BAB I PENDAHULUAN. batubara menjadi semakin meningkat. Hal ini terjadi karena batubara merupakan

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Selama dekade terakhir, industri pertambangan batubara menjadi primadona di bidang industri pertambangan. Sejalan dengan terjadinya peningkatan kebutuhan energi dunia serta meningkatnya harga minyak bumi maka kebutuhan akan batubara menjadi semakin meningkat. Hal ini terjadi karena batubara merupakan salah satu substitusi dari minyak bumi sebagai bahan bakar penghasil energi disamping gas alam.

Berdasarkan data dari World Coal Association, prosentase penggunaan batubara sebagai bahan bakar untuk penghasil energi listrik sangat beragam di tiap negara. Di Monggolia 98% dari energi listrik yang dihasilkan menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya sementara di jepang hanya 27 % energi listrik yang dihasilkan dengan menggunakan batubara sebagai sumber penghasil energi. Di Indonesia, 44 % dari energi listrik yang dihasilkan menggunakan batubara sebagai bahan bakar (World Coal Association, coal facts 2013).

Selain digunakan sebagai bahan bakar penghasil listrik (Steam Coal), batubara juga digunakan sebagai salah satu bahan baku di industri baja (Coking Coal). Sebanyak 13 % dari total produksi batu bara dunia digunakan sebagai bahan baku di industri baja dan 70 % dari total produksi baja dunia bergantung kepada komoditi batubara (World Coal Association, coal facts 2013). Coking coal mempunyai kualitas dan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan Steam Coal.

(2)

2 Berdasarkan data dari US Energy Information Administration, Cadangan batubara (reserve) dunia saat ini adalah sebesar 980 juta ton. Amerika Serikat merupakan negara yang mempunyai cadangan batubara terbesar di dunia yaitu sebesar 26 % dari cadangan batubara dunia. Rusia berada di peringkat kedua dengan cadangan batubara sebesar 17,66 % dari cadangan batubara dunia disusul negara Tiongkok yang mempunyai cadangan batubara sebesar 12,88 % dari cadangan batubara dunia. Indonesia ternyata hanya menempati posisi terakhir dari 10 negara yang mempunyai cadangan batubara terbesar di dunia. Cadangan batubara yang dipunyai oleh Indonesia hanya sebesar 3,15 % dari cadangan batubara dunia. Urutan lengkap 10 besar negara yang mempunyai cadangan terbesar di dunia dapat dilihat pada tabel 1.

Dari aspek produksi batubara, Indonesia menempati posisi keempat dibawah negara Tiongkok, Amerika Serikat dan India. Pada tahun 2012, produksi batubara Indonesia adalah sebesar 443 Juta ton dimana 430 juta ton berupa steam coal dan

(3)

3 13 juta ton berupa coking coal (World Coal Association, coal facts 2013). Negara penghasil batubara terbesar di dunia adalah negara Tiongkok dengan nilai produksi sebesar 3.549 juta ton yang terdiri dari 3.039 juta ton steam coal dan 510 juta ton coking coal. (World Coal Association, coal facts 2013)

Produksi batubara Indonesia mengalami pertumbuhan yang relatif lambat pada periode tahun 1996 sampai dengan 2001. Pada tahun 1996 produksi batubara Indonesia adalah sebesar 50,33 juta per tahun sementara produksi pada tahun 2001 adalah sebesar 71,07 juta ton.

Pada periode 2001 sampai dengan 2007, pertumbuhan produksi batubara Indonesia meningkat secara signifikan. Pada tahun 2001, hasil produksi batubara Indonesia adalah sebesar 71,07 juta ton dan pada tahun 2007 produksi batubara Indonesia adalah sebesar 188,66 juta ton.

Pada tahun 2008 hasil produksi batubara Indonesia mengalami penurunan menjadi 178,93 juta ton. Pada periode 2008 sampai dengan 2012 produksi batubara Indonesia mengalami kenaikan yang sangat signifikan yaitu 178,93 juta tahun 2008 dan 466,31 juta ton pada tahun 2012 (Biro Pusat Statistik).

Dari data yang disebutkan tersebut terlihat bahwa perkembangan produksi batubara tumbuh lebih dari 5 kali pada periode tahun 2000 – 2012.

Fenomena peningkatan produksi dan ekspor batubara dunia tersebut sesuai dengan pendapat Gordon (2009) yang menyatakan bahwa :

Beberapa negara termasuk India, Australia, Afrika Selatan, dan Indonesia memulai ekspansi yang mengubahnya dan menjadikan mereka sebagai produsen kelas menengah. India memproduksi batubara untuk digunakan sendiri. Afrika Selatan menggunakan sebagian besar batubara secara internal namun tetap merupakan eksportir utama. Australia melakukan

(4)

4 ekspor sebagian besar hasil produksinya. Indonesia mengembangkan jumlah produksinya dan sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor. (p. 445)

Peningkatan permintaan batubara secara langsung menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya pertambahan lokasi-lokasi penambangan baru serta timbulnya perusahaan-perusahaan baru yang melibatkan diri dengan industri ini baik yang berupa perusahaan lokal maupun perusahaan multinasional.

Kondisi industri pertambangan di Indonesia mulai mengalami penurunan sejak tahun 2012. Hal ini dipicu oleh kondisi global yang menyebabkan terjadinya penurunan permintaan batubara dunia yang berpengaruh terhadap jatuhnya harga batubara.

Penurunan harga batubara terjadi karena adanya penurunan permintaan batubara dunia serta konversi energi dari batubara ke gas alam yang dilakukan di beberapa negara. Salah satu yang dipercaya mejadi penyebab utama turunnya permintaan batubara dunia adalah dengan dibangunnya Three Gorges Dam di China.

Three Gorges Dam merupakan bendungan terbesar yang dibuat di aliran sungai Yangtzse dan merendam 3 ngarai yaitu ngarai Wu, Qutang dan Xiling. Tujuan dari dibangunnya bendungan ini adalah untuk menghindari banjir sebagai akibat dari meluapnya sungai Yangtzse. Selain itu Three Gorges Dam juga difungsikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air yang disebut dengan Three Gorges Hydropower Plant yang mampu memenuhi 10 persen kebutuhan listrik bagi 1,3 Milyar penduduk Cina. Rata-rata energi listrik yang dapat dihasilkan per tahun oleh Three Gorges Hydropower Plant adalah sebesar 84,7 TWH yang

(5)

5 menempatkan Three Gorges Hydropower Plant menjadi penghasil listrik terbesar di dunia.

Dengan berfungsinya Three Gorges Dam ini maka permintaan Tiongkok akan batubara menjadi turun secara signifikan mengingat sebagian kebutuhan batubaranya digantikan oleh Three Gorges Hydropower Plant.

Penurunan harga batubara dunia dapat dilihat dari gambar 1. Gambar 1

Harga Bulanan Batubara Thermal Australia

(1200-btu/pound, sulfur kurang dari 1%, 14 % Ash, FOB Newcastle) (US Dollars per Metric Ton)

Dari Gambar 1 di atas terlihat bahwa harga batubara mengalami puncaknya pada bulan Januari 2011, dimana pada saat itu harga batubara mencapai US$ 141,94 per Metric Ton. Sejak saat itu harga batubara terus mengalami penurunan menjadi US $ 70,65 per Metric Ton pada bulan September 2014. Apabila kita bandingkan harga batubara pada bulan Januari 2011 dan September 2014 terlihat bahwa harga batubara mengalami penurunan sebesar 50,23 % pada periode tersebut.

Penurunan harga batubara dunia yang terjadi sejak tahun 2012 tersebut berdampak pula kepada iklim industri batubara di tanah air. Hal ini terjadi mengingat

(6)

6 sebagian besar produksi batubara Indonesia merupakan komoditi yang diekspor ke berbagai negara di dunia, sehingga penurunan harga batubara dunia mempunyai dampak yang sangat luar biasa terhadap industri ini. Kondisi penurunan harga yang terus menerus ini menyebabkan terjadinya kerugian di banyak perusahaan yang bergerak di bidang industri pertambangan batubara dan banyak diantara perusahaan-perusahaan tersebut yang pada akhirnya melakukan penutupan usaha.

Kondisi demikian memaksa perusahaan yang tetap bertahan dalam industri ini untuk melakukan strategi atau upaya untuk meningkatkan atau mempertahankan keunggulan daya saing agar perusahaan dapat melalui kondisi sulit yang terjadi. Beberapa literatur dan penelitian menunjukkan bahwa keunggulan daya saing dapat dicapai melalui berbagai pendekatan dan strategi. Salah satu strategi atau pendekatan yang dapat dilakukan untuk dapat mempertahankan atau meningkatkan keunggulan daya saing adalah melalui strategi pengelolaan sumber daya manusia.

Armstrong (2006:115) menyatakan bahwa :

Strategi pengelolaan sumber daya manusia merupakan pendekatan untuk membuat keputusan berdasarkan niat dan rencana organisasi dalam bentuk kebijakan, program dan praktek-praktek yang berkaitan dengan hubungan ketenagakerjaan, sumber daya, pembelajaran dan pengembangan, manajemen kinerja, penghargaan dan hubungan kekaryawanan.

Di dalam industri pertambangan batubara, sumber daya manusia mempunyai peran yang sangat penting. Selain merupakan industri yang memerlukan modal yang sangat besar, industri ini juga memerlukan banyak tenaga kerja dalam melakukan operasinya.

(7)

7 Menyadari pentingnya peran sumber daya manusia dalam menentukan keunggulan daya saing perusahaan, serta sangat minimnya sumber daya yang memiliki kompetensi yang diperlukan terutama dalam bidang perawatan dan perbaikan alat berat, maka manajemen PT Borneo Alam Semesta memutuskan untuk menyelenggarakan program pemagangan alat berat yang bertujuan untuk mencetak tenaga-tenaga mekanik yang mempunyai kompetensi tinggi dalam bidang perawatan dan perbaikan alat berat. Keberadaan mekanik yang kompeten dapat meningkatkan kinerja divisi Plant yang pada akhirnya dapat meningkatkan keunggulan daya saing perusahaan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, melalui penelitian ini diteliti pengaruh program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan oleh PT Borneo Alam Semesta terhadap kinerja Divisi Plan dengan menggunakan indikator Mean Time Before Failure yang disingkat menjadi MTBF, Mean Time To Repair yang disingkat menjadi MTTR serta Mechanical Availability yang disingkat menjadi MA.

1.2. Rumusan Masalah

PT Borneo Alam Semesta merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan batubara yang mulai beroperasi sejak tahun 2007. Kegiatan utama dari PT Borneo Alam Semesta adalah melakukan pekerjaan penambangan batubara sesuai dengan kontrak yang diberikan oleh perusahaan pemilik tambang. Kegiatan penambangan batubara yang dilakukan oleh PT Borneo Alam Semesta secara garis besar terdiri dari kegiatan penggalian dan

(8)

8 pemindahan Over Burden, penggalian batubara serta pengangkutan batubara mulai dari Pit sampai dengan tempat penyimpanan batubara di Stockpile.

Untuk dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan permintaan pemilik tambang, PT Borneo Alam Semesta memiliki fleet yang sesuai dengan skala produksi yang ditentukan oleh pemilik tambang.

Secara umum fleet yang dimiliki oleh setiap perusahaan kontraktor pertambangan dibagi menjadi tiga kategori yaitu Digger, Hauler serta Support.

Peralatan yang termasuk dalam kategori Digger adalah Excavator. Untuk Hauler, peralatan yang dapat dimasukkan dalam kategori ini adalah Dump Truck dan Coal Haul Truck. Peralatan yang dikategorikan sebagai peralatan support adalah Dozer, Grader, Pompa Air, Water Truck, Lub Truck dan peralatan lain diluar digger dan hauler.

Kegiatan di semua proyek PT Borneo Alam Semesta dibedakan menjadi aktivitas yang dibagi menjadi dua divisi yaitu divisi Operation dan divisi Plant.

Divisi Operation bertanggung jawab untuk melakukan pekerjaan penambangan sesuai dengan apa yang ditentukan dalam kontrak pekerjaan dengan pemilik tambang. Divisi operation terdiri dari departemen mining serta departemen pendukung lain seperti Human Resources and General Affair, QHSE (Quality, Health, Safety and Environment), Finance serta Engineering. Secara garis besar divisi operation bertanggung jawab atas penggunaan fleet yang dimiliki atau dengan perkataan lain bertanggung jawab terhadap tingkat utilisasi alat.

Divisi Plant bertanggung jawab atas program pemeliharaan semua fleet yang dimiliki oleh perusahaan agar dapat beroperasi sesuai dengan jadwal dan target

(9)

9 yang telah ditentukan. Dengan perkataan lain divisi plant bertanggung jawab atas availability alat.

Revenue PT Borneo Alam Semesta didapat dari pembayaran yang dilakukan oleh pemilik tambang yang besarnya ditentukan oleh jumlah over burden yang dipindahkan serta jumlah batu bara yang dihasilkan dari kegiatan penambangan tersebut.

Jumlah over burden yang dipindahkan serta batubara yang dihasilkan sangat bergantung kepada tingkat produktivitas operator serta tingkat utilisasi fleet yang dimiliki. Tingkat utilisasi alat sangat ditentukan oleh tingkat availability alat. Salah satu faktor yang dapat mempertahankan bahkan meningkatkan keunggulan daya saing PT Borneo Alam Semesta adalah melalui peningkatkan kompetensi operator. Peningkatan kompetensi operator akan sangat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas operator yang pada akhirnya akan meningkatkan revenue yang diperoleh oleh perusahaan. Faktor lain yang juga dapat meningkatkan keunggulan daya saing perusahaan adalah melalui peningkatan kompetensi mekanik yang akan sangat berpengaruh terhadap tingkat availability fleet yang selanjutnya menentukan tingkat utilisasi fleet.

Salah satu program yang dilakukan oleh PT Borneo Alam Semesta untuk meningkatkan keunggulan daya saing perusahaan adalah melalui program pemagangan mekanik alat berat. Program ini merupakan program pelatihan berbasis kompetensi dengan lama program selama dua tahun.

Program ini dilakukan oleh perusahaan dengan pertimbangan bahwa kompetensi mekanik yang dimiliki perusahaan masih belum memenuhi standar yang

(10)

10 diharapkan. Sebagai akibat dari kondisi ini, maka kinerja dari divisi plant relatif rendah. Hal ini ditunjukan dengan nilai MTBF yang rendah serta MTTR yang tinggi.

Akibat selanjutnya dari rendah divisi Plant adalah tingginya biaya perawatan kendaraan dan biaya operasional serta tingkat availability fleet rendah yang sangat berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Kondisi demikian pada akhirnya menyebabkan tingkat keuntungan operasional perusahaan tidak dapat mencapai target yang diharapkan.

Tantangan perusahaan semakin berat ketika harga batubara terus mengalami penurunan yang berakibat kepada turunnya target produksi yang diberikan oleh perusahaan pemberi kerja. Hal ini diperparah dengan angka Upah Minimum Provinsi (UMP) serta Upah Minimum Sektoral Kota (UMSK) yang mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Untuk mempertahankan keberadaan usahanya maka perusahan harus melakukan strategi atau tindakan yang dapat mengurangi biaya operasional perusahaan serta peningkataan produksi agar tingkat keuntungan dapat mencapai target yang direncanakan.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, tertarik untuk diteliti mengenai pengaruh program pemagangan mekanik alat berat terhadap keunggulan daya saing perusahaan. Dengan perkataan lain ingin diteliti apakah program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan oleh perusahaan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja divisi Plant yang dilihat dari terjadinya peningkatan MTBF

(11)

11 serta penurunan MTTR yang selanjutnya berpengaruh terhadap nilai MA yang pada akhirnya akan sangat mempengaruhi pendapatan perusahaan.

1.3. Pertanyaan Penelitian

1) Apakah program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan oleh PT Borneo Alam Semesta berpengaruh terhadap kinerja Divisi Plant?

1.4. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk :

Meneliti pengaruh program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan oleh PT Borneo Alam Semesta terhadap kinerja Divisi Plant yang diwakili oleh nilai MTBF (Mean Time Before Failure), MTTR (Mean Time To Repair) serta MA (Mechanical Availability).

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat baik dari perspektif ilmiah maupun dari perspektif implementasi praktis.

Manfaat penelitian ditinjau dari perspektif ilmiah adalah :

1) Memberikan pemahaman dan pendalaman mengenai pengaruh program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan oleh perusahaan terhadap kinerja Divisi Plan yang pada akhirnya dapat meningkatkan keunggulan daya saing perusahaan

(12)

12 2) Memberikan pemahaman dan pendalaman mengenai pengaruh program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan oleh perusahaan terhadap kinerja Divisi Plant yang diwakili oleh indikator-indikator MTBF (Mean Time Before Failure), MTTR (Mean Time To Repair) serta MA (Mechanical Availability).

3) Sebagai bahan untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan pengaruh sumber daya manusia terhadap kinerja perusahaan.

Manfaat penelitian ini ditinjau dari perspektif praktis adalah :

1) Memberikan informasi kepada manajemen PT Borneo Alam Semesta mengenai pengaruh program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukannya terhadap kinerja Divisi Plant.

2) Memberikan masukan kepada manajemen mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan serta faktor-faktor yang dapat menghambat program pemagangan tersebut.

3) Memberikan masukan mengenai strategi atau tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh manajemen PT Borneo Alam Semesta untuk meningkatkan kualitas program pemagangan mekanik alat berat yang dilakukan untuk memastikan tercapainya tujuan dari program tersebut. 4) Sebagai benchmark bagi perusahaan lain yang juga melakukan program

(13)

13 5) Sebagai referensi bagi perusahaan yang akan memulai kegiatan pengembangan sumber daya manusia dalam hal ini program pelatihan berbasis kompetensi untuk karyawan.

1.6. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian

Di dalam industri pertambangan di Indonesia, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri ini dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perusahaan-perusahaan yang diberikan Ijin Usaha Pertambangan (IUP) oleh pemerintah serta perusahaan-perusahan yang bergerak dalam bidang jasa usaha pertambangan. Menurut Undang-Undang No 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara, jenis usaha jasa pertambangan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu :

a) konsultasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pengujian peralatan di bidang: 1) penyelidikan umum; 2) eksplorasi; 3) studi kelayakan; 4) konstruksi pertambangan; 5) pengangkutan; 6) lingkungan pertambangan;

7) pasca tambang dan reklamasi; dan/atau 8) keselamatan dan kesehatan kerja.

b) konsultasi, perencanaan, dan pengujian peralatan di bidang: 1) penambangan; atau

(14)

14 2) pengolahan dan pemurnian.

Dalam penelitian ini, perusahaan-perusahaan pertambangan yang dimaksud adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pelaksanaan konstruksi pertambangan serta pengangkutan yang umum dikenal sebagai perusahaan kontraktor pertambangan dalam hal ini pertambangan batubara.

Kinerja Divisi Plant yang dimaksud adalah kinerja Divisi Plant untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pertambangan batubara seperti yang dijelaskan di atas.

Hal ini sangat penting untuk dijelaskan mengingat cakupan perusahaan jasa pertambangan sangat berbeda dengan cakupan perusahaan yang mempunyai Ijin Usaha Pertambangan. Cakupan pekerjaan perusahaan jasa pertambangan hanya sebagian dari cakupan pekerjaan perusahaan yang memiliki Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Dengan demikian Divisi Plant antara perusahaan jasa pertambangan dengan perusahaan yang memiliki Ijin Usaha Pertambangan kemungkinan akan berbeda.

Mengingat banyaknya indikator yang dapat digunakan untuk menentukan kinerja perusahaan maupun divisi, maka dalam penelitian ini digunakan beberapa indikator yang umum digunakan untuk mengukur kinerja Divisi Plant di sektor pertambangan batubara yaitu MTBF (Mean Time Before Failure), MTTR (Mean Time To Repair) serta MA (Mechanical Availability).

Perlu juga disampaikan bahwa terdapat banyak jenis dan program pelatihan yang dilakukan oleh PT Borneo Alam Semesta. Dalam penelitian ini program pelatihan yang menjadi objek dari penelitian ini dibatasi hanya kepada program

(15)

15 pemagangan mekanik alat berat. Program pemagangan mekanik alat berat ini merupakan program yang dilakukan oleh PT Borneo Alam Semesta bekerja sama dengan Politeknik Negeri Balikpapan.

1.7. Sistematika Penulisan

Bab I PENDAHULUAN

Pada bagian ini dibahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup atau batasan penelitian serta sistematika penulisan.

Bab II LANDASAN TEORI

Bagian ini berisi penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan materi penelitian serta landasan teori.

Bab III METODE PENELITIAN

Bagian ini berisi desain penelitian, definisi istilah atau operasional yang digunakan, populasi dan sampel, instrumen penelitian yang digunakan, metode pengumpulan data serta metode analisis data.

Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini dijelaskan mengenai data-data yang diperoleh, pengujian hipotesis serta pembahasan berdasarkan data yang diperoleh serta hasil pengolahan data yang dihasilkan.

(16)

16

Bab V SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

Bagian ini berisi kesimpulan dari penelitian yang dilakukan, keterbatasan dari penelitian yang dilakuan, implikasi terhadap strategi serta kegiatan operasional perusahaan serta saran-saran terhadap perusahaan berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :