RESPON BENIH IKAN NILA (Oreochromis sp.)
TERHADAP KADAR AIR GAMBUT YANG BERBEDA
Response of tilapia (Oreochromis sp. ) fingerling on different peat water concentration
Murrod Candra W, Ardianor, Inga Torang
Staf Pengajar Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya
(Diterima/Received : 05 Januari 2014, Disetujui/Accepted: 21 Juni 2014)
ABSTRAK
Tujuan Penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh persentase percampuran air gambut dan air sumur sebagai media aklimatisasi bagi kelangsungan hidup benih ikan nila (Oreochromis sp.). Kegunaan penelitian adalah sebagai informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penyesuaian benih ikan nila terhadap air gambut dari perairan rawa gambut yang cukup luas di Propinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Domestikasi ikan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Sedangkan waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama 14 hari. Penelitian ini menggunakan rancangan lapangan, yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri dari 5 sebagai berikut: Perlakuan A : Air sumur bor (tanpa percampuran), Perlakuan B : Percampuran air gambut 25%, Perlakuan C: Percampuran air gambut 50%,Perlakuan D : Percampuran air gambut 75%, Perlakuan E : Percampuran air gambut 100%. Hasil pengamatan kualitas air gambut yang digunakan diambil dari Sungai Sebangau Pelabuhan Kereng Bangkirai secara berurutan adalah 31,2 0C, 3,19, 4,41 mg/l, 44,52 mg/l dan 0,01 mg/l, sedangkan kualitas air pencampuran sumur bor dengan air gambut yaitu suhu, pH, DO, CO2 dan amoniak secara berurutan adalah 29,1 0
Kata kunci : benih nila, aklimatisasi, adaptasi, air gambut.
C 5,25, 6,12mg/l, 22,88 mg/l dan 0 mg/l. Tingkat mortalitas terendah diperoleh dari perlakuan A dengan air menggunakan air sumur bor dan 25% air gambut sehingga dianjurkan untuk melakukan aklimatisasi dan adaptasi benih ikan nila di perairan lahan gambut adalah campuran air gambut 25% dan air sumur bor 75%. Kisaran pH air gambut yang baik untuk media budidaya ikan antara 4,29-4,64.
ABSTRACT
The aim of this study was to analyze effect of mixing peat and well waters as acclimatization media for tilapia (Oreochromis sp.) juvenile survival rate. This study was conducted in the domestication laboratory of Study Program of Aquatic Resources Management, Faculty of Agriculture, Palangka Raya University, for 2 weeks. For this experiment, there were 5 treatments: 0%, 25%, 50%, 75% and 100% peat water with 3 replications using complete random design. Result showed that the initial values of pH and DO of peat water as culturing media were generally low. Water quality parameter values of peat water supply such as water pH, DO, CO2, and NH3, were respectively 31.2 0C, 3.19, 4.41 mg /l, 44.52 mg /l and 0. 01 mg /l. However, those values of
well water were respectively 29.1 0C, 5.25, 6.12 mg /l, 22.88 mg / l and 0 mg / l. The lowest mortality of fingerling tilapia was in treatment of well water 75% mixed peat water 25%. The range of peat water pH for culturing media of fish fingerling between 4.29 and 4.64 was acceptable.
Key words : tilapia fingerling, acclimatization, adaptation, peat water. HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Perikanan merupakan salah satu sumberdaya yang mempunyai penting dalam usaha pemenuhan pangan bagi manusia terutama kebutuhan protein hewani. Keberadaan sektor perikanan merupakan upaya manusia dalam menggali sumber-sumber hayati perairan guna dimanfaatkan bagi kebutuhan hidup (Anonim, 1983).
Gambut adalah bentukan dari tumpukan bahan organik tumbuhan pada kondisi reduksi, dengan kecepatan penumpukan lebih besar daripada kecepatan penguraian, dan selanjutnya lapukan bahan organik pembentuk gambut membuat air gambut berwarna coklat kehitaman, hitam kecoklatan, kemerah-kerahan, warna teh dan sebagainya (Matling dan Haryono, 2008).
