Daftar Isi
TENTANG
GELIAT KOMED
GELIAT KOMED i1
2
6
8
4
10
13
16
14
MEREKAM KELAS
DALAM BINGKAI KAMERA
JADI GURU
JANGAN KUDET
JUKU CARD
DAN DENAH KECAMATANKU
MENGUKUR EFEKTIFITAS
MEDIA PEMBELAJARAN
APAPUN MATERINYA JADI MENARIK
DENGAN ADANYA MEDIA
AKU
ADALAH KOMED
GETAR ITU DATANG KETIKA
HENING MENEMANI
BAGAIMANA MEN
JADI
TENTANG GELIAT KOMED
GELIAT KOMED
TRIWULAN I
omunitas Guru Pembuat Media
Pem-belajaran (KOMED) adalah program
yang dibentuk Pusat Sumber Belajar
(PSB) sebagai wadah bagi guru - guru
untuk berkreasi dan berinovasi dalam
membuat media pembelajaran yang
berkualitas dan efektif dalam pembelaja
-ran.
KOMED berdiri sejak pertengahan 2014,
anggotanya semakin banyak di tahun
2016, guru – guru yang bergabung juga
semakin variatif, mulai dari guru TK
hingga SMP, mulai dari dalam kabupaten
Bogor hingga Jabodetabek. Banyak aktivi
-tas – aktivi-tas yang kami lakukan di
KOMED ini.
Dalam edisi Geliat KOMED pertama, kami
akan melaporkan kegiatan – kegiatan
yang telah dilakukan selama bulan Januari
hingga Maret 2016. Berita tentang
bagaimana guru – guru ikut dalam
berag-am pelatihan yang dilakukan selberag-ama
triwulan pertama akan kami tuangkan di
laporan kecil ini.
Sementara itu, cerita pembuatan media
pembelajaran akan dipaparkan oleh salah
satu anggota KOMED. Begitu juga
paparan pengalaman selama bergabung
di KOMED akan dikisahkan oleh salah satu
anggota yang cukup aktif.
MEREKAM KELAS DALAM
BINGKAI KAMERA
PELATIHAN
uru adalah salah satu profesi yang memiliki peluang banyak dalam merekam jejak
sejar-ah manusia, dalam hal ini adalsejar-ah siswa-sis-winya. Banyak kisah yang terjadi di dalam kelas di mana guru adalah saksinya. Namun cerita yang silih berganti, tidak akan dikenang sebagai apa-apa jika tidak dibingkai dalam tulisan atau foto yang mengabadikannya, hanya menjadi sebuah kesan dalam ingatan masing–masing warga kelas yang terlibat. Pilihannya ada dua, menulis atau memotret. Menulis sudah tentu menjadi sebuah keharusan bagi guru, terutama ketika ada tuntutan membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas), namun memotret sangat jarang diprioritaskan kecuali karena alasan dokumenta-si.
Tidak hanya soal saksi sejarah saja, guru merupa-kan manusia penuh kesempatan dalam berkreasi dan berinovasi membuat beragam metode, strategi dan media pembelajaran. Namun sayan-gnya, mengabadikan karya melalui foto masih
terpinggirkan dikalangan guru dan tak menjadi prioritas utama. Karena hal inilah Pusat Sumber Belajar mengajak para guru di Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) berkumpul di gedung Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan dalam rangka mempelajari pentingnya merekam cerita dan karya pada bingkai foto. Pada Kamis (31/03) para guru berkumpul untuk belajar seka-ligus praktik mengambil foto yang bagus dan berkualitas dengan menggunakan alat smart-phone.
“Foto bukan hanya sebuah dokumentasi, tetapi ia bicara sebuah kisah dan sejarah” ujar Andi Angger Sutawijaya, trainer pada pelatihan kala itu. Andi Angger sudah malang melintang di dunia fotografi dan ingin berbagi pengalamann-ya pada guru–guru terkait dunia fotografi. Dengan mengajarkan teknik serta praktik langsung pelatihan ini berlangsung seru. Untuk memotret karya atau aktivitas kelas harus ada pengkondisian dan metode–metode fotografi
guna menghasilkan foto yang berkualitas. Teknik tersebut dinamakan Entire Detail Frame Angel Time atau disingkat EDFAT, merupakan metode yang diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Telecommunication Arizona State University sebagai salah metode pemotre-tan untuk melatih cara pandang melihat sesuatu dengan detil yang tajam.
Metode EDFAT diuraikan ke dalam beberapa teknik di antaranya: Entire, Detail, Frame, Angel dan Time. Teknik Entire adalah bagaimana kita mengambil gambar secara menyeluruh tatkala melihat sebuah peristiwa. Detail artinya men-gambil gambar yang paling inti, mungkin kalau dalam paragraf dinamakan kalimat inti, di mana satu gambar dapat menjabarkan keseluruhan peristiwa. Frame adalah teknik mengambil gambar dengan menghadirkan sebuah frame untuk menghasilkan gambar yang akurat dan fokus, metode frame sangat cocok digunakan dalam mengambil karya media pembelajaran yang dihasilkan oleh guru–guru. Angel adalah teknik mengambil gambar dari sudut pandang yang diinginkan, misal dari atas-bawah atau kiri – kanan. Sedangkan Time adalah pengaturan waktu dalam mengambil gambar, hal ini sangat
penting karena terkait ketersediaan cahaya ketika mengambil gambar.
Tidak hanya bicara teori fotografi saja, pelatihan ini diwarnai dengan banyak aktivitas dan praktik mengambil gambar, utamanya mengambil foto media pembelajaran. Dalam mengambil foto media, guru tidak boleh asal ambil foto, melaink-an harus mencoba teknik EDFAT tadi dengmelaink-an tujuan mengambil satu foto media pembelajaran namun dapat menjelaskan secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan sehingga viewer (orang yang melihat foto) tahu media pembela-jaran itu untuk apa dan bagaimana cara menggu-nakannya. Pelatihan kali ini membuat peserta sangat antusias dan penasaran ingin segera men-coba praktik di kelas, bagaimana tidak? Umumn-ya orang sangat suka wajahnUmumn-ya berhadapan kamera, apalagi jika sudah tahu trik menghasil-kan foto yang bagus hanya menggunamenghasil-kan smart-phone. Sebuah cerita dan karya akan dibingkai dengan lebih mudah jika sudah mengetahui triknya.
‘Amati kehidupan bergerak seperti sungai diseki-tarmu, dan sadari bahwa fotomu bisa menjadi bagian dari sejarah kolektif’ -Eli Reed
uru adalah salah satu profesi yang memiliki peluang banyak dalam merekam jejak
sejar-ah manusia, dalam hal ini adalsejar-ah siswa-sis-winya. Banyak kisah yang terjadi di dalam kelas di mana guru adalah saksinya. Namun cerita yang silih berganti, tidak akan dikenang sebagai apa-apa jika tidak dibingkai dalam tulisan atau foto yang mengabadikannya, hanya menjadi sebuah kesan dalam ingatan masing–masing warga kelas yang terlibat. Pilihannya ada dua, menulis atau memotret. Menulis sudah tentu menjadi sebuah keharusan bagi guru, terutama ketika ada tuntutan membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas), namun memotret sangat jarang diprioritaskan kecuali karena alasan dokumenta-si.
Tidak hanya soal saksi sejarah saja, guru merupa-kan manusia penuh kesempatan dalam berkreasi dan berinovasi membuat beragam metode, strategi dan media pembelajaran. Namun sayan-gnya, mengabadikan karya melalui foto masih
terpinggirkan dikalangan guru dan tak menjadi prioritas utama. Karena hal inilah Pusat Sumber Belajar mengajak para guru di Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) berkumpul di gedung Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan dalam rangka mempelajari pentingnya merekam cerita dan karya pada bingkai foto. Pada Kamis (31/03) para guru berkumpul untuk belajar seka-ligus praktik mengambil foto yang bagus dan berkualitas dengan menggunakan alat smart-phone.
“Foto bukan hanya sebuah dokumentasi, tetapi ia bicara sebuah kisah dan sejarah” ujar Andi Angger Sutawijaya, trainer pada pelatihan kala itu. Andi Angger sudah malang melintang di dunia fotografi dan ingin berbagi pengalamann-ya pada guru–guru terkait dunia fotografi. Dengan mengajarkan teknik serta praktik langsung pelatihan ini berlangsung seru. Untuk memotret karya atau aktivitas kelas harus ada pengkondisian dan metode–metode fotografi
PELATIHAN
guna menghasilkan foto yang berkualitas. Teknik tersebut dinamakan Entire Detail Frame Angel Time atau disingkat EDFAT, merupakan metode yang diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Telecommunication Arizona State University sebagai salah metode pemotre-tan untuk melatih cara pandang melihat sesuatu dengan detil yang tajam.
Metode EDFAT diuraikan ke dalam beberapa teknik di antaranya: Entire, Detail, Frame, Angel dan Time. Teknik Entire adalah bagaimana kita mengambil gambar secara menyeluruh tatkala melihat sebuah peristiwa. Detail artinya men-gambil gambar yang paling inti, mungkin kalau dalam paragraf dinamakan kalimat inti, di mana satu gambar dapat menjabarkan keseluruhan peristiwa. Frame adalah teknik mengambil gambar dengan menghadirkan sebuah frame untuk menghasilkan gambar yang akurat dan fokus, metode frame sangat cocok digunakan dalam mengambil karya media pembelajaran yang dihasilkan oleh guru–guru. Angel adalah teknik mengambil gambar dari sudut pandang yang diinginkan, misal dari atas-bawah atau kiri – kanan. Sedangkan Time adalah pengaturan waktu dalam mengambil gambar, hal ini sangat
penting karena terkait ketersediaan cahaya ketika mengambil gambar.
Tidak hanya bicara teori fotografi saja, pelatihan ini diwarnai dengan banyak aktivitas dan praktik mengambil gambar, utamanya mengambil foto media pembelajaran. Dalam mengambil foto media, guru tidak boleh asal ambil foto, melaink-an harus mencoba teknik EDFAT tadi dengmelaink-an tujuan mengambil satu foto media pembelajaran namun dapat menjelaskan secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan sehingga viewer (orang yang melihat foto) tahu media pembela-jaran itu untuk apa dan bagaimana cara menggu-nakannya. Pelatihan kali ini membuat peserta sangat antusias dan penasaran ingin segera men-coba praktik di kelas, bagaimana tidak? Umumn-ya orang sangat suka wajahnUmumn-ya berhadapan kamera, apalagi jika sudah tahu trik menghasil-kan foto yang bagus hanya menggunamenghasil-kan smart-phone. Sebuah cerita dan karya akan dibingkai dengan lebih mudah jika sudah mengetahui triknya.
‘Amati kehidupan bergerak seperti sungai diseki-tarmu, dan sadari bahwa fotomu bisa menjadi bagian dari sejarah kolektif’ -Eli Reed
PELATIHAN
eorang anak perempuan, sekitar kelas 5 SD sedang duduk manis di angkot. Kepalanya
menunduk sedangkan jarinya lincah menyentuh gawai yang dipegangnya. Dari awal masuk angkot, tampaknya anak ini khusyuk memainkan games yang ada di gawainya, ia
luput memperhatikan lingkungan sekitarnya, tidak peduli ada bahaya disekitarnya.
Fenomena semacam ini bukanlah hal asing lagi,
hampir setiap orang memiliki ponsel pintar yang
disimpan di saku baju, tas atau bahkan menem-pel terus di jarinya, seolah sudah menyatu dengan kehidupan. Mulai dari usia SD hingga yang kakek nenek, ponsel pintar tampak lebih manarik untuk digunakan. Pun di dunia per-seko-lah-an, ada peraturan pun tak membuat gentar, para siswa menyembunyikan ponselnya dari
razia guru. Daripada kucing–kucingan lebih baik
mencarikan solusi bagaimana memanfaatkan ponsel pintar sebagai media belajar.
Namun tidak semua guru mahir atau terbiasa
menggunakan teknologi, dalam banyak kasus
para siswa lebih pintar menggunakan teknologi
daripada gurunya. Ketika guru memberikan
informasi pembelajaran dengan cara monoton, maka siswa memilih asik berkelana di dunia teknologi yang menyajikan beragam informasi dan games menarik. Di sinilah tantangannya, Jadi
Guru jangan Kudet alias jangan mau ketinggalan zaman. Memaksimalkan teknologi terkini mau tidak mau harus dilakukan.
Masalahnya, terkadang guru juga tidak tahu
caranya memaksimalkan teknologi untuk
kepentingan pembelajaran. Padahal salah satu
faktor yang menunjang keberhasilan proses KBM di sekolah formal adalah pemanfaatan dan peng-gunaan media dalam proses pembelajaran.
Itulah mengapa pemilihan media sangat penting dengan mempertimbangkan sasaran, penggu -naan dan relevansi situasi dan perkembangan
zaman. Media yang paling mutakhir dan cepat perkembangannya saat ini adalah Teknologi
Informasi dan Komunikasi. Berangkat dari mas-alah tersebut, maka KOMED (Komunitas Guru
Pembuat Media Pembelajaran) mengumpulkan para anggotanya yang terutama masih awam
dengan ICT (Information Communication Tech -nology) untuk belajar bersama di PSB pada 26 Februari 2016 di Pusat Sumber Belajar (PSB)
Dompet Dhuafa dalam pelatihan “Media Pembe -lajaran Digital”.
Pelatihan pun dimulai dengan ice breaking dan
dilanjutkan dengan memberikan pemahaman
apa itu ICT (Information, Communication and Technology). ICT merupakan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara
umum adalah semua bagian diantaranya yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpu-lan (akuisisi), pengolahan, penyimpanan, penye-baran, dan penyajian dari sebuah informasi
(Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006).
Pak Iwan Sahrudin yang lebih akrab disapa kang Iwan membuat gerakan unik untuk menghafal
pengertian ICT. Iwan Sahrudin adalah praktisi yang fokus menggeluti bidang media pembelaja -ran digital.
Untuk mempersempit bahasan serta menambah
keterampilan para guru, Kang Iwan mengajarkan membuat media pembelajaran menggunakan
Microsoft Power Point. Mengapa memilih aplika
-si ini? Aplika-si ini sering digunakan oleh guru dan dapat ditemukan pada setiap laptop atau PC, yang biasanya hanya digunakan untuk kepentin -gan presentasi.
Dengan menggunakan 4 prinsip penyajian infor-masi, kang Iwan Sahrudin mulai mendampingi masing–masing guru membuat media pembela-jaran menggunakan power point. Empat prinsip tersebut adalah: unity, di mana gambar, warna dasar dan font harus relevan dan seragam
dengan tema. Composition, berkaitan dengan
tata letak teks dan pengaturan gambar, mulai dari pengaturan urutan baca hingga meminimal-isasi ruang kosong. Emphasis, memberikan
penekanan pada teks yang menjadi inti bahasan
dengan mengatur besar, jenis dan warna font. Balancing, yaitu pengaturan warna backround dengan teks, teks dengan gambar.
Tidak hanya 4 prinsip tersebut yang diajarkan pada pelatihan ini, teknik pengambilan gambar,
video, suara hingga memberikan efek–efek lainnya pada power pointpun diajarkan pada
pelatihan ini. Jelas sekali guru tertantang mem
-buat presentasi yang bagus. Ketika pelatihan
selesai, beberapa di antara para peserta bahkan
masih asik mengotak – atik saking penasaran. Terlihat ada optimisme bahwa guru – guru ini tidak akan mengabaikan teknologi lagi untuk
dipakai dalam pembelajaran. Butuh dampingan dua hingga empat kali lagi, maka guru akan mampu memanfaatkan media pembelajaran digital.
PELATIHAN
JADI GURU JANGAN KUDET
Untuk memberi tahu, maka
harus tahu ilmunya dulu.
Agar bisa memberikan
keterampilan,maka
kudu terampil dulu.
Resiko jadi guru
harus mau
berguru.
“
”
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah bersiap berangkat ke sekolah, namun padaJum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
eorang anak perempuan, sekitar kelas 5 SD sedang duduk manis di angkot. Kepalanya
menunduk sedangkan jarinya lincah menyentuh gawai yang dipegangnya. Dari awal masuk angkot, tampaknya anak ini khusyuk memainkan games yang ada di gawainya, ia
luput memperhatikan lingkungan sekitarnya, tidak peduli ada bahaya disekitarnya.
Fenomena semacam ini bukanlah hal asing lagi,
hampir setiap orang memiliki ponsel pintar yang
disimpan di saku baju, tas atau bahkan menem-pel terus di jarinya, seolah sudah menyatu dengan kehidupan. Mulai dari usia SD hingga yang kakek nenek, ponsel pintar tampak lebih manarik untuk digunakan. Pun di dunia per-seko-lah-an, ada peraturan pun tak membuat gentar, para siswa menyembunyikan ponselnya dari
razia guru. Daripada kucing–kucingan lebih baik
mencarikan solusi bagaimana memanfaatkan ponsel pintar sebagai media belajar.
Namun tidak semua guru mahir atau terbiasa
menggunakan teknologi, dalam banyak kasus
para siswa lebih pintar menggunakan teknologi
daripada gurunya. Ketika guru memberikan
informasi pembelajaran dengan cara monoton, maka siswa memilih asik berkelana di dunia teknologi yang menyajikan beragam informasi dan games menarik. Di sinilah tantangannya, Jadi
Guru jangan Kudet alias jangan mau ketinggalan zaman. Memaksimalkan teknologi terkini mau tidak mau harus dilakukan.
Masalahnya, terkadang guru juga tidak tahu
caranya memaksimalkan teknologi untuk
kepentingan pembelajaran. Padahal salah satu
faktor yang menunjang keberhasilan proses KBM di sekolah formal adalah pemanfaatan dan peng-gunaan media dalam proses pembelajaran.
Itulah mengapa pemilihan media sangat penting dengan mempertimbangkan sasaran, penggu -naan dan relevansi situasi dan perkembangan
zaman. Media yang paling mutakhir dan cepat perkembangannya saat ini adalah Teknologi
Informasi dan Komunikasi. Berangkat dari mas-alah tersebut, maka KOMED (Komunitas Guru
Pembuat Media Pembelajaran) mengumpulkan para anggotanya yang terutama masih awam
dengan ICT (Information Communication Tech -nology) untuk belajar bersama di PSB pada 26 Februari 2016 di Pusat Sumber Belajar (PSB)
Dompet Dhuafa dalam pelatihan “Media Pembe -lajaran Digital”.
Pelatihan pun dimulai dengan ice breaking dan
dilanjutkan dengan memberikan pemahaman
apa itu ICT (Information, Communication and Technology). ICT merupakan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara
umum adalah semua bagian diantaranya yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpu-lan (akuisisi), pengolahan, penyimpanan, penye-baran, dan penyajian dari sebuah informasi
(Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006).
Pak Iwan Sahrudin yang lebih akrab disapa kang Iwan membuat gerakan unik untuk menghafal
pengertian ICT. Iwan Sahrudin adalah praktisi yang fokus menggeluti bidang media pembelaja -ran digital.
Untuk mempersempit bahasan serta menambah
keterampilan para guru, Kang Iwan mengajarkan membuat media pembelajaran menggunakan
Microsoft Power Point. Mengapa memilih aplika
-si ini? Aplika-si ini sering digunakan oleh guru dan dapat ditemukan pada setiap laptop atau PC, yang biasanya hanya digunakan untuk kepentin -gan presentasi.
Dengan menggunakan 4 prinsip penyajian infor-masi, kang Iwan Sahrudin mulai mendampingi masing–masing guru membuat media pembela-jaran menggunakan power point. Empat prinsip tersebut adalah: unity, di mana gambar, warna dasar dan font harus relevan dan seragam
dengan tema. Composition, berkaitan dengan
tata letak teks dan pengaturan gambar, mulai dari pengaturan urutan baca hingga meminimal-isasi ruang kosong. Emphasis, memberikan
penekanan pada teks yang menjadi inti bahasan
dengan mengatur besar, jenis dan warna font. Balancing, yaitu pengaturan warna backround dengan teks, teks dengan gambar.
Tidak hanya 4 prinsip tersebut yang diajarkan pada pelatihan ini, teknik pengambilan gambar,
video, suara hingga memberikan efek–efek lainnya pada power pointpun diajarkan pada
pelatihan ini. Jelas sekali guru tertantang mem
-buat presentasi yang bagus. Ketika pelatihan
selesai, beberapa di antara para peserta bahkan
masih asik mengotak – atik saking penasaran. Terlihat ada optimisme bahwa guru – guru ini tidak akan mengabaikan teknologi lagi untuk
dipakai dalam pembelajaran. Butuh dampingan dua hingga empat kali lagi, maka guru akan mampu memanfaatkan media pembelajaran digital.
PELATIHAN
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
eski hari mendung dan kurang mendukung, dua puluh satu guru dari beragam SD/MI Kab. Bogor tak surut semangat melangkah-kan kaki ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa pada Sabtu, 20 Februari 2016, PSB yang biasanya sepi mulai ramai saat waktu menunjuk-kan pukul satu siang , guru – guru mulai berdatangan dengan penuh semangat, satu dua orang diantara mereka tampak kelelahan karena aktivitas pagi yang padat di sekolahan, namun terlihat jelas motivasi belajar yang tidak kenal lelah dan waktu.
Menghadiri “Workshop Membuat Media Pem-belajaran Juku (Jumlah Kurang) Card dan Denah Kecamatanku “ itulah tujuan mereka berkumpul saat itu, mereka ingin belajar dari sesama rekan guru bagaimana membuat sebuah media yang
efektif, murah dan menyenangkan.
Guru mulai serius saat mendengarkan presentasi media pembelajaran Juku Card yang disam-paikan oleh bu Widati yang merupakan salah satu anggota KOMED dari SDN Putat Nutug 04 kec. Ciseeng , Juku (Jumlah Kurang) card merupa-kan media pembelajaran sederhana dan murah terbuat dari bahan karton dengan modal biaya kurang dari Rp. 5000, namun media ini disulap semenarik mungkin dengan menciptakan aturan permainan seperti anak – anak bermain kartu. “Sedih sekali menerima kenyataan bahwa anak – anak kelas 4 SD kesulitan belajar matematika terutama belajar bilangan positif dan negatif”, ujar bu widati. Alasan itulah yang kemudian melatar belakangi pembuatan Juku Card.
77% bahan Juku Card berkategori layak, dari segi
WORKSHOP
JUKU CARD DAN DENAH KECAMATANKU
tampilan menurut responden terdapat di kate-gori sangat layak dengan nilai 90%, dari segi peran mencapai angkai 91 % artinya sangat layak, sedangkan dari segi harga mencapai angka 100 %, sangat layak. Data tersebut diambil dari riset uji kelayakan yang dilakukan di 3 sekolah yaitu SDN Karikhil 02, SDN Bambu Kuning dan SDN Baitunnisa, responden merupakan siswa kelas 4 dan guru kelas 4, dengan total jumlah 81 responden , riset tersebut dilakukan pada tang-gal 16 – 18 Februari 2016. Secara umum Juku Card memberikan dampak yang cukup siginifikan pada hasil belajar siswa, terlihat dari hasil evalu-asi siswa yang meningkat, begitu juga dengan motivasi siswa, siswa sangat semangat dan antu-sias selama pembelajaran ketika menggunakan Juku Card.
Semangat tidak hanya berhenti pada siswa, guru – guru yang mengikuti workshop juga tambah semangat untuk membuat reflikasi Juku Card, mereka mulai menggunting karton dan mem-buat permainan kartu yang disesuaikan dengan materi pelajaran yang mereka ajarkan di kelas. Media “Denah kecamatanku” yang dipresenta-sikan oleh bu Euis Fitriyah juga tidak kalah menarik, bu Euis merupakan salah satu guru di SDS Baitunnisa Kec. Ciseeng. Denah Keca-matanku merupakan media yang dibuat untuk
mempermudah guru menyampaikan materi bahasa Indonesia dan IPS materi arah mata angin, dengan media ini siswa dapat melihat model nyata sebuah kecamatan melalui minia-ture kecil yang menarik.
Hasi dari riset uji kelayakan untuk media “Denah Kecamatanku” yang diujikan di 2 sekolah dengan 80 responden siswa dan guru kelas 4, terdapat presentase 69% untuk kategori bahan yang artin-ya media ini laartin-yak digunakan, 76% dari indikator tampilan berkategori layak dan 88% media terse-but sangat layak menurut indikator peran. Dengan media “Denah Kecamatanku” siswa seolah – olah bisa melihat bagaimana keadaan tata kecamatannya dari jarak dekat, mereka bisa belajar secara real letak – letak dan arah gedung satu dengan gedung lainnya. Tak ayal lagi, media ini juga memberikan inspirasi bagi guru – guru lain yang ikut di workshop tersebut.
Workshop berjalan dengan lancar dan riang dari awal hingga akhir, sebuah nyanyian motivasi yang dipersembahkan oleh bu Euis Fitriyah men-gakhiri pertemuan workshop saat itu.
“aku percaya…aku pasti bisa…bi-sa Akupun tahu aku pasti bisa…bi-sa Asalkan berusaha jangan lupa berdo’a Aku…pasti bisa
Bisa..bisa…yess”
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
eski hari mendung dan kurang mendukung, dua puluh satu guru dari beragam SD/MI Kab. Bogor tak surut semangat melangkah-kan kaki ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa pada Sabtu, 20 Februari 2016, PSB yang biasanya sepi mulai ramai saat waktu menunjuk-kan pukul satu siang , guru – guru mulai berdatangan dengan penuh semangat, satu dua orang diantara mereka tampak kelelahan karena aktivitas pagi yang padat di sekolahan, namun terlihat jelas motivasi belajar yang tidak kenal lelah dan waktu.
Menghadiri “Workshop Membuat Media Pem-belajaran Juku (Jumlah Kurang) Card dan Denah Kecamatanku “ itulah tujuan mereka berkumpul saat itu, mereka ingin belajar dari sesama rekan guru bagaimana membuat sebuah media yang
efektif, murah dan menyenangkan.
Guru mulai serius saat mendengarkan presentasi media pembelajaran Juku Card yang disam-paikan oleh bu Widati yang merupakan salah satu anggota KOMED dari SDN Putat Nutug 04 kec. Ciseeng , Juku (Jumlah Kurang) card merupa-kan media pembelajaran sederhana dan murah terbuat dari bahan karton dengan modal biaya kurang dari Rp. 5000, namun media ini disulap semenarik mungkin dengan menciptakan aturan permainan seperti anak – anak bermain kartu. “Sedih sekali menerima kenyataan bahwa anak – anak kelas 4 SD kesulitan belajar matematika terutama belajar bilangan positif dan negatif”, ujar bu widati. Alasan itulah yang kemudian melatar belakangi pembuatan Juku Card.
77% bahan Juku Card berkategori layak, dari segi
tampilan menurut responden terdapat di kate-gori sangat layak dengan nilai 90%, dari segi peran mencapai angkai 91 % artinya sangat layak, sedangkan dari segi harga mencapai angka 100 %, sangat layak. Data tersebut diambil dari riset uji kelayakan yang dilakukan di 3 sekolah yaitu SDN Karikhil 02, SDN Bambu Kuning dan SDN Baitunnisa, responden merupakan siswa kelas 4 dan guru kelas 4, dengan total jumlah 81 responden , riset tersebut dilakukan pada tang-gal 16 – 18 Februari 2016. Secara umum Juku Card memberikan dampak yang cukup siginifikan pada hasil belajar siswa, terlihat dari hasil evalu-asi siswa yang meningkat, begitu juga dengan motivasi siswa, siswa sangat semangat dan antu-sias selama pembelajaran ketika menggunakan Juku Card.
Semangat tidak hanya berhenti pada siswa, guru – guru yang mengikuti workshop juga tambah semangat untuk membuat reflikasi Juku Card, mereka mulai menggunting karton dan mem-buat permainan kartu yang disesuaikan dengan materi pelajaran yang mereka ajarkan di kelas. Media “Denah kecamatanku” yang dipresenta-sikan oleh bu Euis Fitriyah juga tidak kalah menarik, bu Euis merupakan salah satu guru di SDS Baitunnisa Kec. Ciseeng. Denah Keca-matanku merupakan media yang dibuat untuk
mempermudah guru menyampaikan materi bahasa Indonesia dan IPS materi arah mata angin, dengan media ini siswa dapat melihat model nyata sebuah kecamatan melalui minia-ture kecil yang menarik.
Hasi dari riset uji kelayakan untuk media “Denah Kecamatanku” yang diujikan di 2 sekolah dengan 80 responden siswa dan guru kelas 4, terdapat presentase 69% untuk kategori bahan yang artin-ya media ini laartin-yak digunakan, 76% dari indikator tampilan berkategori layak dan 88% media terse-but sangat layak menurut indikator peran. Dengan media “Denah Kecamatanku” siswa seolah – olah bisa melihat bagaimana keadaan tata kecamatannya dari jarak dekat, mereka bisa belajar secara real letak – letak dan arah gedung satu dengan gedung lainnya. Tak ayal lagi, media ini juga memberikan inspirasi bagi guru – guru lain yang ikut di workshop tersebut.
Workshop berjalan dengan lancar dan riang dari awal hingga akhir, sebuah nyanyian motivasi yang dipersembahkan oleh bu Euis Fitriyah men-gakhiri pertemuan workshop saat itu.
“aku percaya…aku pasti bisa…bi-sa Akupun tahu aku pasti bisa…bi-sa Asalkan berusaha jangan lupa berdo’a Aku…pasti bisa
Bisa..bisa…yess”
WORKSHOP
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
MENGUKUR EFEKTIFITAS
MEDIA PEMBELAJARAN
PELATIHAN
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
PELATIHAN
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
KARYA KOMED TRIWULAN I
APAPUN MATERINYA
JADI MENARIK DENGAN
ADANYA MEDIA
etelah mengikuti beberapa pelatihan
dan pendampingan, akhirnya guru – guru KOMED menelurkan beberapa karya media pembelajaran. Dengan beragam tantangan, baik waktu, kemauan maupun kemampuan lahirlah 35 karya media pembelajaran yang sudah digunakan di kelas.
Minimnya alat dan bahan pembuatan media
tidak menjadi kendala, barang bekas atau
pinjam peralatan ke anggota lain menjadi cerita yang menarik. Apapun alat dan bahan yang
tersedia, dengan kreativitas akan menghasilkan
media yang berguna, apapun materi
pelajarann-ya media pembelajaran akan membuat aktivitas
KBM menjadi menarik dan berbeda.
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
KARYA KOMED TRIWULAN I
Berikut ini kami tampilkan 15 karya media pembelajaran dari total 35 karya yang dihasilkan :
TALI PAS
Mengenal Beragam bidang pekerjaan hanya dengan tali,
tinggal cocokkan lalu pasang.
_Kelas 3 SD_
BALU DONK
Menyenangkannya belajar pecahan hanya menggu-nakan donat besar _Kelas 4 SD_ KANTONG AJAIB Membawa doraemon ke kelas akan membuat siswa penasaran, belajar Tarikh menjadi lebih riang _Kelas IV SD_ CHAMPION STARS
Siswa tidak perlu horor lagi belajar matematika, teruta -ma operasi bilangan campu-ran.
_Kelas VI SD_
DENAH KECAMATANKU
Mengenal desa dan keca-matan sendiri melalui minia-tur/maket sederhana. Belajar arah dan deskripsi
arahpun tidak serumit yang
dibayangkan _Kelas 4 SD_
KARTU AJAIB
Belajar tajwid tidak lagi
rumit, ada kartu ajaib yang
akan membantu mengerti
materi tersebut _Kelas 2 SD_
JAM SI DUKU
Belajar sudut dan waktu dari jam karakter membuat siswa
lebih menantikan pembelaja -ran
_Kelas 4 SD_
JUKU CARD
Dalam suasana santai sekali-pun, anak – anak masih bisa belajar bilangan bulat
dengan menggunakan media ini
_Kelas 4 SD_
utinitas seorang guru di setiap pagi adalah
bersiap berangkat ke sekolah, namun pada
Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan
berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.
Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru
ini membuktikannya bahwa
Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja ………
Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke
sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi
raport, dan terus menerus aktivitas tersebut
berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak
aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan
meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting
sekali guru bergabung dengan komunitas dan
mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca
literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.
Tidak hanya melihat murid senang lantas kita
berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh
mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam
guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah
ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar
pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.
Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk
pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –
asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.
Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap
keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh
dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha
-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,
dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta
terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,
bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.
Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,
Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem
-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.
Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka
definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.
Di sesi presentasi masing – masing kelompok
saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor
setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.
Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia
juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.
KARYA KOMED TRIWULAN I
PPA
Siswa akan dibuat penasaran untuk menyusun kepingan
puzzle perjalanan si air
_Kelas 5 SD_
MONO TEMPER
Seperangkat media untuk beragam materi yang dike-mas semenarik mungkin dalam sebuah permainan _Kelas 3 SD_
KUARTET SEJARAH
Dengan media ini serasa masuk ke masa lalu dan berkenalan dengan tokoh – tokoh nasional
_Kelas 5 SD_
SAPULING
Atasi kebingungan siswa dalam belajar satuan pulu-han menggunakan media
SAPULING
_Kelas 2 SD_
MONOPOLI KENAMPAKAN ALAM
Menyulap lantai menjadi
media interaktif belajar
kenampakan alam _Kelas 5 SD_
KEONG KALBA
Belajar huruf hijaiyah
bersa-ma seekor keong ? Pasti anak
– anak akan lebih penasaran _Kelas 1 SD_
ALBID ALMUFRODAT Sekeranjang telur cantik
berisi informasi kosa kata bhs. Arab
_Kelas 2 SD_