TEKNOLOGI PENGELOLAAN BENIH
BEBERAPA TANAMAN OBAT DI
INDONESIA
Nugroho Tri Ardianto H0711073
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
A. PENDAHULUAN
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri obat tradisional adalah sebagian besar bahan baku (80%) berasal dari hutan atau habitat alami dan sisanya (20%) dari hasil budi daya tradisional. Penyediaan bahan baku yang masih mengandalkan pada alam tersebut telah mengakibatkan terjadinya erosi genetik pada sedikitnya 54 jenis tanaman obat. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara berkesinambungan serta mengantisipasi permintaan yang terus meningkat tiap tahunnya maka perlu dilakukan pengembangan usaha tani tanaman obat. Namun upaya pengembangan tersebut menghadapi masalah kurangnya informasi tentang penggunaan benih bermutu dan terbatasnya penelitian mengenai perbenihan, sehingga masih banyak petani yang menggunakan benih asalan yang tidak terjamin mutunya.Akibatnya produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan masih rendah.Selain itu, benih tanaman obat sebagian besar (lebih dari 80%) termasuk benih rekalsitran yang penanganannya agak sulit.Berkaitan dengan permasalahan tersebut, telah dilakukan berbagai penelitian yang berkaitan dengan teknik produksi dan penanganan benih tanaman obat seperti penentuan waktu panen, teknik produksi benih, penanganan benih, pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan.
B. PENENTUAN WAKTU PANEN
1. Secang
2. Sambiloto
Penelitian mengenai fenologi bunga dan buah pada tanaman sambiloto telah dilakukan oleh Hasanah et al. (2006).Hasil penelitian menunjukkan bahwa masak fisiologis benih sambiloto dicapai pada umur 26 hari setelah antesis. Pada saat tersebut, bobot kering benih dalam keadaan maksimum yaitu 14,10 x 10-4 g dengan kadar air
21,52%. Polong berwarna hijau semburat ungu. Benih yang dipanen pada saat tersebut akan memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik serta produksinya tinggi (0,20 g/tanaman atau 25 g/pohon) (Rusmin et al. 2006).
C. TEKNIK PRODUKSI BENIH
Dalam memproduksi benih berkualitas tidak dibedakan antara benih ortodoks dan benih rekalsitran. Persyaratan agronomis dengan mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) harus diikuti dengan persyaratan lain seperti benih harus sudah mencapai masak fisiologis serta seragam agar benih yang dihasilkan berkualitas baik.
1. Jahe
2. Katuk
Perbanyakan tanaman katuk dapat menggunakan setek yang diambil dari pangkasan waktu panen (Puspitaningtyas et al. 1994) atau menggunakan biji (Rumiati et al. 1999). Untuk pengembangan tanaman skala komersial, disarankan menggunakan bahan tanaman dari biji. Menurut Yuliani dan Hasanah (2000), setiap hektar pertanaman katuk memerlukan pupuk dengan kombinasi 190 kg N, 87,50 kg P, dan 87,50 kg K2O, serta 20 ton pupuk kandang.
D. PENANGANAN BENIH
1. Terong KB
Benih terung KB mempunyai masa dorman sekitar 4 bulan (Hasanah 1988). Untuk memecahkan masalah dormansi tersebut, Sukmadjaja dalam Rosita et al. (1993) telah melakukan penelitian perendaman benih dalam larutan GA3 dengan konsentrasi 0, 100, 300, 500, 700, 900, 1.100, 1.300, dan 1.500 mg/l selama 6, 12, dan 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viabilitas benih terbaik diperoleh dari perlakuan perendaman selama 24 jam dengan konsentrasi larutan GA3 1.300 mg/ l, yaitu daya berkecambah benih 87,73% dan benih dapat berkecambah setelah 2 minggu (Rosita et al. 1993). Sebelum diberi perlakuan, benih dibersihkan dari lendir dengan menggunakan air. Pemecahan dormansi benih terung KB dapat pula dilakukan dengan menggunakan KNO3 0,20% (Tabel 1). Pemberian larutan KNO3 0,20% pada substrat (kertas saring) memberikan daya berkecambah tertinggi (88,42%).
2. Saga
3. Jahe
Untuk penyimpanan, rimpang jahe yang telah dipanen dicuci dengan menggunakanair lalu dikeringanginkan.Dapat pula jahe dipanen pada saat tanah kering, sehingga rimpang dapat langsung disortasi tanpa harus dicuci (Hasanah et al. 2004b).Sebelum disimpan, benih diberi perlakuan CCC 1.250 ppm untuk menghambat pertumbuhan tunas. Perlakuan tersebut memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan pemberian 2,4-D 1.000 ppm dan PEG 2000 ppm (Hasanah et al. 1989). Menurut Darwati et al. (1993), pertunasan benih jahe di tempat penyimpanan dapat dihambat dengan memberikan paklobutrazol 300 ppm, dan untuk memacu pertunasan dapat digunakan NAA 160 ppm, IBA 25% dan air kelapa 25%. Untuk memacu pertumbuhan di lapang, senyawa nitroaromatik dengan konsentrasi 0,50 ml/l memberikan hasil yang baik.
4. Kunyit dan Kencur
Pemberian paklobutrazol 250 ppm dapat meningkatkan jumlah anakan dan bobot rimpang kunyit (Darwati et al. 1993). Paklobutrazol dapat menghambat biosintesis giberelin sehingga asimilat hasil fotosintesis dapat diakumulasi pada rimpang. Pada tanaman kencur, penggunaan air kelapa muda dengan konsentrasi 25% memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Air kelapa telah lama diketahui mengandung ZPT antara lain sitokinin alami. Sitokinin selain berperan dalam proses pembelahan sel juga dapat merangsang diferensiasi jaringan.
5. Temu Lawak
E. PENGERINGAN BENIH
Aerasi akan menurunkan suhu, dan pemberian aerasi yang tepat dapat mencegah kerusakan benih akibat berpindahnya kelembapan. Benih yang dipanen dengan kadar air di atas 15−16% perlu dikeringkan. Pengeringan perlu dilakukan segera setelah benih dipanen, karena makin lama penundaan pengeringan, kualitas benih yang dihasilkan makin menurun (Hasanah 1987). Untuk benih ortodoks seperti benih terung KB, pengeringan dilakukan dengan cara membuang lendirnya terlebih dahulu. Selanjutnya benih yang telah bersih dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 hari. Untuk benih jahe, pengeringan rimpang dilakukan sampai kulit rimpang mengering tetapi bagian dalamnya masih tetap segar. Pada benih jahe yang cukup tua (10 bulan), pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran pada pagi hari (pukul 07.00–10.00) dengan suhu 25−32º C selama 3−4 hari. Bila rimpang jahe dipanen pada umur 8 bulan, pengeringan cukup dilakukan selama 1−2 hari. Sebelum disimpan, rimpang dibersihkan lalu dikeringanginkan selama 2–3 hari tergantung lokasi tanam dan kondisi tanah pada saat panen.Di Bengkulu, rimpang perlu dijemur 3−4 hari, sedangkan di Sukabumi, jika panen dilakukan pada saat kondisi tanah kering, rimpang cukup dikeringanginkan (Hasanah et al. 2004a).
F. PENYIMPANAN BENIH
Benih berkualitas tinggi memiliki daya simpan yang lebih lama daripada benih berkualitas rendah.Kualitas benih tidak dapat diperbaiki dengan perlakuan penyimpanan, karena penyimpanan hanya bertujuan untuk mempertahankan kualitas benih (Hasanah 1987).Selama penyimpanan, benih diidentifikasi dengan tepat dan kondisi ruang penyimpanan diperhatikan agar daya berkecambah benih dapat dipertahankan.Ruang untuk menyimpan bahan tanamanvhendaknya memiliki sirkulasi udara yang baik, kelembapan relatif udara rendah (70−80%), suhu ruangan 20–25oC, cukup cahaya, dan atap tidak bocor.Tumpukan benih dapat diberi abu dapur untuk menghindari tumbuhnya jamur atau kapang (Hasanah et al. 2004b).
1. Sambiloto
bila benih disimpan dalam ruangan dingin maka daya berkecambah benih makin menurun hingga hanya 17,78% (Tabel 2). Hal ini disebabkan benih sambiloto mempunyai masa dormansi 4−5 bulan.Dengan menyimpan benih pada suhu dingin maka dormansi benih makin meningkat.Oleh karena itu, untuk memecahkan dormansi benih sebaiknya benih disimpan pada suhu ruang. Mempertahankan kualitas benih melalui tahap-tahap tersebut memerlukan pengetahuan, keterampilan, dan dedikasi yang tinggi. Pengusaha benih sebagai titik awal perlu memiliki kepedulian tinggi terhadap mutu benih. Pengusahaan benih secara besar-besaran memerlukan tenaga spesialis untuk pengendalian mutu sejak proses produksi hingga distribusi. Hal ini menyangkut semua aspek teknis dan administrasi yang harus dilakukan secara tepat, benar dan pada waktunya.
2. Temu-temuan
rimpang jahe masih 86%, rimpang dalam keadaan segar, tidak keriput dan bertunas. Berbagai cara penyimpanan, seperti menghamparkan benih di atas tanah dengan alas bata merah, pemberian paklobutrazol 500 ppm, penyusunan benih pada rak bambu, dan penutupan benih dengan jerami, tidak berpengaruh terhadap viabilitas benih jahe. Sukarman et al. (2005) telah meneliti beberapa cara penyimpanan rimpang jahe dengan perlakuan sebagai berikut: 1) penyimpanan benih pada ruangan dingin dengan kelembapan 70–80%, 2) penyimpanan di dalam tanah, 3) pengeringan dengan fresh drier, dan 4) iradiasi dengan sinar α dengan dosis 5, 10, 15, 20, 25 kRad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah disimpan selama 2 bulan, kadar air rimpang masih tinggi yaitu > 76,66%, sehingga rimpang tetap segar dan tidak keriput. Penyusutan bobot rimpang tertinggi terdapat pada perlakuan iradiasi 25 kRad (27,11%), dan penyusutan terendah pada perlakuan penyimpanan dingin (4,76%) dan penyimpanan dalam tanah (10,70%). Setelah 2 bulan penyimpanan, persentase rimpang bertunas pada perlakuan penyimpanan dalam fresh drier meningkat menjadi 86,25%. Pada perlakuan iradiasi 10 dan 15 kRad, persentase benih yang bertunas menurun, sedangkan pada iradiasi 20 dan 25 kRad, sampai penyimpanan 2 bulan rimpang belum bertunas.
4. Temu Lawak
Penelitian penyimpanan rimpang temu lawak telah dilakukan oleh Sukarman et al. (2005) dengan perlakuan sebagai berikut: 1) penyimpanan pada ruangan dingin dengan kelembapan tinggi (cold storage, RH 70–80%), 2) penyimpanan di dalam tanah, 3) pengeringan dengan fresh drier, dan 4) iradiasi dengan sinar α dengan dosis 5, 10, 15, 20, 25 kRad. Dari beberapa perlakuan tersebut, setelah disimpan 2 bulan kadar air rimpang temu lawak masih tinggi (> 70%). Penyusutan bobot rimpang tertinggi terdapat pada perlakuan iradiasi 10 kRad (16,80%), diikuti oleh kontrol (16,31%) dan iradiasi 3 kRad (15,34%). Penyusutan bobot rimpang yang terendah terdapat pada perlakuan fresh drier (2,81%), diikuti oleh cold storage (9,03%) dan disimpan dalam tanah (10,70%).
G. PENGEMASAN BENIH
Benih dapat dikemas dalam kantong plastik, alumunium foil, karung goni, atau kotak kayu, tergantung jenis benih.Bahan kemasan tersebut dapat dipergunakan sebelum benih dikirim.Untuk jahe, pengiriman dapat dilakukan dengan menggunakan peti yang tidak rapat atau karung goni.Selama pengiriman, benih diusahakan tidak terkena hujan dan kondisinya tetap kering (Hasanah et al. 2004b).
H. KESIMPULAN
Sebagian besar (lebih dari 80%) benih tanaman obat termasuk benih rekalsitran dan sisanya termasuk benih ortodoks. Dari sembilan benih tanaman obat yang diteliti, benih terung KB, secang, saga, dan sambiloto tergolong benih ortodoks, sedangkan jahe, kencur, kunyit, temu lawak, dan katuk termasuk benih rekalsitran. Benih secang mencapai masak fisiologis dengan ciri kulit benih berwarna hijau kekuningan. Benih sambiloto mencapai masak fisiologis pada saat polong berwarna hijau semburat keunguan.Benih, jahe sebaiknya dipanen pada umur 10 bulan.Benih sambiloto sebelum pecah dormansinya, hanya perlu disimpan dalam suhu ruang. Penyimpanan benih jahe,kunyit, dan temu lawak dapat dilakukan dengan meletakkan benih di atas rak-rak bambu setelah pengeringan.
DAFTAR PUSTAKA
Darusman, L.K. 2003.Strategi pengembangan biofarmaka Indonesia.Makalah dalam Musyawarah Nasional Pekan Biofarmaka, Surakarta, 10 September 2003. Departemen Pertanian, Jakarta. 18 hlm.
Darwati, I., S.M.D. Rosita, dan I. Mariska. 1993. Temu-temuan. Perkembangan penelitian zat pengatur tumbuh untuk tanaman rempah dan obat. Edisi Khusus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat IX(1): 39−50.
Douglas, E.J. 1980. Successful seed programs: A planning and management guide. Westview Press, Boulder, Colorado.302 pp.
Hasanah, M. 1987. Faktor–faktor prapanen dan pascapanen yang mempengaruhi mutu benih. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat II(2): 9−14.
Hasanah, M. 1988. Studi mengenai benih terung KB. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat III(1): 18−20.
Hasanah, M., R. Satyastuti, and G. Panggabean. 1989. Effect of some inhibitors on the growth of ginger shoot. Industrial Crops Research Journal 1(2): 37−45.
Hasanah, M., H. Moko, dan D. Sitepu. 1991. Persyaratan bibit jahe. Perkembangan penelitian tanaman jahe. Edisi Khusus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat VII(1): 1− 6.
Hasanah, M. dan D. Rusmin. 1993. Pengaruh tingkat kemasakan terhadap viabilitas benihsecang. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat VIII(2): 94−98.
Hasanah, M., E.M. Rachmat, dan M.I. Wahab. 1993. Studi pematahan dormansi pada benih saga (Abrus precatorius L.). Prosiding Seminar Saga Manis dan Tempuyung, Bogor, 13−14 Januari 1993. Bagian I. Saga manis, Abrus precatorius Linn. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.
Hasanah, M., Sukarman, Supriadi, N.M. Januwati, dan R. Balfas.2004a. Keragaan perbenihan jahe di Jawa Barat. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri 10(3): 118−125.
Hasanah, M., D. Rusmin, Melati, dan S. Wahyuni.2006. Pengaruh cara produksi dan penanganan benih sambiloto. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.
Januwati, N.M., N. Nurdjanah, dan M. Hasanah. 1989. Pengaruh faktor iklim terhadap produksi dan mutu jahe badak di KP Sukamulya, Sukabumi. Prosiding Seminar Sehari Peningkatan Pemanfaatan Agrometeorologi dalam Pembangunan Hutan Tanaman Industri dan Pengembangan Perkebunan.Kerja Sama Perhimpi denganBadan Penelitian Kehutanan dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.hlm. 217−223.
Melati, Sukarman, D. Rusmin, dan M. Hasanah. 2005. Pengaruh asal benih dan cara penyimpanan terhadap mutu rimpang jahe. Jurnal Ilmiah Pertanian Gakuryoku Persada XI(2): 186−189.
Proyek Pengelolaan dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan dan Fakultas Kehutanan IPB. 2001. Rancangan strategi konservasi tumbuhan obat Indonesia. Executive Summary.Kerja Sama Proyek Pengelolaan dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.48 hlm.
Puspitaningtyas, D.M., Sutrisno, dan S.B. Susetyo. 1994. Usaha tani katuk di Desa Cilebut Barat, Bogor. Makalah Pokjanas TOI VIII. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta 10–12 Agustus 1994.
Rosita, S.M.D., M. Hasanah, H. Moko, dan I. Mariska. 1993. Terung KB dan pacing. Perkembangan penelitian zat pengatur tumbuh untuk tanaman rempah dan obat. Edisi Khusus Penelitian Tanaman Rempah dan Obat IX(1): 30−37.
Rumiati, S., D. Rusmin, dan D.D. Tarigan.1999. Studi pertumbuhan dan potensi hasil tanaman katuk (Saoropus androgynus) L. Merr). Jurnal Ilmiah Pertanian Gakuryoku Persada V(2): 115−121.
Rusmin, D., Melati, S. Wahyuni, dan M. Hasanah. 2006. Pengaruh stadia umur panen benih terhadap viabilitas dan produksi terna sambiloto (A. paniculata). Laporan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.10 hlm.