• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917"

Copied!
231
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA

TAHUN 1917

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Sejarah

Oleh:

Kristien Kurniawati Basuki

NIM : 031314012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

MOTTO

“Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia,

Sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan”

(AMSAL 13 : 4)

“Apa yang terlalu sukar bagimu jangan kau cari, dan

Apa yang melampaui kemampuanmu jangan kau selidiki”

(SIRAKH 3 : 21)

“Kuatkanlah tangan yang lemah lesu

Dan teguhkanlah lutut yang goyah”

(5)

v

PERSEMBAHAN

Karya kecil ini kupersembahkan teruntuk :

Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa mendampingi, melindungi dan

selalu memberikan segala hal yang terbaik dalam setiap langkah

hidupku

Bunda Maria yang sungguh baik hati

Kedua orang tuaku yang tercinta,

(Bpk.Laurensius Slamet Basuki dan Ibu Maria Magdalena Triyogani)

Mbak Ika dan Nanda

Nenekku tercinta ( † Kristina Rudailah)

(6)
(7)
(8)

viii

ABSTRAK

PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 Oleh : Kristien Kurniawati Basuki

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis : (1) Lenin dan perannya dalam Revolusi Rusia tahun 1917, (2) latar belakang dan proses terjadinya Revolusi Rusia tahun 1917, (3) dampak Revolusi Rusia tahun 1917 bagi kekaisaran Rusia dan Eropa.

Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode sejarah. Data yang digunakan berasal dari studi pustaka berupa buku-buku sejarah yang mendukung penulisan skripsi ini. Sumber-sumber yang telah diperoleh dianalisis, sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang diajukan. Sedangkan metode penulisan yang digunakan adalah Deskriptif Analitis, yaitu suatu metode penulisan sejarah yang membutuhkan landasan teori atau kerangka konseptual.

(9)

ix

ABSTRACT

LENIN’S ROLE IN RUSSIAN REVOLUTION IN 1917

By: Kristien Kurniawati Basuki

The purpose of this paper is to give a description and analysis of: (!) Lenin and his role in Russian Revolution in 1917, (2) the background and the process of Russian Revolution in 1917, (3) the impact of the Russian revolution in 1917 on the Russian Empire and Europe.

The method applied in this writing is a historical method. Data taken from library study of history books. The available data then were analyzed, in order to answer the problems proposed. The writing method of this study was a descriptive analytical method, it is a history writing method which needs a basic theory or a conceptual framework.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat,

rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “PERANAN LENIN DALAM REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas akhir untuk memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan

berbagai pihak, karena ini pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

kepada :

1. Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan bantuan

kepada penulis selama penulis menyelesaikan studi di Universitas Sanata

Dharma.

2. Ketua Program Pendidikan Sejarah Universitas Sanat Dharma yang telah

memberikan nasehat dan izin kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan ini.

3.Bapak Drs. Sutarjo Adisusilo. J. R, S. Th, selaku pembimbing yang dengan

penuh kesabaran dan perhatian membimbing, serta memberi banyak saran,

masukan dan pemikiran.

4.Bapak Drs. A. K. Wiharyanto, M. M dan bapak drs. Y. R. Subakti, M. Pd,

selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan sarannya yang

bermanfaat bagi penulis.

5.Seluruh dosen Program Pendidikan Sejarah dan pihak sekretariat Pendidikan

(11)

xi

dukungan serta bimbingan dan bantuan selama penulis menyelesaikan studi di

Universitas Sanata Dharma.

6.Staf UPT Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan

pelayanan kepada penulis dalam mendapatkan sumber sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

7.Kedua orang tua penulis, Bapak Laurensius Slamet Basuki dan Ibu maria

Magdalena Triyogani yang telah memberikan dorongan spiritual maupun

material sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di Universitas Sanata

Dharma, serta mbak Ika, mas Sigit, Nanda, Ratna dan keponakanku Bagas

Surya Saputra tercinta terima kasih untuk dukungannya.

8.Semua teman-teman dan sahabat-sahabatku Hellen, Lussy, Siska, Icha, mbak

Yay, Titin, Nova, Budi, Anton, Dina, Githa, Tata, Yudhita, Ika, mas Njoo, mas

Edi atas curhat-curhatnya dan bantuannya.

9.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang turut membantu

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa segala sesuatu tiada yang sempurna.

Demikian juga skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu segala kritik dan

saran yang membangun penulis terima dengan terbuka. Penulis berharap semoga

skripsi ini berguna bagi para pembaca pada umumnya dan bagi penyusun.

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 10

D. Tinjauan Pustaka ... 11

E. Landasan Teori ... 16

F. Hipotesis ... 36

G. Metodelogi Penelitian ... 37

H. Sistematis Penulisan ... 44

BAB II : LENIN DAN PERANNYA DALAM REVOLUSI RUSIA 1917 ... 46

A. Situasi Rusia Menjelang Revolusi ... 48

B. Riwayat Hidup Lenin ... 55

C. Awal Menjadi Revolusioner ... 61

D. Pemikiran-pemikiran Lenin ... 69

(13)

xiii

F. Peranan Lenin Dalam Revolusi Rusia Tahun 1917 ... 93

BAB III : LATAR BELAKANG DAN PROSES TERJADINYA REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 ... 106

A. Latar Belakang Terjadinya Revolusi Rusia Tahun 1917 ... 108

1. Faktor Politik ... 108

2. Faktor Sosial ... 118

3. Faktor Ekonomi ... 129

B. Proses Terjadinya Revolusi Rusia Tahun 1917 ... 133

1. Revolusi Februari 1917 ... 137

2. Revolusi Oktober 1917 ... 143

3. Terbentuknya USSR ... 153

BAB IV : DAMPAK REVOLUSI RUSIA TAHUN 1917 ... 160

A. Dampak Revolusi Rusia Tahun 1917 Terhadap Kekaisaran Rusia ... 161

1. Sistem Politik ... 161

2. Sistem Sosial ... 168

3. Sistem Ekonomi ... 171

4. Sistem Budaya ... 176

B. Dampak Revolusi Rusia Tahun 1917 Terhadap Eropa ... 182

1. Sistem Sosial ... 183

2. Sistem Politik... 186

BAB V : KESIMPULAN ... 189

DAFTAR PUSTAKA ... 191

LAMPIRAN ... 198

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Vladimir Illyich Lenin ... 198

Lampiran 2 : Skema Pemikiran Lenin ... 199

Lampiran 3 : Partai-partai Politik Menjelang Revolusi ... 200

Lampiran 4 : Manifesto Perang Rusia terhadap Jepang yang Dikeluarkan Oleh Tsar Nikholas II ... 201

Lampiran 5 : Lapisan Masyarakat Rusia Abad XVIII ... 202

Lampiran 6 : Peta Kekaisaran Rusia Sebelum Tahun 1914 ... 203

Lampiran 7 : Lambang Uni Soviet ... 204

Lampiran 8 : Peta Rusia Setelah Perang Saudara Tahun 1920 ... 205

Lampiran 9 : Sruktur Lembaga Pemerintahan Uni Sovet ... 206

Lampiran 10 : Lambang RSFSR ... 207

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar Belakang Masalah

Sejarah bangsa Rusia diawali dari keberadaan masyarakat Slavia yang

terbentuk kurang lebih 2000 tahun yang lampau di kawasan sebelah selatan

Baltik. Pada mulanya masyarakat Slavia merupakan masyarakat primitif dan

belum memiliki sistem pemerintahan. Mereka umumnya masih hidup secara

mengelompok dalam hubungan keluarga dan suku. Lambat laun seiring dengan

perjalanan suku-suku Slavia ini menyebar dan menempati wilayah-wilayah luas di

Eropa Selatan, Tengah dan Eropa Timur. Hal ini mengakibatkan munculnya

kelompok-kelompok Slavia Selatan seperti Bolgar, Serbs, Khrovats, Slovens

(mendiami daerah selatan Danube), Slavia Barat yang terdiri dari suku bangsa

Polandia, Vislan, Maravia, Slovakia (bermukim antara laut Baltik dan Sungai

Danube) dan Slavia Timur yang umumnya menempati pesisir sungai Dniepr dan

daerah di sekitar Danau Ilmen. Bangsa Polandia merupakan bangsa terkuat di

antara bangsa-bangsa Slavia. Sebagian besar mereka menempati wilayah di

sekitar sungai Dniepr, di mana sebelum kehadiran mereka di wilayah tersebut,

tanah ini telah dihuni bangsa non Slavia yang dikenal dengan nama Rusy

(orang-orang Rus). Bangsa Rusy ini akhirnya di Slaviakan oleh bangsa Polandia, tanpa

harus mengubah nama asli mereka. Dari nama inilah kemudian dikenal dengan

nama Rus, Russky dan kemudian Rossia (Rusia)1.

1

(16)

2

Selama berabad-abad bangsa Rusia hidup dalam sebuah sistem

pemerintahan feodal Rusia. Tahapan awal dikenal dengan periode kepangeranan

(Knyazhestva) di mana masyarakat Rus dipimpin oleh seorang pangeran (Knyaz). Masa ini berlangsung hingga naiknya Ivan II, Ivanlah yang mengintroduksir

istilah Tsar sebagai simbol kekuasaan seluruh tanah Rus dan membawahi

kepangeranan-kepangeranan yang berada di bawah kekuasaannya. Istilah ”Tsar”

sendiri diadopsi dari kata kaisar (caesar), yang merupakan penggabungan simbol kekuasaan kaisar (barat) dan Khan (timur). Periode terakhir adalah masa

imperium yang dipimpin oleh seorang imperator. Periode ini diawali dan

diperkenalkan pada masa pemerintahan Peter Agung, sebagai bagian dari program

westernisasi dan emansipasi bangsa Rusia agar sederajat dengan barat. Selain itu

dalam masyarakat Rusia pra Bolshevik terdapat dua dinasti yang memimpin

bangsa Rusia , yakni : Dinasti Ryurik (memimpin sekitar 7 abad) dan Dinasti

Rumanov yang memimpin sekitar tiga ratus tahun hingga runtuhnya Imperium

Rusia di awal abad XX2.

Rusia merupakan negara di Eropa yang paling akhir menghapus institusi

perbudakan. Di abad XVIII ketika perbudakan mengalami kemunduran di

berbagai tempat, ia malah berkembang pesat di Rusia. Institusi perbudakan

bertahan beberapa abad di Rusia disebabkan oleh berbagai faktor kondisi sosio

kultural, alam dan letak geografis Rusia. Perluasan wilayah seiring dengan

penaklukan menyebabkan jumlah pekerja atau petani lebih sedikit dari pada luas

tanah yang tersedia. Di samping itu, peperangan yang sering dihadapi Rusia

2

(17)

membutuhkan banyak tenaga untuk dijadikan serdadu. Tak jarang

serdadu-serdadu itu dikumpulkan dari para budak atau petani bebas yang diharuskan

bertempur untuk negara. Sepeninggal Alexander II, maka pemerintahan

dilanjutkan oleh putranya, Alexander III. Alexsander III menilai kebijakan

reformasi yang dilakukan ayahnya telah memperlemah Monarki Rusia3.

Sebelum terjadinya revolusi pada tahun 1917, di Rusia juga terjadi

revolusi pada tahun 1905. Revolusi ini merupakan revolusi pertama Rusia, yang

dikenal dengan revolusi borjuis-demokrat. Revolusi diawali dengan peristiwa

tragis yang terjadi di ibu kota St. Petersburg yang dikenal dengan ” Peristiwa

Minggu Berdarah ”, di mana diperkirakan 1000 orang buruh dibunuh oleh tentara

Tsar pada saat mereka mengadakan suatu tuntutan kepada maharaja, tuntutan itu

ditanda tangani oleh 135.000 orang. Tuntutan itu dimulai dengan :

” Kami pekerja-pekerja kota St, Petersburg, bersama-sama dengan istri-istri, anak-anak dan orang-orang tua yang tak berdaya, mendekati yang Mulia, Raja kami, untuk mencari keadilan dan perlindungan. Kami hidup dalam kemelaratan, kami tertindas, kami diberati dengan pekerjaan di luar kekuatan kami. Kesabaran kami telah habis. Kami telah sampai kepada suatu keadaan yang mengerikan di mana kematian lebih kami senangi daripada terus menanggung kesakitan kami yang tak tertahankan ini...”4

Tetapi usaha itu masih sia-sia, revolusi itu memang cukup dayanya untuk

memaksa Tsar memberikan konsessi. Konsessi itu termasuk dalam Manifes 7

Oktober 1905, Tsar mengizinkan diadakan parlemen (di Rusia disebut Duma

Kerajaan). Tetapi revolusi itu belum cukup dayanya untuk mengisi konsessi itu,

artinya memberi makna pada konsessi itu. Dalam zaman Tsarisme perwakilan

3

A. Fahrurodji, op.cit.,hlm. 97.

4

(18)

4

rakyat Rusia tidak pernah benar-benar menjalankan kekuasaan legislatif5.

Revolusi tidak hanya terjadi di dalam masyarakat yang maju perekonomiannya,

tetapi terjadi juga pada masyarakat yang mengalami kemunduran ekonomi karena

kelaparan-kelaparan, wabah-wabah, penyakit-penyakit, panen-panen yang jelek

kadang-kadang melanda di seluruh negeri serta kebanyakan disertai oleh

keributan-keributan di sana-sini. Hal ini dapat dibuktikan dalam revolusi di Rusia

pada tahun 19056.

Revolusi kedua terjadi pada tahun 1917, tepatnya pada bulan Februari dan

Oktober. Faktor pendorong terjadinya revolusi tahun 1917 meliputi faktor

internasional, nasional dan kondisi politik dalam negara Rusia pada saat itu.

Faktor internasional yang menjadi pendorong terjadinya revolusi di Rusia adalah

kekalahan Rusia dalam perang melawan Jepang dan tekanan berat dari Jerman

dalan Perang Dunia I. Dalam perang tersebut Rusia mangalami kekalahan yang

sangat memalukan, sehingga telah menurunkan mental bangsa Rusia dan semakin

mempercepat gerakan revolusioner yang telah berkembang di Rusia. Akibat dari

keterlibatan Rusia dalm Perang Dunia I adalah Rusia juga harus kehilangan

Polandia, sebagian Baltik, Ukraina dan Belorusia, sehingga memunculkan krisis

mental dan krisis material bangsa Rusia pada saat itu.7

Faktor nasional yang mendorong terjadinya revolusi Rusia tahun 1917

adalah kekuasaan Tsar yang absolut, yang tidak terbatasi oleh organ-organ

lainnya. Kebijakan-kebijakan yang ditentukan Tsar sangat merugikan rakyat.

5

Noer Toegiman, 1956, Peradapan Eropa Sebagai Penyimpangan dari Pola Umum, Ganaco, Bandung, hlm. 156.

6

Crane Brinton, 1962, Anatomi Revolusi, Bhratara, Jakarta, hlm. 45.

7

(19)

Akibatnya rakyat hidup menderita dan perekonomian negara semakin terpuruk.

Karena inilah, Tsar semakin mendapat dorongan dari rakyat agar segera

mengundurkan diri dari tahta kekuasaan. Tsar dianggap tidak dapt dipercaya

untuk memimpin pemerintahan.8

Selain itu, faktor pendorong terjadinya revolusi Rusia tahun 1917 adalah

kondisi politik Rusia yang kacau. Kekuasaan Tsar yang mengalami goncangan

karena adanya aksi-aksi demonstrasi rakyat mengakibatkan kekuasaan Tsar

semakin melemah dan akhirnya harus tumbang pada bulan Maret 1917. Ditambah

lagi setelah jatuhnya otokrasi Tsar, kekuasaan berada dalam tarik-menarik dua

kekuatan besar, yaitu Pemerintahan Sementara di satu sisi, dengan Soviet

Petrograd di sisi lain. Hal ini mengakibatkan terjadinya kekuasaan ganda dalam

masa transisi. Kondisi politik semakin panas ketika partai Bolshevik menduduki

kursi mayoritas dalam Dewan Soviet Petrograd pada bulan September 1917,

karena hal tersebut merupakan langkah awal dari partai Bolshevik menduduki

pemerintahan Rusia pada bulan-bulan selanjutnya.9

Revolusi Februari 1917 ini dikenal dengan istilah Revolusi

Borjuis-Demokrat 1917. Revolusi ini telah mengakhiri kekuasaan Monarkhi Rusia dan

memutuskan kekuasaan garis keturunan Dinasti Rumanov. Tanggal 2 Maret 1917,

Tsar Nikholas II mengundurkan diri dari tahta Imperium Rusia dan untuk mengisi

kekosongan kekuasaan dibentuklah organ kekuasaan yang dikenal Pemerintahan

Sementara (Vremennoye Pravitelstvo). Revolusi Februari 1917 disebabkan karena adanya krisis baik yang terjadi di kalangan atas maupun masyarakat kelas

8

Ibid.,hlm. 116

9

(20)

6

bawah10. Sedangkan Revolusi Oktober 1917 disebabkan karena adanya krisis baik

yang terjadi di kalangan masyarakat kelas atas maupun masyarakat kelas bawah.

Sedangkan Revolusi Oktober 1917 merupakan kemenangan terbesar yang diraih

oleh kelas pekerja sampai sekarang sering dilukiskan sebagai semacam kudeta

Revolusi Oktober 1917 sering disebut sebagai Revolusi Bolshevik. Bolshevik

(dari kata Rusia Bolshe : lebih besar) merupakan faksi terbesar dalam partai

pekerja Sosial-Demokrat Rusia (RSDWP), yang kemudian memisahkan diri

menjadi suatu partai tersendiri menjadi RSDWP (B). Huruf ”B” dalam kurung

berarti Bolshevik. Ini terjadi pada kongres II RSDWP bulan Agustus 190311.

Partai Bolshevik sebagai partai revolusioner dan beraliran radikal

mempunyai sandaran ideologi dan politik yaitu Marxisme dan ajaran-ajaran

Lenin. Slogan Bolshevik : ” Perdamaian, Tanah, Kebebasan, dan Roti”

mencerminkan aspirasi rakyat pekerja Rusia dan argumentasi kaum Bolshevik

semakin mengambil hati rakyat, sehingga Partai Bolshevik menjadi organisasi

utama dalam kelas buruh dan mendapat dukungan yang kuat daripada prajurit juga

petani. Kemenangan yang diraih pada Revolusi Oktober 1917 tentunya tidak lepas

dari peranan Partai Bolshevik di dalamnya12.

Tokoh yang sangat berperan dalam kemenangan yang diraih pada revolusi

Oktober 1917 adalah Lenin atau Vladimir Ilyich Ulyanov. Lenin merupakan nama

samaran yang digunakannya pada saat menulis artikel di Iskra. Lenin merupakan

seorang pemimpin politik yang paling bertanggung jawab terhadap berdirinya

10

Ibid., hlm. 124-125.

11

Ibid., hlm. 129.

12

(21)

komunisme di Rusia. Komunisme merupakan suatu gerakan Marxis yang

dimengerti sebagai sistem sosial, politik, ideologi dan gaya hidup berdasarkan

nilai-nilai Marxisme13. Jadi, komunisme dapat dikatakan sebagai gerakan dan

kekuatan politik partai-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di

bawah pimpinan Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional.

Istilah komunisme ini juga dapat dipakai untuk “ajaran komunisme” atau

Marxisme-Leninisme yang merupakan ajaran atau ideologi resmi komunisme.

Marxisme merupakan salah satu komponen dalam ideologis komunisme14.

Begitu cepatnya Lenin menyebarkan komunisme ke seluruh penjuru

Dunia. Tanpa peranan Lenin komunisme rasanya mesti menunggu bertahun-tahun

untuk mempunyai kesempatan untuk eksist di dunia internasional dan akan

menghadapi perlawanan yang lebih terorganisir15. Lenin lahir pada tanggal 22

April tahun 1870 di Simbirsk (sejak 1924 Ulyanovsk) sebagai anak seorang

bangsawan rendah. Kakaknya, selaku mahasiswa terlibat dalam lingkungan

revolusioner dan ikut merencanakan suatu serangan bom terhadap Tsar. Sebelum

serangan itu dapat dijalankan, ia ditangkap dan kemudian dihukum mati. Sesudah

ia menyelesaikan studi hukum dan sebentar menjalankan praksis hukum, ia

memasuki gerakan revolusioner16.

Pada tahun 1892 Lenin mulai masuk ke dalam pelbagai kelompok Marxis

dan menulis artikel-artikel tentang masalah-masalah Sosialisme. Karena agitasi

13

Miriam Budiardjo, 1982, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, hlm. 87.

14

Frans Magnis Suseno, 1999, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 5.

15

Morton Grosser, 2000, 100 Tokoh Besar yang Membentuk Sejarah Dunia, Intermedia dan Ladang Pustaka, Jakarta, hlm. 212.

16

(22)

8

politiknya, pada tahun 1896 Lenin dihukum pembuangan ke Siberia. Pada tahun

1900 Lenin kembali dari pembuangan dan menetap di Swiss. Bersama Plechanov,

Martov dan Vera Sassulic, Lenin menerbitkan majalah Marxis-Revolusioner Iskra

(”bunga api”) yang kemudian diselundupkan ke Rusia pada tahun 1902 terbit

tulisan Lenin ” Berbuat Apa ? ” yang isinya menguraikan pahamnya tentang ”partai perintis”. Konsepsi partai itu mendapat tantangan luas dari Rosa

Luxemburg. Perbedaan tentang partai mengakibatkan perpecahan partai Sosial

Demokrat Rusia dalam kongresnya 1903 di Brussel dan London ke dalam dua

Kubu : Kaum Bolshevik, mayoritas yang mendukung konsepsi Lenin dan Kaum

Menshevik minoritas yang dipimpin oleh Martov, yang menolaknya17.

Dalam revolusi 1905, Lenin tidak cukup berperan karena pada saat

revolusi tersebut terjadi Lenin dalam pengasingan di Swiss. Lenin baru kembali

ke Rusia pada bulan November. Sekembalinya ke Rusia Lenin mendukung boikot

atas pemilihan anggota Duma, yaitu Dewan perwakilan rakyat yang dibentuk Tsar

sebagai akibat revolusi 1905 dan memberikan persetujuannya atas kudeta

bersenjata di Moscow, yang kemudian gagal. Revolusi terjadi pada bulan Februari

tahun 1917 telah berhasil menurunkan tahta Tsar Nikholas II.

Pada tanggal 2 Maret 1917 itulah kesempatan yang ditunggu-tunggu

Lenin. Lenin pulang ke Rusia pada tanggal 3 April 1917, ia langsung menarik

Partai Bolshevik dari koalisi nasional dan mengumumkan sebuah program radikal,

mematangkan kondisi-kondisi untuk melakukan revolusi dengan semboyan

”Perdamaian, Tanah, Kebebasan dan Roti” ia mencari dukungan massa menderita,

17

(23)

Lenin mencoba mengerogoti legitimasi parlemen resmi. Sebuah percobaan

pemberontakan sayap kiri Partai Bolshevik pada bulan Juli gagal karena

tergesa-gesa, sehingga Lenin harus melarikan diri ke Finlandia. Bulan Oktober Lenin

kembali ke Petrograd dan bersama Trostski mempersiapkan pemberontakan

bersenjata. Pada tanggal 7 November 1917 massa buruh pendukung Lenin yang

dibantu oleh kelasi-kelasi angkatan laut dari Kronstant mengambil alih kekuasaan

di Petrograd. Di bawah Lenin dibentuk ” Dewan Komisaris Rakyat ” sebagai

pemerintah baru18.

Sepak terjang Lenin dalam mewujudkan cita-citanya tampak jelas terlihat

dalam revolusi di Rusia pada tahun 1917, Lenin merupakan seorang revolusioner

yang tidak pernah putus asa dalam usahanya merealisasikan tujuan dan

cita-citanya. Lenin merupakan penganut ajaran Karl Marx dan menterjemahkannya

dalam bentuk tindakan politik praktis yang nyata. Sejak tahun 1917 telah terjadi

ekspansi kekuatan komunis ke seluruh dunia. Kini, sekitar sepertiga penduduk

dunia menganut faham komunis. Hanya berkat tekad dan tangan besi Lenin kaum

Bolshevik berhasil memantapkan kekuasaannya di Rusia.

B Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil beberapa permasalahan

yaitu:

1. Siapa dan apa peranan Lenin dalam Revolusi 1917 ?

2. Mengapa dan bagaimana revolusi komunis Rusia dilancarkan ?

18

(24)

10

3. Bagaimana dampak Revolusi Rusia tahun 1917 terhadap Kekaisaran Rusia

dan Eropa ?

C Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan Penulisan

a. Untuk mendeskripsikan dan menganalisa siapa dan apa peranan Lenin dalam

Revolusi Rusia tahun 1917.

b. Untuk mendeskripsikan dan menganalisa latar belakang dan proses terjadinya

revolusi Rusia tahun 1917.

c. Untuk mendeskripsikan dan menganalisa dampak Revolusi Rusia tahun 1917

terhadap Kekaisaran Rusia dan Eropa.

2. Manfaat Penulisan

a. Bagi Sanata Dharma

Penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan bacaan yang berguna bagi

pembaca yang berada di lingkungan Universitas Sanata Dharma maupun bagi

pembaca yang berada di luar lingkungan Universitas Sanata Dharma.

b. Bagi Perkembangan Pengetahuan Sejarah

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah dan menambah

perbendaharaan ilmu pengetahuan sejarah tentang peranan Lenin dalam

revolusi Rusia tahun 1917.

c. Bagi Peneliti

Untuk menambah pengetahuan tentang peranan Lenin dalam revolusi Rusia

(25)

D Tinjauan Pustaka

Dalam penulisan ini digunakan dua sumber primer dan sumber sekunder

yang berupa buku ataupun artikel. Sumber primer dapat berupa kesaksian dari

pelaku utama peristiwa sejarah itu sendiri dan bisa juga didapat dari saksi mata

yang terlibat secara langsung ataupun menyaksikan secara langsung suatu

peristiwa sejarah terjadi. Sumber primer dapat juga berupa dokumen-dokumen

yang sifatnya resmi pada masa peristiwa sejarah itu terjadi. Sedangkan sumber

sekunder merupakan kesaksian dari siapa pun yang bukan saksi utama atau

sumber yang berasal dari tangan kedua bisa berupa hasil karya orang lain yang

berasal dari kesaksian seorang saksi utama ataupun pelaku utama.

Adapun sumber-sumber primer yang digunakan oleh penulis adalah

berupa sumber tertulis yang diperoleh melalui buku-buku atau artikel-artikel.

Sumber primer yang digunakan adalah sebanyak dua buku dan tiga artikel yang

didapat dari internet.

Pertama adalah Lenin,Vladimir Illyich. 1932. State and Revolution. New York. International Publishers. Buku ini ditulis oleh Lenin antara bulan

Agustus-September 1917 di mana telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh

Sulang Sahun dan diterbitkan oleh lembaga penerbitan Fuspad pada tahun 2000.

Buku ini terdiri dari enam bagian di mana dalam keenam bagian tersebut

menguraikan dan membandingkan pemikiran-pemikiran tentang negara dan

keterkaitannya dengan revolusi melalui pemikiran Lenin, Karl Marx dan Engels.

Dalam pemikiran-pemikiran yang dijabarkan Lenin dalam buku ini akan terlihat

(26)

12

seorang revolusioner, sekaligus praktikus, partisipan dan bahkan pemimpin utama

revolusi itu sendiri. Dalam buku ini, Lenin mengemukakan tentang teori negara

yang di dasarkan pada teori Marxis. Intinya, bahwa negara adalah alat dari sebuah

kelas yang berkuasa. Buku ini juga memuat secara khusus soal ”melenyapkan

negara” sebagai kritik terhadap teori Borjuis yang mengatakan negara adalah

untuk mendamaikan kelas-kelas dan kritik kepada revisionis.

Kedua adalah Lenin, Vladimir Illyich. 1951. Selected Work In Two Volumes. Moscow. Foreigh Languages Publishing House. Buku ini berisi tentang karya-karya Lenin yang merupakan karya-karya pilihan. Buku ini merupakan asli

edisi Rusia yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dalam buku ini

dijabarkan melalui karya-karya yang ditulis oleh Lenin secara garis besar tentang

masa-masa dalam mempersiapkan dan merealisasikan Revolusi Oktober di Rusia.

Selected Works In Two Volumes diterbitkan oleh Foreign Languages Publishing

House di Moscow pada tahun 1951.

Ketiga adalah artikel yang berjudul ”Marxisme dan Pemberontakan”.

Artikel ini merupakan tulisan Lenin yang ditulis pada tanggal 13-14 September

1917 yang terdapat pada situs internet http : //www.marxsis.org/indonesia/

archive/lenin/1917. Dalam artikel ini diceritakan mengenai demonstrasi massa

yang bertempat di Petrograd pada tanggal 3-4 Juli 1917, namun demonstrasi

tersebut mengalami kegagalan dan kekuasaan di daerah pindah ke tangan

Pemerintah Sementara yang kontra revolusioner. Artikel ini mengungkapkan

tentang usaha-usaha Lenin dan kaum Bolshevik untuk mempersiapkan

(27)

juga berisi tentang surat untuk Komite Sentral RSDWP (B) yang dikirim oleh

Lenin.

Keempat adalah artikel yang berjudul ”Takdir Historis bagi Doktrin Karl

Marx”. Artikel ini merupakan tulisan Lenin yang ditulis pada tahun 1913. Artikel

ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anonim pada bulan November

tahun 1998. Artikel ini berisi tentang Manifesto Komunis yang ditulis oleh Karl

Marx dan Engels pada tahun 1848. Artikel ini terdapat dalam situs internet, yaitu

http : //www.ucc.ie/acad/appsoc/tmpstore/mia/library/indonesia/archive/lenin.

Kelima adalah artikel yang berjudul ”Tugas-tugas Kaum Proletariat dalam

Revolusi sekarang ini”. Artikel ini merupakan tulisan Lenin yang ditulis pada

tahun 1917, artikel ini terdapat dalam situs internet http : //www. ucc.ie/ acad/

appsoc /tmpstore/ mia/ library/ indonesia/ archive/ lenin/ 17 April. Berisi tentang

tugas-tugas yang harus diemban oleh kaum proletariat dalam menegakkan

revolusi di Rusia. Artikel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh

Anonim pada bulan Juli tahun 1998.

Selain sumber primer di atas, penulis juga menggunakan sumber sekunder

yang dapat mendukung dalam penelitian ini. Sumber sekunder yang pertama

adalah Arif, Saiful dan Eko Prasetyo. 2004. Lenin Revolusi Oktober 1917. Yogyakarta. Resist Book. Buku ini ditulis oleh Saiful Arif dan Eko Prasetyo,

sanggahan pemikiran Frans Magnis Suseno. Diterbitkan oleh lembaga penerbitan

Resists Book pada tahun 2004. Buku ini menguraikan tentang perjalanan hidup

Lenin hingga keterlibatannya dalam revolusi Rusia pada bulan Oktober tahun

(28)

14

juga membahas tentang lika-liku pergerakan politik revolusioner Rusia hingga

orang-orang terdekat yang paling berpengaruh pada diri Lenin, sehingga Lenin

menjadi seorang pribadi yang sangat revolusioner.

Kedua adalah Ahmad Fahrurodji. 2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. Buku ini ditulis oleh Ahmad Fahrurodji melalui

pengantar Ir. Rochmat Witoelar sebagai menteri Negara Lingkungan Hidup dan

mantan Duta Besar Indonesia di Rusia, diterbitkan oleh lembaga penerbitan

Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2005. Buku ini memberikan gambaran umum

perjalanan Sejarah Rusia, antara lain mengenai kelahiran dan kehancuran

Kekaisaran Rusia, penyebaran dan penerapan ide-ide sosialisme dan komunisme

pada abad XIX-XX. Selain itu, buku ini juga menguraikan tentang kebudayaan

bangsa Rusia serta upaya penerapan demokrasi dan pasar bebas di era Pasca

Soviet.

Ketiga adalah Magnis Suseno, Franz. 2003. Dalam Bayang-bayang Lenin : Enam Pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Buku ini ditulis oleh Franz Magnis Suseno dan diterbitkan oleh

PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2005. Dalam buku ini menguraikan

tentang riwayat hidup Lenin dan pandangan Lenin mengenai negara dan

kediktatoran Proletariat. Dipaparkan juga mengenai lima tokoh lain pemikir

Marxis – Leninis Independent yang paling cemerlang, seperti Leon Trotsky,

Georg Lukacs, Karl Korsch, Antonio Gramsei dan Tan Malaka.

(29)

dan diterbitkan oleh komunitas study perubahan pada tahun 2000. Dalam buku ini

lebih banyak mengungkapkan sejarah perjuangan Lenin dalam mewujudkan

masyarakat komunis di Rusia dan riwayat hidup Lenin sebagai seorang pribadi

yang sangat revolusioner.

Kelima adalah Curtis, John Shelton. 1957. The Russian Revolutions of 1917. New York. D. Van Nonstrand Company. Buku ini ditulis oleh John Shelton dan diterbitkan oleh D. Van Nostrand Company pada tahun 1957 di New York.

Buku ini menguraikan secara garis besar mengenai latar belakang, proses jalannya

revolusi Rusia dan tokoh yang paling berperan dalam revolusi Rusia tersebut

(Lenin).

Keenam adalah artikel yang berjudul “Revolusi dan Kontra Revolusi”.

Artikel ini ditulis oleh Tony Cliff dan pernah diterbitkan di Internasional

Socialism no 80 tahun 1998 di Inggris. Artikel ini terdapat dalam situs internet

http : // www.geocities.com/ frontasional/ revolusi. Artikel ini menguraikan secara

garis besar tentang jalannya Revolusi Februari dan Revolusi Oktober yang terjadi

di Rusia tahun 1917.

Ketujuh adalah artikel yang berjudul ”Revolusi Februari 1917”. Artikel ini

ditulis oleh Lian Jenvey dan terdapat dalam situs internet http://www.

arts.anu.edu.au/suartos/ februari. Dalam artikel ini secara garis besar menguraikan

tentang jalannya revolusi pada bulan Februari tahun 1917 di Rusia.

Kedelapan adalah artikel yang berjudul ”Revolusi Oktober 1917”. Artikel

(30)

16

arts.anu.edu.au/suartos/ februari. Dalam artikel ini secara garis besar menguraikan

tentang jalannya revolusi pada bulan Oktober tahun 1917 di Rusia.

E Landasan Teori

Skripsi ini berjudul Peranan Lenin dalam Revolusi Rusia tahun 1917.

Untuk dapat menjelaskan lebih mendalam tentang permasalahan dan ruang

lingkup penelitian ini, maka dibutuhkan uraian dari beberapa konsep supaya bisa

menjelaskan dan menguraikan permasalahan penelitian skripsi ini. Kerangka

konsepnya adalah peranan, marxisme, sosialisme, revolusi dan pergerakan.

1.Batasan Istilah

a. Peranan

Peran atau role merupakan cara tertentu yang dilakukan seseorang untuk menjalankan peranan yang dipilihnya19. Peran juga merupakan perilaku yang

diharapkan dalam kerangka posisi sosial tertentu20. Peranan adalah kata yang

berasal dari kata dasar ”peran” yang artinya pemain sandiwara, tukang lawak,

yang berakhiran –an21. Dalam arti yang lain, peranan adalah fungsi seseorang atau

sesuatu dalam dalam kehidupan, faktor manusia sangat penting dalam

pembangunan22. Peranan juga diartikan bagian dari tugas yang diemban yang

harus dilakukan23.

19 Save M. Dangun, 1997,

Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, LPKN, Jakarta, hlm. 870.

20

Adam Kuper dan Jessica Kuper, 2000, Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, PT. Raja Gratindo Persada, Jakarta, hlm. 672.

21

W.J.S. Poerwadarminta, 1976, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, hlm. 506.

22

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983, Kamus Bahasa Indonesia Jilid II, Jakarta, hlm. 1579.

23

(31)

Dalam psikologi sosial, peran berkaitan dengan kepribadian seseorang di

dalam masyarakat, yaitu karakter yang dianggap sesuai dengan dirinya dalam

kedudukannya sebagai anggota masyarakat. Istikah lain dari peran sosial

seseorang dalam hidupnya adalah persona yang diambil langsung dari bahasa Yunani Persona, yang berarti topeng yang dipakai seseorang aktor di pentas. Persona timbul akibat kebutuhan bawaan untuk melengkapi diri dengan

penyangga dalam suatu penyesuaian antara dunia bawah sadar, dunia yang

disadari dan dunia luar.24

Sepanjang masyarakat menyadari bahwa diri mereka dan oreang lain

menduduki posisi yang memiliki berbagai hak dan kewajiban, maka perilaku

mereka tidak dapat dipahami tanpa mengacu pada berbagai ekspektasi mereka

tentang bagaimana seharusnya mereka berperilaku dan perilaku apa yang harus

dilakukan orang lain dalam berhadapan dengan mereka. Masyarakat sebagai satu

unit, di mana setiap orang memiliki berbagai peran yang harus dimainkan, dan

dalam unit itu peran-peran yang utama sudah ditetapkan dengan jelas.25

Maka yang dimaksudkan peranan dalam penulisan ini mengacu pada

peranan atau tugas yang harus dilakukan oleh seorang Lenin dalam Revolusi

Rusia tahun 1917. Adapun peranan Lenin dalam Revolusi Rusia tahun 1917

adalah sebagai pemimpin Partai Bolshevik dan pendiri negara sosiais (komunis)

pertama di Rusia.

Dalam pengertian peranan di atas, maka peranan Lenin dalam Revolusi

Rusia tahun 1917 memang cukup besar, terutama dalam revolusi bulan Oktober

24

Frank J. Bruno, 1989, Kamus Istilah Kunci Psikologi, Kanisius, Yogyakarta, hlm. 79

25

(32)

18

tahun 1917 di Rusia. Revolusi Rusia tahun 1917 terjadi dalam dua fase. Fase yang

pertama terjadi pada bulan Februari yang berhasil menjatuhkan otokrasi Tsar

Rusia di bawah Tsar Nikolas II dan dibentuk sebuah Pemerintahan Sementara

(Privinsional Government). Revolusi ini telah mengakhiri Sistem Monarki yang telah berlangsung berabad-abad di tanah Rusia. Dalam Revolusi Februari tersebut

Lenin tidak cukup berperan karena pada saat revolusi berlangsung, Lenin masih

tinggal di Swiss. Sedangkan fase yang kedua terjadi pada bulan Oktober yang

dikenal dengan Revolusi Komunis.

Peranan Lenin dalam Revolusi Oktober 1917 cukup besar. Mendengar

otokrasi Tsar Rusia di bawah Tsar Nikholas II telah jatuh, Lenin kemudian

kembali ke Rusia dari Swiss melalui Jerman dan akhirnya tiba di Petrograd pada

16 April 1917. Pada saat itu, di Rusia terdapat dua badan yang memiliki

kekuasaan, yaitu Pemerintahan Sementara yang terdiri dari Kadet, Menshevik dan

Sosialis Revolusioner dan Dewan Soviet Petrograd yang merupakan Dewan

Buruh, tentara juga petani. Walaupun Pemerintahan Sementara lebih memiliki

legitimasi, tetapi secara riil kekuasaan dipegang oleh Soviet Petrograd. Lenin

mengangggap Pemerintahan Sementara tersebut sungguh-sungguh imperialis dan

tidak layak mendapatkan dukungan dari kaum sosialis. Pemerintahan tersebut

dianggap tidak dapat memuaskan harapan-harapan para buruh, tentara dan petani

kecil.

b. Marxisme

Ajaran Karl Marx pada dasarnya menitikberatkan pada empat ide, yaitu:

(33)

kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum pekerja atau buruh yang teramat

banyak jumlahnya hidup dalam kesengsaraan. (II) Cara untuk merombak

ketidakadilan adalah dengan melaksanakan suatu kelas sosialis, yaitu sistem di

mana alat-alat produksi dikuasai oleh negara, bukannya pribadi swasta. (III) Pada

hematnya, satu-satunya jalan yang paling baik untuk melaksanakan sistem sosialis

ini adalah lewat revolusi kekerasan. (IV) Untuk mewujudkan satu sistem sosialis

harus dibentuk kediktatoran partai komunis dalam jangka waktu yang memadai26.

Timbulnya faham komunis dilatarbelakangi oleh situasi sosial pada awal

abad ke-19 di Eropa Barat, ketika kaum buruh hidup dalam keadaan sangat

menyedihkan. Sistem kapitalisme yang mendominasi perkembangan sektor

industri dan lebih mengutamakan kepentingan ekonomis, telah menimbulkan

keadaan sosial yang sangat merugikan kaum buruh. Dengan demikian yang

nampak dalam kapitalisme adalah sistem pemerasan seperti halnya feodalisme dan

perbudakan27.

Teori Marxist di sini meliputi: penafsiran sejarah dari segi ekonomi,

dinamika perubahan sosial, revolusi sebagai satu-satunya jalan keluar, humanisme

dan konsep alienasi, juga kontradiksi ekonomi dalam sisten kapitalis. Analisis

Marx tentang masyarakat dinyatakan dalam penafsiran ekonomi atas sejarah.

Produksi barang dan jasa yang menopang kehidupan manusia serta pertukaran

barang dan jasa itu merupakan dasar dari segala proses dan lembaga sosial. Marx

melukiskan hubungan antara kondisi meterial dari kehidupan masyarakat dengan

26

Michael Hart, 1985, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Pustaka Jaya, Jakarta, hlm. 88.

27

(34)

20

idenya : bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi

sebaliknya, keberadaan sosial manusia itulah yang menentukan kesadarannya.28

Konsepsi Marx terhadap masalah perubahan sosial yang penting adalah :

(1) kekuatan produksi (force of production) dan (2) hubungan produksi (relation of production). Konsepsi Marx tentang kekuatan produksi mengungkapkan hubungan manusia dengan alam dan pada dasarnya merupakan apa yang

dimaksudkan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Pengertian Marx tentang

hubungan produksi, mengungkapkan hubungan manusia dengan manusia lain dan

mencakup semua masalah yang dewasa ini sering dimasukkan dalam pengertian

istilah lembaga sosial.29

Marx secara tegas menolak bahwa pribadi pemilik tanah dan kaum

kapitalis industri tidak memiliki ketamakan yang egois dalam usahanya

menghalangi perubahan sosial. Karena itu, kelas berkuasa mengerahkan semua

sarana suprastruktur hukum, politik dan ideologi untuk membendung perubahan

sosial tersebut. Dalam bukunya Communist Manifesto, Marx menandaskan bahwa sejarah seluruh manusia hingga sekarang merupakan sejarah perjuangan kelas,

sehingga tujuan mereka dapat dicapai hanya dengan merombak semua kondisi

sosial yang ada dengan jalan kekerasan30

Menurut Marx, komunisme merupakan penghapusan yang pasti atas hak

milik pribadi, alienasi (keterasingan) dari manusia merupakan pemberian yang

nyata dari hakekat kemanusiaan oleh dan untuk manusia. Karena itu, berubahnya

28

William Ebenstein dan Edwin Fogelman, 1987, Isme-isme Dewasa Ini, Erlangga, Jakarta, hlm. 2-3

29

Ibid.,hlm. 5-6

30

(35)

manusia menjadi makhluk sosial merupakan peralihan yang sempurna dan sadar

yang mengasimilasikan semua kekayaan dari perkembangan sebelumnya.

Komunisme sebagai naturalisme yang sedang berkembang secara sempurna

merupakan humanisme dan sebagai humanisme yang sempurna merupakan

naturalisme.31 Sedangkan mengenai kontradiksi ekonomi dalam sistem kapitalis,

manurut Marx, semakin berhasil kapitalisme, maka semakin tinggi pula tingkat

pengorganisasian perusahaan kapitalis dalam unit-unit berskala besar. Akibatnya,

para buruh yang besar menghimpun diri di dalam asosiasi yang tetap dan erat,

serta saling memperkokoh kedudukannya sebagai kelompok proletar.32

Terdapat tujuh dasar komunisme, yaitu (1) kelas proletar merupakan kelas

kekuatan untuk mendukung revolusi, (2) adanya perjuangan kelas, yaitu kelas

proletar melawan kelas borjuis, (3) alat-alat produksi yang menghasilkan

barang-barang kebutuhan hajat hidup orang banyak harus dimiliki bersama, bukan

perseorangan, (4) adanya revolusi dengan kekerasan demi terwujudnya

komunisme di suatu negeri, (5) pendirian sistem pemerintahan Diktator Proletariat

guna menghancurkan semua kekuatan yang bersifat kapitalis, (6) komunisme

harus didirikan di seluruh dunia, (7) Uni Soviet sebagai pusat revolusi dunia dan

adanya gerakan komunis internasional.33

Terbaginya masyarakat menjadi kelas atas dan kelas bawah tersebut

merupakan salah salah satu ciri khas masyarakat kapitalis. Kelas atas adalah para

pemilik alat-alat produksi, kelas bawah adalah kaum buruh. Kelas atas adalah

kelas sosial yang menguasai bidang produksi, kelas bawah adalah mereka yang

31

Ibid.,hlm. 12

32

Ibid.,hlm. 14.

33

(36)

22

harus tunduk terhadap kekuasaan kelas atas.Buruh hanya diberi pekerjaan apabila

ia bekerja demi keuntungan pemilik. Karena itu hubungan antara kelas atas dan

kelas bawah pada hakekatnya merupakan hubungan penghisapan tenaga kerja

kelas buruh34.

Menurut Karl Marx, untuk melakukan revolusi guna membentuk sebuah

masyarakat komunis penuh harus didasarkan pada kekuatan kaum proletar. Hal itu

disebabkan karena jumlah kaum proletar atau buruh cukup besar dan mereka

merasakan langsung penderitaan akibat sistem kapitalisme di Eropa pada waktu

itu. Selain itu, kaum proletar atau buruh banyak bermukim di wilayah perkotaan,

sehingga tenaga mereka dapat digunakan secara efektif untuk merebut pusat-pusat

kekuasaan pemerintahan di kota-kota. Langkah-langkah yang perlu diambil oleh

kaum revolusioner untuk mewujudkan masyarakat komunis, setelah kemenangan

politis berhasil dicapai adalah membentuk pemerintahan Diktator Proletariat yang

melancarkan proses nasionalisasi dan sosialisasi alat-alat produksi serta

penghapusan hak milik dan sistem kapitalisme diharapkan secara bertahap akan

membentuk fase masyarakat komunis penuh, di mana berlaku prinsip ekonomi:

setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya dan menerima balas jasa

sesuai dengan kebutuhannya atau dengan kata lain berlaku prinsip sama rata, sama

rasa35.

Pada dasarnya Lenin melakukan penyempurnaan terhadap

gagasan-gagasan Karl Marx dalam hal peranan partai, petani dan revolusi. Dalam masakah

kepartaian, Lenin tidak sepaham sepenuhnya dengan Marx. Dalam pemikiran

34

Frans Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, op.cit.,hlm. 115.

35

(37)

Marx, partai itu hendaknya mempunyai massa yang banyak dan terdiri dari kaum

buruh yang fanatik terhadap ajaran komunis. Sedangkan menurut Lenin partai itu

haruslah kecil, militant dan terdiri dari ”professional revolutionaries” untuk memimpin kaum proletar. Kalau sekarang disebut Partai Kader. Partai seperti

itulah yang mungkin yang merupakan alat yang ampuh untuk mewujudkan

masyarakat komunis. Lenin tidak setuju sepenuhnya dengan apa yang

dikemukakan oleh Marx tentang revolusi.

Menurut Marx, Revolusi Komunis harus menitikberatkan pada kekuatan

kaum proletar dan dilakukan di negara di mana sektor industrinya mempunyai

kedudukan yang cukup dominan. Namun menurut Lenin, Revolusi Komunis dapat

dilakukan di negara agraris yang sektor industrinya belum berkembang. Revolusi

ini dapat dilakukan dengan bantuan kaum petani yang akan mendukung

perjuangan kaum proletar yang jumlahnya belum cukup besar. Tetapi menurut

Lenin, kekuatan utama atau inti kekuatan kaum revolusioner tetap harus dipegang

oleh kaum proletar36.

Dalam usahanya meletakkan dasar-dasar komunisme di Rusia, maka Lenin

menyerukan kepada kaum revolusioner profesional untuk mengadakan

penyusupan atau infiltrasi dan membentuk sel-sel di dalam lembaga-lembaga

sosial, politik, pendidikan dan ekonomi di tengah masyarakat seperti sekolah,

gereja, serikat buruh dan partai politik di atas semua itu, ia menyerukan untuk

mengadakan infiltrasi ke dalam tubuh angkatan bersenjata, kepolisian dan

pemerintah.

36

(38)

24

Lenin juga mengungkapkan suatu kejelasan bahwa kelompok komunis

harus bergabung dan melibatkan diri ke dalam kegiatan-kegiatan ilegal, bahkan di

negara-negara yang mengizinkan adanya Partai Komunis secara resmi. Ia

berpendapat bahwa kesempatan yang legal harus digunakan semaksimal mungkin,

tetapi secara khusus Ia menyerukan kepada aktivis-aktivis mahasiswa untuk

beroperasi melalui organisasi garis depan, sambil terus mengganti nama dan

jabatan, selalu ingat akan tujuan yang terakhir, yaitu perebutan kekuasaan melalui

revolusi37.

c. Sosialisme

Sosialisme merupakan ajaran atau paham kenegaraan yang berusaha

supaya harta benda, industri dan perusahaan menjadi milik negara38. Dilihat

secara khusus dan konkrit dalam sejarah, sosialisme sebagai gerakan politik yang

efektif dan terorganisasi merupakan produk awal dari revolusi industri. Sosialisme

sebagai kekuatan politik utama merupakan hasil dari kapitalisme industri modern.

Sosialisme mewarisi tujuan pokok yang sama dari kapitalisme, yaitu melestarikan

kesatuan faktor tenaga kerja dan kepemilikan39.

Dalam teori sosialisme, mengandung unsur-unsur, yaitu agama, idealisme

etis dan estetis, empirisme fabian, juga liberalisme. Di Inggris dan Amerika

Serikat, agama memainkan peranan yang penting dalam wilayah-wilayah

pemukiman yang menjalin kerja sama dan bersifat komunal. Dengan kata lain,

agama berperan dalam pembentukan dan perkembangan sosialisme. Sebaliknya,

di Rusia dan Amerika Latin, agama kurang berperan di dalam pembentukan dan

37

William Ebenstein dan Edwin Fogelman, op.cit.,hlm. 24

38

W. J. S. Poerwadarminta, op.cit.,hlm.961.

39

(39)

perkembangan sosialisme. Terlebih di Rusia, sosialisme benar-benar bebas dari

pengaruh dan sengat keagamaan.40

Idealisme etis dan estetis merupakan sumber bagi sosialisme, karena

merupakan pemberontakan melawan kemelaratan, kebosanan dan kemiskinan

hidup di bawah kapitalisme industri.41 Empirisme Fabian merupakan ciri gerakan

sosialis Inggris yang paling khas. Fabianisme telah sering digambarkan sebagai

pembaharuan tanpa kebencian, pembangunan kembali masyarakat tanpa perang

kelas, empirisme politik tanpa dogma atau fanatisme.42

Sedangkan liberalisme merupakan sumber yang penting dalam sosilaisme.

Liberalisme telah memberikan banyak sumbangan yang dapat tahan lama bagi

sosialisme Inggris, karena para pemimpin sosialis menjadi lebih moderat dan

menghargai kebebasan para individu. Liberalisme juga telah mewariskan kepada

partai buruh bahwa pembaharuan akan tercapai tanpa kebencian dan

kedengkian.43

Kemudian oleh Lenin (1870-1924) istilah sosialisme dihidupkan kembali

untuk menunjuk pada apa yang oleh Marx disebut “tahap awal dari komunisme”

(the early phase of communism), yang mendahului terciptanya komunisme penuh. Dalam tahap ini prinsip ekonomi adalah setiap orang memberi menurut

kemampuannya, setiap orang menerima sesuai dengan karyanya. Sedangkan

dalam tahap komunisme penuh, prinsip ekonomi telah berkembang menjadi:

40

Ibid.,hlm.221

41

Ibid.,hlm.222

42

Ibid.,hlm.227

43

(40)

26

setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya, setiap orang menerima

menurut kebutuhannya44.

Lenin dan para pengikutnya menganggap diri mereka itu Marxis, dan

mereka memandang diri mereka sendiri bertolak pada jalan yang menuju

sosialisme yang pertama dan kemudian komunisme, dan bahwa karena itu, baik

secara subjektif maupun secara objektif, mereka adalah bagian dari gejala baru

sosialisme. Selain itu, sejauh para penguasa Bolshevik mengidentifikasi diri

mereka dengan sosialisme, mereka memikat banyak orang di Barat yang

mengharapkan kemenangan sosialisme-demokratis. Kenyataan bahwa tahap

Leninis itu di Rusia ditandai dengan ambiguitas-ambiguitas yang penting, hal

itupun membantu dalam memperoleh simpati Barat45.

Pada permulaan berdirinya partai-partai Marxis pada akhir abad ke-19,

semua partai memakai nama “sosial-domokrat”. Penggunaan nama itu dalam arti

sebagai sosialisme yang moderat baru muncul pada tahun 1903, waktu timbul

perpecahan di dalam tubuh partai buruh sosial-demokrat Rusia antara Bolshevik

dan kelompok Menshevik. Kelompok Bolshevik di bawah pimpinan Lenin

menginginkan perubahan secara radikal di bawah bimbingan suatu partai elite,

sedangkan kelompok Menshevik ingin mengadakan perubahan sosial secara

damai dan dengan persetujuan rakyat. Dewasa ini Rusia beserta dengan

kebanyakan negara Eropa Timur yang sama ideologinya, menganggap dirinya

44

Miriam Budiardjo, 1984, Simposium Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi, PT. Gramedia, Jakarta, hlm. 3-4.

45

(41)

berada dalam tahap awal komunisme dan menamakan dirinya ”Negara-negara

sosialis”46.

2. Landasan Teori

a. Revolusi

Kata revolusi pertama kali muncul dalam teks politik Italia pada abad XIV

yang berarti penggulingan pemerintahan; kejadian seperti itu dilihat sebagai

bagian dari siklus dalam pemerintahan kekuasaan antar pihak-pihak yang yang

bersaing tanpa terjadi perubahan besar terhadap institusi-institusi yang terlibat47.

Istilah revolusi berasal dari bahasa Latin “revolve” yang artinya menjungkir balikkan kembali. Istilah Revolusi berasal dari bahasa Inggris “revolution” merupakan perubahan radikal dalam suatu sistem politik suatu masyarakat yang

berlangsung dalam tempo yang singkat dengan jalan kekerasan48. Revolusi juga

diartikan perubahan yang dilakukan dengan jalan mengesampingkan azas.

Azas-azas lama yang digantikan dengan Azas-azas-Azas-azas baru49.

Revolusi hanya digunakan sebagai sinonim dari “perubahan” atau

mungkin juga dengan pengertian perubahan dengan tiba-tiba atau perubahan

hebat. Revolusi itu tidak lebih dan tidak kurang adalah suatu perubahan yang baik

sifatnya dan yang bersifat tetap atau mengarah pada kemajuan atau

perkembangan50.

Di dalam kepustakaan tentang negara-negara yang sedang berkembang,

gejala revolusi mendapat perhatian besar. Sebuah masalah yang berhubungan

46

Miriam Budiardjo, Simposium Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi, op.cit.,hlm.5.

47

Save M. Dangun, op.cit., h1m.924.

48

Adam Kuper dan Jessica Kuper,op.cit., h1m.969.

49

T.S.G Mulia, 1990, Ensiklopedi Indonesia, W Van Hoeve, Bandung, h1m.320

50

(42)

28

dengan hal ini adalah pengertian revolusi tidak selalu digunakan dengan arti yang

sama. Pengertian revolusi ini akan dipakai untuk gejala-gejala, di mana perubahan

terjadi di dalam secara agak sekonyong-konyong dengan cara kekerasan

fundamental, mengenai struktur sosio-politik, lembaga-lembaga sosio-politik dan

kepemimpinan politik di dalam masyarakat, yang disertai perubahan-perubahan

fundamental mengenai ideologi politik, nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku

mengenai kebijaksanaan serta kegiatan pemerintah51.

Hampir semua definisi ilmu sosial kontemporer mengenai revolusi

menekankan pada perubahan “negara” dan “struktur kelas” dengan kekerasan.

Menurut Samuel P. Huntington revolusi adalah perubahan domestik yang keras,

mendasar, dan cepat dalam nilai-nilai dan mitos-mitos dominan masyarakat

mengenai lembaga-lembaga politiknya, struktur sosialnya, kepemimpinannya,

kegiatan dan kebijakan pemerintahannya. Anthony Gidens mendefinisikan

revolusi merupakan perebutan kekuasaan negara melalui cara-cara kekerasan oleh

para pemimpin gerakan massa, kemudian kekuasaan tersebut digunakan untuk

memprakarsai proses reformasi sosial besar-besaran52.

Menurut John Forlan, revolusi merupakan setiap peristiwa yang

partisipasinya dikaitkan dengan Partai Sosialis Revolusioner dan menuntut

perubahan politik inkonstitusional maupun perubahan radikal struktur kelas

pedesaan atau keduanya. Biasanya tuntutan tersebut berkenaan dengan tuntutan

penggulingan paksa atas sistem politik yang ada53.

51

J.W. Schoorl, 1998, Modernisasi, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 194.

52

John Forlan (ed), 2004, The Future Revolution; Masa Depan Revolusi di Era Globalisasi dar Mendefinisikan Ulang makna Revolusi, Insist Press, Yogyakarta, h1m.34.

(43)

Memahami revolusi memerlukan teori-teori tentang penyebabnya,

partisipannya, proses-prosesnya dan hasil-hasilnya dari revolusi. Revolusi tidak

muncul dari tingkat deprivasi yang parah. Revolusi justru terjadi ketika berbagai

kesulitan , perang dan krisis keuangan negara berhasil di atasi, namun memiliki

institusi-institusi yang rentan terhadap revolusi. Ciri kelembagaan yang

menyebabkan kerentanan tersebut adalah lembaga militer sangat inferior terhadap

militer dari negara-negara yang menjadi persaingannya, elit yang otonom mampu

menentang atau menghadang implementasi kebijaksanaan yang dijalankan

pemerintah pusat, kaum petani memiliki organisasi pedesaan yang otonom dan

konsentrasi besar dari para pekerja pasar dan buruh di seputar pusat-pusat politik

yang tidak terjaga dengan baik.54

Proses revolusi dan peran para partisipannya sangat beragam. Aliansi awal

antara kelompok mederat yang mengusahakan reformasi dan kelompok radikal

yang menginginkan perubahan besar. Perpecahan secara bertahap antara

kelompok moderat dan kelompok radikal; perang saudara karena para pemimpin

partai-partai revolusioner berusaha memperluas kekuasaan mereka ke seluruh

negara dan menghilangkan oposisi; munculnya kekuasaan otoriter oleh seorang

pemimpin tunggal. Akibat dari revolusi bisa sangat beragam. Hal ini tergantung

tidak hanya pada faktor-faktor yang menyebabkan revolusi, tetapi juga pada

berbagai kekhususan proses revolusi, pengaruh yang ditimbulkan oleh

54

(44)

30

negara asing serta permasalahan dan sumber daya yang dihadapi oleh pemenang

dan perjuangan revolusioner.55

Dalam konteks Rusia, Marxisme menganggap revolusi sebagai sesuatu

yang diinginkan dan tak dapat terhindarkan. Kaum proletariat bangkit merenggut

alat kontrol dari kaum borjuis dan menggunakan negara sebagai wahana untuk

merampas alat-alat produksi, sehingga mengubah seluruh dasar hubungan sosial.

“Perampasan terhadap perampas” menghasilkan tanah bagi para petani dan pabrik

bagi para pekerja. Kekerasan dalam kadar tertentu mungkin diperlukan, karena

kelas penguasa tidak akan menyerahkan posisinya dengan sukarela56.

Sebagai orang Rusia, Lenin sangat tahu akan lemahnya ikatan sosial dan

kecilnya kekuatan keorganisasian yang mencirikan masyarakat yang secara

ekonomi masih terbelakang. Di negara-negara seperti itu massa penduduk terdiri

dari para petani miskin yang hidup di desa-desa terpencil dengan sarana

komunikasi yang sangat minim. Hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama

sekali serikat buruh, dan praktis tidak ada kelas menengah yang di negara maju

merupakan tulang punggung perlawanan anti komunis. Di negaranya sendiri

Lenin menyaksikan bahwa dengan kekuatan kecil saja dari tentara dan polisi dapat

mengontrol massa rakyat yang begitu besar dan tidak terorganisasi. Karena itu

Lenin yakin bahwa dengan kekuatan perlawanan yang relatif kecil tetapi

berdisiplin tinggi dan teroganisasi secara baik, kekuasaan dapat direbut dari sistem

aparat yang ada. Dalam tulisannya, What Is To Be Done?, Lenin mengatakan, “Berikan kepada kami sekelompok kaum revolusionis, dan kami akan menguasai

55

Ibid.,hlm.926

56

(45)

seluruh Rusia.” Menjelang tahun 1917 Lenin memiliki kelompok atau organisasi

yang dibutuhkannya dan ia benar-benar menguasai Rusia57.

Keberhasilan yang diraih dari Revolusi Rusia tahun 1917 tidak hanya

berpengaruh dalam kehidupan politik, sosial dan ekonomi Bangsa Rusia

selanjutnya, tetapi juga berpengaruh dalam kehidupan bangsa-bangsa lain di dunia

internasional. Pada kenyataannya, ideologi komunis masih eksist hingga saat ini.

Hal ini membuktikan bahwa segala usaha, proses dan hasil revolusi yang terjadi di

Rusia pada tahun 1917 merupakan suatu keberhasilan yang patut dibanggakan.

Pada puncaknya komunisme berkuasa dalam 18 negara yang mencakup sepertiga

umat manusia.

b. Pergerakan

Gerakan adalah perjuangan untuk mencapai suatu kemerdekaan untuk

mengakhiri penjajahan, yang bersifat “pergerakan” artinya yang membentuk

“organisasi” yang teratur.58 Pergerakan adalah segala usaha atau kegiatan di

lapangan sosial maupun lapangan politik di suatu negara.59 Sedangkan pergerakan

revolusi adalah suatu gerakan sosial yang bertujuan untuk mengadakan revolusi.60

Pergerakan yang dimaksud dalam penulisan skripsi ini adalah suatu

gerakan sosial yang dilakukan untuk para buruh dan petani, yang tergabung dalam

Partai Bolshevik, menuntut adanya kebebasan dan dihapuskannya pembagian

kelas, serta penghapusan penindasan yang dilakukan oleh para feodal dan kapitalis

di Rusia. Pergerakan tersebut ditempuh dengan jalan mengobarkan revolusi

57

William Ebenstein dan Edwin Fogelman, op.cit., hlm. 26.

58

Soesanto Tirtoprodjo, 1989, Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta, PT. Pembangunan, hlm. 7

59

W.J.S Poerwadarminta, op.cit., hlm. 317.

60

(46)

32

(Revolusi Sosialis) pada bulan Oktober 1917 di Rusia. Sebelum sampai naiknya

pemeritahan komunis di Rusia dan terbentuknya pemerintahan Uni Soviet, rakyat

Rusia harus menyaksikan beberapa kali revolusi. Revolusi tersebut antara lain

Revolusi 1905, Revolusi Februari 1917 dan Revolusi Oktober 1917.

Revolusi-revolusi inilah yang pada akhirnya mengubur sistem kekaisaran Rusia dan

menggantikannya dengan sistem komunisme.

Pergerakan revolusioner sebenarnya telah berjangkit di Rusia sejak awal

abad ke-19. Pergerakan yang secara umum menentang Kekaisaran Rusia ini

dimotori oleh kaum revolusioner dari berbagai kalangan di Rusia, yang kemudian

dikenal dengan Raznochintsy. Umumnya gerakan revolusioner di Rusia dilakukan

secara bawah tanah, yaitu dengan cara penyebaran literatur-literatur

aktivitas-aktivitas ilegal lainnya. Gerakan revolusioner di Rusia mirip penentangan

terhadap kekuasaan Tsar yang dikenal dengan pemberontakan Desembris 1825.

Gerakan ini melibatkan para perwira muda dan yang mengadakan perlawanan di

alun-alun kota St. Petersburg dan menguasai ibukota Rusia tersebut untuk

beberapa waktu. Namun gerakan ini tidak bertahan lama dan berhasil ditumpas.

Para pemimpinnya sebagian dihukum mati dan sisanya dibuang ke Siberia.

Gerakan Desembris gagal karena dianggap tidak memiliki konsep dan pimpinan

yang jelas dan tidak mendapat dukungan massa. Namun gerakan ini diyakini

sebagai “intro” bagi pergerakan revolusioner yang mencapai puncaknya pada

Revolusi Oktober 1917.

Gerakan-gerakan Revolusioner di Rusia mulai beraktivitas kembali setelah

(47)

sangat anti-Rusia. Hal ini dikarenakan pemerintahan Tsarisme di Rusia termasuk

yang paling reaksioner, imperalis dan anti rezim liberal di Eropa. Selain itu, Rusia

masih merupakan sebuah negara pertanian, yang semi feodal, bukannya negara

kapitalis maju, yang merupakan setting bagi teorinya. Walaupun demikian,

ide-ide Marx secara antusias diambil oleh kaum terpelajar dan cendekiawan Rusia,

jauh sebelum Marx sendiri tertarik kepada Rusia.61

Gerakan Marxis yang telah muncul dalam tradisi pemikiran Rusia tersebut

kemudian menjadi salah satu permasalahan dalam diskusi kelompok-kelompok

inteligentsia.62 Hal tersebut kemudian makin bergulir menjadi aksi-aksi konkret

untuk menggulingkan pemerintahan Tsarisme di Rusia. Seorang tokoh Marxis

yang membumikan ajaran Marxisme ke Rusia adalah Lenin atau Vladimir Ilyich

Ulyanov.

Pergerakan revolusioner kedua terjadi pada tahun 1905, tepatnya dalam

Revolusi 1905 di Rusia. Diawali dengan terjadinya pemogokan dan demonstrasi

di berbagai kota pada tanggal 9 Januari sampai dengan September 1095. Dalam

tahap awal tersebut, terjadi sebuah peristiwa yang dianggap sebagai pemicu

revolusi dan menimbulkan reaksi yang sangat kuat dari seluruh pelosok negeri.

Peristiwa tersebut adalah “Peristiwa Minggu Berdarah”, di mana sekitar 140 ribu

pekerja St. Petersburg yang mengadakan aksi damai untuk menyampaikan petisi

kepada Tsar disambut oleh tembakan pasukan tentara kerajaan. Kejadian berdarah

tersebut terjadi di Istana Musim Dingin (Winter Palace).

61

A. Fahrurodji, op.cit., hlm. 113-114

62

(48)

34

Tahap kedua, tepatnya pada bulan Oktober sampai dengan Desember

1905, terjadi pemogokan nasional yagn diikuti oleh sekitar 3 juta pekerja di Rusia.

Mereka menuntut diberlakukannya hak-hak demokrasi dan kebebasan, termasuk

pemberlakuan 8 jam per hari kerja. Tuntutan tersebut terjawab oleh pemerintah

Tsar dengan sebuah peraturan negara yang kemudian dikenal dengan Manifesto

17 Oktober. Dalam tahap kedua ini diakhiri dengan adanya pemberontakan

bersenjata Desember 1905. Pemberontakan tersebut di Moskow dan merupakan

peristiwa berdarah dalam rangkaian revolusi tahun 1905 hingga tahun 1907.

Tanggal 7 Desember 1905 pemogokan pekerja Moskow praktis menguasai hampir

seluruh perusahaan-perusahaan di kota tersebut.

Sekitar 6 ribu pekerja bersenjata itu memblokir penguasa di dalam kota.

Pemerintah terpaksa menurunkan pasukan dari St. Petersburg untuk memadamkan

pemberontakan itu. Pada tanggal 19 Desember 1905 pemberontakan berhasil

dipandamkan dan banyak pelaku pemberontakan tersebut yang dihukum tembak.63

Tahap ketiga (Januari 1906 sampai dengan 2 Juni 1907) terjadi dua kali

pembentukan Duma Negara. Duma I pada tanggal 27 April sampai dengan 8 Juli

1906 dan Duma II pada tanggal 20 Februari sampai dengan 2 Juni 1907. Hal

tersebut merupakan tahap akhir revolusi, dengan berhasil ditumpasnya gerakan

revolusi Borjuasi itu.64

Pada tahun 1917, terjadi kembali pergerakan revolusioner yang nantinya

menyebabkan terjadinya Revolusi Februari 1917 di Rusia. Hal tersebut diawali

dengan terjadinya krisis yang dirasakan oleh rakyat Rusia karena keterlibatan

63

A. Fahrurodji, op.cit., hlm. 123.

64

(49)

Rusia dalam Perang Dunia I secara ekonomi telah membawa kemerosotan yang

tajam. Terlebih setelah adanya pengumuman tentang pemberhentian sekitar 30

ribu pekerja di Petrograd pada tanggal 22 Februari telah mengakibatkan reaksi

yang begitu keras di kalangan para pekerja di mana pada tanggal 23 sampai

dengan tanggal 25 Februari terjadi pemogokan besar-besaran di seluruh kota

tersebut. Sehari kemudian para tentara yang sedianya ditugaskan untuk

menghentikan pemogokan tersebut justru beralih memihak para demonstran.

Sekitar sepekan setelah peristiwa tersebut, tepatnya tanggal 2 Maret 1917, Tsar

Nikholas II mengundurkan diri dari tahta Imperium Rusia dan untuk mengisi

kekosongan kekuasaan dibentuklah organ kekuasaan yang dikenal dengan

Pemerintahan Sementara (Vremennoye Pravitelstvo).65 Revolusi Februari 1917 telah mengakhiri kekuasaan Monarki Rusia dan memutuskan kekuasaan garis

keturunan Dinasti Rumanov di Rusia.

Pergerakan revolusioner selanjutnya dilakukan pada bulan Oktober 1917

di Rusia, tepatnya dalam Revolusi Oktober 1917. Setelah Partai Bolshevik yang

dipimpin oleh Lenin menduduki kelompok mayoritas dalam Dewan Soviet Rusia

pada bulan September 1917, Lenin dan Partai Bolshevik kemudian melakukan

gerakan Revolusioner di Rusia. Berbekal dukungan luas di kalangan rakyat Rusia,

khususnya para petani dan buruh, juga kekuatan senjata yang tidak dimiliki oleh

Pemerintah Sementara di bawah Kerensky, kemudian diadakan kudeta terhadap

Petrograd dengan terlebih dahulu objek-objek vital seperti jembatan, stasiun

kereta api, pembangkit listrik, bank dan sebagainya. Kekuasaan Pemerintah

65

(50)

36

Sementara kemudian di pindah ke Komite Militer Revolusioner yang telah

dibentuk sebelumnya, di bawah pimpinan Pevel Lazimir. Diadakan jaga revolusi

di daerah-daerah di Rusia. Revolusi tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu cara

damai dan dengan kekerasan. Salah satu kota yang melakukan perlawanan sengit

terhadap kekuatan Bolshevik adalah Moskow.

Setelah jatuhnya Pemerintahan Sementara, maka dalam kongres Soviet II

seluruh Rusia dibentuklah pemerintahan Soviet yang dikenal dengan Soviet

Komisaris Rakyat yang diketuai oleh Lenin (Kepala Negara) pacsa Revolusi

Oktober 1917, diumumkan pula tuntutan rakyat yang berisi: Pembentukan

perdamaian yang demokratis, penghapusan kepemilikan tanah oleh para tuan

tanah, pengenalan kontrol pekerja atas produksi dan pembentukan pemerintah

soviet. Berhasilnya pergerakan revolusioner yang dipimpin oleh Lenin beserta

Partai Bolshevik pada bulan Oktober 1917 tersebut, maka Lenin sebagai pribadi

yang sangat revolusioner, berhasil pula menerapkan secara praktis teori revolusi

Marxisme dan berhasil mendirikan negara sosialis (komunis) pertama di Rusia

F Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu masalah penelitian. Maka

hipotesis atas permasalahan dalam penelitian skripsi ini sebagai berikut :

1. Kalau Lenin sebagai pribadi yang sangat revolusioner memimpin Partai

Bolshevik dan ia berhasil mendirikan negara sosialis (komunis) pertama di

Rusia, maka Lenin mempunyai peranan yang sangat besar dalam Revolusi

Referensi

Dokumen terkait

Fokus penelitian ini adalah: (1) peranan Nahdliyyin Center Pekalongan dalam mewujudkan keterbukaan informasi publik di Kota Pekalongan, (2) Upaya yang dilakukan

Ketiga, peranan politik Partai Kongres dan Liga Muslim dalam pembagian India menjadi dua negara dominion terlihat dalam tiga aspek; pertama sistem elektoral

Kesimpulan yang diperoleh untuk aspek kedua ini adalah bahwa unsur pimpinan Pemerintah Kecamatan Indralaya Utara telah berperan dengan optimal dan terdapat peranan

Peranan seorang pemimpin sangat penting untuk mencapai tujuan yang diinginkan terutama berkaitan dengan peran Hukum Tua dalam mewujudkan good governance .Cara kerja

Dalam artikel ini yang menjadi masalah utama adalah “Bagaimana peranan surat kabar Soerapati dalam perlawanan intelektual pribumi yang berideologi komunis di Jawa

KESIMPULAN Pada masa revolusi, Tanah Alas sebagai sebuah wilayah Kewedanan di Kabupaten Aceh Tengah ikut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu baru

Adapun hasil penelitian pertama, peranan korban dalam studi kasus putusan bahwa dalam terjadinya penganiayaan korban adalah pemicu awal sehingga mengakibatkan penganiayaan dan termasuk

Putra Bangun Bersama Peranan kepemimpinan yang dimaksud disini adalah bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin dalam hal pengambilan keputusan pemimpin