BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH SEBAGAI SARANA
INTERNALISASI PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA
GLOBALISASI
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling
Dosen Pengampu : Dr. Supriyo, M.Pd
Oleh Erman Istanto NIM. 3301412006
Rombel 06
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-NYA kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Bimbingan Konseling di Sekolah Sebagai sarana Pendidikan Karakter”
Makalah ini secara umum berisikan tentang cara dan langkah bimbingan dan konseling dalam menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah memahami bagaimana upaya mengoptimalisasikan bimbingan dan konseling dalam mimintasi distorsi nilai yang terjadi di era globalisasi
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Semarang, 12 Desember 2013
DAFTAR ISI
Halaman Judul...i
Kata Pengantar...ii
Daftar Isi...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah...4
C. Tujuan Penulisan...4
BAB II PEMBAHASAN...5
A. Bimbingan dan Konseling serta Kaitannya dengan Pendidikan Ka-rakter...5
B. Langkah Strategis Bimbingan dan Konseling dalam Menginternalisa-sikan Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah...6
C. Upaya Bimbingan dan Konseling dalam Memintasi Distorsi Nilai yang Terjadi di Era Globalisasi...8
BAB III PENUTUP...11
A. Simpulan...11
B. Saran...11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Secara yuridis formal Pendidikan Nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memiliki fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berbicara mengenai karakter sebagaimana menurut Wiyani (2012 : 57) yang mengungkapkan bahwa karakter adalah watak, tabiat, akhlak, adab, atau ciri kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai nilai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak. Hal ini selaras dengan tujuan bmbingan dan konseling dalam upaya membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupan yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian, dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya (Prayitno, 1999 : 144).1 Sehingga tidak salah jika karakter sangat penting dalam pem-bangunan pribadi dan peradaban bangsa.
Namun dewasa ini krisis multidemensi merupakan faktor utama hilangnya jati diri bangsa. Globalisasi yang sering diartikan sebagai “dunia tanpa batasan” memberikan berbagai dampak terutama penyimpangan moral psikologis masyarakat Indonesia khususnya para pemuda. Meminjam istilahnya, Cecep Darmawan (2009) dalam Jurnal Negarawan mengemukakan bahwa globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Dengan ini jelas bawasannya arus globalisasi mampu mengendalikan kehidupan global masyarakat saat ini,
menurut David C. Korten (1988) terdapat empat mainstreem yang mengendalikannya yaitu : 1) teknologi berkembang pesat melebihi era sebelumnya; 2) masyarakat dunia bergerak sangat dinamis; 3) persaingan yang semakin menajam; dan 4) pasar terbuka. Hal ini menjadi sebuah ironi tatkala gerak globalisasi ini terus berkembang dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan manusia tanpa mampu terbendung. Sedangkan dalam buku Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2045, dijelaskan permasalahan bangsa saat ini seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila, keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila, bergesernya nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa2.
Selain fenomena-fenomena tersebut, terdapat fenomena lain yang harus diperhatikan antara lain jumlah penyimpangan dan kenakalan remaja yang semakin parah dan dekadensi moral yang banyak terjadi di berbagai kalangan. Informasi global yang semakin mudah diakses justru memancing remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan yang tidak menggambarkan jati diri bangsa Indonesia sebagai contoh masuknya budaya-budaya barat seperti gaya berpakaian, gaya pergaulan hidup, dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil survei yang yang diselenggarakan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS-PA) baru-baru ini mengungkapkan bahwa sebanyak 62,7 persen siswi SMP sudah pernah melakukan hubukan seks pra-nikah, alias tidak perawan. Sementara 21,2 persen dari para siswi SMP tersebut mengaku pernah melakukan aborsi ilegal. Dari survei yang diselenggarakan KOMNAS-PA tersebut terungkap bahwa tren perilaku seks bebas pada remaja Indonesia tersebar secara merata di seluruh kota dan desa, dan terjadi pada berbagai golongan status ekonomi dan sosial, baik kaya maupun miskin. Data tersebut diperoleh berdasarkan survei oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS-PA) yang dikumpulkan dari 4.726
responden siswa SMP dan SMA di 17 kotabesar3. Sedangkan menurut survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah tentang perilaku remaja saat berpacaran menunjukkan saling mengobrol 100%, berpegangan tangan 93,3%, mencium pipi/kening 84,6%, berciuman bibir 60,9%, mencium leher 36,1%, saling meraba (payudara dan kelamin) 25%, dan melakuan hubungan seks 7,6%4. Temuan survei atau penelitian semacam ini bukanlah merupakan berita yang ringan karena hal ini hanya merupakan salah satu dari berbagai dampak globalisasi yang menyebabkan krisis identitas bangsa. Lunturnya budaya dan nilai-nilai adiluhur dalam diri remaja lebih banyak disebabkan keinginan mereka untuk meniru dari informasi yang mereka serap tanpa melakukan filter apapun. Sehingga hal itu menyebabkan pergeseran nilai-nilai luhur yang dianut remaja di era globalisasi ini.
Bertitik tolak penjelasan diatas maka pertumbuhan dan perkembangan globalisasi ini bisa diibaratkan seperti pedang bermata dua. Disatu sisi globalisasi menawarkan dampak positif sebagai contoh melalui pertumbuhan teknologi dan informasi mampu memberikan kita kesempatan untuk mengakses segala informasi dari seluruh penjuru dunia. Namun di lain sisi distorsi5 nilai-nilai yang dikemas sedemikian rupa dengan penguatan argumen yang seolah-olah rasional dan objektif ini, merupakan salah satu bentuk perusakan jati diri (nilai-nilai adiluhur) bangsa Indonesia. Dari berbagai pendapat para ahli dan hasil penelitian yang disebutkan dimuka mengenai berbagai dampak globalisasi bagi pelajar terlihat jelas masih belum adanya sikap yang optimal dari pelajar dalam menghadapi dan menyikapi globalisasi secara bijaksana. Sehingga penulis ingin mengetahui, memahami, dan menganalisis peranan penting Bimbingan dan Konseling dalam menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan karakter di era globalisasi. Maka
3 Watz, 62,7 Persen Siswi SMP Tidak Perawan , http://www.citizenjurnalism.com/hot-topics/627-persen-siswi-smp-tidak-perawan/, diunduh pada tanggal 31 Oktober 2013, pukul 12.34
4 Hastutik, Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Terhadap Seks Pra Nikah, Journal Dinkes Provinsi Jawa Tengah Volume 2 (2012)
penulis mengambil judul : “Bimbingan Konseling Di Sekolah Sebagai Sarana Internalisasi Pendidikan Karakter di Era Globalisasi”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara dan langkah Bimbingan dan Konseling dalam menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah?
2. Bagaimana upaya mengoptimalisasikan Bimbingan dan Konseling dalam memintasi distorsi nilai yang terjadi di era globalisasi?
C. Tujuan Penulisan
1. Mampu mengetahui cara dan langkah bimbingan dan konseling dalam menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bimbingan dan Konseling serta Kaitannya dengan Pendidikan Karakter
Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan dan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Bimbingan merupakan petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu; tuntunan; pimpinan. Sedangkan konseling adalah pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dl memecahkan berbagai masalah; penyuluhan. Di sisi lain Mughiarso (2012: 24) menjelaskan bahwa bimbingan dan konseling merupakan pelayanan dari, untuk, dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Jadi bimbingan dan konseling merupakan salah satu bagian yang terintegrasi dalam proses pendidikan untuk membantu tercapainya tujuan pendidikan yaitu perkembangan siswa secara optimal sesuai dengan kemampuan minat, bakat, dan potensi masing-masing peserta didik6.
Dalam pengertian selanjutnya pendidikan merupakan upaya sadar dari suatu masyarakat dan pemerintah suatu negara untuk menjamin kelangsungan hidup dan kehidupan generasi penerus, selaku warga masyarakat, bangsa dan negara, secara berguna dan bermakna serta mampu mengantisipasi hari depan mereka senantiasa berubah dan selalu terkait dengan konteks dinamika budaya, bangsa, negara, dan hubungan internasionalnya.7 Sedangkan karakter dalam
Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi
6 Baca, lebih lanjut, dalam Mughiarso, Heru, dkk, Bimbingan dan Konseling, (Semarang: Unnes Press, 2012), hal 27
(motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.8 Maka Wiyani (2012: 57) menafsirkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya menginternalisasikan, menyemaikan, dan mengembangkan nilai-nilai kebaikan pada diri peserta didik.
Keberhasilan dalam menyelenggarakan dan menanamkan nilai-nilai karakter melalui pendidikan karakter dapat pula dipengaruhi oleh cara atau pendekatan dalam menyampaikannya. Dalam hal ini maka peran bimbingan dan konseling sangat berperan penting dalam menyampaikan informasi-informasi yang dikehendaki oleh pendidikan karakter. Bimbingan dan konseling dengan fungsinya dikehendaki mampu menginternalisasikan nilai-nilai kebajikan dan mewujudkan prilaku yang baik dan beretika peserta didik.
B. Langkah Strategis Bimbingan dan Konseling dalam Menginternalisasikan Nilai-nilai Pendidikan Karakter di Sekolah
Menurut Wiyani (2012, 58-59) tujuan pendidikan karakter dikelompokan menjadi tiga yakni, pertama pendidikan karakter adalah memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud pada prilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah (lulus dari sekolah). Kedua, pendidikan karakter di sekolah adalah mengoreksi prilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah. Ketiga, dalam pendidikan karakter dalam
setting sekolah adalah membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dengan memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.
Maka menurut Eliasa perlu adanya pengembangan professional, konsultasi dengan ahli dan manajemen yang baik sangat diperlukan untuk penguatan dan pembentukan karakter bagi siswa, sehingga tujuan pendidikan
yang berbasis karakter dipenuhi. Program Bimbingan dan Konseling dengan empat bidang yaitu bidang akademik, bidang pribadi, bidang social dan bidang karir penuh dengan materi yang berbasis karakter.9 Kemudian perlu adanya model pengembangan karakter yang sesuai dengan sebagai langkah strategis bimbingan dan konseling dalam menginternalisasikan pendidikan karakter di sekolah. Menurut Suparno (2004), ada empat model pendekatan penyampaian karakter, yaitu :
1. Model sebagai mata pelajaran tersendiri 2. Model terintegrasi dalam semua bidang studi 3. Model di luar pengajaran
4. Model gabungan10
Langkah strategis yang bisa diambil dari berbagai model pendekatan penyampaian karakter sebagaimana diungkapkan dimuka, sudah barang pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. Namun, sebagai sebuah langkah strategis dan solutif dalam menginternalisasikan model pendekatan penyampaian karakter maka model gabungan dapat digunakan sebagai langkah strategis tersebut. model gabungan, dimana model ini menggabungkan antara model terintegrasi dengan mata pelajaran di sekolah dan model di luar pelajaran secara seksama. Model ini dapat dilaksanakan dalam kerjasama dengan fihak luar sekolah. Kelebihan model ini adalah guru terlibat, disamping itu guru dapat belajar dari fihak luar untuk mengembangkan diri dan siswa. Siswa menerima informasi tentang nilai-nilai sekaligus juga diperkuat dengan pengalaman melalui kegiatan yang terencana dengan baik.11
Langkah ini jika kita tarik benang merah sangatlah berkaitan erat dengan prinsip-prinsip umum bimbingan konseling yang mana hal tersebut salah satunya berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlulah diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet. Hal ini, membutuhkan adanya model yang terintegrasi yang fleksible yang mampu menyesuaikan dengan kebutuhan. Implementasi pendidikan karakter pada pelayanan bimbingan dan konseling
9 Eliasa, Eva Imania, Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan Karakter Siswa (Kajian Psikologis Berdasarkan Teori Sistem Ekologis), http://staff.uny.ac.id/, pada tanggal 14 Desember 2013
10 Dikutip dalam, Eliasa, Ibid,
di sekolah- sekolah dilakukan melalui dua arah, pertama disebut secara langsung yaitu melalui pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik/konseli, yang dikelompokkan ke dalam empat komponen yaitu: (1) komponen pelayanan dasar, (2) komponen pelayanan responsif, (3) komponen pelayanan perencanaan individual, dan (4) komponen dukungan sistem. Muatan pendidikan karakter tersurat pada materi pelayanannya yang mencakup bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, karier, dan pengembangan budi pekerti. Implementasi pendidikan karakter pada pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah- sekolah dilakukan melalui dua arah, pertama disebut secara langsung yaitu melalui pelayanan-pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada peserta didik/konseli, yang dikelompokkan ke dalam empat komponen yaitu: (1) komponen pelayanan dasar, (2) komponen pelayanan responsif, (3) komponen pelayanan perencanaan individual, dan (4) komponen dukungan sistem. Muatan pendidikan karakter tersurat pada materi pelayanannya yang mencakup bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, karier, dan pengembangan budi pekerti12.
C. Upaya Bimbingan dan Konseling dalam Memintasi Distorsi Nilai yang Terjadi di Era Globalisasi
Dewasa ini, tantangan globalisasi yang mewarnai kehidupan bangsa diyakini mempengaruhi keluhuran nilai-nilai budaya nasional (Ilahi 2012: 116). Menurut Osman Baakar (2002), globalisasi yang akan berlaku dalam gelombang yang ketiga ini tentunya akan terkesan bukan sahaja dalam bidang ekonomi, perdagangan, teknologi maklumat dan sosio-budaya tetapi dalam bidang kebudayaan cara hidup dan kepenggunaan13. Faktor utama penyebab globalisasi budaya adalah pesatnya perkembangan teknologi informasi, khususnya pada awal abab ke-20. Sebagaiman diungkapkan dimuka disatu sisi globalisasi menawarkan dampak positif sebagai contoh melalui pertumbuhan teknologi dan informasi mampu memberikan kita kesempatan
12 Dikutip dalam, Hartono, Implementasi Pendidikan Karakter Pada Layanan Bimbingan Dan Konseling , Jurnal Wahana, Volume 57, No.2, Hal 80 (2011)
untuk mengakses segala informasi dari seluruh penjuru dunia. Namun di lain sisi distorsi nilai-nilai yang dikemas sedemikian rupa dengan penguatan argumen yang seolah-olah rasional dan objektif ini, merupakan salah satu bentuk perusakan jati diri (nilai-nilai adiluhur) bangsa Indonesia.
Dalam hal ini berkaitan dengan langah strategis bimbingan dan konseling juga berkaitan erat dengan langkah solutif dalam memintasi distorsi nilai yang terjadi di era globalisasi utamanya dalam lingkup sekolah. Hal ini jika dikaitkan dengan fungsi bimbingan dan konseling sangatlah relevan dengan upaya pemintasan tersebut. Fungsi bimbingan dan konseling setidaknya ada empat yakni:
1. Fungsi pemahaman, fungsi ini memungkinkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan peningkatan perkembangan dan kehidupan konseli (yaitu konseli sendiri, konselor, dan pihak ketiga) memahami berbagai hal yang essensial berkenaan dengan perkembangan dan kehidupan klien. Fungsi ini terdiri dari: pemahaman terhadap klien, pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas.
2. Fungsi pencegahan, layanan bimbingan dan konseling dapat berfungsi pencegahan artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah.
3. Fungsi pengentasan, walaupun fungsi pencegahan dan pemahan telah dilakukan, mungkin seja konseli yang ada di sekolah masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Disinilah fungsi pengentasan (perbaikan) itu berperan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami klien.
4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, fungsi ini berarti layanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu para konseli dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan (Mughiarso, Heru, dkk, 2012: 34-38).
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu bagian yang terintegrasi dalam proses pendidikan untuk membantu tercapainya tujuan pendidikan yaitu perkembangan siswa secara optimal sesuai dengan kemampuan minat, bakat, dan potensi masing-masing peserta didik. Keberhasilan dalam menyelenggarakan dan menanamkan nilai-nilai karakter melalui pendidikan karakter dapat pula dipengaruhi oleh cara atau pendekatan dalam menyampaikannya. Dalam hal ini maka peran bimbingan dan konseling sangat berperan penting dalam menyampaikan informasi-informasi yang dikehendaki oleh pendidikan karakter.
Dewasa ini, tantangan globalisasi yang mewarnai kehidupan bangsa, berkaitan dengan hal tersebut langah strategis bimbingan dan konseling juga berkaitan erat dengan langkah solutif dalam memintasi distorsi nilai yang terjadi di era globalisasi utamanya dalam lingkup sekolah. Melalui fungsi dari bimbingan dan konseling yang terdiri dari pemahaman, pencegahan, pengentasan, dan pemiliharaan serta pengembangan, dimanifestasikan mampu menjadi langkah solutif mengentaskan karakter yang mampu bertahan di era globalisasi.
B. Saran
Saran yang merupakan masukan yang dapat disampaikan berkaitan dengan makalah ini adalah:
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Muswardi Muhammad. 2012. Pendidikan Karakter Anak Bangsa. Jakarta: Bodouse Media Jakarta
Eliasa, Eva Imania, Peran Bimbingan dan Konseling Dalam Pendidikan Karakter Siswa (Kajian Psikologis Berdasarkan Teori Sistem Ekologis). http://staff.uny.ac.id/. pada tanggal 14 Desember 2013
Hartono. 2012. Implementasi Pendidikan Karakter Pada Layanan Bimbingan Dan Konseling. Jurnal Wahana. Volume 57. No.2. Hal 80
Hastutik. 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi Dengan Sikap Terhadap Seks Pra Nikah. Journal Dinkes Provinsi Jawa Tengah Volume 2
Mughiarso, Heru, dkk. 2012. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unnes Press Muhammad Fauzi Bin Otsman, dkk. Globalisasi dan Hubungan Etnik.
http://eprints.utm.my/14545/1/MuhammadFauziOthman2009_Globalisasid anHubunganEtnik.pdf. diunduh pada tanggal 17 Oktober 2013 Pukul 18.45 Sunarto, dkk. 2012. Pendidikan dan Kewarganegaraan. Semarang: Unnes Press Syahroni. Konsep Pendidikan Karakter. http://lampung.kemenag.go.id, diunduh
pada tanggal 14 Desember 2013
Watz, 62,7 Persen Siswi SMP Tidak Perawan.