EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PADA MATA PELAJARAN
EKONOMI DI SMAN 6 KOTA JAMBI
ARTIKEL ILMIAH
OLEH
FAIRUS ASBIYATI
A1A114019
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PADA MATA PELAJARAN
EKONOMI DI SMAN 6 KOTA JAMBI
Oleh: Fairus Asbiyati1, Rahmat Murboyono2, Arpizal3
1 Mahasiswa Ekonomi PIPS FKIP Universitas Jambi 2 Dosen Ekonom PIPS FKIP Universitas Jambi 3 Dosen Ekonomi PIPS FKIP Universitas Jambi
Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
Email: [email protected]
Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep ekonomi siswa. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest-Posttest Control Group Design dengan populasi seluruh siswa kelas XI IPS SMAN 6 Kota Jambi tahun pelajaran 2017/2018 dan sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data penelitian diperoleh dengan memberikan tes kepada siswa yang sebelumnya diberi perlakuan terlebih dahulu menggunakan model pembelajaran NHT dan Konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran NHT lebih tinggi dari pada tingkat pemahaman konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Dimana pada mata pelajaran ekonomi materi APBN dan APBD, kelompok siswa yang diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran NHT memperleh nilai rata-rata 87.42, lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata siswa yang diberikan perlakuan dengan model pembelajaran konvensional sebesar 74.78. Hasil ini diperkuat dengan perhitungan hasil uji-t sebesar 6.02, dengan taraf signifikansi 0.05 diperoleh nilai t tabel 1.99. Dengan demikian thitung > ttabel atau 6.02 > 1.99 berarti Ha diterima. Penerapan model pembelajaran NHT dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Saran dalam penelitian ini guru ekonomi sebaiknya dalam melakukan pengajaran menggunakan model pembelajaran NHT agar siswa dapar memperoleh pemahaman konsep yang lebih baik.
.
Kata kunci: : Efektivitas, Numbered Heads Together, Pemahaman Konsep.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang diprogramkan oleh pemerintah untuk
dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia di Negaranya. Setiap Warga Negara Indonesia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan dapat dilaksanakan melalui beberapa jalur dan salah satu di antaranya adalah pendidikan formal yang diselenggarakan di sekolah. Melalui kegiatan sekolah, siswa dapat memperoleh
pengetahuan, keterampilan dan
pembentukan sikap. Sekolah selalu berupaya untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas pula. Pembelajaran yang berkualitas akan membuat peserta didik mendapatkan makna dari pembelajaran yang sesungguhnya. Agar pembelajaran semakin bermakna, maka di dalam kegiatan belajar mengajar tersebut diperlukan adanya peran aktif dari guru maupun siswa.
Pembalajaran dalam eknomi memuat banyak materi tentang pengertian-pengertian yang menuntut siswa untuk menghafalnya. Disamping itu, siswa cenderung kurang atau lemah dalam menghafal. Akan tetapi, hafal saja tidak cukup untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal demikian menjadikan minat siswa kurang dalam belajar ekonomi karena cenderung menghafal. Siswa juga harus dapat memahami dengan baik materi yang diajarkan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran ekonomi. Model pembelajaran yang digunakan hendaknya yang berpotensi memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Keaktifan
siswa akan mendorong untuk lebih memahami dan mendalami materi pelajaran yang diajarkan. Model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa.
Observasi awal di SMA Negeri 6 Kota Jambi tahun pelajaran 2017/2018 yaitu kelas XI IPS diperoleh data yang menunjukkan masih banyak nilai ekonomi siswa kurang dari ketuntasan. Hal ini dibuktikan dengan nilai ekonomi ujian akhir semester siswa kelas XI IPS banyak dibawah standar ketuntasan yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu 75. Untuk lebih jelasnya berikut tabel ketuntasan belajar siswa:
Tabel 1.1 Nilai Rata-rata Ujian Akhir Ekonomi Semester Ganjil Siswa Kelas XI IPS Tahun Ajaran 2017/2018 No Kelas Nilai Rata-rata KKM 1 XI-IPS-1 70 75 2 XI-IPS-2 72 75 3 XI-IPS-3 78 75 4 XI-IPS-4 75 75
Sumber: Dokumentasi nilai guru Mata Pelajaran Ekonomi SMAN 6 Jambi
Berdasarkan wawancara kepada guru bidang studi yang dilakukan penulis di SMAN 6 Kota Jambi, sebagian siswa masih sulit untuk memahami konsep ekonomi.”Anak-anak sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep, jika diberi contoh soal mereka mengerti tetapi setelah dicoba menggunakan soal yang berbeda mereka tidak dapat mengerjakannya.” Ujar guru ekonomi SMAN 6 Kota Jambi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak memahami konsep dengan baik, sehingga tidak dapat mengerjakan soal yang berbeda dengan contoh yang diberikan dalam satu materi pelajaran.
Setelah melakukan obervasi ternyata dalam kegiatan pembelajaran pada
umumnya guru SMAN 6 Kota Jambi masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Terkhusus pada mata pelajaran ekonomi guru masih mendominasi kelas. Pembelajaran dilakukan dengan penyampaian materi, pemberian contoh soal dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian tugas kepada siswa. Pembelajaran seperti ini jelas membosankan bagi siswa. Siswa tidak mendapatkan ruang gerak dalam belajar. Selain itu, guru cenderung mentransfer informasi kepada peseta didik dan belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi dalam pembelajaran dan tidak melengkapi diri dengan perangkat pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran kurang sistematis.
Untuk membuat pembelajaran yang menyenangkan, dan dapat memberikan dampak terhadap peserta didik diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk
menyampaikan materi. Model
pembelajaran menurut Harjanto (dalam Aqib 2016: 2) didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan kegiatan pembalajaran. Senada dengan definisi ini, Murtadlo (dalam Aqib 2016:2) menjelaskan bahwa model pembelajaran disini dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembalajaran. Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang disajikan secara khas oleh pendidik dikelas. Model pembelajaran yang dapat digunakan pendidik, diantaranya: model pembelajaran langsung, cooperative, problem solving,
problem based instruction, dan perubahan
konseptual. Model sangat penting peranannya dalam pembelajaran karena melalui pemilihan model yang tepat dapat mengarahkan pendidik pada kualitas pembelajaran efektif (Aqib, 2016: 3)
Cooperative learning dapat
meningkatkan pemahaman siswa tentang isi materi, memahami konsep-konsep serta mendorong siswa aktif, partisipatif, dan konstruktif terlihat dalam pembelajaran.
Melalui cooperative learning siswa memperoleh kesempatan memunculkan pertanyaan, mendiskusikan tugas-tugas mereka dan menyatakan opini mereka.
Cooperative learning dapat
mengintegrasikan berbagai gagasan dan saling menguji berbagai konsep.
Cooperative learning merupakan strategi
pembelajaran untuk meningkatkan daya menghafal siswa. Cooperative learning untuk meningkatkan penalaran tingkat tinggi dan kemampuan siswa mentransformasikan pengetahuan pada berbagai situasi. Cooperative learning menciprtakan belajar menyenangkan dan mengurangi ketergantungan pada guru (Suprijono, 2016: 56).
Didalam pembelajaran kooperatif terdapat banyak tipe, salah satunya adalah
Numbered Heads Together (kepala bernomor) yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Number Heads
Together atau NHT adalah suatu model
pembelajarn yang lebih mengedepankan pada aktivitas peserta didik dalam mencari, mengolah dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan didepan kelas (Rahayu dalam Aqib, 2016: 305).
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi peserta didik dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan Kagan dikutip dari Ibrahim (dalam Aqib, 2016: 306) dengan melibatkan para peserta didik dalam menelaah materi pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Salah satu keunggulan model pembelajaran NHT yang dijelaskan oleh Hill, yaitu: dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik, mampu memperdalam pemahaman peserta didik, menyenangkan peserta didik dalam belajar. Menurut Robbins dikutip dari Daryamto (dalam Pratiwi), efektivitas merupakan suatu konsep yang lebih luas
mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar diri dari seseorang, efektivitas tidak hanya dilihat dari hasil tetapi juga dari sisi persepsi maupun sikap seseorang dan sebagai ukuran kepuasan yang dicapai oleh seseorang. Efektifitas pembelajaran akan meningkat apabila guru dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran yang tepat.
Penelitian ini diharapkan memeberikan dampak yang baik nantinya untuk peserta didik agar lebih bisa memahami Konsep pelajaran dengan mudah. Adapun yang dimaksud dengan efektivitas dalam penelitian ini mengacu pada peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep
pelajaran setelah dilaksanakan
pembelajaran Numbered Heads together. Penilaian efektivitas di dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilihat saat penerapan pembelajaran Numbered
Heads Together, sedangkan penilaian hasil
dilihat dari nilai post-test siswa yang dilakukan setelah pembelajaran. Kriteria keefektifan dalam penelitian ini mengacu pada peningkatkan pemahaman siswa apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pemahaman kelas eksperimen dengan pemahaman kelas kontrol.
Tujuan pembelajaran ini dimulai dari menampilkan sikap ingin tahu siswa untuk memahami konsep ekonomi, setelah mereka memahami diharapkan dapat menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari, jika siswa tidak memiliki sikap ingin tahu dari awal pembelajaran, maka untuk memahami konsep mata pelajaran ekonomi tidak akan tercapai. Maka dari itu, pembelajaran Nmbered Heads
Together ini di anggap cocok untuk
menampilkan sikap ingin tahu siswa untuk memahami dan bukan hanya sekedar menghafal materi. Karena salah satu kelebihan dari pembelajaran Numbered Heads Together ini yaitu siswa belajar untuk lebih memahami materi, dengan cara diskusi kelompok dan mereka di minta untuk mempresentasikan tugasnya sesuai
dengan pemahaman mereka pada pelajaran. Jadi dengan pembelajaran
Numbered Heads Together siswa akan
mampu memahami konsep pelajaran Ekonomi secara mudah.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan ini dalam bentuk penelitian dengan judul “EFEKTIVITAS MODEL
PEMBELAJARAN NUMBERED
HEADS TOGETHER TERHADAP
PEMAHAMAN KONSEP PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMAN 6 KOTA JAMBI”
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pemahaman Konsep 2.1.1 Pemahaman
Wiggins (2012: 217) menyatakan bahwa, pemahaman adalah suatu kesimpulan penting, yang ditarik dari pengalaman para ahli, dinyatakan sebagai sebuah generalisasi tertentu dan berguna. Pemahaman mengacu pada sesuatu yang dapat ditransferkan, ide-ide besar yang memiliki nilai abadi di balik topik tertentu. Pemahaman melibatkan ide-ide abstrak, berlawanan dengan intuisi, dan mudah disalah pahami. Pemahaman yang terbaik diperoleh dengan “mengungkapkan” (yaitu, harus dikembangkan secara induktif, dikonstruksi oleh siswa) dan “menggunakan” subjek yaitu, dengan menggunakan ide-ide dalam pengaturan realistis dan dengan masalah di dunia nyata.
2.1.2 Konsep
Menurut Sapriya (2015: 62) konsep merupakan pokok pengertian yang bersifat abstrak yang menghubungkan orang dengan kelompok benda, peristiwa, atau pemikiran (ide). Lahirnya konsep karena adanya kesadaran atas atribut kelas yang ditunjukkan oleh symbol. Konsep “tanah” bagi siswa merupakan sebutan umum untuk sumber alam yang produktif. Konsep buruh menurut siswa merupakan sebutan
abstrak tentang apa yang dimiliki oleh semua anggota kelas/kelompok.
Konsep bersifat abstrak dalam pengertian yang berkaitan bukan dengan contoh tertentu melainkan dengan semua anggota kelas. Konsep dapat dianggap sebagai suatu model kelompok benda yang terpikirkan. Konsep “buruh”, misalnya, dapat dipandang sebagai kesan mental tentang semua yang memiliki ciri umum pekerja. Dengan demikian, konsep
merupakan cara berpikir
menggeneralisasikan sejumlah anggota kelas yang khusus ke dalam satu contoh model yang tidak Nampak, termasuk atribut semua contoh yang berbeda-beda (Supriya, 2015: 62).
Konsep bersifat subjektif dan menyatu. Semua orang membentuk konsep dari pengelamannya sendiri. Dari pengalaman seperti mencatat contoh-contoh dan mendengarkan diskusi yang melibatkan kelas, setiap orang menjadi sadar akan pengertian dan atribut. Konsep “novel” sebagai ilustrasi, dapat diperoleh dari diskusi di ruang kelas dan membaca langsung novelnya. Akibat dari pengalaman ini, setiap siswa akan mengaitkan atribut dengan symbol untuk kelompok yang disebut “novel” (Supriya, 2015: 63).
Konsep bukanlah verbalisasi melainkan kesadaran yang bersifat abstrak tentang atribut umum dari suatu kelas. Konsep merupakan kesadaran mental internal yang memengaruhi perilaku yang tampak. Apakah siswa mengetahui suatu konsep maka kemampuan tersebut dapat ditentukan dari tindakan yang ditunjukkan. Konsep-konsep yang digunakan dalam proses pembelajaran dapat diperoleh dari konsep disiplin ilmu atau dari konsep yang telah biasa digunakan di lingkungan kehidupan siswa atau masyarakat setempat (Supriya, 2015: 63).
Pemerolehan Konsep merupakan sebuah strategi yang memungkinkan para murid mengeksplorasi konsep-konsep kritis secara aktif dan mendalam. Dengan memeriksa berbagai contoh dan noncontoh
sebuah konsep tertentu, para murid membangun pemahaman mereka “dari dasar ke atas”, menguji dan memperhalus pemahaman konsep tersebut dan atribut-atribut kritisnya hingga pemahaman tersebut reliable/akurat (Silver, Strong, Perini, 2012: 99).
Menurut Silver, dkk (2012: 105), pemetaan konsep secara tertulis meningkatkan kualitas pemahaman para murid dalam tiga hal. Pertama, pemetaan mengajarkan kepada para murid struktur dasar yang dimiliki semua konsep. Kedua, pemetaan mempertajam keterampilan para murid menganalisis, karena mereka mempelajari cara membedah (menganalisis secara mendetail) ide-ide penting dengan memecah ide-ide penting tersebut menjadi komponen-komponen penting. Ketiga, dengan menempatkan konsep-konsep dan komponen-komponen pentingnya menjadi suatu rangka visual yang sederhana, pemetaan menyediakan para murid dengan suatu catatan yang mudah diingat tentang pembelajaran mereka serta suatu panduan belajar yang instan terkait istilah-istilah dan ide-ide paling penting yang terdapat dalam unit pelajaran manapun.
Kegiatan belajar konsep adalah belajar mengembangkan inferensi logika atau membuat generalisasi dari fakta ke konsep. Konsep merupakan kata kunci. Tidak semua kata disebut kata kunci, jika kata itu tidak memiliki sifat umum dan abstrak. Konsep adalah ide atau pengertian umum yang disusun dengan kata, symbol, dan tanda. Konsep merupakan satu ide yang mengombinasikan beberapa unsur sumber-sumber berada ke dalam satu gagasan tunggal. Konsep dapat diartikan sebagai suatu jaringan hubungan dalam objek, kejadian, dan lain-lain yang mempunyai ciri-ciri tetap dan dapat diobservasi. Konsep atau kata kunci adalah variabel yang mempunyai variasi nilai. Konsep mengandung hal-hal yang umum dari sejumlah objek maupun peristiwa Jhon Travers (dalam Suprijono, 2016: 7).
Dengan belajar konsep, peserta didik dapat memahami dan membedakan
benda-benada, peristiwa atau kejadian yang ada dalam lingkungan sekitar. Melalui kegiatan belajar konsep ada beberapa keuntungan yaitu: (1) mengurangi beban berat memori karena kemampuan manusia dalam mengkategorisasikan berbagai stimulus terbatas; (2) merupakan unsur-unsur pembangunan berpikir; (3) merupakan dasar proses mental yang lebih tinggi; (4) diperlukan untuk memecahkan masalah.
2.1.3 Pemahaman Konsep
Menurut Sanjaya (dalam Ulia: 57) mengatakan apa yang di maksud pemahaman konsep adalah kemampuan siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana siswa tidak sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan interprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya.
Pemahaman konsep adalah
kemampuan untuk menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengerti apa yang diajarkan, memberikan penjelasan yang lebih rinci dengan kalimat sendiri, menyatakan ulang suatu konsep, mengklasifikasikan suatu objek dan mengungkapkan suatu materi yang disajikan ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami (menggunakan bahasanya sendiri) (Rengganis, 2014: 23).
Hasil belajar meliputi tiga domain yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Menurut taksonomi Bloom dikutip dari Jihad (dalam Rengganis, 2014: 23), hasil belajar domain kognitif meliputi enam jenjang kemampuan. Yakni pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis
dan evaluasi. Pemahaman
(comprehension), jenjang setingkat di atas pengetahuan ini akan meliputi penerimaan dalam komunikasi secara akurat, menempatkan hasil komunikasi dalam bentuk penyajian yang berbeda, mereorganisasikannya secara setingkat
tanpa merubah pengertian dan dapat mengeksplorasikan.
2.2 Teori Belajar
2.2.1 Pengertian Belajar
Dalam dunia pendidikan, belajar dapat dimaknai sebagai suatu proses yang menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhirnya akan didapat keterampilan, kecakapan, dan pengetahuan baru yang didapat dari akumulasi pengalaman dan pembelajaran. Hasil dari proses belajar tersebut diindikasikan dengan prestasi dan hasil belajar (Saefuddin, 2015: 8).
Gagne (dalam Saefuddin, 2015: 8) mengemukakan bahwa, “Learning is
change in human disposition or capacity, which persist over a period time, and which is not simply ascribable to process a growth.” Artinya belajar adalah perubahan
yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus-menerus, bukan hanya disebabkaan proses pertumbuhan saja. Gagne mengemukakan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi.
Selanjutnya, Soejanto (dalam Saefuddin, 2015: 8) menyatakan bahwa belajar adalah segenap rangkaian aktivitas yang dilakukan dengan penambahan pengetahuan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya yang menyangkut banyak aspek, baik karena kematangan maupun karena latihan. Perubahan ini memang dapat diamati dan berlaku dalam waktu relative lama. Perubahan yang relative lama tersebut disertai dengan berbagai usaha.
Menurut Saefuddin (2015: 8) belajar pada hakikatnya merupakan proses kegiatan secara berkelanjutan dalam rangka perubahan tingkah laku peserta didik secara konstruktif yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses belajar disekolah adalah proses yang sifatnya kompleks, menyeluruh, dan berkesinambungan. Banyak konponen dapat mendukung proses pembelajaran
agar terselenggara dengan efektif. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut, guru dituntut mampu mengelola
pembelajaran yang memberikan
rangsangan kepada peserta didik sehingga ia mau belajar, karena peserta didiklah subjek utama dalam belajar.
Taksonomi belajar dalam domain kognitif yang paling umum dikenal adalah taksonomi Bloom. Banjamin S. Bloom membagi taksonomi hasil belajar dalam enam kategori, yakni: 1) pengetahuan
(knowledge); 2) pemahaman
(comprehension); 3) penerapan
(application); 4) analisis; 5) sintesis; dan 6) evaluasi. Tingkat pemahaman pesertadidik dianggap berjenjang dengan tingkat paling rendah (C1): pengetahuan atau mengingat, sampai tingkat paling tinggi (C6): evaluasi (Sani, 2015: 53). Pengertian masing-masing tingkatan kognitif adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan: peserta didik dapat mengingat informasi konkret ataupun abstrak
2. Pemahaman: peserta didik memahami dan menggunakan (menterjemahkan,
menginterpretasi, dan
mengekstrapolasi) informasi yang dikomunikasikan.
3. Aplikasi: peserta didik dapat menerapkan konsep yang sesuai pada suatu problem atau situasi baru.
4. Analisis: peserta didik dapat dapat menguraikan informasi atau bahkan menjadi beberapa bagian dan mendefinisikan hubungan antar bagian.
5. Sintesis: peserta didik dapat
menghasilkan produk,
menggabungkan beberapa bagian
dari pengalaman atau
bahan/informasi baru untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
6. Evaluasi: peserta didik memberikan penilaian tentang ide atau informasi baru.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berdasarkan pengalaman dari melihat, mengamati dan memahami yang terjadi dilingkungan sekitar.
2.2.2 Pengertian Pembelajaran
Menurut Saefuddin (2015: 8) pembelajaran secara harfiah berarti proses belajar. Pembelajaran dapat dimaknai sebagai proses penambahan pengetahuan dan wawasan melalui rangkaian aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya, sehingga terjadi perubahan yang sifatnya positif, dan pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru.
Kurikulum 2013, mengisyaratkan bahwa kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik menjadi kompetensi yang diharapkan (Saefuddin, 2015: 8).
Permendikbud RI Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa, proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik (Saefuddin, 2015: 9).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka penulis menyimpulkan pembelajaran adalah proses yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai hasil belajar yang efektif dan efisien.
2.2.3 Kontruktivisme dalam
Pembelajaran
Menurut Saefuddin (2015: 13) konstruktivisme dalam belajar dimaknai sebagai experimental learning, yang merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengelaaman konkret di lapangan, di laboratorium, berdiskusi dengan teman dan dikembangkan menjadi pengetahuan, konsep, serta ide baru. Peserta didik sebagai subjek pembelajaranlah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pembelajaran.
Vigotsky (dalam Saefuddin, 2015: 13) lebih mantap lagi dalam mengembangkan teori konstruktivisme ini, dengan mengemukakan pemikirannya bahwa mengkonstruksi pengetahuan baru dengan cara kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran dapat terlibat secra aktif dalam interaksi sosial untuk bekerja sama mencapai tujuan pembelajaran. Melalui diskusi kelompok-kelompok kecil, para pembelajar dapat membangun pengetahuan baru atau suatu kesimpulan berdasarkan pemikiran bersama.
Konstruktivisme pada dasarnya
mengharapkan pembelajaran
mengkonstruksi dan mengembangkan pengetahuannya dengan menggali dari berbagai pengalaman dan informasi yang didapat. Pembelajaran tidak hanya menyerap apa yang dijelaskan oleh gurunya. Pembelajar dan guru diharapkan lebih kreatif, inovatif. Guru sebagai pencerdas sebaiknya memosisikan pembelajar tidak sebagai objek belajar, tetapi sebagai subjek belajar (Saefuddin, 2015: 14)..
Ilustrasi pembelajaran berdasarkan teori konstruktivisme dicontohkan seperti berikut: Guru memfasilitasi peserta didik belajar berkelompok dan berdiskusi untuk mempelajari suatu materi, mereka menggali setiap informasi dari berbagai wacana atau sumber belajar. Peserta didik belajar membuka wawasan dan
mengembangkan gagasan untuk
menyimpulkan pengetahuan baru (Saefuddin, 2015: 14).
Suprijono (2016: 39) menyatakan bahwa konstruktivisme beraksentuasi belajar sebagai proses operatif, bukan figurative. Belajar operatif adalah belajar memperoleh dan menemukan struktur pemikiran yang lebih umum yang dapat digunakan pada bermacam-macam situasi. Belajar operatif tidak hanya menekankan pada pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang “apa”), namun juga pengetahuan
structural (pengetahuan tentang
“mengapa”) serta pengetahuan procedural (pengetahuan tentang “bagaimana”). Belajar figuratif adalah belajar memperoleh pengetahuan dan penambahan pengetahuan.
Konstruktivisme menekankan pada belajar autentik, bukan artifisial. Belajar autentik adalah proses interaksi sesseorang dengan objek yang dipelajari secara nyata. Belajar bukan sekedar mempelajari teks-teks (teks-tekstual), terpenting ialah bagaimana menghubungkan teks itu dengan kondisi nyata atau konstektual (Suprijono, 2016: 39).
2.3 Efektivitas Pembelajaran
Menurut Sumantri (2015: 1) pengertian efektivitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektivitas menurut Moore D. Kenneth (dalam Sumantri, 2015: 1) yang menjelaskan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai, atau makin besar persentase
target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Adapun pengertian efektivitas menurut Munandir (dalam Sumantri, 2015: 1) efektivitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan tujuan pembelajaran yang tercapai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan dari sejumlah input.
Menurut Robbins dikutip dari Daryanto (dalam Pratiwi), efektivitas merupakan suatu konsep yang lebih luas mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar diri dari seseorang, efektivitas tidak hanya dilihat dari hasil tetapi juga dari sisi persepsi maupun sikap seseorang dan sebagai ukuran kepuasan yang dicapai oleh seseorang. Efektifitas pembelajaran akan meningkat apabila guru dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran yang tepat.
Suprijono (2016: xi) menyatakan bahwa efektivitas pembelajaran merujuk pada berdaya dan berhasil guna seluruh komponen pembelajaran yang diorganisir untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran efektif mencakup
keseluruhan tujuan pembelajaran baik yang berdimensi mental, fisik, maupun sosial. Pembelajaran efektif “memudahkan” peserta didik belajar sesuatu yang “bermanfaat”.
Menurut Sani (2015: 43) efektivitas pembelajaran tidak terlepas dari aktivitas yang berkualitas dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh guru. Oleh sebab itu, guru seharusnya memperhatikan elemen penting sebuah desain pembelajaran, yakni:
1. Kejelasan tujuan pembelajaran
2. Kegiatan pembelajaran yang efektif
3. Latihan terbimbing
4. Pengecekan pemahaman dan evaluasi.
Kegiatan pembelajaran yang efektif pada umumnya meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
1. Berpusat pada peserta didik (student centered)
Peserta didik merupakan subjek utama dalam kegiatan pendidikan
sehingga semua aktivitas
hendaknya diarahkan untuk membantu perkembangan peserta didik. Keberhasilan proses pembelajaran terletak dalam perwujudan diri peserta didik sebagai prbadi yang mandiri, pembelajaran efektif, dan pekerja produktif. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik pada umumnya merupakan pembelajaran aktif yang melibatkan peserta didik dalam ektivitas fisik atau melibatkan peserta didik secara mental dalam berpikir.
2. Interaksi edukatif antara guru dengan siswa
Pembelajaran yang efektif mensyaratkan terjadinya hubungan yang bersifat mendidik dan mengembangkan. Oleh sebab itu, perlu dibangun interaksi antara guru dengan peserta didik yang didasarkan pada kasih sayang,
saling memahami, dan
menimbulkan rasa percaya diri.
3. Suasana demokratis
Suasana demokratis perlu dibangun agar semua pihak memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan potensinya sehingga dapat memupuk rasa percaya diri, yang
menimbulkan kemampuan
berinovasi dan berkreasi sesuai dengan kompetensi masing-masing peserta didik.
4. Variasi metode mengajar
Penggunaan metode menagajar yang bervariasi yang sesuai dengan tujuan dan bahan yang diajarkan dapat mengatasi kejenuhan peserta didik dalam belajar. perlu diketahui bahwa peserta didik hanya dapat berkonsentrasi mendengar ceramah selama 15 menit saja. Guru perlu menggunakan variasi metode mengajar untuk membuat siswa lebih seniang dan bersemanagat
dalam belajar sehingga dapat memberikan hasil pembelajaran yang lebih baik.
5. Bahan yang sesuai dan bermanfaat Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pembelajaran yang efektif dan bermakna seharusnya membahas tentang bahan ajar yang bermanfaat bagi peserta didik. Walaupun bahan yang diajarkan bersumber dari kurikulum yang ditetapkan secara baku, guru dapat mengelola bahan ajar menjadi sajian yang dapat dicerna oleh peserta didik secara tepat dan bermakna bagi kehidupannya. Oleh sebab itu, bahan ajar hendaknya disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan lingkungannya, serta sesuai dengan kebutuhannya sehingga memberikan manfaat bagi mereka.
6. Lingkungan yang kondusif
Pembelajaran dapat terjadi di lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah sehingga
dibutuhkan suasana atau
lingkungan yang kondusif yang
menunjang bagi proses
pembelajaran secara efektif.
7. Sarana belajar yang menunjang
Proses pembelajaran dan
pengajaran akan berlangsung secara efektif jika didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Pembelajaran ilmu pengetahuan alam membutuhkan peralatan laboratorium, pembelajaran olehraga membutuhkan prasarana lapangan olehraga dan sarana pendukungnya, demikian juga dengan pembelajaran yang lain. Pembelajaran dikatakan efektif apabila mencapai sasaran yang diinginkan, baik dari segi tujuan pembelajaran dan prestasi siswa yang maksimal, sehingga yang merupakan indikator keefektifan
pembelajaran yaitu ketercapaian
ketuntasan belajar, ketercapaian keefektifan aktivitas siswa, yaitu
pencapaian waktu ideal yang digunakan siswa untuk melakukan setiap kegiatan termuat dalam rencana pembelajaran, ketercapaian efektivitas kemampuan guru mengelola pembelajaran, respon siswa terhadap pembelajaran yang positif (Perdomuan dalam Erfian, 2011: 24).
Indikator Efektivitas Pembelajaran menurut Kistiono yaitu: (1) kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran baik; (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran baik; (3) hasil belajar siswa tuntas secara klasikal. Dengan syarat aspek ketuntasan belajar terpenuhi.
1. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran
Menurut Hudoyono Herman (dalam Kistiono) syarat mutlak yang harus dimiliki seorang guru adalah penguasaan materi dan cara penyampaiannya. Seorang guru yang tidak menguasai materi yang akan diajarkan tidak akan bisa mengajar dengan baik. Demikian pula bila seorang guru tidak
menguasai berbagai cara
penyampaian materi, maka akan dapat menimbulkan kesulitan peserta didik dalam memahami materi. Selain itu, seorang guru yang baik harus memiliki kemampuan dalam menerapkan prinsip – prinsip psikologis,
kemampuan dalam
menyelenggarakan proses belajar mengajar serta kemampuan dalam memyesuaikan diri dengan situasi yang baru.
2. Aktifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Banyak aktifitas-aktifitas yang dilakukan anak-anak
disekolah, tidak hanya
mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim disekolah tradisional. Paul B. Diedrich (dalam Kistiono) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan murid antara lain:
a. Visual activities (13) sepeti
membaca, memperhatikan, menggambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain, dan lain-lain.
b. Oral activities (43) seperti
menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, diskusi, interupsi, dan lain-lain.
c. Listening activities (11) seperti
mendengarkan uraian, musik, pidato, dan lain-lain.
d. Writing activities (22) seperti
menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin, dan lain-lain.
e. Motor activities (47) seperti
melakukan percobaan,
membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang, dan lain-lain
f. Drawing activities (8) seperti
menggambar, membuat grafik, peta, dan lain-lain
g. Mental activities (23) seperti
menanggap, mengingat,
memecahkan soal,
menganalisis, melihat
hubungan, mengambil
keputusan, dan lain-lain.
h. Emotional activities (23) seperti
menaruh minat, bosan, gembira dan lain-lain.
3. Hasil belajar
Kriteria ketuntasan belajar perorangan dan klasikal yaitu:
a. Siswa dikatakan tuntas secara individu jika siswa menyerap 75 % (sesuai kriteria ketuntasan minimal).
b. siswa dikatakan tuntas secara klasikal apabila minimal 75 % siswa mengalami ketuntasan individu.
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas pembelajaran adalah pengaruh atau akibat yang ditimbulkan dari pembelajaran yang
telah dilaksanakan. Efektifitas
menunjukkan taraf tercapainya suatu tujuan, pembelajaran dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan pembelajaran yeng ditetapkan. Kriteria efektifitas pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa. mendengarkan. Mendengarkan membutuhkan perhatian dan sikap empati, sehingga orang merasa dimengerti dan dihargai.
2.4 Model Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Harjanto (dalam Aqib, 2016: 2) didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Senada dengan definisi ini, Murtadlo (dalam Aqib, 2016: 2) menejalaskan bahwa modelpembelajaran di sini daoat diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh pendidik di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
2.4.1 Model Pembelajaran Numbered Heads Together
Model pembelajaran Kepala Bernomor (Number Heads Together) dikembangkan oleh Spence Kagan (1992). Teknik ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk saling membagikan ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Model ini dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan usia anak didik (Aqib, 2016: 304).
Number Head Together atau NHT
adalah suatu model pembelajaran yang lebih mengedepankan pada aktivitas peserta didik dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu dalam Aqib, 2016:
305). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif structural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi peserta didik.
Struktur Kagan menghendaki agar para peserta didik bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari struktur kelas tradisional, seperta mengacungkan tangan terlebih dahulu, kemudian ditunjuk oleh pendidik untuk menjawab pertanyaan yang telah dikemukakan. Suasana seperti ini menimbulkan kegaduhan dalam kelas karena para peserta didik saling berebutan dalam mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan (Tryana dalam Aqib, 2016: 305).
Pembelajaran kooperatif menurut Aqib (2016: 305) merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antar peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan-kegiatan belajar. dalam hal ini, sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada peserta didik, yakni mempelajari materi pembelajaran dan berdiskusi untuk memecahkan masalah.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi peserta didik dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan Kagan dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para peserta didik dalam menelaah materi pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (Aqib, 2016: 306).
Menurut Aqib (2016: 306) terdapat tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT, yaitu sebagai berikut:
1. Hasil belajar akademik structural: Bertujuan untuk meningkatkan kinerja peserta didik dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan adanya keragaman: Bertujuan agar peserta didik dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan keterampilan sosial: Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial peserta didik.
Keterampilan yang
dimaksud antara lain berbagi
tugas, aktif bertanya,
menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok, dan sebagainya.
Penerapan pembelajaran
kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagan dari Ibrahim (dalam Aqib, 2016: 306), dengan tiga langkah yaitu:
a. Pembentukan kelompok, b. Diskusi masalah, dan c. Tukar jawaban antarkelompok. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain
Pretest-Posttest Control Group Design.
Desain ini merupakan yang paling efektif dalam istilah penunjukkan hubungan sebab akibat. Desain ini melengkapi kelompok kontrol maupun pengukuran perubahan, tetapi juga menambahkan suatu prates untuk menilai perbedaan antara kedua kelompok sebelum studi dilakukan (Emzir, 2015: 98).
Penelitian ini akan dilaksanakan di semester genap pada tahun ajaran 2017/2018. Tempat pelaksanaan penelitian
ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 6 Kota Jambi tepatnya dilaksakan pada kelas XI.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
4.1.1. Deskripsi Data Pre Test Kelas Ekperimen
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kemampuan awal pemahaman konsep ekonomi siswa kelas ekperimen pada lampiran 16 dapat diuraikan sebagai berikut : skor maksimal = 75 ; skor minimal = 41.67 ; range = 33.33 ; banyak kelas = 6 ; panjang interval = 6 ; rata-rata nilai = 58.5 ; varians = 90.46. Dengan demikian untuk melihat distribusi frekuensi data pre
test kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.4 Data pre test pemahaman konsep siswa pada kelas eksperimen
Kelas Interval Frekuensi Frekuensi (%)
1 41 – 46 4 10 2 47 – 52 11 27.5 3 53 – 58 4 10 4 59 – 64 6 15 5 65 – 70 12 30 6 71 – 76 3 7.5 Jumlah 40 100
Gambar 4.1 Histogram data pre test pemahaman konsep siswa pada kelas eksperimen
Berdasarkan tabel rekapitulasi dan diagram diatas, dapat diketahui bahwa hanya ada beberapa siswa yang nilainya mencapai KKM
4.1.2. Deskripsi Data Pre Test Kelas Kontrol
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kemampuan awal pemahaman konsep ekonomi siswa kelas kontrol pada lampiran 17 dapat diuraikan sebagai berikut : skor maksimal = 75 ; skor minimal = 13.89 ; range = 61.11 ; banyak kelas = 7 ; panjang interval = 9 ; rata-rata nilai = 55.5 ; varians = 206.73. Dengan demikian untuk melihat distribusi frekuensi data pre test kelas kontrol dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.5 Data pre test pemahaman konsep siswa pada kelas kontrol
Kelas Interval Frekuensi Frekuensi (%)
1 13 – 21 2 4.26 2 22 – 30 2 4.26 3 31 – 39 3 6.38 4 40 – 48 3 6.38 5 49 – 57 11 23.40 6 58 – 66 16 34.04 7 67 – 75 10 21.28 Jumlah 47 100
Gambar 4.2 Histogram data pre test pemahaman konsep siswa pada kelas kontrol
Berdasarkan tabel rekapitulasi dan diagram diatas, dapat diketahui bahwa hanya ada beberapa orang siswa yang nilainya mencapai KKM.
4.1.3. Deksripsi Data Post Test Kelas Ekperimen
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pemahaman konsep ekonomi siswa kelas ekperimen setelah digunakan model pembelajaran NHT pada lampiran 18 dapat diuraikan sebagai berikut : skor maksimal = 100 ; skor minimal = 65.89 ; range = 34.11 ; banyak kelas = 6 ; panjang interval = 6 ; rata-rata nilai = 87.42 ; varians = 98.77. Dengan demikian untuk melihat distribusi frekuensi data post test kelas eksperimen dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.6 Data post test pemahaman konsep siswa pada kelas eksperimen
Kelas Interval Frekuensi Frekuensi (%)
1 65 – 70 3 2.5 2 71 – 76 3 0 3 77 – 82 8 0 4 83 – 88 10 0 5 89 – 94 5 15 6 95 – 100 11 82.5 Jumlah 40 100
Gambar 4.3 Histogram data post test pemahaman konsep siswa pada kelas eksperimen
Berdasarkan tabel rekapitulasi dan diagram diatas, dapat diketahui bahwa setelah dilakukannya perlakuan hanya ada beberapa orang siswa yang nilainya tidak mencapai KKM
4.1.4. Deskripsi Data Post Test Kelas Kontrol
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pemahaman konsep ekonomi siswa kelas ekperimen setelah digunakan model pembelajaran konvensional pada lampiran 19 dapat diuraikan sebagai berikut : skor maksimal = 94.44 ; skor minimal = 55.56 ; range = 38.88 ; banyak kelas = 7 ; panjang interval = 6 ; rata-rata nilai = 74.78 ; varians = 79.72. Dengan demikian untuk melihat distribusi frekuensi data post test kelas kontrol dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.7 Data post test pemahaman konsep siswa pada kelas kontrol
Kelas Interval Frekuensi Frekuensi (%)
1 55 – 60 2 4.26 2 61 – 66 9 19.15 3 67 – 72 9 19.15 4 73 – 78 11 23.40 5 79 – 84 11 23.40 6 85 – 90 3 6.38 7 91 – 96 2 4.26 Jumlah 47 100
Gambar 4.4 Histogram data post test pemahaman konsep siswa pada kelas kontrol
Berdasarkan tabel rekapitulasi dan diagram diatas, dapat diketahui bahwa ada beberapa orang siswa yang nilainya tidak mencapai KKM.
4.2Hasil Analisis Data
4.2.1. Uji Normalitas Pre Test
Uji normalitas data yang digunakan adalah uji Chi Kuadrat, dapat dilihat pada tabel 4.8 dibawah ini:
Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Pre-Test
No Kelas χ2
tabel χ2hitung
1 Eksperimen 54.57 12.83
2 Kontrol 62.83 18.77
Berdasarkan tabel di atas untuk kelas eksperimen diperoleh χ2
hitung = 12.83 dengan
nilai dk 39 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh χ2
tabel = 54.57. Dengan demikian
χ2
hitung < χ2 tabel atau (12.83 < 54.57) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen
berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan untuk kelas kontrol diperoleh χ2
hitung = 18.77 dengan nilai dk 46 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh χ2 tabel =
62.83. Dengan demikian χ2
hitung < χ2 tabel atau (18.77 < 62.83) sehingga dapat disimpulkan
bahwa kelas kontrol berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Untuk perhitungan dapat dilihat pada lampiran 16 dan lampiran 17.
4.2.2. Uji Normalitas Post Test
Uji normalitas data yang digunakan adalah uji Chi Kuadrat, dapat dilihat pada tabel 4.9 dibawah ini:
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Pos-Test
No Kelas χ2
tabel χ2hitung
1 Eksperimen 54.57 24.38
2 Kontrol 62.83 9.45
Berdasarkan tabel di atas untuk kelas eksperimen diperoleh χ2
hitung = 24.38 dengan
nilai dk 39 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh χ2
tabel = 54.57. Dengan demikian
χ2
hitung < χ2 tabel atau (24.38 < 54.57) sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen
berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Sedangkan untuk kelas kontrol diperoleh χ2
hitung = 9.45 dengan nilai dk 46 dan taraf nyata α = 0,05 dari tabel kritis diperoleh χ2 tabel =
62.83. Dengan demikian χ2
hitung < χ2tabel atau (9.45 < 62.83) sehingga dapat disimpulkan bahwa
kelas eksperimen berdistribusi normal pada taraf kepercayaan 95%. Untuk perhitungan dapat dilihat pada lampiran 18 dan lampiran 19.
4.2.3. Uji Homogenitas Pre Test
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelas sampel mempunyai varians yang sama (homogen) atau tidak. Uji yang dimaksud adalah uji Hartley dengan hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
- Terima Ho dan tolak Ha jika F (max) hitung ≤ F (max) tabel, yang berarti varians dua
populasi homogen
- Tolak Ho dan terima Ha jika F (max) hitung > F (max) tabel, yang berarti varians dua
populasi tidak homogen
Sumber Data Fhitung Ftabel Kesimpulan
Tes Pemahaman Konsep 2.29 4.88 Homogen
Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas seperti yang tertera di atas diperoleh
Fhitung < Ftabel,. Berdasarkan kriteria pengujian yang digunaka, maka Ho diterima. Jadi, data
yang diperoleh, baik kelas ekperimen maupun kelas kontrol yang digunakan dalam penelitian memiliki varians yang homogen. Perhiitungan selengkapnya pada lampiran 20.
4.2.4. Uji Homogenitas Post Test
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelas sampel mempunyai varians yang sama (homogen) atau tidak. Uji yang dimaksud adalah uji Hartley dengan hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
- Terima Ho dan tolak Ha jika F (max) hitung ≤ F (max) tabel, yang berarti varians dua
populasi homogen
- Tolak Ho dan terima Ha jika F (max) hitung > F (max) tabel, yang berarti varians dua
populasi tidak homogen
Tabel 4.11 Hasil Uji Homogenitas Post-Test
Sumber Data Fhitung Ftabel Kesimpulan
Tes Pemahaman Konsep 1.24 4.39 Homogen
Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenotas seperti yang tertera di atas diperoleh
Fhitung < Ftabel,. Berdasarkan kriteria pengujian yang digunaka, maka Ho diterima. Jadi, data
yang diperoleh, baik kelas ekperimen maupun kelas kontrol yang digunakan dalam penelitian memiliki varians yang homogen. Perhitungan selengkapnya pada lampiran 21.
4.2.5. Uji Hipotesis
Uji hipotesis ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan, apakah terdapat perbedaan antara rata-rata skor post test kelas eksperimen dengan rata-rata skor post test kelas kontrol. Hasil perhitungan uji hipotesis disajikan pada tabel 4.12 adapun perhitungan uji hipotesis hasil post test selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 22.
Tabel 4.12 Hasil Uji Hipotesis
Keterangan Kelas Ekperimen Kelas Kontrol
Jumlah Sampel 40 47
Nilai Rata-Rata 87.42 74.78
Thitung 6.02
Ttabel 1.99
Kesimpulan Berbeda
Dari hasil perhitungan di atas, ternyata thitung (6.02) > ttabel (1.99). Maka Ha diterima, dengan
demikian hipotesis Ho ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Tingkat pemahaman konsep
siswa yang menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together lebih tinggi dari pada tingkat pemahaman konsep siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional di SMAN 6 Kota Jambi.
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh dua tipe model pembelajaran terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa pada kelas XI semester 2 di SMAN 6 Kota Jambi. Model pembelajaran yang diterapkan adalah model pembelajaran
Numbered Heads Together dan model pembelajaran konvensional.
Setelah siswa pada kedua kelas sampel mendapatkan materi yang sama dengan teknik pembelajaran yang berbeda selama 6 kali pertemuan, maka diberikan soal tes kemampuan
pemahaman konsep. Tes kemampuan konsep diberikan untuk mengetahui atau mengukur tingkat kemampuan pemahaman konseo dari seluruh siswa pada dua kelas sampel. Tes kemampuan pemahaman konsep diberikan dengan soal yang sama dan dalam waktu yang berdekatan
Proses awal pembelajaran pada kelas ekperimen adalah guru menjelaskan tentang model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan memberikan apersepsi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pokok bahasan APBN dan APBD. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok mendiskusikan materi yang telah diberikan dengan memberikan pertanyaan atau mengajukan permasalahan tentang APBN dan APBD dalam lembar soal sebagai panduan diskusi.
Guru mengawasi aktifitas dan membimbing siswa dalam pelaksanaan diskusi. Selanjutnya mengevaluasi kegiatan siswa dengan cara memanggil siswa sesuai nomor yang telah ditentukan, kemudian siswa dengan nomor tersebut mengangkat tangan dan guru kembali menyebut nomor sebagai tanda kelompok yang dimaksud, dan siswa dengan nomor tersebutlah yang hasrus menjawab pertanyaan.
Selesai pembelajaran guru mengingatkan untuk mempelajari materi yang sudah dibahas. Sebagai bentuk penilaian, guru meminta siswa intuk menyelesaikan soal-soal LKS dan memberikan pekerjaan rumah (PR). Proses pembelajaran pada kelas eksperimen dilakukan dalam enam kali pertemuan dengan alokasi waktu mata pelajaran ekonomi pada kelas X IIS setiap pertemuan 2x45 menit.
Sebelum pembelajaran tahap pertama dilaksanakan peneliti sudah memberikan pre-test yang membutuhkan waktu 60 menit pada pertemuan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pokok bahasan APBN dan APBD. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru sekaligus menjelaskan secara singkat pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) kemudian diterapkan kepada siswa dan diakhiri dengan evaluasi.
Pembelajaran diawali dengan pemberian apersepsi oleh guru untuk mengingat kembali materi sebelumnya dan menginformasikan tentang pembelajaran NHT serta tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit. Setelah itu guru memberikan materi pengertian APBN dan APBD dan memberikan batasan-batasan materi yang akan dipelajari. Kemudian membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 5 sampai 6 orang siswa. Dalam kelas eksperimen ini jumlah siswa sebanyak 40 Orang terbagi menjadi 8 kelompok.
Setelah kelompok belajar terbentuk, siswa melakukan diskusi dan menyelesaikan soal diskusi yang diberikan guru secara berkelompok. Kemudian guru melakukan evaluasi dengan memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya untuk mewakili kelompoknya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Pada kegiatan akhir guru dan siswa membahas hasil diskusi dan menyimpulkan materi.
Pembelajaran NHT yang terakhir dilaksanakan dengan cara guru mereview materi yang telah disampaikan kemudian mengkondisikan siswa untuk bergabung kembali ke dalam kelompoknya masing-masing untuk menyelesaikan soal diskusi yang telah diberikan guru. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru telah melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, hal ini didukung karena siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran NHT yang telah dilaksanakan.
Model pembelajaran NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Pembelajaran berlangsung secara menyenangkan, siswa dituntut untuk terlibat aktif selama pembelajaran. Hal ini dikarenakan setiap siswa memiliki tanggung jawab yang sama dalam kelompoknya.
Setelah penelitian ini selesai dengan diadakannya post-test maka dari hasil post-test didapat rata hasil belajar siswa kelas eksperimen (87.42) lebih tinggi dibandingkan
rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol (74.78). Perbedaan hasil belajar ini disebabkan dari perlakuan yang diberikan. Dari hasil perhitungan post test diketahui bahwa nilai thitung (6.02) >
ttabel (1.99). Maka Ha diterima, dengan demikian hipotesis Ho ditolak. Artinya jika dilihat dari
hasil belajar antara pembelajaran NHT dengan pembelajaran konvensional, maka dapat dikatakan pembelajaran NHT mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran pada kelas konvensional. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil yang sama. Hasil penelitian oleh Rahman Erfian (2011) menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT memiliki hasil belajar lebih tinggi dibandingkan model pembelajaran konvensional. Penelitian oleh Pradyani, dkk (2013) menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa kelas yang menggunakan model pembelajaran NHT lebih baik daripada prestasi belajar siswa kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa pada kelas XI pada materi APBN dan APBD. Hal ini dibuktikan denga diperolehnya nilai rata-rata hasil tes kemampuan pemahaman konsep kelas NHT adalah 87.42 dan kelas konvensional adalah 74.78. ini berarti bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa pada kelas yang menerapkan model pembelajaran NHT lebih baik daripada kemampuan pemahaman konsep siswa pada kelas konvensional. Selain itu, hasil uji hipotesis diperoleh thitung (6.02)
sedangkan ttabel (1.99). Hal ini menunjukkan
berarti thitung (6.02 > ttabel (1.99) sehingga Ha
diterima, dan Ho ditolak. Dengan kata lain
terdapat perbedaan terhadap hasil post test antara siswa kelas ekperimen dengan siswa kelas kontrol. Dan dapat disimpulkan bahwa kegiatan balajar kelas eksperimen lebih efektif dibanding kelas kontrol dengan indikasi rata-rata lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Teks Book :
Afnitasari, Nanda Clara, dan Sumardi. 2014. “Peningkatan Pemahaman
Konsep dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Pendekatan Scientific Learning”. Skripsi.
Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Afrilianto, M. 2012. “Peningkatan
Pemahaman Konsep dan Kompetemsi Strategis Matematis Siswa SMP dengan Pendekatan Metaphorical Thinking”. Jurnal
Vol 1 (2). Bandung: STIKIP Siliwangi Bandung
Ali, Mohammad, dan Asrori, Muhammad. 2014. Metodologi & Aplikasi Riset
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Aqib, Zainal., dan Murtadlo, Ali. 2016.
Kumpulan Metode Pembelajaran (Kreatif dan Inovatif). Bandung:
Satu Nusa
Eggen, Paul., dan Kauchak, Don. 2016.
Strategi dan Model Pembelajaran (Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir) Edisi Keenam. Terjemahan Wahono.
Satrio. Jakarta: Indeks
Emzir, 2015. Metodologi Penelitian
Pendidikan (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: RajaGrafindo
Persada
Erfian, Rahman. 2011. “Komparasi
Efeltivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dengan Pembelajaran Konvensional terhadap Hasil Belajar Pada Mata
Pelajaran Akuntansi Siswa Kelas XI IS SMA Negeri 14 Semarang”.
Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang
I.A.R, Pradnyani., A.A.I.N, Marhaeni., dan I Made, Ardana. 2013. “Pengaruh
Model Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Matematika ditinjau dari Kebiasaan Belajar di SD” Jurnal (3). Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha Irianto, Agus. 2015. Statistik (Konsep
Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya) Edisi Keempat. Jakarta: Kencana
Isjoni. 2010. Cooperative Learning
(Efektivitas Pembelajaran Kelompok). Bandung: Alfabeta
Joyce, Brucer., Weil, Marsha., dan Calhoun, Emily. 2016. Models of
Teaching Edisi Kesembilan,
Terjemahan Pancasari. Rianayati Kusmini. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kistiono, dan Suhandi, Andi.
“Penyusunan dan Analisis Tes Pemahaman (Understanding) Konsep Fisika Dasar Mahasiswa Calon Guru”.
Moleong, J, Lexy. 2007. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya
Neolaka, Amos. 2014. Metode Penelitian
dan Statistik. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Pratiwi, Wahyuningrum. “Efektivitas
Penggunaan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) dan Group Investigation (GI) ditinjau dari Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas IV di SD Kasihan Bantu”.
Skripsi. Yogyakarta: Universitas PGRI
Rahmawati, Dessy. “Meningkatkan
Pemahaman Konsep Siswa Kelas XI-IPS dalam Belajar Matematika melalui Metode Guided Discovery Instruction”. Skripsi. Tangerang:
Universitas Pelita Harapan
Rengganis, Willy. “Kemampuan
Pemahaman Konsep Geometri Siswa Kelas VII Antara Pembelajaran Model NHT dan Make A Match”. Skripsi.
Semarang: Universitas Negeri Semarang
Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Lembaran Negara RI Tahun 2003. Sekretariat Negara. Jakarta.
Riduwan. 2014. Pengantar Statistika
Sosial. Bandung: Alfabeta
_______. 2015. Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta
Saefuddin, A., 2015. Pembelajaran Efektif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Sani, Abdullah Ridwan. 2015. Inovasi
Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Sapriya, 2015. Pendidikan IPS (Konsep
dan Pembelajaran). Bandung:
Remaja Rosdakarya
Silver, Harvey F., Strong, Richard W., Perini, Matthew J, 2012.
Strategi-Strategi Pengajaran, Terjemahan
Sudaryono., Margono, Gaguk., Rahayu, Wardani. 2013. Pengembangan
Instrumen Penelitian Pendidikan.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Sudijono, Anas. 2015. Pengantar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian
Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta
Sukmadinata, N. S. 2013. Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya
Sumantri, Mohamad Syarif. 2015. Strategi
Pembelajaran (Teori dan Praktik di Tingkat Pendidikan Dasar).
Jakarta: Rajawali Pers
Suprijono, Agus. 2016. Cooperative
Learning. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Ulia, Nuhyal. “Peningkatan Pemahaman
Konsep Matematika Materi Bangun Datar dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe GroupInvestigation dengan Pendekatan Saintifik di SD”.
Semarang: Universitas Islam Sultan Agung
Wiggins, Grant, dan McTighe, Jay. 2012.
Pengajaran Pemahaman melalui Desain, Terjemahan Widjaya. Frida