Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS
BAB III
GAMBARAN UMUM PDAM TIRTAWENING
3.1 PROFIL PDAM TIRTAWENING3.1.1 Sejarah Perusahaan
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung memiliki sejarah panjang sejak pra kemerdekaan hingga saat ini. Didirikan pada tahun 1916, dengan nama Water
Leiding Bedrijf (Perusahaan Air) dan
dikelola oleh Technische Dienst Afdeling (DTA).
Pada awal kelahirannya, perusahaan memanfaatkan sembilan buah mata air yang berasal dari pegunungan di sebelah utara Kota Bandung dengan debit ±130 liter/detik. Melalui penambahan 11 sumber air sumur artesis, kapasitas produksi bertambah pada tahun 1940 menjadi ±190 liter/detik.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, pada tahun 1958 mulai dibangun Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) yang berlokasi di Jalan Badaksinga. Selanjutnya IPAM tersebut dikenal sebagai IPA Badak Singa, dengan kapasitas disain produksi rata-rata ±850 liter/detik. Sumber air baku diambil dari Sungai Cisangkuy dengan intake yang terletak di Cikalong, Banjaran, di wilayah Bandung Selatan. IPA Badak Singa ini mulai berfungsi pada tahun 1960, sehingga total debit produksi air menjadi ±1.040 liter/detik.
Hingga tahun 1972, cakupan layanan air baru mencapai 25%. Untuk meningkatkan layanan dan kualitas pengelolaan, pada tahun 1974, Pemerintah Kota Bandung mendirikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai pengelola air bersih. Perubahan nama secara resmi menjadi PDAM Tirtawening terjadi pada tanggal 7 November 2009.
3.1.2 Cakupan Layanan dan Kapasitas Produksi
Hingga saat ini, perusahaan telah memiliki 151.045 sambungan yang melayani 72,19% penduduk Kota Bandung. Konsumen Layanan tersebut dipasok Pasokan air minum merupakan hasil produksi PDAM Tirtawening, yang mencapai
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS 2.537 l/detik, dari kapasitas terpasang 2.937 l/detik. Rincian kapasitas terpasang
dan produksi dari berbagai sumber air baku ditampilkan pada Ttabel 3.1. Berdasarkan data pPada Ttabel 3.1tersebut,tabel tersebut PDAM Tirtawening masih memiliki idle capacity produksi air minum sebesar 400 l/detik.
Tabel 3.1 Kapasitas Tterpasang dan Pproduksi PDAM Tirtawening
No Lokasi Jenis Sumber Kapasitas (L/detik)
Terpasang Produksi 1 Bandung Utara:
a. IPA Pakar Sungai Cikapundung 600 552 b. Mini Plant Pakar Sungai Cikapundung 40 39 c. Lembang Mata Air Ciasahan
Mata Air Ciwangun Mata Air Cibeureum
216 107
d. IPA Cibeureum Sungai Cibeureum 40 36 e. IPA Cirateun Sungai Cirateun 5 0 2 Bandung Timur:
Mini Plant Cipanjalu Sungai Cipanjalu 15 15 3 Bandung Tengah & Selatan:
IPA Badak Singa Sungai Cisangkuy dan Cikapundung 1.800 1.690 4 Berbagai Wilayah Sumur Bor 221 98
Jumlah 2.937 2.537
Sumber: PDAM Kota Bandung
Sistem perpipaan distribusi PDAM Tirtawening Kota Bandung pada prinsipnya merupakan gabungan dari sistem ring dan sistem cabang. Saat ini PDAM memiliki keterbatasan supply jaringan pipa, sehingga pipa dengan diameter besar saling terhubung satu sama lain untuk memberikan tambahan suplaiply ke wilayah jaringan yang memiliki debit dan tekanan yang sangat rendah.
Untuk melayani seluruh pelanggan, distribusi air dilakukan dengan sistem gilir di sebagian besar wilayah distribusi. Hanya wilayah utara saja yang mendapatkan aliran secara kontinu selama 24 jam per hari. Saat ini, rata-rata jam pengaliran baru mencapai ± 15 jam/hari.
3.1.3 Sumber Air Baku
Air baku yang digunakan dalam sistem produksi air bersih PDAM Kota Bandung saat ini berasal dari 3 (tiga) jenis sumber, yaitu air permukaan, air tanah dalam, dan mata air.
Air permukaan
Air permukaan merupakan sumber air baku utama dengan debit pemanfaatan sebesar 2.300 liter/detik, dari total 2.711 liter/detik. Air permukaan tersebut
Formatted: Font: Italic
Commented [R1]: Tahun??
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS bersumber dari Sungai Cisangkuy (Bandung Selatan), Cikapundung (Bandung
Utara), dan beberapa sungai kecil lainnya dalam wilayah Kota Bandung.
Debit air yang diambil dari sungai Cisangkuy adalah sebesar 1400 liter/detik. Sedangkan intake Sungai Cikapundung berlokasi di Bantar Awi Pakar Wwilayah Bandung Utara, dengan debit 600 liter/detik.
Air Tanah Dalam
Pengambilan air tanah dalam dilakukan dengan menggunakan beberapa sumur bor dalam, yang sebagian besar dibangun pada saat Proyek BAWS tahap I tahun 1982. Jika dibandingkan dengan kondisi pada saat dibangun, saat ini debit produksi sumur bor mengalami penurunan yang sangat drastis , yang disebabkan olehakibat penurunan muka air tanah yang cukup signifikan di kawasan Cekungan Bandung. Debit (desain) Dari untuk tTotal 32 buah sumur, debit (desain) hingga saat ini adalah 221 liter/detik.
Mata air
Mata air yang digunakan oleh PDAM Kota Bandung terletak di pegunungan wilayah Utara, yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Bandung. Lokasi penyadapan mata air tersebut terletak dalam wilayah Perhutani Jawa Barat dengan total debit (desain) sebesar 216 liter/detik. Debit pemanfaatan saat ini adalah sebesar 190 liter/detik.
3.2 IPA BADAK SINGA
Gambar 3.1. Skema Proses Pengolahan Air Minum IPA Badak Singa
Sistem I pengadukan cepat pembubuhan koagulasi Accelator Reservoir Distribusi Air
Baku Bak Pembagi
Pengadukan lambat
(Flokulasi) Sedimentasi Filtrasi Filtrasi
Sistem II
Commented [R2]: Kalimat belum selesai? Diteruskan dengan: sedangkan kapasitas terambil adalah....l/dt?
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS IPA Badak Singa merupakan
salah satu unit produksi PDAM Tirtawening, dengan kapasitas produksi terbesar yaitu 1.800 liter/detik, yang menggunakan 2 sistem instalasi (Gambar 3.1). Instalasi pertama yang dibangun sekitar tahun 1954,
yang memiliki kapasitas rancangan sebesar 1000 lt/det. Sedangkan instalasi kedua dibangun pada tahun 1990, dengan kapasitas rancangan sebesar 800 L/detik. 2.3.1 Air Baku
Mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, kualitas air baku pasokan IPA Badak Singa tersebut telah melampaui Baku Mutu kualitas air kelas I (Tabel 3.2). Kelas tersebut adalah kualitas air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum.
Tabel 3.2 Kualitas Air Baku IPA Badak Singa
No PARAMETER SATUAN MUTU BAKU LOKASI SAMPLING SILIWANGI CISANGKUY DAGO
FISIKA 1 residu terlarut mg/L 1000 86,9 44,30 76,80 2 residu tersuspensi mg/L 50 19 58 47 3 Suhu °C Deviasi 3 22,8 22,3 22,0 KIMIA 1 NH3-N mg/L 0,5 0,27 0,23 0,60 2 Arsen mg/L 0,05 <0,005 <0,005 <0,005 3 Barium mg/L 1 <1,2 <1,2 <1,2 4 Besi mg/L 0,3 0,03 <0,005 0,07 5 Boron mg/L 1 0,20 <0,1 <0,1 6 BOD5 mg/L 2 6 6 5 7 COD mg/L 10 18,29 21,78 15,45 8 pH mg/L 6,0-9,0 7,67 6,83 7,44 9 Deterjen (MBAS) mg/L 0,2 0,05 0,05 0,08 10 Fenol mg/L 0,001 <0,005 <0,005 <0,005 11 Fluorida mg/L 0,5 0,12 0,12 0,14 12 Fosfat mg/L 0,2 0,24 0,13 0,08 13 Kadmium mg/L 0,01 0,01 0,005 <0,003 14 Klorida mg/L 600 7,42 3,83 6,94 15 Klorin bebas mg/L 0,03 <0,01 <0,01 <0,01 Formatted: Subscript
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS No PARAMETER SATUAN MUTU BAKU LOKASI SAMPLING
SILIWANGI CISANGKUY DAGO 16 Kobalt mg/L 0,2 0,04 <0,01 0,03 17 Khrom mg/L 0,05 0,05 0,04 0,03 18 Mangan mg/L 0,1 0,18 0,10 0,13 19 Minyak dan lemak mg/L 1 <1 <1 <1 20 N sebagai NO3 mg/L 10 2,94 2,17 2,67 21 N sebagai NO2 mg/L 0,06 0,10 0,08 0,04 22 DO mg/L >6 6,34 6,38 6,35 23 Raksa mg/L 0,001 <0,001 <0,001 <0,001 24 Selenium mg/L 0,01 <0,01 <0,01 <0,01 25 Seng mg/L 0,05 <0,02 <0,02 <0,02 26 Sianida mg/L 0,02 <0,05 <0,05 <0,05 27 Sulfat mg/L 400 4,65 8,18 8,06 28 Sulfide mg/L 0,002 <0,005 <0,005 <0,005 29 Tembaga mg/L 0,02 <0,02 0,02 <0,02 30 Timbal mg/L 0,03 <0,01 <0,01 0,01 MIKROBIOLOGI 1 Coliform jml/ 100 mL 1000 2,9x10 4 4,6x104 1,5x104 2 E.Coli jml/ 100 mL 100 1,2x10 4 9,3x104 4,3x104
Sumber: PDAM Tirtawening, 2013
Sejumlah parameter kualitas air yang melampaui baku mutu kelas I adalah rResidu tersuspensi, NH3-N, BOD5, COD, Mangan (Mn), Fenol, Fosfat, barium, dan parameter mikrobiologi baik Total Coliform maupun E. coli. Bahkan seluruh parameter yang melebihi baku mutu tersebut, kecuali NH3-N, berada dalam klasifikasi mutu air kelas III, yaitu kualitas air untuk keperluan pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, dan air untuk mengairi pertanaman.
Khusus air baku pasokan dari sungai Cisangkuy memiliki kandungan padatan tersuspensi melebihi baku mutu kelas I dan II (sebesar= 50 mg/L). Padatan tersuspensi ini terdiri dari partikel organik dan anorganik yang akan menjadi media absorben bagi polutan biologis atau kimia dan. Sifat tersebut melindungi mikroorganisme sehingga mengurangi efektifitas desinfeksi (Joane E. Drinan, 2001). Cara efektif untuk mengurangi residu tersuspensi secara signifikan adalah melalui prasedimentasi sebelum memasuki unit produksi air minum.
Tabel 3.2 Hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa kandungan NH3-N untuk air baku Sungai Cikapundung di Dago melebihi baku mutu kelas I. Kandungan nitrogen tersebut biasanya berasal dari pupuk pertanian, air limbah, dan unsur-unsur
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS tanah. Kandungan nitrogen ini dapat dihilangkan melalui proses klorinasi dalam
pengolahan air minum.
Parameter lainnya yang melampaui baku mutu kelas satu adalah BOD5 dan COD yang menunjukkan tingginya kandungan organik dalam air baku. Keberadaan zat organik tersebut dapat mengurangi kandungan oksigen terlarut, karena metabolisme oleh mikroba yang memerlukan oksigen. Kondisi tersebut sesuai dengan hasil pengujian mikrobiologi yang menunjukkan jumlah bakteri E. coli dan Coliform yang tinggi. Keberadaan bakteri tersebut telah menunjukkan adanya pencemaran berat oleh tinja manusia terhadap sungai-sungai yang menjadi sumber utama air baku PDAM Tirtawening.
2.3.2 Bangunan Sadap
Bangunan sadap (intake) merupakan bangunan penangkap atau pengumpul air baku dari suatu sumber, sehingga air baku tersebut dapat dikumpulkan dalam suatu wadah untuk selanjutnya diolah. Pasokan utama air baku IPA Badak Singa berasal dari Sungai Cisangkuy (±1400 l/detik) dan Sungai Cikapundung (±200 300 l/detik).
Penyadapan air baku Cisangkuy menggunakan 2 bangunan sadap.
Secara regular bangunan sadap baru berfungsi menampung dan mengalirkan air ke unit prasedimentasi. Air baku dari bangunan sadap lama hanya digunakan apabila PLTA Cikalong tidak beroperasi, atau bangunan sadap baru mengalami perawatan, atau mengalami penurunan kapasitas.
Untuk perawatan, Bbangunan sadap baru lebih sederhana perawatannya, karena sumber air berasal dari PLTA Cikalong yang telah mengalami prasedimentasi. Sedangkan bangunan sadap lama harus mengalami pengurasan secara teratur sesuai keperluan.
2.3.3 Unit Prasedimentasi
Bangunan prasedimentasi berfungsi mengendapkan partikel diskrit, seperti pasir, lempung, dan zat-zat padat lainnya secara gravitasi tanpa penambahan koagulan. Oleh karena itu, pengadaan keberadaan bangunan prasedimentasi ini dapat Fungsi
Formatted: Indonesian
Formatted: Indonesian
Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: Italic
Formatted: Indonesian
Formatted: Space Before: 0 pt
Commented [R3]: Ini teh sedang bicara ttg intake dari S. Cisangkuy atau Cikapundung?
Commented [R4]: Ini asa ujug2 ada bangunan sadap lama, tp sblmnya tdk diterangkan bhw ada 2 bang sadap, yaitu yg lama dan yg baru?
Commented [R5]: Ini juga ujug2 ada PLTA Cikalong? Formatted: Indonesian
Formatted: Indonesian
Commented [R6]: Yg tdk melalui prased sebelumnya?
Formatted: Space Before: 9 pt, After: 3 pt Formatted: Space Before: 0 pt
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS tersebut melindungi peralatan mekanis bergerak, mencegah akumulasi grit pada
jalur transmisi,, dan proses pengolahan selanjutnya.
Dalam pengoperasiannya, jembatan berjalan dan alat pengikis akan mangambil mengambil dan membuang lumpur setiap jamnya. Untuk perawatannya, setiap bak harus mengalami pengurasan untuk membuang lumpur yang terkumpul. 2.3.4 Sistem Transmisi
Selanjutnya pasokan air baku dari bak prasedimentasi dialirkan melalui dua pipa transmisi air baku sepanjang ±31,252 km menuju instalasi pengolahan air (IPA) Badak Singa Kota Bandung. Sebagai pemasok utama kebutuhan air baku IPA Badak Singa, kedua pipa transmisi dari Cisangkuy dilengkapi dengan 6 titik gabungan (interkoneksi), yang berfungsi untuk melakukan by pass saat perbaikan dan perawatan.
Pipa transmisi lama (Cikalong Lama, 1959) yang berukuran Ø 800 mm – Ø 900 mm memiliki kapasitas desain pengaliran 1.000 liter/detik dan terbuat dari cast iron. Sedangkan pipa transmisi baru (Cikalong Baru, 1990) berukuran Ø 850 mm dengan kapasitas desain pengaliran 800 liter/detik. Material pipa terbuat dari besi/steel berlapis semen/cement lining di bagian dalam.
Pengoperasian pipa transmisi berjalan secara otomatis dan harus dilakukan mengalami pemeliharaan terhadapnya, dengan membuka pipa pembuangan secara berkala untuk membuang kotoran dan lumpur melalui katup Wash Out (WO).
Selain dari Sungai Cisangkuy, IPA Badak Singa juga menerima pasokan air baku dari Sungai Cikapundung yang berlokasi di Siliwangi dan Dago Bengkok, dengan debit ±3200 liter/detik.
2.3.5 Bak Penampung Air Baku
Air baku dari Sungai Cisangkuy akan dialirkan menuju bak penampung air baku secara gravitasi. Sedangkan air baku dari Sungai Cikapundung dialirkan melalui pemompaan. Sebelum memasuki bak penampung tersebut, debit aliran air baku diukur menggunakan bak meter air baku.
Untuk menjamin proses selanjutnya pada unit flokulasi berlangsung secara optimal, pH air baku harus dijaga pada kisaran 6,5 - 7,5. Apabila pH lebih rendah kurang dari 6,5, harus ditambahkan kapur melalui pipa berlubang di atas bak penampung.
Formatted: Space Before: 9 pt, After: 3 pt Formatted: Space Before: 0 pt
Formatted: Font: Italic Formatted: Font: Italic
Formatted: Space Before: 9 pt, After: 3 pt Formatted: Space Before: 0 pt
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS 2.3.6 Unit Koagulasi dan Bak Pembagi
Unit Koagulasi disini berupa bendungan pelimpah yang berfungsi sebagai pengaduk cepat dengan sistem gravitasi. Penambahan koagulan larutan tawas dilakukan melalui pipa berlubang di sepanjang lebar bak. Proses koagulasi akan berlangsung dengan baik apabila: i) kondisi hidrolis aliran memadai untuk menyebabkan kondisi pengadukan cepat; ii) pembubuhan tawas serta kapur dalam dosis yang tepat. Dosis optimal tawas yang harus dibubuhkan diperoleh melalui
Jar Test.
Air baku yang telah dibubuhi koagulan tersebut kemudian dibagi menjadi 8 saluran. Empat saluran, masing-masing dengan debit 250 l/detik, mengalir menuju akselator pada sistem lama. Sedangkan empat saluran lainnya, yang terbagi rata dengan debit masing-masing sebesar 200 l/detik, mengalir menuju unit flokulasi pada sistem baru. Debit tersebut memenuhi kondisi hidrolis untuk pengadukan cepat (kriteria yang dituntut adalah 150 – 250 l/detik).
2.3.7 Sistem Lama (I)
Instalasi lama terdiri dari 4 unit akselator untuk proses flokulasi dan pengendapan, serta 20 buah saringan pasir cepat jenis satu media. Sistem lama dan sistem baru telah mengalami Adanya interkoneksi hidrolik antara sistem lama dan sistem baru, sehingga sistem lama dapat menerima debit kenaikan sebesar 12,6% dari kapasitas perencanaan.
2.3.6.1 Accelator
Pada sistem I IPA Badak Singa, ke empat accelator menerima beban pengolahan sebesar 1.000 liter/detik, atau masing-masing mengolah 250 liter/detik air baku, yang telah mengalami pembubuhan koagulan. Accelator merupakan unit flokulasi sekaligus pengendap dengan bentuk sirkular. Unit ini memiliki perlengkapan untuk pengadukan, aliran resirkulasi, dan pemisahan lumpur.
Accelator terbagi menjadi 2 zona, yaitu zona pengendapan dan zona sirkulasi. Air
yang masuk dialirkan melalui bagian tengah unit accelator dan mengalami proses pengadukan secara mekanik. Kecepatan pengadukan dapat diatur sesuai kebutuhan, untuk memperoleh kondisi yang optimal dalam proses koagulasi. Prinsip pengolahan accelator adalah mengoptimalkan proses flokulasi melalui resirkulasi lumpur dan meningkatkan kecepatan pengendapan flok. Lumpur hasil
Formatted: Space Before: 9 pt, After: 3 pt Formatted: Space Before: 0 pt
Commented [R7]: Referensi?
Formatted: Space Before: 9 pt, After: 3 pt
Formatted: Font: Italic
Formatted: Indent: Left: 0", Hanging: 0.69", Space Before: 6 pt, After: 0 pt
Formatted: Space Before: 0 pt Formatted: Font: Italic
Formatted: Font: Italic Formatted: Font: Italic
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS resirkulasi akan membantu proses pengikatan flok-flok. Air jernih (sSupernatant)
mengalir ke atas permukaan accelator dan selanjutnya dialirkan ke saringan pasir cepat.
2.3.6.2 Saringan Pasir Cepat
Unit filtrasi pada sistem lama terdiri dari 20 bak filter, atau 10 bak di setiap sisi yang menggunakan sistem saringan pasir cepat, dengan 1 media berupa pasir kwarsa. Untuk pemeliharaan, setiap bak harus mengalami pencucian (backwash) setiap 15-30 jam tergantung pada kemampuan masing-masing bak. Air yang mengalir dari aAccelator harus
memiliki kekeruhan maksimal 5 NTU. Kualitas hasil penyaringan diperiksa setiap hari dengan kekeruhan berkisar antara 1 – 1,6 NTU.
2.3.8 Sistem Baru (II)
Sistem kedua yang merupakan instalasi baru memiliki 4 unit flokulasi, 4 unit sedimentasi (bak pengendap) dilengkapi dengan plat lammella, dan 10 buah saringan pasir cepat jenis dua media. Adanya sistem interkoneksi hidrolik dengan sistem lama, menyebabkan siystem baru dapat menerima debit 16% di atas kapasitas debit perencanaan (800 l/detik).
2.3.7.1 Unit Flokulasi
Setiap unit flokulasi menggunakan jenis aliran naik turun, sehingga aliran air akan melewati 24 tikungan dan 24 ruangan yang terbagi menjadi 4 kompartemen. Pengoperasian dilakukan sepenuhnya secara hidrolis, yang menghasilkan kecepatan pengadukan yang memadai untuk pembentukan flok.
Untuk pemeliharaan, di setiap kompartemen pada unit flokulasi dilengkapi dengan pipa pembuangan lumpur berdiameter 100 mm, yang dioperasikan
buka-Formatted: Font: Italic Formatted: Font: Italic Formatted: Font: Italic
Formatted: Indent: Left: 0", Hanging: 0.69", Space Before: 6 pt, After: 0 pt
Formatted: Font: Italic
Formatted: Font: Italic Commented [R8]: Referensi?
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS tutup secara manual. Pemeliharaan unit flokulasi yang berupa pembuangan
kotoran setiap hari, dilakukan terutama untuk menghilangkan kerugian tekanan akibat kotoran. Kerugian tekanan tersebut dapat menurunkan efisiensi proses flokulasi atau mengakibatkan pecahnya gumpalan flok.
Indikasi adanya penambahan kerugian atau kehilangan tekanan adalah apabila tinggi permukaan air pada bagian pertama meningkat. Untuk itu ketinggian muka air pada kompartemen pertama dan ukuran flok pada kompartemen terakhir harus diperiksa setiap jam. Setelah melewati kompartemen terakhir, air akan mengalir menuju bak sedimentasi.
2.3.7.2 Unit Sedimentasi
Unit sedimentasi merupakan bak yang terdiri dari 4 kompartemen yang masing-masing berupa sepasang lempengan baja putih sepanjang 11,4 m dan kedalaman 2,5 m. Pasangan lempengan tersebut merupakan bank (lamellar settler) yang berisi 111 plat baja putih yang masing-masing berukuran 1,25 m x 3,05 m, dan dipasang dengan kemiringan 550 sebagai sistem pengendapan jenis aliran berlawanan.
Air dari bak flokulasi mengalir melalui pipa di bagian dasar bak dan naik di antara lempengan-lempengan baja secara merata. Partikel atau flok akan mengendap pada bidang lempengan, dan selanjutnya endapan akan turun ke bak lumpur secara gravitasi.
Setiap unit sedimentasi dilengkapi dengan 12 buah bak lumpur di bawah ke empat bank plat baja putih. Penampungan dan pembuangan lumpur dilakukan melalui dinding dengan sudut kemiringan 600. Setiap bak lumpur memiliki pipa pembuangan berdiameter 150 mm, dengan katup pembuangan yang dapat bekerja secara otomatis atau manual.
Jadwal pembuangan lumpur tergantung pada situasi sebanyak 3-12 kali per hari, selama sekitar 20-30 detik. Pada praktiknya pembuangan lumpur setiap unit sedimentasi dilakukan secara otomatis setiap 2 jam. Jadwal pembuangan lumpur unit sedimentasi tersebut sama dengan jadwal pembuangan lumpur dari
accelator. Pemeliharaan unit sedimentasi mencakup pembersihan plat baja dan
salurannya, pengurasan saluran pembuangan lumpur, serta pemeriksaan katup-katup pembuangan lumpur.
2.3.7.3 Unit Filtrasi
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS Air dari unit sedimentasi akan mengalir menuju unit filtrasi, melalui 2 buah pipa
berdiameter 1200 mm, dan terbagi ke 8 bak filtrasi dengan siystem interkoneksi. Unit filtrasi dalam sistem baru berjumlah 4 buah di setiap sisi, yang terdiri dari media pasir dan antrasit. Interkoneksi ini menyebabkan sehingga ketinggian muka air dan kehilangan tekanan relatif sama pada semua filter.
Air yang mengalir dari unit sedimentasi harus memiliki kekeruhan maksimal 5 NTU. Kualitas hasil penyaringan diperiksa setiap hari dengan kekeruhan berkisar antara 1 – 1,6 NTU.
Untuk kebutuhan pemeliharaan atau pencucian berupa backwash, di dasar setiap bak filter dilengkapi lubang-lubang untuk distribusi gelembung udara dan saluran air pencuci. Saat pencucian, air dalam bak harus dikuras hiengga mencapait ketinggian 50 mm dari dasar saringan, untuk menghindari terbuangnya antrasit. Pencucian dengan udara dilakukan selama 3-4 menit, lalu dibiarkan 2 menit untuk melepaskan gelembung udara dari cairan. Selanjutnya pencucian dilakukan dengan kecepatan aliran 353/m2/jam selama 3-6 menit. Pada praktiknya, jadwal pencucian bervariasi antara 15-30 jam, tergantung pada kemampuan masing-masing bak filter.
2.3.9 Desinfeksi
Air dari kedua instalasi tersebut selanjutnya dibubuhi khlor berupasebagai gas khlorin atau sebagai kaporit (cadangan). Pengaturan pH diperlukan untuk mencapai proses desinfeksi yang efektif. Pemeriksaan khlor harus secara rutin dielakukan untuk memastikan kandungan sisa khlor sebesar 0,6 mg/liter dengan waktu detensi 10 menit. Selanjutnya air minum ditampung dalam reservoir bawah tanah.
2.3.10 Kualitas Air Minum
Kualitas air minum IPA Badak Singa diperiksa secara rutin setiap bulannya. Kualitasnya dan memenuhi baku mutu yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Rekapitulasi data pengukuran ditampilkan pada Ttabel 3.2.
Tabel 3.3 Kulitas Air Minum IPA Badak Singa Tahun 2013?
NO PARAMETER SATUAN MUTU BAKU JAN FEB MAR APR MEI
FISIKA
1 Bau - Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Formatted: Font: Trebuchet MS Formatted: Font: Trebuchet MS
NO PARAMETER SATUAN MUTU BAKU JAN FEB MAR APR MEI
Berbau Berbau Berbau Berbau Berbau Berbau
2 Kekeruhan NTU 5 0.65 0.34 0,63 0,54 0,62
3 Rasa - Tidak
Berasa Berasa Tidak Berasa Tidak Berasa Tidak Berasa Tidak Berasa Tidak
4 Suhu °C Deviasi 3 5,3 7,3 - 4,3 6,1 5 Warna PtCo 15 <5 <5 <5 <5 <5 KIMIA 1 pH - 6,5-8,5 6.64 6.74 6,75 6.63 7.27 2 Sisa Chlor mg/L 0,2-1,0 0.85 0.86 0,87 0.84 0.74 MIKRO-BIOLOGI 1 Coliform jml/ 100 mL 1000 0 0 0 0 0 2 E.Coli jml/ 100 mL 100 0 0 0 0 0
Sumber: PDAM Tirtawening, 2013
2.3.11 Pengelolaan Lumpur Eksxisting
Saat ini, lumpur IPA Badak Singa berasal dari hasil proses sedimentasi, air pencucian unit filtrasi, dan air pencucian unit-unit pengolahan air minum (Gambar 3.2). Seluruh residu tersebut dibuang langsung ke Sungai CIkapundung melalui saluran pipa secara gravitasi.
Gambar 3.2. Sistem Pengelolaan Lumpur Eksxisting
Sungai CIkapundung Pipa Pembuangan Lumpur
Reservoir pembubuhan koagulasi Accelator Filtrasi Distribusi Air Baku Bak Pembagi Pengadukan lambat (Flokulasi) Filtrasi Sedimentasi pengadukan cepat Aliran air Aliran lumpur