Implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis Ix Sedayu - USD Repository

222 

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF MELALUI PEMANFAATAN

MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN COMPETENCE, CONSCIENCE, DAN COMPASSION SISWA KELAS XI IPA 1 SMA

PANGUDI LUHUR ST. LOUIS IX SEDAYU

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah

Disusun Oleh :

Andreas Gilang Tito Abiyasa 091314002

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

 

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF MELALUI PEMANFAATAN

MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN COMPETENCE, CONSCIENCE, DAN COMPASSION SISWA KELAS XI IPA 1 SMA

PANGUDI LUHUR ST. LOUIS IX SEDAYU

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah

Disusun Oleh :

Andreas Gilang Tito Abiyasa ( 091314002)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv 

 

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan perlindungan dan kekuatan

dalam hidupku

2. Kedua orangtua ku tercinta dan adikku tersayang yang selalu mendukung

(6)

 

MOTTO

Sejarah ibarat “tempe” dihamparan “hamburger”. Sekarang tergantung bagaimana

cara kita menjadikan “tempe” tersebut berasa “hamburger”. - (Hb. Hery Santosa)

Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari tua. - (Aristoteles)

(7)
(8)
(9)

viii 

 

ABSTRAK

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF MELALUI PEMANFAATAN

MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN COMPETENCE, CONSCIENCE, DAN COMPASSION SISWA KELAS XI IPA 1 SMA

PANGUDI LUHUR ST. LOUIS IX SEDAYU Oleh

Andreas Gilang Tito Abiyasa Universitas Sanata Dharma

2014

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan competence, conscience, dan

compassion siswa setelah Implementasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Melalui Pemanfaatan Multimedia.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan model penelitian Kemmis dan McTaggart berbais PPR dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi, tes, dan kuesioner. Analisis data dengan menggunakan deskriptif persentase.

(10)

ix 

 

ABSTRACT

HISTORY LEARNING IMPLEMENTATION BASED ON REFLECTIVE PEDAGOGICAL PARADIGM THROUGH THE USE OF MULTIMEDIA IN IMPROVING COMPETENCE, CONSIENCE, AND COMPASSION OF ELEVENTH GRADE STUDENTS OF SCIENCE 1 PANGUDI LUHUR ST.

LOUIS IX SEDAYU SENIOR HIGH SCHOOL By

Andreas Gilang Tito Abiyasa Sanata Dharma University

2014

This research aims to describe the competence, conscience, and

compassion improvement of the students towards the Implementation of the History Learning Based on Reflective Pedagogical Paradigm (RPP) through the use of multimedia.

This research uses Class Action Research model according to Kemmis and Mc Taggart based on RPP with the steps of planning, action, observation, and reflection. The data is gathered through observation, test, and questionnaire. The data analysis uses descriptive percentage.

The result points out that there is competence, conscience, and compassion

(11)

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

atas berkat dan bimbingan-Nya skripsi yang berjul ”Implementasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif melalui Pemanfaatan Multimedia Untuk Meningkatkan Competence, Conscience, dan Compassion Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu” ini dapat terselesaikan dengan baik. Bagi penulis penyusunan skripsi ini telah memberikan

banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berguna dalam penyusunan sebuah

karya ilmiah.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari

bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin

mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku ketua jurusan Pendidikan Ilmu

Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma.

3. Ibu Dra. Theresia Sumini, M.Pd. selaku dosen pembimbing I yang telah

banyak memberikan informasi dan bimbingan kepada penulis.

4. Bapak Drs. A.K. Wiharyanto, M.M. selaku dosen pembimbing II yang

telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis

5. Br. Agustinus Mujiya, S.Pd., FIC selaku kepala SMA Pangudi Luhur St.

Louis IX Sedayu yang telah memberikan kesempatan dalam melaksanakan

(12)
(13)

xii 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 9

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Pemecahan Masalah ... 10

F. Tujuan Penelitian ... 10

G. Manfaat Penelitian ... 11

H. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II KAJIAN TEORI ... 13

A. Deskripsi Teori ... 13

(14)

xiii 

 

2. Pembelajaran Sejarah ... 16

3. Paradigma Pedagogi Reflektif... 21

4. Konsep Competence, Conscience, Compassion (3C) ... 25

5. Multimedia ... 29

B. Materi Pembelajaran ... 31

C. Kaitan antara penerapan PPR melalui pemanfaatan multimedia dengan PTK dalam pembelajaran sejarah ... 37

D. Penelitian yang Relevan ... 38

E. Kerangka Berpikir ... 39

BAB III METODE DAN METODOLOGI PENELITIAN ... 41

A. Jenis penelitian ... 41

B. Setting Penelitian ... 41

C. Subyek dan Obyek ... 42

D. Desain penelitian ... 43

E. Definisi Operasionel Variabel ... 43

F. Sumber Data ... 45

G. Metode Pengumpulan data ... 46

H. Instrumen Pengumpulan data ... 47

I. Jenis dan Analisis Data ... 49

J. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 55

K. Prosedur Penelitian ... 57

L. Indikator Keberhasilan ... 64

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65

A. Hasil penelitian... 65

B. Komparasi ... 110

C. Pembahasan ... 120

BAB V PENUTUP ... 127

A. Kesimplan ... 127

B. Saran ... 129

(15)

xiv 

 

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Jadwal Penelitian Di Sekolah ... 42

Tabel 2:Kriteria Penuntasan Hasil Belajar ... 50

Tabel 3: Kriteria Penilaian Portofolio Siklus 1 ... 51

Tabel 4: Kriteria Penilaian Portofolio Siklus 2 ... 51

Tabel 5: Skor Kuesioner Pernyataan Positif ... 53

Tabel 6: Skor Kuesioner Pernyataan Negatif ... 53

Tabel 7: Analisis Kuesioner Aspek Conscience (Suara Hati) ... 53

Tabel 8 : Analisis Kuesioner Aspek Compassion (Bela Rasa) ... 54

Tabel 9: Pengamatan Aspek Conscience (Suara Hati) siklus 1 dan 2... 54

Tabel 10 : Pengamatan Aspek Compassion (Bela Rasa) siklus 1 dan 2 ... 55

Tabel 11 : Indikator Keberhasilan ... 64

Tabel 12 : Keadaan Awal Nilai Kognitif ... 68

Tabel 13 : Data Keadaan Awal Aspek Competence ... 69

Tabel 14 : Data Keadaan Awal Aspek Conscience (Suara Hati) ... 70

Tabel 15: Data Keadaan Awal Aspek Compassion (Bela Rasa) ... 70

Tabel 16 : Hasil Ulangan Siklus 1 ... 82

Tabel 17 : Nilai Akhir Siklus 1 ... 83

Tabel 18 : Frekuensi Data Aspek Competence Siklus 1 ... 85

Tabel 19 : Hasil Pengamatan Aspek Conscience dan Compassion Siklus 1 87 Tabel 20 : Hasil Ulangan Siklus 2... 98

Tabel 21 : Nilai Akhir Siklus 2 ... 99

(16)

xv 

 

Tabel 23 : Data Keadaan Akhir Aspek Conscience (Suara Hati) ... 102

Tabel 24 : Data Keadaan Akhir Aspek Compassion (Bela Rasa) ... 104

Tabel 25 : Hasil Pengamatan Aspek Conscience dan Compassion Siklus 2 106

Tabel 26 : Komparasi Aspek Competence Berdasarkan Peningkatan Nilai 110

Tabel 27 : Komparasi Aspek Competence Berdasarkan Ketuntasan KKM 112

Tabel 28 : Hasil Komparasi Aspek Conscience Keadaan Awal dan Akhir 114

Tabel 29 : Hasil Komparasi Aspek Conscience Siklus 1 dan 2 ... 116

Tabel 30 : Hasil Komparasi Aspek Compassion Keadaan Awal dan Akhir 118

(17)

xvi 

 

DAFTAR GAMBAR

Gambar I : Siklus Penelitian Tindakan Kelas ... 18

Gambar II : Kerangka Berpikir ... 41

Gambar III : Desain model Kemmis dan McTaggart berbasis PPR ... 45

Gambar IV : Grafik Data Keadaan Awal Competence Siswa ... 70

Gambar V : Grafik Perbandingan Data Keadaan Awal Conscience ... 72

Gambar VI : Grafik Perbandingan Data Keadaan Awal Compassion ... 74

Gambar VII : Grafik Perbandingan Data Competence Siklus 1 ... 86

Gambar VIII: Grafik Perbandingan Data Competence Siklus 2 ... 101

Gambar IX : Grafik Perbandingan Data Keadaan Akhir Conscience ... 103

Gambar X : Grafik Perbandingan Data Keadaan Akhir Compassion ... 105

Gambar XI : Diagram Hasil Komparasi Aspek Competence... 113

Gambar XII: Diagram Hasil Komparasi Aspek Conscience Keadaan Awal dan Akhir ... 116

(18)

xvii 

 

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Jadwal Penelitian ... 134

Lampiran 2: Surat Ijin Penelitian ... 135

Lampiran 3: Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 136

Lampiran 4: Silabus ... 137

Lampiran 5: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 143

Lampiran 6: Hasil Wawancara Dengan Guru ... 154

Lampiran 7: Hasil Observasi Aktivitas Guru Di Kelas ... 155

Lampiran 8: Hasil Observasi Aktivitas Siswa Di Kelas ... 156

Lampiran 9: Rangkuman Hasil Refleksi dan Aksi Siswa ... 157

Lampiran 10: Kisi-kisi Kuesioner Aspek Conscience Siswa ... 159

Lampiran 11: Kuesioner Pra Penelitian Aspek Conscience ... 160

Lampiran 12: Hasil Analisis Validitas Kuesioner Aspek Conscience ... 165

Lampiran 13: Kuesioner Keadaan Awal dan Akhir Aspek Conscience ... 168

Lampiran 14: Kisi-kisi Kuesioner Aspek Compassion Siswa ... 173

Lampiran 15: Kuesioner Pra Penelitian Aspek Compassion ... 174

Lampiran 16: Hasil Analisis Validitas Kuesioner Aspek Compassion ... 179

Lampiran 17: Kuesioner Keadaan Awal dan Akhir Aspek Compassion .... 182

Lampiran 18: Kisi-kisi Soal Ulangan Siklus 1 ... 187

Lampiran 19: Soal Tes/Ulangan Siklus 1 ... 189

Lampiran 20: Kisi-kisi Soal Ulangan Siklus 2 ... 193

Lampiran 21: Soal Test/Ulangan Siklus 2 ... 195

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara umum pengertian pendidikan adalah proses perubahan atau

pendewasaan manusia, berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa

menjadi biasa, dari tidak paham menjadi paham dan sebagainya. Pendidikan itu

bisa didapatkan dan dilakukan dimana saja, bisa di lingkungan sekolah,

masyarakat dan keluarga, dan yang penting untuk diperhatikan adalah

bagaimana memberikan atau mendapat pendidikan dengan baik dan benar,

agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan

mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjamin kelangsungan

hidup negara, karena pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan dan

mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Dengan pendidikan

kehidupan manusia menjadi terarah. Pendidikan umum merupakan pendidikan

dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan

oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pada hakikatnya tujuan pendidikan nasional tidak boleh melupakan landasan

konseptual filosofi pendidikan yang membebaskan dan mampu menyiapkan

generasi masa depan untuk mampu bertahan hidup dan berhasil menghadapi

tantangan-tantangan zamannya.1 Pendidikan itu sendiri memiliki peranan yang

penting dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, kritis dan demokratis. Di era

       1

(20)

dewasa ini, pendidikan merupakan hal yang wajib dimiliki oleh setiap individu.

Oleh sebab itu, pembaharuan pendidikan harus senantiasa dilakukan agar tercipta

pendidikan yang berkualitas.

Menjadikan manusia cerdas dan pintar, boleh jadi mudah dilakukan, tetapi

menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak, tampaknya jauh

lebih sulit atau bahkan sangat sulit. Dengan demikian, sangat wajar apabila

dikatakan bahwa masalah moral merupakan persoalan akut atau penyakit kronis

yang mengiringi kehidupan manusia kapan dan di mana pun. Pendidikan bukan

sekedar berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kemampuan semata,

melainkan juga berfungsi untuk membentuk karakter dan peradaban bangsa yang

bermatabat. Dari hal ini maka sebenarnya pendidikan karakter tidak bisa

ditinggalkan dalam berfungsinya pendidikan. Oleh karena itu, sebagai fungsi yang

melekat pada keberadaan pendidikan nasional untuk membentuk karakter dan

peradaban bangsa, pendidikan karakter merupakan manifestasi dari peran tersebut.

Untuk itu, pendidikan karakter menjadi tugas dari semua pihak yang terlibat

dalam usaha pendidikan.

Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari pendidikan

karakter seperti yang telah diuraikan di atas, menghendaki suatu proses yang

berkelanjutan, dilakukan melalui implementasi pada berbagai mata pelajaran yang

ada. Dalam realitanya, proses pembelajaran yang terjadi pada umumnya hanyalah

penyampaian materi dari guru ke siswa tanpa menanamkan nilai nilai karakter

dalam diri siswanya. Penanaman nilai yang kurang inilah menyebabkan

(21)

3

 

sekarang telah terjadi banyak praktek negatif yang dilakukan oleh pelajar sebagai

contoh merosotnya moral mereka saat ini.

Salah satu mata pelajaran yang berpotensi membentuk sikap kemanusiaan

kritis adalah sejarah. Sejarah tidak akan berfungsi dalam proses pendidikan yang

menjurus pertumbuhan dan pengembangan karakter bangsa apabila nilai-nilai

sejarah tersebut belum terwujud dalam pola pikir dan perilaku yang nyata. Untuk

sampai pada wujud perilaku ini, perlu ditumbuhkan apa yang disebut kesadaran

sejarah.2 Sejarah adalah salah satu ilmu pengetahuan yang sangat menarik.

Sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, dalam mengembangkan

pendidikan karakter, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian

yang teramat penting.

Kesadaran tersebut hanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang

memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa

lalu yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. sebagai contohnya

mengenai keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin negara, sistem

perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting

lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat

mempelajari apa saja yang memengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara

atau sebuah peradaban. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sejarah

merupakan mata pelajaran yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan terutama

nilai-nilai karakter dan kemanusiaan.

       2

(22)

Namun dalam prakteknya, masih banyak siswa yang kurang berminat pada

pelajaran sejarah. Banyak orang berpikir bahwa pelajaran sejarah hanyalah

menyangkut urusan sekelompok kecil anggota masyarakat yang disebut dengan

sejarawan atau peminat sejarah yang tertarik pada apa yang terjadi di waktu yang

lampau. Dalam konteks pendidikan, sejarah sering dianggap urusan guru sejarah

saja, yang berminat pada sejarah karena tuntutan profesinya sebagai guru.3

Banyaknya siswa yang tidak menyukai mata pelajaran sejarah dikarenakan guru

mata pelajaran yang cenderung monoton, ditambah lagi mereka lebih tertarik pada

materi pembelajaran yang realistik dan memiliki prospek ke depan.

Hal yang serupa juga terjadi dalam proses pembelajaran di salah satu SMA

di Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu adalah merupakan

sekolah berasrama (boarding school) yang dikelola oleh para biarawan dan

biarawati gereja. Sekolah ini berciri khas Katholik sebagai komunitas umat

beriman yang mewujudkan keimanan, kebijaksanaan dalam tata pergaulan

sehari-hari.4 Pembinaan dalam hidup berasrama yang religius memberikan nuansa bagi

kehidupan sekolah berbeda dengan sekolah sekolah lain berdasarkan visi dari

SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu yaitu menjadi sekolah pilihan,

berkarakter katholik, unggul dalam akademik, peduli lingkungan, dan memiliki

ketrampilan hidup dilandasi semangat pelayanan.

Dengan latar belakang sekolah yang seperti itu, peneliti sangat tertarik untuk

melakukan penelitian di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. Berdasarkan

observasi awal di kelas XI IPA 1, dimana guru sejarah masih menggunakan

       3

Ibid., hlm. 7. 4

(23)

5

 

metode konvensional. Yakni melakukan ceramah dan berpedoman pada buku

paket, walaupun sering kali ditambahi dengan guyonan kecil untuk mencairkan

suasana. Keadaan semacam itulah yang menjadi salah satu penyebab kurangnya

minat siswa pada pelajaran sejarah, sehingga kegunaan sejarah untuk

menanamkan nilai kehidupan sulit untuk dilakukan.

Realita masalah ini tidak dimaksudkan tuduhan peneliti terhadap metode

guru yang cenderung kuno, akan tetapi ajakan kepada semua pihak di SMA

Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu untuk bekerjasama dalam pemecahan masalah

tersebut. Sehingga proses pembelajaran yang berlangsung akan sesuai dengan

tujuan dari SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu, yaitu terselenggaranya

pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta tercapainya peningkatan sarana/

prasarana dan media kegiatan belajar mengajar.5

Pendidikan perlu mengembangkan siswa-siswanya tidak hanya pandai

secara akademik, tetapi menjadi cerdas (bukan hanya pandai dalam bidang studi).

Cerdas yang dimaksud adalah cerdas dalam bersikap, memutuskan, memilih,

menilai, dan bertindak. Dengan kata lain cerdas adalah sikap kemanusiaan yang

kritis. Dengan bimbingan guru, siswa diajak untuk membahas masalah-masalah

atau kejadian-kejadian yang dipaparkan dalam media massa untuk membentuk

pendapat dan sikap kritis berdasarkan kaidah dan etika yang telah dipelajari.

Berlandaskan sikap, keyakinan, nilai kemanusiaan/budaya tersebut, siswa dilatih

untuk menjadi cerdas. Dengan menyikapi dan menghayati nilai/budaya sebagai

landasannya, siswa dilatih untuk membahas masalah aktual kemasyarakatan

       5

(24)

secara kritis. Dalam hal ini sangat diperlukan kemampuan penalaran, eksplorasi,

kreativitas, dan kemandirian dalam belajar, baik bagi mereka yang akan sampai ke

jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun mereka yang karena hambatan

finansialtidak mampu sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan pembelajaran yang mendukung,

salah satunya dengan melaksanakan pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif

(PPR). Pola pikir pembelajaran PPR ini dalam hal membentuk pribadi, siswa

diberi pengalaman akan suatu nilai kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi

dengan pertanyaan agar merefleksikan pengalaman tersebut, dan berikutnya

difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa membuat niat dan berbuat sesuai

nilai tersebut.6

Melalui PPR diharapkan siswa-siswi akan menjadi pejuang, maka perlu

dikembangkan pada mereka kepemimpinan. Kepemimpinan ditumbuhkan dengan

melengkapi mereka dengan kemampuan penalaran, eksplorasi, kreativitas dan

kemandirian dalam pelajaran dan bertindak. SMA Pangudi Luhur St. Louis IX

Sedayu merupakan lembaga pendidikan yang termasuk dalam idealisme

pendidikan katholik, yang mana persaudaraan sejati merupakan roh sekolah,

sesuai dengan ciri khas dari para Bruder FIC selaku pengayom dari sekolah ini.

Oleh sebab itu, sangatlah cocok bila PPR ini diterapkan dalam pendidikan

di sekolah tersebut sehingga dapat meningkatkan karakter mereka terutama dalam

hal kemampuan/prestasi belajar, ketrampilan, sikap atau competence,

mengembangkan hati nurani atau conscience, dan mengembangkan bela rasa

       6

(25)

7

 

terhadap sesama atau compassion sesuai dengan visi dan misi dari SMA Pangudi

Luhur St. Louis IX Sedayu.

Dalam hal ini pembelajaran PPR ini juga perlu dikemas semenarik mungkin

agar siswa tertarik, maka diperlukan suatu media pendukung. Pada penelitian ini,

peneliti menggunakan alat pendukung berupa multimedia pembelajaran berbasis

teknologi sehingga dalam menyampaikan pelajaran sejarah, metode yang

digunakan guru tidak konvensional. Pada dasarnya salah satu tujuan dari

pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan multimedia adalah sedapat

mungkin menggantikan dan melengkapi tujuan, materi, metode dan alat penilaian

yang ada dalam proses belajar mengajar dalam sistem pembelajaran konvensional.

Dengan penerapan multimedia ini diharapkan akan mampu memberikan

perubahan dalam suasana belajar, sehingga dapat menimbulkan motivasi

khususnya dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil

belajar siswa di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu sesuai dengan visi,

misi, dan tujuan sekolah tersebut. Selain itu dengan digunakannya multimedia

dalam pembelajaran, akan membantu menunjang dalam proses penanaman

nilai-nilai karakter dan kemanusiaan yang sangat banyak terkandung dalam pelajaran

sejarah karena aspek multimedia yang dimiliki komputer dapat memberikan rangsangan atau stimulus dalam belajar.

Perubahan suasana dalam proses pembelajaran seperti pengadaan animasi

gambar yang menarik dan mengarah pada materi pembelajaran, serta iringan

musik yang menyertai gambar-gambar dan interaksi yang dibuat, diharapkan

(26)

berkonsentrasi dalam belajar. Selain itu juga, siswa diharapkan mampu untuk

beradaptasi dengan era digital dewasa ini.

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka peneliti tertarik

untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas dengan judul “Implementasi

Pembelajaran Sejarah Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Melalui

Pemanfaatan Multimedia Untuk Meningkatkan Competence, Conscience, dan

Compassion Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu”

Dengan penelitian ini diharapkan akan meningkatkan prestasi competence

(pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan compassion (bela

rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut, dapat diketahui bahwa kondisi

pembelajaran di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX adalah:

1. Kurangnya kesadaran akan pentingnya pembelajaran sejarah.

2. Proses pembelajaran yang monoton dikarenakan pembelajaran yang

dipergunakan guru masih konvensional.

3. Proses pembelajaran yang terjadi hanyalah penyampaian materi dari guru

ke siswa, sehingga kurang berkembang dari aspek nilai-nilai karakter dan

(27)

9

 

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini hanya akan membahas tentang peningkatan

competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan

compassion (bela rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX

Sedayu dangan implementasi pembelajaran sejarah berbasis pedagogi reflektif

menggunakan pemamfaatan multimedia.

D. Rumusan Masalah

1. Apakah implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi

reflektif melalui pemanfaatan multimedia dapat meningkatkan aspek

competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap) siswa kelas XI IPA 1 SMA

Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu?

2. Apakah implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi

reflektif melalui pemanfaatan multimedia dapat meningkatkan aspek

conscience (hati nurani) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St.

Louis IX Sedayu?

3. Apakah implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi

reflektif melalui pemanfaatan multimedia dapat meningkatkan aspek

compassion (bela rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis

IX Sedayu?

E. Pemecahan Masalah

Dalam penelitian ini, permasalahan akan dipecahkan dengan

mengimplementasikan pembelajaran berbasis Pedagodi Reflektif. Dengan

(28)

secara akademik namun juga memiliki pemahaman manusiawi yang kritis.

Pembelajaran Reflektif ini nanti akan didukung dengan pemanfaatan multimedia

karena diharapkan siswa mampu untuk beradaptasi dengan era digital dewasa ini.

Hal tersebut dilakukan sebagai cara untuk meningkatkan aspek competence

(pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan compassion (bela

rasa) pada siswa sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas.

F. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah tersebut, dapat dideskripsikan beberapa tujuan

penelitian yang akan dicapai:

1. Meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap) siswa

kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu dalam

implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif

melalui pemanfaatan multimedia.

2. Meningkatkan aspek conscience (hati nurani) siswa kelas XI IPA 1 SMA

Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu dalam implementasi pembelajaran

sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan

multimedia.

3. Meningkatkan aspek compassion (bela rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA

Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu dalam implementasi pembelajaran

sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan

(29)

11

 

G. Manfaat Penelitian

1. Bagi Lembaga Sekolah

Sebagai umpan balik dalam meningkatkan aspek competence (pengetahuan,

ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) siswa

pada mata pelajaran sejarah, dan meningkatkan penggunaan media pembelajaran

di sekolah.

2. Bagi Universitas

Sebagai sarana pengenalan visi dan misi Universitas Sanata Dharma melalui

pembelajaran berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif.

3. Bagi Guru

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam penyampaian

materi pembelajaran oleh guru agar tidak terkesan monoton. Sehingga siswa

mampu menjadi aktif dan memahami, bahwa pelajaran sejarah bisa memberikan

banyak makna dan nilai-nilai kehidupan yang dapat berguna bagi perkembangan

bangsa, khususnya bagi generasi muda.

4. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menarik minat belajar siswa

dan untuk meningkatkan pencapaian tujuan pembelajaran.

5. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bagian dari proses belajar dan

berlatih dibidang penelitian sehingga dapat mengembangkan pengetahuan peneliti

baik secara teoritis maupun aplikasi dalam praktik. Selain itu juga menjadi ajang

(30)

H. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan skripsi dengan judul Implementasi

Pembelajaran Sejarah Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Melalui

Pemanfaatan Multimedia Untuk Meningkatkan Competence, Conscience, dan

Compassion Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu

adalah:

BAB I : Bab ini berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan

masalah, rumusan masalah, pemecahan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : Dalam bab ini akan dibahas mengenai deskripsi teori yang mendukung

penelitian, materi dalam pembelajaran, kaitan antara

PTK-PPR-Multimedia dalam pembelajaran sejarah, penelitian yang relevan,

kerangka berpikir dan hipotesis penelitian.

BAB III : Dalam bab ini diuraikan metode yang dipakai dalam penelitian, yang

terdiri dari jenis penelitian, setting penelitian, subyek dan obyek

penelitian, desain penelitian, definisi operasional variabel, sumber

data, metode pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, analisis

data, prosedur penelitian, dan indikator keberhasilan.

BAB IV : Bab ini menampilkan ulasan mengenai hasil penelitian dan

pembahasan. Dalam bab ini juga dipaparkan data aspek 3C dari

keadaan awal sampai dengan siklus 2 serta komparasinya.

(31)

13 BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori

1. Penelitian Tindakan Kelas

a. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Banyak ahli memberikan definisi tentang Penelitian Tindakan Kelas

(PTK), namun dalam hal ini, menurut Kemmis dan Mc Taggart, PTK adalah

studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja tetapi

dilakukan secara sistematis, terencana dengan sikap mawas diri.1

Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap

kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi

dalam sebuah kelas secara bersama.2 Tindakan tersebut diberikan oleh guru

dan dilakukan oleh siswa, jadi dalam hal ini siswa juga turut berperan aktif

dalam pelaksanaan PTK.

Menurut Kemmis & Mc Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut

dari Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan antara keduanya,

model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan

Kemmis & Mc Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri

dari tahap-tahap:3 perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act &

observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara

       1

Sarwiji Suwandi, 2011, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah, Surakarta: Yuma Pustaka, hlm. 10-11.

2

  Suharsimi Arikunto.,dkk, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT Bumi Aksara, hlm. 3-4. 3

(32)

Gambar I: Siklus dalam penelitian Kemmis & Mc Taggart

berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai. Dituangkan dalam bentuk

gambar, rancangan Kemmis & Mc Taggart tampak sebagai berikut:

b. PrinsipPenelitian Tindakan Kelas

Dalam melakukan suatu penelitian terutama dalam Penelitian Tindakan

Kelas (PTK), seorang peneliti memerlukan sebuah informasi yang benar

kejelasannya, tidak boleh bersifat dugaan atau bahkan menduga-duga tapi

seorang peneliti harus terjun langsung kelapangan untuk meneliti suatu

masalah yang dialami oleh sekolah atau lembaga tertentu untuk mengetahui

masalah atau kendala apa yang sedang mereka hadapi kemudian kita

mencarikan solusi yang tepat dari masalah yang dialaminya. Selain itu, peneliti

juga harus memahami dan menerapkan apa yang dilakukan dapat berhasil

dengan baik dengan memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip atau pedoman

(33)

15  

Menurut Hopkins dalam Tahir4 terdapat 6 prinsip penelitian tindakan

kelas. Prinsip-prinsip terebut adalah sebagai berikut:

1) Sebagai seorang guru yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, seyogyanya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.

2) Teknik pengumpulan data tidak menuntut waktu dan cara yang berlebihan. Sedapat mungkin hendaknya dapat diupayakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangai sendiri, sementara Guru tetap aktif sebagai mana biasanya.

3) Metodologi yang digunakan hendaknya dapat dipertanggung jawabkan reliabilitasnya. Jadi, walaupun terdapat kelonggaran secara metodologis, namun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mestinya tetap dilaksanakan atas dasar taat kaidah keilmuan.

4) Masalah yang terungkap adalah masalah yang benar-benar masalah yang nyata dihadapi oleh guru. Sehingga atas dasar tanggung jawab dan profesional, guru didorong oleh hatinya untuk memiliki komitmen dalam rangka menemukan jalan keluarnya melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

5) Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) seharusnya mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya diketahui oleh kepala sekolah, disosialisasikan pada rekanrekan Guru, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis ilmiah, dan tetap mengedepankan kepentingan siswa layaknya sebagai manusia.

6) Permasalahan yang hendaknya dicarikan solusinya lewat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya tidak terbatas hanya pada konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan perspektif sekolah secara keseluruhan. Dalam hal ini, pelibatan lebih dari seorang pelaku akan sangat mengakomodasi kepentingan tersebut.

c. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Tujuan utama dari PTK adalah untuk meningkatkan kualitas

pembelajaran. Dalam penelitian ini, kualitas pembelajaran yang dimaksud

adalah untuk meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan

sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa).

       4

(34)

Tujuan dari PTK itu sendiri yaitu: 5

1) Untuk menanggulangi masalah dalam bidang pendidikan dan pengajaran

yang dihadapi oleh guru terutama dalam permasalahan pengajaran dan pengembangan materi ajar.

2) Untuk memberikan pedoman bagi guru dan civitas akademika guna

memperbaiki dan meningkatkan mutu kinerja supaya lebih baik dan produktif.

3) Untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran

yang sedang berjalan dan sulit untuk ditembus oleh pembaruan pada umumnya.

4) Untuk perbaikan suasana keseluruhan sistem sekolah.

Dari tujuan-tujuan di atas, dapat dilihat manfaat PTK yaitu : 6

1) Guru dapat melakukan inovasi pembelajaran, sehingga pembelajaran

menjadi lebih variatif dan menarik serta bermanfaat.

2) Guru dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan karakteristik

pembelajaran, situasi, dan kondisi kelas.

3) Untuk mengembangkan profesionalisme guru, karena dengan PTK guru

bisa lebih berlatih dalam mengembangkan metode pengajaran serta pemahaman atas materi pembelajaran.

2. Pembelajaran Sejarah a. Pengertian Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia belajar adalah berusaha

memperoleh kepandaian atau ilmu; berlatih; berubah tingkah laku atau

tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman7.

Definisi belajar yang lain juga dikemukakan oleh para ahli yang ditulis

ulang oleh Fudyartanto dalam buku Psikologi Pendidikan:8

1) Menurut Arthur J. Gates belajar adalah perubahan tingkah laku melalui

pengalaman dan latihan.

       5

Sarwiji Suwandi, 2011, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah, Surakarta: Yuma Pustaka, hlm. 16-17 

6 Mulyasa, 2010, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hlm 90 7

Hasan Alwi, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 756. 8

(35)

17  

2) L. D. Crow dan A. Crow mengemukakan bahwa belajar adalah suatu

proses aktif yang perlu dirangsang dan dibimbing ke arah hasil-hasil yang diinginkan (dipertimbangkan). Belajar adalah penguasaan kebiasaan-kebiasaan (habitual), pengetahuan, dan sikap-sikap.

3) Melvin H. Marx berpendapat bahwa belajar adalah perubahan yang

dialami secara relatif abadi dalam tingkah laku yang mana adalah suatu fungsi dari tingkah laku sebelumnya.

4) R.S. Chauhan definisi belajar adalah membawa perubahan-perubahan

dalam tingkah laku dari organisme.

5) Gregory A. Kimble mengatakan belajar adalah perubahan yang relatif

permanen dalam potensialitas tingkah laku yang terjadi sebagai suatu

hasil alat praktek yang diperkuat (diberi hadiah).

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses

perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi

dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.9

b. Pengertian Sejarah

Sejarah berasal dari bahasa Arab “Syajaratun“ yang berarti “pohon“ atau

“keturunan” yang kemudian berkembang menjadi bahasa Melayu “syajarah”

dan dalam bahasa Indonesia menjadi “sejarah”.10 Menurut I.G. Widja, sejarah

adalah suatu studi keilmuan tentang segala sesuatu yang telah dialami oleh

manusia di waktu yang lampau dan telah meninggalkan jejak-jejaknya di waktu

sekarang.11

Menurut Sutrasno sejarah adalah segala kegiatan manusia dan segala

kejadian yang ada hubungannya dengan kegiatan manusia sehingga

mempunyai akibat adanya perubahan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan,

dan kesemuanya itu ditinjau dari sudut-sudut perkembangannya (berjalan

dalam tempat dan waktu atau adanya saling hubungan dalam tempat dan       

9 Mohamad Surya, 2004, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Pustaka Bani Quaraisy, hlm. 39.

10

I.G.Widja, Ilmu Sejarah: Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan, Semarang: Satya Wacana, hlm,6. 11

(36)

waktu).12 Dalam hal ini yang menjadi faktor utama sejarah adalah segala

kegiatannya yang membawa perubahan di segala bidang kehidupan manusia.

Menurut Sartono Kartodirdjo, sejarah dapat didefinisikan sebagai

berbagai bentuk penggambaran pengalaman kolektif di masa lampau. Setiap

pengungkapannya dapat dipandang sebagai suatu aktualisasi atau pementasan

pengalaman masa lampau. Menceritakan suatu kejadian ialah cara membuat

hadir kembali (dalam kesadaran) peristiwa tersebut dengan pengungkapan

verbal.

Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sejarah sebagai

suatu peristiwa dimana yang menjadi obyek dan subyek dari peristiwa tersebut

adalah kegiatan manusia yang mempengaruhi segala bidang kehidupan.

c. Pengertian Belajar Sejarah

Berkaitan dengan sejarah, pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara

aktivitas belajar dan mengajar yang didalamnya mempelajari tentang peristiwa

masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini, sebab dengan

kemasakiniannyalah masa lampau itu baru merupakan masa lampau yang

penuh arti. Pembelajaran sejarah memiliki peran fundamental dalam kaitannya

dengan guna atau tujuan dari belajar sejarah, melalui pembalajaran sejarah

dapat juga dilakukan penilaian moral saat ini sebagai ukuran menilai masa

lampau.

       12

(37)

19  

d. Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sejarah

Konstruktivisme merupakan aliran filsafat yang berpendapat bahwa

pengetahuan merupakan hasil konstruksi dari orang yang sedang belajar.13

Dalam hal ini, manusia mengalami proses lewat pengalaman yang didapatnya

untuk membentuk suatu pengetahuan.

Dalam proses konstruksi tersebut diperlukanlah beberapa kemampuan.

menurut Glasersfeld dalam buku Paul Suparno14 kemampuan tersebut adalah

sebagai berikut:

1) Kemampuan mengingat dan mengungkapkan pengalaman.

2) Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai

perbedaan dan persamaan.

3) Kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada yang

lain.

Dalam konteks pembelajaran di sekolah, guru menyajikan persoalan dan

mendorong siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis dengan

cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga

jenis komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa tidak lagi bersifat

satu arah, yaitu hanya penyampaian informasi dari guru tanpa ada umpan balik

dari siswa. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif sehingga dalam

belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang

diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Siswalah yang membangun

sendiri konsep atau struktur materi yang ia dipelajari dan tidak melalui       

13

Sutarjo Adisusilo, 2012, Pembelajaran Nilai-Nilai Karakter: Konstruktivisme dan VTC Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 161. 14

(38)

pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau

aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang

mengemasnya.

Dalam hal ini, bisa dikatakan pemahaman siswa tidaklah sama.

Keakuratan antara siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, atau

mungkin terjadi kesalahan, maka dari itu disinilah tugas guru memberikan

bantuan dan arahan sebagai fasilitator dan pembimbing. Kesalahan siswa

tersebut merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu

merupakan cirinya seorang siswa sedang belajar.

Dalam proses pembelajaran sejarah, teori konstruktivisme juga sangat

diperlukan. Mengapa? Sejarah merupakan suatu peristiwa, dimana yang

menjadi obyek dan subyek dari peristiwa tersebut adalah kegiatan manusia

pada masa lampau yang mempengaruhi segala bidang kehidupan. Oleh karena

itu dalam mempelajari peristiwa sejarah tersebut, tentunya kita harus bias

mengkonstruksi segala macam peristiwa yang sudah berlalu agar pengetahuan

tentang peristiwa tersebut dapat kita ketahui dengan benar. Konstruktivisme

juga sejalan dengan PPR, dimana dibutuhkan pengalaman secara langsung dari

siswa untuk membangun pengetahuan siswa itu sendiri.

Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan

memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karena

pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnya proaktif dan reaktif dalam

(39)

21  

3. Paradigma Pedagogi Reflektif

Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap

diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif),

bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).15

Pedagogi pada dasarnya adalah sebuah pendekatan. Pendekatan dalam

pedagogi menunjuk pada pandangan hidup dan visi mengenai sosok ideal

pribadi yang terpelajar.

Dinamika pokok Pedagogi Ignatian ini adalah interaksi terus-menerus

tiga unsur, yaitu pengalaman-refleksi-aksi didalam proses belajar mengajar.

Tiga unsur tersebut dilengkapi dengan konteks yang menjadi tempat

pengalaman itu berlangsung, dan evaluasi setelah sebuah aksi terlaksana.16

Dalam pendidikan berbasis Ignasian, refleksi mengambil peran yang

penting. Dengan melakukan refleksi, peserta didik menimbang dan memilih

pengalamannya untuk menemukan dirinya yang otentik.17

Dengan maksud untuk berbagi pengalaman mengenai sebuah “metode

mendidik”, diperkenalkanlah Paradigma Pedagogi Ignatian itu dengan nama

yang lebih menunjuk pada intinya, yaitu Paradigma Pedagogi Reflektif. Jadi

yang tersaji sesungguhnya adalah dokumen Paradigma Pedagogi Ignatian,

namun karena yang menjadi inti pokoknya adalah refleksi, maka secara khas

diperkenalkan dengan nama Paradigma Pedagogi Reflektif.18

       15

http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma (diunduh pada tanggal 20 Maret 2013) 16

  J. Subagya, 2012, Paradigma Pedagogi Reflektif: Mendampingi Peserta Didik Menjadi Cerdas dan Berkarakter, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 6. 

17

P3MP-LPM USD, 2012, Pedoman: Pembelajaran Barbasis Pedagogi Ignasian, Yogyakarta: LPM USD, hlm. 7.

18

(40)

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan polapikir

(paradigma≈polapikir) dalam menumbuh kembangkan pribadi siswa

menjadi pribadi kemanusiaan (pedagogi reflektif = pendidikan

kemanusiaan). Pola pikirnya: dalam membentuk pribadi, siswa diberi pengalaman akan suatu nilai kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi dengan pertanyaan agar merefleksikan pengalaman tersebut, dan berikutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa membuat niat

dan berbuat sesuai dengan nilai tersebut.19

Paradigma Pedagogi Refleksi (PPR) merupakan pola pembelajaran yang

mengintegrasikan pemahaman masalah dunia, kehidupan dan pengembangan

nilai-nilai kemanusiaan dalam proses yang terpadu, sehingga nilai – nilai itu

muncul dari kesadaran dan kehendak peserta didik melalui refleksinya”20 Oleh

karena itu dalam hal ini paradigma tidak hanya sebuah pola pikir, namun akan

sampai pada perbuatan konkrit.

Pembentukan kepribadian diharapkan dilakukan sedemikian rupa

sehingga siswa nantinya memiliki komitmen untuk memperjuangkan

kehidupan bersama yang lebih adil, bersaudara, bermartabat, melestarikan

lingkungan hidup, dan lebih menjamin kesejahteraan umum. Sampai sekarang

pengalaman yang diberikan adalah pengalaman persaudaraan yang

disampaikan berdasarkan kerjasama kelompok. Tujuannya,

menumbuh-kembangkan persaudaraan, solidaritas antarteman, dan saling menghargai yang

merupakan aspek-aspek kemanusiaan.

a. Tata cara pelaksanaan Paradigma Pedagogi Reflektif

Tata cara pelaksanaan PPR dalam hal ini meliputi; konteks, pengalaman,

refleksi, aksi, dan evaluasi.21

       19

 Tim Redaksi Kanisius, op.cit., hlm. 39.  20

http://www.bimaskatolikjatim.com/news2.php (diunduh 12 Juni 2014) 21

(41)

23  

1) Konteks

Pertama, wacana tentang nilai-nilai yang dikembangkan agar semua

anggota komunitas, guru, dan siswa menyadari bahwa yang menjadi landasan

pengembangan bukan aturan, perintah, atau sanksi-sanksi melainkan nilai-nilai

kemanusiaan. Guru (fasilitator) perlu menyemangati mereka agar memiliki

nilai seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggung

jawab, kerja keras, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup, dan

nilai-nilai yang semacam itu. Diharapkan semua anggota komunitas berbicara

mengenai nilai-nilai.

Kedua, contoh-contoh penghayatan seperti nilai-nilai yang

diperjuangkan, lebih-lebih contoh dari pihak guru. Kalau itu ada maka siswa

akan cenderung untuk melihat, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai

yang dihayatinya.

Ketiga, hubungan akrab, saling percaya, agar bisa terjalin dialog yang

saling terbuka antara guru dan siswa. Setiap orang dihargai, ditunjukan

kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar dan baik. Idealnya,

sekolah merupakan tempat bagi anak untuk belajar saling membantu,

bekerjasama dengan semangat untuk menyatakan secara konkrit melalui

perkataan dan perbuatan yang didasarkan pada idealisme bersama.

2) Pengalaman

Pengalaman untuk menumbuhkan persaudaraan, solidaritas, dan saling

(42)

“direkayasa” sehingga terjadi interaksi dan komunikasi yang intensif, ramah

dan sopan, tenggang rasa, dan akrab.

Sering kali tidak mungkin guru (fasilitator) menyediakan pengalaman

langsung mengenai nilai-nilai yang lain. Untuk itu siswa difasilitasi dengan

pengalaman yang tidak langsung. Pengalaman yang tidak langsung diciptakan

misalnya dengan membaca dan/atau mempelajari suatu kejadiaan. Selanjutnya

guru (fasilitator) memberi sugesti agar siswa mempergunakan imajinasi

mereka, mendengar cerita dari guru, melihat gambar sambil berimajinasi,

bermain peran, atau melihat tayangan film/video.

3) Refleksi

Guru memfasilitasi dengan pertanyaan agar siswa terbantu untuk

merefleksikan. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang menyebar, agar

siswa secara otentik dapat memahami, mendalami, dan menyakini temuannya.

Siswa dapat diajak untuk diam dan hening untuk meresapi apa yang baru saja

dibicarakan. Melalui refleksi, siswa menyakini makna nilai yang terkandung

dalam pengalamannya. Diharapkan siswa membentuk pribadi mereka sesuai

dengan nilai yang terkandung dalam pengalamannya itu.

4) Aksi

Guru memfasilitasi siswa dengan pertanyaan aksi agar siswa terbantu

untuk membangun niat dan bertindak sesuai dengan hasil refleksinya. Dengan

membangun niat dan berperilaku dari kemauannya sendiri, siswa membentuk

pribadinya agar nantinya (lama-kelamaan) menjadi pejuang bagi nilai-nilai

(43)

25  

5) Evaluasi

Setelah pembelajaran, guru memberikan evaluasi atas kompetensinya

dari sisi akademik. Ini adalah hal wajar dan merupakan keharusan. Sekolah

memang dibangun untuk mengembangkan ranah akademik dan menyiapkan

siswa menjadi kompeten di bidang studi yang dipelajarinya. Namun

guru/sekolah juga perlu mengevaluasi apakah ada perkembangan pada pribadi

siswa.

Pelaksanaan PPR terletak pada dasar dan tujuannya. Dasarnya yaitu

pelaksanaan, dan tujuannya adalah menjadikan manusia yang cerdas dan

humanis. Cerdas dan humanis dalam hal ini mengacu pada aspek 3C, yaitu

aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (suara hati),

dan compassion (bela rasa).

4. Konsep 3C (Competence, Conscience, Compassion)

Konsep competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience

(suara hati), dan compassion (bela rasa) merupakan unsur-unsur dari Pedagogi

Ignatian, dimana ketiganya dianggap sebagai sebuah keterpaduan hasil belajar

yang serupa dengan keterpaduan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.22

Akan tetapi bila masing-masing aspek dicermati secara mendalam, akan

tampak perbedaan pada penekanan pada penekanan-penekanan meskipun tetap

beririsan satu dengan yang lain. Untuk itu, akan dibahas lebih lanjut tentang

konsep competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara

hati), dan compassion (bela rasa).

       22

(44)

a. Competence

Competence adalah kompetensi/kualitas yang unggul bagi peserta didik,

berkaitan dengan kemampuan penguasaan kompetensi secara utuh yang disebut

juga kemampuan kognitif. Competence pada Pedagogi Ignatian sangat kental

bermuatan ranah kognitif dan psikomotorik, namun demikian di sana termuat

juga sebagian afektif meskipun terbatas dalam kaitannya dengan keilmuan.23

Aspek competence mengacu pada kecerdasan individu, cerdas di sini

bukan hanya pengetahuan, namun juga cerdas dalam mengambil sikap. Jadi

dalam hal ini, competence dimaknai sebagai kemampuan akademik yang

memadukan unsur pengetahuan, ketrampilan dan sikap.24

b. Conscience

Conscience merupakan kemampuan afektif yang secara khusus mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani. Maka dari itu, terdapat nilai-nilai yang

ada dalam conscience, seperti:25

• Moral

• Tanggung jawab

• Kejujuran

• Kemandirian

• Keterbukaan

• Kebebasan

• Kedisiplinan

• Ketekunan

• Kegigihan

• Ketahanan uji

• Keberanian mengambil resiko

• Kemampuan member makna hidup

       23 P3MP-LPM USD, op.cit., hlm. 39. 24

http://himcyoo.files.wordpress.com/2012/03/3-buku-pendidikan-karakter.pdf., hlm. 17-18. (diunduh tanggal 24 Maret 2013).

25

(45)

27  

Nilai-nilai tersebut merupakan satu kesatuan dari aspek coscience. Hal

ini menjadi pedoman untuk memahami alternatif dan menentukan pilihan oleh

individu, hal yang baik maupun buruk, hal yang benar maupun salah.

c. Compassion

Sama halnya aspek conscience, aspek compassion merupakan

kemampuan afektif, yang berupa tindakan konkret maupun batin disertai bela

rasa bagi sesama, dalam hal ini menjunjung tinggi sikap peduli terhadap

sesama/bela rasa. Pada aspek compassion juga terdapat nilai-nilai yang

merupakan kesatuan dari aspek compassion, dan harus ditanamkan pada siswa,

seperti;26

• Kerja sama

• Penghargaan pada sesama

• Kepedulian

• Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain

• Keterlibatan dalam kelompok

• Kemauan untuk berbagi

Dalam hubungannya dengan penelitian ini, diharapkan pada

pembelajaran berbasis PPR dapat meningkatkan ketiga aspek tersebut melalui

multimedia pembelajaran. Tingkat competence (pengetahuan, ketrampilan,

sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) merupakan hal yang

ukur untuk menentukan keberhasilan penelitian ini.

Perlu diperhatikan pula beberapa faktor yang mempengaruhi

tercapainnya tingkat competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience

(suara hati), dan compassion (bela rasa), antara lain kondisi fisiologis dan

psikologis. Pada kondisi fisiologis pada umumnya juga perlu diperhatikan       

(46)

dalam proses pembelajaran jika seseorang belajar dalam keadaan jasmani yang

segar akan berbeda dengan seseorang yang belajar dalam keadaan sakit.

Sedangkan pada kondisi psikologis terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi, antara lain :

1) Kecerdasan

Kecerdasan seseorang besar pengaruhnya dalam keberhasilan siswa

dalam mempelajari sesuatu.

2) Bakat

Selain kecerdasan, bakat juga besar pengaruhnya terhadap proses dan

hasil belajar siswa.

3) Minat

Jika seseorang mempelajari sesuatu dengan minat yang besar, maka

dapat diharapkan hasilnya akan lebih baik. Tetapi jika seseorang belajar

dengan tidak berminat maka hasil yang diperoleh kurang baik.

4) Motivasi

Motiasi adalah dorongan anak atau seseorang untuk melakukan sesuatu,

jadi motivasi adalah kondisi psikologi yang mendorong seseorang untuk

belajar. Pada dasarnya hubungan motivasi dengan belajar adalah bagaimana

cara mengatur motivasi yang dapat ditingkatkan supaya hasil belajar dapat

optimal sesuai dengan kemampuan individu.

5) Kemampuan Kognitif

Kemampuan kognitif atau kemampuan penalaran yang tinggi akan

(47)

29  

kemampuan kognitif sedang. Konteks dan pengalaman dalam PPR diharapkan

akan mengembangkan aspek competence pada siswa, sedangkan aspek

conscience, dan compassion ditingkatkan melalui proses refleksi dan aksi saat

pembelajaran.

5. Multimedia Pembelajaran

Menurut sudut pandang para ahli media, sebelum berkembangnya dunia

Teknologi Informasi, bahwa multimedia dipandang sebagai suatu pemanfaatan

“banyak” media yang digunakan dalam suatu proses interaksi penyampaian

pesan dari sumber kepada penerima, dalam konteks pembelajaran yaitu antara

guru dengan murid.27 Namun, seiring dengan perkembangan dunia TI,

pemaknaan multimedia semakin bergeser pada aspek integrasi sistemdan

jaringan serta prosedur komunikasi dalam sebuah perangkat khusus, seperti;

televisi, radio, komputer, notebook, dll.

Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu multimedia linier dan

multimedia interaktif. Multimedia linier adalah sustu multimedia yang tidak

dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioprasikan oleh pengguna. Sedangkan multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioprasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses

selanjutnya. 28

Adanya multimedia pembelajaran interaktif dapat membantu guru untuk

mendesain pembelajaran secara kreatif. Dengan desain pembelajarn yang

kreatif maka diharpkan proses pembelajaran menjadi inovatif, menarik, lebih

interatif, lebih efektif, kualitas belajar belajar siswa dapat ditingkatkan, proses

belajar mengajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, dan sikap dan

       27

Deni Darmawan, 2011, Teknologi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 31-32. 28

(48)

minat belajar belajar siswa dapat ditingkatkan. Multimedia dengan jenis ini

dinamakan juga dengan presentasi pembelajaran. Materi yang ditayangkan

tidak terlalu kompleks dan hanya menampilkan beberapa item yang dianggap

penting, baik berupa teks, gambar, video maupun animasi.

Sedangkan konsep dari pembelajaran pada hakikatnya adalah proses

komunikasi, penyampaian dari guru ke siswa. Pesan berupa isi atau ajaran yang

dituangkan ke dalam symbol-simbol komunikasi baik verbal, maupun

non-verbal.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa multimedia

pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan

dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan serta

dapat merangsang pilihan, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga

secara sengaja proses belajar terjadi.29

Dalam penelitian ini, mengapa perlu media dalam pembelajaran?

Pembelajaran yang digunakan adalah pedagogi reflektif, dalam hal ini siswa

diberikan konteks dan pengalaman. Dengan bentuk pembelajaran yang

dikemas secara menarik menggunakan multimedia diharapkan dapat membantu

menunjang dalam proses penanaman nilai-nilai karakter dan kemanusiaan yang

sangat banyak terkandung dalam pelajaran sejarah lewat pengalaman indrawi

mereka. Sehingga pada proses pengalaman siswa tersebut, siswa yang

mengalami sendiri memiliki daya tarik untuk melakukan proses pembelajaran

tersebut. Media yang digunakan adalah power poin yang didesain sedemikian

       29

(49)

31  

rupa menjadi media menyampaikan materi dan kuis, selain itu juga didukung

dengan film dokumenter.

B. Materi

Berdasarkan kesepakatan guru dengan peneliti, pada penelitian ini

menggunakan materi semester 2, “Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa

Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin” dalam Kompetensi Dasar

“Merekonstruksi Perkembangan Masyarakat Indonesia Sejak Proklamasi

Hingga Demokrasi Terpimpin” yang akan dilaksanakan di kelas XI IPA 1

SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. Adapun topik yang dipelajari:

1. Masa Demokrasi Parlementer

Masa demokrasi Liberal. Indonesia dibagi manjadi 10 Provinsi yang

mempunyai otonomi dan berdasarkan Undang - Undang Dasar Sementara

tahun 1950. Pemerintahan RI dijalankan oleh suatu dewan mentri ( kabinet )

yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan bertanggung jawab kepada

parlemen ( DPR ).

Suatu kabinet dapat berfungsi bila memperoleh kepercayaan dari

parlemen, dengan kata lain ia memperoleh mosi percaya. Sebaliknya, apabila

ada sekelompok anggota parlemen kurang setuju ia akan mengajukan mosi

tidak percaya yang dapat berakibat krisis kabinet. Selama sepuluh tahun

(1950-1959) ada tujuh kabinet, sehingga rata-rata satu kabinet hanya berumur satu

setengah tahun. Kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer adalah :

a. Kabinet Natsir (7 September 1950-21 Maret 1951)

(50)

c. Kabinet Wilopo (3 April 1952-3 Juni 1953)

d. Kabinet Ali-Wongso ( 1 Agustus 1953-24 Juli 1955 )

e. Kabinet Burhanudin Harahap

f. Kabinet Ali II (24 Maret 1957)

g. Kabinet Djuanda ( 9 April 1957-10 Juli 1959 )

2. Pemilihan Umum 1955

Pemilu 1955 adalah pemilihan umumpertama di Indonesia dan diadakan

pada tahun 1955.  Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260,

sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR)

ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah.

Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali

Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat

pemungutan suara, kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana

Menteri Burhanuddin Harahap.

a. Tahapan

Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu:

Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini

diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai

politik dan individu. Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota

Konstituante. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

b. Hasil

Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia

mendapatkan 57 kursi DPR dan 119 kursi Konstituante (22,3 persen), Masyumi

(51)

33  

kursi DPR dan 91 kursi Konstituante (18,4 persen), Partai Komunis Indonesia

39 kursi DPR dan 80 kursi Konstituante (16,4 persen), dan Partai Syarikat

Islam Indonesia (2,89 persen).

3. Kebijakan Ekonomi Nasional pada Masa Demokrasi Parlementer

Ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun

tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk

daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971)

menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi

ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi

0,35 (2006).

4. Mengatasi Pergolakan Dalam Negri

a. Pemberontakan PKI Madiun Tahun 1948

Jatuhnya kabinet Amir disebabkan oleh kegagalannya dalam

Perundingan Renville yang sangat merugikan Indonesia dan menguntungkan

Belanda. Wilayah Republik Indonesia semakin berkurang,sehingga wilayah

indonesia menjadi sempit. Ditambah lagi dengan adanya Blokade Ekonomi

yang dilakukan oleh Belanda.

Untuk memperkuat basis massa FDR membentuk organisasi petani &

buruh selain itu memancing bentrokan dengan menghasut buruh. Puncaknya

ketika terjadi pemogokan di pabrik karung Delangu (Jawa Tengah) pada

tanggal 5 Juli 1948. Pada tanggal 11 Agustus 1948, Musso tiba dari

(52)

Internasional ke Indonesia dengan tujuan untuk merebut pimpinan atas negara

Republik Indonesia dari tangan kaum Nasionalis. Amir dan FDR segera

bergabung dengan Musso.

Untuk memperkuat organisasi, maka disusunlah doktrin bagi PKI.

Doktrin itu bernama “Jalan Baru”. Sesuai dengan doktrin itu,ia melakukan fusi

antara Partai Sosialis,Partai Buruh,dan lain-lain menjadi PKI. Ia bersama Amir

Syarifuddin mengambil alih pimpinan PKI baru tersebut.

b. Gerakan DI/TII

Penandatanganan Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948

sebagai salah satu upaya untuk mengakhiri pertikaian Indonesia Belanda,

ternyata telah menimbulkan dampak baru terhadap fase perjuangan bangsa

Indonesia dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan yang

dikumandangkan oleh Soekarno Hatta. Penandatangan perjanjian tersebut tidak

saja mempunyai akibat di bidang politik, melainkan juga berpengaruh di

bidang militer Negara RI, sebagai konsekwensi logis dari hasil kristalisasi

nilai-nilai pertemuan antara pihak-pihak yang mengadakan perundingan.

Gerakan DI/TII yang dipimpin oleh SM Kartosuwirjo ini memang

merupakan suatu gerakan yang menggunakan motif-motif ideologi agama

sebagai dasar penggeraknya, yaitu mendirikan Negara Islam Indonesia.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, gerakan ini ternyata hanya

menimbulkan penderitaan dan penindasan terhadap rakyat.

Kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada rakyat seringkali menjadi sumber

(53)

35  

5. Masa Demokrasi Terpimpin

Sejarah Indonesia (1959-1966) adalah masa di mana sistem "Demokrasi

Terpimpin" sempat berjalan di Indonesia. Demokrasi terpimpin adalah sebuah

sistem demokrasi dimana seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada

pemimpin negara, kala itu Presiden Soekarno. Konsep sistem Demokrasi

Terpimpin pertama kali diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam pembukaan

sidang konstituante pada tanggal 10 November 1956.

Latar belakang dicetuskannya sistem demokrasi terpimpin oleh Presiden

Soekarno:

a. Dari segi keamanan nasional: Banyaknya gerakan separatis pada masa

demokrasi liberal, menyebabkan ketidakstabilan negara.

b. Dari segi perekonomian : Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa

demokrasi liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet

tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat.

c. Dari segi politik : Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk

menggantikan UUDS 1950.

Masa Demokrasi Terpimpin yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno

diawali oleh anjuran Soekarno agar Undang-Undang yang digunakan untuk

menggantikan UUDS 1950 adalah UUD 1945. Namun usulan itu menimbulkan

pro dan kontra di kalangan anggota konstituante. Sebagai tindak lanjut usulannya,

diadakan pemungutan suara yang diikuti oleh seluruh anggota konstituante. Hasil

pemungutan suara menunjukan bahwa :

(54)

b. 119 orang tidak setuju untuk kembali ke UUD 1945

Bertolak dari hal tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah dekrit

yang disebut Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959:

a. Tidak berlaku kembali UUDS 1950

b. Berlakunya kembali UUD 1945

c. Dibubarkannya konstituante

d. Pembentukan MPRS dan DPAS

6. Perjuangan Merebut Irian Barat

Dalam menghadapi masalah Irian Barat tersebut Indonesia mula-mula

melakukan upaya damai, yakni melalui diplomasi bilateral dalam lingkungan

ikatan Uni Indonesia-Belanda. Akan tetapi usaha-usaha melalui meja perundingan

secara bilateral ini selalu mengalami kegagalan. Setelah upaya-upaya tersebut

tidak mambawa hasil maka sejak tahun 1953 perjuangan pembebasan Irian Barat

mulai dilakukan di forum- forum internasional, terutama PBB dan forum-forum

solidaritas Asia-Afrika seperti Konferensi Asia-Afrika.

Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno dalam suatu rapat

raksasa di Yogyakarta mengeluarkan komando yang terkenal sebagai Tri

Komando Rakyat (Trikora) yang isinya sebagai berikut.

a. Gagalkan pembentukan “Negara Papua” bikinan Belanda kolonial.

b. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia.

c. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan

(55)

37  

Dengan dikeluarkannya Trikora maka mulailah konfrontasi total terhadap

Belanda dan pada bulan Januari 1962 pemerintah membentuk Komando Mandala

Pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar. Adapun tugas pokok dari

Komando Mandala Pembebasan Irian Barat ini adalah pengembangan

operasi-operasi militer dengan tujuan pengembangan wilayah Irian Barat ke dalam

kekuasaan negara Republik Indonesia. Sebagai Panglima Komando Mandala

adalah Mayor Jenderal Soeharto.

Dari materi tersebut, pada aspek conscience (suara hati) dan compassion

(bela rasa) akan ditekankan pada rasa berdemokrasi siswa dalam lingkungannya.

Karena dari materi berdemokrasi ini, para siswa diharapkan memiliki kemampuan

untuk menemukan posisi mereka di masa sekarang lewat nilai kebebasan,

keterlibatan dalam kelompok, serta menghargai perbedaan.

C. Kaitan antara PTK-PPR-Multimedia dalam pembelajaran sejarah

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan

belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam

sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru dan dilakukan

oleh siswa, jadi dalam hal ini siswa juga turut berperan aktif dalam pelaksanaan

PTK. Tugas guru dalam hal ini adalah memberikan bantuan dan arahan sebagai

fasilitator dan pembimbing. Dalam PPR, untuk menumbuhkembangkan pribadi

siswa menjadi pribadi kemanusiaan, siswa diberi pengalaman akan suatu nilai

kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi dengan pertanyaan agar merefleksikan

pengalaman tersebut, dan berikutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar

Figur

Tabel 23 : Data Keadaan Akhir Aspek Conscience (Suara Hati) ...............
Tabel 23 Data Keadaan Akhir Aspek Conscience Suara Hati . View in document p.16
Gambar I: Siklus dalam penelitian Kemmis & Mc Taggart
Gambar I Siklus dalam penelitian Kemmis Mc Taggart . View in document p.32
Gambar II: Kerangka berpikir
Gambar II Kerangka berpikir . View in document p.58
Tabel 1: Jadwal penelitian di sekolah
Tabel 1 Jadwal penelitian di sekolah . View in document p.60
Gambar III: Desain penelitian
Gambar III Desain penelitian . View in document p.61
Tabel 2: kriteria penentuan hasil belajar berdasarkan PAP 1
Tabel 2 kriteria penentuan hasil belajar berdasarkan PAP 1 . View in document p.68
Tabel 3: Kriteria penilaian portofolio siklus 1 (kuis TTS)
Tabel 3 Kriteria penilaian portofolio siklus 1 kuis TTS . View in document p.69
Tabel 5: Skor kuesioner untuk pernyataan positif
Tabel 5 Skor kuesioner untuk pernyataan positif . View in document p.71
Tabel 8: Analisis nilai kuesioner aspek compassion (bela rasa)
Tabel 8 Analisis nilai kuesioner aspek compassion bela rasa . View in document p.72
Tabel 10: Pengamatan aspek compassion (bela rasa) siklus 1 dan 2
Tabel 10 Pengamatan aspek compassion bela rasa siklus 1 dan 2 . View in document p.73
Tabel 12: Keadaan Awal Nilai Kognitif
Tabel 12 Keadaan Awal Nilai Kognitif . View in document p.86
Tabel 14: Data keaadaan awal aaspek consciience (suara hati) siswa
Tabel 14 Data keaadaan awal aaspek consciience suara hati siswa . View in document p.88
grafik berikug
grafik berikug. View in document p.90
Gambar VI: Grafik perbandingan data keadaan awal compassion
Gambar VI Grafik perbandingan data keadaan awal compassion . View in document p.92
Tabel 17: Nilai akhir siklus 1
Tabel 17 Nilai akhir siklus 1 . View in document p.101
Tabel 18: Frekuensi data keadaan aspek competence (pengetahuan, keterampilan
Tabel 18 Frekuensi data keadaan aspek competence pengetahuan keterampilan . View in document p.103
Tabel 19: Hasil pengamatan aspek conscience (suara hati) dan compassion
Tabel 19 Hasil pengamatan aspek conscience suara hati dan compassion . View in document p.105
Tabel 20: Hasil ulangan siklus 2
Tabel 20 Hasil ulangan siklus 2 . View in document p.116
Tabel 21: Nilai akhir siklus 2
Tabel 21 Nilai akhir siklus 2 . View in document p.117
Tabel 22: Frekuensi data keadaan aspek competence (pengetahuan, keterampilan
Tabel 22 Frekuensi data keadaan aspek competence pengetahuan keterampilan . View in document p.118
Gambar VIII: Grafik data competence siklus 2
Gambar VIII Grafik data competence siklus 2 . View in document p.119
Tabel 23: Data keadaan akhir aspek conscience (suara hati) siswa
Tabel 23 Data keadaan akhir aspek conscience suara hati siswa . View in document p.120
grafik berikut:
grafik berikut: . View in document p.121
Tabel 24: Data keadaan akhir aspek compassion (bela rasa) siswa
Tabel 24 Data keadaan akhir aspek compassion bela rasa siswa . View in document p.122
Gambar X: Grafik data keadaan akhir compassion
Gambar X Grafik data keadaan akhir compassion . View in document p.123
Tabel 25: Hasil pengamatan aspek conscience (suara hati) dan compassion
Tabel 25 Hasil pengamatan aspek conscience suara hati dan compassion . View in document p.124
Tabel 26: Komparasi aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan
Tabel 26 Komparasi aspek competence pengetahuan keterampilan dan . View in document p.128
Tabel 28: Hasil komparasi aspek conscience (suara hati) siswa keadaan awal
Tabel 28 Hasil komparasi aspek conscience suara hati siswa keadaan awal . View in document p.132
Gambar XXII: Diagram
Gambar XXII Diagram. View in document p.134
Tabel 31: Komparasi aspek compassion (bela rasa) siswa siklus 1 dengan
Tabel 31 Komparasi aspek compassion bela rasa siswa siklus 1 dengan . View in document p.138

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (222 Halaman)