BAB I PENDAHULUAN. Negara hukum. Jika dilihat ketentuan tersebut, maka semua aspek kehidupan

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara hukum, ketentuan ini tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) hasil amandemen keempat Undang-Undang Dasar 1945 (selanjutnya disingkat UUD 1945), yang menyatakan “Negara Indonesia adalah Negara hukum”. Jika dilihat ketentuan tersebut, maka semua aspek kehidupan baik dibidang sosial, politik, budaya, ekonomi diatur dan dibatasi oleh norma-norma hukum yang berlaku 1 . Oleh karena itu segala permasalahan yang timbul dalam kehidupan masyarakat haruslah diselesaikan menurut hukum yang berlaku. Norma hukum yang melindungi kepentingan masyarakat umum salah satunya diatur dalam kodifikasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disingkat KUHP). Di indonesia pertama kali memberlakukan Hukum Pidana dengan asas konkordasi pada jaman Hindia Belanda. Pada saat itu kitab undang – undang yang dipergunakan adalah Wetboek van Strafrecht Stalblad 1915 No 732 (selanjutnya disingkatWvS). Akan tetapi sejak tanggal 8 Maret 1942, dimana ada peralihan kekuasaan dari pemerintah Hindia Belanda kepada Jepang di Indonesia, WvS tidak lagi dipergunakan. Pada saat jaman Jepang kitab undang-undang hukum pidana yang digunakan adalah Gunzei Keizi Rei. Gunzei Keizi Rei hanya berlaku selama 3 tahun karena sejak tanggal 17 Agustus 1945 melalui Perpres No

1

Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence), Jakarta; Kencana Prenada Media Grup, 2010, hal. 20

(2)

2 Tahun 1945, Indonesia memberlakukan hukum pidana gabungan antara WvS dan Gunzei Keizi Rei. Perpres No 2 Tahun 1945 ini kemudian digantikan dengan UU No 1 Tahun 1946, yang memberlakukan hukum pidana berdasarkan WvS Belanda saja.Harus diakui bahwa perumusan Wetboek van Strafrecht (WvS) jauh lebih baik karena menggunakan beragam kategorisasi delik dan ancaman yang berbeda - beda dalam kasus penghinaan dibanding dengan produk hukum original milik pemerintah.2

Banyak alasan mengapa perlu adanya pembaharuan hukum pidana karena pada perkembangannya KUHP dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan UUD 1945 maupun situasi dan kondisi masyarakat saat ini3.Selain itu KUHP diapandang kurang sesuai dengan perkembangan pemikiran atau ide dan aspirasi tuntutan atau kebutuhan masyarakat baik nasional maupun internasional.

Sebagaimana dikemukakan oleh Barda Nawawi Arief bahwa Pembaharua hukum pidana sebagai bagian dari upaya pembaharuan/pembangunan sistem hukum nasional, merupakan salah satu “masalah besar” yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Masalah besar yang dihadapi ialah masalah memperbaharui dan mengganti produk-produk kolonial di bidang hukum pidana. Upaya melakukan pembaharuan pidana warisan zaman penjajahan itu jelas merupakan tuntutan dan amanat proklamasi, sekaligus juga merupakan tuntutan nasionalisme dan tuntutan kemandirian sebagai

2

Lihat Pidana penghinaan adalah pembatasan kemerdekaan berpendapat yang inkonstitusional , Amicus Curiae, ELSAM, ICJR dan IMLDN , Jakarta, 2010

3

(3)

bangsa yang merdeka.4Namun sayangnya upaya untuk melakukan pembaharuan hukum pidana pada saat ini masih terbatas dan terkesan tambal sulam. Seolah – olah KUHP dipreteli dimana banyak pasal yang seenaknya ditambahkan di dalam KUHP maupun dicabut dari KUHP tanpa memperhatikan KUHP sebagai satu kesatuan sistem hukum pidana yang utuh.Salah satu bentuk konkrit dari upaya pembaharuan hukum pidana adalah pencabutan Pasal 134, 136Bis, 137 KUHP tentang penghinaan terhadap Presiden oleh Mahkamah Konstitusi yaitu melalui putusan Mahkamah Konstitusi No.013-022/PUU-IV2006. Judicial Review terhadap pasal 134, 136Bis, 137 KUHP diajukan oleh Eggi Sudjana setelah dia dianggap melakukan tindak pidana penghinaan terhadap Presiden. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa pada saat itu Eggi Sudjana sedang berada di KPK untuk menayakan informasi atau memberikan informasi mengenai beberapa hal, antara lain klarifikasi rumor yang berkembang mengenai pemberian mobil dengan merk Jaguar oleh Tanosoedibyo kepada orang – orang di lingkungan Istana, termasuk Presiden. Tanpa bermaksud menyebarkan kepada publik, atas desakan wartawan yang menunggunya di kantor KPK, Eggi Sudjana menjelaskan tujuan kedatangannya ke KPK untuk mengklarifikasi rumor tersebut. Atas dasar kejadian ini, Eggi Sudjana dianggap melakukan penghinaan terhadap Presiden.5

Terhadap kasus yang menimpanya, Eggi Sudjana mengajukan Judicial Review kepada Mahkamah Konstitusi terkait dengan eksistensi Pasal 134, 136Bis dan 137

4

Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Citra Aditya, Bandung, 1998, hal. 129.

5

(4)

KUHP yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Menurut Eggi Sudjana, Pasal 134, 136Bis dan 137 KUHP bertentangan dengan UUD 1945 karena6 :

1. Bahwa pasal – pasal tentang Penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden tersebut bersifat karet tidak secara pasti menyebutkan perbuatan apa yang diklarifikasi sebagai penghinaan, juga telah mengakibatkan diskriminasi terhadap para tersangkanya oleh aparat penegak hukum. Perbuatan diskriminasi itu sendiri juga pelanggaran terhadap hak – hak asasi manusia

2. Bahwa KUHP yang berasal Wetboek van Strafrecht tersebut dimana antara lain pasal 134 (dan juga pasal 135 telah dihapus, pasal 136Bis, dan pasal 137) tersebut, kata ”Presiden dan Wakil Presiden” dibuat untuk menggantikan pengusa Belanda, yaitu ”Ratu” dan ”Gubernur Jendral”. Oleh sebab itu pasal – pasal tersebut pada hakekatnya adalah produk penjajah dan sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang, bertentangan dengan UUD 1945

3. Bahwa Pasal 134 KUHP konon tidak merupakan delik aduan pada masa penjajahan Belanda pun sudah pernah diperbaiki, dimana meskipun perkara sudah diberkas tetapi tuntutan secara resmi belum dilayangkan jaksa penuntut umum diwajibkan menayakan terlebih dahulu kepada pengusa Belanda yang pada saat itu dijadikan sasaran ”hinaan”. Selama ini, upaya menghadirkan Presiden atau Wakil Presiden RI di Pengadilan

6

Resume Permohonan Perkara Nomor 022/PUU-IV/2006, diakses dari http://www.mahkamahkonstitusi.com

(5)

untuk ditanya apakah yang bersangkutan merasa terhina oleh perbuatan tersangka, tidak pernah berhasil

Setelah melalui persidangan, Mahkamah Konstitusi berdasarkan putusan MK No.013-022/PUU-IV-2006memutuskan bahwa mengabulkan permohonan Eggi Sudjana untuk mencabut pasal 134, 136Bis dan 137 KUHP dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat lagi karena dianggap bertentangan dengan UUD 1945.

Dalam rapat Tim Perumus (Timus) RUU KUHP antara Pemerintah dan Komisi III DPR ( 5 Februari 2018) yang disepakati bersifat terbuka tercetus suatu kesepakatan bahwa perlu dilakukan rekriminalisasi delik penghinaan terhadap Presiden/Wakil Presiden yang sebelumnya tercantum dalam Pasal 134, Pasal 136bis, dan Pasal 137 KUHP7. Norma-norma dalam pasal tersebut dianggap telah bertentangan dengan UUDNRI 1945 (inkonstitusional) dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat oleh Mahkamah Konstitusi berdasarkan Putusan MK No.013-022/PUU-IV2006.

Didalam Rancangan KUHP tersebut didapati ketentuan tentang Tindak Pidana Terhadap Martabat Presiden dan Wakil Presiden yang diatur dalam pasal 265 dan pasal 266 Rancangan KUHP

Pasal 265 R KUHP berbunyi:

Setiap orang yang di muka umum menghina Presiden atau Wakil Presiden, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV.

7

(6)

Sementara Pasal 266 R KUHP berbunyi:

1) Setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan atau gambar sehingga terlihat oleh umum, atau memperdengarkan rekaman sehingga terdengar oleh umum, yang berisi penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden dengan maksud agar isi penghinaan diketahui atau lebih diketahui umum, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV 2) Jika pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

melakukan perbuatan tersebut dalam menjalankan profesinya dan pada waktu itu belum lewat 2 (dua) tahun sejak adanya putusan pemidanaan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang sama maka dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1) huruf g. Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 265 dan Pasal 266 pada dasarnya sama dan sebangun dengan ketentuan Pasal 134 dan Pasal 137 KUHP yang oleh Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No. 013-022/PUU-IV/2006 telah dinyatakan bertentangan dengan konstitusi.8 Perbedaan mendasarnya adalah ketiadaanfrasa “dengan sengaja” yang awalnya ada dalam Pasal 134 KUHP namun menghilang dalam Pasal 265 Rancangan KUHP. Ketiadaan ini justru membuat perumusan normanya menjadi jauh lebih buruk dari pada perumusan norma di KUHP.

8

Lihat Supriyadi Widodo Eddyono, “memutus jerat pasal-pasal sang ratu”, jurnal MK Volume 4 Nomor 1 Maret 2007.

(7)

Dalam sidang Putusan No. 013-022/PUU-IV/2006 di MK,9Mardjono Reksodiputro sebagai Ahli berpendapat bahwa dalam hal penegakan Pasal 134 KUHP dan Pasal 136 bis KUHP yang normanya tidak berbeda dengan Pasal 265 dan 266 RUU KUHP, arti penghinaan harus mempergunakan pengertian yang berkembang dalam masyarakat tentang Pasal 310-321 KUHPidana (mutatis

mutandis) yang dalam RUU KUHP diduplikasi dalam pasal 537-547 RUU

KUHP. Maka dengan mempertimbangkan perkembangan nilai-nilai sosial dasar (fundamental social values) dalam masyarakat demokratik yang modern, delik penghinaan tidak boleh lagi digunakan untuk menghambat kritik dan protes terhadap kebijakan pemerintah (pusat dan daerah), maupun pejabat-pejabat pemerintah (pusat dan daerah), sehingga tidak perlu lagi ada delik penghinaan khusus terhadap Presiden dan Wakil Presiden, dan cukup dengan adanya Pasal 310-321 KUHP.

Dalam konteks penghinaan dan hukum pidana, sistem hukum Indonesia, khususnya melalui beberapa Putusan MK yang secara konstitusional bersifat final dan mengikat, telah menegaskan bahwa soal penghinaan terhadap siapapun, tanpa terkecuali, hanya dapat dilakukan berdasarkan suatu pengaduan (klacht) dari korban. Maka dalam hal ini, upaya untuk melakukan suatu rekriminalisasi terhadap delik penghinaan terhadap siapapun, termasuk Presiden dan/atau Wakil Presiden, harus dilakukan dalam koridor bahwa delik tersebut harus diatur dalam kualifikasi delik aduan (klacht delict) dan bukan hanya sekadar mengurangi besaran ancaman pidana (strafmaat) nya dan/atau mengatur adanya alasan

9

Lihat Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006, pertimbangan mahkamah atas pandangan ahli Mardjono Reksodiputro.

(8)

penghapus pidana dalam hal perbuatan tersebut dilakukan jelas dilakukan untuk kepentingan umum atau pembelaan diri.

1.2. Rumusan Masalah

Apa pertimbangan hakim konstitusi tentang tindak pidana penghinaan?

1.3. Tujuan penelitian

Memperhatikan latar belakang, rumusan masalah seperti diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pertimbangan hakim konstitusi berkaitan dengan dibatalkanya pasal-pasal mengenai penghinaan terhadap presiden/wakil presiden, yang mana dalam hal ini yaitu pertimbangan filosofis,sosiologis, yuridis dalam Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006

1.4.Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat teoritis

a) Memberikan sumbangan pemikiran mengenai tidak perlunya menghidupkan kembali pasal-pasal tentang penghinaan terhadap Presiden/wakil presiden

b) Memberikan sumbangan ilmiah dalam penerapan pasal-pasal penghinaan jabatan khususnya penghinaan terhadap Presuden/wakil presiden.

1.4.2. Manfaat praktis

Secara Praktis penilitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut :

a) Diharapkan penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan hukum khususnya hukum

(9)

pidana berkaitan dengan penerapan pasal tentang penghinaan Presden/wakil presiden

b) Dapat dijadikan referensi kepada pembentuk undang-undang dalam membuat suatu undang-undang khususnya dalam hal ini tentang penghinaan Presiden/wakil presiden

1.5.Keaslian Penulisan

Penelitian hukum mengenai “Pertimbangan hakim konstitusi tentang tindak pidana penghinaan”, sebelumya belum pernah ditulis

1.6.Metode Penelitian

Jenis Penelitan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum (legal research) dengan pendekatan perundang –undangan (statue

approach), dan pendekatan kasus (cases study). Pendekatan

Perundang-undangan yaitu pendekatan dengan menggunakan legislasi dan regulasi untuk menjawab isu hukum atau permasalahan hukum 10. Pendekatan konseptual mengkaji konsep-konsep dan teori-teori yang berkembang di bidang hukum yang relevan dengan permasalahan penelitian.

1.7.Sumber Hukum

Bahan hukum primer, merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan

10

(10)

perundang-undangan dan putusan-putusan hakim11.Berdasarkan permasalahan di atas bahan hukum primeradalah sebagai berikut :

a) UUDNRI 1945

b) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana c) Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006

Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang memberikan penjelsan mengenai bahanbahan hukum primer, meliputi buku-buku teks, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.12

BAB III tentang Simpulan dan Saran

11

Ibid h.35.

12

(11)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :