Hubungan antara sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen dan lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi : studi kasus : mahasiswa program studi Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma - USD Repository

112 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA SIKAP MAHASISWA TERHADAP METODE MENGAJAR DOSEN DAN LINGKUNGAN BELAJAR

MAHASISWA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI BELAJAR AKUNTANSI

(Studi kasus: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Akuntansi

Disusun oleh : Yohana Dwi Ningrum

NIM : 031334047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

HUBUNGAN ANTARA SIKAP MAHASISWA TERHADAP METODE MENGAJAR DOSEN DAN LINGKUNGAN BELAJAR

MAHASISWA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI BELAJAR AKUNTANSI

(Studi kasus: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Akuntansi

Disusun oleh : Yohana Dwi Ningrum

NIM : 031334047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

PERSEMBAHAN

K uper sembahkan kar ya ini unt uk :

T uhan Yesus K r ist us dan Bunda M ar ia

Bapak Pur wadi dan I buku Suwar t ini

mas Bowo juga D ewi

M as I wanku t er sayang dan

(6)

v MOTTO

”K edisiplinan adalah kunci keber hasilan”

”Per cayalah bahwa Yesus akan selalu ada disamping

kit a, D ia t idak akan membiar kan hambanya mender it a”

”Bukan ber ar t i kit a t idak bisa memiliki yang kit a

inginkan, hanya saja belum wakt unya unt uk

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 4 September 2008 Penulis

(8)

vii ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA SIKAP MAHASISWA TERHADAP METODE MENGAJAR DOSEN DAN LINGKUNGAN BELAJAR

MAHASISWA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI BELAJAR AKUNTANSI

Yohana Dwi Ningrum Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2008

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah : (1) ada hubungan antara sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi, (2) ada hubungan antara lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi. Populasi penelitian ini para mahasiswa angkatan 2004 dan 2005 Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma. Sampelnya 165 orang mahasiswa yang diambil secara

Eksidental. Metode pengumpulan datanya dengan kuesioner yang berisi angket pertanyaan tertutup. Teknik analisis datanya dengan analisis korelasi rank dari

Spearman, keputusan yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesisi alternatif dengan taraf signifikansi 5%.

(9)

viii ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN THE ATTITUDE OF

UNIVERSITY STUDENTS TOWORDS THEIR LECTUR ER’S METHOD OF TEACHING WITH THEIR LEARNING ENVIRONMENT AND THEIR ACHIEVEMENT IN STUDYING ACCOUNTING

Yohana Dwi Ningrum University of Sanata Dharma

Yogyakarta 2008

This research aims to know : (1) the relationship between the attitude of university students towords the lecturer’s method of teaching and the achievement in studying accounting, (2) the relationship between learning environment of university students and the in learning achievement accounting. The population of this research were all students of 2004-2005 academic years of accounting Departement Faculty of Education Sanata Dharma University Yogyakarta. The sample were 165 students that were taken randomly. The data method of gathering the data was questionnair that contains close question. The Technique to analyse to data was rank correlation analysis from Spearman. The decision which was used to accept or refuse alternative hypothesis was the significt rate of 5%.

(10)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Yohana Dwi Ningrum Nomor Mahasiswa : 031334047

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

HUBUNGAN ANTARA SIKAP MAHASISWA TERHADAP METODE MENGAJAR DOSEN DAN LINGKUNGAN BELAJAR MAHASISWA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI BELAJAR AKUNTANSI

(Studi kasus: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

me-ngalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media

lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun

memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 07 Oktober 2008

Yang menyatakan

(11)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala

berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul:

”Hubungan Sikap Mahasiswa Terhadap Metode Mengajar Dosen dan Lingkungan

Belajar Mahasiswa dengan Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi”.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis

banyak memperoleh bimbingan, bantuan, dorongan serta petunjuk dari berbagai

pihak. Oleh karena itu kesempatan ini sudah selayaknya bagi penulis

menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang

setinggi-tingginya kepada :

1. Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta beserta stafnya, yang telah

memberikan berbagai fasilitas serta kemudahan selama penulis mengikuti

pendidikan.

2. Bapak Drs. T. Sarkim, M. Ed., Ph.D, selaku Dosen Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

3. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan

Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

4. Bapak L. Saptono, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Akuntansi, Universitas Sanata Dharma, Yo gyakarta.

5. Bapak Drs. Bambang Purnomo, S.E., M.Si., selaku Dosen Pembimbing

yang telah sabar dan bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan

bimbingan, dukungan, kritik dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.

6. Bapak S. Widanarto Prijowuntato, S.Pd., M.Si., selaku Dosen Penguji

yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan bimbingan,

dukungan, kritik dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.

7. Ibu Cornelio Purwantini, S.Pd., M.SA., selaku Dosen Penguji yang telah

(12)

x saran untuk kesempurnaan skripsi ini.

8. Staf pengajar Program Studi Pendidikan Akuntansi yang telah

memberikan tambahan pengetahuan dalam proses perkuliahan.

9. Mbak Aris dan Pak Wawik selaku tenaga administrasi Program Studi

Pendidikan Akuntansi yang telah banyak membantu penulis dalam

penyelesaian skripsi ini.

10.Bapak Purwadi, ibu Suwartini, masku Bowo, dan adekku Dewi terima

kasih atas segala dukungannya baik secara material maupun spiritual.

Karena mereka, aku bisa menyelesaikan semua tugas ini, satu demi satu.

(Bapak, Ibu, Abang,Adek aku sayang kalian)

11.Keluarga di Wonosari Simbokku, bulek Sri, bulik Ning, bulik Yayuk, bulik

Harni juga omku semua om Harno, om Gito, om Hardi, Pak Kirjo, om

Handoyo juga pakde Suwarno dan bude Warti dan ponakan-ponakanku

semua (Pitol, Pekek, Veri, Galih, Indah, Galuh, Anom, Arum dan si kecil

Adhe) terima kasih kasih sayangnya.

12.Untuk keluarga di Wonogiri semua Pakde dan Budhe juga mbak dan

masku semua makasih atas dukungannya. Mbak Retno makasih ya dah

dukung aku, sukses untuk kuliahnya.

13.Mas Iwanku : ”Ta’ makasih dah selalu dukung aku dan selalu memberikan

semangat buat aku. Terima kasih juga cinta dan sayang juga pengorbana n

yang kamu berikan selama ini buat aku. I Love U honey”.J

14.Pitol and bay2, makasih kalian dah mau jadi sedulurku dan jadi tempat

curhatku, tetep semangat ya J

15.Sahabat-sahabatku Brep & Davit, Uke & Gendut, Tari, Siwol, Wita, Cha

(kamu dimana?). Uke yang telah rela menjadi tempat curhatku dan selalu

bantu aku dalam kesulitan, terima kasih ya say.

16.Temen-temen kos Pringondani 10 semua dan Rini…. makasih banget

kamu udah rela minjemin ’laptop’ kamu buat bantu akuJ, Heny (Dunia

tidak selebar daun kelor), Lio (Jangan bosen ya sama tangisanku),

Detol...(Semangat!), Bule (Semangat ya) Upu....(Kita berjuang bersama

(13)

xi

17.Brama dan Nuci, kalian memang seseorang yang diutus Tuhan buat bantu

akan selama ini. Makasih ya, ak ngak bisa memberikan apa-apa buat

kalian J

18.Temen-temen kost baru Rita, Rasty, Rina, Dewi, Ika makasih dah nerima

aku di kost dengan baik, sukses ya.

19.Temen-temen PAK Ana, Lala, Yiska, Dwi, Santi, Wawan, Yudo, Agus,

Nina, Agnes, Koko dan semuanya. Sukses buat kalian.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh

dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun bagi kesempurnaan skripsi.

Yogyakarta, 4 September 2008

(14)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Batasan masalah... 4

C. Rumusan Masalah... 4

D. Masalah Penelitian ... 5

E. Tujuan Penelitian... 5

(15)

xiii

G. Sistematiaka Isi Skripsi... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8

A. Pengertian Motivasi Berprestasi... 8

1. Pengertian Motivasi Belajar... 8

2. Pengertian Prestasi Belajar ... 11

B. Pengertian Sikap Mahasiswa Terhadap Metode Mengajar Dosen... 12

1. Pengertian Sikap... 12

2. Pengertian Metode Mengajar ... 14

C. Pengertian Lingkungan Belajar ... 23

D. Kerangka Berpikir dan Hipotesis ... 30

BAB III METODE PENELITIAN... 33

A. Jenis Penelitian... 33

B. Tempat dan Waktu Penelitian... 33

C. Subjek dan Objek Penelitian... 33

D. Populasi dan Sampel ... 34

E. Variabel Penelitian... 35

F. Teknik Pengumpulan Data... 38

G. Uji Instrumen Penelitian... 39

(16)

xiv

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN... 46

A. Dari PTG ke Universitas ... 46

B. Visi dan Misi... 48

C. Fasilitas... 49

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN... 51

A. Deskripsi Data... 51

1. Sikap Mahasiswa Terhadap metode Mengajar Dosen ... 51

2. Lingkungan Belajar Mahasiswa... 53

3. Motivasi berprestasi belajar ... 55

B. Analisis Data ... 57

1. Pengujian Normalitas ... 57

2. Pengujian Hipotesis... 58

C. Pembahasan... 61

BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN, SARAN... 65

A. Kesimpulan... 65

B. Keterbatasan... 65

C. Saran... 66

DAFTAR PUSTAKA

(17)

xv

DAFTAR TABEL

3.1 Tabel Operasional Variabel Sikap Mahasiswa Terhadap Metode

Mengajar Dosen ... 36

3.2 Tabel Operasional Variabel Lingkungan Belajar Mahasiswa ... 37

3.3 Tabel Operasional Variabel Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi ... 37

3.4 Tabel Hasil Uji Validitas Instrumen ... 40

3.5 Tabel Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ... 42

5.1 Tabel Sebaran Klasifikasi Sikap Mahasiswa terhadap Metode Mengajar Dosen ... 52

5.2 Tabel Sebaran Klasifikasi Lingkungan Belajar Mahasiswa... 54

5.3 Tabel Sebaran Klasifikasi Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi ... 56

5.4 Tabel Hasil Pengujian Normalitas ... 58

(18)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 5.1 Grafik Sebaran Klasifikasi Sikap Mahasiswa Terhadap

Metode Mengajar Dosen... 53

Gambar 5.2 Grafik Sebaran Klasifikasi Lingkungan Belajar Mahasiswa ... 55

Gambar 5.3 Grafik Sebaran Klasifikasi Motivasi Berprestasi Belajar

(19)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Permohonan Ijin Penelitian ... 69

Lampiran 2 Kuesioner Penelitian ... 70

Lampiran 3 Data Mentah Penelitian ... 78

Lampiran 4 Data Mentah Validitas Dan Reliabilitas ... 81

Lampiran 5 Uji Normalitas dan Uji Rank Spearman... 84

(20)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Metode mengajar mempunyai peranan penting dalam proses belajar

mengajar. Metode mengajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk

melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi

pelajaran kepada siswa atau anak didik. Kreatifitas dosen dalam menggunakan

metode mengajar yang bervariasi sangat diperlukan dalam proses belajar

mengajar, hal ini dilakukan agar mahasiswa tertarik dan senang terhadap

materi perkuliahan. Mahasiswa akan mudah mencerna materi yang

disampaikan oleh dosen. Namun kenyataannya, sering dijumpai sejumlah

dosen di mata kuliah Akuntansi Dasar 1 dan Akuntansi Keuangan Menengah

1, Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma, di mana

dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode yang monoton.

Misalkan saja, pada mata kuliah AKD 1 dan AKM 1 hanya diisi ceramah dan

latihan soal berturut-turut atau bahkan hanya diberi tugas dan diskusi.

Mahasiswa akan merasa bosan dengan keadaan yang seperti itu terus menerus.

Memilih metode mengajar bagi seorang dosen, harus memperhatikan

beberapa hal yaitu kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan tujuan

dan bahan pengajaran; kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan

kemampuan belajar mahasiswa; kemampuan dosen dalam menggunakan

(21)

tersedia di sekolah; kesesuaian mengajar yang digunakan dengan lingkungan

pendidikan.

Melalui pengamatan selama beberapa pekan terakhir, seorang dosen

menggunakan metode mengajar yang cocok dengan materi dapat membuat

mahasiswa memperhatikan materi yang akan diajarkan dosen. Misalkan saja

metode yang digunakan adalah dengan cara mengajar teman-teman sendiri. Di

sini mahasiswa akan merasa bahwa dia harus mendalami materi tersebut agar

teman-teman yang lain menjadi mengerti tentang materi tersebut. Jadi, sebagai

seorang pengajar diharapkan selalu memberikan metode- metode mengajar

yang memotivasi siswa untuk belajar. Walaupun ada kelemahan dan kelebihan

dari masing- masing metode, sebagai seorang pengajar harus bisa membuat

mahasiswanya termotivasi dalam belajar di kelas.

Selain metode mengajar komponen penting lainnya adalah lingkungan

belajar mahasiswa. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di dalam sekitar kita

yang mamiliki makna dan hubungan tertentu dengan individu. Sedangkan

lingkungan sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang

mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang

penting (Oemar Hamalik, 2003 : 195).

Lingkungan belajar mahasiswa terbagi menjadi tiga lingkungan yaitu

lingkungan keluarga atau kost-kostan, kampus dan masyarakat. Lingkungan

belajar mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar.

Lingkungan keluarga atau kost-kostan adalah lingkungan yang paling dekat

(22)

termotivasi untuk belajar. Dalam lingkungan kost-kostan seseorang akan

merasa tenang karena tempat tersebut adalah tempat kedua selain rumah.

Kost-kostan dapat membuat seseorang rajin tetapi juga dapat membuat

seseorang menjadi malas. Misalnya teman-teman yang mempunyai motivasi

belajar akan mendorong teman lainnya untuk belajar juga. Lain halnya bila

teman kost sering jalan, keluar malam, melihat TV dan sebagainya akan

membuat motivasi belajar menurun. Karena kita akan ikut- ikutan untuk tidak

belajar.

Demikian juga lingkungan kampus dan masyarakat, lingkungan ini

juga dapat membuat seseorang tidak termotivasi dalam belajar. Misalnya

dalam lingkungan kampus yang kotor, ramai dan bertemu dengan

teman-teman kampus dapat membuat seseorang malas untuk belajar di kampus.

Karena kita hanya akan bercanda dan ngobrol dengan teman yang lain.

Demikian halnya lingkungan masyarakat, yang terjadi kita akan malas belajar

karena bermain dengan teman pergaulan atau nongkrong di depan rumah.

Motivasi berprestasi seseorang terjadi karena sikap kita terhadap

sesuatu hal, dimana kita akan merasa nyaman, tenang dan semangat dalam

menjalaninya. Selain itu harus didukung oleh lingkungan yang membuat

seseorang merasa semangat dalam belajar. Motivasi akan tumbuh dalam diri

seseorang, jika seseorang itu merasa bahwa metode yang digunakan dosen

dapat menumbuhkan sikap yang baik terhadap mata kuliah. Selain itu

lingkungan keluarga atau kost-kostan, dan masyarakat harus dapat

(23)

Dari latar belakang singkat di atas, penulis akan melakukan analisis

tentang ” HUBUNGAN ANTARA SIKAP MAHASISWA TERHADAP METODE MENGAJAR DOSEN DAN LINGKUNGAN BELAJAR MAHASISWA DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI BELAJAR AKUNTANSI ”.

B. Batasan Masalah

Ada berbagai faktor yang berhubungan dengan siswa terhadap

motivasi berprestasi belajar dalam mata kuliah akuntansi. Dalam penelitian ini

mengingat luasnya cakupan, peneliti bermaksud mengguraikan seberapa besar

nilai hubungan antara sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen dan

lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi.

Sikap mahasiswa terhadap metode yang digunakan dosen dalam mata kuliah

Akuntansi Dasar 1 dan Akuntansi keuangan Menengah 1. Disini apakah

dengan metode yang digunakan dosen dapat memotivasi mahasiswa untuk

belajar. Sedangkan dalam lingkungan belajar mahasiswa dalam penelitian ini

membatasi lingkungan belajar di kampus, masyarakat dan keluarga atau

kost-kostan.

C. Rumusan Masalah

1. Apakah ada hubungan antara sikap mahasiswa terhadap metode mengajar

(24)

2. Apakah ada hubungan antara lingkungan belajar mahasiswa dengan

motivasi berprestasi belajar akuntansi?

D. Masalah Penelitian

1. Apakah ada hubungan positif atau negatif antara sikap mahasiswa terhadap

metode mengajar dosen dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi?

2. Apakah ada hubungan positif atau negatif antara lingkungan belajar

mahasiswa dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi?

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif dan signifikan antara

sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen dengan motivasi

berprestasi belajar akuntansi?

2. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif dan signifikan antara

lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi belajar

akuntansi?

F. Manfaat Penelitian 1. Bagi Universitas

Penulis berharap agar hasil penelitian ini dapat menjadi masukan yang

bermanfaat bagi Universitas yang diteliti, khususnya bagi dosen dalam

(25)

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman

peneliti agar dapat diterapkan dalam bidang pendidikan sehubungan

dengan hal- hal yang dapat meningkatkan motivasi mahasiswa dalam

berprestasi belajar akuntansi.

G. Sistematika Isi Skripsi

Gambaran mengenai isi skripsi disajikan dalam sistematika sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan diuraikan tentang latar belakang penelitian,

batasan penelitian, rumusan penelitian, manfaat penelitian, tujuan

penelitian, dan sistematika penulisan skripsi, dimana semuanya

merupakan landasan dalam penulisan skripsi ini.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab ini mengemukakan tentang teori-teori yang berasal dari

pendapat para ahli yang telah diakui kebenarannya, yang

merupakan landasan sebagai syarat penunjang untuk memecahkan

masalah tentang sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen

dan lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi

belajar akuntansi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini mengemukakan beberapa metode atau cara yang digunakan

(26)

pengambalian data menggunakan kuesioner tersebut serta beberapa

metode untuk menghasilkan perolehan data yang terkumpul.

BAB IV GAMBARAN UMUM UNIVERSITAS

Bab ini mengemukakan tentang sejarah dan berbagai sarana dan

prasarana penunjang pendidikan serta sumber daya manusianya di

mana penelitian ini dilaksanakan.

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini mengemukakan tentang penerapan metode yang

digunakan hingga ditemukan suatu hasil yang dapat

dipertanggungjawabkan. Kemudian dari hasil tersebut kita dapat

suatu pembahasan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini mengemukakan tentang kesimpulan dan saran yang

telah kita tarik dari pembahasan. Kesimpulan tersebut dapat

memberikan pengertian kepada pihak yang berkepentingan

sehingga hasil penelitian tersebut dapat digunakan sebaik-baiknya.

Disini juga ada saran yang membangun dan bermanfaat untuk

(27)

8 BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Motivasi Berprestasi 1. Pengertian motivasi belajar

Motivasi berasal dari kata inggris motivation yang berarti

dorongan, pengalasan dan motivasi. Motif sendiri adalah keadaan dalam

diri seseorang yang mendorong individu tersebut untuk melakukan

aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan

(Suryabrata, 1984). Winkel (1987) mengemukakan bahwa motif adalah

adanya pengerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktifitas-aktifitas

tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu pula. Jadi motivasi belajar

adalah keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang

menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar demi

mencapai satu tujuan.

Motivasi dapat dibedakan atas motivasi intrinsik dan motivasi

ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam

individu, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari

luar individu (Imron. A, 1996 : 93 ). Motivasi intrinsik bisa terjadi karena

tumbuh dari dalam diri individu sendiri karena dorongan untuk ingin maju.

Misalnya saja seorang mahasiswa kuliah harus belajar sendiri untuk

mendapatkan nilai yang bagus. Motivasi untuk belajar sendiri ini barasal

(28)

berasal dari luar individu misalnya individu tidak cepat lulus, karena

mendapat dorongan dari orang tua atau orang terdekat, individu mendapat

semangat untuk segera menyelesaikan kuliahnya.

Menurut Imron, A (1996 : 99) seorang dosen/pengajar he ndaknya

memperhatikan unsur- unsur yang memotivasi seseorang belajar yaitu

sebagai berikut :

a. Cita-cita atau aspirasi pembelajar

Seseorang yang bercita-cita menjadi ahli fisika, pada saat masih

sekolah tentu akan sangat menggemari mata pelajaran fisika. Meskipun

mata pelajaran ini termasuk sulit, ia akan termotivasi mempelajari

mata pelajaran fisika tersebut dibandingkan dengan mata pelajaran

yang lain.

Sebaliknya seseorang yang kebetulan berstatus mahasiswa dan

waktu sekolah bercita-cita ingin menjadi guru, tetapi kedua orang

tuannya mengharapkan dia untuk menggambil jurusan kedokteran.

Dapat dipastikan ia tidak akan termotivasi untuk belajar dijurusan

kedokteran karena tidak sesuai dengan cita-citanya.

b. Kemampuan pembelajar

Kemampuan pembelajar ini haruslah diperhatikan dalam proses

belajar pembelajaran. Kemampuan pembelajar erat hubungannya dan

bahkan mempengaruhi motivasi belajar seseorang. Seseorang menjadi

rendah motivasi belajarnya terhadap bidang tertentu oleh karena yang

(29)

c. Kondisi pembelajar

Kondisi pembelajar dapat dibedakan atas kondisi fisiknya dan

kondisi psikologisnya. Kita bisa melihat jelas jika kondisi fisik dalam

keadaan lelah umumnya motivasi belajar bisa meningkat. Dalam

kondisi psikologis terganggu, misalnya stres umumnya juga tidak bisa

mengkonsentrasikan diri terhadap hal- hal yang dipelajari. Karena tidak

konsentrasi, maka gairah belajar menurun dan tidak punya motivasi

dalam belajar.

d. Kondisi lingkungan belajar

Kondisi lingkungan belajar yang tidak mendukung seseorang

akan merubah motivasi dalam belajar. Lingkungan yang ramai, bising,

kotor merupakan kondisi lingkungan yang tidak mendukung seseorang

belajar, sedangkan lingkungan yang rapi, bersih, tenteram akan sangat

mendukung proses belajar seseorang.

e. Unsur-unsur dinamis belajar pemebelajaran

Unsur-unsur dinamis belajar pemebelajaran meliputi hal- hal

sebagai berikut :

a. Motivasi dan upaya memotivasi siswa dalam belajar

b. Bahan belajar dan upaya penyediaannya

c. Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya

d. Suasana belajar dan upaya pengembangannya

(30)

f. Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar

Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga dipengaruhi

terhadap motivasi belajar. Guru yang tinggi gairahnya dalam

membelajarkan pembelajar, menjadikan pembelajar juga bergairah

belajar. Guru yang sungguh-sungguh dalam membelajarkan

pembelajar, menjadikan tingginya motivasi belajar pembelajar.

2. Pengertian prestasi belajar

Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah

hasil yang dicapai (dari yang telah dilakukan atau dikerjakan). Menurut

Syah (1995 : 89) belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan

unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan

jenjang pendidikan. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari sesuatu

kerampilan yang telah dikembangkan dan dilakukan oleh mata pelajaran

yang lazimnya ditunjukan dengan tes atau angka nilai yang diberikan oleh

dosen atau pengajar. Muh Surya dan Muh Amin merumuskan faktor- faktor

yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu sebagai berikut :

a. Faktor internal

1) Faktor jasmaniah atau fisiologis baik yang bersifat bawaan atau

yang diperoleh dari perkembangan, terdiri atas pendengaran,

struktur tubuh, penginderaan dan sebagainya.

2) Faktor psikologis baik yang berasal dari bawaan atau yang

(31)

• Faktor intelektif yaitu meliputi faktor potensial seperti

kecerdasan, bakat dan kecakapan nyata (prestasi yang dimiliki).

• Faktor non intelektif yaitu unsur- unsur pribadi tertentu seperti

sikap, perasaan, kebiasaan, minat, motivasi, emosi dan

penyesuaian diri.

• Faktor kematangan yaitu fisik ataupun psikologis.

b. Faktor eksternal

1) Faktor sosial yang terdiri atas lingkungan

Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat,

lingkungan kelompok.

2) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi

dan kesenian

3) Faktor lingkungan fisik yaitu fasilitas belajar, lingkungan dan

sebagainya.

Jadi dapat disimpulkan motivasi berprestasi belajar adalah

keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan

kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan belajar demi hasil yang ingin

dicapai dari sesuatu ketrampilan yang telah dikembangkan.

B. Pengertian Sikap Mahasiswa terhadap Metode Mengajar 1. Pengertian sikap

Sikap dalam bahasa inggris disebut atitude menurut Ngalim

(32)

perangsang, suatu kecenderungan untuk bereksi dengan cara tertentu

terhadap perangsang atau situasi yang dihadapi. Menurut Ellis yang

dikutip Ngalim Purwanto (1991 : 141) mengatakan bahwa yang sangat

memegang peranan penting di dalam sikap adalah faktor perasaan atau

emosi dan faktor kedua reaksi atau respon atau kecenderungan untuk

bereaksi.

Menurut Winkel (1991 : 165), sikap adalah kecenderungan yang

relatif menatap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang

atau barang tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa

akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru

yang telah berubah terhadap suatu obyek, tata nilai dan sebagainya.

Adapun ciri-ciri sikap menurut Bimo Walgito (1987 : 55) :

a. Sikap adalah sesuatu yang tidak dibawa sejak lahir, ini berarti

bahwa manusia pada waktu lahir belum mempunyai suatu sikap

tertentu.

b. Sikap itu selalu ada karena ada hubungan antara individu dengan

obyek oleh karena itu sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam

hubungannya dengan obyek-obyek.

c. Sikap dapat tertuju kepada satu obyek saja, juga dapat kepada

sekumpulan obyek.

d. Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar.

(33)

Dengan demikian, sikap seseorang bukan bawaan dari lahir

melainkan terbentuk melalui perkembangan individu dan lingkungannya

atau dapat dikatakan sebagai hasil belajar. Selanjutnya Bimo Walgito

(1987 : 56) menjelaskan 2 faktor yang dapat menentukan pembentukan

dan perubahan sikap, yaitu :

a. Faktor dari diri sendiri dari dalam

Faktor dari diri sendiri yaitu mencakup hal- hal seperti taraf

iteligensi, daya kreativitas, kecepatan belajar, sikap terhadap tugas

belajar, perasaan dalam belajar, kondisi mental fisik.

b. Faktor dari luar individu

Faktor dari luar individu yaitu hal- hal atau kebiasaan-kebiasaan

yang ada di luar individu dan merupakan rangsangan untuk

membentuk dan merubah sikap.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap

merupakan aspek psikis dan mental yang membentuk pola pikir individu

itu akan berpengaruh pada setiap kegiatan dalam kehidupan sehari- hari,

baik itu di keluarga , kampus maupun masyarakat.

2. Pengertian metode mengajar

Metode secara harafiah berarti cara. Dalam pemakaian secara

umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara

melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep

secara sistematis. Menurut Syah yang mengutip pendapat Tardif (1995 :

(34)

melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian

materi pelajaran kepada siswa. Menurut Jusuf (1982 : 15-58) ragam

metode mengajar ada banyak, tetapi disini hanya akan dijelaskan lima

macam metode yang biasa digunakan oleh pengajar atau dosen di kelas

yaitu :

a. Metode Ceramah

Ceramah adalah sebuah metode mengajar yang paling klasik, tetapi

masih diakui orang di mana- mana hingga sekarang. Metode ceramah

ialah suatu cara penyampaian atau penyajian bahan pelajaran dengan

alat perantara berupa suara atau dapat pula dikatakan, suatu cara

penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Dalam hal ini guru biasanya

memberikan uraian mengenai topik tertentu di tempat tertentu dan

dengan lokasi waktu tertentu.

1) Kebaikan atau keuntungan penggunaan metode ceramah :

a) Biaya murah sekali karena media yang digunakan hanyalah

suara guru saja

b) Dapat menyajikan bahan pelajaran kepada sejumlah besar

murid dalam waktu yang sama

c) Mudah mengulangnya kembali bila diperlukan

d) Ceramah atau uraian guru yang dibawakan dengan baik dapat

menjadikan pokok pembicaraan menjadi menarik

e) Metode ceramah memberikan kesempatan, pengalaman kepada

(35)

f) Ceramah yang dipersiapkan dengan baik dan disajikan secara

sistematis dapat menghemat waktu belajar bagi murid

2) Kelemahan atau keburukan penggunaan metode ceramah :

a) Metode ceramah dapat menimbulkan verbalisme pada murid

b) Murid tidak memperoleh kesempatan berfikir melainkan hanya

mendengarkan dan mencatat saja

c) Besar sekali kemungkinan timbulnya salah paham dipihak

murid karena salah mengartikan uraian guru

d) Mendengarkan ceramah terus-menerus untuk waktu yang lama

dapat melelahkan dan membosankan murid

e) Metode ceramah memiliki kecenderungan untuk menjadikan

guru sebagai buku pelajaran

f) Murid tidak diberikan kesempatan lagi untuk berpartisipasi

dalam proses belajar

g) Metode ceramah tidak menyediakan sama sekali kesempatan

bagi murid untuk belajar dan berbuat

b. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara untuk menyampaikan atau

menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk pertanyaan dari guru yang

harus dijawab oleh murid.

1) Kebaikan atau keuntungan metode tanya jawab :

a) Pertanyaan yang membangkitkan minat sangat penting bagi

(36)

b) Pertanyaan ingatan yang meminta jawaban yang bersifat

reproduktif dapat memperkuat ingatan antara pertanyaan

dengan jawaban

c) Pertanyaan pikiran yang meminta jawaban yang harus

difikirkan, menafsirkan, menganalisa dan menarik kesimpulan,

dapat mengembangkan cara-cara berfikir logis dan sistematis

d) Pertanyaan dapat mengurangi proses lupa karena jawaban yang

diperoleh atau dikemukakan diolah dalam suasana yang serius

e) Jawaban yang salah segera dapat dikoreksi

f) Pertanyaan merangsang murid berfikir dan memusatkan

perhatian pada satu pokok perhatian

g) Pertanyaan dapat membangkitkan hasrat untuk melakukan

penyelidikan

h) Pertanyaan fakta atau problem dapat mengalahkan belajar

seperti yang dituju oleh suatu mata pelajaran

2) Keburukan atau kelemahan metode tanya jawab :

a) Murid dapat dicekam kekuatan atau panik selama tanya jawab

dilakukan

b) Tidak mungkin seluruh kelas dapat diberi giliran selama satu

jam pelajaran

c) Apabila giliran pertanyaan diberikan menurut urutan tempat

duduk, maka murid yang sudah mendapat giliran dan yang

(37)

ikut berfikir karena gilirannya masih jauh atau sudah lewat.

Jadi tidak seluruh kelas dapat ikut berpartisipasi

d) Apabila ada beberapa orang murid yang sudah tidak dapat

memberikan jawaban seperti yang diharapkan guru, maka itu

sudah berarti terbuangnya waktu yang tersedia untuk

pertanyaan-pertanyaan selanjutnya

e) Pertanyaan ingatan yang meminta jawaban yang bersifat

reproduktif dapat mengembangkan kebiasaan jawaban yang

bersifat mekanis (menjawab tanpa dipikirkan lagi) atau

jawaban yang bersifat verbalistis

f) Oleh karena jam pelajaran terbatas maka dari suatu pertanyaan

pikiranpun sukar diperoleh jawaban yang memuaskan

c. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu

ketertarikan pada satu topik atau pokok, pertanyaan atau problem di

mana para peserta diskusi dengan judul berusaha untuk mencapai atau

memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama

1) Kebaikan atau kelebihan metode diskusi :

a) Mendidik murid- murid untuk bertukar pikiran atau pendapat

b) Memberikan kesempatan kepada murid- murid untuk

(38)

c) Memberikan kesempatan kepada murid utnuk memperoleh

penjelasan-penjelasan dari berbagai sudut pandang atau

berbagai sumber data

d) Memberikan kesempatan kepada murid untuk latihan

berdiskusi di bawah asuhan guru

e) Merangsang murid untuk ikut mengemukakan pendapat

sendiri, menyetujui ataupun menentang pendapat

teman-temannya

f) Membina persaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat,

kesimpulan atau keputusan yang akan atau telah diambil

2) Keburukan atau kelemahan metode diskusi :

a) Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi

b) Diskusi yang mendalam memerlukan waktu yng banyak

c) Biasanya tidak semua murid secara berani menyatakan diri

untuk ikut mengemukakan pendapat

d) Pembicaraan dalam diskusi mungkin akan didominasi oleh

murid- murid yang berani dan telah biasa berbicara

e) Banyaknya murid disuatu kelas juga akan mempengaruhi

kesempatan bagi murid untuk mengemukakan pendapatnya

(39)

d. Metode Tugas

Metode tugas adalah cara mengajar yang dicirikan oleh adanya

kegiatan perencanaan antara murid dengan guru mengenai suatu

persoalan atau problem yang harus diselesaikan atau dikuasai oleh

murid dalam jangka waktu tertentu yang disepakati bersama antara

murid dan guru.

1) Kebaikan atau kelebihan metode tugas :

a) Tugas-tugas memiliki tujuan yang jelas

b) Tugas yang disesuaikan dengan perbedaan individual

c) Karena mamahami apa yang menjadi tugasnya, maka tugas

menjadi menarik minat

d) Memberikan tugas sama dengan memberikan pengalaman

bekerja kepada murid

e) Memberikan tugas sesuai dengan pilihan murid sama dengan

mendidik murid untuk belajar bertanggung jawab

f) Hubungan antara murid dengan guru tetap terpelihara dan

bersifat dua arah

2) Kebur ukan atau kelemahan metode tugas :

a) Pemberian tugas menyebabkan indahnya kegiatan murid dari

sekolah ke rumah

b) Sulit sekali bagi guru untuk mengawasi tugas-tugas yang

(40)

c) Terlampau sulit untuk memyesuaikan tugas dengan perbedaan

individu anak

d) Persaingan tidak sehat dapat saja muncul diantara murid

dengan murid maupun kelompok dengan kelompok

e) Murid- murid yang cerdas, aktif akan maju dengan pesat dalam

pelajaran, tetapi murid- murid yang kurang akan makin

tertinggal

f) Di dalam situasi pendidikan dan sosial ekonomi di mana

perlengkapan alat-alat pengejaran sangat kurang atau sukar

diperoleh, metode tugas tidak akan dapat dilaksanakan dengan

sempurna

e. Metode Sosiodrama atau Bermain Peran

Metode sosiodrama atau bermain peran adalah suatu metode mengajar

di mana guru memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan

kegiatan memainkan peran tertentu seperti yang terdapat dalam

kehidupan masyarakat (sosial).

1) Kebaikan atau kelebihan metode sosiodrama :

a) Murid belajar atau didik untuk memecahkan suatu problem

sosial menurut pendapatnya sendiri

b) Memperkaya murid dalam berbagai pengalaman situasi sosial

(41)

c) Memperkaya pengetahuan dan pengalaman semua murid

mengenai cara menghadapi dan memecahkan suatu problem

sosial yang diperoleh dari hasil diskusi

d) Murid- murid yang meminkan peranan memperoleh kesempatan

untuk belajar mengekspresikan penghayatan mereka mengenai

suatu problem di depan orang banyak

e) Menanamkan dan memupuk keberanian untuk tampil de depan

umum atau orang banyak tanpa kehilangan keseimbangan

pribadi

f) Belajar menerima pendapat orang lain

2) Keburukan atau kelemahan metode sosiodrama:

a) Rasa malu yang timbul karena ditonton oleh orang lain dan rasa

takut dalam mengambil keputusan akan menghambat bagi

kewajaran bertingkah laku selama memainkan suatu lakon

b) Kekurangan dalam pengalaman menghadapi situasi-situasi

sosial yang berisi problem-problem dapat menimbulkan sikap

ragu-ragu dalam menentukan langkah atau tindakan atau

keputusan yang harus dilakukan

c) Keterbatasan waktu yang disediakan untuk memainkan suatu

peranan tidak akan memberikan kesempatan yang cukup

kepada para pemeran untuk menentukan langkah- langkahnya

(42)

Jadi dapat disimpulkan definisi sikap mahasiswa terhadap metode

mengajar adalah kecenderungan yang relatif menatap untuk bereaksi

dengan cara baik atau buruk terhadap cara yang berisi prosedur baku untuk

melaksanakan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran

kepada siswa.

C. Pengertian Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar adalah merupakan faktor eksternal yang

mempengaruhi belajar. Menurut Imron (1996 : 103) lingkungan belajar

meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah

tempat di mana pembelajaran tersebut belajar. Misalkan lingkungan yang

bising akan mempengaruhi seseorang dalam proses belajar, sebaliknya jika

belajar di tempat yang tenang, rapi akan membantu individu untuk

bersemangat dalam belajar. Sedangkan lingkungan sosial adalah suatu

lingkungan seseorang dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya saja yang

termasuk lingkungan sosial ini adalah lingkungan sebaya, lingkungan

kelompok belajar dan kelompok sepermainan. Hal ini jika seseorang berada di

lingkungan bersama dengan teman-teman yang rajin, ia akan ikut rajin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar yang berpengaruh

terhadap prestasi belajar dalam lingkungan keluarga menurut (Roestiyah,

(43)

a. Cara mendidik

Orang tua yang memanjakan anaknya, maka setelah anak sekolah akan

menjadi siswa yang kurang bertanggung jawab dan takut menghadapi

tantangan kesulitan. Juga orang tua yang mendidik anaknya secara

keras, anak akan mengalami ketakutan.

b. Suasana keluarga

Hubungan anatara keluarga yang kurang intim menimbulkan suasana

yang kaku, tegang, kurang komunikatif di dalam keluarga. Hal ini

menyebabkan anak kurang semangat dalam belajar. Untuk itu dalam

keluarga yang menyenangkan, akrab, dan penuh kasih sayang, anak

akan termotivasi yang mendalam pada anak dalam hal belajar.

c. Pengertian orang tua

Anak belajar perlu dorongan dan pengertian dari orang tua. Bila anak

sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah.

Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi

pengertian dan dorongannya, membantu sedapat mungkin kesulitan

yang dialami anak di sekolah. Kalau perlu menghubungi gurunya untu

mengetahui perkembangan anaknya

d. Keadaaan sosial ekonomi keluarga

Anak belajar memerlukan sarana-sarana dalam menunjang belajar

yang kadang-kadang harganya mahal. Bila keadaan ekonomi keluarga

yang tidak memungkinkan hal ini menjadi penghambat anak dalam

(44)

ini anak tidak akan mengalami kendala-kendala dalam belajar

sehingga anak akan dapat belajar dengan senang.

e. Latar belakang kebudayaan

Hal ini dimaksudkan adalah tingkat pendidikan dan kebiasaan di

dalam keluarga akan mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Oleh

karena itu anak perlu ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik

supaya dapat mendorong semangat anak dalam belajar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa di kelas menurut

(Roestiyah, 1982:159-162) adalah sebagai berikut:

a. Interaksi guru dan murid

Guru yang kurang berinteraksi dengan murid secara menyeluruh akan

menyebabkan proses belajar mengajar di kelas kurang lancar. Hal ini

juga siswa akan merasa jauh dengan gurunya karena disebabkan

komunikasi guru dengan muridnya kurang baik, sehingga siswa akan

kurang berpartisipasi secara aktif dalam belajarnya.

b. Cara penyajian

Guru yang lama biasanya mengajar dengan metode ceramah saja,

sehingga siswa akan mengalami bosan, kurang simpatik, pasif,

kurang semangat. Untuk itu seorang guru harus memiliki

alternatif-alternatif yang lain yang dapat meningkatkan kegiatan belajar

mengajar dan memotivasi siswa untuk memiliki semangat belajar

sebagai berikut: guru mampu menjelaskan berbagai informasi secara

(45)

memonitoring dan mendatangi siswa, melibatkan siswa secara aktif

dalam proses belajar-mengajar di kelas.

c. Hubunga n antar murid

Hubungan antar murid sangat penting dalam mendukung kegiatan

belajar mengajar di kelas. Untuk itu diperlukan suasana kelas yang

kondusif dari antara murid supaya dapat belajar bersama-sama dan

dapat mewujudkan suasana yang tenang, tenteram dan dapat hidup

bergotong-royong dalam belajar bersama di kelas maupun diluar

kelas.

d. Media pendidikan

Siswa sangat memerlukan alat-alat yang membantu memperlancar

proses belajar mengajar di sekolah seperti buku-buku yang ada di

perpustakaan, laboratorium, OHP (Overhead Projector) dan

sebagainya. Kebanyakan sekolah-sekolah yang kurang memiliki

media pendidikan menyebabkan kualitas sekolah juga kurang

berkualitas.

e. Kurikulum

Kurikulum dalam arti luas adalah program pendidikan nasional,

program kerja sekolah, silabi untuk masing- masing bidang studi,

petunjuk pelaksanaan pengajaran dan evaluasi belajar. Pengetian

dalam arti yang lebih terbatas yaitu program kerja sekolah dan

silabus pengajaran untuk masing- masing bidang studi (Winkel

(46)

f. Waktu sekolah

Dalam melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah dalam

waktu yang efektif untuk belajar sebaiknya dimulai pada pagi hari,

dimana pikiran anak masih segar dan kondisi anak masih baik. Selain

itu anak diberi jam untuk istirahat agar dapat memulihkan pikiran dan

tenaganya kembali.

g. Pelaksanaan disiplin

Banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin masih kurang

sehingga mempengaruhi anak dalam belajar. Sekolah kurang memilki

rasa tanggung jawab terhadap tata tertib yang ada disekolah. Untuk

itu pihak sekolah harus mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan

sekolah agar ditaati oleh para siswa dan memiliki rasa disiplin yang

kuat.

h. Keadaan gedung

Sebaiknya sekolah dalam pembangunan gedung harus memenuhi

syarat-syarat sekolah yang baik seperti luas kelas yang cukup agar

dalam proses belajar mengajar di kelas nyaman.

i. Metode belajar

Banyak metode belajar yang digunakan di kelas dalam

menyampaikan materi pelajaran terhadap para siswa. Supaya

mengena dalam proses belajar- mengajar, maka metode pembelajaran

perlu dipilih dengan tepat dan bervariasi. Tidak semua metode

(47)

itu dalam proses belajar belajar- mengajar dalam kelas. Seorang guru

harus dapat menggunakan metode belajar yang tepat dan bervariatif

supaya siswa dapat belajar dengan semangat dan tidak

membosankan, dapat berperan aktif dalam proses belajar di kelas.

Metode belajar yang lazim dipakai di sekolah sebagi berikut: metode

ceramah, metode demontrasi, metode diskusi, metode kelompok,

metode studi kasus, metode permainan dan sebagainya (Davies

1987:233-247).

j. Tugas rumah

Guru memberikan tugas di rumah kepada muridnya tujuannya adalah

agar murid dapat belajar mandiri di rumah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa di lingkungan

masyarakat menurut (Roestiyah, 1982:159-162) adalah sebagai berikut:

a. Mass Media

Banyak bacaan berupa buku-buku, novel, majalah yang kurang

dipertanggungjawabkan secara pendidikan kadang-kadang membuat

anak asyik membaca buku bukan buku pelajaran sehingga anak akan

lupa tugas belajarnya. Selain itu semakin maraknya perkembangan

teknologi yang semakin modern seperti televisi, radio, internet yang

kurang menguntungkan dalam dunia pendidikan membuat anak

(48)

b. Teman bergaul

Anak memang perlu bergaul dengan anak yang lain di lingkungan

masyarakat sekitar untuk mengembangkan sosialisasinya tetapi dalam

pergaulannya perlu di jaga supaya dalam pergaulan dengan temannya

dapat membatasi dan mengontrol dengan siapa mereka bergaul

sehingga tidak mengganggu kegiatan lain.

c. Kegiatan lain

Disamping belajar dirumah anak mempunyai kegiatan-kegiatan di luar

sekolah seperti olah raga, bermain drama, kumpul bersama

teman-teman dan sebagainya. Hal itu perlu diawasi dan dibatasi agar jangan

sampai anak melupakan kewajiban untuk belajar.

d. Cara hidup lingkungan

Cara hidup bertetangga di sekitar rumah dimana anak itu tinggal, besar

pengaruhnya pada pertumbuhan anak, misalnya di lingkungan sekitar

memiliki jam belajar maka secara otomatis anak tersebut akan dapat

belajar sesuai jam belajar masyarakat. Selain itu di lingkungan yang

dapat mendukung anak rajin belajar maka anak tersebut memiliki

kesadaran untuk belajar sendiri.

Jadi dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar adalah keadaan yang

berada disekitar individu baik lingkungan kost-kostan/ rumah, lingkungan

(49)

D. Kerangka Berfikir

1. Hubungan antara sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi

Metode mengajar ialah cara yang berisi prosedur baku untuk

melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian

materi pelajaran kepada siswa. Metode mengajar yang digunakan dosen

untuk menyampaikan materi perkuliahan sangat diharapkan dapat

memotivasi mahasiswa dalam belajar di kelas. Metode mengajar yang

digunakan harus sesuai dengan materi yang diajarkan, sehingga prestasi

belajar mahasiswa akan menjadi lebih maksimal. Metode mengajar yang

bervariasi membuat mahasiswa tidak jenuh dalam mengikuti perkuliahan

akuntansi. Metode belajar yang lazim dipakai di sekolah sebagai berikut:

metode ceramah, metode demontrasi, metode diskusi, metode kelompok,

metode studi kasus, metode permainan dan sebagainya. Sikap mahasiswa

terhadap metode mengajar dosen dapat mengubah motivasi mahasiswa

dalam belajar di kelas, karena sikap adalah kecenderungan yang relatif

menatap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau

barang tertentu. Faktor dari diri sendiri seperti taraf iteligensi, daya

kreativitas, kecepatan belajar, sikap terhadap tugas belajar, perasaan dalam

belajar, kondisi mental fisik dapat mempengaruhi mereka dalam belajar.

Mahasiswa akan bersikap cuek terhadap mata kuliah yang menggunakan

metode belajar yang monoton. Faktor dari luar individu yaitu hal- hal atau

(50)

untuk membentuk dan merubah sikap. Mahasiswa selalu bersikap

ogah-ogahan kalau dosen hanya menerangkan materi saja, mereka akan ngobrol

dengan teman sebangku atau mungkin juga tidur di kelas. Dosen

mengharapkan mahasiswanya dapat mengikuti perkuliahan dengan baik.

Mahasiswa juga akan mengikuti perkuliahan dan bisa menerima materi

dengan baik, jika dalam penyampaian materi yang menarik. Mahasiswa

tidak akan bosan, karena mahasiswa akan termotivasi dengan

penyampaian materi yang menarik.

Hipotesis : Ada hubungan antara sikap mahasiswa dengan metode

mengajar dosen dengan motivasi berprestasi belajar

mahasiswa.

2. Hubungan antara lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi belajar akuntansi

Lingkungan belajar adalah keadaan yang berada disekitar individu baik

lingkungan kost-kostan/rumah, lingkungan kampus maupun lingkungan

masyarakat. Lingkungan belajar meliputi lingkungan fisik dan non fisik.

Lingkungan belajar baik di kampus, di masyarakat ataupun di keluarga

atau kost-kostan, sangat diharapkan dapat memotivasi mahasiswa dalam

belajar. Suasana keluarga yang berantakan, kotor, sempit dan tempat

tinggal yang tidak mendukung adalah lingkungan fisik yang membuat

mahasiswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar di rumah. Misalkan

saja tempat belajar untuk bersama, tempat belajar yang bising, dan bisa

(51)

belajar seseorang. Untuk meningkatkan motivasi belajar, seorang

mahasiswa harus mempunyai kemauan serta dukungan orang terdekat

seperti orang tua, teman dekat ataupun sahabat.

Lingkungan kampus akan menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, hal

ini karena kampus adalah tempat untuk belajar. Seorang mahasiswa akan

merasa nyaman belajar di kampus jika suasana kampus mendukung

mereka untuk belajar di sana. Lingkungan kampus yang kotor, ramai dan

bertemu dengan teman-teman kampus bisa membuat mahasiswa tidak

termotivasi untuk belajar di kampus. Karena mereka hanya akan

mengobrol dengan teman pergaulan di kampus. Hal ini berbeda jika kita

belajar di perpustakaan, karena perpustakaan adalah tempat kedua yang

nyaman untuk belajar, namun kebayakan mahasiswa hanya akan datang ke

perpustakaan apabila mendapat tugas dan mengerjakan skripsi saja.

Lingkungan masyarakat juga sangat diharapkan dapat menambah motivasi

mahasiswa untuk belajar. Dalam hal ini masyarakat sudah menetapkan

adanya jam-jam tertentu untuk pelajar. Dengan adanya peraturan ini dapat

membantu pelajar untuk belajar pada jam-jam tersebut. Namun, jika tidak

didukung orang tua dan lingkungan seseorang tidak akan termotivasi

untuk belajar, karena mereka hanya akan belajar pada saat akan ujian saja.

Hipotesis : Ada hubungan antara lingkungan belajar mahasiswa dengan

(52)

33 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka penelitian ini termasuk dalam

penelitian :

1. Penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang terbatas pada usaha

mengungkapkan maksud dan keadaan sebagaimana adanya hanya bersifat

sekedar mengungkapkan fakta.

2. Studi kasus, yaitu penelitian terhadap subyek tertentu dengan cara

mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan subyek penelitian dan

kesimpulan hanya berlaku pada tempat yang diteliti.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian akan dilakukan di Program Studi Pendidikan Akuntansi

Angkatan 2004 dan 2005 di Universitas Sanata Dharma.

2. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2007

C. Subyek dan Obyek Penelitian

1. Subyek penelitian adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan

(53)

Akuntansi 1 dan Akuntansi Keuangan Menengah 1 Universitas Sanata

Dharma.

2. Obyek Penelitian adalah sikap mahasiswa terhadap metode mengajar

dosen dan lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi

belajar akuntansi.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis ciri-cirinya akan

diduga. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi

pendidikan akuntansi angkatan 2004 dan 2005 sebanyak 177 mahasiswa.

2. Sampel

Sampel adalah kelompok kecil yang kita amati (Sevilia Consuelo, 1993 :

160). Penarikan sampel menggunakan Sampling Eksidental, yaitu teknik

penentuan sampel berdasarkan kebetulan. Menurut Consuelo rumusnya

sebagai berikut : Populasi (N)= 177, batas kesalahan yang diinginkan (Ne

(54)

Sisa responden dari mahasiswa PAK angkatan 2004 dan 2005 sebanyak

(177-165) = 12 responden. Sehingga 12 responden tersebut digunakan

untuk pengujian validitas dan kekurangannya mengambil mahasiswa PAK

angkatan 2003 sebanyak 19 responden. Dengan demikian total responden

untuk pengujian validitas dan reliabilitas = 31 responden.

E. Variabel Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah obyek penelitian yang bervariasi atau apa yang

menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini ada 3

variabel yaitu variabel bebas (Independen Variabel), yang meliputi sikap

mahasiswa terhadap metode mengajar dosen (X1) dan lingkungan belajar

mahasiswa (X2). Variabel terikat (Dependent Variabel) adalah motivasi

berprestasi belajar akuntansi (Y).

2. Pengukuran Variabel

a. Sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen

Pengukuran variabel sikap mahasiswa terhadap metode mengajar

dosen menggunakan pernyataan yaitu Sangat Senang (SS), Senang (S),

(55)

Beriku kisi-kisi kuesioner untuk variabel metode mengajar dosen :

Tabel 3.1

Operasional Variabel Sikap Mahasiswa terhadap Metode Mengajar dosen

No Indikator Item Positif Item Negatif

1 Metode Ceramah 1

Masing- masing pernyataan selanjutnya dinyatakan dalam 4 skala

pendapat sebagai berikut :

Pertanyaan Positif Pertanyaan Negatif Sangat Senang

b. Lingkungan belajar mahasiswa

Pengukuran variabel kondisi lingkungan belajar mahasiswa dalam

penelitian ini meliputi lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga

(56)

Beriku kisi-kisi kuesioner untuk variabel metode mengajar dosen :

Tabel 3.2

Operasional Variabel Lingkungan Belajar Mahasiswa

No Indikator Uraian No Item.

a. Cara orang tua mendidik

b. Suasana keluarga

c. Pengertian orang tua

d. Tempat belajar

a. Interaksi mahasiswa dengan

mahasiswa

b. Hubungan antara dosen

dengan mahasiswa

c. Keadaan kampus

a. Mass media

b. Teman bergaul

c. Lingkungan di masyarakat

2

c. Motivasi berprestasi belajar akuntansi

Pengukuran variabel motivasi berprestasi belajar akuntansi

menggunakan pernyataan Selalu, Sering, Terkadang dan Tidak Pernah.

Tabel 3.3

Operasional Variabel Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi

No Indikator Item Positif Item Negatif

1 Motivasi dengan sikap

mahasiswa terhadap metode

mengajar akuntansi

2,3,8,12 14

2 Motivasi dengan lingkungan

belajar mahasiswa

5,7,15 6

(57)

Masing- masing pertanyaan selanjutnya dinyatakan dalam 4 skala

pendapat sebagai berikut :

Pertanyaan Positif Pertanyaan Negatif Selalu

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Kuesioner

Kuesioner adalah merupakan sejumlah daftar pertanyaan yang diberikan

kepada responden untuk diisi sesuai dengan keadaan responden

(Suharsimi, 2006 : 151). Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data

tentang sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen dan lingkungan

belajar mehasiswa terhadap prestasi belajar akuntansi.

2. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan data yang berdasarkan pada catatan tentang suatu

subyek yang dilakukan individu/lembaga (Suharsimi, 2006 : 158). Metode

ini diperlukan untuk mendapatkan data-data untuk melengkapi data-data

(58)

G. Uji Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini akan digunakan 3 macam kuesioner yang

mencakup sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen dan lingkungan

belajar mahasiswa dengan motivasi berprestasi belajar akuntans i. Untuk

memastikan bahwa item- item kuesioner sahih dan handal, maka akan

dilakukan di luar mahasiswa yang menjadi sampel penelitian ini.

1. Pengujian Validitas

Validitas adalah menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur itu

mengukur apa yang ingin diukur (Masri Singarimbun, 1989 : 124). Dalam

penelelitian ini pengujian validitas menggunakan rumus r Product

Moment. Pengujian validitas yang akan diuji hanya dibatasi pada

penyusunan skala sikap dengan rumus sebagai berkut :

rxy =

( )( )

rxy = koefisien korelasi antara X dan Y

ΣX = jumlah skor X

ΣY = jumlah skor Y

ΣXY = jumlah hasil kali antara X dan Y N = banyaknya sampel yang diuji

ΣX2 = jumlah kuadrat nilai X

ΣY2 = jumlah kuadrat nilai Y

Untuk mengetahui apakah instrumen penelitian tersebut valid atau tidak,

maka ketentuannya sebagai berikut :

a. Jika rhitung > rtabel dengan taraf keyakinan 95 % maka instrumen

(59)

b. Jika rhitung < rtabel dengan taraf keyakinan 95 % maka instrumen

penelitian dikatakan tidak valid.

Hasil pengujian validitas dengan komputasi melalui program SPSS 11.5.

Dari hasil korelasi product moment tidak menemukan butir pertanyaan

yang memiliki koefisien korelasi lebih kecil dari nilai r tabel sebesar 0,367

(df=29,α=5%) pada kelompok pertanyaan sikap mahasiswa terhadap

metode mengajar dosen dan lingkungan belajar mahasiswa dengan

motivasi berprestasi belajar akuntansi, sehingga semua butir pertanyaan

dalam kuesioner dinyatakan valid.

Tabel 3.4

(60)

2. Pengujian Reliabilitas

Pengujian reliabilitas adalah indeks yang menunjukan sejauh mana

suatu alat pengukur. Uji reliabilitas menggunakan sistem konsistensi

internal belah dua dengan rumus Alpha Cronbach. Pengujian reliabilitas

didasarkan pada rumus Alpha Cronbach. Dengan rumus sebagai berikut

(Sugiyono, 2000 : 282) :

K ∑σb2 r11 = 1 - (k – 1) σ12 Dimana :

K = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

r11 = koefisien reliabilitas

∑σb2 = jumlah varian butir

σ12 = varian total

Reliabilitas instrumen pada penelitian ini menggunakan teknik

Alpha Cronbach. Jika koefisien alpha > dari rtabel dengan taraf signifikan

5%, maka instrumen penelitian tersebut reliabel (dapat dipercaya).

Sebaliknya alpha < dari rtabel dengan taraf signifikan 5%, maka instrumen

penelitian tersebut reliabel.

Hasil pengujian reliabilitas mendapatkan koefisien alpha sebesar

0.8524 pada koesioner sikap mahasiswa terhadap metode mengajar dosen,

sebesar 0.8149 pada koesioner lingkungan belajar mahasiswa, dan sebesar

0.8428 pada koesioner motivasi berprestasi belajar akuntansi. Ketiganya

memiliki koefisien alpha lebih dari r tabel sebesar 0.367 (df=29,α=5%)

(61)

Tabel 3.5

Hasil Uji Reliabilitas Instrumen No Variabel Koefisien

Alpha

r- tabel

(df=29,α=5%)

Ket

1 Sikap Mahasiswa 0.8524 0.367 Reliabel

2 Lingkungan Belajar 0.8149 0.367 Reliabel

3 Motivasi Berprestasi 0.8428 0.367 Reliabel

H. Teknik Analisis Data 1. Deskripsi Data

Untuk mendeskripsikan sikap mahasiswa terhadap metode

mengajar dosen dan lingkungan belajar mahasiswa dengan motivasi

berprestasi belajar akuntansi yang menggunakan pengujian statistik

deskriptif (Sugiyono, 1991).

2. Uji Normalitas

Pengujian normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah data

berdistribusi normal atau tidak. Apabila data yang tidak terjaring

berdistribusi normal, maka analisis untuk menguji hipotesis dapat

dilakukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudjana bahwa asumsi

normalitas perlu dicek kebenarannya agar langkah- langkah selanjutnya

dapat dipertanggungjawabkan (Sudjana, 1996 : 291). Dalam uji normalitas

ini digunakan rumus Kolmogorov Smirnov yaitu pengujian yang

(62)

metode mengajar dosen dan lingkungan belajar mahasiswa dengan

motivasi berprestasi belajar akuntansi:

D = maksimum Fo

(

XSn

( )

X

)

Keterangan:

D : Deviasi maksimum

Fo(X) : Fungsi distribusi kumulatif yang ditentukan

Sn(X) : Distribusi frekuensi kumulatif yang diobservasi

Uji ini dapat menggunakan ketentuan sebagai berikut:

- Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi populasi normal.

- Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi populasi tidak normal.

Jika nilai αhitung untuk tiap-tiap variabel penelitian ini dibawah

α=0.05 maka distribusi data tersebut adalah tidak normal. Jika

masing-masing variabel mempunyai nilai di atas 0.05 maka dapat disimpulkan

bahwa variabel penelitian berdistribusi normal.

3. Uji Hipotesis

Analisis korelasi rank dari Spearman atau korelasi tata jenjeng,

digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan sekaligus terkait

dengan hipotesisi pertama dan kedua. Penulis menggunakan teknik

koefisien korelasi rank dari spearman (Arikunto, 2006 : 278) dengan

rumus sebagai berikut :

(63)

Keterangan :

di : perbedaan dalam rank yang diberikan kepada 2 karakteristik yang

berbeda dari individu atau fenomena ke i

n : banyaknya individu/fenomena yang diberi rank

Rumusan hipotesisnya :

Ho : tidak ada hubungan antara (korelasi) antara variabel X dan

variabel Y atau angka korelasi 0

Ha : ada hubungan antara (korelasi) antara variabel X dan

variabel Y atau angka korelasi 0

Uji korelasi tata jenjang ini menggunakan SPSS 11.5. Arah korelasi

dinyatakan dalam tanda + (plus) dan – (minus). Tanda + menurunkan

adanya korelasi sejajar searah dan tanda – menunjukan korelasi sejajar

berlawanan arah (Arikunto, 2006 : 279).

Korelasi + : ”makin tinggi nilai X, makin tinggi nilai Y” atau

”kenaikan nilai X diikuti kenaikan nilai Y”

Korelasi - : ”makin tinggi nilai X, makin rendah nilai Y” atau

”kenaikan nilai X diikuti penurunan nilai Y”

Ada tidaknya korelasi, dinyatakan dalam rangka angka pada indeks.

Betapapun kecilnya indeks korelasi, dapat diartikan bahwa antara kedua

variabel yang dikorelasikan, terdapat adanya korelasi. Makin besar angka

dalam indeks korelasi, semakin tinggi korelasi kedua variabel yang

(64)

Dengan anggapan bahwa koefisien korelasi rank sebenarnya s (= Rho s),

akan sebesar nol dengan tingkat signifikansi 5%, dapat diuji dengan

membandingkan angka probabilitas yang didapat dari hasil komputasi

dengan taraf signifikansi. Apabila angka probabilitas signifikan dibawah

0.05, maka Ho ditolak atau sebenarnya ada hubungan antara variabel X

(65)

46 BAB IV

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

A. Dari PTG ke Universitas

Pada tahun 1955 didirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG)

Sanata Dharma dan mulai bulan November 1958 pemerintah mengubah nama

PTPG Sanata Dharma menjadi FKIP dengan alasan PTPG bukanlah nama

suatu instansi perguruan tinggi. Berkaitan dengan hal itu, nama PTPG Sanata

Dharma berganti menjadi FKIP Sanata Dharma. Namun muncul persoalan “

mana Universitasnya? ”, guna mengatasi persoalan itu muncul gagasan untuk

membentuk Universitas Katolik Indonesia demi “ melindungi ” FKIP Sanata

Dharma. Namun universitas tersebut tidak berwujud dan FKIP Sanata Dharma

tetap berjalan.

Antara tahun 1960-1966 bidang pendidikan ditangani oleh dua

kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (P&K)

serta Kementerian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) dan FKIP

berada di bawah PTIP. Setelah itu P&K mendir ikan Institut Pendidikan Guru

(IPG) sehingga terjadilah dua lisme. Guna mengatasi hal tersebut Presiden

Suekarno membentuk FKIP yang merupakan gabungan dari FKIP dan IPG.

Dengan demikian mulai tanggal 1 September 1965, berdasarkan SK No.

237/bswt/u/1965, FKIP Sanata Dharma mengganti nama FKIP Sanata

Figur

Gambar 5.3 Grafik Sebaran Klasifikasi Motivasi Berprestasi Belajar
Gambar 5 3 Grafik Sebaran Klasifikasi Motivasi Berprestasi Belajar . View in document p.18
Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.55
Tabel 3.3 Operasional Variabel Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi
Tabel 3 3 Operasional Variabel Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi . View in document p.56
Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen
Tabel 3 4 Hasil Uji Validitas Instrumen . View in document p.59
Tabel 3.5
Tabel 3 5 . View in document p.61
 Tabel 5.1 Sebaran klasifikasi
Tabel 5 1 Sebaran klasifikasi . View in document p.71
Gambar 5.1  Sebaran Klasifikasi Sikap Mahasiswa Terhadap Metode
Gambar 5 1 Sebaran Klasifikasi Sikap Mahasiswa Terhadap Metode . View in document p.72
Tabel 5.2 Sebaran klasifikasi
Tabel 5 2 Sebaran klasifikasi . View in document p.73
Gambar 5.2  Sebaran Klasifikasi Lingkungan Belajar Mahasiswa
Gambar 5 2 Sebaran Klasifikasi Lingkungan Belajar Mahasiswa . View in document p.74
Tabel 5.3 Sebaran klasifikasi
Tabel 5 3 Sebaran klasifikasi . View in document p.75
Gambar 5.2  Sebaran Klasifikasi Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi
Gambar 5 2 Sebaran Klasifikasi Motivasi Berprestasi Belajar Akuntansi . View in document p.76
Tabel 5.4 Hasil Pengujian Normalitas
Tabel 5 4 Hasil Pengujian Normalitas . View in document p.77

Referensi

Memperbarui...