commit to user
i
PENERAPAN MEDIA BANTU PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LAY UP SHOT
BOLA BASKET PADA SISWA KELAS XA SMA NEGERI 1 KARANGANOM KABUPATEN KLATEN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SKRIPSI
Oleh :
PRIMA DEWI KUSUMAWARDANI K4608130
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA Januari 2013
commit to user
iiiAUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LAY UP SHOT
BOLA BASKET PADA SISWA KELAS XA SMA NEGERI 1 KARANGANOM KABUPATEN KLATEN
Oleh :
PRIMA DEWI KUSUMAWARDANI K4608130
Skripsi
diajukan untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
Januari 2013
commit to user
vi ABSTRAKPrima Dewi Kusumawardani. PENERAPAN MEDIA BANTU PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR LAY UP SHOT BOLA BASKET PADA SISWA KELAS XA SMA NEGERI 1 KARANGANOM KABUPATEN KLATEN TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Januari. 2013.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Peningkatkan hasil lay up shot
bola basket pada siswa kelas XA, SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten, tahun pelajaran 2011 / 2012, dengan penerapan media bantu pembelajaran audio visual.
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sumber data dalam penelitian ini siswa kelas XA SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten, tahun pelajaran 2011 / 2012 berjumlah 40 orang yang terdiri atas 14 siswa putra dan 26 siswa putri. Teknik pengumpulan data dengan obeservasi, wawancara, dan penilaian hasil belajar lay up shot bola basket. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif yang didasarkan pada analisis kualitatif dengan prosentase.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan: Penerapan media bantu pembelajaran audio visual, sangat baik untuk meningkatkan hasil belajar lay up shot bola basket pada siswa kelas XA SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten. Dari hasil analisis yang diperoleh peningkatan yang signifikan dari siklus I dan siklus II. Pada siklus I hasil belajar lay up shot bola basket pada kategori Baik sekali sebesar 7,50%, baik sebesar 27,50% dan cukup sebesar 17,50%, jumlah siswa yang tuntas sebanyak 21 siswa. Pada siklus II hasil belajar lay up shot bola basket dalam kategori baik sekali sebesar 32,50%, baik sebesar 32,50% dan cukup sebesar 12,50%, sedangkan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 31 siswa.
Simpulan penelitian ini adalah penerapan media bantu pembelajaran audio visual meningkatkan hasil belajar lay up shot bola basket siswa kelas XA SMA Negeri 1 Karanganom kabupaten Klaten tahun pelajaran 2011/2012
Kata kunci = Media Pembelajaran Audio visual, Hasil belajar Lay up shot bola basket
commit to user
vii ABSTRACTPrima Dewi Kusumawardani. THE APPLICATION OF AUDIO VISUAL LEARNING MEDIA TO INCREASE THE RESULT OF LAY UP SHOT BASKETBALL OF THE STUDENT IN FIRST GRADE OF CLASS A AT SMA N 1 KARANGANOM KLATEN PERIOD 2011/2012. Thesis, Surakarta : School of Teacher Training and Education, Sebelas Maret University of Surakaarta, January. 2013.
The aims of this research is to know the increase of result lay up shoot basketball in the first grade of class A at SMA N 1 Karanganom, Klaten period 2011/2012 by using audio visual learning media.
This research uses Class Activity Research (CAR). The data resource of this research is the student in the first grade of class A at SMA N 1 Karanganom, Klaten period 2011/2012 which is amounted to 40 students consist of 14 male students and 26 female students. The technique of collecting data are observation, interview, and assessment of lay up basketball result. The technique of analyzing data of this research is descriptive qualilative.
Based on the result of research, the researcher concludes: the application of audio visual learning media is good to increase the result of lay up shot basketball for the students in the first grade of class A at SMA N 1 Karanganom Klaten period 2011/2012. Based on the analysis, it has increase of first cycle and second cycle. In the first cycle, the category of great result of lay up shot is 7.50%, the good category is 27,50%, the sufficient category is 17.50% and the amount of passed student is 21 students. In the second cycle, the category of great result of lay up shot is 32.50%, the good category is 32.50%, the sufficient category is 12.50% and the amount of passed student is 31 students.
The conclussion of this research is that the application of audio visual learning media to increase the result of lay up shot basketball in the first grade of class A at SMA N 1 Karanganom Klaten period 2011/2012
commit to user
viii MOTTOTidak ada pemberian orang tua paling berharga kepada anaknya daripada pendidikan akhlak yang mulia.
(Sabda Nabi Muhammad SAW dalam tarikh Imam Bukhori)
Jangan pernah berpikir untuk menyerah, karena jika kamu mau berusaha dengan semua kemungkinan yang ada, Allah akan membantumu untuk melaluinya.
( Penulis )
Kegagalan bukanlah disaat kamu terjatuh, tetapi disaat kamu menyerah dan berhenti berusaha untuk berdiri setelah terjatuh.
commit to user
ix PERSEMBAHANSkripsi ini dipersembahkan kepada :
1. Bapak dan Ibu tercinta yang selalu mendukungku. 2. Adik adiku tercinta (Lelly Noor Nilawati dan
Pradana Aji Pamungkas).
3. Si Gendut yang selalu memberi semangat dan
memotivasiku.
4. Teman-teman kost Pak Udin (Rosi, Wulan, Ayu, Ita, Mutia, Anik, Mitha, Mbak Fitri, Oish, Mbak Rere, dan Mbak Nana)
5. Sahabat-sahabatku (Ino, Nonik, Ibnu, Yuli, Andhica, Bowo, Adi Nur, Fajar, Rifa, Seno, Starlet, Grace, Erma, Elhaq, Vindi) kalian selalu memberi kekuatanku untuk maju.
6. Teman-teman Penjas 2008 7. Almamater
8. SMA N 1 Karanganom, Klaten yang telah berkenan mengijinkan untuk penelitian.
commit to user
x KATA PENGANTARSegala puji bagi Allah Yang maha Pengasih dan Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat diselesaikan penulisan skripsi ini.
Disadari bahwa penulisan skripsi ini banyak mengalami hambatan, tetapi berkat bantuan dari beberapa pihak maka hambatan tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu dalam kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.,Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Drs. H. Mulyono, MM Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. Waluyo, S.Pd, M.Or Ketua Program Pendidikan Jasmani Kesehatan dan
Rekreasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Djoko Nugroho, S.Pd, M.Or. selaku Pembimbing I dan Pomo Warih Adi, S.Pd, M.Or selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi.
5. Drs. Widiyarto, M.Pd. Kepala SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten, beserta staf dan jajarannya, yang telah memberi kesempatan dan tempat guna pengambilan data dalam penelitian ini..
6. Iputika Sari Martono, S.Pd. selaku Guru mata pelajaran pendidikan jasmani, olahrada dan kesehatan yang telah memberi bimbingan dan bantuan dalam penelitian.
7. Siswa kelas XA SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten yang telah bersedia untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
commit to user
xiSemoga segala amal baik tersebut mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya berharap semoga hasil penelitian yang sederhana ini dapat bermanfaat.
Surakarta, Januari 2013
commit to user
xii DAFTAR ISIHalaman
JUDUL ... i
PERNYATAAN ... ii
PENGAJUAN SKRIPSI .. ... iii
PERSETUJUAN ... iv PENGESAHAN ... v ABSTRAK ... vi ABSTRACT ... vii MOTTO ... viii PERSEMBAHAN ... ix KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat penelitian ... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. Kajian Pustaka ... 6
1. Belajar dan Pembelajaran ... 6
a. Pengertian Belajar dan Pembelajaran ... 6
b. Ciri-ciri dan Tujuan Belajar ... 8
c. Prinsip-prinsip Belajar ... 10
d. Dinamika Interpretasi Belajar. ... 11
commit to user
xiiia. Penilaian Proses Belajar ... 12
b. Tujuan Dari Penilaian ... 13
3. Media Pembelajaran ... 14
a. Pengertian Media Pembelajaran ... 14
b. Manfaat Media Pembelajaran ... 16
c. Media Audio Visual ... 17
4. Permainan Bola Basket ... 20
a. Pengertian Bola Basket ... 20
b. Teknik Dasar Bola Basket ... 20
c. Teknik Dasar Lay Up Shot Bola Basket ... 21
5. Pembelajaran Lay Up Shot Menggunakan Media Bantu Audio Visual ... 23
6. Penelitian Tindakan Kelas ... 24
B. Kerangka Berpikir ... 28
BAB III METODE PENELITIAN ... 30
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 30
B. Subjek Penelitian ... 31
C. Data dan Sumber Data ... 31
D. Pengumpulan Data ... 31
E. Uji Validitas Data ... 32
F. Analisis Data ... 32
G. Idikator Kinerja Penelitian ... 33
H. Prosedur Penelitian ... 34
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN ... 40
A. Deskripsi Pratindakan ... 40
B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus ... 42
a. Siklus 1 ... 42
b. Siklus 2 ... 54
C. Perbandingan Hasil Tindakan Antarsiklus ... 63
D. Pembahasan ... 67
commit to user
xiv A. Simpulan ... 68 B. Implikasi ... 68 C. Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA ... 70 LAMPIRAN ... 71commit to user
xv DAFTAR GAMBARHalaman Gambar 2.1. Hirarkis jenis perilaku dan kemampuan internal menurutTaxonomi
Krathwohl & Bloom dkk ... 8
Gambar 2.2. Hirarkis jenis perilaku dan kemampuan internal menurut Taxonomi Bloom dkk . ... 9
Gambar 2.3. Hirarkis jenis perilaku dan kemampuan psikomotorik Taxonomi Simpson dkk ... 10
Gambar 2.4. Kerucut pengalaman Edgar Dale ... 16
Gambar 2.5. Langkah dalam melakukan lay up ... 22
Gambar 2.6. Teknik tembakan lay up ... 23
Gambar 2.7. Kerangka berpikir ... 29
Gambar 3.1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas ... 35
Gambar 4.1. Perbandingan Hasil Belajar Lay Up Shot Bola Basket Sebelum dan Sesudah Diberikan Penerapan Media Bantu Pembelajaran Audio Visual pada Siklus I dan Siklus II ... 64
Gambar 4.2. Peningkatan Nilai Rata-rata Hasil Belajar Lay Up Shot Bola Basket Sebelum dan Sesudah Diberikan Penerapan Media Bantu Pembelajaran Audio Visual pada Siklus I dan Siklus II .. 66
commit to user
xvi DAFTAR TABELHalaman Tabel 3.1. Rincian kegiatan waktu dan jenis kegiatan penelitian ... 30 Tabel 3.2. Teknik dan alat pengumpulan data ... 32 Tabel 3.3. Prosentase indikator pencapaian keberhasilanbelajar siswa ... 33 Tabel 4.1. Deskripsi Data Awal Hasil Belajar Lay Up Shot Bola Basket Sebelum
Diberikan Tindakan Melalui Penerapan Media bantu Pembelajaran
Audio Visual ... 41
Tabel 4.2. Diskripsi Data Hasil Belajar Lay Up shot Bola Basket Setelah
Diberikan Tindakan 1 ... 53 Tabel 4.3. Diskripsi Data Hasil Belajar Lay Up Shot Bola Basket Setelah
Diberikan Tindakan II ... 63 Tabel 4.4. Hasil Perbandingan Hasil Belajar Lay Up Shot Bola Basket Sebelum
dan Sesudah Diberikan Penerapan Media Bantu Pembelajaran Audio
Visual pada Siklus 1 dan Siklus 2 ... 64
Tabel 3.1. Hasil Perbandingan Ketuntasan (KKM) Hasil Belajar Lay Up Shot
Bola Basket Sebelum dan Sesudah Diberikan Penerapa Media Bantu Pembelajaran AudioVisual Siklus I dan Siklus II ... 65
commit to user
xvii DAFTAR LAMPIRANHalaman
Lampiran 1. Silabus Pembelajaran ... 71
Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Penelitian ... 72
Lampiran 3. Hasil Pengamatan Peneliti, Guru dan Siswa ... 104
Lampiran 4. Data Hasil Belajar Siswa ...140
Lampiran 5. Foto Video Pembelajaran ...143
Lampiran 6. Foto proses pembelajaran ...145
commit to user
1
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan sebuah kegiatan pendidikan yang mana bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui aktivitas fisik. Disamping itu, pendidikan jasmani juga harus diutamakan karena mempunyai tujuan yang penting dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan pengembangan jasmani peserta didik. Banyak orang menganggap kurang penting mengikuti mata pelajaran pendidikan jasmani, dikarenakan belum mengerti peran dan fungsi pendidikan jasmani.
Menurut Toho Cholik dan Rusli Lutan mengataka
jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan yang ditujukan untuk
pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang utama untuk menunjang prestasi siswa. Karena dengan meningkatnya kesegaran jasmani serta daya tahan tubuh siswa dan dengan bugarnya kondisi siswa akan mempengaruhi tingkat belajar siswa serta minat dalam mengikuti pelajaran.
Salah satu masalah utama dalam pendidikan jasmani dewasa ini adalah rendahnya kualitas pendidikan jasmani di sekolah-sekolah. Hal itu disebabkan karena terbatasnya kemampuan guru pendidikan jasmani dan terbatasnya sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung terlaksananya proses pendidikan jasmani. Guru yang mengajar kurang mampu melaksanakan profesinya secara profesional, serta kurang berhasil dalam melaksanakan tanggung jawanya untuk mengajar dan mendidik siswa, serta untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan siswa secara menyeluruh baik secara fisik, mental dan intelektual.
Kebanyakan guru pendidikan jasmani di sekolah menengah atas saat ini kurang kreatif dalam menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan guru dalam pendidikan jasmani cenderung masih tradisional dan hanya monoton. Sehingga siswa sering merasa bosan dan tidak bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Materi pelajaran yang disampaikan guru kurang diperhatikan
commit to user
siswa saat mereka sudah merasa bosan. Terlebih apabila materi pelajaran yang diberikan itu cukup sulit untuk dipelajari. Siswa yang frustasi karena jenuh tidak mampu dan sering gagal dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Sehingga tujuan dari pendidikan tersebut tidak dapat tercapai dengan maksimal.
Seiring dengan perkembangan teknologi banyak media pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Salah satu dari beberapa media bantu pembelajaran adalah media audio visual. Media audio
visual ini merupakan media pembelajaran dengan menggunakan media elektronik.
Audio berarti pendengaran dan visual berarti penglihatan. Salah satu contoh media
pembelajaran audio visual
Video merupakan suatu medium yang sangat efektif untuk membantu proses pembelajaran dan video juga merupakan bahan ajar noncetak yang kaya akan info
(2011:79).
Untuk itu media bantu pembelajaran audio visual ini diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada pembelajaran lay up shot bola basket. Guru harus memiliki kemampuan untuk menggunakan media pembelajaran yang dapat mempermudah proses pembelajaran, sehingga siswa dapat lebih mudah memahami pelajaran yang disampaikan. Guru dituntut harus lebih kreatif dan inovatif dalam menggunakan media pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Sehingga tercipta pembelajaran yang aktif bagi siswa atau menyenangkan bagi siswa yang tentunya tanpa meninggalkan tujuan pembelajaran tersebut.
Berdasarkan hasil observasi pra penelitian banyak siswa kelas XA yang tidak dapat melakukan lay up shot bola basket dengan teknik yang benar setelah guru memberikan materi lay up shot. Dari hasil wawancara dengan kolaborator diperoleh data penilaian lay up shot bola basket dengan nilai KKM 75 dan siswa berjumlah 40 siswa. Siswa yang tuntas sejumlah 17,5% (7 siswa), dengan diskripsi siswa yang memperoleh nilai di atas 75 dan kurang dari sama dengan 79 sejumlah 17,5% (7 siswa), siswa yang memperoleh nilai di atas 70 dan kurang dari sama dengan 74 sejumlah 20% ( 8 siswa), dan siswa yang memperoleh nilai
commit to user
kurang dari sama dengan 69 sejumlah 62,5% (25 siswa). Kebanyakan siswa yang tidak bisa melakukan lay up adalah siswa putri.
Di dalam pelaksanaan pembelajaran guru yang mengajar menjelaskan materi kemudian memberikan contoh bagaimana cara lay up shot yang benar. Banyak dari siswa yang tidak memperhatikan guru saat guru memberikan penjelasan bagaimana cara melakukan teknik dasar lay up shot bola basket. Siswa yang tidak memperhatikan guru yang mengajar justu bercanda sendiri dengan temannya. Hal itu disebabkan karena pembelajaran inti yang guru berikan kurang menarik bagi siswa terutama saat penjelasan teknik dasar lay up shot bola basket. Banyak dari mereka yang masih melakukan kesalahan dalam melakukan lay up
shot. Baik itu kelebihan langkah ataupun salah dalam saat pertama kali menumpu.
Disamping itu bola yang dilempar ke ring tidak masuk ke ring karena pandangan mata tidak mengarah ke ring. Mereka terlihat bingung saat melakukan lay up shot. Pemanasan sebelum dimulainya materi sudah membuat siswa senang dan antusias. Karena pemanasan yang diberikan sudah dimodifikasi kedalam bentuk permainan. Namun ketika mulai materi inti, banyak siswa yang kurang antusias dalam materi yang diberikan. Banyak dari mereka yang hanya duduk-duduk saja setelah diperintahkan untuk mempraktekkan lay up shot bola basket. Padahal bola yang tersedia sudah cukup untuk membuat siswa untuk aktif dalam melakukan praktek lay up shot. Siswa sudah diperintahkan untuk berbaris kedalam satu barisan dan melakukan lay up shot secara bergantian. Siswa yang melaksanakan praktek lay up shot terlihat kurang sungguh-sungguh. Siswa yang duduk-duduk dan tidak mau melaksanakan praktek lay up shot sudah ditegur, tetapi siswa masih saja tidak menghiraukan guru yang mengajar. Hanya beberapa dari siswa yang melaksanakan percobaan lay up shot. Terlebih ditengah pelaksanaan percobaan
lay up shot ada beberapa siswa yang meminta kepada guru untuk mengganti
pembelajaran lay up shot dengan olahraga yang lain seperti misalnya futsal. Akibatnya hasil dari belajar lay up shot mereka tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Dari permasalahan yang dihadapi guru penjas dalam memberikan materi pembelajaran penjas terutama pada materi lay up shot bola basket, maka perlu
commit to user
audio
visual untuk meningkatkan hasil belajar lay up shot bola basket pada siswa kelas
XA SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2011/201
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang menjadi pokok penelitian dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimanakah penerapan media bantu pembelajaran audio visual dapat meningkatkan hasil belajar lay up shot bola basket pada siswa kelas XA SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2011/2012?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah di sampaikan di atas, tujuan penelitian ini adalah:
Untuk meningkatkan hasil belajar lay up shot bola basket pada siswa kelas XA SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2011/2012
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah di sampaikan di atas, manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi guru penjas kelas XA SMA N 1 Karanganom Kabupaten Klaten
a. Untuk meningkatkan kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran terutama materi lay
up shot pada permainan bola basket.
b. Sebagai bahan masukan bagi guru dalam memberikan pembelajaran yang lebih menarik dan mudah di pahami siswa.
commit to user
c. Agar guru yang mengajar dapat menggunakan media pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat lebih maksimal.
2. Bagi siswa kelas XA SMA N 1 Karanganom Kabupaten Klaten
a. Menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan sehingga siswa dapat lebih mudah menerima materi pelajaran yang di ajarkan. b. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran lay up bola
basket sehingga dapat tercapai tujuan pendidikan yang ingin di capai.
3. Bagi Peneliti
Peneliti mendapatkan fakta bahwa penerapan media bantu pembelajaran audio visual dapat meningkatkan hasil belajar lay up shot bola basket pada siswa kelas XA SMA Negeri 1 Karanganom Kabupaten Klaten Tahun Pelajaran 2011/2012.
commit to user
6
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka 1. Belajar dan Pembelajaran
a. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mendukung dan mempengaruhi terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Menurut Aunurrahman (menguti simpulan Abdilah) yang menyimpulkan
yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
Pembelajaran berupaya mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik, menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan. Demikian pula siswa yang memiliki sikap, kebiasaan atau tingkah laku yang belum mencerminkan eksistensi dirinya sebagai pribadi yang baik dan positif, menjadi siswa yang memiliki sikap , kebiasaan dan tingkah laku yang baik.
Berikut ini adalah beberapa kelompok teori yang memberikan pandangan khusus tentang belajar diantaranya:
1) Behaviorisme
Para penganut teori behaviorisme meyakini bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian didalam lingkungannya yang memberikan pengalaman-pengalaman tertentu. Behaviorisme menekankan pada apa yang dapat dilihat, yaitu tingkah laku dan kurang memperhatikan apa yag terjadi dalam pikiran karena tidak dapat dilihat. Ciri yang paling mendasar dari aliran behaviorisme adalah bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi adalah
commit to user
berdasarkan paradigma S-R (stimulus Respons), yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap sesuatu yang datang dari luar.
2) Kognitivisme
Kognitivisme merupakan salah satu teori belajar yang dalam berbagai pembahasan juga sering disebut model kognitif atau model perseptual. Pada teori belajar kognitivisme, tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi atau pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya. Piaget mengemukakan perkembangan intelektual melalui empat tahapan-tahapan, yaitu: (a) tahap sensori motor (0,0 2,0 tahun), (b) tahap pra-operasional (2,0 7,0 tahun), (c) tahap operasional konkret (7,0 11,0 tahun), dan (d) tahap operasional (11,0 ke atas). Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun sendiri pengetahuannya.Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bentuk, yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logika-matematika, dan pengetahuan sosial.
3) Teori Belajar Psikologi Sosial
Pandangan psikologi sosial secara mendasar mengungkapkan bahwa belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses alami. Semua orang mempunyai keinginan untuk belajar tanpa dapat dibendung oleh orang lain. Setiap orang mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan tujuan yang mendasari motivator penting untuk proses belajarnya. Pada teori belajar psikologi sosial, proses belajar jarang sekali merupakan proses yang terjadi dalam keadaan menyendiri, akan tetapi melalui interaksi-interaksi. Proses belajar yang mengikut sertakan emosi dan perasaan peserta didik ternyata mampu memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan hanya memanipulasi stimuli dari luar.
4) Teori Belajar Gagne
Teori belajar yang disusun Gagne merupakan perpaduan yang seimbang antara behaviorisme dan kognitivisme yang berpangkal pada teori pengolahan informasi. Menurut Gagne cara berpikir seseorang tergantung pada; (a) keterampilan yang apa yang telah dimilikinya, (b) keterampilan serta hirarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas. Lebih lanjut menurut Gagne, belajar tidak merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah, akan tetapi hanya
commit to user
akan terjadi dengan adanya kondisi-kondisi tertentu, yaitu; (a) kondisi internal, antara lain menyangkut kesiapan peserta didik dan sesuatu yang telah dipelajari, (b) eksternal, merupakan situasi belajar yang secara sengaja diatur oleh pendidik dengan tujuan memperlancar proses belajar.
b. Ciri-ciri dan Tujuan Belajar
Belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman. Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental, yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ahli yang mendalami ranah-ranah kejiwaan adalah Bloom, Krathwohl, dan Simpson. Ketiga ahli tersebut menyusun penggolongan tingkatan jenis perilaku belajar yang terdiri dari tiga ranah atau kawasan, yaitu;
1) Ranah Afektif
Berikut adalah bagan hirarkis perilaku belajar ranah afektif :
TINGGI
RENDAH
PRA-BELAJAR
Gambar 2.1. Hirarkis jenis perilaku dan kemampuan internal menurut Taxonomi Krathwohl & Bloom dkk (Aunurrahman, 2010:51)
5. PEMBENTUKAN POLA HIDUP
Kemampuan menghayati nilai sehingga menjadi pedoman hidup
4. ORGANISASI
Kemampuan membentuk sistem nilai sebagai pedoman hidup
3. PENILAIAN DAN PENENTUAN SIKAP Kemampuan memberikan nilai dan menentukan sikap
2. PARTISIPASI
Kerelaan memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan
1. PENERIMAAN
Kemampuan menjadi peka tentang sesuatu hal dan menerima sebagaimana adanya
commit to user
Bagan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang belajar adalah proses menuju perubahan internal berkenaan dengan aspek-aspek afektif. Perubahan itu bermula dari kemampuan-kemampuan yang lebih rendah pada kondisi pra-belajar, meningkat pada kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi.
2) Ranah kognitif
Perilaku-perilaku dalam ranah ini bersifat hirarki, artinya perilaku tersebut menggambarkan tingkatan kemampuan yang dimiliki seseorang. Perilaku terendah sebaiknya dimiliki terlebih dahulu sebelum mempelajari perilaku yang lebih tinggi. Jika dituangkan dalam bentuk bagan, hirarkis perilaku belajar adalah seperti berikut:
TINGGI
RENDAH
PRA-BELAJAR
Gambar 2.2. Hirarkis jenis perilaku dan kemampuan internal menurut Taxonomi Bloom dkk. (Aunurrahman, 2010:50)
3) Ranah Psikomotor
Dalam bentuk bagan urutan kemampuan-kemampuan psikomotor sebagai berikut:
6. EVALUASI
Kemampuan menilai berdasarkan norma, seperti menilai karangan, dsb.
1. PENGETAHUAN
Kemampuan mengetahui atau mengingat istilah, fakta, aturan, urutan, metode, dsb.
4. ANALISIS
Kemampuan memisahkan, membedakan, merinci bagian-bagian, hubungan , dsb.
2. PEMAHAMAN
Kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, memahami isi pokok, mengartikan tabel, dsb.
5. SINTESIS
Kemampuan menyusun, seperti karangan, rencana, program kerja, dsb.
3. PENERAPAN
Kemampuan memecahkan masalah, membuat bagan, menunggu konsep, kaidah, prinsip, metode, dsb.
commit to user
TINGGIRENDAH PRA-BELAJAR
Gambar 2.3. Hirarkis jenis perilaku dan kemampuan psikomotorik Taxonomi Simpson dkk. (Aunurrahman, 2010:53)
Bagan di atas menunjukkan bahwa seseorang yang belajar terlibat dalam suatu proses menuju perubahan internal, bermula dari kemampuan-kemampuan yang lebih rendah pada kondisi pra-belajar, meningkat pada kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Proses ini merupakansuatu kegiatan yang dinamis, dimana siswa melalui keaktifannya akan dapat secara terus menerus mengembangkan kemampuan atau keterampilan motoriknya untuk mencapai tingkatan-tingkatan kemampuan motorik yang lebih tinggi melalui proses belajar atau latihan yang dilakukan.
c. Prinsip-prinsip Belajar
Mengingat beberapa hal yang dapat menjadikan kerangka dasar bagi penerapan prinsip-prinsip belajar dalam proses pembelajaran menurut Aunurrahman (mengutip simpulan Davies) adalah sebagai berikut:
1. PERSEPSI
Kemampuan memilah-milah dan kepekaan terhadap sesuatu hal 4. GERAKAN TERBIASA
Keterampilan yang berpegang pada pola
2. KESIAPAN
Kemampuan bersiap diri secara fisik
5. GERAKAN KOMPLEK
Keterampilan banyak tahap, luwes, gesit lincah
3. GERAKAN TERBIMBING Kemampuan meniru contoh
6. PENYESUAIAN
Kemampuan mengubah dan mengatur kembali.
7. KREATIVITAS
Kemampuan menciptakan pola baru
commit to user
1) Hal apapun yang dipelajari murid, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak seorangpun yang dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya
2) Setiap murid belajar menurut tempo (kecepatannya) sendiri dan untuk setiap kelompok umur, terdapat variasi dalam kecepatan belajar.
3) Seorang murid belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera diberikan penguatan (reinforcement)
4) Penguasaan secara penuh dari setiap langkah-langkah pembelajaran, memungkinkan murid belajar secara lebih berarti.
5) Apabila murid diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk belajar, dan ia akan belajar dan mengingat lebih baik. (2010:113)
d. Dinamika Interpretasi Pembelajaran
Peran guru dalam kegiatan pembelajaran disekolah relatif tinggi. Peran guru tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar menurut Dimyati dan Mudjiono, adalah sebagai berikut:
1) Bahan belajar, dapat berwujud benda dan isi pendidikan. Isi pendidikan tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, nilai, sikap dan metode pemerolehan
2) Suasana belajar, kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, alat-alat belajar mempengaruhi kegiatan belajar, disamping kondisi fisik tersebut suasana pergaulan di sekolah juga berpengaruh pada kegiatan belajar.
3) Media dan sumber belajar dapat ditemukan dengan mudah. Sawah percobaan, kebun bibit, tempat wisata, museum, gedung olahraga, dll. Disamping itu buku bacaan, laboratorium sekolah juga tersedia semakin baik.
4) Guru sebagai subyek pelajar, guru sebagai guru pembelajar siswa. Sebagai subyek pembelajar, guru berhubungan langsung dengan siswa. (2006:33)
2. Hasil Belajar
perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi
oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak dilihat secara fragmentasi atau terpisah, melainkan komprehensif. Salah satu tugas pokok seorang guru adalah mengevalusai taraf keberhasilan rencana pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar. Untuk dapat melihat sejauh mana taraf keberhasilan mengajar guru dan belajar siswa secara tepat dan dapat dipercaya maka diperlukan
commit to user
sebuah informasi yang didukung oleh data yang objektif dan memadahi tentang indikator perubahan perilaku dan pribadi siswa.
a. Penilaian Proses Belajar
Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru dan siswa serta keterlaksanaan program belajar mengajar. Sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka pendek dan hasil belajar jangka panjang. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut Nana Sudjana menyatakan dalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai
tujuan-Penilaian merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaiannya. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik. Kualitas pembelajaran ini dapat dilihat dari hasil penilaiannya. Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong peserta didik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan diperlukan perbaikan sistem penilaian yang diterapkan.
Menurut Agus Suprijono hasil (Mengutip simpulan pemikiran Gagne) hasil belajar berupa :
1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan
commit to user
tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah mupun penerapan aturan.
2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasikan, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas. 3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. (2011 : 5 6)
Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-niai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
b. Tujuan dari penilaian
Tujuan dari penilaian memberi gambaran bahwa penilaian memegang peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan dari penilaian tersebut diantaranya adalah:
1) Mendeskrepsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam pembelajaran.
2) Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran disekolah. 3) Menentukan tindak lanjut hasil penilaian.
4) Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Disamping adanya tujuan penilaian hasil belajar, dilihat dari jenis dan fungsinya penilaian ada beberapa macam yaitu:
1) Penilaian Formatif
Penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar-mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar-mengajar itu sendiri.
commit to user
2) Penilaian Sumatif
Penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir catur wulan, akhir semester, dan akhir tahun.
3) Penilaian Diagnostik
Penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa serta faktor penyebabnya.
4) Penilaian Selektif
Penilaian yang bertujuab untuk keperluan seleksi, misalnya ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu.
Menurut Harun Rasyid dan Mansur (mengutip simpulan chittenden, 1994), kegiatan penilaian dalam proses pembelajaran perlu diarahkan empat hal:
1) Penelusuran, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menelusuri apakah proses pembelajaran telah berlangsung sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Untuk kepentingan ini, pendidik mengumpulkan berbagai informasi sepanjang semester atau tahun pelajaran melalui berbagai bentuk pengukuran untuk memperoleh gambaran tentang pencapaian kemajuan belajar anak.
2) Pengecekan, yaitu untuk mencari informasi apakah terdapat kekurangan- kekurangan pada peserta didik selama proses pembelajaran. Dengan melakukan berbagai bentuk pengukuran pendidik berusaha untuk memperoleh gambaran menyangkut kemampuan peserta didiknya, apa yang telah berhasil dikuasai dan apa pula yang belum.
3) Pencarian, yaitu untuk mencari dan menemukan penyebab kekurangan yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan jalan ini pendidik dapat segera mencari solusi untuk mengatasi kendala-kendala yang timbul selama proses belajar berlangsung.
4) Penyimpulan, yaitu menyimpulkan tentang tingkat pencapaian belajar yang telah dimiliki peserta didi. Hal ini sangat penting bagi pendidik untuk mengetahui tingkat pencapaian yang diperoleh peserta didik. Selain itu, hasil penyimpulan ini dapat digunakan sebagai laporan hasil tentang kemajuan belajar peserta didik, baik untuk peserta didik sendiri, sekolah, orang tua, maupun pihak-pihak lain yang membutuhkan. (2007:8)
3. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius
commit to user
atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan, atau alat. Sedangkan menurut Azhar Arsyad (mengutip simpulan Gerlach
manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan
menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah bagi seorang siswa merupakan media. Banyak batasan tentang media,
Association of Education and Comunication Technology (AECT) memberikan
pengertian tentang media sebagai salah satu bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.
Media merupakan sarana pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang bertujuan untuk membuat siswa mengerti. Media adalah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. Dalam proses belajar mengajar penerima pesan itu adalah siswa. Pembawa pesan (media) itu berinteraksi dengan siswa melalui indera mereka. Siswa dirangsang dengan media itu untuk menerima informasi. Kadang-kadang siswa dituntut untuk menggunakan kombinasi dari beberapa indera supaya dapat menerima pesan itu lebih lengkap.
Menurut Azhar Arsyad berdasarkan uraian beberapa batasan tentang media, berikut dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung pada setiap batasan sebagai berikut :
1) Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indra.
2) Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai
software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam
perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
3) Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio
4) Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun siluar kelas.
5) Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
commit to user
6) Media pendidikan dapat digunakan secara masal (misalnya: radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya: modul, komputer, radio tape/ kaset, video recorder)
7) Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.(2011:6)
Pada awal sejarah pembelajaran, media hanyalah merupakan alat bantu yang dipergunakan oleh seorang guru untuk menerangkan pelajaran. Kemudian dengan berkembangnya teknologi, khususnya teknologi audio pada pertengahan abad ke-20 lahirlah alat bantu audio visual yang terutama menggunakan pengalaman yang kongkrit untuk menghindari verbalisme. Dalam usaha memanfaatkan media sebagai alat bantu, Edgar Dale mengadakan klasifikasi menurut tingkat dari yang paling kongkrit ke yang paling abstrak sebagai berikut:
Gambar 2.4. Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Rudi Susilana & Cepi Riyana, 2007:7)
b. Manfaat Media Pembelajaran
Media dapat digunakan dalam proses belajar mengajar dengan dua arah yaitu sebagai alat bantu mengajar dan sebagai media belajar yang dapat digunakan sendiri oleh siswa. Media yang dipakai sebagai alat bantu mengajar disebut dengan dependent media. Sedangkan media yang dapat digunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar mandiri, disebut independent media. Media dirancang dan disusun secara sistematik, serta dapat menyalurkan informasi secara terarah untuk
commit to user
mencapai tujuan instruksional tertentu. Contoh independent media adalah film bingkai bersuara, film rangkaian bersuara, radio, TV, video, film dan media tercetak seperti modul yang memang dirancang untuk belajar secara mandiri.
Media seperti ini dapat digunakan oleh siswa bersama guru tetapi dapat digunakan sendiri oleh siswa di perpustakaan yang dilengkapi berbagai media tanpa bantuan orang lain. Media jenis ini seringkali juga dipakai dalam pelajaran klasikal. Dalam sistem pembelajaran media dapat digunakan untuk menggantikan fungsi guru, yaitu fungsi memberikan informasi atau isi pelajaran. Menurut Basuki Wibana dan Farida Mukti apabila sistem belajar mengajar dengan media ini di terapkan, ada beberapa keuntungan yang diperoleh:
1) Guru mempunyai lebih banyak waktu untuk membantu siswa yang lemah. Sementara siswa sibuk belajar sendiri, guru dapat memberikan bantuan kepada siswa yang membutuhkannya.
2) Siswa akan belajar secara aktif, dan
3) Siswa dapat belajar sesuai dengan gaya dan kecepatan masing-masing.(2001:14)
Namun demikian perlu disadari benar-benar bahwa kalau sistem ini akan digunakan, guru perlu membuat persiapan yang matang dan perlu menyediakan media dan peralatan belajar yang cukup. Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana, media mempunyai kegunaan:
1) Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra
3) Menimbulkan gairan belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar
4) Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya
5) Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama.(2007:9)
c. Media Audio Visual
Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Dengan karakteristik yang lebih lengkap, media audio visual memiliki kemampuan untuk mengatasi kekurangan dari media audio atau media visual semata. Media audio visual ini lebih efektif penggunaanya bila dibandingkan dengan media pesan visual saja (seperti gambar
commit to user
cetak yang disusun berurutan). Media audio visual ini tidak saja menyampaikan pesan-pesan yang rumit, tetapi juga lebih realistis. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media audio visual adalah penulisan naskah dan
storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.
Pada awal pelajaran media harus mempertunjukkan sesuatu yang dapat menarik perhatian semua siswa. Hal ini diikuti dengan jalinan logis keseluruhan program yang dapat membangun rasa berkelanjutan-sambung-menyambung dan kemudian menuntun kepada kesimpulan dan saran. Menurut Basuki Wibana dan Farida Mukti menyatakan bahwa
audio visual memiliki
kemampuan untuk dapat mengatasi kekurangan dari media audio atau media
visual semata. Misalnya film bingkai dan film rangkaian yang dilengkapi
dengan suara. Media ini menjadi lebih efektif penggunannya bila dibandingkan dengan media pesan visual saja (seperti gambar cetak yang
Salah satu contoh media audio visual yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah dengan menggunakan video. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu obyek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Kemampuan video melukiskan gambar hidup dan suaranya memberi daya tarik tersendiri.
menunjukkan bahwa informasi yang disajikan melalui gambar, dapat diserap baik oleh penonton. Namun demikian, apabila disampaikan melalui suara, informasi tersebut hanya bisa diserap dengan bai
Ini berarti apa bila kedua media itu digabungkan pesan yang disampaikan akan lebih mudah diserap oleh siswa yang melihatnya. Namun media ini juga mempunyai keuntungan dan kekurangan diantaranya:
1) Keuntungan film dan video
a) Film dan video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktik, dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar dan bahkan dapat menunjukkan objek
commit to user
yang secara normal tidak dapat dilihat seperti kerja jantung ketika berdenyut.
b) Film dan video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu.
c) Di samping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video menanamkan sikap dan segi-segi efektif lainnya.
d) Film dan video yang mengandung nilai-nilai positif dalam mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa.
e) Film dan video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat secara langsung seperti lahar gunung berapi dan perilaku binatang buas. f) Film dan video dapat ditunjukkan kepada kelompok besar atau kelompok
kecil, kelompok yang heterogen, maupun perorangan.
g) Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar frame demi frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit.
2) Kekurangan film dan video
a) Pengadaan film dan video umumnya memerlukan biaya mahal dan waktunya yang banyak.
b) Pada saat film dipertunjukkan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak semua mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui film tersebut.
c) Film dan video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan, kecuali film dan video itu dirancang dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri.
Menurut Dary
yang sangat efektif untuk membantu proses pembelajaran, baik itu pembelajaran
sangat fleksibel dan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Disamping itu video juga merupakan bahan ajar noncetak yang kaya akan informasi dan tuntas karena dapat sampai ke hadapan siswa secara langsung. Di samping itu, video menambah suatu dimensi baru terhadap pembelajaran. Hal ini karena karakteristik teknologi
commit to user
video yang dapat menyajikan gambar bergerak pada siswa, disamping suara yang menyertainya. Dengan demikian, siswa merasa seperti berada disuatu tempat yang sama dengan program yang ditayangkan video.
4. Permainan Bola Basket a. Pengertian Bola Basket
Bola basket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan. Bola basket sangat cocok untuk ditonton karena biasa dimainkan di ruang olahraga tertutup dan hanya memerlukan lapangan yang relatif kecil. Selain itu, bola basket mudah dipelajari karena bentuk bolanya yang besar, sehingga tidak menyulitkan pemain ketika memantulkan atau melempar bola tersebut. Cara menggiring bola pada permainan bola basket ini adalah dengan dribble atau memantul-mantulkan bola ke lantai. Apabila berhenti mendribble maka bola harus segera dioper ke teman dengan cara melempar atau passing.
Permainan ini dimulai dengan jum ball dan dipimpin oleh 2 orang wasit yaitu refree dan umpire serta dibantu oleh petugas meja dan pengawas. Dalam satu pertandingan bola basket terdapat empat babak atau yang biasanya disebut dengan kuarter. Pergantian pemainnya bebas namun harus melapor kepada wasit terlebih dahulu. Lamanya waktu pertandingan dalam satu kuarter adalah kurang lebih 10 menit dan jeda waktu antar kuarternya selama 2 menit. Kemenangan dalam permainan ini adalah apabila diantara kedua tim yang paling banyak mengumpulkan point selama empat kuarter. Jika terjadi skor sama di kuarter empat maka pertandingan dilanjutkan dengan kuarter tambahan selama 5 menit.
b. Teknik Dasar Bola Basket
Dalam permainan bola basket terdapat beberapa teknik dasar agar dapat menguasai permainan bola basket diantaranya adalah:
commit to user
Dribbling adalah suatu usaha membawa bola ke depan. Caranya yaitu dengan memantul-mantulkan bola ke lantai dengan satu tangan. Menggiring bola dalam permainan bola basket dapat dibagi menjadi dua cara, yaitu menggiring bola rendah dan menggiring bola tinggi. Menggiring bola rendah bertujuan untuk melindungi bola dari jangkauan lawan. Menggiring bola tinggi dilakukan untuk mengadakan serangan yang cepat ke daerah pertahanan lawan..
2) Passing
Passing adalah mengoper atau melempar bola kepada teman. Passing ini terbagi menjadi tiga yaitu chest pass (lemparan dari depan dada) digunakan untuk mengoper jarak dekat, bounce pass (lemparan pantul) digunakan untuk mengoper pada jarak dekat dan posisinya dikerumuni lawan, dan overhead pass (lemparan dari atas kepala) digunakan untuk mengoper pada jarak jauh. 3) Shooting
Shooting adalah usaha memasukkan bola ke dalam keranjang atau ring basket lawan untuk meraih poin. Shooting ini dilakukan dengan berbagai macam misalnya one head shot (tembakan satu tangan), free throw (tembakan bebas), jump shot (tembakan sambil melompat), Three point (tembakan tiga angka), hook shot (tembakan mengkait), lay up shot (tembakan dengan langkah dan melompat).
c. Teknik Dasar Lay Up Shot Bola basket
lay up adalah
tembakan yang dilakukan dari jarak dekat sekali dengan keranjang, sehingga seolah-olah bola itu diletakkan ke dalam keranjang yang didahului dengan gerakan melangkah lebar dan melompat
setinggi-lay up adalah tembakan yang berpeluang paling tinggi
untuk mencetak angka dalam bola basket, para pemain penyerang harus mencoba melakukan lay up
gaya tembakan tiga langkah. Gerakan melangkah dapat dilakukan dari menerima operan atau gerakan menggiring bola. Melangkah dua kali, mengoper, atau
commit to user
menembakkan bola merupakan unsur yang sangat penting dalam gerakan lay up. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam melakukan tembakan lay up, yaitu: 1) Saat menerima bola, badan harus dalam keadaan melayang
2) Saat melangkah, langkah pertama harus lebar dan jauh guna mendapat jarak maju sejauh mungkin, klangkah kedua pendek untuk memperoleh awalan tolakan agar dapat melompat setinggi-tingginya
3) Saat melepas bola, bola harus dilepas dengan kuatan kecil, seorang pemain yang menerima bola pada saat melayang, diperbolehkan untuk menambah langkah dua hitungan.
Biasanya tembakan lay up dilakukan dari samping (kanan atau kiri) basket dan bola dipantulkan lebih dulu ke papan. Cara ini adalah cara yang paling mudah dilakukan, tinggal memperhitungkan sudut pantulan bola dan kekuatan tangan melepas bola. Momen-momen ini dapat digambarkan sebagai berikut:
menembak melompat melangkah Ki Ka Ki melayang melompat
Gambar 2.5. Langkah dalam melakukan lay up (Imam Sodikun, 1992:64)
Ketika melakukan latihan lay up, biasakan lari dengan langkah lebar dengan badan condong ke depan. Kemudian berilah tanda atau rintangan agar dapat melangkahlan kaki sesuai dengan langkah lay up, langkah pertama lebar kemudian langkah kedua pendek dan diakhiri dengan lompata setinggi-tingginya serta pandangan mata ke ring basket.
Langkah pertama harus lebar dan badan condong ke depan untuk memperoleh jarak maju sejauh mungkin dan memelihara keseimbangan. Langkah kedua pendek dengan maksud mempersiapkan diri untuk membuat awalan agar
commit to user
dapat menolakkan kaki sekuat-kuatnya supaya memperoleh lompatan setinggi-tingginya. Lompatan terakhir harus setinggi-tingginya dengan maksud agar mendekatkan diri dengan keranjang basket, dan menghilangkan kecepatan ke depan. Pandangan mata ke ring basket agar saat melepaskan bola ke ring bola tepat pada sasaran dan dapat masuk ke ring.
Saat langkah kaki terakhir, kaki ditolakkan sekuat-kuatnya agar dapat mencapai titik tertinggi sedekat mungkin dengan keranjang basket. Pada saat berhenti dititik tertinggi, luruskan tangan memegang bola, serta lecutan pergelangan tangan yang memegang bola (tangan kanan) hingga jalannya bola tidak kencang.
Gambar 2.6. Teknik tembakan lay up (Danny Kosasih, 2008:50)
5. Pembelajaran Lay Up Shoot Menggunakan Media Bantu Audio Visual
Pada siswa SMA pembelajaran lay up shoot bola basket akan lebih efektif apabila menggunakan media. Salah satu media yang dapat digunakan untuk membantu adalah media bantu pembelajaran. Media bantu yang digunakan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Siswa terkadang kurang memperhatikan guru dalam pelajaran apabila pelajaran yang disampaikan kurang
commit to user
melakukan lay up masih membutuhkan penggunaan teknik dan pengambilan langkah yang tepat untuk memaksimalkan hasil tembakan
Maka dari itu alat bantu yang digunakan harus efektif. Media bantu yang digunakan adalah dengan menggunakan media bantu pembelajaran audio visual
yang berupa video pembelajaran.
Pembelajaran lay up shoot bola basket menggunakan media bantu pembelajaran audio visual dimaksudkan untuk membantu proses menentukan ketepatan langkah pada saat proses melakukan teknik lay up shoot bola basket. Disamping itu juga melatih ketepatan saat melepas bola ke ring basket dan pada saat melakukan lay up shoot pandangan mata mengarah pada ring basket. Adapun pelaksanaannya yaitu menyediakan perangkat audio visual berupa LCD, laptop, speaker dan video pembelajaran.
Langkah-langkah pembelajaran lay up shoot bola basket dengan media bantu pembelajaran audio visual:
1) Siswa melihat tayangan video pembelajaran lay up shoot bola basket 2) Siswa mempraktekkan apa yang sudah diajarkan dalam tayangan video
pembelajaran lay up shoot bola basket secara bertahap.
6. Penelitian Tindakan Kelas
Dalam istilah aslinya, Penelitian Tindakan Kelas disebut dengan
Classroom Action Research. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini
menaruh perhatian yang cukup besar terhadap penelitian tindakan kelas. Dalam tataran ilmiah, penelitian tindakan kelas dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pembelajaran. Ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri, dikelas sendiri, dengan melibatkan siswanya sendiri, melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri, guru dapat memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai kegiatan yang selama ini selalu dilakukan dalam proses pembelajaran. Menurut
sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik
commit to user
pembelajaran dikelas secara lebih berkualitas sehingga siswa dapat memperoleh
juga merupakan penelitian yang bersifat reparatif. Artinya, penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar siswa bisa mencapai hasil yang maksimal.
Komponen-komponen dalam suatu kelas yang dapat dikaji melalui penelitian tindakan kelas, menurut Mohammad Asrori (mengutip simpulan Suhardjono) meliputi:
1) Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran dikelas/ lapangan/ laboratorium/ bengkel, ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah di malam hari, atau ketika sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.
2) Guru, dapat dicermati ketika guru yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata, atauu sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
3) Materi pelajaran, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar atau sebagai bahan yang ditugaskan kepada siswa.
4) Peralatan atau sarana pendidikan, dapat dicermati ketika guru sedang mengajar, dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar, yang diamati adalah guru, siswa, atau keduanya
5) Hasil pembelajaran, merupakan produk yang harus ditingkatkan, pasti terkait dengan tindakan unsur lain, yaitu proses pembelajaran, peralatan atau sarana pendidikan, guru, dan siswa itu sendiri.
6) Lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkungi siswa di rumahnya. Bentuk perlakuan atau tindakan yang dapat dilakukan adalah mengubah kondisi lingkungan menjadi lebih kondusif.
7) Pengelolaan, merupakan kegiatan yang sedang diterapkan dan dapat di atur atau direkayasa dalam bentuk tindakan. Unsur pengelolaan yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk tindakan. Dalam hal ini yang digolongkan sebagai kegiatan pengelolaan misalnya cara pengelompokan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa, dan sebagainya.(2007:6)
Menurut Agus Kristiyanto berpendapat bahwa karakteristik PTK dalam pendidikan jasmani meliputi:
practical inquiri) yang bertujuan
-di
commit to user
PTK merupakan penelitian yang dilakukan secara kolaboratif. Pihak yang berkolaborasi adalah pihak-pihak yang secara riil menjadi komponen inti dalam praktek pembelajaran sesuai masalah yang diteliti; (3) PTK merupakan penelitian yang berbentuk self-moni-toring dengan penajaman kemampuan merefleksi berdasarkan apa yang telah direncanakan, dilaksanakan, dan di
Sebagai suatu metode penelitian, penelitian tindakan kelas memiliki sejumlah kelebihan untuk digunakan oleh guru dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Selain memiliki kelebihan-kelebihan, penelitian tindakan kelas juga memiliki sejumlah kelemahan. Memahami kelebihan dan kelemahan penelitian tindakan kelas ini penting karena dengan memahami kelebihan dan kekurangannya, peneliti dapat mengurangi kekuranganya dan memaksimalkan kelebihannya. Berikut ini dipaparkan kelebihan dan kelemahan penelitian tindakan kelas:
1) Kelebihan Penelitian Tindakan Kelas
a) Kerja sama dengan teman sejawat dalam penelitian tindakan kelas dapat menimbulkan rasa memiliki.
b) Kerjasama dalam penelitian tindakan kelas mendorong berkembangnya pemikiran kritis dan kreativitas guru.
c) Kerja sama dalam penelitian tindakan kelas dapat meningkatkan kemampuan guru untuk membawa kepada kemungkinan untuk berubah. 2) Kelemahan Penelitian Tindakan Kelas
a) Kurang mendalamnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik-teknik dasar penelitian tindakan pada pihak peneliti.
b) Tidak mudah menemukan dan merumuskan masalah yang hendak diteliti. c) Tidak mudah mengelola waktu antara kegiatan rutin yang sekaligus
dilakukan dengan kegiatan penelitian.
d) Keengganan atau bahkan kesulitan untuk melakukan perubahan.
e) Tuntutan terhadap penelitian tindakan agar dapat dia meyakinkan orang lain bahwa model, metode, strategi, atau teknik-teknik pembelajaran yang ditelitinya benar-benar berjalan secara efektif dan membawa kepada perubahan dan peningkatan kualitasnya nyata.
commit to user
Ada beberapa model penelitian tindakan kelas yang dapat digunakan. Namun, model yang tampaknya tidak terlalu sulit untuk dilakukan oleh guru di kelas adalah penelitian tindakan model siklus. Model ini dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart pada tahun 1988 dari Deakin University Australia.
sadar yang dilakukan peneliti (bersama kolaborator) dalam rangkanuntuk merubah keadaan secara rasional dan tere
Model penelitian tindakan kelas ini mengandung empat komponen, yaitu 1) Rencana (Planning)
Pada komponen ini, guru sebagai peneliti merumuskan rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran, perilaku, sikap, dan prestasi belajar siswa.
2) Tindakan (Action)
Pada komponen ini, guru melaksanakan tindakan, berdasarkan rencana tindakan yang telah direncanakan, sebagai upaya perbaikan dan peningkatan atau perubahan proses pembelajaran, perilaku, sikap, dan prestasi belajar siswa yang diinginkan.
3) Pengamatan (Observation)
Pada komponen ini, guru mengamati dampak atau hasil dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Apakah berdasarkan tindakan yang dilaksanakan itu memberikan pengaruh yang meyakinkan terhadap perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran dan hasil belajar siswa atau tidak.
4) Refleksi (Reflection)
Pada komponen ini, guru mengkaji dan mempertimbangkan secara mendalam tentang hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan itu dengan mendasarkan pada berbagai kriteria yang telah dibuat. Berdasarkan hasil refleksi ini, guru dapat melakukan perbaikan terhadap rencana awal yang telah dibuatnya jika masih terdapat kekurangan sehingga belum memberikan dampak perbaikan dan peningkatan yang meyakinkan.
commit to user
B. Kerangka BerpikirPembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang sesuai dengan konsep pembelajaran yang sesuai dengan konsep yang dipelajari. Permasalahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran adalah ppada model dan dan cara guru menyampaikan pelajaran. Siswa seringkali kurang dapat memahami apa yang telah disampaikan oleh guru yang mengajar. Khususnya dalam pembelajaran lay up shoot bola basket. Siswa tidak mampu melaksanakan gerakan lay up, sebab guru hanya menyampaikan materi dengan singkat. Adapun ketika guru mendemonstrasikan gerakan terlalu cepat dan tanpa adanya tahapan-tahapan sehingga demonstrasi tersebut kurang dapat ditangkap oleh siswa secara optimal.
Permasalahan umum dalam pembelajaran penjas adalah kurangnya sarana dan peran aktif siswa dalam kegiatan belajar. Proses pembelajaran yang berlangsung belum mewujudkan adanya partisipasi siswa secara penuh. Di sini siswa berperan sebagai objek pembelajaran, yang hanya mendengar dan mengaplikasikan apa yang disampaikan oleh guru. Selain itu, proses pembelajaran kurang mengoptimalkan penggunaan modifikasi pembelajaran yang dapat memancing peran aktif siswa.
Penggunaan model nyata yang diamati secara langsung oleh siswa memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar. Model nyata yang dimaksud adalah media pembelajaran. Penggunaan media bantu pembelajaran memungkinkan siswa untuk lebih banyak melakukan kegiatan seperti melihat, berimajinasi, dan melakukan apa yang seperti dilihat.
Secara garis besar media bantu yang digunakan adalah media audio visual, yaitu dengan menggunakan tayangan video pembelajaran lay up. Dan kemudian dilanjutkan mempraktikkan langsung apa yang dilihat dalam video pembelajaran yang ditayangkan.
Penggunaan media bantu dapat memunculkan fenomena atau gejala yang ditangkap siswa sehingga dapat memunculkan masalah-masalah yang terkait
commit to user
dengan topik atau materi yang sedang dipelajari. Permasalahan-permasalahan inilah yang menjadi basis dalam pembelajaran untuk dipecahkan bersama di kelas. Pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah di dalam kelas adalah dengan penggunaan media bantu pembelajaran audio visual yaitu tayangan video pembelajaran dalam pembelajaran teknik dasar lay up shoot bola basket.
Kurangnya kreatifitas guru yang dapat mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa antara lain kurang kreatifnya guru pendidikan jasmani disekolah dalam membuat dan mengembangkan media pembelajaran. Perkembangan teknologi pembelajaran dengan media elektronik rata-rata sudah berkembang di sekolah-sekolah. Namun guru terkadang tidak memanfaatkan media yang suda tersedia tersebut.
Secara sederhana kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.7. Kerangka berpikir
Kondisi awal
Tindakan
Kondisi Akhir
Guru:
Kurang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran penjas
Melalui penggunaan media bantu pembelajaran audio visual dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran lay up serta partisipasi aktif dan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat
Siklus II: Upaya perbaikan dari siklus I sehingga melalui media bantu pembelajaran audio visual dapat berhasil meningkatkan hasil pembelajaran lay up shoot bola basket
Siklus I: Guru dan peneliti menyusun bentuk pengajaran dengan menggunakan media audio visual untuk meningkatkan hasil belajar lay up shoot bola basket
Siswa:
- Siswa kurang tertarik dan cepat bosan dengan pembelajaran lay up shoot bola basket
- Hasil belajar siswa rendah - Pemaham teknik dasar lay up
rendah Menerapkan model pembelajaran dengan menggunakan media bantu pembelajaran audio visual