• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI LESB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FAKTOR FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI LESB"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

174

FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI LESBIAN DAN KONDISI PSIKOLOGISNYA

Nurkholis

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang [email protected]

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan 1 subjek . Metode pengumpulan data menggunakan wawancara. Analisa data yang digunakan adalah analisa data kualitatif, kemudian uji keabsahan datanya menggunakan teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber yaitu teman dekat subjek. Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Faktor internal meliputi : (a) Persepsi subjek, dimana subjek berfikir tidak akan hamil jika berpacaran dengan sesama perempuan, (b) Dorongan-dorongan atau kecendrungan penyuka sesama jenis yang sudah ada dalam diri subjek, (c) Adanya kontrol diri yang lemah, dimana subjek selalu terpengaruh keinginan-keinginan (ego) nya sendiri. (2) Faktor eksternal yang meliputi : (a) Adanya proses modeling dari perempuan yang berperilaku dan berpenampilan maskulin, (b) Adanya pengalaman buruk yang dialami subjek, yaitu ejekan dari teman-teman subjek sewaktu SMA, (c) Sikap ayah yang terkesan membiarkan perilaku subjek, walaupun sebenarnya ayah subjek tahu tentang perilakunya tersebut (Reinforcement positif), (d) Adanya pengalaman yang kurang menyenangkan terhadap lawan jenis (e) Adanya dukungan dari lingkungan sosial (Reinforcement positif), yaitu subjek pernah ikut dalam suatu oeganisasi atau komunitas lesbian.

Kata kunci: Faktor-faktor psikologis, Lesbian.

This research is qualitatif descriptive study, with 1 subjects who has sexual deviation “lesbian”. Data collection methods used were interviews. Analysis of the data used is the analysis of qualitatif data, and then test the validity of the data using triangulation techniques, namely the source of a close friend of the subject.The results showed that the factors underlying a lesbian that internal factors which include (1) The perception of the subject : (a) The subject is thinking will not get pregnant if she is dating other women, (b) Impulses or tendencies sex enthusiasts are already present in thesubject, (c) The existence of a weak self –control, which the subject is always affected by her own desires. (2) External factors which include : (a) The process of modeling the behavior of women and masculine look, (b) The existence of bad experiences suffered by the subject is in the form of ridicule from her friends during senior high school, (c) Her father attitude that seemed to let the behavior of subjects despite the fact that the subject’s father know about lesbian behavior (positive reinforcement), (d) The existence of her an unpleasant experience with the opposite sex, (e) The support of the social environment (positive reinforcement) that is the subject of ever joining a community organization or a lesbian.

(2)

Jurnal Online Psikologi Vol. 01 No. 01, Thn. 2013 ht tp:/ / ejournal.umm.ac.id

175

Wacana homoseksual sudah menjadi suatu fenomena yang banyak dibicarakan di dalam masyarakat, baik di berbagai negara maupun di Indonesia. Di Indonesia sendiri homoseksual masih menjadi suatu fenomena seksual yang masih terbilang tabu dan dianggap aneh oleh sebagian masyarakat, walaupun di negara-negara barat fenomena ini sudah tidak lagi menjadi suatu fenomena yang dianggap tabu lagi. Dan hal ini juga bisa dikatakan sebagai budaya, dimana seseorang bebas dalam memilih pasangan hidupnya. Di Indonesia juga demikian, dimana pasangan hidup yang dimaksud “bebas” adalah bebas dalam batasan jenis kelamin. Seorang perempuan boleh berpasangan dengan laki-laki atau boleh saja (jika dianggap wajar) berpasangan dengan perempuan yang dari sesama jenisnya sendiri. Begitu juga sebaliknya dengan kaum laki-laki. Bahkan di negara-negara tertentu seorang individu yang memilih pasangan dari gendernya sendiri atau pasangan sejenis diperbolehkan untuk menikah, dan dianggap sah secara hukum.

