INTERNAL AUDITORS AS
ENTERPRISE CONSULTANTS
DISUSUN OLEH KELOMPOK 4:
NOVI KARMILASARI
041414253012
REFIVIA AUDIE CALCARINA
041414253013
PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, dengan berkembangnya praktik bisnis dan kebutuhan konsumen yang semakin kompleks, menyebabkan semakin ketatnya persaingan di dunia bisnis. Dunia bisnis selalu dihadapkan dengan konsep baru, sistem baru, dan prosedur baru. Terlebih lagi praktik bisnis yang bergerak di bidang yang sama akan mempertajam persaingan yang terjadi. Apabila perusahaan tidak mampu bersaing kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah kebangkrutan. Agar dapat bertahan dan tetap unggul, perusahaan berusaha menerapkan berbagai kebijakan dan strategi seperti peningkatan produktivitas, efisiensi, efektivitas dan pengendalian internal yang baik, tentunya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen dan memberikan pelayanan yang terbaik.
Semakin berkembangnya perusahaan, fungsi pengendalian biasanya kurang dapat dilaksanakan dengan baik karena jangkauan yang dikendalikan akan semakin luas. Berbeda halnya dengan perusahaan berskala kecil, untuk kegiatan pengawasan dan pengendalian dapat dilakukan sendiri oleh pemilik, akan tetapi semakin berkembangnya perusahaan, fungsi pengendalian biasanya tidak dapat dijalankan dengan baik apabila dilakukan oleh pemilik sendiri karena cakupan yang diperlukan untuk pengawasan dan pengendalian akan semakin luas (Suroso, 2009: 1). Dengan perusahaan yang semakin berkembang tentunya semakin banyak departemen, bagian-bagian, atau unit-unit untuk menjalankan masing-masing fungsi sesuai prosedur. Melihat kondisi seperti ini manajemen perusahaan dihadapkan pada keterbatasan kemampuan untuk mengawasi dan mengendalikan operasi perusahaan sehingga manajemen mengandalkan peran auditor internal dalam mengatasi keterbatasan tersebut.
dalam pengelolaan perusahaan beserta risiko-risiko yang terkait dalam melaksanakan usahanya (Sawyer, 2005: 7).
Audit internal sebelumnya dikenal sebagai pendekatan berbasis pada sistem, kemudian beralih menjadi audit internal berbasis proses. Awalnya auditor internal lebih berperan sebagai pengawas atau mata dan telinga manajemen karena manajemen membutuhkan kepastian terkait dengan pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan untuk menghindari tindakan yang menyimpang. Di sini audit internal lebih berorientasi pada pelaksanaan tindakan pemeriksaan terhadap tingkat kepatuhan para pihak pelaksana dengan ketentuan-ketentuan yang ada dan ini sering dianggap sebagai tindakan yang konfrontatif. (Tampubolon, 2005: 1)
Seiring dengan berjalannya waktu, fokus utama audit internal mengalami pergeseran menjadi konsultan untuk perusahaan atau kliennya, yaitu membantu satuan kerja operasional mengelola risiko dengan mengidentifikasi masalah-masalah dan memberikan saran untuk tindakan perbaikan yang dapat memberikan tambahan nilai sebagai amunisi memperkuat organisasi. Bahkan untuk masa yang akan datang diprediksikan peran auditor internal akan menjadi katalisator, di mana akan ikut serta dalam penentuan tujuan dari suatu perusahaan atau organisasi (Tampubolon, 2005:2).
Di samping itu, keberadaan auditor internal yang memberikan banyak manfaat bagi perusahaan membuat banyak manajemen perusahaan-perusahaan besar membentuk tim audit internal. Auditor internal di berbagai perusahaan biasa dikenal dengan sebutan Satuan Pengawas Internal (SPI). Dengan adanya SPI sebagai auditor internal diharapkan dapat mempermudah perusahaan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian atas kegiatan-kegiatan yang berjalan di perusahaan sehingga tujuan yang hendak dicapai perusahaan dapat terealisasikan.
Pernyataan tentang tujuan perusahaan tercermin dalam visi didukung dengan definisi yang diungkapkan oleh Kotler yang mengemukakan bahwa visi adalah pernyataan tentang tujuan organisasi yang diekspresikan dalam produk dan pelayanan yang tawarkan, kebutuhan yang dapat diatasi, nilai-nilai yang diperoleh serta aspirasi dan cita-cita masa depan. Sedangkan pernyataan tentang tujuan perusahaan tercermin dalam misi juga didukung dengan definisi yang diungkapkan oleh Wheelen yang mengemukakan bahwa misi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan tujuan atau alasan eksistensi perusahaan yang memuat apa yang disediakan oleh perusahaan pada masyarakat atau konsumen, baik jasa ataupun produk (Wibisono: 2006, 46). Apabila dilihat dari misi tersebut, maka peran Internal Audit tidak lagi hanya sebagai pengawas, tetapi telah mengalami perkembangan menjadi konsultan dan katalisator.
1.2. Rumusan Masalah
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Auditor Internal
Dewan Direksi The Institute of internal Auditors (IIA) mengadopsi definisi audit internal sebagai berikut: Audit Internal adalah aktivitas independen, keyakinan objektif dan konsultasi yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasi organisasi. Audit tersebut membantu organisasi mencapai tujuannya dengan menerapkan pendekatan secara sistematis dan berdisiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses pengelolaan resiko, kecukupan kontrol dan pengelolaan organisasi.
Sedangkan dalam Sukrisno Agoes (2004: 221) definisi internal audit sebagai berikut: Audit Internal adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuanketentuan dari ikatan profesi yang berlaku. Peraturan pemerintah seperti peraturan di bidang perpajakan, pasar modal, lingkungan hidup, perbankan, perindustiran, investasi dan lain-lain. Ketentuanketentuan dari ikatan profesi misalnya standar akuntansi keuangan.
Dari uraian definisi-definisi di atas peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa audit internal adalah aktivitas pemeriksaan dan pemberian jasa konsultasi yang dikelola secara independen dan efektif sehingga dapat membantu memberikan nilai tambah untuk aktivitas operasional perusahaan dan membatu dalam pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.
2.2 Peran Auditor Internal dalam Pencapaian Tujuan Perusahaan
keahlian dalam perilaku organisasi atau perusahaan dan bidang-bidang fungsional lainnya. Peran Auditor Internal menurut Tampubolon (2005: 1-2) sebagai berikut:
Uraian Peran Auditor Internal
Paradigma Lama Paradigma Baru
Peran Pengawas Konsultan dan Katalisator
Pendekatan Detektif (mendeteksi terjadinya
Ketaatan/kepatuhan Semua policy/kebijakan Hanya policy yang relevan
Fokus Kelemahan/
Dampak yang diberikan Jangka pendek Jangka menengah dan jangka panjang
Sumber: Tampubolon (2005:1-3)
A. Peran Auditor Internal sebagai Pengawas
Pada awalnya audit internal dikenal sebagai suatu pendekatan berbasis pada sistem yang dalam perkembangan selanjutnya beralih ke internal audit berbasis proses. Pada saat itu auditor internal lebih banyak berperan sebagai mata dan telinga manajemen, karena manajemen butuh kepastian bahwa semua kebijakan yang ditetapkan akan dilaksanakan oleh pegawai. Orientasi auditor internal banyak dilakukan pemeriksaan pada tingkat kepatuhan para pelaksana terhadap ketentuan– ketentuan yang ada (compliance). (Tampubolon, 2005: 1-2)
kebijakan serta peraturan yang telah ditetapkan. Peran auditor internal sebagai pengawas biasanya menghasilkan saran atau rekomendasi yang memberikan dampak jangka pendek.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa peran auditor internal sebagai pengawas sama halnya dengan tugas polisi. Telah kita ketahui polisi memiliki tugas untuk mengamankan dan menjaga ketertiban kehidupan masyarakat sehingga peneliti dapat menarik kesimpulan peran auditor internal sebagai pengawas dapat diartikan sama dengan polisi, yaitu auditor internal memiliki tugas untuk menjaga keamanan, kelancaran, kesesuaian aktivitas dengan peraturan yang berlaku di perusahaan tertentu, di mana dengan tindakannya itu membantu perusahaan dalam pencapaian tujuan jangka pendek.
B. Peran Auditor Internal sebagai Konsultan.
Dunia usaha yang semakin berkembang dan mulai menyadari bahwa dalam menjalani suatu usaha mengandung risiko, mulailah bermunculan mengenai kebutuhan untuk mengimplementasikan internal audit berbasis risiko (Risk Based Internal Auditing). Sesuai dengan definisi baru, kegiatan audit internal bertujuan untuk memberikan layanan pada organisasi. Karena kegiatan tersebut, maka auditor internal memiliki fungsi sebagai pemeriksa sekaligus berfungsi sebagai mitra manajemen. Pada dasarnya seluruh tingkatan manajemen dapat menjadi klien auditor internal. Oleh karena itu auditor internal wajib melayani klien dengan baik dan mendukung kepentingan klien dengan tetap mempertahankan loyalitasnya. (Tampubolon, 2005: 1-2)
Pada tahun 1999 The Institute Internal Auditor melakukan redefinisi pada audit internal. Dijelaskan bahwa audit internal merupakan suatu aktivitas independen dalam dalam menetapkan tujuan dan merancang aktivitas konsultasi yang bernilai tambah dan meningkatkan operasi perusahaan. Dari redefinisi yang dilakukan The Institute Internal Auditor terlihat audit internal membantu suatu organisasi atau perusahaan dalam pencapaian tujuan dengan pendekatan yang terarah dan sistematis untuk menilai dan mengevaluasi keefektifan manajemen risiko melalui pengendalian dan proses tata kelola yang baik. Dari uraian di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa peran auditor internal sebagai konsultan selain bertugas melakukan pengawasan, peran ini juga bertugas sebagai mitra dalam mengelola risiko dan memberikan masukan, rekomendasi, nasihat-nasihat yang diharapkan dapat membantu dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi karyawan, terutama masalah yang berhubungan dengan kegiatan operasional perusahaan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
C. Peran Auditor Internal sebagai Katalisator.
Auditor internal di masa mendatang dimungkinkan berperan sebagai katalisator yang akan ikut andil dalam menentukan tujuan perusahaan. Perubahan penuh ke arah Risk Based Internal Auditing (RBIA) akan terjadi, yang di mana auditor internal akan ikut berperan mulai dari penentuan tujuan yang hendak dicapai sampai dengan mementukan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut. Peran yang dijalankan auditor internal sebagai katalisator adalah mengarahkan agar pelaksanaan quality management dapat sesuai dengan yang direncanakan. Peran auditor internal sebagai katalisator bertindak sebagai fasilitator dan agent of change. (Harry Andrian Simbolon, 2010: 1) Auditor internal sebagai katalisator terlibat aktif dalam melakukan penilaian risiko yang terdapat dalam proses bisnis perusahaan.
Oleh karena itu diperlukan sikap proaktif dari pihak auditor internal dalam mengenali risiko-risiko yang dihadapi atau mungkin dihadapi manajemen dalam pencapaian tujuan perusahaan. Peran katalisator yang dijalankan auditor internal tidak saja terbatas pada tindakan perbaikan dan memberikan nasihat tetapi juga mencakup dalam system design and development,
Peneliti menyimpulkan peran auditor internal sebagai katalisator hampir sama dengan peran auditor internal sebagai konsultan yang merupakan paradigma baru dari peran auditor internal. Peran ini mendampingi klien dalam mengenali resiko yang dapat mengancam pencapaian tujuan perusahaan dan akan ikut bertugas dan bekerjasama dengan manajemen dalam penentuan tujuan dari suatu perusahaan yang berdampak untuk jangka panjang.
2.3 Auditor Internal sebagai Konsultan Perusahaan
Institut Internal Auditor ( IIA) sampai saat ini melarang auditor internal bertindak sebagai konsultan bisnis. Auditor internal ada di dalam perusahaan untuk meninjau dan menilai pengendalian internal dan kemudian membuat rekomendasi untuk perbaikan kontrol dan tindakan korektif melalui laporan audit internal. Pemikiran kemudian adalah bahwa konsultasi audit internal tindakan mungkin menciptakan konflik kepentingan. Larangan konsultasi audit internal menjadi lebih kuat di masa awal Sarbanes-Oxley Act (SOX). Standar IIA yang sekarang tegas memungkinkan auditor internal untuk bertindak sebagai konsultan manajemen dalam ditunjuk tertentu dan ditentukan ulasan audit.
A. Standar Audit Internal sebagai Konsultan Perusahaan
Tujuan dari audit internal adalah untuk membantu manajemen dengan menyediakan analisis, informasi, dan rekomendasi untuk peningkatan kontrol dan operasi. Kontrol internal dapat dievaluasi untuk:
Kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur, aturan, dan peraturan
Keandalan dan integritas informasi keuangan dan operasional
Efektivitas dan efisiensi operasi
Pengamanan aset
Menjabat sebagai konsultan perusahaan sering menempatkan auditor internal agak berbeda Peran dari normal penugasan audit internal membuktikan, dimana audit internal menggunakannya untuk perencanaan dan pengukuran risiko tujuan untuk merencanakan dan menjadwalkan pemeriksaan audit.
Selain itu, audit internal pada umumnya dapat menentukan ruang lingkup sendiri, jadwal waktu, dan tim audit tugas. Meskipun manajemen dapat mengakhiri Audit keterlibatan konsultan internal, tim audit yang sama masih merupakan bagian dari keseluruhan perusahaan.
B. Peresmian Kemampuan Audit Internal Consulting
Audit internal perlu menerima persetujuan dari komite audit dan untuk sepenuhnya menunjukkan kepada manajemen bahwa ia memiliki kemampuan dan tujuan yang cukup untuk bertindak sebagai konsultan perusahaan.
Jika fungsi audit internal suatu perusahaan ingin mulai menawarkan konsultasi internal, harus mengembangkan strategi konsultasi dan kemudian sangat mendokumentasikan bahwa peran dan mereka kemampuan melalui piagam audit. Beberapa daerah yang perlu dipertimbangkan ketika mengembangkan praktek konsultasi internal yang meliputi:
Audit internal mungkin memiliki keterampilan untuk melakukan tinjauan internal kontrol di banyak khusus daerah tetapi tidak memiliki keahlian konsultasi yang diperlukan di daerah tersebut. Audit internal harus jelas memahami dan menentukan apa yang mereka bisa dan tidak bisa melakukannya dengan baik.
Audit internal perlu berhati-hati ekstrim yang tidak dipandang sebagai auditor dan konsultan satu hari berikutnya.
Penganggaran dan akuntansi untuk biaya jasa konsultasi audit internal.
Perencanaan dan penjadwalan kegiatan audit internal consulting.
Pelaporan hasil dan komunikasi dengan manajemen dan audit komite.
"Jual" program audit internal consulting
C. Memastikan Audit dan Pemisahan Tugas Konsultasi
Perlunya pemisahan yang memadai mengenai tanggung jawab antara auditor internal bertindak sebagai konsultan internal dan melakukan pekerjaan audit. Sebelum tahun 1970-an, American Institute of Certified Public Akuntan dipisahkan kantor akuntan publik antara auditor CPA dan profesional menyediakan jasa konsultasi. Sebuah Kantor Akuntan Publik kemudian akan memiliki semacam garis putus-putus di kantor, auditor keuangan yang memisahkan laporan bersertifikat dari spesialis, seperti konsultan IT.
1) Misi Audit internal
Misi Global Audit Komputer Produk internal adalah untuk memastikan bahwa perusahaan operasi mengikuti standar tinggi baik dengan memberikan jaminan, independen, obyektif Fungsi dan dengan menasihati dan konsultasi pada praktek terbaik.
2) Independesi dan Obyektivitas
Untuk memastikan independensi, Audit Internal bertanggung jawab langsung kepada Dewan Audit Direksi Komite, dan untuk menjaga obyektivitas, Audit Internal tidak terlibat dalam sehari-hari perusahaan operasi atau prosedur pengendalian internal. Namun, audit internal dapat memberikan bantuan konsultan independen di specifie tertentu yang independen dari rutin prosedur audit review internal.
3) Lingkup dan Tanggung Jawab
Ruang lingkup pekerjaan Audit Internal meliputi penelaahan terhadap prosedur manajemen risiko, pengendalian internal, sistem informasi dan proses tata kelola. Untuk memenuhi tanggung jawabnya, Internal Audit harus:
Mengidentifikasi dan menilai risiko potensial untuk operasi Bank Dunia.
Menelaah kecukupan pengendalian dibentuk untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, prosedur, dan tujuan bisnis.
Menilai keandalan dan keamanan informasi keuangan dan manajemen dan mendukung sistem dan operasi yang menghasilkan informasi ini.
Menilai sarana pengamanan aset.
Meninjau proses didirikan dan mengusulkan perbaikan.
Menindaklanjuti rekomendasi untuk memastikan bahwa tindakan perbaikan yang efektif diambil.
Melaksanakan ad hoc penilaian, penyelidikan, atau ulasan yang diminta oleh Audit Komite dan Manajemen.
Lakukan proyek konsultan independen atas permintaan spesifik dari manajemen.
4) Audit Internal berwenang, dalam rangka kegiatan, untuk:
Masukkan semua bidang operasi komputer Produk Global, dan memiliki akses ke dokumen dan catatan yang dianggap perlu untuk melaksanakan fungsinya.
Mengharuskan semua anggota staf dan manajemen untuk memberikan informasi yang diminta dan penjelasan dalam jangka waktu yang wajar.
Terlibat dalam ulasan konsultan independen pada permintaan khusus dan otorisasi manajemen.
5) Akuntabilitas
Audit Internal bertanggung jawab untuk perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan proyek termasuk dalam rencana audit dan menentukan ruang lingkup dan waktu audit tersebut. Audit Internal juga akan menyerahkan laporan tahunan kepada manajemen senior dan kepada Komite Audit atas hasil audit, termasuk eksposur risiko yang signifikan dan masalah pengendalian.
6) Standar
Mematuhi Audit Internal dengan standar dan praktek profesional yang diterbitkan oleh Institute Auditor Intern serta Teknologi Informasi Governance Institute.
D. Consulting Praktik Terbaik
Konsultan adalah seorang individu yang memberikan nasihat dan bantuan kepada klien pada tugas tertentu. Lain lebih akademis yang terdengar definisi konsultasi (dari consultare Latin) berarti "untuk membahas" dan mengacu pada profesional yang memberikan nasihat di daerah tertentu keahlian, seperti akuntansi, lingkungan, teknologi, hukum, sumber daya manusia, pemasaran, obat-obatan, atau membiayai.
Dalam rangka untuk berperan sebagai konsultan internal yang efektif, auditor internal perlu melakukan lebih dari mengubah judul mereka pada kartu nama, mereka juga perlu mengembangkan beberapa pendekatan baru.
1) Langkah Pertama: Meluncurkan Tugas Consulting
Peluang konsultasi internal biasanya datang ke audit internal untuk tiga alasan:
Departemen telah menyelesaikan kajian internal dengan rekomendasi untuk tindakan korektif bahwa kebutuhan manajemen membantu untuk melaksanakan.
Kebutuhan lain berkembang dalam perusahaan, seperti kekurangan yang signifikan yang memerlukan koreksi yang disorot selama auditor eksternal SOx Bagian 404 ulasan.
Audit internal tidak boleh secara aktif mempromosikan nya jasa konsultasi di luar daerah-daerah dasar.
a) Consulting Bantuan Untuk Melaksanakan Rekomendasi Audit Internal Laporan
Komponen utama dari proses audit internal adalah rekomendasi audit internal untuk tindakan korektif, diterbitkan dan dijelaskan dalam laporan audit. Jika sumber daya sendiri suatu auditee departemen terbatas, konsultan audit internal internal dapat menjadi sumber terbaik untuk melaksanakan tindakan korektif yang direkomendasikan. Membawa seorang konsultan, baru di luar mungkin memakan waktu dan jauh lebih mahal. Ada beberapa bahaya besar dengan jenis pekerjaan konsultasi. Pertama, rekomendasi audit internal tidak boleh mementingkan diri sendiri dengan cara yang muncul untuk membangun peluang konsultasi. Kedua, harus ada tingkat kemandirian antara auditor internal yang membuat rekomendasi dan konsultan internal membantu untuk melaksanakan tindakan perbaikan.
b) Consulting Lain Kebutuhan Dalam Enterprise
Audit internal sering memiliki luas keterampilan untuk membantu menginstal perbaikan pengendalian internal bukan sebagai auditor internal tetapi sebagai manajemen konsultan.
c) Manajemen Kebutuhan Khusus Untuk Consulting Audit Intern Al Bantuan
proyek audit internal konsultasi tergantung pada kebutuhan manajemen, ketersediaan sumber daya audit internal, dan persetujuan keseluruhan komite audit.
Konsultan Internal audit harus mendapatkan pemahaman yang tinggi tingkat kebutuhan proyek dan persyaratan.
2) Engagement Consulting Surat
Otoritas atau pemimpin dari tim audit internal consulting internal harus menyusun surat resmi dari pemahaman menggambarkan proyek konsultasi internal. Karena ini adalah pemahaman perusahaan-tingkat internal, seperti surat penunjukan tidak memiliki dasar hukum yang sama dengan yang disediakan oleh perusahaan luar.
Contoh:
Internal Audit Consulting
Consulting Engagement Authorization
Para pengiriman barang jadi departemen di pabrik Metroville, PA, telah mengidentifikasi kebutuhan untuk meningkatkan pelanggan operasi layanan di fasilitas itu dan telah meminta agar spesialis dari departemen audit internal perusahaan melakukan analisis rinci operasi pabrik dan kemudian memimpin upaya untuk meningkatkan operasi di fasilitas itu.
Sebuah tim konsultan, yang dipimpin oleh konsultan Tom Bell, berencana untuk mengunjungi Metroville, PA, tanaman selama Februari 20XX untuk melakukan analisis independen rinci operasi dan menyarankan daerah untuk perbaikan, termasuk identifikasi dan implementasi baru layanan pelanggan sistem komputer.
Proyek tunduk pada permintaan manajemen lokal dan prioritas. Jika manajemen lokal menceritakan auditor internal menjabat sebagai konsultan untuk mengabaikan beberapa daerah operasi atau memberikan beberapa masalah ditemukan lulus, konsultan auditor internal tidak tidak memiliki fleksibilitas yang sama dalam membawa masalah tersebut ke perhatian audit komite.
3) Mendefinisikan "Sebagaimana Adanya" dan "To Be" Tujuan
Analisis sebab-akibat adalah Pendekatan yang berguna pertanyaan, dan mengamati lingkungan masalah untuk memecahnya ke bagian yang lebih kecil.
diagram untuk membahas masalah dan penyebabnya dengan manajemen untuk mendapatkan beberapa umum kesepakatan tentang masalah saat ini.
4) Menerapkan Rekomendasi Konsultasi
Konsultan harus berpikir rekomendasi mereka cukup baik, dengan mempertimbangkan biaya dan kelayakan. Auditor internal kemudian mengeluarkan audit melaporkan dan mengharapkan tanggapan manajemen mengenai rencana tindakan korektif. Jika manajemen setuju untuk rekomendasi tersebut, sering meminta konsultan yang sama untuk mengambil peran aktif dalam memimpin pelaksanaannya.
Sebagai konsultan, auditor internal sering harus membantu memimpin peran dalam melaksanakan setiap tindakan yang direkomendasikan. Ini adalah perbedaan yang signifikan dari kegiatan audit internal.
5) Mendokumentasikan dan Melengkapi Keterlibatan Consulting
Dalam banyak kasus, para konsultan internal auditor mungkin telah menerapkan satu set baru prosedur operasi meja. Dalam kasus lain, proyek konsultasi harus didokumentasikan dengan cara yang manajemen bisa maju dengan terdokumentasi Hasil dan bahwa fungsi audit internal membuktikan akan dapat sepenuhnya menerima konsultasi pekerjaan jika mereka mengaudit kontrol internal.
E. Jasa Audit Internal Expanded Manajemen
Selain itu, perhatian besar harus diberikan untuk mengatur audit internal konsultasi aktivitas sehingga tidak dianggap oleh orang lain sebagai egois. Artinya, Temuan audit internal membuktikan tidak boleh ditafsirkan sebagai pekerjaan promosi untuk meningkatkan konsultasi proyek.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Peran Auditor sebagai Pengawas
Fungsi auditor internal yang semakin berkembang, membawa pergeseran paradigma dari para pemakainya. Pada paradigma lama tentang peran auditor internal yaitu berfokus pada ditemukannya penyimpangan yang perlu dikoreksi serta lebih banyak dilakukan pemeriksaan pada tingkat kepatuhan para pelaksana pada ketentuan yang telah ditetapkan. Peran auditor internal seperti ini serupa dengan peran polisi atau pengawas yang melakukan pemeriksaan. Peran auditor internal sebagai pengawas sering dianggap sebagai pihak pencari kesalahan yang diutus oleh pimpinan perusahaan.
3.2 Peran Auditor sebagai Konsultan
Seiring berjalannya waktu, paradigma lama tentang peran aditor internal mengalami pergeseran ke paradigma baru yang awalnya auditor internal berperan sebagai pengawas, kini beralih menjadi auditor internal yang berperan sebagai konsultan dan diprediksikan di masa mendatang auditor internal berperan sebagai katalisator. Dengan peran sebagai konsultan, auditor internal lebih berfungsi sebagai mitra bagi klien yang merupakan bentuk pelayanan pada perusahaan dalam rangka membantu pencapaian tujuan. Seiring berjalannya waktu peran auditor internal meningkat menjadi konsultan dan mulai diterapkan di perusahaan-perusahaan maju yang di mana pada peran ini auditor turut serta memastikan bahwa kontrol internal telah berfungsi dengan baik.
Standar IIA sekarang memungkinkan auditor internal untuk menyediakan jasa konsultasi yang berkaitan dengan operasi dimana sebelumnya mereka memiliki tanggung jawab terhadapnya dengan ketentuan bahwa auditor mengungkapkan hal-hal potensial yang dapat mempengaruhi independensinya atau objektivitas terkait jasa konsultasi yang diajukan sebelum menerima perjanjian penugasan.
Standar IIA mendefinisikan konsultasi audit internal sebagai penasehat dan terkait dengan aktivitas jasa audit klien, sifat dan ruang lingkup yang disepakati dengan klien dan yang dimaksudkan untuk menambah nilai dan meningkatkan tata kelola perusahaan, manajemen risiko, dan mengendalikan proses tanpa auditor internal memikul tanggung jawab manajemen. Contoh termasuk nasihat, saran, fasilitasi, dan pelatihan.
Sebelum terlibat dalam kegiatan jasa konsultasi, auditor internal perlu menerima persetujuan dari komite audit dan sepenuhnya menunjukkan kepada manajemen bahwa ia memiliki kemampuan dan tujuan yang cukup untuk bertindak sebagai konsultan perusahaan.
Beberapa daerah yang perlu dipertimbangkan ketika mengembangkan praktek konsultasi internal yaitu:
1. Apa tipe konsultasi audit internal yang akan dipertimbangkan?
2. Bagaimana sumber daya akan dibagi antara jasa atestasi terkait dengan audit internal dan konsultasi internal?
3. Penganggaran dan akuntansi untuk biaya jasa konsultasi audit internal. 4. Perencanaan dan penjadwalan kegiatan konsultasi audit internal.
5. Pelaporan hasil dan mengkomunikasikan dengan manajemen dan komite audit. 6. Menjual program konsultasi audit internal
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh internal auditor untuk memenuhi tanggung jawabnya: 1. Mengidentifikasi dan menilai risiko potensial untuk operasi bank.
2. Menelaah kecukupan pengendalian dibentuk untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, prosedur, dan tujuan bisnis.
3. Menilai keandalan dan keamanan informasi keuangan dan manajemen dan mendukung sistem dan operasi yang menghasilkan informasi ini.
4. Menilai sarana pengaman aset.
5. Meninjau proses pendirian dan mengusulkan perbaikan.
7. Menindaklanjuti rekomendasi untuk memastikan bahwa tindakan perbaikan yang efektif telah diambil.
8. Melaksanakan ad hoc penilaian, penyelidikan, atau ulasan yang diminta oleh Komite Audit dan Manajemen.
9. Lakukan proyek konsultan independen atas permintaan spesifik dari manajemen.
Beberapa langkah tindakan yang penting dilakukan oleh auditor internal yang akan beroperasi sebagai konsultan internal, yaitu:
1. Langkah pertama : perluncuran tugas konsultan.
Peluang konsultasi internal biasanya datang kepada auditor internal untuk tiga alasan:
a. Departemen telah menyelesaikan kajian internal dengan rekomendasi untuk tindakan korektif bahwa kebutuhan manajemen membantu untuk diimplementasikan.
b. Kebutuhan lain berkembang dalam perusahaan, seperti kekurangan yang signifikan yang memerlukan koreksi yang disorot selama review auditor eksternal SOx Bagian 404.
c. Manajemen memiliki beberapa kebutuhan khusus di mana keahlian auditor internal mungkin membantu.
2. Surat Perjanjian Konsultasi.
Surat perjanjian menggambarkan apa yang diusulkan oleh konsultan auditor internal untuk diselesaikan, siapa yang akan melaksanakan pekerjaan tersebut, waktu dan durasi pelaksanaan, dan hasil yang diharapkan dari proyek konsultasi.
3. Proses konsultasi: mendefiniskan “as is” dan “to be” objectives.
Auditor internal melakukan pendefinisian terhadap "as is" atau kondisi sekarang (existing condition) dari manajemen perusahaan selanjutnya melakukan pendefinisian terhadap tujuan yang diharapkan oleh manajemen terhadap jasa konsultasi auditor internal.
4. Mengimplementasikan rekomendasi konsultasi.
5. Mendokumentasikan dan menyelesaikan perjanjian konsultasi Standar Konsultasi terdiri dari dua yaitu :
1. Standar Atribut
a. Jasa konsultasi dilakukan jika auditor telah memiliki tanggung jawab sebelumnya. b. Adanya penurunan objektivitas dan independensi harus dikomunikasikan dengan klien
c. Menolak penugasan bila tidak memiliki keahlian yang cukup, pengetahuan, atau kompetensi.
d. Melaksanakan penugasan dengan kemahiran profesional secara cermat dan seksama (due professional care).
2. Standar Kerja
a. merencanakan penugasan konsultasi.
b. meninjau risiko sesuai dengan tujuan penugasan selama penugasan konsultasi.
c. menerapkan pengetahuan risiko yang didapat dari konsultasi ke dalam fungsi pemberian keyakinan yang biasa dilakukan.
d. menilai pengendalian sesuai dengan tujuan penugasan selama penugasan konsultasi. e. tujuan penugasan harus sesuai dengan nilai dan tujuan organisasi.
f. mencapai kesepakatan dengan klien mengenai tujuan, ruang lingkup, tanggung jawab, dan ekspektasi dari penugasan.
g. mempertimbangkan risiko, pengedalian, dan proses pengelolaan sepanjang disetujui oleh klien.
h. mempertahankan lingkup penugasan yang akan dibahas dengan klien. i. program kerja bisa bervariasi dalam bentuk dan isi.
j. penetapan kebijakan mencakup penyimpanan catatan dan juga pemberian catatan atau dokumen ke pihak luar dan dalam perusahaan.
k. komunikasi perkembangan dan hasil bisa bervariasi sesuai kebutuhan klien. l. tanggung jawab komunikasi hasil akhir ke klien.
m. manajemen risiko, pengendalian, dan pengelolaan, jika signifikan, harus dikomunikasikan ke manajemen senior dan dewan komisaris.
n. mengawasi penyebaran dan hasil audit sesuai persetujuan klien.
3.3 Peran Auditor Sebagai Katalisator
Sedangkan di masa mendatang dimungkinkan auditor internal peran sebagai katalisator yang akan ikut andil dalam menentukan tujuan perusahaan. Didukung dengan teori paradigm lama dalam Tampubolon (2005, 1-2) yang menyatakan bahwa auditor internal sebagai pengawas lebih berperan sebagai mata telinga manajemen, karena manajemen membutuhkan kepastian bahwa kebijakan yang ditetapkan akan dilaksanakan oleh karyawan. Terkait dengan saran dan rekomendasi yang diberikan auditor internal sebagai pengawas lebih bersifat jangka pendek dalam membantu pencapaian tujuan perusahaan.
Peran katalis internal audit tidak saja terbatas pada perbaikan dan memberikan nasihat tetapi juga dapat berupa: Keterlibatan IA dalam system design & development, review terhadap kompetensi SDM dalam suatu fungsi organisasi, keterlibatan dalam penyusunan corporate planning, evaluasi kinerja, budgeting, strategy formulation dan usulan perubahan strategi, dan lain sebagainya.
BAB IV KESIMPULAN
1. Peran auditor internal sebagai pengawas dalam pencapaian tujuan perusahaan berdasarkan hasil perhitungan distribusi kecenderungan frekuensi variabel dapat diketahui bahwa persebaran data dari peran ini dikategorikan cukup baik. Peran yang dijalankan auditor internal perusahaan masing menganut paradigma lama yang sebenarnya saran dan rekomendasi yang diberikan peran ini hanya bersifat jangka pendek dalam membantu perusahaan untuk mencapai tujuan. Tindakan selayaknya polisi yang dijalani auditor internal sebagai pengawas dapat membuat karyawan merasa tidak nyaman dan membuat karyawan kurang menyukai kehadirannya sehingga kinerja yang mereka kurang maksimal. Selain itu tindakkan selayaknya polisi membuat karyawan menganggap auditor internal adalah lawan mereka. Dengan peran auditor internal sebagai pengawas juga dianggap karyawan kurang memberikan kontribusi yang maksimal dalam membantu pencapaian tujuan perusahaan. 2. Peran auditor internal sebagai konsultan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Auditor
internal yang tidak hanya berfokus pada penemuan kecurangan yang terjadi tetapi juga berperan sebagai konsultan internal yang memberikan masukan dan pemikiran dalam membantu pencapaian tujuan perusahaan serta dapat menunjang efektivitas pengendalian atas kegiatan-kegiatan yang berjalan. Didukung dengan redefinisi yang dikemukakan IAI pada tahun 1999 tentang peran audit internal menyatakan akan bahwa lebih efektif dalam pencapaian tujuan perusahaan dan memberi nilai tambah bagi perusahaan jika auditor internal suatu perusahaan merancang aktivitas konsultasi, yang di mana aktivitas ini terkait dengan peran auditor internal sebagai konsultan.
DAFTAR PUSTAKA
Robert Moeller. 2009. Brink’s Modern Internal Auditing: a common body of knowledge. seventh
edition. Published Simultaneously In Canada.
Sawyer, Lawrence B. (2000). Internal Auditing. Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat. Simbolon,
Suroso. (2009). Kedudukan dan Fungsi Audit Internal dalam Perusahaan. Jurnal Ilmiah Abadi Ilmu. Vol. 2 No.2: Hal. 230.
Tampubolon, Robert. (2005). Risk and System-Based Internal Audit. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Wibisono. (2006). Pengertian Visi dan Misi Perusahaan. Diambil dari: