BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN. pengaruh yakni daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang

32  Download (0)

Teks penuh

(1)

9 BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Definisi Pengaruh

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua (1997:747), kata pengaruh yakni “daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak kepercayaan dan perbuatan seseorang”.

Surakhmad (1982:7) menyatakan bahwa pengaruh adalah kekuatan yang muncul dari suatu benda atau orang dan juga gejala dalam yang dapat memberikan perubahan terhadap apa-apa yang ada di sekelilingnya.

Bila ditinjau dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh adalah sebagai suatu daya yang ada atau timbul dari suatu hal yang memiliki akibat atau hasil dan dampak yang ada.

2.2 Biaya

Untuk membantu manajemen dalam menetapkan target dan menaikkan profit, sangat penting untuk mengetahui pengertian serta penggolongan biaya. Informasi biaya juga dapat membantu dalam menganalisis biaya kualitas dalam mempengaruhi profitabilitas perusahaan.

2.2.1 Definisi Biaya

Kinney dan Raiborn (2011:25) mengatakan bahwa biaya mencerminkan ukuran moneter dari suatu sumber daya yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan seperti membuat produk atau menyediakan jasa.

(2)

Sedangkan menurut Hansen dan Mowen (2005:38) biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan membawa keuntungan masa ini dan masa datang untuk organisasi.

Menurut Carter dan Usry (2002:29), “Biaya didefinisikan sebagai nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh manfaat. Dalam akuntansi keuangan, pengeluaran atau pengorbanan pada saat akuisisi diwakili oleh penyusutan saat ini atau di masa yang akan datang dalam bentuk kas atau aktiva lain”.

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa biaya adalah pengorbanan ekonomis atau pengeluaran - pengeluaran dari sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang, untuk mencapai tujuan tertentu. 2.2.2 Klasifikasi Biaya

Menurut Mulyadi (2005:14), biaya dapat digolongkan menurut berikut : 1) Penggolongan Biaya Menurut Obyek Pengeluaran

Dalam cara ini, nama obyek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama obyek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut biaya bahan bakar.

2) Penggolonan Biaya Menurut Fungsi Pokok Dalam Perusahaan

Dalam perusahaan manufaktur ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

a) Biaya Produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untk dijual. Menurut obyek

(3)

pengeluarannya, biaya produksi dapat dibagi menjadi: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

b) Biaya Pemasaran merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.

c) Biaya Administrasi dan Umum merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk.

3) Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai.

Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan:

a) Biaya Langsung (direct cost), yaitu biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai.

b) Biaya Tidak Langsung (indirect cost), yaitu biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik.

4) Penggolongan Biaya Menurut Perilakunya Dalam Hubungannya dengan Perubahan Volume Kegiatan

Menurut cara penggolongan ini, biaya dapat digolongkan menjadi empat, diantaranya:

a) Biaya variabel, adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

(4)

b) Biaya semi variabel, adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Dalam biaya semi variabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel.

c) Biaya semifixed, adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

d) Biaya tetap, adalah biaya yang tetap jumlah totalnya dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contohnya: biaya gaji direktur produksi.

5) Penggolongan Biaya Menurut Jangka Waktu Manfaatnya

Menurut jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Pengeluaran modal (capital expenditure), adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Contohnya: pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap, untuk reparasi besar terhadap aktiva, biaya depresiasi, biaya amortisasi.

b) Pengeluaran pendapatan, adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Contohnya: biaya iklan, biaya tenaga kerja.

2.3 Kualitas

2.3.1 Definisi Kualitas

Menurut Kotler dan Keller (2009:143), kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.

(5)

Menurut Hansen dan Mowen (2005:5), kualitas adalah derajat atau tingkat kesempurnaan; dalam hal ini kualitas adalah ukuran relatif dari kebaikan (goodness). Dalam definisi operasional, produk atau jasa yang berkualitas adalah yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Dengan kata lain kualitas adalah kepuasan pelanggan.

Menurut Blocher, Chen, Cokins, dan Lin (2005:681), suatu produk atau jasa dapat dikatakan berkualitas jika sesuai dengan spesifikasinya dan sesuai dengan harapan pelanggan. Produk berkualitas harus dapat memenuhi atau melebihi harapan pelanggan dengan harga yang kompetitif.

2.3.2 Pengaruh Kualitas

Heizer dan Render (2012:301) mengatakan bahwa terdapat tiga pengaruh kualitas terhadap perusahaan yaitu:

a) Reputasi Perusahaan

Suatu organisasi menyadari reputasi akan mengikuti kualitas. Kualitas akan muncul sebagai persepsi tentang produk baru perusahaan, kebiasaan pekerjanya, dan hubungan pemasoknya. Promosi diri tidak akan dapat menggantikan produk berkualitas.

b) Kehandalan Produk

Peraturan seperti Customer Product Safety Act membuat standar produk dan melarang produk yang tidak dapat memenuhi standar tersebut. Contohnya makanan tidak bersih yang menyebabkan penyakit, ban yang mudah pecah, atau tangki bahan bakar mobil yang dapat meledak pada tekanan tertentu

(6)

bisa menyebabkan pengeluaran dari sisi hukum, penyelesaian kasus atau kerugian yang memakan biaya besar, dan publisitas yang buruk.

c) Keterlibatan Global

Kualitas saat ini menjadi perhatian internasional. Bagi perusahaan dan negara yang ingin bersaing secara efektif pada ekonomi global, produk mereka harus memenuhi ekspektasi akan kualitas, desain, dan harganya secara global. Produk yang berkualitas rendah akan mengurangi keuntungan perusahaan dan neraca pembayaran negara.

2.3.3 Sumber Kualitas

Menurut Tjiptono dan Diana (2003:34), terdapat lima sumber kualitas yang dapat dijumpai yaitu:

a. Program, kebijakan, dan sikap yang melibatkan komitmen dari manajemen puncak.

b. Sistem informasi yang menekankan ketepatan, baik pada waktu maupun detail.

c. Desain produk yang menekankan keandalan sebelum dilepas ke pasar. d. Kebijakan produksi dan tenaga kerja yang menekankan peralatan yang

terpelihara dengan baik, pekerja yang terlatih dengan baik, dan penemuan penyimpangan secara tepat.

e. Manajemen vendor yang menekankan kualitas sebagai sasaran utama. 2.3.4 Dimensi Kualitas

Hansen dan Mowen (2005:6) mengungkapkan delapan dimensi kualitas yaitu sebagai berikut:

(7)

a. Kinerja (Performance)

Kinerja mengacu pada konsistensi dan seberapa baik fungsi – fungsi sebuah produk. Berkaitan dengan aspek fungsional dari suatu produk dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika membeli suatu produk.

b. Estetika (Aesthetics)

Estetika berhubungan dengan penampilan wujud produk serta penampilan fasilitas, peralatan, dan pegawai.

c. Kemudahan Perawatan dan Perbaikan (Serviceability)

Kemudahan perawatan dan perbaikan merupakan karakteristik yang berkaitan dengan tingkat kemudahan merawat dan memperbaiki produk. d. Fitur (Features)

Fitur atau kualitas desain adalah karakteristik produk yang berbeda dari produk – produk sejenis yang fungsinya sama. Fitur–fitur ini akan menambah fungsi dasar suatu produk. Kualitas desain yang lebih baik biasanya tercermin pada biaya produksi yang lebih tinggi dan harga jual yang juga lebih tinggi. Kualitas desain membantu perusahaan menetukan pasarnya. Misalnya dalam industri penerbangan kelas yang lebih tinggi akan mendapat pelayanan yang lebih baik, makanan atau minuman yang lebih beragam, tempat duduk yang lebih nyaman, dan kapasitas bagasi yang lebih besar.

(8)

e. Keandalan (Reliability)

Keandalan adalah probabilitas atau kemungkinan suatu produk atau jasa menjalankan fungsi seperti yang dimaksudkan dalam jangka waktu tertentu. f. Daya Tahan (Durability)

Daya tahan didefinisikan sebagai jangka waktu atau masa pakai suatu produk.

g. Kualitas Kesesuaian (Quality of Conformance)

Kualitas kesesuaian adalah ukuran mengenai apakah sebuah produk telah memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya atau tidak.

h. Kecocokan Penggunaan (Fitness for Use)

Kecocokan penggunaan adalah kecocokan dari sebuah produk menjalankan fungsi-fungsi sebagaimana yang diiklankan. Jika sebuah produk mengandung cacat desain yang parah maka produk tersebut dianggap gagal meskipun tingkat kesesuaiannya sesuai dengan spesifikasinya. Produk yang ditarik kembali sering kali disebabkan oleh adanya masalah dalam dimensi kecocokan penggunaan.

2.3.5 Pengendalian Kualitas

Pengendalian kualitas adalah proses atau aktivitas yang dilakukan guna mengkoordinasikan aktivitas–aktivitas pencapaian, pemeliharaan, dan perbaikan kualitas (Hansen dan Mowen, 2007:20). Pengendalian kualitas mutlak dilakukan untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan agar sesuai dengan spesifikasi atau standar yang telah ditetapkan. Pengendalian kualitas ini dilaksanakan baik

(9)

sebelum produksi dimulai, pada saat proses produksi berjalan, dan setelah proses produksi selesai dilakukan.

2.3.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas

Menurut Sofyan Assouri (1998:206), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi tingkat mutu suatu barang, yaitu :

1. Fungsi suatu barang

Suatu barang dihasilkan hendaknya memperhatikan fungsi untuk apa barang tersebut digunakan atau dimaksudkan, sehingga barang-barang yang dihasilkan harus dapat benar-benar memenuhi fungsi tersebut. Mutu yang hendak dicapai sesuai dengan fungsi untuk apa barang tersebut digunakan atau dibutuhkan, tercermin pada spesifikasi dari barang tersebut seperti kecepatan, tahan lamanya, kegunaan, berat, bunyi, mudah tidaknya kepercayaan.

2. Wujud luar

Salah satu faktor yang penting dan sering dipergunakan oleh konsumen dalam melihat suatu barang pertama kalinya, untuk menentukan mutu barang tersebut, adalah wujud luar barang tersebut. Faktor wujud luar yang terdapat pada suatu barang tidak hanya terlihat dari bentuk tetapi juga dari warna, susunan (seperti pembungkusan) dan lain-lain.

3. Biaya barang tersebut

Umumnya, biaya dan harga suatu barang menentukan barang tersebut. Hal ini terlihat dari barang-barang yang mempunyai biaya atau harga yang mahal, dapat menunjukkan bahwa mutu barang tersebut relatif rendah. Ini terjadi karena biasanya untuk mendapatkan mutu yang baik dibutuhkan biaya lebih mahal.

(10)

2.3.7 Standar Kualitas

Menurut Hansen dan Mowen (1997: 983), standar kualitas perusahaan dapat diukur berdasarkan dua ukuran :

1. Standar fisik

Untuk lini manajer dan personel operasi, pengukuran fisik terhadap kualitas seperti jumlah unit cacat, persentase kegagalan eksternal, kesalahan penagihan, kesalahan control dan ukuran-ukuran fisik lainnya mungkin dapat lebih berarti untuk pengukuran fisik, standar kualitasnya adalah cacat nihil atau kesalahan. Tujuannya agar setiap orang melakukan pekerjaanya dengan benar sejak pertama.

2. Standar interim

Bagi sebagian perusahaan, standar cacat-nihil (zero defect) merupakan tujuan jangka panjang, karena memperbaiki kualitas sampai tingkat cacat-nihil dapat memakan waktu, maka standar perbaikan tahunan harus dikembangkan. Standar kualitas interim ini mengekspresikan tujuan-tujuan kualitas untuk tahun tersebut.

Menurut Hansen dan Mowen (1997 : 981), dalam pendekatan tradisional, standar kualitas yang tepat adalah tingkat kualitas yang dapat diterima (acceptable quality level – AQL). Suatu AQL merupakan pengakuan bahwa sejumlah tertentu produk cacat akan diproduksi dan dijual. AQL memiliki kelemahan yaitu dapat meneruskan kesalahan-kesalahan operasi sebelumnya, dan memiliki komitmen untuk mengirimkan produk yang cacat kepada pelanggan.

(11)

Sedangkan menurut pendekatan kualitas total, standar yang lebih masuk akal adalah standar cacat-nihil (zero defect). Standar ini mensyaratkan bahwa produk dan jasa yang diproduksi dan dikirim kepada pelanggan adalah yang sesuai dengan nilai sasaran.

2.3.8 Total Quality Management (TQM)

Dalam era global, persaingan menjadi semakin tajam. Perusahaan pada masa lalu hanya bersaing pada tingkat regional dan nasional, sedangkan pada masa sekarang harus menghadapi persaingan global. Hanya perusahaan yang dapat menghasilkan kualitas barang dan jasa yang sesuai dengan tuntutan pelanggan dapat memenangkan persaingan.

Menurut Gaspersz (2002:5), Manajemen Kualitas Terpadu (Total Quality Management) didefinisikan sebagai suatu cara meningkatkan performasi secara terus-menerus (continous performance improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia.

Menurut Shani dan Krishnan dalam Fandy Tjiptono dan Anastasia (2003:70), pelaksanaan TQM pada suatu organisasi bertujuan untuk:

1. Meningkatkan mutu sumber daya manusia sehingga mampu dan terampil dalam melaksanakan tugasnya dengan baik.

2. Meningkatkan mutu produk dan pelayanan agar tercapai kepuasan pelanggan.

3. Meningkatkan kerjasama atau hubungan antara manusia dan semangat kerja dengan karyawan.

(12)

4. Meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya. 5. Terlaksananya kebijakan dan sasaran perusahaan.

Tujuan TQM yang lebih luas adalah untuk menjamin kepemimpinan dengan menetapkan proses dan sistem yang meningkatkan keberhasilan perusahaan, mencegah kesalahan dan pemborosan usaha serta meyakinkan hubungan dengan konsumen.

Dari penjelasan mengenai tujuan dari TQM, penulis dapat menyimpulkan bahwa pada akhirnya penerapan TQM diharapkan dapat menghasilkan kemampuan perusahaan untuk menyelenggarakan produksi secara kompetitif, tepat waktu, efektif dan efisien yang menjadi tujuan perusahaan.

Di dalam ruang lingkup TQM mengandung beberapa prinsip umum yang dapat dijabarkan, dan menurut Irving J. De Toro dalam buku “Total Quality Management” (1992:32-33) diuraikan sebagai berikut:

1. Customer Focus (Fokus pada Pelanggan)

Dalam TQM, konsep mengenai kualitas dan pelanggan diperluas. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut ditentukan oleh pelanggan. Kebutuhan pelanggan diusahakan untuk dipuaskan dalam segala aspek, termasuk di dalamnya harga, keamanan, dan ketepatan waktu. Dimensi umum dari kualitas menurut Tjiptono (2003:27) meliputi:

a) Kinerja (Performance), karakteristik operasi pokok dari produk inti. b) Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (Features), karakteristik sekunder

(13)

c) Kehandalan (Reliability), kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai.

d) Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Spesificationi), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

e) Daya tahan (Durability), berkaitan dengan berapa lama produk dapat terus digunakan.

f) Service Ability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi, penanganan keluhan yang memuaskan.

g) Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indra.

h) Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality), yaitu, citra dan reputasi produk serta tanggungjawab perusahaan terhadapnya.

2. Process Improvement (Proses Perbaikan)

Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses secara sistematis dalam melaksanakan perbaikan berkesinambungan. Perhatian yang terus menerus kepada setiap orang mengenai urutan dalam pekerjaan tentunya mengurangi kegagalan output dan akan meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Jika kegagalan output berkurang tetapi hasil yang dihasilkan tidak memuaskan, tujuan yang selanjutnya dilakukan adalah proses perbaikan, yaitu mendesain ulang proses untuk menghasilkan output yang lebih baik dan sesuai dengan harapan pelanggan.

(14)

3. Total Involvement (Total Keterlibatan)

Dalam rangka perbaikan proses yang terus-menerus sebenarnya tidak hanya satu pihak saja yang terlibat tetapi banyak pihak antara lain konsumen, pemasok, pimpinan perusahaan, serta karyawan perusahaan itu sendiri. Total Involvement berawal dari kepemimpinan yang aktif dari manajemen senior dan perusahaan untuk memanfaatkan talenta dari semua karyawan dalam perusahaan untuk mencapai keuntungan kompetitif dalam market share.

Setiap keputusan mengenai kualitas berhadapan dengan suatu aspek identifikasi dan pemenuhan ekspektasi pelanggan. Heizer dan Render (2012:308) memaparkan empat belas poin yang dikemukakan oleh Deming untuk meningkatkan kualitas. Empat belas poin Deming tersebut adalah sebagai berikut: a) Menetapkan tujuan yang konsisten menuju perbaikan produk. Hal ini

dimaksudkan untuk menjadikan perusahaan lebih dapat bersaing, tetap berada dalam bisnis, dan untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

b) Memimpin untuk mengadakan perubahan dan siap menghadapi tantangan. c) Membangun kulitas pada produk; menghentikan ketergantungan pada

pemeriksaan (inspeksi) untuk menangkap permasalahan. Bentuklah mutu sejak awal.

d) Membangun hubungan jangka panjang berdasarkan kinerja, bukan menghargai bisnis berdasarkan harga.

e) Melakukan perbaikan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas yang pada gilirannya secara konstan menurunkan biaya.

(15)

f) Melaksanakan on the job training. g) Menekankan kepemimpinan.

h) Membuang rasa takut sehingga semua orang dapat bekerja secara efektif. i) Mendobrak batasan – batasan antardepartemen sehingga orang dapat

bekerja sebagai satu tim.

j) Hilangkan slogan, desakan, dan target bagi tenaga kerja. Hal – hal tersebut dapat menciptakan permusuhan.

k) Mendukung, membantu, dan memperbaiki.

l) Mendobrak penghalang untuk merasa bangga atas pekerjaan masing – masing.

m) Mengadakan program pendidikan dan self-improvement.

n) Buatlah transformasi pekerjaan setiap orang dan siapkan setiap orang untuk mengerjakannya.

2.4 Biaya Kualitas

2.4.1 Definisi Biaya Kualitas

Hansen dan Mowen (2005:7) mengungkapkan bahwa biaya kualitas atau Cost of Quality adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau telah terdapat produk yang buruk kualitasnya.

Sedangkan menurut Blocher, Chen, Cokins, dan Lin (2005:691), biaya kualitas merupakan biaya-biaya yang berkaitan dengan pencegahan, pengidentifikasian, perbaikan, serta pembetulan produk yang berkualitas rendah dan opportunity cost yang terjadi akibat dari hilangnya waktu produksi dan penjualan sebagai akibat dari rendahnya kualitas.

(16)

Selain itu, terdapat beberapa definisi dari biaya kualitas:

1. Horngren, Foster dan Datar (2003:677): "The cost of quality (COQ) refers to cost incurred to prevent, or cost arising as a result of the production of a law quality product".

2. Menurut Anonymous yang dikutip oleh Bambang Hariadi dalam buku Akuntansi Manajemen (2002:387): "The cost of quality refer to resources spent to assure consistent customer satisfaction".

2.4.2 Konsep Biaya Kualitas

Horngren (2012:694) mengatakan bahwa terdapat dua aspek dasar kualitas yaitu design quality dan conformance quality. Design quality mengacu pada seberapa dekat karakteristik dari suatu barang atau jasa yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Conformance quality adalah kinerja aktual dari produk atau jasa terhadap desain atau spesifikasi produk yang telah ditetapkan. Berikut adalah unsur-unsur biaya kualitas.

2.4.3 Unsur – Unsur Biaya Kualitas

Menurut Blocher, Chen, Cokins, dan Lin (2005:692), biaya kualitas dibagi menjadi empat unsur sebagai berikut:

1. Biaya Pencegahan (Prevention Cost)

Biaya Pencegahan adalah biaya yang dikeluarkan untuk mencegah terjadinya cacat kualitas. Biaya pencegahan meliputi :

a) Quality Training Costs

Quality training costs meliputi biaya yang dikeluarkan untuk program-program pelatihan internal dan berpartisipasi dalam pelatihan eksternal

(17)

untuk memastikan dan meningkatkan kualitas proses manufaktur, pengiriman, dan penyediaan produk atau jasa. Biaya tersebut meliputi upah dan gaji yang dibayarkan dalam pelatihan, biaya staf klerikal dan macam-macam biaya dan bahan habis pakai untuk menyiapkan buku pegangan dan manual instruksi.

b) Quality Planning Costs

Quality planning costs meliputi upah dan overhead untuk perencanaan kualitas dan siklus kualitas (quality circle), desain prosedur baru, dan desain peralatan baru untuk meningkatkan kualitas dan kehandalan.

c) Equipment Maintenance Costs

Equipment maintenance costs merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memasang, menyesuaikan, memelihara, memperbaiki, dan menginspeksi peralatan, proses, dan sistem produksi.

d) Supplier Assurance Costs

Supplier assurance costs merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memastikan bahwa material, komponen, dan layanan yang diterima memenuhi standar kualitas yang ditetapkan perusahaan.

Biaya ini termasuk biaya seleksi, evaluasi, dan training suplier agar memenuhi persyaratan kualitas.

e) Product Redesign and Process Improvement

Biaya yang meliputi evaluasi dan peningkatan desain produk serta proses operasi untuk mengurangi atau mengeliminasi masalah kualitas yang timbul. 2. Biaya Penilaian (Appraisal Cost)

(18)

Biaya penilaian dikeluarkan dalam rangka pengukuran dan analisis data untuk menentukan apakah produk atau jasa yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasinya. Perusahaan mengeluarkan biaya penilaian untuk mengidentifikasi hal-hal yang cacat dan memastikan bahwa semua unit yang dihasilkan sesuai atau melebihi persyaratan yang diminta pelanggan. Aktivitas yang mengeluarkan biaya ini tidak memperbaiki kekurangan dalam sistem atau cacat pada produk. Aktivitas ini juga tidak mengubah suatu produk atau meningkatkan nilainya tetapi hanya berfungsi untuk menemukan kekurangan serta produk cacat. Aktivitas ini hanya mendeteksi unit sebelum produk tersebut dikirim ke pelanggan. Biaya penilaian meliputi :

a) Test and Inspection Cost

Biaya ini meliputi biaya untuk menguji dan menginspeksi material yang masuk, barang dalam proses, dan juga barang jadi yang siap untuk dijual. b) Acquisition Cost of Test Equipment and Instrument

Biaya ini meliputi pengeluaran untuk mendapatkan, mengoperasikan, atau memelihara fasilitas, software, mesin, dan instrument untuk menguji atau menilai kualitas dari produk, service, dan proses.

c) Quality Audits

Biaya ini meliputi gaji dan upah dari seluruh karyawan yang terlibat dalam penilaian seluruh kualitas produk dan service juga pengeluaran lainnya yang terjadi selama proses penilaian kualitas.

(19)

Biaya ini adalah biaya yang dikeluarkan karena rendahnya kualitas yang ditemukan pada saat penilaian awal atau inspeksi tetapi sebelum barang tersebut sampai ke konsumen. Biaya ini meliputi :

a) Rework and Scrap Costs

Biaya ini meliputi bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik untuk rework, scrap, dan inspeksi ulang.

b) Process Costs

Biaya ini meliputi biaya yang dikeluarkan untuk mendesain ulang produk atau proses dan kehilangan produksi akibat dari proses produksi yang terganggu karena terjadinya repair atau rework.

c) Reinspect and Retest Cost

Biaya ini meliputi pengeluaran untuk gaji dan upah juga beban yang terjadi selama proses inspeksi dan pengujian ulang dari barang yang diperbaiki. 4. Biaya Kegagalan Eksternal (External Failure Costs)

Biaya ini merupakan biaya yang terjadi akibat menarik kembali atau memperbaiki produk cacat kualitas setelah produk tersebut sampai ke konsumen. Biaya ini juga meliputi laba yang gagal diperoleh karena hilangnya peluang yang disebabkan oleh produk yang tidak dapat diterima oleh konsumen. Biaya yang tergolong dalam kategori ini meliputi :

a) Repair or Replacement Costs

Biaya ini meliputi perbaikan atau penggantian produk gagal yang dikembalikan konsumen.

(20)

Biaya ini meliputi gaji dan biaya administrasi dari departemen customer service. Biaya tersebut dapat berupa biaya pencadangan garansi atau diskon yang diberikan kepada konsumen atas produk dengan kualitas buruk. Selain itu biaya pengiriman ulang kepada konsumen juga termasuk kedalam kategori biaya customer service.

c) Product Recall and Product Liability Costs

Biaya ini meliputi biaya administrasi untuk mengurus product recall, perbaikan, dan juga legal cost.

d) Lost Sale Due to Unsatisfactory Products and Customer Ill Will

Biaya ini meliputi kerugian contribution margin atas pembatalan order, kerugian penjualan, dan penurunan market shares.

e) Cost to Restore Reputation

Biaya ini meliputi biaya aktivitas pemasaran untuk meminimalkan rusaknya reputasi perusahaan dan juga untuk memperbaiki image serta reputasi perusahaan.

2.4.4 Pelaporan Biaya Kualitas

Blocher, Chen, Cokins, dan Lin (2005:695) mengatakan bahwa melaporkan biaya kualitas meliputi mendefinisikan data, mengidentifikasi sumber data, mengumpulkan data, dan menyiapkan serta mendistribusikan laporan biaya kualitas.

Tahap pertama dalam membuat laporan biaya kualitas adalah mendefinisikan setiap kategori biaya kualitas dan mengidentifikasi biaya kualitas

(21)

yang ada dalam setiap kategori. Idealnya setiap biaya kualitas harus mempunyai rekening tersendiri sehingga informasi biaya kualitas selalu siap diobservasi dan tidak tersamar dalam beberapa rekening. Rekening–rekening biaya kualitas kemudian menjadi sumber informasi biaya kualitas.

Laporan biaya kualitas akan bermanfaat hanya jika penerima dapat memahami, menerima, dan dapat menggunakan isi dari laporan tersebut. Setiap perusahaan dapat memilih dan merancang sistem pelaporan yang dapat diintegrasikan ke dalam sistem informasi perusahaan tersebut.

Hansen dan Mowen (2005:20) mengungkapkan bahwa tujuan utama dari pelaporan biaya kualitas adalah untuk memperbaiki dan mempermudah perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan manajerial.

2.4.5 Manfaat Pelaporan Biaya Kualitas

Horngren mengungkapkan bahwa keuntungan dari pengukuran biaya kualitas adalah sebagai berikut :

1 Membantu manajer untuk fokus terhadap biaya dari barang berkualitas rendah.

2 Total biaya kualitas menyediakan pengukuran kinerja kualitas untuk mengevaluasi trade-offs diantara prevention costs, appraisal costs, internal failure costs, dan external failure costs.

3 Pengukuran biaya kualitas membantu dalam pemecahan masalah dengan membandingkan biaya dan keuntungan yang diperoleh dari program peningkatan kualitas yang berbeda- beda dan juga menetapkan prioritas dalam cost reduction.

(22)

2.4.6 Hubungan Antara Jenis Biaya Kualitas

Secara garis besar, biaya pencegahan dan penilaian bersifat “sukarela” sementara biaya kegagalan internal dan eksternal bersifat “tidak sukarela” karena perusahaan bisa dipaksa untuk membayar biaya ini. Biaya pencegahan dan penilaian disebut biaya kesesuaian (cost of conformance), yaitu semua biaya yang dikeluarkan untuk memastikan produk atau jasa memenuhi kebutuhan konsumen. Sementara itu, biaya kegagalan internal dan eksternal disebut biaya ketidaksesuaian (cost of nonconformance).

Biaya kualitas sama dengan jumlah cost of conformance dan cost of nonconformance. Untuk menurunkan biaya kegagalan internal dan eksternal yang merupakan cost of nonconformance adalah dengan cara meningkatkan cost of conformance. Pada akhirnya total biaya kualitas akan lebih rendah (Bambang Hariadi, Akuntansi Manajemen, 2002:390-391).

2.5 Profitabilitas

2.5.1 Pengertian Profitabilitas

Siswanto Sutojo dalam bukunya Mengenali Arti dan Penggunaan Neraca Perusahaan (2000 : 56) secara tersirat mengungkapkan pengertian dan pentingnya profitabilitas bagi perusahaan dengan menyebutkan bahwa operasi bisnis perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila dari masa ke masa dapat mengumpulkan keuntungan secara memadai. Dengan jumlah dan tingkat keuntungan yang memadai manajemen perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan para pemilik serta para investor yang berminat membeli saham baru.

(23)

Disamping itu perusahaan juga dapat membina kepercayaan para kreditur untuk menyediakan fasilitas pinjaman yang dibutuhkan.

Sementara itu Gitman (1992 : 207) mendefinisikan profitabilitas sebagai berikut :

“Profitability is the relationship betwen revenue and cost generated by using the firm’s asset-both current and fixed-in productive activities”

Definisi profitabilitas diatas mengandung perngertian sebagai berikut : 1. Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktivanya untuk melaksanakan aktivitas yang produktif.

2. Dalam pengertian profitabilitas diatas terkandung juga pengertian semakin tinggi tingkat efisiensi dari suatu perusahaan dalam mengelola aktivanya, maka akan semakin tinggi profitabilitasnya.

3. Profitabilitas ditentukan oleh hubungan antara pendapatan dan biaya. Untuk mengatahui profitabilitas perusahaan, maka perlu dilakukan penilaian atas kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan. Untuk melakukan penilaian tersebut diperlukan adanya ukuran yang dapat memberikan indikasi mengenai profitabilitas perusahaan. Dengan kata lain, untuk menilai profitabilitas perusahaan diperlukan adanya ukuran profitabilitas.

2.5.2 Ukuran Profitabilitas

Menurut Siswanto Sutojo (2000:56), ada beberapa rasio keuangan utama yang dipergunakan sebagai tolok ukur untuk menilai kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan adalah:

(24)

1. Margin laba kotor (Gross profit margin)

Merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan penjualan yang dicapai. Gross profit margin (GPM) dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 =Penjualan Bersih − Harga Pokok Penjualan

Penjualan Bersih 𝑥 100%

2. Laba atas penjualan (Profit on sales)

Merupakan perbandingan jumlah hasil penjualan hasil penjualan yang diperoleh selama masa tertentu dengan laba sesudah pajak. Rasio profit on sales dipergunakan untuk menilai profitabilitas, sekaligus kemampuan mamajemen perusahaan menekan biaya operasional. Profit on Sales dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

Profit on Sales =𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘

Penjualan Bersih 𝑥 100%

3. Laba atas investasi dana (Return on investment)

Merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutupi investasi yang dikeluarkan. Return On Investment dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

Return on Investment =𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘

Total Aktiva 𝑥 100%

4. Laba atas modal sendiri (Return on equity)

atau sering disebut Rentabilitas Modal Sendiri dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal tertentu.

(25)

Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Return on Equity dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:

Return on Equity =𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘

Total Modal Sendiri 𝑥 100%

5. Laba bersih per saham (Earning per share)

Merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik. Laba bersih per saham atau earning per share dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:

Earning per Share = Laba Sesudah Pajak

Jumlah lembar saham 2.6 Pengaruh Biaya Kualitas terhadap Profitabilitas

Penggolongan biaya kualitas ke dalam empat kategori yaitu biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal adalah sebagai perangkat bagi manajemen atau pihak lain untuk mempermudah melakukan analisis terhadap elemen-elemen biaya kualitas baik itu dari segi perilakunya maupun hubungan antar masing-masing elemen dari biaya tersebut serta pengaruhnya terhadap variabel lain di luar biaya kualitas, misalnya dengan tingkat produktivitas dan profitabilitas perusahaan.

Empat golongan biaya kualitas tersebut dapat dikelompokan lagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu biaya pengendalian / cost of control (pencegahan & penilaian) dan biaya kegagalan / failure cost (internal & eksternal). Semakin besar perusahaan menginvestasikan modalnya pada aktivitas pengendalian, maka semakin kecil biaya kegagalan yang terjadi.

(26)

Meningkatnya biaya pencegahan yang dilakukan oleh perusahaan akan menyebabkan biaya penilaian yang dikeluarkan juga akan meningkat. Hal itu terjadi karena kedua biaya tersebut merupakan suatu kesatuan usaha pengendalian yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas. Usaha pengendalian kualitas yang dilakukan dengan mengeluarkan biaya pencegahan dan penilaian akan menyebabkan berkurangnya kualitas produk cacat yang dihasilkan sebelum produk tersebut dikirim ke konsumen.

Jadi, apabila biaya pencegahan dan penilaian meningkat, maka biaya kegagalan internal dan eksternal akan menurun. Hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan meningkat, karena produk akan sesuai dengan spesifikasi desain awal tanpa memilki suatu kecacatan baik sebelum maupun setelah produk tersebut dikirim ke konsumen.

Sementara Blocher, Chen dan Lin (2002:200), mengungkapkan lebih lanjut bahwa dengan meningkatnya kualitas pada suatu produk yang dihasilkan maka perusahaan akan memiliki keunggulan kompetitif dan menikmati tingkat profitabilitas yang tinggi. Meningkatnya kualitas produk tentu dapat menurunkan tingkat pengembalian produk (retur ) dari pelanggan, sehingga dengan itu akan berdampak pada menurunnya biaya garansi dan perbaikan.

Meningkatnya kualitas produk juga dapat menurunkan biaya produksi melalui reduksi atau eliminasi dari biaya kegagalan internal yang memiliki porsi yang paling besar jika dibandingkan dengan biaya penilaian maupun pencegahan dalam biaya produksi. Produk yang berkualitas akan menyebabkan rendahnya persediaan di gudang, baik itu persediaan bahan baku, suku cadang, dan produk

(27)

jadi. Sebab perusahaan dapat mengerjakan proses produksi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya sehingga perputaran persediaan menjadi lebih lancar dan tentunya pendapatan laba akan dapat terealisir dengan lebih cepat. 2.7 Penelitian Sebelumnya

Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengambil rujukan dari penelitian sebelumnya yaitu,

1. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Kuriawan pada tahun 2014. Penelitian ini berjudul Pengaruh Biaya Kualitas Terhadap Profitabilitas Perusahaan (Studi Kasus Dealer Aceh Motor Boyolali). Variabel penelitian adalah biaya kualitas dan tingkat profitabilitas dan hasil penelitian ini adalah biaya kualitas berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas perusahaan.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Rimadhani Martika Sari pada tahun 2013. Penelitian ini berjudul Pengaruh Biaya Kualitas Terhadap Tingkat Profitabilitas Perusahaan (Studi Kasus Hotel Group Dedy Jaya Kabupaten Brebes Jawa Tengah). Variabel penelitian adalah biaya kualitas dan tingkat profitabilitas dan hasil penelitian adalah biaya kualitas memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Budi Susanto pada tahun 2004. Penelitian ini berjudul Pengaruh Biaya Kualitas Terhadap Tingkat Profitabilitas Perusahaan (Studi Kasus Pada Divisi Tempa dan Cor PT. Pindad Bandung). Variabel penelitian adalah biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal. Hasil penelitian adalah

(28)

biaya pencegahan, biaya penilaian dan biaya kegagalan eksternal tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap EBIT, tetapi biaya kegagalan eksternal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap EBIT.

2.8 Kerangka Pemikiran

Dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan pasti memiliki tujuan agar usahanya mampu untuk bersaing dan bertahan dalam pasar. Perusahaan harus menerapkan strategi-strategi bisnis yang tepat untuk dapat bertahan dalam pasar ditengah kondisi yang sangat kompetitif. Salah satu strategi bisnis yang dapat dilakukan perusahaan adalah meningkatkan kualitas barang yang dihasilkan (Wizar:2014).

Untuk mengatasi masalah tersebut harus diketahui terlebih dahulu seberapa besar biaya kualitas yang telah dikeluarkan perusahaan untuk mencapai kualitas produk yang telah ditentukan sehingga dapat memenuhi keinginan konsumen. Jika laporan atas kualitas produk telah tersedia atau mudah untuk didapatkan maka hal tersebut akan memberikan kemudahan bagi manajemen (Wizar:2014).

Dengan tersedianya laporan biaya kualitas maka manajemen dapat menentukan area mana yang memiliki hubungan cost-benefit yang paling kuat. Informasi biaya kualitas akan memberikan gambaran bagaimana perubahan dari satu area biaya mempengaruhi area biaya yang lainnya (Kinney and Raiborn, 2011:755).

Seperti diungkapkan Kotler (2007:57) bahwa salah satu petunjuk dalam melakukan pengendalian kualitas adalah dengan melakukan pengendalian terhadap biaya. Walaupun kualitas barang yang dihasilkan sangat baik tetapi

(29)

harga yang dibebankan pada barang tersebut terlalu mahal maka tetap tidak akan mencapai kepuasan konsumen. Oleh karena itu, perlu dibuat laporan biaya kualitas sebagai alat bantu bagi manajemen untuk mengetahui sejauh mana pengendalian telah dilakukan.

Menurut Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi No.2 Tahun ke-1 Mei-Agustus 2010, penggolongan biaya kualitas ke dalam empat kategori yaitu prevention cost, appraisal cost, internal failure cost, dan external failure cost adalah sebagai perangkat bagi manajemen atau pihak lain untuk mempermudah melakukan analisis terhadap elemen-elemen biaya kualitas baik itu dari segi sifat maupun hubungan antar masing-masing elemen dalam biaya tersebut. Empat golongan biaya kualitas dapat dikelompokkan lagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu biaya pengendalian/cost of control (pencegahan & penilaian) dan biaya kegagalan/failure cost (internal & eksternal). Semakin besar perusahaan menginvestasikan modalnya pada aktivitas pengendalian, maka semakin kecil biaya kegagalan yang akan terjadi.

Dengan berkurangnya biaya kegagalan (internal & eksternal), ini merupakan suatu indikasi bahwa produk yang dihasilkan berkualitas telah mengalami peningkatan. Produk yang berkualitas tentu merupakan produk yang memiliki nilai (value) yang lebih tinggi dan efisiensi biaya yang dikeluarkan lebih rendah, sehingga dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Menurut Rimadhani Martika Sari (2013), secara simultan variabel Biaya Pencegahan, Biaya Penilaian, Biaya Kegagalan Internal dan Biaya Kegagalan Eksternal berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat profitabilitas.

(30)

Menurut Wahyu Kurniawan (2014), menyatakan bahwa biaya kualitas berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Selain itu, menurut Fentri Sitanggang dan Verani Carolina (2010) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara biaya kualitas terhadap tingkat profitabilitas perusahaan.

Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran ini disajikan pada bagan berikut:

Sumber : Budi Susanto (2005: 7) 2.9 Pengembangan Hipotesis

Berdasarkan penjelasan diatas, biaya kualitas sangat erat kaitannya dalam usaha perusahaan mendapatkan profit. Dari penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Kuriawan pada tahun 2014 yang berjudul Pengaruh Biaya Kualitas Terhadap Profitabilitas Perusahaan (Studi Kasus Dealer Aceh Motor Boyolali) menyatakan

(31)

bahwa biaya kualitas berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Budi Susanto pada tahun 2004 yang berjudul berjudul Pengaruh Biaya Kualitas Terhadap Tingkat Profitabilitas Perusahaan (Studi Kasus Pada Divisi Tempa dan Cor PT. Pindad Bandung) menyimpulkan hal yang sama bahwa biaya pencegahan, biaya penilaian dan biaya kegagalan eksternal tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap EBIT, tetapi biaya kegagalan eksternal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap EBIT. Selain itu juga, penelitian yang dilakukan oleh Rimadhani Martika Sari pada tahun 2013 yang berjudul Pengaruh Biaya Kualitas Terhadap Tingkat Profitabilitas Perusahaan menyatakan bahwa biaya kualitas memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap tingkat profitabilitas. Dari beberapa penelitian diatas, terdapat perbedaan hasil yang diperoleh atas penelitian pengaruh biaya kualitas terhadap profitabilitas. Sehingga peneliti akan menguji kembali untuk mendukung penelitian sebelumnya, apakah terjadi perbedaan hasil penelitian atau tidak dikarenakan perbedaan divisi perusahaan dan perbedaan tahun pengambilan data penelitian.

Sedangkan obyek dalam penelitian ini adalah PT. TBI bergerak dalam bidang Industri, Perbengkelan, Pembangunan, Perdagangan, Pertambangan, transportasi dan Jasa. PT. TBI telah melakukan upaya peningkatan kualitas produk. Salah satunya kebijakannya mengintensifkan kegiatan pengendalian atas kualitas produk yang memiliki tingkat perhatian yang besar dari manajemen. Kualitas produk dapat ditentukan oleh biaya kualitas yang dikeluarkan oleh perusahaan. Apakah biaya kualitas yang dikeluarkan perusahaan semakin

(32)

meningkatkan profitabilitas perusahaan atau justru menurunkan laba dari perusahaan. Semakin rendahnya biaya kualitas menunjukkan semakin baiknya program perbaikan kualitas yang dijalankan oleh perusahaan. Dan tentunya semakin baik kualitas yang dihasilkan secara tidak langsung dapat meningkatkan pangsa pasar dan nilai penjualan. Meningkatnya penjualan dengan semakin menurunnya biaya yang dikeluarkan maka tentu akan meningkatkan tingkat profitabilitas PT. TBI.

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka hipotesis yang akan diteliti dan diuji kebenarannya sebagai berikut:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di