Ragam Istilah untuk Menyebut Perempuan Pelaku
Seks Komersial: Sebuah Studi Fenomenologi
pada Mantan Pelacur di Kabupaten Cirebon
dan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Indonesia
Wiwik Novianti
1, Engkus Kuswarno,
2Eni Maryani
3dan Atwar
Bajari.
4[email protected] [email protected] [email protected]
Pendahuluan
Dalam masyarakat Indonesia keberadaan praktik prostitusi dianggap sebagai suatu hal yang melanggar norma-norma di masyarakat. Oleh karena itulah seorang pelaku seks komersial hampir selalu dianggap buruk oleh masyarakat Indonesia.
Meskipun keberadaan pelacur mendapatkan penolakan yang keras dari berbagai pihak namun jumlah pelacur di Indonesia tetap saja besar. Pada tahun 2016, pelacur di Indonesia berjumlah sekitar 56 ribu. Menurut situs Global Black Market Information, Havoscope, perolehan bisnis pelacuran di Indonesia mencapai USD2,25 miliar setahun. Indonesia pun masuk dalam 12 besar negara terbesar dalam bisnis prostitusi (beritagar.id, 19 Mei 2016).
Pelacur dipinggirkan secara sosial karena dianggap sebagai orang yang amoral Anggapan yang buruk terhadap perempuan pelacur memunculkan banyak istilah yang disematkan padanya. Istilah-istilah tersebut mengandung stigma dan menempatkan pelacur dalam posisi yang lebih rendah dibanding masyarakat lainnya.
Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki istilah khusus untuk pelacur. Istilah yang sama juga memiliki kemungkinan untuk berbeda
1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman 2 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
dalam interpretasinya karena nilai rasa yang ditimbulkan pada setiap pelacur berbeda.
Istilah yang diberikan menunjukkan perspektif orang yang menggunakan istilah tersebut. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas mengenai istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut seorang pelaku seks komersial dan bagaimana mantan pelacur sebagai orang yang pernah mendapat julukan tersebut memaknainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan istilah yang digunakan untuk menyebut pelacur dan mendapatkan pemahaman tentang interpretasi istilah tersebut dari sudut pandang mantan pelacur. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini selain memperkaya kajian komunikasi antarbudaya juga dapat memberikan pemahaman tentang interpretasi perempuan mantan pelacur. Dengan demikian diharapkan masyarakat tidak lagi memandang rendah pelacur atau mantan pelacur.
Metodologi
Paradigma dan Metode Penelitian
Fokus penelitian ini adalah pada istilah yang digunakan untuk menyebut seorang perempuan pelaku seks komersial. Guna memahami interpretasi perempuan mantan pelacur terhadap istilah-istilah yang pernah disematkan padanya maka paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme sosial. Paradigma konstruktivisme sosial meneguhkan asumsi bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia di mana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman-pengalaman mereka—makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda tertentu (Creswell, 2010:11).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang—oleh sejumlah individu atau sekelompok orang—dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan.
penelitian ini memiliki struktur leksibel. Siapa pun yang terlibat dalam bentuk penelitian ini harus menerapkan cara pandang penelitian yang bergaya induktif, berfokus terhadap makna individual, dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan (Creswell, 2010:5).
Tujuan penelitian kualitatif adalah memahami situasi, peristiwa, kelompok, atau interaksi sosial tertentu (Locke, Spirduso, & Silverman dalam Creswell, 2010:292). Penelitian ini dapat diartikan sebagai proses investigatif yang di dalamnya peneliti secara perlahan-lahan memaknai suatu fenomena sosial dengan membedakan, membandingkan, menggandakan, mengatalogkan, dan mengklasiikasikan objek penelitian (Miles & Huberman dalam Creswell, 2010:292).
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi non partisipan, dan analisis dokumen. Dalam penelitian ini, untuk menggali pengalaman hidup mantan pelacur, penulis menggunakan wawancara mendalam agar partisipan dapat memaparkan pengalaman hidupnya dengan panjang lebar. Wawancara dilakukan secara terbuka, tidak berstruktur dan informal dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh partisipan. Pada saat wawancara, penulis mengawalinya dengan mengobrol santai sehingga partisipan merasa nyaman dan mau menceritakan pengalamannya dengan bebas.
Pada saat wawancara, penulis berupaya agar tidak menyinggung perasaan atau menghakimi partisipan. Oleh karena itu penulis mengganti kata pelacur dengan istilah perempuan penghibur. Istilah perempuan penghibur muncul dari MC sebagai partisipan pertama yang penulis wawancara. Ketika penulis menanyakan pekerjaannya dulu sebagai apa, MC menjawabnya sebagai perempuan penghibur. Dengan menggunakan istilah perempuan penghibur, penulis menjadi dekat dengan partisipan dan mereka merasa lebih dihargai.
Materi wawancara adalah tema yang ditanyakan kepada partisipan yang berisi masalah penelitian untuk mencapai tujuan penelitian. Penulis mendokumentasikan hasil wawancara menggunakan alat perekam suara.
observasi. Observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja panca indra mata serta dibantu dengan panca indra lainnya (Bungin, 2010:115). Observasi dalam penelitian ini dianggap penting karena penulis dapat secara langsung mengamati berbagai kegiatan yang dilakukan oleh mantan pelacur.
Dari metode observasi, penulis memperoleh data yang tidak didapatkan melalui wawancara seperti penampilan isik partisipan, setting (meliputi lingkungan manusia dan sosial, cara interaksi antar manusia, tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan eksternal dan fasilitas yang tersedia) dan gaya komunikasi yang dilakukan partisipan.
Dalam penelitian ini observasi dilakukan secara nonpartisipan, yaitu penulis tidak berlaku sebagai mantan pelacur, melainkan hanya menemani mereka melakukan aktivitas di lingkungannya. Dengan observasi nonpartisipan ini peneliti dapat mengamati kehidupan mantan pelacur tanpa mengganggu aktivitas yang sedang mereka lakukan.
Guna menggali data-data masa lampau secara sistematis dan objektif, penulis juga melakukan analisis dokumen (Kriyantono, 2010:120). Dokumen yang dianalisis dapat berbentuk dokumen publik maupun dokumen privat. Analisis dokumen dilakukan untuk memperoleh data yang tidak dapat ditemukan melalui wawancara dan observasi.
Dalam penelitian ini dokumen yang akan ditelaah adalah dokumen atau arsip yang terdiri dari media cetak maupun media elektronik dan internet yang memuat informasi mengenai kehidupan mantan pelacur ataupun prostitusi pada umumnya.
Teknik Analisis Data
Tabel 1. Strategi Analisis Data Berdasarkan Beberapa Pakar Penelitian Kualitatif
Analytic Strategy Madison (2005) Huberman & Miles (1994)
Wolcott (1994b)
Sketching ideas Write margin notes in ield notes
Highlight certain information in description Taking notes Write relective
pas-sages in notes Summarizing
ield notes
Drat a summary sheet on ield notes Working with
words
Make metaphors
Identifying codes Do abstract coding or concrete coding
Write codes, memos
Reducing codes to theme
Identify salient themes or patterns
Note patterns and themes
Identify patterned regularities Counting
frequen-cy of codes
Count frequency of codes
Relating catego-ries to analytic framework in Creating a point
of view
For scenes, audience, readers
Displaying the data
Create a graph or picture of the frame-work
Make contrasts and comparisons
Display indings in tables, charts, diagrams, and igures; compare cases; compare with a standars case.
(Sumber: Creswell, 2013:181)
kerangka kerja dari Huberman dan Miles untuk menganalisis data penelitian serta mengikuti alur analisis dan penyajian data seperti yang dikemukakan oleh Creswell.
Model analisis data yang digagas oleh Huberman dan Miles (dalam Sutopo, 2002:96) sering disebut sebagai model analisis interaktif. Komponen analisis ini adalah (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) sajian data dan (4) penarikan kesimpulan (veriikasi). Dalam teknik analisis ini, analisis dilakukan secara terus menerus dari awal penelitian sampai dengan penelitian selesai.
Teknik Validasi Data
Creswell (2013:249) berpendapat bahwa validasi dalam penelitian kualitatif adalah sebuah usaha untuk menilai ketepatan atau keakuratan temuan penelitian yang digambarkan menurut peneliti dan partisipan. Hal ini berarti bahwa laporan penelitian merupakan representasi penulisnya. Kekuatan validasi dalam penelitian kualitatif terletak pada keluasan waktu yang dihabiskan di lapangan, deskripsi yang sangat detil, dan kedekatan antara peneliti dengan partisipan.
Dalam penelitian ini, penulis menggambarkan pengalaman transformasi identitas mantan pelacur secara detil kemudian mengirimkan hasil penelitian kepada partisipan. Partisipan lalu diminta untuk mengoreksi serta memberi masukkan terkait dengan hasil penelitian. Penulis melakukan hal ini sampai partisipan menyetujui laporan penelitian yang ditulis.
Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Lokasi ini dipilih sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan:
1. Jumlah pelacur di Jawa Barat mengalami peningkatan yang cukup tajam. Menurut Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial 2012, pada tahun 2008 jumlah perempuan pelacur di Jawa Barat adalah 3.659 jiwa. Sedangkan pada tahun 2012, naik menjadi 5.495 jiwa. 2. Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu terletak di jalur
banyaknya orang-orang yang transit di Cirebon dan Indramayu, dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk membuka praktek prostitusi. Selain itu, Cirebon dan Indramayu juga sudah terkenal sebagai daerah asal pelacur.
Partisipan dalam penelitian ini adalah mantan pelacur yaitu seseorang yang dahulu pernah memberikan pelayanan seksual dengan imbalan uang atau barang berharga. Saat penelitian dilakukan mantan pelacur sudah berhenti dari aktivitasnya dalam dunia prostitusi.
Partisipan diperoleh dengan teknik purposive sampling dengan cara snowball yaitu partisipan pertama yang memenuhi kriteria akan menunjukkan partisipan berikutnya yang sesuai dengan kriteria dalam penelitian ini. Penelitian ini melibatkan delapan belas orang partisipan, delapan orang tinggal di Kabupaten Cirebon dan sepuluh orang tinggal di Kabupaten Indramayu.
Guna menjalin kedekatan dengan partisipan, peneliti berkunjung ke rumahnya serta tempat mencari nakahnya. Pada partisipan yang memiliki warung, peneliti duduk bercengkerama dengan partisipan sambil membeli dagangannya seperti kopi dan mie rebus.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Istilah-istilah untuk Menyebut Perempuan Pelaku Seks Komersial di Indonesia
Banyak istilah yang digunakan untuk merujuk pada perempuan pelaku seks komersial. Istilah yang digunakan berhubungan dengan cara pandang seseorang terhadap sosok perempuan pelaku seks komersial. Partisipan juga ketika menceritakan pengalamannya kepada peneliti menggunakan berbagai macam istilah untuk menyebut identitas mereka dahulu. Ada yang terang-terangan menyebut diri mereka dahulu sebagai WTS (Wanita Tuna Susila) namun ada pula partisipan yang sepanjang perbincangan hanya mau menyebut wong mengkenen (orang begini) atau pun kerja mengkonon (kerja begitu).
generik sehingga menimbulkan tafsir yang berbeda. Istilah tersebut muncul dari pergaulan sehari-hari dan ada beberapa di antaranya yang tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut penting dibahas karena istilah ini menyangkut masalah stigma. Masalah stigma berkaitan erat dengan istilah pemahaman, pemaknaan, dan penerimaan sebuah istilah, perilaku, atau gejala perilaku tertentu.
Penulis menggunakan istilah mantan pelacur untuk menyebut perempuan yang pernah melayani hasrat seksual laki-laki dengan imbalan uang atau barang. Pelacur berasal dari kata lacur yang memiliki arti malang, celaka, sial, dan buruk laku.5 Melacur berbuat
lacur atau menjual diri sebagai pelacur. Orang yang berbuat lacur atau menjual diri disebut pelacur. Penulis memiliki tiga pertimbangan untuk menggunakan kata pelacur dalam penelitian ini, yaitu:
1. Istilah pelacur sudah bebas bias gender, yang berarti ada pelacur laki-laki dan pelacur perempuan (Koentjoro dan Sugihastuti, 1997) 2. Arti kata pelacur lebih lengkap dan spesiik.
3. Dalam wawancara, beberapa partisipan mendeinisikan diri mereka sebagai seorang pelacur atau menyebut orang yang mencari uang dengan cara melayani kebutuhan seksual laki-laki sebagai seorang pelacur. Partisipan yang menggunakan istilah pelacur adalah San dan Cst.
Istilah lainnya adalah wanita tuna susila. Pemerintah menggunakan istilah ini untuk menyebut perempuan pelaku seks komersial. Namun penggunaan istilah ini mendapat kritikan dari banyak pihak karena dianggap menyudutkan perempuan. Hal ini disebabkan tidak ada istilah pria tuna susila bagi laki-laki yang menjual diri. Lalu mengapa konsumen layanan jasa pelacur wanita tidak beristilah? Perempuan pelaku seks komersial disebut wanita tuna susila karena perempuan tersebut tidak mempunyai adab dan tidak pula bersopan santun dalam hubungan seks menurut norma masyarakat. Dalam penelitian ini, partisipan yang menggunakan istilah WTS adalah Drsn.
Terdapat pula istilah pekerja seks yang berasal dari terminologi sex worker yang diajukan oleh para feminis radikal. Istilah sex worker dalam referensi referensi barat baru muncul pada awal tahun
an. Oleh kelompok feminis radikal, pelacuran diperjuangkan agar diakui sebagai sebuah pekerjaan yang sah. Namun hal ini mengundang penolakan dari kelompok lain karena pelacuran bukan pekerjaan. Pelacuran dianggap merendahkan derajat dan martabat kaum wanita. Dalam penelitian ini tidak ada seorang partisipan pun yang menggunakan istilah PSK (Pekerja Seks Komersial).
Selain tiga istilah di atas (pelacur, wanita tuna susila, dan pekerja seks), dari hasil wawancara dengan partisipan, penulis juga menemukan istilah-istilah yang mengacu pada pelaku seks komersial seperti berikut ini:
1. Perempuan penghibur
Menurut Erw, sebagai seorang perempuan penghibur dan perempuan malam ia wajar diciumi oleh tamunya dan dikatakan yang buruk-buruk oleh masyarakat. “Namanya juga penghibur, ya kayak gitu. Cium sana, cium sini wajar.”6
Hampir senada dengan yang disampaikan Erw, MC menjelaskan peran perempuan penghibur sebagai tempat pelarian masalah bagi kaum lelaki.
“Pati-pati wong lanang luru hiburan mengkenen kuh ning umae maksa bae ana masalah hubungan suami karo istri, pelampiasane ning golongane mekenen. Luru hiburan seminggu sekali. Mungkin juga ana masalah kerjaan, ya nggo hiburan bae.”7
(Bisanya laki-laki mencari hiburan begini itu karena di rumahnya ada masalah hubungan suami dengan istri, pelampiasannya pada kelompok seperti ini. Mencari hiburan seminggu sekali. Mungkin juga ada masalah kerjaan, ya untuk hiburan saja).
MC menceritakan, dulu sebagai seorang perempuan penghibur, ia harus bisa menghibur lelaki yang datang padanya. Menurutnya, lelaki yang mencari hiburan dengan pelacur adalah lelaki yang sedang memiliki masalah, baik masalah rumah tangga maupun kantor.
2. Perempuan malam
Perempuan malam adalah sebutan lain yang ditujukan untuk pelacur. Para pelacur biasanya mulai beraktivitas sore hingga dini hari. Oleh karena itu perempuan pelacur juga sering menyebut diri mereka
sebagai perempuan malam, seperti yang dikatakan oleh Erw, “Dikatain yang nggak-nggak juga wajar, wong perempuan malam.”8
Dari yang dikatakan oleh Erw tersebut, tersirat rasa frustasi Erw terhadap stigma yang melekat padanya dulu sebagai wanita malam. Erw bahkan sudah menganggap bahwa stigma, cap negatif yang ditujukan kepadanya adalah suatu kewajaran.
3. Jablay
Istilah jablay dipopulerkan oleh artis Titi Kamal saat menyanyikan lagu berjudul sama dalam ilm Mendadak Dangdut pada 2006. Jablay merupakan singkatan dari jarang dibelai yang memiliki makna sebagai seorang perempuan kesepian yang jarang mendapatkan belaian kasih sayang kekasihnya. Namun saat ini arti kata jablay sudah mengalami pergeseran menjadi sebutan bagi perempuan yang mau diajak untuk bersenang-senang atau pelacur.
Bagi Nr, waktu awal-awal menjadi pelacur di Cirebon ia tidak enak ketika dipanggil jablay namun lambat laun ia terbiasa dengan itu.
Ehm apa ya. Kadang kalau orang sini bilang jablay ya. Kalau dulu ya kadang nggak enak ya. Tapi kalau kita telusuri lagi emang pekerjaan begitu gitu hehe. Banyak nggak enaknya. Dari sebutan aja udah menonjol ya, jablay gitu. Kadang saya juga mikir, jablay kok kayak begituan hehe. Tapi sekarang udah nggak hehe9
Menurut Nr, kata jablay untuk menyebut pelacur dirasanya cukup menonjol dan menarik perhatian. Awalnya ia risih dengan sebutan tersebut namun kemudian ia menerimanya.
4. Anak nakal
Berbeda dengan Nr, menurut El, panggilan jablay itu sangat kasar. Ia dan teman-temannya sesama pelacur dulu tidak suka dipanggil jablay. El dahulu lebih sering menggunakan istilah anak nakal untuk menyebut dirinya dan teman-temannya.
Ya paling kalau orang sini paling ngomongnya jablayl-ah. Jadi itulah, cuman dulu bilangnya anak nakal, yang nyebut jablay itu paling anak-anak orang seumuran, “Dasar ira jablay!”. Kalau ada yang ngomong jablay jadinya berantem.10
Bagi El, sebutan anak nakal masih bisa ia terima dibandingkan jablay. Sebutan anak nakal yang masih bersifat umum tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa El tidak nyaman dengan identitasnya dahulu sebagai seorang pelacur.
5. Bukan wanita baik-baik
Sebutan lain yang digunakan partisipan untuk mendeskripsikan diri mereka dahulu adalah bukan wanita baik-baik seperti yang dikatakan oleh Er kepada calon suaminya dulu. Setelah berhenti menjadi pelacur, Er bertemu dengan calon suaminya (sekarang menjadi suaminya). Saat itu Er mengatakan kepada calon suaminya bahwa ia bukanlah perempuan baik-baik, “Saya tuh ngomong, saya itu bukan wanita baik-baik”.11 Calon suami Er menjawab bahwa ia menerima Er
apa adanya dan meminta Er untuk tidak berkata seperti itu lagi. Hampir sama dengan El, Er menggunakan istilah yang masih sangat umum untuk menggambarkan dirinya pada calon suaminya saat itu. Istilah bukan wanita baik-baik memiliki arti yang sangat luas. Dari istilah yang dipilihnya terlihat bahwa Er sebenarnya ingin menutupi masa lalunya sebagai pelacur dari suaminya.
6. Ungkluk dan Cabo
Menurut Er, istilah yang biasa ia gunakan untuk menunjuk pada pelacur adalah ungkluk dan cabo
Ya kalau orang sono bilangkan ungkluk. Kalau orang sunda mah itu paling kasar, ungkluk, cabo, kaya gitu ya.12
Ungkluk dan cabo adalah kata dari bahasa daerah yang berarti pelacur. Bedanya, ungkluk adalah Bahasa Sunda sedangkan kata cabo berasal dari Bahasa Betawi. Er yang berasal dari Bandung menjelaskan bahwa dalam bahasa Sunda kata ungkluk adalah sebutan paling kasar untuk seorang pelacur.
7. Tlembuk
Istilah tlembuk digunakan oleh Sae ketika ia menceritakan bagaimana pandangan orang kepadanya meskipun Sae sudah berhenti menjadi pelacur. “Barang kita? Kecelukke masih tlembuk bae, jadi wong
edan.”13 Sae mengungkapkan bahwa sangat sulit untuk mengubah
pandangan orang terhadapnya. Meski ia sudah berubah, orang-orang tetap memandangnya sebagai pelacur.
Tlembuk adalah istilah untuk menyebut pelacur. Istilah tlembuk digunakan di daerah Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Purwokerto dan Pemalang bagian selatan. Istilah tlembuk adalah istilah yang bagi pelacurnya sendiri dianggap sangat kasar.
8. Orang Gila (Wong Edan)
Istilah lainnya yang digunakan partisipan untuk menyebut dirinya dahulu adalah ‘orang gila’. Partisipan yang menggunakan istilah tersebut Id, “Yang penting dulu, walaupun saya bekas orang gila, saya mah sekarang hidup di masyarakat.”14
Kata ‘gila’ memiliki banyak arti, salah satunya adalah tidak sebagaimana mestinya.15 Id menyadari bahwa dahulu aktivitasnya
bertentangan dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Namun ia menegaskan bahwa itu semua sudah berlalu. Dan saat ini ia berusaha menjadi warga masyarakat yang baik.
9. Wong Luruh Duit
Menurut Kst, apa yang dilakukannya dahulu sebagai pelacur disebutnya sebagai luruh duit. “Ya pekerjaan apa ya, luruh duit.”16
Makna sebenarnya dari luruh duit adalah mencari uang. Namun karena banyak orang Indramayu yang mencari uang dengan cara menjadi pelacur maka luruh duit kemudian berarti melacur. Bagi Kst identitasnya dahulu sebagai wong luruh duit bukanlah suatu hal yang harus ditutupi karena banyak perempuan di desanya juga luruh duit seperti dirinya.
Dari hasil wawancara, penulis mendapati bahwa partisipan tidak nyaman untuk mengatakan identitas dirinya dahulu. Mereka sering menggunakan kata pengganti untuk menyebut pelacur. Dari mulai mengkenen, mengkonon (begini, begitu), hingga wong edan (orang gila). Meskipun ada partisipan yang mengakui bahwa dahulu ia bekerja
13
Wawancara dengan Sae, 5 September 2015
14
Wawancara dengan Id, 5 September 2015
15
http://kbbi.web.id/gila. Diakses 5 Januari 2017
sebagai pelacur namun ketika mengobrol dengan penulis, kata pelacur jarang sekali digunakan.
Sewaktu berbincang dengan partisipan, penulis menggunakan istilah perempuan penghibur. Istilah tersebut penulis pilih karena respon partisipan ketika penulis menggunakan istilah tersebut sangat baik. Partisipan menjadi tidak sungkan untuk menceritakan masa lalunya kepada penulis. Mereka menerima istilah itu karena menurut mereka istilah tersebut paling sesuai dengan peran mereka dahulu, sebagai penghibur laki-laki.
Simpulan
Identitas mereka sebagai orang baik-baik yang sudah meninggalkan dunia pelacuran, mengembalikan rasa percaya diri mereka. Mereka merasa kembali memiliki harga diri yang tidak boleh diinjak-injak atau dilecehkan oleh orang lain.
Partisipan yang awalnya hanya diam ketika menjadi bahan ejekan, bisa melakukan perlawanan karena mereka merasa sekarang sudah berubah. Hal ini sejalan dengan asumsi dari Musgrove yang menyatakan bahwa peran yang baru berarti menciptakan diri yang baru (Musgrove, 1977:14).
Sebagai pelacur, karena mereka merasa sebagai orang yang menyalahi norma-norma di masyarakat, mereka diam dan tak berdaya menghadapi stigma masyarakat. Namun, ketika sudah berhenti menjadi pelacur, mereka merasa kembali menjadi orang baik. Harga diri mereka bangkit dan tidak rela apabila orang masih berpandangan buruk terhadap mereka karena mereka sudah berubah.
Datar Pustaka
Bungin, Burhan. (2010). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Quantitative, and Mixed Methods Approaches. hird Edition Penerjemah: Achmad Fawaid). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Creswell, John W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. California: Sage Publication.
Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi: disertai contoh praktis riset media, public relations, advertising, komunikasi organisasi, komunikasi pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Kuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi: Fenomenologi, Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran.
Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.