makalah ibrahim mustafa

21 

Teks penuh

(1)

Pemikiran Nahwu Ala Ibrahim Mustofa

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ushul Nahwu)

Dosen Pengampu:

Tamim Mulloh, M.Pd.

Disusun Oleh:

Sajjatul Hidzqy (12310026) Faiqotul Maziyah (12310034) Ika Khoirin Nida (12310029) Bagus Indra I. (10310038)

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB

FAKULTAS HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi

sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru

sekalian alam yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik serta

menjadikannya sebagai makhluk istimewa diantara sekian makhluk yang

diciptakan. Al-Kariim yang telah menganugrahi manusia dengan akal yang dapat dipergunakan untuk merenungi semua tanda-tanda yang ada dilangit dan di bumi

agar manusia dapat mencapai kesejahteraan di dunia dan di akhirat serta

menghilangkan segala gulita yang melingkupi relung-relung hati mereka.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah ke haribaan seseorang yang

mendapat gelar uswatun hasanah, dan telah menunjukkan jalan yang terang kepada kita semua. Manusia pilihan yang telah menghimpun segala cahaya terang

dengan baik lagi sempurna. Nabi Muhammad S.A.W yang telah diutus oleh Allah

S.W.T sebagai rahmatallil‟aalamiin.

Atas ridha, nikmat, dan kuasa-Nya, wal hasil kami dapat menyelesaikan

makalah dengan judul, ”Pemikiran Nahwu Ala Ibrahim Mutofa”.

Dalam penyusunan makalah ini, kami memperoleh banyak bantuan dari

berbagai pihak, karena itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan

yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini

bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik

lagi.

Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan

kesalahan, namun taka da gading yang tak retak. Oleh karena itu, kami

mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat menjadi evalwasi

perbaikan dan tambahan bagi khazanah keilmuan dunia serta islam pada

khususnya.

Akhir kata kami berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua

pembaca fiddunya wal akhirah aamiin.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I ...4

PENDAHULUAN ...4

1.1 Latar Belakang ...4

1.2 Rumusan Masalah ...5

1.3 Tujuan ...5

BAB II ...6

PEMBAHASAN ...6

2.1 Biografi Ibrahim Mustofa ...7

2.2 Pemikiran-pemikiran Ibrahim Mustofa ...9

2.2.3 Kritik terhadap Ihya‟ an-Nahw...17

BAB III ...19

PENUTUP ...19

3.1 Kesimpulan ...19

3.2 Saran ...19

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Ilmu Nahwu atau biasa disebut nahwu, merupakan salah satu cabang

pengetahuan tradisional Islam terpenting1, khususnya terkait dengan masalah kebahasaan. Sejak awal perkembangannya sampai sekarang senantiasa menjadi

bahan kajian yang dinamis dikalangan para pakar linguistic Arab. Sebagai salah

satu cabang linguistic (Ilmu Lughoh), ilmu ini dapat dipelajari untuk dua

keperluan. Pertama, sebagai prasyarat atau sarana untuk mendalami bidang ilmu

lain yang referensi utamanya ditulis dengan bahasa Arab, misalnya Ilmu Tafsir,

Ilmu Hadits, dan Ilmu Fiqih. Kedua, Ilmu Nahwu dipelajari sebagai tujuan utama

(sebagai spesialisasi Linguistik bahasa Arab)2.

Akan tetapi dewasa ini, hampir semua negara Arab mengalami kesedihan

mendalam berkenaan dengan kesulitan para pelajar dalam mempelajari ilmu

nahwu. Lebih jauh dari itu, mereka telah kehilangan selera dalam mentradisikan

berbahasa lisan dengan baik dan benar. Gambaran alegorisnya, bahasa mereka

kini terkena sebuah penyakit yang membuat lidah mereka bengkok sehingga tak

lagi bisa menyampaikan maksud keseharian mereka dengan menggunakan bahasa

yang ideal3.

Kesulitan yang dialami generasi muda bangsa Arab ini adalah karena ilmu

nahwu yang diajarkan kepada mereka4. Bagi mereka, kesulitan itu muncul karena

banyaknya bab-bab, pengelompokan bab demi bab juga sighah/bentuk yang telah turun temurun diajarkan di ruangan kelas dan disusun dalam buku-buku ajarnya.

did an- nahwi”,(Daar al- ma‟aarif:Kairo. tt) hlm.3

4 Syawqi Dayf, “Taysir An-Nahw At-Ta‟limi Qadiman wa Haditsan ma‟a Nahji Tajdidihi”,

(5)

Apa yang dijabarkan secara panjang lebar dalam buku-buku yang mereka pelajari

kebanyakannya tidak terpakai dalam komunikasi lisan sehari-hari5.

Corak nahwu yang telah berkembang sedemikian rupa pada gilirannya

telah mencuatkan sebuah kesadaran baru dari para tokoh nahwu generasi

kontemporer ilmu nahwu seperti As suyuthi, Ibrahim Musthafa, Syauqi Dhoif,

dan lain sebagainya, untuk membuat rumusan baru atau reformulasi dan

mengembalikan tujuan semula ilmu ini dibangun.

Dari uraian tersebut, maka pemakalah tertarik untuk mengambil judul

yang berkaitan dengan para tokoh nahwu kontemporer pencentus rumusan baru

atau reformulasi dan mengembalikan tujuan ilmu nahwu, “PEMIKIRAN NAHWU ALA IBRAHIM MUSTOFA”.

1.2Rumusan Masalah

Sementara itu, rumusan masalah yang dapat diangkat dalam makalah ini

adalah:

1. Bagaimanakah biografi dari Ibrahim Mustafa?

2. Bagaimanakah Pemikiran-pemikiran Ibrahim Mustafa?

3. Adakah kritik terhadap karya Ibrahim Mustafa?

1.3Tujuan

Makalah ini diharapkan mampu memenuhi beberapa tujuan. Adapun

tujuan-tujuan yang kami harapkan dari kegiatan ini adalah;

1. Untuk mengetahui biografi Ibrahim Mustafa

2. Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran Ibrahim Mustafa

3. Untuk mengetahui ada tidaknya kritik terhadap karya Ibrahim Mustafa.

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

Dewasa ini, hampir semua negara Arab mengalami kesedihan mendalam

berkenaan dengan kesulitan para pelajar dalam mempelajari ilmu nahwu. Lebih

jauh dari itu, mereka telah kehilangan selera dalam mentradisikan berbahasa lisan

dengan baik dan benar. Gambaran alegorisnya, bahasa mereka kini terkena sebuah

penyakit yang membuat lidah mereka bengkok sehingga tak lagi bisa

menyampaikan maksud keseharian mereka dengan menggunakan bahasa yang

ideal6.

Kesulitan yang dialami generasi muda bangsa Arab ini adalah karena ilmu

nahwu yang diajarkan kepada mereka7.Bagi mereka, kesulitan itu muncul karena

banyaknya bab-bab, pengelompokan bab demi bab juga sighah/bentuk yang telah turun temurun diajarkan di ruangan kelas dan disusun dalam buku-buku ajarnya.

Apa yang dijabarkan secara panjang lebar dalam buku-buku yang mereka pelajari

kebanyakannya tidak teraplikasikan dalam komunikasi lisan sehari-hari8.

Di zaman modern sekarang ini, upaya hingga seruan demi pembelajaran

ilmu nahwu yang mudah dan efektif tak pernah surut. Bila di abad 19 lalu

beberapa upaya ke arah pembelajaran ilmu nahwu yang mudah dilakukan dengan

mengacu kepada atau terpengaruh oleh Ibn Madha9. Di antara mereka yang

terpengaruh pemikiran nahw Ibn Madha ini adalah Rifaah al- Tahtawi (1873 M)

dalam bukunya at-Tuhfah al-Maktabiyah fi Taqrib al-Lughat al-„Arabiyyah, atau Ali al-Jarim dan Mushtafa Amin (1987 M) dalam an-Nahw al-Wadih. Kitab

an-Nahw al-Wadih yang mashur di Indonesia ini ternyata pernah menjadi buku wajib

6 Syawqi Dayf, Syawqi Dayf, “Tjdid an- nahwi”, Op.cit, hlm.3

7Syawqi Dayf, “Taysir An-Nahw At-Ta‟limi Qadiman wa Haditsan ma‟a Nahji Tajdidihi”, Op.cit,

hlm.3.

8Syaiqi Doif, “Taysirul Lughawiyyah”,Op.cit, hlm.9

9Asep M. Tamam, “Upaya Individual Pembaruan Ilmu Nahwu Abad XX” (Uin Sunan Gunung

(7)

sekolah-sekolah menengah di Mesir dan bertahan lebih dari 40 tahun10. Selain

Rifa‟ah dan Ali al-Jarim, ada juga tokoh seperti Hifni Nashif Bek yang menulis buku qawa‟id al-Lughat al-„Arabiyyah atau beberapa tokoh lain dengan

masterpiece mereka11.

Di abad 20, upaya pembaharuan ilmu nahwu lebih gencar dan lebih deras

lagi. Berbagai upaya demi lebih mempermudah pembelajaran ilmu nahwu

dilakukan sesuai dengan berbagai tingkatan pendidikan. Para punggawa di bidang

bahasa Arab telah mengerahkan puncak usaha yang bisa mereka kerahkan demi

menjaga pertahanan terakhir bahasa al-Quran al-Kariim ini. Mereka begitu ikhlas dan penuh keyakinan bahwa usahanya itu mulia, penting dan bisa dimanfaatkan

berbagai generasi pembelajar dan pengagum bahasa termulia ini. Dan ternyata,

pelajaran ahasa Arab, utamanya para pembelajar ilmu nahwu modern telah

memetik buah karya mereka yang dianggap memelopori upaya pembaruan untuk

lebih mempermudah pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab. Tak hanya itu,

usaha mereka pun telah mereformasi berbagai permasalahan dan berbagai

kekurangan yang terjadi sebelumnya. Adapun tokoh yang akan dihadirkan dalam

makalah singkat ini adalah Ibrahim Mustafa, representasi kritikus dan pembaharu nahwu abad modern yang banyak mengilhami para ahli nahwu lain mengikuti pandangan dan pola berpikirnya.

2.1Biografi Ibrahim Mustofa

Pemikir Arab di bidang ilmu Nahwu ini adalah orang pertama yang secara

ilmiyah dan metodologis menghadirkan kritik terhadap wacana nahwu klasik. Ia

pun mencoba mengubah beberapa format dan terminology nahwu. Demikian

usaha ini dia dilakukan dalam rangka kontekstualisasi nahwu sesuai dengan

perubahan, perkembangan dan kebutuhan zaman. Ia mencoba menginventarisir

dan membatasi beberapa kelemahan, keganjilan dan kerancuan yang ia temukan

dalam buku-buku pengajaran nahwu sebelumnya. Setelah diketemukan

10 Abdullah Jad al-Karim, “ad- Dars an-Nahwi fi al- qarn al-„isyrin” (Maktabah Adab:Kairo,

2004), hlm.167

(8)

permasalahannya, maka usaha selanjutnya adalah bagaimana mencari jawaban

yang bisa menjadi solusi12.

Kritikus dan pembaharu nahwu abad modern ini dilahirkan di Andalus tahun 1863 H dan wafat pada tahun 1387 M /1927 H13.

Salah satu riwayat karir perjalanan hidup Beliau adalah menjadi dosen pada fakultas Adab Universitas Fu‟ad al-Awal (kini menjadi Universitas Kairo). Senada dengan hal ini Toha Husain menyebutkan dalam kesimpulannya dari

kitab al-Ihya‟ fi an-nahw al-„Arby pernah belajar di Universitas Al Azhar, lalu

melanjutkan ke “Daarul „Uluum”, dan Universitas Mesir14.

Jika Ibnu Madha‟ merupakan kritikus nahwu abad tengah (klasik), maka Ibrahim Musthafa adalah representasi kritikus dan pembaharu nahwu abad

modern yang banyak mengilhami para ahli nahwu lain mengikuti pandangan dan

pola berpikirnya Pada tahun 1936 ia menyelesaikan karyanya dibidang nahwu yang ia beri judul “Ihyâ‟ al-Nahwi” (revitalisasi ilmu nahwu) dan setahun kemudian yaitu pada abulan Juli 193715 diterbitkan oleh lajnat al-ta‟lif wa al -tarjamah wa al-nasyr Kairo16.

Pada bagian pengantar kitab ini, Ibrahim Musthafa menyatakan sebagai berikut:

”kitab ini membahas tentang nahwu yang aku geluti selama tujuh tahun tetapi aku sajikan hanya dalam beberapa lembar saja. Tujuanku adalah untuk mengubah metode nahwu dalam mempelajari bahasa Arab, melenyapkan bahasan nahwu yang memberatkan para pelajar dan menggantinya dengan cara-cara yang mudah dan simpel sehingga mereka dapat dengan mudah mempelajari bahasa Arab,

12 Asep M. Tamam, Op.cit. hlm.1

13 muqoddimah: Diroosat taqdiyah fi an-Nahw al-'Araby,

http://mahfuzmian.blogspot.com/2012/06/ibrahim-mustafa.html, 6/5/14

14 Ibrohim Mustofa,”

Ihya' an-Nahwiyah”, (lajnat al-ta‟lif wa al-tarjamah wa al-nasyr: Kairo, 1992)

15 Kamil J. Walwil, Jurnal Almajaalah Al-Arkadiniyah At-Tatbiqiyyah Al-Majalah Al-Hadiyah

“Taisiirul Nahw 'inda Ibrahim Mustafa”. Simplifying Arabic Grammar , Vol.11. No.1,

Agustus,2007, hlm.60

16http://shaniadewa.blogspot.com/2012/11/perkembangan-ilmu-nahwu-kontemporer.html, diakses

(9)

juga mengantarkan mereka dapat memahami uslub-uslubnya (stylistikanya)…”17

.

Dalam karyanya ini ditulis dengan maksud sebagai kritik dan penolakan

atas berbagai prinsip nahwu. Ide pembaharuan Ibrahim Musthafa terhadap nahwu

mencakup banyak aspek, diantaranya yang terpenting adalah:

1. Redefinisi Nahwu.

2. Penolakan terhadap amil.

3. Pembagian ulang masalah i‟rab.

4. Tanda-tanda i‟rab yang bersifat far‟iyah.

Sedangkan di akhir kitabnya beliau menyatakan,

“I‟rab itu tidak ada pada fiil, I‟rab itu hanya pada isim, karena fiil tidak dapat dii‟rab”18

.

2.2Pemikiran-pemikiran Ibrahim Mustofa

Ide pembaharuan Ibrahim Musthafa terhadap nahwu mencakup banyak

aspek, diantaranya yang terpenting adalah: Redefinisi Nahwu, penolakan terhadap

amil, pembagian ulang masalah i‟rab, tanda-tanda i‟rab yang bersifat far‟iyah dan lain sebagainya19.

Dalam kitab Ihya‟An Nahwi, beliau membagi beberapa tema di antaranya tentang batasan pengertian nahwu seperti yang ditulis oleh para ahli nahwu,

macam-macam pembahasan nahwu, dasar dan makna I‟rob, dhommah sebagai

tanda isnad, kasroh sebagai tanda idhofah, fathah bukan sebagai tanda I‟rob, dasar

mabni itu sukun, cabang-cabang tanda I‟rob, At Tawaabi‟, dan shorof20. Pemikiran beliau tentang beberapa hal yang berkaitan dengan nahwu, antara lain:

1. Redefinisi Nahwu

Sebelum mengajukan definisi nahwu menurut versinya, Ibrahim Musthafa

terlebih dahulu mengkritik para ulama‟ nahwu klasik yang pada umumnya

(10)

memberi definisi nahwu dengan: ”pengetahuan yang dengannya dapat diketahui posisi akhir kata baik dari segi mu‟rab maupun mabninya”. Ahmad Muhammad Abdurradhi menyebutkan, bahwasanya Ibrahim Mushtafa melihat para ulama

sebelumnya telah mempersempit bidang ilmu nahwu dan menyimpulkan

pemahamannya hanya kepada akhir kalimat saja. Ia memandang bahwa ilmu

Menanggapi fenomena ini beliau menyatakan bahwa definisi nahwu kajian

nahwu seperti itu, hanya akan berkutat dan terfokus pada pada huruf-huruf

terakhir pada sebuah kata-kata, khususnya lagi tentang mu‟rab dan mabninya. Definisi seperti ini sama dengan mempersempit wilayah kajian nahwu22.

Sedangkan Nahwu menurut Ibrahim Musthofa adalah;

، ةلمجا ي ةملكلا هيلع نوكت نأ بج ام لكل نايبو ،ماكلا فيلأت نوناق

اهانعم يدؤت نأ نكمو ةرابعلا قستت ىح ،لمجا عم ةلمجاو

.

”Aturan penyusunan suatu kalimat, dan menjelaskan posisi setiap

kata yang ada di dalam suatu kalimat dan juga posisi kalimat satu

dengan kalimat-kalimat yang lain, sehingga menjadi ibarot/

perkataan yang teratur dan menunjukkan maknanya”24.

Menurut Ibrahim Musthofa, para ahli nahwu yang membatasi pengertian

nahwu hanya pada akhir kalimat itu salah, karena dua alasan25:

a. Mereka membatasi ilmu nahwu dan menyempitkan pembahasannya serta tidak

memperhatikan uslub bahasa arab.

21Abdurradhi, Ahmad Muhammad, “ihya‟ an- Nahwi wa al- Waqi‟ al- Lughawi, Dirasah(Darul

ma'arif:Kairo, tt) hlm.16

22 Ibrohim Mustofa, Op.cit

23

Ibid, hlm. 1 24

Muhammad Fahmi Syihab, dkk, “Pemikiran Nahwu Ibrahim Musthofa” (Makalah,Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2012) hlm.3

(11)

b. Mereka menggunakan metode lafadhiyah.

2. Penolakan terhadap konsep Amil

Sebelum mengkritik dan menolak konsep amil ini, Ibrahim Musthafa terlebh

dahulu menggali dan mengambil intisari dari konsep amil tersebut dengan

menyatakan sebagai berikut:

“lebih dari seratusribu tahun mereka menekuni dan mengkaji masalah i‟rab dan kaidah-kaidahnya, tetapi apa hasil yang mereka dapat dan kaidah-kaidahnya, tetapi apa hasil yang mereka dapat untuk membongkar rahasia i‟rab dan hakikatnya? Pada prinsipnya kajian mereka menyatakan bahwa I‟rab adalah wujud adanya pengaruh dari amil baik yang verbal (terucapkan) maupun yang tidak. Mereka membicarakan tentang amil, syarat-syaratnya dan cara kerjanya seacara panjang lebar hingga seolah-olah konsep amil bagi mereka adalah nahwu itu sendiri”26

.

Menurut Ibrahim, inti pembicaraan mereka tentang amil dapat disarikan

sebagai berikut 27:

a. Setiap tanda i‟rab merupakan pengaruh dari amil, jika amil tersebut tidak disebutkan secara langsung maka harus diperkirakan (muqaddar), memang ada amil yang harus tidak disebutkan tetapi yang pasti ia wajib ditakdirkan

(muqaddar). Dalam satu jumlah bisa terdapat dua amil muqaddar yang tidak

sama seperti dalam contoh:

دسأاو كايإ

dikira-kirakan

دسأا رذحاو كرذحا

tidak

cukup hanya dengan satu fi‟il saja.

b. Dua amil tidak boleh ada dalam waktu bersamaan untuk sebuah ma‟mul. Kalau kasus ini terjadi, maka para ulama‟ nahwu klasik membagi cara kerja keduanya, satu amil mempengaruhi terhadap lafadz sedangkan amil satunya

lagi beroperasi pada segi posisinya.

c. Pada prinsipnya yang dapat menjadi amil adalah fi‟il semata dan hanya beramal pada isim, baik rafa‟ maupun nashab.

26 Ibid, hlm. 22

(12)

d. Fi‟il yang mutasharrif (bukan jamid) memiliki daya beramal sempurna,

sedangkan fi‟il jamid dapat berlaku sebagai amil tapi sebagai amil yang

lemah.

e. Isim juga dapat berfungsi sebagai amil karena dipersamakan dulu dengan fi‟il

seperti isim fa‟il, isim maf‟ul dan isim mashdar. Setiap isim yang tidak memiliki kemiripan dengan fi‟il maka ia tidak dapat beramal atau menjadi

amil.

f. Huruf memiliki dua cara ia sebagai amil; pertama, ia berdiri sebagai huruf asli

dan tidak dipersamakan terlebih dahulu dengan fi‟il, kedua, dapat beramal

karena dipersamakan dengan fi‟il. Huruf dapat beramal baik terhadap isim maupun fi‟il, ia merafa‟kan, menasabkan dan mengejerkannya. Terhadap isim,

huruf dapat beramal menjazamkan dan menasabkan. Jika huruf tersebut dalam

proses amalnya dipersamakan dengan fi‟il, maka kekuatan amalnya dilihat dari sejauhmana huruf tersebut memiliki kemiripan dengan fi‟il baik dari segi makna maupun lafadznya. Huruf “inna”, misalnya, ia dapat beramal karena ia memiliki arti yang berfungsi meperkuat pernyataan (taukid). Oleh sebab itu, ia

memiliki kesamaan dengan fi‟il dari segi maknanya, disamping itu huruf “inna” juga terdiri dari tiga huruf, karenanya ia mirip dengan fi‟il dari segi bentuknya. Jika “syiddah” yang ada pada huruf “inna” itu dihilangkan dan menjadi “in” saja, maka ia akan kehilangan daya kemiripannya dengan fi‟il

yang berarti pula semakin lemah beramalnya28.

g. Huruf baru bisa beramal setelah ia menjadi pasangan khusus bagi kata-kata

atau kalimat tertentu. Huruf “lan” dan “lam” misalnya, keduanya dapat

beramal terhadap fi‟il mudhari‟ sebab keduanya memang hanya dapat berpasangan dengan fi‟il mudhari‟. Ini berbeda misalnya dengan huruf “qad”,

huruf ini tidak dapat beramal sebab ia tidak memiliki pasangan khusus, ia

dapat masuk pada fi‟il mudhari‟ maupun fi‟il madhi.

h. Sebuah huruf dapat beramal yang tidak sama dalam menurut konteks dan

posisinya, misalnya seperti hurur “lâ”, ia terkadang dapat beramal sebagaimana amalnya “laisa” dan juga beramal seperti huruf “inna”.

(13)

i. Amil-amil yang bekerja untuk fi‟il memiliki posisi lebih lemah daripada amil -amil yang bekerja untuk isim. Sebab -amil-amil yang bekerja untuk fi‟il terkadang dapat dihilangkan jika telah terpenuhi syarat-syaratnya seperti

huruf-huruf yang berfungsi sebagai “adawât al-syarthi”.

j. Sekelompok huruf yang memiliki cara beramal sama, maka mereka akan

dimasukan dalam sebuah keluarga seperti “inna” dan “kâna”. Masing-masing dari keluarga huruf tersebut memiliki cara kerja yang lebih luas. Itu sebabnya,

ia disebut sebagai “ummul bab” (induk dari bab), masing-masing mereka juga memiliki hak beramal yang tidak dimiliki yang lain di luar kelompok mereka.

Demikianlah intisari pembicaraan para ahli nahwu tentang amil dan i‟rab

yang mereka bangun dengan berdasarkan pemikiran yang logik dan filosofis

sehingga mereka mengabaikan hal yang terpenting dari kalimat, yaitu makna yang

terkandung di dalamnya.

3. Pembaharuan Nahwu

a. Pembatasan Tanda I‟rab29

Jika selama ini tanda I‟rab yang dikenalkan dalam nahwu ada tiga macam

yaitu; fathah, kasrah dan dhammah, maka Ibrahim Musthafa mengajukan tawaran

agar fathah tidak dimasukkan ke dalam salah satu tanda i‟rab. Jadi menurutnya, tanda i‟rab itu hanya ada dua yaitu dhammah dan kasrah, keduanya muncul bukan karena adanya pengaruh dari amil tetapi dari sipembicara sendiri untuk

menentukan makna dari kalimat.

Dhammah menurutnya adalah tanda dari isnad (‟alamat al-Isnad). Karenanya, Ibrahim mengelompokkan pembahasan tentang al-Mubtada‟, al-Fa‟il dan Na‟ibul Fail, isim kaana. Semuanya tadi dalam kategori Ibrahim adalah berstatus sebagai musnad ilaiah (al-Musnad ilaihi) dan ditandai dengan harakat

dhammah. Adapun selain empat kasus tersebut yang terjadi dalam struktur ilmu

(14)

nahwu maka semuanya, selain yang berharakat kasrah, bisa ditandai dengan

fathah30.

Sedangkan tanda kasroh menurut Ibrahim adalah sebagai tanda dari idafah

(al-Idhaafah). Dalam kategori yang dibuat Ibrahim ada dua bahasan nahwu yang

termasuk menerima tanda kasrah ini atau yang disebut idafah yaitu idafah

konvensional (kata majmuk) dan idafah yang didahului oleh huruf (jar) seperti

huruf “min, ilaa, „an, „alaa, fii” dan lain sebagainya yang olehnya disebut sebagai

huruf idhafah (huruf al-Idhafah)31.

Fathah, dalam pandangan Ibrahim tidak termasuk tanda dari i‟rab, sebab ia

tidak menunjukan makna apapun. Fathah hanyalah harakat yang lebih disukai

orang Arab daripada harakat-harakat lain. Mengapa demikian? Sebab harakat

fathah lebih ringan dalam pengucapan daripada harakat-harakat lain semisal

kasrah, dhammah atau bahkan sukun32.

b. Penolakan adanya tanda-tanda I‟rab yang bersifat far‟iyyah33.

Di samping I‟rab asli (dhammah, kasrah dan fathah), para ahli nahwu

klasik pada umumnya juga menciptakan i‟rab cabang atau yang biasa disebut dengan “al-„Alaamat al-Far‟iyyah” yang beperan sebabagi pengganti dari i‟rab yang asli. Dalam kasus al-Asma‟ al-Khamsah, seperti contoh-contoh berikut ini:

كيبأب تررم ،كابأ تيأر ،كوبأ ءاج

menurut ahli nahwu klasik yang pertama alamat rafa‟nya ditandai dengan huruf “wawu”, yang kedua alamat nasabnya ditandai dengan huruf “alif”, sedang dalam

contoh ketiga alamat jarnya ditandai dengan huruf “ya‟”.

Menurut Ibrahim, teori ini terlalu mengada-ada dan dipaksakan, karena

kalimat-kalimat tersebut adalah merupakan kalimat yang mu‟rab seperti kalimat

30

Ibid, hlm. 28-71

(15)

kalimat mu‟rab lainnya yang didhammah karena berperan sebagai musnad ilaih dan dikasrah karena idhafah. Jika diluar peran sebagai isnad dan idhafah maka semuanya ditandai harakat fathah.

Hal yang sama juga terjadi dalam kasus jama‟ muzakkar salim (jam‟ al

-Muzakkar al-Salim) yang menurut mereka (ulama klasik) huruf “wawu” yang

terdapat di dalamnya adalah sebagai tanda rafa‟, sedang huruf “ya‟” sebagai tanda

nasab dan jar. Seperti dalama kasus contoh;

نـملسماب تررم ،نـملسما تيأر ،نوملسما ءاج

.

Padahal, menurut Ibrahim, dalam kasus tersebut persoalannya lebih simpel

dibanding yang terjadi dalam kasus asma‟ul khamsah. Tanda rafa‟nya adalah dhammah, sedang huruf “wawu” berfungsi sebagai “isyba‟” (pemuasan atau pemantapan semata), demikian pula, kasroh tetap sebagai tanda jar dalam contoh

tersebut, sedangkan huruf “ya‟” hanya berfungsi sebagai isyba‟. Di dalam kasus contoh tersebut fathah tidak disinggung, karena memang bukan merupakan bagian

dari tanda I‟rab. Hal serupa juga terjadi dalam jama‟ mu‟annats salim yang hanya

mengenal I‟rab dhammah dan kasrah karena, sekali lagi, fathah bukan termasuk dari tanda I‟rab34

.

Ibrahim Musthafa juga tidak sependapat jika dalam kasus isim ghairu

munsharif (tidak menerima tanda tanwin) tanda fathah yang terdapat padanya

ketika majrur disebut sebagai ganti dari tanda kasrah. Sebab, menurutnya, tanda

fathah itu tidak ada, maka iapun tidak dijadikan sebagai ganti tanda lain (kasrah)

yang memang ada 35.

c. Tawabi‟36.

Tawabi‟ adalah sebah kata atau kalimat yang mengikuti kata atau kalimat

sebelumnya. Dalam buku-buku nahwu klasik yang termasuk dalam kategori

34 Zamzamfandi, Op.cit

(16)

tawabi‟ tersebut adalah “al-athf, al-na‟at, al-taukid dan al-badal”. Ibrahim tidak

menolak adanya tawabi‟ ini. Yang ia usulkan adalah agar pembahasan tentang

athaf (al-Athf) tidak dimasukkan ke dalam jajaran tawabi‟ atau menjadi

pembahasan tersendiri. Sebab lafadz yang diathafkan memang tidak termasuk dari

tawabi‟, tetapilafadz yang memiliki kedudukan yang sejajar dengan ma‟thuf-nya.

Menurut Ibrahim, yang layak menjadi pembahasan khusus adalah makna

daripada setiap huruf athaf. Sebab tawabi‟ sebenarnya ada dua macam. Pertama,

kedudukannya (perannya) sebagai pelengkap makna kata sebelumnya, karena

makna kalimat belum dapat dipahami apabila tidak menyebutkan kedua-duanya.

Oleh karena itu, dalam kasus ini, tabi‟ harus sesuai persis dengan matbu‟nya.

Termasuk dalam kategori jenis pertama ini adalah al-Na‟at37.

Kedua, kata kedua (matbu‟) bersifat independen (berdiri sendiri), memiliki makna sendiri yang sudah dapat dipahami tanpa kehadiran lafadz kedua (tabi‟). Sedang kehadiran lafadz kedua hanya berperan sebagai penjelas dari yang

pertama. Begitu pula lafadz kedua sudah dapat dipahami tanpa menyebutkan kata

yang pertama. Penuturan kedua-duanya hanya berfungsi sebagai taukid dan

penjelas semata, perhatikan contoh berikut ini

:

مهلك وأ مهرثكأ موقلا تيقل ،ه دبع وبأ دمح يراز

Kalimat tersebut dapat dikatakan dengan susunan seperti ini:

هدبع وبأ يـنراز وأ دمح يـنراز

dengan memiliki pengertian yang sama, sebab yang dimaksud dengan

Muhammad juga Abu Abdullah, dan Abu Abdullah juga Muhammad.

Penggabungan kedua kata tersebut hanya berfungsi sebagai penjelas (bayan) dan

(17)

memperkuat pernyataan (taukid). Termasuk dalam kategori kedua ini adalah al-badal, al-taukid dan athaf bayan 38.

Cara pembagian yang demikian ini menurut Ibrahim lebih jelas, mudah

dan efektif dari segi pembahasan ilmu nahwu.Yang membedakan fungsi

masing-masing kata dalam struktur sebuah kalimat adalah maknanya. Dengan

memperhatikan makna kata, seseorang dapat mengetahui fungsi dan status sebuah

kata dalam kalimat tanpa harus bingung apakah ia sebagai na‟at, badal aatau athaf bayan39.

2.2.3 Kritik terhadap Ihya’ an-Nahw

Ibrahim Mustafa menolak alasan-alasan hingga perbedaan-perbedaan

pendapat yang diperdebatkan dan memenuhi buku-buku tentang nahwu. Tak

hanya itu, beliaupun menolak masalah-masalah dan tamrinaat yang tidak ilmiah dan beberapa hipotesa filosofis 40.

Para ulama nahwu yang datang setelah Ibrahim Mustafa menilai, bahwa

usahanya dalam bidang nahwu merupakan perwujudan dari sebentuk harapan

untuk mempermudah dan memperbarui nahwu. Sebagian ulama lainnya

menganggap bahwa usaha Ibrahim Mustafa begitu serius dan upayanya dalam

pembaruan nahwu tak usah diragukan lagi. Point terpenting dari gagasan Ibrahim

Mustafa adalah agar kita tak mudah menyerah dan percaya begitu saja terhadap

para ulama nahwu. Dalam hal ini Ibrahim Mustafa mengajak untuk merenungkan

dan memikirkan lebih mendalam terhadap permasalahan nahwu. Sampai di sini,

upaya Ibrahim Mustafa dianggap banyak memberi efek positif. Hasratnya yang

mendalam demi kebehasilan pembaruan nahwu, juga kecenderungannya untuk

mempermudah ilmu nahwu menjadikannya begitu bersemangat dalam

kampanyenya menyerang para ulama ahli nahwu terdahulu. Kadangkala, ia

38 Ibid, hlm. 114

39

Ibid, hlm. 128

(18)

dianggap terlalu gegabah dan berlebihan, terkadang ia pun dianggap keterlaluan

dalam menuduh para ulama nahwu terdahulu41.

Senada dengan hal itu, pemikiran-pemikiran Ibrahim Mustafa pun

mendapat kritik. Ia dikeritik bahwa bukunya “ihya‟ an-nahw” tidak begitu saja tunduk pada keinginan penulisnya dalam membahas dunia kebahasa Araban

modern, meskipun disadarinya bahwa pembahasan-pembahasan berkenaan

dengan pembaruan nahwu itu tersebar di beberapa halaman dalam bukunya ini.

Asep M. Tamam menuliskan dalam tulisannya yang berjudul Upaya Individual

Pembaruan Ilmu Nahwu Abad XX, para kritikus ihya‟ annahwiyah itu menyebutkan bahwa kitab tersebut tak jelas dalam mengarahkan maksud dan

tujuan serangan-serangan Ibrahim Mustafa terhadap para ulama nahwu terdahulu.

Kitab itu, menurutnya, mungkin hanya menggambarkan ihya‟ (menghidupkan ilmu nahwu) hanya untuk beberapa makna saja. Atau bisa disebutkan bahwa di

antara hal yang “dihidupkan‟ itu adalah apa yang ia bahas mengenai problematika bahasa Arab dan problematika nahwu, ajakan seriusnya dalam pembahasan

mendalam terhadap permasalahan-permasalahan itu, penjelasannya tentang

falsafah rasional dalam ilmu nahwu, juga penemuannya terhadap berbagai

kerancuan teori-teori tradisonal. Selain itu ia pun dikeritik karena telah

mengadopsi pemikiran Ibn Madha dalam konteks kampanyenya memindahkan

kajian struktur kata (mabna) kepada substansi makna dan kampanyenya

menghapuskan teori „amil42.

41 Ibid

(19)

BAB III

PENUTUP

3.1Kesimpulan

Dari pemaparan sebelumnya maka dapat diambil benang merah yaitu,

Ibrahim Musthofa adalah representasi kritikus dan pembaharuan nahwu abad

modern yang banyak mengilhami para ahli nahwu lain mengikuti pandangan dan

pola berpikirnya. Ibrahim adalah seorang dosen pada fakultas Adab Universitas

Fu‟ad al-Awal (kini menjadi Universitas Kairo). Pada tahun 1936, ia

menyelesaikan karyanya dibidang nahwu, yang ia beri judul “Ihya‟ al-Nahwi”. Ide pembaharuan Ibrahim Musthafa terhadap nahwu mencakup banyak

aspek, diantaranya yang terpenting adalah: Redefinisi Nahwu, penolakan terhadap

amil, pembagian ulang masalah i‟rab, tanda-tanda i‟rab yang bersifat far‟iyah dan lain sebagainya. Akan tetapi disamping itu semua terdapat banyak kritik yang

menhujani tokoh ini, salah satu kritik terhadap Ihya‟ al-Nahwi adalah kitab ini hanya menggambarkan ihya‟ (menghidupkan ilmu nahwu) hanya untuk beberapa makna saja.

3.2Saran

Akhirnya makalah ini sampai pada penutup dan terkhir yang ingin kami

sampaikan dari makalah ini bahwa kami menyadari makalah kami masih

sangatlah jauh dari kriteria makalah yang baik dan benar, dari itu kami tidak

bosannya sangatlah mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna

evaluasi pada makalah kami berikutnya. Dan semoga terselesainya makalah ini

(20)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurradhi, A. M. tt. ihya‟ an- Nahwi wa al- Waqi‟ al- Lughawi, Dirasah . Kairo: Darul ma'arif.

Ade Wahyu, A. S. 2011. Perkembangan Ilmu Nahwu Kontemporer. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.

al-Karim, A. J. 2004. ad-Dars an-Nahwi fi al-qarn al-isyrin . Kairo: Maktabah Adab.

al-Sha‟idy, A. a.-M. 1947. al-Nahwu al-Jadîd. Mesir: Dar al-Fikr al-Arabi.

Dhoif, S. 1986. Taysir An-Nahw At-Ta‟limi Qadiman wa Haditsan ma‟a Nahji

Tajdidihi. Kairo: Daarul Ma'arif.

Dhoif, S. tt. Tajdid an- nahwi. Kairo: Dar Ma'arif.

Dhoif, S. tt. Taysirul Lughawiyyah. Kairo: Daarul Ma'arif.

Gholibii, K. 2011. Kitab Ihya‟ An Nahwi lil Ustadz Ibrahim Musthofa: Tahlil wa Naqd.

Mustofa, I. 1992. Ihya' an-Nahwiyah. Kairo: lajnat al-ta‟lif wa al-tarjamah wa al-nasyr.

Syihab, Muhammad Fahmi dkk, 2012. Pemikiran Nahwu Ibrahim Musthofa. Naskah Publikasi. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Malang

Tamam, A. M. tt. Upaya Individual Pembaruan Ilmu Nahwu Abad XX. Naskah Publikasi Hasil Penelitian. Bandung: UIN Sunan Gunung Jati Bandung.

Jurnal

(21)

Walwil, K. J. 2008. Taisiirul Nahw 'inda Ibrahim Mustafa. Almajaalah Al-Arkadiniyah At-Tatbiqiyyah Al-Majalah Al-Hadiyah, Vol.11, 59-78.

Websate,

http://mahfuzmian.blogspot.com/2012/06/ibrahim-mustafa.html diakses tanggal 6

Juni 2014

http://shaniadewa.blogspot.com/2012/11/perkembangan-ilmu-nahwu-kontemporer.html diakses tanggal 6 Juni 2014

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :