• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Pendahuluan perencanaan jalan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Pendahuluan perencanaan jalan"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Jalan raya merupakan salah satu prasarana transportasi yang berfungsi

menyalurkan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain. Ketersediaan prasarana transportasi Jalan Raya akan meningkatkan kehidupan sosial dan membantu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraannya.

Kegiatan pembangunan jalan raya di Kota Ternate merupakan salah satu program di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kota Ternate. Dalam rangka mencapai sasaran pembangunan yakni untuk sebesar-besarnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diperlukan optimalisasi terhadap penggunaan dana, salah satunya adalah melaksanakan kegiatan perencanaan.

Pada tahun anggaran 2012 ini salah satu kegiatan di lingkungan Pemerintah Kota Ternate.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN 1.2.1. MAKSUD

Jasa pelayanan ini dimaksudkan untuk membantu Pemerintah Kota Ternate cq Dinas Pekerjaan Umum Kota Ternate Bidang Bina Marga dalam rangka melaksanakan pekerjaan Pemeliharaan /Rehabilitasi Jalan Hotmix Paket 1,Paket 2 dan Pakewt 3.

1.2.1. TUJUAN

Tujuan umum dari Pemeliharaan /Rehabilitasi Jalan Hotmix Paket 1, Paket 2 dan Paket 3 adalah :

“Menyiapkan perencanaan teknis jalan termasuk bangunan–bangunan pelengkapnya”.

Tujuan yang lebih khusus dari Pekerjaan Pemeliharaan / Rerhabilitasi Jalan

Hotmix Paket 1,Paket 2 dan Paket 3 adalah :

a. Untuk menyediakan hasil karya perencanaan yang benar–benar memenuhi

standard, dilaksanakan dengan teliti sehingga menghasilkan produk gambar desain lengkap disertai jenis item kegiatan dan kuantitas yang lengkap dan akurat.

b. kegiatan pembangunan fisik bisa dilaksanakan dengan baik dan memenuhi standard tanpa terjadi perubahan – perubahan yang besar menyangkut jenis dan kuantitas item–item pekerjaan pada saat pelaksanaan konstruksi fisik.Langkah-langkah pelaksanaan pekerjaan dan hasil karya perencanaan tersebut dituangkan dalam :

 Data – data hasil survey

 Laporan Kemajuan Pekerjaan

 Laporan Pendahuluan dan Interim Report

 Final Report minimal berupa :

(2)

 Analisa dan Perencanaan Tebal Perkerasan

 Analisa dan Perencanaan Geometrik Jalan

 Daftar Kuantitas dan Harga

 Menyediakan Dokumen Tender ( Rencana Kerja dan Syarat-Syarat)

1.3. NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA

Pengguna jasa adalah Pemerintah Kota Ternate cq. Dinas Pekerjaan Umum Kota Tenate.

1.4. SUMBER PEDANAAN

Untuk pelaksanaan kegiatan ini tersedia pagu anggaran Fisik sebesar Rp. 8.822,000.000,-(Delapan Miliyar Delapan Ratus Dua Puluh Dua Juta Rupiah), termasuk PPN Sumber dana APBD Tahun Anggaran 2012.

1.5. RUANG LINGKUP, LOKASI KEGIATAN DAN JASA PENUNJANG 1.6.1. RUANG LINGKUP

Lingkup jasa konsultansi berupa konsultansi teknik, Tanggung Jawab Konsultan Perencanaan Jalan dan Jembatan adalah sebagai berikut :

a) Melaksanakan survai dan perencanaan teknik jalan dan jembatan pengguna jasa sesuai standar perencanaan.

b) Menyediakan dokumen pelelangan pengadaan jasa kontruksi, daftar kuantitas dan gambar tipikal sebagai bahan pelelangan konstruksi.

c) Menyediakan perencanaan teknik detail, gambar detail, dan perhitungan volume pekerjaan.

d) Merevisi perencanaan teknik jalan dan jembatan sesuai kebutuhan setelah pemeriksaan final dari pengguna jasa, serta menyiapkan Addendum Dokumen Kontrak yang diperlukan pada saat 1 bulan pertama pada tahap pelaksanaan konstruksi fisik.

1.6.2. LOKASI

Lokasi jasa pelayanan ini di pulau Ternate Kelurahan Kalumata Provinsi

Maluku Utara

1.7. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

Keseluruhan jadual waktu jasa konsultasi ini terdiri dari pekerjaan Pemeliharaan / Rehabilitasi Jalan Hotmix Paket 1,Paket 2 dan Paket 3 dilakukan dalam periode 90 Hari Kalender.

1.8. INFORMASI KEGIATAN

Informasi kegiatan yaitu sebagai berikut :

a) Nama Pekerjaan : Pemeliharaan /

Rehabilitasi Jalan Hotmix Paket 1,Kota Ternate Utara,Paket 2 Kota Ternate Tengah

Paket 3 Kota Ternate Selatan

b) Lokasi Kegiatan : Dalam Kota Ternate

(3)

c) No. Kontrak : 600/44-Kontrak/BM/DPU-KT/2012 12 April 2012

d) Pembiayaan : APBD Tahun Anggaran 2012

e) Nama Pengguna Jasa : Dinas Pekerjaan Umum Kota Ternate

f) Alamat Pengguna Jasa : Jl. Ki. Hajar

Dewantara No. 218 Ternate

g) Nama Penyedia Jasa : CV. Megacotama

Eng

h) Alamat Penyedia Jasa : Jl. Melati

(Samping Kantor Proteksi Pangan) Kel.Ubo - Ubo Ternate

i) Nilai Kontrak : Rp.

93.390.000,-j) Jenis Kontrak : Lumpsum

k) Pembayaran : Angsuran ( ”Termin”)

l) Masa Pelaksanaan: 60 Hari Kalender

m) Lokasi / Nama Ruas :

 Ruas Dalam Kota Ternate Utara = ± 3.753 km

 Ruas Dalam Kota Ternate Tengah = ± 4,417 km

 Ruas Dalam Kota Ternate Utara = ± 6,872 km

1.9. URAIAN LINGKUP KEGIATAN

Uraian Lingkup Kegiatan :

a) Survai Pendahuluan (”Reconnaisace Survai”)

b) Survai Detail, meliputi : inventarisasi geometrik jalan, pengukuran topografi, survai hidrologi, penelitian perkerasan dan tanah dasar (”subgrade”), survai material dan harga pasaran setempat.

c) Analisa data survai dan perencanaan

d) Penggambaran (situasi, potongan memanjang, potongan melintang, struktur dan bangunan pelengkap)

e) Perhitungan Volume dan Perkiraan Biaya f) Dokumen Lelang

1.10. SASARAN MUTU

Melaksanakan Pekerjaan Perencanaan Teknik Jalan full design dengan menyediakan jasa semaksimal mungkin baik tenaga maupun peralatan, sehingga menghasikan produk perencanaan yang memenuhi standard, dilaksanakan sesuai arahan dalam kerangka acuan kerja dan diselesaikan sesuai waktu yang telah disepakati dalam kontrak. Gambar perencanaan disajikan dengan lengkap didukung oleh perhitungan dan kajian data yang valid, sehingga infrastruktur (jalan) yang dibangun berdasarkan hasil perencanaan ini efisien, bisa menyediakan konstruksi jalan dengan durability perkerasan minimal sesuai umur rencana (10 tahun), terhindar dari masalah-masalah longsoran, masalah drainase dan memberikan layanan keamanan dan kenyamanan yang cukup bagi masyarakat pengguna jalan.

(4)

Persyaratan teknis dan Administrasi untuk pelaksanaan kegiatan Pemeliharaan / Rehabilitasdi Jalan Hotmix Paket 1,Paket 2 Dan Paket 3 adalah persyaratan yang tercantum dalam dokumen – dokumen sebagai berikut :

a) Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) Nomor : 620/51-SPMK/BM/DPU-KT/2012 Tanggal 12 April 2012

b) Kontrak Nomor : 600/44/Kontrak/BM/DPU-Kota/2012, Tanggal 12 April 2012. (Surat Perjanjian Kerja dan Kerangka Acuan Kerja)

c) Peraturan Perundang-undangan yang terdiri dari:

 Undang-Undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

 Permen PU No. 43/PRT/M/2007 tentang Pengadaan Barang/Jasa

dilingkungan Departemen Pekerjaan Umum;

 Permen PU No. 09/PRT/M/2008 tentang Pedoman Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum;

 Permen PU No. 04/PRT/M/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu (SMM)

Departemen Pekerjaan Umum.

d) Standar Nasional Indonesia dan Standar Internasional untuk Perencanaan Jalan yang terdiri dari:

 Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Atar Kota No. 038/T/BM/1997 dan

Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan (Bina Marga - Maret 1992) ;

 Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki Di Kawasan Perkotaan 011/T/Bt/1995

 SNI No : 03-3424-1994 tentang Standar Perencanaan Drainase Permukaan

Jalan ;

 SNI No : 03-3424-1994 atau NI No : 03-1724-1989 KBI-1.3.10.1987 tentang Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untuk Bangunan di Sungai;

 Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode

Analisa Komponen (SKBI-2.3.26.1987, UDC : 625.73(02))

 AASHTO Guide for Design of Pavement Structures 1996

 Pedoman Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan No : 004-A/PW/2004 dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Ditjen Prasarana Wilayah

 Permen PU No : 43/PRT/M/2007 tentang Dokumen Pelelangan Pekerjaan

Fisik

(5)

BAB II

METODOLOGI

2.1.

PERSIAPAN PELAKSANAAN DESAIN

2.1.1. TUJUAN PERSIAPAN DESAIN

Persiapan desain ini bertujuan :

a) Mempersiapkan dan mengumpulkan data-data awal.

b) Menetapkan desain sementara dari awal untuk dipakai sebagai panduan survai

pendahuluan.

c) Menetapkan ruas yang akan disurvai.

2.1.2. LINGKUP PEKERJAAN

Kegiatan pekerjaan ini meliputi :

a) Mengumpulkan data kelas, fungsi dan status jalan dan jembatan yang akan di desain.

b)Mempersiapkan peta-peta dasar berupa ; (sesuai dengan jenis pekerjaan)  Citra Satelit dan photo Udara (bila diperlukan terutama untuk jalan baru)  Peta Topografi skala 1 : 250.000 s/d 1 : 25.000 atau yang lebih besar.  Peta Geologi skala 1 : 250.000 s/d 1 : 250.000

 Peta Tata guna tanah.

c) Melakukan koordinasi dan konfirmasi dengan instansi terkait baik di pusat maupun di daerah termasuk juga mengumpulkan informasi harga satuan / upah untuk disekitar lokasi proyek terutama pada proyek yang sedang berjalan. d) Mengumpulkan dan mempelajari laporan-laporan yang berkaitan dengan

permasalahan lingkungan dan sosial pada wilayah yang dipengaruhi atau mempengaruhi jalan / jembatan yang akan direncanakan atermasuk laporan rawan kecelakaan lalu-lintas.

2.1.3. BAGAN ALIR PELAKSANAAN PEKERJAAN

Bagan alir pelaksanaan pekerjaan ini dapat dilihat pada Gambar 2.1. Adapun pada bagan alir ini menggambarkan urutan pelaksanaan pekerjaan mulai dari awal hingga diperolehnya hasil sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

(6)

Gambar 2.1. Diagram Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Pemeliharaan / Rehabilitasi Jalan Hotmix Paket 1,Paket 2 dan Paket 3 Kota Ternate

(7)

2.2.

SUR

VAI DAN INVESTIGASI

Survai lapangan dan investigasi harus dilaksanakan untuk mendapatkan data di lapangan sampai dengan tingkat ketelitian tertentu dengan memperhatikan beberapa faktor, seperti kondisi lapangan aktual yang ada dan sasaran penaganan yang hendak di capai. Konsultan Perencana dengan persetujuan pengguna jasa harus menghindarkan suatu kondisi bahwa informasi terlalu berlebihan atau terlalu minimal.

Jenis-jenis survai atau Investigasi yang harus dilaksanakan tersebut bergantung kepada jenis pekerjaan penanganan yang akan dikerjakan oleh Kontraktor Pelaksana Kontruksi kelak. Sebagai acuan dasar, apabilah tidak ditentukan lain oleh pengguna Jasa pada saat review hasil Survai Pendahuluan, jenis-jenis survai dan investigasi yang harus dilaksanakan oleh Konsultan Perencana adalah sebagimana tabel di bawah ini.

Tabel 2.1. Ruang Lingkup Survai dan Investigasi.

No Jenis Survai Dan Investigasi Pelapisan

Ulang Perkerasan Lama ● Pelebaran Perkerasan ● Rekontruksi Perkerasan ● Realinyemen

● Kontruksi Baru (Jalan

atau Jembatan

● Penggantian Jembatan

1 Survai Pendahuluan ya Ya

2 Inventarisasi Jalan & Jembatan Jika diperlukan ya

3 Investigasi Perkerasan Lama Ya ya

4 Survai Topografi & guna lahan Ya Ya

5 Investigasi Geoteknik & Geologi

Ya Ya

6 Survai Hidrologi & Hidrolika Ya Ya

7 Survai Lalu Lintas&Angkutan

Berat

Jika diperlukan Ya

8 Investigasi Jembatan Ya Ya

2.3.

SURVAI PENDAHULUAN

2.3.1. TUJUAN SURVAI PENDAHULUAN.

Sasaran Survai Pendahuluan atau Reconnaissance Survai atau PremilinarySurvai adalah :

a) Pengumpulan informasi menyangkut ruas jalan dan bangunan struktur yang ada, termasuk data sekunder dari berbagai sumber yang relevan, untuk maksud menetapkan survai detail berikutnya yang diperlukan.

b) Pencatatan kondisi perkerasan secara umum dan prakiraan penyebab kerusakan yang telah dan mungkin akan terjadi.

c) Perkiraan secara umum tentang penanganan yang di perlukan, baik pada perkerasan maupun pada pekerjaan-pekerjaan lainnya di luar perkerasan, seperti bahu jalan, lajur pedestrian, drainase, perbaikan lereng timbunan dan galian, perbaikan geometri jalan, jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya, peningkatan keselamatan jalan.

(8)

e) Identifikasi dampak penting lingkungan, sebagai bahan pertimbangan dalam pelingkup, dalam proses penyaringan lingkungan yang akan menghasilkan output berupa jenis dokumen lingkungan yang dibutuhkan.

f) Identifikasi lokasi-lokasi yang memerlukan penanganan khusus untuk peningkatan keselamatan jalan.

2.3.2. RUANG LINGKUPSURVAI PENDAHULUAN.

Sebelum Survai Pendahuluan dilaksanakan, terlebih dahulu Tim Survai harus menyiapkan dan mempelajari data pendukung, yang meliputi tetapi tidak terbatas pada antara lain :

a) Dokumen studi-studi terdahulu (jika ada), seperti studi kelayakan atau studi lingkungan.

b) As bulit drawings di lokasi yang bersangkutan dari pekerjaan penanganan sebelumnya (jika ada).

c) Peta-peta dasar yang relevan. d) Dan sebagainya.

Survai pendahuluan dilaksanakan dengan menggunakan kendaraan survai Berjalan kaki, sesuai dengan kebutuhan, untuk memperoleh data atau informasi yang ditargetkan sebagaimana di tentukan di dalam sasaran tersebut di atas.

Pengambilan data lapangan untuk maksud Survai Pendahuluan harus dilaksanakan sepanjang ruas jalan (dari titik stasion awal ruas sampai dengan titik stasion akhir ruas), dengan Interval paling jauh setiap 50 meter atau setiap kali ada perubahan kondisi lapangan.

2.3.3. KELUARAN SURVAI PENDAHULUAN.

Laporan mengenai jenis survai detail berikutnya yang harus dilaksanakan, yang mengutarakan antara lain lokasi survai dan cakupan yang diperluka.Diagram strip longitudinal, mulai dari titik awal ruas sampai dengan titik akhir ruas, yang memuat gambaran :

1) Kondisi perkerasan, termasuk jenis-jenis kerusakan yang terjadi. 2) Lokasi dan kondisi jembatan dan bangunan-bangunan struktur lainnya. 3) Lokasi yang membutuhkan perbaikan/peningkatan penampang melintang.

4) Informasi dalam bentuk tabel atau daftar, yang lebih terperinci hal-hal tersebut dalam diagram strip longitudinal tersebut dalam butir 3.a di atas

Gambar-gambar atau peta-peta yang menunjukkan : a) Sketsa alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal. b) Batas-batas ruang milik jalan.

c) Lokasi deposit material jalan yang diperkirakan dapat di mamfaatkan, seperti quarry pasir, batu, atau bahan timbunan.

d) Kondisi alam tertentu yang dapat atau akan mempengaruhi kontruksi jalan, seperti misalnya sungai, danau, laut, lembah, juramg, bukit, gunung dan sebagainya.

e) Lokasi bangunan-bangunan tertentu sepanjang ruas jalan yang diperkirakan dapat atau akan mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan kontruksi maupun layanan lalu lintas jalan.

Survai Pendahuluan atau Reconnaissance Survai meliputi kegiatan pengumpulan data primer, penentuan rencana awal trase jalan berdasarkan data primer dan

(9)

melakukan survai lapangan untuk menganalisa serta menentukan trase definitif yang memenuhi syarat teknis, ekonomis dan lingkungan.

Survai Pendahuluan meliputi kegiatan-kegiatan antara lain :

a) Kon teraktor disarankan mempersiapkan peta dasar berupa peta Citra Satelit (Land Sat ) dengan skala 1 : 50.000 s/d 1 : 25.000 dan peta-peta

pendukung lainnya seperti peta geologi, tata guna tanah dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan studi yang pernah diadakan sebelumnya. Informasi yang diperoleh dan dokumen-dokumen diatas harus dipertimbangkan dalam proses penentuan rencana trase jalan yang akan di survai, rencana trase jalan yang akan disurvai merupakan trase terbaik yang diperoleh berdasarkan kajian beberapa alternatif trase jalan.

b)

Kegiatan ini terdiri dari :

1) Kontraktor harus melaksanakan konfirmasi dan koordinasi dengan instansi terkait di daerah sehubungan dengan akan dilaksanakan survai.

2) Guna mempelajari dan menganalisis rencana trase jalan, Kontraktor harus melengkapi data penunjang antara lain :

 Peta Dasar Topografi (Hasil Citra Satelit)

 Demografi, sosial ekonomi dan lingkungan

 Geografi, geoteknik dan hidrologi.

3) Kontraktor harus mengumpulkan informasi mengenai :

Harga satuan upah/bahan pada Dinas Pekerjaan Umum Provinsi

Maluku Utara

 Harga satuan upah/bahan pada proyek yang sedang berjalan di sekitar

lokasi pekerjaan.

c)

Reconnaissance survai di lapangan 1) Penandaan / identifikasi trase

Dalam reconnaissance survey, konsultan melakukan identifikasi trase di lapangan untuk semua ruas yang direncanakan. Identifikasi berdasarkan pada peta land sat dan rintisan jalan atau badan jalan yang ada. Alat yang dipakai roll meter, camera, clinometer dan GPS.

Hasil “ tracking” dengan GPS dipindahkan ke laptop untuk mendapatkan gambaran kasar mengenai trase jalan yang akan direncanakan. Tracking bisa dilaksanakan beberapa kali dengan lokasi yang berbeda untuk mendapatkan trase yang terbaik, ditinjau dari alinemen horizontal. Hasil tacking yang terbaik ditandai dengan patok-patok kayu atau cat, sebagai pedoman dalam survey detail.

Pada peninjauan titik awal dan titik akhir perjalanan diberi Bench Mark (BM), Konsultan diwajibkan mengambil data sejauh 200 m sebelum titik awal dan 200 m setelah titik akhir pekerjaan.

2) Pemeriksaan Kelandaian

Untuk mendapatkan kelandaian yang memenuhi Persyaratan Perencanaan Geometrik jalan, harus dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

Pada setiap segmen jalan yang diperkirakan mempunyai kelandaian lebih besar dari kelandaian maksimum, Konsultan harus melakukan pemeriksaan kelandaian segmen jalan tersebut dengan menggunakan clinometer bersamaan dengan pembacaan jarak. Dalam hal demikian, Konsultan harus membuat draft desain alinyemen vertikal. Apabila persyaratan kelandaian tidak terpenuhi, rencana trase segmen tersebut harus diganti dengan trase

(10)

3) Kontraktor harus mengumpulkan dan mencatat data, antara lain :

Lokasi-lokasi yang diperkirakan perlu jembatan (misal : sungai, alur), gorong-gorong, penanganan khusus dan pencatatan lokasi sumber material (quarry).

Pencatatan data dilakukan seperti contoh berikut :

 Rencana jembatan pertama, ditandai dalam data survey misalnya dengan tulisan :

J – 1 Sta... + ... dan Koordinat GPS.

 Rencana gorong-gorong pertama, ditandai dalam data survey

misalnya dengan tulisan :

G-1 Sta …. + …. dan Koordinat GPS

 Koordinat awal dan akhir ruas

4) Dalam melaksanakan survai pendahuluan ini, Kontraktor harus membuat foto dokumentasi lapangan sekurang-kurangnya pada :

 Awal dan akhir rencana trase

 Setiap 1 (satu) km dengan identifikasi arah pengambilan foto

 Lokasi yang diperkirakan memerlukan jembatan (misal: sungai, alur)

 Lokasi yang perlu penanganan khusus

 Persimpangan / pertemuan dengan jalan lainnya

 Lokasi Quarry

d)

Kon traktor harus membuat laporan lengkap perihal pada butir a s/d c diatas dan memberikan saran-saran yang diperlukan untuk pelaksanaan EPC Pembangunan Jalan Gunung S selanjutnya.

Pada pelaksanaan survai pendahuluan ini kontraktot akan mengirimkan tenaga yang terkait dengan rencana pelaksanaan kerja yang terdiri dari :

1 Team Leader (Team Leader)

2 Ahli Teknik Jalan & Jembatan

3 Ass. Ahli Estimator/Cost and Quantity

Personil-personil di atas mempunyai pengalaman yang cukup. Bersama-sama dengan Project Officer, team akan berkonsultasi dengan Pejabat dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Ternate untuk mendiskusikan segala hal yang bersangkutan dengan ruas jalan yang ditangani.

Dalam pelaksanaannya team akan mengumpulkan sebanyak mungkin data-data yang diperlukan untuk penentuan langkah-langkah desain, yang mencakup :

1) Data mengenai trase 2) Data klasifikasi medan 3) Data lokasi quarry material 4) Survai topografi sederhana 5) Lokasi titik traffic counting

Selama survai pendahuluan team akan mengecek semua data-data di lapangan, memberi koreksi-koreksi seperlunya serta mengambil keputusan apa yang akan dilakukan. Tugas dari Team antara lain :

(11)

a) Menyiapkan peta dasar yang berupa Peta Topografi Skala 1 : 250.000, 1 : 100.00 dan peta-peta pendukung lainnya (Peta Geologi, Tata Guna Tanah dll) yang dipakai untuk menentukan trase jalan dan titik akhir trase jalan secara garis besar, dengan menunjukkan beberapa alternatif trase jalan.

b) Mempelajari lokasi rencana trase jalan dan daerah-daerah sekitarnya dari segi Geografis, Sosial Ekonomi secara umum.

c) Mempelajari dan menganalisa data curah hujan pada daerah rencana trase jalan melalui station-station pengamatan yang telah ada ataupun pada Jawatan Metrologi setempat.

d) Menganalisa secara visual keadaan tanah dasar pada daerah rencana trase jalan. e) Mengumpulkan data yang diperlukan untuk kemungkinan diperlukan

pemasangan jembatan, Gorong-gorong dan bangunan pelengkap lainnya.

f) Membuat foto dokumentasi lapangan pada lokasi-lokasi yang penting dan untuk butir b, c, d dan e.

g) Mengumpulkan data yang berupa informasi mengenai Harga Satuan dan biaya hidup sehari-hari.

h) Membuat laporan lengkap perihal pada butir a s/d i dan memberikan saran-saran yang diperlukan untuk pekerjaan konstruksi, dengan memperbandingkan alternatif trase jalan yang diambil.

i) Mengumpulkan Informasi Sumber material (Quarry) yang diperlukan untuk pekerjaan konstruksi dan mengestimasi volume serta memetakannya.

Semua hasil survai pendahuluan dilaporkan dalam bentuk laporan survai pendahuluan dan dilengkapi dengan photo (asli) mengenai keadaan lokasi jembatan baru beserta dengan masalah-masalahnya (apabila ada).

(12)

data curah hujan

Data Cukup ? Revisi

(13)

Gambar 2.2. Diagram Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Survai Pendahuluan

Sumber : Analisa Konsultan, 2012

2.4.

INVENTARISASI JALAN DAN JEMBATAN

2.4.1. INVENTARISASI JALAN

Pelaksanaan inventarisasi jalan dilakukan untuk :

1) Pencatatan kondisi rata-rata perkerasan jalan setiap 200 m dengan menggunakan kendaraan. Untuk kondisi tertentu memerlukan data yang lebih rapat, interval jarak dapat diperpendek.

2) Pencatatan kondisi lainnya di dalam ruang ruang mamfaat jalan (rumija), mencakup :

 Bangunan-bangunan pelengkap jalan (Drainase, saluran,

gorong-gorong, Guard-rill, dsb);

 Bangunan atau instalasi utilitas (seperti gardu,/boks/tiang telepon, tiang listrik, kabel telepon, kabel listrik, pipa air, pipa gas, dsb);

 Pagar, dinding/tembok penahan tebing, dsb;

 Papan iklan/reklame, gapura, dan sejenisnya yang bersifat permanen atau non permanent.

 Dan lain sebagainya yang memerlukan perhatian pada saat perencanaan

teknis atau pada saat pelaksanaan konsruksi.

3) Pengambilan foto-foto kondisi existing didalam rumaja atau rumija setiap jarak paling jauh 200 meter, jarak tersebut harus diperpendek apabilah ditemukan perubahan yang signifikan.

Disamping hal yang ditentukan tersebut dalam butir i) di atas, inventarisasi jalan harus mengacu juga kepada pedoman-pedoman IIRMS untuk kegiatan survai jalan.

2.4.2. INVENTARISASI JEMBATAN

Pelaksanaan inventarisasi jembatan dilakukan untuk :

a) Mendapatkan informasi mengenai existing jembatan yang terdapat pasa ruas jalan yang ditinjau, mencakup antara lain:

 Nama, lokasi, type dan kondisi umum jembatan,

 Dimensi jembatan, yang meliputi bentang, lebar, ruang bebas, dan jenis

lantai,

 Kondisi dan type/jenis bangunan bawah dan pondasi,

 Penanganan perbaikan atau pemeliharaan yang diperlukan termasuk perkiraan kuantitas jenis-jenis pekerjaannya,

 Kondisi aliran sungai,

 Dan lain sebagainya yang memerlukan perhatian pada saat perencanaan

teknis atau pada saat pelaksanaan konstruksi.

b) Pengambilan foto-foto kondisi existing jembatan tersebut, termasuk yang memperlihatkan kondisi aliran sungai.

2.5. PENGUKURAN TOPOGRAFI

2.5.1. TUJUANTOPOGRAFI

Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data kordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana trase jalan dan

(14)

dengan sekala 1:1000 yang akan digunakan untuk perencanaan geometrik jalan, serta 1:500 untuk perencanaan jembatan dan penanggulangan longsoran.

Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan bumi sepenjang rencana trase jalan di dalam koridor yang ditetapkan untuk penyiapan peta topografi dengan skala 1 : 1000, yang akan digunakan untuk perencanaan geometrik jalan.

1) Pekerjaan pengukuran Topografi sedapat mungkin dilakukan sepanjang rencana as jalan (mengikuti koridor rintisan) dengan mengadakan pengukuran-pengukuran tambahan pada daerah persilangan dengan sungai dan jalan lain sehingga memungkinkan diperoleh as jalan sesuai dengan standard yang ditentukan.

2) Sebelum melakukan pengukuran harus diadakan pemeriksaan alat yang baik

dan sesuai dengan ketelitian alat dan dibuat daftar hasil pemeriksaan alat tersebut.

3) Awal pengukuran dilakukan pada tempat yang mudah dikenal dan aman, dibuat titik tetap (BM) yang di ambil dari titik triangulasi yang ada.

4) Awal dan akhir proyek hendaknya dikaitkan pada titik-titik tetap (BM).

2.5.2. LINGKUP PEKERJAANTOPOGRAFI

Lingkup pemasangan pekerjaan topografi terdiri dari :

a) Pemasangan patok-patok

Pemasangan patok dengan ketentuan sebagi berikut :

1) Patok-patok BM harus dibuat dari beton dengan ukuran 10x10x75 cm atau pipa paralon ukuran 4 inci yang diisi dengan adukan beton dan diatasnya dipasang neut dari baut, ditempatkan pada tempat yang aman, mudah terlihat.Patok BM dipasang setiap 1 KM dan pada setiap lokasi rencana jembatan dipasang minimal 3, masing-masing 1 pasang disetiap sisi sungai /alur dan 1 disekitar sungai yang posisinya aman dari gerusan air sungai.

2) Patok BM dipasang/ditanam dengan kuat, bagian yang tampak atas tanah setinggi 20 cm, dicat warma kuning, diberi notasi dan nomor BM dengan warna hitam.

3) Patok BM yang sudah terpasang, kemudian difoto sebagai dokumentasi yang dilengkapi dengan nilai koordinat serta elevasi.

4) Untuk setiap titik poligon dan sifat datar harus digunakan patok kayu yang cukup keras, lurus dengan diameter sekitar 5 cm, panjang sekuarang-kurangnya 50 cm, bagian bawah diruncingkan, bagian atas diratakan diberi oaku, ditanam dengan kuat bagian yang masih tampak diberi nomor dan dicat warna kuning. Dalam keadaan khusus, perlu ditambahkan patok bantu.

5) Untuk memudahkan pencarian patok, sebaiknya pada daerah sekitar patok diberi tanda-tanda khusus.

6) Pada lokasi kusus dimana tidak mungkin dipasang patok, misalnya di atas permukaan jalan beraspal atau diatas permukaan batu, maka titik-titik poligon dan sifat datar ditandai dengan paku seng dilingkari cat kuning dan diberi nomor.

(15)

1) Pengukuran titik kontrol horisontal dilakukan dengan sistem poligon, dan semua titik ikat (BM) harus dijadikan sebagai titik poligon

2) Sisi poligon atau jarak antar titik poligon maksimum 100 meter, diukur dengan meteran atau dengan alat ukur secara optis atau elektronis.

3) Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur theodolit dengen ketelian baca dalam detik. Disarankan menggunakan theodolit jenis T2 atau yang setingkat.

4) Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal dan titik akhir pengukuran dan untuk setiap interval kurang lebih 5 Km di sepanjang trase yang diukur. Apabila pengamatan matahari tidak bisa dilakukan, disarankan menggunakan alat GPS Portable (Global Positioning System). Setiap pengamatan matahari harus dilakukan dalam 2 seri (4 biasa dan 4 luar biasa).

c) Pengukuran titik kontrol vertikal

Adapun pengukura titik kontrol vertikal :

1) Pengukuran ketinggian dilakukan dengan cara 2 kali berdiri/ pembacaan pergi pulang

2) Pengukuran sifat datar harus mencakup semua titik pengukuran (poligon, difat datar, dan potongan melintang) dan titik BM

3) Rambu-rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik, bersekala benar, jelas dan sama.Pada setiap pengukuran sifat datar harus dilakukan pembacaan ketiga benangnya, yaitu benang atas (BA) Benang Tengah (BT) benang bawah (BB) dalam satuan mm. Pada setiap pembacaan harus dipenuhi: 2BT=BA+BB

4) Dalam satu seksi (satu hari pengukuran) harus dalam jumlah siang (pengamatan) yang genap.

d) Pengukuran situasi

1) Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem techimetri, yang mencakup semua obyek yang dibentuk oleh alam atau manusia yang ada disepanjang jalur pengukuran seperti alur sungai, bukit, jembatan, runah, gedung dsb. 2) Dalam pengambilan data agar diperhatikan keseragaman penyebaran dan

kerapatan titik yang cukup sehingga dihasilkan gambar situasi yang benar. Pada Lokasi-lokasi khusus (misalnya: sungai, persimpangan dengan jalan yang sudah ada) pengukuran harus dilakukan dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi.

3) Untuk pengukuran situasi harus digunakan alat theodolit.

2.5.3. PERSONILTOPOGRAFI

Untuk pekerjaan Topografi ini dibutuhkan : Sarjana Teknik Sipil, Sarjana Geodesi, sebagai tenaga engineer serta tenaga-tenaga Surveyor dan Draftman yang berpengalaman dalam pekerjaan penanganan jalan.

2.6. SURVAI LALU LINTAS

2.6.1. TUJUANSURVAI LALU LINTAS

Survai lalu lintas bertujuan untuk mengatahui kondisi lalu lintas, kecepatan kendaraan rata-rata, mengiventarisasi jalan yang ada, serta mengiventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan yang melewati ruas jalan dalam

(16)

satuan waktu, sehingga dapat dihitung lalu lintas harian rata-rata sebagai dasar perencanaan jalan dan jembatan.

2.6.2. RUANG LINGKUPSURVAI LALU LINTAS

Survai lalu lintas meliputi kegiatan Survai volume kendaraan. Seluruh jenis kendaraan yang lewat baik dari arah depan maupun dari arah belakang harus dicatat. Setiap minimal 2 orang dengan peralatan yang digunakan 1 orang counter serta format survai yang telah ditentukan.

a) Pos-pos perhitungan lalu lintas yang terbagi dalam beberapa tipe pos.

Tipe pos terdiri dari diantaranya :

1) Pos klas A : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada ruas jalan dengan jumlah lalu lintas yang tinggi dan mempunyai LHR > 10.000 kendaraan.

2) Pos klas B : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terlatak pada ruas jalan dengan jumlah lalu lintas yang sedang dan mempunyai LHR 5.000 < LHR < 10.000 kendaraan.

3) Pos klac C : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terleyak pada ruas jalan dengan jumlah lalu lintas yang rendah dan mempunyai LHR < 5.000 kendaraan.

b) Pemilihan Lokasi Pos

Pemilihan lokasi pos didasarkan kepada bebrapa hal diantaranya :

1) Lokasi pos harus mewakilimjumlah lalu lintas harian rata-rata dari ruas jalan tidak terpengarus oleh angkutan ulang alik yang tidak mewakili ruas (commuter traffic).

2) Lokasi pos harus mempunyai jarak pandang yang cukup untuk ke dua arah,

sehingga memungkinkan pencatatan kendaraan dengan mudah dan jelas.

3) Lokasi pos tidak dapat ditempatkan pada persilangan jalan.

c) Periode Perhitungan

Periode perhitungan terdiri dari :

1) Pos Kelas A. Untuk pos kelas A perhitungan dilakukan dengan periode 40 jam selama 2 hari, mulai pukul 06.00 pagi pada hari pertama dan berakhir 22.00 pada hari kedua.Pembina jalan akan menginformasikan jadual perhitungan pada awal Tahun Anggaran , Apabila ada perubahan jadual, waktu survai akan ditentukan lebih lanjut oleh pembina jalan yang bersangkutan.

2) Pos Kelas B. Untuk pos Kelas B, pelaksanaan perhitungan seperti pada pos kelas A. Pelaksanaan perhitungan pada pos kelas B sesuai dengan jadual yang ditentukan.

3) Pos Kelas C. Perhitungan dilakukan dengan periode 16 jam mulai pukul 06.000 pagi dan berakhir pada pukul 22.00 pada hari yang sama yang ditetapkan untuk pelaksanaan perhitungan.

d) Pengelompokan Kendaraan

Dalam perhitungan jumlah lalu lintas, kendaraan dibagi kedalam 10 kelompok mencakup kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor

(17)

Golongan /

Kelompok Jenis kendaraan yang masuk kelompok ini adalah

1 Sepeda motor, skuter, sepeda kumbang, dan kendaraan bermotor

roda 3

2 Sedan, Jeep dan Station Wagon

3 Opelet, Pick-up opelet, Suburban, Combi, Minibus

4 Pick-up, Mikro truk, mobil hantaran/ Pick-up Box

5a Bus Kecil

5b Bus Besar

6 Truk 2 sumbu

7a Truk 3 sumbu

7b Truk Gandengan

7c Truk semi Trailer

8 Kebdaraan tidak bermotor, sepeda, becak, andong/dokar, gerobak

sapi.

Pengenalan ciri kendaraan :

1. Sepeda kumbang, sepeda yang ditempeli mesin 75 cc (max) 2. Kendaraan bermotor roda 3 antara lain Bemo, Bajaj

3. Kecuali Combi umumnya sebagai kendaraan penumpang umum maximal 12 tempat duduk seperti mikrolet, angkot, minibus, pick-up yang diberi penaungk, kanvas/ pelat dengan rute dalam kota dan sekitarnya atau angkutan pedesaan

4. Umumnya sebagai kendaraan barang maximal beban sumbu belakang 3,5 ton dengan bagian belakang sumbu tunggal roda tunggal (STRT)

5a Bus kecil adalah sebagai kendaraan penumpang umum dengan tepat duduk antara 16 s/d 26 buah, seperti kopaja, metromini, elf dengan bagian belakang sumbu tunggal roda ganda (STRG) dan panjang kendaraan maximal 9 m dengan sebutan bus ¾.

5b Bus besar adalah sebagai kendaraan penumpang umum dengan tempat duduk antara 30 – 50 buah, seperti bus malam, bus kota, bus antar kota yang berukuran 12 M dan STRG.

6 Truk 2 sumbu adalah sebagai kendaraan barang dengan beban sumbu belakang 5-10 ton (MST 5,8,20 dan STRG)

7a Truk 3 sumbu adalah kendaraan barabg dengan 3 sumbu yang letaknya STRT dan SGRG (sumbu ganda roda ganda)

7b Truk gandengan adalah kendaraan no. 6 dan 7 yang diberi gandengan bak truk dan dihububgkan dengan batang segitiga. Disebut juga full trailer truck.

7c Truk semi trailer atau truk tempelan adalah sebagai kendaraan yang terdiri dari kepala truk dengan sumbu 2-3 sumbu yang dihubungkan secara sendi dengan pelat dan rangka bak yang beroda belakang yang mempunyai 2 atau 3 sumbu pula.

2.6.3. PERSYARATANSURVAI LALU LINTAS

Standard pengambilan dan perhitungan data harus mengacu pada buku Manual Kapasitas Jalan Indonesia.

(18)

2.7. SURVAI PERKERASAN JALAN

2.7.1. TUJUAN PERKERASAN JALAN

Survai perkerasan jalan bertujuan untuk mengetahui nilai struktural yang sudah ada. Untuk perkerasan jalan aspal yang masih utuh, dilakukan dengan mengukur lendutan balik dengan alat Benkelmen Beam. Untuk jalan perkerasan aspal yang sudah rusak atau jalan kerikir/tanah, nilai struktural didapat dengan mengukur CBR tanah dasar dengan DCP test. Dicatat nilai sisa perkerasan setara tebal agregat klas A.

2.7.2. RUANG LINGKUPPERKERASAN JALAN a) Pemeriksaan Lendutan Balik

Ledutan balik dapat dilakukan dengan berbagai macam alat, salah satu yang biasa digunakan adalah dengan Benkelman Beam.

Pemeriksaan harus dilakukan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

1) Pengukuran beban gandar belakang harus dilakukan dengan

menggunakan jembatan timbang atau dengan alat lain yang telah terbukti dapat dipakai untuk pengukuran beban gandar, dan hasil pengukuran beban gandar harus dicatat dengan jelas.

2) Alat Benkelman Beam yang dipakai harus mempunyai ukuran yang standart misalnya, perbandingan batang 1:2. Dimensi geometrik dan Benkelman Beam harus dicatat dengan jelas.

3) Alat pembacaan (dial gauge) lendutan harus pada kondisi yang baik dan

skala ketelitian pembacaan jarum penunjuk harus dicatat.

4) Pemeriksaan lendutan balik dilakukan dengan interval pemeriksaan maksimal setiap 200 m sepanjang ruas jalan beraspal yang telah ditetapkan.

5) Hal-hal khusus yang dijumpai seperti kondisi drainase, nama daerah

yang dilalui, cuaca, waktu peninggian permukaan jalan dan sebagainya harus dicatat.

6) Lokasi awal dan akhir pemeriksaan harus dicatat dengan jelas (patok

Km/Sta).

b) Pemeriksaan Daya Dukung Tanah Dasar dengan Alat DPC (Dynamic Cone Penetrometer

Pemeriksaan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan ketentuan sebagai beikut:

1) Alat DPC yang dipakai harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan ukuran

yang ada.

2) Pemeriksaan dilakukan dengan interval pemeriksaan maksimal 200 m

3) Pemeriksaan dilakukan pada sumbu jalan pada permukaan lapisan tanah

dasar

4) Harus dicatat ketebalan dan jenis setiap bahan perkerasan yang ada seperti lapisan sirtu, lapisan telford, lapisan pasir dan sebagainya.

5) Pemeriksaan dilakukan dengan kedalaman 90 cm dari permukaan lapisan tanah dasar kecuali bila dijumpai lapisan tahan yang sangat keras (lapis Batuan)

6) Selama pemeriksaan harus dicatat keadaan-keadaan kondisi drainase, cuaca, waktu dan sebagainya.

(19)

7) Lokasi awal dan akhir dari pemeriksaan harus dicatat dengan jelas.

c) NAASRA

Survai NAASRA dapat di lakukan dengan tahapan berikut :

1) Sebelum digunakan untuk survai, kendaraan harus dijalankan 10 menit untuk pemanasan hidrolik peredam kejut.

2) Pada titik awal ruas jalan yang di survai teknisi harus menyetel pembacaan alat ukur NAASRA dan pembacan alat ukur jarak (Tripmeter/odometer) kedalam kedudukan nol.

3) Kendaraan dijalankan dengan kecepatan tetap sekitar 30-35 km/jam, dan diusahakan agar kendaraan berjalan pada lajur sekitar 40-60 cm dari tepi perkerasan jalan. Penyimpangan terhadap ketentuan tersebut dapat dilakukan hanya dapat dilakukan untuk keperluan mendahului kendaraan lain yang berhenti atau berjalan lebih lambat pada jalur tersebut.

4) Berdasarkan pembacaan tripmeter/odometer, teknisi harus memberitahu pengemudi apabilah kendaraan kira-kira 50 m lagi sampai pada patok km/titik referensi dengan maksud agar pengemudi dapat bersiap-siap memberitahu kepada teknisi apabilah kendaran tiba dipatok km/titik referensi yang dimaksud .

5) Tehnisi harus melakukan pencatatan kekasaran NAASRA setiap jarak 1 km, sejak dari titik awal sampai dengan titik akhir ruas jalan yang di survai.

6) Pembacaan (pancatatan) kekasaran NAASRA dilakukan pada sumbu roda depan kendaraan melewati patok km atau titik referensi yang berupa tanda dengan cat.

7) Untuk survai yang dilakukan pada suatu ruas jalan yang mempunyai jalur pemisah (median, saluran dan lainnya), maka survai dilakukan pada jalur yang diperkirakan mempunyai nilai kekasaran lebih besar.

2.7.3. METODE DAN PERALATAN YANG DIBUTUHKAN DALAM SURVAI PERKERASAN JALAN.

Untuk pelaksanaan kegiatan Benkelman Beam kendaraan Truk harus sesuai dengan muatan gandar yang diisyaratkan pada survai BB yaitu 8,2 ton dengan tekanan angin ban sebesar 80 Psi (Harus sesuai dengan SNI. 03 – 2416 -1991), dan untuk kegiatan DCP (harus sesuai dengan SNI 03 – 1743 – 1989), sedangkan untuk kegiatan NAASRA (harus sesuai dengan panduan Survei kekerasan permukaan jalan dengan Alat Ukur NAASRA), Proses pengambilan data harus mengacu pada format yang telah standar.

2.8. SURVAI QUARRY DAN HARGA MATERIAL

Tujuan survai quarry dan harga materialyang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah untuk mengumpulkan data quarry dan harga material, guna keperluan analisis harga satuan upah dan bahan pekerjaan.Informasi yang ingin diperoleh dari pemeriksaan ini adalah mengenai lokasi sumber material, jenis material, jumlah material yang ada dan harga material yang terdapat disekitar lokasi proyek. Informasi ini penting untuk perhitungan harga satuan pekerjaan dalam perencanaan dan sebagai informasi bagi kontraktor dalam mengajukan harga penawaran ( Analisa Harga Satuan / OE-EE ).

(20)

Inventarisasi sistem drainase existing

2.9. SURVAI HIDROLOGI DAN HIDRAULIK

2.9.1. TUJUANHIDROLOGI DAN HIDRAULIK

Tujuan Survai hidrologi dan hidrolika yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan karakter/ perilaku aliran air pada bangunan air air yang ada (sekitar jembatan maupun jalan), guna keperluan analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana (elevasi muka air banjir), perencanaan drainase dan bangunan pengaman terhadap gerusan, river training (pengarah arus) yang diperlukan.

Survai Hidrologi bertujuan untuk mencari data yang diperlukan dalam analisa hidrologi dan selanjutnya dapat dipakai dalam perencanaan drainase. Sedangkan perencanaan drainase sangat diperlukan untuk penentuan jenis dan dimensi dari bangunan-bangunan drainase, disamping untuk penentuan bentuk potongan jalan itu sendiri. Tujuan survai hidrologi yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan bangunan air yang ada, guna keperluan analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana, perencanaan drainase dan bangunan air yang diperlukan di sepanjang rencana trase jalan.

Analisa hidrologi diperlukan dalam Perencanaan teknis jalan untuk dapat atau menentukan curah hujan, data banjir di suatu daerah atau pemukiman yang melewati jalan sebagai salah satu transportasi penghubung.

Gambar 2.3. Diagram Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan Survai Hidrologi

Sumber : Analisa Konsultan, 2011

2.9.2. RUANG LINGKUPHIDROLOGI DAN HIDRAULIK

Lingkup pekerjaan survai hidrologi dan hidrolika ini meliputi ;

a) Mengumpulkan data curah hujan harian maksimum (mm/hr) paling sedikit dalam jangka 10 tahun pada daerah tangkapan (catchment area) atau pada

(21)

daerah yang berpengaruh terhadap lokasi pekerjaan, data tersebut bisa diperoleh dari Badan Meterologi dan geofisika dan / atau instansi terkait di kota terdekat dari lokasi perencanaan.

b) Mengumpulkan data bangunan pengaman yang ada seperti gorong-gorong, jembatan, selokan yang meliputi : lokasi, dimensi, kondisi, tinggi muka air banjir.

c) Menganalisis data curah hujan dan menentukan curah hijan rencana, debit dan tinggi muka air banjir rencana dengan periode ulang 10 tahunan untuk jalan arteri, 7 tahunh untuk jalan kolektor, 5 tahunan untuk jslsn loksl dsn 50 tahunan jembatan dengan metode yang sesuai.

d) Menganalisa pola aliran air pada daerah rencana untuk memberikan masukan dalam proses perencanaan yang aman.

e) Mengitung demiensi dan jenis bangunan pengaman yang diperlukan.

f) Menentukan rencana elevasi aman untuk jalan/jembatan termasuk pengaruhnya akibat adanya bengunan air (aflux).

g) Merencanakan bangunan pengaman jalan/ jembatan terhadap grusan samping atau horizontal atau vertikal.

2.9.3. LANGKAH-LANGKAH PERENCANAANHIDROLOGI DAN HIDRAULIK

Dalam Perencanaan drainase perkotaan terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu :

a) Survai lapangan dan pengumpulan data

Pada tahapan survai ini dilakukan pengukuran-pengukuran, pencatatan situasi baik jaringan beserta fasilitasnya maupun daerahdaerah genangan dan akibatnya. Inventarisasi jaringan drainase dan fasilitasnya serta kondisi pada saat itu harus pula dilakukan. Sebagai penunjang yang diperlukan dalam proses Perencanaan saluran drainase memerlukan data peta-peta topografi, tata guna lahan, data hidrologi dan lainnya.

b) Pelajari sistem drainase yang ada secara makro dan mikro

Studi sistem drainase yang ada secara makro dan mikro dilakukan untuk mendapatkan konfigurasi sistem yang ada pada saat itu yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk rencana yang baru. Secara makro dilakukan supaya rencana mikro tidak terlepas dari rencana keseluruhan.

c) Penentuan batasan layanan drainase

Batas layanan ditentukan berdasarkan kondisi lapangan, tata guna lahan, peta situasi dengan mempertimbang kan prospek pengembangan, keadaan kontour tanah, badan air, perlengkapan drainase yang telah ada, dinding tutupan dan sarana jalan yang ada.

d) Perumusan masalah dan penyelesaiannya

Masalah-masalah yang ada dirumuskan secara rinci dan dibuat prioritas yang paling mendesak untuk ditangani.

2.9.4. KRITERIA PERENCANAANHIDROLOGI DAN HIDRAULIK

Untuk melakukan perhitungan hidrologi maupun hidrolis, diperlukan suatu kriteria perandangan yang merupakan patokan di dalam setiap perhitungan-perhitungan.

(22)

1) Data hujan yang dipakai, baik data curah hujan harian maupun data curah hujan jangka pendek dimana sifat-sifatnya dianggap sama dengan sifat-sifat meteorologi dari daerah jalan yang ditinjau.

2) Periode ulang. Periode ulang adalah suatu periode yang dinyatakan dengan tahun, dimana suatu hujan dengan jangka waktu dan intensitas tertentu dianggap bisa terjadi.

3) Perencanaan saluran. Karena alasan-alasan teknik dan ekonomi misalnya saluran direncanakan dengan lapisan tahan erosi disarankan menggunakan kecepatan izin aliran 0.60 m/det untuk menghindari terjadinya gerusan dan hendaknya dipakai saluran penampang hidrolis terbaik dengan luas penampang minimum mampu membawa debit air maksimum.

4) Untuk menentukan debit rencana yang mempergunakan metoda rasional, luas daerah alirannya adalah 0 < A < 25 km2.

5) Didalam mendimensi saluran yang mempergunakan rumus Manning, diasumsikan aliran adalah uniform dan steady.

Tahapan analisis data hidrologi secara garis besar dapat dikelompokkan dalam beberapa golongan meliputi :

a) Analisis frekwensi data debit

b) Analisis debit banjir rancangan

a)

ANALISIS FREKUENSI DATA DEBIT

Analisis data curah hujan dapat dilakukan pada data curah hujan ataupun data debit sesuai dengan kebutuhan perencanaan. Metode yang dapat dipakai untuk analisis frekuensi dapat dilihat berikut ini :

1) Metode Gumbell

2) Metode Log Pearson Type III

Masing-masing metode memiliki syarat keandalan dan ketepatan pemakaiannya. Pemilihan metode berdasarkan karakteristik data yang ada, yang diperlihatkan dengan besaran statistik cv (koefisien variasi, ck (Koefisien kurtosis) dan cs (koefisien asimetri). Di bawah ini diuraikan dua buah rumus yang sering dipakai dalam perhitungan yaitu metode E.J. Gumbell dan Log Pearson III dengan rumus sebagai berikut :

1. Distribusi Gumbel

Sifat sebaran dari distribusi ini adalah : a) Cs 1,4

b) Ck 5,4

Apabila koefisien asimetri (Cs) dan koefisien kurtosis (Ck) dari data hujan mendekati nilai tersebut, maka sebaran Gumbel dapat digunakan.

Rumus : Xtr = Xt ± K.Sx

Dimana : Xtr : Besarnya Curah hujan untuk periode ulang Tr tahun

Xt : Curah hujan rata-rata selama tahun pengamatan

Sx : Standard deviasi

K : Faktor frekuensi Gumbell

Ytr : -ln (-ln(1-1/tr))

Sn dan Yn adalah fungsi dari banyaknya sample.

2. Metode Log Pearson Type III

(23)

a) Cs=O b) Ck=4-6

Apabila koefisien asimetri (Cs) dan koefisien kurtosis (Ck) dari data hujan mendekati nilai tersebut, maka sebaran log Pearson type III dapat digunakan. Distribusi frekuensi Log Pearson Type III dihitung dengan menggunakan rumus :

Log Q = log X + G.s1

Dimana : log X : logaritma rata-rata sample.

s1 : standar deviasi

G : koefisien yang besarnya tergantung dari

koefisien kepencengan (Cs).

Dengan semakin berkembangnya pemakaian software maka selain dengan cara perhitungan manual seperti di atas saat ini telah dikembangkan program Flow Freq untuk kepentingan analisis frekuensi. Input data berupa data curah hujan atau data debit sepanjang tahun pengamatan yang tersedia dan output berupa grafik analisis frekuensi dengan metode-metode seperti yang telah disebutkan di muka. Metode terpilih berdasarkan simpangan terkecil yang dihasilkan oleh salah satu metode tersebut. Selanjutnya besarnya debit atau curah hujan rancangan yang dikehendaki dapat ditarik dari garis yang terbentuk dalam grafik hubungan probabilitas, kala ulang dan debit/curah hujan tersebut.

b)

ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN

Analisis debit banjir rancangan dimaksudkan untuk mengetahui besar banjir rancangan dan hidrograf banjir rancangan yang akan digunakan sebagai dasar perencanaan tinggi jembatan dari muka air banjir di sungai. Perhitungan debit banjir rancangan dapat dilakukan dengan analisa frekuensi dari data-data debit banjir maksimum tahunan yang terjadi, dalam hal ini data yang tersedia sebaiknya tidak kurang dari 10 tahun terakhir berturut-turut. Jika data debit banjir maksimum tahunan yang terjadi selama 10 tahun terakhir berturut-turut tidak tersedia, maka debit banjir rancangan dapat diperkirakan dari data-data curah hujan harian maksimum tahunan yang terjadi di stasiun-stasiun yang ada di daerah pengaliran sungai. Metode ini dikenal dengan “analisa curah hujan - limpasan” denganmempergunakan rumus-rumus empiris dan hidrograf satuan sintetis. Data-data yang diperlukan untuk menghitung debit banjir rancangan adalah data curah hujan rancangan dan data karakteristik DPS (Daerah Pengaliran Sungai). Dalam perencanaan ini metode-metode yang dapat dipergunakan yaitu antara lain:

a) Metode Rasional oleh Haspers

b) Metode Rasional oleh Weduwen

Penggunaan berbagai metode ini disesuaikan dengan ketersediaan data curah hujan, iklim, jenis tanah, karakteristik daerah, luas daerah dan

(24)

1. Metode Rasional oleh Haspers

Metode perkiraan debit banjir secara empiris seperti Haspers, Weduwen mempunyai rumus dasar sebagai berikut:

Q = . . q . A

dimana :

Q : debitmaksimum(m3/det)

 : koefisien pengaliran

 : koefisien reduksi

q : curah hujan maksimum(m3/det/km2)

A : luas daerah pengaliran(km2)

= 1 0 012 1 0 075 0 7 0 7   , . , . , , A A 1/= 1 + t t A t    3 710 15 12 0 4 2 3 4 , . . , . / t = 0,1 . L0,8 . (H/L)-0,3jamJikat<2jam, R = t R t R t . , .( ).( ) max max 24 24 2 1 0 0008 260 2      

Jika 2 jam < t < 19jam,

R = t R t . 24 max 1  

Jika 19 jam < t < 30hari,

R = 0,707 . R24-max . ( t + 1 )

q = R / ( 3,6 . t ) (m3/det/km2) Q =..q.A(m3/det)

2. Metode Rasional oleh Weduwen

Metode ini sesuai untuk sungai dengan luas daerah pengaliran kurang dari 100 km2. Persamaannya adalah:

Q = C . . R . A

dimana :

(25)

= 120 1 9 120     f t A A . t : waktu konsentrasi t = 0 476 2 0 375 0 125 0 25 , . . , , , A Q S C = 1 4 1 7   , .  R

S : kemiringan sungai rata-rata

A : luas daerah pengaliran (km2)

c)

METODA PENDEKATAN

Sebelum dilakukan analisa perhitungan dari masing-masing sistim drainase, penguasaan ilmu-Imu penunjang khususnya hidrologi dan hidrolika sangat diperlukan.

a) Metoda Analisa Frekwensi

Analisa frekwensi merupakan suatu metoda yang mengolah data curah hujan harian untuk mendapatkan harga curah hujan maksimum dengan periode ulang tertentu yang selanjutnya akan digunakan untuk menentukan debit rencana.

Mengingat bahwa dalam pengumpulan data curah hujan ini ada data yang hilang, maka data tersebut akan dilengkapi dengan suatu rumusan untuk tiga stasiun.

b) Melengkapi data yang hilang

Untuk data-data yang hilang atau tidak tercatat, agar terjamin kontinuitas data maka periu ditetapkan data curah hujan yang hilang. Data tersebut akan dicari dengan Metoda Perbandingan Normal yang didasarkan atas data hujan didaerah sekitarnya. Rumus yang digunakan adalah :

dimana :

Px : data hujan yang hilang

Rx : curah hujan tahunan rata-rata pada stasiun dimana data yang

hilang dihitung

ri : curah hujan harian pada stasiun ke-i pada tahun yang hilang

Ri : curah hujan tahunan rata-rata pada stasiun ke-i

n : banyaknya stasiun yang datanya tidak hilang pada tahun tersebut

1) Metoda regresi Gumbel

Menurut Gumbel besarnya curah hujan maksimum untuk suatu perioda ulang tertentu diformulasikan sebagai berikut :

(26)

dimana :

XTR : curah hujan untuk peroida ulang TR (time of

return) satuannya mm.

X : curah hujan rata-rata dari tahun-tahun

pengamatan

SX : deviasi standar data curah hujan

Xi : data curah hujan tahun ke – i

n : jumlah data (jumlah tahun pengamatan)

K : factor koreksi

Sn : reduce standard deviation, fungsi dari n

Yn : reduce mean, fungsi n

YTR : reduce variate

:time of return 2) Analisis Regional

Analisis Regional dimaksudkan untuk mencari curah hujan yang mewakili suatu kawasan (daerah tangkapan air hujan) berdasarkan data-data curah hujan stasiun hujan yang ada disekitarnya. Analisis Regional yang dipakai disini adalah Cara Rata-rata Aljabar untuk mendapatkan Curah Hujan Desain.

dimana :

n:Jumlah pos pengamatan 3) Analisis Debit Rencana

Daerah pengaliran yang relatif kecil dan kejadian hujan merata,

debit rencana (Qr) dapat dihitung dengan Metoda Rasional :

dimana :

c : Koefisien pengaliran permukaan

I : Intensitas curah hujan selama waktu kosentrasi (tc) yang

dinyatakan dalam mm/jam

A : Luas daerah pengaliran (m2)

(27)

Angka pengaliran ada!ah perbandingan antara tinggi aliran dan tinggi hujan untuk jangka waktu yang sangat panjang dimana tinggi hujan adalah besarnya hujan (mm) untuk luas daerah yang sama. Secara matematis dapat dinyatakan :

Harga c dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan faktor-faktor bersangkutan dengan aliran hujan, seperti :

a) Tipe hujan dan keadaan hujan b) Intensitas dan lama waktu hujan c) Distribusi hujan di daerah aliran d) Luas dan bentuk daerah aliran e) Kemiringan daerah aliran

f) Daya infiltrasi dan daya perkolasi tanah g) Kebebasan tanah

5) lntensitas Hujan (I)

Untuk daerah-daerah yang relatif kecil, hujan umumnya merata di seluruh daerah. Intensitas curah hujan rencana (I) didapat dari lengkung intensitas hujan rencana yang merupakan fungsi dari lama curah hujan atau waktu kosentrasi (tc). Kalau hujan berlangsung

lebih lama dari lama waktu kosentrasi akirannya, intensitas rata-ratanya akan lebih kecil daripada kalau waktu hujan lebih lama daripada lama waktu kosentrasi.

Lama waktu kosentrasi sangat tergantung pada ciri-ciri daerah aliran, terutama panjang jarak yang harus ditempuh air hujan yang jatuh ditempat terjauh, kemiringan daerahnya dan ciri-ciri lain. Untuk daerah aliran yang besar dengan pola drainase yang kompleks. aliran air dari tempat terjauh akan tiba terlambat di tempat pengamatan untuk turut menambah besarnya aliran maksimum Oleh karena itu maka metoda rasional hanya dapat dipergunakan untuk daerah akiran yang relatif kecil.

Sebelum harga intensitas hujan ditentukan, terlebih dahulu akan

ditentukan harga tc, dengan persamaan dibawah ini :

tc = tof + tdf

dimana :

tc : Waktu kosentrasi (menit)

tof : Time of Overland Flow (menit)

tdf : Time of Drain Flow (menit)

Time of Overland Flow (t of )

Adalah waktu yang diperlukan oleh air yang tidak melalui saluran pembuangan (permukaan tanah daerah tangkapan) untuk mencapai saluran pembuangan atau lubang pembuangan.

(28)

dimana :

Lof : Panjang overland flow terbesar (m)

n : Koefisien kekasaran Manning

Sc : Kemiringan daerah aliran

Time of Drain Flow (t.df)

Adalah waktu yang diperlukan oleh air hujan untuk mencapai lubang pembuangan melalui saluran yang ada, yang dihitung dengan persamaan :

dimana :

Ldf : Jarak pengaliran (panjang saluran) dalam meter

Vdf : Kecepatan aliran dalam saluran (m/dt)

Kecepatan aliran dalam saluran dihitung dengan rumus Manning :

dimana :

n : Koefisien kekasaran Manning

R : Jari-jari hidrolis penampang saluran

S : Kemiringan saluran

Perencanaan drainase akan diterapkan pada bangunan jalan yaitu saluran samping dan gorong-gorong yang melintas jalan. Saluran samping akan direncanakan bermuara di sungai terdekat atau saluran drainase yang lebih besar. Disamping untuk jalan perencanaan drainase akan diperlukan untuk bangunan jembatan.

Tinggi muka air banjir, dimensi atau ukuran saluran samping dan gorong-gorong akan dihitung berdasarkan cara perhitungan dibawah ini.

a. Intensitas Curah Hujan

Perhitungan intensitas curah hujan dilakukan dengan menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Dr. Mononobe, yaitu :

r1 = R24 / 24 (24/T)2/3 Dimana :

r1 = intensitas curah hujan dalam waktu T jam.

R24 = hujan maksimum dalam 24 jam (mm/hari)

Harga T diperoleh dari rumus yang dibuat oleh Dr. Mononobe sebagai berikut :

(29)

T = L/V

Dimana :

V = kecepatan rata-rata aliran (km/jam)

i = kemiringan dasar sungai

L = panjang sungai (km)

T = waktu perambatan banjir (jam).

b. Periode Ulang Curah Hujan Maksimum dan Clearance

Periode ulang curah hujan maksimum dan clearance untuk perencanaan struktur drainase ditentukan sebagai berikut :

Tabel 2.4. Periode Ulang Curah Hujan Maksimum dan Clearance

Sistem Drainase DrainaseStruktur Periode Ulang(tahun) Clearance (m) Daerah Aliran Sungai

(CA > 15 km2)

Jembatan Besar 50 2.0

Daerah Aliran Sungai (15 km2 >CA>0.3 km2) Jembatan Kecil / Sedang Box Culvert 20 2.0 (0.5 untuk box culvert) Daerah Aliran Sungai

(CA < 0.3 km2)

Gorong-gorong 10 Tidak ada

Drainase Air Permukaan

Drainase Permukaan dan

Sisi Jalan

3 Tinggi air dibatasi 1.2 kali tinggi

bukaan inlet (gorong-gorong

kecil)

c. Perhitungan Debit Rencana

Perhitungan debit rencana dilakukan dengan menggunakan cara “Rational Formulae”, yaitu :

Q = 1/3.6 .(f.r1.A) Dimana :

Q = debit rencana (m3/dt)

f = koefisien pengaliran

r1 = intensitas curah hujan (mm/jam)

A = luas catchment area (km2)

Tabel 2.5. Koefisien Pengaliran

Kondisi daerah Aliran Sungai Harga f

Daerah Pegunungan yang Curam Daerah Pegunungan Tersier Tanah Bergelombang dan Hutan Tanah Dataran yang Ditanami Persawahan yang Diairi

0,79 - 0,90 0,70 - 0,80 0,50 - 0,75 0,45 - 0,60 0,70 - 0,80

(30)

Sungai Kecil di Dataran

Sungai Besar di Dataran 0,45 - 0,750,50 - 0,75

Sumber : Hidrologi untuk Pengairan (Ir. Suyono Sosrodarsono)

d. Perencanaan Dimensi Saluran Samping

1) Dasar PerencanaanDimensi Saluran Samping

Perncanaan Saluran ini ditujukan untuk menentukan dimensi dan kapasitas debit air yang dapat dialirkan oleh saluran samping atau gorong-gorong. Penampang saluran yang direncanakan adalah berbentuk trapesium, dengan asumsi bahwa bentuk ini mudah dalam pelaksanaannya, memenuhi kriteria hidrolis serta cukup ekonomis terhadap lahan yang digunakan. Penentuan dasar perhitungan menggunakan aliran seragam (uniform flow) dengan kriteria sebagai berikut :

 Garis energi, muka air dan dasar saluran harus sejajar, dengan kata

lain mempunyai kemiringan yang sejajar.

 Faktor-faktor debit mempunyai nilai yang sama, yaitu : kedalaman,

luas basah, kecepatan aliran pada setiap penampang untuk debit yang sama adalah tetap.

Rumus yang digunakan adalah ; dimana :

Qs : kapasitas saluran (m3/dt)

F : luas penampang basah saluran (m2)

V : kecepatan aliran (m/det)

Besarnya kecepatan aliran dihitung dengan rumus Manning :

dimana :

n : koefisien kekasaran

R : jari-jari hidrolis saluran, A/P (m)

A : luas penampang basah saluran (m2)

P : keliling basah saluran (m)

So : kemiringan dasar saluran

2) Waktu KonsentrasiDimensi Saluran Samping. Waktu konsentrasi

adalah waktu yang dibutuhkan oleh limpasan air untuk mengalir dari suatu titik yang paling jauh ke suatu titik yang ditinjau pada suatu daerah aliran

3) Koefisien Kekasaran Saluran (n)Dimensi Saluran Samping.Koefisien hambatan (nd) yang dapat pula disebut angka

kekasaran Manning merupakan salah satu unsur penting yang berpengaruh pada kecepatan aliran untuk debit tertentu.Nilai kekasaran Manning sangat dipengaruhi :

 Bentuk penampang saluran

(31)

 Material pembentuk dinding saluran

 Konfigurasi dinding saluran

Nilai angka kekasaran Manning (koefisien hambatan) sebagai dasar perencanaan dapat disajikan sebagai berikut :

Tabel 2.6 Nilai Koefisien Kekasaran Saluran ( n )

Jenis Permukaan KoeKoefisien Kekasaran PePermukaan licin dan kedap air 0,020

PePermukaan licin dan kedap kokoh 0,010 TaTanah dengan rumput tipis dan gundul 0,020

HuHutan gundul 0,060

HuHutan rimbun dan rapat 0,800

4) Kemiringan Dasar Saluran Samping. Pengambilan kemiringan dasar

saluran samping diusahakan mendekati pada keadaan dan kondisi topografi, diharapkan dengan kemiringan tersebut saluran dengan bahan pembentuk dinding mampu untuk mengalirkan debit banjir rencana tanpa menimbulkan erosi atau pendangkalan akibat sedimentasi.Pada kondisi tertentu, kemiringan saluran samping yang terlalu panjang dan curam dibutuhkan bangunan pematah arus yang gunanya untuk mengurangi energi erosi air.Rumus dasar untuk menghitung kemiringan dasar saluran samping disajikan sebagai berikut :

dimana :

So : kemiringan aliran V : kecepatan aliran (m/det)

n : koefisien kekasaran saluran

R : jari-jari hidrolis saluran (m)

5) Kemiringan Dinding SaluranSamping (Talud)

Pertimbangan untuk menentukan kemiringan dinding saluran adalah dari tinjauan segi ekonomis, keamanan, memenuhi segi teknis dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi dalam pembangunannya, secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

a) Efisien bentuk penampang, untuk kemudahan bentuk pelaksanaan. b) Ekonomis dimensi, untuk menghemat lahan (pembebasan tanah). c) Kondisi material pembentuk dinding.

d) Kemudahan dalam pembangunan. e) Kehilangan akibat rembesan.

Untuk penentuan bentuk kemiringan dinding saluran dalam perencanaan ini ditentukan kemiringannya adalah 0 : 1 berupa saluran konstruksi beton dengan bentuk persegi.

6) Tinggi Jagaan (Free Board) Saluran Samping. Tinggi jagaan (free

board) saluran adalah jarak vertikal dari puncak saluran ke permukaan air pada kondisi rencana, dimana jarak vertikal ini harus cukup untuk

(32)

W d Tepi Jalan

Shoulder

mencegah melimpasnya air akibat gelombang atau limpahan air ke tepi saluran.

Rumus dasar yang digunakan dalam perencanaan ini adalah :

dimana : W :tinggi jagaan (free board) (m)

d : kedalaman air saluran (m)

Gambar 2.4. Tinggi Jagaan ( Free Board ) e. Perencanaan Dimensi Gorong-gorong

Fungsi gorong-gorong adalah menampung air yang menyeberang /memotong jalan menuju ke saluran drainase.

Ada tiga bagian konstruksi utama gorong-gorong, yaitu :

 Pipa utama, mempunyai fungsi mengalirkan air dari hulu ke hilir secara

langsung.

 Tembok kepala, mempunyai fungsi menopang ujung dan lereng jalan

serta tembok penahan yang dipasang bersudut dengan tembok kepala untuk menopang bahu jalan serta kemiringan jalan.

 Apron, mempunyai fungsi memasukan air, mencegah terjadinya erosi

atau berfungsi sebagai pencegah erosi.

Secara hidraulis gorong-gorong mempunyai 4 komponen yaitu :

Bagian pemasukan (inlet)

Bagian pipa (barrelI)

Bagian keluaran (outlet)

 Bagian peredam energi (jika diperlukan).

Analisis aliran dalam gorong-gorong sangat rumit (komplek) terdapat dua kemungkinan pengontrol kapasitas gorong-gorong, yaitu:

Inlet Control : bila kapasitas pengaliran bagian pemasukan lebih kecil

dari pada kapasitas pengaliran dalam pipa.

Outlet Control : bila kapasitas pengaliran ditentukan oleh kapasitas pipa

atau oleh kondisi aliran hilir.

Di Inlet Control, kapasitas gorong-gorong ditentukan oleh :

 Dalam air di hulu inlet

 Bentuk sisi inlet

 Geometri inlet

(33)

Di Outlet Control, kapasitas gorong-gorong tergantung dari kondisi hidraulik di hulu outlet. Gorong-gorong direncanakan dengan kondisi aliran bebas. Inlet Tidak Tenggelam (Kondisi aliran bebas) yaitu :

1) Bila dalam air di inlet < 1,2 D, aliran udara akan masuk ke dalam gorong-gorong sehingga aliran dalam gorong-gorong adalah aliran bebas. Pada kondisi ini kekasaran dinding dan kemiringan dasar gorong-gorong akan mengontrol debit. Karena penyempitan aliran secara mendadak di inlet, biasanya aliran akan memasuki gorong-gorong pada kondisi aliran superkritis. Kedalaman kritis terjadi di inlet.

2) Gesekan dinding berangsur-angsur akan mengurangi enersi air. Bila tingkat pengurangan enersi > kemiringan dasar, maka kedalaman aliran di hilir akan bertambah. Tergantung dari TW, aliran superkritis bisa berubah menjadi subkritis lewat loncat air. Aliran dapat dianalisis dengan profil muka air di saluran terbuka.Kemiringan gorong-gorong direncanakan antara 0,50% - 2%, dengan pertimbangan faktor pengendapan di inlet ataupun outlet gorong-gorong dengan ketentuan sebagai berikut : d = 0,80 * h F = b * d Dimana : d : kedalaman air (m) b : lebar gorong-gorong (m) h : tinggi gorong-gorong (m)

F : luas penampang basah (m2)

Penampang basah rencana ditentukan berdasarkan debit banjir rencana dan kecepatan aliran (V), rumus disajikan sebagai berikut :

dimana :

Fr : luas penampang basah rencana (m2)

Q : debit banjir rencana (m3/det)

V : kecepatan aliran (m.det)

Dimensi gorong-gorong ditentukan atas dasar : dimana :

Fe : luas penampang ekonomis (m2)

Fr : luas penampang berdasarkan debit banjir rencana

2.9.5. PERSYARATAN HIDROLOGI DAN HIDRAULIK

Proses analisa perhitungan harus mengacu pasa Standart Nasional Indonesia (SNI) No. 03-3424-1994 atau Standart Nasional Imdonesia (SNI) No: 03-1724-1989 SKBI.1.3.10.1987 (tata cara perencanaan hidrologi dan hidrolika untuk bangunan di sungai).

2.9.6. PERSONIL HIDROLOGI DAN HIDRAULIK.

Sarjana Teknik Sipil, yang dibantu oleh tenaga-tenaga sarjana muda dalam bidang hidrologi dan survaior yang menguasai bidangnya dengan baik.

(34)

Konsultan harus membuat laporan lengkap mengenai survai dan analisis hidrologi yang meliputi :

1) Data Proyek

2) Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek terhadap kota besar terdekat, pos pencatat curah hujan

3) Data curah hujan untuk setiap pos yang diambil 4) Analisis/perhitungan

5) Penentuan dimensi dan jenis bangunan air 6) Daftar lokasi bangunan air yang direncanakan

2.10. PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN

2.10.1. STANDAR PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN

Standar geometrik jalan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No. 038/T/BM/1997 dan standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan (Bina Marga – Maret 1992). Standar geometrik jalan yang di gunakan dalam pekerjaan ini adalah Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No. 038/T/BM/1997 Dan Standar Perencanaan Geometrik Untuk Jalan Perkotaan (Maret 1992). Dalam perencanaan geometrik jalan konsultan harus mempertimbangkan aspek keselamatan pengguna jalan, baik selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi maupun pada saat pengoperasioan jalan. Konsultan harus menjamin bahwa semua elemen geometrik yang direncanakan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standar geometrik jalan dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.Dalam melaksanakan perencanaan geometrik jalan konsultan harus menggunakan perangkat lunak yang kompatibel dengan perangkat lunak Autocad.

2.10.2.KRITERIA PERENCANAAN

Berdasarkan fungsi jalan, jalan lingkar luar ini merupakan jalan arteri primer dan tipe daerahnya urban, maka kriteria-kriteria desain didasarkan klasifikasi perencanaan kelas 1.

Gambar

Tabel 2.1. Ruang Lingkup Survai dan Investigasi.
Tabel 2.4. Periode Ulang Curah Hujan Maksimum dan Clearance  Sistem Drainase Struktur
Tabel  2.6  Nilai  Koefisien  Kekasaran  Saluran  ( n )
Gambar 2.4.  Tinggi  Jagaan  ( Free  Board )
+5

Referensi

Dokumen terkait

Data survai lalu lintas (survai volume, kecepatan, geometrik dan waktu sinyal lalu lintas) tersebut dipakai untuk perhitungan karakteristik pengaturan persimpangan bersinyal

 Berdasarkan hasil analisis data hidrologi dan desain didapatkan material yang dipakai dalam perencanaan sistem rainwater harvesting dengan berbasis value

Setelah data – data yang dibutuhkan diperoleh, selanjutnya data – data tersebut dilakukan analisa untuk merencanakan Geometrik Jalan dan Rencana Anggaran Biaya.

Dalam analisis drainase Jalan Tol Balikpapan – Samarinda, terdapat sebelas lokasi (Sta.) yang memerlukan perencanaan jembatan. Dari analisis hidrologi yaitu dengan

1. Mendapatkan lokasi perencanaan. Batasan wilayah studi. Menentukan elevasi studi. Menentukan mekanisme sistem pembuangan/ outlet drain. b) Analisis hidrologi, data yang dipakai

Berhubungan langsung dengan perencanaan jembatan dan fasilitasnya seperti : LHR, jaringan jalan yang berhubungan, peta topografi, kondisi dan data tanah serta data hidrologi. ¾

Analisa hidrologi debit dilakukan untuk mengetahui debit andalan yang akan dipakai dalam optimasi perencanaan pola tata tanam. Debit andalan yang dipakai sebesar 80%

Metode yang digunakan untuk Perencanaan Sistem Drainase Kawasan Kota Lama Semarang, yaitu meliputi pengumpulan data primer dan sekunder, melakukan analisis