Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE
BUKTI UNGGAH DOKUMEN PENELITIAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA
Nomor Pengunggahan
SURAT KETERANGAN
Nomor: 8/PERPUS/UG/2021
Surat ini menerangkan bahwa:
Nama Penulis : MOH. EGA ELMAN MISKA
Nomor Penulis : 160259
Email Penulis : [email protected]
Alamat Penulis : Perumahan Green View 3 Citayam Blok D5 Kelurahan Raga Jaya dengan penulis lainnya sebagai berikut:
Penulis ke-2/Nomor/Email : INTI MULYO ARTI / 160214 / [email protected]
Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :
Nomor Induk : FTI/AGR/PENELITIAN/8/2021
Judul Penelitian : KARAKTERISTIK LANSKAP : STUDI KASUS LANSKAP AGROWISATA CURUG CIPEUTEUY, MAJALENGKA JAWA BARAT
Tanggal Penyerahan : 24 / 01 / 2021
Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya dilingkungan Universitas Gunadarma dan Kopertis Wilayah III.
KARAKTERISTIK LANSKAP: STUDI KASUS LANSKAP AGROWISATA CURUG CIPEUTEUY, MAJALENGKA JAWA BARAT
Landscape Characteristics: A Case Study of Agrowisata Landscape Curug Cipeuteuy, Majalengka, West Java
Moh. Ega Elman Miska1*, Inti Mulyo Arti2
1Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma, Jl.
Margonda Raya No 100 Depok 16424
2Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma, Jl.
Margonda Raya No 100 Depok 16424
*Penulis Korespondensi, email : [email protected]
Abstrak
Lanskap adalah bentangan alam yang memiliki karakteristik tertentu yang beberapa unsurnya dapat digolongkan menjadi unsur mayor dan minor. Unsur mayor adalah unsur yang tidak dapat diubah, sedangkan unsur minor adalah unsur yang relatif mudah diubah. Tujuan dari penelitian ini adalah identifikasi penggunaan lahan dan jenis tutupan lahan pada skala lanskap, memahami karakteristik lanskap, dan menentukan macam-macam lanskap berdasarkan proporsi tutupan lahannya. Metodologi yang digunakan adalah dengan menentukan suatu area lanskap didasarkan pada penilaian visual. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan luas tutupan lahan pada masing-masing lanskap dengan membuat grid berskala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa macam lanskap pada lokasi penelitian yaitu Fragemented, proporsi penutupan lahan sawah 17.31 % dan hutan 42.67% dengan tanaman semusim padi, bawang merah, daun bawang, wortel, kol dan tahunan yaitu pinus.
Abstract
A landscape is a landscape that has certain characteristics, some of which can be classified into major and minor elements. Major elements are elements that cannot be changed, while minor elements are elements that are relatively easy to change. The objectives of this study are to identify land use and land cover types at a landscape scale, understand landscape characteristics, and determine landscape types based on
the proportion of land cover.The methodology used is to determine a landscape area
based on a visual assessment.Then proceed with the calculation of the area of land
cover in each landscape by creating a scale grid. The results showed that the type of landscape at the research location was Fragemented, the proportion of rice field cover was 17.31% and forest 42.67% with seasonal crops of rice, shallots, leeks, carrots, cabbage and annuals, namely pine.
Key words: Grid, land, landscape, proportion,
PENDAHULUAN
Lanskap adalah bentangan alam yang memiliki karakteristik tertentu yang beberapa unsurnya dapat digolongkan menjadi unsur mayor dan minor (Simond, 1983). Unsur mayor adalah unsur yang tidak dapat diubah, sedangkan unsur minor adalah unsur yang relatif mudah diubah. Unsur-unsur tersebut saling berkaitan secara harmonis membentuk karakter khas pada sebuah lanskap memberikan kesan alami dan keindahan. Lanskap terbentuk dari interaksi yang kompleks antara vegetasi, iklim mikro kawasan, tata air, bentukan lahan dan tanah serta keberadaan penggunanya yaitu manusia dan hewan. Masing masing faktor tersebut merupakan suatu ikatan yang erat yang akan memberikan nuansa dan bentuk lanskap yang berbeda-beda. Karakteristik utama Lanskap yang mempengaruhi pola dan diversitas hewan dan tanaman (Harvey, 2007).
Taman Nasional Gunung Ciremai yang awalnya merupakan hutan lindung ini, sebagian wilayahnya berada di wilayah Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. Pihak pengelola taman nasional memiliki ketetapan bahwa
30% dari luas keseluruhan merupakan area pengembangan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Masyarakat setempat secara swadaya memanfaatkan area tersebut sebagai tempat wisata. Beberapa tempat wisata yang terkenal di daerah ini antara lain Curug Cipeuteuy, Bumi Perkemahaan Awi Lega, dan Bukit Semar (Thoifur et al., 2018).
Curug Cipeuteuy sebagai salah satu wisata andalan Desa Bantaragung memiliki potensi dan kekuatan. Keberdaannya mampu meningatkan pendapatan asli daerah (PAD) Desa Bantaragung (Arifin et al., 2017). Meskipun dikembangkan secara swadaya, Curug Cipeuteuy sendiri telah berhasil memperoleh penghargaan pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017 sebagai surga tersembunyi. Namun, masyarakat sebagai pengelola Curug Cipeuteuy memiliki kesadaran yang sangat tinggi. Mereka menyadari bahwa karena dibangun dengan swadaya dan mereka tidak memiliki ilmu yang cukup di bidang perencanaan, timbul kekhawatiran akan terjadi kerusakan yang nantinya akan merusak kebanggan mereka. Hal yang mereka khawatirkan salah satunya adalah ketidaknyamanan pengunjung akibat hilangnya kealamian tempat.
Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah identifikasi penggunaan lahan dan jenis tutupan lahan pada skala lanskap, memahami karakteristik lanskap, dan menentukan macam-macam lanskap berdasarkan proporsi tutupan lahannya.
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan penilaian visual lanskap di Curug Cipeteuy, Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2020 sampai Januari 2021.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah seperangkat komputer yang terhubung dengan jaringan internet dan Program Google earth dan Microsoft Office. Bahan yang
digunakan adalah studi pustaka yang berkaitan dengan karakteristik lanskap tempat penelitian.
Prosedur kerja
Pelaksanaan prosedur kerja dimulai dengan menginstall program google earth di seperangat komputer lalu menghubungkan seperangkat komputer dengan jaringan internet. Setelah menginstall google earth lalu buka program google earth dan tunggu program terbuka. Menentukan suatu arean dalam google earth dengan menggeser gambar menggunakan mouse, tempat yang digunakan adalah Curug Cipeteuy, Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. Memperbesar ukuran gambar menggunakan alat pembesar sampai ketinggian 5km.
Setelah gambar sudah tepat dengan ukurannya yaitu 5km lalu simpan gambar pada File Save save image, lalu simpan ke dalam direktori. Lalu melakukan delineasi komposisi lanskap yang ada dari kenampakan tutupan lahan dalam gambar menggunakan tool shapes dalam Microsoft word: Insert Shapes Freeform. Contoh: Gambar yang berwarna hijau adalah deliniasi vegetasi alami (hutan) dan gambar yang berwarna merah adalah sawah dan sebagainya. Lalu menghitung luas tutupan lahan pada masing-masing lanskap dengan membuat grid berskala.
Luas area secara keseluruhan dihitung berdasarkan grid yang ditampilkan pada gambar. Setiap kotak (grid) memiliki luasan 1 𝑐𝑚2. Lalu melanjutkan dengan menghitung luasan daerah yang telah dideliniasi. Selanjutnya dengan menghitung berapa luas setiap kotak yang berwarna merah (daerah yang dideliniasi dengan warna merah adalah sawah). Berikutnya, menghitung luas lahan bervegetasi alami seluruh tutupan lahan yang tampak dari gambar diatas dengan cara yang sama. Luas vegetasi
alami (deliniasi warna hijau adalah hutan). Hasil tersebut disajikan dalam bentuk tabel yang berisi informasi komposisi lanskap tiap polygon.
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL
Karakteristik Lanskap pada Agrowisata Curug Cipeuteuy, Majalengka Jawa Barat
Gambar 1. Delineasi komposisi lanskap pada Agrowisata Curug Cipeuteuy
Gambar yang berwarna hijau: deliniasi kawasan hutan
Gambar yang berwarna merah: deliniasi kawasan sawah dan sebagainya
Luas area secara keseluruhan dihitung berdasarkan grid yang ditampilkan pada gambar di atas. Setiap kotak (grid) memiliki luasan 1 cm2. Berdasarkan gambar di atas
maka luas area keseluruhan adalah 13 x 9 = 117 kotak atau 117 cm2. Lanjutkan dengan menghitung luasan daerah yang telah di deliniasi.
Berdasarkan gambar diatas, dihitung berapa luas setiap kotak yang berwarna merah. Total luasan sawah (daerah yang dideliniasi dengan warna merah) adalah 4 kotak dengan luas 1 cm2, 7 kotak dengan luas ½ cm2, 14 kotak dengan luas ¾ cm2, 3 kotak dengan luas ¼ cm2, 9 kotak dengan luas 1/6 cm2.
Sehingga luas area merah adalah:
Luas = (4x1 cm2) + (7x1/2 cm2) + (14x3/4 cm2) + (3x1/4 cm2) + (9x1/6 cm2) = 4 + 3.5 + 10.5 + 0.75 + 1.5
= 20.25 cm2
Berikutnya, hitunglah luas lahan bervegetasi alami seluruh tutupan lahan yang tampak dari gambar diatas dengan cara yang sama.
Luas vegetasi alami (deliniasi warna hijau) adalah:
Luas = (30x1 cm2) + (10x1/2 cm2) + (13x3/4 cm2) + (8x1/4 cm2) + (7x1/6 cm2) = 30 + 5 + 9.75 + 2 + 1.17
= 49.92 cm2
Sehingga, proporsi tiap tutupan lahan adalah
Proporsi tutupan =
Luas lahan yang dideliniasi (cm2)
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑎𝑛𝑠𝑒𝑘𝑎𝑝 (cm2) x 100 %
Maka,
Proporsi tutupan sawah = 20.25 cm2 117 cm2 x 100 %
= 17.31 %
Proporsi tutupan hutan = 49.92 cm2
117 cm2 x 100 %
= 42.67 %
Informasi komposisi lansekap tiap polygon dalam tabel di bawah ini:
Tabel 1. Komposisi lansekap tiap polygon pada Agrowisata Curug Cipeuteuy
No Simbol Warna Tutupan Lahan Vegetasi Proporsi Penutupan Lahan Macam Lansekap
1 Sawah Tanaman semusim:
padi, bawang merah,
No Simbol Warna Tutupan Lahan Vegetasi Proporsi Penutupan Lahan Macam Lansekap
daun bawang, wortel, kol
2 Hutan Tanaman tahunan:
pinus
42.67 %
PEMBAHASAN
Berdasarkan data klimatologi Kabupaten Majalengka memiliki suhu rata-rata per tahun sebesar 27,4˚C dan kelembaban rata-rata per tahun sebesar 82,3%. Hari hujan terbanyak yaitu pada bulan Februari dengan banyak hari hujan sebesar 29 hari dan terendah selama 12 hari di bulan Agustus. Menurut Thoifur et al. (2018) informasi ini dapat menggambarkan bahwa adanya lanskap wisata didukung dengan potensi klimatologis. Suhu yang masuk dalam kategori nyaman dan hari hujan yang rendah pada bulan Agustus dapat menarik wisatawan bukan hanya domestik tapi juga mancanegara. Hal ini dikarenakan pada bulan tersebut merupakan bulan bergantinya tahun ajaran di sekolah-sekolah dalam negeri dan juga masuk pada bulan libur musim panas di negara-negara bagian utara.
Pertimbangan pengusulan kawasan Gunung Ceremai untuk dijadikan taman nasional berdasarkan potensi yang ada adalah Kawasan Hutan Gunung Ceremai seluas 15.383 Ha ini merupakan keterwakilan tipe ekosistem hutan pegunungan yang masih asli dan kompak. Di samping mempunyai fungsi hidrologis dan sumber plasma nutfah yang penting, kawasan ini juga merupakan habitat berbagai flora dan fauna yang khas seperti: Pinus, Saninten, Rasamala, Benda, Dadap, Paku-pakuan, Macan Kumbang, Surili, Elang Jawa, Kijang, Landak dan lain-lain. Penunjukan kawasan konservasi baik kawasan pelestarian alam (Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam) dan kawasan suaka alam (Suaka Margasatwa, Cagar Alam) tersebut merupakan perwujudan kebijakan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang bertujuan untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta
keseimbangan ekosistemnya. Keadaan demikian dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia dengan meningkatkan pengelolaan dan pembinaan populasi, jenis, genetik dan ekosistem di kawasan konservasi serta pengembangan wisata alam dan pemanfaatan jasa lingkungan (Handadhari, 2004).
Segala kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian dengan cara industri pariwisata. Istilah pariwisata berhubungan erat dengan pengertian perjalanan wisata, yaitu sebagai suatu perubahan tempat tinggal sementara seseorang diluar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perjalanan wisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan dan memenuhi hasrat ingin mengetahui sesuatu. Dapat diartikan juga karena kepentingan yang berhubungan dengan kegiatan olah raga untuk kesehatan, konvensi, keagamaan dan keperluan usaha lainnya (Gamal, 1997).
Pariwisata sebagai industri yang ramah lingkungan juga sering disebut sebagai industri tanpa cerobong asap jika dibandingkan dengan industri berat lainnya yang banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Industri pariwisata merupakan salah satu cara yang tepat dalam meningkatkan kemajuan ekonomi masyarakat baik lokal maupun global. Pariwisata memiliki pengaruh dan manfaat yang banyak, diantaranya selain rnenghasilkan devisa Negara dan memperluas lapangan kerja, sektor pariwisata bertujuan untuk menjaga kelestarian alam dan rnengembangkan budaya lokal (Anggraeni, 2013).
Pariwisata juga mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi, karena dapat menyediakan lapangan kerja, menstimulasi berbagai sektor produksi, serta memberikan kontribusi secara Iangsung bagi kemajuan-kemajuan dalam usaha-usaha pembuatan dan perbaikan berbagai sarana dan prasarana yang ada di sekitar wilayah objek wisata tersebut yang bisa memberikan keuntungan dan kesenangan, baik bagi masyarakat setempat maupun wisatawan dan luar. Selain itu, pariwisata juga merupakan salah satu sumber devisa negara yang sangat penting dan mampu
memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi pembangunan. Produk wisata konvensional mulai banyak ditinggalkan dan wisatawan beralih kepada produk wisata yang lebih menghargai lingkungan, alam dan budaya. Kepuasan wisatawan tidak lagi bersandar pada keindahan alam dan kelengkapan fasilitas wisata, melainkan juga pada keleluasaan dan intensitas interaksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal. Berdasarkan fakta di atas, maka perlu dirumuskan bentuk pembangunan pariwisata berkelanjutan yang lebih tepat di masa mendatang (Susyanti, 2013).
Salah satu objek wisata yaitu Curug Cipeuteuy yang merupakan salah satu objek wisata alam yang terdapat di desa Bantaragung kecamatan Sindangwangi kabupaten Majalengka. Objek wisata ini masuk dalam nominasi surga tersembunyi terpopuler dalam acara pesona anugerah Indonesia yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata. Curug Cipeuteuy ini memiliki pesona yang menarik untuk dikunjungi, karena terletak di tengah-tengah hutan pinus yang menambah asri objek wisata, serta memiliki udara sejuk. Selain memiliki panorama yang asri, curug ini juga memiliki air yang sangat jernih dan juga dingin. Penunjang bagi pengunjung yang hadir disediakan gazebo, tempat duduk, toilet dan tempat parkir. Berdasarkan data yang diperoleh dan pengelola Curug Cipeuteuy, pengunjung yang datang selalu mengalarni peningkatan dari tahun ke tahun. Objek wisata Curug Cipeuteuy ini banyak mendatangkan pengunjung, terutama saat akhir pekan dan hari-hari libur atau hari raya yang bisa mencapai 500-1000 orang per hari. Adapun di hari-hari biasa, pengunjung hanya mencapai 200-250 orang saja
Keberadaan Curug Cipeuteuy di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Ciremai didukung oleh beberapa aspek legal yang tertuang dalam kebijakan dan peraturan. Adapun aspek legal tersebut antara lain:
1. S.K. Kepala Desa Bantaragung Nomor: 141.1/76/III/PEM.DES/2011 tentang Lembaga Model Desa Konsevasi (LMDK) Cipeuteuy.
2. Keputusan Menteri Kehutanan No: 424/Kpts-II/Menhut/2004 tentang Penetapan Gunung Ciremai ditetapkan sebagai taman nasional.
3. Keputusan Menteri Kehutanan No. 3684/Menhut-VII/KUH/2014 tentang penetapan luas Taman Nasional Gunung Ciremai.
4. Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservai Alam Nomor SK.87/IV-SET/2015 tentang Zonasi Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan dan Majalengka Provinsi Jawa Barat.
Objek wisata ini terletak di Blok Pasir, Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi Kabupaten Majalengka. Objek Curug Cipeuteuy berjarak sekitar 24 Km dari arah timur pusat Kota Majalengka. Pada objek wisata yang terletak di kaki gunung Ciremai ini terdapat berbagai jenis tanaman hutan yang telah diberi etiket (label) nama ilmiah, berbagai jenis tumbuhan paku-pakuan, lumut dan dijadikan salah satu tempat konservasi elang jawa. Kawasan taman nasional gunung Ciremai dan habitat flora dan fauna khas yang ada di tempat tersebut. Selain itu sekitaran hutan terdapat sawah berbentuk terasering bukan hanya padi melainkan bawang, daun bawang, kenatng, seledri, wortel dan kol (Anindisa et al., 2017).
Wisata Curug Cipeuteuy pada masa ini dimulai perlahan-lahan menyediakan lapangan pekerjaan untuk warga sekitar, karena objek wisata ini bersifat pemberdayaan masyarakat maka pembangunan dan pengembangannya sebisa mungkin hanya memanfaatkan sumberdaya alam dan sumber daya manusia dari daerah sekitar saja. Mulanya masyarakat mendapatkan lapangan pekerjaan di bidang konstruksi untuk melaksanan rencana pembangunan dan penataan denah lokasi objek wisata. Setelah objek wisata siap untuk dibuka lalu tersedianya lapangan pekerjaan untuk para pengelola tenaga kerja yang mampu diserap oleh objek wisata ini, misalnya penjaga parkir, penjaga karcis, pemelihara kebersihan dan keindahan, penjagaan keamanan dan lain sebagainya. Masyarakat bisa membuka usaha berjualan di dalam lokasi objek wisata dengan menempati kavling-kavling yang telah disediakan oleh pengelola untuk disewakan kepada masyarakat. Selain berjualan makanan, minuman dan pakaian, warga juga bisa menyediakan sewa pakian renang tikar ataupun pelampung.
Pemandangan indah berupa persawahan akan memanjakan mata sepanjang jalan menuju curug. Pengelola Curug Cipeteuy, Sutardi mengisahkan, Curug Cipeuteuy sejak 2004 menjadi bagian dari area hutan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Faktor daya tarik yang dapat menarik wisatawan diantaranya
keaslian, keberagaman atau variasi, keunikan, kemenarikan, kebersihan, dan keamanan objek wisata.
Berdasarkan analsis perilaku melalui teknik survei lapang diperoleh bahwa tingkat kepadatan pengunjung terletak di area utama Curug Cipeuteuy, atau lebih tepatnya di area kolam. Aktivitas pengunjung pada hari biasa hanya antara lain berfoto dan duduk-duduk. Pada hari libur, jumlah pengunjung meningkat dan aktivitas lebih beragam. Adapun aktivitasnya antara lain berenang, berfoto, bermain, berjalan keliling curug, dan lain-lain. Kemudian di tempat titik lain seperti di bukit batu semar sangat jarang ditemui pengunjung pada hari biasa. Namun, pada hari liburditemukan anak muda dengan jumlah sedikit yang mendatangi area tersebut. Dari hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa pengunjung masih terkonsentrasi pada satu titik. Hal ini dapat menjadi ancaman apabila terjadi lonjakan pengunjung, tempat dapat kelebihan daya dukung sehinga rawan terjadi penurunan kualitas. Untuk itu perlu adanya penambahan atraksi pada area lain untuk memecah berkumpulnya pengunjung pada satu titik yang sama (Thoifur et al., 2018).
KESIMPULAN
Lanskap adalah bentangan alam yang memiliki karakteristik tertentu yang beberapa unsurnya dapat digolongkan menjadi unsur mayor dan minor. Objek Curug Cipeuteuy berjarak sekitar 24 Km dari arah timur pusat Kota Majalengka. Pada objek wisata yang terletak di kaki gunung Ciremai ini terdapat berbagai jenis tanaman hutan yang telah diberi etiket (label) nama ilmiah, berbagai jenis tumbuhan paku-pakuan, lumut dan dijadikan salah satu tempat konservasi elang jawa. Kawasan taman nasional gunung Ciremai dan habitat flora dan fauna khas yang ada di tempat tersebut. Dengan macam lanskap yaitu Fragemented, proporsi penutupan lahan sawah 17.31 % dan hutan 42.67% dengan tanaman semusim padi, bawang merah, daun bawang, wortel, kol dan tahunan yaitu pinus.
DAFTAR PUSTAKA
Anindisa, M., Basuni, S., & Sunarminto T. 2017. Stakeholder Pengelolaan Wisata Alam SPTN Wilayah II Majalengka Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Media Konservasi, 22(3): 230- 241.
Anggraeni, A., A. 2013. Analisis Dampak Ekonomi Wisata Bahari terhadap Pendapatan Masyarakat di Pulau Tidung. Jurnal Institut Teknologi Nasional 20(10).
Arifin, D., Wasman, & Fitriani. 2017. Dampak Objek Wisata Curug Cipeuteuy Terhadap Sosial Ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah di Desa Bantaragung. AlMustashfa: Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Islam, 2(2): 240-250. Gamal, S. 1997 Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta: ANDI.
Handadhari, T. 2004. Dephut Kaji 12 Calon Taman Nasional Baru. Website: http//www.wwf.or.id. Diakses tanggal 27 Januari 2021.
Harvey. 2007. Farming with Nature. Website: http:// pertanian berlanjut. lecture. ub.ac.id/files/2011/03/Bab04_Karakteristik-Lansekap.pdf. Diakses tanggal 27 Jnuari 2021
Susyanti, D., W. 2013. Potensi Desa Melalui Pariwisata Pedesaan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis 12(1).
Thoifur, D. M., Radnawati, D., Syahadat, R. M., Putra, P. T., Sagala, A. R., Pertiwi, S., & Putra, R. T. 2018. Analisis Tapak Lanskap Wisata Curug Cipeuteuy Sebagai Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Ciremai. Prosiding Semnastek.