BIROKRASI PEMERINTAHAN REFORMASI BIROKRA docx

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BIROKRASI PEMERINTAHAN

REFORMASI BIROKRASI DI INDONESIA

Bella Belinda Sylviana Yudhaputri 15.3522.335

B3

Administrasi Negara

(2)

A. LATAR BELAKANG

Birokrasi berasal dari kata bureau yang berarti meja dan cracy yang berarti kekuasaan. Menurut Max Weber birokrasi adalah suatu bentuk organisasi yang penerapannya berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan menurut Fritz Morstein Marx, birokrasi adalah tipe organisasi yang dipergunakan pemerintah modern untuk melaksanakan tugas-tugasnya yang bersifat spesialis, dilaksanakan dalam system administrasi dan khususnya oleh aparatur pemerintah. Jadi birokrasi merupakan suatu organisasi besar yang terdiri dari sub-sub struktur yang memiliki keterkaitan satu sama lain, yang memiliki fungsi, peran, wewenang dalam melaksanakan tugas dalam mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Sedangkan reformasi adalah proses pembentukan kembali suatu tatanan kehidupan lama diganti dengan tatanan baru. Jadi reformasi birokrasi pemerintahan merupakan suatu upaya untuk pembaharuan dan pembentukan kembali terhadap dasar system penyelenggaraan pemerintahan menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan, dan sumber daya manusia (aparatur).

Reformasi tahun 1998 menjadi tonggak sejarah bagi Indonesia yang berhasil mendorong perubahan tata pemerintahan di negeri ini. Gerakan reformasi berhasil melakukan perubahan dengan jalan menumbangkan rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun lebih. Reformasi menuntut perubahan di berbagai lini kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, hukum termasuk dalam konteks pemerintahan. Perubahan ini sebagai konsekuensi dari harapan akan cita-cita untuk membawa Indonesia keluar dari masalah.

Reformasi 1998 juga membawa konsekuensi untuk melakukan reformasi pada birokrasi. Ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi birokrasi pemerintahan yang mengalami penyakit bureaumania yang ditandai dengan kecenderungan inefisiensi, penyalahgunaan wewenang, korupsi, kolusi dan nepotisme serta dijadikan alat oleh pemerintahan orde baru untuk mempertahankan kekuasaan yang ada. Mengutip pendapat Karl D Jackson, birokrasi Indonesia merupakan beuracratic polity. Model ini merupakan birokrasi dimana menjadi akumulasi dari kekuasaan dan menyingkirkan peran masyarakat dari politik dan pemerintahan.

(3)

cenderung berbanding lurus dengan kurangnya komitmen pemerintah terhadap pemberantasan KKN yang sudah menjadi penyakit akut dalam birokrasi pemerintahan Indonesia saat ini.

Agar Indonesia tidak semakin jatuh maka birokrasi Indonesia perlu melakukan reformasi secara menyeluruh, reformasi juga harus dilihat dalam kerangka teoritik dan empiric yang luas, didalamnya mencakup penguatan masyarakat sipil, supremasi hukum, strategi pembangunan ekonomi dan politik yang saling terkait dan mempengaruhi.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana konsepsi birokrasi pemerintah menurut Weberian di Indonesia? 2. Bagaimana kondisi birokrasi di Indonesia sebelum adanya reformasi?

3. Bagaimana mekanisme pelaksanaan reformasi birokrasi yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah guna mengatasi patologi birokrasi?

(4)

Di Indonesia bahasan mengenai birokrasi maka persepsi orang tidak lain adalah birokrasi pemerintah. Birokrasi dengan segala cacatnya yang menjadi milik pemerintah. Birokrasi pemerintah seringkali diartikan officialdom atau kerajaan pejabat. Suatu kerajaan yang rajanya adalah para pejabat dari suatu organisasi yang digolongkan modern. Konsepsi Weber mengenai birokrasi di Indonesia banyak memperlihatkan cara-cara officialdom. Pejabat birokrasi pemerintah adalah sentral dari penyelesaian urusan masyarakat. Seharusnya pejabat yang bergantung pada rakyat tetapi rakyat yang bergantung terhadap pejabat. Kritikan pedas Warren Bennis (1967) dalam bukunya Personel Administration dia menulis bahwa di abad 25 sampai 50 tahun yang akan datang kita akan menyaksikan jatuhnya birokrasi Weber dan diganti dengan system social yang baru sesuai dengan harapan masyarakat, juga birokrasi diharapkan harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah.

Di abad ini ramalan Bennis mengenai officialdom pun mulai pudar, sebagai salah satu wujud dari pudarnya pejabat itu adalah dilakukan gerakan reformasi dalam birokrasi pemerintah seperti meningkatkan akuntabilitas, dan transparansi aparatur pemerintahnya.

Ciri birokrasi Weberian adalah kekuasaan itu ada pada setiap hierarki jabatan pejabat, maka semakin tinggi hierarki dan semakin besar pula kekuasaannya, juga sebaliknya semakin rendah hierarkinya, semakin tidak berdaya (powerless). Hierarki paling bawah adalah rakyat, dalam posisi ini rakyat tidak memiliki kekuasaan. Birokrasi model Weber menyatakan bahwa hierarki bawah atau rakyat tidak boleh melawan kekuasaan hierarki atas. Sikap rasional model weber banyak dijumpai dalam praktik perilaku birokrasi pemerintah yang menunjukkan kekuasaan yang berada pada hierarki yang kesemuanya mempunyai hak-hak istimewa berupa fasilitas kekuasaan yang akhirnya membuat sacral jabatan hierarki birokrasi dan memperkuat officialdom.

1.2 KONDISI BIROKRASI DI INDONESIA SEBELUM REFORMASI A. BIROKRASI MASA ORDER LAMA

(5)
(6)

perbaikan dilakukan. Dengan UU Nomor 18 Tahun 1961, salah satu pasalnya mengatur bahwa pegawai dapat diadakan larangan masuk suatu organisasi politik, dan ketentuan akan dibuat peraturan pemerintah. Namun, peraturan pemerintah untuk mengatur itu tidak pernah ada. Birokrasi pemerintahan melalui demokrasi terpimpin dihentikan dengan terpilihnya Soeharto sebagai Presiden RI melalui Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Soeharto sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan menyusun kabinet yang sifatnya teknokratik dengan dominasi militer.

B. BIROKRASI MASA ORDE BARU

(7)

Daerah Tingkat I dan Kepala Daerah Tingkat II yang bukan bawahan Menteri Dalam Negeri seperti halnya Gubernur dan Bupati/Walikotamadya. Sebagai Kepala Daerah mereka harus lebih mendengarkan suara keadilan rakyat daerahnya dan merumuskannya dalam Peraturan Daerah (Perda). Untuk menjalankan Perda ini juga dibentuk aparat daerah yang berupa Dinas-dinas Daerah. Inilah ambivalensi dalam birokrasi pemerintahan antara pusat dan daerah. Sampai akhir kekuasaan presiden Soeharto, Indonesia belum memiliki kebijakan publik yang mengatur pembatasan hubungan partai politik terhadap birokrasi. Akibatnya birokrasi menjadi infinitas (meluas tidak terbatas) terjadi politisasi birokrasi, yang menyumbang terjadinya proses pembusukan politik dan melemahnya kinerja birokrasi. Sampai menjelang masa transisi tahun 1998, kondisi birokrasi di Indonesia mengalami sakit bureaumania seperti kecenderungan inefisiensi, penyalahgunaan wewenang, kolusi, korupsi dan nepotisme. Birokrasi dijadikan alat status quo mengkooptasi masyarakat guna mempertahankan dan memperluas kekuasaan monolitik. Birokrasi Orde Baru dijadikan secara struktural untuk mendukung pemenangan partai politik pemerintah. Padahal birokrasi diperlukan sebagai aktor public services yang netral dan adil, dalam beberapa kasus menjadi penghambat dan sumber masalah berkembangnya keadilan dan demokrasi, terjadi diskriminasi dan penyalahgunaan fasilitas, program dan dana negara.

C. BIROKRASI MASA REFORMASI

Reformasi merupakan langkah-langkah perbaikan terhadap proses pembusukan politik, termasuk buruknya kinerja birokrasi. Untuk kasus Indonesia masa transisi pemerintahan Soeharto ke pemerintahan reformasi (1998-1999) telah memunculkan gerakan netralitas politik birokrasi yang juga dipelopori oleh PNS seperti pembubaran KORPRI di unit Departemen Penerangan, KORPRI unit Departemen Kehutanan menyatakan tidak berafiliasi terhadap partai politik manapun, desakan pembuatan PP (Peraturan Pemerintah) agar PNS bersikap netral dan tidak menggunakan fasilitas negara untuk golongan tertentu, kalangan muda FKP di parlemen yang menginginkan agar PNS netral, Presiden dan Menteri Dalam Negeri yang menginginkan PNS netral, pelepasan seragam KORPRI oleh dokter-dokter RSCM/FKUI, sikap oposisi Ali Sadikin agar KORPRI menyatakan keluar dari Golkar. Birokrasi pasca berhentinya Presiden Soeharto ada dalam persimpangan jalan antara adanya upaya pihak yang ingin tetap mempertahankan berlangsungnya politisasi birokrasi (bureaucratic polity), berhadapan dengan pihak yang menginginkan

(8)

profesionalisme birokrasi.Tahun 1998 datang, rezim Orde Baru jatuh. Dimulailah babak baru birokrasi. Kesadaran pentingnya netralitas PNS mencuat terus-menerus. BJ Habibie, yang saat itu menjadi presiden, mengeluarkan PP Nomor 5 Tahun 1999, yang menekankan PNS harus netral. Kalaupun PNS akan menjadi anggota parpol, maka harus tidak boleh aktif dalam jabatannya. Setelah itu, gaung reformasi birokrasi selalu bergema di mana-mana. Aturan netralitas PNS itu dikuatkan lagi dengan pengesahan UU Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian untuk menggantikan UU Nomor 8 Tahun 1974.Pada masa kepemimpinan Presiden Abdurraman Wahid dan Presiden Megawati Soekarno Puteri tatanan birokrasi juga mengalami reformasi, walaupun masih sangat jauh dari idealisme birokrasi yang sesuai dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Bahkan Presiden Megawati pernah mengeluhkan birokrasi yang dipimpinnya ibarat ”keranjang sampah” rusaknya tatanan birokrasi warisan Orde Baru. Di bawah kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara melaksanakan reformasi birokrasi dengan fokus peningkatan pelayanan publik. Menneg PAN sedang menyusun modul penerapan governance yang berisi pengalaman berbagai daerah yang sedang dibina Menneg PAN dan bisa dijadikan contoh bagi daerah lain. Dari modul penerapan governance itu, disebutkan ada beberapa indikator yang bisa dijadikan standar untuk menilai keberhasilan penerapan good governance, yaitu peningkatan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia, peningkatan pelayanan publik, peningkatan Human Development Index (HDI), penurunan Human Poverty Index (HPI), peningkatan partisipasi masyarakat, peningkatan transparansi, peningkatan akuntabilitas, serta penurunan angka korupsi, kolusi dan nepotisme. Dengan demikian reformasi birokrasi dilakukan secara menyeluruh.

1.3 REFORMASI BIROKRASI PEMERINTAH UNTUK MENGATASI PATOLOGI BIROKRASI

Birokrasi perlu melakukan beberapa perubahan sikap dan perilakunya antara lain : a. Birokrasi harus lebih mengutamakan sifat pendekatan tugas yang diarahkan pada hal pengayoman dan pelayanan masyarakat; dan menghindarkan kesan pendekatan

kekuasaan dan kewenangan.

(9)

modern, ramping, efektif dan efesien yang mampu membedakan antara tugas-tugas yang perlu ditangani dan yang tidak perlu ditangani (termasuk membagi tugas-tugas yang

dapat diserahkan kepada masyarakat).

c. Birokrasi harus mampu dan mau melakukan perubahan sistem dan prosedur kerjanya yang lebih berorientasi pada ciri-ciri organisasi modern yakni : pelayanan cepat, tepat, akurat, terbuka dengan tetap mempertahankan kualitas, efesiensi biaya dan ketepatan waktu.

d. Birokrasi harus memposisikan diri sebagai fasilitator pelayan publik dari pada sebagai

agen pembaharu pembangunan.

e. Birokrasi harus mampu dan mau melakukan transformasi diri dari birokrasi yang kinerjanya kaku (rigid) menjadi organisasi birokrasi yang strukturnya lebih desentralistis, inovatif, fleksibel dan responsif.

Dari pandangan ini, dapat disimpulkan bahwa organisasi birokrasi yang mampu memberikan pelayanan publik secara efektif dan efesien kepada masyarakat, salah satunya jika strukturnya lebih terdesentralisasi daripada tersentralisasi. Sebab, dengan struktur yang terdesentralisasi diharapkan akan lebih mudah mengantisipasi kebutuhan dan kepentingan yang diperlukan oleh masyarakat, sehingga dengan cepat birokrasi dapat menyediakan pelayanannya sesuai yang diharapkan masyarakat pelanggannya. Sedangkan dalam kontek persyaratan budaya organisasi birokrasi, perlu dipersiapkan tenaga kerja atau aparat yang benar-benar memiliki kemampuan (capabelity), memiliki loyalitas kepentingan (competency), dan memiliki keterkaitan kepentingan. Oleh karena itu, untuk merealisasikan kriteria ini Pemerintah sudah seharusnya segera menyediakan dan mempersiapkan tenaga kerja birokrasi professional yang mampu menguasai teknik-teknik manajemen pemerintahan yang tidak hanya berorientasi pada peraturan (rule oriented) tetapi juga pada pencapaian tujuan (goal oriented).

2.1 KESIMPULAN

Fenomena birokrasi selalu ada bersama kita dalam kehidupan kita sehari-hari dan setiap orang seringkali mengeluhkan cara berfungsinya birokrasi sehingga pada akhirnya orang akan beranggapan bahwa birokrasi tidak ada manfaatnya karena banyak

(10)

Penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan demokratis mensyaratkan kinerja dan akuntabilitas aparatur yang makin meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa reformasi birokrasi merupakan kebutuhan dan harus sejalan dengan perubahan tatanan kehidupan politik, kemasyarakatan, dan dunia usaha. Dalam peta tantangan nasional, regional, dan internasional, aparatur negara dituntut untuk dapat mewujudkan profesionalisme, kompetensi dan akuntabilitas. Pada era globalisasi, aparatur negara harus siap dan mampu menghadapi perubahan yang sangat dinamis dan tantangan persaingan dalam berbagai bidang. Saat ini masyarakat Indonesia sedang memasuki era yang penuh tuntutan perubahan serta antusiasme akan pengubahan. Ini merupakan sesuatu yang di Indonesia tidak dapat dibendung lagi. Oleh karena itu, reformasi di tubuh birokrasi indonesia harus terus dijalankan demi tidak terciptanya lagi patologi birokrasi di Indonesia.

Usaha untuk mendorong peningkatan kompetensi aparat birokrasi pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, sebagai wujud profesionalisme dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, harus memerhatikan tiga hal pokok di bawah ini :

1. Peningkatan kesejahteraan aparat birokrasi pemerintah. 2. Peningkatan etika dan moral birokrasi pemerintah. 3. Peningkatan profesionalisme birokrasi pemerintah.

Tujuan reformasi birokrasi: Memperbaiki kinerja birokrasi, Terciptanya good governance, yaitu tata pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa, Pemerintah yang bersih (clean government), bebas KKN, meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Bennis, Warren. 1966. Beyond Bureaucracy . McGraw-Hill Book Co : New York.

(11)

Weber, Max. 1946. Bureaucracy, from Max Weber . Hans Gerth and C. Wright Mills, (eds.), Oxford University Press : New York.

Tersedia online :

http://www.menpan.go.id/cerita-sukses-rb/5416-implementasi-reformasi-birokrasi-

melalui-revolusi-mental-birokrasi-sebagai-upaya-membentuk-pemerintahan-berkelas-dunia

http://www.pengertianpakar.com/2015/05/pengertian-birokrasi.html

http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2016/02/pengertian-birokrasi-menurut-para-ahli.html

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...