• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korupsi dari Paradigma Sosiologi Emile D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Korupsi dari Paradigma Sosiologi Emile D"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Proposal Penelitian

Tindak Korupsi para Aktor Politisi dari sisi Sosiologi

Dani Andrismoro

12720008

Sosiologi

Metode Penelitian

(2)

Pendahuluan

A. Latar belakang masalah

Pemahaman tentang korupsi memang sangat di batasi oleh pengakuan lembaga

hukum ataupun dalam undang-undang dasar, seharusnya pemahaman tentang korupsi

janganlah di batasi apa lagi hanya kepada sebuah anggota dan kelompok saja yang ada di

pemerintahan, padahal jika kita perhatikan secara langsung ataupun tidak langgsung

pemahaman tetang korupsi itu terbatas dari golongan pemerintahan atau pegawai sipil,

lalu apa dari sisi dan segi yang bukan para pegawai pemerintahan dan para pegawai sipil

yang melakukan tindak korupsi, apa itu bukan korupsi. ?

Seharusnya secara meluas dalam mendefinisikan korupsi di segala aspek kehidupan baik

dari para Begawan(pemuka agama dan kaum intelektual), ksatria(bagsawan,

pemimpin/raja dan prajurit), waisya (pedagang dan petani) dan maupun golongan sudra

(pekerja kasar) karena pengertian yang memilki standarisasi akan menjadikan akan terperangkap dalam sebuah pagar-pagar dalam makna yang telah ada dan pemberlakuan

makna dan sifat baru sulit di terima atau bersifat kaku dalam kajian hal tersebut, tentang

hal yang terkait, dan menjadikan sebuah keterbatasan seperti halnya hukum, pendidikan,

makanan dan lain sebagainya.

Fenomena korupsi sudah sangat biasa di Indonesia, hal ini sudah menjerat dan mengikat

seluruh sisi kehidupan masyarakat dari mulai tingkat para Begawan(pemuka agama dan

kaum intelektual), ksatria(bagsawan, pemimpin/raja dan prajurit), waisya (pedagang dan

petani) dan maupun golongan sudra (pekerja kasar), semua tindakan korupsi sudah tidak

lagi menjadi tabu dan menjadi kegiataan yang lazim dalam kehidupan masyarakat,

seolah-olah kebenaran Agama dan nilai fitrah manusia sudah menjadai buta dengan cara

(3)

sebuah kekuataan untuk menahan dan menghentikan pergerakan kebenaran, dulu

mungkin apa yang di sebut dengan Aturan adalah sebuah tata cara melakukan garis pagar tindakan manusia agar apa yang di lakukan tidak menganggu kehidupan masyarakat

umum dan aturan memberikan gambaran umum dari, untuk dan oleh kepentingan umum

supaya mencapai tujuan keharmonisan dan keselarasan masyarakat dalam kegiatan dan

tindakan sosial untuk maysayarak itu sendiri. Namun apa yang terjadi saat ini dengan

Aturan mereka para pelaku tindak korupsi mempermainkan kepentingan umum menjadi

kepentingan individu, dan kepentingan instansi/korporasi.

Korupsi adalah kegiatan yang di lakukan, baik secara terstuktur atau secara terorganisir

maupun secara tidak terstruktur oleh individu ataupun kelompok untuk memperkaya

kehidupan diri, memperkaya kehidupan orang lain dan memperkaya kehidupan kelompok

atau instansinya.

Namun dalam arti hukum adalah kegiatan yang di lakukan untuk menguntungkan diri dan

merugikan orang lain, yang di lakukan oleh pejabat pemerintahan yang melanggar

batas-batas hukum. Dalam pengertian Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 yang di ubah

menjadi Undang-Undang nomor 20 tahun 2001, korupsi merupakan tindakan melawan

hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain (perseorangan atau sebuah

instansi/korporasi) yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan keuangan

atau perekonomian Negara dari segi materiil perbuatan itu di pandang sebagai perbuatan

yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. Dan dalam pengertian lain

oleh KPK korupsi merupakan kegiatan yang di lakukan seseorang individu atau

kelompok yang ,melakukan tindakan memperkaya diri, korporasi dan melanggar hukum

(4)

Pemahaman akan penegetahuan tindak korupsi saat ini hanya menyentuh sisi dan segi

dalam saja dari para pelaku tindakan korupsi, sedangkan sebab-akibat (causality) dari

pengaruh luar tindakan individu sangatlah minim dan kali ini saya akan mencoba keluar dari

pemahaman tentang tindakan korupsi yang bersifat dari dalam diri individu , yang mana sifat

individu saya jadikan sebagai tempat kedua dari pengaruh luar tindakan individu yang

melakukan tindak korupsi, pertanyaan mungkin akan di ajukan dengan penelitian ini adalah

kenapa harus dari luar individu dan kenapa hal tersebut di lakukan ?

1. Seperti dalam penelitian tentang cahaya atau Quantum ( ilmu alam ) bahwasanya cahaya

memilki 2 sifat yang berbeda jika kita teliti dengan cara berbeda pula, cahaya akan

terlihat seperti atom jika kita gunakan alat untuk melihat cahaya adalah detector atom,

namun kita akan dapati cahaya sebagai gelombang ketika cahaya yang kita amati dengan

menggunakan detector gelombang, dan hal ini pun sepertinya akan sama dengan sebuah

tindakan korupsi yang akan saya teliti nanti, dan sifat dulitas ini adalah sifat dan hukum

alam yang tidak bisa kita rubah dan kita halangi dari segi apapun, dan yang demikaian

juga merupakan sebuah dan petunjuk bahwasanya yang Maha Ahad adalah Allah itu

sendiri dan yang lainya merupakan sebuah sisi yang dulitas.

Oleh karena itu tindakan korupsi yang mungkin bukan hanya tindakan yang bersumber

dari dalam individu (psikologi) namun juga pasti ada sifat dari luar juga yang menjadikan

orang melakukan tindakan korupsi.

2. Jika ada ilmu yang mempelajari tetang seluk-beluk perilaku manusia yang berasal dari

dalam diri manusia yang disebut sebagai psikologi maka ilmu yang mempelajari tindakan

individu yang merupakan dorongan dari luar kehidupannya yaitu ilmu sosiologi, jika kita

(5)

Pergolakan cara berpikir pada tokoh para politisi, lembaga hukum, KPK, tokoh agama,

dan para Intelektual yang serius menggeluti permasalahan korupsi yang terjadi di bangsa

indonesia sepertinya selalu terhenti semua pada kosa kata “individu” atau manusia itu

sendiri atau sering di sebut dalam ke-ilmuan adalah Phsycology, sehingga pemahaman

tentang korupsi tersebut itu dari para politisi ada yang berkata; itu partai-nya aja yang

bodoh memilih para anggotanya sehingga partai tidak mampu membuat para actor di

politisi tidak melakukan korupsi, lembaga hukum berkata; tindak korupsi harus di hukum

mati dan harus ada undang-undang yaang sangat keras dalam membahas tentang tindak

pidana korupsi, KPK berkata bahwa korupsi itu tindakan kejahatan yang merugikan

negara dan laporkan dan fokuskan kasus korupsi yang terkait orang level tinggi,

menyagkut orang banyak, dan menyangkut uang besar, para tokoh agama berkata;

korupsi ini terlihat sepertinya masyarakat kaya-nya itu kekurangannya iman dari para

koruptor ataupun masyarakat sehingga terjadinya korupsi, sedangkan di kalangan para

intelektual ada berkata; ini kayanya kasus korupsi harus perlu ada pemahaman

pendidikan manusia secara psikologi untuk mencegah manusia agar tidak korupsi dan hal

tersebut pun di mulai sejak dina ataupun saat masuk taman kanak-kanak (play group). Apa yang telah di bicara di atas juga hal yang sangat benar dan baik namun masalah yang

terjadi di tempat malah berlainan dengan apa yang dianggap sebab para koruptor juga ada

dari tokoh agamawan atau orang yang berpengaruh di masarakat sekitar sebagai orang

baik, ada yang banyak juga koruptor yang mengerti hukum dan hukum di buat permainan

sehingga kekurangan pasal hukum di jadikan pedoman tindak korupsi tersebut, dan juga

para politisi juga semuanya kayaknya memiliki kriteria orang-orang intelektual yang

tinggi dan mempunyai psiklogi yang sangat baik dan berwibawa, mari coba kita

(6)

yang lebih mendasar dari apa yang telah di uraikan di atas semua itu, ataukah masih perlu

bangsa kita menggunakan ilmu sihir untuk mengungkap fenomena yang terjadi atas

korupsi tersebut namun jika hal tersebut di gunakan sepertinya sudah tidak wajar dan

pantas lagi di zaman modern seperti ini yang penuh rasionalistik dalam menjalani hidup. Coba kita tengok ke arah kehidupan seorang pelacur, mereka bekerja dari sesuatu yang

tidak baik dan merupakan perbuatan zina yang sangat tidak di senangi bagi banyakan

para masyarkat, namun hal tersebut (pelacur) mau tidak mau kehidupan keluarga harus

terpenuhi dan tercukupi untuk bisa mendidik para anak-anaknya maka pekerjaan apapun

asalkan itu mendapakan uang yang cukup, itu pun di lakukannya, namun ketika ketika

seorang pelacur tersebut di tanya tentang pekerjaannya sebagai pelacur oleh orang-orang

di sekitarnya dan lingkungan tempat dia hidup, maka sebuah jawaban rigan dan santai

yang di keluarkan oleh mulut mulut dan bibirnya yaitu tersenyum dan dengan nada

lembut “ saya lakukan ini itu karena saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi,

sedangkan kehidupan ini haruslah cepat dan tanggap sedangkan kebutuhan hidup saya

dan anak-anak saya pun juga harus terpenuhi setiap harinya apalagi saya sendiri kalau

anak saya sendiri melakukan hal yang demikian, makanya pekerjaan seperti ini saya

lakukan demi mendidik anak saya dan tidak mau kalau masa depan anak terbengkalai dan

hal yang demikian terjadi oleh anak saya sendiri.

Jika seorang pelacur bertindak ternyata bukan atas dirinya melaikan untuk masa depan

anaknya yang tidak ingin seperti dia dan hal yang demikian juga merupakan tuntutan

sosial, namun apakah hal yang demikian apakah juga terjadi di tndak korupsi yang

sebenarnya para koruptor itu bukan atas dasar dari dalam dirinya sendiri ataukah memang

orang-orang poltis, orang-orang intelektual tinggi dan seorang tokoh masyarakat

(7)

Terus pertanyaannya kenapa hal itu bisa terjadi di pemerintahan bangsa indonesia? Perlu

kita sadari mereka para DPR, para Menteri, para penegak hukum dan pegawai pajak

mereka melakukan kegiatan tersebut pun di luar dari kontrol mereka sendiri dan

sebenarnya para koroptor tersebut juga tau kalau yang di lakukannya salah dan

merugikan negara, lantas kenap mereka korupsi juga? kemungkinan meraka mereka

melakukan hal tersebut di luar kontrol atau ada tekanan dari luar diri mereka sendiri yang

mengharuskan korupsi,

Maka sosiologi lah yang akan di jadikan sebagai kajian dalam penelitian ini yang

menyangkut tentang tindakan korupsi yang terjadi di kalangan para actor koruptor yang ada

di pemerintahan atau para politikus yang telah menjabat sebagai para wakil rakyat, baik

Presiden, DPR, Menteri-Menteri dan lain sebagainya.

B. Identifikasi masalah

Masalah tindakan korupsi yang terjadi d Negara indoesia sudah meliputi seluruh lapisan

masyarakat, namun tidak di temukan adanaya pemahaman tentang korupsi yang terjadi di

(8)

ini sepertinya tidak membuahkan hasil maksimal malah mati satu tumbuh seribu, hal

yang demikian lah yang melatarbelakangi masalah ini.

C. Batasan Masalah

Melihat masalah tetang korupsi yang banyak di lakukan oleh para orang-orang yang

berada di lembaga pemerintahan : Legislative, Yudikatif dan Eksekutif menjadikan

penelitian ini akan lebih kepada mereka sehingga penelitian ini tidak terlalu melebar dan

luas.

D. Rumusan Masalah

Dari bab pendahuluan telah di kita telah mendapatkan pokok masalah :

1. Bagaimana kasus Korupsi para actor politik yang telah menduduki jabatan di lembaga

pemerintahan baik dari lembaga Legislative, Yudikatif dan Eksekutif dari sisi

Sosiologi Emile Durkheim ?

2. Menjelaskan korupsi bukan secara psikologi akan tetapi dengan melihat pengaruh

luar yang menyebabkan tindak korupsi ( sosiologi klasik Emile Durkheim) ? 3. Apakah Korupsi bersfat seperti Quantum ?

E. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan bagaimana korupsi secara sosiologis dengan penggunaan teori Emile

Durkheim.

2. Melakukan interpretasi tindak korupsi dari sisi luar seseorang pelaku tindak korupsi. 3. Menjelakan apa yang mempengaruhi tindak korupsi.

4. Melakukam kritik atas apa yang menyebabkan korupsi.

5. Menggurai sebab - akibat (causal ) tindak korupsi dari sisi luar kehidupan seorang

(9)

F. Kerangka Teoritik

Sebagaimana telah di paparkan dalam latar belakang masalah di atas kita mendapatkan

rumusan masalah, inti dari penelitian ilmiah ini adalah upaya menganalisis secara kritis

bagaimana tindakan korupsi bisa terjadi dari sisi luar dengan konsep pemikiran Sosiologis

Emile Durkheim, serta melihat apa dan bagaimana korupsi ternyata di pengaruhi dari sisi luar

kehidupannya, sehingga sebagai batasan analisis struktur pengetahuan akan penelitian ini,

untuk menjawab sebagaimana pokok-pokok masalah dan pemecahan masalah melalui teori.

Fakta sosial

Penegasan paling awal dari Durkheim adalah fakta sosial' harus dianggap oleh sosiolog

sebagai realitas, yaitu, memiliki karakteristik tersendiri yang terkonsep dan akan terlihat melalui

pengamatan eksternal. Fakta sosial adalah semua fenomena (cara bertindak) yang terjadi di

dalam masayarakat dan hal tersaebut di pengaruhi oleh sisi luar (eksaternal) kehidupan individu,

di mana hal tersebut merupakan kepercayaan, kecenderungan dan praktik kelompok diambil

(10)

hubungan yang terstruktur atas suprastuktur yang telah mengatur kolektifitas social di kehidupan

masyarakat. Jadi ada cara bertindak, berpikir dan merasa yang dimiliki oleh seluruh kelompok

ada di luar kesadaran individu, pemaksaan ini tidak dirasakan atau hampir tidak dirasakan sama

sekali, yakni ketika banyak sesuatu yang di kerjakan tanpa tahu dari hakikat yang sebenarnya

dari tindakan apa yang di lakukan.

pada hakekatnya merupakan karakteristik fakta-fakta social , yang hanya bisa dipastikan melalui

investigasi empiris atas realitas masyarakat Denganalat indikator, seperti aturan moral, hukum,

agama, dll. 1

dari fakta social pun menjadi mengkrisatal di masyarakat dari mulai skala besar menjadi skala

kecil. seperti hukum Negara yang menjadi aturan kolektif sebagai kesadaran kolektif individu di

dalam masyarakat, bahwa mereka cukup terasa di batasi kekuasaan koersif berdasarkan mana

mereka melakukan kontrol atas dirinya.

kesadaran kolektif individu yang berhubungan dengan agama. masalah politik, sastra dan seni,

Dan lain- lainnya yang konstan diproduksi terus-menerus untuk memaksakan pada anak cara

melihat, berpikir dan bertindak melalui dari upaya pendidikan dan tekanan yang sama dari

lingkungan sosial yang berusaha untuk membentuk gambar kolektifitas socialdi mana orang tua

dan guru hanya perwakilan dan perantara (makhluk sosial telah dibentuk secara historis). Jadi

(11)

1. Emile Durkheim, The Rules of Sociological Method (Introduction By Steven Lukes Translated -by W. D. Halls) The Free

Press New York London Toronto Sydney 1982. Hal. 50-51

2. Ibid. Hal 52-55

Solidaritas Sosial

solidaritas social adalah kesadaran kolektif yang di lakukan di dalam masyarakat dalam

mengintergrasikan fungsi-fungsi social agar bisa terjadi keadaan harmonis yang stabil, sehingga

pencegahan akan terjadinya tindak penyimpangan social di lingkungan masyarakat di lakukan

dengan cara menggunakan suau yang besifat kesadaran kolektif bersama di seluruh apisan

masyarakat yaitu dengan cara :

1. Pembentukan hukum ; pembentuka tersebut merupakan cara kerja yang di gunakan

menjaga stabilnya mobilitas social di dalam masyarakt sehingga bisa kebebasan setiap

individu bisa berjalan dengan baik namun ada keadaan yang juga harus di penuhi sebagai

idetitas sosianya di dalam masyarakat, karena individu yang tidak

2. Dengan adanya kesadaran kolektif yang di bentuk secara hukum ataupun ada secara

historis dari masyarakat artinya aturan moral sudah ada saat kita ada dalam eksistensi

masyarakat dan aturan tetap ada saat eksistenskita tidak i sudah ada di masyarakat, yang

jelas dalam hal kesadaran kolektif ini merupakan sebuah upaya yang di lakukan untuk

menurunkan tingkat kriminalitas di masyarakat, dengan cara masyarakat di ajak bermain

dalam kesadran kolektif (kesadaran social) secara tidak sadar agar selurruh bagian

(12)

sama menuju kesadaran kolektif kerena satu sama lain saling membutuhkan untuuk

menjaga harmonisasi social dalam seluruh eksistensi elemen di masyarakat .

di manapun solidaritas sosial ada, ini tidak memilki hubungan dasar personal secara independen

atau tersendiri (kualitas immaterial) bisa berjalan di masyarakat membentuk keadaan harmonis

masyarakat akan tetapi solidaritas terjadi di luar dari kesadaran individu yang sebenarnya di

bentuk oleh masyarakat baik individu secara sadar memahami hal tersebut ataupun individu tidak

menyadari akan pembentukanuntuk membentuk keharmonisan social tersebut.1

Keharmonisan social dalam masyarakat merupakan penagaruh eksternal yang memilki cara dan

variasi yang berbeda di dalam bentuk solidaritas social yang terbagi menjadi :

1. Solidaritas mekanik.

Solidaritas yang terjadi di dalam masyarakat dengan bentuk Totalitas keyakinan dan sentimen

umum untuk anggota rata-rata masyarakat yang sama membentuk sistem kehidupannya

sendiri, kesadaran kolektif atau kesadaran umum tertentu dengan

didirikan otoritas hukum untuk seluruh masyarakat.

fungsi utamanya adalah untuk menciptakan rasa hormat untuk kolektif keyakinan, tradisi dan

praktek, yaitu, untuk mempertahankan kesadaran umum terhadap semua vitalitas umum dari

keharmonisan dan ketertiban sosial, baik internal maupun eksternal yang bisa menyebabkan

kriminalitas social di dalam masyarakat. Dengan demikian kesadaran kolektif menjadi

simbol, ekspresi hidup di mata semua orang. ditransmisikan ke otoritas

pemerintahan,sehingga kesadaran kolektif itu memiliki sifat dan reaksi yang sama di seluruh

anggota masyarakat tanpa terkecuali, karena tidak ada kekuatan moral individu yang unggul,

(13)

Di dalam solidaritas mekanik terdapat hukum agar bisa membentuk kembalinya ke

hharmonisan social setelah terjadinya kriminalitas social ataupun penyimpangan social,

individu di kenakan atau di berikan hukum yang bersifat merugikan individu, dari hukum

tersebut dengan maksud agar bisa untuk menjaga ketertiban social.

Contoh : jika individu melakukan penyimpangan social maka individuu akan mendapatkan

hukum atau ganti rugi.2

2. solidaritas organik

solidaritas yang terjadi di maasyarakat dengan bentuk kesadaran kolektik individu dalam

eksistensi kehidupan masyarakat,solidaritas ini merupakan bagian yang kedua dari solidaritas

social, artinya solidaritas organic cangkupannya lebih kecil dari pada solidaritas mekanik yang

mampu mencakup seluruh anggota masyarakat sedangkan organic lebih sederhana seperti

solidaritas yang terjadi di lingkup agama, adat-istiadat, dan lain sebagainaya. di mana dalam hal ini masyarakat tidak mempunyai kewenagan untuk menghukum dan memberikan sangki kepada

individu, melainkan masyarakat hanya bisa melakukan perintah saja agar bisa mematuhi tata

aturan agar bisa terjadi kesadaran kolektif bersama di dalam masyarakat, sehingga kelompok

masyarakat adalah sebuah totalitas lebih akan tetapi kurang terorganisir, hal tersebut di

karenakan semuaaa kesadaran kolektif ini hanya bersumber atas dasar keyakinan dan sentimen

untuk anggota kelompok di satu titik keadaan social.

Jika terjadi pelanggaran ataupun penyimpangan social di dalam solidaritas ini tidak menghukum

individu yang telah melakukan penyimpangan akan tetapi hukuman ini akan berjatuh hukuman

secara pribadi antaar individu, atau sering kita sebut sebagai hukum perdata antara individu

(14)

1. Thomson Kenneth, Readings From Emile Durkheim. USA and Canada, Routledge 2005. Hal 21-27 2. Ibid. 24- 28

3. Ibid. 29-32

Suicide

Bunuh Diri Egoistik

Bunuh diri egoistik ini merupakan bunh diri yang di lakukan karena hasil dari 'egoisme individualis yang berlebihan, dalam hal inibisa di sebabkan melemahnya kepercayaan tradisional

dan keadaan moral individu., sehingga yang terjadi pada seseorang merasa kepentingan dirinya

lebih kecil dari kepentingan sosialnya, dan peranan yang di berikan tidak lah berarti,

tiga proposisi hal ini bahwa bunuh diri ini di sebut dengan Bunuh Diri Egoistik berikut : 1. Sifat individu-individu yang membentuk masyarakat Bunuh diri berbanding terbalik

dengan tingkat integrasi masyarakat religius.

2. Bunuh diri berbanding terbalik dengan tingkat integrasi masyarakat dalam negeri.

3. Bunuh diri berbanding terbalik dengan tingkat integrasi masyarakat politik.1 Contoh: rusaknya ikatan pribadi antar individu.

Bunuh Diri Altruistic

Bunuh diri altruistic merupakan bunuh diri yan di lakukan atas dasar moralitas dirinya terhadap yang Eksistensi hidup cara di mana mereka terkait bersama-sama, yaitu sifat organisasi sosial

(15)

Bunuh diri altruistic meiliki dua sifat ;

1. Wajib : - militer lebih baik mati dari pada terhina oleh musuh.

- Mati lebih baik karena akan lebih malu jika terhina oleh keluargannya

2. Tidak wajib :- orang jepang melakukan hara-kiri (kerelaan atas dirinya)

- Orang Hindustan rela melakukan bunuh diri kerena untuk mencapai

nirwana yang mana di akan mencapai puncak kehidupan .2

Bunuh Diri Anomi

Bunuh diri anomi adalah bunuh diri dari peraturan yang berlebihan, bahwa orang-orang dengan diblokir masa depan tanpa ampun dan nafsu keras tersedak oleh disiplin yang menindas

peristiwa melewati yang mengganggu fungsi kolektif hidup dan regulasi yang terjadi di

masyarakat mengalami penurunan dari cara berpikir, cara bertindak dan cara merasa yang

dilakukan pemerintahan dalam menjaga sebuah aquilibirium dan keharmonisan sosial (tidak

adanya control sosial).

Contoh : bunuh diri kerena efek ekonomi yang memberatkan kehidupan dan terjadinya

krisis hidup dalam Kemiskinan (gangguan dari tatanan kolektif). 3

Bunuh Diri Fatalistic

Bunuh diri fatalistic adalah bunuh diri berasal yang di lakukan karena kekecewaaan terhadap dunia yang memandang kehidupan sangat buruk dan tidak adil.

Contoh: seorang wanita di poligami yang menyebabkan atas kematian ini, hal ini menganggap

(16)

KLASIFIKASI AETIOLOGIS DAN MORFOLOGIS TERHADAP JENIS-JENIS BUNUH

Tekanan kekerasan terhadap satu orang

(pembuhuhan diri sendiri)

Campuran antara hasutan, gejolak, dan

apati, Campuran antara tindakan dan

(17)

dari berbagai kasus yang telah di lakukan Emile Durkheim , bahwa ada 3 hal yang perlu di

cermati dari dalam bunuh diri yaitu

1. Agama

Biasanya keagamaan akan mengatur dan melakukan sebuh integrasi sosial yang mewujudkan

terjadinya keharmonisan di dalam masyarakat, namun jika tidak demikin ada kemungkinan

terjadinya ketidak stabialan sosial, maka memungkinkan adanya bunuh diri 2. Politik

Kehidupan yang terjadi di para orang yang berada di dalam politik biasanya akan lebih

terintgrasi dan mengalami kesenjangan intergrasi sosial jika keadaan politik mulai

mengalami konflik ( politik : tata Negara) 3. Keluarga

Keluarga merupakan aktivitas sosial yang terkecil sehingga memungkin mudahnya

kehidupan tertata dalam keluarga namun jika keluarga tidak memberikan integritas yang baik

maka memngkinkan kehidupan tidak menjadi tak beraturan, dan merupakan sebuah factor

pendorong dari bunuh diri.

4. Emile Durkheim, Suicide: A Study in Sociology, A. Spaulding (trans.), George Simpson (ed.), Routledge, London and New

York, 2005. Hal. 123-125 5. Ibid. 198-200

6. Ibid.232-239

7. Ibid. 257

1. Thomson Kenneth, Readings From Emile Durkheim. USA and Canada, Routledge 2005. Hal. 71-76. 2. Ibid. 77-78

3. Ibid 78-83

Cara kerja Teori Emile Durkheim

Melihat dari berbagai cara pandang tulisan durkheim di berbagai karyanya saya menemukan

unsur-unur penting yang bisa menjadiakan terintergrasikannya pemikiran durkheim :

1. Fakta social : aktivitas sosial yang bersiafat tetap

2. solidaritas social ; Solidaritas mekanik dan solidaritas organik

(18)

Dari tiga teori tersebut saya akan mencoba merumuskan karya durkheim sehingga kita tidak

terpaku dan terperangkap dalam suatu kerangka yang terpisaah dan tidak berkatan, namun di sini

saya akan mencoba meng-Intergrasikan pola dan struktur cara kerja teori durkheim secara

singkat dan padat.

Gambar 1.1

Seorang durkheim melihat keterkaitan tindakan yang dilkukan oleh masyarakat adalah sesuatu

yang timbul dari masyarakat bukan dari suatu yang bersiafat psycology akan tetapi dengan ilmu

sociological-nya durkheim mampu melumpuhkan sesuatu yang bersifat psycology.

Dari data gambar dia atas bisa kita lihat fenomena yang terjadi dalam masyarakat adalah

melingkar

1. Masyarakat

2 .

3. solidaritas sosial

4. 5

. 1.

(19)

Masyarakat (society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah system dimana sebagian besar interaksi yang di lakukan adalah antara individu-individu yang berada

dalam kelompok tersebut.

Artinya dari kegiatan manusia sebagai indivudu di dalam masyarakat harus

menyesuaikan diri dari apa yang telah ada dan mengikuti apa yang telah ada di dalam

masyarakat, yang mana tindakan dan perilaku yang ada di dalam diri kita harus mengikuti

apa yang ada di masyarakat, dan tindakan berarti bukan sifat individu tetapi tindakan

tersebut merupakan dorongan dari luar dirinya, seperti yang di katakana Durkheim dalam

karya The Rules of Sociological Method,

2. Fakta Sosial

Durkheim membaca dalam masyarakat terdapat adanya suatu fakta sosal yang bersifat

tetap atau memiliki kadar waktu yan lama dan turun-temurun, seperti sebuah acara

upacara keagamaan, aturan-aturan hukum, pendidikan dan lain sebagainya. 3. solidaritas sosial

solidaritas adalah sebuah tindakan yang muncul di dalam sebuah kelompok atau

masyarakat dimana individu sadar ataupun tidak sadar dalam melakukan sebuah tindakan

yang di lakukan bersama untuk mencapai sebuah tindakan kolektif untuk enuju

keharmonisan sosial.

4. Transformation of social activity

Dari berbagai aktivitas sosial yang ada di masyarakat akan di transformasikan oleh

individu, untuk melihat tindakan-tindakan dan hubungan-hubungan di masyarakat karena

sifat memksa dan merupakan sebuah tekanan dari luar akan di ikuti atau tidak di ikuti.

5. Individu

Individu adalah bagian dari masyarakat yang harus mengikuti pola dan sifat masyarakat

yang ada ataupun yang di diami, karena harus mengikuti dan menaati yang ada di

(20)

Jadi yang pertama adalah tindakan atau aktivitas sosial di dalam masyarakat mulai di

jadikan sebagai sebagai cara dari kolektifitas kehidupan di dalam masyarakat untuk mencapai

sebuah tindakan dan perilaku bersama, sehingga memunculkan fakta sosial yang mana fakta

tersebut adalah sebuah tindakan yang terukur dan terkonsep lalu bersifat tetap atau memilki

waktu yang lama di dalam sebuah aktivitas sosial di dalam masyarakat, ketika fakta sosial sudah

di lakukan standarisasi tindakan maka mulailah muncul solidaritas sosial baik berupa solidaritas

mekanik ataupun solidaritas organic, dari sebuah solidaritas maka muncul berbagai sikap dan

pola standarisasi tindakan sosial di dalam melakukan hubungan dan interaksi di masyarakat,

ketika standarisasi telah di lakukan dalam oleh seluruh masyarakat maka dengan sadar ataupun

tidak sadar seorang sebagai individu yang tunggal maka akan melakukan sebuah transformasi of social activity, dari apa yang telah dan akan di lakukan di dalam masyarakat yang di diami, mengalami proses transformasi dari aktivitas sosial maka individu bisa mengalami 2 probabilitas

tindakan tersebut, yaitu mungkin akan melakukan tindakan yang sama seperti yang terjadi di

dalam masyarakat, atau mungkin akan keluar dari sebuah tindakan yang telah di standarisasi oleh

masyarakat (sentiment), sehingga menimbulkan ketidakstabilan sosial.

Atau ;

Jika : A : masyarakat

B : fakta sosial

C.: solidaritas sosial

D : Transformation of social activity

E : individu

Maka : A = B masyarakat menimbulkan fakta sosial

(21)

C = D solidaritas sosial menimbulkan Transformation of social activity

D = E Transformation of social activity menimbulkan individu

E = A individu menimbulkan masyarakat A merupakan pembentuk dari B - C – D – E

Dan kempat hal tersebut tidak dapat di pisahkan dari kehidupan masyarakat modern.

G. Hipotesis

Penelitian ini di lakukan berangkat dari keyakinan penulis setelah melakukan

penegenalan secara meluas dan pengangkatan masalah tersebut yakni ;

1. Semua masalah yang terjadi baik di wilayah social ataupun sains memiliki

keunikannya tersendiri, di mana masalah yang di kaji dengan rumusan masalah yang

di amabil , akan menemukan sudut pandang baru dari apa yang di amati dan dengan

apa di amati, yakani psikologi akan memunculkan masalah psikologi, jika sosiologi

maka akan di temukan sebagai sosiologi

2. Tindakan korupsi merupakan sebuah tindakan penyimpangan sosial yang tumbuh dari

dari luar kemauan akan seorang individu yang melakukan,akan tetapi ada pengaruh

luar, dimana pengaruh luar tersebut mempunyai daya kuasa dan mengatur seorang

individu untuk melakukan tindakan korupsi.

3. Tindakan korupsi bukanlah sebuah tindakan yang terjadi karena sifat individu, Jika di

lihat secara kemampuan dan intelektual para koruptor ternyata banyak yang memilki

kemampuan untuk mengetahui bahwa apa yang di lakukan adalah sebuah tindakan

penyimpangan sosial dan pengetahuan akan nilai juga sangat memungkinkan untuk

(22)

H. Metode Penelitian

Jenis penelitian

Library Research

Untuk mendapatkan dan mengumpulkan informasi data dengan mengunkan cara mencari sumber

primer dan skunder, sumber primer sebagai bahan rujuka dan data untuk di lakukan sebuah

pengembangan teori yang akan mengubah dan menghasilkan analisis tentang tema yang telah di

paparkan di dalam Bab pendahuluan dan sumber yang skunder di jadikan sebagai bahan dan

pijakan masalah yang akan di kaji dan di analisis untuk membuat sebuah penemuan baru dari

masalah dan penemuan baru dari apa yang menyebabkan masalah itu terjadi.

(23)

Berikut ini karya tulsayais pemikiran atau pustaka yang saya jadikan acuan dan telaah kritis

atas tema yang di angkat dalam penelitian ilmiah ini, telaah pustaka ini di maksudkan untuk

menunjukan kekhususan karya ilmiah penulis dan menunjukan orisinalitas penulisan :

Anne Warfield Rawls, Epistemology and Practice ; Durkheim’sThe Elementary Forms of Religious Life Cambridge University Press, New York 2004.

Durkheim’s Philosophy Lectures ; Notes from the Lyc´ee de Sens Course,1883–1884.( Edited and translated. Neil goss n’ Robert alun jones) Cambridge University Press, New York 2004.

Emile Durkheim, Sociology and Philosophy (Trans D.F.Pocock Introduction.J.G.Peristiany). USA and Canada Routledge 2010.

Emile Durkheim, Suicide: A Study in Sociology, A. Spaulding (trans.), George Simpson (ed.), Routledge, London and New York, 2005.

Emile Durkheim, The Rules of Sociological Method (Introduction By Steven Lukes Translated -by W. D. Halls) The Free Press New York London Toronto Sydney 1982.

Emile Durkheim, contributions to L'Annee sociologique ( Edited with an Introduction by Yash Nandan and Translated by John French, Andrew P. Lyons,Yash Nandan, John Sweeney, Kennedy Woody) The Free Press New York London 1980

Emile Durkheim, Sociologist and moralist (Edited by Stephen P. Turner )London by Routledge 1993

Emile Durkheim. Socialism (Le Socialisme),(Translated by Charlotte Sattler) The Antioch Press United States of America 1958

(24)

Penelitian ini di lakukan di Yogyakarta dalam jangka waktu Empat (4) bulan , dari mulai

pengambilan teori, pengambilan data, dan analisis data yang di dapatkan.

K. Sistematika penulisan

System penulisanini akan terbagi menjadi 3 bab :

Bab I

Bab ini adalah bab awal dimana merupakan awal dan dasar dari penelitian pada karya

ilmiah. Yang akan di jelaskan hasil penelitian di mulai dengan ;

Pendahuluan, bab ini meliputi ; latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan

masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, kerangka teori, hipotesis,

waktu dan lokasi, dan sistematika penulisan.

Bab II

Bab ini merpakan bagian dari isi tentang penelitian ilmiah yang akan di lakaukan, dimana

bab ini yang akan membahas secara keseluruhan tentang masalah yang di angkat dari tema

yaitu korupsi dari sisi sosiologi Emile Durkheim.

Dan bab III.

Bab ini adalah bab yang akan menjadikan sebagai bab penutup dari hasil penelitian karya

ilmiah yang merangkum tentang kesimpulan dari bab isi, yang telah di samapikan pada bab

2, sehingga penulis akan memberikan saran dan juga tentang baiknya memahami korupsi

Referensi

Dokumen terkait

Siswa dapat menentukan modulus Young bahan kawat yang ditarik berdasarkan gaya tarik, luas penampang lintang kawat, panjang kawat, dan pertambahan panjang kawat ketika ditarik

bersifat preventif atau pengendalian internal untuk pencegahan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan dan bersifat detektif atau pengendalian internal

Penilaian aspek psikomotor yang dilakukan oleh guru dan siswa didasarkan pada unjuk kerja/ gerak yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran.. Penilaian dilaksanakan

[r]

Persepsi sosial pria transgender terhadap pekerja seks komersial secara umum adalah seorang wanita yang bekerja memberi layanan seks komersial yang berpenampilan

Menurut Manuaba (2008; h.389) disebutkan perdarahan terjadi karena gangguan hormon, gangguan kehamilan, gangguan KB, penyakit kandungan dan keganasan genetalia. 55)

Berdasarkan pada hasil analisis diketahui bahwa entres yang disimpan selama 2 dan 4 hari menggunakan media kertas koran dan serbuk gergaji yang telah dibasahi masih menghasilkan

Tujuan dilakukannya penelitian adalah membangun sistem informasi konseling untuk mempermudah proses bisnis di Pik-M Aushaf UII yang digunakan mahasiswa maupun