i d u p m e r i n g k u k d a l a m
H
penjara tidak membuat
seorang pejuang tak acuh
terhadap dunia luar. Begitu pula yang
dialami oleh Ustadz Abu Bakar
Baasyir.
Dalam pertemuan dengan keluarga
dan Tim Pengacara Muslim yang
diikuti oleh wartawan Kiblat.net pada
Kamis, 10 Oktober 2013 siang ini,
Ustadz ABB menitipkan pesan untuk
mujahidin Suriah.
“
S a y a b e r h a r a p m e r e k a t e r u s
istiqomah berjihad fi sabilillah. Jangan
tergoda oleh tujuan-tujuan duniawi,
”
tegas ulama kharismatik berusia 75
tahun itu.
Pernyataan tersebut juga dibenarkan
oleh Abdurrahim Baasyir, putra
Ustadz Abu Bakar Baasyir.
“
Benar,
Ustadz sempat menitipkan pesan
tersebut untuk mujahidin Suriah
sebelum kita pamitan,
”
ujarnya
kepada Kiblat.net.
Pesan dan nasihat adalah hal rutin
yang selalu beliau sampaikan kepada
rombongan penjenguknya. Di luar itu
semua, Ustadz Abu Bakar Baasyir
s a n g a t p e r h a t i a n t e r h a d a p
perkembangan jihad di bumi Syam
tersebut.
Sebelumnya, Ustadz yang dijerat
pasal anti-terorisme gara-gara
m e n d u k u n g p r o g r a m I ’ d a d u l
q u w w a h d i A c e h t e r s e b u t
mengeluarkan statemen larangan
shalat di belakang ulama atau siapa
pun yang tidak tegas terhadap
kekafiran Basyar Asad, presiden
Suriah saat ini. [hamdan]
Ustadz Abu Bakar Baasyir Titip Pesan
untuk Mujahidin Suriah
Hukum Menjual Kulit Hewan Kurban
Mayoritas ulama tidak memperbolehkan menjual sesuatu darinya baik berupa kulit, tanduk, bulu atau yang lain.[1] Hal ini berdasarkan hadist Ali Radiyallahu ‘anhu.
Ali beliau berkata: Rasulullah Shallalahu ‘alaihi w a s a l l a m m e m e r i n t a h k a n a k u u n t u k m e n y e l e s a i k a n p r o s e s i k u r b a n , b e l i a u memerintah untuk menyedekahkan dari daging, kulit dan punuknya serta tidak memberi sesuatu apapun dari binatang kurban kepada tukang sembelih. Ali berkata : kami yang memberi upah tukang jagal” ( HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Syaikhani ).
Menurut Imam Ahmad dan Abu Yusuf, menjual kulit tidak boleh, bahkan menurut Imam Malik dan Syafi’i haram hukumnya.
Imam Syafi’i ketika ditanya mengapa Anda memakruhkan penjualan kulit dan daging sedang Anda tidak memakruhkan untuk dimakan dan disimpan? Beliau menjawab, “Berkurban adalah ibadah yang sudah ditetapakan Allah terhadap binatang. Sedang asal dari apa yang dikeluarkan untuk Allah tidak bisa kembali dimiliki kecuali atas izin Allah atau Rasul-Nya.”[2]
Adapun riwayat yang menyebutkan menjual daging kurban sama dengan tidak berkurban tidaklah benar karena dalam sanadnya terdapat perawi lemah yang bernama Abdullah Bin Ayyas.[3] Hadist yang dimaksud berbunyi : “Dari Abu Hurairah Radliyallahu Anhu Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang menjual kulit binatang kurban maka bagi tidak ada kurban
baginya” (HR. Al Hakim)
Menurut pendapat Abu Hanifah, Ishaq, Ibnu Umar, Al Hasan diperbolehkan menjual kulit d e n g a n c a t a t a n h a s i l n y a d i m a n f a a t k a n sebagaimana daging kurban atau disedekahkan namun tidak boleh dimanfaatkan untuk orang yang berkurban atau keluarganya.[4] Akan tetapi pendapat ini menurut pengarang AlMajmu’ adalah salah dan menyelisihi sunnah.[5]
_________________
[1] Al Majmu’: 8/382, Al As’ilah Wal Ajwibah Al Fiqhiyah 3/20, AL Kafi fi Fiqhi Ahmad Bin Hambal : 1/474, Al Mughni : 13/378, Ibanatul Ahkam : 4/228, Al Aziz Syarhul Wajiz : 12/113, Majmu’ Fatawa : 26/309, Al Kafi : 1/474, Shohih Muslim : 13/112, Fathul Bari : 11/141, Manarus Sabil :
Oktober 2013
1/355, Kitabul Al Ifshah ‘Ala Masailil Idhah : 335 [2] Al Umm: 2/224
[3] Ad Dinul Khalis 5/38 [4] Ibid 5/39
[5] Al Majmu Syarhul Muhadzab 8/420
“Siapa yang menziarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satunya
pada hari Jumat maka itu bagaikan ibadah haji.” (Maudhu; Takhrij Ahadits Kitab Akhbar Ashbahan).
“Siapa yang shalat Dhuha dan istiqamah menjaganya, maka itu bagaikan haji dan umrah.” (Dhaif; Tarikh Wasith).
“Tiada seorang pun yang memandang wajah kedua orang tuanya
dengan pandangan sayang kecuali ditulis baginya pahala haji yang maqbul mabrur....” (Maudhu/Palsu; As-Silsilah Adh-Dhaifah, 207).
“Siapa yang berziarah ke kubur ahli baitku (Nabi saw) maka Allah menulis pahala tujuh puluh kali haji baginya.” (Batil, tidak adalah asal-usulnya; Fatawa Nur Alad Darbi).
“Hari yang paling utama ialah hari Arafah. Bila hari itu bertepatan dengan
hari Jumat maka ia lebih utama daripada tujuh puluh kali haji selain hari Jumat.” (Batil, tidak ada asal-usulnya; As-Silsilah Adh-Dhaifah, 207).
“Sesaat di jalan Allah lebih baik daripada tujuh puluh kali haji.” (Dhaif; As-Silsilah Adh-Dhaifah, 3682).
“Siapa yang membaca surah Al-Hajj diberikan kepadanya pahala haji dan
umrah, yang dilakukan oleh sejumlah orang yang haji dan umrah yang telah lalu dan yang akan datang.” (Maudhu/Palsu; As-Suraj Al-Munir).
“Siapa yang shalat Isya' berjamaah maka baginya pahala orang yang haji
dan umrah. Siapa yang shalat 'atsmah (sepertiga malam pertama) berjamaah maka pahalanya sama dengan shalat malam.” (Dhaif; Al-Kamil fi Adh-Dhuafa').
Itulah beberapa hadis yang menjelaskan amal berpahala setara haji dan umrah, namun tidak shahih. Masih ada beberapa hadis lain dalam masalah ini.
Perlu diperhatikan, jumhur ulama hadis dan peneliti hadis, termasuk Imam Nawawi dan Ibnu Hajar, hadis-hadis dhaif bisa diamalkan dalam fadhilah amal saja, dan tidak dipakai untuk menetapkan persoalan hukum, halal haram, dan akidah. Kebolehan mengamalkan itu pun ada beberapa syarat, yaitu:
Tidak dhaif sekali.
Bersifat wajar (ada sumbernya) dan bukan reka-rekaan yang tidak ada asal-usulnya.
Tidak meyakini pahala mutlak atau merupakan sunah ketika
mengamalkannya.
Hanya dalam fadhilah amal saja
Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih shahih.
Tidak memopulerkannya, sehingga orang awam akan mengira itu suatu
sunah yang tetap dan shahih.
Perlu dicatat bahwa shahih dan dhaif dalam bahasan ini hanya dalam kaitan amal setara pahala haji dan umrah. Perhatikanlah bahwa beberapa amal merupakan amal utama yang sudah jelas hukumnya, misalnya jihad, shalat Subuh berjamah, dan memenuhi kebutuhan sesama muslim. Ini jelas amal yang sudah jelas sunahnya.[]
Hadis-Hadis Amal Setara Haji dan Umrah;
yang Dhaif dan Palsu
Oktober 2013
Di edisi sebelumnya, kita telah mengulas hadis-hadis shahih terkait amal yang pahalanya setara haji dan umrah. Pada edisi ini, kita akan mempelajari hadis-hadis terkait tetapi tidak shahih.
“Shalat wajib di masjid jami' (pahalanya) menyamai kewajiban haji yang
mabrur, sedangkan shalat sunah di dalamnya bagaikan haji yang diterima (oleh Allah). Shalat di masjid jami' lebih utama daripada masjid lainnya sebanyak lima ratus shalat.” (Dhaif Jiddan; Dhaif Al-Jami', 3568).
“Tiada seorang muslim yang berwudhu dengan baik, lalu shalat wajib
kecuali mendapatkan pahala seperti pahala haji. Bila shalat sunnah ia mendapatkan pahala umrah.” (Dhaif Jiddan; Tabrani di Al-Kabir).
“Dua rakaat shalat Dhuha di sisi Allah menyamai haji dan umrah yang diterima.” (Dhaif; Dhaif Al-Jami', 3132).
Siapa yang keluar (rumah) dalam keadaan suci, tiada yang diinginkan
kecuali ke masjidku (Nabawi) ini untuk shalat di dalamnya maka itu menyamai haji.” [Dhaif Jiddan; Dhaif At-Targhib, 762).
“Siapa yang berziarah ke kubur ibunya maka itu bagaikan umrah.” [Tidak
ada asal-usulnya; Al-Majruhin).
“Umrah pada bulan Ramadhan bagaikan umrah bersamaku (Rasulullah saw).” (Dhaif; Al-Kamil fi Adh-Dhuafa').
Siapa yang beriktikaf sepuluh hari pada bulan Ramadhan maka itu
bagaikan dua kali haji dan umrah.” [Maudhu/Palsu; Dhaif Al-Jami', 5451).
“Siapa yang shalat Subuh para hari Jumat lalu menauhidkan Alah di tempat duduknya hingga matahari terbit, Allah mengampuni dosanya yang telah lalu dan Allah memberikan pahala haji dan umrah....” [Munkar Al-Kamil fi Adh-Dhuafa', I/549).
“Siapa yang menyapu masjid atau menyemprot dengan air maka itu
bagaikan haji 400 kali, berperang 400 kali, puasa 400 hari, dan memerdekakan 400 budak.” [Munkar sekali; Mizanul I'tidal, II/206).
“Sungguh, berperang di jalan Allah lebih baik daripada haji empat puluh kali.” (Dhaif; Dhaif Al-Jami', 4697).
“Sungguh, safar di jalan Allah lebih baik daripada haji lima puluh kali.”
(Dhaif; Dhaif Al-Jami', 4676).
“Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya semuslim, ia mendapatkan pahala seperti haji dan umrah.” (Maudhu/Palsu; Dhaif Al-Jami', 5791).
“Siapa yang shalat Subuh bermajaah, maka ia bagaikan haji lima puluh
kali bersama Nabi Adam.” (Maudhu/Palsu; Lisanul Mizan).
“Siapa yang shalat dua rakaat pada malam Idul Adha dan mengingat apa
yang ia baca di dua rakaat itu ... maka setiap huruf dan ayat yang dibacanya ditulis untuknya pahala haji dan umrah. Ia juga bagai membebaskan 60 budak.” (Maudhu/Palsu; Tartib Al-Maudu'at, 164).
“Siapa yang wafat dalam perjalanan haji, ditulis baginya haji mabrur
setiap tahun.” (Tidak memiliki sanad; Risalah Lathifah fi Ahadits Mutafariqah Dhaifah, 28).