• Tidak ada hasil yang ditemukan

MOTIVASI PERILAKU MEROKOK PADA MAHASISWI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "MOTIVASI PERILAKU MEROKOK PADA MAHASISWI"

Copied!
204
0
0

Teks penuh

(1)

i

MOTIVASI PERILAKU MEROKOK

PADA MAHASISWI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh: Merina Candra Wardani

079114031

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv MOTTO :

(5)

v

Dipersembahkan untuk:

Papa, Mama..

mbah buyut, dalam istirahat tenangnya..

(6)
(7)

vii

MOTIVASI PERILAKU MEROKOK PADA MAHASISWI

Merina Candra Wardani

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi dan dinamikanya dalam memunculkan perilaku merokok pada mahasiswi. Subjek yang akan diteliti berjumlah 8 orang dan dipilih berdasarkan kriteria yaitu mahasiswi perokok yang berada pada tahap antara becoming a smoker sampai tahapmaintenance of smoking. Pengumpulan data menggunakan adalah stimulus projektif (tiga buah gambar) dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi perilaku merokok mahasiswi Universitas Sanata Dharma adalah untuk memenuhi kebutuhan menjalin hubungan dengan teman (affiliation), kebutuhan untuk mengungkap rasa ingin tahu (cognizance), kebutuhan untuk mencari atau menikmati ketenangan (passivity), kebutuhan untuk menghindari sakit fisik, menarik diri, melarikan diri (harm avoidance), kebutuhan untuk mencari dan menikmati kenangan/kesan yang menyenangkan (sentience), kebutuhan untuk mencari pujian, penghargaan, dan perhatian (recognition), kebutuhan bertindak untuk kesenangan (playmirth), dan kebutuhan melakukan perilaku yang dilarang (autonomy asosial). Kebutuhan-kebutuhan tersebut memunculkan berbagai macam dorongan dan motif yang membuat subjek merokok dengan pola-pola tertentu. Rata-rata subjek memiliki kecenderungan kepribadian yang bersifat oral-receptive (penerimaan mulut) dan oral-passive. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan khususnya bagi para orang tua yang memiliki anak remaja agar dapat mengantisipasi anaknya tidak menjadi pecandu rokok dengan memperhatikan lingkungan pergaulan anak serta memberikan dukungan dan perhatian yang cukup kepada anak. Selain itu, untuk remaja yang belum pernah mencoba rokok, disarankan untuk tidak mencoba karena rokok dapat menyebabkan kecanduan.

(8)

viii

THE MOTIVATION OF SMOKING BEHAVIOUR OF FEMALE STUDENTS

Merina Candra Wardani ABSTRACT

The aim of this researchis to find out the motivation and it’s changes that bring out the

smoking behavior of female students. The subjects observed were 8 people that be chosen of certain criterion, which are female student smokers in a stage of becoming a smoker until a stage of maintenance of smoking. In this study, subjects amount to to 8 people. The data collection that be used in this study is a projective stimulus of the three pictures and semi-structured interviews. The result of this study indicates that the motivation of smoking behavior of female students at Sanata Dharma University is to meet the needs of a relationship with friends (affiliation), the need to unravel curiosity (cognizance), the need to seek or enjoy the tranquility (passivity), the need to avoid physical pain, pull away, run away (harm avoidance), the need to seek and enjoy the memories/impressions of pleasant (sentience), the need to seek praise, rewards, and attention (recognition), the need to act for pleasure (playmirth), and the need to conduct prohibited (autonomy asocial). That need induces some varieties of motive and drive that cause the subjects smoke in certain pattern. In average, every subject has a tendency of receptive and oral-passive in personality. Based on these results, it is recommended, especially for parents who have teenagers, to anticipate their children for not becoming cigarettes addict by taking care into their

children’s social environment and provide adequate support and attention. In addition, for

adolescents who have never tried cigarettes, it is advisable not to try because smoking can cause addiction.

(9)

ix

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang kami sebut dengan berbagai nama dan kami sembah dengan berbagai cara untuk setiap hembusan nafas kehidupan dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian

ini. Penelitian ini berjudul “Motivasi Perilaku Merokok Pada Mahasiswi”

merupakan salah satu prasyarat dalam mencapai tingkat Strata Satu (S1) pada Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Segala proses pengerjaan penelitian ini melibatkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Ibu Dr. Christina Siwi Handayani selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

2. Ibu Dr. Tjipto Susana M.Si selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dari awal hingga akhir penelitian ini. Terima kasih untuk waktu dan ilmu yang telah ibu berikan.

3. Bapak V. Didik Suryo Hartoko, S.Psi., M.Si selaku dosen pembimbing akademik peneliti. Terima kasih atas bimbingan selama masa perkuliahan dan masukan untuk metode penelitian kualilatif dan alat tes dalam penelitian ini.

4. Segenap dosen Fakultas Psikologi yang telah mendidik dan mengajar penulis selama masa perkuliahan.

5. Segenap karyawan Fakultas Psikologi: Mas Muji, Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Doni, Pak Gi yang telah banyak membantu peneliti selama masa perkuliahan,terima kasihatas pelayanannya.

6. Ibu Dr. Fr. Ninik Yudianti, M.Acc selaku wakil rektor 1 yang sudah memberi kesempatan untuk pengurusan KRS susulan.

(11)

xi

8. Keluarga besar Pawirodono, terlebih untuk mbah buyut dalam istirahatnya yang tenang, maaf mbah aku terlambat bawa toga ke depan mbah, terima kasih untuk doa dan kekuatannya selama ini.

9. Especially for Widi Wedee, terima kasih untuk “kekuatan” yang luar

biasa, yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih untuk dukungan, bantuan, dan kehadiran sampai titik terakhir penelitian ini, terima kasih untuk Bapak, Mamah ibu (and cs), Si item, dan

“segalanya” (..dsm..).

10. My Kepompong Rempong. Ikemarikemari teman seperjuangan dari awal sampai akhir penelitian, Noy, Ndut, Sela, Tacong terima kasih untuk persahabatan dan canda tawa selama ini.

11. Mas-masku. Mas Windra, Mas Kriwil, Mas Budi, Mas Broti, Mas Dika, Mas Wan, dan keluarga besar TN. Terima kasih untuk semuanya. Tetap semangat, kehidupan keras!!

12. Gobram dan Mas Gurit terima kasih untuk ilustrasi gambarnya, upahmu besar di Surga.

13. Semua saudara dan teman yang mendukung perjuanganku. Gina, Hanz, Mas Ti, Entin, Thole, Kris, Mas Ferdi, Mbak Eka, Mas Aji, Mutnis, Dodi gendut, Fira, Sari, Yuti, Eva, Sore, Sita, Mas Gig, Dani dan semua subjek yang terlibat dalam penelitian ini.

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………. i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ………...………... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ………...…………. iii

HALAMAN MOTTO ………....…………... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN………...…..……...v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……….. vi ABSTRAK ………...………...……… vii ABSTRACT ………..……..…………viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ……....…..…..ix

KATA PENGANTAR………...…..…..x

DAFTAR ISI ………...…....….… xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTARGAMBAR ………...…... xvi

BAB I. PENDAHULUAN……… 1

A. Latar Belakang Masalah……….………...….…… 1

B. Rumusan Masalah ……….……….…....….7

C. Tujuan Penelitian ………..…….. 7

D. Manfaat Penelitian ………..……… 7

BAB II. DASAR TEORI……….………9

A. Review Literatur Penelitian tentang Motivasi Perilaku Merokok….…….9

(13)

xiii

1. Definisi Motivasi……….………...11

2. Cara Pengukuran Motivasi………..………...14

3. Teori Murray ... 17

C. Perilaku Merokok……..………..24

1. Definisi PerilakuMerokok……...………..24

2. Tahapan Merokok ...……...………...…25

3. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok ... 26

D. Kerangka Penelitian……….. 29 E. Pertanyaan Penelitian ...……….31

BAB III. METODE PENELITIAN……....………..32

A. Jenis Penelitian ……….32

B. StrategiPenelitian …………....…………...………..32

C. Fokus Penelitian ...……….33

D. SubjekPenelitian …...……….……….. 34

E. Alat Stimulus Projektif ...………….………... 35

F. MetodePengumpulan Data ...……...………..…37

G. Prosedur Analisis Data ...………..….41

H. Kredibilitas Penelitian.………..52

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….53

A. Pelaksanaan Penelitian ……….………...…53

B. Gambaran Subjek ... 54

C.Hasil Penelitian ………….……….... 56

(14)

xiv

2. Pola Motivasi………... 63

D. Pembahasan …………..……….88

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN………...101

A. Kesimpulan ………..101

B. Saran Aplikatif .………101

C. Keterbatasan Penelitian ... 106

DAFTAR PUSTAKA ………...…..107

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Bagan Motivasi...………..…………13

Gambar 2. Contoh pola yang muncul dalam urutan cerita... 46

Gambar 3. Contoh pola yang muncul dari beberapa cerita... 48

Gambar 4. Contoh pola yang muncul dalam urutan jawaban wawancara ... 50

Gambar 5. Contoh pola yang muncul dari beberapa jawaban wawancara ... 51

Gambar 6. Pola Motivasi Subjek 1 ... 67

Gambar 7. Pola Motivasi Subjek 2 ... 70

Gambar 8. Pola Motivasi Subjek 3 ... 73

Gambar 9. Pola Motivasi Subjek 4 ... 75

Gambar 10. Pola Motivasi Subjek 5 ... 78

Gambar 11. Pola Motivasi Subjek 6 ... 81

Gambar 12. Pola Motivasi Subjek 7 ... 84

Gambar 13. Pola Motivasi Subjek 8 ... 87

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Rokok saat ini merupakan barang kebutuhan bagi perokok yang sudah mengalami kecanduan. Berdasarkan data WHO, sekitar 65 juta penduduk Indonesia adalah perokok. Rokok menimbulkan efek candu bagi perokok aktif. Orang yang mempunyai kebiasaan merokok dengan jumlah yang banyak akan sulit menghentikan kebiasaan tersebut. Hal ini disebabkan oleh efek dari nikotin yang terkandung di dalam setiap batang rokok. Nikotin adalah bahan kimia yang bersifat adiksi atau menyebabkan kecanduan. Jumlah nikotin yang dihisap dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu kuantitas rokok, jumlah tembakau setiap batang rokok, dalamnya hisapan, lamanya hisapan, dan penggunaan filter rokok (Sitepoe, 1997).

(18)

Saat ini di Indonesia merokok tidak hanya dilakukan oleh para pria saja, banyak kita jumpai para wanita yang merokok di lingkungan sosial. Prevelensi perokok pria sebesar 68,8 % dan perokok wanita sebesar 2,6 % (Suhardi, 2005). Data Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) menunjukan 5% dari 36 juta jiwa perokok adalah wanita. Sedangkan data dari Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, menunjukkan 4 persen perokok berasal dari remaja perempuan. Remaja perempuan yang merokok pada usia SMP sebesar 11,5 persen. Angka prevalensi perokok wanita di Indonesia mencapai 4,83 persen. Sementara, data prevalensi perokok Lembaga Demografi Universitas Indonesia 2008, menunjukkan delapan persen perokok dari total perokok di Jakarta adalah perempuan. Jumlah perokok perempuan mencapai 240 ribu dari tiga juta perokok aktif di Jakarta.

Di sisi lain, penelitian tentang bahaya merokok bagi kesehatan terutama ditujukan pada para wanita telah dilakukan. Bahan - bahan kimia yang dikandung rokok seperti nikotin, CO 2 (karbondioksida) dan tar akan memacu kerja dari susunan syaraf pusat dan susunan syaraf simpatis sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat dan detak jantung bertambah cepat (Kendal & Hammen,1998). Efek rokok juga membawa dampak negatif pada ibu hamil. Seperti yang telah dicantumkan dalam himbauan di bungkus rokok,

“merokok dapat mengakibatkan gangguan kehamilan dan janin”. Bagi ibu

(19)

masih banyak wanita yang merokok meskipun telah mengetahui dampak negatif rokok untuk kesehatannya.

Sementara itu, berbagai pandangan negatif ditujukan bagi kaum wanita yang merokok. Wanita yang merokok di lingkungan umum dianggap sebagai

“wanita nakal” (Isnaeni, 2010). Pandangan tabu tentang wanita yang merokok

sudah ada sejak dahulu, di Amerika Utara dan Eropa wanita merokok dihubungkan dengan hilangnya moral dan perilaku seksual yang mencurigakan (Haglund & Amos, 2000).

Ketabuan tentang wanita perokok berusaha dihilangkan. Rokok tersebut digunakan sebagai alat pemberontakan untuk menciptakan emansipasi wanita. Wanita yang pertama kali melakukan aksi perlawanan melalui rokok tersebut adalah George Sand dan Lola Montez, salah seorang tokoh gerakan emansipasi wanita di Jerman. Ia beserta teman-temannya menginginkan adanya persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal merokok (Yunus, 2009). Kemudian

tahun 1929 di kota New York, muncul konsep tentang “obor kebebasan” oleh

Edward Louis Bernays yang dikenal sebagai pioner kehumasan. Konsep

tentang “obor kebebasan” tersebut disebarkan pada saat Parade Paskah.

Menurut Jordan Goodman dalamTobacco in History, jumlah perokok perempuan di Amerika Serikat pada tahun 1929 mencapai 14 juta atau 12 persen dari total konsumsi. Dua tahun kemudian, jumlahnya meningkat jadi 14 persen dan pada tahun 1935 menjadi 26,2 persen (Isnaeni, 2010).

(20)

Mendut, Y. B. Mangunwijaya menceritakan bahwa pada abad ke -17 di tanah Jawa dikenal seorang gadis cantik yang bernama Roro Mendut. Roro Mendut menggunakan rokok sebagai alat pemberontakkan, bukan untuk memperjuangkan emansipasi namun untuk memberontak terhadap kekuasaan Raden Tumenggung yang merupakan panglima kerajaan Mataram. Raden Tumenggung bermaksud menjadikan Roro Mendut sebagai selir, namun Roro Mendut menolak. Oleh sebab itu, Raden Tumenggung menaikkan pajak cukup tinggi sehingga rakyat menjadi kesulitan untuk membayar. Sebagai bentuk protesnya, Roro Mendut menjadi penjual rokok dan mencari cara agar rokoknya dapat menghasilkan uang yang banyak untuk membayar pajak tersebut. Saat itu, masyarakat juga menganggap bahwa wanita yang merokok adalah hal yang tabu, namun Roro Mendut melakukannya sebagai bentuk perlawanannya pada Raden Tumenggung (Mangunwijaya, 2009).

Di tahun 2011 ini, emansipasi wanita sudah berjalan cukup baik. Saat ini sudah banyak wanita yang melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh pria. Banyak wanita yang dapat mencapai karier mereka dengan sukses. Dari fakta tersebut seorang wanita seharusnya tidak perlu melakukan perlawanan untuk memperjuangkan emansipasi dengan menjadi seorang perokok. Selain itu, seharusnya para wanita lebih peduli dan menghindarkan diri dari berbagai macam bahaya merokok yang berdampak buruk bagi kesehatan.

(21)

wanita petani di Kerinci telah membudaya, sehingga sangat sulit untuk diberantas. Kondisi daerah Kerinci yang berhawa sejuk, terutama di daerah pegunungan, juga turut mempengaruhi minat mereka untuk merokok karena menganggap rokok dapat membantu menghangatkan badan, meskipun mereka telah mengetahui tingkat bahaya merokok (Rindengan, 2011). Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Emilee Gilbert menunjukkan bahwa seorang wanita menjadi seorang perokok karena mengasosiasikan rokok sebagai aksesoris yang mendukung fashion mereka (Gilbert, 2003).

Penelitian tentang perilaku merokok di kalangan remaja putri dan wanita muda di Indonesia pernah dilakukan oleh Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KuIS). Riset ini meliputi survei terhadap 3.040 siswi SMP (usia 13-15 tahun) dan SMA (usia 16-19 tahun), serta mahasiswi (usia 20-25 tahun) di Jakarta dan Sumatera Barat. Pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif (dengan kuesioner) dan kualitatif (dengan focus group discussion/ FGD). Beragam alasan dikemukakan terkait dorongan untuk merokok. Di antaranya untuk bersantai, tertantang untuk melakukan hal yang dilakukan pria, kebiasaan dalam kelompok pertemanan, dan agar dapat diterima dalam sebuah kelompok. Sebanyak 53,19 persen wanita juga percaya bahwa merokok dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, di antara beberapa alasan tersebut, motif meringankan ketegangan dan stres menempati urutan tertinggi, yakni sekitar 54,59 persen.

(22)

menggali informasi yang lebih jelas tentang proses dan dinamika psikologis yang memotivasi perilaku merokok subjek. Sedangkan dalam penggunaan focus group discussion terdapat kemungkinan yang lebih besar subjek menjawab tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dari pada dengan melakukan wawancara personal pada masing-masing subjek. Oleh sebab itu, peneliti akan menggunakan metode stimulus projektif dan wawancara semi-terstruktur untuk mendapatkan data yang lebih dalam dari masing-masing subjek serta memperkecil kemungkinan adanya jawaban yang tidak jujur dari subjek penelitian. Selain itu, dari kedua metode tersebut peneliti dapat mengetahui dinamika dan proses secara psikologis tentang hal-hal yang memotivasi perilaku merokok pada masing-masing subjek baik yang disadari maupun tidak disadari.

(23)

tersebut. Oleh sebab itu, peneliti tertarik melihat proses dan dinamika perilaku merokok yang dilakukan oleh mahasiswi.

B. Rumusan Masalah

Pada penelitian ini, permasalahan yang ingin diketahui adalah hal-hal apa saja yang memotivasi perilaku merokok pada mahasiswi dan bagaimanakah perilaku tersebut terbentuk dan berkembang?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi dan dinamikanya dalam memunculkan perilaku merokok pada mahasiswi.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis :

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada ilmu pengetahuan dalam bidang psikologi, khususnya psikologi sosial dan kepribadian mengenai fenomena wanita remaja yang merokok di lingkungan sosial.

2. Manfaat praktis :

(24)
(25)

9 BAB II

DASAR TEORI

A. Review Literatur Penelitian tentang Motivasi Perilaku Merokok

Penelitian tentang perilaku merokok di kalangan remaja putri dan wanita muda di Indonesia pernah dilakukan oleh Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KuIS). Riset ini meliputi survei terhadap 3.040 siswi SMP (usia 13-15 tahun) dan SMA (usia 16-19 tahun), serta mahasiswi (usia 20-25 tahun) di Jakarta dan Sumatera Barat. Pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif (dengan kuesioner) dan kualitatif (dengan focus group discussion/ FGD). Beragam alasan dikemukakan terkait dorongan untuk merokok. Di antaranya untuk bersantai, tertantang untuk melakukan hal yang dilakukan pria, kebiasaan dalam kelompok pertemanan, dan agar dapat diterima dalam sebuah kelompok. Sebanyak 53,19 persen wanita juga percaya bahwa merokok dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, di antara beberapa alasan tersebut, motif meringankan ketegangan dan stres menempati urutan tertinggi, yakni sekitar 54,59 persen.

(26)

jawaban subjek yang sesungguhnya. Metode tersebut membutuhkan ketelitian dari subjek dalam membaca dan memahami pertanyaan agar subjek menjawab dengan sungguh-sungguh.

Penggunaan metode focus group discussion juga memiliki keterbatasan dalam pengumpulan data. Dalam metode ini terdapat kemungkinan yang lebih besar subjek menjawab tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dari pada dengan melakukan wawancara personal pada masing-masing subjek. Ketika berada dalam kelompok terdapat kemungkinan seseorang menjawab pertanyaan dengan tidak jujur untuk menghindari pandangan atau dampak negatif dari perilakunya. Keberhasilan metode ini sangat tergantung pada kemampuan moderator dalam proses diskusi. Jika moderator tidak cukup menguasai situasi diskusi, akan timbul kemungkinan subjek diskusi menjadi bosan atau didominasi orang-orang tertentu saja.

(27)

B. Motivasi

1. Definisi motivasi

Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti dorongan atau

daya penggerak. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan atau daya penggerak agar seseorang mau melakukan kegiatan tertentu (Hasibuan, 2003). Dorongan (drive) merupakan konstruk motivasional, biasanya dikaitkan dengan pemeliharaan homeostasis organisme atau proses dimana mekanisme ketubuhan yang bertujuan mempertahankan keadaan fisiologis pada kondisi yang lebih baik atau normal (Koeswara, 1986). Murray juga menyatakan tentang prinsip motivasi bahwa setiap manusia itu didorong oleh upaya untuk mencapai keseimbangan keadaan tubuh. Kebutuhan-kebutuhan tersebut menimbulkan kekuatan yang ada di dalam wilayah otak yang mengorganisasi tindakan, dan mengarahkan tindakan tersebut ke suatu arah tertentu sebagai pencapaian suatu kondisi yang seimbang dalam tubuh.

Menurut Stevenson (2001), motivasi adalah semua hal verbal, fisik, atau psikologis yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respons. Sedangkan Sarwono (2000) mengungkapkan bahwa motivasi menunjuk pada proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong yang timbul dari dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut akan mengarah kepada sebuah tujuan.

(28)

dorongan dan usaha untuk memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan atau untuk mencapai suatu tujuan.

Motivasi merupakan kekuatan dinamis, pemberi energi, dan pengerah perilaku manusia. Untuk berbicara tentang motivasi, tentu harus berbicara tentang kebutuhan-kebutuhan. Murray mengemukakan 5 kriteria untuk mengidentifikasi kebutuhan. Pertama, kebutuhan merupakan respons terhadap suatu objek atau sekelompok objek yang berfungsi sebagai stimulus. Kedua, kebutuhan menyebabkan munculnya suatu perilaku. Ketiga, terdapat konsekuensi atau hasil akhir dari perilaku tersebut. Keempat, adanya suatu respons emosional tertentu dalam perilaku tersebut. Kelima, ada tingkat kepuasan atau ketidak puasan tertentu setelah seluruh respons dilakukan.

(29)

Motivasi tidak lepas dari unsur kebutuhan (need), dorongan (drive), dan motif. Dorongan (drive) tersebut dikaitkan dengan proses fisik, sedangkan motif merupakan seluruh aktivitas mental atau psikologis. Seperti yang telah di uraikan di atas mengenai prinsip motivasi dari Murray bahwa kebutuhan-kebutuhan dapat menimbulkan kekuatan yang ada di dalam wilayah otak yang mengorganisasi tindakan, dan mengarahkan tindakan tersebut ke suatu arah tertentu sebagai pencapaian suatu kondisi yang seimbang dalam tubuh atau dorongan (drive). Namun sering kali, dari kebutuhan yang ada akan memunculkan motif dan menimbulkan munculnya perilaku. Motif yang merupakan dorongan psikologis biasanya muncul lewat proses pembelajaran. Munculnya perilaku juga bisa terjadi lewat proses adanya kebutuhan yang memunculkan dorongan (drive) kemudian berkembang atau berubah menjadi motif. Dari penjelasan tersebut terdapat alur motivasi yang meliputi kebutuhan (need), dorongan (drive), dan motif hingga terjadinya perilaku, alur tersebut dibuat menjadi sebuah bagan motivasi sebagai berikut:

Bagan motivasi

Gambar 1. Bagan Motivasi

Dorongan (drive)

Perilaku Kebutuhan

(need)

(30)

2. Cara Pengukuran Motivasi

Pengukuran motivasi dapat dilakukan dengan beberapa cara (Martaniah, 1984). Cara yang dapat ditempuh ialah dengan jalan melihat ciri-ciri perilaku yang bertujuan yang termotivasikan (Winter, 1973). Ada tujuh ciri perilaku yang diambil Winter dari pendapat Murray, Mc. Clelland dan Klinger yang dapat dipakai sebagai patokan untuk mengukur motif. Ciri-ciri itu adalah sebagai berikut:

1. Jika tujuan sudah dekat perilaku makin nyata, sehingga makin mudah untuk diramalkan.

2. Perilaku bervariasi menurut kondisinya, terutama jika terjadi halangan / hambatan.

3. Peningkatan kemantapan yang dapat dilihat dari performasi yang menunjukkan kecepatan, koefisienan yang meningkat, atau peningkatan performasi yang lain.

4. Laporan dari individu yang termotivasikan, apakah menurut yang bersangkutan yang menjadi motif perilakunya.

5. Tanggapan emosional dalam menghadapi dan mencapai tujuannya. 6. Sifat pilihan dan perhatian.

(31)

Dari ciri-ciri tersebut terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melihat adanya motif yang memotivasi perilaku subjek. Yang pertama, mempelajari kecenderungan-kecenderungan perilaku orang dengan cara memeriksa dokumen-dokumen mengenai orang tersebut secara teliti, data tambahan juga bisa didapat melalui eksperimen. Cara tersebut digunakan untuk mengetahui ciri-ciri 1 dan 2. Cara ini mempunyai kelebihan yaitu data yang digunakan sudah tersedia sebelumnya, hanya perlu mencari beberapa data tambahan yang terkait dengan perilaku subjek yang akan diteliti. Namun, cara tersebut hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlatih, sehingga tidak salah dalam interpretasi data maupun kecenderungan perilaku yang nampak.

(32)

mengeksplorasi pertanyaan wawancara agar data yang didapat lebih maksimal. Misalnya, saat jawaban subjek kurang jelas atau masih dapat digali, peneliti harus menanyakan kembali pertanyaan dan tidak hanya terpaku pada daftar yang telah dibuat.

Ciri yang ke 7 dapat diketahui dengan cara ketiga yaitu menurut Freud perilaku yang termotivasikan tentu diikuti oleh representasi, antisipasi, dan citra kognitif. Maka beberapa psikolog seperti Freud mencoba untuk mengukur motivasi dengan mencatat dan menganalisis jaringan asosiasi kognisi ini. Freud menggunakan teknik asosiasi bebas dan analisis mimpi untuk mengukur motivasi. Kelebihan cara ini adalah dapat mengungkap motivasi yang tidak disadari atau direpress oleh subjek. Sering kali motivasi yang tidak disadari atau direpress tersebut malah memiliki kontribusi besar terhadap perilaku subjek. Sedangkan teknik analisis mimpi dibutuhkan orang yang terlatih untuk melakukan analisis tersebut agar tidak terjadi kesalahan analisis pada kecenderungan yang muncul.

(33)

motivasi yang disadari maupun tidak disadari. Hal tersebut juga dapat mengurangi adanya kemungkinanfaking yang dilakukan oleh subjek. Salah satu tokoh yang alhi dengan proses asosiasi bebas adalah Murray. Murray juga membuat sebuah tes yang bertujuan untuk mengetahui fantasi seseorang dan hal tersebut berkaitan dengan kebutuhan dan kepribadian subjek. Berikut ini akan dijelaskan tentang teori Murray untuk mengungkap kebutuhan seseorang.

3. Teori Murray

Hendry Alexander Murray dipandang sebagai salah satu tokoh psikolog yang paling bertumpu pada dinamika kebutuhan untuk menerangkan kepribadian dengan cara asosiasi bebas dari stimulus gambar. Disadari atau tidak disadari setiap perilaku manusia didasari oleh motivasi tertentu (Prihanto, 1993). Menurut Murray, fantasi adalah hasil dari ide-ide yang bertujuan ke pemuasan suatu harapan atau suatu kebutuhan, jadi dapat dikatakan bahwa fantasi merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya mengenai motif. Orang menganggap bahwa ada hubungan antara fantasi dan persepsi. Rangsang luar yang datang dari lingkungan dipersatukan dengan hasil fantasi, kombinasi rangsang dari lingkungan dengan hasil proses fantasi ini disebut apersepsi. Karena dalam apersepsi terkandung unsur-unsur motif, jika diinterpretasikan secara benar maka apersepsi itu dapat menjadi sumber informasi motif (Martaniah, 1984). Atas dasar pendapat

(34)

Apperception Test” (TAT), dimana subjek diminta membuat cerita atas tiap

gambar yang ditunjukkan. Menurut Mogan dan Murray, bagian-bagian dari cerita tersebut mengandung transkripsi motif penulis cerita tersebut yang disadari maupun tidak.

Dalam penelitian ini analisis kebutuhan subjek didasarkan pada teori kebutuhan Murray. Dibandingkan dengan teori kebutuhan dari tokoh lain, teori kebutuhan Murray cukup lengkap. Salah satu contoh, teori Abraham Maslow memiliki hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri). Sedangkan Murray mengemukakan sebanyak 28 kebutuhan yang diuraikan sebagai berikut:

1. Kebutuhan yang dimotivasi oleh keinginan untuk mencapai power, kekayaan, prestiso, pengetahuan atau prestasi kreatif :

Achievement:

- bekerja mencapai suatu tujuan dengan energi, daya tahan, dan kepastian tujuan

(35)

- mengatasi hambatan atau menguasai situasi, memanipulasi objek atau orang

- menuntaskan suatu pekerjaan secara tahan - menjadi ambisius, kompetitif dan penuh aspirasi

Ascquisition: a.social:

- bekerja untuk uang, pemilikan materi, atau objek yang berharga keinginan untuk mencapai mobilitas sosial (dari kelas bawah ke menengah, misalnya)

- tawar-menawar atau berjudi - perilaku hemat

b.asosial:

- mencuri, menipu, merampok, dsb.

- tamak, dalam arti mencapai pencapaian objek dengan menyakiti orang lain atau melanggar prinsip etika dan hukum. Tujuan pencapaian bisa objek, bahkan mungkin orang (misal : penculikan) Aggression:

- emotional, verbal : bertengkar mulut atau berargumen dengan orang lain

- physical, sosial: membunuh untuk membela diri

(36)

- destruction: merusak, menghancurkan, vandalisme, membakar Construction : mengorganisasi, membangun, menciptakan, menempatkan sesuatu/mengatur sesuatu menjadi susunan baru

Counteraction : memperbaiki kesalahan/kekalahan, mengatasi kelemahan/kompensasi, melawan penghinaan

Dominance: mengontrol, mempengaruhi, mengatur lingkungan manusia Exposition: memberi tahu, mengajar, memberi instruksi

Recognition: mencari pujian, penghargaan, perhatian

Understanding: mencari ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (wisdom). Mencoba memahami hubungan antara suatu objek atau kejadian dengan objek/kejadian lainnya. Berdiskusi dan berargumentasi untuk meningkatkan pengetahuan. Mencoba menghubungakan pikiran dengan fakta. Menganalisis kejadian dan menggeneralisasikan.

2. Kebutuhan yang dimotivasi oleh afeksi, kekaguman, simpati, cinta, dan ketergantungan/dependensi:

Affiliation:

- associative: menjalin hubungan dengan teman

- emosional: menjalin hubungan akrab, intim, afeksi, dsb. Deference:

- compliance : cepat setuju untuk bekerja sama, patuh pada usulan orang lain, kesediaan mengikuti kepemimpinan orang lain

(37)

Nurturance : memberi simpati, atau memuaskan kebutuhan orang lain. Membantu, memberi makan, mendukung, menghibur, melindungi atau membuat nyaman/tenang mereka yang membutuhkan kenyamanan dan ketenangan.

Sex : hubungan seksual, pergaulan lawan jenis, jatuh cinta. Kalau dibandingkan dengan affiliation, sex ada unsur tindakan, perilaku, sedangkanaffiliationhanya bersifat emosional

Succorance : kecenderungan untuk menangis, meminta bantuan, perlindungan cinta. Menjadi tak berdaya, tergantung, berburu afeksi atau kelembutan, menerima pemberian tanpa keragu-raguan.

3. Kebutuhan yang dimotivasi oleh keinginan akan kebebasan, perubahan, perangsangan (oxoitement) dan permainan:

Autonomy:

- freedom: bebas, keluar dari kungkungan, menjadi mandiri

- resistance : menolak untuk taat dengan tuntutan orang lain, negativisme, menyimpang

- asocial : melakukan perilaku yang dilarang dan diancam hukuman, sengaja menipu, minum-minum, dsb. Mencuri tetapi bukan perbuatan kriminal (ini masukAcquisition)

(38)

baru, menulis novel, petualangan, dsb. Biasanya berfusi dengan Autonomy.

Excitance, Dissipation : melakukan tindakan yang merangsang ketegangan emosional, menantang bahaya. Hal ini bisa dikacaukan dengan kebutuhan pengalaman (change), berjudi (acquisition), minum alkohol (nurturance). Namun berbeda dengan tekanan pada ketegangan emosional, meskipun kebutuhan-kebutuhan itu bisa berfusi.

Playmirth : bertindak untuk kesenangan (fun), tanpa tujuan jelas selain kesenangan itu sendiri. Tertawa, bermain, bercanda, dsb. Namun kalau permainan itu serius atau kompetitif, maka akan munculAchievement.

4. Kebutuhan lain-lain :

Abasement : menyerah secara fisik pada kekuatan luar. Menerima luka, hinaan, kritik, hukuman, atau merasa sakit atau rendah diri (inferior). Mengambil sikap pasif, lemah. Biasanya berfusi dengan Succorance, Deference,atauSexmisal dalam kasusmasochisme.

Blame Avoidance : bertindak untuk menghindari kesalahan atau penolakan (blame/rejection). Menghambat impuls asosial, menghindari hukuman atau hinaan karena kesalahan berulang. Mengaku salah, menyerah untuk menghindari hinaan lanjutan, bersikap konvensional (mengikuti kebiasaan), rajin, tahu tanggung jawab, tugas, dsb.

(39)

memuaskan rasa ingin tahu, melihat, menyimak, menginspeksi. Membaca dan mencari pengetahuan. Biasanya berfusi dengan Understanding, Change, (travel, dsb)atauAchievement.

Harm Avoidance : menghindari sakit fisik, menarik diri, melarikan diri. Termasuk reaksi kecemasan/ketakutan pada suara keras, kehilangan dukungan, atau hadirnya orang asing. Hati-hati, cemas, dsb.

Passivity : mencari atau menikmati ketenangan, beristirahat, obat penenangan, kedamaian. Merasa lelah, apatis, malas. Kebutuhan akan perenungan yang tenang (kontemplasi)

Rejection : mengabaikan, mengeluarkan/menolak orang lain, tutup mulut, tidak peduli, mengabaikan, mengkritik

Retention : menahan sesuatu, menolak meminjamkan, posesif (menahan kepunyaan), menolak untuk memberikan. Apa yang ditahan itu bisa objek, waktu, energi maupun afeksi terhadap orang lain.

(40)

C. Perilaku Merokok

1. Definisi Perilaku Merokok

Perilaku didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan oleh individu dan individu lain yang bersifat nyata (Sarwono, 1993). Menurut Morgan (1984) perilaku tidak seperti pikiran atau perasaan, perilaku merupakan hal yang konkrit, dapat diobservasi, direkam, maupun dipelajari. Munculnya perilaku dari organisme ini dipengaruhi oleh faktor stimulus yang diterima, baik stimulus internal maupun stimulus eksternal. Salah satu bentuk perilaku konkrit, dapat diobservasi, direkam, maupun dipelajari tersebut adalah perilaku merokok. Perilaku merokok muncul karena dipengaruhi oleh stimulus dari dalam diri individu seperti kebutuhan psikis maupun fisik dan lingkungan.

(41)

Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok adalah suatu kegiatan menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh lewat mulut dan hidung kemudian menghembuskannya kembali keluar untuk mendapatkan kenikmatan. Dalam penelitian ini akan dilihat perilaku merokok yang dilakukan oleh para wanita, serta melihat apa motivasi yang membuat mereka menjadi perokok.

2. Tahapan Merokok

Menurut Leventhal dan Clearly (dalam Komasari & Helmi, 2000) terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga seseorang menjadi seorang perokok, yaitu:

1. Tahap Preparatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaaan. Hal tersebut menimbulkan minat untuk merokok. Tahap persiapan (prepatory stage) melibatkan persepsi tentang apa yang dilibatkan dalam merokok dan apa fungsi merokok.

2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.

(42)

4. Tahap Maintenance of smoking. Tahap ini adalah tahap dimana merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self-regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

Anak-anak muda mulai merokok karena kemauan sendiri, melihat teman-temannya, dan diajari atau dipaksa merokok oleh teman-temannya. Merokok pada anak muda dengan kemauan sendiri disebabkan ingin menunjukkan bahwa ia telah dewasa. Umumnya bermula dari perokok pasif kemudian menjadi perokok aktif dan menjadi ketagihan akibat kandungan nikotin di dalam rokok. (Sitepoe, 1997).

Menurut Smet (Kemala & Hasnida, 2005) ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap, yaitu:

a. Perokok berat: menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari. b. Perokok sedang: menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari. c. Perokok ringan: menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.

3. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok

Terdapat banyak faktor yang mendorong seseorang untuk merokok baik dorongan dari dirinya sendiri ataupun dari lingkungan sekitarnya. Menurut Kurt Lewin (Komalasari & Helmi, 2000) perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu.

(43)

1. Dorongan psikologis: rasanya sebagai rangsangan seksual melalui mulut waktu merokok, sebagai ritual, menunjukkan kejantanan (bangga diri), mengalihkan kecemasan, menunjukkan kedewasaan, serta rangsangan mulut melalui jari-jari pada saat merokok.

2. Dorongan fisiologis: adiksi (ketagihan) tubuh terhadap kandungan rokok berupa nikotin.

Menurut Avin dan Dian (2000) terdapat tiga penyebab perilaku merokok pada remaja yaitu :

a. Kepuasan psikologis

(44)

karena dengan merokok dapat mengurangi ketegangan, memudahkan berkonsentrasi, pengalaman yang menyenangkan dan relaksasi. Jadi kepuasaan psikologis yang dimaksud disini adalah akibat atau efek yang diperoleh dari merokok yang berupa keyakinan dan perasaaan yang menyenangkan yang dirasakan oleh seseorang.

b. Pengaruh orang tua

Pada dasarnya perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari. Hal ini berarti ada pihak-pihak yang berpengaruh besar dalam proses sosialisasi. Konsep sosialisasi merupakan suatu proses transmisi nilai-nilai, sistem kepercayaan, sikap atau apa pun perilaku dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya. Tujuan sosialisasi ini agar generasi berikutnya mempunyai sistem nilai yang sesuai dengan tuntutan norma yang diinginkan oleh kelompok. Merujuk pada konsep transmisi perilaku dengan menggunakan penjelasan teori Bandura mengenaisocial cognitive learning, orang tua atau keluarga yang merokok merupakan agen imitasi yang baik. Akan tetapi, apabila keluarga mereka tidak ada yang merokok, maka sikap permisif orang tua merupakan pengukuh positif atas perilaku merokok pada remaja.

c. Pengaruh teman

(45)

kelompoknya dan terbebas dari sebutan “pengecut” dan “banci”. Jika

dilihat dari tahap-tahap perilaku merokok, teman sebaya dan keluarga merupakan pihak yang pertama kali mengenalkan perilaku merokok, kemudian berlanjut dan berkembang menjadi tobacco dependency atau ketergantungan rokok.

Remaja yang merokok untuk pertama kalinya karena dorongan teman-temannya mungkin memiliki alasan yang berbeda pada tahap persiapan (Tahap Preparatory). Beberapa dari mereka mungkin merasa cemas dan tidak mampu sehingga mereka merokok untuk bisa diterima secara sosial dan menjadi bagian dari kelompok. Beberapa orang mulai mencoba rokok adalah untuk mengendalikan emosi seperti kecemasan kerja. Hal-hal tersebut mungkin merupakan sesuatu yang penting bagi orang-orang yang mulai merokok pada usia-usia remaja akhir atau dewasa awal.

D. Kerangka Penelitian

(46)

Untuk mengurangi kemungkinan tersebut, peneliti menggunakan stimulus projektif yang berupa gambar seperti dalam tes TAT. Sebelum melakukan wawancara peneliti menggunakan 3 gambar yang bertujuan untuk melihat kebutuhan, dorongan, serta motif yang disadari maupun tidak disadari oleh subjek. Proses tersebut memodifikasi dasar-dasar tes TAT yang melihat aspek-aspek motivasi lewat respon subjek terhadap gambar yang disajikan. Tiga gambar tersebut disajikan satu persatu, kemudian subjek diminta untuk menceritakan gambar tersebut sesuai dengan imajinasi atau pikiran mereka.

Tiga gambar tersebut dianggap mewakili beberapa suasana yang muncul ketika wanita merokok. Gambar pertama adalah suasana seorang wanita yang sedang merokok sendirian. Gambar tersebut digunakan untuk melihat motivasi merokok subjek secara luas. Gambar yang kedua adalah suasana 4 orang wanita yang sedang berkumpul di suatu tempat, 3 orang diantaranya sedang merokok. Gambar tersebut digunakan untuk melihat bagaimana hubungan subjek dengan lingkungan teman sebayanya yang homogen, dan seberapa besar lingkungan tersebut mempengaruhi perilaku merokok subjek. Gambar yang ketiga adalah gambar seorang wanita yang sedang merokok bersama dengan beberapa teman laki-laki. Gambar tersebut digunakan untuk melihat motivasi subjek merokok bersama teman lawan jenisnya, dan melihat apakah terdapat motivasi yang berunsur gender atau tidak.

(47)

dari hasil interpretasi gambar dan wawancara. Jawaban subjek dicocokan agar mendapatkan data yang valid dan menghindari kemungkinan fakingdata. Dari data tersebut dapat disimpulkan pola-pola motivasi yang membuat subjek berperilaku merokok.

E. Pertanyaan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti ingin memfokuskan penelitian pada perilaku merokok pada mahasiswi yaitu, apa saja yang motivasi perilaku merokoknya dan bagaimana perilaku merokok tersebut muncul dan berkembang. Pertanyaan pada penelitian ini adalah “Apakah yang memotivasi

(48)

32 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang menjelaskan suatu fenomena secara deskriptif (dalam Smith, 2009). Menurut Bogdan dan Tylor (Moleong, 2006), metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali dan memahami inti sebuah masalah sosial atau fenomena yang dialami individu secara alamiah dalam suatu konteks khusus dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Creswell, 2007). Penelitian kualitatif berusaha untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan maupun menginterpretasikan maksud dari suatu fenomena maupun pengalaman personal dan sosial yang dialami oleh subjek penelitian (Creswell, 1998).

B. Stretegi Penelitian

(49)

inquiry) yaitu: desain yang bersifat alamiah, dalam arti peneliti tidak berusaha untuk memanipulasisettingpenelitian.

Peneliti mencoba memahami situasi sesuai dengan bagaimana situasi tersebut menampilkan diri. Kontak personal langsung peneliti di lapangan, agar peneliti memperoleh pemahaman secara jelas tentang realitas dan kondisi nyata kehidupan sehari-hari. Penelitian kualitatif menekankan pada perspektif holistik, perspektif dinamis, dan perspektif perkembangan yaitu: keseluruhan fenomena perlu dimengerti sebagai suatu sistem yang kompleks dan menyeluruh.

Dalam penelitian ini, tujuan peneliti agar dapat mengungkapkan motivasi yang membuat subjek berperilaku merokok, selanjutnya peneliti juga turut serta dalam menginterpretasikan kembali data yang didapat dari subjek melalui stimulus projektif berupa gambar, wawancara dan pendekatan lainnya. Dengan demikian, penelitian dapat mengarah pada analisis yang lebih mendalam terhadap subjek.

C. Fokus Penelitian

(50)

dinamika psikologis dalam perilaku merokok subjek. Proses tersebut disebut sebagai pola motivasi perilaku merokok subjek.

D. Subjek Penelitian

(51)

E. Alat Stimulus Projektif

Stimulus projektif yang berupa gambar ini memodifikasi dasar-dasar tes TAT yang melihat aspek-aspek motivasi lewat respon subjek terhadap gambar yang disajikan. Stimulus projektif ini digunakan oleh peneliti dengan tujuan untuk melengkapi data selain dengan hasil wawancara. Dalam metode wawancara, terdapat kemungkinan subjek hanya menjawab hal-hal yang disadari. Selain itu, subjek juga dapat melakukan faking atau menjawab hal yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Stimulus projektif digunakan juga untuk melengkapi kekurangan tersebut. Stimulus projektif mencoba menggali alam bawah sadar subjek tersebut dengan harapan akan mengungkapkan motivasi tersembunyi dan tidak disadari oleh subjek sendiri.

Peneliti membuat tiga gambar yang dibuat berdasarkan riset yang dilakukan oleh Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS) pada remaja dan wanita di Jakarta dan Sumatra Barat (Sumbar). Dalam riset tersebut data yang didapatkan adalah sebanyak 54,59% remaja dan perempuan merokok dengan tujuan mengurangi ketegangan dan stres. Lainnya beralasan untuk bersantai, merokok sebagaimana dilakukan pria, pertemanan, dan agar diterima dalam kelompok.

(52)

Gambar yang kedua adalah suasana 4 orang wanita yang sedang berkumpul di suatu tempat, 3 orang diantaranya sedang merokok. Gambar tersebut digunakan untuk melihat bagaimana hubungan subjek dengan lingkungan teman sebayanya yang homogen, dan seberapa besar lingkungan tersebut mempengaruhi perilaku merokok subjek. Dari beberapa data baik hasil penelitian sebelumnya atau observasi lingkungan, terdapat satu kondisi dimana seorang individu terlihat sangat nyaman dengan perilaku merokok saat bersama teman-temannya. Gambar tersebut memberi stimulus yang diharapkan tema tentang teman yang homogen dapat terungkap. Gambar yang ketiga adalah gambar seorang wanita yang sedang merokok bersama dengan beberapa teman laki-laki. Gambar tersebut digunakan untuk melihat motivasi subjek merokok bersama teman lawan jenisnya, dan melihat apakah terdapat motivasi yang berunsur gender atau tidak.

(53)

F. Metode Pengumpulan Data

Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah menyajikan stimulus projektif yang berupa 3 buah gambar kepada subjek untuk melihat kebutuhan, dorongan dan motif-motif yang tidak disadari oleh subjek. Gambar tersebut disajikan satu per satu, dan subjek diminta untuk menceritakan apa yang subjek lihat dalam gambar tersebut.

Instruksi penyajian gambar:

“Ceritakanlah secara spontan gambar yang anda lihat berikut ini. Ceritakan sedramatik mungkin dan setidaknya meliputi 5 hal. Pertama apakah yang sudah terjadi pada tokoh dalam gambar tersebut, kemudian apakah yang sedang terjadi pada tokoh saat ini, apakah yang tokoh rasakan dan tokoh pikirkan, dan bagaimanakah akhir ceritanya”.

(54)

pertanyaan dapat dimodifikasi sesuai jawabannya dan pewawancara pun dapat menggali wilayah menarik dan penting yang muncul dalam proses wawancara (Smith & Osborn, 2009). Daftar panduan pertanyaan wawancara dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1

Daftar panduan pertanyaan wawancara

Pertanyaan Tujuan Pertanyaan

Sejak kapan anda merokok? Rapport, untuk mengetahui sudah berapa lama subjek merokok dan masuk dalam tahapan merokok apa

Bisakah anda menceritakan bagaimana anda mulai merokok?

Rapport, untuk mengetahui sejarah subjek merokok dari awal sampai saat ini, untuk mengetahui motivasi perilaku merokok subjek

Berapa banyak anda merokok dalam sehari?

Untuk mengetahui subjek berada di tipe dan tahapan perokok yang mana

Pada saat suasana seperti apakah anda merokok?

Untuk mengetahui lingkungan atau kondisi seperti apa yang mendorong subjek untuk merokok

Bagaimana perasaan anda ketika sedang merokok?

(55)

Pertanyaan Tujuan Pertanyaan Bagaimana tanggapan lingkungan

anda terhadap perilaku merokok yang anda lakukan?

Untuk mengetahui penilaian lingkungan subjek terhadap perilaku merokok subjek dan melihat bagaimana subjek bersikap dengan kondisi lingkungan tersebut

Bagaimana perasaan anda ketika tidak merokok?

Untuk mengetahui tanggapan emosional subjek saat tidak merokok, untuk mengetahui apakah subjek mengalami ketergantungan rokok atau tidak

Apakah yang membuat anda ingin mengulang perilaku merokok?

Untuk mengetahui motivasi yang membuat subjek merokok, untuk mengetahui apakah subjek mengalami ketergantungan rokok atau tidak

Pernahkah anda mencoba berhenti merokok?

Untuk melihat adakan keingin subjek untuk berhenti merokok

Apa yang membuat anda ingin berhenti merokok?

Untuk melihat motivasi yang mendorong subjek untuk berhenti merokok

Apakah setelah itu anda ingin kembali merokok?

Untuk melihat apakah subjek mengalami ketergantungan rokok atau tidak

Apakah yang membuat anda ingin kembali merokok?

(56)

Panduan daftar pertanyaan yang disusun oleh peneliti dapat berubah atau berkembang sesuai dengan kondisi dan jawaban yang muncul saat wawancara dilakukan. Panduan tersebut mempermudah peneliti untuk mendapatkan informasi-informasi penting dan terarah untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Proses wawancara juga akan melalui beberapa tahap antara lain :

1. Peneliti mencari subjek atau partisipan yang akan bersedia menjadi informan dalam penelitian ini.

2. Melakukan rapport, perkenalan, menjelaskan maksud penelitian dan memastikan subjek bersedia menjadi informan dan siap menjalani proses bersama-sama.

3. Membuat jadwal wawancara bersama sesuai kesepakatan agar tidak mengganggu aktivitas informan

4. Melakukan wawancara secara bertahap.

(57)

G. Prosedur Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (dalam Moleong, 1989). Proses analisis data dimulai dengan memahami seluruh data, kemudian langkah selanjutnya adalah menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan tersebut dikategorisasikan dan kemudian yang terakhir penafsiran data. Langkah-langkah untuk menganalisis data dari stimulus projektif berupa gambar, dan verbatim hasil wawancara diuraikan sebagai berikut:

1. Organisasi data

(58)

kemudian akan dicatat/ditranskripsikan kata per kata (verbatim). Langkah selanjutnya adalah melakukan koding dan pengkategorisasian.

2. Kategorisasi

(59)

tertentu. Berikut adalah beberapa contoh mengenai kalimat yang mengandung unsur emosi atau situasi tertentu yang bisa ditandai dan dikategorikan menjadi kebutuhan (need), dorongan (drive),dan motif :

Harm Avoidance : menghindari sakit fisik, menarik diri, melarikan diri. Termasuk reaksi kecemasan/ketakutan pada suara keras, kehilangan dukungan, atau hadirnya orang asing. Hati-hati, cemas, dsb. Berdasarkan pada definisi kebutuhan harm avoidance, maka segala bentuk kalimat yang mengandung makna untuk menghindari sakit fisik, menghindari kecemasan dan melarikan diri dari hal-hal yang dianggap mengancam, dapat dikategorikan menjadi kebutuhanharm avoidance.

Contoh kalimat : ”waktu kuliah inikan sempet kalo bahasa kerennya tu galau tu lho..nah itu..terus akhirnya galau masalah keluarga juga itukan terus larinya..minum..nggak kuat..mau minggat..minggat kemana gitukan..yaudah..alternatifnya ya ngerokok gitu”

(60)

masalah. Hal tersebut dapat dikategorikan menjadi kebutuhan harm avoidance. Berdasarkan pada penjelasan tersebut maka dapat dituliskan bahwa motif yang muncul : adalah merokok untuk melarikan diri dari permasalahan.

Passivity : mencari atau menikmati ketenangan, beristirahat, obat penenangan, kedamaian. Merasa lelah, apatis, malas. Kebutuhan akan perenungan yang tenang (kontemplasi). Dari definisi tentang kebutuhan passivity tersebut, maka kalimat yang mengandung makna pencarian ketenangan, beristirahat, dan perasaan lelah dapat dikategorikan dalam kebutuhan passivity.

Contoh kalimat : “Ya..biasanya untuk mengerjakan sesuatu saya tu butuh rokok..biar otaknyafresh..nggak tegang..

(61)

3. Penafsiran data

Setelah melakukan proses organisasi, kategorisasi, peneliti kembali membaca hasilnya berulang-ulang untuk semakin mempertajam pemahaman terhadap hasil penelitian sementara tersebut. Kemudian peneliti melakukan interpretasi data atau yang diistilahkan Moleong (1988) sebagai penafsiran data yang bertujuan untuk mendeskripsikan. Pada langkah ini, yang dilakukan oleh peneliti adalah menafsirkan kebutuhan (need), dorongan (drive), dan motif yang saling terkait dan berkembang satu sama lain sehingga bisa didapatkan pola yang menggambarkan motivasi yang mendasari perilakunya subjek. Terdapat kemungkinan bahwa kebutuhan-kebutuhan tersebut saling mempengaruhi dan dapat memunculkan pola baru. Pola-pola subjek dapat dibuat berdasarkan urutan cerita atau jawaban subjek, namun ada beberapa pola yang muncul berdasarkan cerita atau jawaban subjek yang diulang-ulang sehingga nampak pola yang mendasar perilaku subjek.

1. Contoh pola yang muncul dalam urutan cerita. Cerita gambar 2 :

(62)

ngerokok, mabuk gitu (recognition) terus endingnya mereka kenalan lebih jauh terus jadian.”

Analisis:

Kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan teman (need: affiliation) → Merokok untuk menjalin relasi dengan lingkungan (motif)

Kebutuhan untuk mendapatkan perhatian (need: recognition)→ Merokok untuk pencitraan diri (motif)

Pada cerita tersebut terdapat dua kebutuhan yang memunculkan motif dan saling terkait. Munculnya kebutuhan affiliation, nampak pada pernyataan “lha cewek ini ngerokok ikut cewek yang satunya”. Hal tersebut menunjukan perilaku merokok timbul karena adanya kebutuhan untuk menjalin relasi (affiliation). Dan dari kebutuhan affiliation tersebut muncul kebutuhan untuk mencari perhatian (recognition) yang dapat dilihat dari pernyataan

“biar nggak keliatan cupu, dia ikutan minum, ngerokok, mabuk

gitu”. Dari data tersebut maka dalat dijadikan pola sebagai berikut:

Gambar 2. Contoh pola yang muncul dalam urutan cerita

Need: Affiliation

Need: Recognition

Motif: Bentuk konformitas dengan lingkungan dan pencitraan diri

(63)

2. Contoh pola yang muncul dalam beberapa cerita Cerita gambar 1:

“ini cerita mbak-mbak yang lagi kesepian, bingung mau ngapain, pengen nyari temen buat ngobrol nggak ada (affiliation), pengen pergi juga bingung kemana, terus ya udah ngerokok aja biar nggak galau(harm avoidance)sambil duduk di taman.”

Analisis :

Kebutuhan menjalin pertemanan (need: affiliation) → merokok untuk menggantikan kehadiran teman yang diharapkan (motif) Kebutuhan menghindari sakit fisik, menarik diri, melarikan diri (need: harm avoidance) → merokok untuk mengurangi rasa galau dan melarikan diri dari rasa sepi.

Cerita gambar 2:

“Sekelompok cewek-cewek yang udah temenan lama banget. Mereka lagi kumpul-kumpul dah lama nggak ketemu, biasa, mereka apa ajanya karena udah deket. Biar suasana kumpul pertemanannya santai ya pada ngerokok (affiliation) ngobrol. Ini terus inget dulu yang ini ngerokok gara-gara temen yang ini ngerokok duluan, sampai sekarang dia ngerokoknya cuma kalo

lagi sama temennya ini (affiliation).”

(64)

Kebutuhan menjalin pertemanan (need: affiliation) → merokok agar suasana pertemanan lebih santai (motif) dan merokok hanya pada saat bersama teman-teman (motif)

Dari dua cerita di atas terdapat tema atau kebutuhan yang muncul berkali-kali dalam cerita 1 dan 2 yaitu kebutuhan affiliation. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan affiliation cukup mempengaruhi perilaku merokok subjek. Pola yang muncul dari kedua cerita tersebut dapat digabung menjadi satu sebagai berikut:

Gambar 3. Contoh pola yang muncul dari beberapa cerita

3. Contoh pola yang muncul dalam urutan jawaban wawancara Berikut adalah contoh pola dari hasil data wawancara :

T: Bisa certain gak gimana sih awal mulanya bisa ngerokok?

J: Waktu itu lagi ada masalah terus bingung mau ngapain (harm avoidance). Marah banget, tiba-tiba pengen ngerokok. Yaudah ngerokok deh jadi keterusan.

(65)

J: Keterusan aja, ada masalah terus ngerokok(harm avoidance) kok terus rasanya lega (passivity), yaudah terus ngerokok lagi sampai sekarang. Enak juga kadang jadi kangen ngerokok ya rasa manis sepet gimana gitu (sentience), ya rasa lega (passivity), kayak pengen ngulang-ngulang terus.

Analisis :

Kebutuhan menghindari sakit fisik, menarik diri, melarikan diri (need: harm avoidance)→ merokok untuk melarikan diri dari masalah

Kebutuhan mencari atau menikmati ketenangan, beristirahat, obat penenangan, kedamaian. Merasa lelah, apatis, malas (need: passivity)→merokok untuk mendapatkan rasa lega (motif)

Kebutuhan mencari dan menikmati kenangan/kesan yang menyenangkan. Menikmati pemandangan yang indah, rasa, bau, dll yang menyenangkan (need: sentience)merokok karena menyukai rasa manis dan sepet (dorongan (drive)) dan merokok karena menikmati kesan menyenangkan dari rokok secara psikis (motif).

(66)

Gambar 4. Contoh pola yang muncul dalam urutan jawaban wawancara

4. Contoh pola yang muncul berdasarkan jawaban subjek dalam beberapa pertanyaan

T: Bisa diceritain nggak kamu awalnya ngerokok tu gimana? J: Dulu sih awalnya saya ngeliat bapak saya ngerokok, terus saya

iseng-iseng nyobain sisanya dia ngerokok(cognizance),kok enak manis gitu yaudah terus saya ngerokok deh(sentience) T: Berapa banyak kamu merokok dalam sehari?

J: Ya nggak tentu, bisa 5 batang, 6 batang sampai satu bungkus tergantung kepengenan

T: Pada saat seperti apa kamu biasanya ngerokok?

J: Pada saat seperti apa ya, apa aja sih aku, nggak pengaruh lingkunganku sih, kalo aku pengen ngerokok ya ngerokok (sentience)

T: Maksudnya pengen itu seperti apa?

(67)

pengen ya ngerokok (sentience). Rokok tu udah kayak istilahnya orang laper ya makan. Kadang tu ada rasa kepengen bukan fisik lho ya, kayak kangen gitu sama

ngerokok(sentience )terus jadi lega(passivity) Analisis :

Kebutuhan mengungkap rasa ingin tahu (need: cognizance) → merokok karena iseng ingin mencoba rasa rokok(drive)

Kebutuhan untuk menikmati kesan menyenangkan (need: sentience) → merokok karena menyukai rasa rokok yang manis dan gurih (drive) → menikmati kesan menyenangkan secara psikologis yang didapat dari merokok (motif)

Kebutuhan menikmati ketenangan (need: passivity) → merokok untuk mendapatkan rasa lega

Berdasarkan data di atas maka dapat dibuat pola motivasi sebagai berikut:

Gambar 5. Contoh pola yang muncul dari beberapa jawaban wawancara

(68)

H. Kredibilitas Penelitian

Setelah tahap-tahap analisis data maka perlu dilakukan verifikasi data yaitu untuk menunjukkan apakah hal yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan dan apakah pemahaman peneliti sesuai dengan pemahaman subjek. Tahap-tahap yang dilakukan peneliti yaitu:

1. Metode triangulasi. Dengan metode triangulasi ini peneliti dapat mengecek derajat kepercayaan atau kebenaran data yang diperoleh (Moleong, 1989). Dalam penelitian ini, hal tersebut dicapai dengan membandingkan data hasil stimulus projektif yang berupa gambar dengan data hasil wawancara.

(69)

53 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

(70)

B. Gambaran Subjek

Tabel 2

Gambaran subjek

Subjek dalam penelitian ini merupakan mahasiswi Universitas Sanata Dharma yang merokok. Usia subjek beragam dari 20 – 25 tahun. Rata- rata subjek merokok setiap hari tidak dapat digambarkan secara tepat karena sangat tergantung dengan situasi dan kondisi subjek saat itu. Subjek penelitian rata-Subjek Usia Rata-rata 1 20 th 10 batang Sedang Maintenance

of Smoking

2 25 th 6 batang Sedang Maintenance of Smoking

3 25 th 1-2 bungkus Berat Maintenance of Smoking

4 20 th 5 batang Sedang Maintenance of Smoking

5 23 th 5 batang Sedang Becoming a Smoker

(71)

rata merupakan tipe perokok sedang. Subjek yang tergolong dalam tahapan Maintenance of Smoking merupakan perokok yang menggunakan rokok sebagai salah satu pengaturan diri mereka. Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan. Pada tahap ini subjek memiliki kecenderungan ketergantungan rokok yang lebih besar dari pada tahapBecoming a Smoker.

Jenis rokok yang dikonsumsi subjek ada dua, rokok kretek yaitu rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dancengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Kedua adalah rokok putih, yaitu rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Rokok kretek yang digunakan juga 2 macam yaitu rokok kretek filter dengan kadar tar dan nikotin yang tinggi seperti pada merk rokok Djarum Super (subjek 2, 3, dan 4) dan rokok kretek filter dengan kadar tar dan nikotin yang rendah seperti pada merk rokok Sampurna mild, L.A mentol, dan Evolution (subjek 1, 5, 6, dan 8).

(72)

C. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini akan dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah kebutuhan-kebutuhan yang mendorong perilaku merokok subjek. Bagian kedua adalah pola motivasi.

1. Kebutuhan-kebutuhan yang mendorong perilaku merokok subjek

Motivasi perilaku seseorang dimulai dengan adanya kebutuhan di dalam diri individu tersebut. Dalam penelitian ini, motivasi perilaku merokok mahasiswi timbul karena beberapa kebutuhan yang beragam. Dari 8 subjek penelitian, muncul 8 kebutuhan yang diklasifikasikan berdasarkan teori kebutuhan Murray, sebagai berikut:

a. Affiliation

Kebutuhan menjalin hubungan dengan teman (affiliation) sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku merokok pada subjek. Kebutuhan affiliation dapat memunculkan beberapa motif yang berbeda pada subjek. Motif pertama yaitu, subjek merokok untuk menjalin relasi dengan lingkungan. Hal ini dapat dilihat contohnya

(73)

menyatakan “Jadikan karna kebiasaan terus kl ngobrol gitukan kayak semacam konformitas gitulah”(Subjek 1, wawancara, no. 21).

b. Cognizance

Cognizance merupakan kebutuhan untuk mengungkap rasa ingin tahu, mencari, menyelidiki, menjelajahi, bertindak seperti detektif. Rata-rata subjek memulai perilaku merokok karena memiliki kebutuhan cognizance yang cukup besar serta didukung oleh lingkungan. Kebutuhan ini dapat memunculkan motif penasaran dengan rasa rokok seperti pada subjek 8 yang menyatakan, “Dia

ngerokok dan terus penasaran aja..coba ngerasain terus yaudah ini ngerasain” (Subjek 8, wawancara, no. 4). Kebutuhan cognizance diikuti dengan proses modeling dari lingkungan perokok di lingkungan subjek.

c. Passivity

Kebutuhan untuk mencari atau menikmati ketenangan, beristirahat, obat penenangan, kedamaian (passivity) mendorong perilaku merokok subjek untuk mendapatkan rasa tenang secara psikis dan fisik. Kebutuhan passivity yang memunculkan dorongan (drive)merokok untuk ketenangan fisik dapat dilihat contohnya pada pernyataan subjek 2, “Ya..biasanya untuk mengerjakan sesuatu saya

(74)

wawancara, no. 10). Sedangkan kebutuhan passivity yang memunculkan motif merokok untuk mendapatkan ketenangan psikologis contohnya nampak pada subjek 1, yang menyatakan “Sesuatu yang bisa menghilangkan rasa stressnya itu mungkin kebutuhan untuk ketenangan”(Subjek 1, wawancara, no. 4).

d. Harm Avoidance

Kebutuhan untuk menghindari sakit fisik, menarik diri, melarikan diri (harm avoidance) cukup besar dirasakan para subjek yang merupakan mahasiswi berada di rentang usia 18 – 25 tahun, yang berarti dalam tahap perkembangan remaja akhir sampai dewasa awal. Kebutuhan harm avoidance memunculkan dorongan (drive)dan motif untuk merokok. Kebutuhan harm avoidancedapat memunculkan dorongan (drive) merokok untuk menghindari ketidaknyamanan fisik. Hal tersebut dapat dilihat seperti pada subjek 6 yang menyatakan, “Kalo minum terus nggak ngerokok rasanya

cepet tinggi gampang mabuk jadinya aku ngerokok gitu” (Subjek 6,

(75)

masalah kebanyakan kayak gitu” (Subjek 7, wawancara, no. 5).

Motif lain yang muncul dari kebutuhan harm avoidance adalah merokok untuk mengisi kekosongan kegiatan, contohnya dapat dilihat pada subjek 8 yangmengatakan “Kalo yang lagi sendirian sih ngerasa kayak..kayak ada sambil ngelakuin..sambil ngerjain tugas misalnya ngerokok tu kayak misalnya ngelakuin sesuatu di luar itu”

(Subjek 8, wawancara, no. 8)

e. Sentience

Kebutuhan sentiencemerupakan kebutuhan untuk mencari dan menikmati kenangan/kesan yang menyenangkan. Menikmati pemandangan yang indah, mengomentari atmosfir, cuaca, warna ruang, gambar, suara, rasa dan bau yang menyenangkan. Kebutuhan sentience biasanya muncul pada subjek yang telah mengalami kecanduan rokok. Kebutuhan sentience memunculkan dorongan (drive)yaitu merokok untuk mendapatkan rasa di mulut seperti pada subjek 5 pada pernyataan “Aku suka banget rasa rokok yang mint

jadi pengen nyoba karna mintkan..ada fantasi di mulut” (Subjek 5,

(76)

f. Recognition

Kebutuhan recognition merupakan kebutuhan untuk mencari pujian, penghargaan, dan perhatian. Bagi remaja kebutuhan ini erat kaitannya dengan harga diri. Kebutuhan recognition memunculkan motif merokok untuk pencitraan diri seperti pada subjek 6 dalam penyataannya, “soalnya mau dikenalin sama cowok yang di

depannya itu..biar gak keliatan cupu” (Subjek 6, gambar, no. 3).

Motif yang lain adalah untuk menunjukkan kekuatan seperti pada subjek 1. Subjek 1 mengatakan “Kalo dulu sih ben ketok sangar..kalo dulu..kalo sekarang sih ya..ini aku gitu lho..maksudnya setiap orangkan pengen..istilahnya pengen apa ya..pengen menunjukkan siapa dirinya”(Subjek 1, wawancara, no. 31).

g. Playmirth

Gambar

Tabel 2. Gambaran subjek ...............................................................................
Gambar 1. Bagan Motivasi
gambar yang ditunjukkan. Menurut Mogan dan Murray, bagian-bagian dari
gambar yang disajikan. Stimulus projektif ini digunakan oleh peneliti dengan
+7

Referensi

Dokumen terkait

16 I Kalau masyarakat mungkin menganggap demikian ya ada anggapan miring gitu, tapi kalau aku secara pribadi tetap cuek aja jadi ngga ada perasaan gimana – gimana soalnya aku kan

Abi : Ya, kalo menurutku sih karna untuk rekayasa film aja ya, sebenernya nggak seperti itu juga, kalau di film itu kan dia menonjolkan sisi positifnya, dari kecanggihan film

C: iya sih, apalagi kalo misalnya ada topik ada-ada yang dibahas terus inti dari pembahasan itu ditulis di statusnya gitu dan menurut aku menarik , aku bakal buka sih, kan

Terus biasanya kamu kalo sama temen- temenmu bisa ngabisin berapa batang rokok.. Habis pulang sekolah terus nongkrong di warungnya mbah maimin itu paling abis 5 kalo gak

pandangan muslimah di jakarta HC tentang para I : kalo sekarang sih aku liat banyak banget yya kayak menjamur, masalah itu dia serius atau Cuma muslimah pengen gaya gayan

Iiya tadinya dia pengen aku berubah, tapi kayak aku bilang kayak iya sih, ya emang seperti ini kodratnya dia bilang, nggak lah kodrat itu Cuma, makanya kita

Aku mau beli tapi kok takut, gitu, soalnya kan share in jar jadi kan gak tau kalo misalnya itu udah dicampur sama yang KW atau gimana terus mbaknya bilang, kalo kita

Kalo gw sih selalu tanya-tanya dan pengen tau apa aja yang temen gw pake nanti biar bisa gw tiru lagi di diri gw dan yang pasti juga ngomongin barang-barang bermerk itu penting