PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA
TAHUN 1917
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Sejarah
Oleh:
Kristien Kurniawati Basuki
NIM : 031314012
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
MOTTO
“Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia,
Sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan”
(AMSAL 13 : 4)
“Apa yang terlalu sukar bagimu jangan kau cari, dan
Apa yang melampaui kemampuanmu jangan kau selidiki”
(SIRAKH 3 : 21)
“Kuatkanlah tangan yang lemah lesu
Dan teguhkanlah lutut yang goyah”
v
PERSEMBAHAN
Karya kecil ini kupersembahkan teruntuk :
Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa mendampingi, melindungi dan
selalu memberikan segala hal yang terbaik dalam setiap langkah
hidupku
Bunda Maria yang sungguh baik hati
Kedua orang tuaku yang tercinta,
(Bpk.Laurensius Slamet Basuki dan Ibu Maria Magdalena Triyogani)
Mbak Ika dan Nanda
Nenekku tercinta ( † Kristina Rudailah)
viii
ABSTRAK
PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 Oleh : Kristien Kurniawati Basuki
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis : (1) Lenin dan perannya dalam Revolusi Rusia tahun 1917, (2) latar belakang dan proses terjadinya Revolusi Rusia tahun 1917, (3) dampak Revolusi Rusia tahun 1917 bagi kekaisaran Rusia dan Eropa.
Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode sejarah. Data yang digunakan berasal dari studi pustaka berupa buku-buku sejarah yang mendukung penulisan skripsi ini. Sumber-sumber yang telah diperoleh dianalisis, sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang diajukan. Sedangkan metode penulisan yang digunakan adalah Deskriptif Analitis, yaitu suatu metode penulisan sejarah yang membutuhkan landasan teori atau kerangka konseptual.
ix
ABSTRACT
LENIN’S ROLE IN RUSSIAN REVOLUTION IN 1917
By: Kristien Kurniawati Basuki
The purpose of this paper is to give a description and analysis of: (!) Lenin and his role in Russian Revolution in 1917, (2) the background and the process of Russian Revolution in 1917, (3) the impact of the Russian revolution in 1917 on the Russian Empire and Europe.
The method applied in this writing is a historical method. Data taken from library study of history books. The available data then were analyzed, in order to answer the problems proposed. The writing method of this study was a descriptive analytical method, it is a history writing method which needs a basic theory or a conceptual framework.
x
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat,
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas akhir untuk memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak, karena ini pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan bantuan
kepada penulis selama penulis menyelesaikan studi di Universitas Sanata
Dharma.
2. Ketua Program Pendidikan Sejarah Universitas Sanat Dharma yang telah
memberikan nasehat dan izin kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan ini.
3.Bapak Drs. Sutarjo Adisusilo. J. R, S. Th, selaku pembimbing yang dengan
penuh kesabaran dan perhatian membimbing, serta memberi banyak saran,
masukan dan pemikiran.
4.Bapak Drs. A. K. Wiharyanto, M. M dan bapak drs. Y. R. Subakti, M. Pd,
selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan sarannya yang
bermanfaat bagi penulis.
5.Seluruh dosen Program Pendidikan Sejarah dan pihak sekretariat Pendidikan
xi
dukungan serta bimbingan dan bantuan selama penulis menyelesaikan studi di
Universitas Sanata Dharma.
6.Staf UPT Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan
pelayanan kepada penulis dalam mendapatkan sumber sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
7.Kedua orang tua penulis, Bapak Laurensius Slamet Basuki dan Ibu maria
Magdalena Triyogani yang telah memberikan dorongan spiritual maupun
material sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di Universitas Sanata
Dharma, serta mbak Ika, mas Sigit, Nanda, Ratna dan keponakanku Bagas
Surya Saputra tercinta terima kasih untuk dukungannya.
8.Semua teman-teman dan sahabat-sahabatku Hellen, Lussy, Siska, Icha, mbak
Yay, Titin, Nova, Budi, Anton, Dina, Githa, Tata, Yudhita, Ika, mas Njoo, mas
Edi atas curhat-curhatnya dan bantuannya.
9.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang turut membantu
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa segala sesuatu tiada yang sempurna.
Demikian juga skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu segala kritik dan
saran yang membangun penulis terima dengan terbuka. Penulis berharap semoga
skripsi ini berguna bagi para pembaca pada umumnya dan bagi penyusun.
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 10
D. Tinjauan Pustaka ... 11
E. Landasan Teori ... 16
F. Hipotesis ... 36
G. Metodelogi Penelitian ... 37
H. Sistematis Penulisan ... 44
BAB II : LENIN DAN PERANNYA DALAM REVOLUSI RUSIA 1917 ... 46
A. Situasi Rusia Menjelang Revolusi ... 48
B. Riwayat Hidup Lenin ... 55
C. Awal Menjadi Revolusioner ... 61
D. Pemikiran-pemikiran Lenin ... 69
xiii
F. Peranan Lenin Dalam Revolusi Rusia Tahun 1917 ... 93
BAB III : LATAR BELAKANG DAN PROSES TERJADINYA REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 ... 106
A. Latar Belakang Terjadinya Revolusi Rusia Tahun 1917 ... 108
1. Faktor Politik ... 108
2. Faktor Sosial ... 118
3. Faktor Ekonomi ... 129
B. Proses Terjadinya Revolusi Rusia Tahun 1917 ... 133
1. Revolusi Februari 1917 ... 137
2. Revolusi Oktober 1917 ... 143
3. Terbentuknya USSR ... 153
BAB IV : DAMPAK REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 ... 160
A. Dampak Revolusi Rusia Tahun 1917 Terhadap Kekaisaran Rusia ... 161
1. Sistem Politik ... 161
2. Sistem Sosial ... 168
3. Sistem Ekonomi ... 171
4. Sistem Budaya ... 176
B. Dampak Revolusi Rusia Tahun 1917 Terhadap Eropa ... 182
1. Sistem Sosial ... 183
2. Sistem Politik... 186
BAB V : KESIMPULAN ... 189
DAFTAR PUSTAKA ... 191
LAMPIRAN ... 198
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Vladimir Illyich Lenin ... 198
Lampiran 2 : Skema Pemikiran Lenin ... 199
Lampiran 3 : Partai-partai Politik Menjelang Revolusi ... 200
Lampiran 4 : Manifesto Perang Rusia terhadap Jepang yang Dikeluarkan Oleh Tsar Nikholas II ... 201
Lampiran 5 : Lapisan Masyarakat Rusia Abad XVIII ... 202
Lampiran 6 : Peta Kekaisaran Rusia Sebelum Tahun 1914 ... 203
Lampiran 7 : Lambang Uni Soviet ... 204
Lampiran 8 : Peta Rusia Setelah Perang Saudara Tahun 1920 ... 205
Lampiran 9 : Sruktur Lembaga Pemerintahan Uni Sovet ... 206
Lampiran 10 : Lambang RSFSR ... 207
1
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar Belakang Masalah
Sejarah bangsa Rusia diawali dari keberadaan masyarakat Slavia yang
terbentuk kurang lebih 2000 tahun yang lampau di kawasan sebelah selatan
Baltik. Pada mulanya masyarakat Slavia merupakan masyarakat primitif dan
belum memiliki sistem pemerintahan. Mereka umumnya masih hidup secara
mengelompok dalam hubungan keluarga dan suku. Lambat laun seiring dengan
perjalanan suku-suku Slavia ini menyebar dan menempati wilayah-wilayah luas di
Eropa Selatan, Tengah dan Eropa Timur. Hal ini mengakibatkan munculnya
kelompok-kelompok Slavia Selatan seperti Bolgar, Serbs, Khrovats, Slovens
(mendiami daerah selatan Danube), Slavia Barat yang terdiri dari suku bangsa
Polandia, Vislan, Maravia, Slovakia (bermukim antara laut Baltik dan Sungai
Danube) dan Slavia Timur yang umumnya menempati pesisir sungai Dniepr dan
daerah di sekitar Danau Ilmen. Bangsa Polandia merupakan bangsa terkuat di
antara bangsa-bangsa Slavia. Sebagian besar mereka menempati wilayah di
sekitar sungai Dniepr, di mana sebelum kehadiran mereka di wilayah tersebut,
tanah ini telah dihuni bangsa non Slavia yang dikenal dengan nama Rusy
(orang-orang Rus). Bangsa Rusy ini akhirnya di Slaviakan oleh bangsa Polandia, tanpa
harus mengubah nama asli mereka. Dari nama inilah kemudian dikenal dengan
nama Rus, Russky dan kemudian Rossia (Rusia)1.
1
2
Selama berabad-abad bangsa Rusia hidup dalam sebuah sistem
pemerintahan feodal Rusia. Tahapan awal dikenal dengan periode kepangeranan
(Knyazhestva) di mana masyarakat Rus dipimpin oleh seorang pangeran (Knyaz). Masa ini berlangsung hingga naiknya Ivan II, Ivanlah yang mengintroduksir
istilah Tsar sebagai simbol kekuasaan seluruh tanah Rus dan membawahi
kepangeranan-kepangeranan yang berada di bawah kekuasaannya. Istilah ”Tsar”
sendiri diadopsi dari kata kaisar (caesar), yang merupakan penggabungan simbol kekuasaan kaisar (barat) dan Khan (timur). Periode terakhir adalah masa
imperium yang dipimpin oleh seorang imperator. Periode ini diawali dan
diperkenalkan pada masa pemerintahan Peter Agung, sebagai bagian dari program
westernisasi dan emansipasi bangsa Rusia agar sederajat dengan barat. Selain itu
dalam masyarakat Rusia pra Bolshevik terdapat dua dinasti yang memimpin
bangsa Rusia , yakni : Dinasti Ryurik (memimpin sekitar 7 abad) dan Dinasti
Rumanov yang memimpin sekitar tiga ratus tahun hingga runtuhnya Imperium
Rusia di awal abad XX2.
Rusia merupakan negara di Eropa yang paling akhir menghapus institusi
perbudakan. Di abad XVIII ketika perbudakan mengalami kemunduran di
berbagai tempat, ia malah berkembang pesat di Rusia. Institusi perbudakan
bertahan beberapa abad di Rusia disebabkan oleh berbagai faktor kondisi sosio
kultural, alam dan letak geografis Rusia. Perluasan wilayah seiring dengan
penaklukan menyebabkan jumlah pekerja atau petani lebih sedikit dari pada luas
tanah yang tersedia. Di samping itu, peperangan yang sering dihadapi Rusia
2
membutuhkan banyak tenaga untuk dijadikan serdadu. Tak jarang
serdadu-serdadu itu dikumpulkan dari para budak atau petani bebas yang diharuskan
bertempur untuk negara. Sepeninggal Alexander II, maka pemerintahan
dilanjutkan oleh putranya, Alexander III. Alexsander III menilai kebijakan
reformasi yang dilakukan ayahnya telah memperlemah Monarki Rusia3.
Sebelum terjadinya revolusi pada tahun 1917, di Rusia juga terjadi
revolusi pada tahun 1905. Revolusi ini merupakan revolusi pertama Rusia, yang
dikenal dengan revolusi borjuis-demokrat. Revolusi diawali dengan peristiwa
tragis yang terjadi di ibu kota St. Petersburg yang dikenal dengan ” Peristiwa
Minggu Berdarah ”, di mana diperkirakan 1000 orang buruh dibunuh oleh tentara
Tsar pada saat mereka mengadakan suatu tuntutan kepada maharaja, tuntutan itu
ditanda tangani oleh 135.000 orang. Tuntutan itu dimulai dengan :
” Kami pekerja-pekerja kota St, Petersburg, bersama-sama dengan istri-istri, anak-anak dan orang-orang tua yang tak berdaya, mendekati yang Mulia, Raja kami, untuk mencari keadilan dan perlindungan. Kami hidup dalam kemelaratan, kami tertindas, kami diberati dengan pekerjaan di luar kekuatan kami. Kesabaran kami telah habis. Kami telah sampai kepada suatu keadaan yang mengerikan di mana kematian lebih kami senangi daripada terus menanggung kesakitan kami yang tak tertahankan ini...”4
Tetapi usaha itu masih sia-sia, revolusi itu memang cukup dayanya untuk
memaksa Tsar memberikan konsessi. Konsessi itu termasuk dalam Manifes 7
Oktober 1905, Tsar mengizinkan diadakan parlemen (di Rusia disebut Duma
Kerajaan). Tetapi revolusi itu belum cukup dayanya untuk mengisi konsessi itu,
artinya memberi makna pada konsessi itu. Dalam zaman Tsarisme perwakilan
3
A. Fahrurodji, op.cit.,hlm. 97.
4
4
rakyat Rusia tidak pernah benar-benar menjalankan kekuasaan legislatif5.
Revolusi tidak hanya terjadi di dalam masyarakat yang maju perekonomiannya,
tetapi terjadi juga pada masyarakat yang mengalami kemunduran ekonomi karena
kelaparan-kelaparan, wabah-wabah, penyakit-penyakit, panen-panen yang jelek
kadang-kadang melanda di seluruh negeri serta kebanyakan disertai oleh
keributan-keributan di sana-sini. Hal ini dapat dibuktikan dalam revolusi di Rusia
pada tahun 19056.
Revolusi kedua terjadi pada tahun 1917, tepatnya pada bulan Februari dan
Oktober. Faktor pendorong terjadinya revolusi tahun 1917 meliputi faktor
internasional, nasional dan kondisi politik dalam negara Rusia pada saat itu.
Faktor internasional yang menjadi pendorong terjadinya revolusi di Rusia adalah
kekalahan Rusia dalam perang melawan Jepang dan tekanan berat dari Jerman
dalan Perang Dunia I. Dalam perang tersebut Rusia mangalami kekalahan yang
sangat memalukan, sehingga telah menurunkan mental bangsa Rusia dan semakin
mempercepat gerakan revolusioner yang telah berkembang di Rusia. Akibat dari
keterlibatan Rusia dalm Perang Dunia I adalah Rusia juga harus kehilangan
Polandia, sebagian Baltik, Ukraina dan Belorusia, sehingga memunculkan krisis
mental dan krisis material bangsa Rusia pada saat itu.7
Faktor nasional yang mendorong terjadinya revolusi Rusia tahun 1917
adalah kekuasaan Tsar yang absolut, yang tidak terbatasi oleh organ-organ
lainnya. Kebijakan-kebijakan yang ditentukan Tsar sangat merugikan rakyat.
5
Noer Toegiman, 1956, Peradapan Eropa Sebagai Penyimpangan dari Pola Umum, Ganaco, Bandung, hlm. 156.
6
Crane Brinton, 1962, Anatomi Revolusi, Bhratara, Jakarta, hlm. 45.
7
Akibatnya rakyat hidup menderita dan perekonomian negara semakin terpuruk.
Karena inilah, Tsar semakin mendapat dorongan dari rakyat agar segera
mengundurkan diri dari tahta kekuasaan. Tsar dianggap tidak dapt dipercaya
untuk memimpin pemerintahan.8
Selain itu, faktor pendorong terjadinya revolusi Rusia tahun 1917 adalah
kondisi politik Rusia yang kacau. Kekuasaan Tsar yang mengalami goncangan
karena adanya aksi-aksi demonstrasi rakyat mengakibatkan kekuasaan Tsar
semakin melemah dan akhirnya harus tumbang pada bulan Maret 1917. Ditambah
lagi setelah jatuhnya otokrasi Tsar, kekuasaan berada dalam tarik-menarik dua
kekuatan besar, yaitu Pemerintahan Sementara di satu sisi, dengan Soviet
Petrograd di sisi lain. Hal ini mengakibatkan terjadinya kekuasaan ganda dalam
masa transisi. Kondisi politik semakin panas ketika partai Bolshevik menduduki
kursi mayoritas dalam Dewan Soviet Petrograd pada bulan September 1917,
karena hal tersebut merupakan langkah awal dari partai Bolshevik menduduki
pemerintahan Rusia pada bulan-bulan selanjutnya.9
Revolusi Februari 1917 ini dikenal dengan istilah Revolusi
Borjuis-Demokrat 1917. Revolusi ini telah mengakhiri kekuasaan Monarkhi Rusia dan
memutuskan kekuasaan garis keturunan Dinasti Rumanov. Tanggal 2 Maret 1917,
Tsar Nikholas II mengundurkan diri dari tahta Imperium Rusia dan untuk mengisi
kekosongan kekuasaan dibentuklah organ kekuasaan yang dikenal Pemerintahan
Sementara (Vremennoye Pravitelstvo). Revolusi Februari 1917 disebabkan karena adanya krisis baik yang terjadi di kalangan atas maupun masyarakat kelas
8
Ibid.,hlm. 116
9
6
bawah10. Sedangkan Revolusi Oktober 1917 disebabkan karena adanya krisis baik
yang terjadi di kalangan masyarakat kelas atas maupun masyarakat kelas bawah.
Sedangkan Revolusi Oktober 1917 merupakan kemenangan terbesar yang diraih
oleh kelas pekerja sampai sekarang sering dilukiskan sebagai semacam kudeta
Revolusi Oktober 1917 sering disebut sebagai Revolusi Bolshevik. Bolshevik
(dari kata Rusia Bolshe : lebih besar) merupakan faksi terbesar dalam partai
pekerja Sosial-Demokrat Rusia (RSDWP), yang kemudian memisahkan diri
menjadi suatu partai tersendiri menjadi RSDWP (B). Huruf ”B” dalam kurung
berarti Bolshevik. Ini terjadi pada kongres II RSDWP bulan Agustus 190311.
Partai Bolshevik sebagai partai revolusioner dan beraliran radikal
mempunyai sandaran ideologi dan politik yaitu Marxisme dan ajaran-ajaran
Lenin. Slogan Bolshevik : ” Perdamaian, Tanah, Kebebasan, dan Roti”
mencerminkan aspirasi rakyat pekerja Rusia dan argumentasi kaum Bolshevik
semakin mengambil hati rakyat, sehingga Partai Bolshevik menjadi organisasi
utama dalam kelas buruh dan mendapat dukungan yang kuat daripada prajurit juga
petani. Kemenangan yang diraih pada Revolusi Oktober 1917 tentunya tidak lepas
dari peranan Partai Bolshevik di dalamnya12.
Tokoh yang sangat berperan dalam kemenangan yang diraih pada revolusi
Oktober 1917 adalah Lenin atau Vladimir Ilyich Ulyanov. Lenin merupakan nama
samaran yang digunakannya pada saat menulis artikel di Iskra. Lenin merupakan
seorang pemimpin politik yang paling bertanggung jawab terhadap berdirinya
10
Ibid., hlm. 124-125.
11
Ibid., hlm. 129.
12
komunisme di Rusia. Komunisme merupakan suatu gerakan Marxis yang
dimengerti sebagai sistem sosial, politik, ideologi dan gaya hidup berdasarkan
nilai-nilai Marxisme13. Jadi, komunisme dapat dikatakan sebagai gerakan dan
kekuatan politik partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di
bawah pimpinan Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional.
Istilah komunisme ini juga dapat dipakai untuk “ajaran komunisme” atau
Marxisme-Leninisme yang merupakan ajaran atau ideologi resmi komunisme.
Marxisme merupakan salah satu komponen dalam ideologis komunisme14.
Begitu cepatnya Lenin menyebarkan komunisme ke seluruh penjuru
Dunia. Tanpa peranan Lenin komunisme rasanya mesti menunggu bertahun-tahun
untuk mempunyai kesempatan untuk eksist di dunia internasional dan akan
menghadapi perlawanan yang lebih terorganisir15. Lenin lahir pada tanggal 22
April tahun 1870 di Simbirsk (sejak 1924 Ulyanovsk) sebagai anak seorang
bangsawan rendah. Kakaknya, selaku mahasiswa terlibat dalam lingkungan
revolusioner dan ikut merencanakan suatu serangan bom terhadap Tsar. Sebelum
serangan itu dapat dijalankan, ia ditangkap dan kemudian dihukum mati. Sesudah
ia menyelesaikan studi hukum dan sebentar menjalankan praksis hukum, ia
memasuki gerakan revolusioner16.
Pada tahun 1892 Lenin mulai masuk ke dalam pelbagai kelompok Marxis
dan menulis artikel-artikel tentang masalah-masalah Sosialisme. Karena agitasi
13
Miriam Budiardjo, 1982, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, hlm. 87.
14
Frans Magnis Suseno, 1999, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 5.
15
Morton Grosser, 2000, 100 Tokoh Besar yang Membentuk Sejarah Dunia, Intermedia dan Ladang Pustaka, Jakarta, hlm. 212.
16
8
politiknya, pada tahun 1896 Lenin dihukum pembuangan ke Siberia. Pada tahun
1900 Lenin kembali dari pembuangan dan menetap di Swiss. Bersama Plechanov,
Martov dan Vera Sassulic, Lenin menerbitkan majalah Marxis-Revolusioner Iskra
(”bunga api”) yang kemudian diselundupkan ke Rusia pada tahun 1902 terbit
tulisan Lenin ” Berbuat Apa ? ” yang isinya menguraikan pahamnya tentang ”partai perintis”. Konsepsi partai itu mendapat tantangan luas dari Rosa
Luxemburg. Perbedaan tentang partai mengakibatkan perpecahan partai Sosial
Demokrat Rusia dalam kongresnya 1903 di Brussel dan London ke dalam dua
Kubu : Kaum Bolshevik, mayoritas yang mendukung konsepsi Lenin dan Kaum
Menshevik minoritas yang dipimpin oleh Martov, yang menolaknya17.
Dalam revolusi 1905, Lenin tidak cukup berperan karena pada saat
revolusi tersebut terjadi Lenin dalam pengasingan di Swiss. Lenin baru kembali
ke Rusia pada bulan November. Sekembalinya ke Rusia Lenin mendukung boikot
atas pemilihan anggota Duma, yaitu Dewan perwakilan rakyat yang dibentuk Tsar
sebagai akibat revolusi 1905 dan memberikan persetujuannya atas kudeta
bersenjata di Moscow, yang kemudian gagal. Revolusi terjadi pada bulan Februari
tahun 1917 telah berhasil menurunkan tahta Tsar Nikholas II.
Pada tanggal 2 Maret 1917 itulah kesempatan yang ditunggu-tunggu
Lenin. Lenin pulang ke Rusia pada tanggal 3 April 1917, ia langsung menarik
Partai Bolshevik dari koalisi nasional dan mengumumkan sebuah program radikal,
mematangkan kondisi-kondisi untuk melakukan revolusi dengan semboyan
”Perdamaian, Tanah, Kebebasan dan Roti” ia mencari dukungan massa menderita,
17
Lenin mencoba mengerogoti legitimasi parlemen resmi. Sebuah percobaan
pemberontakan sayap kiri Partai Bolshevik pada bulan Juli gagal karena
tergesa-gesa, sehingga Lenin harus melarikan diri ke Finlandia. Bulan Oktober Lenin
kembali ke Petrograd dan bersama Trostski mempersiapkan pemberontakan
bersenjata. Pada tanggal 7 November 1917 massa buruh pendukung Lenin yang
dibantu oleh kelasi-kelasi angkatan laut dari Kronstant mengambil alih kekuasaan
di Petrograd. Di bawah Lenin dibentuk ” Dewan Komisaris Rakyat ” sebagai
pemerintah baru18.
Sepak terjang Lenin dalam mewujudkan cita-citanya tampak jelas terlihat
dalam revolusi di Rusia pada tahun 1917, Lenin merupakan seorang revolusioner
yang tidak pernah putus asa dalam usahanya merealisasikan tujuan dan
cita-citanya. Lenin merupakan penganut ajaran Karl Marx dan menterjemahkannya
dalam bentuk tindakan politik praktis yang nyata. Sejak tahun 1917 telah terjadi
ekspansi kekuatan komunis ke seluruh dunia. Kini, sekitar sepertiga penduduk
dunia menganut faham komunis. Hanya berkat tekad dan tangan besi Lenin kaum
Bolshevik berhasil memantapkan kekuasaannya di Rusia.
B Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil beberapa permasalahan
yaitu:
1. Siapa dan apa peranan Lenin dalam Revolusi 1917 ?
2. Mengapa dan bagaimana revolusi komunis Rusia dilancarkan ?
18
10
3. Bagaimana dampak Revolusi Rusia tahun 1917 terhadap Kekaisaran Rusia
dan Eropa ?
C Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Tujuan Penulisan
a. Untuk mendeskripsikan dan menganalisa siapa dan apa peranan Lenin dalam
Revolusi Rusia tahun 1917.
b. Untuk mendeskripsikan dan menganalisa latar belakang dan proses terjadinya
revolusi Rusia tahun 1917.
c. Untuk mendeskripsikan dan menganalisa dampak Revolusi Rusia tahun 1917
terhadap Kekaisaran Rusia dan Eropa.
2. Manfaat Penulisan
a. Bagi Sanata Dharma
Penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan bacaan yang berguna bagi
pembaca yang berada di lingkungan Universitas Sanata Dharma maupun bagi
pembaca yang berada di luar lingkungan Universitas Sanata Dharma.
b. Bagi Perkembangan Pengetahuan Sejarah
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah dan menambah
perbendaharaan ilmu pengetahuan sejarah tentang peranan Lenin dalam
revolusi Rusia tahun 1917.
c. Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan tentang peranan Lenin dalam revolusi Rusia
D Tinjauan Pustaka
Dalam penulisan ini digunakan dua sumber primer dan sumber sekunder
yang berupa buku ataupun artikel. Sumber primer dapat berupa kesaksian dari
pelaku utama peristiwa sejarah itu sendiri dan bisa juga didapat dari saksi mata
yang terlibat secara langsung ataupun menyaksikan secara langsung suatu
peristiwa sejarah terjadi. Sumber primer dapat juga berupa dokumen-dokumen
yang sifatnya resmi pada masa peristiwa sejarah itu terjadi. Sedangkan sumber
sekunder merupakan kesaksian dari siapa pun yang bukan saksi utama atau
sumber yang berasal dari tangan kedua bisa berupa hasil karya orang lain yang
berasal dari kesaksian seorang saksi utama ataupun pelaku utama.
Adapun sumber-sumber primer yang digunakan oleh penulis adalah
berupa sumber tertulis yang diperoleh melalui buku-buku atau artikel-artikel.
Sumber primer yang digunakan adalah sebanyak dua buku dan tiga artikel yang
didapat dari internet.
Pertama adalah Lenin,Vladimir Illyich. 1932. State and Revolution. New York. International Publishers. Buku ini ditulis oleh Lenin antara bulan
Agustus-September 1917 di mana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh
Sulang Sahun dan diterbitkan oleh lembaga penerbitan Fuspad pada tahun 2000.
Buku ini terdiri dari enam bagian di mana dalam keenam bagian tersebut
menguraikan dan membandingkan pemikiran-pemikiran tentang negara dan
keterkaitannya dengan revolusi melalui pemikiran Lenin, Karl Marx dan Engels.
Dalam pemikiran-pemikiran yang dijabarkan Lenin dalam buku ini akan terlihat
12
seorang revolusioner, sekaligus praktikus, partisipan dan bahkan pemimpin utama
revolusi itu sendiri. Dalam buku ini, Lenin mengemukakan tentang teori negara
yang di dasarkan pada teori Marxis. Intinya, bahwa negara adalah alat dari sebuah
kelas yang berkuasa. Buku ini juga memuat secara khusus soal ”melenyapkan
negara” sebagai kritik terhadap teori Borjuis yang mengatakan negara adalah
untuk mendamaikan kelas-kelas dan kritik kepada revisionis.
Kedua adalah Lenin, Vladimir Illyich. 1951. Selected Work In Two Volumes. Moscow. Foreigh Languages Publishing House. Buku ini berisi tentang karya-karya Lenin yang merupakan karya-karya pilihan. Buku ini merupakan asli
edisi Rusia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dalam buku ini
dijabarkan melalui karya-karya yang ditulis oleh Lenin secara garis besar tentang
masa-masa dalam mempersiapkan dan merealisasikan Revolusi Oktober di Rusia.
Selected Works In Two Volumes diterbitkan oleh Foreign Languages Publishing
House di Moscow pada tahun 1951.
Ketiga adalah artikel yang berjudul ”Marxisme dan Pemberontakan”.
Artikel ini merupakan tulisan Lenin yang ditulis pada tanggal 13-14 September
1917 yang terdapat pada situs internet http : //www.marxsis.org/indonesia/
archive/lenin/1917. Dalam artikel ini diceritakan mengenai demonstrasi massa
yang bertempat di Petrograd pada tanggal 3-4 Juli 1917, namun demonstrasi
tersebut mengalami kegagalan dan kekuasaan di daerah pindah ke tangan
Pemerintah Sementara yang kontra revolusioner. Artikel ini mengungkapkan
tentang usaha-usaha Lenin dan kaum Bolshevik untuk mempersiapkan
juga berisi tentang surat untuk Komite Sentral RSDWP (B) yang dikirim oleh
Lenin.
Keempat adalah artikel yang berjudul ”Takdir Historis bagi Doktrin Karl
Marx”. Artikel ini merupakan tulisan Lenin yang ditulis pada tahun 1913. Artikel
ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anonim pada bulan November
tahun 1998. Artikel ini berisi tentang Manifesto Komunis yang ditulis oleh Karl
Marx dan Engels pada tahun 1848. Artikel ini terdapat dalam situs internet, yaitu
http : //www.ucc.ie/acad/appsoc/tmpstore/mia/library/indonesia/archive/lenin.
Kelima adalah artikel yang berjudul ”Tugas-tugas Kaum Proletariat dalam
Revolusi sekarang ini”. Artikel ini merupakan tulisan Lenin yang ditulis pada
tahun 1917, artikel ini terdapat dalam situs internet http : //www. ucc.ie/ acad/
appsoc /tmpstore/ mia/ library/ indonesia/ archive/ lenin/ 17 April. Berisi tentang
tugas-tugas yang harus diemban oleh kaum proletariat dalam menegakkan
revolusi di Rusia. Artikel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh
Anonim pada bulan Juli tahun 1998.
Selain sumber primer di atas, penulis juga menggunakan sumber sekunder
yang dapat mendukung dalam penelitian ini. Sumber sekunder yang pertama
adalah Arif, Saiful dan Eko Prasetyo. 2004. Lenin Revolusi Oktober 1917. Yogyakarta. Resist Book. Buku ini ditulis oleh Saiful Arif dan Eko Prasetyo,
sanggahan pemikiran Frans Magnis Suseno. Diterbitkan oleh lembaga penerbitan
Resists Book pada tahun 2004. Buku ini menguraikan tentang perjalanan hidup
Lenin hingga keterlibatannya dalam revolusi Rusia pada bulan Oktober tahun
14
juga membahas tentang lika-liku pergerakan politik revolusioner Rusia hingga
orang-orang terdekat yang paling berpengaruh pada diri Lenin, sehingga Lenin
menjadi seorang pribadi yang sangat revolusioner.
Kedua adalah Ahmad Fahrurodji. 2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. Buku ini ditulis oleh Ahmad Fahrurodji melalui
pengantar Ir. Rochmat Witoelar sebagai menteri Negara Lingkungan Hidup dan
mantan Duta Besar Indonesia di Rusia, diterbitkan oleh lembaga penerbitan
Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2005. Buku ini memberikan gambaran umum
perjalanan Sejarah Rusia, antara lain mengenai kelahiran dan kehancuran
Kekaisaran Rusia, penyebaran dan penerapan ide-ide sosialisme dan komunisme
pada abad XIX-XX. Selain itu, buku ini juga menguraikan tentang kebudayaan
bangsa Rusia serta upaya penerapan demokrasi dan pasar bebas di era Pasca
Soviet.
Ketiga adalah Magnis Suseno, Franz. 2003. Dalam Bayang-bayang Lenin : Enam Pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Buku ini ditulis oleh Franz Magnis Suseno dan diterbitkan oleh
PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2005. Dalam buku ini menguraikan
tentang riwayat hidup Lenin dan pandangan Lenin mengenai negara dan
kediktatoran Proletariat. Dipaparkan juga mengenai lima tokoh lain pemikir
Marxis – Leninis Independent yang paling cemerlang, seperti Leon Trotsky,
Georg Lukacs, Karl Korsch, Antonio Gramsei dan Tan Malaka.
dan diterbitkan oleh komunitas study perubahan pada tahun 2000. Dalam buku ini
lebih banyak mengungkapkan sejarah perjuangan Lenin dalam mewujudkan
masyarakat komunis di Rusia dan riwayat hidup Lenin sebagai seorang pribadi
yang sangat revolusioner.
Kelima adalah Curtis, John Shelton. 1957. The Russian Revolutions of 1917. New York. D. Van Nonstrand Company. Buku ini ditulis oleh John Shelton dan diterbitkan oleh D. Van Nostrand Company pada tahun 1957 di New York.
Buku ini menguraikan secara garis besar mengenai latar belakang, proses jalannya
revolusi Rusia dan tokoh yang paling berperan dalam revolusi Rusia tersebut
(Lenin).
Keenam adalah artikel yang berjudul “Revolusi dan Kontra Revolusi”.
Artikel ini ditulis oleh Tony Cliff dan pernah diterbitkan di Internasional
Socialism no 80 tahun 1998 di Inggris. Artikel ini terdapat dalam situs internet
http : // www.geocities.com/ frontasional/ revolusi. Artikel ini menguraikan secara
garis besar tentang jalannya Revolusi Februari dan Revolusi Oktober yang terjadi
di Rusia tahun 1917.
Ketujuh adalah artikel yang berjudul ”Revolusi Februari 1917”. Artikel ini
ditulis oleh Lian Jenvey dan terdapat dalam situs internet http://www.
arts.anu.edu.au/suartos/ februari. Dalam artikel ini secara garis besar menguraikan
tentang jalannya revolusi pada bulan Februari tahun 1917 di Rusia.
Kedelapan adalah artikel yang berjudul ”Revolusi Oktober 1917”. Artikel
16
arts.anu.edu.au/suartos/ februari. Dalam artikel ini secara garis besar menguraikan
tentang jalannya revolusi pada bulan Oktober tahun 1917 di Rusia.
E Landasan Teori
Skripsi ini berjudul Peranan Lenin dalam Revolusi Rusia tahun 1917.
Untuk dapat menjelaskan lebih mendalam tentang permasalahan dan ruang
lingkup penelitian ini, maka dibutuhkan uraian dari beberapa konsep supaya bisa
menjelaskan dan menguraikan permasalahan penelitian skripsi ini. Kerangka
konsepnya adalah peranan, marxisme, sosialisme, revolusi dan pergerakan.
1.Batasan Istilah
a. Peranan
Peran atau role merupakan cara tertentu yang dilakukan seseorang untuk menjalankan peranan yang dipilihnya19. Peran juga merupakan perilaku yang
diharapkan dalam kerangka posisi sosial tertentu20. Peranan adalah kata yang
berasal dari kata dasar ”peran” yang artinya pemain sandiwara, tukang lawak,
yang berakhiran –an21. Dalam arti yang lain, peranan adalah fungsi seseorang atau
sesuatu dalam dalam kehidupan, faktor manusia sangat penting dalam
pembangunan22. Peranan juga diartikan bagian dari tugas yang diemban yang
harus dilakukan23.
19 Save M. Dangun, 1997,
Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, LPKN, Jakarta, hlm. 870.
20
Adam Kuper dan Jessica Kuper, 2000, Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, PT. Raja Gratindo Persada, Jakarta, hlm. 672.
21
W.J.S. Poerwadarminta, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 506.
22
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983, Kamus Bahasa Indonesia Jilid II, Jakarta, hlm. 1579.
23
Dalam psikologi sosial, peran berkaitan dengan kepribadian seseorang di
dalam masyarakat, yaitu karakter yang dianggap sesuai dengan dirinya dalam
kedudukannya sebagai anggota masyarakat. Istikah lain dari peran sosial
seseorang dalam hidupnya adalah persona yang diambil langsung dari bahasa Yunani Persona, yang berarti topeng yang dipakai seseorang aktor di pentas. Persona timbul akibat kebutuhan bawaan untuk melengkapi diri dengan
penyangga dalam suatu penyesuaian antara dunia bawah sadar, dunia yang
disadari dan dunia luar.24
Sepanjang masyarakat menyadari bahwa diri mereka dan oreang lain
menduduki posisi yang memiliki berbagai hak dan kewajiban, maka perilaku
mereka tidak dapat dipahami tanpa mengacu pada berbagai ekspektasi mereka
tentang bagaimana seharusnya mereka berperilaku dan perilaku apa yang harus
dilakukan orang lain dalam berhadapan dengan mereka. Masyarakat sebagai satu
unit, di mana setiap orang memiliki berbagai peran yang harus dimainkan, dan
dalam unit itu peran-peran yang utama sudah ditetapkan dengan jelas.25
Maka yang dimaksudkan peranan dalam penulisan ini mengacu pada
peranan atau tugas yang harus dilakukan oleh seorang Lenin dalam Revolusi
Rusia tahun 1917. Adapun peranan Lenin dalam Revolusi Rusia tahun 1917
adalah sebagai pemimpin Partai Bolshevik dan pendiri negara sosiais (komunis)
pertama di Rusia.
Dalam pengertian peranan di atas, maka peranan Lenin dalam Revolusi
Rusia tahun 1917 memang cukup besar, terutama dalam revolusi bulan Oktober
24
Frank J. Bruno, 1989, Kamus Istilah Kunci Psikologi, Kanisius, Yogyakarta, hlm. 79
25
18
tahun 1917 di Rusia. Revolusi Rusia tahun 1917 terjadi dalam dua fase. Fase yang
pertama terjadi pada bulan Februari yang berhasil menjatuhkan otokrasi Tsar
Rusia di bawah Tsar Nikolas II dan dibentuk sebuah Pemerintahan Sementara
(Privinsional Government). Revolusi ini telah mengakhiri Sistem Monarki yang telah berlangsung berabad-abad di tanah Rusia. Dalam Revolusi Februari tersebut
Lenin tidak cukup berperan karena pada saat revolusi berlangsung, Lenin masih
tinggal di Swiss. Sedangkan fase yang kedua terjadi pada bulan Oktober yang
dikenal dengan Revolusi Komunis.
Peranan Lenin dalam Revolusi Oktober 1917 cukup besar. Mendengar
otokrasi Tsar Rusia di bawah Tsar Nikholas II telah jatuh, Lenin kemudian
kembali ke Rusia dari Swiss melalui Jerman dan akhirnya tiba di Petrograd pada
16 April 1917. Pada saat itu, di Rusia terdapat dua badan yang memiliki
kekuasaan, yaitu Pemerintahan Sementara yang terdiri dari Kadet, Menshevik dan
Sosialis Revolusioner dan Dewan Soviet Petrograd yang merupakan Dewan
Buruh, tentara juga petani. Walaupun Pemerintahan Sementara lebih memiliki
legitimasi, tetapi secara riil kekuasaan dipegang oleh Soviet Petrograd. Lenin
mengangggap Pemerintahan Sementara tersebut sungguh-sungguh imperialis dan
tidak layak mendapatkan dukungan dari kaum sosialis. Pemerintahan tersebut
dianggap tidak dapat memuaskan harapan-harapan para buruh, tentara dan petani
kecil.
b. Marxisme
Ajaran Karl Marx pada dasarnya menitikberatkan pada empat ide, yaitu:
kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum pekerja atau buruh yang teramat
banyak jumlahnya hidup dalam kesengsaraan. (II) Cara untuk merombak
ketidakadilan adalah dengan melaksanakan suatu kelas sosialis, yaitu sistem di
mana alat-alat produksi dikuasai oleh negara, bukannya pribadi swasta. (III) Pada
hematnya, satu-satunya jalan yang paling baik untuk melaksanakan sistem sosialis
ini adalah lewat revolusi kekerasan. (IV) Untuk mewujudkan satu sistem sosialis
harus dibentuk kediktatoran partai komunis dalam jangka waktu yang memadai26.
Timbulnya faham komunis dilatarbelakangi oleh situasi sosial pada awal
abad ke-19 di Eropa Barat, ketika kaum buruh hidup dalam keadaan sangat
menyedihkan. Sistem kapitalisme yang mendominasi perkembangan sektor
industri dan lebih mengutamakan kepentingan ekonomis, telah menimbulkan
keadaan sosial yang sangat merugikan kaum buruh. Dengan demikian yang
nampak dalam kapitalisme adalah sistem pemerasan seperti halnya feodalisme dan
perbudakan27.
Teori Marxist di sini meliputi: penafsiran sejarah dari segi ekonomi,
dinamika perubahan sosial, revolusi sebagai satu-satunya jalan keluar, humanisme
dan konsep alienasi, juga kontradiksi ekonomi dalam sisten kapitalis. Analisis
Marx tentang masyarakat dinyatakan dalam penafsiran ekonomi atas sejarah.
Produksi barang dan jasa yang menopang kehidupan manusia serta pertukaran
barang dan jasa itu merupakan dasar dari segala proses dan lembaga sosial. Marx
melukiskan hubungan antara kondisi meterial dari kehidupan masyarakat dengan
26
Michael Hart, 1985, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Pustaka Jaya, Jakarta, hlm. 88.
27
20
idenya : bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi
sebaliknya, keberadaan sosial manusia itulah yang menentukan kesadarannya.28
Konsepsi Marx terhadap masalah perubahan sosial yang penting adalah :
(1) kekuatan produksi (force of production) dan (2) hubungan produksi (relation of production). Konsepsi Marx tentang kekuatan produksi mengungkapkan hubungan manusia dengan alam dan pada dasarnya merupakan apa yang
dimaksudkan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Pengertian Marx tentang
hubungan produksi, mengungkapkan hubungan manusia dengan manusia lain dan
mencakup semua masalah yang dewasa ini sering dimasukkan dalam pengertian
istilah lembaga sosial.29
Marx secara tegas menolak bahwa pribadi pemilik tanah dan kaum
kapitalis industri tidak memiliki ketamakan yang egois dalam usahanya
menghalangi perubahan sosial. Karena itu, kelas berkuasa mengerahkan semua
sarana suprastruktur hukum, politik dan ideologi untuk membendung perubahan
sosial tersebut. Dalam bukunya Communist Manifesto, Marx menandaskan bahwa sejarah seluruh manusia hingga sekarang merupakan sejarah perjuangan kelas,
sehingga tujuan mereka dapat dicapai hanya dengan merombak semua kondisi
sosial yang ada dengan jalan kekerasan30
Menurut Marx, komunisme merupakan penghapusan yang pasti atas hak
milik pribadi, alienasi (keterasingan) dari manusia merupakan pemberian yang
nyata dari hakekat kemanusiaan oleh dan untuk manusia. Karena itu, berubahnya
28
William Ebenstein dan Edwin Fogelman, 1987, Isme-isme Dewasa Ini, Erlangga, Jakarta, hlm. 2-3
29
Ibid.,hlm. 5-6
30
manusia menjadi makhluk sosial merupakan peralihan yang sempurna dan sadar
yang mengasimilasikan semua kekayaan dari perkembangan sebelumnya.
Komunisme sebagai naturalisme yang sedang berkembang secara sempurna
merupakan humanisme dan sebagai humanisme yang sempurna merupakan
naturalisme.31 Sedangkan mengenai kontradiksi ekonomi dalam sistem kapitalis,
manurut Marx, semakin berhasil kapitalisme, maka semakin tinggi pula tingkat
pengorganisasian perusahaan kapitalis dalam unit-unit berskala besar. Akibatnya,
para buruh yang besar menghimpun diri di dalam asosiasi yang tetap dan erat,
serta saling memperkokoh kedudukannya sebagai kelompok proletar.32
Terdapat tujuh dasar komunisme, yaitu (1) kelas proletar merupakan kelas
kekuatan untuk mendukung revolusi, (2) adanya perjuangan kelas, yaitu kelas
proletar melawan kelas borjuis, (3) alat-alat produksi yang menghasilkan
barang-barang kebutuhan hajat hidup orang banyak harus dimiliki bersama, bukan
perseorangan, (4) adanya revolusi dengan kekerasan demi terwujudnya
komunisme di suatu negeri, (5) pendirian sistem pemerintahan Diktator Proletariat
guna menghancurkan semua kekuatan yang bersifat kapitalis, (6) komunisme
harus didirikan di seluruh dunia, (7) Uni Soviet sebagai pusat revolusi dunia dan
adanya gerakan komunis internasional.33
Terbaginya masyarakat menjadi kelas atas dan kelas bawah tersebut
merupakan salah salah satu ciri khas masyarakat kapitalis. Kelas atas adalah para
pemilik alat-alat produksi, kelas bawah adalah kaum buruh. Kelas atas adalah
kelas sosial yang menguasai bidang produksi, kelas bawah adalah mereka yang
31
Ibid.,hlm. 12
32
Ibid.,hlm. 14.
33
22
harus tunduk terhadap kekuasaan kelas atas.Buruh hanya diberi pekerjaan apabila
ia bekerja demi keuntungan pemilik. Karena itu hubungan antara kelas atas dan
kelas bawah pada hakekatnya merupakan hubungan penghisapan tenaga kerja
kelas buruh34.
Menurut Karl Marx, untuk melakukan revolusi guna membentuk sebuah
masyarakat komunis penuh harus didasarkan pada kekuatan kaum proletar. Hal itu
disebabkan karena jumlah kaum proletar atau buruh cukup besar dan mereka
merasakan langsung penderitaan akibat sistem kapitalisme di Eropa pada waktu
itu. Selain itu, kaum proletar atau buruh banyak bermukim di wilayah perkotaan,
sehingga tenaga mereka dapat digunakan secara efektif untuk merebut pusat-pusat
kekuasaan pemerintahan di kota-kota. Langkah-langkah yang perlu diambil oleh
kaum revolusioner untuk mewujudkan masyarakat komunis, setelah kemenangan
politis berhasil dicapai adalah membentuk pemerintahan Diktator Proletariat yang
melancarkan proses nasionalisasi dan sosialisasi alat-alat produksi serta
penghapusan hak milik dan sistem kapitalisme diharapkan secara bertahap akan
membentuk fase masyarakat komunis penuh, di mana berlaku prinsip ekonomi:
setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya dan menerima balas jasa
sesuai dengan kebutuhannya atau dengan kata lain berlaku prinsip sama rata, sama
rasa35.
Pada dasarnya Lenin melakukan penyempurnaan terhadap
gagasan-gagasan Karl Marx dalam hal peranan partai, petani dan revolusi. Dalam masakah
kepartaian, Lenin tidak sepaham sepenuhnya dengan Marx. Dalam pemikiran
34
Frans Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, op.cit.,hlm. 115.
35
Marx, partai itu hendaknya mempunyai massa yang banyak dan terdiri dari kaum
buruh yang fanatik terhadap ajaran komunis. Sedangkan menurut Lenin partai itu
haruslah kecil, militant dan terdiri dari ”professional revolutionaries” untuk memimpin kaum proletar. Kalau sekarang disebut Partai Kader. Partai seperti
itulah yang mungkin yang merupakan alat yang ampuh untuk mewujudkan
masyarakat komunis. Lenin tidak setuju sepenuhnya dengan apa yang
dikemukakan oleh Marx tentang revolusi.
Menurut Marx, Revolusi Komunis harus menitikberatkan pada kekuatan
kaum proletar dan dilakukan di negara di mana sektor industrinya mempunyai
kedudukan yang cukup dominan. Namun menurut Lenin, Revolusi Komunis dapat
dilakukan di negara agraris yang sektor industrinya belum berkembang. Revolusi
ini dapat dilakukan dengan bantuan kaum petani yang akan mendukung
perjuangan kaum proletar yang jumlahnya belum cukup besar. Tetapi menurut
Lenin, kekuatan utama atau inti kekuatan kaum revolusioner tetap harus dipegang
oleh kaum proletar36.
Dalam usahanya meletakkan dasar-dasar komunisme di Rusia, maka Lenin
menyerukan kepada kaum revolusioner profesional untuk mengadakan
penyusupan atau infiltrasi dan membentuk sel-sel di dalam lembaga-lembaga
sosial, politik, pendidikan dan ekonomi di tengah masyarakat seperti sekolah,
gereja, serikat buruh dan partai politik di atas semua itu, ia menyerukan untuk
mengadakan infiltrasi ke dalam tubuh angkatan bersenjata, kepolisian dan
pemerintah.
36
24
Lenin juga mengungkapkan suatu kejelasan bahwa kelompok komunis
harus bergabung dan melibatkan diri ke dalam kegiatan-kegiatan ilegal, bahkan di
negara-negara yang mengizinkan adanya Partai Komunis secara resmi. Ia
berpendapat bahwa kesempatan yang legal harus digunakan semaksimal mungkin,
tetapi secara khusus Ia menyerukan kepada aktivis-aktivis mahasiswa untuk
beroperasi melalui organisasi garis depan, sambil terus mengganti nama dan
jabatan, selalu ingat akan tujuan yang terakhir, yaitu perebutan kekuasaan melalui
revolusi37.
c. Sosialisme
Sosialisme merupakan ajaran atau paham kenegaraan yang berusaha
supaya harta benda, industri dan perusahaan menjadi milik negara38. Dilihat
secara khusus dan konkrit dalam sejarah, sosialisme sebagai gerakan politik yang
efektif dan terorganisasi merupakan produk awal dari revolusi industri. Sosialisme
sebagai kekuatan politik utama merupakan hasil dari kapitalisme industri modern.
Sosialisme mewarisi tujuan pokok yang sama dari kapitalisme, yaitu melestarikan
kesatuan faktor tenaga kerja dan kepemilikan39.
Dalam teori sosialisme, mengandung unsur-unsur, yaitu agama, idealisme
etis dan estetis, empirisme fabian, juga liberalisme. Di Inggris dan Amerika
Serikat, agama memainkan peranan yang penting dalam wilayah-wilayah
pemukiman yang menjalin kerja sama dan bersifat komunal. Dengan kata lain,
agama berperan dalam pembentukan dan perkembangan sosialisme. Sebaliknya,
di Rusia dan Amerika Latin, agama kurang berperan di dalam pembentukan dan
37
William Ebenstein dan Edwin Fogelman, op.cit.,hlm. 24
38
W. J. S. Poerwadarminta, op.cit.,hlm.961.
39
perkembangan sosialisme. Terlebih di Rusia, sosialisme benar-benar bebas dari
pengaruh dan sengat keagamaan.40
Idealisme etis dan estetis merupakan sumber bagi sosialisme, karena
merupakan pemberontakan melawan kemelaratan, kebosanan dan kemiskinan
hidup di bawah kapitalisme industri.41 Empirisme Fabian merupakan ciri gerakan
sosialis Inggris yang paling khas. Fabianisme telah sering digambarkan sebagai
pembaharuan tanpa kebencian, pembangunan kembali masyarakat tanpa perang
kelas, empirisme politik tanpa dogma atau fanatisme.42
Sedangkan liberalisme merupakan sumber yang penting dalam sosilaisme.
Liberalisme telah memberikan banyak sumbangan yang dapat tahan lama bagi
sosialisme Inggris, karena para pemimpin sosialis menjadi lebih moderat dan
menghargai kebebasan para individu. Liberalisme juga telah mewariskan kepada
partai buruh bahwa pembaharuan akan tercapai tanpa kebencian dan
kedengkian.43
Kemudian oleh Lenin (1870-1924) istilah sosialisme dihidupkan kembali
untuk menunjuk pada apa yang oleh Marx disebut “tahap awal dari komunisme”
(the early phase of communism), yang mendahului terciptanya komunisme penuh. Dalam tahap ini prinsip ekonomi adalah setiap orang memberi menurut
kemampuannya, setiap orang menerima sesuai dengan karyanya. Sedangkan
dalam tahap komunisme penuh, prinsip ekonomi telah berkembang menjadi:
40
Ibid.,hlm.221
41
Ibid.,hlm.222
42
Ibid.,hlm.227
43
26
setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya, setiap orang menerima
menurut kebutuhannya44.
Lenin dan para pengikutnya menganggap diri mereka itu Marxis, dan
mereka memandang diri mereka sendiri bertolak pada jalan yang menuju
sosialisme yang pertama dan kemudian komunisme, dan bahwa karena itu, baik
secara subjektif maupun secara objektif, mereka adalah bagian dari gejala baru
sosialisme. Selain itu, sejauh para penguasa Bolshevik mengidentifikasi diri
mereka dengan sosialisme, mereka memikat banyak orang di Barat yang
mengharapkan kemenangan sosialisme-demokratis. Kenyataan bahwa tahap
Leninis itu di Rusia ditandai dengan ambiguitas-ambiguitas yang penting, hal
itupun membantu dalam memperoleh simpati Barat45.
Pada permulaan berdirinya partai-partai Marxis pada akhir abad ke-19,
semua partai memakai nama “sosial-domokrat”. Penggunaan nama itu dalam arti
sebagai sosialisme yang moderat baru muncul pada tahun 1903, waktu timbul
perpecahan di dalam tubuh partai buruh sosial-demokrat Rusia antara Bolshevik
dan kelompok Menshevik. Kelompok Bolshevik di bawah pimpinan Lenin
menginginkan perubahan secara radikal di bawah bimbingan suatu partai elite,
sedangkan kelompok Menshevik ingin mengadakan perubahan sosial secara
damai dan dengan persetujuan rakyat. Dewasa ini Rusia beserta dengan
kebanyakan negara Eropa Timur yang sama ideologinya, menganggap dirinya
44
Miriam Budiardjo, 1984, Simposium Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi, PT. Gramedia, Jakarta, hlm. 3-4.
45
berada dalam tahap awal komunisme dan menamakan dirinya ”Negara-negara
sosialis”46.
2. Landasan Teori
a. Revolusi
Kata revolusi pertama kali muncul dalam teks politik Italia pada abad XIV
yang berarti penggulingan pemerintahan; kejadian seperti itu dilihat sebagai
bagian dari siklus dalam pemerintahan kekuasaan antar pihak-pihak yang yang
bersaing tanpa terjadi perubahan besar terhadap institusi-institusi yang terlibat47.
Istilah revolusi berasal dari bahasa Latin “revolve” yang artinya menjungkir balikkan kembali. Istilah Revolusi berasal dari bahasa Inggris “revolution” merupakan perubahan radikal dalam suatu sistem politik suatu masyarakat yang
berlangsung dalam tempo yang singkat dengan jalan kekerasan48. Revolusi juga
diartikan perubahan yang dilakukan dengan jalan mengesampingkan azas.
Azas-azas lama yang digantikan dengan Azas-azas-Azas-azas baru49.
Revolusi hanya digunakan sebagai sinonim dari “perubahan” atau
mungkin juga dengan pengertian perubahan dengan tiba-tiba atau perubahan
hebat. Revolusi itu tidak lebih dan tidak kurang adalah suatu perubahan yang baik
sifatnya dan yang bersifat tetap atau mengarah pada kemajuan atau
perkembangan50.
Di dalam kepustakaan tentang negara-negara yang sedang berkembang,
gejala revolusi mendapat perhatian besar. Sebuah masalah yang berhubungan
46
Miriam Budiardjo, Simposium Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi, op.cit.,hlm.5.
47
Save M. Dangun, op.cit., h1m.924.
48
Adam Kuper dan Jessica Kuper,op.cit., h1m.969.
49
T.S.G Mulia, 1990, Ensiklopedi Indonesia, W Van Hoeve, Bandung, h1m.320
50
28
dengan hal ini adalah pengertian revolusi tidak selalu digunakan dengan arti yang
sama. Pengertian revolusi ini akan dipakai untuk gejala-gejala, di mana perubahan
terjadi di dalam secara agak sekonyong-konyong dengan cara kekerasan
fundamental, mengenai struktur sosio-politik, lembaga-lembaga sosio-politik dan
kepemimpinan politik di dalam masyarakat, yang disertai perubahan-perubahan
fundamental mengenai ideologi politik, nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku
mengenai kebijaksanaan serta kegiatan pemerintah51.
Hampir semua definisi ilmu sosial kontemporer mengenai revolusi
menekankan pada perubahan “negara” dan “struktur kelas” dengan kekerasan.
Menurut Samuel P. Huntington revolusi adalah perubahan domestik yang keras,
mendasar, dan cepat dalam nilai-nilai dan mitos-mitos dominan masyarakat
mengenai lembaga-lembaga politiknya, struktur sosialnya, kepemimpinannya,
kegiatan dan kebijakan pemerintahannya. Anthony Gidens mendefinisikan
revolusi merupakan perebutan kekuasaan negara melalui cara-cara kekerasan oleh
para pemimpin gerakan massa, kemudian kekuasaan tersebut digunakan untuk
memprakarsai proses reformasi sosial besar-besaran52.
Menurut John Forlan, revolusi merupakan setiap peristiwa yang
partisipasinya dikaitkan dengan Partai Sosialis Revolusioner dan menuntut
perubahan politik inkonstitusional maupun perubahan radikal struktur kelas
pedesaan atau keduanya. Biasanya tuntutan tersebut berkenaan dengan tuntutan
penggulingan paksa atas sistem politik yang ada53.
51
J.W. Schoorl, 1998, Modernisasi, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 194.
52
John Forlan (ed), 2004, The Future Revolution; Masa Depan Revolusi di Era Globalisasi dar Mendefinisikan Ulang makna Revolusi, Insist Press, Yogyakarta, h1m.34.
Memahami revolusi memerlukan teori-teori tentang penyebabnya,
partisipannya, proses-prosesnya dan hasil-hasilnya dari revolusi. Revolusi tidak
muncul dari tingkat deprivasi yang parah. Revolusi justru terjadi ketika berbagai
kesulitan , perang dan krisis keuangan negara berhasil di atasi, namun memiliki
institusi-institusi yang rentan terhadap revolusi. Ciri kelembagaan yang
menyebabkan kerentanan tersebut adalah lembaga militer sangat inferior terhadap
militer dari negara-negara yang menjadi persaingannya, elit yang otonom mampu
menentang atau menghadang implementasi kebijaksanaan yang dijalankan
pemerintah pusat, kaum petani memiliki organisasi pedesaan yang otonom dan
konsentrasi besar dari para pekerja pasar dan buruh di seputar pusat-pusat politik
yang tidak terjaga dengan baik.54
Proses revolusi dan peran para partisipannya sangat beragam. Aliansi awal
antara kelompok mederat yang mengusahakan reformasi dan kelompok radikal
yang menginginkan perubahan besar. Perpecahan secara bertahap antara
kelompok moderat dan kelompok radikal; perang saudara karena para pemimpin
partai-partai revolusioner berusaha memperluas kekuasaan mereka ke seluruh
negara dan menghilangkan oposisi; munculnya kekuasaan otoriter oleh seorang
pemimpin tunggal. Akibat dari revolusi bisa sangat beragam. Hal ini tergantung
tidak hanya pada faktor-faktor yang menyebabkan revolusi, tetapi juga pada
berbagai kekhususan proses revolusi, pengaruh yang ditimbulkan oleh
54
30
negara asing serta permasalahan dan sumber daya yang dihadapi oleh pemenang
dan perjuangan revolusioner.55
Dalam konteks Rusia, Marxisme menganggap revolusi sebagai sesuatu
yang diinginkan dan tak dapat terhindarkan. Kaum proletariat bangkit merenggut
alat kontrol dari kaum borjuis dan menggunakan negara sebagai wahana untuk
merampas alat-alat produksi, sehingga mengubah seluruh dasar hubungan sosial.
“Perampasan terhadap perampas” menghasilkan tanah bagi para petani dan pabrik
bagi para pekerja. Kekerasan dalam kadar tertentu mungkin diperlukan, karena
kelas penguasa tidak akan menyerahkan posisinya dengan sukarela56.
Sebagai orang Rusia, Lenin sangat tahu akan lemahnya ikatan sosial dan
kecilnya kekuatan keorganisasian yang mencirikan masyarakat yang secara
ekonomi masih terbelakang. Di negara-negara seperti itu massa penduduk terdiri
dari para petani miskin yang hidup di desa-desa terpencil dengan sarana
komunikasi yang sangat minim. Hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama
sekali serikat buruh, dan praktis tidak ada kelas menengah yang di negara maju
merupakan tulang punggung perlawanan anti komunis. Di negaranya sendiri
Lenin menyaksikan bahwa dengan kekuatan kecil saja dari tentara dan polisi dapat
mengontrol massa rakyat yang begitu besar dan tidak terorganisasi. Karena itu
Lenin yakin bahwa dengan kekuatan perlawanan yang relatif kecil tetapi
berdisiplin tinggi dan teroganisasi secara baik, kekuasaan dapat direbut dari sistem
aparat yang ada. Dalam tulisannya, What Is To Be Done?, Lenin mengatakan, “Berikan kepada kami sekelompok kaum revolusionis, dan kami akan menguasai
55
Ibid.,hlm.926
56
seluruh Rusia.” Menjelang tahun 1917 Lenin memiliki kelompok atau organisasi
yang dibutuhkannya dan ia benar-benar menguasai Rusia57.
Keberhasilan yang diraih dari Revolusi Rusia tahun 1917 tidak hanya
berpengaruh dalam kehidupan politik, sosial dan ekonomi Bangsa Rusia
selanjutnya, tetapi juga berpengaruh dalam kehidupan bangsa-bangsa lain di dunia
internasional. Pada kenyataannya, ideologi komunis masih eksist hingga saat ini.
Hal ini membuktikan bahwa segala usaha, proses dan hasil revolusi yang terjadi di
Rusia pada tahun 1917 merupakan suatu keberhasilan yang patut dibanggakan.
Pada puncaknya komunisme berkuasa dalam 18 negara yang mencakup sepertiga
umat manusia.
b. Pergerakan
Gerakan adalah perjuangan untuk mencapai suatu kemerdekaan untuk
mengakhiri penjajahan, yang bersifat “pergerakan” artinya yang membentuk
“organisasi” yang teratur.58 Pergerakan adalah segala usaha atau kegiatan di
lapangan sosial maupun lapangan politik di suatu negara.59 Sedangkan pergerakan
revolusi adalah suatu gerakan sosial yang bertujuan untuk mengadakan revolusi.60
Pergerakan yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah suatu
gerakan sosial yang dilakukan untuk para buruh dan petani, yang tergabung dalam
Partai Bolshevik, menuntut adanya kebebasan dan dihapuskannya pembagian
kelas, serta penghapusan penindasan yang dilakukan oleh para feodal dan kapitalis
di Rusia. Pergerakan tersebut ditempuh dengan jalan mengobarkan revolusi
57
William Ebenstein dan Edwin Fogelman, op.cit., hlm. 26.
58
Soesanto Tirtoprodjo, 1989, Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta, PT. Pembangunan, hlm. 7
59
W.J.S Poerwadarminta, op.cit., hlm. 317.
60
32
(Revolusi Sosialis) pada bulan Oktober 1917 di Rusia. Sebelum sampai naiknya
pemeritahan komunis di Rusia dan terbentuknya pemerintahan Uni Soviet, rakyat
Rusia harus menyaksikan beberapa kali revolusi. Revolusi tersebut antara lain
Revolusi 1905, Revolusi Februari 1917 dan Revolusi Oktober 1917.
Revolusi-revolusi inilah yang pada akhirnya mengubur sistem kekaisaran Rusia dan
menggantikannya dengan sistem komunisme.
Pergerakan revolusioner sebenarnya telah berjangkit di Rusia sejak awal
abad ke-19. Pergerakan yang secara umum menentang Kekaisaran Rusia ini
dimotori oleh kaum revolusioner dari berbagai kalangan di Rusia, yang kemudian
dikenal dengan Raznochintsy. Umumnya gerakan revolusioner di Rusia dilakukan
secara bawah tanah, yaitu dengan cara penyebaran literatur-literatur
aktivitas-aktivitas ilegal lainnya. Gerakan revolusioner di Rusia mirip penentangan
terhadap kekuasaan Tsar yang dikenal dengan pemberontakan Desembris 1825.
Gerakan ini melibatkan para perwira muda dan yang mengadakan perlawanan di
alun-alun kota St. Petersburg dan menguasai ibukota Rusia tersebut untuk
beberapa waktu. Namun gerakan ini tidak bertahan lama dan berhasil ditumpas.
Para pemimpinnya sebagian dihukum mati dan sisanya dibuang ke Siberia.
Gerakan Desembris gagal karena dianggap tidak memiliki konsep dan pimpinan
yang jelas dan tidak mendapat dukungan massa. Namun gerakan ini diyakini
sebagai “intro” bagi pergerakan revolusioner yang mencapai puncaknya pada
Revolusi Oktober 1917.
Gerakan-gerakan Revolusioner di Rusia mulai beraktivitas kembali setelah
sangat anti-Rusia. Hal ini dikarenakan pemerintahan Tsarisme di Rusia termasuk
yang paling reaksioner, imperalis dan anti rezim liberal di Eropa. Selain itu, Rusia
masih merupakan sebuah negara pertanian, yang semi feodal, bukannya negara
kapitalis maju, yang merupakan setting bagi teorinya. Walaupun demikian,
ide-ide Marx secara antusias diambil oleh kaum terpelajar dan cendekiawan Rusia,
jauh sebelum Marx sendiri tertarik kepada Rusia.61
Gerakan Marxis yang telah muncul dalam tradisi pemikiran Rusia tersebut
kemudian menjadi salah satu permasalahan dalam diskusi kelompok-kelompok
inteligentsia.62 Hal tersebut kemudian makin bergulir menjadi aksi-aksi konkret
untuk menggulingkan pemerintahan Tsarisme di Rusia. Seorang tokoh Marxis
yang membumikan ajaran Marxisme ke Rusia adalah Lenin atau Vladimir Ilyich
Ulyanov.
Pergerakan revolusioner kedua terjadi pada tahun 1905, tepatnya dalam
Revolusi 1905 di Rusia. Diawali dengan terjadinya pemogokan dan demonstrasi
di berbagai kota pada tanggal 9 Januari sampai dengan September 1095. Dalam
tahap awal tersebut, terjadi sebuah peristiwa yang dianggap sebagai pemicu
revolusi dan menimbulkan reaksi yang sangat kuat dari seluruh pelosok negeri.
Peristiwa tersebut adalah “Peristiwa Minggu Berdarah”, di mana sekitar 140 ribu
pekerja St. Petersburg yang mengadakan aksi damai untuk menyampaikan petisi
kepada Tsar disambut oleh tembakan pasukan tentara kerajaan. Kejadian berdarah
tersebut terjadi di Istana Musim Dingin (Winter Palace).
61
A. Fahrurodji, op.cit., hlm. 113-114
62
34
Tahap kedua, tepatnya pada bulan Oktober sampai dengan Desember
1905, terjadi pemogokan nasional yagn diikuti oleh sekitar 3 juta pekerja di Rusia.
Mereka menuntut diberlakukannya hak-hak demokrasi dan kebebasan, termasuk
pemberlakuan 8 jam per hari kerja. Tuntutan tersebut terjawab oleh pemerintah
Tsar dengan sebuah peraturan negara yang kemudian dikenal dengan Manifesto
17 Oktober. Dalam tahap kedua ini diakhiri dengan adanya pemberontakan
bersenjata Desember 1905. Pemberontakan tersebut di Moskow dan merupakan
peristiwa berdarah dalam rangkaian revolusi tahun 1905 hingga tahun 1907.
Tanggal 7 Desember 1905 pemogokan pekerja Moskow praktis menguasai hampir
seluruh perusahaan-perusahaan di kota tersebut.
Sekitar 6 ribu pekerja bersenjata itu memblokir penguasa di dalam kota.
Pemerintah terpaksa menurunkan pasukan dari St. Petersburg untuk memadamkan
pemberontakan itu. Pada tanggal 19 Desember 1905 pemberontakan berhasil
dipandamkan dan banyak pelaku pemberontakan tersebut yang dihukum tembak.63
Tahap ketiga (Januari 1906 sampai dengan 2 Juni 1907) terjadi dua kali
pembentukan Duma Negara. Duma I pada tanggal 27 April sampai dengan 8 Juli
1906 dan Duma II pada tanggal 20 Februari sampai dengan 2 Juni 1907. Hal
tersebut merupakan tahap akhir revolusi, dengan berhasil ditumpasnya gerakan
revolusi Borjuasi itu.64
Pada tahun 1917, terjadi kembali pergerakan revolusioner yang nantinya
menyebabkan terjadinya Revolusi Februari 1917 di Rusia. Hal tersebut diawali
dengan terjadinya krisis yang dirasakan oleh rakyat Rusia karena keterlibatan
63
A. Fahrurodji, op.cit., hlm. 123.
64
Rusia dalam Perang Dunia I secara ekonomi telah membawa kemerosotan yang
tajam. Terlebih setelah adanya pengumuman tentang pemberhentian sekitar 30
ribu pekerja di Petrograd pada tanggal 22 Februari telah mengakibatkan reaksi
yang begitu keras di kalangan para pekerja di mana pada tanggal 23 sampai
dengan tanggal 25 Februari terjadi pemogokan besar-besaran di seluruh kota
tersebut. Sehari kemudian para tentara yang sedianya ditugaskan untuk
menghentikan pemogokan tersebut justru beralih memihak para demonstran.
Sekitar sepekan setelah peristiwa tersebut, tepatnya tanggal 2 Maret 1917, Tsar
Nikholas II mengundurkan diri dari tahta Imperium Rusia dan untuk mengisi
kekosongan kekuasaan dibentuklah organ kekuasaan yang dikenal dengan
Pemerintahan Sementara (Vremennoye Pravitelstvo).65 Revolusi Februari 1917 telah mengakhiri kekuasaan Monarki Rusia dan memutuskan kekuasaan garis
keturunan Dinasti Rumanov di Rusia.
Pergerakan revolusioner selanjutnya dilakukan pada bulan Oktober 1917
di Rusia, tepatnya dalam Revolusi Oktober 1917. Setelah Partai Bolshevik yang
dipimpin oleh Lenin menduduki kelompok mayoritas dalam Dewan Soviet Rusia
pada bulan September 1917, Lenin dan Partai Bolshevik kemudian melakukan
gerakan Revolusioner di Rusia. Berbekal dukungan luas di kalangan rakyat Rusia,
khususnya para petani dan buruh, juga kekuatan senjata yang tidak dimiliki oleh
Pemerintah Sementara di bawah Kerensky, kemudian diadakan kudeta terhadap
Petrograd dengan terlebih dahulu objek-objek vital seperti jembatan, stasiun
kereta api, pembangkit listrik, bank dan sebagainya. Kekuasaan Pemerintah
65
36
Sementara kemudian di pindah ke Komite Militer Revolusioner yang telah
dibentuk sebelumnya, di bawah pimpinan Pevel Lazimir. Diadakan jaga revolusi
di daerah-daerah di Rusia. Revolusi tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu cara
damai dan dengan kekerasan. Salah satu kota yang melakukan perlawanan sengit
terhadap kekuatan Bolshevik adalah Moskow.
Setelah jatuhnya Pemerintahan Sementara, maka dalam kongres Soviet II
seluruh Rusia dibentuklah pemerintahan Soviet yang dikenal dengan Soviet
Komisaris Rakyat yang diketuai oleh Lenin (Kepala Negara) pacsa Revolusi
Oktober 1917, diumumkan pula tuntutan rakyat yang berisi: Pembentukan
perdamaian yang demokratis, penghapusan kepemilikan tanah oleh para tuan
tanah, pengenalan kontrol pekerja atas produksi dan pembentukan pemerintah
soviet. Berhasilnya pergerakan revolusioner yang dipimpin oleh Lenin beserta
Partai Bolshevik pada bulan Oktober 1917 tersebut, maka Lenin sebagai pribadi
yang sangat revolusioner, berhasil pula menerapkan secara praktis teori revolusi
Marxisme dan berhasil mendirikan negara sosialis (komunis) pertama di Rusia
F Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu masalah penelitian. Maka
hipotesis atas permasalahan dalam penelitian skripsi ini sebagai berikut :
1. Kalau Lenin sebagai pribadi yang sangat revolusioner memimpin Partai
Bolshevik dan ia berhasil mendirikan negara sosialis (komunis) pertama di
Rusia, maka Lenin mempunyai peranan yang sangat besar dalam Revolusi