Proposal Skripsi

25 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SKRIPSI PROPOSAL SKRIPSI Disusun untuk memenuhi sebagian dari t

Disusun untuk memenuhi sebagian dari tugas dan syarat-syaratugas dan syarat-syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Syari‟ah (S.Sy.)

untuk mendapatkan gelar Sarjana Syari‟ah (S.Sy.) pada

pada Program Studi Mu‟amalah (Syari‟ah)Program Studi Mu‟amalah (Syari‟ah)

Oleh: Oleh:

ROIS MUHAMMAD ZAKY ROIS MUHAMMAD ZAKY

NIM : I 000 090 024 NIM : I 000 090 024

FAKULTAS AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2012 2012

(2)

A.

A. Latar BelakangLatar Belakang

Dalam UU No. 21 tahun 2008 disebutkan bahwa “Bank adalah badan Dalam UU No. 21 tahun 2008 disebutkan bahwa “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat”.

dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat”. Dari sini dapat dipahami bahwaDari sini dapat dipahami bahwa sebenarnya yang harus menjadi prioritas kegiatan perbankan adalah untuk  sebenarnya yang harus menjadi prioritas kegiatan perbankan adalah untuk  membantu pendanaan kegiatan masyarakat melalui sebuah sistem penghimpunan membantu pendanaan kegiatan masyarakat melalui sebuah sistem penghimpunan dan penyaluran dana. Fungsi bank sebagai lembaga intermediasi, bukan hanya dan penyaluran dana. Fungsi bank sebagai lembaga intermediasi, bukan hanya untuk mencari keuntungan pribadi penyimpan dana, tapi untuk

untuk mencari keuntungan pribadi penyimpan dana, tapi untuk kemaslahatan yangkemaslahatan yang lebih luas dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat umum. Demikian pula bank  lebih luas dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat umum. Demikian pula bank  sebagai institusi, tidak hanya sebagai usaha yang berorientasi

sebagai institusi, tidak hanya sebagai usaha yang berorientasi self-profit self-profit , tapi juga, tapi juga membantu masyarakat untuk mencapai target profit

membantu masyarakat untuk mencapai target profit usahanyausahanya..

Pengertian ini sesungguhnya sejalan dengan pola berkonsumsi yang Pengertian ini sesungguhnya sejalan dengan pola berkonsumsi yang diajarkan Islam untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk disimpan dan diajarkan Islam untuk menyisihkan sebagian pendapatannya untuk disimpan dan berbagi, serta pola simpanan yang mengharuskan umat Islam untuk melakukan berbagi, serta pola simpanan yang mengharuskan umat Islam untuk melakukan berbagai macam usaha yang produktif atau investasi

berbagai macam usaha yang produktif atau investasi11. Konsep kelembagaan Bank . Konsep kelembagaan Bank  dan kedudukannya di tengah-tengah masyarakat tentu saja sangat tepat dan dan kedudukannya di tengah-tengah masyarakat tentu saja sangat tepat dan penting untuk menghimpun dana-dana ini, untuk kemudian disalurkan dalam penting untuk menghimpun dana-dana ini, untuk kemudian disalurkan dalam rangka meningkatkan ekonomi ummat. Oleh karena itu apa yang telah dilakukan rangka meningkatkan ekonomi ummat. Oleh karena itu apa yang telah dilakukan dalam beberapa dasawarsa terakhir untuk mengembangkan perbankan yang islami dalam beberapa dasawarsa terakhir untuk mengembangkan perbankan yang islami adalah sangat tepat.

adalah sangat tepat.

1 1

Perwataatmadja, Karnaen dan M. Syafi‟i Antonio. 1992.

Perwataatmadja, Karnaen dan M. Syafi‟i Antonio. 1992.  Apa  Apa dan dan Bagaimana Bagaimana Bank Bank IslamIslam.. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf. hlm. 6.

(3)

Sesungguhnya Perbankan Islam di dunia sudah dirintis sejak tahun 1960 di Mesir. Sedangkan di Indonesia sendiri dimulai sejak tahun 1980-an dan akhirnya mewujud menjadi sebuah institusi/ lembaga keuangan pada tahun 1991. Semangat yang melatarbelakangi pendirian Bank Syari‟ah2 diantaranya karena keinginan umat Islam untuk menghindari riba dalam kegiatan mu‟amalahnya, keinginan untuk memperoleh kesejahteraan lahir dan batin melalui kegiatan muamalah yang sesuai dengan perintah agamanya, serta keinginan untuk mempunyai alternatif  pilihan dalam mempergunakan jasa-jasa perbankan yang dirasakan lebih sesuai. Dari sini, dapat diambil kesimpulan bahwa perbankan konvensional yang telah ada sebelumnya dirasakan tidak sepenuhnya sesuai dengan prinsip ajaran agama Islam.