Walaupun istilah homoseksual sendiri telah dihilangkan atau dihapus dari DSM-IV pada tahun 1973 hal itu juga telah menjelaskan bahwa homoseksual bukan suatu bentuk kelainan atau gangguan jiwa. Tetapi hal tersebut lebih dikarenakan oleh suatu pandangan bahwa homoseksual merupakan suatu gaya hidup alternatif dan bukan suatu gangguan psikopatologis, selain itu homoseksualitas terjadi dengan keteraturan sebagai suatu varian seksualitas manusia.

Di Indonesia, tentunya hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di barat terkait dengan penerimaan kaum homoseksual. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa mencintai sesama jenisnya adalah sesuatu hal yang tabu, aneh dan menjijikan. Walaupun kecendrungan homoseksual itu oleh beberapa orang dokter yang memakai pengobatan klinis dianggap masih pada tingkatan yang normal, tetapi jika dipandang dari sudut pandang yang legal dalam beberapa kelompok masyarakat, homoseksualitas yang tampak jelas itu masih dianggap sebagai perbuatan yang kurang wajar, sehingga masyarakat menjadi anti-homoseksual. Freud menyebut hal ini sebagai Homofobia (Kaplan & Sadock, 2010). walaupun ada sebagian masyarakat atau individu yang sudah terpengaruh dengan budaya barat tekait dengan penerimaan homoseksualitas ini, namun seolah terbawa dengan budaya barat bahwa homoseksual atau mencintai sesama jenisnya adalah suatu trend atau suatu gaya hidup yang menarik untuk diikuti.

Homoseksualitas adalah keadaan seseorang yang menunjukkan perilaku sexual diantara orang-orang dari sex yang sama (Maramis, 2004). Sadarjoen (2005) secara sederhana juga menyebutkan homoseksualitas dapat diartikan sebagai suatu kecendrungan yang kuat akan daya tarik erotis seseorang justru terhadap jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksual lebih lazim digunakan bagi pria yang menderita penyimpangan ini, sedang bagi wanita, keadaan yang sama lebih lazim disebut “lesbian”.

(3)

176

Kinsey menyebutkan (dalam Hawari, 2009) bahwa di Amerika Serikat, prevalensi mereka yang homoseksual murni (100%) berkisar antara 2% sampai 4%, sementara yang lebih menonjol homoseksual daripada heteroseksual berkisar antara 7% hingga 13% atau dengan kata lain diperkirakan terdapat 10% dimensi homoseksual yang cukup berarti dalam kehidupan masyarakat modern dan industri. Kinsley (dalam Kaplan & Sadock, 2010) juga menyebutkan bahwa 10 persen laki-laki adalah homoseksual. Untuk wanita angka tersebut adalah 5 persen.

Secara umum diperkirakan jumlah kaum lesbian dan gay di dalam masyarakat adalah 1% hingga 10% dari populasi. Di Indonesia sendiri, data statistik menyatakan bahwa 8 dari 10 juta populasi pria indonesia pada suatu waktu pernah terlibat pengalaman homoseksual. Sebagai catatan dari suatu survei dari Yayasan Priangan beberapa tahun yang lalu menyebutkan bahwa ada 21% pelajar SMP dan 35% SMU yang pernah terlibat perilaku homoseksual. Data lain juga menyebutkan kaum homoseksual ditanah air memilki sekitar 221 tempat pertemuan di 53 kota di Indonesia. Berdasarkan catatan LSM Abiasa dan Komisi penanggulangan AIDS Jawa Barat yang terlibat pendampingan untuk HIV/AIDS, di kota Bandung saja tidak kurang dari 656 orang tercatat sebagai homoseksual (Saputri, 2011).

Terkait dengan apa yang sudah dijelaskan di atas bahwa sebenarnya penyimpangan perilaku seksual atau homoseksualitas itu tidak dibenarkan baik menurut norma-norma ataupun ajaran agama yang ada di Indonesia, tetapi anehnya mengapa para kaum lesbian ini masih tetap memilih atau menjalankan kehomoseksualitasannya, walaupun mereka juga tahu bahwa apa yang mereka pilih itu salah baik secara agama, norma dan hukum yang ada di Indonesia. Selain itu kaum lesbian juga sadar dan paham kalau keberadaan mereka kurang atau bahkan tidak bisa diterima dalam lingkungan masyarakat, walaupun ada sebagian kecil masyarakat yang bisa memahami mereka.

Lesbianisme

Lesbianisme (dari kata Lesbos = pulau di tengah lautan Egeis yang pada zaman kuna dihuni oleh para wanita). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut cinta lesbis atau lesbianisme (Kartono, 2009). Jadi secara sederhana, homoseksualitas dapat diartikan sebagai suatu kecendrungan yang kuat akan daya tarik erotis seseorang justru terhadap jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksual lebih lazim digunakan bagi pria yang menderita penyimpangan ini, sedang bagi wanita, keadaan yang sama lebih lazim disebut “lesbian”(Sadarjoen, 2005).

(4)

Jurnal Online Psikologi Vol. 01 No. 01, Thn. 2013 ht tp:/ / ejournal.umm.ac.id

177

Menurut Supratiknya (1995) lesbi atau lesbian adalah perempuan yang mempunyai orientasi seksual terhadap perempuan. Orientasi seksual di sini artinya bahwa seorang lesbian itu hanya bisa suka atau mencintai kepada sesama jenisnya (perempuan) dalam hal ini melibatkan perasaan kasih sayang dan cinta, termasuk juga di dalamnya yaitu relasi intimasi atau hubungan seksual di antara mereka. Atau bisa juga, lesbianisme diartikan sebagai perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan sejenis dikalangan wanita.

Faktor Psikologis

Dari segi ilmu bahasa, perkataan psikologi berasal dari perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Karena itu perkataan psikologi sering diartikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau disingkat ilmu jiwa (Walgito, 2010).

Menurut Chaplin (2008) psikologi adalah segala hal yang menyinggung akan perasaan dan asal-usul adalah mental. Pendapat yang hampir sama juga disampaikankan Walgito (2010) psikologi merupakan ilmu yang membicarakan tentang jiwa. Akan tetapi oleh karena jiwa itu sendiri tidak nampak, maka yang dapat dilihat atau diobservasi ialah perilaku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manifestasi atau penjelmaan dari kehidupan jiwa itu sendri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) psikologis adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan psikologi dimana psikologi itu sendiri secara singkat adalah ilmu atau studi ilmiah yang berkaitan dengan proses mental yang mana proses-proses mental meliputi pikiran, perasaan, emosi, motivasi, impian, persepsi, dan kepercayaan baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku. Dari beberapa penjelasan diatas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kondisi psikologis adalah suatu keadaan yang berkaitan dengan kejiwaan dan proses mental yang melibatkan pikiran, emosi, dan konasi yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

METODE PENELITIAN

Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian adalah perempuan yang mengalami penyimpangan perilaku seksual (lesbian), yaitu mereka yang apabila melihat sesama jenisnya timbul suatu perasaan atau ketertarikan, selanjutnya dari ketertarikan ini muncul hasrat, dorongan atau keinginan untuk melakukan perilaku homoseksual, misalkan berpacaran dengan sesama jenisnya atau melakukan perilaku seksual sejenis. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 1 orang.

Metode Pengumpulan Data

(5)

178

bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).

Menurut Suwandi & Basrowi (2008) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) sebagai pengaju/pemberi pertanyaan dan yang diwawancarai (interviwee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu. Pendpat yang hampir sama juga disampaikan Esterberg (dalam Sugiono, 2010) bahwa wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Menurut Yin (2011) wawancara merupakan sumber bukti yang esensial bagi studi kasus, karena studi kasus umumnya berkenaan dengan urusan kemanusiaan. Urusan-urusan kemanusiaan ini harus dilaporkan dan diinterpretasikan melalui penglihatan pihak yang diwawancarai, dan para responden yang mempunyai informasi dapat memberikan keterangan-keterangan penting dengan baik ke dalam situasi yang berkaitan.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tehnik wawancara semiterstruktur (Semistructure Interview), dimana wawancara dengan teknik ini lebih fleksibel dan tidak kaku. Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan (Sugiono, 2010). Interview atau wawancara ini dilakukan untuk menggali data-data terkait dengan permasalan yang sedang dihadapi subjek “sesuai judul penelitian”.

Prosedur dan Analisa Data

Dalam sebuah penelitian perlu adanya sebuah tahapan-tahapan atau rancangan sebelum dilakukannya penelitian tersebut, agar dapat memberikan gambaran keseluruhan perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis dan penafsiran data sampai pada penulisan laporan. Menurut Moleong (2010) ada beberapa tahapan yang harus dipersiapkan oleh seorang peneliti kualitatif, diantaranya adalah sebagai berikut: 1 Tahapan pra-lapangan, 2 Tahap pekerjaan lapangan, 3 Tahap analisis data.

HASIL PENELITIAN

Subjek merupakan anak ke-2 dari 2 bersaudara, dan saat ini subjek berusia 22 tahun. Saat ini subjek masih tercatat sebagai salah satu mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Malang, dikarenakan saat ini subjek sudah tidak ada perkuliahan jadi kesibukan subjek saat ini hanya bekerja part time di salah satu warnet di kota Malang.

(6)

Jurnal Online Psikologi Vol. 01 No. 01, Thn. 2013 ht tp:/ / ejournal.umm.ac.id

179

masuk di sebuah perguruan tinggi subjek bertemu dengan seorang maba (perempuan) yang sama-sama punya hobi dibidang olah raga basket. Dari situ subjek mulai kenal dan akrab sampai pada akhirnya subjek menjalin hubungan dengan anak tersebut.

Selain alasan kagum seperti yang sudah disampaikan di atas subjek juga mengatakan bahwa dulu sewaktu baru lulus SMA subjek juga pernah menjalin hubungan dengan laki-laki. Sampai pada suatu hari subjek memutuskan untuk mengakhiri hubungannya tersebut, selain alasan tidak nyaman subjek juga berpendapat kalau pasanganya adalah seorang laki-laki yang berperilaku buruk. Kejadian itu semakin menambah kebencian subjek terhadap lawan jenis (laki-laki) sampai saat ini. Subjek juga mengatakan berpacaran dengan sesama jenis lebih nyaman dan tentunya lebih aman, karena dengan sesama jenis subjek berfikir tidak akan hamil.

Tahun 2008-2010 subjek juga pernah mengikuti sebuah organisasi komunitas lesbian yang bernama East Java Belok Forever (EBF), dan subjek juga menjabat sebagai ketua dalam organisasi tersebut. Subjek juga mengatakan bahwa dua hari dalam satu minggu komunitas ini mengadakan pertemuan rutin baik di Surabaya ataupun di Malang, dimana pertemuan itu bertujuan untuk lebih mengenal satu sama lain dan menjalin keakraban dengan sesama anggota. Bahkan semenjak bergabung dengan organisasi atau komunitas tersebut subjek juga sering izin dari perkuliahannya. Selain itu subjek juga lebih sering berbohong kepada orang tuanya hanya untuk berkumpul atau sekedar bertemu dengan sesama anggota komunitas tersebut.

Subjek juga mengatakan bahwa hubungan dengan keluarganya baik-baik saja. Subjek juga dekat sama ibu dan kakak laki-lakinya, tetapi subjek tidak dekat dengan ayahnya. Karena ayah jarang di rumah dan sibuk bekerja sehingga subjek merasa kurang kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah. Menurut subjek ayahnya hanya memenuhi kebutuhan keluarga terutama kebutuhan subjek secara materi saja, tanpa ada kedekatan secara emosional. Pernah suatu saat subjek berterus terang kepada ibunya kalau subjek adalah seorang lesbian, dan ayahnya juga tahu hal itu tetapi sikap ayah subjek terkesan membiarkan tanpa ada teguran yang berarti atas perilaku anaknya tersebut. Hal itu berbeda dengan sikap ibu yang sangat terkejut mendengar pengakuan subjek, sampai beberapa hari subjek dan ibunya tidak saling bertegur sapa. Melihat sikap ibunya yang kecewa dengan dirinya, subjek merasa menyesal atas apa yang sudah dipilihnya.

(7)

180

akan mencari pasangan yang berlabel butchi atau andro, begitu juga dengan perempuan yang berlabel andro.

(8)

Jurnal Online Psikologi Vol. 01 No. 01 M ei 2013 htt p:/ / ejournal.umm.ac.id

181

Gambar 1 Latar belakang IA menjadi lesbian

(Reinforcement

(9)

182

Dari skema tersebut dapat diketahui faktor-faktor yang melatarbelakangi subjek IA menjadi seorang lesbian. Dimana dapat dilihat ada faktor internal dan eksternal. Awalnya memang subjek sendiri sudah merasa kagum dan tertarik ketika subjek melihat perempuan yang berperilaku dan berpenampilan maskulin, kemudian subjek juga berfikir ingin meniru dan menjadi seperti mereka. Selain alasan di atas diduga, faktor dari dalam diri subjek yang memang sudah ada kecendrungan yang mengarah kearah lesbian. Karena faktor dari dalam diri subjek yang sudah mengarah ke lesbian, selain karena itu subjek juga memiliki kontrol diri yang lemah dimana subjek selalu menuruti egonya; yaitu sebenarnya subjek tahu kalau apa yang dia pilih itu salah dan bertentangan dengan norma, agama, adat, dan hukum yang ada di Indonesia tetapi subjek tetap menentang semua itu dengan alasan subjek tidak bisa membohongi perasaannya. Kemudian subjek juga mendapat penguatan (Reinforcement). Dimana penguatan ini semakin mendukung subjek untuk menjadi seorang lesbian.

Kemudian faktor eksternal yaitu, subjek mendapat ejekan dari teman-temannya sewaktu SMA. Kemudian selain faktor diatas subjek juga mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan, dimana ketika subyek baru lulus SMA subjek mencoba menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, tetapi hubungan tersebut tidak bertahan lama karena subjek merasa kalau laki-laki yang menjadi pasangannya saat itu adalah laki-laki yang kurang baik. Subjek juga mendapat penguatan positif (Reinforcement positif) yaitu, sikap ayah yang membiarkan perilaku subjek. Subjek juga berfikir kalau menjalin hubungan dengan sesama perempuan tidak akan hamil, dan itu berbeda ketika subjek menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Selain itu subjek juga merasa kalau kalau menjalin hubungan dengan sesama perempuan itu benar-benar membuat dirinya nyaman dibandingkan ketika subjek harus menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.

Kemudian dapat dijelaskan juga kondisi psikologis yang dialami subjek setelah menjadi seorang lesbian, yaitu selalu merasa dalam kondisi konflik subjek selalu merasa ada sebuah pertentangan batin. Dimana subjek harus memilih antara menjadi seorang lesbian dengan keluarga ataupun kehidupan sosialnya yang lain. Karena disini subjek juga selalu merasa bersalah dan bimbang akan apa yang sudah dipilihnya terkait perilakunya sebagai lesbian, ketika subjek teringat akan keluarga terutama ibu dengan keputusanya menjadi seorang lesbian. Walaupun pada akhirnya subjek tetap memilih menjadi seorang lesbian. Subjek mengungkapkan pertentangan batin (konflik) tersebut diperkuat dengan hasil observasi saat subjek mengungkapkan perasaannya dengan nada bicara yang pelan.

DISKUSI

(10)

Jurnal Online Psikologi Vol. 01 No. 01 M ei 2013 htt p:/ / ejournal.umm.ac.id

183

pengetahuan seseorang. Proses berfikir yang normal mengandung arus ide, simbol dan asosiasi yang terarah pada tujuan yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan yang menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang berorientasi pada kenyataan. Yang dimaksudkan disini adalah subjek telah memepertimbangkan dan memahami atas apa yang sudah diputuskan atau sesuatu yang telah dipilihnya serta akibat dari apa yang sudah dipilihnya.

Kedua, aspek afeksi atau emosi adalah gejala psikis dengan tiga sifat khas, yaitu dihayati secara subjektif, pada umumnya berkaitan dengan gejala pengenalan, dan dialami oleh individu dengan rasa suka atau tidak suka, duka atau gembira dalam macam-macam gradasi/derajat serta macam-macam tingkatan (Kartono, 1996). Yang dimaksud afeksi disini yaitu perasaan subjek yang merasa menyesal, cemas, serta konflik karena subjek sering merasa dihadapkan dalam pilihan-pilihan hidup yang dirasa subjek sangat berat. Walaupun pada akhirnya subjek memilih atau memutuskan menjadi seorang lesbian karena subjek merasa lebih nyaman menjalin hubungan dengan perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Ketiga, aspek konatif atau kemauan, kemauan berhubungan dengan pikiran dan perasaan. Kemauan merupakan dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangan akal budi (Kartono, 1996). Sedangkan kehendak merupakan kekuatan dari dalam, dan tampak dari luar sebagai gerak-gerik (Ahmadi, 2009). Yang dimaksudkan kemauan disini adalah pemikiran subjek kalau laki-laki itu berperilaku kuarang baik atau bahkan tidak baik sama sekali, dan jika berhubungan (pacaran) dengan laki-laki bisa hamil. Selain karena pemikiran tersebut subjek dari awal memang sudah merasa lebih nyaman berhubungan (berpacaran) dengan perempuan, maka dari itu subjek memilih menjadi seoarang lesbian.

Menurut teori psikodinamika, situasi kehidupan awal yang dapat menyebabkan perilaku homoseksual adalah fiksasi yang kuat dengan salah satu figur orang tua dan tidak adanya pengasuhan ayah yang efektif, inhibisi perkembangan maskulin oleh orang tua. Sedangkan pandangan Freud tentang homoseksualitas wanita adalah tidak adanya resolusi kecemburuan penis (penis envy) yang disertai oleh konflik oedipal yang tidak terpecahkan (Kaplan & Sadock, 2010). Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi pada sunyek yaitu subjek mengakui hubungn dengan orang tuannya baik-baik saja tetapi pada kenyataannya subjek tidak dekat dengan ayah, subjek juga mengakui kalau ayah hanya memberi kepuasan materi saja tanpa memperdulikan kalau subjek juga membutuhkan kasih sayang atau kedekatan secara emosional. Selain itu menurut subjek ayah juga tidak terlalu perduli atas apa yang dia lakukan dan kerjakan. Sebenarnya ayah subjek juga tahu kalau subjek adalah seorang lesbian tetapi ayah subjek terkesan membiarkan dan cuek akan hal tersebut.

(11)

184

subjek merasa nyaman. Lemahnya super ego sebagai pengontrol diri dalam berperilaku, sehingga subjek lebih suka menuruti kemauan egonya, dan perilaku yang dijalani subjek semakin membuat subjek jauh terlibat dalam dunia lesbian dan itu membuat subjek semakin susah lepas untuk menjalani hidup secara normal, karena subjek sendiri sudah merasa nyaman dengan menjadi seorang lesbian.

Selain itu, Bandura (dalam Alwisol, 2010) menyatakan banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi orang satu dengan orang lain. Dampaknya, teori kepribadian yang memadai harus memperhatikan konteks sosial di mana tingkah laku itu diperoleh dan dipelihara. Teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura, didasarkan pada konsep saling menentukan (reciprocal determinism), tanpa penguatan (beyond einforcement), dan pengaturan diri/berfikir (self-regulation/cognition).

Dalam teori belajar sosial telah dijelaskan, pertama bahwa seseorang bertingkah laku dalam situasi tertentu tergantung kepada resiprokal antara lingkungan dan kondisi kognitif, yaitu antara orang dan lingkungan saling mempengaruhi. Seperti halnya yang diungkapkan Skiner, bahwa perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang mengikuti, perilaku yang jelas terlihat dan dapat diobservasi dan kondisi lingkungan, serta dimana keadaan dan kejadian di lingkungan menentukan sebuah perilaku. Kedua, menurut Bandura reinforsemen penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi atau tidak akan tetapi itu bukan satu-satunya pembentuk tingkah laku. Yang dimaksud disini adalah adanya penguatan baik negatif maupun positif yang diterima subjek terkait dengan lesbian yang dia jalani, tetapi penguatan ini bukan satu-satunya pembentuk sehingga subjek menjadi seorang lesbian. Kemudian yang ke-tiga Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur dirinya sendiri (self regulation), mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, dan mengadakan konsekuensi bagi tingkahlakunya sendiri.

Rogers (dalam Alwisol, 2010) mejelaskan bahwa keseluruhan pengalaman itu, baik yang internal maupun yang eksternal disadari maupun yang tidak disadari dinamakan medan fenomena. Beberapa deskripsi berikut menjelaskan pengertian medan fenomena: (1) Meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar), (2) Meliputi pengalaman yang; disimbolkan tetapi diingkari/dikaburkan (karena tidak konsisten dengan struktur dirinya), dan tidak disimbolkan atau diabaikan (karena diamati tidak mempunyai hubungan dengan struktur diri). Pengalaman yang disimbolkan disadari, sedang pengalaman yang diingkari dan diabaikan tidak disadari, (3) Semua persepsi bersifat subjektif, benar bagi dirinya sendiri.

(12)

Jurnal Online Psikologi Vol. 01 No. 01 M ei 2013 htt p:/ / ejournal.umm.ac.id

185

awal subjek sudah merasa tertaik dengan perempuan. Kemudian subjek juga mengatakan bahwa dia sebenarnya tahu kalau apa yang dipilihnya ini salah tetapi karena alasan perasaan cinta subjek tetap menjalani hidup sebagai lesbian dan ini sesuai dengan poin ketiga dimana dalam poin ini dikatakan setiap persesi itu subjektif dan benar bagi dirinya sendiri.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor yang melatarbelakangi perempuan menjadi lesbian, yaitu faktor-faktor internal dan eksternal, (1) Faktor internal meliputi : (a) Persepsi subjek, dimana subjek berfikir tidak akan hamil jika berpacaran dengan sesama perempuan, (b) Dorongan-dorongan atau kecendrungan penyuka sesama jenis yang sudah ada dalam diri subjek, (c) Adanya kontrol diri yang lemah, dimana subjek selalu terpengaruh keinginan-keinginan (ego) nya sendiri. (2) Faktor eksternal yang meliputi : (a) Adanya proses modeling dari perempuan yang berperilaku dan berpenampilan maskulin, (b) Adanya pengalaman buruk yang dialami subjek, yaitu ejekan dari teman-teman subjek sewaktu SMA, (c) Sikap ayah yang terkesan membiarkan perilaku subjek, walaupun sebenarnya ayah subjek tahu tentang perilakunya tersebut (Reinforcement positif), (d) Adanya pengalaman yang kurang menyenangkan terhadap lawan jenis (e) Adanya dukungan dari lingkungan sosial (Reinforcement positif), yaitu subjek pernah ikut dalam suatu oeganisasi atau komunitas lesbian. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kondisi psikologis seorang lesbian adalah konflik, perasaan tersebut dirasakan subjek karena subjek harus memilih antara menjadi seorang lesbian atau keluarga dan kehidupan sosialnya yang lain, walaupun pada akhirnya subjek tetap memutuskan menjadi seorang lesbian.

Implikasi

Diharapkan subjek perlahan-lahan untuk mulai menjauhi pergaulan yang mengarah kelesbian, kemudian subjek dapat membuat kegiatan atau kesibukan yang lebih positif, tentunya dengan teman-teman yang bukan atau tidak berperilaku lesbian. Terkait dengan ayah disarankan subjek untuk terlebih dahulu membuka suatu pembicaraan dengan ayah agar terjalin kedekatan secara emosional. Selain itu, diharapkan subjek untuk tidak selalu menuruti keinginan-keinginan (egonya) yang mengarah ke lesbian. Diharapkan agar orang tua selalu mengontrol aktifitas anak-anaknya baik di luar maupun di dalam rumah supaya orang tua juga tahu apa yang sedang dilakukan oleh anak. Orang tua baik ayah maupun ibu diharapkan mampu membangun komunikasi yang baik dengan anak, agar anak juga merasa dekat dan akrab dengan kedua orang tua. Sehingga anak tidak terjerumus dalam pergaulan yang menyimpang (pergaulan bebas).

REFERENSI

Ahmadi, A. 2009. Psikologi umum (Ed. revisi). Semarang: Rineka Cipta.

(13)

186

Basrowi., & Suwandi. 2008. Memahami penelitian kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaplin, J.P. 2009. Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Hawari, D. 2009. Pendekatan psikoreligi pada homoseksual. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Hidayat, M.W. 2005. Tinjauan psikoanalisa terhadap lesbian (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur).

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Ed. Keempat). 2008. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kaplan, H.I., Sadock, B.J. & Gerbb, J.A. 2010. Sinopsis psikiatri (Jilid dua). Jakarta: Binapura Aksara.

Kartono, K. 2009. Psikologi abnormal dan abnormalitas seksual. Bandung: Mandar Maju.

Kartono, K. 2006. Psikologi wanita 1 mengenal gadis remaja dan wanita dewasa. Bandung: Mandar Maju.

Kartono, K. 1996. Psikologi umum. Bandung: Mandar Maju

Maramis, W.F. 2004. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Moleong, L.J. 2010. Metodologi penelitian kualitatif (Ed. revisi).Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nazir, M. 2005. Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Sadardjoen, S.S. 2005. Bunga rampai kasus gangguan psikoseksual. Bandung: PT Refika Aditama.

Saputri, M. 2011. Krisis identitas seorang lesbian (analisis semiotika film boy’s don’t cry) (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur).

Sugiyono. 2010. Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Supratiknya, A. 1995. Mengenal perilaku abnormal. Yogyakarta: Kanisius.

Susilandari, E. 2009. Living as lesbian in Indonesia: survival strategies and challenges in Yogyakarta. Yogyakarta: Graduate School Gadjah Mada University.

Walgito, B. 2010. Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: C.V Andi Offset

Gambar

Gambar 1 Latar  belakang IA menjadi lesbian

Referensi

Dokumen terkait

Lingkungan internal yang menjadi kekuatan KRB adalah (1) pusat konservasi ex-situ , (2) panorama arsitektur lanskap yang bernuansa alami, (3) KRB memiliki aksesbilitas tinggi

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

ANALISIS ESTETIK KARYA SENI LUKIS MOEL SOENARKO YANG BERTEMA

Rahyono (2003) menyatakan intonasi sebuah bahasa memiliki keteraturan yang telah dihayati bersama oleh para penuturnya.Penutur sebuah bahasa tidak memiliki kebebasan yang

2. Kongres Pemuda Kedua adalah kongres pergerakan pemuda Indonesia yang melahirkan keputusan yang memuat ikrar untuk mewujudkan cita-cita berdirinya negara Indonesia, yang

Aplikasi yang dihasilkan pada penelitian ini sudah menerapkan perancangan yang telah dilakukan seperti: (1) aplikasi ini dapat mengidentifikasi kondisi anak dan remaja

Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh

Hasil dari penelitian ini yaitu; (1) menghasilkan komik yang memiliki karakteristik berbasis desain grafis, dan berisi materi Besaran dan Satuan SMP kelas VII SMP, dan