Kendala-kendala siswa SMA Kristen 1 Surakarta saat mempelajari fisika ditinjau dari sudut pandang siswa - USD Repository

Teks penuh

(1)

i

KENDALA-KENDALA SISWA SMA KRISTEN 1 SURAKARTA SAAT MEMPELAJARI FISIKA DITINJAU DARI SUDUT PANDANG SISWA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Disusun oleh: Gilang Kusumawati

NIM : 031424015

Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“ Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22)

“Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Amsal 10:4)

“ Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9)

Dengan penuh rasa syukur ini kupersembahkan untuk:

Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria

Bapak Djoko Pamungkas dan Ibu Titik Murniati tercinta yang tidak pernah lelah berdoa dan memberi motivasi untukku.

(5)
(6)
(7)

vii ABSTRAK

Kendala-kendala Siswa SMA Kristen 1 Surakarta Saat Mempelajari Fisika Ditinjau dari Sudut Pandang Siswa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala siswa ditinjau dari sudut pandang siswa. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini yakni dari segi siswa, guru dan fasilitas.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian adalah siswa siswi kelas XI IPA AB dan SMA Kristen 1 Surakarta yang berjumlah 50 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret Tahun ajaran 2008/2009 dengan angket yang berfungsi sebagai instrument penelitian.

Dalam pelaksanaannya, peneliti memberikan kuisioner kepada siswa. Kuisioner berisi item-item yang menyajikan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan indikator kendala siswa belajar fisika disertai dengan alasan menurut pendapat siswa. Hal ini bertujuan untuk mengukur tingkat kendala belajar siswa pada pelajaran fisika. Alasan digunakan untuk mengetahui dan menganalisis lebih jauh kesulitan siswa dalam belajar fisika. Analisis penelitian ini menggunakan perhitungan prosentase dengan perincian >50% mengalami kendala dan <50% tidak mengalami kendala.

(8)

viii ABSTRACT

SMA Kristen 1 Surakarta Students Problems in Learning Physics Based on Student’s Perspective

This study aims to know participants difficulties which are evaluated from their point of view. There are three problems formulated in this study: 1) What are the students difficulties that come from teacher side, 2) What are the students difficulties that come from facilitations side, and 3) What are the students difficulties that come from students themselves.

This study uses quantitative descriptive as research method and questionnaire as instrument of the study. The participants are science class student of SMA Kristen 1 Surakarta in grade XI including XI A and XI B which consist of fivety participants. The questionnaire which is given to participants consist of several items. Those items not only present questions base on the indicator of participants difficulties in learning physic but also present their reasons. The reasons here answer the question why they have difficulties in learning physic. Through those reasons, this study tries to analyze deeply the students difficulties. The way to analyze the problem is using percentage with specification ; more than 50% facing difficulties and less then 50% in the opposite.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas berkat yang dilimpahkan oleh Allah Bapa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Banyak kesulitan dalam menyelesaikan skripsi ini. Karena bantuan banyak pihak pula, penulis dapat mengatasinya sedikit demi sedikit.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberi dorongan, kekuatan dalam penyusunan skripsi ini:

1. Romo Dr. Paul Suparno S.J., M.S.T selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan kepada penulis. Terima kasih atas segala saran, kritikan dan bantuan selama penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Domi Severinus, M.Si selaku Kaprodi pendidikan Fisika. 3. Segenap dosen JPMIPA yang telah memberikan bimbingan selama

penulis menimba ilmu di Universitas Sanata Dharma.

4. Staf Sekretariat JPMIPA, Bapak Sunarjo dan Bapak Sugeng yang telah membantu segala sesuatu tentang administrasi selama penulis kuliah. 5. Bapak Hari selaku Wakil Kepala Sekolah SMA Kristen 1 Surakarta yang

(10)

x

6. Ibu Roro Wening, SPd selaku guru fisika Kelas XI IPA SMA Kristen 1 Surakarta yang telah menyediakan waktunya untuk pelaksanaan penelitian.

7. Siswa-siswi SMA Kristen 1 Surakarta, terutama Kelas XI IPA SMA Kristen 1 Surakarta.

8. Bapak dan Ibu tercinta atas segala doa dan dukungannya.

9. Adikku Galuh Dwi Ajeng, yang selalu bertanya kapan penulis menyelesaikan skripsi ini.

10. Teman-teman kos Sekar Ayu: Tami, Sisca, Vani, Embi, Mbak Lia, Vani, Ika, Elis.

11. Christian Eleazar Siagian, yang selalu memotivasi penulis. 12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga skripsi ini dapat berguna. Penulis menyadari bahwa ada begitu banyak kekurangan. Untuk itu penulis terbuka untuk menerima kritik dan saran.

Yogyakarta, Oktober 2008

(11)

xi DAFTAR ISI

Halaman

HAlAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang masalah ... 1

B. Perumusan masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

(12)

xii BAB II. LANDASAN TEORI

A. Hakikat Sains ... 6

B. Hakikat Belajar Mengajar ... 9

C. Kesulitan Belajar ... 14

D. Hubungan Teori dengan penelitian ... 21

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis penelitian ... 22

B. Sampel Penelitian ... 22

C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 22

D. Instrumen Penelitian ... 22

E. Validitas Penelitian ... 27

F. Metode Analisis Data ... 27

BAB IV. DATA, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian ... 31

B. Analisis Data ... 31

C. Data Pendukung ... 39

D. Pembahasan ... 41

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 55

(13)

xiii

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1: Kisi-kisi kuisioner kendala siswa belajar fisika ... 23

Tabel 2. Siswa pada tingkat kendala belajar faktor guru ... 28

Tabel 3: Siswa pada tingkat kendala belajar faktor fasilitas ... 28

Tabel 4: Siswa pada tingkat kendala belajar faktor siswa ... 29

Tabel 5: Data hasil faktor kendala guru ditinjau dari sudut pandang siswa pada pembelajaran fisika ... 30

Tabel 6: Rangkuman tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor guru ... 32

Tabel 7: Rangkuman tabel data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada faktor guru………..……….. 33

Tabel 8: Data hasil faktor kendala fasilitas ditinjau dari sudut pandang siswa pada pembelajaran fisika ...………...………. 34

Tabel 9: Rangkuman tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor fasilitas …...…..………...…………. 35

Tabel 10: Rangkuman tabel data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada faktor fasilitas ……….………... 36

Tabel 11: Data hasil faktor kendala siswa ditinjau dari sudut pandang siswa pada pembelajaran fisika …………...……….... 37

Tabel 12: Rangkuman tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor siswa ...……….………... 38

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran: Halaman

01. Ijin surat penelitian ………... 60

02. Surat telah melakukan penelitian ...………...……….. 61

03. Contoh isian kuisioner siswa ..………...……….... 62

04. Contoh untuk pengkodean .……….………...………... 70

05. Tabel kasar hasil penelitian ………...….………….……... 76

06. Tabel data frekuensi alasan siswa ..….………...………. 77

07. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal memulai relasi dengan siswa (soal no 1) .………...…….…………..……….. 77

08. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal memulai relasi dengan siswa (soal no 2) ...………...……… 77

09. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal metode pengajaran monoton (soal no 3) ……….………... 77

10.Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal metode pengajaran monoton (soal no 4) ...……….……… 78

11. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal kedisiplinan guru (soal no 5) ..…………...….………... 78

12. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal kedisiplinan guru (soal no 6) ...……….………... 78

(16)

xvi

14. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal kompetensi

guru (soal no 8) ... 79 15. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal pemberian

tugas (soal no 9) ...………... 79 16. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal pemberian

tugas (soal no 10) ...………..……….. 80 17. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal alat pelajaran

yang kurang (soal no 11) ………..………... 80 18. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal alat pelajaran

yang kurang (soal no 12) ...………..……….. 80 19.Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal adanya alat

yang rusak (soal no 13) ...………..……….... 81 20. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

gedung (soal no 14) ...………..………...……… 81 21. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

gedung (soal no 15) …...………..………... 81 22. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

bakat (soal no 16) ...…….…………..………..…… 82 23. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

bakat (soal no 17) ……..……….………..……... 82 24. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

(17)

xvii 25. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

minat (soal no 19) …………...………..……….……... 83 26. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

motivasi (soal no 20)……….………..……….…... 83 27. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

motivasi (soal no 21) ...………..……….….... 84 28. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal faktor

kesehatan mental (soal no 22) ...………..………... 84 29. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal faktor

kesehatan mental (soal no 23) ...………..………... 85 30. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal faktor

fisik (soal no 24) ....…….………..…. 85 31. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

kedisiplinan (soal no 25) …………...………..………... 85 32. Tabel hasil alasan kendala siswa dalam hal

kedisiplinan (soal no 26) ...………...……… 86 33. Tabel hasil kendala siswa dalam hal hubungan siswa

dan guru kurang baik (soal no 27) ………..……….... 86 34. Tabel hasil kendala siswa dalam hal hubungan siswa

dan guru kurang baik (soal no 28) ...………..………….……… 86 35. Tabel hasil kendala siswa dalam hal massa media dan

(18)

xviii

36. Tabel hasil kendala siswa dalam hal massa media dan

lingkungan sosial (soal no 30) ...………...……… 87

37. Foto-foto situasi laboratorium ...………...………… 88

38. Foto-foto situasi perpustakaan ...………... 90

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Apabila ditanyakan kepada siswa bagaimana pendapat mereka mengenai pelajaran fisika, banyak siswa menjawab bahwa pelajaran fisika merupakan pelajaran yang sukar. Banyak siswa mengeluh mengalami kendala dalam belajar fisika. Padahal pemahaman dan penguasaan materi pada siswa adalah penting.

Para siswa merasa bahwa mempelajari fisika itu membosankan. sehingga sedikit siswa yang berminat terhadap pembelajaran fisika. Kendala-kendala tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor; bisa karena faktor guru, siswa itu sendiri (faktor fisiologi dan psikologi) dan faktor fasilitas.

Menurut filsafat konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif dari siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya. Belajar bukan sekedar proses mengumpulkan ilmu pengetahuan. Sebagai konsekuensi dari hakikat belajar yang demikian, maka mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan kegiatan menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuannya.

(20)

yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencourt,1989 dalam Suparno,1997). Sedangkan aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga mengalami kendala. Hal itu sering dijumpai pada siswa dalam kelas, dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.

Adapun keberhasilan belajar siswa tidak lepas dari peran guru sebagai fasilitator. Menurut prinsip konstruktivis, seorang pengajar atau guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar murid berjalan dengan baik. Tekanan ada pada siswa yang belajar dan bukan pada disiplin atau pun guru yang mengajar.

(21)

Guru juga perlu memotivasi siswanya. Motivasi merupakan suatu dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu. Biasanya gurulah orang pertama yang dapat menduga kemungkinan adanya kendala belajar pada siswa. Guru dapat membandingkan siswa, termasuk prestasi akademiknya dengan anak-anak lain di dalam kelas. Sering kali guru lebih cepat mendeteksi adanya kendala belajar pada siswa daripada orang tua. Guru juga aktif dalam kegiatan seperti mencari penjelasan, menanyakan kebenaran, dan mengevaluasi alternatif yang ada. Bagi siswa, guru berfungsi sebagai mediator, pemandu, dan sekaligus teman belajar (Tobin, Tippins, Gallard, 1994 dalam Suparno, 1997). Hal itu akan menambah pemahaman dan wawasan guru sehingga memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan optimal.

Ada kemungkinan siswa menyukai fisika, tetapi karena kendala dalam belajar tersebut, siswa menjadi tidak menyukai fisika. Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Kendala-kendala Siswa SMA Kristen 1 Surakarta Saat Mempelajari Fisika Ditinjau dari Sudut Pandang Siswa”.

B. Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan di teliti dirumuskan sebagai berikut : 1. Apa saja yang menjadi kendala siswa dalam belajar fisika dilihat dari

(22)

2. Apa saja yang menjadi kendala siswa dalam mempelajari fisika dilihat dari faktor siswa?

3. Apa saja yang menjadi kendala siswa dalam mempelajari fisika dilihat dari faktor fasilitas?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengerti: 1. kendala siswa belajar fisika dilihat dari faktor guru. 2. kendala siswa belajar fisika dilihat dari faktor siswa. 3. kendala siswa belajar fisika dilihat dari faktor fasilitas.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Lembaga Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi lembaga pendidikan untuk meningkatkan kualitas di bidang pendidikan khususnya pendidikan fisika.

2. Bagi peneliti

Penelitian ini dapat menambah kepustakaan tentang penelitian khususnya mengenai “Kendala siswa SMA saat mempelajari fisika ditinjau dari sudut pandang siswa”.

3. Bagi guru maupun calon guru

(23)

4. Bagi siswa

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Hakikat Sains

Pemahaman para pendidik tentang hakikat IPA sangat mempengaruhi cara mereka mengajarkan IPA dan pemilihan pokok-pokok bahasan yang diajarkannya. Oleh karenanya perlulah diperoleh pengertian yang tepat tentang IPA. Beberapa definisi sains adalah sebagai berikut:

1. Conant (1951,25 dalam Amien, 1987) merumuskan sains sebagai: “Serangkaian konsep-konsep dan skema konsep-konsep yang saling terkait yang dikembangkan sebagai hasil dari observasi serta berguna untuk eksperimen dan observasi selanjutnya”.

2. Fisher (1975 dalam Amien, 1987) menyatakan: IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan metode-metode yang berdasarkan observasi.

3. Carin (1985 dalam Amien, 1987) menyatakan: IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, yang di dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.

(25)

1. Produk

Produk dan sasaran IPA antara lain adalah konsep, prinsip dan teori ilmiah. Dasar untuk pembentukan produk IPA berasal dari data hasil observasi dan yang dapat ditiru. Konsep adalah gagasan atau ide berdasarkan pengalaman yang relevan dan yang dapat digeneralisasikan. Umumnya para ilmuwan percaya bahwa selalu ada factor penyebab bagi setiap perubahan atau akibat. Pandangan ini dipegang kukuh dalam IPA (Amien,1987:15).

Prinsip adalah generalisasi yang meliputi konsep-konsep yang berkaitan. Teori adalah suatu generalisasi prinsip-prinsip ilmiah yang berkaitan, dan yang menjelaskan gejala-gejala ilmiah. Teori menghubungkan, menerangkan dan meramalkan berbagai macam hasil eksperimen dan observasi melalui cara-cara mulai dari cara yang paling sederhana sampai pada cara-cara yang paling efisien (Amien, 1987:16).

2. Proses

(26)

a. Mengidentifikasi dan menyatakan suatu problem. b. Merumuskan hipotesis

c. Mendisain dan melaksanakan eksperimen. d. Observasi

e. Mengumpulkan dan menganalisis data.

f. Mengulang kembali eksperimen untuk membuktikan kebenaran data.

g. Menarik kesimpulan.

Aspek proses ini mucul dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. Hal ini sangat bergantung kepada guru. Guru harus bisa memilih metode yang paling cocok pada pembelajaran fisika. Alangkah baiknya apabila guru tidak terpaku pada satu metode saja.

3. Sikap

(27)

hipotesis, merancang suatu eksperimen, dan melakukan eksperimen sesuai dengan problemnya, mengumpulkan dan menganalisa data, dan sebagainya (Amien, 1987:12).

B. Hakikat Belajar Mengajar

Menurut filsafat konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif dari siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya. Belajar bukan sekedar proses mengumpulkan ilmu pengetahuan. Sebagai konsekuensi dari hakikat belajar yang demikian, maka mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan kegiatan menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuannnya.

Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan yang telah dipunyai, kemampuan kognitif dan lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar. Kelompok belajar dianggap sangat membantu belajar karena mengandung beberapa unsur yang berguna menantang pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang (Suparno,1997:64).

(28)

berpengaruh pula terhadap pemahaman siswa pada konsep fisika. Belajar fisika pada hakikatnya tidak berbeda dengan ilmu yang lain, yang membedakannya adalah dari segi materi, aspek dari hasil belajar yang diharapkan sesuai dengan hakikat fisika.

Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencourt,1989 dalam Suparno, 1997).

Mengajar adalah proses membantu seseorang untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Mengajar bukanlah transfer pengetahuan orang yang sudah tahu (guru) kepada orang yang belum tahu(murid), melainkan membantu seseorang agar dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui kegiatannya terhadap fenomena dan objek yang ingin diketahui (Suparno,1997). Mengajar fisika berarti membantu siswa untuk belajar fisika. Agar siswa dapat belajar fisika sendiri, maka guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu proses belajar siswa agar berjalan dengan baik.

(29)

1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses,dan penelitian. Karena itu, memberi kuliah atau ceramah bukanlah tugas utama seorang guru.

2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan murid dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka (Watts dan Pope, 1989, dalam Suparno, 1997). Menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif. Menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa. Guru harus menyemangati siswa. Guru perlu menyediakan pengalaman konflik (Tobin, Tippin, dan Gallard, 1994, dalam Suparno, 1997).

3. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran si murid berjalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan murid itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan murid.

Agar peran dan tugas tersebut berjalan dengan optimal, diperlukan beberapa kegiatan yang perlu dikerjakan dan juga beberapa pemikiran yang perlu disadari oleh pengajar.

(30)

2. Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama sehingga siswa sungguh terlibat.

3. Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Ini dapat dilakukan dengan berpartisipasi sebagai pelajar juga di tengah pelajar.

4. Diperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap siswa bahwa mereka dapat belajar.

5. Guru perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran siswa, karena kadang siswa berpikir berdasarkan pengandaian yang tidak diterima guru.

Adapun menurut Suparno (2007) peran guru dalam belajar bersama adalah:

1. Sebagai fasilitator dalam belajar bersama dengan membentuk kelompok.

2. Mengajari konsep dasar dan ketrampilan kerja sama. Guru pada awalnya perlu melatih siswa untuk dapat bekerja sama secara sinergis.

3. Monitoring kelompok apakah jalan atau tidak. Dengan monitoring akan ketahuan kelompok mana yang jalan dan tidak sehinggadapat dibantu lebuh cepat.

(31)

5. Evaluasi kelompok dan siswa-siswa. Mengevaluasi kelompok untuk semakin memacu maju; demikian juga mengevaluasi siswa, terlebih siswa yang kurang begitu aktif dalam kerjasama.

Peran siswa dalam belajar bersama menurut Suparno (2007) adalah:

1. Siswa dapat berperan sebagai murid dan guru sekaligus karena menerima dari yang lain dan memberi kepada yang lain. Pada saat mereka menyumbangkan pikiran kepada yang laian, maka mereka seperti guru. Pada saat mereka dijelaskan oleh yang lain, mereka berperan seperti siswa.

2 Siswa dalam kelompok dapat memberikan informasi, memberitahu kepada teman, memberikan masukan, menerima masukan dari teman, mengkoreksi gagasan teman, dll.

3 Siswa dapat merasakan bagaimana mereka bersungguh-sungguh saling mengembangkan dengan saling memberi dan menerima. Peran saling memberi dan menerima ini perlu dikembangkan. Selain guru mengajar, guru juga perlu menjaga hubungan interaktifnya dengan siswa. Hal ini dilakukan supaya siswa paham akan kegunaan fisika untuk bekal masa depan, praktis pelajaran fisika bisa merupakan kebutuhan siswa yang harus dipelajari secara intensif (runtut) dan dilaksanakan penuh dengan tanggung jawab.

(32)

fisika. Guru mestinya memperlihatkan bahwa ia sendiri menyukai fisika, hal itu akan memotivasi siswa untuk semangat belajar.

Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan belajar sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Dengan kata lain seorang peserta didik akan belajar dengan baik apabila ada faktor pendorongnya (motivasi). Dalam kaitan ini guru dituntut memiliki kemampuan membangkitkan motivasi belajar peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan belajar (Callahan and Clark, 1998 dalam Mulyasa, 2003).

C. Kesulitan Belajar

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Hal itu sering dijumpai pada siswa dalam kelas, dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.

Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar, terdiri dari faktor intern (faktor dari dalam manusia itu sendiri) dan eksternal.

1. Faktor Internal

a. Faktor Fisiologi

(33)

b. Faktor Psikologi

Belajar memerlukan kesiapan rohani, ketenangan dengan baik. Apabila dirinci faktor psikologi meliputi antara lain: 1). Inteligensi

Anak yang IQ nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Anak yang normal (90-110) dapat menamatkan SD tepat waktunya.

2). Bakat

Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang akan mudah mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakatnya. Apabila seseorang anak harus mempelajari bahan yang lain dari bakatnya ia akan cepat bosan, mudah putus asa, tidak senang. Hal-hal tersebut akan tampak pada anak suka mengganggu kelas, berbuat gaduh, tidak mau pelajaran sehingga nilainya rendah.

3). Minat

(34)

dengan kecakapan, tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus anak, banyak menimbulkan problema pada dirinya. 4) Motivasi

Motivasi sebagai faktor inner(batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan, sehingga semakin besar motivasinya semakin besar kesuksesan belajarnya. Seseorang yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gigih dan tidak mau menyerah, giat membaca buku untuk meningkatkan prestasinya untuk memecahkan masalahnya. Sebaliknya mereka yang motivasinya lemah tampak acuh tak acuh, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu kelas.

Guru berperan untuk menetapkan kebutuhan dan memotivasi murid-murid berdasarkan tingkah laku mereka yang nampak(Wasty Soemanto, 1984:200). 5). Faktor Kesehatan mental

(35)

akan menimbulkan hasil belajar yang baik demikian juga belajar yang selalu sukses akan membawa harga diri seseorang. Bila harga diri tumbuh akan merupakan faktor adanya kesehatan mental.

2. Faktor Ekstern

a. Faktor-faktor keluarga

Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan pertama. Tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar.

b. Faktor-faktor sekolah

Yang dimaksud sekolah antara lain adalah: 1) Guru

(36)

Menurut Suparno (2007) model pembelajaran dengan demonstrasi diartikan sebagai model mengajar dengan pendekatan visual agar siswa dapat mengamati proses, informasi, peristiwa, alat dalam pelajaran fisika. Tujuannya jelas agar siswa lebih memahami bahan yang diajarkan lewat suatu kenyataan yang diamati sehingga mudah dimengerti. Selama proses dan juga pada akhir demonstrasi, guru tetap dapat terus mengajukan pertanyaan kepada siswa. Dengan pertanyaan itulah, siswa dibantu terus mengembangkan gagasan mereka dan aktif berpikir. Untuk sekolah yang minim peralatan praktikum, model demonstrasi lebih mudah dibuat.

2) Faktor alat

Alat pelajaran yang kurang lengkap, membuat penyajian pelajaran tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar.

3) Kondisi gedung

(37)

4) Kurikulum

Bahan-bahannya terlalu tinggi, pembagian bahan tidak seimbang(kelas I banyak pelajaran dan kelas di atasnya sedikit pelajaran), adanya pendataan materi.

5) Waktu sekolah dan disiplin

Apabila sekolah masuk sore, siang dan malam, maka kondisi anak tidak lagi dalam keadaan yang optimal untuk menerima pelajaran.

6) Faktor massa media dan lingkungan sosial

Faktor massa media meliputi: bioskop, TV, surat kabar, majalah, buku-buku komik yang ada di sekeliling kita. Hal-hal ini akan menghambat belajar apabila anak terlalu banyak membuang waktu yang untuk itu, hingga lupa akan tugasnya belajar. Sedangkan faktor lingkungan sosial misalnya: teman bergaul anak (yang pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk ke jiwa anak), lingkungan tetangga yang buruk, aktivitas anak dalam bermasyarakat (terlalu banyak berorganisasi).

(38)

selalu rendah). Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya: dalam mengerjakan soal-soal, dalam menyelesaikan tugas-tugas. Siswa menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti: acuh takacuh, berpura-pura, dusta, dan lain-lain. Siswa menunjukkan tingkah laku yang berlainan, misalnya: Mudah tersinggung, pemurung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira dan selalu sedih.

Pada kenyataannya, banyak siswa mengeluh mengalami kendala dalam belajar fisika. Adapun kendala belajar fisika menurut pandangan siswa dari segi guru adalah cara penyampaian materi yang cenderung membosankan, guru tidak mengupas permasalahan sehingga guru menganggap siswa sudah paham terhadap penyampaian materi yang diberikan, serta kurangnya pendekatan guru ke siswa. Guru fisika perlu menjalin relasi yang dekat dengan siswa sehingga siswa yang takut bertanya menjadi berani bertanya.

Menurut Suparno (2007), guru perlu memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan gagasan-gagasan alernatif. Guru akan sangat senang dan menghargai siswa yang dapat mengerjakan suatu persoalan dengan cara-cara yang berbeda dengan cara yang baru saja dijelaskan guru. Kebebasan berpikir dan berpendapat sangat dihargai dan diberi ruang. Akibatnya suasana kelas akan sungguh hidup, menyenangkan, dan menyemangati siswa untuk senang belajar.

(39)

memahami) sehingga siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Kendala dari segi fasilitas misalnya adalah pengadaan sarana yang tidak lengkap, penggunaan fasilitas yang belum terencana secara baik (sehingga praktikum mengenai materi fisika kurang optimal).

D. Hubungan teori dengan Penelitian

1. Teori ini berguna untuk membantu peneliti dalam membuat instrumen (kuisioner) yang sesuai dengan persoalan yang diketahui.

(40)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan adalah penelitian deskriptif. Deskriptif yaitu penelitian untuk memberikan penjelasan/uraian akan suatu hal (Suparno, 2000). Sedangkan menurut Margono (2005) penelitian deskriptif berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu.

Penelitian ini menggunakan data kuantitatif, yang diperoleh melalui analisis skor jawaban subyek pada skala. Hal tersebut bertujuan untuk mengungkapkan kendala apa saja yang dialami siswa saat mempelajari fisika, yang dilihat dari faktor siswa, guru, serta fasilitas.

B. Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini adalah 50 siswa SMA kelas XI yang terdiri dari 2 kelas. Siswa kelas XI IPA A terdiri dari 24 orang dan siswa kelas XI IPA B terdiri dari 26 orang

C. Waktu dan Tempat Penelitian

(41)

D. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini berupa kuisioner. Kuisioner ini berisikan item-item yang menyajikan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan indikator kendala siswa belajar fisika. Kuisioner ini bertujuan untuk mengukur tingkat kendala belajar siswa pada pelajaran fisika. Kuisioner dalam penelitian ini terdiri dari beberapa item disertai dengan alasan menurut pendapat siswa. Alasan tersebut digunakan untuk mengetahui dan menganalisis lebih jauh kesulitan siswa belajar fisika.

Pada tabel 1 diungkapkan kisi-kisi kuisioner berdasar kendala yang ada dari jumlah soal yang sesuai.

Tabel 1: Kisi-kisi kuisioner kendala siswa belajar fisika

No Indikator Nomor Butir

1 Kendala dari guru

a. Memulai pelajaran dengan menyapa siswa

b. Metode pengajaran

monoton c. Kedisiplinan d. Kompetensi e. Memberi tugas

1,2

3,4

(42)

2 Kendala dari fasilitas a. Alat

1. Alat pelajaran yang kurang lengkap

2. Kurangnya alat

laboratorium

d. Faktor kesehatan mental e. Faktor fisik

f. Kedisiplinan

g. Hubungan siswa dengan guru kurang baik

h. Massa Media dan

Setiap item diberi 4 kemungkinan pilihan jawaban. Untuk data kuisioner dilakukan pilihan sebagai berikut:

(43)

2. Jawaban B, sering.

3. Jawaban C, kadang-kadang. 4. Jawaban D, tidak pernah.

Alasan... Jawaban ”selalu” berarti siswa tersebut terus-menerus melakukan kegiatan atau setiap kali mengalami hal tersebut. Jawaban ”sering” berarti siswa kerap melakukan hal tersebut, hanya ada kalanya tidak. Jawaban ”kadang-kadang” berarti siswa ada kalanya mengalami kegiatan tersebut atau mengalami hal tersebut. Jawaban ”tidak pernah” berarti siswa tidak melakukan kegiatan tersebut atau mengalami hal tersebut.

Contoh pernyataan kuisioner

Di sini diberikan beberapa contoh isi dari kuisioner. Kuisioner secara lengkap dapat dilihat di lampiran (halaman 61).

Kendala dari segi guru

Memulai pelajaran dengan menyapa siswa (no 1)

Sewaktu pembelajaran fisika dimulai, guru tidak menyapa siswa dan langsung ke topik pembelajaran.

a. Selalu b. Sering

c. Kadang-kadang d. Tidak pernah

(44)

Kendala dari fasilitas

Alat pelajaran yang kurang lengkap (no 11)

Saya tidak mempunyai buku-buku penunjang saya belajar fisika a. Sangat setuju

b. Setuju c. Agak setuju d. Tidak setuju

Alasan...

Kurangnya alat laboratorium (no 13)

Peralatan laboratorium fisika di sekolah menurut saya tidak menunjang saya praktikum fisika.

a. Sangat setuju b. Setuju c. Agak setuju d. Tidak setuju

Alasan...

Gedung (no 14)

Suasana di sekitar kelas saya ramai dan tidak mendukung saya belajar fisika

(45)

c. Agak setuju d. Tidak setuju

Alasan...

Kendala dari siswa

Motivasi (no 20)

Saya menyerah apabila menemui soal fisika yang menurut saya sukar. a. Selalu

b. Sering

c. Kadang-kadang d. Tidak pernah

Alasan...

E. Validitas Instrument

(46)

G. Metode Analisis Data

Data dari kuisioner disatukan dan dianalisis dengan menghitung berapa banyak siswa yang memiliki jawaban yang sama. Metode yang digunakan adalah dengan frekuensi. Lalu dibuat tabel seperti tabel 2, 3, 4.

Pada setiap indikator, jawaban yang lebih dari separuh jumlah siswa dianggap dominan. Apabila prosentasi pilihan jawaban A dengan B lebih dari 50 % maka dianggap sebagai kendala, sedangkan prosentasi jawaban A dengan B yang kurang dari 50 % dianggap sebagai bukan kendala. Sedangkan isian pada alasan digunakan untuk mengetahui dan menganalisis lebih jauh tingkat kendala belajar siswa pada pelajaran fisika.

Tabel 2,3,4 adalah contoh rangkuman analisis.

Tabel 2: Siswa pada tingkat kendala belajar faktor guru

No

soal

Indikator. Frekuensi (%) Jumlah

(47)

7

Tabel 3: Siswa pada tingkat kendala belajar faktor fasilitas

No

soal

Indikator. Frekuensi (%) Jumlah

prosentase

Tabel 4: Siswa pada tingkat kendala belajar faktor siswa

No

soal

Indikator. Frekuensi (%) Jumlah

(48)

23. kesehatan

mental

24. Faktor fisik

25.

26.

Kedisiplinan

27.

28.

Hubungan

siswa

dengan guru

kurang baik

29.

30.

Massa

media dan

lingkungan

sosial.

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI SMA Kristen 1 Surakarta yang dilakukan selama bulan Maret 2008 pada tahun ajaran 2008/2009. Siswa kelas XI IPA A terdiri dari 24 orang dan siswa kelas XI IPA B terdiri dari 26 orang. Peneliti menyebarkan angket kepada 50 siswa, angket berfungsi sebagai instrument penelitian. Kemudian peneliti mengambil data pendukung. Data pendukung diambil dengan melakukan observasi di SMA Kristen 1 Surakarta. Data pendukung berfungsi untuk menguatkan hasil analisis.

B. Data

1. Faktor guru

(50)

Tabel 5: Data hasil faktor kendala guru ditinjau dari sudut pandang siswa

pada pembelajaran fisika

No

soal

Indikator. Frekuensi (%) Jumlah

prosentase

™ Apabila prosentase a dan b secara keseluruhan lebih besar dari 50%

maka siswa mengalami kendala pada indikator tersebut. Prosentase keseluruhan dari masing-masing indikator didapat dari rata-rata prosentase soal-soal terkait.

(51)

Tabel 6:Data mengenai alasan kendala siswa faktor guru.

No soal

Isi soal Kategori alasan

terbanyak

Frekuensi

3 Metode pengajaran guru fisika saya membosankan dan tidak menggunakan metode yang bervariasi.

Bosan metode tidak bervariasi

27

4 Guru fisika saya dalam mengajar tidak menggunakan alat peraga.

Alat rusak 8

9 Guru tidak pernah membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok.

Hampir tidak pernah.

29

10 Guru tidak memberikan tugas yang berhubungan dengan materi selanjutnya.

Tidak diberikan tugas untuk materi selanjutnya

25

8 Cara mengajar guru tidak

menyenangkan dan membuat saya bosan.

Menerangkan cepat

9

™ Tabel kasar mengenai data alasan kendala siswa faktor guru dapat dilihat secara keseluruhan pada lampiran (halaman 77).

(52)

Tabel 7: Data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada faktor

guru.

No soal

Isi soal Kategori alasan

terbanyak

Frekuensi

1 Sewaktu pembelajaran fisika dimulai, guru tidak menyapa siswa dan langsung ke topik pembelajaran.

Menyapa 31

2 Guru fisika tidak memotivasi siswanya supaya belajar dengan baik

Memotivasi 40

5 Guru fisika saya tidak disiplin dan tidak datang tepat waktu sebelum pelajaran berlangsung.

Tepat waktu 34

6 Guru fisika saya tidak mengecek tugas yang diberikannya.

Dicek 25

7 Guru fisika saya tidak menguasai materi yang diajarkan.

Menguasai materi 19

1. Faktor fasilitas

Pada tabel 8 berikut ini diungkapkan data hasil faktor kendala dari segi fasilitas. Hasil diperoleh dari analisa lewat coding. Contoh coding lihat pada lampiran (halaman 73).

(53)

No

butir

soal

Indikator. Frekuensi (%) Jumlah

prosentase

™ Apabila prosentase a dan b secara keseluruhan lebih besar dari 50%

maka siswa mengalami kendala pada indikator tersebut. Prosentase keseluruhan dari masing-masing indikator didapat dari rata-rata prosentase soal-soal terkait.

Berikut ini adalah rangkuman tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor fasilitas. Hasil diperoleh dari analisa lewat coding.

Tabel 9: Data mengenai alasan kendala siswa faktor fasilitas.

No soal

Isi soal Kategori alasan

terbanyak

Frekuensi

13 Peralatan laboratorium fisika di sekolah menurut saya tidak menunjang saya praktikum fisika.

Ada alat rusak 17

14 Suasana di sekitar kelas saya ramai dan tidak mendukung saya belajar fisika.

Bising 31

11 Saya tidak mempunyai buku-buku penunjang belajar fisika.

Tidak punya buku penunjang

(54)

12 Di kelas yang menurut kamu tidak ada. OHP tidak ada 50 Kapur kadang

tidak tersedia

6

Kipas angin tidak ada

10

Penggaris hilang 7

™ Tabel kasar mengenai data alasan kendala siswa faktor fasilitas dapat dilihat secara keseluruhan pada lampiran (halaman 80 )

Berikut ini adalah rangkuman tabel data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada faktor fasilitas.

Tabel 10: Data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada

faktor fasilitas.

No soal

Isi soal Kategori alasan

terbanyak

Frekuensi

15 Kelas saya pengap dan sirkulasi udaranya tidak bagus.

Ventilasi kelas cukup.

13

2. Faktor siswa

(55)

Tabel 11: Data hasil faktor kendala siswa ditinjau dari sudut pandang siswa pada pembelajaran fisika.

No

butir

soal

Indikator. Frekuensi (%) Jumlah

prosentase

™ Apabila prosentase a dan b secara keseluruhan lebih besar dari 50%

maka siswa mengalami kendala pada indikator tersebut. Prosentase

keseluruhan dari masing-masing indikator didapat dari rata-rata

(56)

Berikut ini adalah rangkuman tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor siswa. Hasil diperoleh dari analisa lewat coding. Contoh coding lihat pada lampiran (halaman 73).

Tabel 12: Tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor siswa.

No soal

Isi soal Kategori alasan

terbanyak

Frekuensi

16 Saya merasa bosan belajar fisika. Bosan 22 17 Saya merasa pelajaran fisika adalah

momok yang menakutkan bagi saya.

Sulit 25

20 Saya merasa menyerah apabila menemui soal fisika yang menurut saya sukar.

Menyerah 13

21 Saya tidak giat membaca buku IPA untuk meningkatkan prestasi saya dalam pelajaran fisika.

Malas 16

27 Sewaktu pelajaran fisika berlangsung, saya merasa segan bertanya kepada guru apabila menemui kesulitan.

Tidak berani bertanya.

10

28 Saya merasa takut apabila ditunjuk guru mengerjakan soal di depan.

Takut 15

29 Kebanyakan waktu saya terbuang untuk menonton TV daripada belajar.

Suka menonton TV

28

30 Pergaulan saya dengan teman-teman mempengaruhi saya menjadi malas

Asik bermain lupa belajar.

(57)

belajar.

™ Tabel kasar mengenai data alasan kendala siswa faktor fasilitas dapat dilihat secara keseluruhan pada lampiran (halaman 81).

Berikut ini adalah rangkuman tabel data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada faktor siswa.

Tabel 13: Data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada

faktor siswa.

No soal

Isi soal Kategori alasan

terbanyak

Frekuensi

18 Selama mengikuti pelajaran fisika di kelas, saya tidak memperhatikan guru.

Memperhatikan 22

19 Saya tidak senang mengkaji masalah-masalah mengenai fisika.

Senang mengkaji 17

22 Saya tidak memperoleh pujian dari guru fisika apabila nilai fisika saya baik.

Guru perhatian 9

23 Saya sukar berkonsentrasi dalam belajar fisika.

Konsentrasi 22

24 Badan saya sering tidak sehat sehingga mengganggu saya belajar fisika.

Badan sehat 23

25 Saya terlambat masuk kelas saat pelajaran fisika berlangsung.

Tepat waktu. 17

26 Saya tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

(58)

C. Data Pendukung

SMA 1 Kristen Surakarta letaknya sangat berdekatan dengan jalan raya. Jalan raya tersebut sering dilalui kendaraan yang berlalu lalang. Pada ruang guru terdapat penjual kompor yang sedang berjualan. Di depan ruang guru terdapat papan pengumuman bahwa tidak boleh berjualan di sekolah. Di sekitar kantor guru adalah ruang kelas dan proses pembelajaran sedang berlangsung. Hal tersebut akan sangat mengganggu siswa yang belajar. Pak Hari (wakil Kepala Sekolah) mengatakan bahwa kerap kali ada yang berjualan kompor.

(59)

Sekolah memiliki perpustakaan. Di perpustakaan terdapat rak lemari untuk menyimpan buku. Tetapi buku-buku tidak rapi dan teronggok di mana-mana. Menurut penjaga perpustakaan, dana untuk buku juga kurang. Sekolah minim bantuan buku penunjang belajar. Penjaga perpustakaan hanya 1 orang, beliau tidak mencatat sendiri siapa saja yang meminjam buku. Sehingga apabila siswa meminjam, menulis sendiri-sendiri.

Di kelas, terdapat banyak ventilasi, papan tulis, 1 penggaris, 1 meja guru,1 kursi guru, papan daftar siswa, sapu, daftar piket. Peralatan meja dan kursi murid cukup baik. Bahkan terdapat sisa kursi yang tidak diduduki siswa. Murid berjumlah 26 orang. Yang tidak terdapat di kelas adalah kipas angin, OHP, tong sampah. Kelas gelap. Suasana di sekitar kelas agak ramai karena terdapat di dekat jalan raya. Gambar dapat dilihat secara keseluruhan pada lampiran (halaman 88).

D. Pembahasan 1. Faktor guru:

(60)

alasan siswa yang merasa bosan metode guru yang tidak bervariasi adalah sebanyak 27. Sedangkan frekuensi alasan siswa yang merasa alat-alat di laboratorium rusak adalah sebanyak 8. Beberapa pernyataan siswa semakin menunjukkan bahwa pembelajaran monoton:

“Penyampaian pelajaran kalau cuma pelajaran terus kan pusing dan

cepat bosan.”

“Kadang saya bosan kalau guru mengajar teori. Saya lebih senang

praktek, jadi gak cuma teori saja.”

“Banyak alat peraga di lab yang rusak.”

Supaya penyampaian materi menyenangkan, siswa dapat melakukan eksperimen. Mereka akan lebih mudah untuk memahami materi pelajaran lewat eksperimen. Dalam teori alat pelajaran yang kurang lengkap/rusak, membuat penyajian pelajaran tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar.

(61)

Siswa yang merasa kendala dalam hal pemberian tugas adalah sebanyak 76%. Hal tersebut ditunjukkan oleh data pada tabel 5 dan diperkuat dengan alasan yang terbanyak muncul yaitu hampir tidak pernah guru membagi siswa ke dalam kelompok–kelompok dan guru tidak memberikan tugas untuk materi selanjutnya (lihat tabel 6). Frekuensi alasan siswa yang merasa hampir tidak pernah guru membagi siswa ke dalam kelompok adalah sebanyak 29. Sedangkan frekuensi alasan siswa yang merasa guru tidak memberikan tugas untuk materi selanjutnya adalah 25. Adapun beberapa pernyataan mereka adalah sebagai berikut:

“Guru tidak memberi tugas yang berhubungan dengan materi

berikutnya”.

“Guru jarang untuk membagi ke dalam kelompok”.

Dari alasan tersebut dapat dilihat guru tidak memberikan tugas untuk materi berikutnya. Padahal pemberian tugas untuk materi selanjutnya, akan membuat siswa memiliki kesiapan belajar. Guru pun jarang membagi siswa dalam kelompok belajar. Menurut teori konstruktivisme kelompok belajar dianggap sangat membantu belajar karena mengandung unsur yang berguna menantang pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang.

(62)

Hal ini dapat ditunjukkan pada tabel alasan siswa yang sering muncul pada tabel 7.

Pada indikator kedisiplinan guru, siswa juga merasa tidak mengalami kendala karena guru on time serta guru mengecek pekerjaan siswa. Hal ini dapat ditunjukkan pada tabel alasan siswa yang sering muncul pada tabel 7.

Sedangkan pada indikator kompetensi guru, siswa merasa guru menguasai materi (ditunjukkan pada tabel 7). Tetapi pada cara mengajar guru (soal no 8), alasan siswa yang sering muncul adalah siswa merasa cara mengajar guru terlalu cepat. Hal ini ditunjukkan pada tabel 6. Adapun dari hasil prosentase keseluruhan pada indikator kompetensi guru adalah 41 % (tabel 5). Maka secara keseluruhan siswa tidak mengalami kendala pada indikator tersebut.

Dari pembahasan tersebut disimpulkan secara umum kendala dari segi guru, yakni pada metode pembelajaran yang monoton (56%) dan dalam hal pemberian tugas (76%). Siswa merasa bosan apabila guru mengajarkan teori saja. Guru jarang membagi ke dalam kelompok.

2. Faktor fasilitas:

a. Kurangnya alat laboratorium

(63)

diperluat dengan alasan yang terbanyak muncul yaitu alat ada yang rusak. Frekuensi siswa yang merasa alat ada yang rusak adalah sebanyak 14 orang. Beberapa pernyataan mereka sebagai berikut:

“Karena sebagian telah rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi.”

“Alatnya banyak yang rusak dan belum dibenerin.”

Sewaktu peneliti mengambil data pendukung, peneliti mengamati bahwa terdapat beberapa alat yang rusak dan tidak tertata rapi. Laboratorium pun kurang terjaga kebersihannya ( lampiran halaman 88).

Adanya penyajian alat praktikum yang kurang baik, akan menimbulkan kesulitan dalam belajar. Padahal pelajaran fisika memerlukan penyajian pembelajaran yang menarik. Hal tersebut dapat disiasati dengan pengadaan sarana peralatan laboratorium yang lebih lengkap. Alat-alat yang telah rusak hendaknya juga diperbaiki. Menurut teori untuk pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar. Kenyataannya bahwa pengadaan alat pembelajaran fisika di SMA Kristen 1 kurang lengkap, Sehingga menyebabkan pembelajaran mengenai materi fisika kurang optimal.

b. Gedung.

(64)

serta 46% siswa merasa kelas pengap dan sirkulasi udara tidak bagus (soal nomor 15). Karena jawaban pilihan siswa pada soal nomor 15 tidak lebih dari 50% maka di kategorikan bukan sebagai kendala. Tetapi karena dari jumlah prosentase jawaban nomor 14 dan 15 adalah 62% (lebih dari 50% pada tabel 8), maka masuk dalam kategori kendala.

Beberapa pernyataan yang memperkuat kesimpulan di atas antara lain:

“Karena kelas saya berdekatan dengan jalan raya, ramainya kendaraan bermotor, mobil, sangat membisingkan sehingga

penjelasan guru tidak terdengar”.

“Suasana kelas saya sangat gaduh dan sulit berkonsentrasi”.

Peneliti mengamati bahwa memang SMA 1 Kristen Surakarta letaknya sangat berdekatan dengan jalan raya. Jalan raya sering dilalui kendaraan yang berlalu lalang. Waktu peneliti memasuki ruang guru terdapat penjual kompor yang sedang berjualan. Di depan ruang guru jelas-jelas tertulis di papan pengumuman bahwa tidak boleh berjualan di sekolah. Di sekitar kantor guru adalah ruang kelas dan proses pembelajaran sedang berlangsung. Suasana menjadi sangat bising. Hal ini menurut peneliti sangat mengganggu siswa yang belajar (lihat lampiran 92).

(65)

cukup. Beberapa pernyataan siswa ikut menguatkan kesimpulan di atas, yaitu:

“Sirkulasi udaranya cukup baik”.

“Ventilasi kelas cukup ada walaupun sinar matahari kurang”.

Peneliti mengamati bahwa memang ventilasi kelas cukup banyak, sehingga sirkulasi udara pun baik. Tetapi sayangnya, keadaan kelas agak gelap (lihat lampiran 91).

c. Alat pelajaran yang kurang lengkap.

Dari data kuisioner ditemukan kendala dari segi fasilitas yakni alat pelajaran yang kurang lengkap. Pada soal nomor 11 siswa yang mengalami kendala sebanyak 84%. Hal tersebut diperkuat dengan alasan siswa yang menyatakan tidak mempunyai buku penunjang belajar. Frekuensi alasan siswa yang tidak mempunyai buku penunjang belajar adalah sebanyak 12 (tabel 9). Adapun beberapa pernyataan mereka adalah sebagai berikut: “Tidak ada buku panduan/LKS”.

“Karena saya tidak punya buku paket dan sebagainya”.

(66)

ada adalah sebanyak 10 orang. Siswa yang menyatakan kapur kadang tidak tersedia adalah 6 orang siswa. Sedangkan siswa yang menyatakan penggaris sering menghilang di kelas lain adalah 7 orang. Dari tabel 10 dapat diketahui bahwa siswa tidak punya buku penunjang karena keterbatasan dana. Padahal buku penunjang belajar juga cukup penting untuk membantu belajar siswa. Menurut teori, alat pelajaran yang kurang lengkap, membuat penyajian pelajaran tidak baik.

Menurut penjaga perpustakaan, dana untuk buku penunjang juga kurang. Sekolah minim bantuan buku penunjang belajar. Penjaga perpustakaanpun hanya 1 orang, beliau tidak mencatat sendiri siapa saja yang meminjam buku. Perpustakaan sekolah juga tidak rapi. Buku teronggok dimana-mana.

Dari pembahasan di atas, di peroleh kesimpulan umum bahwa ditemukan kendala dari segi laboratorium. Yakni pada alat pelajaran yang kurang lengkap (72%), serta gedung (62%). Alasan siswa adalah sebagian alat telah rusak. Serta kelas berdekatan dengan jalan raya.

3. Faktor Siswa:

(67)

Kesimpulan ini diperkuat dengan alasan yang terbanyak muncul yaitu, siswa merasa bosan (tabel 12). Frekuensi alasan siswa yang merasa bosan adalah sebanyak 22. Sedangkan frekuensi alasan siswa yang merasa pelajaran fisika sulit adalah 25. Adapun beberapa pernyataan mereka adalah sebagai berikut:

“Merupakan momok, karena sulit.”

“Sulit, jam pelajaran siang.”

“Bosan, apalagi setelah jam pelajaran matematika.”

Dari alasan tersebut dapat dilihat bahwa terdapat kendala dalam bakat siswa yakni siswa merasa bosan dan fisika adalah momok (sulit). Menurut teori psikologi pembelajaran, bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir. Apabila seseorang anak harus mempelajari bahan yang lain dari bakatnya ia akan cepat bosan, mudah putus asa, tidak senang. Untuk menyikapi hal tersebut, guru perlu menumbuhkan kesenangan supaya siswa tidak merasa bosan. Misalnya dengan cara menyajikan pembelajaran yang menarik. Hal tersebut akan membantu siswa yang merasa tidak berbakat dalam pelajaran fisika menjadi tertarik untuk menyukai fisika.

(68)

Sedangkan frekuensi alasan siswa yang merasa malas adalah 16. Adapun beberapa pernyataan mereka adalah sebagai berikut:

“Sering menyerah, jika soalnya panjang dan soal cerita dan

kata-katanya berbelit-belit.”

“Saya ogah-ogahan mempelajari buku fisika.”

Dari alasan di atas (tabel 12) dapat dilihat bahwa terdapat kendala dalam hal motivasi siswa yakni siswa merasa menyerah dan malas. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya seseorang dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya semakin besar kesuksesan. Siswa yang lemah motivasinya akan acuh tak acuh, mudah putus asa dalam belajar. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas, yakni siswa menyerah bila menemui soal yang sukar, serta siswa malas dan tidak giat membaca buku Fisika. Padahal kita perlu sekali menumbuhkan motivasi dalam diri siswa itu sendiri untuk mau belajar. Hal tersebut juga bergantung dari si siswa untuk mau mengesampingkan rasa malas itu. Peran guru sangat penting untuk menumbuhkan motivasi dalam diri siswa. Menurut Wasty Soemanto, Guru berperan untuk menetapkan kebutuhan dan memotivasi murid-murid berdasarkan tingkah laku mereka yang nampak. Disini guru perlu mendukung, menyemangati siswa untuk belajar lebih rajin. Maka tugas utama guru adalah membantu siswa agar mau belajar sendiri secara aktif.

(69)

ditunjukkan oleh data pada tabel 11. Serta diperkuat dengan alasan yang terbanyak muncul yaitu siswa tidak berani tanya apabila menemui kesulitan dan siswa takut apabila mengerjakan soal di depan (dapat dilihat pada tabel 12). Frekuensi alasan siswa yang merasa tidak berani tanya apabila menemui kesulitan adalah 10. Sedangkan frekuensi alasan siswa yang merasa takut adalah 15. Adapun beberapa pernyataan mereka adalah sebagai berikut:

“Malu soale guru memandang saya sebelah mata. Hueleh.”

“Karena setiap siswa pasti takut melakukan kesalahan.”

Dari alasan di atas (tabel 12) dapat diketahui bahwa siswa tidak berani bertanya apabila menemui kesulitan, dan siswa merasa takut ditunjuk guru mengerjakan soal di depan. Disini peran guru sangat penting untuk usaha mendiagnosis kesulitan belajar siswa. Sehingga siswa yang tadinya malu bertanya serta takut salah menjadi siswa yang aktif bertanya apabila menemui kesulitan.

Pada kenyataannya, guru kurang mengupas permasalahan sehingga guru menganggap siswa sudah paham terhadap penyampaian materi yang diberikan, serta kurangnya pendekatan guru ke siswa. Guru fisika perlu menjalin relasi yang dekat dengan siswa sehingga siswa yang takut bertanya menjadi berani bertanya.

(70)

dengan cara-cara yang berbeda dengan cara yang baru saja dijelaskan guru. Kebebasan berpikir dan berpendapat sangat dihargai dan diberi ruang. Akibatnya suasana kelas akan sungguh hidup, menyenangkan, dan menyemangati siswa untuk senang belajar.

Dari data kuisioner ditunjukkan, siswa yang merasa kendala dalam hal massa media dan lingkungan sosial adalah sebanyak 57%. Hal tersebut ditunjukkan oleh data pada tabel 11. Kesimpulan itu diperkuat dengan alasan yang terbanyak muncul yaitu siswa suka menonton televisi dan siswa asik bermain lupa belajar (tabel 12). Frekuensi alasan siswa yang suka menonton televisi adalah 28. Sedangkan frekuensi alasan siswa yang merasa asik bermain dan lupa belajar adalah 15. Adapun beberapa pernyataan mereka adalah sebagai berikut:

“Karena TV sangat menarik.”

“Karena keasyikan maen dengan teman-teman sehingga lupa buat

belajar.”

(71)

Selain dari hal di atas, siswa tidak mengalami kendala dari segi siswa pada indikator lainnya (tabel 11). Pada indikator minat, siswa merasa tidak mengalami kendala karena siswa merasa memperhatikan pelajaran dan mencoba senang mengkaji persoalan fisika. Hal ini dapat ditunjukkan pada tabel alasan siswa yang sering muncul pada tabel 13. Adapun sebagai berikut:

“Saya memperhatikan karena saya memperhatikanpun belum tentu

mengerti”.

Siswa juga tidak mengalami kendala dalam faktor kesehatan mental. Siswa kebanyakan beralasan bahwa siswa merasa guru perhatian dan siswa dapat berkonsentrasi. Hal ini dapat ditunjukkan pada tabel 13 . Adapun beberapa alasan siswa sebagai berikut:

“Saya memperhatikan dan konsentrasi. Hehe walo kadang ngobrol”.

“Karena saya tidak pintar. Saya mencoba konsen”.

Pada indikator lainnya yakni faktor fisik, siswa tidak mengalami kendala. Siswa kebanyakan beralasan bahwa badannya sehat. Hal ini dapat ditunjukkan pada tabel 13. Adapun alasan siswa sebagai berikut:

“Tidak pernah sakit, cuma ngantuk”.

“Badan saya sehat walau kadang saja saya sakit, apabila saya nonton Piala Champion, FA cup, dll”.

(72)

berusaha mengerjakan semampunya. Adapun beberapa alasan siswa adalah sebagai berikut:

“Saya selalu on time”.

“Saya mengerjakan, walau kadang kalau tidak bisa saya menyerah”.

Diperoleh kesimpulan umum kendala dari segi siswa. Yakni dalam hal bakat (59%), motivasi (64%), hubungan siswa dengan guru kurang baik (57%), serta massa media dan lingkungan sosial (57%). Alasan siswa adalah fisika merupakan momok. Siswa kurang termotivasi mempelajari fisika. Siswa malu bertanya. Serta siswa menghabiskan banyak waktu untuk menonton televisi.

(73)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

1. Siswa SMA 1 Kristen mengalami kendala pada faktor guru. Yakni dalam hal metode pengajaran yang monoton, dan dalam hal pemberian tugas. Pada indikator pengajaran yang monoton, alasan siswa adalah merasa bosan apabila guru mengajar teori saja. Sedangkan pada indikator pemberian tugas, siswa memberi alasan bahwa guru jarang memberi tugas yang berhubungan dengan materi berikutnya serta guru jarang untuk membagi ke dalam kelompok. Akar permasalahan kendala siswa belajar adalah guru. Karena yang mengendalikan belajar siswa adalah guru. Guru yang termotivasi untuk mengajar lebih kreatif akan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.

(74)

3. Pada faktor siswa, siswa mengalami banyak kendala dalam hal bakat, motivasi, hubungan siswa dengan guru kurang baik, serta massa media dan lingkungan sosial. Banyak siswa yang merasa fisika merupakan momok. Siswa menyatakan sering menyerah apabila menemui soal yang sulit. Siswapun kurang termotivasi mempelajari fisika. Ditambah lagi dengan hubungan siswa dan guru pun kurang baik, banyak siswa tidak berani bertanya karena takut salah. Massa media dan lingkungan sosial juga sangat berpengaruh pada siswa. Hal ini diperkuat dengan siswa yang menyatakan keasyikan bermain dengan teman-teman, sehingga lupa untuk belajar. Menurut siswa, siswa menghabiskan banyak waktu untuk menonton televisi daripada belajar.

B. SARAN

1. Saran untuk guru:

• Usahakan guru menyajikan pembelajaran fisika dengan lebih menarik siswa. Misalnya dengan melakukan demonstrasi di depan kelas atau menyajikan pembelajaran yang melibatkan semua siswa. • Guru dapat memberikan tugas sebelum materi dibahas, sehingga

siswa memiliki kesiapan untuk belajar.

• Guru dapat melatih siswa untuk dapat bekerja sama, yakni dengan membentuk kelompok belajar.

(75)

2. Saran untuk sekolah

• Sekolah perlu memperbaiki alat-alat yang rusak pada laboratorium. • Perlunya pengadaan sarana peralatan laboratorium yang lebih

lengkap.

• Sekolah perlu memfasilitasi guru-guru fisika untuk lebih mengembangkan pembelajaran yang variatif, misalnya dengan lokakarya, pelatihan.

3. Saran untuk siswa

• Siswa perlu mengesampingkan rasa malas dan memotivasi dirinya sendiri untuk mau belajar.

(76)

DAFTAR PUSTAKA

Amien. 1987. Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam(IPA) dengan menggunakan metode ’’discovery’’ dan ’’inquiry’’. Jakarta. Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Ketut Sukardi, Dewa. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya:Usaha Nasional.

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Konsep, Karakteristik, dan Implementasi). Bandung : Remaja Rosdakarya.

Soemanto, Wasty. 1984. Psikologi pendidikan.Malang. Bina Aksara.

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

(77)
(78)

Lampiran 4. Lampiran ini adalah contoh untuk pengkodean. Soal no 1 (indikator relasi guru dengan siswa)

Sewaktu pembelajaran fisika dimulai, guru tidak menyapa siswa dan langsung ke topik pembelajaran.

Siswa Data transkip dari kuisioner soal no 1 Kode/Label 1 Guru menyapa, sehingga pelajaran tidak

menjadi membosankan

Menyapa menyenangkan 2 Setiap pelajaran dimulai, guru

menyenangkan dan selalu menyapa siswanya.

Menyapa menyenangkan

3 Guru serius sekali Serius

4 Karena dengan guru menyapa, saya merasa dihargai.

Menyapa Dihargai 5 Tidak memberi alasan

6 Tidak memberi alasan 7 Tidak memberi alasan

8 Guru selalu menyapa dan membuat cerita Menyapa Cerita 9 Tidak memberi alasan

10 Sapaan guru saya menyapa, dan buat semangat belajar.

Menyapa Semangat 11 Guru saya memulai sapaan dengan

menyemangati

Menyapa Semangat 12 Guru saya menyapa untuk mendekatkan

siswa

Menyapa

Dekat dengan siswa 13 Guru saya menyapa sehingga kalo

mengajar gak membuat bosan

Menyapa Menyenangkan 14 Dengan menyapa, siswa ngerasa dihargai. Menyapa

Dihargai 15 Suasana menjadi tidak tegang sewaktu

guru saya menyapa

Menyapa tidak tegang 16 Karena disetiap masuk ato keluarnya guru

menyapa n aku seneng

Menyapa Menyenangkan 17 Tidak memberi alasan

18 Tidak memberi alasan

19 Guru pernah lupa menyapa Lupa

20 Guru fisika saya sangat baik, pintar Baik pintar 21 Guru fisika saya menyapa dan

menyenangkan

Menyapa Menyenangkan

22 Pernah lupa menyapa Lupa

23 Siswa ngerasa nyaman nyenengin kalo disapa

Menyapa Menyenangkan 24 Guru saya menyapa, kalo tidak menyapa

ada sesuatu yang kurang dan siswa merasa

(79)

senang

25 Kadang-kadang guru lupa menyapa Lupa 26 Guru menyapa dan ada bercandanya Menyapa

Menyenangkan 27 Guru menyapa, siswa semangat Menyapa

Semangat 28 Guru menyapa nunjukin perhatian Menyapa

Perhatian 29 Suasana belajar menjadi tidak tegang

karena sapaan guru saya.

Menyapa tidak tegang 30 Guru saya menyapa dan menyemangati Menyapa

Semangat 31 Guru memberi sapaan halus Menyapa

Halus

32 Guru menyapa dan menyenangkan Menyapa menyenangkan 33 Tidak memberi alasan

34 Guru nyapa nunjukin perhatian Menyapa Perhatian 35 Guru menyapa, sehingga pelajaran fisika

saya tuh tidak menjadi membosankan

Menyapa menyenangkan 36 Guru saya menyapa untuk mendekatkan

siswa

Menyapa dekat 37 Guru menyapa dan membuat cerita-cerita

yang lucu

Menyapa cerita 38 Setiap masuk kelas guru nyapa, saya

seneng

Menyapa menyenangkan 39 Guru nyapa siy.., dan bahkan bercerita dulu Menyapa

cerita 40 Guru menyapa, makanya suasananya jadi

nyenengin dan tidak tegang.

Menyapa menyenangkan 41 Tidak memberi alasan

42 Tidak memberi alasan

43 Saya jadi semangat karena guru saya menyapa siswa.

Menyapa Semangat 44 Ga mesti menyapa, kadang guru lupa

nyapa

Lupa 45 Crita guru menyenangkan dan sapaannya

nyenengin jg.

Menyapa menyenangkan 46 Guru menyapa, sehingga pelajaran fisika

saya gak mbosenin.

Menyapa menyenangkan 47 Guru fisika saya nyapa, dan crita lucu&

aneh2.

Menyapa cerita

48 Tidak memberi alasan Menyapa

(80)

49 Guru saya menyapa dan menyemangati Menyapa Semangat 50 Tidak memberi alasan

Soal no 2 (indikator relasi guru dengan siswa)

Guru fisika tidak memotivasi siswanya supaya belajar dengan baik.

Siswa Data transkip dari kuisioner soal no 2 Kode/Label 1 Tidak memberi alasan

2 Guru memotivasi, biar saya terpacu mendapat nilai bagus Memotivasi Nilai 3 Guru memotivasi, supaya saya berminat belajar fisika Memotivasi

Minat siswa 4 Guru pernah lupa memotivasi saya kok. Lupa memotivasi. 5 Guru memacu saya agar nilai saya bagus. Memotivasi

nilai 6 Motivasi guru saya diperlukan. Siswa merasa ada orang

yang selalu mendukung belajar.

Memotivasi Belajar siswa 7 Guru saya berperan dalam usaha-usaha anak didiknya

belajar.

Memotivasi Belajar siswa 8 Guru saya memotivasi biar saya semangat belajar. Memotivasi

Belajar siswa 9 Guru saya memotivasi saya, Guru menyuruh belajar yang

rajin

Memotivasi Belajar siswa 10 Tidak memberi alasan

11 Guru saya memotivasi biar fisika nggak sulit. Padahal fisika itu ya sulit.

Memotivasi Belajar siswa 12 Guru ngingetin biar seneng belajar Memotivasi

Belajar siswa 13 Karena motivasi guru saya penting agar pelajaran fisika

disukai

Memotivasi Belajar siswa 14 Guru saya memberi dorongan spirit. Guru menyuruh

semangat belajar

Memotivasi Belajar siswa 15 Tidak memberi alasan

16 Saya merasa motivasi yang guru lakukan nimbulin semangat.

Memotivasi semangat

17 Guru pernah kelupaan memotivasi. Lupa memotivasi. 18 Saya menjadi semangat kalo dimotivasi guru saya. Memotivasi

semangat 19 Memotivasi supaya murid berusaha belajar. Memotivasi

Belajar siswa 20 Tidak memberi alasan

Figur

Tabel 1: Kisi-kisi kuisioner kendala siswa belajar fisika

Tabel 1:

Kisi-kisi kuisioner kendala siswa belajar fisika p.41
Tabel 2,3,4 adalah contoh rangkuman analisis.

Tabel 2,3,4

adalah contoh rangkuman analisis. p.46
Tabel 4: Siswa pada tingkat kendala belajar faktor siswa

Tabel 4:

Siswa pada tingkat kendala belajar faktor siswa p.47
Tabel 3: Siswa pada tingkat kendala belajar faktor fasilitas

Tabel 3:

Siswa pada tingkat kendala belajar faktor fasilitas p.47
Tabel 5: Data hasil faktor kendala guru ditinjau dari sudut pandang siswa

Tabel 5:

Data hasil faktor kendala guru ditinjau dari sudut pandang siswa p.50
Tabel kasar mengenai data alasan kendala siswa faktor guru dapat dilihat

Tabel kasar

mengenai data alasan kendala siswa faktor guru dapat dilihat p.51
Tabel 7: Data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada faktor

Tabel 7:

Data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada faktor p.52
Tabel 9: Data mengenai alasan kendala siswa faktor fasilitas.

Tabel 9:

Data mengenai alasan kendala siswa faktor fasilitas. p.53
Tabel kasar mengenai data alasan kendala siswa faktor fasilitas dapat

Tabel kasar

mengenai data alasan kendala siswa faktor fasilitas dapat p.54
Tabel 12: Tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor siswa.

Tabel 12:

Tabel data mengenai alasan kendala siswa faktor siswa. p.56
Tabel 13: Data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada

Tabel 13:

Data mengenai alasan siswa yang tidak mengalami kendala pada p.57
tabel 7.

tabel 7.

p.62
tabel alasan siswa yang terbanyak muncul. Siswa merasa ventilasi kelas

tabel alasan

siswa yang terbanyak muncul. Siswa merasa ventilasi kelas p.64
tabel alasan siswa yang sering muncul pada tabel 13. Adapun sebagai

tabel alasan

siswa yang sering muncul pada tabel 13. Adapun sebagai p.71
Tabel 16: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal metode pengajaran monoton.

Tabel 16:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal metode pengajaran monoton. p.83
Tabel 15: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal memulai relasi dengan siswa.

Tabel 15:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal memulai relasi dengan siswa. p.83
Tabel 18: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal kedisiplinan guru.

Tabel 18:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal kedisiplinan guru. p.84
Tabel 20: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal kompetensi guru.

Tabel 20:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal kompetensi guru. p.85
Tabel 24: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal alat pelajaran yang kurang.

Tabel 24:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal alat pelajaran yang kurang. p.86
Tabel 27: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal gedung.

Tabel 27:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal gedung. p.87
Tabel 29:  Data hasil alasan kendala siswa dalam hal bakat. (soal nomor 16:Saya merasa bosan belajar fisika ):

Tabel 29:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal bakat. (soal nomor 16:Saya merasa bosan belajar fisika ): p.88
Tabel 32: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal minat.

Tabel 32:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal minat. p.89
Tabel 34: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal motivasi.

Tabel 34:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal motivasi. p.90
Tabel 36: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal faktor kesehatan mental.

Tabel 36:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal faktor kesehatan mental. p.91
Tabel 38: Data hasil alasan kendala siswa dalam hal kedisiplinan.

Tabel 38:

Data hasil alasan kendala siswa dalam hal kedisiplinan. p.92
Tabel 41: Data hasil kendala siswa dalam hal hubungan siswa dan guru kurang baik.

Tabel 41:

Data hasil kendala siswa dalam hal hubungan siswa dan guru kurang baik. p.93
Tabel 43: Data hasil alasan kendala siswa dalam massa media dan lingkungan sosial.

Tabel 43:

Data hasil alasan kendala siswa dalam massa media dan lingkungan sosial. p.94

Referensi

Memperbarui...