Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 83
A
A
N
N
A
A
L
L
I
I
S
S
I
I
S
S
S
S
E
E
L
L
I
I
S
S
I
I
H
H
B
B
I
I
A
A
Y
Y
A
A
P
P
R
R
O
O
D
D
U
U
K
K
S
S
I
I
S
S
O
O
F
F
A
A
P
P
A
A
D
D
A
A
U
U
D
D
P
P
R
R
I
I
M
M
A
A
M
M
E
E
U
U
B
B
E
E
L
L
D
D
I
I
T
T
A
A
N
N
J
J
U
U
N
N
G
G
R
R
E
E
D
D
E
E
B
B
MursyidinSTIE Muhammadiyah Tanjung Redeb
A
ABBSSTTRRAACCTT
The purpose of this study was conducted to determine the cost of goods sold sofa in UD.Prima Furniture in Tanjung Redeb 2015 as well as to compare the cost of goods sold sofa set by UD Prima Furniture in Tanjung Redeb 2015 by determining the cost of goods sold based on cost accounting theory approach.
Based on the results of this analysis is known that there is a big difference between cost of gods sold calculation sofa production assigned by UD.Prima Furniture with a calculation of the cost of goods sold based on cost accounting theory approach with the full costing method.
The difference is greater the cost of goods sold sofa production per unit between the company and the theory is due to differences in recognizing the magnitude of the amount of overhead costs both fixed and variable. The hypothesis is rejected because the cost of good sold calculation sofa set by UD Prima Furniture in Tanjung Redeb greater than the cost of goods sold calculation based on approach to accounting theory.
Key word : Cost of goods sold, full costing method
PENDAHULUAN
Kemajuan dunia usaha dewasa ini jauh berkembang dengan pesat, baik dalam skala besar maupun kecil dan juga perkembangan di sektor industri yang memiliki peran penting dalam sektor perekonomian. Banyaknya perusahaan industri yang terus menerus bermunculan, akan menimbulkan suatu persaingan diantara industri sejenis maupun yang tidak sejenis untuk dapat menguasai pasar akan hasil produk perusahaan tersebut. Perusahaan-perusahaan atau
industri-industri yang didirikan maupun yang beroperasi tentu memiliki suatu tujuan atau rencana yang akan dicapai. Dari sekian banyak tujuan yang hendak dicapai perusahaan adalah untuk mendapatkan keuntungan atau laba.
Adapun komponen pembentuk laba adalah pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan produk dan jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan, sedangkan biaya adalah pengorbanan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memproduksi atau menghasilkan barang
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 84 maupun jasa. Menurut Mulyadi (1992)
biaya tersebut disebut sebagai biaya harga pokok atau harga pokok produksi. Untuk menentukan besarnya biaya tersebut haruslah tepat dan akurat sehingga harga pokok yang terjadi juga akan menunjukkan harga pokok yang sesungguhnya.
Didalam penentuan harga pokok produksi, informasi yang dibutuhkan oleh manajemen adalah informasi mengenai biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead perusahaan. Ketiga jenis biaya tersebut harus ditentukan secara cermat, baik dalam pencatatan maupun penggolongan. Sehingga informasi harga pokok produksi yang dihasilkan dapat diandalkan baik untuk penentuan harga jual produk maupun untuk perhitungan laba rugi periodik.
UD Prima Meubel adalah salah satu perusahaan yang beralamat di Jalan S.M. Aminuddin di Tanjung Redeb Kabupaten Berau merupakan perusahaan industri kecil dan menengah yang memproduksi sofa dari satu atau beberapa macam bahan baku dalam satu proses produksi. Adapun sofa yang diproduksi UD Prima Meubel terdiri dari sofa single
seat, sofa 2 seat, sofa 3 seat dan sofa 4 seat.
Dalam usahanya memproduksi sofa diperlukan biaya produksi yang berupa biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, dimana kesemuanya itu merupakan elemen pembentuk harga pokok produksi. Dalam melakukan perhitungan harga pokok produksi, UD Prima Meubel di Tanjung Redeb menetapkan berdasarkan metode full costing.
Metode full costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku tetap maupun variabel pada periode yang bersangkutan tanpa melihat biaya tersebut sudah sesuai atau tidak dibebankan dalam perhitungan harga pokok produksi.
Ketidaktepatan dalam menentukan harga pokok produksi akan berakibat pada kebijaksanaan yang diambil oleh pihak manajemen dalam menentukan harga jual produk cenderung tinggi dan sebaliknya harga jual akan kompetitif dipasaran
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 85 apabila harga pokok yang ditetapkan lebih
teliti.
Perusahaan yang memproduksi barang secara bersama, akan mengalami masalah dalam mengalokasikan biaya bersama yang diserap oleh masing-masing jenis produk. Masalah utama dalam mengalokasikan biaya bersama tersebut adalah memilih metode alokasi biaya bersama yang adil dan tepat untuk dipakai. Hal ini sangatlah penting karena perbedaan metode alokasi yang dipakai akan mengakibatkan perbedaan dalam menentukan biaya yang diserap oleh masing-masing jenis produk. Perbedaan dalam menentukan biaya yang diserap oleh masing-masing jenis produk akan berakibat pada kebijaksanaan yang diambil oleh pihak manajemen perusahaan terhadap harga jual produk cenderung tidak tepat pula.
Dalam melakukan aktivitas produksi berbagai jenis produknya, UD Prima Meubel di Tanjung Redeb tidak memperlakukan biaya bersama terhadap biaya yang telah dikeluarkan karena UD Prima Meubel di Tanjung Redeb tidak mengetahui apa itu biaya bersama.
Dalam melakukan analisis, diberlakukan biaya bersama terhadap
biaya overhead pabrik yang telah dikeluarkan karena akan sangat sulit menentukan biaya overhead pabrik untuk masing-masing jenis produk mengingat biaya overhead pabrik dikeluarkan dan digunakan untuk keperluan bersama berbagai jenis produk. Untuk mengalokasikan biaya bersama ini UD Prima Meubel di Tanjung Redeb menggunakan metode nilai jual relatif.
Metode nilai jual relatif dihitung berdasarkan persentase nilai jual berbagai jenis produk yang dihasilkan perusahaan, jadi biaya bersama yang dikeluarkan dikalikan dengan persentase jumlah penjualan berbagai jenis produk. Nilai jual yang dimaksud dalam metode ini adalah perkalian antara volume penjualan terhadap harga jual.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Analisis harga pokok produksi berdasarkan jenis sofa pada UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Tahun 2014”.
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 86
T
TIINNJJAAUUAANNPPUUSSTTAAKKAA P
PeennggeerrttiiaannAAkkuunnttaannssiiBBiiaayyaa
Dalam suatu perusahaan manajemen memerlukan informasi tentang biaya, guna mencapai tujuan yang diinginkan dan informasi biaya tersebut terdapat di dalam akuntansi biaya. R.A. Supriyono (2003) menyatakan bahwa: “Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya”.
Menurut Ralph S. Polimeni dan James A yang dikutip oleh Kamaruddin Akmad (2003) mendefinisikan akuntansi biaya sebagai berikut: Akuntansi biaya adalah proses pengidentifikasian, perangkuman dan penafsiran aneka informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan pengendalian, pengambilan keputusan manajemen serta perhitungan biaya atau harga pokok barang yang diproduksi.
Sedangkan Mulyadi (2005) menyatakan bahwa: “Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya, pembuatan dan penjualan produk atau jasa
dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya”.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa akuntansi biaya adalah sebagai salah satu unsur yang menyediakan informasi bagi kepentingan-kepentingan manajemen untuk membantu mengelola perusahaan dimana terdapat tiga tujuan pokok yaitu penentuan harga pokok produk, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan khusus.
T
TuujjuuaannAAkkuunnttaannssiiBBiiaayyaa
Akuntansi biaya sangat penting bagi suatu perusahaan karena dapat memberikan informasi berdasarkan fakta-fakta yang relevan. Sehingga pihak manajemen perusahaan dapat membuat keputusan yang terbaik untuk perusahaan dan mengevaluasi kinerja yang telah dicapai perusahaan tersebut. Murti Sumarni dan John Soeprihanto (2003) menyatakan pendapatnya mengenai tujuan akuntansi biaya sebagai berikut: Tujuan atau manfaat dari akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu informasi yang diperlukan manajemen dalam mengelola perusahaan yaitu informasi biaya yang bermanfaat untuk: Penentuan harga pokok yang dihasilkan perusahaan dengan tepat dan
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 87 teliti, Perencanaan dan pengendalian biaya
dan Pengambilan keputusan khusus.
P
PeennggeerrttiiaannBBiiaayyaa
Biaya merupakan elemen yang terdapat di suatu perusahaan yang sangat perlu diperhatikan oleh pihak manajemen agar dapat mengendalikan perusahaan sehingga tujuan perusahaan tersebut dapat tercapai yaitu memperoleh laba sebesar mungkin dengan cara menekan biaya serendah mungkin. Setiap perusahaan yang menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa memerlukan pengorbanan atas faktor-faktor produksi.
Dalam dunia akuntansi banyak dikenal asumsi-asumsi/konsep dasar mengenai definisi biaya (cost) yang dikemukakan oleh pakar-pakar akuntansi, kebanyakan dari mereka memberikan definisi sebagai berikut:
M.P. Simangunsong (2001) menyatakan bahwa:”Biaya (cost) adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dengan uang untuk mencapai tujuan tertentu”. Menurut Slamet Sugiri (2002) definisi biaya (cost) sebagai berikut: Biaya (cost) adalah pengorbanan sumber daya ekonomis tertentu untuk memperoleh sumber daya ekonomi lainnya atau dengan kata lain cost merupakan bagian dari harga
beli barang-barang kekayaan/jasa-jasa yang tertunda pembebanannya atau belum dimanfaatkan dalam hubungannya dengan realisasi penghasilan.
Henry Simamora (2002) mendefinisikan biaya sebagai berikut: Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang diharapkan memberikan manfaat pada saat ini atau di masa yang akan datang bagi organisasi. Disebut setara dengan kas (cash equivalent) karena sumber-sumber non kas dapat ditukarkan dengan barang atau jasa yang dikehendaki.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa terdapat empat unsur pokok dalam biaya, yaitu biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomis, diukur dalam satuan uang, yang terjadi atau yang secara potensial akan terjadi dan pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.
H
HaarrggaaPPookkookk PPrroodduukkssii
Dalam membahas pengertian harga pokok, tidak terlepas dari harga pokok produksi dan harga pokok penjualan. Hal ini disebabkan harga pokok merupakan suatu dasar yang nantinya akan digunakan dalam menetukan harga jual. Ada beberapa definisi harga pokok produksi
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 88 menurut beberapa ahli ekonomi yaitu
sebagai berikut:
Mulyadi (2005) menyatakan bahwa: “Harga pokok produksi adalah pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi produk”.R.A. Supriyono (2003) mendefinisikan harga pokok produksi sebagai berikut: Harga perolehan atau harga pokok adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang dalam bentuk: Kas yang dibayarkan, Nilai aktiva lainnya yang diserahkan atau dikorbankan, Nilai jasa yang diserahkan atau dikorbankan dan Hutang yang timbul, Tambahan modaldalam rangka pemilikan barang atau jasa yang diperlukan perusahaan baik pada masa lalu (harga perolehan yang telah terjadi) maupun pada masa datang (harga perolehan yang akan terjadi).
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa harga pokok produksi adalah merupakan pengorbanan sumber ekonomis dalam rangka pemilihan barang dan jasa atau juga dapat diartikan pengorbanan ekonomi dalam proses pengolahan bahan baku menjadi produk.
Penentuan harga pokok produksi bertujuan untuk menentukan harga jual minimum yang dapat menutup semua biaya usaha yang telah dikorbankan. Selain itu juga bertujuan untuk penghitungan nilai persediaan, pengawasan efesiensi biaya, perencanaan laba dan keperluan dasar pengambilan keputusan.
Adolph Matz, Milton F. Usry dan Lawrence H. Hamer (2002) menyatakan bahwa tujuan penentuan harga pokok produksi adalah sebagai berikut: (a) Untuk menetapkan biaya-biaya menurut barang-barang yang diproduksi, menurut proses, satuan dan bagian. (b) Untuk mengontrol pengeluaran yang berhubungan dengan proses produksi, distribusi, dan administrasi dari perusahaan. (c) Untuk memberikan suatu dasar guna menafsir biaya dari suatu barang hasil produksi, sehingga kemungkinan menguntungkan untuk penetapan harga. (d) Untuk memberikan kemungkinan kepada manajemen agar mendasarkan kebijaksanaan, operasinya pada keterangan yang diberikan oleh bagian biaya.
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 89
M
MEETTOODDEEPPEENNEELLIITTIIAANN
Penelitian dilakukan pada UD Prima Meubel yang beralamat di Jalan S.M. Aminuddin di Tanjung Redeb Kabupaten Berau. Penelitian ini difokuskan pada masalah perhitungan harga pokok produksi berdasarkan metode Full Costing pada UD Prima Meubel di Tanjung Redeb tahun 2015. Adapun jenis sofa pada UD Prima Meubel di Tanjung Redeb ada empat, yaitu sofa single seat, sofa 2 seat, sofa 3 seat dan sofa 4 seat.
Guna memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Penelitian lapangan (field work research) adalah penelitian yang dilakukan langsung ke media penelitian yang akan diteliti guna memperoleh data yang diperlukan. 2. Penelitian kepustakaan (library
research) adalah penelitian yang dilaksanakan dengan membaca dan mengutip buku literatur, tulisan-tulisan serta laporan-laporan yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
Pengumpulan data ini dilakukan untuk memperoleh data sekunder.
Dalam melakukan pengujian hipotesis yang diajukan maka diperlukan analisis untuk membuktikan hipotesis yang diajukan. Adapun alat analisis yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Perhitungan harga pokok produksi berdasarkan metode full costing.
Mulyadi menyatakan bahwa perhitungan harga pokok persatuan berdasarkan metode full costing dilakukan dengan rumus dan cara penghitungan seperti di bawah ini :
b. Perbandingan harga pokok produksi sofa per satuan yang ditetapkan oleh UD Prima
Biaya bahan baku Rpxxx
Biaya tenaga kerja langsung Rpxxx Biaya overhead pabrik variable Rpxxx Biaya overhead pabrik tetap Rpxxx H Haarrggaa ppookkookk pprroodduukkssii RpRpxxxxxx V Voolluummee pprroodduukkssii xxxxxx UUnniitt H Haarrggaa ppookkookk pprroodduukkssii//UUnniitt RpRpxxxxxx//UUnniitt Harga Produk/Satuan = Biaya Produksi yg dikeluarkan selama periode tertentu Volume yg di hasilkan dalam periode yg bersangkutan
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 90 Meubel di Tanjung Redebtahun
2015 dengan penentuan harga
pokok produksi berdasarkan pendekatan akuntansi biaya dapat c. dilihat pada Tabel 1. berikut ini:
Tabel 1. Perbandingan Harga Pokok Produksi Sofa per Satuan yang ditetapkan oleh UD Prima Meubel di Tanjung RedebTahun 2015 dengan Penentuan Harga Pokok Produksi Berdasarkan Teori Akuntansi Biaya
K Keetteerraannggaann PPeerrbbaannddiinnggaannHHaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii SSeelliissiihhLLeebbiihh((KKuurraanngg)) ( (RRpp//UUnniitt)) M Meennuurruutt P Peerruussaahhaaaann ( (RRpp//UUnniitt)) M Meennuurruutt T Teeoorrii ( (RRpp//UUnniitt)) HPP/Satuan Rpxxx Rpxxx Rpxxx
Sumber: James D. Willson dan John B. Campbell (2002: 422). Telah Dimodifikasi
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan biaya produksi tahun 2015 tersebut di atas, maka harga pokok produksi sofa per satuan
yang dihitung berdasarkan metode full costing menurut UD Prima Meubel di Tanjung Redeb tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 2. berikut ini: Tabel 2
Harga Pokok Produksi Sofa Menurut UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Tahun 2015
E Elleemmeenn SSaattuuaann HaHarrggaa PPookkookk PPrroodduukkssii SSooffaa H Haarrggaa PPookkookk P Prroodduukkssii S Sooffaa S SiinngglleeSSeeaatt S Sooffaa 2 2 SSeeaatt S Sooffaa 3 3 SSeeaatt S Sooffaa 4 4 SSeeaatt J Juummllaahh
Biaya Bahan Baku Rp 52.610.757,91 112.908.532,93 140.329.176,65 148.394.071,86 454.242.539,35 Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp 22.464.000,00 54.740.000,00 69.136.000,00 71.300.000,00 217.640.000,00 Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp 7.732.026,98 19.134.814,24 23.427.944,12 24.924.071,81 75.218.857,14 Biaya Overhead Pabrik Variabel Rp 18.526.153,92 32.514.923,84 40.110.018,52 42.541.853,73 133.692.950,00 J Juummllaahh BiBiaayyaa P Prroodduukkssii RRpp 110011..333322..993388,,8811 212199..229988..227711,,0011 227733..000033..113399,,2288 228877..115599..999977,,4400 888800..779944..334466,,4499 V Voolluummee PPrroodduukkssii UUnniitt 9696,,0000 7700,,0000 5858,,0000 4466,,0000 272700,,0000 H Haarrggaa PPookkookk P Prroodduukkssii//SSaattuuaann RpRp//UUnniitt 1.1.005555..555511,,4455 33..113322..883322,,4444 4.4.770066..995500,,6688 66..224422..660088,,6644 3.3.226622..220011,,2288 Sumber: UD Prima Meubel di Tanjung Redeb, 2015.
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 91
ANALISIS DAN PEMBAHASAN Analisis
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, baik berupa data kuantitatif maupun kualitatif yang didukung oleh dasar teori dan metode penelitian yang telah dikemukakan pada bab terdahulu, maka dilakukan perhitungan harga pokok produksi sofa. Mengingat UD Prima Meubel di Tanjung Redeb telah memisahkan biaya produksi sofa kepada masing-masing jenis sofa, maka data-data yang telah penulis peroleh dapat langsung dilakukan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan metode full costing
yang telah dikemukakan oleh Mulyadi (2005: 186) untuk menemukan jawaban atas rumusan masalah dan hipotesis yang telah dikemukakan oleh penulis. Untuk lebih jelasnya akan disajikan sebagai berikut:
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam proses perhitungan ini adalah menjumlahkan semua biaya produksi yang berhubungan dengan produksi sofa, sehingga dapat diketahui total biaya produksi untuk menghitung harga pokok produksi sofa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3. berikut ini:
Tabel 3
Biaya Produksi Sofa pada UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Tahun 2015
E Elleemmeenn SSaattuuaann BBiiaayyaaPPrroodduukkssiiSSooffaa B BiiaayyaaPPrroodduukkssii SSooffaa S SiinngglleeSSeeaatt S Sooffaa 2 2SSeeaatt S Sooffaa 3 3SSeeaatt S Sooffaa 4 4SSeeaatt J Juummllaahh
Biaya Bahan Baku Rp 52.610.757,91 112.908.532,93 140.329.176,65 148.394.071,86 454.242.539,35 Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp 22.464.000,00 54.740.000,00 69.136.000,00 71.300.000,00 217.640.000,00 Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp 7.732.026,98 19.134.814,24 23.427.944,12 24.924.071,81 75.218.857,14 Biaya Overhead Pabrik Variabel Rp 18.526.153,92 32.514.923,84 40.110.018,52 42.541.853,73 133.692.950,00 J Juummllaahh RRpp 110011..333322..993388,,8811 221199..229988..227711,,0011 227733..000033..113399,,2288 228877..115599..999977,,4400 888800..779944..334466,,4499
Sumber: UD Prima Meubel di Tanjung Redeb, 2015.
Langkah kedua yang harus dilakukan dalam proses perhitungan ini adalah memisahkan biaya-biaya yang tidak seharusnya dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi tetapi oleh UD Prima Meubel di Tanjung Redeb
dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi. Adapun biaya-biaya yang tidak seharusnya dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi terdapat pada biaya overhead pabrik baik yang bersifat tetap maupun variabel. Pada biaya
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 92 overhead pabrik tetap, biaya yang tidak
seharusnya dimasukkan adalah biaya penyusutan aktiva tetap (bangunan kantor dan kendaraan sepeda motor), sedangkan pada biaya overhead pabrik variabel adalah biaya listrik kantor. Biaya-biaya ini tidak penulis masukkan dalam perhitungan harga pokok produksi karena biaya-biaya ini tidak berhubungan langsung dalam proses produksi sofa dan biaya-biaya ini lebih tepatnya dimasukan ke dalam biaya operasional khususnya pada biaya administrasi dan umum, namun karena fokus penelitian ini pada perhitungan harga pokok produksi, maka penulis tidak akan menyajikan laporan laba rugi komparatif.
Menurut perusahaan besarnya biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2015 adalah sebesar Rp 75.218.857,14 dan besarnya biaya overhead pabrik variabel
adalah sebesar Rp 133.692.950,00, sedangkan menurut penulis besarnya biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2013 adalah sebesar Rp 67.165.285,71. Angka ini didapatkan dari pengurangan biaya overhead pabrik tetap menurut perusahaan sebesar Rp. 75.218.857,14 dengan penyusutan aktiva tetap bangunan kantor sebesar Rp 5.853.571,43 dan penyusutan aktiva tetap kendaraan sepeda motorsebesar Rp 2.178.571,43, sedangkan besarnya biaya overhead pabrik variabel pada tahun 2013 adalah sebesar Rp 131.236.530,00. Angka ini didapatkan dari pengurangan biaya overhead pabrik variabel menurut perusahaan sebesar Rp 133.692.950,00 dengan biaya listrik kantor sebesar Rp 2.456.420,00. Untuk lebih jelasnya penyesuaian biaya overhead pabrik dapat dilihat pada Tabel 4. berikut ini:
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 93 Tabel 4. Penyesuaian Biaya Overhead Pabrik Produksi Sofa pada UD Prima
Meubel di Tanjung Redeb Tahun 2015
Jenis ElEleemmeenn SaSattuuaann Penyesuaian Harga Pokok Produksi Sofa Sofa HaHarrggaa PPookkookk PPrroodduukkssii Menurut Biaya Tidak Menurut
UD Prima Meubel
Masuk
Perhitungan Penulis Single Seat Biaya Bahan Baku Rp 52.610.757,91 - 52.610.757,91
Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp 22.464.000,00 - 22.464.000,00
Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp 7.732.026,98 827.856,66 6.904.170,32 Biaya Overhead Pabrik
Variabel Rp 18.526.153,92 252.504,58 18.273.649,34
Jumlah Biaya Produksi Rp 110011..333322..993388,,8811 11..008800..336611,,2233 110000..225522..557777,,5588
Volume Produksi Unit 9966,,0000 9966,,0000 9966,,0000
Harga Pokok
Produksi/Satuan Rp/Unit 11..005555..555511,,4455 1111..225533,,7766 11..004444..229977,,6688
2 Seat Biaya Bahan Baku Rp 112.908.532,93 - 112.908.532,93
Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp 54.740.000,00 - 54.740.000,00
Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp 19.134.814,24 2.048.736,17 17.086.078,07 Biaya Overhead Pabrik
Variabel Rp 32.514.923,84 624.885,06 31.890.038,77
Jumlah Biaya Produksi Rp 221199..229988..227711,,0011 22..667733..662211,,2233 221166..662244..664499,,7788
Volume Produksi Unit 7700,,0000 7700,,0000 7700,,0000
Harga Pokok
Produksi/Satuan Rp/Unit 33..113322..883322,,4444 3388..119944,,5599 33..009944..663377,,8855
3 Seat Biaya Bahan Baku Rp 140.329.176,65 - 140.329.176,65
Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp 69.136.000,00 - 69.136.000,00
Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp 23.427.944,12 2.508.395,22 20.919.548,90 Biaya Overhead Pabrik
Variabel Rp 40.110.018,52 765.085,68 39.344.932,84
Jumlah Biaya Produksi Rp 227733..000033..113399,,2288 33..227733..448800,,9900 226699..772299..665588,,3388
Volume Produksi Unit 5588,,0000 5588,,0000 5588,,0000
Harga Pokok
Produksi/Satuan Rp/Unit 44..770066..995500,,6688 5566..443399,,3333 44..665500..551111,,3355
4 Seat Biaya Bahan Baku Rp 148.394.071,86 - 148.394.071,86
Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp 71.300.000,00 - 71.300.000,00
Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp 24.924.071,81 2.668.583,39 22.255.488,42 Biaya Overhead Pabrik
Variabel Rp 42.541.853,73 813.944,68 41.727.909,05
Jumlah Biaya Produksi Rp 228877..115599..999977,,4400 33..448822..552288,,0077 228833..667777..446699,,3333
Volume Produksi Unit 4466,,0000 4466,,0000 4466,,0000
Harga Pokok
Produksi/Satuan Rp/Unit 66..224422..660088,,6644 7755..770077,,1133 66..116666..990011,,5511 Total Biaya Produksi Rp 888800..779944..334466,,4499 1100..550099..999911,,4433 887700..228844..335555,,0066
Total Volume Produksi Unit 227700,,0000 227700,,0000 227700,,0000
Total Harga Pokok Produksi/Satuan Rp/Unit 33..226622..220011,,2288 3388..992255,,8899 33..222233..227755,,3399
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 94 Berdasarkan data yang terdapat
pada Tabel 4., maka total biaya produksi yang berhubungan dengan
produksi sofa dapat dilihat pada Tabel 5. berikut ini:
Tabel 5. Biaya Produksi Sofa pada UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Tahun 2015 Menurut Penulis E Elleemmeenn SSaattuuaa n n BiBiaayyaa PPrroodduukkssii SSooffaa B Biiaayyaa PPrroodduukkssii SoSoffaa S Siinngglele SSeeaatt S Sooffaa 2 2 SSeeaatt S Sooffaa 3 3 SSeeaatt S Sooffaa 4 4 SSeeaatt J Juummllaahh
Biaya Bahan Baku Rp 52.610.757,91 112.908.532,93 140.329.176,65 148.394.071,86 454.242.539,35 Biaya Tenaga Kerja
Langsung Rp 22.464.000,00 54.740.000,00 69.136.000,00 71.300.000,00 217.640.000,00 Biaya Overhead Pabrik
Tetap Rp 6.904.170,32 17.086.078,07 20.919.548,90 22.255.488,42 67.165.285,71 Biaya Overhead Pabrik
Variabel Rp 18.273.649,34 31.890.038,77 39.344.932,84 41.727.909,05 131.236.530,00 J
Juummllaahh RpRp 101000..225522..557777,,5588 221166..662244..664499,,7788 262699..772299..665588,,3388 282833..667777..446699,,3333 887700..228844..335555,,0066 Sumber: Diolah dari hasil penelitian, 2015.
Langkah ketiga yang harus dilakukan dalam proses perhitungan ini adalah menjumlahkan volume produksi sofa, sehingga dapat diketahui total
volume produksi sofa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Sumber: UD Prima Meubel di Tanjung Redeb, 2015. Berdasarkan tabel sebelumnya, maka dapat dilakukan perhitungan harga pokok produksi sofa berdasarkan metode full costing yang telah dikemukakan oleh
Mulyadi (2005: 186) dan telah ditetapkan penulis sebagai alat analisis. Untuk lebih jelasnya akan disajikan sebagai berikut: 1. Harga Pokok Produksi Sofa Single Seat
Tabel 6. Volume Produksi Sofa pada UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Tahun 2015 J Jeeniniss SSooffaa VoVolluummee PPrroodduukkssii ((UUnniitt)) Single Seat 96,00 2 Seat 70,00 3 Seat 58,00 4 Seat 46,00 J Juummllaahh 227700,,0000
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 95 Besarnya harga pokok produksi sofa
single seat dihitung berdasarkan besarnya biaya bahan baku, yaitu sebesar Rp 52.610.757,91 ditambah dengan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 22.464.000,00 ditambah biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp 6.904.170,32 ditambah biaya overhead pabrik variabel sebesar Rp 18.273.649,34, maka besarnya harga pokok produksi sofa pada sofa single
seat adalah sebesar Rp 100.252.577,58, sedangkan harga pokok produksi sofa per satuan dihitung dengan membagi harga pokok produksi sofa single seat sebesar Rp 100.252.577,58 dengan volume produksi sofa single seat sebesar 96,00 unit, sehingga besarnya harga pokok produksi sofa per satuan sofa single seat adalah sebesar Rp 1.044.297,68/unit. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Tabel 7. Perhitungan Harga Pokok Produksi Sofa Single Seat Berdasarkan Metode Full Costing
K
Keetteerraannggaann NNoommiinnaall
Biaya bahan baku (Rp) ((11) ) 52.610.757,91
Biaya tenaga kerja langsung (Rp)((22)) 22.464.000,00 Biaya overhead pabrik tetap (Rp)((33)) 6.904.170,32 Biaya overhead pabrik variabel ((44) ) 18.273.649,34 H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii((RRpp))((55))==((11))++((22))++((33))++((44)) 110000..225522..557777,,5588 V VoolluummeePPrroodduukkssii((UUnniitt))((66)) 9966,,0000 H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii//SSaattuuaann((RRpp//UUnniitt))((77))==((55))::((66)) 11..004444..229977,,6688 Sumber: Diolah dari hasil penelitian, 2015.
Berdasarkan perhitungan pada Tabel di atas diketahui bahwa dengan jumlah biaya produksi Rp 100.252.577,58 dan
volume produksi 96,00 unit, maka harga pokok produksi sofa single seat adalah sebesar Rp 1.044.297,68/unit. 2. Harga Pokok Produksi Sofa 2 Seat
Besarnya harga pokok produksi sofa 2 seat dihitung berdasarkan besarnya biaya bahan baku, yaitu sebesar Rp
112.908.532,93 ditambah dengan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 54.740.000,00 ditambah biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp 17.086.078,07 ditambah biaya overhead pabrik variabel sebesar Rp 31.890.038,77, maka besarnya harga pokok produksi sofa pada sofa 2 seat adalah sebesar Rp 216.624.649,78, sedangkan harga pokok produksi sofa per satuan dihitung dengan membagi harga pokok
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 96 produksi sofa 2 seat sebesar Rp
216.624.649,78 dengan volume produksi sofa 2 seat sebesar 70,00 unit, sehingga besarnya harga pokok
produksi sofa per satuansofa 2 seat adalah sebesar Rp 3.094.637,85/unit. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Tabel 8. Perhitungan Harga Pokok Produksi Sofa 2 Seat Berdasarkan Metode
Full Costing
K
Keetteerraannggaann NNoommiinnaall
Biaya bahan baku (Rp) ((11)) 112.908.532,93
Biaya tenaga kerja langsung (Rp)((22) ) 54.740.000,00 Biaya overhead pabrik tetap (Rp)((33) ) 17.086.078,07 Biaya overhead pabrik variabel ((44) ) 31.890.038,77 H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii((RRpp))((55))==((11))++((22))++((33))++((44)) 221166..662244..664499,,7788 V VoolluummeePPrroodduukkssii((UUnniitt))((66)) 7700,,0000 H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii//SSaattuuaann((RRpp//UUnniitt))((77))==((55))::((66)) 33..009944..663377,,8855 Sumber: Diolah dari hasil penelitian, 2015.
Berdasarkan perhitungan pada Tabel di atas diketahui bahwa dengan jumlah biaya produksi Rp 216.624.649,78 dan volume produksi 70,00 unit, maka harga pokok produksi sofa 2 seat adalah sebesar Rp 3.094.637,85/unit. 3. Harga Pokok Produksi Sofa 3 Seat
Besarnya harga pokok produksi sofa 3 seat dihitung berdasarkan besarnya biaya bahan baku, yaitu sebesar Rp 140.329.176,65 ditambah dengan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 69.136.000,00 ditambah biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp 20.919.548,90 ditambah biaya
overhead pabrik variabel sebesar Rp 39.344.932,84, maka besarnya harga pokok produksi sofa pada sofa 3 seat adalah sebesar Rp 269.729.658,38, sedangkan harga pokok produksi sofa per satuan dihitung dengan membagi harga pokok produksi sofa 3 seat sebesar Rp 269.729.658,38 dengan volume produksi sofa 3 seat sebesar 58,00 unit, sehingga besarnya harga pokok produksi sofa per satuansofa 3 seat adalah sebesar Rp 4.650.511,35/unit. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 97
Tabel 9. Perhitungan Harga Pokok Produksi Sofa 3 Seat Berdasarkan Metode Full
Costing
K
Keetteerraannggaann NNoommiinnaall
Biaya bahan baku (Rp) ((11) ) 140.329.176,65
Biaya tenaga kerja langsung (Rp)((22)) 69.136.000,00 Biaya overhead pabrik tetap (Rp)((33)) 20.919.548,90
Biaya overhead pabrik variabel ((44) ) 39.344.932,84
H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii((RRpp))((55))==((11))++((22))++((33))++((44)) 226699..772299..665588,,3388 V VoolluummeePPrroodduukkssii((UUnniitt))((66)) 5588,,0000 H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii//SSaattuuaann((RRpp//UUnniitt))((77))==((55))::((66)) 44..665500..551111,,3355 Sumber: Diolah dari hasil penelitian, 2015.
Berdasarkan perhitungan pada Tabel di atas diketahui bahwa dengan jumlah biaya produksi Rp 269.729.658,38 dan volume produksi 58,00 unit, maka harga pokok produksi sofa 3 seat adalah sebesar Rp 4.650.511,35/unit. 4. Harga Pokok Produksi Sofa 4 Seat
Besarnya harga pokok produksi sofa 4 seat dihitung berdasarkan besarnya biaya bahan baku, yaitu sebesar Rp 148.394.071,86 ditambah dengan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 71.300.000,00 ditambah biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp 22.255.488,42 ditambah biaya overhead
pabrik variabel sebesar Rp 41.727.909,05, maka besarnya harga pokok produksi sofa pada sofa 4 seat adalah sebesar Rp 283.677.469,33, sedangkan harga pokok produksi sofa per satuan dihitung dengan membagi harga pokok produksi sofa 4 seat sebesar Rp 283.677.469,33 dengan volume produksi sofa 4 seat sebesar 46,00 unit, sehingga besarnya harga pokok produksi sofa per satuansofa 4 seat adalah sebesar Rp 6.166.901,51/unit. Adapun perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 10. berikut ini:
Tabel 10. Perhitungan Harga Pokok Produksi Sofa 4 Seat Berdasarkan Metode
Full Costing
K
Keetteerraannggaann NNoommiinnaall
Biaya bahan baku (Rp) ((11)) 148.394.071,86
Biaya tenaga kerja langsung (Rp)((22) ) 71.300.000,00 Biaya overhead pabrik tetap (Rp)((33) ) 22.255.488,42 Biaya overhead pabrik variabel ((44) ) 41.727.909,05 H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii((RRpp))((55))==((11))++((22))++((33))++((44)) 228833..667777..446699,,3333 V VoolluummeePPrroodduukkssii((UUnniitt))((66)) 4466,,0000 H HaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssii//SSaattuuaann((RRpp//UUnniitt))((77))==((55))::((66)) 66..116666..990011,,5511 Sumber: Diolah dari hasil penelitian, 2015.
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 98 Berdasarkan perhitungan pada
Tabel di atas diketahui bahwa dengan jumlah biaya produksi Rp283.677.469,33 dan volume produksi 46,00 unit, maka harga pokok produksi sofa 4 seat adalah sebesar Rp6.166.901,51/unit.
Berdasarkan perhitungan harga pokok produksi sofa per satuan tahun 2013
dengan menggunakan metode full costing yang dilakukan penulis, maka selanjutnya akan dibandingkan dengan harga pokok produksi sofa per satuan menurut perusahaan. Untuk lebih jelasnya perbandingan antara perhitungan penulis dengan perusahaan dapat dilihat pada Tabel 11. berikut ini:
Tabel 11. Perbandingan Perhitungan Harga Pokok Produksi Sofa Per Satuan Menurut Perusahaan dengan Teori pada Tahun 2015
B Buullaann PPeerrbbaannddiinnggaannHHaarrggaaPPookkookkPPrroodduukkssiiSSooffaa//SSaattuuaann SSeelliissiihh M MeennuurruuttPPeerruussaahhaaaann MMeennuurruuttTTeeoorrii LLeebbiihh ( (MMeettooddeeFuFullll CCoossttiinngg)) ((MMeettooddeeFuFullll CCoossttiinngg)) ((KKuurraanngg)) ( (RRpp//UUnniitt)) ((RRpp//UUnniitt)) ((RRpp//UUnniitt)) Single Seat 1.055.551,45 1.044.297,68 11.253,76 2 Seat 3.132.832,44 3.094.637,85 38.194,59 3 Seat 4.706.950,68 4.650.511,35 56.439,33 4 Seat 6.242.608,64 6.166.901,51 75.707,13 J Juummllaahh 118811..559944,,8811 R Raattaa--rraattaa 4455..339988,,7700 Sumber: Diolah dari hasil penelitian, 2015.
Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa terjadi selisih lebih besar antara perhitungan harga pokok produksi sofa yang ditetapkan oleh UD Prima Meubel di Tanjung Redeb dengan perhitungan harga pokok produksi sofa berdasarkan metode full costing pendekatan teori akuntansi biaya.
P
Peemmbbaahhaassaann
Berdasarkan perhitungan di atas diketahui bahwa harga pokok produksi sofa per unit yang ditetapkan UD Prima Meubel di Tanjung Redeb tahun 2015 untuk sofa single seat sebesar Rp 1.055.551,45, sedangkan menurut penulis secara teori sebesar Rp 1.044297,68, untuk sofa 2 seat menurut UD Prima Meubel
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 99 sebesar Rp 3.132.832,44, sedangkan
menurut penulis Rp 3.094637,85, untuk sofa 3 seat menurut UD Prima Meubel sebesar Rp 4.706.950,68 sedangankan menurut penulis Rp 4.650.511,35, untuk sofa 4 seat sebesar Rp 6.242.608,64 dan menurut penulis sebesar Rp 6.166.901,51.
Maka terjadi selisih antara harga pokok produksi sofa per unit yang ditetapkan UD Prima Meubel di Tanjung Redeb dengan menurut penulis tahun 2015 untuk sofa single seat sebesar Rp 11.253,76, untuk sofa 2 seat sebesar Rp
38.194,59, untuk sofa 3 seat sebesar Rp 56.439,33 dan untuk sofa 4 seat
sebesar Rp 75.707,13.
Ternyata dari hasil analisis dapat diketahui bahwa terjadi selisih lebih besar antara perhitungan harga pokok produksi sofa yang ditetapkan oleh UD Prima Meubel di Tanjung Redeb tahun 2015dengan perhitungan harga pokok produksi sofa berdasarkan metode full costing pendekatan teori akuntansi biaya. Terjadinya perbedaan atau selisih lebih besar perhitungan harga pokok produksi sofa per satuan antara perusahaan dengan teori hal ini dikarenakan perbedaan dalam mengakui besarnya jumlah biaya overhead pabrik baik bersifat tetap maupun variabel,
dimana UD Prima Meubel di Tanjung Redeb mengakui besarnya biaya overhead pabik tetap adalah sebesar Rp 75.218.857,14 yang terdiri dari sofa single seat sebesar Rp 7.732.026,98, sofa 2 seat sebesar Rp 19.134.814,24, sofa 3 seat sebesar Rp 23.427.944,12 dan sofa 4 seat sebesar Rp 24.924.071,81 dan besarnya biaya overhead pabrik variabel adalah sebesar Rp 133.692.950,00 yang terdiri dari sofa single seat sebesar Rp 18.526.153,92, sofa 2 seat sebesar Rp 32.514.923,84, sofa 3 seat sebesar Rp 40.110.018,52 dan sofa 4 seat sebesar Rp 42.541.853,73, sedangkan menurut penulis besarnya biaya overhead pabrik tetap pada tahun 2015 adalah sebesar Rp 67.165.285,71. Angka ini didapatkan dari pengurangan biaya overhead pabrik tetap menurut perusahaan sebesar Rp 75.218.857,14 dengan penyusutan aktiva tetap bangunan kantor sebesar Rp 5.875.000,00 dan penyusutan aktiva tetap kendaraan sepeda motor sebesar Rp 2.178.571,43, sedangkan besarnya biaya overhead pabrik variabel pada tahun 2013 adalah sebesar Rp 131.236.530,00. Angka ini didapatkan dari pengurangan biaya overhead pabrik variabel menurut perusahaan sebesar Rp 133.692.950,00
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 100 dengan biaya listrik kantor sebesar Rp
2.456.420,00.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka hipotesis yang telah dikemukakan penulis dalam hal ini ditolak karena perhitungan harga pokok produksi sofa yang telah ditetapkan oleh UD Prima Meubel di Tanjung Redeb tahun 2013 lebih besar dari perhitungan harga pokok produksi berdasarkan metode full costing pendekatan teori akuntansi biaya.
K
KEESSIIMMPPUULLAANNDDAANNSSAARRAANN K
Keessiimmppuullaann
1. Perhitungan harga pokok produksi sofa yang telah ditetapkan oleh UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Kabupaten Berau tahun 2015 lebih besar dari pada perhitungan harga pokok produksi berdasarkan metode full costing pendekatan teori akuntansi biaya, sehingga hipotesis yang penulis kemukakan ditolak.
2. Terjadinya perbedaan atau selisih lebih besar perhitungan harga pokok produksi sofa antara perusahaan dengan teori dikarenakan perbedaan dalam mengakui besarnya jumlah biaya overhead pabrik baik bersifat tetap maupun variabel.
3. Selisih antara harga pokok produksi sofa per unit yang ditetapkan UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Kabupaten Berau tahun 2015 dengan menurut penulis tahun 2013 untuk sofa single seat sebesar Rp 11.253,76, untuk sofa 2 seat sebesar Rp 38.194,59, untuk sofa 3 seat sebesar Rp 56.439,33 dan untuk sofa 4 seat sebesar Rp 75.707,13.
S Saarraann
1. UD Prima Meubel di Tanjung Redeb Kabupaten Berau diharapkan benar-benar membebankan biaya-biaya yang seharusnya terjadi pada biaya produksi sofa, sehingga perhitungan harga pokok produksi sofa menjadi tepat dengan penggolongan biaya produksi maupun pengumpulan biaya produksi, hendaknya perusahaan memperhatikan unsur-unsur biaya yang masuk ke dalam kriteria biaya overhead pabrik. Karena dengan adanya kesalahan, walaupun sedikit dalam melakukan pengumpulan biaya produksi, maka informasi harga pokok produksi tidak relevan dan hasilnya akan berdampak pada perusahaan. 2. Dari hasil evaluasi penentuan harga
Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 101 perusahaan memperhatikan
penyusunan harga pokok yang benar, sehingga informasi harga pokok produksi dapat tersaji dengan wajar. Dengan informasi harga pokok produksi yang wajar inilah, maka akan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi manajemen, sehingga keputusan dapat diambil dengan tetap dan dapat mendukung keberhasilan perusahaan di masa yang akan datang.
D
DAAFFTTAARRPPUUSSTTAAKKAA
A
Akkmmaadd KKaammaarruuddddiinn, 2003, Akuntansi Manajemen: Dasar-Dasar Konsep Biaya & Pengambilan Keputusan, Edisi I, Cetakan Kelima, RajaGrafindo Persada, Jakarta. B
Baarriiddwwaann ZaZakkii, 2002, Intermediate Accounting, Edisi Ketujuh, Cetakan Keenam, BPFE Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
B
Blloocchheerr,, EdEdwwaarrdd JJ..,, KuKunngg H.H. ChCheenn dadann T
Thhoommaass WW.. LiLinn, 2004, Manajemen Biaya, Diterjemahkan oleh Susty Ambarriani, Buku Pertama, Edisi Pertama, Cetakan Ketiga, Salemba Empat, Jakarta.
G
Gaassppeerrsszz ViVinncceenntt, 2003, Ekonomi Manajerial: Pembuatan Keputusan Bisnis, Edisi Revisi dan Perluasan, Diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
J
Juussuupp AAll.. HaHarryyoonnoo, 2002, Dasar-dasar Akuntansi, Jilid Kesatu, Edisi Keenam, Cetakan Kedua, Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta.
K
Kaarrttaaddiinnaattaa AAbbaass, 2003, Akuntansi dan Analisis Biaya: Suatu Pendekatan terhadap Tingkah Laku Biaya, Cetakan Kelima, Rineka Cipta, Jakarta.
M
Maarrddiiaassmmoo, 2000, Akuntansi Keuangan Dasar I, Edisi Kesepuluh, Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi, Yogyakarta.
M
Maattzz,, AdAdoollpphh,, MiMillttoonn F.F. UsUsrryy dadann L
Laawwrreennccee H.H. HHaammeerr, 2002, Akuntansi Biaya: Perencanaan dan Pengendalian, Diterjemahkan oleh Alfonsus Sirait dan Herman Wibowo, Jilid Pertama, Edisi Kesepuluh, Cetakan Kelima, Erlangga, Jakarta.
M
Muullyyaaddii, 2005, Akuntansi Biaya, Edisi Kelima, Cetakan Ketujuh, UPP AMP Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta. N
Niisswwoonnggeerr C.C. RoRolllliinn,, CaCarrll S.S. WaWarrrreenn dadann P
Phhiilliipp E.E. FFeessss, 2001, Prinsip-prinsip Akuntansi, Terjemahan Alfonsus Sirait dan Helda Gunawan, Jilid Satu, Edisi Keduapuluh, Erlangga, Jakarta. S
Siimmaammoorraa HeHennrryy, 2002, Akuntansi Manajemen, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, Salemba Empat, Jakarta. S
Siimmaanngguunnssoonngg,, MPMP.., 2003, Pelajaran Akuntansi Biaya, Cetakan Kesepuluh, Karya Utama, Jakarta. S
Suuggiirrii SlSlaammeett, 2002, Akuntansi Manajemen, Edisi Revisi, UPP AMP Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta. S
Suummaarrnnii MMuurrttii dadann JoJohhnn SoSoeepprriihhaannttoo, 2003, Pengantar Bisnis:
Dasar-Jurnal Ekonomi Manajemen Vol. 10 No. 1, Januari 2016 102 dasar Ekonomi Perusahaan, Edisi
Kelima, Cetakan Keempat, Liberty, Jakarta.
S
Suupprriiyyoonnoo R.R.AA.., 2003, Akuntansi Biaya, Pengumpulan Biaya dan Penentuan Harga Pokok, Buku Pertama, Edisi Kedua, Cetakan Keempatbelas, BPFE Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
S
Syyaahhrruull ddaann MMuuhhaammmmaadd AAffddii NNiijjaarr, 2003, Kamus Akuntansi, Cetakan Kedua, Citra Harta Prima, Jakarta.
T
Tuunnggggaall AmAmiinn WWiiddjjaajjaa, 2003, Dasar-dasar Akuntansi Bank, Edisi Kelima, Cetakan Ketiga, Rineka Cipta, Jakarta.
W
Wiillllssoonn JaJammeess D.D. ddaann JoJohhnn B.B. CaCammppbbeellll, 2002, Controllership: Tugas
Akuntan Manajemen,
Diterjemahkan oleh Paul A. Rajoe dan Ichsan Setyobudi, Edisi Ketiga, Cetakan Ketiga, Erlangga, Jakarta.