• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh kualitas audit dan motivasi man

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "pengaruh kualitas audit dan motivasi man"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KUALITAS AUDIT DAN MOTIVASI MANAJEMEN LABA TERHADAP PRAKTIK MANAJEMEN LABA

PADA INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perusahaan membutuhkan dana yang besar dalam mengembangkan pangsa

pasar dan bagi kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Dana ini dapat diperoleh

dengan menjual saham di pasar modal. Initial Public offering (IPO) merupakan

penawaran saham perdana yang dilakukan perusahaan yang hendak go public.

Menurut Beattie (1994) dalam Gumanti (2000), perhatian investor yang terpusat

pada informasi laba tanpa memperhatikan prosedur dan standar yang digunakan

untuk menghasilkan informasi laba tersebut. Hal ini yang mendorong manajemen

untuk melakukan manajemen laba. Manajer akan membuat laporan yang sebaik

mungkin agar kinerjanya dapat dinilai bagus oleh para investor. Manajer berharap

akan mendapat dana untuk pengembangan perusahaan dari investor dan

mendapatkan bonus dari pemegang saham atas laba yang diperoleh perusahaan.

Manajemen laba dilakukan perusahaan berdasarkan tiga motivasi. Watts dan

Zimmerman (1986) mengemukakan 3 faktor yang terkait dengan perilaku manajer

dalam pemilihan kebijakan akuntansi. Tiga faktor ini desebut dengan tiga

hipotesis teori akuntansi positif. Pertama, hipotesis rencana bonus (bonus plan

(2)

dengan rencana bonus manajer. Jika besar bonus yang akan didapat manajer

didasarkan pada besarnya laba yang dihasilkan, manajer diprediksi akan memilih

metode akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga meningkat pula bonus

yang diperoleh.

Kedua, hipotesis perjanjian hutang (debt covenant hypothesys), yakni

persyaratan perjanjian hutang yang harus dipenuhi yang mencakup kesediaan

debitur untuk mempertahankan rasio-rasio akuntansi seperti debt to equity ratio,

rasio modal kerja minimum, serta batasan-batasan lain yang umumnya dikaitkan

dengan data akuntansi perusahaan. Jika persyaratan tersebut dilanggar, perusahaan

akan dikenakan sanksi pembatasan atas pembayaran deviden atau pembatasan

penambahan hutang. Laba yang tinggi diharapkan dapat mengurangi

kemungkinan terjadinya pelanggaran syarat perjanjian hutang.

Ketiga, hipotesis biaya politik (political cost hypothesys) yang menyatakan

bahwa perusahaan yang berhadapan dengan biaya politis cenderung untuk

menurunkan laba dengan tujuan untuk meminimalkan biaya politik yang harus

mereka tanggung (Scott, 1997:303). Manajemen laba bisa digunakan untuk

mengatasi persaingan dengan perusahaan asing. Untuk memperoleh proteksi

tersebut, perusahaan akan memilih kebijakan akuntansi yang menurunkan laba

sehingga kelihatannya laba mereka turun sebagai akibat persaingan dengan

perusahaan asing tersebut.

Audit sebagai jasa pelayanan assurance adalah jasa profesional yang dapat

meningkatkan kualitas informasi bagi para pembuat keputusan. Jasa ini digunakan

untuk meningkatkan keterpercayaan dan kesesuaian informasi yang digunakan

(3)

mengurangi praktek manajemen laba. Akan tetapi kemampuan untuk mendeteksi

manajemen laba tergantung pada kualitas audit tersebut. Kualitas ini dapat

dikendalikan dengan memastikan bahwa Kantor Akuntan Publik (KAP) telah

memenuhi tanggung jawab profesionalnya kepada klien maupun kepada pihak

lain (Arens, 2003). Audit dengan kualitas tinggi diharapkan akan menurunkan

manajemen laba.

Penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara

kualitas audit dengan manajemen laba (Zhou dan Elder, 2004). De Angelo (1981)

dalam Meutia (2004) mendefinisikan kualitas audit sebagai kemungkinan bahwa

auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran dalam sistem akuntansi

klien. Pelanggaran yang ditemukan oleh auditor mengukur kualitas audit berkaitan

dengan pengetahuan dan kemampuan auditor untuk mengungkap pelanggaran

tersebut. Kualitas audit ini sendiri dihubungkan dengan ukuran dari kantor

akuntan publik yaitu KAP besar dan KAP kecil. KAP yang besar dan ternama

dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan KAP kecil. Menurut

Krishnan (2003) dalam Zhou dan Elder (2004), KAP besar dianggap dapat

mengurangi praktek akuntansi yang meragukan dan melaporkan setiap kesalahan

material yang dilakukan manajemen. Selain diproksikan dengan ukuran KAP,

kualitas audit juga diproksikan dengan auditor spesialis industri. Craswell et al

(1995) dalam Zhou dan Elder (2004) membuktikan bahwa kualitas audit

berhubungan positif dengan auditor spesialis industri. Auditor yang melakukan

spesialisasi industri untuk meluaskan pangsa pasar mereka terhadap klien, lebih

menguasai informasi tentang industri tersebut dibandingkan dengan auditor

(4)

laba pada perusahaan yang akan melakukan IPO. Hasilnya mengindikasikan

bahwa KAP besar (Big Five dan Big Four) dan auditor spesialis industri sebagai

proksi kualitas audit berasosiasi dengan discretionary accrual yang lebih rendah

pada perusahaan yang akan melakukan IPO. Hasil ini menjelaskan bahwa kualitas

audit akan menurunkan praktik manajemen laba.

1.2 MOTIVASI PENELITIAN

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji

hubungan kualitas audit dengan manajemen laba pada perusahaan manufaktur

yang melakukan IPO. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Zhou dan

Elder (2004). Penulis tertarik untuk meneliti kualitas audit karena penelitian ini

belum banyak dilakukan di Indonesia, selain itu manajemen laba sebagai suatu

fenomena tetap menarik untuk diteliti meskipun sudah banyak penelitian

dilakukan untuk mendeteksi manajemen laba. Perbedaan dengan penelitian

sebelumnya adalah penelitian ini menambahkan tiga motivasi manajemen laba

(Watts dan Zimmerman, 1986) sebagai variabel yang mempengaruhi praktik

manajemen laba pada perusahaan. Variabel itu antara lain bonus plan yang

diproksikan oleh beban gaji, political cost yang diproksikan oleh ukuran

perusahaan dan debt covenant yang diproksikan oleh leverage.

1.3 PERUMUSAN MASALAH

Masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah “Apakah kualitas

audit dan motivasi manajemen laba berpengaruh terhadap praktik manajemen laba

(5)

1.4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari kualitas

audit dan motivasi manajemen laba terhadap praktik manajemen laba pada

perusahaan yang melakukan IPO.

1.4.2 Manfaat Penelitian

a. Bagi dunia akademik

Menyediakan bukti bahwa kualitas audit dan auditor spesialis industri

berpengaruh terhadap praktik manajemen laba pada perusahaan yang akan

melakukan IPO, sehingga konsisten dengan hasil penelitian Zhou dan Elder

(2004).

b. Bagi perusahaan

Perusahaan dapat meningkatkan kualitas audit laporan keuangannya dengan

menggunakan Kantor Akuntan Publik (KAP) besar untuk mengaudit laporan

keuangannya.

c. Bagi Kantor Akuntan Publik (KAP)

KAP dapat meningkatkan kualitas auditornya untuk menjadi auditor yang

independen dan dapat menghasilkan audit yang berkualitas serta dapat

mendeteksi dan melaporkan salah saji material dalam laporan keuangan

(6)

BAB II TELAAH TEORI

2.1 MANAJEMEN LABA 2.1.1 Pengertian Manajemen Laba

Ayres (1994) dalam Gumanti (2000) mengartikan manajeman laba sebagai

an intentional structuring of reporting or production/investment decisions

arround the bottom line impact. It encompasses income smoothing behaviour but

also includes any attempt to alter reported income that would not occur unless

management were concerned with the financial reporting implications”. Menurut

Schipper (1989:92) manajemen laba adalah “disclosure management in the sense

of purposeful intervention in the external reporting process, with intent of

obtaining some private gain”. Scott (2003:368-369) mendefinisikan manajemen

laba sebagai “given that manager can choose accounting policies from a set of

policies (for example GAAP), it is natural to expect that they will choose policies

so as to maximize their own utility and/or the market value of the firm. This is

called earning management. Earning management is the choice by a manager of

accounting policies so as to achive some specific objectives”.

Jadi manajemen laba adalah upaya manajemen dalam proses pelaporan

keuangan perusahaan melalui pemilihan kebijakan-kebijakan akuntansi

(accounting policies) untuk mengatur jumlah laba yang dilaporkan dengan tujuan

untuk membentuk kesan mengenai kinerja perusahaan untuk menaikkan nilai

(7)

angka-angka akuntansi yang dilaporkan untuk memperoleh keuntungan bagi privat

manajemen.

Manajemen laba bisa jadi baik dan bisa jadi tidak baik (Scott, 2003:368).

Dalam batasan tertentu, manajemen laba baik untuk perusahaan. Manajemen laba

bisa digunakan untuk melindungi perusahaan dari konsekuensi-konsekuensi yang

tidak menguntungkan sebagai akibat pelanggaran kontrak perusahaan. Manajer

juga bisa mempengaruhi nilai pasar saham melalui manajemen laba. Namun, tidak

tertutup pula kemungkinan penyalahgunaan manajemen laba oleh manajer yaitu

bila manajer menggunakan manajemen laba untuk menguntungkan dirinya

sendiri, misalkan dalam kontrak bonus manajemen.

2.1.2 Motivasi Manajemen Laba

Ada beberapa teori mengenai motivasi manajemen laba. Watts dan

Zimmerman (1986) mengemukakan 3 faktor yang terkait dengan perilaku manajer

dalam pemilihan kebijakan akuntansi. Tiga faktor ini disebut dengan tiga hipotesis

teori akuntansi positif.

1. Hipotesis Rencana Bonus (bonus plan hypothesis)

Hipotesis ini membicarakan tentang hubungan pemilihan metode

akuntansi dengan rencana bonus manajer. Jika besar bonus yang akan didapat

manajer didasarkan pada besarnya laba yang dihasilkan, manajer diprediksi

akan memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga

meningkat pula bonus yang diperoleh. Jika perjanjian bonus bagi manajer

memiliki batas atas untuk jumlah yang dapat diterima, maka laba suatu

(8)

akan memberi inisiatif bagi manajer untuk mengurangi laba yang dilaporkan

dalam periode tersebut dan mentransfer laba pada periode berikutnya.

2. Hipotesis Perjanjian Hutang (debt covenant hypothesys)

Perjanjian hutang memiliki syarat yang harus dipenuhi yang mencakup

kesediaan debitur untuk mempertahankan rasio-rasio akuntansi seperti debt to

equity ratio, rasio modal kerja minimum, serta batasan-batasan lain yang

umumnya dikaitkan dengan data akuntansi perusahaan. Jika dilanggar akan

dikenakan sanksi pembatasan atas pembayaran deviden atau pembatasan

penambahan hutang. Laba yang tinggi diharapkan dapat mengurangi

kemungkinan terjadinya pelanggaran syarat perjanjian hutang. Manajer

diprediksi akan cenderung untuk memilih kebijakan akuntansi yang

meningkatkan laba.

3. Hipotesis Biaya politik (political cost hypothesis)

Hipotesis ini menyatakan bahwa perusahaan yang berhadapan dengan

biaya politis cenderung untuk menurunkan laba dengan tujuan untuk

meminimalkan biaya politik yang harus mereka tenggung (Scott, 1997:303).

Biaya politik menyangkut semua biaya (transfer kekayaan) yang harus

ditanggung perusahaan terkait dengan tindakan politis seperti anti trust,

subsidi pemerintah, pajak dan tarif, persaingan dengan perusahaan asing, serta

regulasi-regulasi lain (Watts dan Zimmerman, 1978). Selain itu manajemen

laba bisa digunakan untuk mengatasi persaingan dengan perusahaan asing.

Untuk memperoleh proteksi tersebut, perusahaan akan memilih kebijakan

akuntansi yang menurunkan laba sehingga laba mereka tampak turun sebagai

(9)

Teori motivasi manajemen laba yang lain adalah teori yang dikemukakan oleh

Healy dan Wahlen (1999) dalam Gumanti (2000). Teori tersebut disebutkan tiga

motivasi manajer untuk melakukan manajemen laba, yaitu:

1. Capital Market Motivations

Investor menggunakan informasi keuangan sebagai dasar dalam menilai

saham, hal inilah yang mendorong manajer untuk memanipulasi laba agar

dapat mempengaruhi kinerja harga saham perusahaan dalam jangka pendek.

Ada beberapa alasan khusus yang mendasari motivasi ini, yaitu:

1.Management Buyouts

Informasi laba sangat penting untuk penilaian dalam management

buyouts. Manajer memilih untuk menurunkan labadengan tujuan agar harga

saham turun sehingga dana yang dikeluarkan untuk membeli saham oleh

manajemen dapat ditekan sedikit mungkin

2.Penawaran Saham

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gumanti (2001), manajer

melakukan manajemen laba pada saat IPO yaitu terjadi 2 tahun sebelum go

public.

3.Ramalan Laba Manajemen dan Analis Keuangan (financial analyst

expectation and management earnings forecast)

Manajemen laba dilakukan manajer untuk memenuhi target dari

ramalan laba yang dilakukan oleh analis keuangan. Healy dan Wahlen

(1999) dalam Gumanti (2000) menemukan bahwa manajer melakukan

manajemen laba untuk mencegah menurunnya nilai pasar atas saham mereka

(10)

2. Contracting Management

Kontrak pada dasarnya menggunakan data keuangan sebagai persyaratan

dalam kontrak tersebut. Manajemen laba digunakan untuk menghindari sanksi

kontrak akibat data keuangan yang tak sesuai dengan persyaratan. Ada 2

macam kontrak, yaitu:

1.Kontrak Pinjaman (lending contract)

Kontrak ini dibuat untuk membatasi tindakan manajemen yang akan

menguntungkan pemegang saham perusahaan namun kontrak ini merugikan

para kreditur. Apabila kontrak dilanggar, perusahaan akan dikenakan sanksi,

seperti pembatasan atas pembayaran deviden dan penangguhan atau

pembatasan penambahan hutang. Kondisi keuangan perusahaan yang hampir

melanggar kontrak dapat memotivasi manajer untuk melakukan manajemen

laba. Yaitu menaikkan laba satu tahun sebelum pelanggaran kontrak

pinjaman (Healy dan Wahlen, 1999).

2.Kontrak Kompensasi Management (Management Compesation Contracts)

Kompensasi yang dijanjikan atas laba yang dihasilkan perusahaan

mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba. Manajer menaikkan

laba yang dilaporkan untuk memenuhi target laba dalam kontrak bonus

mereka. Manajer akan memilih prosedur yang akan menaikkan laba

sehingga meningkatkan bonus mereka. Menurut Scott (2003:380), pada saat

CEO (Chief Executive Officer) akan dipensiun juga terjadi manajemen laba

untuk memaksimalkan bonus yang akan diterima dan untuk menunda masa

(11)

3. Regulatory Motivations

Ada dua bentuk peraturan yang memotivasi manajer untuk melakukan

manajeman laba menurut Healy dan Wahlen (1999) dalam Gumanti (2000), yaitu:

1.Industry Specific Regulations

Di Amerika Serikat, setiap industri memiliki aturan yang berbeda.

Industri perbankan harus memelihara rasio kecukupan modal yang

dinyatakan dalam angka-angka akuntansi. Sedang dalam industri asuransi,

insurer harus memenuhi batas minimum kesejahteraan financial (financial

health). Peraturan-peraturan inilah yang akan mendorong manajer untuk

melakukan manajeman laba agar dapat memenuhi peraturan yang

ditetapkan. Beberapa studi menemukan bahwa bank yang mendekati batas

modal minimum menurunkan penghapusan kerugian piutang dan mengakui

keuntungan yang tidak normal dari portofolio sekuritasnya.

2.Anti Trust and Other Regulations

Manajemen laba dilakukan manajer berkaitan dengan investigasi anti

trust, subsidi pemerintah, persaingan dengan perusahaan asing, serta regulasi

lain. Cahan (1992) dalam Healy dan wahlen (1999) meneliti perusahaan

terkait dengan UU anti trust yang melarang untuk melakukan monopoli

dengan indikasi laba yang dilaporkan adalah tinggi. Manajemen yang akan

diinvestigasi akan menurunkan labanya untuk meminimalkan resiko tuduhan

bahwa perusahaan melakukan monopoli.

Ada pertimbangan lain yang mendorong manajer untuk melakukan

(12)

1. Pertimbangan Pajak

Manajer melakukan manajemen laba untuk meminimumkan beban

pajak yang wajib dibayar perusahaan. Banyak cara yang bisa dilakukan

manajemen, misalnya dengan menggunakan aliran persediaan LIFO,

memperbanyak jumlah beban dengan memperbesar penyusutan dan menekan

pendapatan.

2. Pertimbangan Karyawan

Karyawan di Negara Jerman akan menuntu gaji lebih tinggi bila laba

yang dilaporkan perusahaan meningkat. Hal ini mendorong manajer untuk

melaporkan laba lebih rendah daripada yang seharusnya selama proses

negosiasi kontrak tenaga kerja.

3. Usaha Untuk Memperthankan Nilai Perusahaan

Perusahaan yang merupakan target pembelian akan meningkatkan

labanya untuk mempertahankan reputasi dan memaksimumkan nilai

perusahaan.

2.1.3Bentuk Manajemen Laba

Ada empat bentuk manajemen laba yang dikemukakan oleh Scott

(2003:383-384), yaitu:

1. Taking a Bath (tindakan kepalang basah)

Pada manajemen yang mengalami periode buruk, bentuk manajemen laba

ini biasa digunakan. Misalnya saja pada saat resesi, pergantian manajer,

merger dan restrukturisasi. Biasanya, perusahaan yang merugi akan

(13)

dengan cara meningkatkan jumlah beban dan mentransfer laba pada periode

berikutnya. Manajer juga melakukan manajemen laba bila laba di bawah target

kontrak bonus dan mentransfer laba pada periode berikutnya untuk

memperbesar kemungkinan diperoleh bonus pada periode berikutnya.

2. Income Minimization

Manajemen laba ini dilakukan pada saat perusahaan memperoleh laba

yang tinggi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi perhatian secara politis

terhadap perusahaaan dan untuk mengurangi pajak yang harus dibayar.

Income minimization juga dilakukan pada saat perusahaan mengalami

persaingan dengan perusahaan asing.

3. Income Maximitation

Manajemen laba bentuk ini dilakukan agar manajer mendapat bonus yang

lebih besar. Demikian pula bila perusahaan mendekati batas pelanggaran

kontrak hutang, manajer akan berusaha untuk meningkatkan labanya agar

memenuhi persyaratan kontrak.

4. Income Smoothing (perataan laba)

Bentuk ini adalah bentuk manajemen laba yang paling populer. Melalui

perataan laba, manajer akan menaikkan atau menurunkan laba untuk

mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan. Ketika laba yang dihasilkan lebih

tinggi daripada ramalan manajemen, maka manajer akan melaporkannya lebih

rendah dan sebaliknya. Dengan perataan laba, kinerja perusahaan akan terlihat

lebih stabil sehingga penanaman modal oleh investor dianggap tidak beresiko.

(14)

kontrak hutang yaitu dengan mengatur laba diantara batas bawah dan batas

atas target.

2.1.4`Teknik Manajemen Laba

Menurut Teoh et al (1998), pemilihan metode akuntansi mempengaruhi waktu

pengakuan pendapatan dan beban, yaitu pada periode mana pendapatan dan beban

diakui. Misalnya, metode presentase penyelesaian (the percentage-completion

method) yang memperbolehkan pengakuan pendapatan dalam presentase tertentu

sesuai dengan estimasi penyelesaian selama kontrak atau proyek berjalan,

sedangan metode kontak selesai hanya mengijinkan pengakuan pendapatan pada

saat proyek telah selesai. Hal ini akan mempengaruhi jumlah laba yang akan

dilaporkan. Ada tiga teknik menurut Setiawati dan Naim (2000) dalam Saiful

(2004) yang digunakan untuk mengatur laba, yaitu:

1. Peluang untuk membuat estimasi akuntansi

Peluang ini bisa dilakukan melalui estimasi tingkat piutang tak tertagih

(uncollectible rate on account receivable), estimasi jangka waktu penyusutan

aktiva tetap, amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi besarnya nilai residu

aktiva tetap, estimasi biaya garansi, estimasi presentase penyelesaian kontrak,

dan lain-lain.

2. Mengubah metode akuntansi

Perubahan metode akuntansi yang dapat digunakan yaitu antara lain

mengubah metode depresiasi aktiva tetap dari metode angka tahun ke metode

garis lurus atau sebaliknya. Mengubah metode pencatatan persediaan dari

(15)

diketahui karena perubahan metode akuntansi harus dilaporkan dalam laporan

keuangan. Selain itu, adanya standar konsistensi mencegah seringanya

perubahan metode akuntansi.

3. Menggeser periode biaya dan pendapatan

Contoh dari teknik ini antara lain mempercepat atau menunda pengeluaran

untuk penelitian sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau

menunda pengeluaran promosi sampai periode berikutnya, bekerjasama

dengan vendor atau suplier untuk menunda atau mempercepat pengiriman

tagihan sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda

pengiriman produk ke pelanggan mengatur waktu penjualan aktiva tetap dan

lain-lain.

2.2 PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Perusahaan yang melakukan IPO masih belum mempunyai harga pasar.

Oleh karena itu, informasi akuntansi keuangan yang dimasukkan kedalam

prospectus menjadi sumber informasi yang berguna. Hughes (1986) dalam

Gumanti (2001) menunjukkan secara analitis bahwa informasi seperti income

bersih dapat menjadi hal yang berguna untuk membantu memberikan tanda

tentang nilai perusahaan pada investor. Clarkson, Dontoh, Richardson dan Sefcik

(1992) dalam Gumanti (2001), menemukan temuan empirik bahwa pasar

memberikan respon secara positif kepada peramalan earning sebagai sinyal nilai

perusahaan. Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa manajer dari perusahaan

yang go public mengelola earning yang dilaporkan dalam prospektusnya dengan

(16)

Friedlan (1994) dalam Zhou dan Elder (2004) menyelidiki masalah ini.

Untuk sampel 155 IPO Amerika yang dilakukan selama 1981-1984, dia meneliti

apakah perusahaan yang mengelola earningnya keatas dalam periode akuntansi

terakhir sebelum IPO dengan sarana akrual diskresioner. Karena perusahaan yang

melakukan IPO biasanya berkembang dengan sangat cepat, maka sulit untuk

mengestimasi akrual diskresionernya, karena pertumbuhan itu sendiri

menimbulkan peningkatan akrual, seperti piutang, persediaan, dan lain-lain.

Setelah uji secara ekstensif, Friedlan mengambil kesimpulan bahwa perusahaan

yang melakukan IPO bermaksud membuat akrual diskresioner yang dapat

meningkatkan income pada periode terakhir sebelum IPO, relatif terhadap akrual

dalam periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan. Lebih lanjut, manajemen

akrual cenderung dikonsentrasikan pada sampel perusahaan yang mempunyai

kinerja buruk seperti yang diukur dengan arus kas operasi.

Banyak penelitian yang meneliti tentang penggunaan manajemen laba pada

suatu keadaan ekonomi tertentu. Penelitian yang dilakukan oleh Gumanti (2001)

menguji apakah manajemen laba terjadi pada saat IPO dengan menggunakan

sampel 39 perusahaan IPO yang go public 1995-1997 dengan metode total akrual.

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa perusahaan melakukan manajemen

laba.

Penelitian yang dilakukan Saiful (2004) menggunakan sample perusahaan

yang terdaftar di BEJ yang melakukan IPO pada tahun 1991-1994 dan

menggunakan laporan keuangan periode 1988-1993 menggunakan discretionary

accrual untuk mengukur manajeman laba, DROA (perbedaan Return on Asset)

(17)

Return) untuk mengukur return saham. Hasil yang diperoleh bahwa manajemen

laba dilakukan pada periode 2 tahun sebelum IPO, saat IPO dan 2 tahun setelah

IPO. Manajemen laba tidak dilakukan 2 tahun bertururt-turut karena mengambil

akrual positif dari periode yang akan datang. Kinerja operasi perusahaan rendah

setelah IPO. Manajemen laba akan mempengaruhi kinerja satu dan 2 tahun

berikutnya. Return saham akan menurun setelah IPO tapi penelitian ini tak

mampu menemukan hubungan penurunaan kinerja saham dengan manajemn laba

karena itu belum mampu mendeteksi manajemen laba.

2.2.1Hipotesis Kualitas Audit

Menurut AAA Financial Accounting Standard Commottee 2000 dalam

Meutia (2004), kualitas audit ditentukan oleh dua hal, kompetensi dan

independensi. Kualitas ini mempunyai pengaruh langsung terhadap kualitas audit.

Selain itu, laporan keuangan menggunakan persepsi bahwa kualitas audit adalah

suatu fungsi untuk menggambarkan indepsndensi auditor dan keahlian auditor

tersebut.

Kompetensi ini berkaitan dengan pendidikan dan pengalaman yang dimiliki

oleh auditor. Auditor harus bertindak sebagai orang yang ahli di bidang akuntansi

dan auditing. Kealian ini didapat dari pendidikan formal, pengalaman dan

pelatihan yang diberikan oleh auditor senior.

Independensi merupakan komponen etika yang harus dijaga oleh akuntan

publik. Independensi berarti auditor bekerja bebas dan tidak berada di bawah

(18)

Sikap mental independen tersebut meliputi independen dalam fakta (in fact)

maupun dalam penampilan (in appearance).

Sedangkan De Angelo (1981) dalam Meutia (2004) mendefinisikan kualitas

audit sebagai kemungkinan bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan

pelanggaran dalam sistem akuntansi klien. Pelanggaran yang ditemukan oleh

auditor mengukur kualitas audit berkaitan dengan pengetahuan dan kemampuan

auditor untuk mengungkap pelanggaran tersebut. Motivasi untuk menemukan

pelanggaran ini tergantung kepada independensi auditor.

Faktanya, audit dapat dipandang berkualitas apabila auditor telah melakukan

proses audit sesuai dengan standar auditing. Dengan digunakannya standar dalam

proses audit, auditor diharapkan dapat menemukan kesalahan saji yang terdapat

dalam laporan keuangan dan menjaga independensinya untuk tetap melaporkan

kesalahan tersebut.

Menurut Zhou dan Elder (2004), kualitas audit dapat diukur dari ukuran

Kantor Akuntan Publik (KAP) dan spesialisasi industri oleh auditor. Kualitas

audit tidak dapat diobservasi secara langsung. Persepsi mengenai kualitas audit

biasanya berkaitan dengan nama auditor, termasuk disini adalah pengalaman

industri dan kemampuan untuk mengungkap kesalahan yang dilakukan

manajemen (Zhou dan Elder, 2004). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan

proksi ukuran auditor dan auditor spesilaisasi industri untuk mengukur kualitas

audit sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhou dan Elder (2004).

2.2.1.1Ukuran Auditor (KAP)

Kualitas audit sering dihubungkan dengan ukuran auditor atau KAP, yaitu

(19)

mempunyai auditor yang berpengalaman dan berkualitas sehingga memungkinkan

mereka bekerja lebih baik. Teori ini didukung dengan penelitian Becker (1998)

dalam Zhou dan Elder (2004) yang menyebutkan bahwa perusahaan yang diaudit

oleh KAP non-Big 5 melaporkan kenaikan laba yang signifikan dibandingkan

dengan perusahaan yang menggunakan KAP Big 5. Becker juga menemukan

bahwa manajer menyiapkan strategi manajemen laba sebagai respon terhadap

kontrak hutang dan insentif bagi manajemen. Francies (1999) pada Fernando,

Elder dan Meguid (2006) menyatakan bahwa perusahaan dengan akrual yang

tinggi mempunyai keuntungan untuk menyewa auditor Big 5 untuk menjamin

bahwa laba dilaporkan secara kredibel dengan melaporkan discretionary accruals

yang rendah.

Auditor yang berkualitas tinggi akan mempertahankan reputasinya dengan

memberikan kualitas pengauditan yang tinggi pula. Perusahaan yang

menggunakan auditor yang berkualitas dapat menjamin informasi keuangan yang

dilaporkan pada investor, sehingga investor akan lebih tertarik dan percaya atas

informasi tersebut.

Penelitian Craswell et al. (1995) dalam Zhou dan Elder (2004)

membuktikan bahwa KAP Big 6 menyediakan lebih banyak sumber daya manusia

untuk staf training dan pengembangan keahlian pada bidang industri tertentu.

Dengan begitu diharapkan KAP Big 6 memiliki potensi untuk bernegosiasi

dengan klien yang bermaksud untuk mengadopsi praktek-praktek akuntansi

agresif dibandingkan dengan KAP non-Big 6. Pengauditan yang dilakukan oleh

auditor yang berkualitas dapat digunakan untuk meningkatkan kredibilitas

(20)

H1: Auditor KAP besar akan menurunkan praktik menejemen laba pada

perusahaan yang akan melakukan IPO.

2.2.1.2Spesialisasi Industri Oleh Auditor

Craswell et al. (1995) dalam Zhou dan Elder (2001) membuktikan bahwa

kualitas audit berhubungan dengan auditor spesialis industri. Auditor yang

melakukan spesialisasi pada industri tertentu memiliki lebih banyak pengetahuan

mengenai informasi industri tersebut dibandingkan auditor non-spesialis.

Fernando, Elder dan Meguid (2006) menguji hubungan antara kualitas audit

dan discretionary accruals pada perusahaan IPO. Kualitas diproksikan oleh

ukuran auditor dan spesialisasi industri oleh auditor. Zhou dan Elder menemukan

bahwa KAP Big 5 dan spesialisasi industri diasosiakan dengan discretionary

accruals yang lebih rendah untuk perusahaan IPO. Selain penelitian pada tahun

2006, Zhou dan Elder juga melakukan penelitian pada tahun 2004 yang mengukur

hubungan kualitas audit dengan manajemen laba pada perusahaan yang

melakukan Seasoned Equity Offering (SEO). Penelitian ini membuktikan bahwa

KAP Big 5 dan spesialisasi industri auditor juga berperan penting terhadap

pelaporan discretionary accruals yang lebih rendah sehingga kualitas audit dapat

mengurangi bahkan mencegah kemungkinan terjadinya manajemen laba.

Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2 : Auditor spesialisasi industri akan menurunkan praktik menejemen laba pada

(21)

2.2.2Hipotesis Manajemen Laba

Watts dan Zimmerman (1986) mengemukakan 3 hipotesis yang terkait

dengan perilaku manajer dalam pemilihan kebijakan akuntansi, meliputi hipotesis

rencana bonus, hipotesis biaya politik dan hipotesis perjanjian hutang.

2.2.2.1 Hipotesis Rencana Bonus (bonus plan hypothesis)

Hipotesis ini membicarakan tentang hubungan pemilihan metode

akuntansi dengan rencana bonus manajer. Jika besar bonus yang akan didapat

manajer didasarkan pada besarnya laba yang dihasilkan, manajer diprediksi akan

memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga meningkat pula

bonus yang diperoleh.

H3 : Peningkatan kompensasi karyawan akan meningkatkan praktik menejemen

laba pada perusahaan yang akan melakukan IPO.

2.2.2.2 Hipotesis Biaya politik (political cost hypothesis)

Hipotesis ini menyatakan bahwa perusahaan yang berhadapan dengan biaya

politis cenderung untuk menurunkan laba dengan tujuan untuk meminimalkan

biaya politik yang harus mereka tanggung (Scott, 1997:303). Selain itu,

perusahaan juga menggunakan manajemen laba untuk mengatasi persaingan

dengan perusahaan asing, sehingga perusahaan akan memilih kebijakan akuntansi

yang menurunkan laba sehingga laba mereka tampak turun sebagai akibat

persaingan dengan perusahaan asing tersebut.

H4 : Peningkatan ukuran perusahaan akan meningkatkan praktik menejemen laba

(22)

2.2.2.3 Hipotesis Perjanjian Hutang (debt covenant hypothesys)

Perjanjian hutang memiliki syarat yang harus dipenuhi yang mencakup

kesediaan debitur untuk mempertahankan rasio-rasio akuntansi seperti debt to

equity ratio, rasio modal kerja minimum, serta batasan-batasan lain yang

umumnya dikaitkan dengan data akuntansi perusahaan. Jika dilanggar akan

dikenakan sanksi pembatasan atas pembayaran deviden atau pembatasan

penambahan hutang. Laba yang tinggi diharapkan dapat mengurangi

kemungkinan terjadinya pelanggaran syarat perjanjian hutang. Manajer diprediksi

akan cenderung untuk memilih kebijakan akuntansi yang meningkatkan laba.

H5 : Peningkatan leverage perusahaan akan meningkatkan praktik menejemen

(23)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 POPULASI DAN SAMPEL

Penelitian ini menggunakan 35 perusahaan sebagai sampel dari 80

perusahaan yang melakukan IPO pada periode tahun 2000-2003. Pengumpulan

sampel ini menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria:

1. Perusahaan melakukan IPO pada periode tahun 2000-2003.

2. Laporan Keuangan perusahaan diaudit oleh auditor independen.

3. Perusahaan tidak mengalami perpindahan auditor pada tahun menjelang

IPO.

3.2 JENIS DAN SUMBER DATA

Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

1. Data perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2000-2003. Daftar ini

dapat dilihat pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD).

2. Ukuran KAP dan spesialisasi industri audtor yang diperoleh dari Laporan

Auditor Independen (LAI) perusahaan dan ICMD.

3. Laporan keuangan tahunan yang diperoleh dari ICMD. Data yang

dibutuhkan adalah laba bersih (net income), arus kas operasi, total aset,

pendapatan, piutang usaha, property, plant and equipment, kewajiban total

(24)

3.3 VARIABEL PENELITIAN 3.3.1 Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah praktik manajemen laba pada

perusahaan yang akan melakukan IPO. Penelitian ini berfokus pada discretionary

accruals sebagai ukuran manajemen laba. Total akrual perusahaan diukur dengan

rumus di bawah ini:

TACit = NDACit + DACit

dalam hal ini,

TACit = total akrual perusahaan i pada tahun t

NDACit = nondiscretionary accrual (tingkat akrual yang wajar) perusahaan

pada i tahun t

DACit = discretionary accrual (tingkat akrual yang abnormal) perusahaan i

pada tahun t

Total akrual diperoleh dari rumus sebagai berikut:

TACit = NIit - CFOit

dalam hal ini,

NI = laba bersih (net income) perusahaan i pada tahun t

CFO = arus kas operasi (cash flow from operation) perusahaan i pada tahun t

Penelitian ini menggunakan model Jones yang dimodifikasi yang dirancang

untuk memberikan kekuatan statitis yang tinggi untuk mendeteksi adanya

manajemen laba jika terdapat discretionary accruls yang signifikan (Jones dan

Charles P, 2000). Model Jones modifikasi digunakan karena dari beberapa model

yang ada model Jones yang dimodifikasilah yang dapat memberikan kekuatan

statistic yang tinggi untuk mendeteksi adanya manajemen laba (Dechow, 1995).

Rumus discretionary accruals dengan model Jones modifikasi adalah sebagai

(25)

DACit = TACit/TAit-1-[α1(1/TAit-1)+α2((∆REVit-∆RECit)/TAit-1)+α3(PPEit/TA

it-1)+e]

dalam hal ini,

DACit = discretionary accrual (tingkat akrual yang abnormal) perusahaan i

pada tahun t

TAit-1 = total asset perusahaan i pada tahun t-1

∆REVit = pendapatan bersih perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan

tahun t-1

∆RECit = piutang usaha perusahaan i pada tahun t dikurangi piutang usaha

tahun t-1

PPEit = property, plant equipment perusahaan i pada tahun t

α1, α2, α3 = menunjukkan estimasi OLS

e = residual, yang menunjukkan bagian diskresioner perusahaan spesifik dari total aktiva.

Untuk mendapatkan nilai dari estimasi perusahaan spesifik α1, α2, α3 diperoleh

dengan menggunakan model periode estimasi yang berasal dari model Jones

original, bukan dari model Jones modifikasi (Jones dan Charles P, 2000).

Penyesuaian relatif dari model Jones original adalah perubahan pendapatan

disesuaikan untuk perubahan piutang dalam tahun peristiwa. Pendekatan tersebut

berasal dari asumsi yang mendasari seluruh model akrual diskresioner, yaitu

selama periode estimasi tak terdapat manajemen laba yang sistematik (dechow,

1995). Model Jones yang original adalah:

DACit = TACit/TAit-1-[α1(1/TAit-1)+α2(∆REVit/TAit-1)+α3(PPEit/TAit-1)+e]

dalam hal ini,

DACit = discretionary accrual (tingkat akrual yang abnormal) perusahaan i

pada tahun t

TAit-1 = total asset perusahaan i pada tahun t-1

∆REVit = pendapatan bersih perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan

tahun t-1

∆RECit = piutang usaha perusahaan i pada tahun t dikurangi piutang usaha

tahun t-1

PPEit = property, plant equipment perusahaan i pada tahun t

α1, α2, α3 = menunjukkan estimasi OLS

(26)

Estimasi parameter perusahaan spesifik α1, α2, α3 diperoleh dengan periode

estimasi sebagi berikut:

TACit/TA it-1 = a1(1/TAit-1)+a2(∆REVit/TAit-1)+a3(PPEit/TAit-1)+e

dalam hal ini,

TACit = total akrual perusahaan i pada tahun t

TAit-1 = total asset perusahaan i pada tahun t-1

∆REVit = pendapatan bersih perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan

tahun t-1

PPEit = property, plant equipment perusahaan i pada tahun t

a1, a2, a3 = menunjukkan estimasi OLS

e = residual, yang menunjukkan bagian diskresioner perusahaan spesifik dari total aktiva.

3.4.2Variabel Independen 1. Variabel Kualitas audit

Variabel independen pada penelitian ini adalah kualitas audit yang

diproksikan dengan ukuran KAP dan auditor spesialis industri, kedua variabel ini

diukur menggunakan variabel dummy. KAP yang berafiliasi dengan Big 5 auditor

(untuk sampel tahun 2000-2001) dan Big 4 auditor (untuk sampel tahun

2002-2003) diberi nilai 1 dan yang tak berafiliasi diberi nilai 0. Penelitian Zhou dan

Elder (2001) mendefinisikan KAP sebagai spesialisasi industri jika mengaudit

lebih dari 10% penjualan dalam suatu industri. Penelitian ini menggunakan 20%

cut off untuk mencerminkan Big 5 auditor pada perusahaan yang melakukan IPO

pada tahun 2000-2001 dan 25% untuk perusahaan yang melakukan IPO pada

trahun 2002-2003 yang mencerminkan perubahan menjadi Big 4 auditor. Rumus

untuk mengukur rasio spesialisasi industri adalah sebagai berikut:

(27)

dalam hal ini,

R = rasio spesialisasi industri

m = jumlah perusahaan dalam satu industri yang diaudit oleh auditor yang sama n = jumlah perusahaan yang diaudit oleh semua auditor

2. Variabel Motivasi Manajemen Laba

Variabel lain yang berpengaruh terhadap manajemen laba adalah variabel

motivasi manajemen laba yang dikemukakan oleh Scott (2003). Variabel rencana

bonus diukur dengan log dari beban gaji. Variabel biaya politik diukur dengan log

dari total aktiva. Dan variabel perjanjian hutang diukur dengan leverage

perusahaan.

3.5 MODEL PENGUJIAN

Model pengujian ini adalah:

DAC = β0+ β1 DKAP + β2 DSPIND + β3 SALARY + β4 SIZE+ β5 LEV + e

dalam hal ini,

DAC = discretionary accrual sebagai proksi manajemen laba DKAP = ukuran auditor, 1 untuk KAP besar dan 0 untuk KAP kecil DSPIND = spesialisasi industri, 1 bila spesialis dan 0 bila tidak spesialis

SALARY = log natural beban gaji karyawan sebagai indkator manajer untuk memperoleh bonus dari laba yang dilaporkan

SIZE = log natural total sales sebagai proksi ukuran perusahaan IPO LEV = leverage, total kewajibanit per total aktivait

3.6 TEKNIK ANALISIS DATA 3.6.1 Pengujian Asumsi Klasik

1. Pengujian Normalitas

Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam residual model regresi

mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji ini menggunakan metode

(28)

2. Pengujian Multikolinearitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan

adanya korelasi antar variabel bebas. Jika terdapat korelasi akan menyebabkan

problem multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi

korelasi antara variabel indepeenden. Uji ini menggunakan metode Pearson

Correlation.

3. Pengujian Heterokedastisitas

Bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang

lain. Jika varian dari residual ini tetap maka disebut homokedastisitas, dan

sebaliknya.

3.6.2 Pengujian Hipotesis

Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk mengetahui

pengaruh variabel-variabel independen (KAP, SPIND, SALARY, SIZE, dan

LEV) terhadap variable dependen. Teknik ini dilakukan dengan program aplikasi

Statistical Package for Social Sciences (SPSS).

3.6.2.1 Pengujian Statistik F (Uji Regresi secara Keseluruhan)

Uji F dilakukan untuk mengukur tingkat keberartian hubungan (pengaruh)

secara keseluruhan koefisien regresi dari variabel independen terhadap variabel

dependen. Hipotesis yang bahwa variabel independen mempunyai pengaruh

(29)

3.6.2.2 Pengujian Statistik t (Uji Regresi Secara Parsial)

Uji t digunakan untuk menguji dan mengetahui pengaruh variabel

independen secara parsial terhadap variabel dependen. Untuk menolak atau

menerima hipotesis maka diperlukan perbandingan anatara nilai thitung dan ttabel.

Rumus thitung adalah sebagai berikut:

Thitung = b – β

Se(b)

dalam hal ini,

b = koefisien regresi sampel β = koefisien regresi korelasi Se(b) = standard error sample

3.6.2.3 Koefisisen Determinasi (Adjusted R2)

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur presentase variasi nilai

(30)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Data Penelitian

Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 35 perusahaan publik. Total

perusahaan yang melakukan IPO pada tahun 2002-2003 adalah 80 perusahaan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 perusahaan yang tidak memenuhi persyaratan

kelengkapan laporan keuangan dan perusahaan yang melakukan pergantian

auditor dari KAP besar ke KAP kecil ataupun sebaliknya adalah 7 perusahaan.

Table 1

Perhitungan Jumlah Sampel

KETERANGAN JUMLAH

Jumlah perusahaan IPO periode tahun 2000-2003 80

Laporan keuangan tidak diperoleh 18

Laporan keuangan tidak lengkap 13

Pergantian auditor 7

Laporan Auditor Independen tidak tersedia 7

Jumlah perusahaan yang menjadi sampel 35

Klasifikasi sampel menurut kualitas audit yang diproksikan dengan jenis

(31)

Tabel 2

Klasifikasi Sampel Menurut Kualitas Audit

KUALITAS AUDIT

Perusahaan yang diaudit oleh KAP Besar lebih banyak daripada perusahaan

yang diaudit oler KAP kecil, yaitu sebanyak 18 perusahaan (51%.) Sedangkan

jumlah perusahaan yang diaudit oleh spesialisasi industri auditor sebanyak 14

perusahaan (40%).

4.2 Analisis Deskriptif

Dari pengujian regresi discretionary accruals untuk memperoleh nilai α

diperoleh model sebagai berikut:

DACit = TACit/TAit-1- [0,277(1/TAit-1)+0,0519((∆REVit-∆RECit)/TAit-1

(32)

dalam hal ini,

DACit = discretionary accrual (tingkat akrual yang abnormal) perusahaan i

pada tahun t

TAit-1 = total asset perusahaan i pada tahun t-1

∆REVit = pendapatan bersih perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan

tahun t-1

∆RECit = piutang usaha perusahaan i pada tahun t dikurangi piutang usaha

tahun t-1

PPEit = property, plant equipment perusahaan i pada tahun t

e = residual, yang menunjukkan bagian diskresioner perusahaan spesifik dari total aktiva.

Analisis deskriptiff yang dilakukan pada sampel adalah analisis

perbandingan nilai rata-rata (mean), nilai minimum dan maksimum, serta standar

deviasi dari sampel. Tabel 3 dibawah ini menunjukkan statistik deskriptif sampel

yang digunakan untuk menguji hipotesis.

Tabel 3

Descriptive Statistics

35 -.0690 .6037 .2539 .1564

35 0 1 .51 .507

35 0 1 .40 .497

35 637 363582 29888.86 70070.494 35 3.7897 6.3352 5.0001 .6118 35 .0260 .6969 .2926 .1493 35 2.8041 5.5606 3.8471 .6834 35

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Keterangan:

DAC = discretionary accrual sebagai proksi manajemen laba DKAP = ukuran auditor, 1 untuk KAP besar dan 0 untuk KAP kecil DSPIND = spesialisasi industri, 1 bila spesialis dan 0 bila tidak spesialis

SALARY = log natural beban gaji karyawan sebagai indicator manajer untuk memperoleh bonus dari laba yang dilaporkan

(33)

4.3 Hasil Pengujian Asumsi Klasik 1. Hasil Uji Normalitas

Untuk menguji apakah sampel penelitian merupakan jenis distribusi normal

digunakan pengujian Kolmogorov-Smirnov goodness of Fit test terhadap

masing-masing variabel. Hasil pengujian digunakan untuk membuktikan distribusi normal

pada model yang digunakan. Hasil perhitungan Kolmogorov-Smirnov goodness of

Fit test pada lampiran 1 menunjukkan distribusi yang normal pada model yang

digunakan sehingga bisa dilakukan regresi dengan Model Linear Berganda.

2. Hasil Uji Multikolinearitas

Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai Variance

Inflation Factor (VIF). apabila nilai VIF>10, maka tejadi multikolinearitas dan

sebaliknya, apabila VIF<10 maka tidak terjadi multikolinearitas. Hasil pengujian

pada penelitian ini menunjukkan nilai VIF yang terendah adalah 1.226 dan

tertinggi adalah 1.769 (lihat lampiran 2). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan

bahwa untuk variabel independen yaitu KAP, SPIND, LOGSAL, SIZE, dan LEV

tidak terjadi multikolinearitas.

3. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Regresi yang baik dan efisien adalah yang homokedastisitas karena

heteroskedastisitas akan mengakibatkan penaksiran koefisien-koefisien regresi

menjadi tidak efisien. Untuk menguji tidak terjadinya heteroskedastisitas

(34)

thitung>ttabel berarti terjadi heteroskedastisitas namun sebaliknya bila thitung<ttabel

maka terjadi homoskedastisitas.

Hasil pengujian pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 3. Level

signifikan yang digunakan pada pengujian ini adalah 5% dan nilai ttabel pada level

5% adalah 2.026 sedangkan nilai thitung untuk variabel KAP, SPIND, LOGSAL,

dan SIZE lebih kecil dari nilai ttabel, sedangkan nilai thitung untuk variable LEV

lebih besar dari nilai ttabel, yaitu sebesar 2.028. sehingga dari hasil tersebut dapat

disimpulkan bahwa untuk KAP, SPIND, LOGSAL, dan SIZE dengan absolut

residual (ABSU) tidak terjadi heteroskedastisitas dengan ditunjukkannya nilai

thitung yang lebih kecil dari nilai ttabel. Sedangkan pada variable LEV terjadi

heteroskedastisitas dengan ditunjukkannya nilai thitung yang lebih besar dari nilai

ttabel.

4.4 Hasil Uji Hipotesis

4.4.1 Hasil Uji Statistik F (Uji Regresi secara Keseluruhan)

Hipotesis pada penelitian ini diuji dengan melakukan regresi antara beberapa

variabel antara lain ukuran KAP (KAP), spesialisasi industri oleh auditor

(SPIND), beban gaji (LOGSAL), ukuran perusahaan auditee (SIZE), dan tingkat

leverage perusahaan auditee (LEV) dengan variabel dependen discretionary

accruals (DAC). Untuk mengetahui apakah variabel independen berpengaruh

signifikan secara bersamaan terhadap variabel dependen digunakan uji F. Hasil

dari pengujian ini dapat dilihat pada lampiran 4, pada table dapat dilihat nilai Ftabel

dengan degree of freedom (df) sebesar 5. Dapat dilihat bahwa nilai Fhitung lebih

(35)

menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang cukup signifikan dari variabel KAP,

SPIND, LOGSAL, SIZE, dan LEV.

4.4.2 Hasil Uji Statistik t (Uji Regresi Secara Parsial)

Uji t pada penelitian ini digunakan untuk menguji apakah variabel

independen secara individu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

variabel dependen. Pada lampiran 4 dapat dilihat bahwa variabel KAP memiliki

nilai thitung sebesar -2.137, nilai ini menunjukkan │thitung │>│ttabel│yaitu

2.137>2.026. Dengan demikian hipotesis yang diuji pada penelitian ini dapat

diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel KAP berpengaruh negatif dan

signifikan (p value<0.05) pada DAC. Hal ini berarti bahwa perusahaan yang

diaudit oleh KAP besar yaitu yang tergabung dalam KAP Big 4 atau KAP Big 5

melaporkan discretionary accruals yang lebih rendah daripada perusahaan yang

diaudit oleh KAP kecil. Hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian yang dilakukan

oleh Zhou dan Elder (2004 dan 2006). Menurut penelitian sebelumnya, hal ini

disebabkan KAP besar memiliki lebih banyak pengalaman, sumber daya dan

dorongan untuk mendeteksi manajemen laba dan melaporkan salah saji material

yang dilakukan manajemen pada laporan keuangan perusahaan.

Pada variable SPIND memiliki nilai thitung sebesar -2.528, nilai ini juga

menunjukkan hal yang sama dengan variabel KAP, yaitu menunjukkan │thitung

│>│ttabel│yaitu 2.528>2.026. Dengan denikian hipotesis yang kedua juga dapat

diterima. Hasil uji menunjukkan bahwa variabel SPIND berpengaruh negatif dan

signifikan (p value<0.05) pada DAC. Hal ini berarti bahwa perusahaan yang

(36)

discretionary accruals yang lebih rendah daripada perusahaan yang diaudit oleh

auditor yang bukan spesialisasi industri. Menurut Craswell et al (1995) dalam

Zhou dan Elder (2004), kualitas audit akan meningkat bila auditor mempunyai

banyak pengalaman mengaudit perusahaan yang berada dalam industri yang sama.

Selain itu, kualitas audit juga meningkat seiring dengan peningkatan pangsa pasar

auditor. Hasil ini juga sesuai dengan pendapat Becker (1999) dalam Zhou dan

Elder (2004), bahwa auditor yang berkualitas tinggi (KAP Big Five/ Big four dan

auditor spesialis industri) akan mengurangi praktek manajemen laba perusahaan

pada saat IPO.

Variabel LOGSAL menunjukkan tingkat signifikansi 0.755, hal ini

menunjukkan bahwa variabel ini tidak berpenagruh signifikan terhadap

discretionary accruals (│thitung │<│ttabel│yaitu 0.316<2.026). Hal ini berarti

bahwa besar gaji yang diterima karyawan tidak berpengaruh pada manajemen laba

yang dilakukan perusahaan. Hal ini terjadi karena hipotesis rencana bonus diukur

menggunakan beban gaji total karyawan dan bukan dengan menggunakan

kompensasi atau bonus manajemen

Variabel SIZE menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.038 yang lebih

rendah dari α (0.05) dan memiliki │thitung │>│ttabel│yaitu 2.175>2.026. Hasil ini

menunjukkan bahwa variabel SIZE berpengaruh positif dan signifikan terhadap

discretionary accruals. Semakin tinggi ukuran perusahaan auditee semakin tinggi

pula manajemen laba yang dilakukan perusahaan.

Variabel LEV (leverage) menunjukkan nilai signifikasi sebesar 0.668. Hal

(37)

discretionary accruals (p value>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan

tidah harus bergantung pada manajemen laba untuk keamanan perjanjian hutang,

hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhou dan Elder (2004), yakni

ada beberapa hal lain yang berpengaruh pada keamanan perjanjian hutang,

misalkan kredibilitas perusahaan, jaminan yang diberikan perusahaan dan

ketepatan waktu pembayaran angsuran.

Setelah dilakukan pengujian model, maka dilakukan penghitungan korelasi

untuk mengukur ketepatan garis regresi dalam menjelaskan variasi nilai variabel

independen. Hasil analisis yang diperlihatkan pada lampiran 4 menunjukkan nilai

adj R2 sebesar 0.412 yaitu bahwa variasi nilai dari discretionary accruals sebesar

41.2% bisa dijelaskan oleh variasi 5 variabel independent (KAP, SPIND,

LOGSAL, SIZE, dan LEV) sedang sisanya (50.1%) disebabkan oleh sebab lain

diluar persamaan model.

Dari hasil sebelumnya dapat disimpilkan bahwa variabel ukuran auditor

(KAP), auditor spesialis industri (SPIND) dan ukuran perusahaan (SIZE)

berpengaruh secara serentak ataupun secara parsial terhadap discretionary

(38)

BAB V

PENUTUP

5.1Kesimpulan

Penelitian ini menggunakan dua hipotesis independen yang digunakan untuk

mendeteksi praktik manajemen laba terhadap perusahaan yang akan melakukan

IPO. Pertama, hipotesis motivasi manajemen laba meliputi hipotesis rencana

bonus, hipotesis biaya politik, hipotesi perjanjian hutang. Dari pengujian ini,

hipotesis rencana bonus tidak terbukti berpengaruh pada praktik manajemen laba.

Hal ini berarti bahwa besar gaji yang diterima karyawan tidak berpengaruh pada

manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hal ini terjadi karena hipotesis

rencana bonus diukur menggunakan beban gaji total karyawan dan bukan dengan

menggunakan kompensasi atau bonus manajemen. Hipotesis biaya politik terbukti

berpengaruh positif pada manajemen laba. Hal ini menunjukkan semakin tinggi

ukuran perusahaan auditee semakin tinggi pula manajemen laba yang dilakukan

perusahaan. Hipotesis leverage tidak terbukti berpengaruh pada praktik

manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tidah harus bergantung

pada manajemen laba untuk keamanan perjanjian hutang. Ada beberapa hal lain

yang berpengaruh pada keamanan perjanjian hutang, yakni kredibilitas

perusahaan, jaminan yang diberikan perusahaan dan ketepatan waktu pembayaran

angsuran (Zhou dan Elder, 2004).

Kedua, hipotesis kualitas audit yang menggunakan ukuran auditor dan auditor

spesialis industri unuk mengukur praktik manajemen laba. Hipotesis ukuran

(39)

berarti bahwa perusahaan yang diaudit oleh KAP besar yaitu yang tergabung

dalam KAP Big 4 atau KAP Big 5 melaporkan discretionary accruals yang lebih

rendah daripada perusahaan yang diaudit oleh KAP kecil. Hal ini sesuai dengan

hipotesis penelitian yang dilakukan oleh Zhou dan Elder (2004 dan 2006).

Menurut Zhou dan Elder menjelaskan bahwa KAP besar memiliki lebih banyak

pengalaman, sumber daya dan dorongan untuk mendeteksi manajemen laba dan

melaporkan salah saji material yang dilakukan manajemen pada laporan keuangan

perusahaan. Hipotesis auditor spesialis industri juga berpengaruh negatif terhadap

praktik manajemen laba. Hal ini berarti bahwa perusahaan yang diaudit oleh

auditor yang melakukan spesialisasi industri melaporkan discretionary accruals

yang lebih rendah daripada perusahaan yang diaudit oleh auditor yang bukan

spesialisasi industri. Menurut Craswell et al (1995) dalam Zhou dan Elder (2004),

kualitas audit akan meningkat bila auditor mempunyai banyak pengalaman

mengaudit perusahaan yang berada dalam industri yang sama.

5.2 Keterbatasan

Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain:

1. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini relatif sedikit dan periode

laporan keuangan yang digunakan juga relatif pendek, yaitu sebanyak 35

perusahaan dalam periode 2000-2003.

2. Variabel yang mewakili hipotesis bonus plan menggunakan beban gaji

karyawan secara total sehingga variabel salary menjadi tidak signifikan.

3. Penelitian ini hanya meneliti manajemen laba yang dilakukan perusahaan pada

periode IPO saja dan tidak meneliti periode sebelum dan sesudah IPO sebagai

(40)

4. Penelitian ini hanya mengukur kulitas audit dengan variabel ukuran auditor

dan spesilaisasi industri oleh auditor saja dan tidak menggunakan ukuran yan

lain.

5. Pengukuran spesialisasi industri pada auditor dilakukan berdasarkan rasio dan

tidak dilakukan dengan metode yang lebih akurat lainnya.

5.3 Saran

Berdasarkan beberapa keterbatasan di atas, penulis dapat memberikan

beberapa saran untuk penelitian selanjutnya.

1. Penelitian selanjutnya perlu memperpanjang periode penelitian laporan

keuangannya dan memperbanyak jumlah perusahaan yang digunakan sebagi

sample.

2. Penelitian selanjutnya dapat meneliti kejadian perusahaan yang lain, misalkan

hubungan kualitas audit dengan manajemen laba pada saat pergantian CEO.

3. Penelitian selanjutnya dapat meneliti periode sebelum dan sesudah IPO,

sehingga dapat dibandingkan mengenai hubungan manajemen laba dan

kualitas audit pada periode-periode tersebut.

4. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan pengukuran kualitas audit

menggunakan variabel yang lain, misalkan kesesuaian pemeriksaan dengan

standar auditing, keterlibatan pimpinan audit terhadap pemeriksaan audit,

pelaksanaan pekerjaan lapangan dengan tepat.

5. Perhitungan spesialisasi industri oleh auditor dapat menggunakan metode

(41)

6. Variabel salary sebaiknya menggunakan total bonus manajemen bukan total

gaji karyawan sehingga lebih mewakili hipotesis bonus plan.

5.4 Implikasi Penelitian

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan oleh beberapa pihak yang

berkepentingan, yaitu antara lain:

a. Bagi dunia akademik

Menyediakan bukti bahwa kualitas audit dan auditor spesialis industri

berpengaruh terhadap praktik manajemen laba pada perusahaan yang akan

melakukan IPO, sehingga konsisten dengan hasil penelitian Zhou dan Elder

(2004).

b. Bagi perusahaan

Perusahaan dapat meningkatkan kualitas audit laporan keuangannya dengan

menggunakan Kantor Akuntan Publik (KAP) besar untuk mengaudit laporan

keuangannya.

c. Bagi Kantor Akuntan Publik (KAP)

KAP dapat meningkatkan kualitas auditornya untuk menjadi auditor yang

independen dan dapat menghasilkan audit yang berkualitas serta dapat

mendeteksi dan melaporkan salah saji material dalam laporan keuangan

(42)

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Elder, Beasley. 2001. Auditing dan Pelayanan Verifikasi. Edisi

Terjemahan kesembilan. Jilid 1. Jakarta: Gramedia

Assih, Prihati, Parawiyati, Ambar. 2005. Pengaruh Manajemn Laba pada Nilai

dan Kinerja Perusahaan. Fakultas Ekonomi Trisakti: Konferensi Nasional

Akuntansi.

Belkoui, Ahmed R. 2000. Accounting Theory. Business Press.

Cooper, Donald R. dan C. William Emory.1997. Metode Penelitian Bisnis. Edise

kelima. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Gumanti. 2000. Earning Management Suatu Telaah Pustaka. Jurnal Akuntansi

dan Keuangan vol 2 no 2, Nopember 2000, 104-115.

Gumanti. 2001. Earning Management dalam Penawaran Saham Perdana di BEJ.

Jurnal Riset Akuntansi Indonesia vol. 4 no 2, 165-183.

Healy, P.M. and Wahlen. 1999. A Review of the Earning Management and An

Instrumental Variables Approach. Journal of Accounting Research, 33,

353-368.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba

Empat.

Indriantoro dan Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi

Manajemen. Yogyakarta: BPFE.

Jones, Charles P. 2000. Investment Analysis and Management. John Willey’s Sons

(43)

Meutia I. 2004. Pengaruh Independensi Auditor terhadap Manajemen Laba untuk

KAP Big 5 dan KAP non-Big 5. Jurnal Riset Akuntani Indonesia. Vol.7 no.3

Saiful. 2004. Hubungan Manajemen Laba dengan Kinerja Operasi dan Return

Saham di Sekitar IPO. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia vol. 7 no 3,

September 2004, 316-332.

Schipper. 1989. Commentary on Earning Management. Accounting Horizon, 3:

91-102.

Scott, William R. 2003. Financial Accounting Theory. Prentice Hall International.

Sutanto. 2000. Indikasi Manajemen Laba Menejelang IPO untuk Perusahaan

yang Terdaftar di BEJ. Tesis: Program Pasca UGM.

Teoh, S.W., Welch, Wong,T.J. 1998. Earnings Management and The Long Run

Market Performance of Intial Public Offering.

Watts and Zimmerman, J.L. 1986. Positive Accounting Theory. New York:

Prentice Hall.

Xiong, Yan. 2006. Earning Management and Its Measurement:A Theoritical

Perspective. Cambridge: journal of Amaerican Business, March 2006, 9th

edition, page 214.

Fernando, Elder, R., & abdel-Meguid. (2006). Audit Firm Size, Industry

Specialization, Client Size and Cost of Capital – Information and

Monitoring effects. New York: Syracuse University Publisher.

Zhou, J & Elder, R. (2004). Audit Quality and Earnings Management by Seasoned

Equity Offering Firms. Asia Pacific Journal of Accounting and Economics

(44)

Lampiran 1

1.000 -.465 -.432 .257 .468 .016

-.465 1.000 .327 -.057 -.125 .269

-.432 .327 1.000 .172 .025 .347

.257 -.057 .172 1.000 .601 .325

.468 -.125 .025 .601 1.000 .378

.016 .269 .347 .325 .378 1.000

. .002 .005 .068 .002 .463

(45)

Lampiran 2

KAP SPIND LOGSAL SIZE LEVERAGE

Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). *.

Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). **.

Coefficientsa

-.465 -.369 -.281 .816 1.226

-.432 -.425 -.332 .794 1.260

.257 .059 .041 .609 1.641

.468 .375 .286 .565 1.769

.016 .080 .057 .691 1.448

(46)

Lampiran 3

Asumsi Non Heteroskedastisitas

Model Summary

.470a .221 .086 .06201

Model

Predictors: (Constant), LEVERAGE, KAP, LOGSAL, SPIND, SIZE a.

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), LEVERAGE, KAP, LOGSAL, SPIND, SIZE a.

Dependent Variable: ABSOLUT b.

Coefficientsa

-.012 .094 -.129 .898

-.023 .023 -.177 -.973 .338

-.021 .024 -.164 -.892 .380

-.006 .020 -.068 -.323 .749

.019 .023 .179 .819 .419

.174 .086 .400 2.028 .052

(47)

Lampiran 4

Predictors: (Constant), LEVERAGE, KAP, LOGSAL, SPIND, SIZE a.

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), LEVERAGE, KAP, LOGSAL, SPIND, SIZE a.

Dependent Variable: DAC b.

Coefficientsa

-.204 .181 -1.125 .270

-.096 .045 -.311 -2.137 .041

-.117 .046 -.373 -2.528 .017

.012 .039 .053 .316 .755

.097 .045 .380 2.175 .038

.072 .166 .068 .433 .668

(Constant)

-.465 -.369 -.281 .816 1.226

-.432 -.425 -.332 .794 1.260

.257 .059 .041 .609 1.641

.468 .375 .286 .565 1.769

.016 .080 .057 .691 1.448

(48)

Residuals Statisticsa

.057 .503 .254 .110 35

-.239 .247 .000 .111 35

-1.786 2.252 .000 1.000 35

-1.997 2.057 .000 .924 35

Predicted Value

Residual

Std. Predicted Value

Std. Residual

Minimum Maximum Mean Std. Deviation N

Dependent Variable: DAC a.

Asumsi Residual Berdistribusi Normal

Regression Standardized Residual

Normal P-P Plot of Regression Stand

(49)

Lampiran 5

Daftar Perusahaan yang Terpilih Menjadi sampel

KODE NAMA PERUSAHAAN TGL IPO KAP BIG 5/ BIG 4 RASIO

SPIND

ALFA Alfa Retailindo Tbk 18-Jan-00

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.29 APLI Asiaplast Industries Tbk 01-May-00 Amir Abadi J. &Aryanto 0.6

FMII Fortune Mate Indonesia Tbk 30-Jun-00 Doli, Bambang 0.25

SMPL Summitplast Interbenua Tbk 03-Jul-00

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.6

RIMO Rimo Catur Lestari Tbk 10-Nov-00

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.29

ACAP Andhi Candra Automotive Products Tbk 04-Dec-00

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.11

DNET Dyviacom Intrabumi Tbk 11-Dec-00 Johan Malonda 0.11

TMPO Tempo Inti Media Tbk 08-Jan-01

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.25

IDSR Indosiar Visual mandiri 22-Mar-01

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.11 INDX Indoexchange Dot Com Tbk 17-May-01 Amir Abadi J. &Aryanto 0.05

DOID Daeyu Orchid Indonesia Tbk 15-Jun-01 Riza 0.06

WAPO Wahana Phonix Mandiri Tbk 22-Jun-01 Doli, Bambang 0.125

ARNA Arwana Citra Mulia 17-Jul-01

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.4 LAPD Lapindo Internasional Tbk 17-Jul-01 Amir Abadi J. &Aryanto 0.07

META Metamedia Technologies Tbk 18-Jul-01 Johan Malonda 0.07

BTON Betonjaya Manunggal Tbk 18-Jul-01

Hans Tuanakota,

Mustofa, Hulil 0.33

AIMS Akbar Indo Makmur Stimec Tbk 20-Jul-01 Joseph Susilo 0.07

PANR Panorama Sentrawisata Tbk 18-Sep-01

Hans Tuanakota,

Mustofa, Hulil 0.5

RYAN Ryane Adibusana Tbk 17-Oct-01

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.125

CENT Centrin Online Tbk 01-Nov-01 Rasin, Ichwan 0.05

IATG Infoasia Teknologi Global Tbk 15-Nov-01

Hans Tuanakota,

Mustofa, Hulil 0.05

ITTG Integrasi Teknologi Tbk 26-Nov-01 Eddy, Planto 0.05

CLPI Colorpak Indonesia Tbk 30-Nov-01 Doli, Bambang 0.125

LMAS Limas Stockhomindo Tbk 28-Dec-01

Hans Tuanakota,

Mustofa, Hulil 0.05

FORU Fortune indonesia Tbk 17-Jan-02

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.11 ANTA Anta Express Tour & Travel Service Tbk 18-Jan-02 Thomas 0.17

FPNI Fatrapolindo Nusa Industri Tbk 21-Mar-02

Prasetyo,

Sarwoko,Sanjaya 0.26

ABBA Abdi Bangsa Tbk 03-Apr-02 Doli, Bambang 0.26

JTPE Jasuindo Tiga Perkasa 16-Apr-02 Doli, Bambang 0.06

SUGI Sugi Samapersada Tbk 19-Jun-02 Johan Malonda 0.06

APEX Apexindo Pratama Duta Tbk 10-Jul-02 Paul Hadiwinata 0.08

SCMA Surya Citra Media Tbk 16-Jul-02

Prasetyo,

(50)

PTBA

Perusahaan Tambang Batubara Bukit

Asam 23-Dec-02 Hadi Sutanto 0.11

Gambar

Table 1 Perhitungan Jumlah Sampel
Tabel 2
Tabel 3

Referensi

Dokumen terkait

1) Pendekatan kontekstual lebih menekankan proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Hal ini berarti bahwa proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman

Analisis struktural dalam penelitian ini untuk menganalisis unsur intrinsik film Cerita Rakyat Cindelaras, terutama difokuskan pada tokoh, perwatakan, latar, alur, amanat,

Persentase tingkat keberhasilan sistem pengenalan individu dengan identifikasi wajah menggunakan metode Filter Bank Gabor dapat mencapai 100% untuk citra dalam

Oleh sebab itu, strategi di sini lebih mengutamakan cara orang tua untuk mendidik anak dalam keluarga supaya anak tidak lari dari norma-norma dan nilai-nilai budaya yang dianut

Fasilitas pelayanan kesehatan di Dusun Pulihan yang terbatas dan masyarakat lebih memilih untuk membeli obat di warung – warung serta masih mempercayai pengobatan yang turun

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul “PENGARUH PARTISIPASI PENYUSUNAN ANGGARAN, KEJELASAN SASARAN ANGGARAN DAN SISTEM PENGENDALIAN AKUNTANSI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL

Mayarakat Arab merupakan sebuah komunitas minoritas di Nusantara yang dikategorikan sebagai golongan Vreende Oosterlingen atau orang Timur Jauh bersama dengan masyarakat

Komitmen organisasi sangat diperlukan bagi semua karyawan karena berhasil atau tidaknya suatu usaha untuk mencapai tujuan harus dilandasi komitmen yang tinggi dari semua