Bagi seorang muslim, pilihan hidup itu ialah pilihan hidup yang baik  berdasarkan ajaran agama Islam. Allah berfirman:



























“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim.” (Q.S. Ali Imron: 102). Pengamalan ayat ini dalam aktifitas keuangan (perbankan) adalah seorang muslim seharusnya menjauhi perkara yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran agama Islam. Secara tegas, seharusnya seorang muslim menjadikan Bank Syari‟ah sebagai pilihan lembaga keuangan yang

2

(4)

mengelola dananya, karena kedudukan Bank Konvensional yang tidak  sepenuhnya sesuai dengan prinsip syari‟ah tersebut.

Perkembangan aset Bank Syari‟ah secara nasional masih sangat  jauh dari total aset Bank Konvensional. Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dengan data per Juni 20123, dapat dilihat bahwa  jumlah aset Bank Umum ditambah dengan Bank Perkreditan Rakyat berjumlah 3.951,150 triliun rupiah, sedangkan jumlah aset Bank Syari‟ah ditambah Unit-Unit Usaha Syari‟ah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syari‟ah hanya 159,472 triliun rupiah. Padahal beberapa ahli menyebutkan bahwa bagi Bank Syari‟ah, sebenarnya jumlah muslim yang mayoritas seharusnya dapat menjadi pangsa  pasar yang memberikan prospek cerah bagi perkembangan perbankan syari‟ah.

Fenomena ini memberikan fakta bahwa masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang mayoritas muslim, baru sebagian kecil saja yang telah menjadi nasabah Bank Syari‟ah.

Syafi‟i Antonio4 mengemukakan bahwa salah satu permasalahan yang menjadi kendala perkembangan Bank Syari‟ah adalah pemahaman masyarakat yang belum tepat terhadap kegiatan operasional Bank Syari‟ah. Dalam perkembangan saat ini, masyarakat banyak  memandang bahwa Bank Syari‟ah dan Bank Konvensional sama saja, hanya berbeda dari segi istilahnya saja, bahkan Bank Syari‟ah hanya dipandang sebagai bank yang mempunyai harga administrasi relatif lebih tinggi.

3

Statistik Perbankan Indonesia Juni 2012. http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/ 728F40BB-AF9E-4229-86B0-1E47D27F4BF7/26807/SPIJuni2014.pdf 

4

Antonio, Muhammad Syafi‟i. 2001.  Bank Syari’ah: Dari Teori ke Praktek . Jakarta: Gema Insani. hlm. 224.

(5)

Ketimpangan ini menunjukkan bahwa masyarakat belum memahami konsep Bank Syari‟ah sebagai institusi keuangan Islam yang dijalankan  berdasarkan prinsip syari‟ah. Padahal seharusnya ketika seseorang memahami prinsip ajaran agama Islam, ia akan berpegang teguh dan terus mengikuti ajaran agamanya tersebut. Demikian pula dalam memilih Bank, ketika ia telah mengetahui dan memahami konsep Bank Syari‟ah seyogyanya ia memilih Bank  Syari‟ah sebagai tempat menabung atau menanamkan investasinya.

Berkaitan dengan perlunya pemahaman tersebut, ada sebuah kisah menarik  mengenai pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir yang dikisahkan dalam surat Al-Kahfi ayat 66-82. Kisah ini memberikan kita gambaran bahwa pemahaman akan sangat berpengaruh terhadap sikap kita dalam menghadapi sesuatu. Kisah ini menceritakan ketika Nabi Khidir melakukan sesuatu yang tidak dipahami oleh Nabi Musa (melubangi perahu orang lain, membunuh seorang anak, dan membangun rumah yang hampir roboh), Nabi Musa menjadi tidak sabar karena apa yang dilakukan Nabi Khidir tidak dapat ia pahami alasannya. Kemudian setelah Nabi Khidir memberitahukan apa yang menjadi landasan perbuatannya, Nabi Musa menjadi paham dan menerima apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir sebelumnya. Demik ian pula dalam bank syari‟ah, seorang nasabah atau calon nasabah akan memberikan apresiasi positif (seperti menabung dan loyal) apabila memahami apa yang menjadi prinsip dasar bank syari‟ah.

