• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Isi 1 TENTANG GELIAT KOMED APAPUN MATERINYA JADI MENARIK DENGAN ADANYA MEDIA MEREKAM KELAS DALAM BINGKAI KAMERA AKU ADALAH KOMED

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Daftar Isi 1 TENTANG GELIAT KOMED APAPUN MATERINYA JADI MENARIK DENGAN ADANYA MEDIA MEREKAM KELAS DALAM BINGKAI KAMERA AKU ADALAH KOMED"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Daftar Isi

TENTANG

GELIAT KOMED

GELIAT KOMED i

1

2

6

8

4

10

13

16

14

MEREKAM KELAS

DALAM BINGKAI KAMERA

JADI GURU

JANGAN KUDET

JUKU CARD

DAN DENAH KECAMATANKU

MENGUKUR EFEKTIFITAS

MEDIA PEMBELAJARAN

APAPUN MATERINYA JADI MENARIK

DENGAN ADANYA MEDIA

AKU

ADALAH KOMED

GETAR ITU DATANG KETIKA

HENING MENEMANI

BAGAIMANA MEN

JADI

(3)

TENTANG GELIAT KOMED

GELIAT KOMED

TRIWULAN I

omunitas Guru Pembuat Media

Pem-belajaran (KOMED) adalah program

yang dibentuk Pusat Sumber Belajar

(PSB) sebagai wadah bagi guru - guru

untuk berkreasi dan berinovasi dalam

membuat media pembelajaran yang

berkualitas dan efektif dalam pembelaja

-ran.

KOMED berdiri sejak pertengahan 2014,

anggotanya semakin banyak di tahun

2016, guru – guru yang bergabung juga

semakin variatif, mulai dari guru TK

hingga SMP, mulai dari dalam kabupaten

Bogor hingga Jabodetabek. Banyak aktivi

-tas – aktivi-tas yang kami lakukan di

KOMED ini.

Dalam edisi Geliat KOMED pertama, kami

akan melaporkan kegiatan – kegiatan

yang telah dilakukan selama bulan Januari

hingga Maret 2016. Berita tentang

bagaimana guru – guru ikut dalam

berag-am pelatihan yang dilakukan selberag-ama

triwulan pertama akan kami tuangkan di

laporan kecil ini.

Sementara itu, cerita pembuatan media

pembelajaran akan dipaparkan oleh salah

satu anggota KOMED. Begitu juga

paparan pengalaman selama bergabung

di KOMED akan dikisahkan oleh salah satu

anggota yang cukup aktif.

(4)

MEREKAM KELAS DALAM

BINGKAI KAMERA

PELATIHAN

uru adalah salah satu profesi yang memiliki peluang banyak dalam merekam jejak

sejar-ah manusia, dalam hal ini adalsejar-ah siswa-sis-winya. Banyak kisah yang terjadi di dalam kelas di mana guru adalah saksinya. Namun cerita yang silih berganti, tidak akan dikenang sebagai apa-apa jika tidak dibingkai dalam tulisan atau foto yang mengabadikannya, hanya menjadi sebuah kesan dalam ingatan masing–masing warga kelas yang terlibat. Pilihannya ada dua, menulis atau memotret. Menulis sudah tentu menjadi sebuah keharusan bagi guru, terutama ketika ada tuntutan membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas), namun memotret sangat jarang diprioritaskan kecuali karena alasan dokumenta-si.

Tidak hanya soal saksi sejarah saja, guru merupa-kan manusia penuh kesempatan dalam berkreasi dan berinovasi membuat beragam metode, strategi dan media pembelajaran. Namun sayan-gnya, mengabadikan karya melalui foto masih

terpinggirkan dikalangan guru dan tak menjadi prioritas utama. Karena hal inilah Pusat Sumber Belajar mengajak para guru di Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) berkumpul di gedung Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan dalam rangka mempelajari pentingnya merekam cerita dan karya pada bingkai foto. Pada Kamis (31/03) para guru berkumpul untuk belajar seka-ligus praktik mengambil foto yang bagus dan berkualitas dengan menggunakan alat smart-phone.

“Foto bukan hanya sebuah dokumentasi, tetapi ia bicara sebuah kisah dan sejarah” ujar Andi Angger Sutawijaya, trainer pada pelatihan kala itu. Andi Angger sudah malang melintang di dunia fotografi dan ingin berbagi pengalamann-ya pada guru–guru terkait dunia fotografi. Dengan mengajarkan teknik serta praktik langsung pelatihan ini berlangsung seru. Untuk memotret karya atau aktivitas kelas harus ada pengkondisian dan metode–metode fotografi

guna menghasilkan foto yang berkualitas. Teknik tersebut dinamakan Entire Detail Frame Angel Time atau disingkat EDFAT, merupakan metode yang diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Telecommunication Arizona State University sebagai salah metode pemotre-tan untuk melatih cara pandang melihat sesuatu dengan detil yang tajam.

Metode EDFAT diuraikan ke dalam beberapa teknik di antaranya: Entire, Detail, Frame, Angel dan Time. Teknik Entire adalah bagaimana kita mengambil gambar secara menyeluruh tatkala melihat sebuah peristiwa. Detail artinya men-gambil gambar yang paling inti, mungkin kalau dalam paragraf dinamakan kalimat inti, di mana satu gambar dapat menjabarkan keseluruhan peristiwa. Frame adalah teknik mengambil gambar dengan menghadirkan sebuah frame untuk menghasilkan gambar yang akurat dan fokus, metode frame sangat cocok digunakan dalam mengambil karya media pembelajaran yang dihasilkan oleh guru–guru. Angel adalah teknik mengambil gambar dari sudut pandang yang diinginkan, misal dari atas-bawah atau kiri – kanan. Sedangkan Time adalah pengaturan waktu dalam mengambil gambar, hal ini sangat

penting karena terkait ketersediaan cahaya ketika mengambil gambar.

Tidak hanya bicara teori fotografi saja, pelatihan ini diwarnai dengan banyak aktivitas dan praktik mengambil gambar, utamanya mengambil foto media pembelajaran. Dalam mengambil foto media, guru tidak boleh asal ambil foto, melaink-an harus mencoba teknik EDFAT tadi dengmelaink-an tujuan mengambil satu foto media pembelajaran namun dapat menjelaskan secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan sehingga viewer (orang yang melihat foto) tahu media pembela-jaran itu untuk apa dan bagaimana cara menggu-nakannya. Pelatihan kali ini membuat peserta sangat antusias dan penasaran ingin segera men-coba praktik di kelas, bagaimana tidak? Umumn-ya orang sangat suka wajahnUmumn-ya berhadapan kamera, apalagi jika sudah tahu trik menghasil-kan foto yang bagus hanya menggunamenghasil-kan smart-phone. Sebuah cerita dan karya akan dibingkai dengan lebih mudah jika sudah mengetahui triknya.

‘Amati kehidupan bergerak seperti sungai diseki-tarmu, dan sadari bahwa fotomu bisa menjadi bagian dari sejarah kolektif’ -Eli Reed

(5)

uru adalah salah satu profesi yang memiliki peluang banyak dalam merekam jejak

sejar-ah manusia, dalam hal ini adalsejar-ah siswa-sis-winya. Banyak kisah yang terjadi di dalam kelas di mana guru adalah saksinya. Namun cerita yang silih berganti, tidak akan dikenang sebagai apa-apa jika tidak dibingkai dalam tulisan atau foto yang mengabadikannya, hanya menjadi sebuah kesan dalam ingatan masing–masing warga kelas yang terlibat. Pilihannya ada dua, menulis atau memotret. Menulis sudah tentu menjadi sebuah keharusan bagi guru, terutama ketika ada tuntutan membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas), namun memotret sangat jarang diprioritaskan kecuali karena alasan dokumenta-si.

Tidak hanya soal saksi sejarah saja, guru merupa-kan manusia penuh kesempatan dalam berkreasi dan berinovasi membuat beragam metode, strategi dan media pembelajaran. Namun sayan-gnya, mengabadikan karya melalui foto masih

terpinggirkan dikalangan guru dan tak menjadi prioritas utama. Karena hal inilah Pusat Sumber Belajar mengajak para guru di Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) berkumpul di gedung Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan dalam rangka mempelajari pentingnya merekam cerita dan karya pada bingkai foto. Pada Kamis (31/03) para guru berkumpul untuk belajar seka-ligus praktik mengambil foto yang bagus dan berkualitas dengan menggunakan alat smart-phone.

“Foto bukan hanya sebuah dokumentasi, tetapi ia bicara sebuah kisah dan sejarah” ujar Andi Angger Sutawijaya, trainer pada pelatihan kala itu. Andi Angger sudah malang melintang di dunia fotografi dan ingin berbagi pengalamann-ya pada guru–guru terkait dunia fotografi. Dengan mengajarkan teknik serta praktik langsung pelatihan ini berlangsung seru. Untuk memotret karya atau aktivitas kelas harus ada pengkondisian dan metode–metode fotografi

PELATIHAN

guna menghasilkan foto yang berkualitas. Teknik tersebut dinamakan Entire Detail Frame Angel Time atau disingkat EDFAT, merupakan metode yang diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Telecommunication Arizona State University sebagai salah metode pemotre-tan untuk melatih cara pandang melihat sesuatu dengan detil yang tajam.

Metode EDFAT diuraikan ke dalam beberapa teknik di antaranya: Entire, Detail, Frame, Angel dan Time. Teknik Entire adalah bagaimana kita mengambil gambar secara menyeluruh tatkala melihat sebuah peristiwa. Detail artinya men-gambil gambar yang paling inti, mungkin kalau dalam paragraf dinamakan kalimat inti, di mana satu gambar dapat menjabarkan keseluruhan peristiwa. Frame adalah teknik mengambil gambar dengan menghadirkan sebuah frame untuk menghasilkan gambar yang akurat dan fokus, metode frame sangat cocok digunakan dalam mengambil karya media pembelajaran yang dihasilkan oleh guru–guru. Angel adalah teknik mengambil gambar dari sudut pandang yang diinginkan, misal dari atas-bawah atau kiri – kanan. Sedangkan Time adalah pengaturan waktu dalam mengambil gambar, hal ini sangat

penting karena terkait ketersediaan cahaya ketika mengambil gambar.

Tidak hanya bicara teori fotografi saja, pelatihan ini diwarnai dengan banyak aktivitas dan praktik mengambil gambar, utamanya mengambil foto media pembelajaran. Dalam mengambil foto media, guru tidak boleh asal ambil foto, melaink-an harus mencoba teknik EDFAT tadi dengmelaink-an tujuan mengambil satu foto media pembelajaran namun dapat menjelaskan secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan sehingga viewer (orang yang melihat foto) tahu media pembela-jaran itu untuk apa dan bagaimana cara menggu-nakannya. Pelatihan kali ini membuat peserta sangat antusias dan penasaran ingin segera men-coba praktik di kelas, bagaimana tidak? Umumn-ya orang sangat suka wajahnUmumn-ya berhadapan kamera, apalagi jika sudah tahu trik menghasil-kan foto yang bagus hanya menggunamenghasil-kan smart-phone. Sebuah cerita dan karya akan dibingkai dengan lebih mudah jika sudah mengetahui triknya.

‘Amati kehidupan bergerak seperti sungai diseki-tarmu, dan sadari bahwa fotomu bisa menjadi bagian dari sejarah kolektif’ -Eli Reed

PELATIHAN

(6)

eorang anak perempuan, sekitar kelas 5 SD sedang duduk manis di angkot. Kepalanya

menunduk sedangkan jarinya lincah menyentuh gawai yang dipegangnya. Dari awal masuk angkot, tampaknya anak ini khusyuk memainkan games yang ada di gawainya, ia

luput memperhatikan lingkungan sekitarnya, tidak peduli ada bahaya disekitarnya.

Fenomena semacam ini bukanlah hal asing lagi,

hampir setiap orang memiliki ponsel pintar yang

disimpan di saku baju, tas atau bahkan menem-pel terus di jarinya, seolah sudah menyatu dengan kehidupan. Mulai dari usia SD hingga yang kakek nenek, ponsel pintar tampak lebih manarik untuk digunakan. Pun di dunia per-seko-lah-an, ada peraturan pun tak membuat gentar, para siswa menyembunyikan ponselnya dari

razia guru. Daripada kucing–kucingan lebih baik

mencarikan solusi bagaimana memanfaatkan ponsel pintar sebagai media belajar.

Namun tidak semua guru mahir atau terbiasa

menggunakan teknologi, dalam banyak kasus

para siswa lebih pintar menggunakan teknologi

daripada gurunya. Ketika guru memberikan

informasi pembelajaran dengan cara monoton, maka siswa memilih asik berkelana di dunia teknologi yang menyajikan beragam informasi dan games menarik. Di sinilah tantangannya, Jadi

Guru jangan Kudet alias jangan mau ketinggalan zaman. Memaksimalkan teknologi terkini mau tidak mau harus dilakukan.

Masalahnya, terkadang guru juga tidak tahu

caranya memaksimalkan teknologi untuk

kepentingan pembelajaran. Padahal salah satu

faktor yang menunjang keberhasilan proses KBM di sekolah formal adalah pemanfaatan dan peng-gunaan media dalam proses pembelajaran.

Itulah mengapa pemilihan media sangat penting dengan mempertimbangkan sasaran, penggu -naan dan relevansi situasi dan perkembangan

zaman. Media yang paling mutakhir dan cepat perkembangannya saat ini adalah Teknologi

Informasi dan Komunikasi. Berangkat dari mas-alah tersebut, maka KOMED (Komunitas Guru

Pembuat Media Pembelajaran) mengumpulkan para anggotanya yang terutama masih awam

dengan ICT (Information Communication Tech -nology) untuk belajar bersama di PSB pada 26 Februari 2016 di Pusat Sumber Belajar (PSB)

Dompet Dhuafa dalam pelatihan “Media Pembe -lajaran Digital”.

Pelatihan pun dimulai dengan ice breaking dan

dilanjutkan dengan memberikan pemahaman

apa itu ICT (Information, Communication and Technology). ICT merupakan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara

umum adalah semua bagian diantaranya yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpu-lan (akuisisi), pengolahan, penyimpanan, penye-baran, dan penyajian dari sebuah informasi

(Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006).

Pak Iwan Sahrudin yang lebih akrab disapa kang Iwan membuat gerakan unik untuk menghafal

pengertian ICT. Iwan Sahrudin adalah praktisi yang fokus menggeluti bidang media pembelaja -ran digital.

Untuk mempersempit bahasan serta menambah

keterampilan para guru, Kang Iwan mengajarkan membuat media pembelajaran menggunakan

Microsoft Power Point. Mengapa memilih aplika

-si ini? Aplika-si ini sering digunakan oleh guru dan dapat ditemukan pada setiap laptop atau PC, yang biasanya hanya digunakan untuk kepentin -gan presentasi.

Dengan menggunakan 4 prinsip penyajian infor-masi, kang Iwan Sahrudin mulai mendampingi masing–masing guru membuat media pembela-jaran menggunakan power point. Empat prinsip tersebut adalah: unity, di mana gambar, warna dasar dan font harus relevan dan seragam

dengan tema. Composition, berkaitan dengan

tata letak teks dan pengaturan gambar, mulai dari pengaturan urutan baca hingga meminimal-isasi ruang kosong. Emphasis, memberikan

penekanan pada teks yang menjadi inti bahasan

dengan mengatur besar, jenis dan warna font. Balancing, yaitu pengaturan warna backround dengan teks, teks dengan gambar.

Tidak hanya 4 prinsip tersebut yang diajarkan pada pelatihan ini, teknik pengambilan gambar,

video, suara hingga memberikan efek–efek lainnya pada power pointpun diajarkan pada

pelatihan ini. Jelas sekali guru tertantang mem

-buat presentasi yang bagus. Ketika pelatihan

selesai, beberapa di antara para peserta bahkan

masih asik mengotak – atik saking penasaran. Terlihat ada optimisme bahwa guru – guru ini tidak akan mengabaikan teknologi lagi untuk

dipakai dalam pembelajaran. Butuh dampingan dua hingga empat kali lagi, maka guru akan mampu memanfaatkan media pembelajaran digital.

PELATIHAN

JADI GURU JANGAN KUDET

Untuk memberi tahu, maka

harus tahu ilmunya dulu.

Agar bisa memberikan

keterampilan,maka

kudu terampil dulu.

Resiko jadi guru

harus mau

berguru.

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

(7)

eorang anak perempuan, sekitar kelas 5 SD sedang duduk manis di angkot. Kepalanya

menunduk sedangkan jarinya lincah menyentuh gawai yang dipegangnya. Dari awal masuk angkot, tampaknya anak ini khusyuk memainkan games yang ada di gawainya, ia

luput memperhatikan lingkungan sekitarnya, tidak peduli ada bahaya disekitarnya.

Fenomena semacam ini bukanlah hal asing lagi,

hampir setiap orang memiliki ponsel pintar yang

disimpan di saku baju, tas atau bahkan menem-pel terus di jarinya, seolah sudah menyatu dengan kehidupan. Mulai dari usia SD hingga yang kakek nenek, ponsel pintar tampak lebih manarik untuk digunakan. Pun di dunia per-seko-lah-an, ada peraturan pun tak membuat gentar, para siswa menyembunyikan ponselnya dari

razia guru. Daripada kucing–kucingan lebih baik

mencarikan solusi bagaimana memanfaatkan ponsel pintar sebagai media belajar.

Namun tidak semua guru mahir atau terbiasa

menggunakan teknologi, dalam banyak kasus

para siswa lebih pintar menggunakan teknologi

daripada gurunya. Ketika guru memberikan

informasi pembelajaran dengan cara monoton, maka siswa memilih asik berkelana di dunia teknologi yang menyajikan beragam informasi dan games menarik. Di sinilah tantangannya, Jadi

Guru jangan Kudet alias jangan mau ketinggalan zaman. Memaksimalkan teknologi terkini mau tidak mau harus dilakukan.

Masalahnya, terkadang guru juga tidak tahu

caranya memaksimalkan teknologi untuk

kepentingan pembelajaran. Padahal salah satu

faktor yang menunjang keberhasilan proses KBM di sekolah formal adalah pemanfaatan dan peng-gunaan media dalam proses pembelajaran.

Itulah mengapa pemilihan media sangat penting dengan mempertimbangkan sasaran, penggu -naan dan relevansi situasi dan perkembangan

zaman. Media yang paling mutakhir dan cepat perkembangannya saat ini adalah Teknologi

Informasi dan Komunikasi. Berangkat dari mas-alah tersebut, maka KOMED (Komunitas Guru

Pembuat Media Pembelajaran) mengumpulkan para anggotanya yang terutama masih awam

dengan ICT (Information Communication Tech -nology) untuk belajar bersama di PSB pada 26 Februari 2016 di Pusat Sumber Belajar (PSB)

Dompet Dhuafa dalam pelatihan “Media Pembe -lajaran Digital”.

Pelatihan pun dimulai dengan ice breaking dan

dilanjutkan dengan memberikan pemahaman

apa itu ICT (Information, Communication and Technology). ICT merupakan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara

umum adalah semua bagian diantaranya yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpu-lan (akuisisi), pengolahan, penyimpanan, penye-baran, dan penyajian dari sebuah informasi

(Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006).

Pak Iwan Sahrudin yang lebih akrab disapa kang Iwan membuat gerakan unik untuk menghafal

pengertian ICT. Iwan Sahrudin adalah praktisi yang fokus menggeluti bidang media pembelaja -ran digital.

Untuk mempersempit bahasan serta menambah

keterampilan para guru, Kang Iwan mengajarkan membuat media pembelajaran menggunakan

Microsoft Power Point. Mengapa memilih aplika

-si ini? Aplika-si ini sering digunakan oleh guru dan dapat ditemukan pada setiap laptop atau PC, yang biasanya hanya digunakan untuk kepentin -gan presentasi.

Dengan menggunakan 4 prinsip penyajian infor-masi, kang Iwan Sahrudin mulai mendampingi masing–masing guru membuat media pembela-jaran menggunakan power point. Empat prinsip tersebut adalah: unity, di mana gambar, warna dasar dan font harus relevan dan seragam

dengan tema. Composition, berkaitan dengan

tata letak teks dan pengaturan gambar, mulai dari pengaturan urutan baca hingga meminimal-isasi ruang kosong. Emphasis, memberikan

penekanan pada teks yang menjadi inti bahasan

dengan mengatur besar, jenis dan warna font. Balancing, yaitu pengaturan warna backround dengan teks, teks dengan gambar.

Tidak hanya 4 prinsip tersebut yang diajarkan pada pelatihan ini, teknik pengambilan gambar,

video, suara hingga memberikan efek–efek lainnya pada power pointpun diajarkan pada

pelatihan ini. Jelas sekali guru tertantang mem

-buat presentasi yang bagus. Ketika pelatihan

selesai, beberapa di antara para peserta bahkan

masih asik mengotak – atik saking penasaran. Terlihat ada optimisme bahwa guru – guru ini tidak akan mengabaikan teknologi lagi untuk

dipakai dalam pembelajaran. Butuh dampingan dua hingga empat kali lagi, maka guru akan mampu memanfaatkan media pembelajaran digital.

PELATIHAN

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

(8)

eski hari mendung dan kurang mendukung, dua puluh satu guru dari beragam SD/MI Kab. Bogor tak surut semangat melangkah-kan kaki ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa pada Sabtu, 20 Februari 2016, PSB yang biasanya sepi mulai ramai saat waktu menunjuk-kan pukul satu siang , guru – guru mulai berdatangan dengan penuh semangat, satu dua orang diantara mereka tampak kelelahan karena aktivitas pagi yang padat di sekolahan, namun terlihat jelas motivasi belajar yang tidak kenal lelah dan waktu.

Menghadiri “Workshop Membuat Media Pem-belajaran Juku (Jumlah Kurang) Card dan Denah Kecamatanku “ itulah tujuan mereka berkumpul saat itu, mereka ingin belajar dari sesama rekan guru bagaimana membuat sebuah media yang

efektif, murah dan menyenangkan.

Guru mulai serius saat mendengarkan presentasi media pembelajaran Juku Card yang disam-paikan oleh bu Widati yang merupakan salah satu anggota KOMED dari SDN Putat Nutug 04 kec. Ciseeng , Juku (Jumlah Kurang) card merupa-kan media pembelajaran sederhana dan murah terbuat dari bahan karton dengan modal biaya kurang dari Rp. 5000, namun media ini disulap semenarik mungkin dengan menciptakan aturan permainan seperti anak – anak bermain kartu. “Sedih sekali menerima kenyataan bahwa anak – anak kelas 4 SD kesulitan belajar matematika terutama belajar bilangan positif dan negatif”, ujar bu widati. Alasan itulah yang kemudian melatar belakangi pembuatan Juku Card.

77% bahan Juku Card berkategori layak, dari segi

WORKSHOP

JUKU CARD DAN DENAH KECAMATANKU

tampilan menurut responden terdapat di kate-gori sangat layak dengan nilai 90%, dari segi peran mencapai angkai 91 % artinya sangat layak, sedangkan dari segi harga mencapai angka 100 %, sangat layak. Data tersebut diambil dari riset uji kelayakan yang dilakukan di 3 sekolah yaitu SDN Karikhil 02, SDN Bambu Kuning dan SDN Baitunnisa, responden merupakan siswa kelas 4 dan guru kelas 4, dengan total jumlah 81 responden , riset tersebut dilakukan pada tang-gal 16 – 18 Februari 2016. Secara umum Juku Card memberikan dampak yang cukup siginifikan pada hasil belajar siswa, terlihat dari hasil evalu-asi siswa yang meningkat, begitu juga dengan motivasi siswa, siswa sangat semangat dan antu-sias selama pembelajaran ketika menggunakan Juku Card.

Semangat tidak hanya berhenti pada siswa, guru – guru yang mengikuti workshop juga tambah semangat untuk membuat reflikasi Juku Card, mereka mulai menggunting karton dan mem-buat permainan kartu yang disesuaikan dengan materi pelajaran yang mereka ajarkan di kelas. Media “Denah kecamatanku” yang dipresenta-sikan oleh bu Euis Fitriyah juga tidak kalah menarik, bu Euis merupakan salah satu guru di SDS Baitunnisa Kec. Ciseeng. Denah Keca-matanku merupakan media yang dibuat untuk

mempermudah guru menyampaikan materi bahasa Indonesia dan IPS materi arah mata angin, dengan media ini siswa dapat melihat model nyata sebuah kecamatan melalui minia-ture kecil yang menarik.

Hasi dari riset uji kelayakan untuk media “Denah Kecamatanku” yang diujikan di 2 sekolah dengan 80 responden siswa dan guru kelas 4, terdapat presentase 69% untuk kategori bahan yang artin-ya media ini laartin-yak digunakan, 76% dari indikator tampilan berkategori layak dan 88% media terse-but sangat layak menurut indikator peran. Dengan media “Denah Kecamatanku” siswa seolah – olah bisa melihat bagaimana keadaan tata kecamatannya dari jarak dekat, mereka bisa belajar secara real letak – letak dan arah gedung satu dengan gedung lainnya. Tak ayal lagi, media ini juga memberikan inspirasi bagi guru – guru lain yang ikut di workshop tersebut.

Workshop berjalan dengan lancar dan riang dari awal hingga akhir, sebuah nyanyian motivasi yang dipersembahkan oleh bu Euis Fitriyah men-gakhiri pertemuan workshop saat itu.

“aku percaya…aku pasti bisa…bi-sa Akupun tahu aku pasti bisa…bi-sa Asalkan berusaha jangan lupa berdo’a Aku…pasti bisa

Bisa..bisa…yess”

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

(9)

eski hari mendung dan kurang mendukung, dua puluh satu guru dari beragam SD/MI Kab. Bogor tak surut semangat melangkah-kan kaki ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa pada Sabtu, 20 Februari 2016, PSB yang biasanya sepi mulai ramai saat waktu menunjuk-kan pukul satu siang , guru – guru mulai berdatangan dengan penuh semangat, satu dua orang diantara mereka tampak kelelahan karena aktivitas pagi yang padat di sekolahan, namun terlihat jelas motivasi belajar yang tidak kenal lelah dan waktu.

Menghadiri “Workshop Membuat Media Pem-belajaran Juku (Jumlah Kurang) Card dan Denah Kecamatanku “ itulah tujuan mereka berkumpul saat itu, mereka ingin belajar dari sesama rekan guru bagaimana membuat sebuah media yang

efektif, murah dan menyenangkan.

Guru mulai serius saat mendengarkan presentasi media pembelajaran Juku Card yang disam-paikan oleh bu Widati yang merupakan salah satu anggota KOMED dari SDN Putat Nutug 04 kec. Ciseeng , Juku (Jumlah Kurang) card merupa-kan media pembelajaran sederhana dan murah terbuat dari bahan karton dengan modal biaya kurang dari Rp. 5000, namun media ini disulap semenarik mungkin dengan menciptakan aturan permainan seperti anak – anak bermain kartu. “Sedih sekali menerima kenyataan bahwa anak – anak kelas 4 SD kesulitan belajar matematika terutama belajar bilangan positif dan negatif”, ujar bu widati. Alasan itulah yang kemudian melatar belakangi pembuatan Juku Card.

77% bahan Juku Card berkategori layak, dari segi

tampilan menurut responden terdapat di kate-gori sangat layak dengan nilai 90%, dari segi peran mencapai angkai 91 % artinya sangat layak, sedangkan dari segi harga mencapai angka 100 %, sangat layak. Data tersebut diambil dari riset uji kelayakan yang dilakukan di 3 sekolah yaitu SDN Karikhil 02, SDN Bambu Kuning dan SDN Baitunnisa, responden merupakan siswa kelas 4 dan guru kelas 4, dengan total jumlah 81 responden , riset tersebut dilakukan pada tang-gal 16 – 18 Februari 2016. Secara umum Juku Card memberikan dampak yang cukup siginifikan pada hasil belajar siswa, terlihat dari hasil evalu-asi siswa yang meningkat, begitu juga dengan motivasi siswa, siswa sangat semangat dan antu-sias selama pembelajaran ketika menggunakan Juku Card.

Semangat tidak hanya berhenti pada siswa, guru – guru yang mengikuti workshop juga tambah semangat untuk membuat reflikasi Juku Card, mereka mulai menggunting karton dan mem-buat permainan kartu yang disesuaikan dengan materi pelajaran yang mereka ajarkan di kelas. Media “Denah kecamatanku” yang dipresenta-sikan oleh bu Euis Fitriyah juga tidak kalah menarik, bu Euis merupakan salah satu guru di SDS Baitunnisa Kec. Ciseeng. Denah Keca-matanku merupakan media yang dibuat untuk

mempermudah guru menyampaikan materi bahasa Indonesia dan IPS materi arah mata angin, dengan media ini siswa dapat melihat model nyata sebuah kecamatan melalui minia-ture kecil yang menarik.

Hasi dari riset uji kelayakan untuk media “Denah Kecamatanku” yang diujikan di 2 sekolah dengan 80 responden siswa dan guru kelas 4, terdapat presentase 69% untuk kategori bahan yang artin-ya media ini laartin-yak digunakan, 76% dari indikator tampilan berkategori layak dan 88% media terse-but sangat layak menurut indikator peran. Dengan media “Denah Kecamatanku” siswa seolah – olah bisa melihat bagaimana keadaan tata kecamatannya dari jarak dekat, mereka bisa belajar secara real letak – letak dan arah gedung satu dengan gedung lainnya. Tak ayal lagi, media ini juga memberikan inspirasi bagi guru – guru lain yang ikut di workshop tersebut.

Workshop berjalan dengan lancar dan riang dari awal hingga akhir, sebuah nyanyian motivasi yang dipersembahkan oleh bu Euis Fitriyah men-gakhiri pertemuan workshop saat itu.

“aku percaya…aku pasti bisa…bi-sa Akupun tahu aku pasti bisa…bi-sa Asalkan berusaha jangan lupa berdo’a Aku…pasti bisa

Bisa..bisa…yess”

WORKSHOP

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

(10)

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

MENGUKUR EFEKTIFITAS

MEDIA PEMBELAJARAN

PELATIHAN

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

(11)

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

PELATIHAN

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

(12)

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

KARYA KOMED TRIWULAN I

APAPUN MATERINYA

JADI MENARIK DENGAN

ADANYA MEDIA

etelah mengikuti beberapa pelatihan

dan pendampingan, akhirnya guru – guru KOMED menelurkan beberapa karya media pembelajaran. Dengan beragam tantangan, baik waktu, kemauan maupun kemampuan lahirlah 35 karya media pembelajaran yang sudah digunakan di kelas.

Minimnya alat dan bahan pembuatan media

tidak menjadi kendala, barang bekas atau

pinjam peralatan ke anggota lain menjadi cerita yang menarik. Apapun alat dan bahan yang

tersedia, dengan kreativitas akan menghasilkan

media yang berguna, apapun materi

pelajarann-ya media pembelajaran akan membuat aktivitas

KBM menjadi menarik dan berbeda.

(13)

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

KARYA KOMED TRIWULAN I

Berikut ini kami tampilkan 15 karya media pembelajaran dari total 35 karya yang dihasilkan :

TALI PAS

Mengenal Beragam bidang pekerjaan hanya dengan tali,

tinggal cocokkan lalu pasang.

_Kelas 3 SD_

BALU DONK

Menyenangkannya belajar pecahan hanya menggu-nakan donat besar _Kelas 4 SD_ KANTONG AJAIB Membawa doraemon ke kelas akan membuat siswa penasaran, belajar Tarikh menjadi lebih riang _Kelas IV SD_ CHAMPION STARS

Siswa tidak perlu horor lagi belajar matematika, teruta -ma operasi bilangan campu-ran.

_Kelas VI SD_

DENAH KECAMATANKU

Mengenal desa dan keca-matan sendiri melalui minia-tur/maket sederhana. Belajar arah dan deskripsi

arahpun tidak serumit yang

dibayangkan _Kelas 4 SD_

KARTU AJAIB

Belajar tajwid tidak lagi

rumit, ada kartu ajaib yang

akan membantu mengerti

materi tersebut _Kelas 2 SD_

JAM SI DUKU

Belajar sudut dan waktu dari jam karakter membuat siswa

lebih menantikan pembelaja -ran

_Kelas 4 SD_

JUKU CARD

Dalam suasana santai sekali-pun, anak – anak masih bisa belajar bilangan bulat

dengan menggunakan media ini

_Kelas 4 SD_

(14)

utinitas seorang guru di setiap pagi adalah

bersiap berangkat ke sekolah, namun pada

Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan

berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk menga -jari dan siap untuk dia-jari, dua puluh enam guru

ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa

Tidak hanya sekedar mengajar saja ………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke

sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi

raport, dan terus menerus aktivitas tersebut

berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak

aktivitas dan perubahan yang begitu cepat dan

meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting

sekali guru bergabung dengan komunitas dan

mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca

literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita

berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun perlu analisa untuk mengukur sejauh

mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam

guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah

ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar

pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembela-jar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyam-paikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk

pembe-lajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal –

asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perenca-naan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap

keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh

dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemaha

-man tentang pentingnya melakukan evaluasi,

dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyim-pulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta

terli-hat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini,

bahkan ada tanya jawab yang seru antara pema-teri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits,

Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk mem

-bantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka

definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disa -jikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok

saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor

setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelaya-kan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia

juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelaja-ran di kelas hari esok.

KARYA KOMED TRIWULAN I

PPA

Siswa akan dibuat penasaran untuk menyusun kepingan

puzzle perjalanan si air

_Kelas 5 SD_

MONO TEMPER

Seperangkat media untuk beragam materi yang dike-mas semenarik mungkin dalam sebuah permainan _Kelas 3 SD_

KUARTET SEJARAH

Dengan media ini serasa masuk ke masa lalu dan berkenalan dengan tokoh – tokoh nasional

_Kelas 5 SD_

SAPULING

Atasi kebingungan siswa dalam belajar satuan pulu-han menggunakan media

SAPULING

_Kelas 2 SD_

MONOPOLI KENAMPAKAN ALAM

Menyulap lantai menjadi

media interaktif belajar

kenampakan alam _Kelas 5 SD_

KEONG KALBA

Belajar huruf hijaiyah

bersa-ma seekor keong ? Pasti anak

– anak akan lebih penasaran _Kelas 1 SD_

ALBID ALMUFRODAT Sekeranjang telur cantik

berisi informasi kosa kata bhs. Arab

_Kelas 2 SD_

Referensi

Dokumen terkait