• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING. Lokakarya Penyusunan Desain besar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROSIDING. Lokakarya Penyusunan Desain besar "

Copied!
197
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR ISI

1. Daftar Isi __________________________________________________________________________________________________ 2

2. KAK WorkshopGrand DesignPertanian Kota Provinsi DKI Jakarta__________________________________ 3

3. Ringkasan Hasil WorkshopGrand DesignPertanian Kota Provinsi DKI Jakarta ____________________ 8

4. ProceedingWorkshop PenyusunanGrand DesignPertanian Kota Provinsi DKI Jakarta __________ 32

Hari Pertama. Rabu, 9 Agustus 2017 __________________________________________________________________33

Hari Kedua. Kamis, 10 Agustus 2017 __________________________________________________________________81

5. Siaran Pers Lokakarya Penyusunan Desain Besar Pertanian Kota Provinsi DKI Jakarta ________ 125

6. Dokumen untukPress Conference:Hasil WorkshopGrand DesignPertanian Kota ______________ 128

7. Menatap Arah Pertanian Kota di DKI Jakarta Tahun 2030 (Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa)________ 130

8. Panduan Lokakarya Penyusunan Desain Besar Pertanian Kota DKI Jakarta 2018 - 2030 ______ 145

9. Kelompok 1: Komponen Kebijakan dan Regulasi __________________________________________________ 153

10. Kelompok 2: Komponen Pelaksanaan Pertanian ___________________________________________________ 155

11. Kelompok 3: Komponen Pemasaran Produk _______________________________________________________ 157

12. Kelompok 4: Komponen Peningkatan Kapasitas ___________________________________________________ 158

13. Kelompok 5: Komponen Kerja Sama Multipihak ___________________________________________________ 160

14. Kelompok 6: Komponen Monitoring, Evaluasi dan Pengelolaan Pengetahuan __________________ 161

15. Draft Grand Design Urban FarmingDKI Jakarta ____________________________________________________ 163

16. Agenda Kegiatan Lokakarya PenyusunanGrandDesain Pertanian Kota 2018 – 2030 Provinsi DKI Jakarta ____________________________________________________________________________________________ 183

17. Daftar Peserta (per Kelompok) ______________________________________________________________________ 185

18. Daftar Institusi Peserta Lokakarya __________________________________________________________________ 187

(3)

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

WORKSHOP PENYUSUNAN

GRAND

DESAIN PERTANIAN KOTA

PROVINSI DKI JAKARTA

JAKARTA, 9 – 10 AGUSTUS 2017

A. LATAR BELAKANG

Pada tahun 2017 ini, Kota Jakarta telah menginjak usia 490 tahun, atau hampir 5 abad. Usia sebuah kota yang bisa dikatakan tidak lagi muda dan tentunya sudah mengalami banyak perubahan zaman yang juga berpengaruh pada kondisi Kota Jakarta saat ini, salah satunya ialah pertambahan jumlah penduduk. Pada tahun 2015, penduduk DKI Jakarta telah mencapai 10.177.924 jiwa. Dibandingkan dengan tahun 2010, penduduk DKI Jakarta telah mengalami peningkatan sebesar 1,09%. Proses urbanisasi telah menambah secara cepat jumlah penduduk di DKI Jakarta. Sebagai salah satu dampaknya ialah banyak pemukiman kumuh bermunculan, yaitu sekitar 20% dari seluruh luas permukiman yang ada di Kota Jakarta.

Kota Jakarta saat ini juga sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana karena kerusakan alam. Risiko terkait perubahan iklim dan bencana terbesar yang dihadapi Jakarta adalah banjir dengan dampak buruk sangat besar bagi perekonomian dan masyarakat Jakarta. Data BNPB menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2011-2016, ada 144 kali kejadian banjir yang mengakibatkan 104 meninggal, 149 terluka, 694.652 menderita, 209.918 mengungsi, dan 77 Ha lahan pertanian rusak. Di sisi lain, sekitar 40 persen wilayah Jakarta berupa dataran yang permukaan tanahnya berada 1 - 1,5 meter di bawah muka laut pasang.

Penurunan permukaan tanah juga terus terjadi, antara 5 – 10 cm per tahun, karena pemanfaatan air tanah yang berlebihan dan pembangunan yang pesat di atasnya. Ujicoba modeling yang dilakukan oleh Ward P. J. et.al (2011) dengan skenario Jakarta pada tahun 2100 menunjukkan bahwa faktor penurunan tanah paling berpengaruh dibandingkan faktor naiknya permukaan laut dan badai terhadap semakin besarnya dampak banjir. Perkiraan wilayah tergenang 149 – 151 km² dengan kerusakan senilai 233,8 – 235,2 triliun rupiah. Hal ini akan membuat wilayah yang sebagian besar berada di Jakarta Utara menjadi rentan terhadap dampak banjir, baik yang disebabkan oleh curah hujan tinggi ataupun air pasang dari laut.

Masyarakat miskin Jakarta merupakan warga yang paling rentan terhadap risiko akibat banjir. Berdasarkan SUSENAS pada Maret 2015, masih ada 3,93% warga Jakarta yang hidup dibawah garis kemiskinan. Banyak warga miskin ini yang yang tinggal di sepanjang

(4)

pesisir laut dan aliran sungai sehingga mereka rentan cedera fisik dan kehilangan tempat tinggal. Mereka juga sangat rentan dari sisi ekonomi karena sumber penghidupan mereka sebagian besar berada di daerah yang sama. Ancaman dampak perubahan iklim, bencana, dan kerusakan lingkungan secara nyata dirasakan pertama kali oleh masyarakat miskin Jakarta.

Selain ancaman banjir karena beberapa faktor di atas, kenaikan suhu udara juga dirasakan di Jakarta. Studi yang dilakukan oleh Manik dan Syaukat (2015) dengan beberapa sampel di wilayah DKI Jakarta, tercatat terjadi kenaikan suhu udara menjadi 30-31°C pada tahun 2013 dibandingkan dengan 28°C di tahun 2002. Hal ini juga merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang secara langsung dirasakan oleh penduduk Jakarta.

Melihat berbagai masalah yang dihadapi oleh Kota Jakarta di atas, pada tahun 2016, Jakarta terpilih sebagai salah satu kota untuk mengikuti program Resilient Cities (Kota Tangguh) yang bekerjasama dengan The Rockefeller Foundation. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dan pemerintahan Kota Jakarta dalam menghadapi risiko dampak bencana, perubahan iklim, dan juga kerusakan lingkungan. Kerangka Kerja Kota Tangguh yang dikembangkan oleh The Rockefeller Foundation dan Arup International Development pada tahun 2014 dan diperbaharui pada Desember 2015 menyebutkan ada 12 Tujuan utama Kota Tangguh. Di antara Tujuan tersebut ialah minimalnya kerentanan manusia, sumber penghidupan yang beragam, kolektifitas komunitas yang kuat, dan rencana pembangunan yang terintegrasi.

Sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan Tujuan Jakarta sebagai Kota Tangguh, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyusun rencana besar yang disebut Grand Desain untuk Pertanian Kota. Pertanian Kota dipilih karena dapat menyediakan sumber makanan segar dengan harga lebih murah bagi masyarakat sebagai bagian dari ketahanan pangan, menumbuhkan pekerjaan bagi banyak orang sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan, mendaur-ulang sampah untuk mengurangi volume sampah, dan menambah tutupan hijau untuk mengurangi perubahan iklim. Sejak bulan Mei 2017, Pemerintah DKI Jakarta bekerjasama dengan KARINA dan Platform MURIA menyusun draf grand desain tersebut untuk kemudian akan dimintakan masukan dari berbagai pemangku kepentingan Pertanian Kota.

B. TUJUAN

Pelaksanaan workshop ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak untuk memfinalkan draftGrand Desain Pertanian Kota.

(5)

C. HASIL YANG DIHARAPKAN

Pada akhir workshop, hasil yang diharapkan ialah:

1. Terdapat masukan dan kesepakatan untuk Tujuan dan Target Pertanian Kota pada tahun 2030

2. Terdapat rincian rumusan isu penting, strategi, dan capaian output untuk seluruh komponen Pertanian Kota

3. Terdapat usulan rencana aksi untuk seluruh komponen Pertanian Kota

4. Terdapat usulan platform koordinasi pelaksanaan Grand Desain Pertanian Kota

D. PELAKSANA

Workshop ini dilaksanakan atas kerjasama antara Pemerintah DKI Jakarta, KARINA, dan CARE International Indonesia dalam program Partners for Resilience – Strategic Partnership.

E. PESERTA

Keseluruhan peserta workshop ialah sekitar 25 orang yang berasal dari: 1. BAPPEDA DKI Jakarta

2. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta 3. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta

4. Dinas Pendidikan DKI Jakarta

5. Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (DCKTRP) DKI Jakarta

6. Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) DKI Jakarta

7. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta 8. Dinas Sumberdaya Air DKI Jakarta

9. Dinas Koperasi dan UMKM DKI Jakarta 10.Dinas Sosial DKI Jakarta

11.Dinas Perumahan dan Gedung Pemda (DPGP) DKI Jakarta 12.Biro Tata Pemerintahan Setda DKI Jakarta

13.Alumni Rancang Kota ITB (ARKI) 14.Jakarta Berkebun

15.American Red Cross

16.Palang Merah Indonesia (PMI)

17.Platform Marunda Urban Resilient In Action (MURIA) 18.CARE International Indonesia

19.Wetlands International Indonesia

F. NARASUMBER DAN FASILITATOR

Narasumber : Deputi Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Fasilitator : Chasan Ascholani

(6)

Co-Fasilitator :

1. Diah Meidiantie (DKPKP)

2. Yus Rusila Noor / Susan (Wetlands International Indonesia) 3. Kartika (CARE International Indonesia)

4. Yohan Rahmat Santosa (KARINA) 5. Diyah Perwitosari (KARINA)

G. WAKTU DAN TEMPAT

Waktu : 9 – 10 Agustus 2017

Tempat : Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Jl. Gunung Sahari Raya No. 11 Jakarta Pusat 10720

H. AGENDA ACARA

Workshop ini dilaksanakan selama dua hari dengan rincian agenda kegiatan sebagai berikut:

WAKTU KEGIATAN HASIL

PENANGGUNG-JAWAB HARI PERTAMA:

09.00 – 09.15 Pembukaan oleh Deputi

Gubernur DKI Jakarta MC: Mayerni

09.15 – 10.30 Sesi 1:

Diskusi pengantar: Deputi Gubernur (arah pembangunan DKI Jakarta ke depan)

12.00 – 13.00 Istirahat makan siang

13.00 – 13.15 Energizer Fasilitator

13.15 – 15.00 Sesi 3:

Diskusi penyepakatan

komponen Pertanian Kota dan diskusi kelompok isu strategis dan strateginya untuk masing-masing komponen (peserta dibagi menjadi 6 kelompok)

Ada rumusan isu

Diskusi kelompok untuk Fasilitator: Chasan A

(7)

penentuan capaian, strategi, output, rencana kegiatan, dan PJ untuk masing-masing komponen

HARI KEDUA:

09.00 – 09.15 Review hasil hari pertama Fasilitator: Diyah

09.15 – 10.00 Sesi 4:

Presentasi hasil diskusi kelompok – lanjutan

Fasilitator: Chasan A

10.00 – 10.15 Coffee break

10.15 – 12.00 Sesi 5:

Diskusi rencana aksi untuk masing-masing komponen Pertanian Kota

Fasilitator: Chasan A

12.00 – 13.00 Istirahat makan siang

13.00 – 13.15 Energizer Fasilitator

13.15 – 15.00 Sesi 6:

Diskusi platform koordinasi pelaksanaan Grand Desain

Fasilitator: Chasan A

15.00 – 15.15 Coffee break

15.15 – 15.45 Sesi 7:

Rencana Tindak Lanjut Fasilitator: Chasan A

15.45 – 16.00 Penutupan oleh Dinas KPKP

DKI Jakarta MC: Pemprov DKI

16.00 – 16.30 Press conference

I. KONTAK PERSON

Untuk informasi lebih lanjut terkait pelaksanaan kegiatan ini, bisa menghubungi: Nama : Mayerni Sidabalok

No. kontak : +62 812 2280 8096 Email : [email protected]

(8)

RINGKASAN HASIL WORKSHOP

GRAND DESIGN PERTANIAN KOTA

JAKARTA, GEDUNG DKPKP

9

10 AGUSTUS 2017

(9)

Ringkasan Hasil Workshop Grand Design Pertanian Kota

Jakarta 9

10 Agustus 2017

Berangkat dari keinginan pemerintah untuk memenuhi sebagian kebutuhan warga DKI Jakarta akan bahan pangan sehingga mengurangi ketergantungan supply dari luar Jakarta maka kegiatan pertanian kota telah menjadi salah satu indikator kerja unit di DKPKP. Strategi pemenuhan kebutuhan pangan di DKI Jakarta yang dilakukan secara internal adalah dengan cara:

 Intensifikasi lahan yang sudah ada

 Peningkatan pertanian kota di banyak ruang

Usaha yang telah dilakukan pemerintah DKI Jakarta adalah implementasi kegiatan pertanian kota pada tahun 2016 dengan total kegiatan yang dilakukan ada 160 kegiatan. Namun tantangan yang dihadapi adalah keberlanjutan dari kegiatan tersebut.

Untuk merealisasikan pertanian kota yang lebih baik dan berkelanjutan maka diselenggarakan Workshop Grand Design Pertanian Kota di DKPKP Jakarta. Grand Design Pertanian Kota yang akan disusun ini akan mencakup segala aspek dan diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan pertanian kota metropolitan. Grand Design Pertanian Kota ini akan mendetailkan Rencana Pembangungan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2005 – 2025 dan selanjutnya diimplementasikan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2018 – 2022, 2022 – 2027, 2028 – 2030. Grand Design yang disusun ini akan bersifat living document dimana dokumen bisa diperbaharui kapan saja sesuai dengan kebutuhan.

I.

Latar Belakang Dikembangkannya Grand Design Pertanian Kota

Penyusunan Grand Design Pertanian Kota Jakarta berangkat dari fakta yang terjadi saat ini di DKI Jakarta:

 Terjadi penurunan luasan lahan pertanian (padi) sebesar 79% sejak tahun 2003 hingga 2016 (Figur 1. Sumber Kementan, BPS dalam angka 2016, DKPKP DKI Jakarta).

 Sejak tahun 2010 – 2016 terjadi penurunan produksi padi sebesar 46% (Figur 2. Sumber Kementan, BPS).

 Pada tahun 2014 sektor pertanian baru berkontribusi sebesar 0.1% terhadap Produk Domestik Regional Bruto yang jika dinominalkan adalah sebesar Rp. 1.76 Trilyun dan sektor ini menunjang kehidupan dari sekitar 12.000 warga Jakarta (Sumber Statistik Jakarta 2015).

 Walaupun luasan lahan pertanian padi berkurang namun terjadi lonjakan luasan lahan dan produksi 3 macam sayur-mayur pada tahun 2015. (Figur 3. Sumber BPS Jakarta).

o Produksi rata-rata kangkung pada tahun 2009 – 2014 adalah 7.694 kuintal menjadi 102.229 kuintal pada tahun 2015

o Produksi rata-rata bayam pada tahun 2009 – 2014 adalah 2.707,5 kuintal menjadi 56.999 kuintal pada tahun 2015

o Produksi rata-rata sawi pada tahun 2009 2014 adalah 5.232,75 kuintal menjadi

46.886 kuintal pada tahun 2015

(10)

 Jumlah rumah tangga pertanian berkurang dari 52.200 pada tahun 2003 menjadi 12.300 pada tahun 2013. (Sumber BPS).

 Sektor pertanian baru berkontribusi sebesar 0.1% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta. Walaupun hanya 0.1% namun dalam nominal adalah sebesar Rp. 1,76 Trilyun dan mampu menghidupi 12.000 keluarga lebih. (Sumber Statistik Jakarta 2015).

 Persoalan keamanan pangan terkait dengan banyak sektor & pelaku dan perlu diatasi secara jangka panjang.

 Ada risiko ancaman bencana dan perubahan iklim terhadap keamanan pangan secara jangka panjang. Catatan: telah terjadi peningkatan suhu udara di DKI Jakarta dari 28⁰C pada tahun 2002 menjadi 30⁰– 31⁰C pada tahun 2013.

Figur 1. Luas Lahan Pertanian 2003 – 2016

(Sumber Kementan, BPS dalam angka 2016, DKPKP DKI Jakarta)

Figur 2. Produksi Padi 2010 - 2015 (Sumber Kementan, BPS)

(11)

Figur 3. Produksi Sayur Mayur 2009 – 2015 (Sumber BPS Jakarta)

II.

Kebijakan yang Mendukung Penyusunan Grand Design Pertanian Kota

Grand Design Pertanian Kota ini sejalan dengan Prioritas Pembangunan RPJPD DKI Jakarta 2005-2025 khususnya Misi 1, 2 dan 4.

Misi 1: Meningkatkan Kapasitas dan Kualitas Prasarana dan Sarana Wilayah (termasuk penanggulangan banjir, pengelolaan sampah)

Misi 2: Meningkatkan Perekonomian yang Kuat dan Berkualitas (termasuk masyarakat yang produktif, ketahanan pangan)

Misi 4: Meningkatkan Daya Dukung, Daya Tampung Lingkungan dan Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya Alam (termasuk pemanfaatan ruang yang berkualitas).

Kebijakan yang mendukung pelaksanaan pertanian kota adalah sebagai berikut:

 Instruksi Gubernur No. 131 Tahun 2016 tentang Optimalisasi Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa.

 Instruksi Gubernur No. 91 Tahun 2016 tentang Pembinaan dan Pendampingan Lokasi Program Kampung Iklim.

 Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 2441 Tahun 2016 tentang Pemanfaatan Tanah Seluas 16.628 m2 yang masih kosong.

(12)

III. Analisa SWOT, Tujuan dan Target dari Grand Design Pertanian Kota

Berangkat dari fakta pada bagian I di atas dan adanya kebijakan pemerintah pendukung maka diadakan serangkaian diskusi dalam beberapa bulan terakhir dan 2 hari workshop pada tanggal 9-10 Agustus 2017 untuk mengembangkan Grand Design Pertanian Kota. Pengembangan Grand Design Pertanian Kota melibatkan pemerintah dan juga pihak non pemerintah. Pihak pemerintah: DKPKP, Bappeda, Biro Hukum, Biro TAPEM, DCKTRP, BPBD, Biro PLH, BPTP, DPPAPP, DSDA, DPGP, Dinas Sosial, Dinas Kehutanan, Dinas Pendidikan, Diskominfotik, Biro Perekonomian, PD Pasar Jaya, DLH, Biro KDH, Biro KLN. Pihak non-pemerintah: Partners for Resilience, Care, Karina KWI, Muria, Trubus, CIS Timor, UCLG Aspac dan Koalisi Perempuan.

III.1 Analisa Kekuatan Kelemahan Peluang dan Tantangan (SWOT Analysis)

Analisa SWOT dari pertanian kota dapat dilihat dalam figur 4 di bawah ini:

Figur 4. Analisa SWOT Pertanian Kota (Sumber Presentasi Dr. Ir. Oswar M Mungkasa)

III.2 Tujuan Grand Design Pertanian Kota:

Adapun tujuan dari Grand Design Pertanian Kota yang dirumuskan dalam beberapa diskusi sebelum pelaksanaan Workshop Grand Design Pertanian Kota dan juga disepakati dalam workshop ini adalah:

 Terciptanya ketahanan pangan masyarakat kota Jakarta

 Terintegrasinya kebijakan dan program pemerintah dengan pelaku lainnya dalam praktik pertanian kota

 Pelaksanaan pertanian kota tidak terdampak oleh perubahan iklim, bencana dan kerusakan lingkungan

(13)

III.3 Target Grand Design Pertanian Kota:

Sedangkan target dari Grand Design Pertanian Kota yang dirumuskan dalam beberapa diskusi sebelum pelaksanaan Workshop Grand Design Pertanian Kota dan juga disepakati dalam workshop ini adalah:

 Peningkatan pemanfaatan ruang untuk pertanian (Rusun, RPTRA, kantor, sekolah dan lahan tidur)

 Peningkatan produksi pertanian (kangkung, bayam, sawi, cabe dan bawang merah)  Peningkatan kontribusi pertanian dalam PDRB (masih akan didiskusikan lagi)

Untuk jenis produksi pertanian tidak terbatas pada kangkung, bayam, sawi, cabe dan bawang merah saja. Kangkung, bayam dan sawi dipilih karena usianya yang pendek sehingga bisa memberikan penghasilan rutin secara cepat. Cabe dan bawang merah dipilih karena kedua komoditi ini ikut berperan dalam inflasi.

IV.

Kelompok Kerja dan Isu Strategis dalam Penyusunan Grand Design

Pertanian Kota

Grand Disain Pertanian Kota ini terdiri dari 6 bidang dan masing-masing bidang menetapkan isu strategis yang akan ditangani dalam Periode 2018 – 2030 (Figur 5. Ruang Lingkup Pertanian Kota). Berikut adalah ke 6 bidang dan isu strategis mereka:

1. Kebijakan dan Regulasi dengan isu strategis perlunya payung hukum atau kebijakan dalam hal:

 Pertanian Kota

 Pemanfaatan Lahan dan Ruang,

 Pengelolaan Air dan Sampah Domestik,  Pelaku Pertanian

 Pendidikan Sekolah

2. Pelaksanaan Pertanian dengan isu strategis:  Luas Lahan

 Kesulitan Akses terhadap Modal  Pertanian Masih Bersifat Individu  Ketersediaan Air

3. Pemasaran Produk dengan isu strategis:  Jaminan Mutu Produk

 Publikasi dan Informasi (termasuk pemetaan supply dan demand, akses pasar),  Kontinuitas Stabilitas Produk

4. Peningkatan Kapasitas dengan isu strategis sbb:  Kurangnya Tenaga Penyuluh

 Masih Sedikitnya Pelaku Utama Pertanian Perkotaan

 Masih Terbatasnya Pengetahuan dan Ketrampilan Pelaku Pertanian Perkotaan (petani/penyuluh/pendamping)

(14)

5. Kerjasama Multipihak dengan isu strategis:  Mekanisme Kerjasama Multi Pihak

 Sistem yang Terintegrasi atas Data Dasar Pelaku Pertanian Kota 6. Monitoring, Evaluasi dan Pengelolaan Pengetahuan dengan isu strategis:

 Tidak Tersedianya Mekanisme Pelaksanaan Monitoring Evaluasi & Pengelolaan Pengetahuan

 Tidak Tersedianya Sistem Informasi, Edukasi & Komunikasi Hasil Monitoring Evaluasi

Figur 5. Ruang Lingkup Pertanian Kota (Sumber Presentasi Bapak Chasan Ascholani)

V.

Capaian Hingga 2030 dan Target Output dalam RPJMD

Grand Design Pertanian Kota ini mentargetkan capaian-capaian dari isu-isu strategis di atas hingga 2030. Capaian-capaian tersebut dapat dilihat dalam matriks per kelompok kerja di halaman berikut. Anggota dari masing-masing kelompok kerja bisa dilihat di Lampiran 1 laporan ini. Khusus capaian-capaian dalam hal kebijakan (Kelompok Kerja 1) yang akan menjadi payung hukum bagi pelaksanaan pertanian kota akan dicapai dalam periode RPJMD 2018 – 2022.

(15)

Isu Strategis dan Capaian 2030 Kelompok Kerja 1 - Kebijakan dan Regulasi

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Output Kegiatan Penanggung

(16)
(17)

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Output Kegiatan Penanggung jawab

RPJMD 2018-

2022

RPJMD 2023-

2027

RPJMD 2028-

2030

Potensial Resiko

pertanian kota

 Kebijakan penyuluh pertanian

pelaku pertanian kota

mekanisme

penyelesaian konflik

 Rapat Koordinasi

 DKPKP

Kebijakan terkait pendidikan sekolah

Akan

dimasukkan ke dalam Pergub

Instruksi Gubernur

Penyusunan Kurikulum Pertanian Kota di sekolah dan ruang publik

 Dinas Pendidikan

(18)

Isu Strategis dan Capaian 2030 Kelompok Kerja 2 – Pelaksanaan Pertanian

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Berdasarkan Output Kegiatan Penanggung

Jawab

Luas lahan Pelaksanaan intensifikasi tepat guna yang berbasis ruang. kota skala kecil dan menengah yang membutuhkan modal. pertanian kota skala kecil dan menengah untuk memperoleh pengelola pertanian skala kecil dan menengah.

DKPK, DPPAPP, DPRKP

  

(19)

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Berdasarkan Output Kegiatan Penanggung pertanian skala kecil dan menegah.

DKPK, DPPAPP, DPRKP

  

(20)

Isu Strategis dan Capaian 2030 Kelompok Kerja 3 – Pemasaran Produk

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Berdasarkan Output Kegiatan Penanggung

Jawab

Sosialisasi keamanan pangan DKPKP 

Penerapan GAP DKPKP   

Pameran-pameran DKPKP, KOMINFO

Temu usaha (buyers meet sellers)

Pembinaan pelaku usaha DKPKP, UMKM

  

(21)

Isu Strategis dan Capaian 2030 Kelompok Kerja 4 – Peningkatan Kapasitas

Isu Strategis Capaian 2013 Strategi Output Kegiatan Penanggung

(22)

Isu Strategis Capaian 2013 Strategi Output Kegiatan Penanggung kerja lomba pertanian kota; Melakukan seleksi Studi Banding SMK

(23)

Isu Strategis Capaian 2013 Strategi Output Kegiatan Penanggung Jawab

RPJMD

2018-2022

RPJMD

2023-2027

RPJMD

2028-2030

pertanian kota (petani, penyuluh, pendamping)

 Menyusun buku teknologi pertanian kota

 Memanfaatkan pihak lain yang dapat digunakan untuk studi banding/magang

mampu menyesuaikan dengan teknologi

 Meningkatnya kemampuan petani dalam menerapkan budidaya berbagai komoditas

Pendistribusian buku teknologi pertanian kota

Sudin KPKP

(24)

Isu Strategis dan Capaian 2030 Kelompok Kerja 5 – Kerjasama Multipihak

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Output Kegiatan

Penanggung-Jawab

Identifikasi bentuk kerjasama. Biro Tapem 

Model/business model multipihak dengan skema insentif -> Analisa usaha tani yang jelas.

Pembuatan dan testing model kolaborasi & benchmarking.

  

(25)

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Output Kegiatan Penanggung-Jawab

RPJMD

2018-2022

RPJMD

2023-2027

RPJMD

2028-2030

Sistem yang terintegrasi atas data dasar pelaku pertanian kota.

Tercapainya/ter-bentuknya sistem web data & informasi pertanian kota Jakarta

Informasi & data dokumen pertanian kota Jakarta.

Inventarisasi/identifikasi sistem informasi data, penanggungjawab, mekanisme pengumpulan data.

Diskominfotik   

Kebijakan tentang kolaborasi multipihak & pengelolaan datanya.

Pelatihan sinkronisasi data. Diskominfotik 

Platform web informasi terintegrasi multipihak.

Pembentukan & penguatan forum komunikasi multipihak.

DKPKP 

(26)

Isu Strategis dan Capaian 2030

Kelompok Kerja 6 – Monitoring Evaluasi dan Pengelolaan Pengetahuan

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Output Kegiatan

Penanggung-Jawab

Data dasar dan data akhir pelaksanaan komponen pertanian kota per RPJMD

Pengembangan alat monev Biro

Perekonomian

Pelaksanaan hasil evaluasi (2 kali dalam setahun) pertanian kota (2 kali dalam setahun) struktur data dan informasi pertanian kota

Pembuatan web based data dan informasi pertanian kota

Diskominfotik 

(27)

Isu Strategis Capaian 2030 Strategi Output Kegiatan Penanggung-Jawab

RPJMD

2018-2022

RPJMD

2023-2027

RPJMD

2028-2030

Tim pengelola data dan informasi pertanian kota

Pembentukan tim pengelola web based data dan informasi

Diskominfotik 

Replikasi pembelajaran

Konsultasi web based data dan informasi kepada para pelaku pertanian kota

Diskominfotik   

Pemetaan pelaku dan kegiatan pertanian kota yang diintegrasikan dengan web based data dan informasi

Diskominfotik   

Launching web based data dan informasi pertanian kota

Diskominfotik 

(28)

VI. Tindak Lanjut dan Koordinasi

Pihak DKPKP menyatakan bahwa Grand Design Pertanian Kota ini bisa menjadi produk unggulan DKI Jakarta dan akan diberlakukan setelah disahkannya Peraturan Gubernur. Peraturan Gubernur yang akan menjadi payung hukum akan digarap di minggu setelah Workshop Grand Design Pertanian Kota ini diadakan dan prosesnya difasilitasi oleh Deputi Gubernur dan dari Biro Perekonomian.

DKPKP akan menjadi leading dan membentuk tim kecil untuk memfinalkan dokumen Grand Design Pertanian Kota. Tim finalisasi akan melibatkan berbagai pihak termasuk organisasi non-pemerintah yang logonya ada di Backdrop acara Workshop Grand Design Pertanian Kota yaitu PfR, Muria, Care dan Karina KWI. Grand Design ini harus selesai pada bulan September karena Peraturan Gubernur akan disahkan sebelum Oktober 2017.

Legalisasi Grand Design Pertanian Kota akan disampaikan ke gubernur terpilih dan diharapkan dimasukkan ke dalam RPJMD yang sedang disusun sekarang lalu selanjutnya akan diimplementasikan tahun depan - 2018. Sebagai catatan: Pertanian kota ini sejalan dengan visi misi dari gubernur terpilih – yaitu misi nomor 18.

Mengenai hal koordinasi terkait Grand Design ini akan dituangkan dalam Peraturan Gubernur yang akan disahkan. Pergub akan mencakup tugas dan tanggung jawab serta mekanisme koordinasi antar pemangku kepentingan yang terlibat dalam pertanian kota. Pola koordinasi yang ada dalam Peraturan Gubernur akan digunakan menjadi pola koordinasi berikutnya.

VI.

Beberapa Poin Menarik dari Sesi Diskusi Kelompok dan Pleno

Ada beberapa poin menarik yang cukup lama didiskusikan dalam workshop. Poin-poin itu ada yang sudah dimasukkan ke dalam Tabel Isu Strategis dan Capaian masing-masing kelompok kerja, namun sebagian belum termasuk di dalamnya. Berikut poin-poin tersebut:

Yang Berkaitan dengan Kelompok Kerja 1 – Kebijakan dan Regulasi

1. Saat ini belum ada aturan pemanfaatan lahan tidur milik swasta dan belum ada inisiatif dari pihak swasta untuk memanfaatkannya. Mungkin perlu ada aturan untuk mengatasi hal ini. Catatan: Badan yang mengelola pemanfaatan lahan adalah BPAD dan mereka sudah mempunyai skema dan aturan untuk pemanfaatan lahan swasta, dll. Sejauh ini peraturan yang sudah dilakukan adalah kewajiban bagi pengembang untuk menyediakan lahan terbuka hijau. Namun lahan tersebut sebagian besar hanya ditanami rumput. 2. Masalah lain yang perlu dibicarakan adalah tercemarnya tanaman-tanaman pangan di

pinggir kali oleh logam berat.

3. Sebenarnya pemerintah propinsi sudah mempunyai banyak peraturan-peraturan yang bisa jadi acuan. Peraturan-peraturan yang sudah ada itu bisa dioptimalkan sesuai kebutuhan - dinaikkan kelasnya, contohnya dari dari Pergub bisa menjadi Perda, dari Perda bisa menjadi perundang-undangan.

(29)

Yang Berkaitan dengan Kelompok Kerja 2 – Pelaksanaan Pertanian

DKI Jakarta ini merupakan daerah konsumen, bukan produsen. Karena itu Grand Design harus memperhatikan hal ini. Grand Design perlu mencakup kegiatan untuk menentukan terlebih dulu komoditas apa yang akan dikembangkan, seberapa besar kebutuhan Jakarta dan berapa banyak yang akan dipenuhi oleh DKI Jakarta dan berapa luas lahan yang dibutuhkan.

Yang Berkaitan dengan Kelompok Kerja 3 – Pemasaran Produk

1. Sama seperti Kelompok Kerja 2 yaitu perlunya baseline (data dasar) mengenai komoditas apa yang dikonsumsi oleh masyarakat Jakarta. Apa dan berapa banyak yang diproduksi Jakarta dan apa yang diproduksi dari luar Jakarta. Informasi semacam ini diperlukan karena akan dikaitkan stabilisasi produksi pertanian di Jakarta.

2. Distribusi dan stabilisasi harga bahan pangan bisa merupakan capaian yang dipertimbangkan dalam Grand Design.

3. Hal yang perlu ditambahkan adalah pemetaan jenis usaha. Banyak sekali jenis usaha yang terlibat dalam pertanian kota, baik koperasi, perseorangan, swasta dan lain sebagainya.

Yang Berkaitan dengan Kelompok Kerja 4 – Peningkatan Kapasitas

Dalam kelompok terjadi diskusi bahwa modul-modul teknis yang diperlukan untuk pertanian kota telah tersedia sehingga penyusunan modul tidak masuk ke dalam kegiatan Kelompok Kerja 4. Namun perlu dilihat kembali jenis-jenis modul yang tersedia tersebut.

Yang Berkaitan dengan Kelompok Kerja 5 – Kerjasama Multipihak

1. Grand Design Pertanian Kota harus mampu untuk mempertemukan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga non-pemerintah dalam hal pertanian kota. Karena itu keterlibatan pihak-pihak non-pemerintah diperlukan. Selain itu dari sisi pemerintah, masih ada beberapa dinas terkait yang belum diundang. Misalnya Dinas Lingkungan Hidup dan dinas pemerintah yang berhubungan dengan sampah dan pengurangan emisi karbon. Kerja sama dengan pemerintah daerah di luar Jakarta pun perlu dijajaki untuk memperkuat hasil dari pertanian kota yang dilakukan di Jakarta. Selain itu sebenarnya ada lembaga yang perlu terlibat yaitu Kementerian Pertanian karena mereka mempunyai otoritas untuk melakukan pengujian dan penilaian terhadap Grand Design ini.

2. Isu lain adalah sering kali dijumpai bahwa petani tidak bisa menjual produknya. Hal yang perlu dibangun adalah pasar. Mungkin making market through government merupakan solusi yang bisa dimasukkan dalam capaian Grand Design Pertanian Kota.

3. Perlu melakukan pengembangan Business Model pertanian kota dengan skema insentif yang melibatkan semua pihak berkepentingan dalam kegiatan pertanian kota. Business Model harus menjelaskan peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dan manfaat atau keuntungan yang dapat didapatkan oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam pertanian kota.

(30)

Yang Berkaitan dengan Kelompok Kerja 6 – Monitoring Evaluasi dan Pengelolaan Pengetahuan

Kegiatan monitoring evaluasi dan pengelolaan pengetahuan pertanian kota dilakukan terhadap 6 komponen pertanian kota lainnya. Karena itu maka forum monitoring evaluasi, kegiatan penyusunan alat, peningkatan kapasitas pemangku kepentingan dalam hal monitoring evaluasi dan pengelolaan pengetahuan harus melibatkan pihak-pihak lain yang terlibat dalam 6 komponen pertanian kota.

Yang Berkaitan dengan Capaian dan Target Pertanian Kota

1. Sesuai dengan presentasi dari Bapak Dr. Ir. Oswar M Mungkasa mengenai pokok-pokok beriktu:

 Kontribusi pertanian kota terhadap PDRB, apakah Grand Design Pertanian Kota ini akan mentargetkan peningkatan kontribusi pertanian kota terhadap PDRB atau tidak.  Kontribusi pertanian kota terhadap penurunan suhu udara di Jakarta. Walaupun

sepertinya sulit tetapi hal ini perlu dipikirkan dan didiskusikan lebih lanjut.

 Pertanian kota di Jakarta diharapkan bisa menjadi Centre of Excellence (Pusat Layanan Unggulan) dimana capaiannya tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Jakarta tetapi masyarakat di daerah lain juga bisa belajar pertanian kota ini dari Jakarta.

2. Masukan lain dari peserta workshop adalah mengenai sinkronisasi capaian dan target yang akan diraih dalam Grand Design Pertanian Kota dengan capaian dan target dari Bappeda serta OPM-OPM yang lain. Sinkronisasi ini dilakukan baik untuk capaian dan target Bappeda dan masing-masing OPM dalam RPJPD hingga tahun 2030 dan untuk RPJMD.

(31)

Lampiran 1

DAFTAR PESERTA

WORKSHOP PENYUSUNAN GRAND DESAIN PERTANIAN KOTA

JAKARTA, 9

10 AGUSTUS 2017

NO

KELOMPOK

PESERTA

1 Kebijakan dan Regulasi Koord: BAPPEDA (Abas – Kabid. Perekonomian) Anggota:

 Biro Hukum

 Biro TAPEM (Nuruning – Bid. Otonomi Daerah)  DCKTRP (Gentur – Bid. Perencanaan dan

Pemanfaatan Ruang Kota)  DKPKP

- Sekretariat

- Bidang Pertanian (cq. Kepala Seksi Pertanian Perkotaan)

- Sudin KPKP Kota Administrasi Jakarta Barat (Ibu Hanim , Bp. Edi Sukria)

- Koordinator Penyuluh Provinsi (Didi Setiabudi)  BPBD (Rahmat Mangendar– Bid. Kesiapsiagaan)

 Biro PLH (…………

2 Pelaksanaan Pertanian Koord: DKPKP (Kepala Bidang Pertanian) Anggota:

 DKPKP

- Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (cq. Kep. Seksi Penganekaragaman Konsumsi, Keamanan Pangan dan Penyuluhan)

- Sudin KPKP Kota Administrasi Jakarta Pusat (Bpk. Sumarto)

 DPPAPP (Zainuddin – Bid. PM)

 DSDA (Ratna Yunita – Bid. UP Data dan Informasi)  DPGP (Reno Adi Putra)

 Dinas Kehutanan (Bpk. Sigit)

3 Pemasaran Produk Koord: Dinkop & UMKM (Bpk. Nurdin Soleh & Ibu Wariyani D. Gusti)

Anggota:

 Diskominfotik (………..

 Biro Perekonomian (Bpk. Rizal Effendi & Bpk. Alloen Samudro)

(32)

NO

KELOMPOK

PESERTA

 PD Pasar Jaya (………..  DKPKP

- Bidang Pertanian (cq. Kepala Seksi Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian).

- Balai Pusat Promosi dan Sertifikasi Hasil Pertanian - Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (cq.

Kepala Seksi Ketersediaan Pangan)

- Sudin KPKP Kota Administrasi Jakarta Selatan (Bpk. Yoga)

4 Peningkatan Kapasitas Koord: Dinas Pendidikan DKI Jakarta Anggota:

 Dinas Pendidikan (Bpk. Komar – Bid. SMK)  DLH ( Bpk. Her Panatas)

 DKPKP

- Sudin KPKP Kep. Seribu (Bpk. Solihin) - Penyuluh Pertanian Provinsi (Ibu Sri

Suhersusiwati)

 BPTP (Ibu Nurmalinda dan Ibu Ana)

5 Kerjasama Multipihak Koord: Biro TAPEM (Anang Yuda – Bid. Kerjasama Lembaga)

Anggota:

 Biro KDH dan KLN (……….

 DKPKP

- Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman

- Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (cq. Kepala Seksi Distribusi Pangan)

- Sudin KPKP Kota Administrasi Jakarta Timur (Bpk. Agung Priambodo)

- Bidang Pertanian (Bpk. Samsudin)

 Dinas Sosial (Rany – Bid. Pemberdayaan Sosial) dan (Bid. PPKS)

6 Monitoring, Evaluasi, dan Pengelolaan Pengetahuan

Koord: DLH (Joko Riyanto dan Rita – Bid. Peran serta masyarakat)

Anggota:  DKPKP

- Sudin KPKP Kota Administrasi Jakarta Utara (Ibu Insani)

(33)

P R O C E E D I N G

Prosiding

Rekaman Proses

Notula

Minutes of Meeting

Workshop Penyusunan

Grand Design

Pertanian Kota Provinsi DKI Jakarta

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian

Provinsi DKI Jakarta

9 - 10 Agustus 2017

(34)

Hari Pertama. Rabu, 9 Agustus 2017

Pembukaan

Mayerni Sidabalok (Pembawa acara)

Selamat pagi. bapak dan ibu seluruh hadirin yang hadir di tempat ini. Salam sejahtera buat kita semua.

1. Yang kami hormati Bapak Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa, Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup

2. Yang kami hormati Bapak Blessianda, Asisten Deputi Gubernur untuk Tata Ruang dan Lingkungan Hidup

3. Yang kami hormati juga Bapak Darjamuni, Kepala Dinas KPKP (Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian) dan seluruh tim DKPKP yang hadir di tempat ini

4. Yang kami hormati bapak dan ibu yang mewakili SKPD terkait, dari BAPPEDA, BPBD, dan yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

5. Teman-teman dari CSO dan mitra PfR yang sudah hadir di tempat ini. Terima kasih atas kehadirannya.

Acara hari ini adalah Workshop Penyusunan Grand Design Pertanian Kota Provinsi DKI Jakarta. Acara ini akan dilakukan 2 hari, dimulai hari ini tanggal 9 Agustus 2017 dan akan berakhir besok pagi tanggal 10 Agustus 2017. Mohon partisipasi kita semua supaya acara ini bisa berjalan dengan baik dan bisa menghasilkan suatu grand design untuk pertanian kota di Provinsi DKI Jakarta dengan baik. Oleh karena itu, kita akan lanjut ke acara selanjutnya, kita akan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Oleh karena itu, bapak dan ibu saya undang untuk berdiri.

Menyanyikan Lagu ‘Indonesia Raya’

Judul lagu: Indonesia Raya Ciptaan: W. R. Supratman

Indonesia Raya

Indonesia, tanah airku Tanah tumpah darahku

Di sana lah aku berdiri Jadi pandu ibuku

(35)

Indonesia, kebangsaanku Bangsa dan tanah airku

Marilah kita berseru “Indonesia bersatu!”

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku Bangsaku, rakyatku, semuanya Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya

Untuk Indonesia raya

Chorus:

Indonesia Raya, merdeka, merdeka! Tanahku, negeriku yang kucinta Indonesia raya, merdeka, merdeka!

Hiduplah Indonesia Raya!

Indonesia Raya, merdeka, merdeka! Tanahku, negeriku yang kucinta Indonesia raya, merdeka, merdeka!

Hiduplah Indonesia Raya!

Para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya

Mayerni Sidabalok (Pembawa acara)

Hadirin dimohon untuk duduk kembali. Acara ini merupakan kerja sama antara KARINA dengan PfR dan juga Pemerintah Daerah provinsi DKI Jakarta. Oleh karena itu kami berikan kesempatan untuk menyampaikan sambutan mewakili lembaga PfR dan KARINA. Kepada pimpinan KARINA, waktu kami berikan.

(36)

Sambutan Direktur Eksekutif KARINA

Romo Adrianus Suyadi, SJ (Direktur Eksekutif KARINA)

Assalamu’alaikum warrahmatullohi wabarakatuh, shalom, salam damai sejahtera bagi kita semua.

Yang kami hormati:

1. Bapak Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa, Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup

2. Bapak Blessianda, Asisten Deputi Gubernur Tata Ruang dan Lingkungan Hidup 3. Bapak Darjamuni, Kepala Dinas KPKP (Ketahanan Pangan, Kelautan dan

Pertanian)

4. Ibu Dyah Meidiantie, Kepala Bidang Pertanian 5. Bapak / Ibu Kepala BAPPEDA Pemprov DKI Jakarta 6. Bapak / Ibu BPBD DKI Jakarta

7. Bapak / Ibu para Kepala Dinas Pemprov DKI Jakarta atau yang mewakili

8. Bapak / Ibu Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda Provinsi DKI Jakarta atau yang mewakili

9. Bapak / Ibu dari Platform Marunda Urban Resilience in Action (MURIA) 10. Bapak / Ibu dari CARE International

11. Bapak / Ibu dari American Red Cross, Palang Merah Indonesia 12. Bapak / Ibu dari Wetlands International Indonesia

13. Alumni Rencana Tata Kota ITB 14. Jakarta Berkebun

15. Tim Kota Tangguh

16. Kawan – kawan dari NGO / INGO

17. Para hadirin semua yang tidak dapat saya sebut satu per satu

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat yang telah dilimpahkan kepada kita semua, sehingga pada pagi hari ini kita dapat berkumpul di ruangan ini guna melaksanakan lokakarya “Pembahasan Grand Design Pertanian Kota

(37)

di Provinsi DKI Jakarta”. Selamat datang kami ucapkan kepada bapak dan ibu hadirin semuanya.

Dalam kesempatan yang baik ini kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran Pemprov DKI Jakarta, para mitra kerja sama dari MURIA, Care Indonesia, Wetlands Internasional Indonesia, American Red Cross, Palang Merah Indonesia dan para mitra kerja sama lain dan seluruh peserta lokakarya yang telah hadir dan bekerja sama dalam upaya untuk mempromosikan ketahanan dan kedaulatan pangan lewat pertanian kota.

Dunia pertanian sering diidentikkan dengan dunia di wilayah pedesaan yang masih tersedia tanah cukup luas. Kita seringkali lupa bahwa di tengah-tengah kota metropolitan seperti Jakarta ini pun usaha pertanian itu mungkin. Kota-kota besar di dunia seperti Thailand, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan lain-lain telah mengembangkan pertanian perkotaan ini. Jadi pertanian bukan hanya menjadi peluang masyarakat pedesaan, tetapi juga perkotaan. Kita tentu menyambut baik inisitif

Pemprov DKI Jakarta untuk mengembangkan “Grand Design Pertanian Perkotaan di

wilayah Pemprov DKI Jakarta ini”. Untuk menyusun grand design ini, tentu diperlukan kerangka perencanaan mesti dirancang dari berbagai macam aspek seperti regulasi, implementasi lapangan, peningkatan kapasitas, jaringan pemasaran, kerja sama multipihak, monitoring dan evaluasi.

KARINA-Caritas Indonesia, yang mempunyai arah program untuk mengembangkan ketangguhan warga rentan dalam menghadapi berbagai ancaman, merasa sejalan dengan program Pemprov DKI ini. Sebagai lembaga kemanusiaan milik konferensi Waligereja Indonesia (KWI), KARINA terbuka untuk bekerja sama dengan pihak manapun yang mempunyai tujuan yang sama. Sebagai lembaga animasi, koordinasi dan fasilitator mitra kerja Caritas-Caritas di 37 wilayah di Indonesia, KARINA telah menjalankan berbagai macam proyek yang bersentuhan dengan masalah ketahanan pangan dan pertanian. Sejak tahun 2010, KARINA bersama dengan KARINA-Yogya dan mitra kerja sama yang lain telah mendampingi warga di wilayah NTT untuk mengembangkan resiliensi/ketangguhan warga dalam perspektif pengurangan risiko bencana, perubahan iklim dan perawatan lingkungan. Dengan proyek di Marunda, 2-3 tahun terakhir ini KARINA bersama dengan mitranya mendampingi warga perkotaan dalam mengembangkan ketangguhan, dengan mengintegrasikan berbagai bentuk intervensi, salah satunya adalah intervensi pertanian perkotaan.

Praktik baik yang kami dapatkan dari proyek ini kiranya dapat menjadi kontribusi kecil bagi pengembangan Grand Design Pertanian Perkotaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini. Sebagai lembaga pembelajar dan inklusif, KARINA siap bekerja sama dengan siapapun, utamanya dengan pemerintah, mengingat pemegang regulasi dan penanggung jawab utama terhadap warganya adalah pemerintah. KARINA berharap bahwa pembelajaran kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta ini akan menjadi praktik baik yang dapat kami kembangkan di tempat-tempat lain, mengingat kami mempunyai mitra jaringan yang luas baik di tingkat nasional maupun internasional. Di tingkat

(38)

internasional, sebagai anggota konfederasi Caritas Internasional lainnya. KARINA hanyalah salah satu dari 160 Caritas Nasional di dunia ini. KARINA – sebagai Caritas Nasional di Indonesia sangat senang bisa sedikit berkontribusi pada masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya.

Dan meski kami sebagai lembaga kemanusiaan Katolik, kami tidak memandang latar belakang agama, suku, ras, atau latar belakang lainnya. Misi kami adalah menyebarkan kasih dan belarasa bagi sesama manusia. Kami ingin belajar bagaimana kedaulatan pertanian dan ketahanan pangan bisa disokong lewat pertanian perkotaan. Maka dalam 2-3 tahun terakhir ini kita melakukan sesuatu yang tidak besar, hanya kecil sebagai praktik pembelajaran dengan partner di Marunda. Dan harapannya. praktik baik yang kami kerjakan bersama bisa berkembang demi kesejahteraan warga masyarakat kita terutama untuk yang miskin dan rentan.

Akhir kata, kami sadar bahwa penyelenggaraan acara lokakarya ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami atas nama KARINA menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Selamat mengikuti lokakarya, semoga bermanfaat untuk kemajuan kita semua. Wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh, salam damai sejahtera bagi kita semua.

Mayerni Sidabalok (Pembawa acara)

Terima kasih Romo Suyadi buat kata sambutannya mewakili KARINA dan Aliansi PfR. Acara selanjutnya, kita akan mendengarkan sambutan dari Bapak Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian, Bapak Darjamuni. Waktu dan tempat kami persilahkan kepada bapak.

(39)

Sambutan Kepala Dinas KPKP, Provinsi DKI Jakarta

Bapak Darjamuni (Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian)

Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarokatuh. Selamat pagi, semoga keselamatan danberkah senantiasa dilimpahkan kepada kita semua.

1. Bapak Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa, Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup yang kami hormati,

2. Bapak Blessianda, Asisten Deputi Gubernur untuk Tata Ruang dan Lingkungan Hidup yang kami hormati,

3. Bapak Pimpinan KARINA, Bapak Romo Suyadi yang kami hormati,

4. Rekan – rekan Kepala Bidang, kepala UPT dan peserta lokakarya yang saya banggakan.

Pertama-tama marilah kita panjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena pagi ini kita dapat bertemu di sini, silaturahmi dan sekaligus kita akan melakukan lokakarya tentang penyusunan Grand Design Pertanian Perkotaan yang ada di DKI Jakarta. Tentu hal ini yang sudah diinisiasi oleh bapak Deputi, saya mengucap terimakasih banyak karena ini betul-betul merupakan suatu kebutuhan kami di Jakarta. Dan juga kepada KARINA kami ucapkan terima kasih.

Pertanian perkotaan ini memang sudah sangat nge-tren, terutama di Jakarta. Tetapi kalau kita lihat judulnya ini kita akan melakukan grand design. Memang kadang di Jakarta ini lucu kalau dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya. Kita belum ada

grand design tetapi sudah jalan, ada juga kota yang sudah punya grand design tetapi tidak jalan-jalan.

Nah saya bersyukur sekali hari ini mudah-mudahan tercipta suatu grand design yang baik sehingga apa yang dapat kami lakukan di Jakarta ini nanti bisa optimal. Karena walaupun sedikit-sedikit kita sudah melakukan itu, tetapi memang karena belum ada desain yang khusus, yang bagus sehingga manfaatnya belum optimal. Semoga dengan adanya lokakarya hari ini kita bisa memadukan semua sehingga bisa tercipta pertanian perkotaan di Jakarta seperti yang kita harapkan.

Pertanian perkotaan ini, kalau tadi apa yang disampaikan oleh Romo Suyadi memang mungkin kalau kita mau berkontribusi dari segi produksi khususnya di Jakarta ini atau

(40)

untuk memenuhi kebutuhan warga Jakarta itu kayaknya masih jauh. Tetapi saya sangat berharap karena sudah ada beberapa contoh yang kita lakukan, minimal apa yang kita kembangkan di Jakarta ini bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga mengurangi ketergantungan suplai dari luar daerah. Itu yang kami harapkan.

Memang tadi saya dapat pengarahan dari Pak Deputi, banyak sebenarnya yang bisa kita kembangkan di rumah susun, di gang-gang, di pekarangan, supaya ini betul-betul bisa dimanfaatkan secara optimal. Saking kami menganggap ini adalah hal yang sangat penting, tahun 2016 sebenarnya pengembangan pertanian perkotaan ini kami jadikan indikator kinerja unit kami di DKPKP ini. Waktu itu kita sempat melakukan penghijauan di 150 gang di Jakarta, di 25 setiap wilayah, dan alhamdulilah cukup berhasil. Tetapi keberlanjutannya belum sepenuhnya bisa kita lanjutkan karena kesadaran masyarakat juga sangat kurang, sehingga kalau sudah ada grand design nanti yang kita kembangkan, ini akan membuat suatu perencanaan secara menyeluruh. Itulah mungkin yang akan menjadi pegangan kami untuk mengembangkan pertanian perkotaan ke depan.

Jadi kepada teman-teman saya khususnya dan semuanya, mari kita manfaatkan 2 hari sampai besok ini. Kita manfaatkan bantuan pemikiran, bantu kami semua bagaimana kira-kira kita bisa mengembangkan pertanian perkotaan di Jakarta ke depan. Disini sudah hadir beberapa narasumber, kita bisa diskusi tukar pemikiran sehingga nanti bisa tercipta suatu grand design dan ini akan kita jadikan pegangan untuk mengembangkan pertanian di perkotaan di Jakarta ke depan.

Saya kira itu mungkin hal-hal yang ingin saya tekankan. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Deputi, KARINA, dan teman-teman semua atas partisipasi yang telah dilakukan pada hari ini. Akhirnya nanti kami mohon kepada Pak Deputi untuk bisa membuka dan memberikan arahan pada acara ini.

Terima kasih. Saya akhiri. Wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh.

Mayerni Sidabalok (Pembawa acara)

Terima kasih kepada bapak Kepala Dinas atas sambutannya. Selanjutnya kata sambutan, pembukaan, sekaligus pemaparan materi dari Pak Deputi akan dilakukan setelah kita berdoa. Acara selanjutnya sesi doa. Kami persilahkan kepada bapak Ayat Sukayat untuk memimpin doa.

Doa Bersama

Ayat Sukayat

Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarokatuh. Hadirin bapak ibu yang kami hormati, marilah kita berdoa kepada Allah subhanawatala. Untuk saudara kami yang di luar agama Islam, silahkan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

(41)

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, syukur kami panjatkan kehadiratMu atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayahMu. Pagi hari ini kami hadir untuk memohon ridho, rahmat, dan keberkahan dalam acara workshop penyusunan Grand Design Pertanian Kota di provinsi DKI Jakarta. Kiranya Engkau berikan kemudahan dan kelancaran dalam acara ini sehingga pertemuan ini membawa manfaat untuk kami dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan pertanian untuk kesejahteraan masyarakat Jakarta.

Ya Allah, Ya Hayyu, Ya Qayyum, workshop penyusunan Grand Design Pertanian Kota di provinsi DKI Jakarta sebagai langkah strategis dalam merumuskan kegiatan-kegiatan pertanian perkotaan yang akan kami laksanakan ke depan. Untuk itu Ya Ilahi, kami mohon kepadaMu ya Allah, berikanlah petunjukMu agar kami mampu merumuskan model pertanian kota di DKI Jakarta dalam rangka menjamin eksistensi pembangunan pertanian untuk mewujudkan masyarakat Jakarta yang sejahtera.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, bila ada kebijakan kami yang salah, keputusan kami yang keliru, dan tugas-tugas kami yang kebablasan, kami mohon ampunan dan petunjukMu. Ampunan juga kami mohonkan untuk kedua orang tua kami, para pemimpin pendahulu kami, serta para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar adanya. Berikanlah kemampuan kepada kami untuk selalu mengikuti kebenaran itu, dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang salah adalah tetap salah. Dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk selalu menjauhi kesalahan itu.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, tiada yang mudah kecuali Kau mudahkan, dan kesusahan itu menjadi mudah jika Engkau menghendakinya mudah. Kabulkan doa dan permohonan kami. Amin ya rabal alamin”

Wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh.

Mayerni Sidabalok (Pembawa acara)

Terima kasih Bapak Ayat Sukayat yang sudah memimpin kita dalam doa. Kita lanjutkan acara berikutnya kata sambutan sekaligus membuka acara ini secara resmi dan juga diskusi pengantar dari Bapak Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup. Kepada Bapak Doktor Insinyur Oswar M. Mungkasa, dipersilahkan.

(42)

Sambutan Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup

Bapak Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa (Deputi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup)

1. Yang terhormat Bapak Kepala Dinas, Bapak Darjamuni; 2. Yang terhormat Bapak Pimpinan Karina, Romo Suyadi; 3. Yang terhormat Bapak Bless;

4. Yang terhormat Ibu Mei;

5. Yang terhormat Bapak ibu dari teman-teman SKPD;

6. Yang terhormat teman-teman dari luar pemerintah yang banyak juga kami undang yang tidak bisa kami sebut satu persatu;

7. Yang terhormat panitia yang telah bekerja keras untuk melaksanakan kegiatan ini.

Assalamu’alaikum warrohmatullohi wabarokatuh, selamat pagi, salam sejahtera.

Yang pertama, saya sangat senang sekali acara ini kita laksanakan di sini. Ini menunjukkan bahwa teman-teman SKPD ownership-nya sudah ada. Dari dulu sebenarnya sudah ada, cuman teman-teman itu sangat sibuk. Semua dikerjakan. Sehingga, menurut kami, keDeputian lah yang membantu menyusun grand design-nya.

Yang kedua, saya senang sekali karena proses penyusunannya sendiri sudah sekitar 3-4 bulan dan melibatkan banyak pihak. Dan sebenarnya hari ini itu semacam upaya kita untuk melemparkan draft awal daripada pembicaraan kita selama ini. Dan yang sangat menyenangkan bahwa kemudian proses ini melibatkan banyak pihak, tidak hanya pemerintah DKI saja, termasuk teman-teman yang dari pemerintah pusat. Dan yang lebih menarik lagi, tuan rumahnya bukan hanya Pemprov, tetapi banyak. Ada KARINA, ada CARE, ada MURIA, ada Partners for Resilient Indonesia. Ini belakangan bergabungnya, tetapi mereka yang sekarang secara khusus menyiapkan ini.

Yang menarik lagi, kita tahu persis bahwa ini sebenarnya bukan hal baru di Jakarta. Kata Pak Jaja, ini sudah banyak dilakukan di mana-mana. Fotonya banyak, bagus-bagus, di gang-gang. Tetapi kita tidak bisa hanya bicara foto. Kita harus berbicara nanti mungkin dalam waktu 4 - 5 tahun ke depan akan kelihatan bahwa produk pertanian kita itu menyumbang PDB-nya tidak kayak sekarang yang menurun terus. Nanti kita

(43)

bisa lihat dalam waktu 5 tahun ke depan, ternyata produk pertanian kita di PDB meningkat. Itu artinya grand design kita berhasil. Kalau tidak, ya balik lagi kita hanya bisa menunjukkan foto-foto tetapi kontribusinya terhadap PBD tidak kelihatan. Kita sekarang menyusun ada sekitar 7 Grand Design. Green Building sudah selesai, sampah sudah selesai. Terus ada air tanah, sudah kita serahkan. Kemarin diteruskan oleh Asisten Perekonomian. Kemudian ada lagi grand design untuk disaster.

Nah mengapa ini kita lakukan, karena menurut kita Jakarta ini apa saja ada. Mulai hal yang bagus sampai hal yang buruk. Saya kalau ke luar negeri, saya bilang sama teman-teman di luar negeri, “Jakarta itu mau nanya apa saja saya bisa jawab”. Mulai dari yang paling bagus sampai yang paling jelek, ada. Kejahatan apa saja ada di Jakarta. Tetapi hal yang paling bagus ada juga di Jakarta”. Tetapi kemudian ketika kita mau berbuat baik.

Di Jakarta ini saya lihat jarang punya grand design. Semua punya semangat kerja tetapi tidak ada patokan yang jelas. Teman-teman semangat kerjanya tetapi bingung juga. Kemarin saya presentasi mengenai urban farming di Art Amerika (pusat kebudayaan di Amerika), Ternyata yang namanya urban farming itu di luar itu sudah banyak. Tetapi teman-teman di luar pemerintah itu bingung. Baru tahu kalau ternyata urban farming di DKI itu banyak. Jadi tidak nyambung antara teman luar pemerintah dengan pemerintah, tidak ketemu.

Jadi menurut saya, grand design ini lah tempat bagaimana kita berbicara menemukan antara kerjanya pemerintah dan kerjanya non pemerintahan. Karena salah satu kelemahan urban farming ini masyarakat tidak mendapatkan nilai tambah dari kegiatan ini. Kalau tidak hanya sekedar tanaman hias, ya hanya untuk memenuhi kebutuhan dia sendiri yang notabene kata mereka, “Pak, upaya kita untuk menanam ini jauh lebih besar dibanding dapatnya. Kalau mau beli cabe saja paling berapa langsung dapat”. Jadi, harusnya mereka mendapatkan nilai tambah dari kegiatan ini.

Nah saya ingin kembali lagi menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak karena kemudian hari ini kita bisa berkumpul. In melebihi target karena target kita hanya 40 orang tetapi ini yang hadir lebih dari 50 orang. Kita berharap ke depan namanya urban farming ini bukan hanya aksesoris, tetapi keberadaannya benar-benar berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto. Mungkin nanti Pak Jaja harus berani mengatakan,

“Kontribusi pertanian terhadap PDB akan meningkat dari berapa persen menjadi

berapa persen”. Bukan sekedar ada jumlah gang hijau dari 100 menjadi 300. Dengan

adanya grand design, Pak Jaja akan berani menaikkan tingkat kontribusinya dari berapa persen menjadi berapa persen. Lebih mantab lah. Nanti kita undang Pak Jaja menjadi pembicara di mana-mana. Jakarta harus menjadi center of excellent untuk apa saja. Siang nanti saya diundang bicara di Indonesian Development Forum. Yang diundang itu cuman 3 kota karena dianggap bisa memberi contoh, Surabaya, Jakarta dan Bogor. Jakarta ini contoh buat apa saja. Saya hampir tiap minggu ke luar negeri hanya disuruh ngomong mengenai Jakarta itu ngapain.

(44)

Pengantar Diskusi dan Pembukaan Acara oleh Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup

Outline presentasi:

1. Kondisi Pertanian Kota DKI Jakarta saat ini

2. Tantangan Pelaksanaan Pertanian Kota DKI Jakarta

3. Posisi Grand Design dalam Perencanaan Pembangunan DKI Jakarta 4. Grand Design Pertanian Kota 2030

Jadi kembali lagi saya ingin menyampaikan penghargaan kita, semoga kita bisa menyelesaikan ini dalam waktu yang memadai karena kita berharap sebelum pergantian pemerintah, hasilnya sudah kita sampaikan. Dan kemudian, hasilnya akan menjadi masukan untuk RPJMD. Masukan kita riil, ada. Ini adalah hasil upaya proses yang panjang. Nah saya akan masuk ke bahan presentasi.

Luasan lahan Sawah di DKI Jakarta

Luasan lahan pertanian di Jakarta semakin berkurang signifikan. Bahwa lahan sawah itu berkurang, tidak perlu kita tangisi karena itu adalah konsekuensi sebuah kota berkembang. Jadi jangan menangis kalau sawah berkurang tajam. Namanya sebuah kota metropolitan, ya pasti lahannya akan digunakan karena pemanfaatannya akan lebih intensif ketika digunakan untuk kegiatan lain.

(45)

Produksi Padi di DKI Jakarta

Tetapi kemudian ada dampak yang lain juga, ternyata produksi padi kita menurun 43%. Ini yang kita mulai was-was terutama ketika kita berbicara mengenai ketahanan sebuah kota. Kita tidak kebayang kalau tiba-tiba Jakarta ada apa-apa, kita tidak punya makanan. Kebutuhan kita tergantung dari daerah lain. Mulai dari beras, bahkan air bergantung sama Tangerang.

Produksi Sayuran di DKI Jakarta

Kita bisa lihat kangkung, bayam, sawi, adalah produk utama tanaman sayuran di Jakarta. Ini ada peningkatan luasan panen dan produksi. Intinya kita harus melihat langsung kepada padi karena padi adalah konsumsi utama kita, itu kurang banyak.

(46)

Jumlah Rumah Tangga Pertanian di DKI Jakarta

Sementara jumlah rumah tangga pertanian di DKI Jakarta juga saya lihat berkurang sangat banyak. Dari 52 ribu menjadi hanya 12.300. Pertanyaannya adalah, apakah ini tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pertanian di Jakarta bukan merupakan sesuatu yang menarik lagi, atau cara kita menangani pertanian yang kurang tepat.

Kalau menurut saya sebenarnya masalah kita hanya satu, pertanian masih dalam konteks ekstensifikasi. Kita bertani itu masih mikir tambah luas areal. Kita berpikir horizontal, tidak berpikir vertikal sehingga yang terjadi ketika kemudian tanah digunakan untuk penggunaan selain sawah, kita jadi gamang. Kalau di Jepang itu kantor-kantor itu ruang lobinya isinya tanaman sayur. Bahkan beberapa lantai digunakan untuk sawah. Di sana sawahnya bertingkat. Jadi, perubahan paradigma bahwa sawah adalah secara horizontal kita rubah bahwa sawah atau pertanian itu harusnya sifatnya bisa ke atas.

Pertanian secara ekonomi:

Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2014 memang hanya 0,1%. Akan tetapi, kontribusi tersebut senilai 1,76 triliun rupiah dan mampu menghidupi sekitar 12.000 rumah tangga lebih. (Sumber: Statistik DKI Jakarta, 2015)

Nah kalau kita lihat pertanian secara ekonomi memang kontribusinya hanya 0,1 %. Pertanyaannya, berapa sih kontribusi pertanian yang optimal untuk sebuah perkotaan? itu tidak bisa kita jawab. Tetapi mungkin kita bisa melihat pendekatan yang sederhana. Berapa kebutuhan pangan kita dengan jumlah orang seperti ini kira-kira bisa dihasilkan berapa, dan kontribusinya seperti apa. Itu mungkin kita bisa dapat angka persen yang optimal untuk itu. Tetapi 0,1 persen saja kontribusinya sudah 1,76 triliun. Itukan sudah besar. Walaupun kemudian pertanyaan kita, harusnya bisa lebih besar dari itu. Nah itulah gunanya kita sekarang menyusun grand design. Jadi pertanian itu tidak hanya kita biarkan seperti itu saja tetapi benar-benar kita gunakan seluruh kekuatan kita untuk menjadikan pertanian itu menjadi salah satu kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian kita di Jakarta.

(47)

Kebijakan dan Kegiatan yang Mendukung

Aspek Kebijakan: Aspek Pelaksanaan Kegiatan:

 Instruksi Gubernur No. 131 Tahun 2016 tentang OptimalisasiPengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa

 Instruksi Gubernur No. 91 Tahun 2016 tentang Pembinaan dan Pendampingan Lokasi Program Kampung Iklim

 Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 2441 Tahun 2016 tentang Pemanfaatan Tanah Seluas 16.628 M² yang masih kosong

 dll

 DKPKP: Gang Hijau. Kebun Bibit, Green House, RPTRA, Demo Plot pertanian  DLH: Proklim

 Disdik: Sekolah Adiwiyata

 Dinas Tata Kota: peruntukan ruang pertanian

 Jakarta Berkebun: berkebun  MURIA: pertanian kota  PMI: pertanian kota

Kita sudah punya banyak kebijakan. Ada Instruksi Gubernur, ada Keputusan Gubernur. DKPKP sudah melaksanakan banyak hal. Ada gang hijau, kebun bibit, green house, RPTRA, macam-macam. Lingkungan hidup ada Proklim, Sekolah Adiwiyata. Lalu ada peruntukan ruang pertanian di tata ruang, dan seterusnya. Jadi regulasinya sudah ada, pelaksanaan di lapangan sudah ada, tetapi memang kita harus lebih baik lagi ke depan. Tentunya melalui penyusunan Grand Design ini kita bisa secara baik melaksanakannya.

Hidropinikdi Kantor DKPKP Provinsi DKI Jakarta

Kita punya contoh-contoh seperti saya bilang tadi. Ketika saya perlihtakan foto-fotonya banyak orang kaget, “Ternyata di Jakarta sudah maju”.

Kesimpulan saat ini:

• Petani banyak beralih dari tanaman pangan (padi) ke sayuran penurunan luas lahan padi dan penambahan luas lahan sayuran

• Produksi padi (kurang dari 600 ton) tidak cukup memenuhi pangan 10 juta lebih warga Jakarta

• Pertanian masih berdampak pada kehidupan sekitar 12.000 rumah tangga • Kebijakan sudah dibuat untuk mendukung pertanian di DKI Jakarta

(48)

Kesimpulan kita adalah sebenarnya banyak petani beralih dari padi ke sayuran karena sayuran itu nilainya lebih tinggi kalau di perkotaan. Kita harus hati-hati juga. Di dalam konteks pertanian perkotaan kita harus memastikan ada konteks bagaimana kita menyediakan makanan utama dan juga makananyang sifatnya sayur-sayuran. Kemudian produksi padi kurang dari 600 ton dan itu tidak cukup memenuhi pangan 10 juta lebih warga Jakarta. Jangan lupa, setiap hari kita ketambahan 3 juta orang dan itu butuh makan. Tiga juta orang setiap hari datang ke Jakarta, hidup di Jakarta, makan. Itu sama kira-kira penduduk Surabaya pindah ke Jakarta setiap pagi, dan pulang lagi ke Surabaya setiap sore. 3 juta orang itu butuh makan, minum, butuh semua hal.

Nah kemudian pertanian masih berdampak pada kehidupan sekitar 12.000 rumah tangga. Ternyata masih ada rumah tangga yang benar-benar kehidupannya bergantung kepada pertanian perkotaan. Yang lucu ketika saya presentasi di Amerika mengenai urban farming, saya berpikir yang datang petani-petani, ternyata yang datang keren-keren, cantik-cantik. Jadi yang datang adalah orang-orang yang bukan seperti petani. Jadi di sisi lain, sebenarnya pertanian ini sudah memiliki nilai tambah yang besar, cuman bersentuhan dengan apa yang dibuat oleh pemerintah.

Tantangan Pelaksanaan Pertanian Kota Di DKI Jakarta

(49)

Kemudian apa tantangan pelaksanaan pertanian kota Di DKI Jakarta? Kita sebenarnya melihat banyak hal. Berbicara mengenai urban farming, kita sebenarnya berbicara mengenai tidak hanya produksi pertanian, tidak hanya ketahanan pangan, tetapi juga kita berbicara mengenai Ruang Terbuka Hijau. Di Jakarta kita masih butuh sekitar 10% untuk Ruang Terbuka Hijau untuk publik. Itu sekitar 6 ribu hektar. 6 ribu hektar di Jakarta saya tidak tahu berapa triliun uang yang harus dikeluarkan untuk menyediakan Ruang Terbuka Hijau.

Ruang Terbuka Hijau itu fungsinya untuk resapan air, dan untuk iklim mikro. Jadi menurunkan suhu setempat. Nah ketika berbicara mengenai iklim mikro, sebenarnya tidak harus Ruang Terbuka Hijau, kita bisa membuat green wall. Di luar negeri banyak gedung-gedung yang ditutupi tumbuhan. Di MT Harmoni, ada gedung yang tertutup tumbuhan, itu bisa menggantikan salah satu fungsi RTH, yaitu menyerap emisi gas. Sebenarnya kita bisa berhitung kebutuhan RTH itu tidak sebesar itu seharusnya, karena dalam konteks mengurangi emisi gas rumah kaca, kita bisa lewat green wall, bisa lewat tanaman-tanaman yang kita laksanakan lewat urban farming.

Termasuk juga tentunya mengenai ruang terbuka itukan sudah disediakan oleh RPTRA. RPTRA kan banyak sekarang, sudah ratusan. Dan itu sebenarnya menggantikan salah satu fungsi dari RTH. Nah kemudian tantangan kita yang lain adalah alih fungsi lahan pertanian. Kita jangan berpikir horizontal, tetapi seharusnya mulai berpikir tindakan yang sifatnya vertikal. Kita sekarang sudah punya Grand Design Green Building.

Bagaimana kemudian bangunan-bangunan kita menjadi jauh bisa dimanfaatkanuntuk

urban farming.

Nah kemudian pertanian kota, kekuatannya misalnya kebijakan sudah ada. Contohnya sudah banyak, bahkan sudah cukup banyak rumah tangga pertanian. Tetapi memang kelemahan kita pemerintah ini kan terbatas. Kalau pemerintah saja yang melakukan tidak akan selesai. Sehingga tentunya kita perlu melakukan optimalisasi kekuatan yang kita miliki dengan melibatkan teman-teman luar pemerintah dan punya rencana jangka

Gambar

Figure 1. Dr. Ir. Oswar M. Mungkasa, MURP, Deput Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, membuka lokakarya penyusunan desain besar pertanian kota DKI Jakarta
Figure 2. Diskusi Kelompok Terarah guna membahas isu-isu strategis pertanian kota DKI Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Riwayat Penerimaan Dosis Radiasi Personil Riwayat dosis yang diterima oleh setiap pekerja radiasi yang menangani kegiatan produksi radioisotop (RI), produksi radiofarmaka (RF),

Informasi yang lebih rinci untuk masing-masing fungsi tersedia pada bab lain dalam panduan ini, atau di layar HP Image Zone Help [Bantuan HP Image Zone] yang menyertai perangkat

masing sebanyak 100 µL menggunakan pipet eppendorf larutan contoh yang telah siap dianalisis lalu dimasukkan ke dalam tabung analisis yang telah berisi 50 mL larutan SnCl 2 10

ETNOBOTANI MASYARAKAT DESA SAHAM (Studi Kasus di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak, Kalimantan Barat). (2019).PEMANFAATAN BAHAN PANGAN MASYARAKAT DESA

Berdasarkan identifikasi dan refleksi kesesuaian terhadap distribusi populasi pada histogram, scatter plot dan ternary diagram serta merujuk pada teori dasar laterisasi

Mulai tahun 2013, sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 30 tahun 2012 tentang Tata Cara Pengelolaan Dana Cadangan Penjaminan Dalam Rangka

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Pajak Pertambahan Nilai memungkinkan masih banyak Wajib Pajak yang belum paham dengan tata cara pemungutan, penyetoran, dan