Pengetahuan masyarakat mengenai prinsip bank syari‟ah menjadi pin tu masuk pertama bagi bank syari‟ah agar  dapat lebih berkembang. Karena perkembangan sebuah bank sendiri diantaranya dipengaruhi oleh keadaan nasabah

(6)

yang menabung di bank tersebut. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, kesenjangan jumlah aset bank konvensional dan bank syari‟ah itu sangat dipengaruhi oleh jumlah nasabah dan kepercayaan mereka menginvestasikan uangnya kepada bank. Banyak faktor yang mempengaruhi nasabah untuk dapat menabung, dan kemudian percaya kepada jasa bank. Baik itu faktor prinsip yang digunakan bank, produk, fasilitas dan pelayanannya yang memuaskan, kualitas manajemen, keadaan lingkungan bank, kejelasan hasil yang didapat, dan faktor lainnya.

Secara moral, Bank Syari‟ah mempunyai dimensi lebih luhur dibanding bank pada umumnya. Konsep dan prinsip yang menjadi dasar berjalannya Bank  Syari‟ah menjadi salah satu daya tarik yang membuat para ahli memperkirakan masa depan pasar Bank Syari‟ah akan te rus lebih baik lagi di Indonesia. Berhubungan dengan dimensi tadi, pemahaman nasabah terhadap konsep tersebut menjadi faktor yang mempengaruhi pilihannya untuk menjadi nasabah di Bank  Syari‟ah. Demikian, terkait pula dengan keputusannya untuk terus menggunakan  jasa Bank Syari‟ah secara berkelanjutan, sebagai salah satu ciri dari loyalitasnya menjadi nasabah. Bahkan sampai kesadarannya untuk menyebarkan konsep yang ia pahami tersebut. Oleh karena itu, urgensi usaha untuk memahamkan nasabah mengenai konsep yang diusung oleh Bank Syari‟ah menjadi penting untuk terus dilakukan sebagai upaya pengembangan Bank Syari‟ah.

Telah disinggung sebelumnya bahwa Bank Muamalat Indonesia adalah bank umum pertama di Indonesia yang menjalankan mekanisme perbankannya sesuai dengan prinsip- prinsip syari‟ah Islam. Bank ini menjadi salah satu tolak 

(7)

ukur perkembangan institusi keuangan syari‟ah, walaupun kita tidak dapat memandang sebelah mata bank-bank lain yang juga telah melandasi mekanisme  perbankannya dengan prinsip syari‟ah dan mewarnai perkembangan perbankan

syari‟ah sehingga dapat lebih bersaing.

Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana gambaran pemahaman masyarakat, khususnya nasabah, mengenai konsep bank  syari‟ah dan hubungannya dengan loyalitas untuk menjadi nasabah Bank Syari‟ah. Sehingga kemudian peneliti mengemukakan judul “Hubungan Antara Pemahaman Konsep Bank Syari‟ah Dengan Loyalitas Nasabah di Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo.

B. Perumusan Masalah

Setelah mengkaji fenomena yang terjadi seperti diuraikan dalam latar belakang, maka peneliti merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana pemahaman nasabah Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo tentang konsep bank syari‟ah?

2. Bagaimana loyalitas nasabah Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo?

3. Sejauh mana hubungan antara pemahaman tentang konsep bank  syari‟ah dengan loyalitas nasabah Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo?

(8)

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemahaman nasabah mengenai konsep Bank Syari‟ah, dengan loyalitas menjadi nasabah Bank Syari‟ah.

Sedangkan kegunaan penelitian ini dapat berguna untuk:

1. Secara akademis dapat menjelaskan mengenai konsep Perbankan Syari‟ah yang sebenarnya dan sejauh mana pemahaman masyarakat terhadapnya, serta memberi kontribusi dalam khazanah pemikiran Muamalat untuk lebih mengembangkan pengkajian yang lebih mendalam.

2. Secara praktis bagi Bank Syari‟ah maupun praktisinya:

a. dapat memberikan data, masukan dan gambaran mengenai pemahaman nasabah terhadap konsep bank  syari‟ah.

b. memberikan gambaran bagaimana pengaruh pemahaman tersebut terhadap konsistensi menjadi nasabah Bank Syari‟ah.

c. memberi pertimbangan kepada Bank Syari‟ah dalam menentukan sosialisasi terhadap masyarakat untuk pengembangan Bank  Syari‟ah secara lebih luas.

(9)

Kajian pustaka merupakan kajian terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya yang mempunyai kekuatan teori yang telah teruji. Hal ini dilakukan agar dapat memastikan posisi dan keorisinilan penelitian yang peneliti lakukan. Adapun penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang peneliti angkat dalam skripsi ini antara l ain :

1. Skripsi yang disusun oleh Sujud pada tahun 2010 di Progdi Pendidikan Akuntansi FKIP UMS dengan judul “Hubungan Antara Pemahaman Tentang Sistem Bagi Hasil Di Lembaga Keuangan Syari’ah Dengan Keinginan Nasabah Untuk Berinvestasi Pada Perbankan Syari’ah Di Kabupaten Wonogiri”, menyimpulkan bahwa pemahaman sistem bagi hasil mempunyai hubungan yang signifikan dengan keinginan nasabah untuk berinvestasi di perbankan syari‟ah.

2. Skripsi yang disusun oleh Dwi Ferdiyatmoko Cahya Kumoro pada tahun 2010 di Fakultas Ekonomi UMS dengan judul “Pengaruh Pemahaman Nasabah Tentang Diversifikasi Produk Dan Kualitas Jasa Pelayanan Kredit Terhadap Kepuasan Konsumen Pada BMT An Naafi Boyolali”, menyimpulkan bahwa semakin tinggi pemahaman nasabah tentang diversifikasi produk (produk-produk yang ditawarkan), dimana nasabah dapat dengan tepat memilih produk yang akan digunakan, maka akan semakin tinggi pula kepuasan konsumen. 3. Skripsi yang disusun oleh Mazz Reza Pranata pada tahun 2011 di

(10)

Medan dengan judul “Pengaruh Pengetahuan Konsumen Mengenai Perbankan Syariah Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah Tabungan Wadiah Pada PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Medan”, menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara pengetahuan konsumen mengenai perbankan syariah terhadap keputusan menjadi nasabah tabungan wadiah pada PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Medan.

Dari ketiga skripsi diatas dapat diambil kesimpulan lain bahwa faktor pemahaman nasabah sangat berperan dan mempengaruhi pemasaran dan perkembangan bank Syari‟ah.

4. Skripsi yang disusun oleh Evi Ina Cahyanti pada tahun 2012 di Fakultas Ekonomi UMS dengan judul “Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Tingkat Kepuasan Nasabah Terhadap Loyalitas Nasabah (Studi Pada Bank Syari’ah Cabang Pembantu Sragen )” menyebutkan bahwa loyalitas nasabah merupakan ukuran semau apa nasabah melakukan pembelian lagi. Loyalitas akan berkembang mengikuti tiga tahap yaitu tahap kognitif, efektif, dan konatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa kualitas pelayanan dan kepuasan nasabah secara parsial berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah Bank Syariah Mandiri di Kota Sragen. Penelitian ini menjadi teori yang menjelaskan bahwa pengukuran terhadap loyalitas akan lebih komprehensif dan bermanfaat melalui pengukuran sikap

(11)

dan perilaku, bukan melalui pengukuran situasional yang akan sulit dikendalikan oleh pemasar.

Dari kajian pustaka diatas, peneliti menentukan posisi  penelitian ini bahwa pemahaman terhadap konsep Bank Syari‟ah belum pernah diteliti secara khusus sebagai faktor yang berkaitan dengan loyalitas nasabah Bank Syari‟ah. Sejauh ini peneliti belum menemukan penelitian yang membahas variabel yang sama dengan itu.

E. Kerangka Teoritis

a. Konsep Moral Spiritual Bank Syariah

Bank Syari‟ah sesungguhnya beranjak dari pemahaman para ahli fiqh mengenai ekonomi Islam (muamalat maaliyah) yang dikembangkan oleh para pemikir Islam. Veithzal Rivai5 menyebutkan bahwa, ekonomi Islam dibangun, ditegakkan dan dilaksanakan berdasarkan ruh dan spirit serta menjunjung tinggi nilai-nilai sebagai berikut: (1) aqidah tauhid, (2) keadilan, (3) kebebasan, dan (4) kemaslahatan (akhlak yang terpuji). Syafi‟i Antonio6 mengemukakan  juga bahwa nilai-nilai dalam sistem perekonomian Islam terdiri dari: perekonomian masyarakat akan menjadi baik bila menggunakan kerangka kerja atau acuan norma-norma islami, keadilan dan persaudaraan menyeluruh (terdiri dari keadilan sosial dan keadilan

5

Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin. 2010. Islamic Banking: Sebuah Teori Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 20

6

Antonio, Muhammad Syafi‟i. 2001.  Bank Syari’ah: Dari Teori ke Praktek . Jakarta: Gema Insani. hlm. 10.

(12)

ekonomi), keadilan distribusi pendapatan, serta kebebasan individu dalam konteks kesejahteraan sosial.

Khusus dalam kajian perbankan, bank Islam disebutkan oleh Veithzal Rivai sebagai bisnis yang memiliki tujuan dan operasi tidak  memasukkan elemen yang tidak diizinkan oleh agama Islam/ halal7. Hal ini termasuk menerapkan: menolak adanya bunga (riba); melarang gharar (ketidakpastian, resiko, spekulasi), maisir (penipuan, tidak  transparan); fokus pada kegiatan-kegiatan yang halal (yang diizinkan oleh agama); secara umum mencari keadilan dan sesuai dengan etika dan tujuan keagamaan, serta pembagian keuntungan dan kerugian antara bank dengan nasabah. Dalam kaitannya dengan nasabah, hubungan nasabah dengan bank syari‟ah adalah hubungan kemitraan, sehingga kepentingan antara nasabah penyimpan dana, debitor dan bank dapat diharmonisasikan.

Terdapat perbedaan mendasar antara Bank Konvensional dan Bank Syari‟ah, diantaranya: Pertama, dari segi akad dan aspek  legalitas. Kedua, dari sisi struktur organisasi, bank syari‟ah mempunyai Dewan Pengawas Syari‟ah yang menjadi pengawas berjalannya bank tersebut agar tetap sesuai dengan prinsip syari‟ah, dalam hal ini fatwa DSN MUI dan nilai-nilai keislaman secara umum. Ketiga, berkenaan dengan bisnis dan usaha yang dibiayai haruslah  bisnis yang dihalalkan oleh syari‟at Islam. Dan keempat, berkaitan

7

Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin. 2010. Islamic Banking: Sebuah Teori Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 31

(13)

dengan lingkungan kerja dan budaya perusahaan perbankan. Dalam hal etika, shiddiq, amanah, fathanah (skillfull) dan tabligh (teamwork ) harus melandasi setiap tindakan para pelaku perbankan Islam.

Dalam mengelola produk yang ditawarkannya bank syari‟ah pun harus berlandaskan pada prinsip-prinsip akad yang ada dalam Islam. Walaupun seakan terbatas, tapi sebenarnya lewat prinsip-prinsip akad tersebut produk bank syari‟ah berkembang lebih variatif  dibanding produk yang ada di bank konvensional. Akad-akad ini diantaranya: akad wadhi‟ah (titipan), mudharabah (bagi hasil), murabahah, salam dan istishna (jual beli), ijarah (sewa), wakalah (pendelegasian kekuasaan), kafalah (penjaminan), hiwalah (pemindahan hutang), rahn (gadai) dan lain-lain. Dalam pelaksanaannya akad yang dilaksanakan pada setiap produk harus terpisah antara akad yang satu dengan yang lainnya, tidak boleh sampai terjadi dua akad dalam satu produk. Namun dapat dilakukan perjanjian yang berkelanjutan antara akad yang satu dan yang lainnya.

Prinsip-prinsip yang mewujud menjadi sebuah konsep bank  syari‟ah ini bukan hanya diyakini sifatnya yang ilahiah saja, tapi membumi mengisi keyakinan akan semangat keadilan dan kemaslahatan bersama bagi seluruh aspek yang berkaitan; baik itu dalam realisasi produk maupun proses pembiayaan. Perbankan Syari‟ah sampai saat ini terus menghadirkan pilihan produk yang semakin beragam sesuai dengan kebutuhan nasabah, serta dengan

(14)

pelayanan dan fasilitas yang semakin berkembang mengimbangi perbankan konvensional yang telah ada jauh hari sebelumnya.

Islam adalah sebagai way of life yang lengkap untuk kehidupan manusia di dunia maupun akhirat, semua aktivitas dunia menjadi media untuk kehidupan akhirat. Dalam kehidupan ekonomi dengan berbagai instrumennya, tergantung pada kuat tidaknya pengetahuan para penganutnya terhadap keberadaan bank islam dan pemahaman yang benar terhadap konsep sistem ekonomi syari‟ah, demikian juga  preferensi terhadap perbankan syari‟ah, motivasi keagamaan justru

seharusnya menjadi landasan utama dalam membentuk interaksi nasabah (muslim) dengan lembaga keuangan, di atas pertimbangan tingkat jasa yang dapat ditawarkan dan diterima mereka8.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harif A. Rifai, dkk  memperlihatkan bahwa faktor internal lebih dominan dibanding faktor eksternal bagi konsumen di dalam memilih bank syari‟ah dan konvensional. Artinya bahwa perilaku konsumen dalam memutuskan penggunaan produk perbankan lebih didominasi oleh pengendalian dari dalam (internal locus of control). Internal faktor tersebut muncul dari kesadaran (awareness) konsumen terhadap produk yang dikomunikasikan pada tingkat yang lebih tinggi, dan selanjutnya awareness tersebut akan memperkuat keyakinan ( belief ) konsumen9.

8

Hasan, Ali. 2010. Marketing Bank Syari’ah: Cara Jitu Meningkatkan Pertumbuhan Pasar Bank 

Syari’ah. Bogor: Ghalia Indonesia. hlm. 47

9

(15)

b. Loyalitas Nasabah Bank Syari‟ah

Loyalitas pelanggan menurut Dick dan Basu10 didefinisikan sebagai komitmen pelanggan terhadap suatu merk dan pemasok, berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang konsisten. Selanjutnya Jill Griffin11 menyebutkan bahwa pelanggan yang loyal adalah pelanggan yang memiliki ciri-ciri antara lain melakukan pembelian berulang secara teratur, membeli antarlini produk dan jasa, mereferensikan kepada orang lain, dan menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing.

Dalam mempertahankan hubungan dengan pelanggan, Husein Umar menggunakan istilah „costumer bonding’ 12. Customer Bonding merupakan sebuah strategi dalam menciptakan loyalitas pelanggan. Proses customer bonding dimulai dari penciptaan kesadaran konsumen terhadap produk/jasa yang ditawarkan yang kemudian tumbuh menjadi ikatan yang berkelanjutan sebagai dasar dari hubungan antara perusahaan dengan konsumen, bahkan dapat diperluas ke pelanggan lainnya. Implementasi customer bonding ini diawali dengan proses awareness bonding, yaitu membangun persepsi di benak konsumen mengenai produk/ jasa perusahaan, merk perusahaan, maksud

10

Umar, Husein. 2003. Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa. Bogor: Ghalia Indonesia. hlm. 16

11

Griffin, Jill. 2005. Customer Loyalty  –  Menumbuhkan dan Mempertahankan Kesetiaan Pelanggan. Jakarta: Erlangga. hlm. 31

12

(16)

perusahaan dan calon konsumen yang perusahaan inginkan. Kemudian dilanjutkan dengan proses identifying bonding, yang dibentuk ketika seorang konsumen mengenal dan mengagumi melalui nilai, sikap dan pilihan gaya hidup dimana ia berasosiasi dengan produk atau merk  perusahaan. Untuk mendorong proses ini, pemasar harus menggugah nilai dan emosi konsumen dalam berkomunikasi. Proses ini lebih menekankan kepada faktor pribadi dari pelanggan.

Husein Umar menyebutkan bahwa loyalitas dapat dihubungkan kepada dua perspektif, yaitu perspektif perilaku dan perspektif sikap. Dalam perspektif perilaku, loyalitas diartikan sebagai pembelian ulang secara konsisten oleh pelanggan. Dan melalui perspektif sikap, ia menyebutkan bahwa pembelian ulang tidak dapat menjelaskan apakah konsumen benar-benar lebih menyukai produk tertentu dibandingkan dengan produk lain, atau karena berada dalam situasi pengaruh aspek  lain. Oleh karena itu sikap pelanggan terhadap produk juga harus diteliti. Bila sikap pelanggan lebih positif terhadap produk tertentu dibandingkan produk lain, maka ia dikatakan loyal terhadap produk  yang bersangkutan.

Terkait dengan sikap positif, seperti yang didefinisikan dan perspektif diatas, dapat pula dikaitkan dengan definisi mengenai kepuasan, seperti yang disampaikan oleh Schisffman dan Kanuk 13 bahwa kepuasan pelanggan merupakan perasaan seseorang terhadap

13

(17)

kinerja dari suatu produk yang dirasakan dan diharapkannya. Dalam hal ini terdapat persepsi yang menjadikan seseorang memberikan sebuah sikap. Dalam berbagai kajian mengenai kepuasan tersebut, beberapa penulis mengaitkannya dengan kualitas pelayanan. Namun, Zeithaml dan Bitner14 mengemukakan bahwa kepuasan adalah konsep yang jauh lebih luas dari hanya sekedar penilaian kualitas pelayanan, tetapi juga di pengaruhi oleh faktor-faktor lain. Kepuasan pelanggan  juga di pengaruhi oleh persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan (jasa), kualitas produk, harga dan oleh faktor situasi dan faktor pribadi dari pelanggan.

Faktor pribadi/ internal diatas, didalam kajian mengenai perilaku konsumen terdapat satu faktor yang mempengaruhi seorang konsumen berperilaku, yaitu faktor psikologis yang termasuk di dalamnya berupa faktor pengetahuan konsumen. Pengetahuan konsumen terdiri dari informasi yang disimpan di dalam ingatan15. Sehingga pemahaman akan karakteristik atau bahkan konsep suatu produk akan sangat berpengaruh terhadap kesetiaan seorang konsumen untuk membeli produk tersebut secara berkelanjutan. Bahkan, dalam kajian perilaku konsumen dalam perspektif ekonomi Islam terdapat sesuatu yang tidak didapatkan dalam perspektif ilmu konvensional. Dalam Islam, perilaku seorang konsumen harus mencerminkan

14

Ibid

15

(18)

hubungan dirinya dengan Allah SWT16. Pemahaman bahwa  berjalannya bank syari‟ah adalah tidak hanya untuk mencapai profitabilitas duniawi, tetapi juga berusaha menjalankan prinsip yang sesuai dengan pandangan Islam untuk mencapai hubungan dengan Allah SWT (profitabilitas ukhrawi) akan berhubungan dengan pilihan dan loyalitas seseorang menjadi nasabah di bank tersebut.

c. Hipotesis:

Dari teori-teori yang telah disebutkan diatas, akhirnya peneliti menyusun hipotesis bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara  pemahaman seorang nasabah mengenai konsep bank syari‟ah dengan

loyalitasnya di bank syari‟ah, dalam kasus ini di Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo.

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Berdasarkan masalah yang dikemukakan diatas, dilihat dari tempat penelitiannya, jenis penelitian ini adalah Penelitian Lapangan (Field Research). Penelitian ini juga dikategorikan sebagai Penelitian Korelasional, karena bertujuan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada

16

Muflih, Muhammad. 2006. Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. hlm. 4.

(19)

koefisien kolerasi17. Dalam hal ini peneliti bermaksud mencari keterkaitan antara pemahaman konsep perbankan syari‟ah dengan loyalitasnya menjadi nasabah. Berdasarkan data yang dihimpun, penelitian ini termasuk dalam Penelitian Kuantitatif, karena data-data yang dikumpulkan dalam kegiatan penelitian disuguhkan berupa angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik 18.

2. Subyek dan Tempat Penelitian

Subyek penelitian ini adalah nasabah yang menjadi konsumen/ berinvestasi di Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo.

3. Teknik Pengumpulan Data a. Questioner/ Angket

Untuk mensurvei langsung bagaimana kondisi nasabah di lapangan, peneliti mengambil teknik pengumpulan data dengan questioner/ angket dengan pertanyaan tertutup untuk  secara langsung diisi oleh nasabah dan membatasi jawaban mereka. Angket berisi pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan tujuan penelitian dan indikator-indikator yang digunakan, dengan maksud agar mendapatkan hasil yang reliabel dan valid.

b. Dokumentasi

17

Warsidi, Slamet. 2003. Pegangan Kuliah Metodologi Penelitian Hukum Muamalat . Surakarta: FAI UMS. hlm. 44

18

Sukandarrumidi, dan Haryanto. 2008. Dasar-dasar Penulisan Proposal Penelitian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 72

(20)

Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data berupa data-data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual dan sesuai dengan masalah penelitian. Peneliti menghimpun dokumen, memilih-milih dokumen sesuai dengan tujuan penelitian, mencatat dan menerangkan, menafsirkan dan menghubungkan dengan fenomena lain19. Dalam hal ini peneliti mengumpulkan dokumen yang membantu pengkajian terhadap pemahaman konsep bank syari‟ah dan hubungannya dengan loyalitas nasabah. Dan tidak terlepas pula, dengan teknik ini peneliti mencari data sekunder maupun tambahan yang mendukung penelitian ini.

4. Sumber Data

a. Sumber Data Primer

Data Primer adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber asli20. Berdasarkan subyek penelitian yang telah disebutkan diatas, maka sumber data primer penelitian ini berasal dari angket yang telah diisi oleh nasabah Bank  Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo.

b. Sumber Data Sekunder

19

Muhamad. 2008.  Metodologi Penelitian Ekonomi Islam: Pendekatan Kuantitatif . Jakarta: Rajawali Press. hlm. 152

20

(21)

Data sekunder didapat dari literatur-literatur, buku-buku atau bacaan serta dokumentasi yang relevan dan dapat membantu menjelaskan data primer.

5. Populasi dan Sampel

Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal yang membentuk  masalah pokok dalam suatu penelitian21. Populasi didapatkan dari dokumentasi data jumlah nasabah yang ada di Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo.

Untuk membatasi atau mereduksi subyek penelitian dan waktu serta tenaga yang dikeluarkan, peneliti menggunakan sampling dengan memilih unsur populasi untuk digunakan sebagai sampel yang representatif mewakili populasi tersebut. Pemilihan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling karena populasi dianggap homogen. Sampel diambil dengan perhitungan rumus Slovin, yaitu:

 



       

   

6. Teknik Analisis Data

Melalui teknik pengumpulan data diatas, kemudian akan didapatkan data mengenai hubungan antara pemahaman konsep  perbankan syari‟ah dengan loyalitas nasabah di Bank Muamalat

21

(22)

Indonesia Cabang Sukoharjo. Data tersebut kemudian dianalisis dengan pola analisis statistik yang kemudian berwujud angka-angka. Dari hasil uji statistik menggunakan uji asosiasi/ korelasional akhirnya diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, apakah terdapat signifikansi; dengan taraf signifikansi seberapa jauh, atau tidak terdapat signifikansi sama sekali.

(23)

G. Sistematika Penelitian

Penelitian ini disusun dengan uraian yang sistematis, yang diharapkan dapat mempermudah proses pengkajian dan pemahaman terhadap persoalan yang akan diteliti. Adapun sistematika penelitian ini nantinya adalah sebagai berikut:

BAB I Menjelaskan tentang pendahuluan, meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, kerangka teoritis, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II Menjelaskan tentang Konsep Perbankan Syari‟ah, filosofi, prinsip dan karakteristik kelembagaan, layanan dan produk  yang ditawarkan oleh Bank Muamalat Indonesia Cabang Sukoharjo, serta prinsip/ akad dari produk tersebut.

BAB III Menjelaskan variabel penelitian, yaitu pemahaman nasabah mengenai konsep perbankan syari‟ah dan loyalitas nasabah.

BAB IV Menjelaskan hasil dan data penelitian: Analisis hubungan pemahaman nasabah mengenai konsep Bank  Syari‟ah dengan loyalitas nasabah.

BAB V Menjelaskan tentang penutup, yang meliputi: kesimpulan, implikasi, saran dan penutup.

(24)

H. Daftar Pustaka Sementara

Antonio, Muhammad Syafi‟i. 2001.  Bank Syari’ah: Dari Teori ke Praktek . Jakarta: Gema Insani.

Griffin, Jill. 2005. Customer Loyalty  –  Menumbuhkan dan Mempertahankan Kesetiaan Pelanggan. Terjemahan oleh Dwi Kartini Yahya. Jakarta: Erlangga.

Hasan, Ali. 2010.  Marketing Bank Syari’ah: Cara Jitu Meningkatkan  Pertumbuhan Pasar Bank Syari’ah. Bogor: Ghalia Indonesia.

Muflih, Muhammad. 2006. Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Muhamad. 2008.  Metodologi Penelitian Ekonomi Islam: Pendekatan Kuantitatif . Jakarta: Rajawali Press.

Perwataatmadja, Karnaen dan M. Syafi‟i Antonio. 1992.  Apa dan Bagaimana  Bank Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf.

Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin. 2010. Islamic Banking: Sebuah Teori Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Sukandarrumidi, dan Haryanto. 2008.  Dasar-dasar Penulisan Proposal Penelitian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

(25)

Umar, Husein. 2000.  Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia.

---. 2003.  Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa. Bogor: Ghalia Indonesia.

Warsidi, Slamet. 2003. Pegangan Kuliah Metodologi Penelitian Hukum  Muamalat . Surakarta: FAI UMS.

Statistik Perbankan Indonesia Juni 2012. http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/  728F40BB-AF9E-4229-86B0-1E47D27F4BF7/26807/SPIJuni2014.pdf 

http://wordskripsi.blogspot.com/2010/03/pengetahuan-konsumen-mengenai-perbankan.html diakses tanggal 13 Oktober 2012 pukul 20.07.

http://dedylondong.blogspot.com/2012/04/kepuasan-pelanggan-customer.html diakses tanggal 13 Oktober 2012 pukul 20.15.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :