*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Teks penuh

(1)

1 HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAHUNA TIMUR KABUPATEN

KEPULAUAN SANGIHE TAHUN 2014

Melitia Ch.Elias*, Ricky C. Sondakh*, Dina V.Rombot*

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK

Diare merupakan penyebab utama kedua kematian pada anak dibawah lima tahun. Diare membuat tubuh kehilangan air dan garam sehingga kebanyakan orang meninggal karena dehidrasi parah dan kehilangan cairan. Kejadian diar \e pada dasarnya dapat dicegah dengan memperhatikan factor risikonya. Sanitasi lingkungan salah satu faktor yang dapat menyebabkan diare pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe tahun 2014.

Penelitian ini merupakan penelitian survei yang bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita. Besar sampel ditentukan dengan menggunakan rumus taro Yamane dengan jumlah 96 dan dibulatkan menjadi 100 responden.

Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan chi square atau fisher’s exact test sebagai alternative menunjukkan bahwa sumber air minum p = 0,010 (p<0,05), kepemilikan jamban p= 0,019 (p<0,05), jenis lantai rumah p = 0,002 (p<0,05), dan kualitas fisik air bersih p=0,120 (p>0,05).

Terdapat hubungan antara sumber air minum, kepemilikan jamban, dan jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita dan tidak ada hubungan antara kualitas fisik air bersih dengan kejadian diare pada balita.

Kata kunci : Sanitasi lingkungan, balita, kejadian diare ABSTRACT

Diarrhea is the second leading cause of death in children under five years. Diarrhea caused body lose water and salt that most of people die because severe dehydration and fluid loss. The incidence of diarrhea can basically be prevented by paying attention to the risk factors. Environmental sanitation is one of the factors who can lead diarrhea in children under five years.The purpose of this study is to analize the correlation between environmental sanitation and diarrhea incident to children under five years old in working area of Tahuna Timur Health Center.

This study was an analytic survey research with cross sectional design. The population in this study were all mothers who had children under five years old. The number of sample used taro yamane formula.Based on the results statistically using the chi-square test or fisher’s exact test as an alternativeindicated that the probability of source of drinking water p=0,010 (p<0,05), ownership of latrine p= 0.019(p<0,05), house floor type p= 0.002 (p<0,05), physical quality of water p= 0.120 (p>0,05).

There are relationships between source of drinking water, ownership of latrine, house floor type with diarrhea incidence of children under five years old and there is no relationship between physical quality of waterwith diarrhea incidence of children under five years old.

(2)

2 PENDAHULUAN

Penyakit diare adalah penyebab utama kedua kematian pada anak di bawah lima tahun, Setiap tahun diare membunuh sekitar 760 000 anak balita. Secara global, ada hampir 1,7 miliar kasus penyakit diare setiap tahun. Diare merupakan penyebab utama kekurangan gizi pada anak-anak di bawah usia lima tahun (WHO, 2013).

Wilayah Kerja Puskesmas Tahuna Timur merupakan puskesmas dengan angka kejadian diare tertinggi dari semua wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan jumlah kasus sebanyak 196 kasus diare. Data puskesmas Tahuna Timur pada tahun 2013, anak usia 1-5 tahun yang menderita diare sebanyak 82 balita.

Penyakit diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan. Ada banyak faktor yang berkaitan dengan timbulnya kejadian diare di masyarakat, factor lingkungan merupakan faktor yang paling berpengaruh terjadi kejadian diare (Wijoyo, 2013).

Menurut Kemenkes (2011), ada beberapa kegiatan pencegahan penyakit diare yang benar dan efektif yakni perilaku hidup bersih dan sehat seperti menggunakan sember air minum yang terlindungi, menggunakan jamban, dan juga upaya penyehatan lingkungan seperti penyediaan air bersih yang memenuhi syarat dan pengelolaan sampah yang benar dan pembuangan air limbah.

Menurut Wijoyo Faktor sanitasi lingkungan yang berhubungan dengan diare

yaitu: sumber air minum, jenis lantai rumah, kualitas fisik air bersih, dan kepemilikan jamban.

Menganalisis hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur kabupaten Kepulauan Sangihe tahun 2014.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe pada bulan Juli sampai September 2014.

Populasi penelitian ini adalah seluruh balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe yang berjumlah 630 balita. Dalam menentukan besar sampel dari populasi penelitian digunakan rumus taro Yamane dan diperoleh jumlah sampel sebesar 96 yang dibulatkan menjadi 100.

Instrumen penelitian yang dipakai adalah Kuesioner. Cara pengumpulan data dalam penelitian in iberupa data primer yaitu hasil wawancara terhadap variabel-variabel bebas dalam penelitian ini. Dan data sekunder yaitu data kejadian diare pada balita yang diperoleh dari Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel. Analisis bivariat digunakan untuk

(3)

3 menganalisis hubungan antara sumber air

minum, kualitas fisik air bersih, kepemilikan jamban, dan jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tahuna Timur dengan menggunakan uji chi square (CI = 95% , α = 0,05).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa subjek penelitian terbanyak berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 60 (60%) balita,

Untuk karakteristik umur, jumlah subjek terbanyak berumur 1-3 tahun dengan jumlah 78 (78%) balita. Berdasarkan karakteristik responden menurut umur dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu berumur 20-30 tahun dengan jumlah 53 (53%), menurut jenis pekerjaan responden sebagian besar ibu merupakan ibu rumah tangga dengan jumlah 76 (76%) responden. Berdasarkan pendidikan terakhir dapat dilihat bahwa sebanyak 56 (56%) ibu tamat SMA.

Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe

Karakteristik Subjek Penelitian Kategori n %

Jenis Kelamin Perempuan

Laki-laki

60 40

60 40 Usia Balita (Tahun) 1-3

> 3

78 22

78 22 Umur Ibu (Tahun) < 20

20-30 31-40 > 40 4 53 37 6 4 53 37 6 Pekerjaan Ibu PNS Wiraswasta Swasta

Ibu Rumah Tangga

15 3 6 76 15 3 6 76 Pendidikan Terakhir Ibu Tidak Tamat SD

Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Sarjana Lain-lain 1 9 12 56 19 3 1 9 12 56 19 3

(4)

4 Tabel 2. Hasil Analisis Hubungan Antara Sumber Air Minum, Kualitas Fisik Air Bersih, Kepemilikan

Jamban, Jenis Lantai Rumah Dengan Kejadian Diare Pada Balita

NO Variabel Kategori Diare Tidak Diare Total P

n % n % n % 1 Sumber Air Minum Tidak Terlindungi Terlindungi 13 14 13 14 16 57 16 57 29 71 29 71 0,010 2 Kualitas Fisik Air Bersih Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat 3 24 3 24 2 71 2 71 5 95 5 95 0,120 3 Kepemilikan Jamban Tidak memiliki jamban Memiliki jamban 8 19 8 19 6 67 6 67 14 86 14 86 0,019 4 Jenis Lantai Rumah Tidak kedap air Kedap air 11 16 11 16 9 64 9 64 20 80 20 80 0,002

Hubungan Antara Sumber Air Minum Dengan Kejadian Diare Pada Balita

Dapat dilihat pada tabel 2, bahwa 29 (29%) responden memiliki sumber air minum yang tidak terlindungi dan 71 (71%) responden memiliki sumber air minum yang terlindungi. Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sumber air minum yang digunakan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur tahun 2014 dimana nilai p value = 0,010.

Sumber air minum yang digunakan dengan kejadian diare pada balita memiliki hubungan yang bermakna karena sumber air yang tidak terlindungi dan yang telah tercemar

kuman penyakit kemudian digunakan dan di konsumsi tanpa dimasak dengan baik akan menyebabkan terjadinya kejadian diare pada balita (Wijoyo, 2013).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Umiati (2010) yang menunjukkan ada hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada balita dengan nilai p value = 0,001, sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan di Kelurahan Malendeng Kecamatan Tikala Kota Manado didapatkan bahwa adanya hubungan antara keadaan sarana air bersih yang digunakan dengan kejadian diare akut pada balita dimana nilai p value = 0,032 (Ririmasse dkk, 2009).

(5)

5 Hubungan Antara Kualitas Fisik Air Bersih

Dengan Kejadian Diare Pada Balita.

Dapat dilihat pada tabel 2, bahwa 5 (5%) responden menggunakan air bersih yang kualitas fisiknya tidak memenuhi syarat dan 95 (95%) respondenmenggunakan air bersih yang kualitas fisiknya memenuhi syarat. Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas fisik air bersih dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe dimana nilai p value = 0,120.

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan selama penelitian ada beberapa responden yang menggunakan air bersih yang tidak memenuhi syarat (keruh dan berasa) namun air bersih yang tidak memenuhi syarat tersebut tidak langsung di konsumsi oleh responden melainkan di diamkan terlebih dahulu dalam sebuah wadah agar kotoran-kotoran yang ada di dalam air dapat terendap ke dasar wadah lalu kemudian air dimasak hingga mendidih setalah itu air baru dapat di gunakan atau di konsumsi.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Desa Ngunut Kabupaten Tulangagung, dimana didapatkan nilai p value = 0,053 (p>0,05) yang artinya tidak ada hubungan antara air bersih yang memenuhi syarat dengan kejadian diare pada balita (Lindayani, 2013).

Hubungan Antara Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Diare Pada Balita

Dapat dilihat pada tabel 2, bahwa 14 (14%) responden tidak memiliki jamban keluarga dan 86 (86%) responden memiliki jamban keluarga. Dari hasil uji statistik yang didapat menunjukkan ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe tahun 2014 dimana nilai p value = 0.019 (p<0,05).

Jamban sangat potensial untuk menyebabkan timbulnya berbagai gangguan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Karena itu dengan adanya jamban ditiap keluarga atau ditiap rumah akan lebih baik. Pemanfaatan jamban berpotensi untuk menurunkan resiko terjadinya diare, Syarat-syarat jamban yang sehat yang baik digunakan dan memenuhi aturan kesehatan yaitu : tidak mengotori permukaan tanah disekeliling jamban tersebut, tidak mengotori air permukaan di sekitarnya, tidak mengotori air tanah di sekitarnya, tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat, kecoak, dan binatang-binatang lainnya, tidak menimbulkan bau, mudah digunakan dan dipelihara (Notoadmojo, 2011).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Karangagung Kecamatan Palang Kabupaten Tubang dengan nilai p yang didapat yaitu p value = 0,004 (p<0,05) yang artinya terdapat

(6)

6 hubungan antara kepemilikan jamban dengan

kejadian diare pada balita (Putranti, 2009). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Bena Nusa Tenggara Timur, kepemilikan jamban kelurga adalah faktor yang paling dominan terjadinya kejadian diare dengan nilai p value = 0,003 (p<0,05) (Taosu, 2013).

Hubungan Antara Jenis Lantai Rumah Dengan Kejadian Diare Pada Balita

Dapat dilihat pada tabel 2, bahwa 20 (20%) responden memiliki jenis lantai rumah yang tidak kedap air dan 80 (80%) responden memiliki jenis lantai rumah yang kedap air.. Dari hasil uji statistik yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare memiliki hubungan yang bermakna didapatkan nilai p value = 0,002 (p<0,05). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa balita yang tinggal di rumah yang memiliki jenis lantai yang tidak kedap air akan beresiko terkena diare.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Nogosari Kabupaten Boyolali tahun 2009, dimana didapatkan nilai p value = 0,036 (p<0,05) yang artinya terdapat hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita (Umiati,2010) dan juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Desa Gondosuli Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, didapatkan nilai p value = 0,029 (p<0,05) dimana antara jenis lantai rumah dengan

kejadian diare terdapat hubungan (Primadani, 2012).

KESIMPULAN

1. Terdapat hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe.

2. Tidak terdapat hubungan antara kualitas fisik air bersih dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe. 3. Terdapat hubungan antara kepemilikan

jamban dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe

4. Terdapat hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe.

SARAN

1. Diharapkan bagi instansi kesehatan (Puskesmas) untuk dapat melakukan peningkatan dalam upaya pencegahan penyakit seperti melakukan kegiatan promosi kesehatan bagi masyarakat dan melakukan upaya penyehatan lingkungan masyarakat.

2. Diharapkan bagi masyarakat (responden) untuk bisa lebih meningkatkan upaya penyehatan baik di dalam rumah maupun di lingkungan sekitar rumah, dan dapat menjaga sanitasi lingkungan rumah serta

(7)

7 melakukan upaya pencegahan terjadinya

diare bagi balita.

3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang meneliti tentang faktor-faktor resiko lainnya yang dapat menjadi penyebab terjadinya diare pada balita, seperti hygiene perilaku ibu, dan status imunisasi balita.

DAFTAR PUSTAKA

Annonim.2013c.Buku Pedoman Pengendalian

Penyakit Diare.Jakarta: Ditjen

Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Chandra.B.2007.Pengantar Kesehatan Lingkungan.Jakarta: Penerbit Buku Kedoteran EGC.

Kementerian Kesehatan R.I. 2013. Riset

Kesehatan Dasar (RISKESDAS)

2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Lindayani S, R Azizah.2013. Hubungan

Sarana Sanitasi Dasar Rumah

Dengan Kejadian Diare Di Desa

Ngunut Kabupaten

Tulungagung.Jurnal Kesehatan

Lingkungan Vol. 7, No. 1 Juli 2013.Hal 32-37. Online (journal.unair.ac.id/filerPDF/kesling3 aa741fe0abs.pdf) diakses pada tanggal 1 agustus 2014

Notoatmodjo.S.2012.Metodologi Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Notoatmodjo.S.2011.Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni.Jakarta : Rineka Cipta.

Primadani W, Ludfi S, dan Arie W.2012.

Hubungan Sanitasi Lingkungan

Dengan Kejadian Diare Diduga Akibat Infeksi Di Desa Gondosuli

Kecamatan Bulu Kabupaten

Temanggung.Jurnal Kesehatan

Masyarakat. Volume 1,No 2.Hal

535-541. Online

(ejournals1.undip.ac.id/index.php/jk m) diakses pada tanggal 1 agustus 2014

Putranti D, dan Lilis

Sulistyorini.2009.hubungan Antara

Kepemilikan Jamban dengan

Kejadian Diare di DesaKarangagung

Kecamatan Palang Kabupaten

Tuban.Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 7, No. 1 Juli 2013.Hal54– 63.Online

(journal.unair.ac.Id/filerPDF/kesling0 348cf3acaabs .pdf) diakses pada tanggal 1 agustus 2014.

Ririmasse C, Ricky S dan Ardiansa T.2009.Hubungan Antara Faktor-Faktor Risiko Dengan Kejadian Diare Akut Pada Anak Balita Di Kelurahan Malendeng Kecamatan Tikala Kota Manado.Jurnal Media Kesehatan, Volume 3 juli 2009. Artikel Publikasi, Universitas Sam Ratulangi, Manado.Hal 9-18

Siswanto, Susila, dan

(8)

8

Kesehatan dan

Kedokteran.Yogyakarta:Bursa Ilmu Taosu S.A, dan R Azizah.2013. Hubungan

Sanitasi Dasar Rumah Dan Perilaku Ibu Rumah Tangga Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Desa Bena

Nusa Tenggara Timur. Jurnal

Kesehatan Lingkungan Vol. 7, No. 1 Juli 2013.Hal1-6. Online (journal.unair.ac.id/filerPDF/kesling5 a4956b1a1 full.pdf) diakses pada tanggal 1 agustus 2014

Umiati, Badar K, Dwi A.2009. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita.Jurnal Kesehatan,Vol. 3, No.1, Juni 2010.Hal 41-47. Online (publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/ handle/123

456789/2310/5.%UMIATI.pdf) diakses pada tanggal 1 agustus 2014 WHO.2013. Penyakit Diare.Online :

(http://www.who.int/topics/diarrhoea/ en/) diakses pada tanggal 11 april 2014

Widoyono.2008.Penyakit Tropis Epidemiologi

Penularan Pencegahan &

Pemberantasannya.Jakarta: Erlangga. Wijoyo.Y.2013.Diare Pahami Penyakit dan

Obatnya.Yogyakarta : Citra Aji Paraman.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :