TINJAUAN PUSTAKA
Profil Provinsi Aceh
Provinsi Aceh yang beribukota di Banda Aceh, membentang 2˚ – 6˚ LU dan 95˚– 98˚ BT. Provinsi seluas 58.375,63 km2 ini memiliki 119 pulau besar dan kecil, 35 gunung, 73 sungai besar, dan dua buah danau (BPS, 2009; Bappeda Provinsi
Aceh, 2007). Batas wilayah Provinsi Aceh sebelah Utara dengan Selat Malaka,
Sebelah selatan berbatasan dengan Sumatera Utara, Sebelah timur dengan Selat
Malaka, dan sebelah barat dengan laut Indonesia. Ketinggian rata-rata Provinsi Aceh
adalah 125 meter dari permukaan laut. Secara administratif terbagi ke dalam 18
Kabupaten dan 5 Kota, 276 kecamatan, 731 mukim, dan 6.424 desa.
Karena letaknya dilalui garis katulistiwa, iklim di Aceh adalah tropis, yang
dalam setahun terdiri dari musim kemarau dan hujan. Secara umum, musim kemarau
berlangsung dari bulan Maret sampai Agustus dan musim hujan dari bulan September
sampai Februari. Curah hujan sekitar 1000-2000 mm di daerah pantai, 1500-2000
mm di daerah tinggi dan di pantai barat daya. Suhu di dataran yang lebih rendah
adalah 25° C dan dataran tinggi 27° C dengan kelembaban udara antara 60-90%.
Profil Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Aceh
Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Aceh dulunya bernama BPT dan HMT,
yang didirikan oleh Drh. Mohd. Roesli Yoesoef (Alm) Kadis Peternakan dan
Kakanwil Deptan Provinsi DI Aceh yang merupakan lanjutan dan pilot proyek (small
No. 331/Kpts/Org/5/1978 tanggal 25 Mei 1978 (tahun berdirinya BPT dan HMT)
selanjutnya dengan adanya SK Mentan No. 282/Kpts/T.210/4/2002 tanggal 6 April
2002 maka BPT dan HMT berubah namanya menjadi BPTU (Balai Pembibitan
Ternak Unggul) Sapi Aceh Indrapuri – Aceh.
Dalam perkembangannya BPTU Sapi Aceh terjadi pasang surut konflik dan
musibah tsunami beberapa tahun yang lalu sehingga sangat berpengaruh terhadap
kegiatan dan kelangsungan balai. BPTU Sapi Aceh mempunyai visi “Terwujudnya
Pembibitan Sapi Aceh di UPT dan Masyarakat guna pelestarian plasma nutfah” dan
misi “Meningkatkan produktifitas Sapi Aceh untuk meningkatkan persediaan bibit
sapi Aceh, meningkatkan pendapatan peternak, dan melestarikan sumber daya
peternakan Sapi Aceh dan plasma nutfah.
Pada saat ini BPTU sapi Aceh Indrapuri didukung oleh sumber daya manusia
sebanyak 121 orang yang terdiri dari 83 orang PNS/CPNS dan 38 orang tenaga harian
lepas yang latar belakang pendidikannya tediri dari Magister, Dokter hewan, sarjana
peternakan/pertanian dan sarjana lainnya, Sarjana Muda, Snakma, SLTP dan SD.
BPTU Sapi Aceh mempunyai topografi berbukit-bukit, berlembah juga datar
dibagian tengah dengan ketinggian 30-80 meter dari permukaan laut. Sedangkan
iklim di BPTU adalah beriklim panas dengan suhu rata-rata 27,5 o
Ternak Sapi Aceh yang ada pada BPTU Sapi Aceh berjumlah 513 ekor. Luas
lahan milik BPTU Indrapuri yang bersertifikat adalah 430 Ha, lebih kurang 30%
merupakan lahan perbukitan dan semak belukar. Lahan yang dipakai untuk kebun
rumput lebih kurang 70% yang sudah ditanami rumput unggul, diantara 70% kebun Celcius dengan
rumput 49 Ha untuk padang pengembalaan dan 80 Ha untuk rumput potong
(BPTU,2010).
Klasifikasi Bangsa Sapi
Menurut Blakely dan Bade, (1992) bangsa sapi mempunyai klasifikasi
taksonomi sebagai berikut : Kingdom Animalia, Phylum Chordata, Subphylum
Vertebrata, Class Mamalia, Sub class Theria, Infra class Eutheria, Ordo Artiodactyla,
Sub ordo Ruminantia, Infra ordo Pecora, Famili Bovidae, Genus Bos (cattle), Group
Taurinae, Spesies Bos taurus (sapi Eropa), Bos indicus (sapi India/sapi zebu), Bos
sondaicus (banteng/sapi Bali).
Sapi Lokal Indonesia
Menurut Wiyono dan Aryogi, (2007); Noor, (2000) Sapi potong lokal
Indonesia sebagai ternak asli mempunyai keragaman genetik yang cukup besar dan
terbukti mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan tropis yang kering, kuantitas
dan kualitas pakan yang terbatas, relatif tahan serangan penyakit tropis dan parasit,
serta performans reproduksinya cukup efisien, sehingga berpotensi untuk
dimanfaatkan sebagai materi genetik dalam pengembangan sapi potong yang unggul,
walaupun produksinya lebih rendah dari ternak impor.
Perkembangan keragaman genetik bangsa-bangsa sapi di Indonesia
mengalami pertambahan dengan adanya migrasi sapi zebu dalam pembentukan
bangsa-bangsa sapi lokal Indonesia. Saparto (2004) dan Sutopo (2001) menyatakan
bahwa sejak tahun 1806 sampai tahun 1812 telah didatangkan sapi zebu dari India
untuk memperbaiki ukuran badan dan meningkatkan produksi daging dari sapi-sapi
lokal. Dengan demikian secara konsekuen dapat diasumsikan bahwa populasi sapi
Indonesia merupakan hasil hybrid individuals antara sapi asli (native stock) dengan
bangsa zebu.
Tabel 1. Populasi dan penyebaran sapi lokal Indonesia N
o
Di Indonesia terdapat Bos (Bibos) banteng yang diyakini sebagai nenek
moyang sapi yang menurunkan sapi-sapi lokal yang ada di Indonesia. Diperkirakan
pulau Jawa merupakan pusat domestikasi dari keturunan Bibos ini dan menyebar ke
daerah lain (Pane, 1993) Saparto (2004) menyatakan bahwa bangsa sapi Jawa terlihat
di pulau Jawa, sehingga dinamakan sapi Jawa Sugeng (1996) menyatakan bahwa para
ahli berpendapat sapi Jawa merupakan sapi lokal yang berasal dari persilangan Bos
Indicus (Zebu) dan Bos sundaicus atau Bos bibos. Bos bibos merupakan sumber asli
bangsa-bangsa sapi Indonesia.
Tabel 2. Populasi sapi lokal di Provinsi Aceh tahun 2011
No Kabupaten/Kota Sumber : Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan, 2011
Karakteristik Sapi Aceh
Sapi Aceh adalah sapi yang hidup dan berkembang biak di provinsi Aceh dan
umumnya dimiliki oleh petani pedesaan sejak dahulu hingga sekarang. Sapi ini
termasuk tipe sapi potong beruluran kecil serta mempunyai kontribusi yang cukup
Sapi Aceh merupakan satu dari empat bangsa sapi lokal indonesia (Aceh,
Pesisir, Madura dan Bali). Sapi Sumba-ongole dan Java-Ongole (PO) juga dianggap
sebagai bangsa sapi lokal Indonesia (Martojo, 2003; Dahlanuddin et al., 2003).
Ternak-ternak asli telah terbukti dapat beradaptasi dengan lingkungan lokal termasuk
makanan, ketersedian air, iklim dan penyakit. Dengan demikian, ternak-ternak inilah
yang paling cocok untuk dipelihara dan dikembangkan di Indonesia, walaupun
produksinya lebih rendah dari ternak impor (Noor, 2004).
Sapi Aceh memiliki bentuk badan kecil, padat dan kompak dengan pundak
pada jantan berpunuk, sedangkan pada betina tidak berpunuk namun bagian
pundaknya tidak rata sedikit menonjol dibanding sapi Bali betina. Diantara satu
daerah dengan kabupaten yang lain dalam provinsi Aceh terdapat sedikit perbedaan
baik dalam konformasi tubuh, tanduk maupun warna bulu. Hal ini mungkin
disebabkan asal usul persilangan yang berbeda dari sapi India (Hisar, Benggala) dan
sebagainya. Pada daerah pesisir dan sepanjang pantai Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara
dan Aceh Timur, demikian juga pantai Barat dan Selatan akan ditemui sapi Aceh
yang bentuk badannya beragam dan umumnya bertanduk lebih panjang dengan warna
bulu merah/coklat tua dibagian pinggul dan sapi di daerah Pidie memiliki bentuk fisik
sedikit agak kecil mungkin disebabkan karena telah terjadi inbeeding dalam waktu
yang lama (Umartha, 2005).
Sapi Aceh dipelihara secara ektensif, tidak diberi pakan dan tidak disediakan
kandang oleh pemiliknya, kalaupun ada bentuknya sangat sederhana. Sepanjang hari
Penyebaran sapi Aceh lebih banyak pada daerah pesisir pantai dan dataran
rendah, dimana menyatu dengan kehidupan masyarakat serta digunakan sebagai
tenaga kerja pengolah lahan pertanian, penarik gerobak, angkutan barang hasil
pertanian disamping sebagai penghasil daging dan ternak potong (Umartha, 2005).
Sapi Aceh banyak dipelihara petani disekitar bantaran sungai (krueng) seperti Krueng
Aceh, Krueng Pesangan dan Krueng Peusangan. Saat ini jumlah Sapi Aceh terutama
induk sebanyak 281.398 ekor tersebar di kabupaten dan kota dalam Provinsi Aceh
(Diskeswannak, 2011).
Menurut Keputusan Menteri Pertanian (2011) Sapi Aceh Merupakan salah
satu rumpun sapi lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi
Aceh, telah dibudidayakan secara turun temurun dan mempunyai keseragaman
bentuk fisik dan komposisi genetik serta kemampuan adaptasi dengan baik pada
keterbatasan lingkungan.
Pola warna bulu anak bervariasi, umumnya berwarna coklat atau merah bata.
Warna lainnya adalah putih kelabu, hitam, coklat tua dan coklat dengan garis-garis
hitam. Warna bulu anak akan berubah sesuai dengan bertambah dewasanya anak sapi.
Bila anak sapi dilahirkan dengan warna coklat merah atau merah bata, maka setelah
dewasa warna bulunya menjadi hitam atau mempunyai spot warna hitam. Hal ini
terutama terjadi pada bagian leher, muka dan daerah paha (Ali, 1980).
Pola warna bulu sapi Aceh yang muda dan dewasa sangat bervariasi yaitu
coklat muda, coklat merah (merah bata), coklat hitam, hitam dan putih kelabu.Warna
Menurut Namikawa et al, (1982), sapi Sumatera (Aceh dan Pesisir) memiliki
bermacam-macam warna yaitu hitam, coklat kehitaman, coklat kuning dan abu-abu
putih yang didominasi oleh warna coklat kuning.
Pada umur 3-4 bulan tanduk belum berkembang (Ali, 1980). Pada sapi betina
dewasa bentuk tanduk melengkung dan ukurannya kecil, sedangkan pada jantan
lengkung kecil sampai besar dengn warna tanduk hitam keabu-abuan.
Menurut Abdullah., dkk 2006 bahwa pada umumnya sapi Aceh bertanduk,
tetapi terdapat juga sapi Aceh yang yang tidak bertanduk sebesar 7% hanya dijumpai
pada betina. Panjang dan bentuk pertumbuhan tanduk beragam dan terus memanjang
seiring dengan pertumbuhan sapi. Sapi yang mempunyai tanduk seperti sapi Aceh
umumnya dijumpai pada sapi Bali, Madura, PO, dan sapi Pesisir. Namun, disamping
ada sapi Aceh yang memiliki tanduk hanya berupa bungkul kecil (18%) seperti yang
dimiliki pada sebagian sapi PO, juga ditemukan sapi Aceh yang tidak bertanduk
(kupung) sebesar 7%.
Populasi dan Penyebaran sapi Aceh
Sapi Aceh merupakan sapi yang tersebar di propinsi Nanggroe Aceh
Darussalam. Populasi sapi Aceh di Nanggroe Aceh Darussalam diperkirakan sekitar
590.315 ekor dengan pertumbuhan populasi sebesar 4,4% . Keberadaan sapi Aceh
tersebar di 21 kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Populasi sapi Aceh di Aceh Timur
100.992 ekor, Aceh Utara 97.394 ekor, Aceh Besar 96.789 ekor, Bireun 69.692 ekor,
Pidie 61.738 ekor (populasi sapi Aceh secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 2
5,1%, Aceh Besar 3,3% Aceh Timur 4,9%, Bireuen 4,8% dan Pidie 3,5% (Ditjennak,
2011).
Persilangan yang semakin luas dengan bangsa sapi eksotik yang dilakukan
tanpa evaluasi, kontrol dan memperhitungkan arti penting sapi asli, dikhawatirkan
dapat mengakibatkan erosi sumber daya genetiknya, sehingga mengancam
keberadaan sapi asli pada masa yang akan datang. Kehilangan gen-gen penting pada
ternak asli yang telah beradaptasi dengan lingkungan setempat akan sulit bahkan
tidak akan tergantikan (Abdullah, et al., 2008b
Asal usul sapi Aceh
).
Sapi Aceh pada mulanya diduga dimasukkan oleh pedagang India pada masa
kerajaan Islam pertama di Peureulak yang terbentuk tahun 847M (225 H). Karena
pada masa itu sudah terjalin hubungan kerja sama antarnegara dan perdagangan bebas
di Aceh terutama lada yang ingin dikuasai seluruhnya oleh pedagang-pedagang dari
mesir, Parsi dan Gujarat (catatan sejarah Aceh, catatan Marcopolo 1256 dan Ibnu
Bathutah 1345). Perdagangan yang ramai sudah lama terjalin antara Aceh dengan
Malaka. Pedagang Arab, Cina, serta India yang datang yang datang ke Aceh, mereka
membawa sapi-sapi dari India ke Aceh. Pada abad ke-19 telah menjadi kebiasaan
mengimpor ternak melalui Selat Malaka, khususnya ke Pidie dan Aceh Timur Laut
(Peureulak) (Merkens, 1926; Abdullah., et al., 2008b
Kehidupan masyarakat Aceh dalam beternak telah berlangsung sangat lama
sekali. Masyarakat Aceh telah beternak sebelum mereka beragama Islam, berarti
zebu lainnya yang dulunya banyak dijumpai sepanjang pantai Utara-Timur dari
daerah Aceh kini telah banyak berkurang. Kekurangan tersebut selain penyembelihan,
perdagangan sapi dari Aceh ke Medan, kematian dan tsunami. Sapi zebu yang
terdapat di Aceh pada tahun 1950-an lebih sering dikenal dengan sebutan bangsa sapi
Benggala, dan ada pula pada wilayah Aceh tertentu menyebut sapi India atau leumo
Klieng. Hal ini dikarenakan pada masa itu banyak orang India yang memelihara dan
mengusahakan sapi turunan zebu. Sekarang ini banyak sapi turunan temperate tidak
dijumpai lagi di Nanggroe Aceh Darussalam.Sapi turunan temperate ini kurang sesuai
dalam beradaptasi terhadap kondisi iklim tropik di Aceh dan ditambah lagi dengan
kondisi pakan yang kurang memadai dan tidak menguntungkan bagi kehidupan
pertumbuhan dan produksi ternak sapi ( Basri, 2006).
Sapi asli Indonesia (Aceh, pesisir, Madura, Sumba-Ongole dan Java-Ongole
(PO) merupakan hibridisasi banteng termasuk sapi luar yang masuk ke Indonesia dan
telah cukup lama berada di Indonesia sehingga berkembang biak sesuai dengan
lingkungannya. Sapi Indonesia telah mengalami seleksi alam dengan berbagai
tekanan iklim tropis basah, pengaruh interaksi genetik dan lingkungan dan telah
berdaptasi terhadap wilayah seperti pakan berkualitas rendah dengan segala penyakit
dan ekstoparasit lokal yang ada di wilayah tersebut, Sehingga telah memunculkan
fenotip-fenotip baru yaitu yang dimilki sapi Aceh, Pesisir, Madura, Bali, SO dan PO
Keunggulan Sapi Aceh
Sapi Aceh mempunyai keunggulan yang sangat menonjol,terutama pada daya
reproduksinya, karena sapi Aceh tergolong ternak masak dini dengan birahi
postpartum sangat singkat. Disamping itu sapi Aceh mempunyai kemampuan
menyesuaikan diri yang relatif cepat terhadap lingkungan baru pada beberapa faktor
pendukung lokal yang tersedia, terutama kemampuan adaptasi atas berbagai pakan
lokal, baik terhadap jenis pakan serat segar dan kering yang berasal dari dedaunan,
rumput dan leguminosa. Menurut Gunawan (1998) Sapi Aceh mempunyai daya tahan
terhadap lingkungan yang buruk seperti krisis pakan, air dan pakan berserat tinggi,
penyakit parasit, temperatur panas dan sistem pemeliharaan ekstensif tradisional.
Keunggulan yang dimiliki oleh sapi Aceh sebagai sapi potong lokal:
(1) Merupakan plasma nutfah Indonesia (2) Tingkat adaptasi terhadap lingkungan
tropis sangat baik (3) Kapabilitas terhadap pakan berkualitas rendah (4) Relatif tahan
terhadap parasit internal dan eksternal (5) Produktivitas baik (6) Karkas berkisar 49%
(7) Struktur daging memiliki jaringan lebih halus, padat dan lebih baik dari sapi
Brahman dan Peranakan Ongole (Deptan, 2011).
Sapi Aceh tergolong sapi yang dagingnya sangat gurih rasanya, sehingga
daging sapi Aceh ini sangat disenangi dan diminati banyak orang yang mengonsumsi
daging. Kenyataan ini terbukti bahwa pada tahun 1969-1975, pemerintah Malaysia,
Singapura, Hongkong dan Thailand pernah mengimport sapi Aceh dari Aceh yang
diberangkatkan melalui pelabuhan Ulhe Lheue, Aceh Besar untuk keperluan
Menurut ILRI (1995) sapi Aceh merupakan sapi tipe kecil yang ditemukan di
daerah Aceh. Sapi Aceh resisten terhadap temperatur tinggi sehingga berpotensi
untuk dimanfaatkan. Ketahanan ternak lokal terhadap lingkungan yang ekstrim telah
diuji melalui hewan percobaan mencit (Mus musculus) oleh Abdullah et al. (2005)
bahwa mencit liar yang telah teradaptasi dengan lingkungan dengan segala perubahan
yang ada mempunyai gen daya produksi dan reproduksi yang lebih unggul terhadap
stres lingkungan dibandingkan mencit laboratorium.
Menurut Keputusan Menteri Pertanian, 2011 tentang penetapan rumpun sapi
Aceh menyatakan bahwa sapi Aceh merupakan salah satu rumpun sapi lokal
Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di provinsi Aceh dan telah
dibudidayakan secara turun-temurun, sapi Aceh merupakan kekayaan sumber daya
genetik ternak yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Sapi Aceh merupakan salah
satu rumpun sapi lokal Indonesia yang mempunyai keseragaman bentuk fisik dan
komposisi genetik serta kemampuan adaptasi dengan baik pada keterbatasan
lingkungan. Sifat kuantitatif (dewasa) Sapi Aceh jantan mempunya bobot badan 253
± 65 kg dan bobot sapi betina 148 ± 37 kg, persentase karkas yang dimiliki sapi Aceh
berkisar 49 – 51%. Sifat reproduksi yang dimiliki sapi Aceh adalah kesuburan induk
86 – 90%, angka kelahiran 65 – 85%, umur Pubertas 300 – 390 hari dan lama
kebuntingan 275 – 282 hari. Sedangkan sifat produksi sapi Aceh yaitu mempunyai
daya adaptasi yang baik, kemampuan kerja yang baik dan daya tahan terhadap
Manajemen Pemeliharaan Sapi Aceh
Sapi Aceh Umumnya ditangani oleh masyarakat pedesaan dengan sistem
tradisional, yaitu peran alam masih dominan, skala usaha kecil, pengadaan bibit,
pemberian pakan, pemeliharaan dan perkandangan masih mengikuti cara-cara lama
secara turun-temurun. Pengobatan ternak sakit dilakukan sendiri kecuali jika sakit
berlanjut, maka kadang akan diupah tenaga kesehatan hewan untuk mengobatinya.
Kandang sederhana beratap rumbia dengan dinding dari bahan kayu atau daun kelapa
umumnya dibangun di dalam pekarangan rumah atau kebun milik peternak. Pada saat
menjelang malam tiba, peternak membuat perapian sampai mengeluarkan asap
didalam kandang sapi untuk mengusir nyamuk dan memberi kehangatan bagi ternak
sapinya.
Sebelum diberlakukan Operasi Jaring Merah (DOM) di Aceh, apabila
dilakukan perjalanan darat dari Banda Aceh melalui bagian timur Aceh menuju
perbatasan dengan Sumatera Utara, maka akan ditemui sapi Aceh beristirahat
sepanjang jalan lintas Sumatera ( karena kondisi badan jalan beraspal yang hangat
dipanasi sinar mata hari pada siang hari) sehingga ada sebutan “ Aceh memiliki
kandang terpanjang di dunia“.
Pemeliharaan sapi masih merupakan usaha sampingan selain sebagai petani
sawah dan ada juga peternak yang merangkap pedagang atau tukang dalam jumlah
kecil. Tenaga kerja untuk memelihara sapi berasal dari keluarga. Walaupun demikian,
dari pemeliharaan sapi tersebut telah dapat menambah pendapatan bagi peternak
untuk biaya sekolah anak dan kesehatan. Bahkan beberapa peternak dapat
Pemeliharaan Sapi di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, umumnya dilakukan
secara mengikat sapi di lapangan rumput atau lahan sawah dan ditemui juga sapi-sapi
digembalakan. Para peternak di Seulimum, Jantho dan sekitarnya yang bertempat
tinggal dekat bukit, mengembalakan sapi-sapinya sampai ke kaki pegunungan bukit
barisan. Namun sapi jantan umumnya digemukkan dalam kandang secara semi
intensif (kereman) dan sapi diberikan pakan rumput lapangan, rumput gajah dan
rumput raja serta batang pisang.
Pemeliharaan sapi di Kabupaten Pidie dan Aceh Utara , hampir seluruh sapi
dilepas ke lapangan- lapangan rumput atau sawah-sawah yang baru dipanen pada pagi
hari dan sapi tersebut membentuk beberapa kelompok. Pemberian pakan pada sapi
Aceh disaat musim tanam dan musim kemarau hanya mengandalkan jerami padi dan
sangat sedikit diberikan rumput segar bahkan rumput kering.
Penggemukan sapi Aceh jantan terintegrasi dengan kebun kelapa sawit dapat
ditemukan di Cot Girek, Aceh Utara. Sapi dilepas digembalakan sepanjang hari
dalam areal kebun sawit yang luas. Kandang- kandang dibangun dekat pemukiman
penduduk . Pada sore hari, sapi peliharaan kembali ke kandang dan mendapatkan
tambahan pakan rumput gajah yang telah disediakan pemiliknya dikandang.
Penampilan sapi-sapi penggemukan tersebut cukup baik dan dalam waktu singkat
sangat bernilai ekonomis untuk dijual (Abdullah., 2009).
Sapi Aceh masih dapat merumput dengan baik walaupun keadaan padang
rumput yang miskin hijauan. Pemeliharaan sapi Aceh masih menguntungkan
walaupun cukup dengan menyediakan lahan dan kandang seadanya. Sapi-sapi
kepada produksi optimal , bukan kepada produksi maksimal yang membutuhkan
input besar ( Diskeswannak., 2011).
Kepemilikan sapi di Aceh umumnya merupakan warisan keluarga secara
turun-temurun, pembelian atau milik orang lain. Ada aturan bagi hasil ( mawaih)
dalah usaha pemeliharaan sapi di Aceh. Apabila sapi yang di pelihara merupakan
betina milik orang lain untuk menghasilkan anak, maka anak sapi yang lahir pertama
dihargakan satu bagian (0,25%) bagi pemilik modal dan tiga bagian (0,75%) untuk
pemelihara sapi, dan anak yang lahir berikutnya dibagi dua bagian deng perbandingan
1 : 1. Apabila sapi jantan milik orang lain yang dipelihara untuk digemukkan, maka
perjanjian dari hasil penjualan sapi, labanya dibagi dua bagian yang sama yaitu
separuh (50%) untuk pemilik modal dan separuh lagi (50%) untuk pemelihara sapi
(Abdullah., 2009).
Sumber Daya Genetik Ternak
Bank Data Global PBB untuk SDGT berisi informasi sejumlah 7.616 breed
ternak, dimana sekitar 20% dari breed yang dilaporkan tersebut dikatagorikan dalam
status beresiko. Pertimbangan terbesar disebabkan karena dalam enam tahun terakhir
maka 62 breed ternak telah punah, sehingga dapat diperkirakan bahwa satu breed
ternak hilang tiap bulanya. Data ini menampilkan hanya sebagian kecil gambaran
tentang erosi genetik yang telah, sedang dan akan terus terjadi. Inventarisasi breed
ternak dan khususnya survei besaran dan struktur populasi pada tingkat breed ternak
tidaklah mencukupi di banyak bagian dunia. Data populasi tidak tersedia untuk 36%
Sejarah sumber daya genetik ternak (SDGT) dimulai 12.000 sampai 14.000
tahun yang lalu. Ribuan tahun yang lalu setelah seleksi oleh alam dan manusia,
hanyutan genetik, inbreeding dan crossbreeding berkontribusi terhadap keragaman
SDGT dan memungkinkan dilakukan budidaya ternak dalam berbagai lingkungan
dan sistem produksi (Pusat penelitian dan pengembangan Peternakan., 2009)
Sumber daya genetik ternak asli akan cenderung punah akibat permintaan
pasar yang baru, persilangan yang tidak terkendali, pergantian breed (pergantian
bangsa sapi yang ada dengan bangsa sapi yang baru) dan kegiatan mekanisasi
pertanian ( pergantian penggunaan tenaga sapi dengan tenaga mesin untuk mengolah
lahan pertanian) (FAO, 2000).
Program impor ternak telah menimbulkan dua masalah besar: (1) interaksi
antara faktor genetik dengan faktor lingkungan. Masalah ini timbul pada
pengimporan ternak hidup dan embrio, (2) adanya kemungkinan hilangnya
ternak-ternak asli Indonesia akibat persilangan antara ternak-ternak asli dengan ternak-ternak impor yang
kurang terencana.
Persilangan antar bangsa sapi yang tidak diatur secara professional dengan
hanya mengedepankan aspek ekonomi tanpa memperhatikan aspek pelestarian
sumberdaya genetiknya, maka penerus generasi bangsa Indonesia berpotensi
kehilangan sumberdaya genetik ternaknya yang mungkin saja memiliki banyak
keunggulan.
Dalam populasi yang besar dimana tidak terjadi seleksi, migrasi dan
perkawinan terjadi secara acak, frekuensi gen dan genotipik akan sama dari generasi
genotip pada frekuensi ini dikatakan berada dalam keseimbangan atau biasa disebut
dengan keseimbangan Hardy-Weinberg (Warwick et al., 1990).
Beberapa faktor yang menyebabkan perubahan keseimbangan hukum
Hardy-weinberg dalam populasi yaitu adanya: (1) Hanyutan genetik (genetic drift), (2) Arus
gen (gene flow), (3) Mutasi, (4) Perkawinan tidak acak, dan (5) Seleksi alam.
Sifat Kualitatif dan Kuantitatif
Performans atau penampilan individu ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor
genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan
kromosom yang dimiliki oleh ternak. Selama kehidupan suatu organisme sifat
turunannya akan berinteraksi dengan lingkungan dan interaksi ini akan menentukan
rupa atau bentuk individu tersebut pada waktu tertentu dan perkembangannya pada
waktu mendatang.
Sifat kuantitatif adalah ciri dari makhluk yang dapat diukur, dihitung atau
diskors. Karakter ini ditentukan oleh banyak pasang gen (poligenik) dan sangat
dipengaruhi oleh lingkungan (Wiley, 1981), sedangkan sifat kualitatif seperti warna,
pola warna, sifat bertanduk atau tidak bertanduk dapat dibedakan tanpa harus
mengukurnya. Sifat kualitatif biasanya hanya dikontrol oleh sepasang gen (Noor,
2008).
Penggunaan ukuran tubuh selain untuk menaksir bobot badan dan karkas,
dapat juga untuk memberikan gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai bulan Desember 2011 sampai dengan April 2012
di Provinsi Aceh. Lokasi penelitian Meliputi Kabupaten Aceh Besar (6 kecamatan
dan 13 desa), Kota Banda Aceh (1 Kecamatan dan 1 desa), Kabupaten Bireun (1
Kecamatan dan 1 desa), Kabupaten pidie Jaya (2 kecamatan dan 2 desa), Kabupaten
Aceh Barat (1 kecamatan dan 1 desa).
Bahan dan Alat Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 205 ekor sapi Aceh yang
terdiri dari 31 ekor jantan dan 174 ekor betina yang telah mencapai umur dewasa
tubuh (24 bulan) sehingga tidak mengalami pertumbuhan lagi dan dikelompokkan
berdasarkan jenis kelamin.
Alat
Peralatan yang digunakan adalah timbangan ternak, tongkat ukur, pita ukur,
kamera digital Canon 14 mega pixel.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan
menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan dengan
pengamatan dan pengukuran langsung terhadap sampel. Pengambilan sampel
dilakukan secara purposive sampling, yaitu sampel ditentukan berdasarkan kriteria
sudah mencapai umur dewasa tubuh (24 bulan). Data sekunder yang berhubungan
dengan penelitian diperoleh dari Dinas Peternakan Nanggroe Aceh Darussalam dan
instansi terkait. Penggolongan umur ditentukan berdasarkan pemunculan dan
penanggalan gigi seri dan diperkirakan sudah mencapai dewasa tubuh.
Pengumpulan Data
Bagian-bagian permukaan tubuh yang diukur yaitu: (1) Lingkar dada, diukur
(2) Lebar dada, diukur dari antara tuberositas humeri sinister dan dexter dengan
menggunakan tongkat ukur dalam cm, (3) Dalam dada, diukur dari bagian tertinggi
pundak sampai dasar dada menggunakan tongkat ukur dalam cm, (4) Tinggi pundak ,
diukur dari bagian tertinggi pundak melalui belakang scapula tegak lurus ke tanah
dengan menggunakan tongkat ukur dalam cm, (5) Panjang badan, diukur dari tuber
ischii sampai dengan tuberositas humeri dengan menggunakan tongkat ukur dalam
cm.
Terdapat kesulitan dalam melakukan penimbangan ternak di lokasi penelitian,
sehingga untuk menduga bobot badan sapi Aceh digunakan rumus Johnson W=LG2 /300 (W=berat badan dalam pound, L = panjang badan dalam inch, G = lingkar dada
dalam inch) yang telah di jabarkan oleh Abdullah (2008a) menjadi: BB = LG2
Sifat-sifat fenotip kualitatif yang diamati yaitu warna, pola warna tubuh,
bentuk pertumbuhan tanduk sapi yang dikelompokkan berdasarkan umur dan jenis
kelamin. Pengamatan bentuk tanduk dengan cara mengamati arah pertumbuhan /10804
(BB = bobot badan dalam kilogram, L = panjang badan cm, G = lingkar dada dalam
tanduk berawal dari kepala sampai ujung tanduk. Setiap individu dicatat arah
pertumbuhannya.
Analisis Data
Pengolahan data menggunakan program SPSS versi 18 dan ditabulasi data
sheet Excel. Analisis data ditabulasi menurut lokasi sampel, dan jenis kelamin. Data
ukuran tubuh ternak dilakukan dengan menggunakan analisis multivariat yaitu
dengan menggunakan Principal Component Analisis (PCA) atau Analisis Komponen
Utama (AKU) untuk mengetahui gambaran hubungan antar bangsa sapi dan
digunakan sebagai upaya matematis untuk menyederhanakan variabel menjadi
variabel baru, namun variabel baru masih tetap dapat menentukan sebagian besar
informasi data asalnya. Analisis data ditabulasi menurut jenis kelamin dan umur
sampel.
Karakteristik ukuran tubuh dilakukan dengan menghitung nilai rataan,
simpangan baku (S), dan koefisien keragaman (KK) dari setiap sifat yang diamati
seperti petunjuk Steel dan Torrie (1995) dengan menggunakan Principal Component
Analysis (PCA) atau Analisis Komponen Utama (AKU). Sedangkan untuk warna,
pola warna dan bentuk pertumbuhan tanduk dilakukan dengan menghitung
keragaman genetik, keragaman fenotip, frekuensi gen dan frekuensi genetik.
Keterangan :
x = nilai rataan
N = jumlah sampel yang diperoleh
Xi = ukuran ke-i dari sifat x
S = Simpangan baku
KK = koefisien keragaman
Keragaman genetik, Keragaman fenotip, Frekuensi gen, Frekuensi genetik
Data ukuran tubuh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Analisis
Komponen Utama (AKU). Pengolahan data dengan menggunakan AKU dilakukan
berdasarkan pengelompokan berdasarkan jenis kelamin dari sapi Aceh dengan model
matematika sebagai berikut (Gaspersz, 1992):
Yp = a1pX1 + a2pX2 + a3pX3 + a4pX4 + ....+ anpX
= vektor ciri/vektor Eigen ke-1,...., n pada komponen utama ke-p
1, X2,...,Xn
Dua komponen utama yang keragaman totalnya tertinggi digunakan sebagai
persamaan ukuran tubuh.
= peubah-peubah yang diamati
Selanjutnya skor komponen utama yang diperoleh dari persamaan ukuran
tubuh disajikan dalam bentuk diagram. Vektor ukuran pada sumbu X dan vektor
bentuk pada sumbu Y.
Untuk data kualitatif , perhitungan proporsi fenotif ukuran tubuh didasarkan
pada jumlah fenotipe yang muncul dibagi jumlah ternak yang diamati total, dikali
100% :
Persentase Fenotipe = 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓𝑓 𝑦𝑦𝑗𝑗𝑓𝑓𝑦𝑦 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑓𝑓𝑚𝑚𝑗𝑗𝑗𝑗
Parameter Penelitian
Parameter dalam penelitian ini adalah : Karakteristik Morfologi ukuran tubuh
menggunakan Ukuran tubuh (lingkar dada, lebar dada, dalam dada, tinggi pundak,
panjang badan), sedangkan untuk keragaman fenotif dan genetik kualitatif