Ikan nila (Oreochromis sp) merupakan ikan introduksi, yang sekarang telah menjadi komoditi yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat, khususnya di Kota Palangka Raya. Jenis-jenis ikan nila dan ikan patin ini banyak dibudidayakan dalam karamba, kolam, bahkan dalam bak-bak yang sengaja dibuat di pekarangan rumah atau lokasi-lokasi yang cukup representatif. Dalam budidaya tersebut terutama karamba airnya merupakan gabungan/percampuran antara air sungai dan air gambut, lain halnya dengan budidaya di kolam dan bak-bak yang menggunakan air sumur (air tanah) dan air hujan. Oleh karena itu, maka pada penelitian ini dicoba untuk menggunakan air tanah dan air gambut sebagai media pemeliharaan benih ikan Nila.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persentase percampuran air gambut dan air sumur sebagai media aklimatisasi bagi kelangsungan hidup benih ikan nila (Oreochromis sp). Sedangkan kegunaan penelitian adalah sebagai informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam penyesuaian benih ikan nila terhadap air gambut, secara khusus untuk pengembangan usaha budidaya ikan introduksi di daerah rawa gambut yang cukup luas di propinsi Kalimantan Tengah.
METODE PENELITIAN Persiapan Tempat Penelitian
Tempat aklimatisasi benih ikan dalam penelitian ini adalah aquarium yang berukuran 40 x 60 x 40 cm. Aquarium ini diletakkan secara beraturan di rak aquarium pada Laboratorium Domestikasi Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Sebelum dipergunakan aquarium ini harus dibersihkan terlebih dahulu.
Persiapan Media
Sumber air yang digunakan adalah air gambut yang berasal dari kolam tadah hujan tergenang dibelakang laboratorium Domestikasi Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan. Sedangkan air sumur adalah dari pengeboran air sumur bor. Kemudian air tersebut diendapkan selama ± 1 hari dan diberikan aerasi menggunakan blower. Percampuran air tersebut sesuai dengan perlakuan dalam penelitian.
Ikan Uji
Ikan uji dalam pelaksanaan penelitian ini adalah benih ikan nila (Oreochromis sp) yang berukuran 1 – 3cm. Menurut rencana ikan uji ini diambil dari Unit BBAT Mandiangin yang terletak di Bincau Kalimantan Selatan. Benih ikan nila dan patin didatangkan dari BBAT Mandiangin yang terletak di Bincau, Kalimantan Selatan menuju Laboratorium Domestifikasi Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya.
Metode Penelitian
Untuk persiapan ikan uji, sebelum diangkut benih ikan nila dan patin ini dilakukan pemberokan selama 1-2 hari, sehingga dapat menghindari kematian dari pengaruh penangkapan dan pengangkutan yang dilakukan akibat pembuangan ekskresi ikan dalam kantongan. Ikan uji yang baru datang ditampung dalam bak penampung yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Selama berada di dalam bak penampung ini diberikan aerasi secara terus-menerus. Proses pencampuran air sumur dengan air gambut ke dalam aquarium yaitu dengan cara mengatur ketinggian air dalam aquarium terlebih dahulu, kemudian tinggal menambahkan air gambut misal untuk membuat kadar air gambut 25% adalah 40 cm sehingga air sumur setinggi 30 cm dan air gambut 10 cm. Setelah tempat aklimatisasi siap, kemudian ikan uji dimasukkan ke dalam tempat sesuai dengan padat penebaran yang direncanakan yaitu 50 ekor benih ikan nila dan patin per aquarium. 50 ekor jumlah ikan uji/jenis. Pemberian makanan dengan menggunakan pellet ikan Feng li – 00 sekenyang-kenyangnya (metode satiasi) dan frekwensi pemberian makan sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi hari, siang hari, dan sore hari. Pagi hari pukul 07.00 wib, siang hari pukul 13.00 wib, dan malam hari pukul 18.00wib. Cara pengambilan sampel kualitas air menggunakan alat Quality Water Checker. Dengan cara sensor alat dimasukkan ke dalam air aquarium, kemudian panel control ditekan power alat untuk menghidupkan alat tersebut. Setelah itu ditekan tombol select untuk memilih parameter yang
akan diambil datanya, hingga tampilan angka data yang dibutuhkan.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan lapangan, yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan penataan letak unitnya seperti pada gambar 4, setelah dilakukan pengacakkan. Percobaan ini terdiri dari 5 (lima) perlakuan yang merupakan campuran air gambut dan air sumur adalah sebagai berikut:
Kode Perlakuan
A Air sumur tanpa percampuran B Percampuran air gambut 25% C Percampuran air gambut 50% D Percampuran air gambut 75% E Air gambut 100%
Pengelompokkan dilakukan terhadap tiga jenis ikan yang digunakan sebagai ikan uji. Untuk memperoleh galat percobaan perlakuan diulangi sebanyak 3 kali sehingga total unit percobaan berjumlah 15 akuarium.
Pengamatan terhadap benih ikan nila yang mati selama penelitian ini dilakukan setiap 6 jam yaitu pagi pukul 08.00 wib, siang pukul 14.00 wib, malam pukul 20.00 wib dan pagi dini hari pukul 02.00 wib. Benih ikan nila yang terlihat sudah mati diambil/diangkat/dikeluarkan dari dalam aquarium tempat aklimatisasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Kualitas Air Media
Dalam penelitian ini gambaran kualitas air sebelum terjadi proses pencampuran menunjukkan kondisi seperti keadaan air gambut secara umum yaitu memiliki pH dan oksigen yang rendah. Nilai suhu, pH, DO, CO2 dan amoniak pada air gambut
yang diambil dari Sungai Sebangau Pelabuhan Kereng Bangkirai secara berurutan adalah 31,2 0C, 3,19, 4,41 mg/l, 44,52 mg/l dan 0,01 mg/l. Sedangkan gambaran parameter kualitas air sumur bor sebagai pencampur terhadap air gambut yang diambil dari sumur bor di Laboratorium Domestikasi MSP Jurusan Perikanan Unpar adalah 29,1 0C untuk suhu, dan pH, DO, CO2
Dalam masa aklimatisasi selama 1 hari tersebut ada banyak satuan percobaan (tempat aklimatisasi/aquarium) yang mempunyai kematian benih ikan nila sebanyak 50 ekor (mati 100%), yaitu pada satuan percobaan kelompok E (100% air gambut). Kemudian disusul dengan satuan percobaan kelompok D (75% air gambut) yang mati adalah sebanyak 19 ekor. Selanjutnya satuan percobaan kelompok C (50% air gambut) yang mati sebanyak 17 ekor, dan yang dapat dikatakan paling sedikit mortalitasnya adalah satuan percobaan kelompok B (25% air gambut) yaitu hanya mati 2 ekor. Sedangkan data kualitas air dan rata-rata mortalitas pada setiap perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.
dan amoniak secara berurutan 5,25, 6,12 mg/l, 22,88 mg/l dan 0
mg/l.
Nilai nol (nihil) bagi amoniak merupakan hal yang cukup menarik dalam penelitian ini, karena kemungkinan besar memang disebabkan tidak ada
suplai amoniak dari proses perombakan bahan organik dalam tanah sumber dari air tersebut. Perubahan kualitas air dari perlakuan percampuran air yang dilakukan, dalam pelaksanaan penelitian ini yang terdapat pada Tabel 2.
Uji normalitas terhadap data tingkat mortalitas benih ikan nila selama masa aklimatisasi dan adaptasi terlihat bahwa data menyebar normal, dan berdasarkan hasil Uji Homogenitas dengan Levenue statistik data mortalitas ikan tersebut diperoleh hasil data yang homogen. Berdasarkan analisis Anova pengaruh konsentrasi air gambut yang berbeda menyebabkan respon yang nyata terhadap pergerakan renang ikan nila Fhit 7,86, Fα0,05 =3,667, Pvalue
Berdasarkan hitungan BNJ terlihat bahwa campuran air gambut yang terbaik terhadap benih ikan uji dengan tingkat mortalitas yang rendah adalah penggunaan 25 % air gambut (0%), diikuti dengan penggunaan 50% air gambut (2,78%).
= 0,004. Dengan demikian mortalitas ikan uji dipengaruhi secara nyata oleh konsentrasi air gambut yang berbeda sebagai media uji.
Hasil analisis korelasi berganda antara parameter kualitas air terdapat pada Tabel 4. Suhu air secara signifikan berkorelasi negatif dengan CO2 dan
DO, tetapi berkorelasi secara positif dengan pH air. Sementara itu, amoniak terlihat bebas (independent) dari parameter lainnya sehingga parameter suhu, CO2
dan NH3
Selanjutnya dari hasil analisis regresi linier berganda dengan stepwise terhadap mortalitas ikan nila menunjukkan bahwa suhu (t
digunakan sebagai variabel bebas dalam analisis regresi linier berganda.
hitung = -3,16,
pvalue=0,02) secara signifikan mempengaruhi
mortalitas ikan nila dalam percobaan konsentrasi air gambut yang berbeda ini. Namun demikian karena pH merupakan faktor utama dari air gambut yang mempengaruhi respon fisiologis ikan maka pH juga dapat dikatakan signifikan juga mempengaruhi mortalitas ikan uji karena hubungan antara suhu dan pH juga signifikan (Tabel 4).
Pembahasan
Pada air sumur bor tidak ada amoniak sangat karena tidak ada pengaruh dari buangan hewan berupa urine maupun kotoran (faeces). Adanya benih ikan uji dalam akuarium menyebabkan nilai amoniak terlihat 0,01-0,02 mg/l walaupun masih di bawah ambang batas kandungan amoniak untuk kelangsungan hidup benih ikan uji.
Nilai minimum mortalitas benih ikan nila pada 0% dan maksimum pada 93,3% sehingga dengan rata-rata mortalitas benih ikan patin 34,5%. Kisaran parameter kualitas air yaitu suhu nilai minimum 28,020C dan maksimum 28,360C rata-rata 28,150C, DO berkisar antara 5,06-6,19 mg/l dengan rata-rata 5,67 mg/l, pH berkisar antara 5,00-6,06 dengan rata-rata 5,67, CO2 berkisar antara
18,19-31,68 mg/l dengan rata-rata 25,88 mg/l, dan NH3
Terjadi perbedaan kualitas air dalam pencampuran air sumur bor dan air gambut. Suhu air turun dari 31,2
berkisar antara 0,00-0,02 mg/l dengan rata-rata 0,01 mg/l dan maksimum pada perlakuan dengan mortalitas 93,3%.
oC pada air asal menjadi 27,8oC pada
air gambut dan air campuran walaun pun perbedaan tidak mencolok. Hal ini diduga disebabkan oleh alat pengukur suhu air yang tidak terlalu peka, yaitu dengan tingkat ketelitian 1,0o
Demikian juga dengan kadar amoniak dalam air asal tidak terdeteksi (0,00 mg/l), dan pada air gambut terdapat 0,01 mg/l, namun dalam air campuran 35% dan 70% tidak terdeteksi lagi.
C saja.
Tetapi berbeda untuk variabel kualitas air seperti pH, DO dan CO2
Demikian juga untuk variabel karbondioksida (CO
. Derajat keasaman (pH) air pada air sumur bor 5,25 dan pada air gambut (100%) pH air terlihat rendah yaitu 3,19, tetapi pada air campuran air gambut 25%, 50%, 75% dan 100% masing-masing 4,64, 4,29, 3,67 dan 3,66. Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) air yang sebelumnya 8,12 mg/l dan pada air gambut 4,41 mg/l, dan pada campuran air gambut 25% mempunyai kadar DO yang cukup tinggi yaitu 7,55 mg/l, pada campuran air gambut 50% mempunyai kadar DO 6,68 mg/l tetapi untuk percampuran air gambut 75% sebanyak 7,13 mg/l. Adanya perbedaan dalam percampuran ini diduga disebabkan karena dalam proses pencampuran air yang dilakukan air gambut dituangkan ke dalam aquarium. Pada proses ini ada terjadi pemasukan gas oksigen terlarut.
2) bebas. Kandungan CO2 bebas dalam air yang
sebelumnya sebesar 18,19 mg/l, dan kandungan CO2
bebas pada air gambut 100% terlihat lebih tinggi yaitu 28,92 mg/l. Tetapi pada air percampuran air gambut 25% berubah menjadi lebih rendah yaitu 25,87 mg/l dan pada percampuran air gambut 75% terlihat lebih rendah lagi yaitu hanya 31,68 mg/l. Hal ini juga diduga disebabkan karena proses percampuran yang dilakukan ada terjadi pelepasan sejumlah CO2
Berdasarkan hitungan anova didapat bentuk grafik yang tidak polynomial maka digunakan uji
bebas.
Tabel 2. Kondisi Kualitas Air Percampuran Air Sumur Bor dengan Air Gambut Dalam Pelaksanaan Penelitian
No. Perlakuan Data Hasil Pengukuran Kualitas Air Perlakuan
Suhu (oC) pH DO (mg/l) CO2 (mg/l) NH3 (mg/l) 1. A 29,1 5,25 6,12 22,88 0,00 2. B 28,0 4,64 6,68 15,84 0,00 3. C 27,8 4,29 7,55 14,08 0,00 4. D 27,83 3,66 6,12 31,68 0,00 5. E 31,2 3,19 4,41 44,52 0,01
Tabel 3. Rata-rata Mortalitas Benih Ikan Nila dan Kisaran Parameter Kualitas Air
Perlakuan M (%) Suhu (oC) DO (mg/L) pH CO2 (mg/L) NH3(mg/L) A 0 28,36 5,80 6,06 18,19 0,02 B 0 28,13 5,95 5,91 25,69 0,00 C 2,78 28,14 5,06 5,75 24,93 0,00 D 13,66 28,11 5,96 5,64 31,68 0,00 E 16,17 28,02 6,19 5,00 28,92 0,01
BNJ untuk menentukan nilai perlakuan yang terbaik sesuai untuk kebutuhan benih ikan nila, maka dapat diperoleh bahwa pada perlakuan kelompok B (25% air gambut) dan diikuti kelompok C (50% air gambut).
Tabel 4. Hubungan Korelasi kualitas air sumur dan air gambut
Parameter Suhu DO pH CO2
DO -0,240*
pH 0,407** -0,276**
CO2 -0,237** 0,092 -0,195
NH3 0,167 0,161 -0,016 -0,167
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil dapat disimpulkan, bahwa Kualitas Air hasil pencampuran air gambut dengan air sumur Bor yang terbaik untuk Aklimatisasi dan Adaptasi Benih ikan nila terhadap rendahnya tingkat Mortalitas adalah menggunakan air sumur bor dan 25 % konsentrasi air gambut. Dengan daerah yang memiliki pH 4,64 dan 4,29 untuk benih nila.
Saran
Saran hasil penelitian ini dianjurkan untuk adaptasi benih ikan nila (ikan introduksi) dalam pengembangan budidaya perairan lahan gambut sebaiknya menggunakan air sumur bor dan pencampuran air gambut dengan konsentrasi 25 % air gambut dan 75 % air sumur bor.
DAFTAR PUSTAKA
Alfrianto, 1999. Pengaruh Pemberian Mineral Zeolit Terhadap Ikan Nila Merah Selama Pengangkutan 10 Jam. Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Anonim, 1992. Pengangkutan Ikan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Jakarta.
Khairuman dan D. Sudenda, 2002. Budidaya Patin Secara Intensif. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis. AgroMedia Pustaka, Tangerang.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari & S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions Limited. 1-291+84 plates.
Kusnaedi, 2006. Mengelola Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum. Penebar Swadaya, Jakarta.
Matling dan Haryono, 2008. Jenis-Jenis Ikan Air Hitam Kalimantan Tengah. Central Kalimantan Peatlands Project. Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Palangka Raya.
Mudjiman, A., 1985. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ningsun, D. K., 2003. Pengaruh Padat Penebaran Yang Berbeda Dengan Pembiusan Gas CO2
Terhadap Sintasan Benih Ikan Nila GIFT (Orechromis niloticus Linn). Laporan Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Pudji RRSD. 2002. Pengaruh penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa Ikan Mas (Cyprinus carpio L) dalam bentuk emulsi tipe W/O terhadap perkembangan gonad Ikan Jambal Siam (Pangasius hypohthalmus): analisis procrustes [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Sucipto A. 2005. Broodstock Management Ikan Mas dan Nila. Depertemen Kelautan dan Perikanan Budidaya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Tawar Sukamandi (Laporan Hasil Penelitian). Tesis. Suriansyah. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor