Inventariasasi Endapan Gambut Daerah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua SARI

12 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

Inventariasasi Endapan Gambut Daerah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua

SARI

(Agus Subarnas1)

Daerah inventarisasi endapan gambut berada di bagian barat laut kota Merauke yang berjarak sekitar 11-20 km dari Merauke. Secara Administratif wilayah tersebut termasuk kedalam Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Secara Geografis daerah penyelidikan terletak pada koordinat 140°15′ BT - 140° 30′ BT dan antara 8° 15′ LS - 8° 30′ LS.

Bagian barat Kabupaten Merauke berbatasan dengan Kabupaten Mimika, bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Bouven Digul, di bagian Timur berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nugini, sedangkan di bagian selatan terbuka ke laut Arafuru.

Berdasarkan peta geologi lembar Merauke, daerah penyelidikan terdiri dari endapan sungai muda, endapan sungai tua, endapan rawa muda, endapan rawa tua, endapan pantai muda dan endapan pantai tua.

Hasil penyelidikan pada lokasi yang telah ditentukan yaitu di daerah Anasai dan sekitarnya (140°15′ BT - 140° 30′ BT dan 8° 15′ LS - 8° 30′ LS) tidak dijumpai endapan gambut, maka penyelidikan dialihkan pada beberapa daerah alternatif lainnya yang diperkirakan terdapat endapan gambut, yaitu di daerah Kumbe (140°10′-140° 15′ BT dan 8° 15′ LS-8° 28′ LS), Domande (140°00′-140° 05′ BT dan 8° 10′ LS-8° 15′ LS), Wapeko (140°20′-140° 30′ BT dan 8° 00′ LS-8° 10′ LS), Rawabiru (140°45′-140° 55′ BT dan 8° 38′ LS-8° 45′ LS) dan Sota (140°50′-141° 00′ BT dan 8° 25′ LS-8° 30′ LS).

Setelah dilakukan pengamatan secara teliti pada daerah-daerah tersebut, tidak dijumpai indikasi adanya endapan gambut. Pada umumnya daerah tersebut hanya berupa daerah dataran rendah berupa rawa, dengan demikian selama penyelidikan berlangsung tidak didapatkan adanya endapan gambut.

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Disadari bahwa meningkatnya kebutuhan energi pada saat ini dan masa-masa yang akan datang perlu diiringi dengan meningkatkan penemuan-penemuan sumber energi baru selain yang telah biasa digunakan selama ini yaitu minyak bumi. Sementara itu kebijakan pemerintah dalam upaya diversifikasi energi adalah memanfaatkan potensi energi lain yang sampai saat ini masih belum digunakan. Salah satu sumber daya energi tersebut adalah pemanfaatan gambut, diperkirakan bahwa potensi lahan gambut Indonesia menempati urutan ke empat di dunia, dengan jumlah sumber daya gambut lebih dari 26 juta hektar.

Berkaitan dengan kebijakan pemerintah tersebut, maka Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral melalui Proyek DIPA Pusat Sumber Daya Geologi Tahun Anggaran 2008 melakukan inventarisasi endapan gambut di Indonesia bagian timur, yaitu di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dilakukannya inventarisasi gambut di daerah ini diantaranya adalah untuk mendapatkan data berupa sebaran gambut dan ketebalan lapisannya.

Sedangkan tujuannya untuk menentukan lokasi-lokasi endapan gambut dan daerah prospeksi temuan dilapangan dengan sehingga dapat diketahui potensi sumber daya gambut di daerah tersebut berikut kualitasnya yang selanjutnya dapat dipakai sebagai

acuan atau pedoman bagi penggunaannya dikemudian hari.

1.3. Lokasi Penyelidikan

Daerah peninjauan berada di bagian barat laut kota Merauke yang berjarak sekitar 11-20 km dari Merauke. Secara Administratif wilayah tersebut termasuk kedalam Kabupaten Merauke, Provinsi Papua.

Di bagian barat, Kabupaten Merauke berbatasan dengan Kabupaten Mimika, bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Bouven Digul, di bagian Timur berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini, sedangkan di bagian selatan terbuka ke laut Arafuru.

Secara Geografis daerah penyelidikan terletak pada koordinat 140°15′ BT - 140° 30′ BT dan antara 8° 15′ LS - 8° 30′ LS. Koordinat tersebut termasuk kedalam peta dasar lembar SB 54-2 (3407), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (PPPG) 1987 dan termasuk bagian dari peta geologi bersistim lembar Merauke No. 3407 (Gambar 1).

Merauke sebagai Ibukota Kabupaten dapat dicapai dari Jakarta melalui jalur udara dan laut. Perjalanan dengan pesawat udara menempuh jalur Jakarta-Merauke selama kurang lebih 10 jam dengan transit di Ujungpandang, Biak dan Jayapura.

Sedangkan untuk mencapai lokasi penyelidikan dapat dijangkau dari Merauke dengan menggunakan jalan darat menggunakan kendaraan bermotor beroda 4 atau sepeda motor.

(2)

Lokasi Penyelidikan

Gambar 1. Peta indek lokasi penyelidikan

1.4. Keadaan Lingkungan

Secara Geografis Kabupaten Merauke terletak pada koordinat 137°00′ 00” - 141° 00′ 00” Bujur Timur dan antara 05° 00′ 00” - 09° 00′ 00” Lintang Selatan. Teritorial Kabupaten Merauke di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Diegul, di bagian timur berbatasan dengan negara tetangga Papua New Guinea (PNG), dan di sebelah selatan terbuka ke laut Arafuru.

Kabupaten Merauke dengan ibukota Merauke mempunyai luas wilayah 45.071 km2 dan mempunyai 11 Distrik/Kecamatan dan 160 Kampung.

Kabupaten Merauke saat ini ditetapkan sebagai Kabupaten induk dari 4 kabupaten hasil pemekaran wilayah berdasarkan UU No.26 Tahun 2002 tentang otonomi daerah.

Iklim

Kabupaten Merauke merupakan daerah tropis dengan kelembaban udara yang relatif tinggi yakni 78,8 %. sedangkan rata-rata curah hujan di Stasiun Merauke menunjukkan angka 227,7 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 114 hari.

Suhu udara rata-rata 26,7˚ C dengan suhu tertinggi mencapai 31,0˚, sedangkan suhu terendah 23,2˚ C.

Secara umum Kabupaten Merauke dan sekitarnya merupakan dataran rendah dengan topografi antara 0 sampai 100 m diatas permukaan laut. (Sumber data: Merauke Dalam Angka tahun 2006).

Penduduk dan Mata Pencaharian

Jumlah penduduk di Kabupaten Merauke mencapai 174.710 jiwa dengan kepadatan penduduk mencapai 3,60 jiwa/km². (Sumber data :Merauke dalam angka 2006).

Kabupaten Merauke dihuni oleh kelompok Penduduk Asli yang tergolong Ras Melanesia Ras Negroid (Pembagian menurut Antropolog A.L. Kroeber,DR) dan didomonasi oleh kelompok suku Marind yang terdiri dari 7 marga, yakni : Samkakai, Basik-basik, Diken, Gepze, Balagaize, Mahuze dan Kaizea, sedangkan penduduk pendatang berasal dari ras Mongolid seperti : Jawa, Batak, Sulawesi (Toraja, Menado, Sanger, Makasar dan Bugis) dan Ras Austroloid seperti suku-suku Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Sebagian besar mata pencaharian penduduk kabupaten Merauke adalah petani (Kab Merauke merupakan lumbung padi di Prov Papua), nelayan dan pedagang, sedangkan sebagian kecil lainnya merupakan pegawai negeri.

Sarana Pendidikan dan Kesehatan

Pada umumnya sarana pendidikan di

wilayah kota Merauke dan beberapa daerah di Kabupaten Merauke sudah cukup memadai, dimana terdapat sebanyak 60 unit sekolah taman kanak-kanak (TK), 162 unit sekolah dasar (SD), 37 unit sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP),

(3)

9 unit sekolah menengah umum (SMU) dan 13 unit sekolah menengah kejuruan (SMK).

Jumlah tenaga dokter yang ada di Kabupaten Merauke sebanyak 25 orang, dengan 1 rumah sakit umum daerah (RSUD) di kota Merauke, sarana kesehatan yang ada di wilayah kecamatan merupakan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu). Beberapa penyakit yang menonjol di daerah ini diantaranya penderita saluran pernapasan sebanyak 47.885 orang, Malaria 19.116 orang, HIV sebanyak 888 orang.

Sarana Transportasi

Sarana transportasi yang ada di Kabupaten Merauke memang belum memadai dibanding luas wilayahnya, tercata panjang ruas jalan di Kabupaten Merauke 2.699,279 km, dengan rincian jalan negara

sepanjang 566,675 km, jalan provinsi sepanjang 232,452 km dan jalan kabupaten sepanjang 1.900,152 km.

Kondisi jalan negara dan provinsi terpelihara baik, sedang jalan kabupaten hanya sepanjang 782,796 km yang sudah diaspal, sedangkan sisanya jalan jembatan sepanjang 40,382 km, jalan kerikil 10,947 km dan jalan tanah sepanjang 1.865,154 km .

1.5. Waktu Penyelidikan

Kegiatan lapangan berlangsung selama 46 hari dilanjutkan dengan dengan kegiatan kantor yang meliputi analisis dan pemerosesan data, analisis conto di laboratorium, pembuatan peta-peta dan penyusunan laporan akhir.

Pelaksanaan kegiatan lapangan berlangsung pada pertengahan bulan Maret sampai awal Mei 2008, yaitu tanggal 18 Maret 2008 – 2 Mei 2008.

KEGIATAN JAN FEB MRT APR MEI JUN JUL AGT SEPT OKT NOV DES

STUDI PUSTAKA 2 PROPOSAL PRESENTASI LAPANGAN PENGOLAHAN DATA LAPORAN AWAL LABORATOTIUM LAPORAN AKHIR PRESENTASI

Tabel 1. Jadual Kegiatan Inventarisasi Endapan Gambut Di Kabupaten Merauke

1.6. Pelaksana dan Peralatan Penyelidikan Pelaksana

Dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan Inventarisasi endapan gambut, di daerah Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, maka pelaksanaan kegiatan ini didukung oleh 6 (enam) orang petugas yang berasal dari Kelompok Program Penelitian (KPP) Energi Fosil , Pusat Sumber Daya Geologi terdiri dari 2 orang ahli geologi, 2 orang juru bor gambut, 1 orang teknisi pengukuran dan 1 orang preparator conto ditambah 1 orang petugas

pendamping yang berasal dari Dinas Pertambangan dan energi Kabupaten Merauke. Adapun susunan nama-nama pelaksana kegiatan Inventarisasi adalah sebagai berikut :

1. Ir Agus Subarnas, dari KPP Energi Fosil, sebagai ketua tim.

2. S.M. Tobing, MSc, dari KPP Energi Fosil, sebagai anggota tim.

3. Ir. Deddy Amarullah, dari KPP Energi Fosil, sebagai anggota tim

4. Agus Maryono S.T, dari KPP Energi Fosil, sebagai anggota tim.

(4)

5. Rochadi, dari KPP Energi Fosil, sebagai anggota tim.

6. Rahayu Gesang Kami, dari KPP Energi Fosil, sebagai anggota tim.

7. Siti Sofia Wahida, S.T. Dari Dinas Pertambangan Kab Merauke, sebagai anggota

Peralatan

Peralatan lapangan yang digunakan pada penyelidikan ini adalah:

- Peta Topografi lembar No.3407 sekala 1 : 50.000 - Peta Geologi Lb Merauke sekala 1 : 250.000 - Alat Bor tangan khusus gambut

- Alat ukur water Pass - Palu geologi

- Kompas geologi

- GPS (Global Positioning System)

- Meteran - Kantong conto - Kamera Lapangan

- Catatan lapangan dan alat tulis

1.7. Penyelidik Terdahulu

Penyelidikan yang dilakukan khusus mengenai endapan gambut didaerah ini belum pernah dilakukan, akan tetapi beberapa penyelidik yang pernah mambahas mengenai daerah ini diantaranya adalah :

Pemda setempat melalui Dinas Pertanian Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke pernah melakukan, yaitu: a. Penyelidikan umum mengenai kondisi tanah

untuk kepentingan pengembangan lahan pertanian, yaitu berupa Laporan mengenai Pewilayahan Komoditas Pertanian berdasarkan Zona Agro Ekologi yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke tahun 2006.

b. Laporan pemetaan geologi dan Peta Geologi lembar Merauke, Irian Jaya sekala 1 : 250.000 yang dilakukan oleh R.Heryanto dan H.Panggabean dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun1995. c. Laporan pemetaan geologi dan Peta Geologi

lembar Kimam (Mapi), Irian Jaya sekala 1 : 250.000 yang dilakukan oleh N. Suwarna dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun 1995.

d. Laporan pemetaan geologi dan Peta Geologi lembar Muting, Irian Jaya sekala 1 : 250.000 yang dilakukan oleh N. Suwarna dan Kusmana dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun 1995.

e. Laporan pemetaan geologi dan Peta Geologi lembar Tanah Merah, Irian Jaya sekala 1 :

250.000 yang dilakukan oleh D. Sudana dan N. Suwarna dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun1995.

f. Laporan pemetaan geologi dan Peta Geologi lembar Pembre, Irian Jaya sekala 1 : 250.000 yang dilakukan oleh R.Heryanto dan H.Panggabean dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun1995.

g. Laporan pemetaan geologi dan Peta Geologi lembar Selimit, Irian Jaya sekala 1 : 250.000 yang dilakukan oleh R.Heryanto dan H.Panggabean dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun1995.

2. GEOLOGI UMUM 2.1. Stratigrafi

Geologi umum daerah penyelidikan termasuk dalam bagian kerak benua Australia. R.Heryanto dan H. Pangabean (1995) menyebutkan bahwa batuan termuda didaerah ini adalah endapan permukaan yang diendapkan pada Kala Holosen, terdiri dari Endapan Sungai Muda, Endapan Sungai Tua, Endapan Rawa Muda, Endapan Rawa Tua dan Endapan Pantai.

Endapan Sungai Muda (Qr 1) litologinya merupakan endapan klastika lepas yang terdiri atas pasir, lumpur dan kerikil.

Endapan Sungai Tua (Qr 2) merupakan endapan klastika yang tersusun dari lumpur, pasir dan kerikil. Endapan Sungai Tua merupakan hasil endapan dataran banjir yang agak kompak. Kedua endapan sungai tersebut diatas pengendapannya masih berlangsung hingga saat ini.

Endapan Rawa Muda (Qs1) terdiri atas susunan batulempung, lumpur, lanau dan pasir halus, mengandung bahan karbonan. Pengendapan endapan rawa muda ini masih aktif.

Endapan Rawa Tua (Qs 2) merupaka endapan klastika halus terdiri dari lumpur dan pasir halus karbonan, serta gambut.

Endapan Pantai (Qc) pada umumnya adalah endapan klastika lepas, halus-kasar, terdiri dari lumpur dan pasir halus-kasar.

Enpadan permukaan tersebut berada tidak selaras diatas Formasi Buru yang berumur Miosen Tengah – Plio Plistosen, batuannya terdiri dari batulumpur gampingan, serpih pasiran, batugamping, konglomerat aneka bahan dan lignit.

(5)

Tabel 2. Stratigrafi Regional Daerah Penyelidikan (R.Heryanto dan H. Pangabean, 1995)

Seror Anasei Matara Wenau Bahor Jatum Nohotiv Urum Merauke Sewa Ferry Kelapa Lima Keperjk Kuper Kebrahabob Asepebob S. Bosoge S. Pale S. M AR O (M ARA UK E) Qs2 Qc Qr1 Qr2 Qs1 Qs1 Merauke Qs2 Qr1 Qr2 Qs1 Qc 140 °30' 00? BT 140 °15' 00? BT 08 °1 5' 00 ? LS 08 °1 5' 00 ? L S 08 5' 00 ? L S 08 °1 5' 00 ? LS 140 °15' 00? BT 140 °30' 00? BT

Endapan Sungai Tua : Endapan klastika yang tersusun dari lumpur, pasir dan kerikil. Endapan Sungai Tua me rupakan hasil endapan dataran banjir yang agak kompak

Endapan Rawa Muda : Terdiri atas susunan batulempung, lumpur, lanau dan pasir halus. mengandung bahan karbonan

Endapan Rawa Tua : Endapan klastika halus terdiri atas lumpur, pasir halus karbonan dan gambut

Endapan Pantai : Endapan klastika lepas, terdiri atas lumpur dan pasir halus-kasar.

Endapan Sungai Muda : Endapan klastika lepas terdiri atas pasir, lumpur dan kerikil

°1

Tanjung Harom

S. K umbe

Gambar 2. Peta Geologi Daerah Penyelidikan (R.Heryanto dan H. Pangabean, 1995 MASA

ERA ZAMAN PERIOD EPOCH KALA

UMUR (juta tahun) AGE (m year) HOLOSEN HOLOCENE KUARTER QUARTERNAY PLISTOSEN PLEISTOCENE PLIOSEN PLIOCENE ATAS LATE KENOZOI KUM CENOZOIC TERSIER TERTIARY MIOSEN MIOCEN E TENGAH MIDDLE Qc Qs 2 ENDAPAN PERMUKAAN SURFICIAL DEPOSITES Qr1 5.3 2 11. 16.6 Qr 2 Qs 1 1,6 Tmbp 0.01

(6)

2.2. Struktur Geologi batuannya telah mengalami ubahan yang kuat. Beberapa ahli geologi yang pernah melakukan

penelitian di Irian jaya berpendapat bahwa secara regional genesa Pulau Irian diperkirakan terbentuk sebagai akibat tumbuhan dari lempeng Benua Australia dan Timurlaut. Akibat tumbukan tersebut batuan penyusun Pulau. Irian juga berkomposisi batuan yang berasal dari kedua lempeng tersebut.

3. Wilayah yang batuannya merupakan batuan asal dari lempeng benua Australia yaitu di bagian Selatan Irian jaya. Batuan penyusunnya umumnya terdiri dari batuan klastika yang belum mengalami gangguan. Wilayah dengan unsur lempeng benua Australia ini mempunyai lapisan-lapisan penutup yang tebal dan kemungkinkan untuk prospek minyak bumi.

Menurut Visser dan Hermes (1962), Irian Jaya dapat dibagi dalam 3 wilayah berdasarkan komposisi

batuannya : Sedangkan E. Rusmana dkk, 1995

membagi Irian Jaya menjadi 6 bagian berdasarkan pada Mandala Geologinya yaitu Kerak Benua, Kerak Samudra, Jalur sesar naik Anjak Pegunungan Tengah, Jalur Ofiolit Irian jaya, Cekungan Irian jaya Utara dan Cekungan Wapoga

1. Daratan P. Irian yang dibangun oleh batuan yang berasal dari lempeng samudera, sebagian besar terdiri dari ofiolit dan batuan hasil gunungapi yang berkomposisi sedang - basa.

2. Daratan hasil tumbukan lempeng samudera dan lempeng benua dicirikan dengan gangguan struktur dan tektonik yang kuat, wilayah ini dinamakan Jalur Anjak Pegunungan Tengah.

Berdasarkan pembagian Mandala geologi tersebut daerah yang akan diselidiki merupakan bagian dari kerak benua atau lempeng benua Australia. (Gambar. 3).

Bagian Utara Jalur Anjak Pegunungan Tengah terdiri dari Batuan Ultramafic, Gabro dan Batuan Gunungapi asal Kerak Samudera. Pada bagian Selatan, jalur Pegunungan Tengah terlipat kuat, tersesarkan (umumnya terdiri dari sesar-sesar sungkup). Bagian tengah merupakan daerah selebar

Tidak ada pengaruh struktur geologi didaerah yang akan diselidiki. Diperkirakan tektonik yang terekam di daerah ini hanya berupa pengangkatan yang menghasilkan undak sungai dan pantai.

+ 30km, merupakan jalur cekungan,

Gambar 3. Mandala Geologi dan Tektonika Utama Irian Jaya (E.Rusmana dkk, 1995)

JALUR SESAR ANJAK PEG TENGAH JALUR OFIOLIT IRIAN JAYA

DAERAH PENYELIDIKAN CEKUNGAN IRIAN JAYA UTARA CEKUNGAN WAPOGA KERAK SAMUDERA

(7)

4

2.3. Endapan Gambut

Secara alami tumbuhan yang mati tertimbun dibawah permukaan, sebagian tidak sempat teroksidasi. Secara bertahap sisa tumbuhan yang mati tertimbun dalam keadaan jenuh air, sebagian besar terurai oleh mikroba aerob dan anaerob menjadi gambut.

Gambut topogenous terbentuk diatas endapan dataran pantai yang berbutir halus. Dengan tertimbunnya tumbuhan yang mati secara terus menerus, tumbuhan yang hidup di atasnya tidak dapat mencapai tanah yang kaya akan sari makanan dan mineral di bawahnya. Makin keatas dari endapan gambut topogenous tersebut terbentuk endapan gambut Ombrogenous.

Indikasi yang paling khas dari endapan gambut yang terbentuk tersebut dan terlihat pada saat ini diantaranya adalah terdapatnya suatu morfologi dataran rendah dan biasanya berawa pada suatu basin yang diisi oleh sedimen yang sangat kaya akan material organik. Basin yang terbentuk tersebut biasanya dibatasi oleh dua tanggul sungai. Salah satu indikasi adanya endapan gambut yang paling umum seringkali aliran sungai yang dilalui oleh endapan gambut berwarna hitam dengan PH air yang relatif lebih rendah (asam) karena terkontaminasi oleh endapan gambut tersebut.

Di daerah yang diselidiki dimana endapan gambut terakumulasi semula diperkirakan berada diantara 2 tanggul sungai yang cukup besar di daerah tersebut yakni diantara tanggul S. Kumbe dan S. Maro dan berdasarkan interpretasi dari peta topografi serta dan peta geologi, gambut tersebut berada pada endapan rawa tua disekitar bagian barat laut kota Merauke.

3. KEGIATAN PENYELIDIKAN 3.1. Penyelidikan Lapangan 3.1.1. Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dilakukan baik yang berasal dari studi litelatur berupa laporan dari penyelidik terdahulu maupun dari informasi lisan yang didapat dari berbagai pihak. Data Sekunder juga kami dapatkan berdasarkan informasi dari beberapa Instansi Pemerintah di daerah di Merauke, antara lain dari Dinas Pertambangan Energi dan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan. Selain itu informasi juga didapat dari masyarakat setempat. Beberapa data sekunder berupa litelatur dan laporan yang cukup penting diantaranya adalah :

1. Laporan Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona Agro Ekologi.Dinas Pertanian Kabupaten Merauke, 2006

2. R.Heryanto dan H.Panggabean, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Merauke, Irian Jaya skala 1 : 250.000

3. N. Suwarna, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Kimaan (Mapi), Irian Jaya skala 1 : 250.000

4. N. Suwarna dan Kusnama, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Muting, Irian Jaya skala 1 : 250.000

5. D. Sudana dan N. Suwarna, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Tanah Merah, Irian Jaya skala 1 : 250.000

6. N. Suwarna, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Pembre, Irian Jaya skala 1 : 250.000

7. R.Heryanto dan H.Panggabean, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Selimit, Irian Jaya skala 1 : 250.000

3.1.2. Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data primer dilakukan melalui eksplorasi langsung dilapangan dimana

kegiatan yang dilakukannya adalah : - Mencari lokasi endapan gambut dari informasi

yang pernah didapatkan, kemudian mengembangkan informasi tersebut berdasarkan temuan yang didapatkan di lapangan.

- Dilakukan pengukuran kududukan dan tebal endapan dimana pengamatan endapan gambut tersebut dilakukan dengan melakukan pemboran dangkal sampai kedalaman maksimal 15 m menggunakan alat bor tangan khusus gambut.

- Dilakukan deskripsi gambut langsung dari core yang didapatkan hasil pemboran.

- Dokumentasi seperlunya.

- Dilakukan pengambilan conto gambut sekitar 0.5 kg – 1.5 kg/0.5 m dan dikompositkan pada setiap 1 lubang bor untuk keperluan analisis laboratorium.

- Titik-titik bor diikat dengan alat GPS

- Dilakukan pengukuran beda tinggi dengan alat ukur water pass pada tiap titik bor yang dilakukan dan pada setiap lintasan yang dilalui.

Pengumpulan data primer endapan gambut dilakukan sesuai dengan rencana awal yaitu di daerah Anasai dan sekitarnya atau pada koordinat 140°15′ BT - 140° 30′ BT dan antara 8° 15′ LS - 8° 30′ LS, akan tetapi di daerah tersebut tidak dijumpai adanya endapan gambut, sehingga dilakukan penyelidikan pada beberapa daerah alternatif lainnya yang diperkirakan terdapat endapan gambut.

Penyelidikan dan pengambilan data primer endapan gambut selanjutnya dilakukan pada daerah Kumbe (140°10′ - 140° 15′ BT dan 8° 15′ LS - 8° 28′ LS), Domande (140°00′ - 140° 05′ BT dan 8° 10′ LS - 8° 15′ LS), Wapeko (140°20′ - 140° 30′ BT dan 8° 00′ LS - 8° 10′ LS), Rawabiru (140°45′ - 140° 55′ BT dan 8°

(8)

38′ LS - 8° 45′ LS) dan Sota (140°50′ - 141° 00′ BT dan 8° 25′ LS - 8° 30′ LS).

Setelah dilakukan pengamatan secara teliti pada daerah-daerah tersebut tidak dijumpai indikasi endapan gambut. Pada umumnya daerah tersebut hanya berupa daerah rawa, dengan demikian selama penyelidikan berlangsung tidak didapatkan data primer yang diharapkan.

3.2 Analisis Laboratorium

Analisis laboratorium merupakan pekerjaan non lapangan terdiri atas pengolahan data hasil lapangan diantaranya preparasi dan Analisis conto gambut dan pembuatan laporan akhir.

Analisis conto gambut yang dilakukan adalah analisis kimia untuk menentukan kualitas gambut. Adapun beberapa parameter yang dihasilkan dari analisa tersebut diantaranya dapat menentukan kandungan kalori, karbon tertambat, kadar abu, kandungan pengotor/abu, mendeteksi kemungkinan adanya sulfur, persentasi zat terbang, kandungan air, kelembaban, keasaman dan bulk density.

3.3. Pengolahan Data

Sedangkan tahap selanjutnya yaitu menganalisa conto-conto hasil lapangan, menginterpretasikan geometri endapan gambut dan membuat laporan akhir lengkap dengan peta sekala 1 : 50.000 disertai dengan peta isopachnya dilakukan di kantor.

Sehubungan endapan gambut tidak didapatkan, maka sebaran gambut berikut geometri dan peta isopach gambut tidak dapat digambarkan demikian juga pengolahan data hasil analisis conto gambut tidak dapat dilakukan. Pekerjaan pengolahan data yang dilakukan hanya ploting dan penggambaran lintasan pengamatan.

4. HASIL PENYELIDIKAN 4.1. Geologi Daerah Penyelidikan 4.1.1 Geomorfologi

Berdasarkan peninjauan di lapangan daerah yang diselidiki termasuk dalam zona dataran rendah dan endapan rawa dengan ketinggian <5 m – 15 m diatas permukaan laut.

Kearah selatan dataran rendah ini berkembang menjadi endapan rawa dan endapan pantai.

Sedangkan kearah utara endapan rawa-rawa ini makin berkurang, hal ini dicerminkan oleh keadaan topografinya dimana garis konturnya menunjukan angka yang makin meninggi diatas 20 m diatas permukaan laut dan morfologinya menjadi daerah dataran rendah.

Geomorfologi daerah penyelidikan relatif seragam yaitu suatu satuan pedataran rendah, yang berupa geomorfologi daerah sungai, pantai dan rawa sehingga tidak dijumpai perbedaan morfologi yang

mencolok antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Daerah Kabupaten Merauke ini termasuk ke dalam tahapan geomorfologi tua yang bisa ditunjukkan dengan adanya pola aliran sungai yang meandering. Pada endapan pantai muda, endapan rawa muda dan endapan sungai muda kegiatan pengendapan masih terus berlangsung.

4.1.2. Stratigrafi

Daerah penyelidikan terdiri dari endapan sungai muda, endapan sungai tua, endapan rawa muda, endapan rawa tua, endapan pantai, endapan pantai muda, endapan pantai tua.

Endapan-endapan yang terdapat di daerah penyelidikan berturut-turut dari tua ke muda sebagai berikut :

• Endapan Pantai Tua (Qc2) merupakan endapan tertua di daerah penyelidikan, merupakan endapan klastika lepas - agak padu, terdiri dari lumpur, lanau, dan pasir halus-kasar mengandung bahan karbonan, tersebar luas di daerah Kawasan Taman Nasional Wasur.

• Endapan Pantai Muda (Qc1) merupakan endapan klastika lepas, halus-kasar , terdiri dari lumpur dan pasir halus-kasar.

• Endapan Rawa Tua (Qs2) merupakan endapan klastika sangat halus, terdiri dari lumpur dan pasir sangat halus mengandung bahan karbonan.

• Endapan Rawa Muda (Qs2) merupakan endapan klastika sangat halus yang tersusun dari pasir halus, lumpur humusan, lempung pasiran dan lanau.

• Endapan Sungai Tua (Qr2) merupakan endapan klastika agak kompak yang tersusun dari lumpur, pasir dan kerikil, merupakan hasil endapan dataran banjir. • Endapan Sungai Muda (Qr1) merupakan

endapan klastika lepas terdiri dari pasir, lumpur dan kerikil, merupakan dataran banjir.

4.1.3. Stuktur Geologi

Secara umum di daerah penyelidikan tidak dijumpai adanya struktur geologi yang terjad, hal ini karena daerah penyelidikan merupakan endapan kuarter yang pada umumnya merupakan daeran endapan rawa.

Akan tetapi Kegiatan tektonik daerah ini diduga berlangsung sejak Zaman Paleozoikum. Adapun kegiatan tektonika berumur Kuarter diduga terutama dipengaruhi oleh gaya yang berarah Baratlaut – Tenggara, namun tidak menutup kemungkinan juga yang berarah Timurlaut – Baratdaya dan Utara – Selatan. Kegiatan pengangkatan ditandai oleh adanya endapan

(9)

6 sungai terbiku dan endapan undak sungai, serta

meluasnya endapan rawa. Pengangkatan ini nampaknya dikontrol oleh kegiatan tektonika yang berlangsung sampai sekarang.

4.2. Potensi Endapan Gambut

Seperti telah dibahas secara singkat pada bab 3.1.2 dimana sesuai dengan rencana kerja, lokasi penyelidikan adalah di desa Anasai dan sekitarnya yaitu pada koordinat 140°15′ BT - 140° 30′ BT dan antara 8° 15′ LS - 8° 30′ LS. (Gambar. 2).

Akan tetapi setelah dilakukan pengamatan dilapangan endapan gambut di daerah tersebut tidak dijumpai. Pada umumnya dilokasi penyelidikan tersebut hanya berupa endapan rawa dengan litologi berupa lempung berwarna hitam yang ditutupi oleh lapisan humus dengan tebal sekitar 10- 15 cm.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka lokasi penyelidikan diarahkan pada beberapa lokasi alternatif yang dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa didaerah tersebut terdapat penyebaran endapan rawa tua (Qs2) yang diduga mengandung endapan gambut.

Lokasi Alternatif 1.

Lokasi alternatif 1 terletak dibagian barat lokasi penyelidikan awal, yaitu di desa Kumbe dan sekitarnya (Blok Kumbe). Secara geografis terletak pada koordinat 140°10′ BT - 140° 15′ BT dan antara 8° 15′ LS - 8° 28′ LS

Selama penyelidikan, tidak dijumpai adanya endapan gambut. Pada umumnya daerah ini merupakan endapan rawa dengan litologi berupa lempung berwarna hitam yang ditutupi oleh lapisan humus dengan tebal sekitar 10- 15 cm. Kenampakan litologi ini secara vertikal dapat diamati pada kanal-kanal yang baru dibuat untuk keperluan dranasi areal persawahan (Foto 1).

Lokasi Alternatif 2

Lokasi alternatif 2 (Blok Domande) berada dibagian baratlaut lokasi alternatif 1, yaitu di desa Domande dan sekitarnya terletak pada koordinat 140°00′ BT - 140° 05′ BT dan antara 8° 10′ LS - 8° 15′ LS. Di daerah ini endapan gambut juga tidak dijumpai, Sebagian besar daerah ini tengah dalam pengolahan untuk areal persawahan, dimana kanal-kanal drainase sedang dalam taraf pembuatan. Endapan rawa yang ada kearah utara agak berkurang, litologinya berangsur berubah menjadi endapan lempung lanauan berwarna abu-abu kecoklatan dan sebagian ditutupi oleh endapan aluvium sungai, sedangkan kearah selatan merupakan endapan pantai

Lokasi Alternatif 3

Lokasi alternatif 3 (Blok Wapeko) berada di bagian utara daerah penyelidikan awal yaitu di desa Wapeko dan sekitarnya, berjarak lebih kurang 65 km dari kota Merauke. Lokasi ini terletak pada koordinat 140°20′ BT - 140° 30′ BT dan antara 8° 00′ LS - 8° 10′ LS.

Pada lokasi ini penyelidikan dilakukan dengan menyusuri anak sungai Kumbe dan cabang-cabang sungainya serta melalui kanal yang ada. Dari penyusuran yang dilakukan, tidak dijumpai adanya indikasi endapan gambut. Secara umum daerah ini merupakan daerah berawa dengan air yang berwarna coklat kehitaman. Pada bagian dasar rawa litologinya berupa lempung karbonan berwarna coklat kehitaman (Foto 2).

Lokasi Alternatif 4

Lokasi alternatif 4 terletak dibagian timur lokasi penyelidikan awal, yaitu di desa Rawabiru dan sekitarnya (Blok Rawabiru). Secara geografis blok Rawabiru terletak pada koordinat 140°45′ BT - 140° 55′ BT dan antara 8° 38′ LS - 8° 45′ LS. Lokasi ini berjarak lebih kurang 70 km dari kota Merauke dan merupakan daerah pengawasan Pos Pengamanan Perbatasan RI-PNG Rawabiru (Pos Pamtas RI-RI-PNG).

Selama penyelidikan dilakukan, tidak dijumpai adanya endapan gambut. Pada umumnya daerah ini merupakan daerah rawa yang sangat luas dan menerus sampai ke masuk ke wilayah negara tetangga PNG. Pemda Kota Merauke memanfaatkan air rawa ini menjadi sumber air PDAM untuk kota Merauke.

Lokasi Alternatif 5

Lokasi alternatif 5 terletak dibagian timur laut lokasi penyelidikan awal, yaitu di desa Sota dan sekitarnya (Blok Sota). Secara geografis blok Sota terletak pada koordinat 140°50′ BT - 141° 00′ BT dan antara 8° 25′ LS - 8° 30′ LS. Lokasi ini berjarak lebih kurang 80 km dari kota Merauke dan berada pada garis demarkasi RI-PNG yang berada diabawah pengawasan Pos Pengamanan Perbatasan RI-PNG Sota (Pos Pamtas RI-PNG).

Selama penyelidikan dilakukan, tidak dijumpai adanya endapan gambut. Pada umumnya daerah ini sebagian merupakan rawa. Kearah barat (PNG) dan timur endapan rawa berkurang, litologinya berangsur berubah menjadi endapan lempung lanauan berwarna abu-abu kecoklatan dan dibagian utara sebagian ditutupi oleh endapan aluvium sungai.

(10)

Foto 1. Singkapan lempung coklat kehitaman yang Foto 2. Endapan rawa dengan air yang berwarna Diamati pada kanal di daerah Kumbe hitam di daerah Wapeko, bagian dasar rawa merupakan lempung karbonan berwarna

coklat kehitaman.

Data Lapangan dan Interpretasi End Gambut

Selama penyelidikan berlangsung tidak dijumpai adanya indikasi endapan gambut. Data hasil

penyelidikan pada beberapa lintasan yang dilakukan dapat disarikan pada tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Data hasil kegiatan penyelidikan

No Blok Penyelidikan Koordinat Keadaan umum/litologi

1 Anasai

(Penyelidikan awal)

140°15′ - 140° 30′ BT 8° 15′ LS - 8° 30′ LS

Endapan rawa dengan litologi berupa lempung berwarna hitam yang ditutupi oleh lapisan humus dengan tebal sekitar 10- 15 cm

2 Kumbe

(Alternatif 1)

140°10′ - 140° 15′ BT 8° 15′ LS - 8° 28′ LS

Endapan rawa dengan litologi berupa lempung berwarna hitam yang ditutupi oleh lapisan humus dengan tebal sekitar 10- 15 cm

3 Domande

(Alternatif 2)

140°00′ - 140° 05′ BT 8° 10′ LS - 8° 15′ LS.

Endapan rawa, kearah utara agak berkurang, litologinya berangsur berubah menjadi endapan lempung lanauan berwarna abu-abu kecoklatan dan sebagian ditutupi oleh endapan aluvium sungai, kearah selatan merupakan endapan pantai

4 Wapeko

(Alternatif 3)

140°20′ - 140° 30′ BT 8° 00′ LS - 8° 10′ LS

Endapan rawa dengan air yang berwarna coklat kehitaman. Pada bagian dasar rawa litologinya berupa lempung karbonan berwarna coklat kehitaman

5 Rawabiru

(Alternatif 4)

140°45′ - 140° 55′ BT 8° 38′ LS - 8° 45′ LS

Endapan rawa yang sangat luas

6 Sota

(Alternatif 5)

140°50′ - 141° 00′ BT 8° 25′ LS - 8° 30′ LS

Endapan rawa. Kearah barat (PNG) dan timur endapan rawa berkurang, litologinya berangsur berubah menjadi endapan lempung lanauan berwarna abu-abu kecoklatan dan dibagian utara sebagian ditutupi oleh endapan aluvium sungai

(11)

8 Dari hasil penyelidikan yang dilakukan pada lokasi

rencana kerja dan dilanjutkan pada 5 lokasi alternatif diluar lokasi yang direncanakan tidak dijumpai adanya indikasi endapan gambut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa didaerah penyelidikan yaitu Kabupaten Merauke dan sekitarnya tidak mempunyai potensi endapan gambut.

4.3. Prospek Pemanfaatan dan Pengembangan

Endapan Gambut

Endapan gambut yang diperkirakan diendapkan pada endapan Rawa Tua (Qs 2) seperti yang dilaporkan oleh beberapa peyelidik terdahulu, pada daerah penyelidikan tidak dijumpai. Dengan tidak dijumpainya endapan gambut di daerah Kabupaten Merauke dan sekitarnya, maka dapat dikatakan bahwa prospek pemanfaatan dan pengembangan endapan gambut di daerah Kabupaten Merauke tidak ada.

5. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Sebagai akhir dari pembahasan uraian didepan yang diawali mulai dari studi pustaka, eksplorasi langsung dilapangan, hasil pengamatan di lapangan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Geomorfologi daerah penyelidikan relatif seragam yaitu suatu satuan pedataran rendah, yang berupa geomorfologi daerah sungai, pantai dan rawa sehingga tidak dijumpai perbedaan morfologi yang mencolok antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Daerah Kabupaten Merauke ini termasuk ke dalam tahapan geomorfologi tua yang bisa ditunjukkan dengan adanya pola aliran sungai yang meandering. Pada endapan pantai muda, endapan rawa muda dan endapan sungai muda kegiatan pengendapan masih terus berlangsung.

2. Keadaan umum daerah yang diperkirakan terdapat endapat gambut yaitu pada endapan rawa tua (Qs 2) pada umumnya hanya merupakan endapan rawa dengan batuan dasarnya berupa lempung lanauan berwarna abu-abu kekitaman sampai hitam dan pada beberapa tempat bersifat karbonan. Sedangkan pada daerah lain yang tidak berawa, litologi tersebut ditutupi oleh lapisan humus dengan tebal antara 10-15 cm.

3. Dari 6 lokasi yang diselidiki yaitu Blok Anasai (lokasi awal), Blok Kumbe (alternatif 1), Blok

Domande (alternatif 2), Blok Wapeko (alternatif 3), Blok Rawabiru (alternatif 4) dan Blok Sota (alternatif 5) yang tersebar disekitar Kabupaten Merauke tidak dijumpai adanya indikasi endapan gambut.

Saran

Dari hasil penyelidikan maka disarankan bahwa didaerah Kabupaten Merauke dan sekitarnya tidak diperlukan penyelidikan endapan gambut lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Subarnas., 2002 : Inventarisasi Endapan Gambut di daerah Kendawangan dan sekitarnya, Propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah

Anderson J.A.B. and Muller S., 1975: Polynological study of a Holocene peat and Miocene coal deposit from NW Borneo. E. Rusmana, K. Parris, U. Sukanta dan H.

Samodra, 1995 : Peta Geologi Bersistem Lembar Timika (Tembagapura)-3211, Irian Jaya. Sekala 1 : 250.000.

Dinas Pertanian Kabupaten Merauke., 2006 : Laporan Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona Agro Ekologi.

D. Sudana dan N. Suwarna, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Tanah Merah, Irian Jaya skala 1 : 250.000

N. Suwarna, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Kimaan (Mapi), Irian Jaya skala 1 : 250.000

N. Suwarna dan Kusnama, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Muting, Irian Jaya skala 1 : 250.000

N. Suwarna, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Pembre, Irian Jaya skala 1 : 250.000

R.Heryanto dan H. Pangabean, 1995 : Peta Geologi Bersistem Indonesia Lembar Merauke-3407, Irian Jaya. Sekala 1 : 250.000.

R.Heryanto dan H.Panggabean, 1995, P3G Bandung, Pemetaan Geologi Lembar Selimit, Irian Jaya skala 1 : 250.000

Supardi, 1984: Detail exploration on the proposed peat production area I, Rasau Jaya West Kalimantan, DMR.

Team Gambut, 1991: Endapan Gambut di daerah Kendawangan Propinsi Kalimantan Barat.

(12)

Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qc Qc Qc Qc Qc Qc Qr2 Qr2 Qs1 Wilianokebob Torambob kermatibob Wemiabob Kasikribob Kaliki Woman Seror Kandorbob Orangjanibob Asepebob Malbob Kebrahabob aribob Parambob Pangbabob Tawargibob Onggari Kalburse Kumbe Anasei Matara Wenao Bahor Jatum Nohotiv urum Tanjung Harom Merauke Sewa Feri

MERAUKE Kelapa Lima

Merauke Daud Muli Buli Sepadem Mapa Sepadem Laut Kayakay Kembapi Baruwebob Nasim Kutamap Tomerou Bobabatan Kurkari Bertabob Sota Janggandur Bengu Mbur Jawar Eramke Jakaubob Kuper S. BIAN S. Kum be S. Pali S. Bosoge S. Subasuba S. S awibi S. Jatu m S. San jatum S . Sa rko mbo S. M ARO (M ERA UKE ) S . S an ajo S. Daim uli S. Tamrapu S . K u ra S. Darire 140°00' BT 141°00' BT 8°00' LS LS 140°00' BT LS 141°00' BT 9°00' LS 140°15' BT 140°30' BT 140°45' BT LS LS LS Keterangan :

ENDAPAN SUNGAI MUDA : Endapan klastika lepas terdiri dari pasir, lumpur dan kerikil, merupakan dataran banjir.

ENDAPAN SUNGAI TUA : Endapan klastika yang tersusun dari lumpur, pasir dan kerikil, merupakan hasil endapan dataran banjir yang agak kompak.

ENDAPAN RAWA MUDA : Endapan klastika halus yang tersusun dari lempung, lumpur, lanau dan pasir halus, mengandung bahan karbonan.

ENDAPAN RAWA TUA : Endapan klastika halus yang terdiri dari lumpur dan pasir halus karbonan serta gambut.

ENDAPAN PANTAI : Endapan klastika lepas, halus - kasar terdiri dari lumpur dan pasir halus - kasar.

Sota Qs2 Qs1 MANOKWARI JAYAPURA WAMENA BOKONDINI INDIPTANA TANAH MERAH TIMIKA NABIRE PROVINSI IRIAN J AYA BATAR

MERAUKE MUTING MOPAH P. DOLAK (P. YOS SUDARSO) P. KOMORO P. BIAK P. YAPEN P. SUPIORI P. NUMPOR P. MIOSUM P. MOOR TELUK CENDRAWASIH P A P U A N U G U N I Daerah Penyelidikan Sungai Jalan Kampung Batas Litologi Teluk Fla minggo Tel. E tna wanggar Yamur

Yapek opra Tembagapura

Sawaerma Kaima Waropko Bade Okaba Kumba Kaira Betap Sarmi Apouwor Matabor Lerah Angguruk

PETA GEOLOGI DAN LOKASI PENYELIDIKAN GAMBUT DAERAH MERAUKE KABUPATEN MERAUKE, PROVINSI PAPUA

Diperiksa : Ir. Asep Suryana Disetujui : Ir. Sukardjo, M.Sc Disusun : Ir. R. Agus Subarnas

Digambar : Agus Maryono

Tahun : 2008 Nomor Peta : 1

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL BADAN GEOLOGI PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN

L A U T A

R A F U R A

Peta Lokasi Penyelidikan

SKALA 1 : 250.000

0 1 2 3 4 5 Km

012345678910 Cm

U

Lintasan Mapa nwa inami

K umupal E na ro tali M apia U ta W aghete W andai Illaga O takwa KokenauA mama pareY apero

Tiom Cumb uyum Mene psyemere Okasibil A gats A winyerep A mana mkai P irimapun Koba K epi Qr2 Qr1 Qs1 Qs2 Qc

ENDAPAN SUNGAI MUDA : Endapan klastika lepas terdiri dari pasir, lumpur dan kerikil, merupakan dataran banjir.

ENDAPAN SUNGAI TUA : Endapan klastika yang tersusun dari lumpur, pasir dan kerikil, merupakan hasil endapan dataran banjir yang agak kompak.

ENDAPAN RAWA MUDA : Endapan klastika halus yang tersusun dari lempung, lumpur, lanau dan pasir halus, mengandung bahan karbonan.

ENDAPAN RAWA TUA : Endapan klastika halus yang terdiri dari lumpur dan pasir halus karbonan serta gambut.

ENDAPAN PANTAI : Endapan klastika lepas, halus - kasar terdiri dari lumpur dan pasir halus - kasar.

Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qr1 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs2 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qs1 Qc Qc Qc Qc Qc Qc Qr2 Qr2 Qs1 Wilianokebob Torambob kermatibob Wemiabob Kasikribob Kaliki Woman Seror Kandorbob Orangjanibob Asepebob Malbob Kebrahabob aribob Parambob Pangbabob Tawargibob Onggari Kalburse Kumbe Anasei Matara Wenao Bahor Jatum Nohotiv urum Tanjung Harom Merauke Sewa Feri

MERAUKE Kelapa Lima

Merauke Daud Muli Buli Sepadem Mapa Sepadem Laut Kayakay Kembapi Darirebob Baruwebob Nasim Kutamap Tomerou Bobabatan Kurkari Bertabob Sota Janggandur Bengu Mbur Jawar Eramke Jakaubob Kuper S. BIAN S. Kum be S. Pali S. Bosoge S. Subasuba S. S awibi S. Jatu m S. San jatum S . Sa rko mbo S. M ARO (M ERA UKE ) S . S an ajo S. Daim uli S. Tamrapu S . K u ra S. Darire 140°00' BT 141°00' BT 8°00' LS LS 140°00' BT LS 141°00' BT 9°00' LS 140°15' BT 140°30' BT 140°45' BT LS LS LS Keterangan : Sota Qs2 Qs1 P A P U A N U G U N I MANOKWARI JAYAPURA WAMENA BOKONDINI INDIPTANA TANAH MERAH TIMIKA NABIRE PROVINSI IRIAN J AYA BATAR

MERAUKE MUTING MOPAH P. DOLAK (P. YOS SUDARSO) P. KOMORO P. BIAK P. YAPEN P. SUPIORI P. NUMPOR P. MIOSUM P. MOOR TELUK CENDRAWASIH Daerah Penyelidikan Sungai Jalan Kampung Batas Litologi Teluk Fla minggo Tel. E tna wanggar Yamur

Yapek opra Tembagapura

Sawaerma Kaima Waropko Bade Okaba Kumba Kaira Betap Sarmi Apouwor Matabor Lerah Angguruk

Diperiksa : Ir. Asep Suryana Disetujui : Ir. Sukardjo, M.Sc Disusun : Ir. R. Agus Subarnas

Digambar : Agus Maryono

Tahun : 2008 Nomor Peta : 1

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL BADAN GEOLOGI PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN

L A U T A

R A F U R A

Peta Lokasi Penyelidikan

SKALA 1 : 250.000

0 1 2 3 4 5 Km

012345678910 Cm

U

Lintasan Mapa nwa inami

K umupal E na ro tali M apia U ta W aghete W andai Illaga O takwa KokenauA mama pareY apero

Tiom Cumb uyum Mene psyemere Okasibil A gats A winyerep A mana mkai P irimapun Koba K epi Qr2 Qr1 Qs1 Qs2 Qc

Blok Penyelidikan Awal

Blok Penyelidikan Tambahan

Gambar 4. Peta Geologi dan lokasi penyelidikan endapan gambut daerah Merauke Blok Kumbe Alternatif 1 Blok Domande Alternatif 2 Blok Wapeko Alternatif 3

Blok Rawa Biru Alternatif 3

Blok Sota Alternatif 5 Blok Awal

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :