• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Selera Pendidikan Seni Anak M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Konstruksi Selera Pendidikan Seni Anak M"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Konstruksi Selera Pendidikan Seni Anak Melalui Pesona Visual Posting:

Ironisme Posisi Anak dalam Pendidikan Seni

M. Bayu Tejo Sampurno, M.A.

Yogyakarta [email protected]

Abstrak

Perkembangan zaman tidak dapat dielakkan, begitu pula dengan terus meningkatnya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial memberikan peluang penikmatnya untuk membuat dan/atau menikmati dari visual branding yang ditampilkan dari visual posting. Hal tersebut sah-sah saja jika memang sebagaimana mestinya media sosial digunakan. Namun, krisis identitas masih meracuni sebagian besar masyarakat dan menjalar ke berbagai bidang, salah satunya pendidikan seni rupa anak yang semakin lama semakin banyak ‘peminat’. Pendidikan seni rupa yang terposting di media sosial seakan memiliki daya akan kekerasan simbolik untuk mengkonstruksi selera masyarakat tentang bagaimana pendidikan seni yan ideal (baca:baik) bagi masyarakat yang ironisnya diukur dari bagaimana seseorang memposting kegiatan berkeseniannya atau si anak. Hal tersebut dikarenakan media memiliki pesona untuk memberikan daya tarik terhadap apa yang ‘tak terlihat’ dalam yang ‘terlihat’. Jika hal tersebut sudah terjadi, maka perlu kembali melihat bagaimana Ki Hadjar Dewantara memberikan konsep dalam pendidikan seni untuk anak, di mana anak selalu menjadi subjek dalam istilah ‘pendidikan’.

Katakunci:konstruksi, visual posting, pesona, pendidikan seni anak.

1. Pendahuluan

Pendidikan seni, sebagai pendidikan estetika, memberi keseimbangan terhadap pendidikan yang bersifat logis-rasional, dan pendidikan etis-moral. Plato dalam Education Through Art karya Herbert Read mengatakan bahwa seni seharusnya menjadi dasar pendidikan (Read, 1970:1).1 Tesis tersebut didukung oleh Aristoteles, yang mengatakan bahwa seni sebagai subjek yang diperlukan untuk mendidik (Kelly, 2004:11).2 Hal ini sesuai dengan definisi pendidikan yang merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya (Undang Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Sesuai dengan salah satu fungsinya sebagai media belajar, seni memberikan materi belajar yang kompleks bagi anak3 yang hasilnya dapat

1 Plato mengatakan “art should be the basic of education”,

dikutip oleh Herbert Read.

2 Aristoteles mengatakan “art as subject necessary for

educating”, dikutip oleh Donna Kelly.

3

Anak dalam penelitian ini adalah anak usia 3-6 tahun yang masih tergolong pada masa kanak-kanak awal. Anak pada masa kanak-kanak awal, memiliki presentase perkembangan otak yang pesat, di mana anak pada usia 0-6 tahun

dikembangkan dalam bidang lain (Santrock, 2007:49 dan 160).

Seni dianggap sebagai media yang tepat bagi pendidikan anak, karena seni menawarkan metode pendidikan dengan bermain. Seni mengajak anak bermain dengan imajinasinya. Sesuai dengan undang-undang yang menyatakan yang dimaksud dengan pengembangan seni mencakup perwujudan suasana untuk tumbuh-kembangnya apresiasi seni dalam konteks bermain. 4 Maka dari itu, pendidikan seni hakikatnya adalah mengutamakan aspek bermain yang di dalamnya terdapat unsur-unsur pendidikan.

mempunyai potensi perkembangan otak mencapai 80%, sedangkan pada usia 17-18 tahun hanya berkembang sebanyak 20%. Sementara itu, teori neurosains modern menyatakan bahwa pada masa pertumbuhan tersebut (golden ages) memungkinkan anak untuk mengembangkan kreativitas dan juga terjadi tahapan pra-operasional dalam perkembangan kognitif. Anak pada usia 3-6 tahun mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata dan gambar, meningkatkan pemikiran simbolis serta mendapatkan kemampuan untuk menggambarkan secara mental sebuah objek yang tidak ada. Oleh karenanya, pada usia tersebut anak akan sering melakukan kegiatan seni sebagai media penuangan imajinasinya.

4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 32 Tahun 2013,

tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 77G, ayat 1, tentang Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar. Sumber diunduh dari http://sindiker.dikti.go.id/dok/PP/PP32-2013PerubahanPP19-2005SNP.pdf, diakses pada tanggal 30 Oktober 2016, pukul 9.59.

(2)

Art is fundamental in human process... Art is a dynamic and unifying activity, with great potential for the education of our children. The process of drawing, painting, or constructing is a complex one in which the child brings together diverse elements of his experience to make a new and meaningful whole. In the process of selecting, interpreting, and reforming these elements, he has given us more than a picture or sculpture; he has given us a part of himself: how he thinks, how he feels, and how he sees (Lowenfeld dan Brittain, 1982:3).

Pendidikan seni di era modern semakin digandrungi oleh orang tua dan merekapun berbondong-bondong mencari info tentang sanggar mana dan metode seperti apa yang dirasa tepat untuk pendidikan seni anaknya. Salah satu tempat mencari informasi di masa kini adalah dengan menggunakan internet yang di dalamnya terdapat media sosial yang dapat dijadikan layaknya etalase toko oleh para produsen, termasuk para produsen dalam bidang pendidikan seni rupa anak. Media sosial layaknya anugerah, karena dari media sosial kita bisa mendapatkan informasi tentang apapun, dan juga dapat membagikan informasi tentang apapun, baik fenomena, informasi ilmiah, kegiatan sehari-hari, sampai hal yang bersifat privasi. Bagi produsen, media sosial dimanfaatkan untuk meraih ketertarikan masyarakat terhadap produknya, termasuk memberikan godaan secara visual. Bagi konsumen, media sosial merupakan ajang eksistensi dan konstruksi identitas. Karena dengan konsumen yang memfollow akun media sosial ‘produsen’ yang memiliki reputasi yang baik, maka hal tersebut menjadi sebuah kebanggan yang luar biasa bagi dirinya. Di dalam kasus ini, posisi pendidikan seni rupa anak dan subjeknya (anak) adalah ‘terombang-ambing’ dan tanpa kejelasan. Hal tersebut dikarenakan dualisme sifat yang dimiliki oleh media sosial dan penggunanya.

2. Pembahasan

2.1 Pesona Pendidikan Seni dalam Visual

Posting Media

Fenomena media sosial merupakan akibat dari perkembangan teknologi dan pola jelajah manusia modern. Media sosial dalam kajian ini mengambil sampel Instagram (yang mulai populer di Indonesia pada 2012-an) dengan pengertian sebagai sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan penggunanya mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial lainnya, juga membaginya ke teman media sosialnya, termasuk dirinya sendiri. Instagram merupakan salah satu media sosial dan juga sebagai tanda, yang dinilai mampu menghasilkan makna (meaning), konsep atau tema tertentu seperti gairah, passion, dan prestise. Potensi atas tanda yang terdapat pada Instagram dengan visual posting-nya selanjutnya diaplikasikan oleh para konsumen Instagram (bukan konsumen kun Instagram) melalui sebuah teknik diluar perilaku sehari-hari.5

There seems every justivication, therefore, for considering art object, initially as those objects which demonstrate a certain technically achieved level of excellence, ‘excellence being function, not of their characteristics simply as object, but of their characteristics made object, as produce of techniques (Gell, 2006: 162).

Teknik yang ditampilkan para konsumen Instagram dalam kampanye pendidikan seni rupa anak menunjukkan sebuah upaya untuk menarik perhatian masyarakat secara besar-besaran. Hal ini merupakan sebuah teknologi yang dibangun dalam seni untuk memunculkan sebuah pesona (enchantment) yang lebih jauh dari sekedar teknik di atas kertas (baca:layar media). Di dalam Instagram, perlakuan terhadap aktivitas seni anak yang melampaui tataran teknik mengarah pada hal yang bersifat dilebih-lebihkan hingga memunculkan respon yang tinggi dari para penikmatnya. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Alfred Gell bahwa:

The Power of art objects stems from the technical processes they objectively embody: the technology of enchantment is founded on the enchantment of

5

Istilah visual posting dipilih oleh penulis karena dianggap sebagai istilah yang tepat dalam merepresentasikan konsep visible-invisible ketika seseorang menikmati posting di media sosial, di mana mereka pada dasarnya tidak mengetahui secara pasti realita dari apayang ada di sekitar posting dan bahkan posting-an itu sendiri.

(3)

technology. The enchantment of technology is the power that technical processes have of casting a spell over us so that we see the real world in an enchanted form. The enchantment which is immanent in all kinds of technical activity (Gell, 2006:163).

Bagi Gell, teknologi mampu memunculkan pesona dengan teknik yang menyimpan tingkat kesulitan bagi penikmatnya, di mana kesulitan tersebut merupakan poin dari teknik yang memunculkan pesona. Begitu halnya dengan seni yang terbuat dari sesuatu yang kecil, rumit, halus, yang bilamana tingkat kesulitan semakin tinggi, maka hal tersebut akan semakin mempesona. DI dalam dunia pendidikan seni anak saat ini, kesulitan yang seringkali (bahkan selalu) dibahas adalah bagaimana cara untuk keluar ari zona sanggar atau aliran sanggar.6 Kesulitan tersebut dilirik oleh berbagai sanggar seni atau guru seni untuk melakukan promosi pendidikan seni-nya kepada konsumen dengan cara visual posting tentang ‘cara mengajar seni yang baik dan benar’ yang ironisnya adalah hasil dari metode tersebut tetap diukur melalui tingkat keberhasilan anak dalam mengikuti kompetisi.

Gell selanjutnya melihat tingkat kesulitan atau teknik dalam seni memancarkan sebuah efek yang disebut ‘hallo effect’ (Gell, 2006:166).

It seems to me that the efficacy of arts objects as conponents of the technology of enchantment a role hich is particularly clearly displayed in thecase of the Kula canoe is it self the result of the enchantment of technology (Gell, 2006: 166).

Pendidikan seni anak dalam balutan visual posting media membenturkan pelbagai struktur yang ada dalam masyarakat. Penampakannya dalam bentuk maya dengan teknik fotografis yang selalu memberi peluang audiens untuk membayangkannya menjadi semakin menarik untuk diperbincangkan. Technology of

6

Aliran sanggar adalah sebuah aliran dimana hasil karya anak memiliki kemiripan dengan anak lainnya yang ikut dalam sanggar, mulai dari ide dan gagasan sampai simbolisasi bentuk dan warna.

enchantment yang dikonsep oleh Alfred Gell (2006) sebagai pembentuk selera pendidikan seni rupa anak semakin dipertanyakan dan tentu menjadi semakin luas pemahamannya (Gell, 2006:163).7

Lebih lanjut dalam pemaparan Gell (2006) mengenai teknologi pesona, teknik-teknik diterapkan pada materi visual posting untuk menyerap perhatian masyarakat terhadap produk yang dihasilkan. Teknik tersebut bukan hanya pada aspek penampilan namun juga terdapat dalam strategi penataan caption dan prioritasi layout posting tentang pendidikan seni rupa anak. Beberapa bentuk strategi desain caption yaitu: a) Pembentukan citra paham pendidikan, seni, dan anak; b) Penamaan media pengajaran; dan c) Kecenderungan penggunaan bahasa Inggris untuk menimbulkan efek mewah dan dramatis. Penataan di atas bertujuan untuk menarik perhatian konsumen Instagram hingga larut dalam suasana kemegahan sepertihalnya merasakan sampainya taksu dalam apresiasi seni.

Di dalam Instagram, audiens dimanjakan dengan harapan mereka tentang diktum pendidikan seni ideal dan ironisme prestise yang menyebabkan dualisme keberlebihan (hiperbola). Dipaparkan pula oleh Gell (2006) bahwa:

Art provides one of the technical means whereby individuals are persuaded of the necessity and desirebility of the social order which encompasses them brings us no closer to the art object as such (Gell, 2006:163)”

Melalui paparan Gell di atas, terlihat adanya kesesuaian antara harapan dan keinginan dari audiensi sebagai wujud tatanan sosial dengan perilaku keompok sanggar seni dalam visual posting layar media tentang pendidikan seni rupa anak yang ideal. Kesesuaian antara harapan dan kesediaan pasar dalam penyadaran anak pentingnya pendidikan seni rupa untuk anak menyebabkan terjadi meningkatnya animo masyarakat untuk semakin tertarik dengan dunia pendidikan seni rupa anak. Audiensi mengikuti (selanjutnya akan ditulis following, sesuai dengan istilah yang lazim digunakan di Instagram) akun-akun sanggar seni rupa untuk mendapatkan suatu informasi dan tontonan yang berbeda, dan Instagram menghadirkannya. Visual posting mengkonstruksi selera masyarakat akan kebutuhan pendidikan seni rupa anak dan juga sebagai

7 Enchantment (pesona) dalam seni merupakan salah satu tujuan dari

sebuah pertunjukan yang oleh Gell menitikberatkan pesona pada tataran hasil dari sebuah teknik.

(4)

hiburan ringan, dan bahkan sampai pada ajang pembentukan prestise.

Masyarakat populer diajak untuk melihat apa yang tidak terlihat, menunduk, menikmati, membiarkan dirinya sendiri tersenyum, dan membiarkan imajinasinya membuat khayalan-khayalan sementara, yang pada saat itu tidak disertai dengan suatu beban yang semestinya, yaitu realitas. Budaya populer melahirkan sebuah popularitas yang mampu meningkatkan komoditas. Virtual posting yang sarat makna, mengekspose pembentukan selera dalam pemahaman pendidikan seni rupa anak, juga erat kaitannya dengan kapitalisasi yang mengutamakan keuntungan. Sebagai produk budaya populer, visual posting sebagai kosntruksi selera didistribusikan untuk masyarakat yang mengkonsumsinya. Hal tersebut didukung oleh lokasi tempat visual posting itu dibuat, yang sebagai contoh misalnya diambillah Kota Yogyakarta sebagai lokasi visual posting. Kota Yogyakarta sebagai kota pelajar, kota budaya, dan kota-nya seniman turut memopulerkan atau mengkonstruksi selera akan pendidikan seni rupa anak yang dianggap ideal oleh masyarakat. Hal tersebut jika dikaitkan dengan technology of enchantment-nya Alfred Gell, maka Gell pernah mengungkapkan bahwa teknik pesona dalam seni mengandung provokasi imajinatif. Gell memberi gambaran melalui karya J.F. Peto’s 1894 trompe-l’oeil painting,8 Old Time Letter Rack, an astonishingly realistic still-life of letters, paper scraps, drawing pins, and faded ribbons. Daya tarik dari karya tersebut adalah ketika penonton tidak mampu memahami bagaimana cat air mampu membuat sebuah representasi yang realistis (Gell, 2006).

8

Trompe-l'œil merupakan bahasa Perancis dari "deceive the

eye", yang merupakan teknk dalam seni lukis yang membuat

ilusi optik yang melukiskan atau menggambarkan objek dalam tiga dimensi.

Gambar 1. John Frederick Peto – Old Time Letter Rock, sebagai

contoh trompe-l’oeil painting

Di dalam segitiga makna, lambang komunikasi atau simbol mengacu kepada sesuatu di luar dirinya yaitu objek dan simbol yang akan memengaruhi pikiran pemakainya. Hal tersebut dikarenakan adanya hubungan timbal balik antara pikiran pemakai, objek, dan simbol. Hasil dari hubungan ini menghasilkan makna atas suatu objek, yang kemudian disimbolkan sebagai lambang komunikasi oleh para pemakainya.

Gambar 2. Segitiga makna

Oleh karena itu, simbol memberikan peluang (dan dalam hal ini justru mengharuskan) terjadinya interaksi simbolik. Artinya, agen dapat saling berinteraksi tidak hanya melalui isyarat tetapi juga melalui simbol signifikan yang memungkinkan terwujudnya pola interaksi dan bentuk organisasi sosial. Begitu pula halnya dengan konstruksi selera ideal pendidikan seni rupa anak melalui pesona media sebagai bentuk komunikasi simbolik, juga terdapat simbol-simbol signifikan sebagai lambang komunikasi. Aktivitas interaksi dan komunikasi melalui simbol-simbol signifikan tersebut, juga melibatkan proses berpikir setiap agen. Selanjutnya, dari proses berpikir pada akhirnya

Pikiran Pemakai

Objek Simbol

(5)

menghasilkan suatu makna atas simbol-simbol tersebut di dalam pikiran masing-masing individu.

2.2 Ironisme Kontestasi Pesona Visual

Posting

Wacana tentang pentingnya pendidikan seni rupa anak semakin masif seiring meningkatnya kesadaran orang tua akan semakin dituntutnya daya kreativitas dalam persaingan era global. Hal tersebut mendorong laju komunerisme terhadap dunia virtual semakin menjadi-jadi. Ironisnya, ‘kreativitas’ yang dielu-elukan akan didapatkan dari pendidikan seni rupa anak seakan dikonstruksi oleh pemilik modal terbesar jika dilihat menggunakan kacamata Pierre Bourdieu. Mereka mengkonstruksi selera masyarakat akan mana karya seni yang dianggap kreatif dan tidak melalui berbagai macam cara antara lain lomba seni sampai visual posting. Masyarakat terdikte dalam menentukan mana yang kreatif dan yang tidak dari statistika virtual, di mana ‘ya’ dan ‘tidak’ dilihat dari berapa banyak pengguna yang men-share, likes, repost, regram, dan sejenisnya. Berkaitan dnegan hal tersebut, Gell (1998) berpendapat bahwa karya seni mengaktivasi rangkaian hubungan diantara agen dan audiens atau penikmat yang melingkupi karya seni. Berbagai hubungan dominasi dalam masyarakat tradisional seperti hubungan patron-klien pada dasarnya merupakan hubungan pemberi dan penerima kebaikan. Posisi masyarakat modern yang memiliki kebebasan untuk menjadi agen memberikan peluang untuk sekaligus menjadi juri tentang ‘kreatif’ atau ‘kreativitas’ masyarakat. Daya kreatif yang dimiliki oleh setiap manusia ‘diarahkan’ oleh agen yang semakin lama tanpa disadari akan diinisiasi oleh individu. Merujuk pada pendapat Bourdieu (dalam Giuffre, 2009: 125) yang menyatakan bahwa masyarakat yang di dalamnya memiliki struktur kelas sosial turut bermain tentang apa yang ada di dalam sebuah ranah atau lingkungan sosial masyarakat.

Social consequence is played out in the relationally structured space of what Bourdieu called the ‘field’. Relative status in the field is based on struggles by all the actors to be

legitimated as dominant in that field. As the actors in the field jockey for position, the status of each—the position of each with regard to distance from the dominant pole of the field—is determined by the relative positions of all the others in the field. The critic who champions an art style that is legitimated by major collector and museum purchases moves towards the dominant pole of the field of art criticism, surpassing those who backed the ‘wrong horse’. But the definition of ‘wrong’ (or ‘right’, ‘good’, ‘bad’, ‘tasteful’, ‘high quality’, and so on) is itself a contentious issue (Bourdieu dalam Giuffre, 2009: 125).

Kreativitas merupakan upaya strategi subversif di lapangan. Kreativitas (sedikit) melanggar aturan ‘permainan’ yang telah terdisposisi dalam upaya untuk menulis ulang ketentuan beserta kriteria yang berbeda dari sebuah definisi kreativitas dan definisi subversi di lapangan. Kreativitas diwujudkan dalam indeks (dalam hal ini karya seni) yang merupakan bagian dari masyarakat. Kreativitas adalah senjata subversif bagi pelaku di lapangan, dan penggunaan ‘seni’ adalah strategi bagi pemilik kuasa. Selain itu, seniman sebagai agen mencapai posisi distingsi ketika kreativitasnya disukai oleh pihak yang memiliki kuasa.

Creativity happens as a result of this social contest. It is a social strategy. What is recognized, what is legitimated, what is valorized or mocked or disdained—all of these judgments are social judgments and they are made by social actors for social reasons (Giuffre, 2009: 126).

Berkaitan dengan visual posting, menjadi pisau bermata dua ketika masyarakat lebih memilih metode pendidikan seni rupa anak A daripada B berdasarkan jumlah followers akun yang dilihatnya. Dari hal tersebut dapat dilihat struktur yang bermain dalam habitus kompetisi visual posting dalam pendidikan seni rupa anak. Dampaknya, anak sebagai seniman berpotensi mengalami alienasi laten yang dikhawatirkan akan menghilangkan identitas anak.

(6)

yang dikonsumsi tidak hanya memiliki nilai guna dan ekonomi, tetapi juga memiliki identitas, sehingga bagi orang yang mengkonsumsi barang komoditas tersebut akan mendapatkan kuasa atau daya tarik bersifat simbolis (“Consumption is at one and the same time a material and a symbolic activity” dalam Du Gay, 1997:96). Oleh karenanya, visual posting tentang pendidikan seni rupa anak dapat dilihat sebagai sanggar virtual seni rupa anak yang memiliki daya tarik tidak hanya dalam bentuk material, namun juga dalam bentuk simbolik, pun dengan para agennya (yaitu follower dan viewernya atau konsumen). Praktik konsumsi pendidikan seni rupa anak merupakan bentuk perujudan prestise dalam ruang lingkup gaya hidup orang tua. Sanggar virtual menjadi arena kontestasi orang tua, karena orang tua mempertaruhkan modal yang dimilikinya dalam visual posting yang dibuatnya. Dalam kaitannya dengan pendidikan seni rupa anak melalui visual posting media, semakin kuat atau semakin banyak akumulasi atau komposisi modal yang dimiliki dan ditempatkan secara strategis, maka agen akan memperoleh posisi yang semakin dominan dalam dunia sosial.9 Namun karena bersifat kontestasi, maka tidak tertutup kemungkinan posisinya akan tergeser oleh agen lain sehingga menjadikan dirinya subordinan dari agen dengan akumuluasi modal lebih banyak. Ironisnya, pendidikan seni menjadi salah satu arena prestise orang tua, yang konsumsi citra dan gaya hidup orang tua terhadap pendidikan seni membuat orientasi pendidikan seni dibentuk oleh industri dan pasar yang jauh dari tujuan pendidikan seni.

Di dalam upaya untuk memuluskan promosinya tentang pendidikan seni rupa anak yang terekspose di Instagram, maka dibutuhkan agen dari teori Bourdieu tentang arena produksi kultural. Di dalam kehidupannya, agen selalu terlibat dalam dunia sosial sehingga agen bukanlah entitas yang hidup dalam kehampaan. Dunia sosial dalam pandangan Bourdieu, adalah sejarah

9 Selera dipengaruhi jumlah dan komposisi modal. Modal

yang dimaksud berupa modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Selera juga dipengaruhi oleh ranah atau arena sosial. Arena sosial adalah latar atau setting di mana posisi sosial seseorang berada. Media sosial Instagram sebagai arena sosial tercipta melalui proses interaksi antara habitus dan kapital yang dimiliki individu.

yang diobjektifikasi dalam benda dan institusi, dalam bentuk struktur dan mekanisme (Bourdieu, 2002:151). Pertemuan antara dua sejarah ini, sejarah dalam tubuh dan sejarah dalam dunia, yang kemudian menghasilkan praktik karena tubuh agen berada dalam dunia sosial, tapi dunia sosial juga berada dalam tubuh dalam bentuk habitus (Bourdieu, 2002:152).

2.3 Memikirkan Kembali Posisi Anak Dalam Pendidikan Seni: Konsep Ki Hadjar Dewantara

Di dalam pendidikan seni, guru bagaikan pisau bermata dua. Guru memberikan efek positif namun juga memungkinkan untuk memberikan efek negatif pada anak. Guru seringkali menciptakan anak ke dalam sebuah aliran yang dinamakan aliran ‘sanggar’. Aliran sanggar adalah sebuah aliran di mana hasil karya anak memiliki kemiripan dengan anak sanggar lainnya. Kemiripan tersebut mulai dari ide dan gagasan sampai simbolisasi bentuk dan warna.

Gambar 3. Kekhasan lukisan aliran sanggar

Interverensi yang dilakukan oleh guru dalam proses kreatif yang dilakukan anak ketika menciptakan karya seni memiliki dampak buruk pada kreativitas yang dimiliki anak. Guru memberikan interverensi berupa batasan-batasan pemahaman kepada anak, antara lain bentuk manusia ‘harus’ seperti ini, pohon ‘harus’ demikian, warna objek ‘harus’ sesuai, sampai penggunaan warna yang ‘harus’ di-gradasi. Memang, hal tersebut akan membuat lukisan anak menjadi lebih ‘bagus’ dan sesuai selera estetis pasar, namun salah satu hal yang menjadi ironis adalah interverensi dari guru menyebabkan rusaknya kreativitas dan spontanitas anak.10

10 Berkaitan dengan fungsi melukis sebagai media untuk melatih

ingatan anak, hal tersebut mengingatkan kepada istilah reprsentasi. Semua ingatan akan muncul ketika anak sedang melukis. Melukis dapat melatih proses berfikir secara menyeluruh yang melatih anak untuk mengemas berbagai peristiwa menjadi suatu catatan visual. Melukis juga berpotensi menawarkan pada semua anak-anak kesempatan untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman ke dalam media lukis.

(7)

Gambar 4. Proses melukis anak ‘sanggar’11

Ketika proses berkarya seni, anak menghasilkan ide-ide yang unik, inovatif, kreatif, dan membuat cara keluar dari permasalahannya sendiri. Hal tersebut akan terwujud apabila anak diberi kebebasan dalam menuangkan ide dan gagasannya ke dalam karya seni nya tanpa adanya interverensi yang berlebih dari pendamping baik guru maupun orang tua.

Baiklah anak-anak kalau menggambar dengan contoh didekatkan dengan dunianya anak-anak sendiri, teristimewa dunianya anak-anak dalam alam kebangsaannya sendiri (Ki Hadjar Dewantara, 2004:341).

Di dalam kosntruksi dunia pendidikan seni rupa anak melalui pesona visual posting, anak berada pada posisi objek yang bersifat menerima, dan guru sebagai subjek. Hal tersebut terlihat saat realitas menunjukkan ketika terdapat interverensi dan pendiktean guru terhadap anak dalam proses kreatif berkarya seni, di mana hal ini merupakan kategori realitas visible. Lalu dalam realitas yang invisible, dalam visual posthing, selalu diperlihatkan bagaimana karya anak yang telah jadi yang dikampanyekan dengan caption yang menunjukkan ke-tidak-ada-an campur tangan dari guru yang siapa tahu jika dicoba di rumah, anak belum tentu bisa melakukannya lagi. Atau, visual posting tentang hasil lukisan anak dan (mungkin) dengan anak dibelakang sedang memegangi karyanya dengan senyum kecilnya, bahkan visual posting tentang alat bahan dalam berkarya, jelas merupakan objektivikasi anak. Lebih lanjut, ketika anak menjadi

11 Dokumentasi penulis, 2015.

objek, terjadi pergeseran hakikat pendidikan seni anak. Guru sebenarnya memiliki kuasa atas kelas yang dikelolanya, termasuk murid yang ada di dalamnya. Namun, guru tidak memiliki ideologi yang mampu membantunya mempertahankan hakikat pendidikan seni anak. Guru dianggap tidak menguasai ‘pendidikan’, karena tidak memiliki modal kultural dan habitus yang kuat sebagai guru.

Guru sebagai pendidik harus mengetahui dan memahami karakter dari masing-masing peserta didiknya guna mendapatkan hasil yang maksimal.

Hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai mahkluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri (Ki Hadjar Dewantara, 2004:21).

Seseorang yang ingin mendidik orang lain harus mempertimbangkan tiga faktor dasar, (1) mengetahui sifat dasar materi yang akan disampaikan, (2) setiap pendidik harus menguasai materi yang akan diajarkan, (3) pendidik tidak berhak menolak mengenai situasi dan kondisi dimana tempat dirinya mengajar, namun tetap berjalan pada hakikat pendidikannya (Hurwitz, dkk., 2007:1). Pembahasan pertama mengenai sifat dasar seni, di mana untuk memahaminya seorang ‘pendidik seni’ harus memahami seni sesuai dengan kebutuhannya.

Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi juga harus mendidik si murid akan dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu yang manfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama (Ki Hadjar Dewantara, 2004:48).

Guru berada dalam sistem yang ditetapkan oleh suatu konstruksi pesona media maya, seringkali membuat dirinya menggunakan metode pendidikan seni berbasis disiplin. Di dalam kasus ini, sanggar yang menggunakan slogan think creative, yang di dalam kata ‘kreatif’ seharusnya terdapat unsur kebaruan dan pengembangan, namun kenyataannya tidak memiliki kepekaan terhadap seni yang ikut berkembang, termasuk dalam dunia pendidikan seni.

(8)

Carter (2008: 87-102) menyarankan kurikulum seni rupa berbasis pada volitional aesthetics yang tidak membatasi dirinya pada artefak-artefak yang telah diidentifikasi sebagai karya seni rupa, tetapi juga memasukkan citra dari seluruh budaya visual untuk menekankan peran isi, nilai, dan makna. Konteks historis, sosial, budaya dan isi dari citra atau artefak akan memiliki keunggulan lebih dari kualitas bentuk. Hal tersebut didukung oleh Ki Hadjar Dewantara yang menekankan tentang proses merupakan poin penting dalam pendidikan seni.

Tujuan pendidikan seni yaitu bukan mendidik murid-murid untuk kelak menjadi ahli-ahli seni, akan tetapi maksud yang kultural yaitu agar dengan pendidikan menghaluskan perasaan, anak-anak kita itu hendaknya mendapat kecerdasan yang luas dan sempurna dari ruhnya, jiwanya, budinya, hingga mereka hendaknyalah mendapat tingkatan yang agak luhur sebagai manusia (Ki Hadjar Dewantara, 2004:324). Argumen tersebut menekankan pentingnya proses kreatif anak saat berkesenian. Karena di dalam proses kreatif, terdapat pengalaman artistik dan estetik anak yang dieksternalisasikan ke dalam bentuk simbol-simbol khas anak.

Tentang pendidikan perasaan, maka di dalam ilmu pendidikan ada disebut dua jenis pendidikan yang boleh dianggap sudah melengkapkan maksud dan tujuan, yaitu pendidikan etis dan pendidikan estetis, yaitu pendidikan kesenian. Dengan pendidikan etis, maka anak-anak lalu dapat berkembang berjenis-jenis perasaannya, yaitu perasaan religius, sosial, dan lain-lainnya, yang semuanya itu berarti kecintaan terhadap agama, hidup kemanusiaan, terhadap dirinya sendiri, pendeknya terhadap segala benda kebatinan. Adapun pendidikan estetis yaitu bermaksud menghaluskan perasaan terhadap segala benda lahir yang bersifat indah (Ki Hadjar Dewantara, 2004:232).

Dunia yang direpresentasikan dalam karya seni imajinatif khas anak-anak adalah dunia yang segar, sebuah rekonstruksi dari kesadaran manusia bahwa dunia memang seperti itu adanya.

Seni bukan sekadar representasi dunia eksternal, atau sebagai representasi karakteristik umum yang universal dari suatu kenyataan, atau suatu pelarian dari dunia nyata untuk sekadar memasuki dunia transedental (Sumardjo, 2000:129). Adalah sebuah kesalahan untuk memikirkan representasi dalam seni visual sebagai upaya sederhana untuk ‘menyalin’ apa yang ‘dilihat’.

Ernst Gombrich dalam Art and Illusion menyatakan bahwa kekuatan anak sebagai seniman bukanlah untuk menghasilkan kembali apa yang ‘ada di sana’, namun untuk menciptakan sebuah ‘kesan’ meyakinkan bahwa kita sedang melihat sesuatu yng direpresentasikan (Graham, 1997:89). Bahkan kebanyakan representasi yang mirip dengan kehidupan tidak dapat dipikirkan hanya sebagai jiplakan. Hal tersebut sesuai dengan argumen Ki Hadjar Dewantara yang menyatakan bahwa seni merupakan perujudan dari jiwa.

Kesenian itu salah satu dari perujudan lahir dari jiwa kita, yang timbul dari kemauan jiwa kita sendiri dan halus kasarnya terbatas oleh rasa keindahan kita (perasaan estetis). Rasa ini dimiliki oleh tiap-tiap manusia, meskipun bertingkat-tingkat kualitasnya, dan bermacam-macam ujudnya (Ki Hadjar Dewantara, 2004:327).

(9)

(6) seni adalah representasi dunia seni itu sendiri (Sumardjo, 2000:131). Pandangan di atas seluruhnya ada di dalam karya seni yang dihasilkan oleh anak. Mereka berkarya spontan, ekspresif, dan tentu orisinil, yang memang benar-benar hasil olahan ide dan gagasan yang dimilikinya.

Kembali pada pengalaman seni yang dimiliki anak. Hal lain yang harusnya didapatkan dari lukisan anak adalah mengenai bagaimana anak mengolah pengalaman seni yang dimilikinya. Pengalaman dalam seni dikategorikan menjadi dua jenis yaitu pengalaman artistik (act of production) dan pengalaman estetik (perception and enjoyment). Pengalaman artistik adalah pengalaman seni yang terjadi dalam proses penciptaan karya seni (Dewey, 1980:46). Pengalaman ini dirasakan oleh anak pada saat melakukan aktivitas artistik yang dinamakan proses kreatif. Pengalaman estetik adalah pengalaman yang dirasakan oleh penikmat terhadap karya estetik dalam arti keindahan (Dewey, 1980:46).

Kenikmatan yang dihasilkan oleh keindahan dari sebuah karya seni memiliki tingkat subjektivitas yang tinggi. Seseorang tidak dapat menikmati dan tidak dapat menerima efek dari karya seni apabila tidak memiliki ketertarikan terhadap seni tersebut (Feldman, 1967:6). Ke-tidak-nikmatan tersebut terlihat dalam hasil karya anak yang repetitif, terdapat kemiripan antar karya dan antar anak. Hal tersebut dikarenakan pada dasarnya anak tidak memiliki kenikmatan dalam berkarya yang dikarenakan oleh pembatasan kebebasan yang sebenarnya juga membatasi imajinasi dan ide kreatif anak.

Schlosberg pernah mengungkapkan bahwa bermain dapat menjadi salah satu media yang efektif untuk meningkatkan respon stimulus anak terhadap materi yang diajarkan (Scholsberg, 1947). Konsep bermain dalam pendidikan disebut sebagai functional pleasure, yaitu kesenangan yang datang dari proses, bukan dari hasil akhir.

Sesuai dengan hakikat pendidikan seni, yang juga menganggap proses sebagai poin penting, karena di dalam proses kreatif, imajinasi, ide dan gagasan anak akan muncul dan mencoba direpresentasikan ke dalam bentuk simbol-simbol.

Gambar 5. Hasil karya lukisan anak12

Hal ini berbeda dengan pendidikan seni saat ini yang lebih mementingkan hasil akhir daripada proses kreatif anak, termasuk pendidikan seni di sanggar yang kenyataannya tetap mengutamakan hasil akhir. Secara tidak langsung, pengutamaan hasil akhir mengkonstruksi pemikiran anak tentang bagaimana dia harus berkarya. Yang dikhawatirkan adalah ketika anak mementingkan hasil akhir dan melupakan unsur imajinasi seperti karya yang cenderung imitatif dan ikut-ikutan teman.

Konsep bermain dalam pendidikan seni akan membuat anak menjadi subjek dalam proses pendidikannya. Hal tersebut karena bermain memang merupakan kehidupan anak sesungguhnya. Konsep pendidikan dengan bermain membuat anak tidak memiliki beban. Pendidikan seni dengan konsep bermain akan memberikan kesempatan spontanitas anak untuk berekspresi. Sesuai dengan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang mengatakan bahwa permainan anak merupakan pendidikan sesungguhnya (Ki Hadjar Dewantara, 2004:241). Bermain snagat menyenangkan, sama halnya dengan pendidikan seni untuk anak yang salah satu fungsinya adalah sebagai media bermain anak. Di dalam pendidikan dengan konsep bermain, peran guru adalah sebagai negosiator atau penyeimbang. Guru dalam metode ini kembali sebagai pembimbing anak, yang berada sejajar dengan anak. Guru tidak berada di depan untuk menarik anak, juga tidak berada di belakang untuk mendorong anak. Guru dan anak berjalan

12 Dokumentasi penulis, 2015.

(10)

beriringan, karena mereka semua adalah subjek dalam tugasnya masing-masing.

Bermain merupakan cara untuk anak bebas melakukan apapun, karena pada dasarnya seseorang tidak perlu aturan yang pasti saat bermain. Bermain tidak membuat seseorang menjadi penuh tekanan. Jika dalam relasi buruh dengan kapitalis, pekerjaan dianggap buruh sebagai satu-satunya cara bertahan hidup, maka bermain juga dianggap satu-satunya cara untuk bertahan hidup oleh anak. Hanya dengan bermain, anak mampu mendapatkan pelajaran yang bermanfaat bagi perkembangan kognitifnya. Sesuai dengan tujuan pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan haruslah ditujukan ke arah kecerdikan murid, selalu bertambahnya ilmu yang berfaedah, membiasakannya mencari pengetahuan sendiri, mempergunakan pengetahuannya untuk keperluan umum (Ki Hadjar Dewantara, 2004:17).

Maka dari itu, pendidikan seni harus kembali agar sesuai dengan hakikatnya yang menawarkan kreativitas sebagai salah satu cara melatih kecerdikan anak. Jika anak sudah terbiasa berpikir kreatif, maka pendidikan seni akan bermanfaat sebagai media pemecahan masalah anak di kehidupan sehari-hari.

3. Kesimpulan

Agar pendidikan tidak kehilangan makna oleh kontestasi yang disebabkan visual posting yang memang tidak dapat dihindarkan, maka pendidikan harus mempunyai kedudukan strategis dan memegang peranan penting dalam mempersiapkan anak sebagai sumber daya manusia yang berkualitas. Mengingat pentingnya pendidikan sebagai proses penyadaran dalam upaya menghantarkan manusia pada kemanusiaannya yang sejati, maka sudah seharusnya pendidikan memiliki orientasi ke arah seperti yang dimaksudkan. Pendidikan harus menjadi alat untuk menghantarkan menusia menuju kemandirian pribadi. Pendidikan yang membebaskan harus sarat akan keterbukaan dan nilai-nilai luhur kemanusiaan agar

manusia tumbuh menjadi pribadi yang humanis dan penuh cinta kasih. Hal ini seperti apa yang dimaksudkan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu pada mulanya asas kemerdekaan diri merupakan usaha untuk menentang kaum penjajah, tidak hanya dengan kekerasan, melainkan dengan memberikan pendidikan dan pengajaran sebagai penyebar benih hidup merdeka. Selain itu juga pendidikan dan pengajaran adalah usaha untuk mempertinggi derajat kemanusiaan yakni bagi kehidupan bangsa, serta usaha mencerdaskan rakyat jajahan. Metode pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang dikenal dengan sistem among, yaitu dengan cara menyokong kodrat alam anak-anak sebagai peserta didik, agar dapat mengembangkan kehidupan lahir dan batin menurut kodrat masing-masing anak. Pendidikan dengan sistem among akan membuat anak belajar seperti bermain, karena anak menjadi subjek dalam kegiatan tersebut. Belajar adalah sebuah bentuk penemuan kembali (reinventing), penciptaan kembali (recreating), penulisan ulang (rewriting). Ketiga bentuk ini hanya bisa dilakukan oleh subjek. Penyesuaian metode pendidikan seni berbasis visual layak ditekankan dalam pendidikan seni anak di Indonesia. Sepertihalnya bermain yang tidak mementingkan hasil akhir dan lebih mengutamakan proses, hal tersebut juga terdapat dalam Visual Culture Art Education yang menekankan peran isi, nilai, makna, yang dianggap lebih penting daripada kualitas hasil akhir. Pentingnya proses kreatif anak saat berkesenian menggarisbawahi pemahaman dan pengalaman yang diperoleh anak. Maka, ‘bermain’ diharapkan dapat kembali ada dalam proses pendidikan seni anak. Karena dengan bermain, anak akan bebas untuk menuangkan apa yang dilihat, dipikirkan, dan diinginkannya, dan berinovasi atas keinginannya sendiri.

4. Pustaka

Bourdieu, P., (2002). Pascalian Meditations. Cambridge, Polity Press.

Carter, M., (2008). “Volitional Aesthetics: A Philosophy for the Use of Visual Culture in Art Education”, dalam A Journal of Issues and Research: Study in Art Education No.49(2), 87-102.

(11)

Dewey, J., (1980). Art as Experience. New York, Perigee Books.

Feldman, E.B., (1967). Art as Image and Idea. New Jersey, Prentice Hall.

Gell, A., (2006). The Art of Antrophology Essay and Diagrams, Eric Hirsch (ed). London, Athlone Press.

Hurwitz, dkk., (2007). Children and Their Art: Methods for the Elementary School. United States, Thomson Wadsworth.

Kelly, D., (2004). Uncovering the History of Children’s Drawing and Art. Westport, Praeger Publishers.

Ki Hadjar Dewantara, (2004). Buku I: Pendidikan. Yogyakarta, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Lowenfeld, V., dan Lambert Brittain, (1982). Creative and Mental Growth. New York, Macmillan Publishing.

Paul du Gay, (1997). Doing Cultural Studies: The Story of the Sony Walkman. London, SAGE Publications.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 32 Tahun 2013, tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 77G, ayat 1, tentang Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar.

Sumber diunduh dari

http://sindiker.dikti.go.id/dok/PP/PP32-2013PerubahanPP19-2005SNP.pdf, pada tanggal 30 Oktober 2016, pukul 9.59.

Read, H., (1970). Education Through Art. London, Faber and Faber.

Santrock, John W., (2007). Child Development. Jakarta, Erlangga.

Scholsberg, (1947). “The Concept of Play”, dalam Psychological Review (54), 229-231.

Sumardjo, Jakob, (2000). Filsafat Seni. Bandung, Penerbit ITB.

Gambar

Gambar 1 . John Frederick Peto – Old Time Letter Rock, sebagai contoh trompe-l’oeil painting
Gambar 3 . Kekhasan lukisan aliran sanggar
Gambar 4. Proses melukis anak ‘sanggar’11
Gambar 5. Hasil karya lukisan anak12

Referensi

Dokumen terkait

Dengan kata lain anak dapat membayangkan kembali atau memberikan gambaran dalam pikirannya tentang benda atau peristiwa yang dialami atau dikenalnya pada

The writer limits her analysis on finding out the ironies that can happen during the main character's relationship, Emma Woodhouse with the other characters in Emma since they

Penelitian ini berjudul analisis Customer Relationhsip Marketing terhadap loyalitas nasabah Bank BRI Cabang Kudus, penelitian ini bertujuan untuk menganlisis Customer

However, an analysis using exogenous variation in the number of tickets issued to identify the causal effect of tickets on road safety gives rise to distinctly different

Dengan dibuatnya Tugas Akhir ini diharapkan dapat membantu pengembang aplikasi dalam mengetahui bugs dari aplikasi Pemantauan Kegiatan Siswa dan mengurangi bugs

Promosi penjualan adalah suatu aktivitas dan atau materi yang dalam aplikasinya menggunakan teknik, dibawah pengendalian penjual atau produsen, yang dapat

Sistem saraf simpatis juga menyebabkan pelepasan hormon norepinefrin dari ujung saraf simpatis sehingga terjadi peningkatan permeabilitas membran saraf terhadap

Untuk mengatasi masalah rendahnya kemampuan investigasi matematika siswa di SMPN 1 Soromandi, guru hendaknya dapat menciptakan pembelajaran yang melibatkan siswa