METODOLOGI HERMENEUTIKA DALAM STUDI AL-QUR’AN
A. PENDAHULUAN
Pada dasarnya metodologi penafsiran telah dibentuk oleh ulama-ulama salaf sebagai upaya mereka mendialogkan al-Qur’an dengan konteks mereka. Ketika metodologi itu dibawa ke konteks yang berbeda, maka tidak mampu lagi mendialogkan al-Qur’an sebagaimana kebutuhan konteks yang baru. Jadi untuk menjadikan al-Qur’an terus berbicara maka membutuhkan metodologi baru yang bisa mengakomodasi perkembangan zaman sehingga al-Qur’an menjadi elastis dan fleksibel.1
Beberapa tahun terakhir ini, kajian-kajian mengenai hermeneutika
maupun kajian-kajian yang memanfaatkan hermeneutika sebagai pendekatan semakin “popular” dan dipakai oleh para ilmuwan dari berbagai bidang kajian, seperti para kritikus sastra, sosiolog, sejarawan, antropolog, dan filosof. Popularitas hermeneutika ini harus dikatakan mengiringi perubahan paradigma berpikir manusia secara umum, khususnya yang terjadi dalam dunia ilmiah akademik.2 Dibeberapa Perguruan Tinggi Islam, seperti Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, UIN Bandung, dan UIN Yogyakarta, dan sebagainya kini telah menetapkan Hermeneutika sebagai mata kuliah wajib di jurusan Tafsir Hadis. Bahkan, menurut sejumlah akademisi di UIN tertentu, hermeneutika bisa dikatakan sebagai mazhab resmi kampus mereka, karena kuatnya pengaruh petinggi kampus yang mempromosikan paham ini.3 Seperti M. Amin Abdullah, rektor UIN Yogyakarta beliau dikenal sangat gigih dan rajin dalam memperjuangkan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an. Ia menyebut hermeneutika sebagai kebenaran yang harus disampaikan kepada umat Islam, meskipun banyak yang mengkritiknya.4
1 Kurdi, dkk., Hermenutika al-Qur’an & Hadis, (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2010), hlm. 59. 2 Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an (tema-tema Kontroversial), (Yogyakarta:
eLSAQ Press, 2011), hlm. 1-2
3 Adian Husaini, M.A., Abdurrahman al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an,
(Jakarta: Gema Insani, 2007), hlm. 1
Bagi sebagian besar masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, Penggunaan hermeneutika dalam dunia penafsiran al-Qur’an adalah hal baru yang belum pernah dilakukan oleh para mufassir terdahulu.5 Dalam tradisi keilmuwan Islam telah dikenal ilmu tafsir yang berfungsi untuk menafsirkan al-Qur’an, sehingga ilmu ini dianggap telah mapan dalam bidangnya. Dari segi epistemologi dan metodologi ilmu ini telah diakui mampu mengembankan tugasnya untuk menggali kandungan al-Qur’an.
Pada awal abad ke-20 beberapa mufassir seperti Muhammad Abduh dalam tafsirnya al-Manar telah menggunakan ilmu ini dalam praktek penafsiran ayat-ayat al-Qur’an, yang walaupun dia belum secara eksplisit memproklamirkan penggunaan Hermeneutika dalam penafsiran6. Penggunaan ilmu ini semakin berkembang pada tahun tujuh puluhan abad 20 dengan F.D.E. Schleiermacher yaitu seorang filsuf yang kelak digelari sebagai Bapak Hermeneutika Modern.7
Penggunaan Hermeneutika dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an mendapat tanggapan yang beragam dari para ulama dan cendekiawan muslim. Ada yang menyetujuinya dan ada pula yang menolaknya. Makalah ini akan memaparkan sekitar polemik pada masalah tersebut.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Konsep Dasar Hermeneutika
Kata hermeneutika berasal dari kata Yunani, hermeneuein, yang berarti menerjemahkan atau menafsirkan. Kata ini sering di asosiasikan dengan nama salah seorang dewa Yunani, Hermes, yang dianggap sebagai utusan para dewa bagi manusia. Hermes adalah utusan para dewa dilangit untuk membawa pesan kepada manusia.8 Dikalangan pendukung
5 Sibawaihi, Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman, (Yogyakarta & Bandung: Jalasutra,
2007), hlm. 5
6 Dr. Yayan Nurbaya, M.Ag., “Penggunaan Hermeneutika dalam Penafsiran al-Qur’an”,
dalam ht tp: // file.upi.edu/browse.php?dir=Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/ 19660829 1990011-YAYAN_NURBAYAN/Makalah/ , hlm. 3
7 Sibawaihi, Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman, Op.Cit., hlm. 7
hermeneutika ada yang menghubungkan sosok Hermes dengan Nabi Idris.9 Dalam legenda yang beredar di kalangan pesantren, pekerjaan Nabi Idris adalah sebagai tukang tenun. Jika profesi tukang tenun dikaitkan dengan mitos Yunani tentang peran Dewa Hermes, ternyata ada korelasi positif. Kata kerja memintal padanannya dalam bahasa latin adalah tegere, sedangkan produknya disebut textus atau text yang merupakan isu sentral dalam hermeneutika.10 Pengasosiasian Hermeneutik dengan Hermes ini saja secara sekilas menunjukkan adanya tiga unsur yang pada akhirnya menjadi variabel utama pada kegiatan manusia dalam memahami, yaitu:
a. Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan yang dibawa oleh Hermes. b. Perantara atau penafsir (Hermes)
c. Penyampaian pesan itu oleh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.11
Dengan demikian, Hermeneutika secara sederhana dapat diartikan sebagai “proses mengubah ketidaktahuan menjadi tahu dan mengerti”. Definisi ini agaknya bersifat umum, karena jika melihat terminologinya, kata Hermeneutika ini bisa diderivasikan ke dalam tiga pengertian:
a. Pengungkapan pikiran dalam kata-kata, penerjemahan dan tindakan sebagai penafsir.
b. Usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca. c. Pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas, diubah menjadi bentuk
ungkapan yang lebih jelas.12
Benih-benih pembahasan hermeneutika ditemukan dalam Peri Hermeneias karya Aristoteles. Di sana dipaparkan bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita, dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan. Pemaparan ini
9 Adian Husaini, M.A., Abdurrahman al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an, Op.Cit., hlm. 7
10 Dr. Yayan Nurbaya, M.Ag., “Penggunaan Hermeneutika dalam Penafsiran al-Qur’an”, Op.Cit., hlm. 3-4
menjadi titik tolak bagi dimulainya pembahasan tentang hermenutika di era klasik.
Pada awalnya hermeneutika digunakan oleh kalangan agamawan. Melihat hermeneutika dapat menyuguhkan makna dalam teks klasik, maka pada abad ke-17 kalangan gereja menerapkan telaah hermeneutis untuk membongkar makna teks injil. Ketika menemukan kesulitan dalam memahami bahasa dan pesan kitab suci itu, mereka berkesimpulan bahwa kesulitan itu akan terbantu pemecahannya oleh hermeneutika. Dalam posisi ini hermeneutika dianggap sebagai metode untuk memahami teks kitab suci.
Memasuki abad ke-20, kajian hermeneutika semakin berkembang. F.D.E. Schleiermacher mulai memperluas cakupan hermeneutika tidak hanya dalam bidang sastra dan kitab suci. Hermeneutika sangat besar artinya bagi keilmuan dan bisa diadopsi oleh semua kalangan13. Wilhelm Dilthey menerapkan hermeneutika sebagai metode sejarah, lalu hans Georg Gadamer mengembangkannya menjadi ‘filsafat’, Paul Ricoeur menjadikannya sebagai ‘metode penafsiran fenomenologis-komprehensif’. Lain dari itu beberapa filosof post-strukturalis seperti Jurgen habermas, Jacques Derrida maupun Michel Foucault, mengembangkan sebentuk ‘kritik hermeneutik’, yaitu menganalisis proses pemahaman manusia yang sering terjebak otoritarianisme, khususnya karena tercampurnya determinasi-determinasi social-budaya-psikologis dalam kegiatan memahami. Lain dari itu perlu pula disebut banyak tokoh lain yang memanfaatkan hermeneutika sebagai alat bedah bagi disiplin keilmuan masing-masing, khususnya para pengkaji ilmu-ilmu agama.14
Secara definitive telah ditegaskan tentang perbedaan jenis-jenis hermeneutika ini:
a. Hermeneutika yang berisi cara untuk memahami
Jenis pertama ini adalah hermeneutika teoritis. Dalam klasifikasi ini hermeneutika merupakan kajian penuntun bagi sebuah pemahaman yang akurat dan proporsional. Bagaimanakah pemahaman yang
13 Sibawaihi, Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman, Op.Cit., hlm. 7
komprehensif itu.15 Asumsinya adalah bahwa sebagai pembaca, orang tidak punya akses pada pembuat teks karena perbedaan ruang dan waktu, sehingga diperlukan hermeneutika.16 Ini dipelopori oleh Schleiermacher, W. Dilthey dan juga Emilio Betti.17
b. Hermeneutika yang berisi cara untuk memahami pemahaman
Jenis ini masuk dalam dataran filosofis, sehingga lebih dikenal sebagai hermenutika filosofis, yang memfokuskan perhatiannya pada seperti apa kondisi manusia yang memahami itu, baik dalam aspek psikologisnya, sosiologisnya, historisnya dan lain sebagainya termasuk dalam aspek-aspek filosofis yang mendalam seperti kajian terhadap pemahaman dan penafsiran sebagai pra-syarat eksistensial manusia, atau dapat di definisikan sebagai “pemahaman terhadap pemahaman”. Dipelopori oleh Heidger dan Gadamer.
c. Hermeneutika yang berisi cara untuk mengkritisi pemahaman
Jenis ketiga ini merupakan pengembangan dari kedua jenis hermeneutika diatas, bahwa secara prinsipel obyek formal yang menjadi fokus kajiannya adalah sama. Perbedaannya terletak pada penekanan hermeneutika terhadap determinasi-determinasi historis dalam proses pemahaman, serta sejauh mana determinasi-determinasi tersebut sering memunculkan alienasi, diskriminasi dan hegemoni wacana, termasuk juga penindasan-penindasan sosial-budaya-politik akibat penguasaan otoritas pemaknaan dan pemahaman oleh kelompok tertentu.18
Dengan prosedur kerja dan asumsi-asumsi diatas, maka hermeneutik bisa dikatakan bergerak dalam tiga horison, yaitu horison pengarang
(author), horison teks dan horison penerima atau pembaca (reader). Masing-masing horison dalam proses pemahaman memiliki peran dan fungsinya sendiri, sehingga mengunggulkan peran salah satu horison atau mengabaikan peran salah satu horison lainnya hanya akan membawa kepada
15Ibid., hlm. 8
16 Sibawaihi, Hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman, Op.Cit., hlm. 8
“kesewenang-wenangan dalam memahami”.19 Sementara secara prosedural, langkah kerja hermeneutika itu menggarap wilayah teks, konteks dan kontekstualisasi, baik yang berkenaan dengan aspek operasional metodologisnya maupun dalam dimensi epistemologis penafsirannya.20
2. Tokoh-tokoh yang Menyuarakan Metodologi Hermeneutika
Hermeneutika adalah ilmu yang membahas bagaimana menafsirkan sebuah teks. Ilmu ini berperan menjelaskan teks seperti apa yang diinginkan oleh si pembuat teks tersebut. Peran ini persis seperti figur Hermes yang bertugas membawakan pesan-pesan Tuhan Zeus kepada manusia. Karena pesan-pesan tersebut masih dalam bahasa langit, maka perlu perantara yang bisa menafsirkan dan menerjemahkannya ke dalam bahasa bumi. Dari fungsi dan peran inilah Hermeneutika mulai mendapatkan makna baru sebagai sains atau seni menafsir.21
Pada perkembangan berikutnya hermeneutika tidak hanya terpaku pada persoalan teks yang diam atau bahasa sebagai struktur dan makna, tetapi secara perlahan ia mulai mendeskripsikan penggunaan bahasa atau teks dalam seluruh realitas hidup manusia. Sebagaimana F.D.E Schleier macher, yang dikenal sebagai Bapak Hermeneutika Modern, yang pertama kali berusaha membakukan hermeneutika sebagai metode umum interpretasi yang tidak hanya terbatas pada kitab suci dan sastra.22 Beliau menyatakan, bahwa di antara tugas hermeneutika itu adalah untuk memahami teks “sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri”.23 Meskipun kemudian metode hermeneutikanya memunculkan persoalan bagi kalangan Kristen sendiri, disebabkan telah menempatkan semua jenis teks pada posisi yang sama, tanpa memedulikan apakah teks itu divine (dari Tuhan) atau
19Ibid., hlm. xviii-xix 20Ibid., hlm. 10
21 Malki Ahmad Nasir, “Hermeutika Kritis (Studi Kritis atas Pemikiran Habermas)” dalam Jurnal Islamia Thn. I No.I (Jakarta: Khairul Bayan, 2004), hlm. 31
tidak, dan tidak lagi memedulikan adanya otoritas dalam penafsirannya. Semua teks dilihat sebagai produk pengarangnya.
Sebelum schleiermacher melakukan upaya “liberalisasi” dalam interpretasi Bibel sudah muncul sejak zaman pencerahan di abad ke-18. The University of Halle memainkan peranan penting. Yang terkenal adalah Johann Solomo Semler (1725-1791). Para teolog liberal ini memainkan peranan penting dalam melakukan reapresiasi terhadap “akal manusia” dan tumbuhnya perlawanan terhadap otoritas yang tidak masuk akal. Semler melakukan pendekatan radikal terhadap Bbibel dan sejarah dogma, dengan mengajukan program hermeneutika dari perspektif “studi kritis sejarah”. Ia mengajukan gagasan transformasi radikal terhadap dasar-dasar hermeneutika teologis.24
Konsep Hermeneutika juga dikembangkan oleh Friedrich Ast. Dia mengatakan bahwa hermeneutika adalah suatu riset tentang kepurbakalaan, baik itu berupa teks, artifak atau dokumen, kemudian dicari ruhnya. Oleh karena itu ia menawarkan tiga frame work pemahaman yaitu secara historis, gramatikal dan spiritual.
Tokoh lainnya adalah Gadamer. Ia mengembangkannya menjadi ‘filsafat’.25 Menurutnya, kunci pemahaman adalah partisipasi dan keterbukaan bukan manipulasi dan pengendalian. Bagi dia, verstehen
(Hermeneutika) bukanlah suatu tujuan. Tapi yang paling penting adalah bagaimana sejarah dan tradisi menjadi sebuah anyaman terjadinya dialog. Pengetahuan terjadi karena adanya dialog. Di sini bahasa menjadi medium penting bagi terjadinya dialog. Namun demikian, bahasa pun tidak mesti diartikan dengan makna definitif yang merujuk pada buku, teks atau dokumen. Dalam pengertiannya, kita pun dapat berubah posisi menjadi bahasa, dan bahkan menjadi teks. Segala sesuatu adalah teks.26
Tokoh hermeneutik selanjutnya adalah Jurgen Habernas, Jacques Derrida, dan Michel Foucault mereka mengembangkan sebantuk “kritik
24Ibid., hlm. 15
hermeneutik”, yaitu menganalisis proses pemahaman manusia yang sering terjebak otoritarianisme, khususnya karena tercampurnya determinasi-determinasi sosial-budaya-psikologis dalam kegiatan memahami.27
Selain itu tokoh hermenutik selanjutnya adalah Joseph Bleicher, dia menambahkan selain dari dua jenis hermeneutika yaitu hermeneutical theory yang berisi aturan metodologis untuk sampai kepada pemahaman yang diinginkan pengarang, dan hermeneutical philosophy yang lebih mencermati dimensi filosofis-fenomenologis pemahaman, yaitu hermeneutika kritis. Klasifikasi ini disebut menjadi wadah bagi kritik hermeneutik dari orang-orang seperti Habermas, Derrida, Wilhelm Dilthey yang menerapkan metode hermeneutika sebagai metode sejarah, Paul Ricoeur yang menjadikannya sebagai metode panafsiran fenomenologis-komprehensif.28
3. Kerancuan Metodologi tersebut dalam Studi al-Qur’an
Ilmu Tafsir adalah ilmu yang lahir dari kebutuhan kaum muslimin untuk memahami kandungan al-Qur’an. Ilmu ini telah lahir sejak generasi awal tabi’in dan terus menerus mengalami penyempurnaan. Pada abad ke-2 H ilmu ini telah sampai ke tahapnya yang sempurna, sehingga telah dianggap sebagai ilmu yang baku yang harus digunakan oleh setiap mufassir yang datang kemudian.29 Tafsir di kalangan Umat Islam biasa dipahami sebagai satu disiplin ilmu yang membahas mengenai segala hal yang berkaitan dengan al-Qur’an dalam aspek memahami maksud yang dikandungnya sesuai dengan kemampuan manusia.30Tafsir berasal dari akar kata /fas-sa-ra/. Secara etimologis dapat diartikan ‘keterangan atau penjelasan yang menerangkan maksud dari suatu lafazh’. Pengertian ini diambilkan dari ayat Allah swt.,31
27 Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an (tema-tema Kontroversial),Op.Cit., hlm. 7 28Ibid., hlm. 6-7
29 Dr. Yayan Nurbaya, M.Ag., “Penggunaan Hermeneutika dalam Penafsiran al-Qur’an”, Op.Cit., hlm. 9
Artinya:
"tidaklah (orang-orang kafir itu) datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”32 (Q.S. al-Furqan: 33)
Imam al-Qurthubi mengatakan, tafsir adalah penjelasan tentang lafazh. Misalnya firman Allah, ‘Laa raiba fiihi’ (tidak ada keraguan di dalamnya) dijelaskan maknanya dengan laa syakka fiihi (tidak ada kebimbangan di dalamnya). Atas dasar itu, bahwa tafsir menerangkan maksud yang ada pada suatu lafazh yang menghilangkan kesamaran arti pada lafazh tersebut.33
Di dalam kitabnya al Itqan Zarkasyi (t.t:II:174) menerangkan, bahwa ilmu tafsir adalah ilmu yang berguna untuk mengungkap makna-makna yang dikandung al-Qur’an, menjelaskan makna-maknanya dan mengeluarkan hukum-hukum serta hikmah yang dikandungnya.
Jika kita melihat pengertian ilmu Tafsir di atas serta pengertian Hermeneutika sebelumnya kedua ilmu ini sama-sama membahas tentang makna pada teks. Hanya saja ilmu Tafsir khusus digunakan untuk memahami kandungan makna teks al-Qur’an. Mengenai bisakah Hermeneutika digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an? Jawaban atas masalah ini merupakan topik inti dalam tulisan ini.34
Setelah mengamati berbagai tulisan dan pandangan para cendekiawan muslim, minimal ada dua pendapat atas masalah tersebut:
Pertama, Hermeneutika tidak bisa digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an. Argumen ini didasarkan dari aspek perkembangan historisnya, dimana hermeneutika lahir dan berkembang dari suatu peradaban dan pandangan hidup masyarakat penemunya yaitu berasal dari tradisi Kristen,
32 Dept. Agama Proyek Penadaan Kitab Suci Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahannya,
(Jakarta: Pelita II, 1979), hlm. 564
33 Adian Husaini, M.A., Abdurrahman al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an, Op.Cit., hlm. 47
Barat, dan juga tradisi Filsafat, sehingga tidak mustahil mengusung ideologi dan nilai-nilai Kristiani, Barat dan juga Filsafat, yang tidak pasti sesuai dengan Islam.35 Pendapat ini dianut oleh sebagian besar mufassir. Beberapa cendekiawan, seperti Alparslam, Hamid Fahmy, Anis Malik Toha, dan Wan Moh Nor sejalan dengan faham di atas. Alparslan36 (salah seorang cendekiawan Turki) berpendapat, ”Pandangan hidup setiap peradaban merupakan kumpulan dari konsep-konsep yang dalam konteks keilmuan berkembang menjadi tradisi ilmiah (scientifik tradition). Tradisi ilmiah pada gilirannya menghasilkan berbagai disiplin ilmu, seperti yang kita lihat sekarang, termasuk teori atau konsep Hermeneutika. Karena ilmu dilahirkan oleh pandangan hidup maka ia memiliki presupposisi sendiri dalam bidang etika, ontologi, cosmologi dan metafisika. Hal-hal inilah yang menjadikan ilmu (khususnya ilmu-ilmu sosial), termasuk Hermeneutika tidak netral.
Selain dari aspek perkembangan historis diatas, alasan yang selanjutnya karena Umat Islam telah memiliki metodologi sendiri dalam menginterpretasi al-Qur’an, yaitu Ulumul Qur’an atau Ilmu Tafsir al-Qur’an yang sudah lama dimiliki Umat Islam dan masih tetap relevan digunakan di dalam Studi Islam, sementara hermenutika tidaklah sesuai uuntuk diterapkan ke dalam studi tafsir yang sudah berjalan mapan dalam Islam. Al-Qur’an tidak memerlukan hermeneutika sebagaimana Bibel, karena al-Qur’an adalah final tetap dan tidak berubah.37
Untuk memperkuat pendapatnya, mereka mengutip pendapat salah seorang pakar Hermeneutika Werner G. Jeanrond. Ada tiga milleu penting yang berpengaruh terhadap timbulnya Hermeneutika sebagai suatu metode, konsep atau teori interpretasi. Pertama milleu masyarakat yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani. Kedua milleu masyarakat Yahudi dan Nasrani yang menghadapi masalah teks kitab suci mereka dan berupaya untuk mencari model yang cocok untuk interpretasi. Ketiga masyarakat Eropa di zaman
35 Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an (tema-tema Kontroversial),Op.Cit., hlm. 30
36 Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama : Sebuah Kajian Hermeneutika, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 29
Enlightenment yang berusaha lepas dari tradisi dan otoritas keagamaan dan membawa Hermeneutika keluar dari konteks keagamaan.
Selain itu, Epistemologi dalam Islam berbeda dengan epistemologi barat. Dalam Islam sumber inspirasi tidak hanya akal. Karena akal manusia mempunyai keterbatasan. Al-Qur’an banyak menyebutkan peristiwa yang tidak bisa diterima oleh akal. Dan hal ini tidak pernah terlintas dalam pemikiran para pakar Hermeneutika. Misalnya ceritera kapalnya nabi Nuh, nabi Ibrahim yang tidak mempan dibakar, nabi Musa yang dapat membelah laut, Isra dan mi’rajnya nabi Muhammad SAW dan banyak lagi. Peristiwa-peristiwa tersebut bukanlah khayalan akan tetapi merupakan khabar shadiq (benar dan tidak diragukan lagi). Selain itu pula jika ilmu pengetahuan berdasarkan pada kepentingan individu - baik bersifat politik, ekonomis maupun idiologi - maka pengetahuan itu tidak dapat diaplikasikan untuk kepentingan individu lain. Apakah lagi diaplikasikan untuk menjelaskan makna-makna ajaran dalam al-Qur’an. Memahami al-Qur’an dengan metode Habermas misalnya, justru mereduksi ayat-ayat al-Qur’an ke dalam makna-makna individu. Dalam Islam wahyu (revelation) menempati posisi penting.
Rasio an sich sebagai sumber inspirasi seperti pendapatnya Habermas berbeda dengan Islam yang menempatkan wahyu dan rasio sekaligus yang berfungsi sebagai sumber dan penjelas termasuk juga ilmu pengetahuan. Di sinilah letak perbedaan epistemologi Hermeneutika Kritis dan Islam.38
Menurut Adian husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi dalam bukunya Hermenutika dan Tafsir al-Qur’an mengatakan bahwa “penggunaan hermeneutika sebagai satu metode tafsir al-Qur’an bisa sangat berbahaya, karena berpotensi besar membubarkan ajaran-ajaran Islam yang sudah final. Dan itu sama artinya dengan membubarkan Islam itu sendiri”. Menurutnya dengan hermeneutika, hukum Islam memang menjadi tidak pasti. Contoh yang paling jelas dan banyak digugat oleh para hermeneutis (pengaplikasi hermeneutika) adalah hukum tentang perkawinan antaragama. Dalam Islam, jelas muslimah diharamkan menikah dengan laki-laki
Muslim. Tapi, karena hukum ini dipandang bertentangan dengan Universal Declaration of Human Rights, maka harus diubah. Agama tidak boleh menjadi faktor penghalang bagi perkawinan. Maka, kaum liberal menggunakan metode tafsri “kontekstual historis” untuk mengubah hukum ini.39
Kedua, hermeneutika adalah pengetahuan yang membahas penafsiran dari suatu teks. Teks tersebut meliputi berbagai teks yang merupakan produk ekspresi manusia. Menurut Komaruddin40 hermeneutika memiliki banyak persamaan dengan ilmu tafsir yang sudah dikenal sejak abad pertama hijriyah. Walaupun hermeneutika lahir dari masyarakat tertentu yang berbeda dengan masyarakat yang memunculkan ilmu tafsir, akan tetapi sebagai ilmu ia bisa digunakan, tentunya dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu.
Suatu peradaban bisa saja mengimport suatu konsep, tentunya dengan proses modifikasi konseptual atau apa yang disebut borrowing proses. Jika modifikasi konsep ini melibatkan konsep-konsep dasar yang lebih utama maka perubahan paradigma (Paradigma Shift) tidak dapat dielakkan.
Selain itu juga, Implementasi Hermeneutika dalam Islam berbeda dengan Hermeneutika dalam dunia Kristen. Implementasi Hermeneutika dalam dunia Kristen digunakan untuk mencari orsinialitas kitab suci mereka. Mereka menemukan teks kitab suci yang sangat beragam, sehingga mereka perlu mencari mana dari semua itu yang asli dan paling benar. Sedangkan penggunaan Hermeneutika dalam dunia keilmuwan Islam digunakan bukan untuk mencari keotentikan teks al-Qur’an, akan tetapi untuk mencari penafsiran yang paling mendekati kebenaran. Dan kebenaran dari suatu tafsir hanya Allah yang mengetahui (sehingga seorang mufassir sehebat apapun akan berkata Wallahua’lam).
39 Adian Husaini, M.A., Abdurrahman al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an, Op.Cit., hlm. 21
C. PENUTUP
Sejarah mencatat bahwa pembacaan terhadap teks al-Qur’an telah dilakukan sejak pertama kali ia diturunkan, namun hingga kini, ide-ide segar tidak pernah kering mengalir dari celah-celah mata air wahyu Tuhan ini. Keberagaman pendekatan dan metode yang digunakan berbanding lurus dengan pemahaman yang dihasilkan. Pada dataran ini, tidak ada otoritas yang dapat dan boleh membakukan sebuah model pemahaman. Karena model apapun, baik berupa tafsir, takwil, exegese, interpretasi, ataupun penerjemahan terhadap teks al-Qur’an, merupakan wilayah hermeneutika yang sangat terbuka bagi setiap usaha pembaharuan.41
Terlepas dari pro dan kontra, Umat Islam dimana saja, seyogyanya menyikapi segala permasalahan hendaknya dengan sikap dan cara yang tidak tergesa-gesa. Sikap dan respon emosional jelas bukan tindakan bijak yang harus diambil. Pendek kata: Setiap pemikiran selayaknya disikapi dengan kepala dingin, betapa pun berbedanya dengan kita. Hanya dengan demikianlah, kita bisa mengambil jarak untuk mengkaji dan melakukan refleksi secara mendasar terhadap apa yang tertuang dalam setiap gagasan.
41 Dr. Ir. Muhammad Shahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer,
DAFTAR PUSTAKA
Dept. Agama Proyek Penadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1979, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Pelita II
Faiz, F., Hermeneutika Al-Qur’an (tema-tema Kontroversial), (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2011)
Hidayat, K., 1996, Memahami Bahasa Agama : Sebuah Kajian Hermeneutika,
Jakarta: Paramadina
Husaini, A., dan A. Al-Baghdadi, 2007, Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an,
Jakarta: Gema Insani
Kurdi, dkk., 2010, Hermenutika al-Qur’an & Hadis, Yogyakarta: eLSAQ Press
Nasir, M.A., 2004, “Hermeutika Kritis (Studi Kritis atas Pemikiran Habermas)”
dalam Jurnal Islamia Thn. I No.I, Jakarta: Khairul Bayan
Nurbaya, Y., “Penggunaan Hermeneutika dalam Penafsiran al-Qur’an”, dalam
http://file.upi.edu/browse.php?dir=Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA _ARAB/19660829 1990011-YAYAN_NURBAYAN/Makalah/
Shahrur, M., 2008, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer,
Yogyakarta: eLSAQ