• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Faktor Makro Ekonomi Terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Faktor Makro Ekonomi Terhadap"

Copied!
269
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH FAKTOR MAKRO EKONOMI TERHADAP

IMBAL HASIL SAHAM-SAHAM JAKARTA ISLAMIC

INDEX (JII) PERIODE 1995 S.D. 2004 MENGGUNAKAN

ARBITRAGE PRICING THEORY (APT)

Diajukan sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar Magister Sains (M.Si)

Ekonomi dan Keuangan Syariah

pada Program Studi Timur Tengah dan Islam

Program Pascasarjana Universitas Indonesia

Oleh :

Dwitya Estu Nurpramana

7103910196

EKONOMI DAN KEUANGAN SYARIAH

PROGRAM STUDI TIMUR TENGAH DAN ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS INDONESIA

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN TESIS

Nama Mahasiswa

:

Dwitya Estu Nurpramana

NPM :

7103910196

Kekhususan

:

Ekonomi dan Keuangan Syariah

Konsentrasi (EKS)

:

Investasi Syariah

Judul Tesis

: Pengaruh Faktor Makro Ekonomi Terhadap Imbal

Hasil Saham-Saham Jakarta Islamic Index (JII)

Periode 1995 s.d. 2004 Menggunakan Arbitrage

Pricing Theory (APT)

Tanggal disetujui

:

22 Juni 2005

Pembimbing

Tesis

(Dr. Muhammad Muslich, MBA)

Ketua Program Studi

(3)

Panitia Sidang Ujian Tesis

Program Pascasarjana Universitas Indonesia

Program Studi Timur Tengah Dan Islam

Hari/tanggal sidang

:

Nama Mahasiswa

:

Dwitya Estu Nurpramana

NPM :

7103910196

Judul Tesis

: Pengaruh Faktor Makro Ekonomi Terhadap Imbal

Hasil Saham-Saham Jakarta Islamic Index (JII)

Periode 1995 s.d. 2004 Menggunakan Arbitrage

Pricing Theory (APT)

Ketua

Sidang,

Sekretaris

Sidang,

(...) (...)

Pembimbing,

Penguji,

(Dr. Muhammad Muslich, MBA)

(...)

Reader/Pembaca Ahli

(4)

RIWAYAT HIDUP

Nama

:

Dwitya Estu Nurpramana

Jenis Kelamin

:

Laki-laki

Tempat/Tanggal Lahir

:

Yogyakarta, 10 Agustus 1979

Alamat

:

Jl. Bungur Raya Gg. Kadiman Buntu No. 8, Gunung

Sahari, Jakarta Pusat

Pendidikan :

2001

2002

: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah,

Jakarta

1997 – 2000

:

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta

1994 – 1997

:

SMA 3 Yogyakarta

1991 – 1994

:

SMP 8 Yogyakarta

1985 – 1991

: SD

Muhammadiyah

Ambarketawang

VIII,

Sidoarum, Godean, Sleman

Pekerjaan :

2000

2004

: Staf Subdirektorat Pengelolaan Kredit Program,

Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman,

Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan,

Departemen Keuangan

2004

sekarang

: Staf Subdirektorat Pengelolaan Kredit Program,

Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman,

Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Departemen

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya berkat

rahmat dan karunia-Nya akhirnya saya dapat menyelesaikan karya akhir ini.

Penulisan karya akhir ini dibuat untuk memenuhi syarat menyelesaikan studi pada

Program Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia.

Saya menyadari bahwa penulisan karya akhir ini masih jauh dari

sempurna, karena keterbatasan waktu dan pengetahuan saya mengenai berbagai

permasalahan investasi pada pasar modal terutama pasar modal syariah. Penulisan

karya akhir ini tidak mungkin berjalan dengan lancar tanpa bantuan berbagai

pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu dengan tulus hati

saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam penyusunan karya akhir ini, yaitu:

1. Bapak Mustafa Edwin Nasution, Ph. D, selaku Ketua Program Studi Timur

Tengah dan Islam Universitas Indonesia.

2. Bapak Dr. Muhammad Muslich, selaku dosen pembimbing yang telah

meluangkan waktu dan memberikan masukan serta pengarahan hingga

selesainya karya akhir ini.

3. Dosen-dosen PSTTI yang telah membagi ilmu dan pengetahuan yang dimiliki

hingga menambah wawasan saya di bidang keuangan dan syariah.

4. Ayah Nurrachmat, Bunda Eny, De’ Fadli, dan seluruh keluarga di Jogja, yang

telah banyak membantu memberikan dukungan moral dan sprirituil kepada

saya dalam menyelesaikan karya akhir ini.

5.

Vina, yang selalu memberikan inspirasi dan tidak bosan-bosannya

menyediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesah saya dalam

mengerjakan karya tulis ini

6.

Pak Slamet, Bu Endang, Selly, dan Endi’ di Kediri, yang telah membantu dan

memberi dorongan semangat untuk menyelesaikan karya akhir ini.

7.

Bapak Teguh dan Bapak Andar, yang telah memberikan ijin untuk

menggunakan fasilitas kantor untuk menyelesaikan karya akhir ini.

8.

Rekan-rekan Subdirektorat Pengelolaan Kredit Program, Departemen

(6)

Idris, Hendi, Trisna, Ipung, Ramli, dan Ronald) yang tidak bosan-bosannya

melihat saya ngeprint karya tulis ini di kantor, makasih atas sikap maklumnya.

9.

Rekan-rekan seperjuangan bimbingan (Pak Mangku, Pak Nazwar, Pak Agus,

Mas Habib, Dina, Anita, Desti, Bu Aida, Ali, dan Indira), yang selalu

memberikan informasi kalo ada bimbingan (jangan putus asa ya, memang

capek kok kalo jadi mahasiswa).

10.

Semua teman-teman PSTTI Angkatan V, yang selalu menghadirkan keceriaan

di kala kuliah maupun tidak, makasih.

11.

Mas Ferri, Mas Hidayat, Mas Erwin, Mbak Herlin, Mbak Tuti’, dan Dedi,

yang tidak bosan-bosannya melihat saya mondar-mandir di sekretariat PSTTI

dan kesabaran atas kebawelan saya, makasih ya mas, makasih ya mbak.

12.

Bapak-bapak dan ibu-ibu Pegawai Perpustakaan BI, yang telah memberikan

kesempatan dan waktu untuk memperoleh data.

13.

Teman-teman di Salin Sinar, yang telah banyak menyediakan material kuliah

dan makasih atas kesabarannya ketemu dengan saya (jangan bosan ya, masih

boleh ngutang kan?).

14.

Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis baik

langsung maupun tidak langsung.

Saya menyadari banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan karya akhir

ini. Segala kritik, saran dan masukan yang membangun sangat diharapkan guna

menyempurnakan karya akhir ini. Semoga karya akhir ini dapat memberikan

manfaat kepada semua pihak yang memerlukannya.

Jakarta, Juni 2005

(7)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Jakarta Islamic Index (JII) sebagai salah satu indeks di BEJ yang

mengelompokkan saham-saham terpilih yang sesuai dengan syariah Islam,

diciptakan karena tuntutan pasar yang menghendaki bahwa perlu adanya tolok

ukur dalam investasi saham sesuai dengan syariah di pasar modal. Melalui JII

diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk mengembangkan

investasi dalam pasar modal syariah.

Saham-saham perusahaan yang termasuk kategori syariah yang tercatat di

BEJ mempunyai daya tahan yang berbeda terhadap pengaruh yang bersifat

eksternal. Artinya tingkat sensitivitas setiap perusahaan (saham) terhadap

pengaruh pasar/ekonomi sangat berbeda. Bagi suatu perusahaan yang sangat

sensitif terhadap pengaruh pasar/ekonomi mempunyai risiko yang sangat tinggi

dan sebaliknya. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dipengaruhi

oleh faktor-faktor yang bersifat systematic dan unsystematic, sedangkan fluktuasi

harga saham dalam batas-batas tertentu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor

tersebut. Faktor-faktor yang bersifat systematic merupakan faktor-faktor yang

mempengaruhi semua perusahaan atau industri, sedangkan faktor-faktor yang

bersifat unsystematic adalah spesifik dan hanya mempengaruhi perusahaan atau

industri tertentu saja. Risiko sistematis ditentukan oleh besar kecilnya koefisien

beta yang menunjukkan tingkat kepekaan harga suatu saham terhadap harga

saham secara keseluruhan di pasar. Risiko ini berkaitan dengan risiko ekonomi

secara keseluruhan. Selanjutnya risiko tidak sistematis merupakan risiko yang

timbul karena faktor-faktor mikro yang dijumpai pada perusahaan atau industri

tertentu. Faktor-faktor tersebut antara lain struktur modal, struktur aktiva, dan

tingkat likuiditas perusahaan.

Dalam penelitian ini, fokus penelitian adalah pada analisa fundamental

khususnya berkenaan dengan dampak dari kondisi makroekonomi sebagai

pengaruh eksternal yang mempengaruhi risiko sistematis terhadap imbal hasil

saham-saham JII di BEJ. Penelitian ini menggunakan multiple regression

(8)

saham-saham yang masuk JII posisi 30 Desember 2004 yang telah terdaftar sejak

sebelum tahun 1995. Periode penelitian ini adalah dari tahun 1995 s.d. 2004

dengan runtun data triwulanan (quarterly).

Pada pengujian diperoleh hasil bahwa dari 21 saham yang diuji

menggunakan model multiple regression Arbitrage Pricing Theory ternyata

terdapat 15 imbal hasil saham yang terpengaruh secara signifikan pada tingkat

siginifikansi 5% (dilihat dari uji F) yaitu BNBR, BRPT, BUMI, CTRA, DNKS,

EPMT, GJTL, INDF, KLBF, MLPL, SMCB, SMGR, TRST, TSPC, dan UNTR

(dengan nilai R

2

sebesar 13,32% - 44,64%). Sedangkan 6 imbal saham yang lain

yaitu ASGR, INCO, INTP, ISAT, SMRA, dan UNVR tidak terpengaruh secara

signifikan pada tingkat signifikansi 5% (dilihat dari uji F).

Secara individual dari ketiga variabel makro ekonomi tersebut, yang

berpengaruh terhadap imbal hasil saham-saham JII dengan tingkat signifikansi 5%

(dilihat dari uji t) untuk suku bunga SBI berpengaruh terhapap imbal hasil

sebanyak 6 saham (BRPT, INDF, ISAT, SMCB, TSPC, dan UNTR). Sedangkan

laju inflasi berpengaruh sebanyak 4 saham (BUMI, KLBF, SMCB, dan SMGR)

dan untuk pertumbuhan PNB berpengaruh sebanyak 9 saham (BUMI, CTRA,

DNKS, EPMT, GJTL, KLBF, SMCB, TSPC, dan UNTR). Sehingga dari hasil

regresi tersebut dapat diketahui bahwa variabel makro ekonomi yang paling

banyak berpengaruh terhadap imbal hasil saham-saham JII adalah pertumbuhan

PNB, dibandingkan dengan suku bunga SBI dan laju inflasi.

Berdasarkan model yang diperoleh, korelasi antara variabel suku bunga

SBI dan imbal hasil saham-saham JII adalah negatif, sedangkan laju inflasi dan

pertumbuhan PNB dengan imbal hasil saham-saham sebagian besar berkorelasi

positif.

Disarankan kepada investor agar menggunakan APT sebagai dasar

pertimbangan investasi. Dengan APT, investor dapat lebih akurat dalam

menganalisis saham mana yang layak dijadikan investasi jika terjadi arbitrase

harga. Selain itu, agar diperoleh analisis yang lebih akurat, dalam penggunaan

APT sebaiknya ditambahkan variabel makroekonomi lain yang juga berpengaruh

terhadap imbal hasil saham seperti nilai tukar mata uang, imbal hasil obligasi

(9)

ABSTRAKSI

Jakarta Islamic Index (JII) sebagai salah satu indeks di Bursa Efek Jakarta

(BEJ) yang mengelompokkan saham-saham yang terpilih yang sesuai dengan

syariah Islam, yang diciptakan karena tuntutan pasar sebagai tolok ukur dalam

investasi yang sesuai syariah di pasar modal. Perusahaan-perusahaan yang

sahamnya tercatat tersebut sangat sensitif terhadap perubahan makro ekonomi,

yang juga mempengaruhi kemampuannya dalam menghasilkan laba. Perubahan

faktor makro ekonomi merupakan risiko yang harus dihadapi oleh perusahaan,

yang disebut sebagai risiko sistematis. Selain risiko sistematis, juga ada risiko

tidak sistematis yang tergantung pada kegiatan usaha dari perusahaam. Dalam

penelitian ini digunakan metode Arbitrage Pricing Theory (APT) untuk

mengetahui pengaruh perubahan variabel makro ekonomi dalam hal ini adalah

suku bunga SBI, laju inflasi, dan pertumbuhan PNB terhadap imbal hasil

saham-saham JII dengan periode penelitian 1995-2004.

(10)

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan Tesis

i

Lembar Pengesahan Tesis

ii

Riwayat Hidup

iii

Kata Pengantar

iv

Ringkasan Eksekutif

vi

Abstraksi

viii

Daftar Isi

xi

Daftar Tabel

xii

Daftar Gambar

xv

Daftar Lampiran

xvi

BAB I. PENDAHULUAN

2.3.

Bursa Saham Dalam Pandangan Islam

16

2.4.

Jakarta Islamic Index (JII) 25

2.5.

Faktor-faktor Sebagai Indikator Makro Ekonomi

26

2.6.

Pengaruh Variabel Makroekonomi terhadap Imbal Hasil Saham

30

2.7.

Arbitrage Pricing Theory (APT) 32

2.8.

Model Penelitian

35

2.9.

Perhitungan Variabel Yang Digunakan Dalam Model Penelitian 36

BAB III. DATA DAN METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Deskripsi Penelitian

38

3.2.

Data Penelitian

38

3.3.

Penyusunan Data

38

3.4.

Pengolahan dan Interpretasi Data

40

3.5.

Alat Bantu Pengolahan Data

42

3.6.

Sistematika Penelitian

42

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Sistematika Analisis dan Pembahasan

44

4.2.

Uji Stationaritas

44

4.3.

Pemodelan dan Analisis Data Dengan Parsial dan

Multi Regresi APT

45

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan 104

5.2.

Saran 105

DAFTAR PUSTAKA

106

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel

Hal.

3.1

Statistik Deskriptif Data Penelitian

40

4.1

ADF Test – Critical Value Ordo 0

45

4.2

Regresi Parsial Variabel Makro Ekonomi Terhadap

Imbal

Hasil

ASGR

46

4.3

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil ASGR

47

4.4 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil BNBR

49

4.5

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil BNBR

50

4.6 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil BRPT

52

4.7

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil BRPT

53

4.8 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil BUMI

55

4.9

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil BUMI

56

4.10 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil CTRA

58

4.11

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil CTRA

58

4.12 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil DNKS

60

4.13

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil DNKS

61

4.14 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil EPMT

63

4.15

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

(12)

Tabel

Hal.

4.16 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil GJTL

66

4.17

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil GJTL

67

4.18 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil INCO

69

4.19

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil INCO

70

4.20 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil INDF

72

4.21

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil INDF

72

4.22 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil INTP

74

4.23

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil INTP

75

4.24 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil ISAT

77

4.25

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil ISAT

78

4.26 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil KLBF

80

4.27

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil KLBF

80

4.28 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil MLPL

82

4.29

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil MLPL

83

4.30 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil SMCB

85

4.31

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

(13)

Tabel

Hal.

4.32 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil SMGR

88

4.33

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil SMGR

89

4.34 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil SMRA

90

4.35

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil SMRA

91

4.36 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil TRST

93

4.37

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil TRST

94

4.38 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil TSPC

96

4.39

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil TSPC

97

4.40 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil UNTR

99

4.41

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil UNTR

100

4.42 Regresi

Parsial

Variabel Makro Ekonomi

Terhadap Imbal Hasil UNVR

110

4.43

Regresi Multi Variabel Makro Ekonomi

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Hal.

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Hal.

1

Data Suku Bunga Sbi, Laju Inflasi, Dan Pertumbuhan PNB

L-1

2

Data Harga Saham Dan Imbal Hasil Saham-Saham Jakarta Islamic

Index

(JII) Periode 1995 S.D. 2004

L-2

3 A.

Saham-saham

Jakarta Islamic Index (JII) Posisi 30 Desember 2004

L-9

B. Deskriptif Statistik Data

L-10

(16)

Lampiran

Hal.

28

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil ASGR

L-35

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil ASGR

L-35

29

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil ASGR

L-36

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil ASGR

L-36

30

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil ASGR

L-37

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil ASGR

L-37

31

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil ASGR

L-38

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil ASGR

L-38

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil ASGR

L-39

32

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil BNBR

L-40

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil BNBR

L-40

33

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil BNBR

L-41

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil BNBR

L-41

34

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil BNBR

L-42

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil BNBR

L-42

35

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil BNBR

L-43

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil BNBR

L-43

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil BNBR

L-44

36

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil BRPT

L-45

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil BRPT

L-45

37

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil BRPT

L-46

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil BRPT

L-46

38

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil BRPT

L-47

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil BRPT

L-47

39

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil BRPT

L-48

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil BRPT

L-48

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil BRPT

L-49

40

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil BUMI

L-50

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil BUMI

L-50

41

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil BUMI

L-51

(17)

Lampiran Hal.

42

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil BUMI

L-52

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil BUMI

L-52

43

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil BUMI

L-53

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil BUMI

L-53

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil BUMI

L-54

44

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil CTRA

L-55

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil CTRA

L-55

45

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil CTRA

L-56

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil CTRA

L-56

46

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil CTRA

L-57

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil CTRA

L-57

47

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil CTRA

L-58

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil CTRA

L-58

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil CTRA

L-59

48

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil DNKS

L-60

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil DNKS

L-60

49

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil DNKS

L-61

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil DNKS

L-61

50

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil DNKS

L-62

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil DNKS

L-62

51

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil DNKS

L-63

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil DNKS

L-63

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil DNKS

L-64

52

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil EPMT

L-65

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil EPMT

L-65

53

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil EPMT

L-65

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil EPMT

L-65

54

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil EPMT

L-67

(18)

Lampiran Hal.

55

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil EPMT

L-68

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil EPMT

L-68

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil EPMT

L-69

56

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil GJTL

L-70

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil GJTL

L-70

57

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil GJTL

L-71

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil GJTL

L-71

58

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil GJTL

L-72

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil GJTL

L-72

59

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil GJTL

L-73

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil GJTL

L-73

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil GJTL

L-74

60

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil INCO

L-75

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil INCO

L-75

61

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil INCO

L-76

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil INCO

L-76

62

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil INCO

L-77

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil INCO

L-77

63

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil INCO

L-78

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil INCO

L-78

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil INCO

L-79

64

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil INDF

L-80

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil INDF

L-80

65

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil INDF

L-81

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil INDF

L-81

66

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil INDF

L-82

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil INDF

L-82

67

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil INDF

L-83

(19)

Lampiran Hal.

68

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil INTP

L-85

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil INTP

L-85

69

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil INTP

L-86

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil INTP

L-86

70

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil INTP

L-87

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil INTP

L-87

71

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil INTP

L-88

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil INTP

L-88

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil INTP

L-89

72

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil ISAT

L-90

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil ISAT

L-90

73

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil ISAT

L-91

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil ISAT

L-91

74

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil ISAT

L-92

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil ISAT

L-92

75

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil ISAT

L-93

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil ISAT

L-93

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil ISAT

L-94

76

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil KLBF

L-95

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil KLBF

L-95

77

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil KLBF

L-96

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil KLBF

L-96

78

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil KLBF

L-97

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil KLBF

L-97

79

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil KLBF

L-98

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil KLBF

L-98

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil KLBF

L-99

80

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil MLPL

L-100

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil MLPL

L-100

81

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil MLPL

L-101

(20)

Lampiran Hal.

82

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil MLPL

L-102

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil MLPL

L-102

83

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil MLPL

L-103

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil MLPL

L-103

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil MLPL

L-104

84

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil SMCB

L-105

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil SMCB

L-105

85

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil SMCB

L-106

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil SMCB

L-106

86

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil SMCB

L-107

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil SMCB

L-107

87

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil SMCB

L-108

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil SMCB

L-108

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil SMCB

L-109

88

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil SMGR

L-110

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil SMGR

L-110

89

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil SMGR

L-111

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil SMGR

L-111

90

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil SMGR

L-112

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil SMGR

L-112

91

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil SMGR

L-113

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil SMGR

L-113

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil SMGR

L-114

92

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil SMRA

L-115

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil SMRA

L-115

93

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil SMRA

L-116

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil SMRA

L-116

94

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil SMRA

L-117

(21)

Lampiran Hal.

95

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil SMRA

L-118

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil SMRA

L-118

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil SMRA

L-119

96

A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil TRST

L-120

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil TRST

L-120

97

A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil TRST

L-121

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil TRST

L-121

98

A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil TRST

L-122

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil TRST

L-122

99

A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil TRST

L-123

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil TRST

L-123

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil TRST

L-124

100 A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil TSPC

L-125

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil TSPC

L-125

101 A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil TSPC

L-126

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil TSPC

L-126

102 A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil TSPC

L-127

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil TSPC

L-127

103 A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil TSPC

L-128

B.

Uji

White Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil TSPC

L-128

C. Uji Multikolinearitas Regresi Multi Variabel – Imbal Hasil TSPC

L-129

104 A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil UNTR

L-130

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil UNTR

L-130

105 A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil UNTR

L-131

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil UNTR

L-131

106 A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil UNTR

L-132

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil UNTR

L-132

107 A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil UNTR

L-133

(22)

Lampiran Hal.

108 A. Regresi Parsial Variabel FSBI Terhadap Imbal Hasil UNVR

L-135

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FSBI – Imbal Hasil UNVR

L-135

109 A. Regresi Parsial Variabel FINF Terhadap Imbal Hasil UNVR

L-136

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil UNVR

L-136

110 A. Regresi Parsial Variabel FPNB Terhadap Imbal Hasil UNVR

L-137

B.

Uji

White Regresi Parsial Variabel FINF – Imbal Hasil UNVR

L-137

111 A. Regresi Parsial Multi Variabel Terhadap Imbal Hasil UNVR

L-138

(23)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Iklim investasi yang kondusif cenderung dikaitkan dengan perbaikan indikator

makroekonomi. Di Indonesia, pada tahun 2004 saat kondisi dimana tren

penurunan suku bunga perbankan serta inflasi yang stabil di

level

empat sampai

enam persen, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung stabil

maka investasi di pasar modal merupakan alternatif investasi yang menarik karena

cenderung memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi daripada investasi

di pasar uang.

Indonesia hingga saat ini memiliki dua pasar modal yaitu Bursa Efek

Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). BEJ mempunyai kapitalisasi pasar

yang lebih besar karena perusahaan yang tercatat di BEJ lebih banyak dibanding

dengan BES, sehingga BEJ lebih sering digunakan sebagai tolok ukur

(benchmark) investasi saham di Indonesia dan Indeks Harga Saham Gabungan

(IHSG) sebagai indeks gabungan seluruh saham yang tercatat di BEJ sebagai

salah satu indikator dalam perekonomian Indonesia.

Selain IHSG, terdapat juga indeks-indeks saham yang lain yang

merupakan tolok ukur terhadap kinerja saham pada maing-masing kelompok

indeks. Salah satu indeks tersebut adalah Jakarta Islamic Index (JII),

menggunakan saham-saham yang terpilih yang sesuai dengan syariah Islam.

JII diciptakan karena tuntutan pasar yang menghendaki bahwa perlu

adanya tolok ukur dalam investasi saham sesuai dengan syariah di pasar modal.

Melalui JII diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk

mengembangkan investasi dalam pasar modal syariah.

Investasi baik yang sesuai dengan syariah atau tidak merupakan suatu

kegiatan menempatkan dana pada satu atau lebih aset selama periode tertentu

dengan harapan dapat memperoleh pendapatan atau peningkatan atas nilai

(24)

hasil (return) yang diharapkan dalam batas risiko yang dapat diterima untuk

tiap-tiap investor.

Seorang investor yang menginvestasikan dana atau kekayaannya pada

saham akan memperoleh dua macam pendapatan atau imbal hasil, yaitu (1)

pendapatan dari peningkatan harga saham yang disebut capital gain, dan (2)

pendapatan berupa pembayaran dividen tunai dari perusahaan kepada para

pemegang saham. Jumlah dari kedua sumber pendapatan tersebut merupakan

perubahan dari total kekayaan yang diinvestasikan pada saham selama periode

kepemilikan tertentu.

Dalam melakukan proses investasi baik di pasar modal syariah atau bukan,

salah satu kendala yang dihadapi oleh investor adalah membentuk portofolio yang

paling menguntungkan sehingga mempunyai tingkat risiko sama dengan risiko

sistematis. Kendala yang sering dihadapi oleh investor tersebut diantaranya

adalah adanya deviasi imbal hasil atau penyimpangan tingkat pengembalian

investasi dari ekspektasi serta adanya volatilitas imbal hasil dari sekuritas atau

portofolio yang disebabkan oleh kondisi pasar modal secara umum.

Kegiatan investasi selalu akan dihadapkan pada dua hal yang berlawanan

yaitu keinginan untuk dapat memaksimalkan keuntungan yang diharapkan pada

satu sisi dan dapat meminimumkan tingkat risiko pada sisi lainnya. Kemungkinan

yang dapat dilakukan adalah bagaimana memaksimalkan keuntungan pada tingkat

risiko tertentu atau bagaimana meminimalkan risiko pada tingkat tertentu. Risiko

terjadi karena perbedaan antara tingkat imbal hasil yang diharapkan dengan

tingkat imbal hasil aktual. Seperti tertulis dalam Quran surat Luqman ayat 34

(25)

yang berarti, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan

tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa

yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan

pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat

mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui

lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34)

Jadi setiap investor dalam berusaha pasti akan dihadapkan pada risiko

yang tidak ia ketahui. Risiko yang harus dihadapi oleh investor dalam pasar bursa

menurut Ross et. al. (hal 263, 2002) terdiri dari dua bagian yaitu risiko tidak

sistematis (unsystematic risk) dan risiko sistematis (systematic risk). Risiko tidak

sistematis adalah risiko yang disebabkan oleh menurunnya kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan laba yang akhirnya akan mempengaruhi

kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dan dividen. Risiko ini dapat

dikendalikan dengan cara diversifikasi aset/saham yang tepat pada suatu

portofolio yang disusun. Sedangkan risiko sistematis yang tidak dapat dihilangkan

dengan cara melakukan diversifikasi dalam penyusunan portofolio, pada

umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal perusahaan. Beberapa risiko

sistematis menurut Jorion (hal. 34-37, 2002) adalah:

a. Risiko daya beli (purchasing power risk), yaitu risiko yang berkaitan dengan

terjadinya inflasi yang menyebabkan nilai riil pendapatan menjadi lebih kecil.

b. Risiko suku bunga (interest rate risk), yaitu risiko yang disebabkan oleh arah

pergerakan suku bunga yang berlawanan dengan harga-harga sekuritas di

pasar modal. Apabila suku bunga naik maka harga-harga sekuritas di pasar

modal akan turun, demikian pula sebaliknya.

c. Risiko pasar (market risk), yaitu kondisi pasar yang berpengaruh terhadap

harga-harga sekuritas, dimana pada saat pasar bergairah (bullish) semua

harga-harga sekuritas umumnya mengalami kenaikan. Sebaliknya bila pasar

dalam keadaan lesu (bearish), maka harga-harga sekuritas akan mengalami

penurunan.

d. Risiko perubahan nilai tukar mata uang (foreign exchange risk), yaitu risiko

yang berkaitan dengan penurunan atau kenaikan nilai tukar mata uang dalam

(26)

Bagi para investor, pengetahuan mendalam tentang dampak perubahan

faktor ekonomi terhadap investasi di pasar modal biasanya dikonsentrasikan pada

tiga hal. Pertama, pengetahuan tentang hubungan antara variabel ekonomi dan

risiko investasi di pasar modal. Kedua, pengetahuan tentang volatilitas dari

variabel ekonomi untuk mengestimasi pengaruhnya terhadap imbal hasil saham.

Informasi ini memungkinkan investor untuk meneliti efek ekonomi secara umum

terhadap imbal hasil saham. Ketiga, pengetahuan dampak dari volatilitas ekonomi

dunia terhadap pasar regional maupun pasar dunia. Hal ini perlu diketahui

sehubungan dengan meningkatnya integrasi pada pasar dunia. Jika dampak

perubahan ekonomi menunjukkan risiko yang meningkat terhadap aset yang

dimilikinya, investor akan mengalihkan asetnya ke negara lain yang mereka lihat

lebih menguntungkan, atau mengubah komposisi portofolio sahamnya sesuai

dengan perubahan risiko.

Selanjutnya, pengetahuan mengenai dampak perubahan faktor makro

ekonomi terhadap imbal hasil saham bagi investor yang ingin menginvestasikan

dananya pada saham yang sesuai syariah (JII) juga harus diketahui oleh para

investor. Maka perlu dikaji seberapa besar pengaruh perubahan variabel-variabel

makro ekonomi, yang dalam hal ini adalah tingkat suku bunga Sertifikat Bank

Indonesia (SBI), laju inflasi, dan pertumbuhan Pendapatan Nasional Bruto (PNB),

terhadap imbal hasil saham-saham JII.

1.2. Pokok Masalah

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dalam karya akhir ini akan diteliti

pengaruh variabel makro ekonomi yaitu tingkat suku bunga SBI, laju inflasi, dan

pertumbuhan PNB terhadap imbal hasil saham-saham pada kelompok JII sebagai

salah satu alternatif dalam investasi yang termasuk kategori syariah di BEJ.

Sedangkan permasalahan-permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan

sebagai berikut:

a. Apakah variabel tingkat suku bunga SBI, laju inflasi, dan pertumbuhan PNB,

berpengaruh terhadap imbal hasil saham-saham JII.

b.

Variabel makro ekonomi manakah yang paling banyak berpengaruh pada

(27)

c.

Bagaimanakah hubungan masing-masing variabel makroekonomi (suku bunga

SBI, laju inflasi, dan pertumbuhan PNB) terhadap imbal hasil saham-saham

JII.

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini

diharapkan dapat memperoleh tujuan sebagai berikut:

a. Mengetahui apakah variabel tingkat suku bunga SBI, laju inflasi, dan

pertumbuhan PNB berpengaruh terhadap imbal hasil saham JII.

b.

Mengetahui variabel makro ekonomi manakah yang paling banyak

berpengaruh terhahadap imbal hasil saham-saham JII.

c.

Mengetahui hubungan masing-masing variabel makroekonomi (suku bunga

SBI, laju inflasi, dan pertumbuhan PNB) terhadap imbal hasil saham-saham

JII.

1.4. Metodologi Penelitian

Beberapa langkah yang akan dilakukan dalam penelitian:

a. Pengumpulan data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder berupa

data runtun waktu (time series) dengan skala triwulanan (quarterly) yang

diambil dari beberapa sumber sebagai berikut:

1. Data triwulanan historis saham kelompok JII berdasarkan posisi 30

Desember 2004 yang telah terdaftar sebelum tahun 1995 yang diperoleh

dari publikasi PT Bursa Efek Jakarta (BEJ), yaitu data publikasi pada

website

www.jsx.co.id

atau pada JSX Monthly Report, dengan rentang

waktu dari Januari 1995 s.d. Desember 2004.

2. Data triwulanan historis suku bunga SBI, inflasi, dan PNB yang diperoleh

dari publikasi Bank Indonesia (BI) pada website www.bi.go.id atau

Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI), dengan rentang waktu

(28)

b.

Pengolahan

Data

Mengelompokkan data saham-saham JII dari Januari 1995 s.d. Desember

2004. Data tersebut kemudian ditransformasi ke dalam bentuk difference

equation untuk memperoleh masing-masing imbal hasil saham-saham JII, dan

Menghitung surprise factor dari variable SBI, inflasi, dan PNB dengan

rentang waktu Januari 1995 s.d. Desember 2004, sebagai variabel yang

mempengaruhi imbal hasil saham-saham JII.

c.

Analisis

Data

Data yang sudah berbentuk imbal hasil dan surprise factor diuji dengan

menggunakan metode Dickey-Fuller test untuk menentukan apakah data

tersebut telah berada dalam kondisi stationary. Setelah diperoleh data yang

stationary, kemudian model dibentuk berdasarkan multiple regression

Arbitrage Pricing Theory (APT) dimana variabel bebas (independent) yang

digunakan adalah faktor makroekonomi (surprise factor dari tingkat suku

bunga SBI, laju inflasi, dan pertumbuhan PNB), dan imbal hasil saham-saham

JII sebagai variabel terikat (dependent). Setelah model terbentuk maka

dilakukan tes signifikansi terhadap koefisien model, untuk selanjutnya

dilakukan pengujian autocorrelation, heteroscedasticity, dan multicollinearity

untuk memastikan bahwa model telah terbebas dari autocorrelation,

heteroscedasticity, dan multicollinearity.

1.5. Sistematika Penulisan

Susunan dari karya akhir ini terdiri dari 5 bab dimana masing-masing bab

berisikan uraian sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan

Bab ini menguraikan latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan penelitian,

metode penelitian dan sistematika penulisan karya akhir ini. Maksud dari bab ini

adalah memberikan gambaran umum mengenai isi keseluruhan dari karya akhir

(29)

Bab II : Kajian Teori

Topik utama yang akan dibahas pada bab ini adalah teori-teori yang berhubungan

dengan penelitian, Arbitrage Pricing Theory (APT), model penelitian berdasarkan

APT, dan teori yang berhubungan tentang analisis model.

Bab III : Data dan Metodologi Penelitian

Untuk menyelesaikan pokok permasalahan diperlukan metodologi penelitian yang

merupakan langkah-langkah dalam melakukan pengujian terhadap data yang ada.

Secara garis besar pembahasan meliputi proses pengumpulan dan pengolahan data

dan gambar flowchart pada bagian akhir dari bab ini diharapkan mampu

merangkum keseluruhan uraian pada bab metodologi penelitian ini.

Bab IV : Analisis dan Pembahasan

Dari hasil pengolahan data, maka dilakukan analisis terhadap hasil yang didapat

dari penelitian. Bab ini memberikan interpretasi data atau model yang diperoleh

dengan menggunakan metodologi penelitian seperti pada Bab III.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini merupakan penutup dari penulisan karya akhir ini. Memberikan

kesimpulan yang diambil berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penjelasan

mengenai keterbatasan dan kekurangan yang ditemui dalam penelitian, serta saran

yang dapat digunakan sebagai solusi dan kemungkinan pengembangan lebih lanjut

(30)

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1.

Investasi

Di bawah ini akan dijelaskan mengenai pengertian dari investasi, tujuan dari

investasi, proses untuk melakukan investasi, alternatif investasi, dan

prinsip-prinsip investasi menurut syariah Islam,

a.

Pengertian Investasi

Beberapa definisi mengenai yang pada dasarnya memiliki pengertian yang sama,

diuraikan sebagai berikut:

1.

Menurut Kamarudin (hal. 3, 1996) investasi adalah menempatkan uang atau

dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu

atas uang atau dana tersebut.

2.

Penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam produksi yang

efisien selama periode waktu tertentu. Definisi ini dikemukaan oleh

Jogiyanto (hal. 5, 2000).

3.

Dalam bukunya, Harianto et al. (hal. 56, 1998) berpendapat bahwa investasi

merupakan kegiatan penggunaan modal atau penempatan dana untuk

memperoleh tambahan pendapatan baik melalui investasi langsung yang

menghasilkan barang dan jasa maupun melalui investaso tidak langsung

yang menghasilkan

capital gain

.

4.

Sedangkan menurut Jones (hal. 3, 2002) investasi merupakan suatu kegiatan

melakukan penundaan konsumsi pada masa sekarang untuk digunakan

melakukan aktifitas yang akan memberikan nilai tambah terhadap aset yang

dimiliki pada masa yang akan datang.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Investasi

merupakan suatu kegiatan menempatkan dana pada satu atau lebih aset selama

periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh pendapatan atau peningkatan

atas nilai investasi awal/modal (Cooper, hal. 289, 1983).

b.

Tujuan Investasi

Pada dasarnya tujuan investasi adalah mendapatkan keuntungan di masa yang

akan datang. Namun secara terperinci Kamarudin (hal. 12, 1996), menerangkan

(31)

1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa yang akan datang.

Seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf

hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya bagaimana untuk

mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak

berkurang dimasa yang akan datang.

2.

Mengurangi tekanan

inflasi

. Dengan melakukan investasi dalam pemilikan

perusahaan atau objek lain, seseorang dapat menghindarkan diri agar

kekayakan atau harta miliknya tidak merosot nilainya karena digerogoti oleh

inflasi

.

2.

Dorongan untuk menghemat pajak. Beberapa negara didunia banyak

melakukan kebijaksanaan yang sifatnya mendorong tumbuhnya investasi

dimasyarakat melalui fasilitas perpajakan yang diberikan kepada masyarakat

yang melakukan investasi pada bidang usaha-usaha tertentu.

c.

Proses Investasi

Proses investasi berkenaan dengan bagaimana seharusnya seorang

investor

membuat keputusan mengenai pemilihan investasi, yaitu aset mana yang akan

dipilih untuk menempatkan dana, berapa jumlah yang diinvestasi, dan kapan

investasi seharusnya dilakukan.

Oleh karena itu dibutuhkan langkah yang harus dilakukan

investor

sebelum

melakukan keputusan investasi, langkah-langkah tersebut menurut Husnan (hal

47, 1998), yaitu :

1.

Menentukan kebijakan investasi

Besarnya jumlah dana yang diinvestasikan akan sangat berpengaruh

terhadap keuntungan yang diharapkan dan risiko yang ditanggung. Sehingga

dalam tahap ini investor harus menentukan tujuan investasi, dan berapa

banyak investasi tersebut akan dilakukan.

2.

Analisis sekuritas

Melakukan analisis terhadap individual atau sekelompok sekuritas dengan

(32)

3.

Pembentukan portofolio

Portofolio berarti sekumpulan investasi. Maka investor perlu

mengidentifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih dan berapa

proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut.

Pemilihan banyak sekuritas ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko.

4.

Melakukan revisi portofolio

Bila menurut investor portofolio yang ada sekarang dirasa tidak lagi optimal,

maka pemodal dapat melakukan perubahan terhadap sekuritas-sekuritas

yang membentuk portofolio tersebut.

5.

Evaluasi kinerja portofolio

Investor

melakukan

penelitian

terhadap kinerja portofolio, baik dalam aspek

tingkat keuntungan yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung.

d.

Alternatif Investasi

Alternatif investasi dapat dibedakan berdasarkan jenis aset yang akan digunakan.

Menurut Bodie et al. (hal. 3, 1993) aset sebagai pilihan investasi dapat berupa

sebagai berikut:

1.

Aset Keuangan yaitu investasi dalam bentuk aset keuangan yang obyek

investasinya uang, baiasanya valuta asing dan surat berharga yang

diterbitkan oleh industri keuangan seperti sertifikat deposito,

commercial

paper,

saham, obligasi, dan surat berharga lainnya.

2.

Aset riel yaitu investasi pada aset yang umunya berwujud

(tangible)

dan

memiliki masa manfaat yang relatif pasti. Misalnya properti (gedung dan

tanah), peralatan produksi, dan sebagainya.

Pemilihan berbagai alternatif investasi akan sangat bijaksana jika

memperhatikan aspek penilaian dasar dalam berinvestasi seperti kecenderungan

investasi yang dilakukan oleh berbagai pihak sehingga yang dilakukan mampu

untuk menghasilkan nilai tambah sesuai dengan risiko yang dihadapi. Hal lain

yang perlu diperhatikan adalah agar aset dalam investasi tersebut mampu untuk

memberikan tingkat penghasilan yang relatif stabil pada periode investasi dan

(33)

Salah satu investasi yang dapat dilakukan oleh investor dan banyak

diperjualbelikan di pasar modal adalah saham. Menurut Brealey et al. (hal. 117,

1998) saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan atau merupakan

bukti turut serta dalam modal suatu perusahaan. Seorang investor yang

menginvestasikan dana atau kekayaannya pada saham akan memperoleh dua

macam pendapatan atau imbal hasil, yaitu (1) pendapatan dari peningkatan harga

saham yang disebut

capital gain

, dan (2) pendapatan berupa pembayaran dividen

tunai dari perusahaan kepada para pemegang saham. Jumlah dari kedua sumber

pendapatan tersebut merupakan perubahan dari total kekayaan yang

diinvestasikan pada saham selama periode kepemilikan tertentu.

e.

Prinsip-prinsip Investasi menurut Syariah Islam

Investasi menurut syariah Islam pada prinsipnya adalah sama dengan non Islam

yaitu kegiatan yang dilakukan oleh investor terhadap pemilik usaha (emiten).

Kegiatan tersebut adalah untuk memberdayakan emiten dalam melakukan

kegiatan usahanya dimana investor berharap untuk memperoleh manfaat tertentu.

Karena itu investasi termasuk kegiatan usaha namun secara pasif, sehingga prinsip

syariah dalam investasi pada dasarnya sama dengan pada kegiatan usaha lainnya

yaitu prinsip kehalalan dan keadilan. Menurut Pontjowinoto (hal. 37, 2003) secara

umum prinsip tersebut adalah:

1. Investasi hanya dapat dilakukan pada aset atau kegiatan usaha yang halal,

dimana kegiatan usaha tersebut adalah spesifik dan bermanfaat sehingga atas

manfaat yang timbul dapat dilakukan bagi hasil. Hal ini terungkap dalam

Hadist Nabi Muhammad saw melalui Bukhari (Sabiq, hal.103, 1987) yang

artinya:

(34)

pengembala yang mengembalakan (ternaknya) di sekitar lahan yang terlarang

yang memungkinkan ternak tersebut masuk ke dalamnya."

2. Karena uang adalah alat bantu pertukaran nilai dan investor akan menerima

bagi hasil dari manfaat yang timbul dari kegiatan usaha, maka pembiayaan

dan investasi harus pada mata uang yang sama dengan pembukuan kegiatan

usaha.

3. Aqad yang terjadi antara investor dengan emiten, dan tindakan maupun

informasi yang diberikan emiten serta mekanisme pasar tidak boleh

menimbulkan kondisi keraguan yang dapat menyebabkan kerugian.

4. Investor dan emiten tidak boleh mengambil risiko yang melebihi kemampuan

yang dapat menimbulkan kerugian yang sebenarnya dapat dihindari.

5. Investor, emiten maupun pihak lain tidak boleh melakukan hal-hal yang

menyebabkan gangguan yang disengaja atas mekanisme pasar, baik dari segi

penawaran

(supply)

maupun dari segi permintaan

(demand)

.

2.2. Imbal Hasil dan Risiko

Investasi akan berhadapan pada dua hal yaitu maksimalisasi tingkat imbal hasil

dan minimalisasi risiko. Investor akan selalu berusaha untuk mengelola investasi

yang dimilikinya dengan membentuk suatu portofolio yang efisien dan

menghindari yang inefisien, sehingga kemungkinan untuk memperoleh imbal

hasil yang optimal dengan risiko yang minimum akan dapat tercapai.

a. Imbal

Hasil

Menurut Horne et al. (hal. 94, 1997) imbal hasil adalah hasil pendapatan yang

diterima dari investasi, ditambah perubahan harga pasar; biasanya dinyatakan

sebagai persentase dari harga pasar investasi mula-mula.

Tingkat imbal hasil dapat dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui

peningkatan atau penurunan tingkat kesejahteraan yang diperoleh pada periode

tertentu jika dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui

apakah kegiatan investasi tersebut layak atau tidak untuk dipertahankan. Imbal

(35)

dibandingkan dengan tingkat harga saham periode sebelumnya. Faktor kedua

yang menentukan nilai imbal hasil saham adalah dividen yang dibagikan oleh

perusahaan kepada para pemegang saham pada periode tertentu.

Imbal hasil pada masa yang akan datang dapat pula memasukkan unsur

probabilitas tentang ekspektasi keadaan yang akan diperoleh pada masa yang akan

datang dari hasil investasi. Probabilitas dalam menentukan tingkat harapan imbal

hasil di masa depan ditentukan oleh sikap investor, dimana semakin besar

keyakinan investor terhadap hasil yang akan diperoleh, akan semakin besar pula

probabilitas yang digunakan dalam perhitungan dan hal tersebut akan terjadi

sebaliknya karena tingkat imbal hasil terlihat sangat fluktuatif pada masa yang

akan datang

.

b. Risiko

Dalam kegiatan investasi risiko pasti akan selalu menyertai, dan risiko tersebut

harus menjadi tanggungan investor. Ketidakpastian terhadap sesuatu yang

diharapkan akan terjadi adalah penyebab timbulnya risiko.

Risiko merupakan suatu keadaan ketidakpastian yang akan terjadi di masa

yang akan datang karena terjadinya perbedaan antara harapan pada masa awal

investasi dengan kenyataan yang akan terjadi pada masa berakhirnya waktu

investasi. Risiko akan selalu dihadapi oleh investor dalam melaksanakan

investasinya, sehingga kebanyakan investor akan berusaha semaksimal mungkin

untuk menghindari terjadinya risiko.

Menurut Ross et al. (hal. 297, 2002) risiko yang akan dihadapi oleh investor

terdiri dari dua bagian, yaitu risiko sistematis

(systematic risk)

, risiko yang tidak

dapat dihindari melalui diversifikasi ataupun pembentukan portofolio dari

sejumlah aset/sekuritas. Risiko yang kedua adalah risiko tidak sistematis

(unsystematic risk)

, yaitu risiko yang disebabkan oleh menurunnya kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan laba yang akhirnya akan mempengaruhi

kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dan dividen. Risiko ini dapat

dikendalikan dengan cara diversifikasi aset/saham yang tepat pada suatu

(36)

Investor dalam berinvestasi selain memperhitungkan standar deviasi imbal

hasil sebagai indikator risiko, harus pula memperhatikan total risiko yang terdiri

dari risiko-risiko sebagai berikut:

1.

Risiko daya beli

(purchasing power risk),

yaitu risiko yang berkaitan dengan

terjadinya inflasi yang menyebabkan nilai riil pendapatan menjadi lebih kecil.

2.

Risiko suku bunga

(interest rate risk),

yaitu risiko yang disebabkan oleh arah

pergerakan suku bunga yang berlawanan dengan harga-harga sekuritas di

pasar modal. Apabila suku bunga naik maka harga-harga sekuritas di pasar

modal akan turun, demikian pula sebaliknya.

3.

Risiko pasar

(market risk),

yaitu kondisi pasar yang berpengaruh terhadap

harga-harga sekuritas, dimana pada saat pasar bergairah

(bullish)

semua

harga-harga sekuritas umumnya mengalami kenaikan. Sebaliknya bila pasar

dalam keadaan lesu

(bearish),

maka harga-harga sekuritas akan mengalami

penurunan.

4.

Risiko perubahan nilai tukar mata uang

(foreign exchange risk),

yaitu risiko

yang berkaitan dengan penurunan atau kenaikan nilai tukar mata uang dalam

negeri terhadap mata uang luar negeri.

c.

Risiko Dalam Islam

Setiap ketidakpastian dalam berinvestasi seperti yang dilakukan oleh investor

dalam berinvestasi di bursa juga disitir dalam Quran surat Lukman ayat 34 yaitu:

Gambar

Tabel
Tabel 3.1
Gambar 3.1
Tabel 4.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Faktor makro ekonomi yang terdiri dari suku bunga, inflasi dan kurs dan faktor fundamental yang terdiri dari Price Earning Ratio (PER), Return on Investment (ROI), dan Debt

Penelitian tentang analisis pengaruh variabel ekonomi makro terhadap indeks harga saham sektor pertambangan, dalam upaya mengetahui apakah inflasi, nilai tukar,

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fakor-faktor makro ekonomi yang terdiri dari produk domestik bruto (PDB), inflasi, suku bunga (SBI) dan kurs

Analisis pengaruh indeks harga saham syariah di Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan Malaysia, dan variabel makroekonomi nasional terhadap Jakarta Islamic Index (JII) dilihat

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor fundamental ekonomi makro dalam hal ini inflasi, nilai tukar, suku bunga, jumlah uang beredar,

Intlasi, perubahan nilai tukar Rupiah, suku bunga SUN, dan perubahan harga minyak sawit, secara simultan berpengaruh terhadap return saham perusahaan perkebunan... Koleksi

harga saham syariah di pasar modal yang digambarkan pada Jakarta Islamic Index (JII) dan dari sisi makro ekonomi yaitu Tingkat Inflasi.. Kinerja reksa a dana syariah saham

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh signifikansi secara simultan maupun parsial variabel makro ekonomi (inflasi, nilai tukar rupiah, tingkat suku