atau pemimpin akan memberikan bawahan kebebasan penuh dalam mengambil keputusan yang

Kekuatan anggota organisasi sebagai bawahan, yang dimaksud adalah kondisi diri pada umumnya yang mendukung pelaksanaan kepemimpinan seorang pemimpin

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan otokratis, demokratik dan laissez faire terhadap peningkatan prestasi kerja karyawan pada Kantor

Rivai 2014, gaya kepemimpinan adalah sekumpulan startegi yang digunakan seorang pemimpin untuk memengaruhi para karyawan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa

Tipe Laissez Faire Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa