Current Price July 31, 2017 Rp 1,410
Fair Value Rp. 2,100
Potential Upside 48.9%
BUY
Stock InformationTicker Code LSIP
Market Cap (Rp Triliun) 9.48
52-Week High (Rp) 1,330
52-Week Low (Rp) 1,905
Shares Issued 6,8 M
Major Shareholders (%)
PT Salim Ivomas Pratama 59.48%
Saham Tresury 0.05%
Public (>5%) 40.47%
Price Performance (2016-2017)
PT OSO Securities
Cyber 2 Tower,
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 No. 13 Setiabudi
Jakarta 12950 Tel. : 021 2991 5300 Fax : 021 2902 1497
Pendapatan LSIP sepanjang semester 1 terus membukukan pertumbuhan positif, di kuartal II LSIP membukukan pendapatan sebesar 2.46 triliun atau tumbuh 49.32% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Laba bersih LSIP tumbuh 643.28% pada 1Q17 dan 308.6% pada 2Q17. Dimana penjualan produk sawit dan turunannya memberikan kontribusi tertinggi sebesar 90.8%.
Pendapatan LSIP Diproyeksikan Tumbuh 6% mejadi Rp 4.08 triliun dari sebelumnya Rp 3.84 triliun, dimana penjualan produk sawit akan memberikan kontribusi sebesar 98%. Penjualan produk Sawit lebih terfokus di pasar Domestik. Sementara itu juga, tanaman menghasilkan LSIP tahun ini meningkat, mendorong bertambahnya jumlah Produk sawit yang mampu dihasilkan.
Produksi Sawit LSIP di Proyeksikan Meningkat 17% Di Tahun 2017, Berkurangnya dampak El-Nino dan mulai beroperasinya pabrik baru di Sumatera Selatan memberikan peluang bagi kenaikan produksi TBS LSIP sebesar 17.89% menjadi 1,440.567 ton. Adapun kami perkirakan ditahun 2017 produksi TBS Malaysia dan Indonesia akan mengalami peningkatan sehingga harga CPO berada di level MYR 2,450/ metrik ton. Peningkatan ini didorong dari berkurangnya dampak El-Nino di beberapa Wilayah Malaysia dan Indonesia, dimana kedua Negara tersebut memiliki iklim yang tidak jauh berbeda.
Kebijakan Mondatori Biodiesel untuk substitusi solar menjadi katalis positif untuk konsumsi sawit domestik. LSIP saat ini lebih memfokuskan penjualan produk sawit ke pasar Domesik ketimbang Global, sehingga kebijakan mondatori tersebut kami nilai akan sangat menguntungkan bagi produsen sawit terutama LSIP yang memang fokus pada pasar Domestik
Rekomendasi Beli
Kami merekomedasikan “BELI” untuk saham LSIP. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode Discounted Cash Flow
(DCF), dengan asumsi terminal growth 2% serta WACC 9,3%.
maka diperoleh harga wajar atau fair value LSIP sebesar RP 2,100,-.
Highlights
Source : Company and Oso Estimated
Forecast and Valuation (at closing price Rp1,415 per share)
Y/E Dec (Rpbn) 14A 15A 16A 17E 18E 19E 20E
Revenue 4,727 4,190 3,848 4,079 4,960 5,505 5,977 EBITDA 1,504 1,106 1,217 1,272 1,933 2,243 2,448 Net Profit 929 614 593 722 1,221 1,446 1,587 EPS (Rp) 136 90 87 106 179 212 233 DPS (Rp) 46 53 53 36 42 72 85 Dividend Yield (%) 3.2 3.7 3.8 2.5 3.0 5.1 6.0 BV per Share (Rp) 1,058 1,075 1,121 1,201 1,348 1,479 1,628 EV/EBITDA (x) 5.9 8.1 7.3 7.0 4.6 4.0 3.6 P/E Ratio (x) 10.4 15.7 16.3 13.4 7.9 6.7 6.1 P/BV Ratio (x) 1.3 1.3 1.3 1.2 1.0 1.0 0.9
Profile Usaha PP London Sumatera Indonesia Tbk
PP Lonson Sumatera Indonesia Tbk telah tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1996 hingga saat ini. Dengan lini bisnis yang bergerak di sektor perkebunan dan memiliki beberapa divisi usaha, yakni Produk Turunan Sawit, Karet, Benih Bibit Sawit, Kopi, serta Teh. Area perkebunan Lonsum tersebar mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa timur, Kalimantan, hingga Sulawesi Selatan. Pada tahun lalu Lonsum resmi menambah produk baru nya yakni produk Teh, guna melakukan diversifikasi produk untuk menjaga kestabilan laba. Di tahun 2016, Kontribusi penjualan Lonsum ditopang oleh penjualan sawit lebih dari 91,10%, diikuti oleh sawit 5,20%, barulah kemudian penjualan benih bibit kelapa sawit sebesar 1,90%. Untuk penjualan sawit, Lonsum lebih terfokus pada penjualan dipasar domestik, sedangkan Karet mayoritas diserap oleh pasar ekspor.
Diagram I : Kontribusi Pendapatan PP London Sumatera 2017F
Source : Company and Oso Estimated
Permintaan Sawit Lonsum Dari Dalam Negeri
Lonsum banyak melakukan transaksi dengan pelanggan tunggal yang bahkan melebihi diatas 30% dari total penjualannya. Salah satunya yakni SIMP dan PT Musim Mas. SIMP merupakan entitas induk (langsung) dan INDF ialah entitas induk (tidak langsung). Hampir rata-rata perusahaan yang melakukan pembelian produk sawit dari Lonsum memiliki tujuan untuk mengolah kembali produk tersebut menjadi minyak goreng dan dijual menjadi produk olahan siap pakai, baru sisanya untuk membuat Sabun, Biodiesel dan lainnya. Sementara itu, Jumlah penduduk Indonesia yang terus mengalami pertumbuhan positif membuat kebutuhan akan bahan makanan meningkat. Gaya konsumsi masyarakat Indonesia yang menyukai makanan berminyak menandakan bahwa masyarakat Indoneisa sangat bergantung pada penggunaan Minyak goreng dalam membuat masakan. Beberapa faktor diatas akan mendorong pada permintaan produk sawit yang terus berkelanjutan.
CPO PK oil palm seed Rubber Cocoa Tea
2017F
OSO Equity Research
PP London Sumatera Indonesia Tbk 01 Agustus, 2017
OSO SECURITIES
MEMBER OF INDONESIA STOCK EXCHANGE
Grafik I : Pertumbuhan Populasi Indonesia
Source : Bloomberg and Oso Estimated
Industry kelapa sawit
Prospek Minyak Kelapa Sawit Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit di dunia dan menduduki peringkat kedua setelah Malaysia. Indonesia dan Malaysia menyumbang produksi minyak kelapa sawit sekitar 85% sampai 90% dari keseluruhan produksi minyak kelapa sawit di dunia.
3 Negara Tujuan Ekspor Terbesar Indonesia ( CPO )
Berdasarkan data yang rilis oleh GAPKI terbaru, pada bulan Januari 2017, jumlah produk turunan sawit yang diekspor mengalami peningkatan dibanding pada bulan Januari 2016. kemudian Uni Eropa dan China mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dimana India menambahkan porsi permintaannya pada awal tahun 2017 menjadi 676,17 ribu ton dari sebelumnya hanya 383,65 ribu ton MoM, dan Uni Eropa meskipun adanya peraturan yang menekankan untuk lebih baik mengkonsumsi minyak nabati lainnya seperti SBO dan lainnya, namun faktanya di awal tahun ini Uni Eropa malah meningkatkan permintaan produk kelapa sawit menjadi 615,72 ribu ton dari sebelumnya 351,13 ribu ton MoM. Serta China pada Januari 2017 sebesar 316,75 ribu ton dibanding Januari 2016 yakni 275,69 ribu ton.
Grafik II : Comparasi Harga Minyak Nabati
Source : Indeks Mundi and Oso Estimated
INDIA UNI EROPA CHINA
0 50 100 150 200 250 300
01
/01
/1
98
0
01
/01
/1
98
4
01
/01
/1
98
8
01
/01
/1
99
2
01
/01
/1
99
6
01
/01
/2
00
0
01
/01
/2
00
4
01
/01
/2
00
8
01
/01
/2
01
2
01
/01
/2
01
6
01
/01
/2
02
0
0,00 200,00 400,00 600,00 800,00 1000,00 1200,00 1400,00 1600,002012A1 2013A1 2014A1 2015A1 2016A1 2017A1 2018A1 2019A1 2020A1 Chart Medium Term Commodity Price Baseline
( In U.S Dollars)
Soybean oil $/MT Palm oil $/MT Sunflower Oil $/MT Rapeseed oil $/MT Paling murah
Harga Komoditas Sawit Akan Tetap Stabil Seiring Permintaan Global Yang Bertumbuh Positif
India dan China merupakan Negara dengan kebutuhan Minyak CPO terbesar Dunia, hal ini inline dengan populasi dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, India memerlukan bahan baku makanan salah satunya minyak goreng yang diolah dari minyak kelapa sawit. Pada bulan-bulan tertentu India dan China akan meningkatkan permintaannya lebih dari biasanya. Hal tersebut biasanya dikarnakan adanya festival hari raya, sebab masyarakan akan membutuhkan banyak makanan dari olahan sawiit, baik minyak nabati, ataupun lainnya dengan harga yang lebih murah dibandingkan minyak nabati lainnya. Dengan permintaan CPO yang stabil di tahun 2017, maka kami proyeksikan harga komoditas CPO tahun ini akan berada di rentang harga 2,275 Ringgit Per Metrik Ton.
Grafik III: Harga Crude Palm Oil
Source : Bloomberg and Oso Estimated
Source : Bloomberg and Oso Estimated
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600
01
/0
1/
19
80
01
/0
1/
19
84
01
/0
1/
19
88
01
/0
1/
19
92
01
/0
1/
19
96
01
/0
1/
20
00
01
/0
1/
20
04
01
/0
1/
20
08
01
/0
1/
20
12
01
/0
1/
20
16
01
/0
1/
20
20
Grafik IV : Populasi India
0.00 500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00 3,000.00 3,500.00 Ju n -12 S e p -12 De c 2 0 1 2 M a r-13 Ju n -13 S e p -13 De c 2 0 1 3 M a r-14 Ju n -14 S e p -14 De c 2 0 1 4 M a r-15 Ju n -15 S e p -15 De c 2 0 1 5 M a r-16 Ju n -16 S e p -16 De c 2 0 1 6 M a r-17 Ju n -17 MYR 2.450 / Metric Ton
Keungulan CPO Dibanding Minyak Nabati Lainnya
Keunggulan produktivitas sawit yang 10 kali lipat dari produktivitas minyak nabati lainnya. Kelapa sawit hanya bisa tumbuh di negara yang beriklim tropis dan tidak dapat tumbuh di wilayah Eropa dan Amerika. Eropa dan Amerika sangat memerlukan lahan yang luas untuk memproduksi minyak nabati. Hal tersebut dikarenakan minyak pada Kedelai, Bunga Matahari dan Rapessed tidak sebanyak kandungan minyak pada Kelapa Sawit. Sementara itu, Eropa dan Amerika memberikan beberapa sentiment negatif mengenai penggunaan minyak kelapa sawit yakni dengan gerakan anti sawit agar mencantumkan label “palm oil free atau no palm oil”. Namun pada tanggal 2 juni 2017 lalu, Pengadilan Belgia memutuskan bahwa pencantuman label tersebut tidak adil dan tidak mendasar hal ini sekaligus membantah resolusi sawit oleh parlemen Eropa mengenai berbagai tuduhan yang diberikan kepada produk kelapa sawit.
Grafik V : Proyeksi Produksi Minyak Nabati Utama Dunia
Source : IMF and Oso Estimated
Permintaan CPO Bagi Masyarakat Dunia Yang Terus Tumbuh Berkelanjutan
Minyak nabati merupakan salah satu kebutuhan masyarakat Dunia untuk bahan pangan (Minyak Goreng, Shortening, Mentega, Industri Roti), Industri Kosmetik dan Toiletries (Sabun, Deterjen, Bahan Bahan Kosmetik) dan untuk Energi (Biodiesel, Biotanol, Pembangkit Listrik).
Grafik VI : Proyeksi Konsumsi Minyak Nabati Utama Dunia
Biodiesel Akan Mampu Geser Penggunaan Minyak Fosil
Penggunaan Biodiesel ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan minyak fosil yang memiliki cadangan terbatas. Saat ini Eropa dan Amerika sedang menggodok kebijakan hambatan impor berupa Bea masuk, maupun hambatan non tarif atas impor Biodiesel sawit termasuk dari Indonesia. Kebijakan tersebut dirancang untuk menghambat impor Biodiesel sawit yang harganya lebih murah 15%-30% dibanding dengan Biodiesel produksi Eropa (Biodiesel Rapeseed) maupun Biodiesel Amerika (Biodiesel Kedelai). Berdasarkan data yang dikemukakan oleh Oil Word, setiap tahun masyarakat dunia membutuhkan sekitar 230 juta ton minyak nabati dengan tambahan pertumbuhan permintaan sebesar 6 ton per tahun, hal ini membuktikan bahwa masih luasnya prospek usaha dibidang kelapa sawit karena memiliki potensi pertumbuhan yang berkelanjutan seiring pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Selain itu, Untuk memenuhi kebutuhan akan minyak nabati di USA, maka diperlukan sangat banyak lahan untuk menghasilkan minyak nabati (minyak kedelai). Saat ini USA memiliki sedikit bagian yang masih hijau. Disebabkan konversi hutan menjadi lahan kebun Kedelai untuk menghasilkan minyak nabati.
Sunflower Oil
Rapeseed Oil
Empat Minyak Nabati Dunia
Sunflower dan Rapeseed ini adalah tanaman yang banyak tumbuh di wilayah Eropa sehingga minyak nabati yang dihasilkan oleh UE adalah Sunflower Oil dan Rapeseed Oil. Kedua nya membutuhkan lebih banyak lahan untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati di Uni Eropa sehingga salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengimpor CPO guna memenuhi kebutuhan minyak nabati di negaranya. Selanjutnya Soybean Oil di produksi di Amerika bagian selatan, Argentina dan juga Brazil. Terakhir yaitu CPO yang dihasislkan dari kelapa sawit memiliki efisiensi lahan lebih baik dibanding ketiga minyak nabati lainnya, tetapi haya bisa tumbuh di negara yang beriklim tropis.
Source : IMF and Oso Estimated
Kebijakan Pemerintah Mengenai Hilirisasi Kelapa Sawit
Saat pemerintah lebih menfokuskan kelapa sawit untuk lebih pada orientasi domestik. Salah satu tujuan pemerintah yakni menjaga ketersediaan bahan baku minyak sawit bagi industri domestik, mengamankan pasokan serta harga minyak goreng dalam negeri dan mendukung program hilirisasis industri kelapa sawit. Adapun kebijakan
allowance, tax holiday, pembebasan impor atas mesin serta barang dan
bahan), pengembangan kawasan industri integrasi hilir sawit dengan fasilitas/jasa pelabuhan, kemudian kebijakan mondatori biodiesel untuk substitusi solar impor. Beberapa kebijakan yang ditempuh pemerintah tidak lain ialah untuk meningkatkan konsumsi kelapa sawit domestik agar tidak bergantung dengan permintaan ekternal sehingga industri kelapa sawit tetap dapat berkembang dengan baik.
Divisi Produk Sawit Sebagai Penopang Utama Pendapatan LSIP
Lebih dari 90% pendapatan LSIP di kontribusikan oleh hasil penjualan produk sawit. Pejualan produk sawit ini di fokuskan ke pangsa pasar domestik. Nantinya pada tahun 2017 ini, pendpaatan LSIP kami proyeksikan akan mengalami pertumbuhan positif sebesar 11% disebabkan jumlah TBS yang mampu dihasilkan akan lebih tinggi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan jumlah produksi TBS Lonsum yaitu pertambahan jumlah lahan sawit yang telah menghasilkan ditahun ini menjadi 83.056 Ha dimana sebelumnya hanya seluas 78.656 Ha dan adanya dukungan iklim yang mulai membaik (meredanya dampak El-Nino). Pada tahun 2017 LSIP akan terus menjaga pertumbuhan organik dan akan mulai peroperasi nya pabrik kelapa sawit baru di sumatera selatan, sehingga akan menambah jumlah produksi kelapa sawit. 0 200 400 600 800 1000 1200 13/07/2012 13/07/2013 13/07/2014 13/07/2015 13/07/2016 0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Pendapatan Laba Bersih (profit)
Grafik VII : Indonesia crude palm oil CIF Rotterdam Monthly (USD)
Grafik VIII : IMF Indonesia per Capita projection
Source : IMF and Oso Estimated
Grafik IX : Suku Bunga Acuan Indonesia
Source : Bloomberg and OSO Research.
Grafik X : Indonesia per Capita Current Price
Source : Bloomberg and OSO Research. 0 1 2 3 4 5 6 7 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 01 /0 1/ 20 12 01 /0 1/ 20 13 01 /0 1/ 20 14 01 /0 1/ 20 15 01 /0 1/ 20 16 01 /0 1/ 20 17 01 /0 1/ 20 18 01 /0 1/ 20 19 01 /0 1/ 20 20 01 /0 1/ 20 21 01 /0 1/ 20 22 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 01 /0 7/ 20 12 01 /1 1/ 20 12 01 /0 3/ 20 13 01 /0 7/ 20 13 01 /1 1/ 20 13 01 /0 3/ 20 14 01 /0 7/ 20 14 01 /1 1/ 20 14 01 /0 3/ 20 15 01 /0 7/ 20 15 01 /1 1/ 20 15 01 /0 3/ 20 16 01 /0 7/ 20 16 01 /1 1/ 20 16 01 /0 3/ 20 17
Ekonomi Indonesia Ikut Serta Mendorong Pertumbuhan Sawit
Perekonomian Indoensia mulai menunjukkan kestabilan, pada tahun ini diproyeksikan ekonomi Indonesia akan berada pada 5,02% sedikit lebih tinggi jika dibandingkan tahun lalu, dimana Rupiah akan dijaga pada level Rp 13.300. dengan terjaganya nilai Rupiah maka akan menguntungkan bagi Lonsum sehingga keugian akan transaksi kurs dapat dihindari. Tingkat pendapatan perkapita indonesia mengalami pertumbuhan yang baik dan terus berlanjut. Sehingga nantinya kebutuhan akan barang konsumsi dan jasa semakin meningkat ditambah dengan jumlah penduduk indonesia yang tinggi hal ini menjadi peluang yang baik untuk terus mengembangkan usaha Lonsum, bahkan saat ini Lonsum telah mulai mengeluarkan produk nya yang baru yakni produk teh hitam premium guna menjaga dan mengembangkan bisnis perusahaan.
Pemerintahan pada tahun 2017 cenderung mengalami perbaikan yang lebih baik. Serta tingkat inflasi dan suku bunga yang terjaga. Dimana suku bunga acuan 7days RR masih tetap di level 4,75% meski sebelumnya tertekan oleh kenaikan suku bunga The Fed. Indonesia tetap mempertahankan suku bunga di level tersebut karena Indonesia saat ini memiliki fundamnetal perekonomian yang cukup kuat untk mengantisipasi tekanan dari eksternal. Pada tahun ini Lonsum akan fokus pada pengembangan Organic seperti penanaman baru. Serta tahun ini pula, LSIP mengeluarkan produk teh celup dengan merek Kahuripan. Prduk tersebut telah dipasarkan di beberapa outlet ritel terpilih di Indonesia. Teh kahutipan menawarkan tiga pilihan rasa : Teh Hitam, Teh Hitam Premium dan Teh Kotak Kahuripan Premium Hitam dan Putih.
Dampak El-Nino (Musim kemarau)
Pada tahun lalu Lonsum tidak dapat memanfaatkan peluang kenaikan harga komoditas CPO karena terkena dampak musim kemarau atau biasa disebut El-Nino. CPO yang diproduksi mengalami pertumbuhan negatif atau turun 19% sebesar 384.535 ton, dimana sebelumnya pada 2015 produksi CPO mampu mencapai 475.708 ton. Hal ini tentunya mempengaruhi volume penjualan CPO yang juga ikut turun sebesar 22% sebesar 369.583 ton. Dampak El-Nino juga ternyata mempengaruhi divisi lain seperti penjualan Bibit benih kelapa sawit yang penuh tantangan akibat adanya tren penurunan kegiatan penanaman baru di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu adanya persaingan yang cukup ketat dari para pesaing akibat masuknya pemain baru di industri benih bibit kelapa sawit. Pada 2016, adanya penurunan permintaan dan masuknya pemain baru membuat harga bibit benih kelapa sawit turun 2,7% mencapai Rp. 10.384/benih bibit dari sebelumnya Rp 10.668/benih bibit ditahun 2015. Sama hal nya dengan CPO, karet juga mengalami penurunan jumlah produksi akibat cuaca yang ekstrem. Tahun 2016, volume penjualan Karet mayoritas diserap oleh pasar ekspor. Pada semester ke-2 ditahun 2016 adanya peingkatan harga karet, disebabkan oleh peningkatan permintaan karet alami hal ini menandakan pulihnya permintaan dari industri otomotif Tiongkok .
Prospek Cerah Di Tahun 2017, Berkurangnya Dampak El-Nino Memberikan Dukungan Pada Jumlah Produksi Sawit Dan Karet
Pada tahun 2017 jumlah produksi TBS akan lebih tinggi dibanding 2016, hal ini dikarenakan telah berkurangnya dampak El-Nino serta bertambahnya jumlah lahan perkebunan kelapa sawit yang sudah memasuki masa mature. Dengan demikian maka LSIP memiliki peluang untuk meningkatkan volume penjualannya ke pasar domestik. Begitu pula Karet, pada musim penghujan karet akan memproduksi getah lebih banyak dibanding musim kemarau serta permintaan ekspor dengan tujuan Tiongkok kami prediksikan akan mengalami peningkatan, disebabkan perekonomian negara tersebut saat ini sudah mulai membaik tercermin dari balance trade negara tersebut yang terus mencatatkan suplus hingga bulan Juni 2017 dan industry otomotif yang terus berkembang. Untuk divisi benih bibit sawit, ditahun ini dengan membaiknya keadaan iklim maka akan membuat permintaan bibit untuk melakukan penanaman karet mengalami peningkatan. Karena jika dilihat hampir rata-rata kebun sawit di Indonesia sudah mulai memasuki usia yang kurang produktif dalam menghasilkan buah kelapa sawit, sehingga memerlukan perluasan lahan dan penanaman baru pohon kelapa sawit.
Prospek Sawit Nasional
Target pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang stabil yakni 5.02%, serta pendapatan perkapita Masyarakat yang cenderung meningkat akan semakin mendorong daya beli Masyarakat. Indonesia memiliki Populasi Penduduk terbesar ke -4 di Dunia dan pertumbuhan yang cukup tinggi. Jumlah Penduduk ini inline dengan kebutuhan bahan makanan khususnya minyak goreng. Dengan kebutuhan minyak goreng yang juga tinggi maka nantinya hal ini juga akan mendorong permintaan minyak kelapa sawit untuk diolah menjadi minyak goreng.
Resiko Yang Harus Diwaspadai Bagi PP London Sumatera Tbk
Perubahan regulasi pemerintah baik lokal (Daerah) dan nasional
Dinamika Politik yang tidak stabil
Fenomenal El-Nino, musim kemarau yang mengakibatkan rendahnya volume produk yang dihasilkan
Persaingan yang ketat membuat LSIP harus terus menjaga efisiensi biaya untuk menghasilkan produk yangberbiaya rendah sehingga memiliki harga yang kompetitif
Harga komoditas yang berfluktuatif membuat pendapatan dan penjualan akan produk yang dihasil pun terpengaruh
Naiknya suku bunga yang nantinya mmebuat beban keuangan perusahaan meningkat
Berubahnya pola kebutuhan pelanggan
Perubahan Nilai tukar asing yang menyebaban kerugian atas transaksi kurs
Volume Penjualan Yang Lebih Baik
Pada 2017, penjualan LSIP akan mengalami peningkatan dikarenakan jumlah produksi yang mengalami perbaikan dikarenakan mulai berkurangnya dampak El-Nino serta adanya pebaian harga komoditas. Penjualan LSIP tahun ini masih akan di dominasi oleh Produk sawit dengan kontribusi terbesar hingga mencapai 90% dari total penjualan. Pada tahun 2017F, efisiensi dari penggunaan Aset dan Modal akan lebih efektif dibanding tahun sebelumnya.
Lonsum Akan Terus Mempertahankan Posisinya Di Industri Sawit
Lonsum memiliki Aset yang terus meningkat dari tahun ketahun serta memiliki struktur hutang jangka pendek yang lebih banyak dibanding hutang jangka panjang. Hal ini menandakan bahwasanya Lonsum banyak melakukan kegiatan operasionalnya dengan menggunakan Hutang sehingga hutang jangka pendeknya tinggi, menyebabkan ratio solvancy perusahaan ini ikut meningkat.
Untuk mempertahankan posisinya Lonsum harus terus berinisiatif dalam menjalannkan dan mengambangkan asetnya, maka nantinya Lonsum di proyeksikan akan meningkatkan belanja modalnya untuk terus melakukan perluasan bisnis dan kebun sehingga membutuhkan capex yang besar. Saat ini pun Lonsum sudah membuka pabrik pengolahan sawit baru di Sumatera selatan guna meningkatkan produksi perusahaan serta meluncurkan produk baru yakni teh premium hitam.
Grafik XII : Pendapatan LSIP yang Terus Bertumbuh Positif
Source : Company and OSO Estimate
Grafik XIII : Pendapatan LSIP Yang Terus Bertumbuh Positif
Source : Company and OSO Estimate
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000
2014A 2015A 2016A 2017E 2018E 2019E 2020E
Revenue Net profit
0 200 400 600 800 1,000 1,200
2014A 2015A 2016A 2017E 2018E 2019E 2020E
Grafik XIII : Pendapatan LSIP Yang Terus Bertumbuh Positif
Source : Company and OSO Estimate
Grafik XIV : Struktur Permodalan LSIP
Source : Company and OSO Estimate
Grafik XV : Ratio Margin
Source : Company and OSO Estimate
Grafik XVI : Net Profit Yang Bertumbuh Positif
Source : Company and OSO Estimate
0 2 4 6 8 10 12 14
2014A 2015A 2016A 2017E 2018E 2019E 2020E
ROE (%) ROA (%) 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000
2014A 2015A 2016A 2017E 2018E 2019E 2020E
Total Assets Total Liabilities Equity
0 5 10 15 20 25 30 35
2014A 2015A 2016A 2017E 2018E 2019E 2020E
Breakdown Revenue Dan Aset Grafik XVII : Assets Breakdown
Source : Company and OSO Estimate
Grafik XVIII : Revenue Breakdown
Source : Company and OSO Estimate
Grafik XIX : : Revenue By Geografi Breakdown
Source : Company and OSO Estimate
Source : Bloomberg and OSO Research.
1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00 5.000,00 6.000,00 FY 2014 FY 2015 FY 2016
Oil Palm and Palm Kernel Unallocated Rubber Others Seeds
0,00 500,00 1000,00 1500,00 2000,00 2500,00 3000,00 3500,00 4000,00 4500,00 FY 2006 FY 2007 FY 2008 FY 2009 FY 2011 FY 2012 FY 2013 FY 2014 FY 2015 FY 2016 Oil Palm and Palm Kernel Rubber Seeds Others Cocoa, Tea and Coconut
0 1000 2000 3000 4000 5000 FY 2006 FY 2007 FY 2008 FY 2009 FY 2011 FY 2012 FY 2013 FY 2014 FY 2015 Indonesia Rest of the World
Grafik XX : : CAPEX Breakdown
Source : Company and OSO Estimate
PT PP LONDON SUMATERA INDONESIA TBK
90% 99.9% 99.9% 65% 100% 100% 99.9% % 100% PT MULTI AGRO KENCANA PRIMA (Jakarta) Plantation Processing and Trading PT TANI ANDALAS SEJAHTERA (Jakarta) Plantation PT SUMATERA AGRI SEJAHTERA (Jakarta) Plantation PT MUSI PERSADA (Jakarta) Plantation PT WUSHAN HIJAU LESTARI (Jakarta) Plantation, Processing and Trading AGRI INVESTMENT Pta.Ltd (Singapore) Investment LONSUM SINGAPORE Pta.Ltd (Singapore) Trading and Marketing
SUMATERA BIOSCINECE Pta.Ltd (Singapore) Trading, Marketing, AND
rESEARCH
99.9%
PT PERUSAHAAN PERKEBUNAN, PERINDUSTRIAN , DAN PERDAGANGAN
UMUM PASIR LUHUR (Cianjur)
Trading Agricultural, Industrial and Agency
-1000,00 -800,00 -600,00 -400,00 -200,00 0,00 200,00 FY 2013 FY 2014 FY 2015 FY 2016 Seeds Unallocated Others Rubber Oil Palm and Palm Kernel
Financial Statement
Yr-end Dec (Rp bn) 14A 15A 16A 17E 18E 19E 20E
Revenue 4,727 4,190 3,848 4,079 4,960 5,505 5,977 COGS 3,191 3,074 2,737 2,901 3,133 3,384 3,689 Gross profit 1,536 1,116 1,111 1,177 1,827 2,121 2,288 Gross margin (%) 32.5 26.6 28.9 28.9 36.8 38.5 38.3 Operating profit 1,209 764 790 845 1,466 1,732 1,889 Operating margin (%) 25.6 18.2 20.5 20.7 29.6 31.5 31.6 EBITDA 1,504 1,106 1,217 1,272 1,933 2,243 2,448 EBITDA margin (%) 31.8 26.4 31.6 31.2 39.0 40.7 41.0 Other Income (Expenses) 13 54 (11) 103 138 166 195 Pre-tax profit 1,222 818 779 948 1,604 1,899 2,084 Income tax - net 293 205 186 227 384 455 499
Net profit 929 614 593 722 1,221 1,446 1,587
Net profit margin (%) 19.7 14.7 15.4 17.7 24.6 26.3 26.6
Profit and Loss
Yr-end Dec (Rp bn) 14A 15A 16A 17E 18E 19E 20E
Cash & ST Investment 1,357 737 1,141 1,187 1,931 2,520 3,190 Receivables 21 23 82 22 27 30 33 Inventories 380 398 569 350 378 408 445
Others 42 21 7 36 44 49 53
Total Current Assets 1,864 1,269 1,920 1,651 2,448 3,083 3,802 Net fixed assets 3,239 3,428 3,436 3,702 3,998 4,318 4,664 Other assets 3,553 4,152 4,103 4,154 4,288 4,388 4,481
Total Assets 8,655 8,849 9,459 9,507 10,734 11,789 12,948
Payables 283 171 120 254 275 297 323 Other current liabilities 304 262 539 262 319 354 384 Other long term liabilities 688 939 1,032 594 722 802 870
Total Liabilities 1,436 1,511 1,813 1,254 1,471 1,620 1,760
Equity 7,219 7,338 7,646 8,197 9,195 10,094 11,105
Balance Sheet
Cash Flow
Yr-end Dec (Rp bn) 14A 15A 16A 17E 18E 19E 20E
EBIT 1,209 764 790 845 1,466 1,732 1,889 Depreciation & Amortization 296 341 342 427 467 511 559 Others (24) (55) (22) (59) (72) (80) (87) Working Capital change 34 (201) (38) 156 36 24 22
Operating Cash Flow 1,515 849 1,072 1,369 1,897 2,187 2,383
Net - Capital Expenditure (1,013) (620) (413) (745) (807) (876) (950)
Investing Cash Flow (1,206) (1,110) (396) (1,072) (906) (986) (1,062)
Net - Borrowings 0 0 (0) 0 0 0 0 Others (348) (381) (264) (258) (304) (505) (597)
Financial Cash Flow (348) (381) (264) (258) (304) (505) (597)
Net - Cash Flow (39) (641) 412 39 687 696 725 Cash at beginning 1,401 1,357 737 737 771 1,453 2,142
Cash at ending 1,357 737 1,140 771 1,453 2,142 2,861
Yr-end Dec 14A 15A 16A 17E 18E 19E 20E
ROE (%) 12.9 8.4 7.8 8.8 13.3 14.3 14.3 ROA (%) 10.7 6.9 6.3 7.6 11.4 12.3 12.3 Revenue Growth (%) 22.5 -27.4 -0.5 6.0 55.2 16.1 7.9 EBITDA Growth (%) 33.9 -26.5 10.0 4.6 52.0 16.0 9.1 EPS Growth (%) 20.8 -34.0 -3.4 21.8 69.2 18.4 9.8 DER (X) 0.20 0.21 0.24 0.15 0.16 0.16 0.16 DAR (X) 0.17 0.17 0.19 0.13 0.14 0.14 0.14 Interest Coverage (x) 341.7 393.2 973.6 434.7 754.2 891.1 971.8 Key Ratios
FREE CASH FLOW TO FIRM
WACC 9.3%
terminal growth rate 2%
Periods 0 1 2 3 4
Years 2016 2017 2018 2019 2020
EBIT x (1 - tax) 634 1,100 1,299 1,417 1,614 Less: Capital Expenditure 745 807 876 950 1,030 Changes in Working Capital (156) (36) (24) (22) (20) Add: Depreciation & Amortization 427 467 511 559 611
FCFF 472 795 959 1,048 1,215 Discount Factor 1.00 1.09 1.19 1.31 1.43 PV of FCFF 472 728 802 803 851 Terminal Value 14,580 Sum of PV of FCFF 3,184 PV of Terminal Value 10,216 Cash (2017F) 1,187 14,587 Total Share (in Million) 6.82
Fair value / share 2,100 Potential Upside 48.9% Recommendation BUY
DISCLAIMER
This report has been prepared by PT OSO Securities on behalf of itself and its affiliated companies and is provided for information purposes only. Under no circumstance.is it to be used or considered as an offer to sell, or a solicitation of any offer to buy. This report has been produced independently and the forecasts, opinions and expectations contained herein are entirely those of PT. OSO Securities. We expressly disclaim any responsibility or liability (express or implied) of PT. OSO Securities, its affiliated companies and their respective employees and agents whatsoever and howsoever arising (including, without limitation for any claims, proceedings, action , suits, losses, expenses, damages or costs) which may be brought against or suffered by any person as a results of acting in reliance upon the whole or any part of the contents of this report and neither PT. OSO Securities, its affiliated companiesor their respective employees or agents accepts liability for any errors, omissions or mis-statements, negligent or otherwise, in the report and any liability in respect of the report or any inaccuracy therein or omission there from which might otherwise arise is hereby expresses disclaimed. The information contained in this report is not be taken as any recommendation made by PT. OSO Securities or any other person to enter into any agreement with regard to any investment mentioned in this document. This report is prepared for general circulation. It does not have regards tothe specific person who may receive this report. In considering any investments you should make your own independent assessment and seek your own professional financial and legal advice.
RESEARCH TEAM
Rifqiyati Research Analyst +62 21 2991 5300
RiskaAfriani Research Analyst +62 21 2991 5300
Ike Widiawati Research Analyst +62 21 2991 5300
Sukarno Alatas Research Analyst +62 21 2991 5300
CahyoHutomo Research Support& Admin +62 21 2991 5300
Cyber 2 Tower, 22nd Floor
Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 No. 13 JakartaSelatan 12950 Tel: +62-21-299-15-300 Fax : +62-21-290-21-497 BRANCHES Fatmawati
PusatNiagaDuta Mas FatmawatiBlok A1 No.20 Jl. Fatmawati No.39
JakartaSelatan
Tel: +62-21-726 9383(General) Fax: +62 21-728 00 367 Akastiebi
STIE Bisnis Indonesia
Kampus Kebayoran AKA Building Jl. Bangka Raya No.2 Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Tel: +62-21 717 945 52 (General) Fax: +62 –21 717 944 65 Bandung
Grand Royal Panghegar lnt 2,10-11 JL. Merdeka No 2
Bandung, Jawa Barat
Tel: +62-22 424 0269 (General) Fax +62-22 424 0279 Bali
Shopping Archade A-4 JL. PantaiKuta The Stones Hotel Bali, Indonesia
Tel: 0361-754020, 0361-757037 Fax : 0361–754779 Medan
Mandiri Building Fl. VII Jl. Imam Bonjol No. 16 D Medan, Sumatera Utara
Yogyakarta
PusatInformasi Pasar Modal (PIPM) Jl. P. Mangkubumi No. 111 Yogyakarta
Tel: +62-274 55 73 69 Fax: +62-274 55 73 69 Solo
Solo Centre Point
Jl. SlametRiyadi 373, Ruko A7B, Purwosari, Solo JawaTengah
Tel: +62-271 717 909 Fax: +62-271 710 689 Surabaya
Jl. Dr. Sutomo No. 97C Fl. 5th,Surabaya
JawaTimur
Tel: +62-31 563 0234 (Hunting) Fax: +62-31 5630 26 Jember
Jember Business Centre (JBC) Jl. Trunojoyo No. 26 Blok A-8, Jember JawaTimur
Tel: +62-331 421050 (Hunting) Fax: +62-331 420320 Makasar
Jl. Pengayoman no.118 (sampingcarefour) Makassar, Sulawesi Selatan
Tel: 0411 - 439 050 Fax. 0411 - 431 373
Tel: +62-614539955 Fax: +62-614529427 Malang
Ruko Borobudur Bisnis Center
Semarang Jl. Terusan Borobudur Kav. 5
Jl. Dr. CiptoNo. 96 C - D Malang, JawaTimur
Semarang, Jawa Tengah Tel: 0341 - 407771